• Tidak ada hasil yang ditemukan

Meditasi Tiga Dasar Sang Jalan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Meditasi Tiga Dasar Sang Jalan"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

MEDITASI TIGA DASAR

SANG JASAN

(4)

Meditasi Tiga Dasar Sang Jalan Diterjemahkan Oleh: Upashaka Pandita Sumatijnana

Diedit Oleh: Made Budiarta Setting dan Lay-out:

Pustaka Berlian Biru

Diterbitkan oleh Yayasan Bhumisambhara Hak cipta dilindungi undang-undang

Dilarang memperbanyak isi buku ini, baik sebagian ataupun seluruhnya tanpa izin tertulis dari penerbit.

Gambar Cover:

Lukisan Mandala Buddha Cakrasamvara

Perpustakaan Nasional Katalog Dalam Terbitan (KDT)

www.bhumisambhara.org

(5)
(6)

Tiga Dasar Sang Jalan

Oleh: Jey Tsongkhapa

Aku bersujud kepada Guru!

Aku akan menjelaskan, sebisa mungkin semampu saya, Sari terpenting dari seluruh ajaran kitab suci hyang buddha. Jalan yang dipuji oleh para bodhisattva

Pintu gerbang bagi orang yang beruntung yang menginginkan pembebasan. (1)

Dengarlah dengan pikiran jernih, wahai engkau orang yang beruntung Yang mengarahkan batinmu pada jalan yang menyenangkan para buddha, Yang berusaha untuk memanfaatkan kesenangan dan keberuntungan Dan yang tak terikat pada kebahagiaan samsara. (2)

Mereka yang dengan tubuh terbelelenggu oleh nafsu duniawi. Tanpa penolakan samsara secara murni, tak akan mungkin dapat menghentikan

Daya tarik kebahagiaan samsara.

(7)

Kesenangan dan kebahagiaan sangat sulit didapatkan.

Tak ada waktu untuk menyia-nyiakannya, hindari terikat pada hidup ini. Hindari keterikatan terhadap hidup yang akan datang’ pikirkan berulang-ulang

Takterelakanya akibat karma dan penderitaan didunia ini. (4) Bermeditasilah akan hal ini, jika engkau sesaatpun tidak lagi Menginginkan kesenangan samsara,

Dan sepanjang siang malam menginginkan pembebasan, Engkau telah mengembangkan penolakan samsara. (5) Penolakan samsara tanpa bodhicitta

Tak akan membawa pada kebahagiaan sempurna Penerangan yang tiada taranya;

Untuk itu, bodhisattva membangkitkan bodhicitta. (6) Hanyut oleh keempat arus sungai yang sangat deras, Terjerat kuat oleh belenggu karma yang sulit dilepaskan. Terkurung dalam trali besi ego.

Tersaput oleh awan hitam ketidak tahuan. (7)

Tak terhitung lahir dan terlahir kembali didalam samsara Tiada hentinya didera oleh ketiga macam penderitaan. Semua makhluk, ibu-ibumu berada dalam keadaan demikian. Renungkan hal ini dan bangkitkan bodhicitta. (8)

Meskipun engkau telah mempraktekan penolakan duniawi dan bodhicitta Tanpa kebijaksanaan, realisasi sunyata,

Engkau tak akan dapat memotong akar samsara

Untuk itu, berusahalah memahami makna pratityasamudpada. (9) Orang yang dapat melihat kebenaran hukum sebab dan akibat Dari segala sesuatu dalam samsara dan nirvana

Dan menghancurkan segala pandangan salah

(8)

Keberadaan adalah kenyataan sebab akibat yang saling bergantungan Sunyata adalah bebas dari keberadaan.

Selama kedua pengertian tersebut dianggap berbeda Seseorang belum merealisasikan kebuddhaan. (11)

Ketika kedua realisasi tersebut tercapai secara simultan atau bersamaan, Dari bukti kebenaran pratityasamudpada

Timbulah pengetahuan yang dengan sempurna menghancurkan segala bentuk anggapan mental.

Saat itu pengamatan terhadap pandangan benar telah selesai. (12)

Perwujutan menjernihkan pandangan ekstrim tentang keberadaan (absolutisme)

Sunyata menjernihkan pandangan ekstrim tentang ketiadaan (nihilisme) Bila engkau memahami bagaimana sunyata terungkap dalam sebab akibat Engkau tak akan terpengaruh oleh kedua pandangan ekstrim tersebut. (13) Pada saat engkau memahami makna sejati

Dari ketiga dasar sang jalan

Berdiamlah dipengasingan dan berusaha keras Sehingga dapat segera mencapai tujuan, anakku. (14)

Bhikshu yang amat bijaksana Losang Dragpa (Jey Tsongkhapa) menyampaikan nasehat ini kepada Ngawang Dragpa, seorang pejabat di Tsako, Tibet.

(9)

Meditasi Tiga Dasar Sang Jalan

Oleh: Penchen Lama Loshang Yehe

(10)

1. Persiapan sebelum meditasi

Om Svasthi!

