DI KEC
DEPACAMATAN
ARTEMEN INN WIDAS
JAW
A N ILMU TA FAKULT NSTITUT PSARI KAB
WA BARA
DAHLIA A24104040 ANAH DAN TAS PERTA PERTANIA BOGOR 2008BUPATEN
AT
SUMBERD ANIAN AN BOGORN INDRAM
DAYA LAH RMAYU
HANRINGKASAN
DAHLIA.
Analisis Luas Lahan Minimal Layak Usahatani dan Dosis Anjuran Pupuk NPK untuk Padi Sawah di Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Dibimbing olehSUPIANDI SABIHAM
danUNTUNG
SUDADI.
Luas dan produktivitas lahan yang dikuasai petani merupakan salah satu faktor penentu kelayakan usahatani. Ketersediaan lahan pertanian di Pulau Jawa semakin langka. Hal ini dapat menimbulkan permasalahan terkait penguasaan lahan yang selanjutnya mempengaruhi tingkat produksi, pendapatan dan kesejahteraan petani. Penelitian ini bertujuan menentukan: (1) luas lahan minimal yang layak untuk usahatani padi sawah, (2) dosis anjuran pemupukannya untuk hara NPK, dan (3) menganalisis kelayakan aktual usahatani padi sawah di Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Penelitian ini melibatkan 101 responden yang terdiri atas 48 petani pemilik (Tm) dan 53 petani penyewa (Ts) lahan dengan tingkat produktivitas rendah (Pr), sedang (Ps), dan tinggi (Pt). Luas lahan layak minimal (ha) dihitung sebagai nisbah antara biaya kebutuhan hidup petani dan keluarganya (Rp/tahun) dengan jumlah pendapatan usahatani padi sawah dalam satu tahun atau di musim hujan dan kemarau (Rp/ha/tahun). Pendapatan adalah perkalian jumlah produksi (kg/ ha/tahun) dengan harga jual (Rp/kg) dikurangi jumlah biaya sarana produksi di musim hujan dan kemarau (Rp/ha/tahun). Dalam penelitian ini, kelayakan usahatani didasarkan pada kriteria R/C ratio >1 dan pendapatan (Rp/tahun) > pajak atau sewa lahan (Rp/tahun).
Rataan luas lahan (ha) aktual yang dikuasai petani kelompok TmPr (1.04) > TmPt (0.98) > TmPs (0.78) > TsPt (0.73) > TsPs (0.65) > TsPr (0.45) dan untuk masing-masing kelompok kecuali TmPt lebih sempit daripada luas lahan minimal layak usahatani padi sawah hasil analisis, terutama pada petani penyewa [TsPr (2.25) > TsPs (1.49) > TmPr (1.24) > TmPs (0.82) > TsPt (0.80) > TmPt (0.58)]. Hal ini mengindikasikan bahwa hanya kelompok petani TmPt yang dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga hanya dari kegiatan usahatani. Dosis aktual pupuk NPK yang diberikan petani lebih tinggi daripada dosis yang dianjurkan berdasarkan interpretasi hasil analisis tanah kecuali untuk N pada kelompok Pt. Peningkatan tingkat produksi dan penerapan dosis NPK anjuran secara agregat menurunkan luas lahan layak minimal yang harus dikuasai petani [TsPr (1.21) > TmPr (0.81) > TsPs (0.76) > TmPs (0.60) > TsPt (0.59) > TmPt (0.53)]. Usahatani padi sawah di Kecamatan Widasari tergolong layak, kecuali pada kelompok petani penyewa lahan dengan produktivitas rendah (TsPr) karena nilai pendapatan < sewa lahan.
Kata kunci: Luas lahan minimal; Rekomendasi pemupukan; Usahatani padi sawah
DAHLIA. Analysis of Feasible-Minimum Land Area and NPK Fertilizers
Recommended-Dosage for Wetland-Rice Farming in Widasari Sub-District, Indramayu District, West Java. Under the direction of SUPIANDI SABIHAM and UNTUNG SUDADI.
Land area occupied by farmer and its productivity are important factors determining the feasibility of farming activity. The availability of agricultural land in Java Island is decreasing. This can result in problems related to land occupation which further affecting the level of farmer production, income, and prosperity. The objectives of this research were to determine: (1) the feasible-minimum land area (FMLA) for wetland-rice farming, (2) the recommended dosage of its NPK fertilizers, and (3) the feasibility of the present wetland-rice farming activity in Widasari Sub-district, West Java.
This research involved 2 types of land occupation (48 land-owners [Lo] and 53 land-tenants [Lt]), and 3 levels of land productivity (low [Lp], medium [Mp], and high [Hp]), resulted in 6 groups of farmer respondents (LoLp, LoMp, LoHp, LtLp, LtMp, and LtHp). The FLMA (ha) was calculated as ratio between total living cost of farmer household (Rp/year) and farmer income generated from wetland-rice farming activity for dry and rainy season period (Rp/ha/year). Income was derived from multiplication of total yield (kg/ha/year) with selling price (Rp/kg) subtracted by total farming cost for dry and rainy season period (Rp/ha/year). Evaluation of the farming feasibility was based on criteria: (1) R/C ratio > 1, and (2) income (Rp/year) > land rent or tax fee (Rp/year).
The average land area (ha) actually occupied by farmer of groups LoLp (1.04) > LoHp (0.98) > LoMp (0.78) > LtHp (0.73) > LtMp (0.65) > LtLp (0.45). For each groups, except for LoHp, these actual land occupation-area were less than the analyzed FMLA (ha), especially for the land-tenant farmer groups [LtLp (2.25) > LtMp (1.49) > LoLp (1.24) > LoMp (0.82) > LtHp (0.80) > LoHp (0.58)]. This indicated that only LoHp farmer group which could fulfill their family living cost only from wetland rice farming activity. The NPK fertilizer dosage actually applied by the farmers was higher than the soil analysis-based recommended dosage, except for N of the Hp land productivity levels. By increasing land productivity one level higher and applying the recommended NPK fertilizers dosage, the FMLA (ha) will be decreased in the order of: LtLp (1.21) > LoLp (0.81) > LtMp (0.76) > LoMp (0.60) > LtHp (0.59) > LoHp (0.53). The present wetland-rice farming activity in the study area was categorized as feasible, except for LtLp group due to the less income as compared to the land rent fee. Keywords: Feasible-minimum land area; Fertilizer recommendation; Wetland-rice
ANALISIS LUAS LAHAN MINIMAL LAYAK USAHATANI
DAN DOSIS ANJURAN PUPUK NPK UNTUK PADI SAWAH
DI KECAMATAN WIDASARI KABUPATEN INDRAMAYU
JAWA BARAT
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian
Pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor
oleh
Dahlia
A24104040
DEPARTEMEN ILMU TANAH DAN SUMBERDAYA LAHAN FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
Nama Mahasiswa : Dahlia Nomor Pokok : A24104040
Menyetujui,
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
Prof. Dr. Ir. Supiandi Sabiham, M.Agr. Ir. Untung Sudadi, M.Sc. NIP. 130 422 698 NIP. 131 846 874
Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian
Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr. NIP. 131 124 019
RIWAYAT HIDUP
Penulis lahir pada tanggal 21 Maret 1986 di Indramayu. Penulis merupakan anak pertama dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Sunarto dan Ibu Sukenah.
Penulis telah menempuh pendidikan dasar di SDN Legok III pada tahun 1992 dan lulus pada tahun 1998, kemudian melanjutkan pendidikan di SLTP Negeri II Sindang pada tahun 1998 dan lulus pada tahun 2001. Pada tahun 2004 penulis lulus dari SMU Negeri I Sindang dan pada tahun yang sama penulis diterima sebagai mahasiswa di Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor melalui Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI).
Selama menjadi mahasiswa, penulis pernah menjadi staf Kewirausahaan pada tahun 2004-2005 di Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah (HMIT) Faperta IPB. Penulis juga pernah mendapatkan kesempatan sebagai asisten praktikum mata kuliah Dasar-Dasar Ilmu Tanah tahun 2006 dan penerima beasiswa Supersemar dari tahun 2006-2008.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan segala karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi yang berjudul Analisis Luas Lahan Minimal Layak Usahatani dan Dosis Anjuran Pupuk NPK untuk Padi Sawah di Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Rasa hormat, ucapan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya penulis persembahkan kepada Prof. Dr. Ir. Supiandi Sabiham, M.Agr. selaku Pembimbing Akademik sekaligus Pembimbing Skripsi I atas semua bimbingan, arahan dan nasehat selama ini. Ungkapan terima kasih penulis persembahkan kepada Ir. Untung Sudadi, M.Sc. selaku Pembimbing Skripsi II yang telah banyak meluangkan waktunya untuk memberikan masukan, saran, motivasi dan membagi ilmunya yang sangat berharga, serta kepada Dr. Ir. Suwarno, M.Sc. yang telah bersedia menjadi dosen penguji bagi penulis dan telah banyak memberi saran yang sangat berarti untuk penulis.
Pada kesempatan ini penulis juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Bapak dan Ibu tercinta, terima kasih yang tak terhingga atas cinta, kasih sayang, doa, dan bimbingan kepada penulis selama ini. Adik-adikku tersayang, terima kasih atas kasih sayang, doa, dan dukungannya.
2. Semua rekan mahasiswa Ilmu Tanah IPB terutama angkatan 41 (Meli, Dyan, Anita, Alin, Nova, Fitri, dan semuanya). Terima kasih atas bantuan, dukungan, kehangatan, dan kisah-kisah yang tak akan terlupakan.
3. Kak Mahfur, kak Surya dan mbak Arum, terimakasih atas dukungan, saran, dan waktunya untuk penulis.
4. Gigiez, Novi, dan semua anak-anak wisma Lasapienza, terima kasih untuk bantuan, kehangatan, dukungan dan rasa kekeluargaan.
5. Pak Oyot, Pak Kosim, dan petani di Kecamatan Widasari Kabupaten Indramayu, terima kasih atas bantuan dan kerja samanya.
