• Tidak ada hasil yang ditemukan

FARMAKOKINETIKA

N/A
N/A
Desti Risnawati

Academic year: 2024

Membagikan " FARMAKOKINETIKA "

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

FARMAKOKINETIKA

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Farmakologi

Dosen Pengampu:

Apt. Tovani Sri, M. Si.

Oleh:

Kelompok 4

Nurmayanti P20630123033

Rahma Aulia Nur Azahra P20630123034

Rahmat Rpaldi P20630123035

Rahmawati Nur P20630123036

Raylla Naura Andhini P20630123037 Revy Susilawati Riadi P20630123038 Riska Novitasari P20630123039

Risnawati P20630123040

Rosida Rusdiana P20630123041

PRODI D-3 FARMASI JURUSAN FARMASI

POLTEKKES KEMENKES TASIKMALAYA 2024

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, karena telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan kepada penulis sehingga makalah yang berjudul “Farmakokinetika” bisa selesai pada waktunya.

Penulis berharap semoga laporan praktik ini dapat menambah pengetahuan para pembaca. Namun terlepas dari itu, penulis memahami bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga kritik serta saran yang bersifat membangun sangat diharapkan demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik.

Tasikmalaya, Februari 2024

Penulis

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...ii

DAFTAR ISI...iii

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1Latar Belakang...1

1.2Rumusan Masalah...1

1.3Tujuan...1

BAB II PEMBAHASAN...2

2.1 Sejarah Perkembangan Farmakokinetika...2

2.2 Definisi dan Konsep Dasar Farmakokinetika...2

2.2.1 Definisi Farmakokinetika...2

2.2.2 Konsep Dasar Farmakokinetika...3

2.3 Prinsip Dasar Perjalanan Obat...7

2.4 Fase-Fase Farmakokinetika...11

2.4.1 Absorpsi...11

2.4.2 Distribusi...15

2.4.3 Metabolisme (Biotransformasi)...16

2.4.4 Ekskresi...18

2.5 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Farmakokinetika...19

BAB III PENUTUP...20

3.1Simpulan...20

3.2Saran...20

DAFTAR PUSTAKA...21

(4)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Proses Farmakokinetika...3

Gambar 2. 2 Rute Pemberian Obat...8

Gambar 2. 3 Fase-Fase Penting Obat...9

Gambar 2. 4 Rute Ekskresi Obat...10

Gambar 2. 5 Mekanisme Pemberian Obat...11

(5)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Obat adalah bahan yang digunakan untuk menyembuhkan penyakit atau meringankan gejalanya. Setelah obat diberikan kepada pasien, tubuh akan

melewati berbagai proses yang dikenal sebagai farmakokinetika. Proses-proses ini termasuk penyerapan, distribusi, metabolisme, dan ekskresi obat.

Untuk memastikan bahwa obat digunakan secara efektif dan aman, dokter dan apoteker perlu memahami farmakokinetika untuk menentukan dosis obat yang tepat untuk pasien serta waktu pemberian yang ideal. Hal ini dapat membantu obat bekerja lebih baik dan mengurangi risiko efek samping.

Makalah ini akan membahas berbagai aspek farmakokinetika obat,

termasuk absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi obat. Selain itu, makalah ini akan membahas variabel yang dapat mempengaruhi farmakokinetika obat, seperti usia, jenis kelamin, dan kondisi kesehatan pasien. Pemahaman tentang farmakokinetika obat dapat membantu pasien dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa definisi dan konsep dasar farmakokinetika serta bagaimana sejarah perkembangannya?

2. Bagaimana prinsip dasar perjalanan obat dalam tubuh dan fase apa saja yang terjadi?

3. Apa saja faktor yang memengaruhi farmakokinetika?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui definisi dan konsep dasar farmakokinetika serta sejarah perkembangannya.

2. Untuk mengetahui prinsip dasar perjalanan obat dalam tubuh dan fase-fase yang terjadi.

3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi farmakokinetika.

(6)

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Sejarah Perkembangan Farmakokinetika

Sejarah Perkembangan Farmakokinetika: Ilmu yang mempelajari bagaimana obat bekerja dalam tubuh telah berkembang selama berabad-abad.

Obat ini telah digunakan sejak zaman Mesir Kuno; papirus Ebers (1550 SM) mencatat penggunaan dan efeknya.

Otto Brunfels (1488-1534) dan Leonhart Fuchs (1501-1566) mendorong studi botani dan farmakologi pada abad ke-17, menandai pergeseran ke arah pemahaman ilmiah tentang obat-obatan. Oswald Schmiedeberg (1838-1921) mendirikan Institut Farmakologi di Universitas Strasbourg pada tahun 1878, yang dianggap sebagai lembaga farmakokinetik pertama di dunia.

Pada abad ke-20, teknologi baru seperti spektroskopi dan kromatografi memungkinkan para ilmuwan untuk mempelajari dan mengukur kadar obat dalam tubuh dengan lebih akurat. Oscar Winterstein (1873-1939), William Withering (1741-1799), dan Torsten Teorell (1906-1985) adalah tokoh penting dalam perkembangan farmakokinetika modern.

Saat ini, farmakokinetika memainkan peran penting dalam pembuatan dan penggunaan obat yang aman dan efektif. Para ilmuwan menggunakan model farmakokinetik untuk memprediksi bagaimana obat akan bertindak dalam tubuh, membantu mereka membuat rejimen dosis terbaik dan menghindari efek samping yang merugikan.

2.2 Definisi dan Konsep Dasar Farmakokinetika 2.2.1 Definisi Farmakokinetika

Farkomologi (pharmacology) ini berasal dari bahasa Yunani, yakni pharmacon (obat) serta logos (imu). Farmokologi ini dapat didefinisikan ialah sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari interaksi obat dengan tubuh untuk dapat menghasilkan efek terapi (therapeutic).

