Metodologi Penelitian
Buku ini ini membahas secara mendalam konsep-konsep teoretis dan praktis pelaksanaan penelitian karena bidang penelitian dewasa ini terasa semakin mendapat prioritas terutama bagi mereka yang ingin mendapatkan penemuan baru. mengingat pentingnya kegiatan penelitian maka penulis berkeinginan untuk menyusun Buku ini untuk dapat dijadikan referensi atau pedoman praktis kepada pihak yang ingin mendalami metodologi penelitian . Isi pokok buku ini meliputi: (1) Teori Pengembang Ilmu, (2) Konsep Dasar Penelitian Pendidikan, (3) Arti Metodologi dan jenis Penelitian , (4) Ragam Penelitian Pendidikan, (5) Konsep Dasar Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif(6) Penelitian Eksperimen (7) Perumusan Masalah Penelitian, (8) Sumber dan Variabel Penelitian, (9) Populasi Sampel dan Tekhnik Sampling, (10) Instrumen Penelitian, (11) Penelitian Tindakan Kelas, (12) Penyusunan Proposal dan Laporan Penelitian, (13) Aplikasi Penelitian Pada Pendidikan (14) Menulis Karya Tulis Ilmiah, dan (15) Laporan Hasil Penelitian. dengan harapan dapat dijadikan bekal bagi para mahasiswa dalam Memperoleh bahan bacaan guna memahami dasar pengetahuan tentang metodologi penelitian
Kehadiran buku ini diharapkan supaya mahasiswa memiliki wawasan yang mendalam tentang konsep penelitian pendidikan dan mampu menyusun serta melaksanakan penelitian di bidang pendidikan pada akhir masa studi dan kelak pada saat berkerja di lingkungan persekolahan.
Puji Syukur kita persembahkan kepada Allah SWT dengan limpahan Rahmat dan petunjuk-Nyalah kita masih diberikan sedikit ilmu yang dapat berguna bagi Agama, Bangsa dan seluruh umat manusia. Tak lupa selawat beriring salam kita haturkan kepada junjungan kita NABI besar Muhammad SAW yang telah membimbing umat manusia dari alam kebodohon kealam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
D e n g a n p e n u h S e m a n g a t d a n p e r j u a n g a n a k h i r n y a P e n u l i s b i s a menyelesaikan buku Metodolgi Penelitian dengan harapan dapat dijadikan bekal bagi para mahasiswa terutama bagi mereka yang ingin mendapatkan penemuan baru.
Mengingat pentingnya kegiatan penelitian maka penulis berkeinginan untuk menyusun Buku ini untuk dapat dijadikan referensi atau pedoman praktis kepada pihak yang ingin mendalami metodologi penelitian
Kehadiran Buku ini Akan menambah dan melengkapi khasanah buku nasional yang telah ada dengan informasi dan metode penyampaian lebih Muktakir dan terkini , penyebaran buku metodologi penelitian Telah menyebar keseluruh Perguruan Tinggi di Indonesia sehingga sangat tepat buku ini dijadikan sebagai panduan dan pegangan bagi mereka yang ingin mendapatkan penemuan baru.
Penulis Berkeinginan mengucapkan terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah mendukung terciptanya Buku metodologi penelitian , Semoga buku ini mampu memberikan
semua Pembaca, Insyaallah Penulis akan mempertahankan ilmu yang berguna yang telah Penulis dapatkan dan dapat Penulis transfer melalui Buku ini .
Akhirnya dengan segala kerendahan hati Penulis mohon maaf lahir batin jika dalam Buku metodologi penelitian ini terdapat kekurangan serta kekeliruan untuk perbaikan dikemudian hari, semua saran dan kritik yang membangun semangat, Penulis terima dengan terbuka.
Jakarta Penulis, Iswadi, M. Pd
Kata Pengantar ... i
Daftar Isi ... ii
Bab 1 Teori Pengembang Ilmu ... 1
Bab 2 Konsep Dasar Penelitian Pendidikan ... 41
Bab 3 Arti Metodologi dan jenis Penelitian ... 64
Bab 4 Ragam Penelitian Pendidikan ... 75
Bab 5 Konsep Dasar Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif ... 81
Bab 6 Penelitian Eksperimen ... 131
Bab 7 Perumusan Masalah Penelitian ... 151
Bab 8 Sumber dan Variabel Penelitian ... 164
Bab 9 Populasi Sampel dan Tekhnik Sampling ... 175
Bab 10 Instrumen Penelitian ... 202
Bab 11 Penelitian Tindakan Kelas ... 220
Bab 12 Penyusunan Proposal dan Laporan Penelitian ... 232
Bab 13 Aplikasi Penelitian Pada Pendidikan ... 251
Bab 14 Menulis Karya Tulis Ilmiah ... 264
Bab 15 Laporan Hasil Penelitian ... 303
Daftar Pustaka ... 315
1
Bab 1 Teori Pengembang Ilmu
A. Pentingnya Ilmu
Berikut ini beberapa kata-kata bijak yang berisi nasehat akan pentingnya ilmu dan mempelajarinya.
Pertama: Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Beliau berkata: “Ilmu itu lebih baik daripada harta, ilmu akan
menjagamu sedangkan kamulah yang akan menjaga harta. Ilmu itu hakim (yang memutuskan berbagai perkara) sedangkan harta adalah yang dihakimi. Telah mati para penyimpan harta dan tersisalah para pemilik ilmu, walaupun diri-diri mereka telah tiada akan tetapi pribadi-pribadi mereka tetap ada pada hati-hati manusia.” (Adabud Dunyaa wad Diin, karya Al-Imam Abul
Hasan Al-Mawardiy, hal.48)
Kedua: Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Suatu ketika beliau melihat para pemuda yang giat mencari ilmu , kemudian berkata : “Selamat datang wahai
sumber-sumber hikmah dan para penerang kegelapan. Walaupun kalian telah usang pakaiannya akan tetapi hati-hati kalian tetap baru. Kalian tinggal di rumah-rumah (untuk mempelajari ilmu), kalian adalah kebanggaan setiap kabilah.” (Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa
Fadhlih, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr, 1/52), Yakni bahwasanya sifat mereka secara umum adalah sibuk
2
dengan mencari ilmu dan tinggal di rumah dalam rangka untuk mudzaakarah (mengulang pelajaran yang telah didapatkan) dan mempelajarinya. Semua ini membuat mereka terlupa akan berbagai macam pakaian dan kemewahan dunia.
Ketiga: Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Beliau berkata: “Pelajarilah oleh kalian ilmu, karena sesungguhnya
mempelajarinya karena Allah adalah khasy-yah; mencarinya adalah ibadah; mempelajarinya dan mengulangnya adalah tasbiih; membahasnya adalah jihad; mengajarkannya kepada yang tidak mengetahuinya adalah shadaqah; memberikannya kepada keluarganya adalah pendekatan diri kepada Allah; karena ilmu itu menjelaskan perkara yang halal dan yang haram; menara jalan-jalannya ahlul jannah, dan ilmu itu sebagai penenang di saat was-was dan bimbang; yang menemani di saat berada di tempat yang asing; dan yang akan mengajak bicara di saat sendirian; sebagai dalil yang akan menunjuki kita di saat senang dengan bersyukur dan di saat tertimpa musibah dengan sabar; senjata untuk melawan musuh; dan yang akan menghiasainya di tengah-tengah sahabat-sahabatnya.
Dengan ilmu tersebut Allah akan mengangkat kaum-kaum lalu menjadikan mereka berada dalam kebaikan, sehingga mereka menjadi panutan dan para imam; jejak-jejak mereka akan diikuti;
3
perbuatan-perbuatan mereka akan dicontoh serta semua pendapat akan kembali kepada pendapat mereka. Para malaikat merasa senang berada di perkumpulan mereka; dan akan mengusap mereka dengan sayap-sayapnya; setiap makhluk yang basah dan yang kering akan memintakan ampun untuk mereka, demikian juga ikan yang di laut, binatang buas yang di daratan dan binatang ternak sekalipun (semuanya memintakan ampun kepada Allah untuk mereka). Karena sesungguhnya ilmu adalah yang akan menghidupkan hati dari kebodohan dan yang akan menerangi pandangan dari berbagai kegelapan. Dengan ilmu , seorang hamba akan mencapai kedudukan-kedudukan yang terbaik dan derajat-derajat yang tinggi serta baik di dunia maupun di akhirat.
Memikirkan ilmu menyamai puasa; mempelajarinya menyamai shalat malam; dengan ilmu akan tersambunglah tali shilaturrahmi, dan akan diketahui perkara yang halal sehingga terhindar dari perkara yang haram. Ilmu adalah pemimpinnya amal sedangkan amal itu adalah pengikutnya, ilmu itu hanya akan diberikan kepada orang-orang yang berbahagia; sedangkan orang-orang yang celaka akan terhalang darinya.” (Ibid. 1/55).