6. Staf laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah yang telah banyak membantu penulis selama penelitian.
7. Semua pihak yang telah membantu penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Bogor, 14 Agustus 2008
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan ... 2
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penguasaan Lahan Sawah ... 3
2.2 Tanah Sawah ... 3 2.3 Padi 2.3.1 Klasifikasi Tanaman ... 5 2.3.2 Deskripsi Tanaman ... 5 2.3.3 Syarat Tumbuh ... 6 2.3.4 Pemupukan NPK ... 6 2.3.4.1 Pupuk N ... 7 2.3.4.2 Pupuk P ... 7 2.3.4.3 Pupuk K ... 8 2.4 Usahatani ... 9
III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Lokasi ... 10
3.2 Pengumpulan Data ... 10
3.3 Pengambilan dan Analisis Contoh Tanah ... 10
3.4 Penetapan Luas Lahan Minimal ... 10
3.5 Analisis Kelayakan Usahatani Padi Sawah ... 11
IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Kondisi Geografis dan Wilayah Administrasi ... 12
4.3 Karakteristik Petani Responden ... 14
4.4 Usahatani Padi Sawah ... 15
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Luas Lahan yang Dikuasai Petani ... 17
5.2 Analisis Usahatani ... 17
5.3 Penetapan Luas Lahan Minimal ... 18
5.4 Kelayakan Usahatani ... 23
VI. KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ... 24
6.2 Saran ... 24
VII. DAFTAR PUSTAKA ... 25
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin dan kepala keluarga ... 12
2. Potensi penduduk berdasarkan golongan umur ... 13
3. Tingkat pendidikan penduduk ... 13
4. Potensi penduduk berdasarkan mata pencaharian ... 14
5. Komposisi petani responden berdasarkan usia ... 14
6. Komposisi petani responden berdasarkan tingkat pendidikan ... 15
7. Jumlah petani responden berdasarkan penguasaan lahan ... 17
8. Rata-rata penerimaan, pengeluaran, dan pendapatan petani pada musim hujan dan musim kemarau ... 18
9. Rata-rata luas lahan aktual dan luas lahan minimal ... 18
10. Suplai hara dari tanah, kebutuhan hara tanaman, dosis pupuk di tingkat petani, dan dosis pupuk anjuran di lahan pemilik ... 21
11. Suplai hara dari tanah, kebutuhan hara tanaman, dosis pupuk di tingkat petani, dan dosis pupuk anjuran di lahan penyewa ... 22
12. Luas lahan minimal dengan upaya efisiensi sarana produksi sebelum dan setelah tingkat produksi ditingkatkan ... 23
13. Nilai R/C ratio petani pemilik dan penyewa lahan ... 23
14. Pendapatan dan pajak lahan petani pemilik dan sewa lahan petani penyewa ... 23
LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Penerimaan usahatani petani penyewa lahan dengan produktivitas rendah ... 27 2. Penerimaan usahatani petani penyewa lahan dengan produktivitas
sedang ... 28 3. Penerimaan usahatani petani penyewa lahan dengan produktivitas
tinggi ... 29 4. Penerimaan usahatani petani pemilik lahan dengan produktivitas
rendah ... 30 5. Penerimaan usahatani petani pemilik lahan dengan produktivitas
sedang ... 31 6. Penerimaan usahatani petani pemilik lahan dengan produktivitas
tinggi ... 32 7. Total pengeluaran usahatani petani penyewa lahan dengan
produktivitas rendah selama musim hujan ... 33 8. Total pengeluaran usahatani petani penyewa lahan dengan
produktivitas sedang selama musim hujan ... 34 9. Total pengeluaran usahatani petani penyewa lahan dengan
produktivitas tinggi selama musim hujan ... 35 10. Total pengeluaran usahatani petani pemilik lahan dengan
produktivitas rendah selama musim hujan ... 36 11. Total pengeluaran usahatani petani pemilik lahan dengan
produktivitas sedang selama musim hujan ... 37 12. Total pengeluaran usahatani petani pemilik lahan dengan
produktivitas tinggi selama musim hujan ... 38 13. Total pengeluaran usahatani petani penyewa lahan dengan
produktivitas rendah selama musim kemarau ... 39 14. Total pengeluaran usahatani petani penyewa lahan dengan
15. Total pengeluaran usahatani petani penyewa lahan dengan produktivitas tinggi selama musim kemarau ... 41 16. Total pengeluaran usahatani petani pemilik lahan dengan
produktivitas rendah selama musim kemarau ... 42 17. Total pengeluaran usahatani petani pemilik lahan dengan
produktivitas sedang selama musim kemarau ... 43 18. Total pengeluaran usahatani petani pemilik lahan dengan
produktivitas tinggi selama musim kemarau ... 44 19. Penerimaan usahatani petani penyewa lahan dengan produktivitas
rendah ... 45 20. Penerimaan usahatani petani penyewa lahan dengan produktivitas
sedang ... 46 21. Penerimaan usahatani petani penyewa lahan dengan produktivitas
tinggi ... 47 22. Penerimaan usahatani petani pemilik lahan dengan produktivitas
rendah ... 49 23. Penerimaan usahatani petani pemilik lahan dengan produktivitas
sedang ... 51 24. Penerimaan usahatani petani pemilik lahan dengan produktivitas
tinggi ... 50 25. Kebutuhan keluarga petani penyewa lahan produktivitas rendah
satu bulan ... 51 26. Kebutuhan keluarga petani penyewa lahan produktivitas sedang
satu bulan ... 52 27. Kebutuhan keluarga petani penyewa lahan produktivitas tinggi satu
bulan ... 53 28. Kebutuhan keluarga petani pemilik lahan produktivitas rendah satu
bulan ... 54 29. Kebutuhan keluarga petani pemilik lahan produktivitas sedang satu
bulan ... 55 30. Kebutuhan keluarga petani pemilik lahan produktivitas tinggi satu
xiv
31. Jenis dan dosis pupuk yang diberikan petani penyewa lahan dengan produktivitas rendah ... 57 32. Jenis dan dosis pupuk yang diberikan petani penyewa lahan dengan
produktivitas sedang ... 58 33. Jenis dan dosis pupuk yang diberikan petani penyewa lahan dengan
produktivitas tinggi ... 59 34. Jenis dan dosis pupuk yang diberikan petani pemilik lahan dengan
produktivitas rendah ... 60 35. Jenis dan dosis pupuk yang diberikan petani pemilik lahan dengan
produktivitas sedang ... 61 36. Jenis dan dosis pupuk yang diberikan petani pemilik lahan dengan
produktivitas tinggi ... 62 37. Hasil analisis sifat kimia tanah sawah petani penyewa lahan ... 63 38. Hasil analisis sifat kimia tanah sawah petani pemilik lahan ... 64
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Jawa Barat merupakan salah satu provinsi sentra produksi padi nasional. Luas lahan sawah di Jawa Barat pada tahun 2006 adalah sekitar 1.80 juta ha dengan total produksi padi sekitar 9.42 juta ton gabah kering giling (GKG) (BPS 2007). Menurut ramalan BPS, produksi padi di Jawa Barat tahun 2007 menurun menjadi sekitar 8.58 juta ton GKG (Ismail 2007). Penyebab terjadinya penurunan produksi padi khususnya di Provinsi Jawa Barat adalah anomali iklim dan konversi lahan.
Anomali iklim menyebabkan terlambatnya waktu tanam, kekeringan (puso), meledaknya serangan hama dan penyakit, serta berubahnya rotasi tanam dari padi-padi-palawija menjadi padi-padi-bera. Laju konversi atau alih fungsi dari lahan pertanian produktif menjadi lahan non pertanian di Indonesia sudah mencapai 35 ribu ha per tahun. Pada periode 1979-1999, 55.78% dari total lahan yang terkonversi (103.48 ribu hektar) adalah lahan sawah dan 84% di antaranya terjadi di pulau Jawa (Sabiham 2005). Rata-rata luas lahan yang dikuasai petani (digarap oleh petani pemilik atau penyewa lahan) di Indonesia memang menunjukkan kecenderungan yang menyempit, yaitu 0.98 ha pada 1983 menjadi 0.83 ha pada 1993, dengan angka rata-rata di pulau Jawa 0.47 ha dan di luar pulau Jawa 1.27 ha per keluarga petani (Suhartanto 2005).
Permasalahan ketersediaan dan produktivitas lahan sangat mempengaruhi tingkat produksi, pendapatan dan kesejahteraan petani, karena luas dan produktivitas lahan yang dikuasai petani merupakan salah satu faktor penentu kelayakan usahatani. Luas lahan yang dapat diusahakan secara optimal untuk produksi pertanian akan menurun seiring dengan menurunnya ketersediaan dan kualitas lahan. Hal tersebut akan mengancam ketahanan pangan dan juga dapat mengganggu keseimbangan lingkungan (Dardak 2005).
Penelitian mengenai analisis luas lahan minimal yang layak untuk usahatani padi sawah telah dilakukan sebelumnya oleh Sukohadi (2007), Sukmawati (2007) dan Wirawan (2007). Namun, analisisnya hanya didasarkan atas data satu musim tanam atau 4 bulan dan tanpa pembedaan tingkat produksi lahan aktual.
2
1.2Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah: (1) menentukan luas lahan minimal yang layak untuk usahatani padi sawah, (2) menentukan dosis anjuran pupuk NPK untuk mengurangi biaya usahatani, serta (3) menganalisis kelayakan aktual usahatani padi sawah di Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penguasaan Lahan SawahSumberdaya lahan (land resources) adalah lingkungan fisik yang terdiri atas iklim, relief, tanah, air, dan vegetasi serta benda yang ada di atasnya yang berpengaruh terhadap penggunaan lahan. Lahan merupakan bagian dari bentang lahan (lanscape) yang mencakup pengertian lingkungan fisik termasuk iklim, topografi/relief, hidrologi termasuk keadaan vegetasi alami yang semuanya secara potensial akan berpengaruh terhadap penggunaan lahan. Lahan merupakan salah satu sumberdaya utama dalam kegiatan pertanian (Sitorus 2001).
Terdapat perbedaan antara konsep pemilikan, penguasaan, dan penggarapan lahan. Konsep pemilikan merujuk kepada penguasaan formal. Penguasaan merujuk pada penguasaan efektif dimana seseorang mempunyai hak yang sah untuk menggunakannya, mengolahnya, dan memanfaatkannya. Penggarapan merujuk kepada bagaimana cara sebidang lahan diusahakan secara produktif (Wiradi 1984).