Farmakokinetika adalah cabang ilmu dari farmakologi yang mempelajari tentang perjalanan obat mulai sejak diminum hingga keluar melalui organ ekskresi di tubuh manusia. Fase-fase farmakokinetik secara umum terbagi menjadi

(7)

Adsoprsi, Distribusi, Metabolisme, dan Ekstensi. Fase deliberasi, terkadang dimasukkan pula ke dalam kajian farmakokinetika. Namun, fase deliberasi tampaknya lebih tepat jika dimasukkan ke dalam fase Farmasetik.

Farmakokinetika yang merupakan suatu cabang ilmu yang mempelajari tentang fate of drug in the body, meliputi absorpsi, distribusi, dan eliminasi obat di dalam badan, merupakan alat pemandu utama di dalam pemantauan terapetik obat. Keberhasilan suatu terapi dengan obat sangat tergantung pada rancangan aturan dosis, di mana aturan dosis ini didasarkan pada parameter-parameter farmakokinetika obat tersebut. Penderita sebagai individu memiliki respon yang bervariasi terhadap suatu obat, karena penderita satu dengan yang lain adalah alike, sehingga di dalam praktek klinik perlu mendapat perhatian, mengingat perbedaan parameter farmakokinetika sering terjadi. Pemanfaatan prinsip-prinsip farmakokinetika klinik merupakan suatu usaha yang ideal untuk terapi kuantitatif pada praktek farmasi klinik, dengan mengatur rejimen dosis untuk memperoleh kadar yang cukup pada reseptor sehingga menghasilkan respon farmakologi yang optimal dengan efek merugikan yang minimal.

2.2.2 Konsep Dasar Farmakokinetika

Konsep dasar farmakokinetika ini terdiri dari Absorpsi (diserap ke dalam darah), Distribusi (disebarkan ke berbagai jaringan tubuh), Metabolisme (diubah

Gambar 2. 1 Proses Farmakokinetika

(8)

menjadi bentuk yang dapatdibuang dari tubuh), Ekskresi (dikeluarkan dari tubuh dari parmakologi meliputi :

a. Absorpsi

Absorpsi adalah pergerakan partikel-partikel obat dari saluran

gastrointestinal ke dalam cairan tubuh melalui absorpsi pasif, absorpsi aktif, atau pinositosis. Kebanyakan obat oral diabsorpsi di usus halus melalui kerja

permukaan vili mukosa yang luas. Jika sebagian dari vili ini berkurang, karena pengangkatan sebagian dari usus halus, maka absorpsi juga berkurang. Obat-obat yang mempunyai dasar protein, seperti insulin dan hormon pertumbuhan, dirusak di dalam usus halus oleh enzim-enzim pencernaan. Absorpsi pasif umumnya terjadi melalui difusi (pergerakan dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah).

Dengan proses difusi, obat tidak memerlukan energi untuk menembus membran.

Absorpsi aktif membutuhkan karier (pembawa) untuk bergerak melawan perbedaan konsentrasi. Sebuah enzim atau protein dapat membawa obat-obat menembus membran. Pinositosis berarti membawa obat menembus membran dengan proses menelan.Absorpsi obat dipengaruhi oleh aliran darah, rasa nyeri, stres, kelaparan, makanan, dan pH. Sirkulasi yang buruk akibat syok, obat-obat vasokonstriktor, atau penyakit dapat merintangi absorpsi. Rasa nyeri, stres, dan makanan yang padat, pedas, dan berlemak dapat memperlambat masa

pengosongan lambung, sehingga obat lebih lama berada di dalam lambung.Proses beberapa obat yang tidak langsung masuk ke dalam sirkulasi sistemik setelah absorpsi yaitu obat melewati hati terlebih dahulu disebut sebagai efek first-pass, atau first-pass hepatik. Contoh-contoh obat-obat dengan metabolisme first-pass adalah warfarin (Coumadin) dan morfin. Lidokain dan nitrogliserin tidak diberikan secara oral, karena kedua obat ini mengalami metabolisme first-pass yang luas, sehingga sebagian besar dari dosis yang diberikan akan dihancurkan.

b. Distribusi

Distribusi adalah proses di mana obat menjadi berada dalam cairan tubuh dan jaringan tubuh. Distribusi obat dipengaruhi oleh aliran darah, afinitas

(kekuatan penggabungan) terhadap jaringan, dan efek pengikatan dengan protein.

Ketika obat di distribusi di dalam plasma, kebanyakan berikatan dengan protein (terutama albumin) dalam derajat (persentase) yang berbeda-beda. Obat-Obat

(9)

yang lebih besar dari 80% berikatan dengan protein dikenal sebagai obat-obat yang berikatan tinggi dengan protein. Salah satu contoh obat yang berikatan tinggi dengan protein adalah diazepam (Valium): yaitu 98% berikatan dengan protein.

Aspirin 49% berikatan dengan protein clan termasuk obat yang berikatan sedang dengan protein. Bagian obat yang berikatan bersifat inaktif, dan bagian obat selebihnya yang tidak berikatan dapat bekerja bebas. Hanya obat-obat yang bebas atau yang tidak berikatan dengan protein yang bersifat aktif dan dapat

menimbulkan respons farmakologik. Dengan menurunnya kadar obat bebas dalam jaringan, maka lebih banyak obat yang berada dalam ikatan dibebaskan dari ikatannya dengan protein untuk menjaga keseimbangan dari obat yang dalam bentuk bebas. Jika ada dua obat yang berikatan tinggi dengan protein diberikan bersama-sama maka terjadi persaingan untuk mendapatkan tempat pengikatan dengan protein, sehingga lebih banyak obat bebas yang dilepaskan ke dalam sirkulasi. Demikian pula, kadar protein yang rendah menurunkan jumlah tempat pengikatan dengan protein, sehingga meningkatkan jumlah obat bebas dalam plasma.Dengan demikian dalam hal ini dapat terjadi kelebihan dosis, karena dosis obat yang diresepkan dibuat berdasarkan persentase di mana obat itu berikatan dengan protein. Dengan demikian penting sekali untuk memeriksa persentase pengikatan dengan protein dari semua obat-obat yang diberikan kepada klien untuk menghindari kemungkinan toksisitas obat. Seorang perawat juga harus memeriksa kadar protein plasma dan albumin plasma klien karena penurunan protein (albumin) plasma akan menurunkan tempat pengikatan dengan protein, sehingga memungkinkan lebih banyak obat bebas dalam sirkulasi. Selanjutnya tergantung dari obat (obat-obat) yang diberikan, banyaknya obat atau obat-obatan berada dalam sirkulasi dapat mengancam nyawa.Abses, eksudat, kelenjar dan tumor juga mengganggu distribusi obat. Antibiotika tidak dapat didistribusi dengan baik pada tempat abses dan eksudat. Selain itu, beberapa obat dapat menumpuk dalam jaringan tertentu, seperti lemak, tulang, hati, mata, dan otot.

