me
meka
kani
nism
sme
e in
inte
tera
raks
ksi
i ob
obat
at se
seca
cara
ra fa
farm
rmak
akok
okin
inet
etik
ik pa
pada
da fa
fase
se
absorbsi, distribusi, metabolisme dan
absorbsi, distribusi, metabolisme dan ekskre
ekskresi
si
Mekanisme Interaksi Obat Mekanisme Interaksi Obat
Interaksi diklasifikasikan berdasarkan keterlibatan dalam proses farmakokinetik maupun Interaksi diklasifikasikan berdasarkan keterlibatan dalam proses farmakokinetik maupun farmakodinamik. Interaksi farmakokinetik ditandai dengan perubahan kadar plasma obat, area di farmakodinamik. Interaksi farmakokinetik ditandai dengan perubahan kadar plasma obat, area di bawah
bawah kurva kurva (AUC), (AUC), onset onset aksi, aksi, waktu waktu paro paro dsb. dsb. Interaksi Interaksi farmakokinetik farmakokinetik diakibatkan diakibatkan oleholeh perubahan
perubahan laju laju atau atau tingkat tingkat absorpsi, absorpsi, distribusi, distribusi, metabolisme metabolisme dan dan ekskresi. ekskresi. InteraksiInteraksi farmakodinamik biasanya dihubungkan dengan kemampuan suatu obat untuk mengubah efek farmakodinamik biasanya dihubungkan dengan kemampuan suatu obat untuk mengubah efek obat lain tanpa mengubah
obat lain tanpa mengubah sifatsifat farmakokinetisifatsifat farmakokinetiknya.knya.
Interaksi farmakokinetik Interaksi farmakokinetik
1
1.. AAbbssoorrppssii
!batobat yang digunakan se"ara oral bisaanya diserap dari saluran "erna ke dalam !batobat yang digunakan se"ara oral bisaanya diserap dari saluran "erna ke dalam sistem sirkulasi. Ada banyak kemungkinan terjadi interaksi selama obat melewati saluran "erna. sistem sirkulasi. Ada banyak kemungkinan terjadi interaksi selama obat melewati saluran "erna. Absorpsi obat dapat terjadi melalui transport pasif maupun aktif, di mana sebagian besar obat Absorpsi obat dapat terjadi melalui transport pasif maupun aktif, di mana sebagian besar obat diabsorpsi se"ara pasif. #roses ini melibatkan difusi obat dari daerah dengan kadar tinggi ke diabsorpsi se"ara pasif. #roses ini melibatkan difusi obat dari daerah dengan kadar tinggi ke dae
daerah rah dendengan gan kadakadar r obaobat t yanyang g leblebih ih renrendahdah. . #ada #ada trtransansporport t aktaktif if terterjadjadi i perperpinpindahadahan n obaobatt melawan gradien konsentrasi ("ontohnya ionion dan molekul yang larut air) dan proses ini melawan gradien konsentrasi ("ontohnya ionion dan molekul yang larut air) dan proses ini membutuhkan energi. Absorpsi obat se"ara transport aktif lebih "epat dari pada se"ara tansport membutuhkan energi. Absorpsi obat se"ara transport aktif lebih "epat dari pada se"ara tansport pasif.
pasif. !bat !bat dalam dalam bentuk bentuk takterion takterion larut larut lemak lemak dan dan mudah mudah berdifusi berdifusi melewati melewati membran membran sel,sel, sedangkan obat dalam bentuk terion tidak larut lemak dan tidak dapat berdifusi. $i bawah sedangkan obat dalam bentuk terion tidak larut lemak dan tidak dapat berdifusi. $i bawah kondisi fisiologi normal absorpsinya agak tertunda tetapi tingkat absorpsinya biasanya sempurna. kondisi fisiologi normal absorpsinya agak tertunda tetapi tingkat absorpsinya biasanya sempurna.
