• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN III/2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN III/2014"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

 Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000 pada Triwulan III/2014 mencapai 3,48 persen (q to q) dan apabila dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2013 mengalami pertumbuhan 6,58 persen (y-on-y). Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi triwulan I-III tahun 2014 apabila dibandingkan dengan Triwulan I-III tahun 2013 mencapai 4,45 persen (c to c).

 Nilai PDRB Triwulan III/2014 atas dasar harga berlaku mencapai Rp 16.757 miliar, dan atas harga konstan 2000 mencapai Rp 6.117 miliar.

 Tiga sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi pada Triwulan III/2014 (q to q) adalah sektor konstruksi 9,22 persen, sektor pertambangan dan penggalian 6,19 persen serta sektor jasa-jasa 6,10 persen.

 Struktur PDRB menurut lapangan usaha Triwulan III/2014, sebagian besar didominasi oleh sektor pertanian 34,50 persen, sektor jasa-jasa 18,66 persen, sektor perdagangan, hotel dan restoran 12,30 persen, sektor konstruksi memberikan kontribusi sebesar 9,99 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 7,07 persen, sektor industri pengolahan 6,36 persen, sektor keuangan-real estat dan jasa perusahaan sebesar 5,49 persen, sektor pertambangan dan penggalian sebesar 4,91 persen serta sektor listrik-gas-air 0,71 persen.

 Pertumbuhan ekonomi Triwulan III/2014 (q to q) sebesar 3,48 persen bersumber dari sektor pertanian 0,09 persen; jasa-jasa 1,00 persen; perdagangan hotel dan restoran 0,58 persen; konstruksi 0,81 persen; pengangkutan dan komunikasi 0,46 persen; industri pengolahan 0,07 persen; keuangan, real estat dan jasa perusahaan 0,17 persen; pertambangan dan penggalian 0,27 persen; dan listrik, gas dan air bersih sekitar 0,04 persen.

 Struktur PDRB Sulawesi Tengah menurut penggunaan Triwulan III/2014 digunakan untuk memenuhi konsumsi rumah tangga yaitu 59,63 persen, sedangkan konsumsi lembaga non profit 1,66 persen, konsumsi pemerintah 18,40 persen, pembentukan modal tetap bruto atau investasi fisik 26,89 persen, perubahan inventori 1,65 persen dan ekspor 13,48 persen serta impor 21,71 persen .

 Menurut penggunaan pertumbuhan ekonomi triwulan III/2014 (q to q) sebesar 3,48 persen, bersumber dari komponen konsumsi rumah tangga sebesar 1,84 persen; lembaga non profit 0,02 persen; konsumsi pemerintah sebesar 1,07 persen, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) 1,14 persen, perubahan inventori 0,00 persen dan ekspor sebesar 1,50 persen. Sementara itu yang bersumber dari komponen impor, yang merupakan faktor pengurang, sebesar 2,09 persen.

No. 63/11/72/Th. XVII, 05 November 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH

TRIWULAN III/2014

(2)

1. Perekonomian Sulawesi Tengah Triwulan III/2014

Perekonomian Sulawesi Tengah yang digambarkan oleh perkembangan PDRB atas dasar harga konstan 2000, pada Triwulan III/2014 (q to q) meningkat sebesar 3,48 persen lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan yang sama tahun 2013 sebesar 0,36 persen. Peningkatan terjadi di semua sektor ekonomi pada kisaran 0,23 – 9,22 persen.

Pertumbuhan masing-masing sektor adalah sebagai berikut: sektor konstruksi tumbuh 9,22 persen; pertambangan dan penggalian 6,19 persen; jasa-jasa 6,10 persen; angkutan dan komunikasi 6,07 persen; listrik, gas dan air bersih 5,07 persen; perdagangan, hotel dan restoran 4,42 persen; keuangan dan jasa perusahaan 3,21 persen; industri pengolahan 1,21 persen; dan pertanian 0,23 persen.