4
Keutamaan manusia dari makhluk Allah lainnya terletak pada ilmunya. Allah bahkan menyuruh para malaikat agar sujud kepada Nabi Adam as karena kelebihan ilmu yang dimilikinya. Cara kita bersyukur atas keutamaan yang Allah berikan kepada kita adalah dengan menggunakan segala potensi yang ada pada diri kita untuk Allah atau di jalan Allah.
B. Adab Menuntut Ilmu
Dalam menuntut ilmu perlu diperhatikan beberapa adab, yaitu:
1. Niat
Niat dalam menuntut ilmu adalah untuk mencari ridho Allah. Hendaknya diiringi dengan hati yang ikhlas benar-benar karena Allah. Bukan untuk menyombongkan diri, menipu orang lain ataupun pamer kepandaian. Tetapi untuk mengeluarkan diri dari kebodohan dan menjadikan diri kita bermanfaat bagi orang lain.
2. Bersungguh-sungguh
Dalam menuntut ilmu haruslah bersungguh-sungguh dan tidak pernah berhenti. Allah mengisyaratkan dalam
firman-5
Nya yang artinya : “Dan orang-orang yang berjuang di jalan
Kami pastilah akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan Kami.”
3. Terus-menerus
Hendaklah kita jangan mudah puas atas ilmu yang kita dapatkan sehingga kita enggan untuk mencari lebih banyak lagi. Seperti pepatah yang disampaikan oleh Sofyan bin Ayyinah : “Seseorang akan tetap pandai selama dia menuntut
ilmu. Namun jika ia menganggap dirinya telah berilmu (cepat puas) maka berarti ia bodoh.” Allah lebih menyukai amalan
yang sedikit tapi dilakukan secara terus menerus dibandingkan amalan yang banyak tetapi hanya dilakukan sehari saja.
4. Sabar dalam menuntut Ilmu
Salah satu kesabaran terpuji yang harus dimiliki oleh seorang penuntut ilmu adalah sabar terhadap gurunya seperti kisah Nabi Musa as dan Nabi Khidr as (QS Al Kahfi : 66-70). Kita jangan cepat putus asa dalam menuntut ilmu jika mendapatkan kesulitan dalam memahami dan mempelajari ilmu. Allah tidak menyukai orang yang berputus asa dari rahmat-Nya.
6
5. Menghormati dan memuliakan orang yang
menyampaikan ilmu kepada kita
Di antara penghormatan murid terhadap gurunya adalah berdiam diri maupun bertanya pada saat yang tepat dan tidak memotong pembicaraan guru. Mendengarkan dengan khidmat, dan memperhatikan ketika beliau menerangkan. 6. Baik dalam bertanya
Bertanya hendaknya untuk menghilangkan keraguan dan kebodohan diri kita, bukan untuk meremehkan, menjebak, mengetes, mempermalukan guru kita dan sebagainya. Aisyah ra tidak pernah mendengar sesuatu yang belum diketahuinya melainkan sampai beliau mengerti. Orang yang tidak mau bertanya berarti menyia-nyiakan ilmu yang banyak bagi dirinya sendiri. Allah pun memerintahkan kita untuk bertanya kepada orang yang berilmu seperti dalam firman-Nya
Artinya: “dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali
orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,”(Q. S An-Nahl: 43)
7
Setiap muslim wajib menuntut ilmu. Rasulullah saw bersabda: “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim
laki-laki dan perempuan”. Kewajiban menuntut ilmu tidak
hanya mengenai ilmu pengetahuan umum saja tetapi juga ilmu pengetahuan agama yang hukumnya fardlu ‘ain, karena beramal tanpa berilmu sama saja dengan bohong dan tidak ada artinya di mata Allah. Maka jika salah, kita dapat terjerumus ke perbuatan dosa. Umat Islam juga tidak boleh ketinggalan dalam hal ilmu pengetahuan dan tidak boleh pula menjadi orang yang bodoh , karena orang pintar akan lebih disenangi. Dengan kepintaran yang kita miliki, kita tidak akan mudah ditipu dan dibohongi orang lain. Imam Syafii sendiri selalu merasa kurang akan ilmu yang dimilikinya dan selalu mencatat setiap ilmu yang diperolehnya karena takut lupa.
Kategori ilmu yang wajib dipelajari: • Fardu Ain
Wajib dipelajari (Akidah, syariah, akhlak)
8
Perlu dipelajari untuk memenuhi keperluan diri, masyarakat dan negara (perbuatan, perniagaan, teknologi) Ilmu sihir diharamkan untuk dipelajari.
D. Kewajiban Mengamalkan Ilmu
Abu Darda Radhiyallhu ‘Anhu berkata, "Engkau tidak akan
menjadi seorang alim hingga engkau menjadi orang yang belajar. Dan engkau tidak dianggap alim tentang suatu ilmu, sampai engkau mengamalkannya".
Ali Radhiyallahu ‘Anhu berkata, "Ilmu membisikkan untuk
diamalkan kalau saeorang menyambut (maka ilmu itu akan bertahan bersama dirinya). Bila tidak demikian maka ilmu itu akan pergi".
Al Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, "Seorang alim
senantiasa dalam keadaan bodoh hingga dia mengamalkan ilmunya. Bila dia sudah mengamalkannya, barulah ia menjadi alim".
Tiada guna banyak belajar, tetapi tidak diamalkan. Pada akhirnya, ilmu yang dipelajari akan menjadi ilmu pengetahuan biasa saja, tanpa mendapat faedah daripadanya. Amalan akan menjadi baik jika seseorang itu berilmu. Oleh karna itu, umat Islam hendaklah belajar dan mengamalkannya. Karena tanpa amalan, ilmu itu tidak
9
menjadi Nur untuk kita. Rasulullah bersabda : “Orang alim
itu ialah orang yang beramal dengan apa yang dia tahu.”
Diriwayatkan daripada Anas bin Malik, Rasulullah bersabda: “Diantara tanda hampir kiamat adalah terhapusnya
ilmu Islam, munculnya kejahilan, ramainya peminum arak dan perzinaan dilakukan secara terang-terangan.”
Kemudian ada juga Firman Allah SWT yang artinya:
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”
(Q. S Al-Baqarah : 44)
Dalam ayat lain ketika berbicara tentang kisah Syu'aib as, Allah SWT berfirman yang artinya: “Syu'aib berkata: "Hai
kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.”
10
Dan firman Allah SWT, yang artinya: “dan demi (rombongan)
yang melarang dengan sebenar-benarnya (dari perbuatan-perbuatan maksiat),dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran,” (Q. S Ash-Shaf: 2-3).
Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid r.a., ia berkata: "Saya
mendengar Rasulullah saw. Bersabda, 'Pada hari Kiamat nanti akan dibawa seorang lelaki itu dilemparkan ke dalam api Neraka. Maka terburailah ususnya dalam api Neraka, lalu ia berputar-putar seperti seekor keledai berberputar-putar-berputar-putar mengelilingi batu penggilingan, maka penduduk Neraka berkumpul mendekatinya dan berkata: 'Hai Fulan, mengapa kamu seperti ini? Bukankah dahulu kamu menyuruh kami kepada perkara ma'ruf dan melarang kami dari perkara munkar?' Maka lelaki itu berkata: 'Dahulu aku menyuruh kamu kepada perkara ma'ruf namun aku sendiri tidak melakukannya dan melarang kamu dari perkara munkar namun aku sendiri melakukannya’." (HR Bukhari dan
Muslim).
Barangsiapa tidak mengamalkan ilmunya atau
perkataannya bertolak belakang dengan perbuatannya (munafik), maka ia pantas mendapat adzab yang sangat pedih, buruk dan keji. Allah membongkar aib dirinya dihadapah manusia di dalam Neraka Jahannam, di mana ususnya terburai, lalu orang sok alim yang banyak
11
berbicara ini berputar-putar mengelilinginya seperti seekor kedelai. Sementara orang-orang menyaksikannya dan keheranan melihat keadaannya. Lalu Allah membuatnya berbicara tentang perbuatan dosanya sebagai celaan pedas dari Allah atas dirinya dan celaan atas orang lain yang sama seperti dirinya. Kita memohon kepada Allah keselamatan dari kerugian dan penyesalan di hari Kiamat.