%il
%ila a ke"ke"epaepatan tan absabsorporpsi si berberubaubah, h, intinteraeraksi ksi obat obat se"se"ara ara sigsignifnifikaikan n akan akan leblebih ih mudmudahah terjadi, terutama obat dengan waktu paro yang pendek atau bila dibutuhkan kadar pun"ak plasma terjadi, terutama obat dengan waktu paro yang pendek atau bila dibutuhkan kadar pun"ak plasma yang "epat untuk mendapatkan efek. &ekanisme interaksi akibat gangguan absorpsi antara lain ' yang "epat untuk mendapatkan efek. &ekanisme interaksi akibat gangguan absorpsi antara lain '
a. Interaksi langsung
Interaksi se"ara fisikkimiawi antar obat dalam lumen saluran "erna sebelum absorpsi dapat mengganggu proses absorpsi. Interaksi ini dapat dihindarkan atau sangat dikuangi bila obat yang berinteraksi diberikan dalam jangka waktu minimal jam.
b. #erubahan p* saluran "erna
Cairan saluran "erna yang alkalis, misalnya akibat adanya antasid, akan meningkatkan kelarutan obat yang bersifat asam yang sukar larut dalam saluran "erna, misalnya aspirin. $engan demikian diper"epatnya disolusi aspirin oleh basa akan memper"epat absorpsinya. Akan tetapi, suasana alkalis di saluran "erna akan mengurangi kelarutan beberapa obat yang bersifat basa (misalnya tetrasiklin) dalam "airan saluran "erna, sehingga mengurangi absorpsinya. %erkurangnya keasaman lambung oleh antasida akan mengurangi pengrusakan obat yang tidak tahan asam sehingga meningkatkan bioavailabilitasnya.
+etokonaol yang diminum per oral membutuhkan medium asam untuk melarutkan sejumlah yang dibutuhkan sehingga tidak memungkinkan diberikan bersama antasida, obat antikolinergik, penghambatan *, atau inhibitor pompa proton (misalnya omepraol).
-ika memang dibutuhkan, sebaiknya abatobat ini diberikan sedikitnya jam setelah pemberian ketokonaol.
". pembentukan senyawa kompleks tak larut atau khelat, dan adsorsi
Interaksi antara antibiotik golongan fluorokinolon (siprofloksasin, enoksasin, levofloksasin, lomefloksasin, norfloksasin, ofloksasin dan sparfloksasin) dan ionion divalent dan trivalent (misalnya ion Ca , &g dan Al/ dari antasida dan obat lain) dapat
menyebabkan penurunan yang signifikan dari absorpsi saluran "erna, bioavailabilitas dan efek terapetik, karena terbentuknya senyawa kompleks. Interaksi ini juga sangat menurunkan aktivitas antibiotik fluorokuinolon. 0fek interaksi ini dapat se"ara signifikan dikurangi dengan memberikan antasida beberapa jam sebelum atau setelah pemberian fluorokuinolon. -ika antasida benarbenar dibutuhkan, penyesuaian terapi, misalnya penggantian dengan obatpbat antagonis reseptor * atau inhibitor pompa proton dapat
%eberapa obat antidiare (yang mengandung atapulgit) menjerap obatobat lain, sehingga menurunkan absorpsi. 1alaupun belum ada riset ilmiah, sebaiknya interval pemakaian obat ini dengan obat lain selama mungkin.
d. !bat menjadi terikat pada sekuestran asam empedu ( BAS : bile acid sequestrant )
+olestiramin dan kolestipol dapat berikatan dengan asam empedu dan men"egah reabsorpsinya, akibatnya dapat terjadi ikatan dengan obatobat lain terutama yang bersifat asam (misalnya warfarin). 2ebaiknya interval pemakaian kolestiramin atau kolestipol dengan obat lain selama mungkin (minimal 3 jam).
e. #erubahan fungsi saluran "erna (per"epatan atau lambatnya pengosongan lambung, perubahan vaksularitas atau permeabilitas mukosa saluran "erna, atau kerusakan mukosa
dinding usus).
Contoh"ontoh interaksi obat pada proses absorpsi dapat dilihat pada tabel berikut'
!bat yang
dipengaruhi !bat yang mempengaruhi 0fek interaksi
$igoksin &etoklopramida
#ropantelin
Absorpsi digoksin dikurangi
Absorpsi digoksin ditingkatkan (karena perubahan motilitas usus)
$igoksin 4iroksin 1arfarin
+olestiramin Absorpsi dikurangi karena ikatan dengan
kolestiramin
+etokonaol Antasida
#enghambat *
Absorpsi ketokonaol dikurangi karena disolusi yang berkurang
#enisilamin Antasida yang mengandung Al
/, &g, preparat besi, makanan
#embentukan khelat penisilamin yang kurang larut menyebabkan berkurangnya absorpsi penislinamin
#enisilin 5eomisin +ondisi malabsorpsi yang diinduksi neomisin
Antibiotik kuinolon
Antasida yg mengandung Al/,&g,
6e, 7n, susu 4erbentuknya kompleks yang sukar terabsorpsi
4etrasiklin Antasida yang mengandung Al
/,
&g, 6e, 7n, susu 4erbentuknya kompleks yang sukar terabsorpsi
$i antara mekanisme di atas, yang paling signifikan adalah pembentukan kompleks tak larut, pembentukan khelat atau bila obat terikat resin yang mengikat asam empedu. Ada juga beberapa obat yang mengubah p* saluran "erna (misalnya antasida) yang mengakibatkan perubahan bioavailabilitas obat yang signifikan.