Terdapat tiga sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi yaitu sektor konstruksi, sektor pertambangan dan penggalian, dan sektor jasa-jasa. Pertumbuhan sektor pertanian pada Triwulan III /2014 (q to q) sebesar 0,23 persen, didorong oleh adanya peningkatan produksi pada tiga subsektor yaitu subsektor peternakan, subsektor perikanan, dan subsektor subsektor kehutanan. Sedangkan sub sektor pertanian tanaman bahan makanan dan sub sektor perkebunan produksinya menurun. Penurunan sub sektor tanaman bahan makanan disebabkan oleh turunnya produksi padi pada triwulan ini yang dipengaruhi oleh pola musim tanam dan terdapat beberapa serangan hama serta perbakan jaringa irigasi. Sektor konstruksi tumbuh cukup tinggi karena pekerjaan proyek-proyek konstruksi sudah banyak terlaksana dan dibangunnya hotel yang relatif besar serta pembangunan Smelter untuk pengolahan nikel di Morowali serta pembangunan jaringan listrik PLTA Sulewana. Peningkatan di sektor perdagangan, hotel dan restoran didorong oleh peningkatan volume perdagangan yang sejalan dengan peningkatan sektor kelompok produksi dan konstruksi serta impor dan ekspor.

Pertumbuhan ekonomi Triwulan III/2014 (q to q) ini bersumber dari sektor pertanian 0,09 persen; jasa-jasa 1,00 persen; perdagangan hotel dan restoran 0,58 persen; konstruksi 0,81 persen; pengangkutan dan komunikasi 0,46 persen; industri pengolahan 0,07 persen; keuangan, real estat dan jasa perusahaan 0,17 persen; pertambangan dan penggalian 0,27 persen; dan listrik, gas dan air bersih sekitar 0,04 persen.

Pertumbuhan ekonomi Triwulan III/2014 (y on y) terjadi di semua sektor kecuali sektor pertambangan dan penggalian. Pertumbuhan ekonomi Triwulan III/2014 sebesar 6,58 persen. Hal tersebut didukung oleh pertumbuhan sektor pertanian sebesar 7,13 persen, sektor pertambangan dan penggalian minus 33,10 persen, sektor industri pengolahan 5,65 persen, sektor listrik, gas dan air bersih 12,78 persen, sektor konstruksi 20,62 persen, sektor

(3)

perdagangan, hotel dan restoran sebesar 9,30 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi meningkat sebesar 11,09 persen, sektor keuangan-real estat dan jasa perusahaan sebesar 10,18 persen, dan sektor jasa-jasa 10,25 persen.

PDRB kumulatif Triwulan I-III/2014 bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (c to c), semua sektor mengalami pertumbuhan kecuali sektor pertambangan dan penggalian. Pertumbuhan ekonomi triwulan III/2014 (c to c) sebesar 4,45 persen. Sektor pertanian tumbuh sebesar 6,56 persen, sektor pertambangan dan penggalian minus 43,11 persen, sektor industri pengolahan 5,49 persen, sektor listrik, gas dan air bersih 11,32 persen, sektor konstruksi 17,06 persen, sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 9,64 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi meningkat sebesar 9,03 persen, sektor keuangan-real estat dan jasa perusahaan sebesar 10,64 persen, dan sektor jasa-jasa 9,32 persen.

Tabel 1.

Pertumbuhan Ekonomi Menurut Sektor Ekonomi/ Lapangan Usaha (Persentase)

Pertumbuhan ekonomi Triwulan I-III/2014 sebesar 4,45 persen ini bersumber dari sektor pertanian 2,42 persen; jasa-jasa 1,48 persen; perdagangan hotel dan restoran 1,21 persen; konstruksi 1,34 persen; pengangkutan dan komunikasi 0,66 persen; industri

Sektor Ekonomi/ Lapangan Usaha Triw III/ 2014 Terhadap Triw III/2013 (y on y) Triw III/2014 Terhadap Triw II/2014 (q to q) Sumber Pertumbuhan Triw III/2014 (q to q) Triw I-III/ 2014 Terhadap Triw I-III/ 2013 (c to c) Sumber Pertumbuhan Triw I-III/ 2014 (c to c) (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1. Pertanian, Peternakan,