Pergeseran pemilikan lahan terjadi karena adanya jual beli dibawah tangan atau atas hukum setempat tanpa didaftarkan sebagaimana diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pergeseran penguasaan lahan juga terjadi berdasarkan surat kuasa mutlak yang diserahkan oleh pihak lain yang bermodal (Sitorus 2001).
2.2 Tanah Sawah
Sawah adalah tanah yang dibatasi oleh pematang yang digunakan untuk pertanaman padi dan diairi dengan pengairan teknis atau tadah hujan. Pengaruh penggenangan dan pengolahan tanah sawah dalam keadaan tergenang dapat menyebabkan perubahan sifat tanah (morfologi, fisik, kimia, dan biologi) sehingga berbeda sifat dengan sifat tanah asalnya, terutama pada tanah kering yang disawahkan. Akibatnya dari berbagai jenis tanah yang disawahkan akan dapat menyebabkan produksi padi yang bervariasi (Situmorang et al. 2004).
Profil tanah sawah terdiri atas 4 bagian yaitu (1) lapisan air, (2) lapisan oksidasi, (3) lapisan olah yang mengalami reduksi, dan (4) sub soil yang bersifat oksidatif dan kadang-kadang reduktif. Di bawah lapisan air masih dijumpai
4
adanya lapisan yang bersifat oksidatif, walaupun hanya beberapa milimeter ketebalannya, sedangkan lapisan reduktif yang berada di bawah lapisan oksidatif relatif lebih tebal dibandingkan lapisan-lapisan lainnya (Situmorang et al. 2004).
Perubahan sifat kimia dan elektrokimia pada tanah yang digenangi antara lain: menurunnya ketersediaan oksigen, reduksi atau penurunan potensial redoks, peningkatan pH pada tanah masam dan penurunan pH pada tanah alkalin menuju pH netral, peningkatan daya hantar listrik (DHL), reduksi dari Fe (III) menjadi Fe (II) dan Mn (IV) menjadi Mn (II), reduksi dari NO3- dan NO2- menjadi N2 dan
N2O, reduksi dari SO42- menjasi S2-, peningkatan sumber dan ketersediaaan
nitrogen, peningkatan ketersediaan fosfor, silikat, dan molibdenum, pengurangan konsentrasi besi dan tembaga yang larut dalam air, dan pembentukan CO2, CH4,
serta penurunan produksi racun seperti asam-asam organik dan H2S (De Datta
1981).
Ciri khas dari tanah sawah adalah proses pelumpuran dan adanya lapisan tapak bajak. Pelumpuran didefinisikan sebagai pengolahan tanah pada kondisi jenuh air yang dimaksudkan untuk meningkatkan retensi air, menurunkan permeabilitas tanah, mempermudah perataan tanah dan pemindahan bibit serta mengendalikan gulma. Hal ini cenderung meningkatkan unsur-unsur hara, ketersediaan air dan perubahan iklim mikro. Pelumpuran akan membantu mengkonservasi hara dalam larutan air. Pada tanah yang tidak dilumpurkan total kehilangan N, P, dan K secara berturut-turut masing-masing kira-kira 10, 3, dan 30% (Situmorang et al. 2004).
Lapisan tapak bajak terjadi sebagai akibat dari pemadatan tanah oleh kaki manusia atau binatang atau peralatan pengolahan tanah dalam kondisi jenuh air. Adanya tapak bajak memberikan pengaruh positif terhadap ketersediaan air pada tanah sawah, tetapi berpengaruh negatif pada perkembangan akar tanaman palawija. Pembentukan tapak bajak yang optimal terjadi pada tanah berlempung halus, pada tanah yang kandungan liatnya terlalu tinggi pembentukan tapak bajak menjadi kurang nyata (Situmorang et al. 2004).
2.3 Padi
2.3.1 Klasifikasi Tanaman
Klasifikasi botani tanaman padi: Divisi : Spermathophyta
Sub divisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledonae Keluarga : Gramineae (Poaceae) Genus : Oryza
Spesies : Oryza spp.
2.3.2 Deskripsi Tanaman
Padi adalah tumbuhan yang tergolong tanaman yang dapat tumbuh pada lahan yang digenangi baik secara alami ataupun disengaja, namun beberapa varietas tertentu dapat tumbuh di lahan kering dengan curah hujan yang mencukupi kebutuhan tanaman. Tanaman padi termasuk ke dalam keluarga
Gramineae yang ditandai dengan batang yang tersusun dari beberapa ruas.
Panjangnya ruas tidak sama, ruas yang terpendek terdapat pada pangkal batang. Ruas kedua, ketiga, dan seterusnya lebih panjang daripada ruas yang didahuluinya, tiap-tiap ruas diawali dan diakhiri oleh buku. Tanaman padi bersifat merumpun, artinya tanaman ini dapat memiliki dan menghasilkan 20-30 atau lebih anakan atau tunas-tunas baru (Siregar 1980). Tinggi tanaman diukur dari pemukaan tanah sampai ujung daun tertinggi, bila malai keluar tingginya diukur dari permukan tanah sampai ujung malai tertinggi. Bila syarat-syarat tumbuh baik, maka tinggi tanaman padi sawah biasanya 80-120 cm.
Ada empat fase dalam pertumbuhan padi sejak bibit hingga panen, yaitu fase vegetatif cepat, vegetatif lambat, reproduksi dan pemasakan. Fase vegetatif cepat diawali dari pertumbuhan bibit sampai jumlah anakan maksimum. Fase vegetatif lambat diawali dari jumlah anakan maksimum sampai keluarnya premordia (bakal malai). Fase reproduksi diawali dari keluarnya premordia sampai malai berbunga. Fase pemasakan diawali dari keluarnya bunga sampai saat panen (Departemen Pertanian 1983).
6
2.3.3 Syarat Tumbuh
Tanaman padi tumbuh di daerah tropis atau subtropis pada 45o LU sampai 45o LS dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi serta musim hujan selama 4 bulan. Rata-rata curah hujan yang baik adalah 200 mm/bulan atau 1500-2000 mm/tahun. Padi dapat ditanam di musim kemarau atau hujan. Pada musim kemarau produksi meningkat asalkan air irigasi selalu tersedia. Di musim hujan, walaupun air melimpah produksi dapat menurun karena penyerbukan kurang intensif (Warintek 2006).
2.3.4 Pemupukan NPK
Tanaman padi membutuhkan unsur hara baik makro maupun mikro. Unsur hara makro yang dibutuhkan adalah C, H, O, N, P, K, Ca, Mg, dan S. Unsur mikro yang dibutuhkan adalah Fe, Mn, Cu, Zn, Mo, B, dan Cl. Unsur hara yang tersedia jumlahnya harus optimal dan dapat digunakan tanaman. N, P, Zn, dan K adalah unsur hara yang biasanya diberikan ke tanaman oleh petani (De Datta 1981).
Pemupukan padi sawah mengenal beberapa istilah seperti pemupukan berimbang, pemupukan spesifik lokasi, dan pengelolaan hara spesifik lokasi. Secara sederhana, pemupukan berimbang mengacu kepada keseimbangan hara yang dibutuhkan tanaman berdasarkan tingkat produksi yang dicapai dengan ketersediaan hara dalam tanah (Departemen Pertanian 2007). Pemupukan berimbang merupakan salah satu cara memperbaiki dan meningkatkan produktivitas lahan pertanian, khususnya di daerah tropika basah yang tingkat kesuburan tanahnya relatif rendah karena tingginya tingkat pelapukan dan pencucian hara. Pembatas pertumbuhan tanaman yang umumnya dijumpai adalah rendahnya kandungan hara di dalam tanah, terutama hara makro N, P, dan K. Untuk mengatasi hal tersebut tanah perlu dipupuk berdasarkan jenis dan dosis yang sesuai dengan kebutuhan tanaman (Setyorini & Widowati 2006).
2.3.4.1 Pupuk N
Nitrogen (N) merupakan unsur utama yang dibutuhkan tanaman padi, terutama untuk varietas unggul dengan teknik bercocok tanam intensif. Fungsi dari nitrogen adalah menghijaukan daun dan merangsang pertumbuhan dan pembentukan anakan/tunas pada tanaman serealia. Defisiensi N akan mengakibatkan pertumbuhan kerdil, anakan sedikit, daun berwarna hijau kekuning-kuningan dan akan mulai mati dari ujung daun kemudian menjalar ke tengah, serta akan meningkatkan banyaknya malai hampa. Pemberian N yang berlebihan akan menyebabkan tanaman mudah rebah dan pertumbuhan tanaman
succulent sehingga tanaman mudah dihinggapi cendawan (Siregar 1981).
Jumlah N yang dianjurkan untuk padi sawah tergantung dari varietas dan keadaan setempat. Dosis N lebih tinggi di musim kemarau dibandingkan musim hujan. Waktu pemberian pupuk N erat hubungannya dengan fase-fase pertumbuhan tanaman. Ada dua fase tumbuh dimana padi sangat membutuhkan N, yaitu fase vegetatif cepat dan fase vegetatif lambat (Taslim et al. 1993).
Pada saat penggenangan, nitrat (NO3) berada pada bagian lapisan tanah
sawah yang masih bersifat reduktif. Nitrat juga masih ditemukan pada air genangan, di tanah lapisan permukaan, dan zona perakaran yang masih oksidatif. Namun, nitrat dengan cepat terdenitrifikasi atau tereduksi menjadi N2O dan N2
pada bagian tanah tergenang yang telah tereduksi. Kehilangan N akibat denitrifikasi dapat diminimalkan dengan cara tidak menggenangi lahan secara terus menerus (Situmorang et al. 2004).
2.3.4.2 Pupuk P
Fosfor (P) berfungsi merangsang pertumbuhan akar, pembentukan anakan dan pembentukan bunga sehingga umur tanaman menjadi lebih pendek. Defisiensi fosfor akan mengakibatkan tanaman menjadi kerdil dan daun muda tampak keungu-unguan (Siregar 1981).