2. Distribusi
2etelah obat diabsorpsi ke dalam sistem sirkulasi, obat di bawa ke tempat kerja di mana obat akan bereaksi dengan berbagai jaringan tubuh dan atau reseptor. 2elama berada di aliran darah, obat dapat terikat pada berbagai komponen darah terutama protein albumin. !batobat larut lemak mempunyai afinitas yang tinggi pada jaringan adiposa, sehingga obatobat dapat tersimpan di jaringan adiposa ini. 8endahnya aliran darah ke jaringan lemak mengakibatkan jaringan ini menjadi depot untuk obatobat larut lemak. *al ini memperpanjang efek obat. !batobat yang sangat larut lemak misalnya golongan fenotiain, benodiaepin dan barbiturat.
2ejumlah obat yang bersifat asam mempunyai afinitas terhadap protein darah terutama albumin. !batobat yang bersifat basa mempunyai afinitas untuk berikatan dengan asam9 glikoprotein. Ikatan protein plasma ( PPB : plasma protein binding ) dinyatakan sebagai persen yang menunjukkan persen obat yang terikat. !bat yang terikat albumin se"ara farmakologi tidak aktif, sedangkan obat yang tidak terikat, biasa disebut fraksi bebas, aktif se"ara farmakologi. %ila dua atau lebih obat yang sangat terikat protein digunakan bersamasasam, terjadi kompetisi pengikatan pada tempat yang sama, yang mengakibatkan terjadi penggeseran salah satu obat dari ikatan dengan protein, dan akhirnya terjadi peninggatan kadar obat bebas dalam darah. %ila satu obat tergeser dari ikatannya dengan protein oleh obat lain, akan terjadi peningkatan kadar obat bebas yang terdistribusi melewati berbagai jaringan. #ada pasien
dengan hipoalbuminemia kadar obat bebas atau bentuk aktif akan lebih tinggi.
Asam valproat dilaporkan menggeser fenitoin dari ikatannya dengan protein dan juga menghambat metabolisme fenitoin. -ika pasien mengkonsumsi kedua obat ini, kadar fenitoin tak terikat akan meningkat se"ara signifikan, menyebabkan efek samping yang lebih besar. 2ebaliknya, fenitoin dapat menurunkan kadar plasma asam valproat. 4erapi kombinasi kedua obat ini harus dimonitor dengan ketat serta dilakukan penyesuaian dosis.
!batobat yang "enderung berinteraksi pada proses distribusi adalah obatobat yang '
a. persen terikat protein tinggi ( lebih dari :;<) b. terikat pada jaringan
d. mempunyai rasio eksresi hepati" yang rendah e. mempunyai rentang terapetik yang sempit f. mempunyai onset aksi yang "epat
g. digunakan se"ara intravena.
!batobat yang mempunyai kemampuan tinggi untuk menggeser obat lain dari ikatan dengan protein adalah asam salisilat, fenilbutaon, sulfonamid dan antiinflamasi nonsteroid.
3. Metabolisme
Untuk menghasilkan efek sistemik dalam tubuh, obat harus men"apai reseptor, berarti obat harus dapat melewati membran plasma. Untuk itu obat harus larut lemak. &etabolisme dapat mengubah senyawa aktif yang larut lemak menjadi senyawa larut air yang tidak aktif, yang nantinya akan diekskresi terutama melalui ginjal. !bat dapat melewati dua fase metabolisme, yaitu metabolisme fase I dan II. #ada metabolisme fase I, terjadi oksidasi, demetilasi, hidrolisa, dsb. oleh enim mikrosomal hati yang berada di endothelium, menghasilkan metabolit obat yang lebih larut dalam air. #ada metabolisme fase II, obat bereaksi dengan molekul yang larut air (misalnya asam glukuronat, sulfat, dsb) menjadi
metabolit yang tidak atau kurang aktif, yang larut dalam air. 2uatu senyawa dapat melewati satu atau kedua fasemetabolisme di atas hingga ter"apai bentuk yang larut dalam air. 2ebagian besar interaksi obat yang signifikan se"ara klinis terjadi akibat metabolisme fase I dari pada fase II.