Kehutanan dan Perikanan 7,13 0,23 0,09 6,56 2,42

2. Pertambangan dan Penggalian -33,10 6,19 0,27 -43,11 -3,57

3. Industri Pengolahan 5,65 1,21 0,07 5,49 0,31

4. Listrik, Gas dan Air Bersih 12,78 5,07 0,04 11,32 0,08

5. Konstruksi 20,62 9,22 0,81 17,06 1,34

6. Perdagangan, Hotel dan

Restoran 9,30 4,42 0,58 9,64 1,21

7. Pengangkutan dan Komunikasi 11,09 6,07 0,46 9,03 0,66 8. Keuangan, Real Estat dan Jasa

Persahaan 10,18 3,21 0,16 10,64 0,52

9. Jasa-jasa 10,25 6,10 1,00 9,32 1,48

PDRB 6,58 3,48 3,48 4,45 4,45

(4)

pengolahan 0,31 persen; keuangan, real estat dan jasa perusahaan 0,52 persen; pertambangan dan penggalian -3,57 persen; dan yang terkecil adalah listrik, gas dan air bersih sekitar 0,08 persen.

2. Nilai PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dan Konstan 2000 Triwulan III/2013 dan Triwulan III/2014 serta Kumulatif Triwulan I-III/2014

Pada Triwulan III/2014 PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp 16.757 miliar, sementara bila PDRB ini dinilai dengan harga pada tahun 2000 (tahun dasar), maka pada triwulan ini mencapai Rp 6.117 miliar. Dalam Tabel 2, sektor ekonomi yang menunjukan nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku terbesar pada Triwulan III/2014 bila diurutkan adalah sektor pertanian, sebesar Rp 5.782 miliar, sektor jasa-jasa sebesar Rp 3.127 miliar disusul oleh sektor perdagangan-hotel-restoran sebesar Rp 2.061 miliar, sektor konstruksi sebesar Rp 1.674 miliar, sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar Rp 1.185 miliar, sektor industri pengolahan Rp 1.066 miliar, sektor keuangan-real estat-jasa dan perusahaan sebesar Rp 920 miliar, sektor pertambangan dan penggalian sebesar Rp 823 miliar, serta sektor listrik-gas dan air bersih Rp 119 miliar.

Tabel 2.

Nilai PDRB Menurut Sektor Ekonomi/Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku Dan Harga Konstan 2000

(Miliar Rupiah) SEKTOR EKONOMI/

LAPANGAN USAHA

Harga Berlaku Harga Konstan 2000 Triw III/2013 Triw II/2014 Triw III/2014 Triw I-III/2014 Triw III/2013 Triw II/2014 Triw III/2014 Triw I-III/2014 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 1. Pertanian 5.145 5.704 5.782 16.876 2.113 2.259 2.264 6.676 2. Pertambangan dan Penggalian 1.107 771 823 2.402 406 256 272 802 3. Industri Pengolahan 949 1.036 1.066 3.117 322 336 340 1.007 4. Listrik, Gas dan Air Bersih 100 111 119 339 41 44 46 132

5. Konstruksi 1.268 1.506 1.674 4.502 472 521 569 1.568

6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 1.786 1.945 2.061 5.898 738 773 807 2.344 7. Pengangkutan dan Komunikasi 1.038 1.113 1.185 3.383 426 446 473 1.357 8. Keuangan, Real Estat & Jasa Perusahaan 786 885 920 2.650 287 307 317 921 9. Jasa-jasa 2.673 2.917 3.127 8.848 934 971 1.030 2.949

PDRB 14.854 15.988 16.757 48.015 5.740 5.912 6.117 17.756 Tanpa Migas 14.629 15.769 16.536 47.351 5.675 5.849 6.054 17.565

(5)

Berdasarkan harga konstan 2000, sektor yang memberikan nilai tambah bruto terbesar urutannya tampak terlihat sama dengan harga berlaku yaitu berturut-turut sektor pertanian sebesar Rp 2.264 miliar, sektor jasa-jasa sebesar Rp 1.030 miliar disusul oleh sektor perdagangan-hotel-restoran sebesar Rp 807 miliar, sektor konstruksi sebesar Rp 569 miliar, sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar Rp 473 miliar, sektor industri pengolahan Rp 340 miliar, sektor keuangan-real estat dan jasa perusahaan sebesar Rp 317 miliar, sektor pertambangan dan penggalian sebesar Rp 272 miliar, serta sektor listrik-gas dan air bersih Rp 46 miliar.