Hara P diserap semasa pertumbuhan tanaman dan mencapai maksimum pada waktu berbunga. Fosfor dalam tanah lambat tersedia, terutama masa permulaan pertumbuhan tanaman. Fosfor diberikan pada waktu tanam atau segera setelah tanam, namun tidak dianjurkan melebihi fase vegetatif cepat. Fosfor
8
tersedia menjadi lebih besar jumlahnya di tanah sawah dibandingkan dengan tanah kering. Penggenangan mengakibatkan reduksi FePO4 (Fe3+) menjadi
Fe3(PO4)2.8H2O (Fe2+) yang mudah larut dan hidrolisis Al-fosfat dan Fe-fosfat
melepaskan fosfat menjadi tersedia bagi tanaman (Taslim et al. 1993).
Pada saat tanah digenangi, kadar P-larut air dan P-larut asam meningkat, mencapai maksimum dan kemudian menurun. Peningkatan kelarutan P akibat penggenangan disebabkan oleh: (1) reduksi dari FePO4.2H2O menjadi
Fe(PO4)2.8H2O, (2) proses pelepasan erapan (desorption) setelah reduksi
Ferri-hidroksida menjadi Ferro-Ferri-hidroksida, (3) Hidrolisis FePO4 dan AlPO4 pada tanah
masam, (4) pelepasan P-teroklusi, dan (5) Pertukaran anion. Penurunan kelarutan P akibat dari penyerapan kembali (resorption) pada permukaan liat dan Al-hidroksida, pengendapan, atau perusakan oleh mikrob terhadap anion organik yang terlebih dahulu dipertukarkan dengan ion fosfat (Situmorang et al. 2004).
2.3.4.3 Pupuk K
Kalium (K) diperlukan untuk pertumbuhan sel, pembentukan gula, zat tepung dan protein serta memperkuat batang sehingga tahan rebah, hama, dan penyakit. Pada saat berbunga tanaman menyerap 58% dari seluruh kebutuhan K. Gabah mengandung K yang rendah dibandingkan jerami. Tanah sawah relatif mengandung cukup banyak K dan juga penambahan K melalui air irigasi. Kekurangan K akan cepat terlihat, terutama bila jerami tidak dikembalikan ke sawah (Taslim et al. 1993). Menurut Pillai (1992) kebutuhan K pada musim kemarau lebih tinggi dibandingkan musim hujan.
Setelah adanya penggenangan, K-dapat dipertukarkan (K-dd) pada tapak-tapak pertukaran digantikan oleh Mn2+ dan Fe2+ dan dilepaskan ke dalam larutan tanah. Akibatnya konsentrasi K-larutan meningkat dan meningkatkan difusi K ke akar-akar tanaman, terutama pada tanah dengan potensi fiksasi K rendah (Situmorang et al. 2004).
2.4 Usahatani
Ilmu usahatani merupakan ilmu yang mempelajari cara-cara petani mengusahakan dan mengkoordinasi faktor-faktor produksi berupa lahan dan alam sekitar sebagai modal seefektif dan seefisien mungkin sehingga usahatani tersebut dapat memberikan keuntungan maksimal (Suratiyah 2006). Menurut Hernanto (1989), ilmu usahatani merupakan cabang dari ilmu pertanian, mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan usahatani meliputi organisasi, koperasi, pembiayaan, penjualan, dan perihal usahatani sebagai unit atau satuan produksi.
Bentuk usahatani dibedakan atas penguasaan faktor-faktor produksi oleh petani. Penggunaan faktor produksi akan menentukan bagaimana usahatani tersebut dimanfaatkan. Oleh karena itu, faktor-faktor produksi akan selalu ada pada usahatani atau disebut sebagai unsur-unsur pokok usahatani. Ada empat unsur pokok usahatani, yaitu tanah, tenaga kerja, modal, dan pengelolaan (Hernanto 1989).
III. METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan dalam dua tahap dan dimulai pada Februari hingga Juni 2008. Tahap pertama berupa observasi lapang, penetapan dan wawancara dengan petani responden serta pengambilan contoh tanah dilakukan di Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Tahap kedua adalah analisis tanah dan analisis usahatani yang dilaksanakan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
3.2 Pengumpulan Data
Responden dalam penelitian ini terdiri atas 48 petani pemilik dan 53 petani penyewa lahan yang dipilih dengan metode acak sederhana. Selanjutnya masing-masing dari kedua kelompok petani responden tersebut dibagi lagi kedalam 3 kategori berdasarkan produktivitas lahan, yaitu rendah, sedang dan tinggi, yang kisaran nilainya ditentukan menggunakan metode kuartil. Periode analisis adalah satu tahun atau meliputi musim hujan dan kemarau.
3.3 Pengambilan dan Analisis Contoh Tanah
Untuk mengetahui tingkat kesuburan kimia tanah dan sebagai dasar penetapan dosis anjuran pemupukan NPK dilakukan pengambilan contoh tanah komposit pada kedalaman 0-20 cm secara purposive (sengaja) di lahan sawah yang dikuasai petani responden yang terletak di desa Ujungjaya, Ujungaris, dan Kongsijaya. Analisis tanah dilakukan terhadap pH H2O 1:1 (pH meter), N-total
(Kjeldahl), P-tersedia (Olsen), dan K-dapat ditukar (N NH4OAc pH 7,0).
3.4 Penetapan Luas Lahan Minimal dan Kelayakan Usahatani Padi Sawah
Luas lahan layak minimal (ha) dihitung sebagai nisbah antara rataan biaya kebutuhan hidup petani dan keluarganya (Rp/tahun) dengan rataan jumlah pendapatan usahatani padi sawah pada musim hujan dan kemarau (Rp/ha/ tahun). Pendapatan adalah perkalian jumlah produksi (kg/ha/tahun) dengan harga jual
(Rp/kg) dikurangi jumlah biaya sarana produksi di musim hujan dan kemarau (Rp/ha/tahun). Sarana produksi yang dibutuhkan meliputi benih, pupuk, pestisida, peralatan, tenaga kerja, pengairan, sewa/pajak lahan dan sewa pompa air.
3.5 Analisis Kelayakan Usahatani Padi Sawah
Penetapan kelayakan usahatani didasarkan pada kriteria R/C ratio >1 dan pendapatan (Rp/tahun) > sewa lahan (Rp/tahun) (Suratiyah 2006).
IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN
4.1 Kondisi Geografis dan Wilayah Administrasi
Kecamatan Widasari merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Indramayu yang terdiri atas sepuluh desa, yaitu Desa Kasmaran, Leuwigede, Ujungpendokjaya, Ujungjaya, Ujungaris, Kongsijaya, Widasari, Bangkaloailir, Kalensari, dan Bunder. Kecamatan Widasari memiliki luas wilayah 3585 ha, dengan luas lahan sawah 2849 ha. Kecamatan Widasari terletak pada altitude 9.75 m dpl sehingga daerah ini beriklim panas dengan suhu rata-rata 29o C.
Kecamatan ini terletak kurang lebih 17 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Indramayu. Secara administratif, Kecamatan Widasari memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :
• Sebelah Utara : Kecamatan Lohbener • Sebelah Selatan : Kecamatan Bangodua • Sebelah Barat : Kecamatan Lelea • Sebelah Timur : Kecamatan Jatibarang
4.2 Kependudukan
Penduduk Kecamatan Widasari pada tahun 2008 berjumlah 35846 jiwa. Data selengkapnya disajikan dalam Tabel 1 dan 2.
Tabel 1. Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin dan kepala keluarga
No Desa Jumlah Penduduk (orang) KK
laki-laki (L) Perempuan (P) Jumlah (L+P)
1 Kongsijaya 1815 1734 3549 960 2 Widasari 2334 2394 4728 1474 3 Bunder 2294 2467 4761 1468 4 Kalensari 696 746 1442 336 5 Ujungpendokjaya 1220 1247 2467 663 6 Leuwigede 2032 1933 3965 2348 7 Ujungaris 2423 2593 5016 1413 8 Bangkaloailir 2413 2268 4681 1530 9 Kasmaran 1014 987 2001 575 10 Ujungjaya 1597 1639 3236 943 Total 17838 18008 35846 11710
Tabel 2. Potensi penduduk berdasarkan golongan umur
No Desa Jumlah Penduduk Yang Berumur (Tahun) Total 0-9 10-19 20-29 30-39 40-49 50-59 >60 1 Kongsijaya 555 628 803 668 507 276 112 3549 2 Widasari 932 932 887 608 807 438 124 4728 3 Bunder 1177 829 809 754 631 471 90 4761 4 Kalensari 187 257 251 241 223 179 104 1442 5 Ujungpendokjaya 377 493 566 442 314 194 81 2467 6 Leuwigede 667 760 841 701 510 388 98 3965 7 Ujungaris 638 786 1297 1122 676 389 108 5016 8 Bangkaloailir 1217 1164 634 602 529 412 123 4681 9 Kasmaran 312 282 327 327 324 314 115 2001 10 Ujungjaya 519 592 617 497 507 412 92 3236 Total 6581 6723 7032 5962 5028 3473 1047 35846 Sumber: Data Monografi Desa Wilayah Kecamatan Widasari (2008)
Tabel 2 menunjukkan bahwa jumlah penduduk berumur produktif (20-49 tahun) setengah dari jumlah penduduk (50.28%), sehingga tersedia tenaga kerja yang cukup banyak dalam upaya mengelola usahatani secara optimal.
Tingkat pendidikan penduduk bervariasi mulai dari tidak tamat Sekolah Dasar (SD)/sederajat, tamat Sekolah Dasar (SD)/sederajat, tamat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP)/sederajat, tamat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA)/sederajat, dan Perguruan Tinggi (Diploma dan S1) (Tabel 3). Penduduk yang bekerja di sektor pertanian sebanyak 11466 jiwa (46.51%) yang terbagi atas petani pemilik dan penyewa sebanyak 2038 jiwa (8.27%) dan buruh tani sebanyak 9428 jiwa (38.24%) (Tabel 4).