Allah telah memberikan anugerah yang cukup besar kepada manusia yaitu akal dan pikiran. Dengan akal manusia bisa mencari tahu sesuatu hal-hal yang baru. Dengan mencari sesuatu hal-hal yang baru jika dapat diketahui maka manusia sudah mendapatkan ilmu .Dengan pikiran manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana buruk Ilmu merupakan suatu jalan untuk menuju ke surga. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya:
“segala sesuatu ada jalannya dan jalan menuju surga adalah ilmu” orang yang paling utama diantara manusia adalah
orang mukmin yang mempunyai ilmu, dimana kalau dibutuhkan(orang) dia membawa manfaat/memberi petunjuk dan dikala sedang tidak dibutuhkan dia memperkaya /menambah sendiri pengetahuannya. E. Makna Ganda Ilmu
12
Dari segi maknanya, pengertian ilmu sepanjang yang terbaca dalam pustaka menunjuk pada sekurang-kurangnya tiga hal, yaitu pengetahuan, aktivitas, dan metode. Dalam hal yang pertama dan ini yang terumum, ilmu senantiasa berarti pengetahuan (knowledge). Di antara para filsuf dari berbagai aliran terdapat pemahaman umum bahwa ilmu adalah sesuatu kumpulan yang sistematis dari
pengetahuan (any systematic body of knowledge). Dalam
kalangan ilmuwan sendiri umumnya juga ada kesepakatan bahwa ilmu terdiri atas pengetahuan. Dalam bukunya The Foundations of Science (1969) Sheldon J. Lachman memberikan batasan tentang ilmu yaitu:
“Science refers primarily to those systematically organized bodies of accumulated knowledge concerning the universe which have beeen derived exclusively througth tecniques of objective observation. The content of science, then, consists of organized bodies of data.” (Ilmu menunjuk pertama-tama pada kumpulan-kumpulan yang disusun secara sistematis dari pengetahuan yang dihimpun tentang alam semesta yang melulu diperoleh melalui teknik-teknik pengamatan yang obyektif. Dengan demikian, maka isi ilmu terdiri dari kumpulan-kumpulan teratur dari data).
Pengertian ilmu sebagai pengetahuan itu sesuai dengan asal-usul istilah Inggris science yang berasal dari bahasa
13
Latin scientia yang diturunkan dari kata scire yang artinya
mengetahui (to know). Tetapi pengetahuan sesungguhnya
hanyalah hasil atau produk dari sesuatu kegiatan yang dilakukan oleh manusia. Bahasa Latin scire juga berarti
belajar (to learn). Dengan demikian, dapatlah dipahami
bilamana ada makna tambahan dari ilmu sebagai aktifitas (atau suatu proses, yakni serangkaian aktivitas yang dilakukan manusia). Charles Singer merumuskan bahwa ilmu adalah “Proses yang membuat Pengetahuan” (Science is
the process which makes knowledge). Pemahaman ilmu sebagai
proses atau rangkaian aktivitas juga dikemukakan oleh John Warfield yang menegaskan demikian :
“But science is also viewed as a process. The process orientation is most relevant to a concern for inquiry, since inquiry is a major part of science as a process” (Social System : Planning, Policy
and Complexity, 1976). “Tetapi, ilmu juga dipandang sebagai
suatu proses. Pandangan proses ini paling bertalian dengan sutau perhatian terhadap penyelidikan, karena penyelidikan adalah suatu bagian besar dari ilmu sebagai suatu proses”. Oleh karena
ilmu dapat dipandang sebagai suatu bentuk aktivitas manusia, maka dari makna ini orang dapat melangkah lebih lanjut untuk sampai pada metode dari aktivitas itu. Menurut Harold H. Titus dalam bukunya Living Issues in Philosophy; An Introductory Textbook, 1964, banyak orang
14
telah mempergunakan istilah ilmu untuk menyebut suatu metode guna memperoleh pengetahuan yang obyektif dan dapat diperiksa kebenarannya (a method of obtaining knowledge that is objective and verifiable).
Demikianlah makna ganda dari pengertian ilmu. Tetapi, pengertian ilmu sebagai pengetahuan, aktivitas, atau metode itu bila ditinjau lebih mendalam sesungguhnya tidak saling bertentangan. Bahkan sebaliknya, ketiga hal itu merupakan kesatuan logis yang mesti ada secara berurutan. Ilmu harus diusahakan dengan aktivitas manusia, aktivitas itu harus dilaksanakan dengan metode tertentu, dan akhirnya aktivitas metodis itu mendatangkan pengetahuan yang sistematis.
Ilmu dapat dipahami dari 3 sudut, yakni ilmu dapat dihampiri dari arah aktivitas para ilmuwan atau dibahas mulai dari segi metode atau dimengerti sebagai pengetahuan yang merupakan hasil yang sudah sistematis. Pemahaman yang lengkap akan tercapai kalau ketiga segi itu diberi perhatian yang seimbang. Pemahaman yang tertib tentang ilmu akan menghasilkan tiga ciri pokok yaitu
sebagai rangkaian kegiatan manusia atau proses, sebagai tata tertib tindakan pikiran atau prosedur, dan sebagai keseluruhan hasil yang dicapai atau produk. Berdasarkan ketiga kategori
15
proses, prosedur, dan produk yang semuanya bersifat dinamis (tidak ada yang statis), ilmu dapat dipahami sebagai aktivitas penelitian, metode kerja, dan hasil pengetahuan. Dengan demikian, pengertian ilmu selengkapnya berarti aktivitas penelitian, metode ilmiah, dan pengetahuan sistematis.
Ketiga pengertian ilmu itu saling bertautan logis dan berpangkal pada satu kenyataan yang sama bahwa ilmu hanya terdapat dalam masyarakat manusia. Suatu penjelasan yang sistematis harus dimulai dengan manusia sebagai pelaku yang disebut ilmu. Hanyalah manusia (dalam hal ini ilmuwan) yang memiliki kemampuan rasional, melakukan aktivitas kognitif (menyangkut pengetahuan), dan mendambakan berbagai tujuan yang berkaitan dengan ilmu. Jadi, tepatlah bilamana perngertian ilmu pertama dipahami dari seginya sebagai serangkaian aktivitas yang rasional, kognitif, dan bertujuan. Sesuatu aktivitas hanya dapat mencapai tujuannya bilamana dilaksanakan dengan metode yang tepat. Dengan demikian, penjelasan mengenai aktivitas para ilmuwan yang merupakan penelitian akan beralih pada metode ilmiah yang dipergunakan. Ilmu lalu mempunyai pengertian kedua sebagai metode. Dari rangkaian kegiatan studi atau
16
dilaksanakan dengan tata cara yang metodis, akhirnya dapat dibuahkan hasil berupa keterangan baru atau tambahan mengenai sesuatu hal. Dengan demikian, pada pembahasan terakhir pengertian ilmu mempunyai arti sebagai pengetahuan. Makna ganda daripada ilmu yakni: ilmu merupakan rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala kealaman, kemasyarakatan, atau keorangan untuk tujuan mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan, ataupun melakukan penerapan. F.Ilmu Sebagai Aktivitas Penelitian
Ilmu secara nyata dan khas adalah suatu aktivitas manusiawi, yakni perbuatan melakukan sesuatu yang dilakukan oleh manusia. Ilmu tidak hanya satu aktivitas tunggal saja, melainkan suatu rangkaian aktivitas sehingga merupakan sebuah proses. Rangkaian aktivitas itu bersifat rasional, kognitif, dan teleologis. Aktivitas rasional berarti kegiatan yang mempergunakan kemampuan pikiran untuk menalar yang berbeda dengan aktivitas berdasarkan perasaan atau naluri. Ilmu menampakkan diri sebagai kegiatan penalaran logis dari pengamatan empiris.
17
Berpangkal pada hasrat kognitif dan kebutuhan intelektualnya, manusia melakukan rangkaian pemikiran dan kegiatan rasional yang selanjutnya melahirkan ilmu. Menurut Bernard Barber pemikiran rasional atau rasionalitas manusia merupakan sumber utama dari ilmu. Dikatakannya bahwa “the germ of science in human society lies
in man’s aboriginal and unceasing attempt to understand and control the world in which he live by the use of rational thought and activity”. (benih ilmu dalam masyarakat manusia terletak di dalam usaha manusia yang tak henti-hentinya dan asli pembawaannya untuk memahami dan menguasai dunia tempat ia hidup dengan menggunakan pemikiran dan aktivitas rasional).
Ciri penentu yang kedua dari kegiatan yang merupakan ilmu ialah sifat kognitif, bertalian dengan hal mengetahui dan pengetahuan. Filsuf Polandia Ladislav Tondl menyatakan bahwa science terutama berarti conscious and
organized cognitive activity (aktivitas kioginitf yang teratur dan sadar).
Dijelaskannya lebih lanjut:
“Tujuan-tujuan terpenting ilmu bertalian dengan apa yang telah dicirikan sebagai fungsi pengetahuan atau kognitif dari ilmu, dengan fungsi itu ilmu memusatkan perhatian terkuat pada pemahaman kaidah-kaidah yang tak diketahui sebelumnya dan
18
baru atau pada penyempurnaan keadaan pengetahuan dewasa ini mengenai kaidah-kaidah demikian itu”.