Guru suci yang agung dan mulia serta penuh kasih, Aku bersujud di kakimu dan berlindung kepadamu. Berdasarkan berlaskasihmu yang agung,

Semoga aku senantiasi berbakti padamu.

Ini adalah praktek ‘Tiga Dasar Sang Jalan’, ajaran yang sangat khusus dimana Arya Manjushri secara langsung yang menyampaikanya sendiri kepada Jey Tsongkhapa, Dharmaraja Triloka. ‘Tiga Dasar Sang Jalan’ ini mencakup seluruh sari ajaran Hyang Buddha berikut penjelasannya, sebagai langkah-langkah praktek diri. Ajaran tentang praktek ini terdiri dari dua bagian, apa yang dilakukan pada saat meditasi dan apa yang dillakukan diluar saat meditasi Apa yang dilakukan pada saat meditasi adalah, persiapan, praktek yang sesungguhnya dan pelimpahan kebajikan.

(11)

Persiapan

Bersihkan tempat latihanmu dari debu, letakan Buddha Rupang serta obyek dharma lainya dihadapanmu. Buat persembahan yang murni. Duduklah dalam sikap meditasi, lafalkan saranagamana tiga kali.

Aku berlindung kepada Guru

Aku berlindung kepada Bhatara Hyang Buddha Aku berlindung kepada Bhatara Hyang Dharma Aku berlindung kepada Bhatara Hyang Sangha.

Kepada Bhatara Hyang Buddha, Dharma dan Sangha yang mulia Aku berlindung hingga aku mencapai Penerangan.

Saat mengucapkan kata-kata ini, bayangkan cahaya dan amritha pancawarna keluar dari obyek perlindungan. Cahaya dan amritha tersebut kemudian meresap kedalam tubuh dan pikiran semua makhluk, memurnikan kilesha, dosa, kebodohan dan penyakit, yang tersembunyi, yang telah terkumpul sejak waktu tak diketahui. Setelah itu rasakan bahwa dirimu telah berada dalam perlindungan Hyang Triratna. Setelah itu bangkitkan bodhicitta dengan melafalkan:

Melalui kebajikan dana paramita serta paramita lainya yang saya lakukan Semoga saya mencapai Kebuddhaan bagi kebahagiaan semua makhluk. Teruskan dengan membaca doa ini:

Berdasarkan kebajikan dari dana, sila dan dhyana paramita yang saya lakukan, yang juga dilakukan oleh orang lain, semoga saya mencapai Samyaksambodhi demi kebajikan semua makhluk. Aku akan menjalankan hal ini. Demi tujuan ini aku akan bertindak sebagai Bodhisattva. Guru dan Istadevata berkatilah aku agar dapat melakukannya.

(12)

Dengan permohonan yang kuat ini, engkau menyenangkan Guru Parampara dan Istadevata; duplikatnya kemudian keluar dari tubuh mereka masing-masing, kemudian melebur kedalam tubuhmu, mengubah tubuhmu menjadi tubuh Guru dan Buddha. Cahaya memancar dari tubuhmu menyucikan Guru dan Buddha. Cahaya tersebut juga menyinari semua makhluk dan memurnikan mereka. Engkau harus merasakan secara terus menerus hal ini dan menetapkan semua makhluk ketingkat Guru Buddha. Cara ini merupakan ajaran khusus dari Garis Parampara Guru Gyalwa Enshapa, yakni meditasi membangkitkan bodhicitta yang sekaligus mempraktekan jalan dan meraih hasil akhirnya.

Kemudian lanjutkan dengan perenungan catur apramana; upeksha, maitri, karuna dan mudita.

Semua makhluk adalah ibu-ibuku, mereka mengembara dalam samsara tanpa pertolongan. Apakah sebab dari semua ini? Mereka mengembara dalam samsara karena tanha (keinginan) dan avidhya (kebodohan), karenanya mereka mengalami berbagai penderitaan.

Alangkah menyenangkan jika semua makhluk berada dalam keseimbangan, bebas dari pertentangan, keterikatan dan dualisme!

Semoga mereka berada dalam keadaan ini,

Saya akan menyebabkannya berada dalam keadaan ini,

Saya memohon semoga Guru dan Istadevata memberkati saya kemampuan untuk dapat melakukannya.

Alangkah menyenangkan jika semua makhluk memiliki kebahagiaan dan sebab kebahagiaan,

Semoga mereka memilikinya,

Saya akan berusaha agar mereka benar-benar memilikinya,

Saya memohon semoga Guru dan Istadevata memberkati saya kemampuan untuk dapat melakukannya.

Alangkah menyenangkan jika semua makhluk bebas dari penderitaan dan sebab penderitaan,

(13)

Semoga mereka bebas,

Saya akan berusaha agar mereka benar-benar bebas,

Saya memohon semoga Guru dan Istadevata memberkati saya kemampuan untuk dapat melakukannya.

Alangkah menyenangkan jika semua makhluk takterpisahkan

dari kebahagiaan terlahir mulia dan kebahagiaan sejati kebebasan teringgi, Semoga mereka tak terpisahkan dari hal itu,

Saya akan berusaha agar mereka benar-benar tak terpisahkan dari hal itu, Saya memohon semoga Guru dan Istadevata memberkati saya kemampuan untuk dapat melakukannya.