Tabel 3. Tingkat pendidikan penduduk
Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) (%)
Tidak Tamat SD 17256 50.38 Tamat SD/sederajat 9638 28.14 TamatSLTP/sederajat 3850 11.24 Tamat SLTA/sederajat 2960 8.64 Tamat D1,D2,D3 285 0.84 Tamat S1,S2 262 0.76 Total 34251 100
14
Tabel 4. Potensi penduduk berdasarkan mata pencaharian Jenis Mata Pencaharian Jumlah (Orang) (%)
PNS 219 0.89 TNI/POLRI 57 0.23 Pensiunan 80 0.32 Swasta 4513 18.3 Petani 2038 8.27 Buruh tani 9428 38.24 Lain-lain 8321 33.75 Total 24656 100
Sumber: Data Monografi Kecamatan Widasari (2008) 4.3 Karakteristik Petani Responden
Kegiatan bertani di Kecamatan Widasari merupakan kegiatan turun temurun. Pengetahuan cara bercocok tanam didapat secara turun temurun dan dari para penyuluh lapangan yang rutin datang seminggu sekali. Petani di Desa Ujungjaya memiliki kelompok tani organik dengan nama Kelompok Tani Ramah Lingkungan dengan anggota sebanyak 20 orang. Setiap desa memiliki kelompok petani untuk pertanian padi konvesional, dan seorang penyuluh untuk tiga desa.
Berdasarkan wawancara dengan 101 petani responden diperoleh informasi bahwa sebagian besar (77.23%) petani berusia lebih dari 40 tahun (Tabel 5).
Tabel 5. Komposisi petani responden berdasarkan usia
Golongan Usia
Petani (tahun) JumlahPetani Pemilik(%) JumlahPetani Penyewa(%) Total (%)
<40 9 18.75 14 26.42 22.77 40-49 15 31.25 17 32.07 31.68 50-59 13 27.08 14 26.42 26.73 60-69 8 16.67 3 5.66 10.89 >70 3 6.25 5 9.3 7.92 Total 48 100 53 100 100
Berdasarkan Tabel 5, umumnya petani di Kecamatan Widasari berusia lanjut. Sebagian besar mereka bertani sejak kecil mengikuti orangtua mereka yang juga bertani. Berdasarkan Tabel 6, proporsi terbesar tingkat pendidikan petani responden adalah tamatan SD (51.49%), diikuti petani tidak sekolah (22.77%), petani tamat SLTP (14.85%), petani tamat SLTA (3.96%), dan petani tamat Perguruan Tinggi (6.93%).
Tabel 6. Komposisi petani responden berdasarkan tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan Jumlah Petani Pemilik (%) Jumlah Petani Penyewa (%) Total (%) Tidak sekolah 9 18.75 14 26.42 22.77 Tamat SD 20 41.67 32 60.38 51.49 Tamat SLTP 8 16.67 7 13.2 14.85 Tamat SLTA 4 8.33 0 0 3.96 Tamat PT (S1dan D3) 7 14.58 0 0 6.93 Jumlah 48 100 53 100 100
4.4 Usahatani Padi Sawah
Tanah sawah di Kecamatan Widasari mencapai 2 849 ha dan sebagian besar merupakan sawah irigasi yang airnya berasal dari bendungan Rentang di Kecamatan Jatitujuh Kabupaten Majalengka. Kecamatan Widasari merupakan daerah golongan 3 yang merupakan daerah terakhir yang mendapatkan pasokan air. Oleh karena itu permasalahan pengairan menjadi masalah utama saat musim kemarau. Akibat dari hal tersebut, petani di Kecamatan Widasari hanya dua kali menanam padi dan tanpa menanam palawija. Dalam satu siklus, rotasi tanam dalam setahun adalah padi-padi-bera.
Varietas. Varietas benih yang digunakan petani di Kecamatan Widasari
bervariasi, diantaranya varietas Ciherang, Mirah, IR Taiwan, IR 64, dan Cigeulis. Sebagian besar petani responden menggunakan varietas Ciherang karena anakan banyak, varietas unggul, kualitas dan kuantitas baik.
Benih. Ada tiga cara petani mendapatkan benih. Pertama, petani
mendapatkan benih dengan cara membeli dari kios atau pasar, kedua, benih diperolah dari hasil penyimpanan hasil panen sebelumnya, dan ketiga, petani mendapatkan benih dengan saling menukar dari petani yang lain.
Pengolahan Tanah. Pengolahan tanah yang pertama adalah memperbaiki
pematang sawah, kemudian lahan digenangi kurang lebih selama satu minggu. Pembajakan dilakukan untuk membalik tanah. Di lokasi penelitian pembajakan lahan menggunakan traktor yang disewa dari para pemilik traktor dengan biaya Rp 455000-Rp 525000 per hektar. Pembajakan lahan dilakukan dua kali sebelum bibit padi dipindahkan dari persemaian.
16
Penyemaian. Penyemaian dilakukan sendiri ataupun bersama-sama dengan
petani lain. Rata-rata penggunaan benih di tingkat petani adalah 40-50 kg/ha. Persemaian dibagi dalam beberepa bedengan. Lebar bedengan biasanya 1.20 meter. Antara dua bedengan dibuat selokan atau parit pemisah yang dalamnya kurang lebih 25 dan 30 cm. Selokan atau parit ini berfungsi sebagai jalan masuk dan keluarnya air (Siregar 1981).
Penanaman. Tanaman yang dipindahkan dari tempat persemaian ke lahan
sawah biasanya berumur 25-30 hari. Jarak tanam yang biasa digunakan petani adalah 25x25 atau 15x15, dan menggunakan 2-3 bibit.
Pemupukan. Jenis pupuk yang digunakan petani sebagian besar adalah
Urea, TSP, dan Phonska. Pemberian pupuk dua kali per musim tanam. Pemupukan pertama dilakukan dua minggu setelah tanam, dan pemupukan kedua dilakukan empat minggu setelah tanam. Pemupukan dilakukan dengan cara mencampurkan pupuk dengan kapur pertanian. Hal ini bertujuan agar pupuk tidak lengket saat disebar.
Pengendalian Hama dan Penyakit. Petani responden menggunakan
bahan-bahan kimia dalam pengendalian hama dan penyakit. Hama yang sering menyerang adalah Tikus (Rattus argentiventer), Wereng Coklat (Nilaparvata
lugens), dan Penggerek Batang (Tryporyza innotata). Penyakit yang sering
menyerang adalah kresek (Bacterial leaf blight). Untuk hama tikus petani responden menggunakan oli bekas untuk menangkap tikus.
Panen. Umur panen padi sawah berbeda-beda tergantung varietas padi
yang ditanam. Sebagian besar petani Kecamatan Widasari memanen padi pada umur 100-120 hari. Ciri-ciri padi yang telah dapat dipanen yaitu 90% malai sudah menguning, daun bendera sudah menguning, kadar air gabah 25% (Prasetiyo 2002). Selama kurang lebih satu minggu sawah dikeringkan sebelum panen. Cara panen petani masih menggunakan alat perontok padi tradisional. Petani menjual padinya dalam bentuk Gabah Kering Giling kepada tengkulak atau pabrik beras yang menerima pembelian padi.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Luas Lahan Yang Dikuasai PetaniLuas lahan yang dikuasai petani, baik lahan milik maupun lahan sewa, di lokasi penelitian berkisar dari yang terendah 0.07 ha hingga yang terluas 4.29 ha. Luas penguasaan lahan dengan presentase terbesar (38.6%) adalah lahan dengan luasan 0.25 – 0.50 ha (Tabel 7).
Tabel 7. Jumlah petani responden berdasarkan luas penguasaan lahan
Luas (ha) Kategori * Pemilik Lahan Penyewa Lahan Total
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
<0.25 Sempit 11 22.9 5 9.4 16 15.8 0.25 - <0.50 Agak sempit 15 31.3 24 45.3 39 38.6 0.50 - <0.75 Sedang 5 10.4 13 24.5 18 17.8 0.75 - <1.00 Agak luas 3 6.3 4 7.5 7 6.9 1.00 – 2.00 Luas 9 18.8 6 11.3 15 14.9 >2.00 Sangat luas 5 10.4 1 1.9 6 5.9 Total 48 100.0 53 100.0 101 100.0 * Soekartawi et al. (1986)
Pada kategori pemilik dan penyewa lahan dengan jumlah responden masing-masing 48 dan 53 petani, penguasaan lahan agak sempit (0.25 - 0.50 ha) memiliki persentase terbesar yaitu masing-masing 31.3% dan 45.3%.
5.2 Analisis Usahatani
Usahatani merupakan suatu kegiatan untuk memanfaatkan input yang optimal agar mendapatkan output sesuai yang diinginkan. Analisis usahatani pada umumnya digunakan untuk mengevaluasi kegiatan suatu usaha pertanian dalam satu musim tanam, yang bertujuan untuk membantu perbaikan pengelolaan usaha pertanian (Hernanto 1995). Analisis usahatani meliputi analisis penerimaan, pengeluaran dan pendapatan usahatani (Tabel 8). Data selengkapnya di sajikan dalam Lampiran 1-24.
18
Tabel 8. Rata-rata penerimaan, pengeluaran, dan pendapatan usahatani pada musim hujan dan kemarau
Uraian
Pemilik Lahan Penyewa Lahan
Produktivitas Produktivitas Rendah Sedang Tinggi Rendah Sedang Tinggi
(TmPr) (TmPs) (TmPt) (TsPr) (TsPs) (TsPt) (Rp) Musim Hujan Penerimaan 8643656 10956329 13842941 8294911 10255055 13611615 Pengeluaran 3006112 2750907 2899255 5502779 6210130 6565638 Pendapatan 5637544 8212018 10943686 2792132 3863892 7070175 Musim Kemarau Penerimaan 9933174 12473612 17164138 9394935 11510500 16410855 Pengeluaran 3618754 3038476 3304101 6163109 6716158 7184427 Pendapatan 6314420 9435136 13860037 3231826 5249796 9230749
5.3 Penetapan Luas Lahan Minimal
Luas lahan rata-rata aktual yang dikuasai petani lebih rendah dibandingkan dengan luas lahan minimal layak usahatani padi sawah hasil analisis, kecuali pada kategori pemilik lahan dengan tingkat produktivitas tinggi (TmPt) (Tabel 9). Hal ini mengindikasikan bahwa hanya kelompok petani TmPt yang dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga hanya dari kegiatan usahatani padi sawah. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya peningkatan pendapatan usahatani, baik dengan cara meningkatkan penerimaan atau mengurangi pengeluaran atau kombinasinya agar luas lahan yang dikuasai dapat memenuhi kebutuhan keluarga petani.