Jadi pada dasarnya ilmu adalah proses yang bersifat kognitif, bertalian dengan proses mengetahui dan pengetahuan. Proses kognitif adalah suatu rangkaian aktivitas seperti pengenalan, penerapan, pengkonsepsian, dan penalaran yang dengannya manusia dapat mengetahui dan memperoleh pengetahuan akan suatu hal. Ilmu selain merupakan sebuah proses yang bersifat rasional dan kognitif, juga bercorak teologis, yakni mengarah pada tujuan tertentu karena para ilmuwan dalam melakukan aktivitas ilmiah mempunyai tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Ilmu melayani sesuatu tujuan tertentu yang diinginkan oleh setiap ilmuwan. Dengan demikian, ilmu adalah aktivitas manusiawi yang mempunyai tujuan. Tujuan ilmu itu dapat bermacam-macam sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masing-masing ilmuwan. Rangkaian aktivitas pemikiran yang rasional dan kognitif untuk
menghasilkan pengetahuan, mencapai kebenaran,
memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan, dan melakukan peramalan, pengendalian, atau penerapan itu dilaksanakan oleh seseorang yang digolongkan sebagai ilmuwan. Setiap ilmuwan sejati bertugas melakukan penelitian dan mengembangkan ilmu. Hal ini ditegaskan
19
dalam The International Encyclopedia of Higher Education yang mendefinisikan ilmuwan sebagai seseorang yang melakukan penelitian ilmiah dan penelitian ilmiah diartikan sebagai penelitian yang dilaksanakan untuk memajukan pengetahuan.
G. Ilmu Sebagai Metode Ilmiah
Penelitian sebagai suatu rangkaian aktivitas mengandung prosedur tertentu, yakni serangkaian cara dan langkah tertib yang mewujudkan pola tetap. Rangkaian cara dan langkah ini dalam dunia keilmuan disebut metode. Untuk menegaskan bidang keilmuan itu seringkali dipakai istilah metode ilmiah (scientific method). Metode ilmiah merupakan prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, tata langkah, dan cara teknis untuk memperoleh pengetahuan baru atau memperkembangkan pengetahuan yang ada.
Prosedur yang merupakan metode ilmiah meliputi pengamatan, percobaan, analisis, deskripsi, penggolongan, pengukuran, perbandingan, dan survai.
Oleh karena ilmu merupakan suatu aktivitas kognitif yang harus mematuhi berbagai kaidah pemikiran yang logis, maka metode ilmiah juga berkaitan sangat erat dengan
20
logika. Dengan demkikian, prosedur-prosedur yang tergolong metode logis termasuk pula dalam ruang lingkup metode ilmiah. Ini misalnya ialah deduksi, abstraksi, penalaran analogis, analisis logis. Selanjutnya, metode ilmiah meliputi suatu rangkaian langkah yang tertib. Dalam kepustakaan metodologi ilmu tidak ada kesatuan pendapat mengenai jumlah, bentuk, dan urutan langkah yang pasti. Sheldon J.Lachman mengurai metode ilmiah menjadi 6 langkah yang berikut :
1. Perumusan pangkal-pangkal duga yang khusus atau
pernyataan-pernyataan yang khusus untuk
penyelidikan.
2. Perancangan penyelidikan itu. 3. Pengumpulan data.
4. Penggolongan data.
5. Pengembangan generalisasi-generalisasi.
6. Pemeriksaan kebenaran terhadap hasil-hasil, yaitu terhadap data dan generalisasi-genralisasi.
George Abell merumuskan metode ilmiah sebagai suatu prosedur khusus dalam ilmu yang mencakup 3 langkah berikut :
21
1) Pengamatan gejala-gejala atau hasil-hasil dari percobaan-percobaan.
2) Perumusan pangkal-pangkal duga yang melukiskan gejala-gejala ini, dan yang bersesuaian dengan kumpulan pengetahuan yang ada.
3) Pengujian pangkal-pangkal duga ini dengan mencatat apakah mereka secara memadai meramalkan dan melukiskan gejala-gejala baru atau hasil-hasil dari percobaan-percobaan yang baru.
Metode ilmiah lain dikemukakan oleh J. Eigelberner yang mencakup 5 langkah sebagai berikut :
1) Analisis masalah untuk menetapkan apa yang dicari, dan penyusunan pangkal-pangkal duga yang dapat dipakai untuk memberi bentuk dan arah pada telaah penelitian.
2) Pengumpulan fakta-fakta yang bersangkurtan.
3) Penggolongan dan pengaturan data agar supaya menemukan kesamaan-kesamaan, uruttan-urutan, dan hubungan-hubungan yang ada.
4) Perumusan kesimpulan-kesimpulan dengan memakai proses-proses penyimpulan yang logis dan penalaran. 5) Pengujian dan pemeriksaan kebenaran
22
Walaupun pendapat para ahli mengenai metode ilmiah dirumuskan secara berbeda-beda, ada 4 – 5 langkah yang merupakan pola umum yang senantiasa dilaksanakan dalam penelitian. Langkah-langkah baku itu ialah penentuan masalah, perumusan hipotesis atau pangkal duga bila dianggap perlu, pengumpulan data, penurunan kesimpulan, dan pengujian atau verifikasi hasil.
Tata langkah tersebut melibatkan berbagai konsep dalam metode ilmiah. Konsep adalah ide umum yang mewakili sesuatu himpunan hal yang biasanya dibedakan dari pencerapan atau persepsi mengenai suatu hal khusus satu per satu. Konsep merupakan alat yang penting untuk pemikiran utama dalam penelitian ilmiah.
Pengertian metode tidak pula sama dengan tehnik. Metode ilmiah adalah berbagai prosedur yang mewujudkan pola-pola dan tata langkah dalam pelaksanaan sesuatu penelitian ilmiah. Pola dan tata langkah prosedural itu dilaksanakan dengan cara-cara operasional dan tehnis yang lebih terinci. Cara-cara itulah yang mewujudkan tehnik. Jadi, tehnik adalah sesuatu cara operasional tehnis yang seringkali bercorak rutin, mekanis, atau spesialistis untuk memperoleh dan menangani data dalam penelitian.
23
Dari hal-hal tersebut dapat disimpulkan bahwa, kegiatan penelaahan atau proses penelitian yang merupakan ilmu itu mengandung prosedur, yakni serangkaian cara dan langkah tertentu yang mewujudkan pola tetap. Rangkaian cara dan langkah ini dalam istilah dunia keilmuan dikenal sebagai metode atau sering disebut metode ilmiah. Metode merupakan ciri penentu yang kedua dan dengan demikian ilmu dapat pula dibahas, dipahami, dan dijelaskan sebagai metode.
H. Ilmu Sebagai Pengetahuan Sistematis
Pengertian ilmu memang paling mudah dipahami sebagai pengetahuan. Di kalangan ilmuwan maupun para filsuf pada umumnya ada kesepakatan bahwa ilmu adalah sesuatu kumpulan pengetahuan sistematis. Demikian lazim perumusan itu sehingga pengertian ilmu sebagia aktifitas dan sebagai metode tampak terselubungi dan kurang dikenal. Namun, pemahaman yang terlengkap hanyalah bilamana ilmu ditelaah sebagai aktifitas, metode, dan pengetahuan secara utuh. Penelahaan ini dapat saja dimulai dari salah satu dari antara ketiga segi itu. Tetapi, urutan yang kiranya sudah tepat dan memudahkan pemahaman ialah bilamana dimulai sebagai aktifitas, aktifitas itu mempergunakan metode tertentu, dan terakhir aktivitas
24
dengan metode itu mendatangkan hasil berupa pengetahuan.
Secara sederhana pengetahuan pada dasarnya adalah keseluruhan keterangan dan ide yang terkandung dalam pernyataan-pernyataan yang dibuat mengenai sesuatu gejala/peristiwa baik yang bersifat alamiah, sosial maupun keorangan. Jadi, pengetahuan menunjuk pada sesuatu yang merupakan isi substantif yang terkadung dalam ilmu. Isi itu dalam istilah keilmuan disebut fakta.
Pengetahuan dapat dibedakan dan digolongkan dalam berbagai jenis menurut sesuatu ukuran. Pengetahuan manusia dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu pengetahuan mengenai fakta-fakta dan pengetahuan mengenai hubungan-hubungan umum di antara fakta-fakta (Bertran Russell, 1956, hal. 439). Pengetahuan juga dapat digolongkan menjadi dua macam lainnya, yakni pengetahuan empiris murni yang menunjukkan adanya benda-benda berikut ciri-cirinya yang dikenal manusia dan pengetahuan a priori murni yang menunjukkan hubungan-hubungan di antara hal-hal umum yang memungkinkan orang membuat penyimpulan-penyimpulan dari fakta-fakta yang terdapat dalam pengetahuan empiris (Bertran Russell, 1972, hal. 149).
25
Walaupun pengertian mengenai pengetahuan menunjuk pada fakta-fakta sebagai intinya, perlulah dipahami bahwa ilmu bukanlah fakta-fakta. Pernyataan yang lebih tepat ialah bahwa ilmu senantiasa berdasarkan fakta-fakta. Fakta-fakta itu diamati dalam aktivitas ilmiah. Dari pengamatan itu selanjutnya fakta-fakta dihimpun dan dicatat sebagai data. Yang dimaksud dengan data ialah berbagai keterangan yang dipandang relevan bagi suatu penyelidikan dan yang dihimpun berdasarkan persyaratan yang ditentukan secara rinci.