c. Metabolisme atau Biotransformasi

Hati merupakan tempat utama untuk metabolisme. Kebanyakan obat di- inaktifkan oleh enzim-enzim hati dan kemudian diubah atau ditransformasikan oleh enzim-enzim hati menjadi metabolit inaktif atau zat yang larut dalam air

(10)

untuk diekskresikan. Ada beberapa obat ditransformasikan menjadi metabolit aktif, sehingga menyebabkan peningkatan respons farmakologik. Penyakit- penyakit hati, seperti sirosis dan hepatitis, mempengaruhi metabolisms

obat.Waktu paruh, dilambangkan dengan t½, dari suatu obat adalah waktu yang dibutuhkan oleh separuh konsentrasi obat untuk dieliminasi. Metabolisme dan eliminasi mempengaruhi waktu paruh obat, contohnya, pada kelainan fungsi hati atau ginjal, waktu paruh obat menjadi lebih panjang dan lebih sedikit obat dimetabolisasi dan dieliminasi. Jika suatu obat diberikan terus menerus, maka dapat terjadi penumpukan obat. Suatu obat akan melalui beberapa kali waktu paruh sebelum lebih dari 90% obat itu dieliminasi. Jika seorang klien mendapat 650 mg (miligram) aspirin dan waktu paruhnya adalah 3 jam, maka dibutuhkan 3 jam untuk waktu paruh pertama untuk mengeliminasi 325 mg, dan waktu paruh kedua (atau 6 jam) untuk mengeliminasi 162 mg berikutnya, dan seterusnya, sampai pada waktu paruh keenam (atau 18 jam) di mana tinggal 10 mg aspirin terdapat dalam tubuh. Waktu paruh selama 4-8 jam dianggap singkat, dan 24 jam atau lebih dianggap panjang. Jika suatu obat memiliki waktu paruh yang panjang (seperti digoksin, yaitu selama 36 jam), maka diperlukan beberapa hari agar tubuh dapat mengeliminasi obat tersebut seluruhnya. Waktu paruh obat juga dibicarakan dalam bagian mengenai farmakodinamik, karena proses farmakodinamik

berkaitan dengan kerja obat.

d. Ekskresi atau Eliminasi

Rute utama dari eliminasi obat adalah melalui ginjal, rute-rute lain meliputi empedu, feses, paru-paru, saliva, keringat, dan air susu ibu. Obat bebas, yang tidak berikatan, yang larut dalam air, dan obat-obat yang tidak diubah, difiltrasi oleh ginjal. Obat-obat yang berikatan dengan protein tidak dapat

difiltrasi oleh ginjal. Sekali obat dilepaskan ikatannya dengan protein, maka obat menjadi bebas dan akhirnya akan diekskresikan melalui urin. Faktor lain yang memengaruhi ekskresi obat adalah pH urin, yang bervariasi dari 4,5 sampai 8.

Urin yang bersifat asam akan meningkatkan eliminasi obat-obat yang bersifat basa lemah. Aspirin, suatu asam lemah, dieksresi dengan cepat dalam urin yang basa.

Jika seseorang meminum aspirin dalam dosis berlebih, natrium bikarbonat dapat diberikan untuk mengubah pH urin menjadi basa. Juice cranberry dalam jumlah

(11)

yang banyak dapat menurunkan pH urin, sehingga terbentuk urin yang bersifat asam.

2.3 Prinsip Dasar Perjalanan Obat

Perjalanan obat di dalam tubuh dapat dibagi menjadi 4 tahap utama:

1) Absorpsi

Ini adalah proses masuknya obat ke dalam tubuh. Rute pemberian obat yang paling umum adalah oral, sublingual, transdermal, rektal, dan intravena.

a) Absorpsi oral adalah rute pemberian yang paling umum dan terjadi di lambung dan usus halus. Obat harus larut dalam air agar dapat diabsorpsi ke dalam aliran darah.

b) Absorpsi sublingual terjadi di bawah lidah.Obat ini langsung diabsorpsi ke dalam aliran darah dan menghindari metabolisme first-pass.

Rute pemberian obat ini memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan absorpsi oral, termasuk:

 Lebih cepat: Obat diabsorpsi lebih cepat ke dalam aliran darah karena tidak perlu melewati sistem pencernaan.

 Lebih mudah: Obat tidak perlu ditelan, sehingga ideal untuk pasien yang kesulitan menelan.

 Lebih aman: Obat dihindarkan dari metabolisme first-pass di hati, sehingga efek sampingnya bisa lebih sedikit.

c) Absorpsi transdermal terjadi melalui kulit.Obat ini ditempelkan pada kulit dalam bentuk patch. Kulit adalah organ yang kompleks yang terdiri dari beberapa lapisan. Lapisan terluar, stratum corneum, adalah

penghalang utama terhadap penyerapan obat. Namun, obat dapat melewati stratum corneum melalui beberapa cara, termasuk:

 Difusi pasif: Ini adalah proses di mana obat bergerak dari area konsentrasi tinggi ke area konsentrasi rendah.

 Filtrasi: Ini adalah proses di mana obat bergerak melalui pori-pori kecil di kulit.