3. Struktur PDRB Menurut Sektor Ekonomi/Lapangan Usaha Triwulan II dan III Tahun 2014 Jika dilihat dari komposisi dan peranan masing-masing sektor ekonomi pembentuk PDRB, sektor pertanian masih merupakan sektor yang mendominasi struktur perekonomian Sulawesi Tengah karena kontribusinya cukup tinggi yaitu 34,50 persen, selanjutnya berturut-turut sektor jasa-jasa sebesar 18,66 persen, sektor perdagangan, hotel dan restoran 12,30 persen, sektor konstruksi memberikan kontribusi sebesar 9,99 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 7,07 persen, sektor industri pengolahan 6,36 persen, sektor keuangan-real estat dan jasa perusahaan sebesar 5,49 persen, sektor pertambangan dan penggalian sebesar 4,91 persen serta sektor listrik-gas-air 0,71 persen.

Tabel 3.

Struktur PDRB Menurut Sektor Ekonomi/Lapangan Usaha Triwulanan Tahun 2014

(Persentase)

Sektor Ekonomi/Lapangan Usaha Tahun 2014

Triw II Triw III Triw I-III

(1) (2) (3) (4)

1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan 35,68 34,50 35,15

2. Pertambangan dan Penggalian 4,82 4,91 5,00

3. Industri Pengolahan 6,48 6,36 6,49

4. Listrik, Gas dan Air Bersih 0,70 0,71 0,71

5. Konstruksi 9,42 9,99 9,38

6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 12,16 12,30 12,28

7. Pengangkutan dan Komunikasi 6,96 7,07 7,05

8. Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan 5,54 5,49 5,52

9. Jasa-jasa 18,25 18,66 18,43

PDRB 100,00 100,00 100,00

(6)

4. PDRB Menurut Penggunaan

Ditinjau dari sisi penggunaan, PDRB Sulawesi Tengah dipengaruhi oleh berbagai komponen penggunaan, yaitu konsumsi rumah tangga, konsumsi lembaga non profit, konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap bruto, perubahan inventori, dan ekspor dikurangi impor.

Pertumbuhan ekonomi yang dicapai pada Triwulan III/2014 (q to q) sebesar 3,48 persen, bersumber dari komponen konsumsi rumah tangga sebesar 1,84 persen, lembaga non profit 0,02 persen, konsumsi pemerintah sebesar 1,07 persen, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) 1,14 persen, perubahan inventori 0,00 persen dan ekspor 1,50 persen. Sementara komponen impor sebagai faktor pengurang, mempunyai andil sebesar 2,09 persen.

Sedangkan pertumbuhan ekonomi selama Triwulan I-III/2014 (c to c) sebesar 4,45 persen, bersumber dari komponen konsumsi rumah tangga sebesar 4,58 persen, lembaga non profit 0,20 persen, konsumsi pemerintah sebesar 1,70 persen, PMTB 5,92 persen, perubahan inventori 0,35 persen, ekspor sebesar minus 5,87 persen dan impor 2,29 persen.

Pada Triwulan III/2014, PDRB Sulawesi Tengah digunakan untuk memenuhi konsumsi rumah tangga sebesar 55,72 persen, sedangkan konsumsi lembaga non profit 1,42 persen, konsumsi pemerintah 18,04 persen, pembentukan modal tetap bruto 27,87 persen, perubahan inventori 1,53 persen dan ekspor 10,35 persen serta impor 14,92 persen.

Tabel 4.