Pengetahuan pada dasarnya menunjuk pada sesuatu yang diketahui. Dengan demikian, maka setiap ilmu harus mempunyai sesuatu pokok soal .Seorang ahli logika modern juga menyatakan bahwa suatu ilmu adalah suatu kumpulan yang sistematis atau teratur dari pengetahuan yang bertalian dengan suatu pokok soal khusus, dan pokok soal dari setiap ilmu ialah suatu bagian tertentu dari bahan pengalaman manusia (Mellone, 1954, hal. 295).
Setiap pokok soal yang cukup rumit mempunyai aneka segi dan permasalahan. Sesuatu ilmu biasanya membatasi diri
pada segi atau permasalahan tertentu dalam
penelaahannya terhadap pokok soal, sedang berbagai segi dan permasalahan lainnya dikeluarkan dari titik pusat
26
perhatiannya untuk menjadi sasaran dari ilmu-ilmu khusus lainnya. Dengan demikian, setiap ilmu menurut salah satu maknanya adalah pengetahuan. Pengetahuan itu mengenai sesuatu pokok soal dan berdasarkan suatu titik pusat minat. Pokok soal dan titik pusat minat itu membentuk suatu sasaran yang sesuai dari ilmu yang bersangkutan.
Ciri umum dari suatu ilmu yang membuatnya berbeda dengan filsafat ialah ciri empiris. Kalau filsafat masih tetap merupakan pemikiran reflektif yang coraknya sangat umum, kebalikannya ilmu-ilmu fisis, biologi, psikologi, dan ilmu-ilmu sosial telah merupakan rangkaian aktivitas intelektual yang sifatnya empiris. Jadi, ciri empiris dari ilmu mengandung pengertian bahwa pengetahuan yang diperoleh itu berdasarkan pengamatan atau percobaan. Kalau ilmu berbeda dari filsafat berdasarkan ciri empiris itu, maka ilmu berbeda dari pengetahuan biasa karena ciri sistematisnya. Ciri sistematis berarti bahwa berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan
pengetahuan itu mempunyai hubungan-hubungan
ketergantungan dan teratur.
Selain ciri-ciri empiris dan sistematis, masih ada 3 ciri pokok lainnya dari ilmu, yaitu obyektif, analitis, dan verifikatif. Ciri obyektif dari ilmu berarti bahwa pengetahuan itu bebas
27
dari prasangka prseorangan dan kesukaan pribadi. Ilmu haruslah hanya mengandung pernyataan dan data yang
menggambarkan secara terus terang maupun
mencerminkan secara tepat gejala-gejala yang ditelaahnya. Ilmu juga mempunyai ciri analitis, yaitu pengetahuan ilmiah itu berusaha membeda-bedakan pokok soalnya ke dalam bagian-bagian yang terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan, dan peranan dari bagian-bagian itu. Ciri verifikatif berarti ilmu itu senantiasa mengarah pada tercapainya kebenaran. Ilmu dikembangkan oleh manusia untuk menemukan suatu nilai luhur dalam kehidupan manusia yang disebut kebenaran ilmiah. Kebenaran ini berupa asas-asas yang berlaku umum atau kaidah-kaidah universal. Dengan memiliki pengetahuan ilmiah dan mencapai kebenaran itu manusia berharap dapat membuat ramalan tentang peristiwa mendatang dan menerangkan atau menguasai alam sekelilingnya.
I. Ilmu Sebagai Aktivitas Penelitian, Metode Ilmiah, Dan Pengetahuan Sistematis
Di lingkungan pendidikan, terutama pendidikan tinggi, boleh dikatakan setiap waktu istilah “ilmu” diucapkan dan sesuatu ilmu diajarkan. Istilah ilmu atau science merupakan
28
suatu perkataan yang cukup bermakna ganda, yaitu mengandung lebih daripada satu arti. Oleh karena itu, dalam memakai istilah tersebut seseorang harus menegaskan atau sekurang-kurangnya menyadari arti mana yang dimaksud. Menurut cakupannya pertama-tama ilmu merupakan sebuah istilah umum untuk menyebut segenap pengetahuan ilmiah yang dipandang sebagai satu kebulatan. Jadi, dalam arti yang pertama ini ilmu mengacu pada ilmu seumumnya (science-in-general). Arti yang kedua dari ilmu menunjuk pada masing-masing bidang pengetahuan ilmiah yang mempelajari sesuatu pokok soal tertentu. Dalam arti ini ilmu berarti sesuatu cabang ilmu khusus seperti misalnya antropologi, biologi, geografi, atau sosiologi. Istilah Inggris “science” kadang-kadang diberi arti sebagai ilmu khusus yang lebih terbatas lagi, yakni sebagai pengetahuan sistematis mengenai dunia fisis atau material
(systematic knowledge of the physical or material world).
Ilmu secara nyata dan khas adalah suatu aktivitas manusiawi, yakni perbuatan melakukan sesuatu yang dilakukan oleh manusia. Ilmu tidak hanya satu aktivitas tunggal saja, melainkan sutau rangkaian aktivitas sehingga merupakan sebuah proses. Rangkaian aktivitas itu bersifat rasional, kognitif, dan teleologis.
29
Aktivitas rasional berarti kegiatan yang mempergunakan kemampuan pikiran untuk menalar yang berbeda dengan aktivitas berdasarkan perasaan atau naluri. Ilmu menampakkan diri sebagai kegiatan penalaran logis dari pengamatan empiris.
Berpangkal pada hasrat kognitif dan kebutuhan intelektualnya, manusia melakukan rangkaian pemikiran dan kegiatan rasional yang selanjutnya melahirkan ilmu. Menurut Bernard Barber pemikiran rasional atau rasionalitas manusia merupakan sumber utama dari ilmu. Dikatakannya bahwa “the germ of science in human society lies
in man’s aboriginal and unceasing attempt to understand and control the world in which he live by the use of rational thought and activity”. (benih ilmu dalam masyarakat manusia terletak di dalam usaha manusia yang tak henti-hentinya dan asli pembawaannya untuk memahami dan menguasai dunia tempat ia hidup dengan menggunakan pemikiran dan aktivitas rasional).
Ciri penentu yang kedua dari kegiatan yang merupakan ilmu ialah sifat kognitif, bertalian dengan hal mengetahui dan pengetahuan. Filsuf Polandia Ladislav Tondl menyatakan bahwa science terutama berarti conscious and
organized cognitive activity (aktivitas kioginitf yang teratur dan sadar).
30
Dijelaskannya lebih lanjut : “Tujuan-tujuan terpenting ilmu
bertalian dengan apa yang telah dicirikan sebagai fungsi pengetahuan atau kognitif dari ilmu, dengan fungsi itu ilmu memusatkan perhatian terkuat pada pemahaman kaidah-kaidah yang tak diketahui sebelumnya dan baru atau pada penyempurnaan keadaan pengetahuan dewasa ini mengenai kaidah-kaidah demikian itu”.
Jadi pada dasarnya ilmu adalah proses yang bersifat kognitif, bertalian dengan proses mengetahui dan pengetahuan. Proses kognitif adalah suatu rangkaian aktivitas seperti pengenalan, pencerapan, pengkonsepsian, dan penalaran yang dengannya manusia dapat mengetahui dan memperoleh pengetahuan akan suatu hal.
Ilmu selain merupakan sebuah proses yang bersifat rasional dan kognitif, juga bercorak teologis, yakni mengarah pada tujuan tertentu karena para ilmuwan dalam melakukan aktivitas ilmiah mempunyai tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Ilmu melayani sesuatu tujuan tertentu yang diinginkan oleh setiap ilmuwan. Dengan demikian, ilmu adalah aktivitas manusiawi yang bertujuan. Tujuan ilmu itu dapat bermacam-macam sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masing-masing ilmuwan.
31
Rangkaian aktivitas pemikiran yang rasional dan kognitif untuk menghasilkan pengetahuan, mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan, dan melakukan peramalan, pengendalian, atau penerapan itu dilaksanakan oleh seseorang yang digolongkan sebagai ilmuwan. Setiap ilmuwan sejati bertugas melakukan penelitian dan mengembangkan ilmu. Hal ini ditegaskan dalam The International Encyclopedia of Higher Education yang mendefinisikan ilmuwan sebagai seseorang yang melakukan penelitian ilmiah dan penelitian ilmiah diartikan sebagai penelitian yang dilaksanakan untuk memajukan pengetahuan.
Ilmu Sebagai Metode Ilmiah
Penelitian sebagai suatu rangkaian aktivitas mengandung prosedur tertentu, yakni serangkaian cara dan langkah tertib yang mewujudkan pola tetap. Rangkaian cara dan langkah ini dalam dunia keilmuan disebut metode. Untuk menegaskan bidang keilmuan itu seringkali dipakai istilah metode ilmiah (scientific method).