Berdoalah dengan kuat, bayangkan hujan amritha menyiram semua makhluk, memurnikan kilesha–kilesha mereka. Untuk membangkitkan bodhicitta sebagaimana yang diajarkan secara khusus disini, berpikirlah demikian;

‘Demi kebajikan semua makhluk, ibu-ibuku, tak menjadi persoalan apapun yang terjadi pada diriku, aku akan sedapat mungkin dan secepat-cepatnya mencapai tingkat Kebuddhaan Yang Sempurna. Berdasarkan pada tujuan ini aku akan bermeditasi pada ‘Tiga Dasar Sang Jalan.’

Ulangilah doa ini secara berulang-ulang.

Obyek perlindungan kemudian secara berangsur-angsur lebur menjadi cahaya, bermula dari bagian dalam hingga keseluruhan perlindungan. Cahaya itu kemudian melebur kedalam diri Jey Tsongkhapa yang duduk ditengah-tengah. Jey Tsongkhapa selanjutnya juga lebur menjadi cahaya dan masuk kedalam dirimu melalui dahi diantara kedua alismu. Rasakandengan nyata bahwa dirimu sudah menerimu berkah dari semua pemberi perlindungan.

Untuk memvisualisasikan bumi kebajikan, dengan jernih bayangkan terdapat hamparan yang luas didepanmu dimana terdapat pohon kalpavreksa yang besar, dengan ranting yang sarat dengan daun, bunga serta buah. Diatasnya terdapat bunga teratai berdaun seribu, diatasnya lagi terdapat delapan ekor singa menyangga tahta permata. Guru utamamu sendiri, muncul dalam wujud

(14)

Jey Tsongkhapa, dharmaraja ketiga dunia, duduk diatas bantal bunga teratai, matahari dan bulan. Berwajah putih bersih dan tersenyum ramah. Beliau mengenakan tiga lapis jubah dan topi kepandiaan berwarna keemasan. Tangannya dalam sikap dharmacakramudra didepan dadanya.

Masing-masing tangannya memegang tangkai bunga utpala. Diatas kuntum yang ditangan kanan terdapat kebijaksanaan dari semua buddha dalam rupa pedang kebijaksanaan yang menyala. Terangnya memenuhi semesta dan nyalanya tersebut membakar semua jenis kebodohan. Diatas kuntum bunga utpala yang ditangan kiri adalah kitab suci ‘Satha

sahasrika-prajnaparamita-sutra’ ibu sesungguhnya dari semua buddha di ketiga masa. Diatas setiap

halaman safirnya tertulis tulisan tinta emas, yang dari padanya terpancar cahaya, yang mengahalau kebodohan semua makhluk. Tulisan itu tidak saja tajam, namun juga menyuarakan dengan suara yang jelas tahap, jalan dan tujuan akhir. Ia mengutarakan jalan yang membawa kebajikan bagi kebahagiaan semua makhluk, dari membangkitkan bodhicitta hingga dua puluh tujuh kegiatan agung seorang Buddha. Hanya dengan mengingatnya didalam hati wujut kitab tersebut akan menimbulkan kecendrungan bagimu kejalan Mahayana.

Duduk di hati Jey Tsongkhapa adalah Hyang Buddha Sakyamuni., dan duduk dihati Hyang Buddha Sakyamuni adalah Sang Hyang Adhibuddha Vajradhara. Di setiap pori-pori tubuh Jey Tsongkhapa terdapat dharmadhatu para Buddha yang tiada terhitung, dan dari masing-masing dharmadhatu tersebut memancarkan sinar kesepuluh penjuru. Diatas setiap sinar terdapat Buddha Buddha yang tiada terbilang banyaknya, sebanyak jumlah makhluk hidup yang ada dalam samsara. Kegiatan dari masing-masing Buddha tersebut adalah membawa kebajikan bagi semua makhluk.

Jey Tsongkhapa duduk ditengah-tengah pelangi pancawarna dalam sikap vajrasana, dan diatas cahaya yang memancar dari hatinya muculah para Guru, didahului oleh Guru utama yang secara langsung menyampaikan ajaran ini kepadamu, kemudian berlanjut hingga Sanghyang Adhibuddha Vajradhara pada puncaknya. Kecuali Sanghyang Adhibuddha Vajradhara, kesemua ini sesungguhnya manifestasi dari Guru utamamu sendiri, ia tampil dalam rupa

(15)

Arya Manjushri, bertubuh oranye, tangan kanannya memegang pedang kebijaksanaan yang menyala dan tangan kirinya memegang kitab suci Prajnaparamita-sutra di hatinya dalam rupa sinar terang. Dari hati Jey Tsongkhapa memancarkan sinar kesisi sebelah kanan. Diatas tersebut duduk beralaskan bunga teratai dan bulan para Guru dari garis ajaran Arya Maitreya, upayakausalya; maitri dan karuna. Diatas sinar yang ke sisi kirinya muncul para Guru dari garis ajaran Arya Manjushri, prajna atau sunyata. Sedangkan diatas sinar yang kearah depan Jey Tsongkhapa, muncul para Gurumu dimana engkau secara nyata memiliki hubungan dharma.