 Transportasi aktif: Ini adalah proses di mana obat dipindahkan melintasi kulit oleh protein pembawa.

(12)

d) Absorpsi rektal terjadi melalui rektum. Obat ini di berikan dalam bentuk supositoria. Proses Absorpsi Rektal:

 Pelepasan obat: Obat dilepaskan dari sediaan, seperti supositoria, krim, atau salep.

 Dissolusi: Obat larut dalam cairan rektum.

 Difusi: Obat bergerak dari area konsentrasi tinggi (cairan rektum) ke area konsentrasi rendah (aliran darah) melalui mukosa rektum dan kolon.

 Absorpsi: Obat memasuki aliran darah dan didistribusikan ke seluruh tubuh.

e) Absorpsi intravena adalah rute pemberian tercepat dan paling

bioavailable. Obat ini disuntikkan langsung ke dalam aliran darah. Proses Absorpsi Intravena:

 Penyuntikan obat: Obat disuntikkan ke dalam vena melalui jarum.

 Distribusi: Obat didistribusikan ke seluruh tubuh melalui aliran darah.

 Absorpsi: Obat diserap oleh jaringan dan organ.

Gambar 2. 2 Rute Pemberian Obat

2) Distribusi

Ini adalah proses penyebaran obat ke seluruh tubuh. Obat didistribusikan ke jaringan dan organ tubuh melalui aliran darah.Distribusi obat tergantung pada beberapa faktor, seperti ikatan protein, kelarutan lipid, dan aliran darah.

Ikatan protein adalah proses pengikatan obat pada protein plasma. Obat yang terikat protein tidak dapat didistribusikan ke jaringan.Kelarutan lipid adalah

(13)

dengan mudah melewati membran sel. Aliran darah adalah kecepatan aliran darah ke jaringan.Jaringan dengan aliran darah yang tinggi akan menerima lebih banyak obat.

Proses Distribusi Obat:

a) Fase Distribusi Sentral: Setelah absorpsi, obat didistribusikan ke jaringan dan organ yang memiliki aliran darah tinggi, seperti jantung, hati, dan ginjal.

b) Fase Distribusi Perifer: Obat kemudian didistribusikan ke jaringan dan organ lain di tubuh.

c) Fase Keseimbangan: Ketika konsentrasi obat di plasma dan jaringan sama, maka tercapai keseimbangan.

3) Metabolisme

Ini adalah proses pengubahan obat menjadi bentuk yang tidak aktif.

Metabolisme obat terjadi di hati dan ginjal. Metabolit obat diekskresikan dari tubuh melalui urin dan feses. Metabolisme obat dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti usia, jenis kelamin, dan penyakit.

Proses Distribusi Obat:

a) Fase Distribusi Sentral: Setelah absorpsi, obat didistribusikan ke jaringan dan organ yang memiliki aliran darah tinggi, seperti jantung, hati, dan ginjal.

b) Fase Distribusi Perifer: Obat kemudian didistribusikan ke jaringan dan organ lain di tubuh.

c) Fase Keseimbangan: Ketika konsentrasi obat di plasma dan jaringan sama, maka tercapai keseimbangan.

Gambar 2. 3 Fase-Fase Penting Obat

(14)

4) Ekskresi

Ini adalah proses pembuangan obat dari tubuh. Obat diekskresikan dari tubuh melalui urin dan feses. Ekskresi obat dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti fungsi ginjal, hati, usus, dan kulit.

Rute Ekskresi Obat:

 Ginjal: Ginjal adalah rute utama ekskresi obat dan metabolitnya. Obat diekskresikan melalui urin.

 Hati: Hati mengekskresikan obat dan metabolitnya melalui empedu.

Empedu kemudian diekskresikan ke usus.

 Usus: Obat dan metabolitnya dapat diekskresikan melalui feses.

 Kulit: Obat dan metabolitnya dapat diekskresikan melalui keringat.

Gambar 2. 4 Rute Ekskresi Obat

Beberapa faktor yang dapat memengaruhi perjalanan obat di dalam tubuh, antara lain:

1) Rute pemberian

Rute pemberian obat dapat memengaruhi kecepatan dan tingkat absorpsi obat.

2) Bentuk sediaan

Bentuk sediaan obat dapat memengaruhi kecepatan dan tingkat absorpsi obat.

3) Sifat fisikokimia obat

Sifat fisikokimia obat, seperti kelarutan lipid dan pKa, dapat memengaruhi absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi obat.

(15)

4) Karakteristik pasien

Karakteristik pasien, seperti usia, jenis kelamin, dan penyakit, dapat memengaruhi metabolisme dan ekskresi obat.

2.4 Fase-Fase Farmakokinetika 2.4.1 Absorpsi

Absorpsi merupakan proses masuknya obat dari tempat pemberian kedalam darah. Bergantung pada cara pemberiannya, tempat pemberian obatadalah saluran cerna (mulut sampai rektum), kulit, paru, otot, dan lain- lain.Yang terpenting adalah cara pemberian obat per oral, dengan cara ini tempatabsorpsi utama adalah usus halus karena memiliki permukaan absorpsi yangsangat luas, yakni 200 meter persegi (panjang 280 cm, diameter 4 cm,disertai dengan vili dan mikrovili ) (Gunawan, 2009). Absorpsi obat meliputi proses obat dari saat dimasukkan ke dalam tubuh, melalui jalurnya hingga masuk ke dalam sirkulasi sistemik. Pada level seluler, obat diabsorpsi melalui beberapa metode, terutama transportaktif dan transport pasif.

Proses mekanisme pemberian obat :

Obat Absorpsi adalah pergerakan partikel-partikel obat dari konsentrasi tinggi dari saluran gastrointestinal ke dalam cairan tubuh melalui absorpsipasif, absorpsi aktif, rinositosis atau pinositosis. Absorpsi aktif umumnya terjadi melalui difusi(pergerakan dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah). Absorpsi aktif membutuhkan carier atau pembawa untuk bergerak melawan konsentrasi.