Metode ilmiah merupakan prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, tata langkah, dan cara
32
teknis untuk memperoleh pengetahuan baru atau memperkembangkan pengetahuan yang ada.
Prosedur yang merupakan metode ilmiah meliputi pengamatan, percobaan, analisis, deskripsi, penggolongan, pengukuran, perbandingan, dan survai.
Oleh karena ilmu merupakan suatu aktivitas kognitif yang harus mematuhi berbagai kaidah pemikiran yang logis, maka metode ilmiah juga berkaitan sangat erat dengan logika. Dengan demkikian, prosedur-prosedur yang tergolong metode logis termasuk pula dalam ruang lingkup metode ilmiah. Ini misalnya ialah deduksi, abstraksi, penalaran analogis, analisis logis.
Selanjutnya, metode ilmiah meliputi suatu rangkaian langkah yang tertib. Dalam kepustakaan metodologi ilmu tidak ada kesatuan pendapat mengenai jumlah, bentuk, dan urutan langkah yang pasti.
Sheldon J. Lachman mengurai metode ilmiah menjadi 6 langkah yang berikut :
1) Perumusan pangkal-pangkal duga yang khusus
atau pernyataan-pernyataan yang khusus untuk
33
2) Perancangan penyelidikan itu.
3) Pengumpulan data.
4) Penggolongan data.
5) Pengembangan generalisasi-generalisasi.
6) Pemeriksaan kebenaran terhadap hasil-hasil, yaitu
terhadap data dan generalisasi-genralisasi.
George Abell merumuskan metode ilmiah sebagai suatu prosedur khusus dalam ilmu yang mencakup 3 langkah berikut :
1) Pengamatan gejala-gejala atau hasil-hasil dari percobaan-percobaan.
2) Perumusan pangkal-pangkal duga yang melukiskan gejala-gejala ini, dan yang bersesuaian dengan kumpulan pengetahuan yang ada.
3) Pengujian pangkal-pangkal duga ini dengan mencatat apakah mereka secara memadai meramalkan dan melukiskan gejala-gejala baru atau hasil-hasil dari percobaan-percobaan yang baru.
Metode ilmiah lain dikemukakan oleh J. Eigelberner yang mencakup 5 langkah sebagai berikut :
34
1) Analisis masalah untuk menetapkan apa yang dicari, dan penyusunan pangkal-pangkal duga yang dapat dipakai untuk memberi bentuk dan arah pada telaah penelitian. 2) Pengumpulan fakta-fakta yang bersangkurtan.
3) Penggolongan dan pengaturan data agar supaya menemukan kesamaan-kesamaan, uruttan-urutan, dan hubungan-hubungan yang ada.
4) Perumusan kesimpulan-kesimpulan dengan memakai proses-proses penyimpulan yang logis dan penalaran. 5) Pengujian dan pemeriksaan kebenaran kesimpulan-kesimpulan itu.
Walaupun pendapat para ahli mengenai metode ilmiah dirumuskan secara berbeda-beda, ada 4 – 5 langkah yang merupakan pola umum yang senantiasa dilaksanakan dalam penelitian.
Langkah-langkah baku itu ialah penentuan masalah, perumusan hipotesis atau pangkal duga bila dianggap perlu, pengumpulan data, penurunan kesimpulan, dan pengujian atau verifikasi hasil.
Tata langkah tersebut di muka melibatkan berbagai konsep dalam metode ilmiah. Konsep adalah ide umum yang mewakili sesuatu himpunan hal yang biasanya dibedakan
35
dari pencerapan atau persepsi mengenai suatu hal khusus satu per satu. Konsep merupakan alat yang penting untuk pemikiran utama dalam penelitian ilmiah.
Pengertian metode tidak pula sama dengan tehnik. Metode ilmiah adalah berbagai prosedur yang mewujudkan pola-pola dan tata langkah dalam pelaksanaan sesuatu penelitian ilmiah. Pola dan tata langkah prosedural itu dilaksanakan dengan cara-cara operasional dan tehnis yang lebih terinci. Cara-cara itulah yang mewujudkan tehnik. Jadi, tehnik adalah sesuatu cara operasional tehnis yang seringkali bercorak rutin, mekanis, atau spesialistis untuk memperoleh dan menangani data dalam penelitian. Dari hal-hal tersebut dapat disimpulkan bahwa, kegiatan penelaahan atau proses penelitian yang merupakan ilmu itu mengandung prosedur, yakni serangkaian cara dan langkah tertentu yang mewujudkan pola tetap. Rangkaian cara dan langkah ini dalam istilah dunia keilmuan dikenal sebagai metode atau sering disebut metode ilmiah. Metode merupakan ciri penentu yang kedua dan dengan demikian ilmu dapat pula dibahas, dipahami, dan dijelaskan sebagai metode.
36
Pengertian ilmu memang paling mudah dipahami sebagai pengetahuan. Di kalangan ilmuwan maupun para filsuf pada umumnya ada kesepakatan bahwa ilmu adalah sesuatu kumpulan pengetahuan sistematis. Demikian lazim perumusan itu sehingga pengertian ilmu sebagia aktifitas dan sebagai metode tampak terselubungi dan kurang dikenal. Namun, pemahaman yang terlengkap hanyalah bilamana ilmu ditelaah sebagai aktifitas, metode, dan pengetahuan secara utuh. Penelahaan ini dapat saja dimulai dari salah satu dari antara ketiga segi itu. Tetapi, urutan yang kiranya sudah tepat dan memudahkan pemahaman ialah bilamana dimulai sebagai aktifitas, aktivitas itu mempergunakan metode tertentu, dan terakhir aktivitas dengan metode itu mendatangkan hasil berupa pengetahuan.
Secara sederhana pengetahuan pada dasarnya adalah keseluruhan keterangan dan ide yang terkandung dalam pernyataan-pernyataan yang dibuat mengenai sesuatu gejala/peristiwa baik yang bersifat alamiah, sosial maupun keorangan. Jadi, pengetahuan menunjuk pada sesuatu yang merupakan isi substantif yang terkadung dalam ilmu. Isi itu dalam istilah keilmuan disebut fakta.
37
Pengetahuan dapat dibedakan dan digolongkan dalam berbagai jenis menurut sesuatu ukuran. Pengetahuan manusia dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu pengetahuan mengenai fakta-fakta dan pengetahuan mengenai hubungan-hubungan umum di antara fakta-fakta (Bertran Russell, 1956, hal. 439).
Pengetahuan juga dapat digolongkan menjadi dua macam
lainnya, yakni pengetahuan empiris murni yang menunjukkan adanya benda-benda berikut ciri-cirinya yang dikenal manusia dan pengetahuan a priori murni yang menunjukkan hubungan-hubungan di antara hal-hal umum yang memungkinkan orang membuat penyimpulan-penyimpulan dari fakta-fakta yang terdapat dalam pengetahuan empiris (Bertran Russell, 1972,
hal. 149).
Walaupun pengertian mengenai pengetahuan menunjuk pada fakta-fakta sebagai intinya, perlulah dipahami bahwa ilmu bukanlah fakta-fakta. Pernyataan yang lebih tepat ialah bahwa ilmu senantiasa berdasarkan fakta-fakta. Fakta-fakta itu diamati dalam aktivitas ilmiah. Dari pengamatan itu selanjutnya fakta-fakta dihimpun dan dicatat sebagai data. Yang dimaksud dengan data ialah berbagai keterangan yang dipandang relevan bagi suatu penyelidikan dan yang dihimpun berdasarkan persyaratan yang ditentukan secara rinci.
38
Pengetahuan pada dasarnya menunjuk pada sesuatu yang diketahui. Dengan demikian, maka setiap ilmu harus mempunyai sesuatu pokok soal . Seorang ahli logika modern juga menyatakan bahwa suatu ilmu adalah suatu
kumpulan yang sistematis atau teratur dari pengetahuan yang bertalian dengan suatu pokok soal khusus, dan pokok soal dari setiap ilmu ialah suatu bagian tertentu dari bahan pengalaman manusia (Mellone, 1954, hal. 295).
Setiap pokok soal yang cukup rumit mempunyai aneka segi dan permasalahan. Sesuatu ilmu biasanya membatasi diri
pada segi atau permasalahan tertentu dalam
penelaahannya terhadap pokok soal, sedang berbagai segi dan permasalahan lainnya dikeluarkan dari titik pusat perhatiannya untuk menjadi sasaran dari ilmu-ilmu khusus lainnya. Dengan demikian, setiap ilmu menurut salah satu maknanya adalah pengetahuan. Pengetahuan itu mengenai sesuatu pokok soal dan berdasarkan suatu titik pusat minat. Pokok soal dan titik pusat minat itu membentuk suatu sasaran yang sesuai dari ilmu yang bersangkutan.