Pertumbuhan Ekonomi Menurut Penggunaan (persen)

Komponen Penggunaan Triwulan III/2014 Terhadap Triwulan III/2013 (y on y) Triwulan III/ 2014 Terhadap Triwulan II/2014 (q to q) Sumber Pertumbuhan Triwulan III/2014 (q to q) Triwulan I-III/2014 Terhadap Triwulan I-III/2013 (c to c) Sumber Pertumbuhan Triwulan I-III/2014 (c to c) (1) (2) (3) (4) (5) (6)

1. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga 8,95 3,30 1,84 8,54 4,58 2. Pengeluaran Lembaga Non Profit 18,16 1,51 0,02 15,86 0,20 3. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 13,67 6,08 1,07 10,05 1,70 4. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) 28,56 4,11 1,14 25,95 5,92

5. Perubahan Inventori 44,98 0,19 0,00 30,28 0,35

6. Ekspor Barang dan Jasa -30,94 16,24 1,50 -35,26 -5,95 7. Dikurangi Impor Barang dan Jasa 23,25 15,70 2,09 18,51 2,28

(7)

Pengeluaran konsumsi rumah tangga secara riil pada Triwulan III/2014 meningkat sekitar 3,30 persen yang disebabkan oleh pengeluaran makanan dan non makanan dikaitkan dengan momen bulan puasa dan Idul Fitri.

Pengeluaran konsumsi lembaga non profit atas dasar harga konstan 2000 pada Triwulan III/2014 naik sebesar 1,51 persen dibanding triwulan sebelumnya (q to q), disebabkan oleh pengeluaran partai politik dalam pemilu presiden, sedangkan apabila dilihat dari Triwulan I-III/2014 mengalami pertumbuhan sebesar 15,86 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya (c to c) juga disebabkan oleh pengeluaran partai politik dalam penyelenggaraan pemilu legislatif dan presiden.

Tabel 5.

Nilai PDRB Menurut Penggunaan

Komponen Penggunaan

Atas Dasar Harga Berlaku (Miliar Rupiah)

Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Triw III/ 2013 Triw II/ 2014 Triw III/ 2014 Triw I-III/2014 Triw III/ 2013 Triw II/ 2014 Triw III/ 2014 Triw I- III/2014 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 1. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga 8.792 9.586 9.992 28.754 3.128 3.299 3.408 9.892 2. Pengeluaran Lembaga Non Profit 222 262 279 777 73 85 87 249 3. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 2.553 2.835 3.083 8.628 971 1.040 1.103 3.159 4. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) 3.229 4.193 4.506 12.482 1.326 1.637 1.705 4.824 5. Perubahan Inventori 186 273 276 743 65 94 94 255 6. Ekspor Barang dan Jasa 2.676 1.941 2.259 6.319 917 545 633 1.857 7. Dikurangi Impor Barang

dan Jasa 2.708 3.102 3.638 9.689 741 789 913 2.480

PDRB 14.854 15.988 16.757 48.015 5.740 5.912 6.117 17.756

Pengeluaran konsumsi pemerintah pada Triwulan III/2014 sedikit mengalami peningkatan dibandingkan Triwulan II/2014 (q to q). Peningkatan konsumsi pemerintah atas dasar harga berlaku tersebut yaitu dari Rp 2.835 miliar pada Triwulan II/2014 menjadi Rp 3.083 miliar pada Triwulan III/2014. Sementara pada kurun waktu yang sama pengeluaran konsumsi pemerintah atas dasar harga konstan 2000 meningkat sebesar 6,08 persen. Peningkatan tersebut disebabkan oleh sudah cairnya gaji ke-13 PNS dan banyaknya kegiatan yang menyerap belanja modal mulai dilaksanakan pada triwulan III ini. Sedangkan pada

(8)

periode Triwulan I-III/2014 pertumbuhan konsumsi pemerintah mencapai 10,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2013 (c to c).

Pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atas dasar harga berlaku mengalami peningkatan dari Rp 4.193 miliar pada Triwulan II/2014 menjadi Rp 4.506 miliar pada Triwulan III/2014. Demikian juga PMTB atas dasar harga konstan 2000 pada Triwulan III/2014 (Rp 1.705 miliar) meningkat sebesar 4,11 persen bila dibandingkan dengan triwulan II/2014 (Rp 1.637 miliar). Pada periode Triwulan I-III/2014 laju pertumbuhannya meningkat sebesar 25,95 persen dibanding periode yang sama tahun 2013. Peningkatan PMTB tersebut terutama terjadi karena meningkatnya realisasi belanja modal baik dari pemerintah maupun swasta.