Sekeliling Jey Tsongkhapa terdapat berbagai Istadevata, Buddha, Bodhisattva, Dakini dan Dharmapala yang duduk diatas tahta singa. Di atas tempat dari permata dihadapan mereka terdapat ajaran mereka masing-masing dalam rupa cahaya, sebagai hakekatnya yang sesungguhnya. Pada mahkota kepala dari masing-masing Istadevata terdapat aksara OM berwarna putih; pada masing-masing tenggorokannya terdapat aksara AH merah; dan dimasing-masing hatinya terdapat aksara HUM biru. Dari aksara HUM terpancar sinar ke sepuluh penjuru. Sinar tersebut mengundang Vidhyasattva, yang wujutnya sama seperti yang telah engkau visualisasikan, mereka semua datang dari alam bersemayamnya masing-masing. Vidhyasattva itu menyatu dengan Samayasattva yang telah engkau visualisasikan. Dengan kenyataan ini terus menerus anggaplah bahwa Gurumu sesungguhnya berhakekatkan Hyang Triratna, yaitu Hyang Buddha, Dharma dan Sangha.

Selanjutnya transformasikan dirimu sebagai Istadevata, lakukan persembahan air yang jernih, busana baru terpilih dan sebagainya kepada bumi kebajikan. Setelah melakukan semua itu bila engkau bermeditasi pada sang jalan, pikiranmu akan menjadi jernih dan engkau akan dibersihkan dari segala kileshavarana.

Kemudian lakukan puja tujuh bagian berikut persembahan mandala. Ini merupakan kunci dari pengumpulan kebajikan dan punyucian kesalahan yang menyebabkan kebajikan berkembang, kesalahan terhalau. Dengan cara ini meditasi akan berkembang dan rintangan akan lenyap.

(16)

Mulailah dengan melakukan penghormatan. Namaskara sambil melafalkan nama Buddha, Bodhisattva atau Guru Parampara yang engkau ketahui. Setelah itu ucapkan kalimat ini:

Aku bersujud kepada semua Guru, Yang tergerak oleh maitri dan kecakapan,

Menerangi pintu terbaik bagi orang yang beruntung ini menuju pembebasan, Yang merupakan mata dimana kitab suci menjadi terlihat.

Setelah itu lanjutkan dengan ‘Puja tujuh bagian’: Namo Manjugosha Kumarabhutaya!

Sebagaimana yang terdapat di kesepuluh penjuru dunia Para manusia singa, yang melampaui ketiga masa Aku bersujud kepada mereka semua tanpa terkecuali. Dengan tubuh, ucapan dan pikiran yang tulus.

Berdasarkan kekuatan Arya Samantabhadra-puja untuk memurnikan tindakan

Saya akan melakukan penghormatan kepada semua Bhatara Jina; Dengan beraneka tubuh sebanyak atom di bumi suci

Dan mengingat semua Bhatara Jina dalam batin ku. Saya melihat dharmadatu terdapat dimana-mana Yang penuh oleh para Bhatara Jina;

Diatas setiap atom bersemayam Bhatara Jina yang bagaikan atom banyaknya,

Masing-masing dikelilingi oleh para Jinaputra.

Saya memuji semua Sugata dan mengumandangkan suara Tentang kebajikan-kebajikan semua Bhatara Jina

Dengan berbagai ucapan untuk menimbulkan lautan suara [Dan menyatakan] samudra kebajikannya yang tiada batas.

(17)

Dengan bunga terindah dan karangan bunga terbaik Alat musik terbaik, wewangian dan payung kemuliaan Pelita terbaik dan dupa terbaik

Aku mempersembahkan persembahan ini kepada semua Bhatara Jina itu. Dengan pakaian terbaik dan wewangian terbaik

Dan dengan serbuk wewangian yang takterhingga setinggi Gunung Mahameru

Semuanya dirangkai dalam susunan terbaik

Aku mempersembahkan persembahan kepada semua Bhatara Jina itu. Aku juga hendak mempersembahkan kepada semua Bhatara Jina Persembahan tak ternilai yang tak tertandingi.

Berdasarkan kekuatan puja ini demi pemurnian tindakan

Aku memuja dan mempersembahkan persembahan ini kepada semua Bhatara Jina itu.

Ucapkan kata-kata tersebut dengan kitmat sambil bernamaskara. Di sini lakukan pengakuan kesalahan-kesalahan yang telah engkau lakukan berdasarkan ketiga sila (pratimoksha, bodhisattva dan tantra), dan bernamaskaralah sebanyak yang dapat engkau lakukan sambil melafalkan doa dari Pengakuan kesalahan

ini:

Aku bersujud kepada tiga puluh lima Buddha pertobatan. Semoga mereka serta semua Tathagata, Arhat dan Samyaksambuddha yang sedang berada dialam kebahagiaannya dikesepuluh penjuru semesta, berbelaskasih kepadaku.