Ciri umum dari suatu ilmu yang membuatnya berbeda dengan filsafat ialah ciri empiris. Kalau filsafat masih tetap merupakan pemikiran reflektif yang coraknya sangat umum, kebalikannya ilmu-ilmu fisis, biologi, psikologi, dan
39
ilmu-ilmu sosial telah merupakan rangkaian aktivitas intelektual yang sifatnya empiris. Jadi, ciri empiris dari ilmu mengandung pengertian bahwa pengetahuan yang diperoleh itu berdasarkan pengamatan atau percobaan. Kalau ilmu berbeda dari filsafat berdasarkan ciri empiris itu, maka ilmu berbeda dari pengetahuan biasa karena ciri sistematisnya. Ciri sistematis berarti bahwa berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan
pengetahuan itu mempunyai hubungan-hubungan
ketergantungan dan teratur.
Selain ciri-ciri empiris dan sistematis, masih ada 3 ciri pokok lainnya dari ilmu, yaitu obyektif, analitis, dan verifikatif. Ciri obyektif dari ilmu berarti bahwa pengetahuan itu bebas dari prasangka prseorangan dan kesukaan pribadi. Ilmu haruslah hanya mengandung pernyataan dan data yang
menggambarkan secara terus terang maupun
mencerminkan secara tepat gejala-gejala yang ditelaahnya. Ilmu juga mempunyai ciri analitis, yaitu pengetahuan ilmiah itu berusaha membeda-bedakan pokok soalnya ke dalam bagian-bagian yang terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan, dan peranan dari bagian-bagian itu. Ciri verifikatif berarti ilmu itu senantiasa mengarah pada tercapainya kebenaran. Ilmu dikembangkan oleh manusia untuk menemukan suatu nilai luhur dalam
40
kehidupan manusia yang disebut kebenaran ilmiah. Kebenaran ini berupa asas-asas yang berlaku umum atau kaidah-kaidah universal. Dengan memiliki pengetahuan ilmiah dan mencapai kebenaran itu manusia berharap dapat membuat ramalan tentang peristiwa mendatang dan menerangkan atau menguasai alam sekelilingnya.
Bab 2
Konsep Dasar Penelitian Pendidikan
A. Pengertian Penelitian
Penelitian adalah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara sistematis dengan maksud untuk mendapatkan informasi ilmiah mengenai serentetan peristiwa dan dalam rangka pemecahan suatu permasalahan.
Ditinjau dari segi proses, penelitian merupakan berbagai kegiatan yang meliputi mengumpulkan, mengolah, menyajikan, menganalisa data/ peristiwa/ informasi, serta
41
interpretasi dan pengambilan kesimpulan. Dari segi pendekatan penelitian merupakan kegiatan dengan mempergunakan pendekatan-pendekatan ilmiah (metode ilmiah). Dari segi tujuan suatu penelitian dilakukan untuk menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dalam rangka memecahkan permasalahan-permasalahan balk untuk kebutuhan secara praktis maupun teoritis.
Metodologi penelitian adalah ilmu tentang tata cara (metode) melakukan penelitian, atau ilmu tentang cara meneliti. Dengan demikian penelitian akan menghasilkan karya yang optimal dan kesimpulan akan dapat diberlakukan secara umum atau dapat dipertanggung jawabkan manakala penelitian tersebut dengan menggunakan cara-cara keilmuan atau metodologi yang lazim dipergunakan dalam penelitian ilmiah, (Supardi, 2005 : 9 – 10). Penelitian pendidikan adalah cara yang digunakan orang untuk mendapatkan informasi yang berguna dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah dari proses penelitian, (Arief Furchan,
1982 : 44).
Penelitian pendidikan dapat juga disebut sebagai suatu proses pengumpulan data atau informasi yang sistematis dan analisis yang logis terhadap informasi atau data untuk tujuan tertentu,
42
Menurut Sukardi (2003 : 3), penelitian adalah cara
pengamatan guna mencari jawaban terhadap suatu permasalahan.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpuikan bahwa penelitian adalah merupakan suatu prosedur ilmiah dalam mencari informasi atau data untuk dianalisis guna menjawab permasalahan yang terjadi.
B. Tujuan Melakukan Penelitian
Tujuan melakukan penelitian adalah untuk menemukan permasalahan baru, berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian, dan menguji hipotesis.
C. Manfaat Mempelajari Metode Penelitian
Manfaat atau kegunaan mempelajari metodologi penelitian adalah:
1) Seseorang akan mempunyai pengetahuan, dan pengertian dari dasar-dasar penelitian yang benar.
43
2) Seseorang akan mengetahui kegiatan penelitian pada ruang Iingkup permasalahan dan bidang kegiatan manusia secara spesifik (misal, Iingkup penelitian kependidikan akan berbeda dengan Iingkup penelitian kedokteran, penelitian sosial. penelitian agama dan lain sebagainya).
3) Menyadarkan pada diri seseorang balk mereka yang berada di dunia usaha (perusahaan), dunia pendidikan, kependudukan dan lain sebagainya dalam tugas menemukan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan untuk memecahkan masaiah-masalah yang dihadapi balk kepentingan praktis maupun teoritis.
4) Mengembangkan dan meiatih seseorang memiliki “sikap ilmiah” (kritis, skeptis, analitisdanlogis).
5) Mampu mengembangkan diri menjadi penulis karya ilmiah yang balk, artinya bahwa dengan kegiatan penelitian akan mampu mendidik seseorang untuk menulis secara ilmiah dalam bentuk laporan has!’ penelitian yang dapat dipertangung-jawabkan.
6) Kegunaan-kegunaan lain balk secara pribadi maupun institusional sesuai dengan kegiatan penelitian yang dilakukannya
44
Pendidikan merupakan salah satu pilar kebangkitan suatu bangsa. Bahkan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945, secara jelas Negara menjadikan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai tujuan Negara. Melihat dari tujuan tersebut, pemerintah berkewajiban untuk menyelenggarakan pendidikan dengan sebaik-baiknya. Usaha pemerintah ini, di tahun 2003 diwujudkan dalam bentuk Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. Selain membentuk suatu sistem pendidikan, peningkatan kualitas pendidikan juga harus dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu cara yang cukup efektif dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan adalah dilakukannya penelitian di bidang pendidikan.
Penelitian merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara sistematik dan teliti teliti untuk mengetahui jawaban serta mencari solusi dari suatu masalah yang dihadapi. Cara untuk mengatahui inilah yang selanjutnya disebut sebagai metode penelitian. Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu (Sugiyono, 2010: 3). Setiap penelitian mempunyai
tujuan dan kegunaan tertentu. Secara umum tujuan penelitian ada tiga macam, yaitu yang bersifat penemuan, pembuktian, dan pengembangan. Penelitian pendidikan yang bersifat penemuan misalnya, menemukan metode
45
mengajar matematika yang efektif, efisien, dan menyenangkan, media pendidikan, system evaluasi, criteria guru professional, dan lain-lain. Penelitian bersifat mengembangkan misalnya, mengembangkan metode mengajar yang telah ada sehingga menjadi lebih efektif. Penelitian bersifat pembuktian misalnya, membuktikan keragu-raguan terhadap metode mengajar yang diimpor dari luar apakah efektif untuk di Indonesia atau tidak. Kegiatan penelitian inilah yang diharapkan untuk
menemukan solusi dari berbagai permasalahan
pembelajaran/ pendidikan di Indonesia. Dengan kegiatan penelitian inilah sangat dimungkinkan ditemukannya berbagai macam metode pembelajaran yang cocok
diterapkan di Indonesia. Penelitian juga akan
memungkinkan ditemukannya produk media
pembelajaran yang akan membantu proses penyampaian konsep dengan lebih mudah. Penelitian juga akan dapat menjawab tantangan evaluasi seperti apa yang sesuai dan cocok untuk diterapkan di Indonesia.
Upaya menjadikan penelitian sebagai perilaku ilmiah bagi setiap akademisi akan membantu terciptanya suatu kondisi bangsa yang maju. Bisa dibayangkan setelah 67 tahun merdeka tetapi bangsa kita masih saja dikategorikan
46
sebagai Negara berkembang dengan sumber daya manusia yang rendah. HDI memberikan penilaian kualitas manusia di suatu Negara dengan didasarkan pada kualitas pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Upaya peningkatan ketiga komponen di atas tidak bisa hanya dilakukan dengan menggelontorkan sebanyak-banyaknya uang, namun harus disertai kegiatan penelitian. Di negara-negara maju kegiatan penelitian sudah menjadi perilaku yang berkembang dengan sangat baik. Perhatikan perusahaan Honda, sejak perusahaan itu berdiri, sudah berapa jenis sepeda motor yang telah mereka produksi? Berapa banyak jenis mobil yang telah berhasil mereka pasarkan? Upaya memperbarui produk seperti itu hanya bisa dilakukan melalui kegiatan penelitian. Kalau dikaitkan dengan pendidikan, bisa dipahami bahwa saat ini banyak sekali metode pembelajaran baru yang berkembang, kegiatan-kegiatan hingga sampai mengantarkan ditemukannya metode pembelajaran sebagai sebuah produk baru itulah yang dinamakan penelitian. Dalam skala kecil saja, ketika Anda kehilangan uang misalnya, tentunya Anda akan mencarinya dengan berbagai cara. Melacak kembali di mana pertama kali uang hilang, bertanya kepada orang lain, dan sebagainya. Kegiatan itu juga bisa dikategorikan ke dalam kegiatan penelitian.