Tabel 9. Rata-rata luas lahan aktual dan luas lahan minimal
Produktivitas Luas Lahan Aktual Luas Lahan Minimal Pemilik Lahan Penyewa Lahan Pemilik Lahan Penyewa Lahan
(ha)
Rendah 1.04 0.73 1.24 2.25
Sedang 0.78 0.65 0.82 1.49
Tinggi 0.98 0.45 0.58 0.80
Peningkatan pendapatan usahatani dapat dilakukan dengan meningkatkan efisiensi penggunaan input. Menurut Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur (2006), kebutuhan benih untuk padi sawah adalah 25-40 kg/ha, tergantung
dari varietasnya. Penggunaan benih di tingkat petani di lokasi penelitian mencapai 40-50 kg/ha. Penggunaan benih di tingkat petani ini dapat dikurangi untuk mengurangi biaya sarana produksi. Penyusutan kesuburan tanah sebagian besar disebabkan oleh adanya kehilangan hara dari tanah yang terjadi melalui pengangkutan hasil panen, aliran permukaan (run-off), dan pencucian (leaching) (Taslim et al. 1993). Pembatas pertumbuhan tanaman yang umumnya dijumpai adalah rendahnya kandungan hara dalam tanah, terutama hara makro N, P, dan K (Setyorini & Widowati 2006).
Suplai hara dari tanah di lokasi penelitian pada petani pemilik lahan, suplai nitrogen dari tanah lebih rendah dari kebutuhan tanaman. Pada produktivitas rendah suplai P2O5 dari tanah lebih tinggi dari kebutuhan tanaman, namun pada
produktivitas sedang dan tinggi lebih rendah dari kebutuhan tanaman. Suplai K2O
lebih tinggi dari kebutuhan tanaman. Pada petani penyewa lahan suplai nitrogen dari tanah lebih rendah dari kebutuhan tanaman, suplai P2O5 dan K2O lebih tinggi
dari kebutuhan tanaman. Untuk mengatasi kekurangan hara tanaman, dibutuhkan pemberian pupuk secara tepat, baik tepat jenis, dosis, dan waktu pemberian sesuai dengan tingkat hasil yang ingin dicapai.
Perbedaan dosis pupuk antara musim hujan dan musim kemarau bedasarkan tingkat produksi. Menurut Pillai (1992), produksi padi pada musim kemarau lebih tinggi dari musim hujan pada sawah irigasi. Di lokasi penelitian, pada musim kemarau hasil panen padi lebih rendah dari musim hujan. Hal ini disebabkan pada musim kemarau air menjadi faktor pembatas dalam produksi padi.
Menurut Pillai et al. (1992), jumlah hara yang dibutuhkan padi sawah adalah 22.2 kg N, 7.1 kg P2O5, dan 31.6 kg K2O per ton hasil. Jumlah hara yang
dibutuhkan tanaman padi lebih rendah jika jerami dikembalikan ke lahan pertanian, kebutuhan hara tanaman menjadi 14.6 kg N, 6.0 kg P2O5, dan 3,2 kg
K2O per ton hasil. Berdasarkan hal ini, suplai hara N, P2O5 dan K2O dari tanah,
kebutuhan tanaman, dosis pupuk di tingkat petani, dan dosis anjuran pada musim hujan dan kemarau disajikan pada Tabel 10 dan 11 serta data selengkapnya disajikan pada Lampiran 31-38.
20
Peningkatan tingkat produksi dengan penggunaan input yang lebih efektif, yaitu hanya menggunakan 25 kg benih/ha dan dosis pupuk NPK anjuran, akan meningkatkan pendapatan petani sehingga menurunkan luas lahan minimal yang harus dikuasai (Tabel 12), yaitu untuk pemilik lahan TmPt (0.53) < TmPs (0.60) < TmPr (0.81), sedangkan untuk penyewa lahan TsPt (0.59) < TsPs (0.76) < TsPr (1.21).
Penggunaan pestisida seharusnya merupakan alternatif terakhir dalam pengendalian hama dan penyakit. Pengendalian hama bisa melalui cara teknik budidaya, mekanis, dan biologi (Prasetiyo 2002). Petani di lokasi penelitian hampir semuanya menggunakan pestisida dalam pengendalian hama, penyakit, dan gulma.
Tabel 10. Suplai hara dari tanah, kebutuhan hara tanaman, dosis pupuk di tingkat petani, dan dosis pupuk anjuran di lahan pemilik Jenis Hara Pupuk Kadar dalam Tanah Suplai dari
Tanah * Produksi Kebutuhan Tanaman**
Kebutuhan
dari Pupuk Dosis Petani Dosis Anjuran Produksi Kebutuhan Tanaman** Kebutuhan dari Pupuk Dosis Petani Dosis Anjuran
mg/kg kg/ha ton/ha kg/ha kg/ha
Musim Hujan Musim Kemarau
Produktivitas Rendah
N 2300 36.80 3.903 86.65 49.85 307 Urea 177 Urea 3.185 70.10 33.91 307 Urea 123 Urea
P2O5 38.08 30.46 3.903 27.71 0 168 TSP 0 3.185 22.61 0 168 TSP 0
K2O 339.30 271.44 3.903 123.33 0 0 0 3.185 100.65 0 0 0
Produktivitas Sedang
N 2300 36.80 5.264 116.86 80.06 320 Urea 290 Urea 4.413 97.97 61.17 320 Urea 222 Urea P2O5 26.92 21.54 5.264 37.37 15.83 103 TSP 100 TSP 4.413 31.33 9.79 103 TSP 75 TSP
K2O 343.20 274.56 5.264 166.34 0 12 KCl 0 4.413 139.45 0 12 KCl 0
Produktivitas Tinggi
N 2400 38.40 6.691 148.54 110.14 298 Urea 400 Urea 6.044 134.18 95.78 298 Urea 348 Urea P2O5 44.56 35.65 6.691 11.86 11.86 66 TSP 80 TSP 6.044 42.91 7.26 66 TSP 50 TSP
K2O 308.10 246.48 6.691 0 0 14 KCl 0 6.044 190.99 0 14 KCl 0
* Suplai N dari tanah (kg/ha) = 2% x 40% x kadar dalam tanah (mg/kg) x 2.106 (kg/ha) x 1/106 kg/mg Suplai P2O5 dari tanah (kg/ha) = 40% x kadar dalam tanah (mg/kg) x 2.106 (kg/ha) x 1/106 kg/mg Suplai K2O dari tanah (kg/ha) = 40% x kadar dalam tanah (mg/kg) x 2.106 (kg/ha) x 1/106 kg/mg ** Kebutuhan N tanaman (kg/ha) = Produksi (ton/ha) x 22.2 kg/ton
Kebutuhan P2O5 tanaman (kg/ha) = Produksi (ton/ha) x 7.1 kg/ton Kebutuhan K2O tanaman (kg/ha) = Produksi (ton/ha) x 31.6 kg/ton
22
Tabel 11. Suplai hara dari tanah, kebutuhan hara tanaman, dosis pupuk di tingkat petani, dan dosis pupuk anjuran pada lahan penyewa Jenis Hara Pupuk Kadar dalam Tanah Suplai dari
Tanah * Produksi Kebutuhan Tanaman**
Kebutuhan
dari Pupuk Dosis Petani Dosis Anjuran Produksi Kebutuhan Tanaman** Kebutuhan dari Pupuk Dosis Petani Dosis Anjuran
mg/kg kg/ha ton/ha kg/ha kg/ha
Musim Hujan Musim Kemarau
Produktivitas Rendah
N 2700 43.20 3.936 87.38 44.18 302 Urea 160 Urea 3.360 74.59 31.39 296 Urea 114 Urea
P2O5 61.81 49.45 3.936 27.95 0 147 TSP 0 3.360 23.86 0 132 TSP 0
K2O 397.80 318.24 3.936 124.38 0 2.60 KCl 0 3.360 106.18 0 2.60 KCl 0
Produktivitas Sedang
N 2300 36.80 5.085 112.89 76.09 349 Urea 276 Urea 4.193 93.08 56.28 349 Urea 204 Urea
P2O5 89.86 71.89 5.085 36.10 0 126 TSP 0 4.193 29.77 0 126 TSP 0
K2O 319.80 255.84 5.085 160.69 0 7 KCl 0 4.193 132.50 0 7 KCl 0
Produktivitas Tinggi
N 2200 35.20 6.597 146.45 111.25 354 Urea 404 Urea 5.838 129.60 94.40 354 Urea 343 Urea
P2O5 61.33 49.06 6.597 46.84 0 151 TSP 0 5.838 41.45 0 151 TSP 0
K2O 448.50 358.80 6.597 208.47 0 9 KCl 0 5.838 184.48 0 9 KCl 0
(* dan **) Perhitungannya dapat dilihat pada Tabel 10.
sebelum dan setelah tingkat produksi ditingkatkan
Tingkat Produksi Pemilik Penyewa
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
(ha)
Rendah ke Sedang 1.24 0.81 2.25 1.21 Sedang ke Tinggi 0.82 0.60 1.49 0.76 Tinggi ke Potensi Genetik Varietas Ciherang * 0.58 0.53 0.80 0.59 * Potensi genetik produktivitas padi sawah varietas Ciherang =
7 ton/ha di musim hujan dan 6.5 ton/ha di musim kemarau (Suhihardi & Hermanto 2000)
5.4 Kelayakan Usahatani
Usahatani dikatakan layak jika R/C Ratio >1 dan Pendapatan (Rp) > sewa lahan (Rp) persatuan waktu atau musim tanam (Suratiyah 2006). Data selengkapnya disajikan pada Tabel 13 dan 14.