Gambar 2. 5 Mekanisme Pemberian Obat

(16)

Absorpsi obat dipengaruhi oleh aliran darah, nyeri, stress, kelaparan,makanan dan pH. Sirkulasi yang buruk akibat syok, obat-obat vasokonstriktor, atau penyakit yang merintangi absorpsi. Rasa nyeri, stress,dan makanan yang padat, pedas, dan berlemak dapat memperlambat masa pengosongan lambung, sehingga obat lebih lama berada di dalam lambung.Latihan dapat mengurangi aliran darah dengan mengalihkan darah lebih banyak mengalir ke otot, sehingga menurunkan sirkulasi ke saluran gastrointestinal.

Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi obat antara lain rute pemberian obat, daya larut obat, dan kondisi di tempat absorpsi. Setiap rute pemberian obat memiliki pengaruh yang berbeda pada absorpsi obat, bergantung pada struktur fisik jaringan. Kulit relatif tidak dapat ditembus zat kimia, sehingga absorpsi menjadi lambat. Membran mukosa dan saluran nafas mempercepat absorpsi akibat vaskularitas yang tinggi pada mukosa dan permukaan kapiler-alveolar. Karena obat yang diberikan per oral harus melewati sistem pencernaan untuk diabsorpsi, kecepatan absorpsi secara keseluruhan melambat. Injeksi intravena menghasilkan absorpsi yang paling cepat karena dengan rute ini obat dengan cepat masuk ke dalam sirkulasi sistemik. Daya larut obat diberikan per oral setelah diingesti sangat bergantung pada bentuk atau preparat obat tersebut. Larutan atau suspensi, yang tersedia dalam bentuk cair, lebih mudah diabsorpsi daripada bentuk tablet atau kapsul. Bentuk dosis padat harus dipecah terlebih dahulu untuk memajankan zat kimia pada sekresi lambung dan usus halus. Obat yang asam melewati mukosa lambung dengan cepat. Obat yang bersifat basa tiak teradsorpsi sebelum mencapai usus halus.

Kondisi di tempat absorpsi mempengaruhi kemudahan obat masuk kedalam sirkulasi sistemik. Apabila kulit tergoles, obat topikal lebih mudahdi absorpsi. Obat topikal yang biasanya diprogamkan untuk memperoleh efek lokal dapat menimbulkan reaksi yang serius ketika diabsorpsi melalui lapisan kulit.

Adanya edema pada membran mukosa memperlambat absorpsi obat karena obat membutuhkan waktu yang lama untuk berdifusi ke dalam pembuluh darah.

Absorpsi obat parenteral yang diberikan bergantung pada suplai darah dalam jaringan.Sebelum memberikan sebuah obat melalui injeksi, perawat harus

mengkaji adanya faktor lokal, misalnya; edema, memar, atau jaringan perut bekas

(17)

luka, yang dapat menurunkan absorpsi obat. Karena otot memiliki suplai darah yang lebih banyak daripada jaringan subkutan (SC), obat yang diberikan per intramuskular(melalui otot) diabsorpsi lebih cepat daripada obat yang disuntikan persubkutan. Pada beberapa kasus, absorpsi subkutan yang lambat lebih dipilih karena menghasilkan efek yang dapat bertahan lama. Apabila perfusi jaringan klien buruk, misalnya pada kasus syok sirkulasi, rute pemberianobat yang terbaik ialah melalui intravena. Pemberian obat intravena menghasilkan absorpsi yang paling cepat dan dapat diandalkan.

Obat oral lebih mudah diabsorpsi, jika diberikan diantara waktu makan.

Saat lambung terisi makanan, isi lambung secara perlahan diangkut keduodenum, sehingga absorpsi melambat. Beberapa makanan dan antasida membuat obat berikatan membentuk kompleks yang tidak dapat melewati lapisan saluran cerna.

Contoh, susu menghambat absorpsi zat besi dan tetrasiklin. Beberapa obat hancur akibat peningkatan keasaman isi lambungdan pencernaan protein selama makan.

Selubung enterik pada tablet tertentu tidak larut dalam getah lambung, sehingga obat tidak dapat dicerna di dalam saluran cerna bagian atas. Selubung juga melindungi lapisan lambung dari iritasi obat.

Rute pemberian obat diprogramkan oleh pemberi perawatan kesehatan.

Perawat dapat meminta obat diberikan dalam cara atau bentuk yang berbeda, berdasarkan pengkajian fisik klien. Contoh, bila klien tidak dapat menelan tablet maka perawat akan meminta obat dalam bentuk eliksir atau sirup. Pengetahuan tentang faktor yang dapat mengubah atau menurunkan absorpsi obat membantu perawat melakukan pemberian obat dengan benar.Makanan di dalam saluran cerna dapat mempengaruhi pH, motilitas, dan pengangkuan obat ke dalam saluran cerna. Kecepatan dan luas absorpsi juga dapat dipengaruhi oleh makanan. Perawat harus mengetahui implikasi keperawatan untuk setiap obat yang diberikan.

Contohnya, obat sepertiaspirin, zat besi, dan fenitoin, natrium (Dilantin) mengiritasi saluran cernadan harus diberikan bersama makanan atau segera setelah makan. Bagaimanapun makanan dapat mempengaruhi absorpsi obat, misalnya kloksasilin natrium dan penisilin. Oleh karena itu, obat-obatan tersebut harus diberikan satu sampai dua jam sebelum makan atau dua sampai tiga jam setelah makan. Sebelum memberikan obat, perawat harus memeriksa buku obat

(18)

keperawatan, informasi obat, atau berkonsultasi dengan apoteker rumah sakit mengenai interaksi obat dan nutrien.

 Metode absorpsi a. Transport pasif

Transport pasif tidak memerlukan energi, sebab hanya dengan proses difusi obat dapat berpindah dari daerah dengan kadar konsentrasi tinggi kedaerah dengan konsentrasi rendah.Transport pasif terjadi selama molekul-molekul kecil dapat berdifusi sepanjang membrane dan berhenti bila konsentrasi pada kedua simembrane seimbang.

b. Transport Aktif

Transport aktif membutuhkan energy untuk menggerakkan obat dari daerah dengan konsentrasi obat rendah kedaerah dengan konsentrasi obat tinggi.