47
E. Penelitian PendidikanPengertian dari penelitian pendidikan adalah suatu kegiatan yang sistematis untuk menemukan jawaban yang mendekati kebenaran mengenai permasalahan pendidikan atas dasar penalaran yang rasional dan logis, serta adanya dukungan dari fakta empiris.
Penelitian pendidikan umumnya dilakukan untuk mengembangkan, menemukan dan menguji atas kebenaran dari suatu konsep, prinsip, pengetahuan dan mengenai pendidikan secara umum. Adapun tujuan penelitian pendidikan sebagai berikut :
1. Untuk bahan masukan, meningkatkan mutu isi, proses serta hasil pembelajaran dan pendidikan di sekolah.
2. Untuk membantu tenaga kependidikan seperti guru dan lainnya dalam mengatasi masalah pendidikan dan pembelajaran baik di luar maupun di dalam kelas.
3. Untuk meningkatkan profesionalisme di dalam dunia pendidikan maupun tenaga kependidikan. 4. Untuk menumbuhkan dan mengembangkan
48
sehingga bisa melakukan perbaikan mutu pembelajaran dan pendidikan secara berkelanjutan. 5. Untuk meningkatkan keterampilan bagi tenaga
pengajar khususnya saat melakukan PBT.
6. Untuk meningkatkan kerja sama yang profesional di antara para pendidik maupun tenaga kependidikan.
Selain itu manfaat dari penelitian pendidikan sendiri yaitu: 1) Sebagai peta yang dapat mendeskripsikan
mengenai keadaan pendidikan serta
mendeskripsikan tentang kemampuan sumber dayamengenai kemungkinan hambatan yang bisa dihadapi.
2) Sebagai sarana diagnosis ketika mencari penyebab suatu kegagalan dan masalah yang di hadapi pada saat pelaksanaan pendidikan agar bisa dicari penyelesaiannya.
3) Sebagai bahan dasar untuk menyusun suatu kebijakan, termasuk strategi dalam pengembangan pendidikan.
4) Sebagai masukan yang dapat memberikan gambaran mengenai kemampuan dalam peralatan,
49
pembiayaan, perbekalan dan tenaga kerja yang
memiliki peran dalam keberhasilan
pendidikan.Untuk jenis-jenis dari penelitian pendidikan sendiri dibagi menjadi 6 bagian yakni : a) Penelitian DeskriptifPenelitian ini berusaha untuk menggambarkan suatu kegiatan penelitian yang dilakukan terhadap objek-objek tertentu dengan cara sistematis dan jelas.
b) Penelitian EksperimenPenelitian ini dilakukan dengan menggunakan 3 persyaratan yaitu peneliti harus
melakukan kegiatan mengontrol, kemudian
memanipulasi serta melakukan observasi.
c) Penelitian Tindakan KelasPenelitian ini merupakan bentuk penelitian terhadap refleksi diri berdasarkan yang sudah dilakukan partisipan selama ini dalam
situasi-situasi sosial (pendidikan) agar bisa
memperbaiki praktek yang dilakukannya.
d) Penelitian KualitatifMetode penelitian ini yang sering kali digunakan untuk melakukan penelitian terhadap kondisiobjekalamiah.
50
e) Penelitian KuantitatifMetode penelitian ini yang digunakan untuk meneliti sampel atau populasi tertentu.
f) R & DResearch an Development atau penelitian dan pengembangan ini merupakan strategi yang ampuh untuk memperbaiki praktek. Maksudnya untuk mengembangkan produk baru.
Pada hakikatnya penelitian pendidikan merupakan cara
untuk memperoleh informasi yang bisa
dipertanggungjawabkan sebagai upaya untuk
memahami proses kependidikan. F. Langkah-langkah penelitian
Di depan telah dikemukakan bahwa penelitian adalah suatu proses sistematik dan terencana untuk mendapatkan pemecahan masalah atau mendapatkan jawaban terhadap pertanyaa tertentu. Langkah-langkah yang dilakukan tersebut harus serasi dan saling mendukung satu sama lain, agar penelitian yang dilakukan mempunyai bobot yang cukup memadai dan memberikan kesimpulan-kesimpulan yang tidaka meragukan (Budiyono, 2003: 10). Langkah-langkah penelitian secara garis besar dijelaskan sebagai berikut .
51
1) Identifikasi, pemilihan, dan perumusan masalah; 2) Penelaahan kepustakaan;
3) Penyususnan hipotesis;
4) Identifikasi, klasifikasi, dan pemberian definisi operasional variable-variabel penelitian;
5) Pemilihan atau pengembangan alat pengambil data; 6) Penyusunan rancangan penelitian;
7) Penentuan sampel; 8) Pengumpulan data;
9) Pengolahan dan analisis data; 10) Interpretasi hasil penelitian;
Langkah-langkah penelitian sebenarnya tidak harus kaku, beberapa ahli terkadang memberikan rincian langkah penelitian yang berbeda-beda, sebagaimana Schluter (1926) dalam Ahmad Kurnia, memberikan 15 langkah dalam melaksanakan penelitian dengan metode ilmiah. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:
a. Pemilihan bidang, topik atau judul penelitian.
b. Mengadakan survei lapangan untuk merumuskan masalah-malalah yang ingin dipecahkan.
c. Membangun sebuah bibliografi.
52
e. Membeda-bedakan dan membuat out-line dari unsur-unsur permasalahan.
f. Mengklasifikasikan unsur-unsur dalam masalah menurut hu-bungannya dengan data atau bukti, baik langsung ataupun tidak langsung.
g. Menentukan data atau bukti mana yang dikehendaki sesuai dengan pokok-pokok dasar dalam masalah. h. Menentukan apakah data atau bukti yang dipertukan
tersedia atau tidak.
i. Menguji untuk diketahui apakah masalah dapat dipecahkan atau tidak.
j. Mengumpulkan data dan keterangan yang diperlukan. k. Mengatur data secara sistematis untuk dianalisa. l. Menganalisa data dan bukti yang diperoleh untuk
membuat interpretasi.
m. Mengatur data untuk persentase dan penampilan. n. Menggunakan citasi, referensi dan footnote (catatan
kaki).
o. Menulis laporan penelitian.
Selanjutnya Abclson (1933) memberikan 5 langkah berikut: 1. Tentukan Judul Penelitian Judul dinyatakan secara singkat dan jelas.
53
3. Dalam pemilihan masalah ini harus: a)Nyatakan apa yang disarankan oleh judul. b)Berikan alasan terhadap pemilihan tersebut.
c)Nyatakan perlunya diselidiki masalah menurut kepentingan umum.
d) Sebutkan ruang lingkup penelitian. Secara singkat jelaskan materi. situasi dan hal- hal lain yang menyangkut bidang yang akan diteliti.
3. Pemecahan Masalah
Dalam pemecahan masalah harus diikuti langkah-langkah sebagai berikut:
a) Analisa harus logis. Aturlah bukti dalam bentuk yang sistematis dan logis. Demikian juga halnya unsur-unsur yang dapat memecahkan masalah.
b) Prosedur penelitian yang digunakan harus dinyatakan secara singkat.
c) Urutkan data, fakta dan keterangan-keterangan khas yang diperlukan
d) Harus dinyatakan bagaimana set dari data diperoleh termasuk referensi yang digunakan.
e) Tunjukkan cara data dilola sampai mempunyai arti dalam memecahkan masalah.Urutkan asumsi-asumsi
54
yang digunakan serta hubungannya dalam berbagai fase penelitian
4. Kesimpulan
a. Berikan kesimpulan dari hipotesa. nyatakan dua atau tiga kesimpulan yang mungkin diperoleh.
b. Berikan implikasi dari kesimpulan. Jelaskan bebernpa implikasi dari produk hipotesa dengan memberikan beberapa inferensi.
5. Berikan studi-studi sebelumnya yang pernah dikerjakan yang berhubungan dengan masalah
Nyatakan kerja-kerja sebelumnya secara singkat dan berikan referensi bibliografi yang mungkin ada manfaatnya sebagai model dalam memecahkan masalah.
Sedangkan menurut Suryabrata (1989) langkah-langkah penelitian meliputi 11 langkah, yaitu :
1. Identifikasi,Pemilihan dan Perumusan Masalah Penelitian
a. Identifikasi Masalah Penelitian