Aku mengakui sejujurnya, tanpa menyembunyikan segaa dosa, baik besar maupun kecil, yang telah saya lakukan sendiri, yang dilakukan orang lain untukku, atau perasaan senang pada perbuatan dosa orang lain, dalam semua kelahiranku didalam samsara yang tiada awal- dalam hidup

(18)

yang sekarang, dalam hidup yang lalu dan dalam hidup yang akan datang. Aku mengakuinya dihadapan Bhagavan Buddha – yang memiliki kebijaksanaan, yang memiliki mata yang melihat segala sesuatu, yang memiliki kekuatan, yang melihat kebenaran, tiada banding dan maha mengetahui. Karenanya aku melakukan pengakuan ini. Aku melimpahkan kebajikan demi tercapainya Kebuddhaan Yang Sempurna bagi kebahagiaan semua makhluk, semua kebajikan yang telah saya lakukan besar ataupun kecil atau yang akan saya lakukan dalam semua kelahiran yang tiada akhir didalam samsara- dalam hidup saat ini, dalam hidup masa lalu dan dalam hidup yang belum akan datang , serta dari mereka yang berada dalam kehidupan saat ini, yang dengan tulus telah melimpahkan kebajikan yang telah mereka lakukan, demikian pula diriku juga melimpahkan segala miliku.

Lanjutkan dengan bagian selanjutnya dari ‘Puja tujuh bagian.’ Apapun kesalahan yang telah saya lakukan

Terdorong oleh keterikatan, kebencian dan ketidak tahuan Melalui tubuh, ucapan dan pikiran saya

Seluruhnya aku mengakuinya satu persatu.

Apakah para Bathara Jina yang terdapat di kesepuluh penjuru

Arya Bodhisattva atau Pratyeka-buddha Atau arya yang sedang berlatih

Arhat ataupun makhluk biasa.

Saya bergembira atas kebajikan apapun yang dilakukan oleh semua makhluk

(19)

Penerang jagad raya yang terdapat di kesepuluh penjuru Engkau yang telah mencapai Samyaksambodhi dengan pengetahuan yang tiada taranya

Oh Pelindung, demi kabahagiaan semua makhluk Aku memohon kepadamu putarlah Dharmacakra. Engkau yang berpikir hendak memasuki nirvana

Dengan tangan beranjali, demi kebajikan dan kebahagiaan semua makhluk

Aku memohon kepadamu;

Tinggalah [dalam samsara] selama berkalpa-kalpa sebanyak atom dialam semesta

Kebajikan sekecil apapun yang telah saya kumpulkan Dari bernamaskara, melakukan persembahan, pengakuan Anumodana, permohonan [Dharmacakra] dan permohonan [tetap tinggal dalam samsara]

Saya melimpahkan semua kebajikan itu demi tercapainya Samyaksambodhi.

[Tetap] bayangkan bumi kebajikan didepanmu, dan ucapkan kalimat berikut ini dengan kidmat. Setelah itu persembahkan mandala singkat.

Bumi ini, diperciki wewangian, bertaburkan bunga, Berhiaskan gunung Meru, empat daratan, Matahari dan Bulan,

Memandangya sebagai bumi Buddha, saya mempersembahkannya;

Semoga semua makhluk dapat menikmati bumi suci ini. Memandang diriku sendiri sebagai seorang cakravarti, aku mempersembahkan segala kebajikan dari ketiga masa, segala kenikmatan tubuh, ucapan dan pikiran, miliku

(20)

sendiri maupun milik yang lain, serta mandala permata yang agung seperti yang dipersembahkan oleh Arya Samantabhadra, kepada Guru, Istadevata dan Hyang Triratna. Berdasarkan kekuatan maitrimu yang agung, semoga engkau menerima persembahan ini dan limpahkanlah berkahmu kepadaku.

Guru, aku mempersembahkan mandala permata ini.

Ucapkan kalimat tersebut, kemudian persembahkan mandala. Selajutnya lafalkan doa demi tercapainya ketiga tujuan agung, yang diajarkan sendiri oleh Jey Tsongkhapa:

Aku berlindung kepada Guru dan Hyang Triratna Berkatilah arus batinku

Berkatilah diri kami dan semua makhluk agar dapat menghentikan segala pikiran yang salah

Dari tidak menghormati Guru kami hingga menganggap ‘aku’ sebagai suatu kenyataan;

Sehingga kami dapat dengan mudah mengembangkan segala pikiran benar, dari dengan mempercayai Guru kami; Dan dengan demikian kami dapat mengatasi segala hambatan baik dari luar maupun dari dalam.

Lafalkan kaimat tersebut tiga kali.

Teruskan dengan melafalkan doa berikut ini, yang ditujukan kepada Guru dan Paramparanya:

Aku bersujud kepada Adhibuddha Vajradhara, pelindung samsara dan nirvana,

Ia tidak bersemayam dalam keberadaan maupun ketidak beradaan.

(21)

Karena kebijaksanaanya beliau telah memotong akar samsara,

Dengan maitrinya beliau telah mengabaikan kebahagiaan nirvana.