 Kecepatan Absorpsi

Apabila pembatas antara obat aktif dan sirkulasi sitemik hanya sedikit sel.

Absorpsi terja dicepat dan obat segera mencapai level pengobatan dalam tubuh.

 Detik s/d menit: SL, IV, inhalasi

 Lebih lambat: oral, IM, topical kulit, lapisan intestinal, otot

 Lambat sekali, / : per rektal/ sustained frelease.

 Faktor yang memengaruhi penyerapan a. Aliran darah ketempat absorpsi

b. Total luas permukaan yang tersedia sebagai tempat abrsopsi c. Waktu kontak permukaan absorpsi

 Kecepatan abrsopsi

1. 1.Diperlambat oleh nyeridan stress Nyeri dan stress mengurangi aliran darah, mengurangi pergerakan saluran cerna, retensigaster

2. Makanan tinggi lemak makanan tinggi lemak dan padat akan menghambat pengosongan lambung dan memperlambat waktu absorpsi obat

3. Faktor bentuk obat Absorpsi dipengaruhi formulasi obat: tablet, kapsul, cairan,sustained release, dll)

4. Kombinasi dengan obat lain interaksi satu obat dengan obat lain dapat meningkatkan atau memperlambat tergantung jenis obat.

(19)

Obat yang diserap oleh usus halus ditransport kehepar sebelum beredarkeseluruh tubuh. Hepar memetabolisme banyak obat sebelum masuk kesirkulasi. Hal ini yang disebut dengan efek first-pass. Metabolisme hepar dapat menyebabkan obat menjadi inaktif sehingga menurunkan jumlah obat yang sampai kesirkulasi sistemik, jadi dosis obat yang diberikan harus banyak.

2.4.2 Distribusi

Distribusi obat adalah proses obat dihantarkan dari sirkulasi sistemik ke jaringan dan cairan tubuh, dengan cara obat masuk ke dalam pembuluh darah selanjutnya ditranportasikan bersama aliran darah dalam sistem sirkulasi menuju tempat kerjanya. Distribusi obat yang telah diabsorpsi tergantung beberapa faktor yaitu aliran darah, permebabilitas kapiler, dan ikatan protein. Konsentrasi obat dalam darah atau plasma tergantung pada jumlah obat yang ada dalam tubuh serta seberapa luas obat itu didistribusikan. Distribusi obat dibedakan atas 2 fase berdasarkan penyebarannya di dalam tubuh, yaitu :

a. Distribusi fase pertama Terjadi segera setelah penyerapan, yaitu ke organ yang perfusinya sangat baik misalnya jantung, hati, ginjal, dan otak.

b. Distribusi fase kedua Jauh lebih luas yaitu mencakup jaringan yang perfusinya tidak sebaik organ di atas misalnya otot, visera, kulit, dan jaringan lemak.

Penetrasi dari dalam darah ke jaringan pada proses distribusi seperti pada absorbsi juga sangat bergantung kepada beberapa hal, khususnya :

a. Ukuran molekul

b. Ikatan pada protein plasma c. Kelarutan dan sifat kimia

d. Pasokan darah dari organ dan jaringan e. Perbedaan pH antara plasma dan jaringan

Molekul obat yang mudah melintasi membran sel akan mencapai semua cairan tubuh baik intra maupun ekstra sel, sedangkan obat yang sulit menembus membran sel maka penyebarannya umumnya terbatas pada cairan ekstra sel.

Berdasarakan sifat fisiko kimianya, berdasarkan ruang distribusi yang dapat dicapai, dibedakan 3 jenis bahan obat :

(20)

a. Obat yang hanya terdistribusi dalam plasma

b. Obat yang terdistribusi dalam plasma dan ruang ekstrasel sisa c. Obat yang terdistribusi dalam ruang ekstra sel dan intra sel.

Beberapa obat dapat mengalami kumulatif selektif pada beberapa organ dan jaringan tertentu, karena adanya proses transport aktif, pengikatan (affinitas ) jaringan dengan zat tertentu atau daya larut yang lebih besar dalam lemak.

Kumulasi ini digunakan sebagai gudang obat (yaitu protein plasma, umumnya albumin, jaringan ikat dan jaringan lemak).

Salah satu kumulasi yang terkenal adalah glikosid digitalis yang

dikumulasi secara selektif di otot jantung (sebagian kecil dalam hati dan ginjal).

Diketahuinya kumulasi obat pada jaringan ini juga bermanfaat untuk menilai resiko efek samping dan efek toksisnya.

Selain itu ada beberapa tempat lain misalnya tulang, organ tertentu, dan cairan trans sel yang dapat berfungsi sebagai gudang untuk beberapa obat tertentu.

Distribusi obat ke susunan saraf pusat dan janin harus menembus sawar khusus yaitu sawar darah otak dan sawar uri (plasenta). Obat yang mudah larut dalam lemak pada umumnya lebih mudah menembus sawar tersebut.

2.4.3 Metabolisme (Biotransformasi)

Metabolisme atau biotransformasi obat adalah proses tubuh mengubah komposisi obat sehingga menjadi lebih larut air untuk dapat keluarkan dari tubuh.

Tujuan metabolisme obat adalah mengubah obat yang nonpolar (larut lemak) menjadi polar (larut air) agar dapat diekskresi melalui ginjal atau empedu. Dengan perubahan ini obat aktif umunya diubah menjadi inaktif, tapi sebagian dapat berubah menjadi lebih aktif, kurang aktif, atau menjadi toksik. Faktorfaktor yang mempengaruhi metabolism antara lain pengaruh gen, pengaruh lingkungan, kondisi khusus seperti terkena penyakit tertentu, dan usia. Reaksi metabolisme terjadi dari rekasi fase I dan rekasi fase II. Reaksi fase I berfungsi untuk

mengubah molekul lipofilik menjadi molekul yang lebih polar. Sedangkan, 2 pada rekasi fase II terjadi reaksi penggabungan (konjugasi)

Pada dasarnya obat merupakan zat asing bagi tubuh sehingga tubuh akan berusaha untuk merombaknya menjadi metabolit yang tidak aktif lagi dan

sekaligus bersifat lebih hidrofil agar memudahkan proses ekskresinya oleh ginjal.