a. #eningkatan metabolisme
%eberapa obat bisa meningkatkan aktivitas enim hepatik yang terlibat dalam metabolisme obatobat lain. &isalnya fenobarbital meningkatkan metabolisme warfarin sehingga menurunkan aktivitas antikoagulannya. #ada kasus ini dosis warfarin harus ditingkatkan, tapi setelah pemakaian fenobarbital dihentikan dosis warfarin harus diturunkan untuk menghindari potensi toksisitas. 2ebagai alternative dapat digunakan sedative selain
barbiturate, misalnya golongan benodiaepine. 6enobarbital juga meningkatkan metabolisme obatobat lain seperti hormone steroid.
%arbiturat lain dan obatobat seperti karbamaepin, fenitoin dan rifampisin juga menyebabkan induksi enim.
#iridoksin memper"epat dekarboksilasi levodopa menjadi metabolit aktifnya, dopamine, dalam jaringan perifer. 4idak seperti levodopa, dopamine tidak dapat melintasi sawar darah otak untuk memberikan efek antiparkinson. #emberian karbidopa (suatu penghambat dekarboksilasi) bersama dengan levodopa, dapat men"egah gangguan aktivitas
levodopa oleh piridoksin,
b. #enghambatan metabolisme
2uatu obat dapat juga menghambat metabolisme obat lain, dengan dampak memperpanjang atau meningkatkan aksi obat yang dipengaruhi. 2ebagai "ontoh, alopurinol mengurangi produksi asam urat melalui penghambatan enim ksantin oksidase, yang memetabolisme beberapa obat yang potensial toksis seperti merkaptopurin dan aatioprin. #enghambatan ksantin oksidase dapat se"ara bermakna meningkatkan efek obatobat ini. 2ehingga jika dipakai bersama alopurinol, dosis merkaptopurin atau aatioprin harus dikurangi hingga =/ atau > dosis biasanya.
2imetidin menghambat jalur metabolisme oksidatif dan dapat meningkatkan aksi obat obat yang dimetabolisme melalui jalur ini ("ontohnya karbamaepin, fenitoin, teofilin, warfarin dan sebagian besar benodiaepine). 2imetidin tidak mempengaruhi aksi benodiaein loraepam, oksaepam dan temaepam, yang mengalami konjugasi glukuronida. 8anitidin mempunyai efek terhadap enim oksidatif lebih rendah dari pada simetidin, sedangkan famotidin dan niatidin tidak mempengaruhi jalur metabolisme oksidatif.
0ritromisin dilaporkan menghambat metabolisme hepatik beberapa obat seperti karbamaepin dan teofilin sehingga meningkatkan efeknya. !bat golongan fluorokuinolon seperti siprofloksasin juga meningkatkan aktivitas teofilin, diduga melalui mekanisme yang sama.
4. Ekskresi
+e"uali obatobat anestetik inhalasi, sebagian besar obat diekskresi lewat empedu atau urin. $arah yang memasuki ginjal sepanjang arteri renal, mulamula dikirim ke glomeruli tubulus, dimana molekulmolekul ke"il yang "ukup melewati membran glomerular (air, garam dan beberapa obat tertentu) disaring ke tubulus. &olekulmolekul yang besar seperti protein plasma dan sel darah ditahan. Aliran darah kemudian melewati bagian lain dari tubulus ginjal dimana transport aktif yang dapat memindahkan obat dan metabolitnya dari darah ke filtrat tubulus. 2el tubulus kemudian melakukan transport aktif maupun pasif (melalui difusi) untuk mereabsorpsi obat. Interaksi bis terjadi karena perubahan ekskresi aktif tubuli ginjal, perubahan p* dan perubahan aliran darah ginjal.
a. #erubahan ekskresi aktif tubuli ginjal b. perubahan p* urin
". #erubahan aliran darah ginjal
Sumber
*arkness 8i"hard, diterjemahkan oleh ?oeswin Agoes dan &athilda %.1idianto. Interaksi obat. %andung' #enerbit I4%, =:@:.