Aku bersujud kepada Arya Manjushri sang pelindung Yang tubuh kebijaksanaannya perpaduan

Dari seluruh harta kebijaksanaan para Buddha

Yang lebih banyak dari butir debu di bumi para Buddha. Aku bersujud di telapak kaki suci Pawo Dorje

Ia yang setelah bertahun-tahun melakukan puja pranidhana dengan sangat khusuk

Menghalau kabut kebodohanya

Ketika Arya Manjushri muncul dihadapannya. Aku bersujud dikaki suci Jey Tsongkhapa yang agung Yang telah memahami kedua kebenaran dengan perenungannya

Dan dengan kekuatan perpaduan upaya kausalya dan prajna

Mewujudkan Trikaya Buddha.

Aku bersujud pada kaki para Guru Jambudvipa, Kepada Gendundrup, singa di jalan terbaik. Dengan menyandang seratus ribu ajaran, Ia berdiam di taman kitab suci Hyang Buddha. Berkatilah diriku agar senantiasa dan tanpa kesulitan Membangkitkan keyakinan dengan hanya mengingat kebajikan Guru

Yang menjadi dasar dari segala kebajikan, Bagi kebahagiaan realisasi serta duniawi.

(22)

Semoga saya dapat mencapai kemurnian batin tanpa noda

Bersandar pada kalyanamitra yang berusaha untuk mencapai kesadaran,

Yang berbicara ramah, yang menginginkan pembebasan dari dalam hatinya,

Dan yang telah mengalahkan dirinya sendiri, hidup damai dengan sedikit keinginan.

Semoga saya mencapai ketidak terikatan, Memalingkan pikiranku dari pemberian dan penghormatan,

Dengan berpikir ‘waktunya sangat singkat’ dimana bukanlah gurauan

Bahwa kematian sudah pasti, tetapi saatnya tidak pasti. Semoga diriku dengan sendirinya memiliki maitri, Berpaling dari sikap mementingkan kebahagiaan diri sendiri

Untuk mengingat kepedihan yang dialami semua makhluk,

Masing-masing mereka ibuku sendiri yang baik. Semoga saya dapat memahami apa yang diajarkan oleh para Guru suci,

Nagarjuna dan Aryadeva, ayah dan anak,

Yang menguraikan makna mendalam pratityasamudpada Obat sejati yang menyembuhkan kedua penyakit

ekstrim.

Setelah mengucapkan doa ini, semoga segala akar kebajikan

Masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang saya sendiri serta yang lain,

(23)

Dari hidup ke hidup,

Hanya akan membawa pada tercapainya Kebuddhaan. Semoga ia tidak masak seketika

Dimana disana tidak konduksif untuk mencapai Pencerahan:

Dimana terdapat keinginan kamasyuran atau meraih keuntungan,

Murid-murid, kesenangan, penghormatan dan perolehan. Berdasarkan berkah Hyang Jina dan para Bodhisattva putranya,

Berdasarkan kebenaran hakiki pratityasamudpada, Dan berdasarkan kekuatan pranidhanaku yang teguh dan luhur,

Semoga aku mecapai keberhasilan dari doa ini.

Berdoalah dengan kuat agar dirimu dapat dengan segera meraih realisasi ‘Tiga Dasar Sang Jalan.’

Terdapat dua tema ajaran dalam hal ini. Pertama, meningkatkan pemahaman terhadap sang jalan dan berusaha untuk bermeditasi terhadapnya. Kedua, meditasi yang sebenarnya.

(24)

2. Memahami jalan dan berjanji untuk

mencapainya

Lanjutkan visualisasi bumi kebajikan di depanmu, renungkan ungkapan berikut ini:

“Keyakinan kepada Guru merupakan dasar dari segala kebajikan. Ia merupakan landasan segala akar kebajikan baik saat ini maupun dimasa yang akan datang, juga dasar dari lokiya siddhi maupun lokutara siddhi. Bersandar pada Guru menjadi jalan untuk mencapai, menjaga, mengembangkan dan merealisasikan semua tahap serta jalan. Untuk itu, sejak awal berusahalah berbakti kepada Guru, sebagai dasar dari jalan.”

Untuk berbakti kepada Guru secara mental, visualisasikan dengan jelas diangkasa dihadapanmu ia yang telah menunjukan ajaran kepadamu, dan berpikirlah demikian:

(25)

Karena Hyang Buddha Yang Sempurna menyatakan dalam kitab suci tantra bahwa pada masa kemerosotan nanti, Sanghyang Adhibuddha Vajradhara akan bermanifestasi dengan menyamar sebagi seorang Guru dan berusaha demi kebajikan semua makhluk. Dengan demikian, semua Guruku adalah manifestasi dari Sanghyang Adhibuddha Vajradhara yang menampakan dirinya dalam rupa yang berbeda-beda. Ia muncul dalam rupa Guru untuk membimbing mereka yang tidak beruntung bertemu dan mendenganr ajaran Hyang Buddha Sakyamuni.