(21)

Obat yang telah diserap usus ke dalam sirkulasi lalu diangkut melalui sistim pembuluh porta ke hati. Dalam hati seluruh atau sebagian obat mengalami perubahan kimiawi secara enzimatis. Enzim yang berperan pada proses biotransformasi ini adalah enzim mikrosom di retikulum endoplasma sel hati.

Perubahan kimiawi terhadap obat yang dapat terjadi setelah proses metabolisme/biotransformasi adalah :

a. Molekul obat berubah menjadi metabolit yang lebih polar (hidrofil) sehingga mudah untuk diekskresikan melalui urin pada ginjal.

b. Molekul menjadi metabolit yang tidak/kurang aktif lagi (bioinaktivasi/

detoksifikasi), proses ini disebut juga first pass efect/ FPE (efek lintas pertama). Untuk menghindari resiko FPE maka rute pemberian secara sublingual, intrapulmonal, transkutan, injeksi dan rektal dapat digunakan.

Obat yang mengalami FPE besar, dosis oralnya harus lebih tinggi dibandingkan dengan dosis parenteral.

c. Molekul obat menjadi metabolit yang lebih aktif secara farmakologi (bioaktivasi) Contohnya adalah kortison yang diubah menjadi bentuk aktif kortison, prednison menjadi prednisolon.

d. Molekul obat menjadi metabolit yang mempunyai aktifitas yang sama (tidak mengalami perubahan). Contohnya adalah klorpromazin, efedrin, dan beberapa senyawa benzodiazepine

Di samping hati yang menjadi tempat biotransformasi utama, obat dapat pula diubah di organ lain seperti di paru-paru, ginjal, dinding usus (asetosal, salisilamid, lidokain), di dalam darah (suksinil kholin) serta di dalam jaringan (cathecolamin). Kecepatan proses biotransformasi/metabolisme umumnya bertambah bila konsentrasi obat meningkat sampai konsentrasi maksimal, sebaliknya bila konsentrasi obat melewati maka kecepatan metabolisme dapat turun. Disamping konsentrasi obat, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi proses metabolism, yaitu :

a. Fungsi hati

Pada gangguan fungsi hati metabolisme dapat berlangsung lebih cepat atau lebih lambat, sehingga efek obat menjadi lebih lemah atau lebih kuat dari yang diharapkan.

(22)

b. Usia

Pada bayi yang baru dilahirkan (neonatal) semua enzim hati belum terbentuk dengan sempurna sehingga reaksi metabolismenya lebih lambat, antara lain pada obat-obatan seperti kloramfenikol, sulfonamida,

diazepam dan barbital. Untuk mencegah efek toksik pada obat-obat ini maka dosis perlu diturunkan. Sebaliknya pada bayi juga dikenal obat-obat yang metabolismenya lebih cepat pada bayi seperti fenitoin, fenobarbital, karbamazepin dan asam valproat. Dosis obat-obat ini harus dinaikkan agar tercapai kadar plasma yang diinginkan.

c. Faktor genetik

Ada orang yang tidak memiliki faktor genetik tertentu misalnya enzim untuk asetilasi INH dan sulfadiazin. Akibatnya perombakan obat ini dapat berjalan lebih lambat.

d. Penggunaan obat lain

Adanya pemakaian obat lain secara bersamaan, dapat mempercepat metabolisme (induksi enzim) dan menghambat metabolisme (inhibisi enzim).

2.4.4 Ekskresi

Ekskresi adalah pengeluaran obat atau metabolitnya dari tubuh terutama dilakukan oleh ginjal melalui air seni, dan dikeluarkan dalam bentuk metabolit maupun bentuk asalnya. Disamping itu ada pula beberapa cara lain, yaitu:

a. Kulit, bersama keringat, misalnya paraldehide dan bromida

b. Paru-paru, dengan pernafasan keluar, misalnya pada anestesi umum, anestesi gas / anestesi terbang seperti halotan dan siklopropan.

c. Hati, melalui saluran empedu, misalnya fenolftalein, obat untuk infeksi saluran empedu, penisilin, eritromisin dan rifampisin.

d. Air susu ibu (ASI), misalnya alkohol, obat tidur, nikotin dari rokok dan alkaloid lain. Harus diperhatikan karena dapat menimbulkan efek farmakologi atau toksis pada bayi.

e. Usus, bersama tinja, misalnya sulfa dan preparat besi.

(23)

2.5 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Farmakokinetika

Farmakokinetika adalah studi tentang bagaimana tubuh memproses obat, seperti absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi. Banyak faktor

memengaruhi proses-proses ini, dan faktor-faktor ini dapat diklasifikasikan sebagai fisiologis, patologis, dan farmasi.

1) Faktor Fisiologis

Usia, jenis kelamin, berat badan, dan komposisi tubuh dapat berdampak pada farmakokinetika. Contohnya, dosis obat harus disesuaikan untuk orang tua dan anak-anak karena metabolisme mereka berbeda dari orang dewasa.

2) Faktor Patologis

Faktor patologis seperti penyakit ginjal, hati, atau jantung dapat mengubah cara tubuh menerima obat. Pasien dengan penyakit kronis mungkin memerlukan dosis obat yang lebih rendah atau lebih sering untuk mencapai hasil yang diinginkan.

3) Faktor Farmasi

Farmakokinetika dapat dipengaruhi oleh komponen farmasi seperti jenis obat, cara obat diberikan, dan interaksi antara obat. Obat kapsul diserap lebih lambat daripada obat suntikan. Interaksi antara obat-obatan dapat meningkatkan atau mengurangi efek pengobatan obat.