Tabel 13. Nilai R/C ratio petani pemilik dan penyewa lahan
Uraian Pemilik Lahan Penyewa Lahan
Rendah Sedang Tinggi Rendah Sedang Tinggi Penerimaan (Rp) 18576830 23429941 31007079 17689846 21765555 30022470 Pengeluaran (Rp) 6624866 5789383 6203356 11665888 12926288 13750065
R/C Ratio 2.66 5.07 4.92 1.93 2.55 4.75
Tabel 14. Pendapatan dan pajak lahan petani pemilik dan sewa lahan petani penyewa
Uraian
Pemilik Lahan Penyewa Lahan
Rendah Sedang Tinggi Rendah Sedang Tinggi
(Rp)
Pendapatan 11951964 17647154 24803723 6023958 9113688 16300924 Pajak/Sewa Lahan 121736 189000 214390 7000000 7000000 7000000
Berdasarkan hasil analisis (Tabel 13 dan 14), usahatani padi sawah di Kecamatan Widasari termasuk layak, kecuali untuk penyewa lahan dengan produktivitas rendah karena pendapatan lebih rendah dari sewa lahan. Diperlukan perbaikan usahatani atau peningkatan produktivitas agar usahatani pada kategori ini menjadi layak.
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
1. Presentase terbesar (38.6%) luas lahan aktual yang dikuasai petani responden adalah 0.25 – 0.50 ha.
2. Rataan luas lahan (ha) aktual yang dikuasai petani kelompok TmPr (1.04) > TmPt (0.98) > TmPs (0.78) > TsPt (0.73) > TsPs (0.65) > TsPr (0.45). 3. Luas lahan minimal (ha) petani kelompok TsPr (2.25) > TsPs (1.49) > TmPr
(1.24) > TmPs (0.82) > TsPt (0.80) > TmPt (0.58).
4. Luas lahan aktual lebih rendah dibandingkan luas lahan minimal kecuali pada kategori pemilik lahan dengan tingkat produktivitas tinggi (TmPt), hal ini mengindikasikan bahwa hanya kelompok petani TmPt yang dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga hanya dari kegiatan usahatani padi sawah.
5. Dosis aktual pupuk NPK yang diberikan petani lebih tinggi daripada dosis anjuran berdasarkan interpretasi hasil analisis tanah, kecuali untuk N pada petani pemilik dan penyewa lahan dengan produktivitas tinggi.
6. Peningkatan produktivitas lahan dan penerapan dosis NPK anjuran secara agregat menurunkan luas lahan minimal (ha) yang harus dikuasai petani [TsPr (1.21) > TmPr (0.81) > TsPs (0.76) > TmPs (0.60) > TsPt (0.59) > TmPt (0.53)].
7. Usahatani padi sawah di Kecamatan Widasari layak untuk dikembangkan, kecuali pada kelompok petani penyewa lahan dengan produktivitas rendah karena nilai pendapatan < sewa lahan.
6.2 Saran
Untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para petani yang luas lahan aktualnya sempit, disarankan untuk dilakukan konsolidasi penglolaan usahatani melalui upaya pengelompokan petani tersebut sehingga mencapai luas lahan minimal yang disertai dengan peningkatan efisiensi sarana produksi.
Badan Pusat Statistik. 2007. Harvested Area, Yield Rate and Production of Paddy by Province 2006, 2007, 2008.
http://www.bps.go.id/sector/agri/pangan/table1.shtml. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur. 2006. Padi.
http://jatim.litbang.deptan.go.id/index.php?=com_content&task=vew&id= 149&Itemid=72.
Dardak H. 2005. Pemanfaatan lahan berbasis rencana tata ruang. Seminar Nasional Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah Save Our Land for the Better Environment. Institut Pertanian Bogor; 10 Desember 2005.
De Datta SK. 1981. Principles and Practices of Rice Production. New York. John Wiley and Sons, Inc.
Departemen Pertanian. 1983. Pedoman Bercocoktanam Padi, Palawija, dan Sayur-sayuran. Jakarta. Departemen Pertanian Satuan Pengendalian Bimas.
Departemen Pertanian. 2007. Pemupukan Padi Sawah berdasarkan Target Hasil Panen.
http://www.pustakadeptan.go.id/rkb/knowledgeBank/regionalSites/indone sia/docs/IndonesiaPemupukanPadi%20Sawah.doc.
Hernanto F. 1989. Ilmu Usahatani. Jakarta. Penebar Swadaya. Ismail L. 2007. Produksi Padi Jabar Turun 8.88 Persen.
http://www.menkokesra.go.id/content/view/3064/39/.
Pillai KG. 1992. Rice. in Halliday DJ & Trenkel ME (eds). World Fertilizer Use Manual. Paris. International Industry Association.
Prasetiyo YT. 2002. Budidaya Padi Sawah Tanpa Olah Tanah. Jogjakarta. Kanisius.
Sabiham S. 2005. Manajemen sumberdaya lahan dalam usaha pertanian berkelanjutan. Makalah Seminar Nasional Mahasiswa Ilmu Tanah Save Our Land for the Better Environment; Institut Pertanian Bogor; 10 Desember 2005.
Setyorini D & Widowati LR. 2006. Pemupukan Berimbang dengan Perangkat Uji Tanah Sawah.
http://www.knowledgebank.irri.org/regionalSites/indonesia/PDF%. Siregar A. 1981. Budidaya Tanaman Padi di Indonesia. Bogor. Sastra Hudaya. Sitorus SRP. 2001. Pengembangan Sumberdaya Lahan Berkelanjutan.
Laboratorium Pengembangan Sumberdaya Lahan. Jurusan Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Situmorang R, Sudadi U, Indriyati LT. 2004. Sifat, Ciri, dan Pengelolaan Tanah Sawah. Diktat Kuliah. Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah. Departemen Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
26 Soekartawi A, Suharjo, Dillon JL, Hardaker JB. 1986. Ilmu Usahatani dan
Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil. Jakarta. Universitas Indonesia.
Soeratiyah K. 2006. Ilmu Usahatani. Jakarta. Penebar Swadaya.
Suhihardi & Hermanto. 2000. Deskripsi Varietas Unggul Padi dan Palawija. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor.
Sukohadi HM. 2007. Luas Lahan Minimal Sebagai Faktor Produksi Usahatani Padi Sawah di Kecamatan Cigombong Kabupaten Bogor berdasarkan Perhitungan Produksi Tertinggi. Skripsi. Program Studi Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Sukmawati A. 2007. Luas Lahan Minimal yang Layak untuk Usahatani Padi Sawah di Desa Sukamulya, Kabupaten Cianjur. Skripsi. Program Studi Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Suhartanto. 2005. Kebijakan pengelolaan sumberdaya lahan. Makalah Seminar Nasional Mahasiswa Ilmu Tanah Save Our Land for the Better
Environment; Institut Pertanian Bogor; 10 Desember 2005.
Taslim H, Partohardjono S, Subandi. 1993. Pemupukan Padi Sawah. dalam Padi. Buku 2. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Warintek. 2006. Padi (Oryza sativa).
http://warintek.progessio.or.id/pertanian/padi.htm
Wirawan SM. 2007. Penentuan Luas Lahan Minimal untuk Usahatani Padi Sawah berdasarkan Pendapatan Usahatani pada Tingkat Pendapatan Tertinggi di Kecamatan Nagrak Kabupaten Sukabumi. Skripsi. Program Studi Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Lampiran 1. Penerimaan usahatani petani penyewa lahan dengan produktivitas rendah
No Nama lahan (ha)Luas Produksi GKG Musim Hujan Musim Kemarau
(kg) Harga jual GKG Rp/kg Penerimaan (Rp) Produksi GKG (kg) Harga jual GKG Rp/kg Penerimaan (Rp)
1 Wardi 0.2856 1000 2000 2000000 600 2500 1500000 2 Dirpan 0.2143 800 2000 1600000 600 2500 1500000 3 Talim 0.7143 2500 1900 4750000 2500 2300 5750000 4 Tarsun 0.2856 1000 2000 2000000 1000 2700 2700000 5 Sarnawi 2.1429 8000 2200 17600000 7500 3100 23250000 6 Wardani 1.0000 4000 2000 8000000 3500 2500 8750000 7 Radnawi 1.0000 4000 2200 8800000 3500 3000 10500000 8 Casdilah 0.4286 1800 2000 3600000 1500 2500 3750000 9 Karmad 0.7143 3000 2000 6000000 2500 2500 6250000 10 Yanto 1.4286 6000 2200 13200000 5000 2500 12500000 11 Sobari 0.5714 2400 2000 4800000 2000 2500 5000000 12 Sarkiman 0.3571 1500 2200 3300000 1300 3000 3900000 13 Sarbani 0.3571 1500 2100 3150000 1300 3000 3900000 Total 9.4998 37500 26800 78800000 32800 34600 89250000 Rata-rata 0.7308 2885 2062 6061538 2523 2662 6865385 Rata-rata/ha 3947 2821 8294911 3453 3642 9394935
28
Lampiran 2. Penerimaan usahatani petani penyewa lahan dengan produktivitas sedang
No Nama Luas lahan
(ha)
Musim Hujan Musim Kemarau
Produksi GKG (kg) Harga jual GKG Rp/kg Penerimaan (Rp) Produksi GKG (kg) Harga jual GKG Rp/kg Penerimaan (Rp)