Bukan saja semua Guruku yang sangat baik adalah seorang Buddha, kebajikannya bagi diriku juga melampaui kebajikan dari para Buddha; dimana para Buddha serta Bodhisattva yang telah datang kemari di masa lampau telah mengabaikanku, tidak membimbingku. Guru utamaku yang baik hati, tidak tega melihat kenyataan ini, karenanya terdorong oleh maitri karunanya, ia mengambil alih kegiatan para Buddha; bahkan meskipun para Buddha dimasa lalu yang telah datang tak dapat mengungkapkan ajaran yang dapat saya pahami dengan lebih baik.

Untuk dapat mendengarkan satu slokha saja ajaran dharma, Hyang Buddha Sakyamuni dimasa lalu telah mengalami begitu banyak kesulitan yang tak terlukiskan. Suatu ketika beliau telah menusukan seribu paku besi pada tubuhnya sendiri, dan pada masa yang lain beliau telah menjadikan tubuhnya sendiri sebagai ribuan pelita. Beliau meninggalkan segala kenikmatan tanpa rasa penyesalan; putranya, istrinya, tubuhnya dan segala yang dimilikinya. Atas kebajikan Guruku, aku tak perlu mengalami kesulitan yang sedemikian rupa beratnya. Bila saya dapat bermeditasi dijaran Mahayana, yang lengkap dan bebas dari kesalahan, ajaran yang baik tersebut akan dapat membawaku terlahir kembali sebagai manusia atau dewa, mencapai pembebasan, atau bahkan mencapai

(26)

tingkat Kebuddhaan Yang Sempurna. Guruku telah mengajariku ajaran secara cuma-cuma seperti seorang ayah yang mengajari anaknya. Aku tidak akan samggup membalas kebajikannya.

Bermeditasilah pada hal ini hingga air matamu mengalir dan bulu romamu berdiri.

Berbaktilah kepada Gurumu melalui perbuatan; berusaha melakukan tiga cara menyenangkan Guru. Lakukan persembahan kepadanya, lakukan penghormatan secara fisik, lisan dan praktekan ajaranya. Dari semua itu yang terakhir merupakan yang terpenting, dengan kuat resapilah kalimat ini:

‘Untuk menjalankan apa yang dianjurkan Guruku, aku akan mempraktekan tiga dasar sang jalan, dimana didalamnya mencakup seluruh kitab suci dan upadeshanya.’

Bagaimana mungkin makna semua kitab suci berikut penjelasannya tercakup didalam tiga dasar sang jalan? Tujuan utama dari semua kitab suci dan penjelasnya adalah untuk membebaskan para siswa dari samsara dan membawa mereka ketingkat Kebuddhaan. Untuk mencapai tingkat Kebuddhaan dibutuhkan upaya kausalya dan prajna. Jalan yang membawa pada upaya

kausalya adalah bodhicitta dan jalan yang membawa pada prajna adalah

pandangan benar. Untuk dapat memiliki bodhicitta dan pandangan benar, engkau harus berpaling dari dalam samsara, jika engkau tidak menginginkan dirimu sendiri bebas dari samsara, engkau tak akan dapat memiliki maitri, karuna dan bodhicitta yang bertujuan membawa kebebasan bagi semua makhluk.

Jalan utama upaya kausalya, yang membawa pada tercapai rupakaya Buddha adalah pengumpulan kebajikan. Yang merupakan kunci, akar serta inti dari segala pengumpulan kebajikan adalah bodhicitta. Jalan utama yang menyebabkan tercapainya dharmakaya, kesadaran Kebuddhaan, di dapatkan dari prajna. Yang menjadi kunci, akar dan inti dari segala pengumpulan kebijaksanaan adalah pandangan benar. Dengan demikian seluruh kunci sang

(27)

jalan tercakup kedalam penolakan samsara, bodhicitta dan pandangan benar. Inilah ajaran yang disampaikan oleh Arya Manjushri dengan seksama kepada Dharmaraja ketiga dunia, Jey Tsongkhapa.

Mengingat bahwa dasar dari segala kebajikan adalah berbakti kepada Guru, engkau harus menghayati hal ini sejak dari awal mula. Naskah utama menyatakan:

Aku bersujut kepada Guru!(1)

Kalimat ini mencakup semua praktek pendahuluan yang telah dilakukan dimuka. Pada bagian ini berpikirlah:

‘Sebelum aku bermeditasi pada sang jalan, lebih dahulu aku akan mengembangkan pemahaman secara menyeluruh, baru selanjutnya bermeditasi secara sistimatis pada tahap-tahap tersebut berdasarkan kategorinya.’

Kita harus dengan teguh menerapkan cara seperti ini dalam bermeditasi. Sebagaimana yang dinyatakan dalam naskah utama:

Aku akan menjelaskan semampu saya

Sari dari semua ajaran kitab suci hyang buddha, Jalan yang dipuji oleh para bodhisattva,

Pintu masuk bagi orang yang beruntung yang menginginkan pembebasan.(2)

Dengarlah dengan pikiran yang jernih wahai orang yang beruntung, Yang mengarahkan pikiranya pada jalan yang menyenangkan para buddha,

Yang berusaha untuk memanfaatkan kebahagiaan dan keberuntungan Dan yang tidak terikat dengan samsara.(3)

(28)

3. Aspek pertama sang jalan; mengembangkan

kehendak untuk meninggalkan samsara

Terdapat tiga bagian pada meditasi yang sesungguhnya. Yaitu meditasi penolakan samsara, meditasi bodhicitta dan meditasi pandangan benar. Meditasi penolakan samsara adalah usaha-usaha untuk mengatasi ketertarikan daya tarik kehidupan saat ini maupun kehidupan yang akan datang. Terhadap hidup saat ini, naskah utama menyatakan:

Kebahagiaan dan keberuntungan sangat sulit untuk didapatkan.