Selain itu, berikut hal-hal yang dapat memengaruhi farmakokinetika:

1. Bentuk sediaan obat (tablet, kapsul, sirup, injeksi, infus, dll) 2. Kelaritan obat (bentuk partikel, sifat fisika-kimia dll)

3. Route pemberian obat (oral, parenteral, topikal, dll)

4. Faktor-faktor biologis (pH, volume cairan GI, motilitas GI) 5. Kemampuan obat berdifusi melalui membran sel

6. Kadar yang diberikan

7. Luas permukaan kontak obat

8. Kecepatan distribusi aliran darah pada jaringan dan organ tubuh 9. Ikatan obat dengan sisi kehilangan (protein)

10. Adanya pengangkutan aktif dari beberapa obat.

(24)
(25)

BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan

Proses perjalanan obat untuk mencapai target site, sampai menghasilkan efek terapeutik membutuhkan proses yang cukup panjang. Selain faktor zat aktif, sekumpulan faktor-faktor formulasi obat sangat berpengaruh terhadap efek terapeutik / efek farmakologis yang ditimbulkan. Sebelum menimbulkan efek farmakologis, obat juga melalui fase-fase dalam perjalanannya di dalam tubuh.

Fase-fase tersebut meliputi pelepasan zat aktif dari bentuk sediaannya (fase farmasetik), proses absorbsi, distribusi, metabolism dan ekskresi (fase

farmakokinetik) dan fase farmakodinamik, yaitu obat berikatan dengan reseptor dan menimbulkan efekfarmakologis.

Proses perjalanan obat dalam tubuh meliputi absorbsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi. Proses absorbsi obat dapat terjadi di semua tempat pemberian obat. Berbagai macam factor seperti kelarutan obat , sirkulasi pada letak absorbs sangat mempengaruhi kecepatan absorbsi obat. Distribusi obat terjadi segera setelah proses absorbsi. Distribusi akan terjadi pada organ yang perfusinya lebih cepat. Metabolisme adalah proses yang sangat penting dalam mengubah molekul obat menjadi hasil metabolisme (metabolit) obat. Sebagian besar proses metabolism ini terjadi di organ hati oleh enzim retikuloendotelial.

Perubahan meolekul obat yang terjadi dapat berupa: bioinaktivasi, detoksifikasi, atau perubahan kepolaran. Ekskresi merupakan proses yang sangat penting untuk eliminasi (pengeluaran) obat dan metabolitnya dalam tubuh. Ginjal melalui urin, merupakan organ yang sangat penting dalam pengeluaran metabolit obat dalam tubuh.

3.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, diharapkan mahasiswa, para tenaga medis, dan semua pembaca makalah ini dapat lebih memahami tentang bagaimana proses farmakokinetika obat di dalam tubuh, hal ini sangat penting dalam

pendidikan dan praktik kesehatan. Pemahaman yang baik tentang farmakokinetika akan membantu para profesional kesehatan dalam mengoptimalkan dosis obat,

(26)

merancang obat baru yang lebih baik, dan memberikan pengobatan yang efektif kepada pasien.

DAFTAR PUSTAKA

Farmakokinetika. Ensiklopedia Dunia. Univeritas STEKOM.

https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Farmakokinetika. Diakses pada 3 Februari 2024.

Katzung, B. G. (2018). Basic & clinical pharmacology (14th ed.). New York:

McGraw-Hill Education.

Rang, H. P., Dale, M. M., & Ritter, J. M. (2012). Pharmacology (7th ed.).

Edinburgh: Churchill Livingstone.

Rang, H. P., Dale, M. M., & Ritter, J. M. (2018). Pharmacology (8th ed.).

Edinburgh: Churchill Livingstone.

Wagner, J. G. W. (1977). The History of Pharmacokinetics. Drug Intelligence and Clinical Pharmacy. Vol. 11. 747-748.

Wahyono, Djoko. (2016). Farmakokinetika Klinik: Konsep Dasar dan Terapan dalam Farmasi Klinik. Gadjah Mada University Press.

Widianingrum, P., & Santoso, P. T. R. (2022). Modul Farmakologi. Prodi D-3 RMIK Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.

Gambar

Gambar 2. 1 Proses Farmakokinetika
Gambar 2. 2 Rute Pemberian Obat
Gambar 2. 3 Fase-Fase Penting Obat
Gambar 2. 4 Rute Ekskresi Obat
+2

Referensi

Dokumen terkait

Persaingan tempat yang terjadi di pasar pagi Peterongan adalah para pedagang yang satu dengan yang lain saling berlomba-lomba dalam mendapatkan tempat untuk

Pabrikasi Pabrikasi Saluran cerna Saluran cerna Bentuk sediaan Bentuk sediaan Peredaran darah Peredaran darah Obat bebas Obat bebas   Jaringan   Jaringan Protein plasma Protein

Pengikatan ini terjadi karena pada mRNA prokariot terdapat urutan basa tertentu yang disebut sebagai tempat pengikatan ribosom.. (ribosom binding site) atau urutan

Metabolit obat dapat bersifat elektrofilik atau radikal bebas yang akan menginduksi berbagai macam reaksi kimia, seperti deplesi glutation terreduksi; berikatan secara

Dengan sifat chitosan yang mampu berikatan dengan protein pada tahu maka semakin tinggi konsentrasi chitosan yang diberikan maka semakin menurun kadar lemak pada

Pada field pemilihan obat kemudian dipilih obat dan bentuk sediaan obat, field ini akan langsung terintegrasi dengan database obat untuk mendapatkan fraksi ekskresi

kekeluargaan artinya walaupun terjadi persaingan namun tetap dalam kerangka tujuan bersama sehingga tidak terjadi persaingan bebas yang mematikan. Dengan demikian pelaku

Ion kalsium sebagai second messenger akan berikatan dengan kalmodulin, suatu protein yang memiliki 4 situs pengikatan kalsium dan akan teraktivasi jika 3 situsnya terisi