Nilai ekspor atas dasar harga berlaku dari Rp 1.941 miliar pada Triwulan II/2014 menjadi Rp 2.259 miliar pada Triwulan III/2014.

Tabel 6.

Struktur Komponen PDRB Penggunaan Triwulanan Tahun 2014 (Persentase)

Komponen Penggunaan Tahun 2014

Triwulan II Triwulan III Triwulan I-III

(1) (2) (3) (4)

1. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga 59,96 59,63 59,89

2. Pengeluaran Lembaga Non Profit 1,64 1,66 1,62

3. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 17,73 18,40 17,97

4. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) 26,22 26,89 26,00

5. Perubahan Inventori 1,71 1,65 1,55

5. Ekspor Barang dan Jasa 12,14 13,48 13,16

6. Dikurangi Impor Barang dan Jasa 19,40 21,71 20,18

PDRB 100,00 100,00 100,00

Nilai ekspor pada Triwulan III/2014 berdasarkan harga konstan 2000 dibanding Triwulan II/2014 (q to q) mengalami pertumbuhan sebesar 16,24 persen yang disebabkan oleh adanya ekspor minyak mentah yang terjadi pada bulan September. Sedangkan bila dibanding dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya (y on y) terjadi kontraksi sebesar minus 30,94 persen. Bila dibandingkan dengan triwulan I-III tahun sebelumnya (c to c)

(9)

kontraksi sebesar minus 35,26 persen. kontraksi tersebut disebabkan menurunkan ekspor karena pemberlakukan UU Minerba.

Grafik 1.

Struktur PDRB Menurut Penggunaan Triwulan III/2014 (persen)

Nilai impor atas dasar harga berlaku pada Triwulan III/2014 dibandingkan dengan Triwulan II/2014 mengalami peningkatan dari Rp 3.102 miliar menjadi Rp 3.638 miliar. Sementara itu nilai impor Sulawesi Tengah atas dasar harga konstan 2000 pada Triwulan III 2014 mengalami pertumbuhan sebesar 15,70 (q to q). Apabila dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya (y on y) mengalami pertumbuhan sebesar 23,25 persen sebabkan adanya pengadaan mesin dan peralatan mekanik terutama dalan rangka pembangunan smelter untuk pengolahan nikel di Kabupaten Morowali.

(10)

BPS PROVINSI SULAWESI TENGAH

Informasi lebih lanjut hubungi: Sukadana Sufii, S.Si, ME

Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Provinsi Sulawesi Tengah

Telopon: (0451)-(483611-483612) E-mail: [email protected]

Referensi

Dokumen terkait

Untuk pengembangan di daerah lain yang mempunyai lingkungan ber- beda (iklim dan tanah berbeda) perlu dilakukan uji multilokasi di beberapa lokasi selama bebe- rapa tahun,

Fitur ciri kemudian diuji untuk proses klasifikasi menggunakan Jaringan Saraf Tiruan metode Learning Vector Quantization (LVQ). LVQ mengklasifikasikan vektor uji

Merendah di sisi belakang kemudian meninggi dengan kenaikan sudut yang !ukup tajam pada area (asade menjadi sebuah ungkapan kehati#hatian untuk menunjukkan eksistensinya

Hubungan Panjang Berat dan Faktor Kondisi Ikan Betutu (Oxyeleotris marmorata) di Sungai Ulim Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi

Berdasarkan kerangka pikir penelitian di atas menjelaskan bahwa, untuk menganalisis tingkat kecukupan modal pada bank konvensional dengan bank syariah maka ditinjau dari

dimaksud pada huruf a, perlu menetapkan Peraturan Bupati tentang Kode Etik Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan dan Nonperizinan Di Lingkungan Dinas Penanaman Modal

Dalam mencapai pengembangan jama’ah, Masjid Nurul Huda sudah mampu mengajak seluruh masyarakat untuk shalat berjama’ah di masjid, hampir semua kaum laki-laki shalat di masjid

Pada saat terjadi fraktur globula lemak dapat masuk kedalam darah karena tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler atau karena katekolamin yang dilepaskan oleh