1 Satori 0.4286 2000 2000 4000000 1400 2500 3500000 2 Karlam 0.7143 3000 2200 6600000 2700 3000 8100000 3 Surah 0.7143 3000 2100 6300000 2700 3000 8100000 4 Tasari 0.6429 2700 2000 5400000 2500 2500 6250000 5 Mulyana 1.4286 6000 2100 12600000 6000 3000 18000000 6 Turki 1.0000 4500 2200 9900000 4000 3000 12000000 7 Darsalim 0.2286 1000 2100 2100000 1000 3000 3000000 8 Marfuah 0.2857 1400 2000 2800000 1100 2500 2750000 9 Jaya 0.2857 1500 2000 3000000 1000 2800 2800000 10 Suleman 0.4286 2000 2000 4000000 1800 2500 4500000 11 Narwan 0.1786 900 2200 1980000 700 3000 2100000 12 Kamid 0.4286 2100 2000 4200000 1800 2700 4860000 13 Tarpan 1.1429 5600 2000 11200000 4800 2500 12000000 14 Sangadi 0.5286 2500 2000 5000000 2500 2500 6250000 15 Mukamad 0.5714 3000 2200 6600000 2500 3000 7500000 16 Taryono 0.5000 3100 2100 6510000 1750 3000 5250000 17 Carlim 1.4286 7000 2000 14000000 7000 2500 17500000 18 Casidi 1.4286 7000 2100 14700000 7000 3000 21000000 19 Sali 1.4286 8000 2200 17600000 6000 3000 18000000 20 Karno 0.3571 1500 2100 3150000 1500 3000 4500000 21 Bakrudin 0.3571 1500 2000 3000000 1500 2500 3750000 22 Adnan 0.2856 1000 2000 2000000 1000 2800 2800000 23 Carli 0.2500 1000 2000 2000000 1000 2500 2500000 24 Karpan 0.6429 3000 2200 6600000 3600 3000 10800000 25 Carmin 0.4286 2000 2000 4000000 2000 2700 5400000 26 Taruna 0.7143 4000 2000 8000000 3500 2500 8750000 27 Wasmin 0.5714 3500 2000 7000000 2500 2500 6250000 Total 17.4002 83800 55800 174240000 74850 74500 208210000 Rata-rata 0.6445 3104 2067 6453333 2772 2759 7711481 Rata-rata/ha 4816 3207 10013678 4302 4282 11965954
Lampiran 3. Penerimaan usahatani petani penyewa lahan dengan produktivitas tinggi
No Nama lahan (ha)Luas
Musim Hujan Musim Kemarau
Produksi GKG (kg) Harga jual GKG Rp/kg Penerimaan (Rp) Produksi GKG (kg) Harga jual GKG Rp/kg Penerimaan (Rp)
1 Kesti 0.3571 2020 2000 4040000 1760 2500 4400000 2 Darmono 0.2856 1650 2000 3300000 1400 3000 4200000 3 Wanda 0.5714 3400 2000 6800000 2800 2500 7000000 4 Karmo 0.4286 2700 2000 5400000 2000 2800 5600000 5 Cipta 0.3571 2000 2000 4000000 2000 2500 5000000 6 Karyono 0.2143 1350 2200 2970000 1100 2700 2970000 7 Sadirah 0.5000 3000 2000 6000000 3000 2500 7500000 8 Ratna 0.4286 2400 2200 5280000 3000 3100 9300000 9 Munadir 0.5714 4000 2000 8000000 3500 2500 8750000 10 Tardi 0.4286 3200 2000 6400000 2800 2500 7000000 11 Tarmiin 0.3571 3000 2000 6000000 2000 3000 6000000 12 Kamsari 0.9286 7000 2100 14700000 7000 3000 21000000 13 Darsilah 0.3571 3000 2000 6000000 2500 2500 6250000 Total 5.7855 38720 26300 78750000 34860 35100 94970000 Rata-rata 0.4450 2978 2023 6057692 2682 2700 7305385 Rata-rata/ha 6693 4546 13611615 6025 6067 16415176
30
Lampiran 4. Penerimaan usahatani petani pemilik lahan dengan produktivitas rendah
No Nama Luas lahan (ha)
Musim Hujan Musim Kemarau
Produksi GKG (kg) Harga jual GKG Rp/kg Penerimaan (Rp) Produksi GKG (kg) Harga jual GKG Rp/kg Penerimaan (Rp) 1 Junedi 1.4286 4500 2000 9000000 3500 3000 10500000 2 Miskan 0.2486 800 2000 1600000 700 3000 2100000 3 Parlugut 1.8000 5000 2100 10500000 6000 3000 18000000 4 Uyip 0.7143 2500 2200 5500000 2200 2500 5500000 5 Tasdik 0.1786 700 2000 1400000 500 2500 1250000 6 H. Kasturi 0.3571 1500 2000 3000000 1000 2500 2500000 7 H. sahroni 0.3571 1400 2000 2800000 1250 3000 3750000 8 H. Nurkasan 0.7143 3000 2000 6000000 2500 3000 7500000 9 Durakman 0.7143 3000 2000 6000000 2500 2500 6250000 10 Carpan 2.8571 12000 3000 36000000 10000 3300 33000000 11 Damiri 2.8571 12000 2000 24000000 10000 3000 30000000 12 Waryono 0.2857 1500 2000 3000000 750 2500 1875000 13 Rumli 1.0000 4000 2000 8000000 4000 3000 12000000 Total 13.5128 51900 27300 116800000 44900 36800 134225000 Rata-rata 1.0394 3992 2100 8984615 3454 2831 10325000 Rata-rata/ha 3841 2020 8643656 3323 2723 9933174
Lampiran 5. Penerimaan usahatani petani pemilik lahan dengan produktivitas sedang
No Nama Luas lahan (ha) Musim Hujan Musim Kemarau
Produksi GKG (kg) Harga jual GKG Rp/kg Penerimaan (Rp) Produksi GKG (kg) Harga jual GKG Rp/kg Penerimaan (Rp)
1 Warsita 0.4286 2000 2200 4400000 1500 3000 4500000 2 Suratno 0.3929 1900 2000 3800000 1400 2500 3500000 3 Darli 0.1543 800 2000 1600000 500 2500 1250000 4 Warsid 0.4286 2000 2000 4000000 1700 2500 4250000 5 H. Sumarto 0.2857 1500 2000 3000000 1000 2500 2500000 6 Dariyah 0.4286 2000 2000 4000000 1800 3000 5400000 7 Karmad 0.1429 800 2000 1600000 500 2500 1250000 8 Kamid 1.4286 7000 2000 14000000 6000 2700 16200000 9 H. Saripin 3.0000 14700 2200 32340000 12700 3100 39370000 10 Sali 0.2143 1200 2200 2640000 900 2700 2430000 11 Ramita 1.4286 7000 2000 14000000 7000 2500 17500000 12 Taryam 2.1429 10500 2000 21000000 10500 3000 31500000 13 Wahidin 1.7857 10000 2500 25000000 7500 2800 21000000 14 Sutagih 0.2856 1500 2000 3000000 1300 3000 3900000 15 Rastaka 1.1429 6000 2000 12000000 5400 2500 13500000 16 Dursim 0.2143 1200 2000 2400000 1000 2500 2500000 17 Tasiman 0.4286 2450 2000 4900000 2000 2700 5400000 18 Tamsari 0.1429 800 1900 1520000 700 2500 1750000 19 Taryana 0.1429 800 2000 1600000 700 2500 1750000 20 suwandi 0.1429 750 2000 1500000 800 2500 2000000 21 Kartono 1.4286 8000 2000 16000000 7000 2500 17500000 22 Sarwad 0.7143 4000 2000 8000000 3500 2500 8750000 23 Nurudin 0.9286 5200 2500 13000000 4600 3000 13800000 24 Sudarto 0.3571 2000 2000 4000000 1800 3000 5400000 Total 18.1904 94100 49500 199300000 81800 64500 226900000 Rata-rata 0.7579 3921 2063 8304167 3408 2688 9454167 Rata-rata/ha 5173 2721 10956329 4497 3546 12473612
32
Lampiran 6. Penerimaan usahatani petani pemilik lahan dengan produktivitas tinggi
No Nama lahan Luas
(ha)
Musim Hujan Musim Kemarau
Produksi GKG (kg) Harga jual GKG Rp/kg Penerimaan (Rp) Produksi GKG (kg) Harga jual GKG Rp/kg Penerimaan (Rp)
1 Carlim 0.7143 4000 2100 8400000 4000 3100 12400000 2 Nariman 1.4286 9000 2100 18900000 7000 3300 23100000 3 Sudirah 0.5000 3000 2000 6000000 2700 3000 8100000 4 H. Datam 4.2857 25000 2100 52500000 24000 3100 74400000 5 Kosim 0.2856 1500 2000 3000000 1800 2800 5040000 6 Nurmanaries 0.9286 6500 2000 13000000 4500 3000 13500000 7 Kawiyah 0.0714 500 2000 1000000 400 2500 1000000 8 H. Kolid 0.4286 3000 2000 6000000 3300 2500 8250000 9 Suganda 0.2143 1500 2000 3000000 1500 2800 4200000 10 Ilmana 1.5000 12000 2500 30000000 9000 3000 27000000 11 Nurman 0.4643 4000 2000 8000000 3500 2500 8750000 Total 10.8214 70000 22800 149800000 61700 31600 185740000 Rata-rata 0.9838 6364 2073 13618182 5609 2873 16885455 Rata-rata/ha 6469 2107 13842941 5702 2920 17164138
Lampiran 7. Total pengeluaran usahatani petani penyewa lahan dengan produktivitas rendah selama musim hujan
No Nama Luas lahan (ha)
Jumlah pengeluaran yang Digunakan Untuk Musim Hujan Total pengeluaran Benih Pupuk Pestisida
Tenaga
Kerja Peralatan Irigasi
Biaya sewa/musim (Rp) 1 Wardi 0.2856 20000 300000 150000 75000 140000 20000 1000000 1705000 2 Dirpan 0.2143 36000 252500 200000 112500 112500 15000 750000 1478500 3 Talim 0.7143 40000 855000 200000 325000 325000 75000 2500000 4320000 4 Tarsun 0.2856 22000 315000 105000 40000 140000 20000 1000000 1642000 5 Sarnawi 2.1429 100000 137000 600000 800000 60000 100000 7500000 9297000 6 Wardani 1.0000 120000 900000 229500 420000 420000 98000 3500000 5687500 7 Radnawi 1.0000 50000 1205000 456000 450000 450000 110000 3500000 6221000 8 Casdilah 0.4286 25000 410000 180500 225000 225000 45000 1500000 2610500 9 Karmad 0.7143 120000 615000 225800 350000 350000 20000 2500000 4180800 10 Yanto 1.4286 220000 1830000 428000 600000 600000 100000 3500000 7278000 11 Sobari 0.5714 50000 840000 320000 280000 180000 20000 1000000 2690000 12 Sarkiman 0.3571 20000 287500 175000 185000 155000 35000 1250000 2107500 13 Sarbani 0.3571 50000 800000 320000 300000 300000 37500 1250000 3057500 Total 9.4998 873000 8747000 3589800 4162500 3457500 695500 30750000 52275300 Rata-rata 0.7308 67154 672846 276138 320192 265962 53500 2365385 4021177 Rata-rata/ha 91897 920756 377882 438167 363955 73212 3236910 5502779