Tiada waktu untuk disia siakan; atasilah ketertarikan pada hidup saat ini.(4a)

Renungkan betapa penting dan sulitnya menemukan kebebasan dan keberuntungan, ketidak pastian saat datangnya kematian dan berbagai penderitaan dialam rendah.

Tetap lakukan visualisasi Guru dan Istadevata berada didepanmu, kemudian bermeditasilah pada pentingnya kebebasan dan keberuntungan. Berpikirlah demikian:

(29)

‘Memiliki kebebasan berarti memiliki kesempatan untuk mempraktekan dharma suci; memiliki keberuntungan berarti memiliki segala keadaan baik yang diperlukan untuk mempraktekan dharma. Untuk itu, kebebasan dan keberuntungan dalam hidup saat ini adalah sarana yang sangat baik untuk mempraktekan dharma. Karenanya kebebasan dan keberuntungan dalam hidup sangatlah penting. Berdasarkan kenyataan ini, aku akan mempraktekan dana, sila, kshanti serta lainya, yang akan menjadi sebab bagi tercapainya kebahagiaan dalam hidupku yang akan datang sebagai manusia atau dewa. Khususnya melalui ketiga sumpah (bodhisattva), aku akan dapat mencapai kebuddhaan dengan segera dalam satu kali kehidupan, meskipun dimasa kemerosotan saat ini. Karenanya, kebebasan dan keberuntungan dalam hidup saat ini memiliki arti yang sangat penting, karena sangat sulit untuk di dapatkan, aku akan mengambil manfaatnya serta tidak akan menyia nyiakannya untuk hal-hal yang tidak berarti. Guru dan istadevata, berkatilah saya agar dapat melakukannya.’ Tetaplah memvisualisasikan Guru dan Istadevata didepanmu dan renungkan betapa sulitnya untuk memperoleh kebebasan dan keberuntungan.

‘Sebagian besar manusia, juga makhluk-makhluk yang lain, biasanya terlibat dalam sepuluh ketidak bajikan, yang sebenarnya merupakan rintangan untuk memperoleh kebebasan dan keberuntungan. Sangat sedikit sekali yang menciptakan sebab bagi tercapainya kebebasan dan keberuntungan dalam hidupnya. Yaitu menjalankan sila-sila dasar, berdana, mempraktekan paramita dan pelimpahan kebajikan melalui doa yang tulus.’

‘Bagi makhluk yang rendah, misalnya binatang yang berkaki empat dan semacamnya, sangat kecil kemungkinanya untuk dapat meraih kebahagiaan dengan hidup sebagai manusia atau dewa. Bahkan diantara makhluk-makkhluk yang telah lahir dialam bahagia, memperoleh kebahagiaan dan keberuntungan juga merupakan hal yang sangat langka bagaikan bintang disiang hari. Karenanya, mengingat saya telah mendapatkan hidup yang sedemikian, yang sangat sulit untuk didapatkan, aku akan menggunakannya dengan

(30)

baik dan tidak akan menyianyiakannya dengan hal-hal yang tiada gunanya. Aku akan terus bersandar pada Guru dan Hyang Buddha, dan mempraktekan sari ajaran Mahayana yang diajarkannya, aku akan mencapai kebuddhaan dalam satu kali kehidupan. Guru dan Yidam, berkatilah saya agar dapat melakukannya.’

Mengenai hidup yang akan datang naskah utama menyatakan:

Atasi ketertarikan terhadap hidup yang akan datang; pikirkan berulang kali

Kepastian berlakunya akibat karma dan penderitaan samsara.(4b)

Pertama sadarilah berlakunya hukum karma, selanjutnya sadarilah penderitaan didalam samsara. Terus visualisasikan Guru dan Yidam, kemudian bermeditasilah pada hal berikut:

Hyang Buddha telah berkata: ‘Perbuatan baik hanya akan menimbulkan akibat kebahagiaan; ia tidak menyebabkan penderitaan. Perbuatan tidak baik hanya akan menimbulkan akibat penderitaan, ia tidak menyebabkan kebahagiaan. Bahkan, meskipun perbuatan baik atau buruk itu hanya kecil sekali akan berakibat kebahagiaan atau penderitaan yang sangat besar. Tanpa adanya sebab perbuatan baik atau buruk, tak akan ada kebahagiaan atau penderitaan yang dialami. Apabila kebajikan atau ketidak bajikan sebagai sebab tidak menemui rintangan, kebahagiaan atau penderitaan dengan pasti akan muncul, perbuatan yang telah dilakukan pengaruhnya tidak akan pernah hilang.’

‘Demikianlah aku akan memiliki keyakinan yang teguh dan mantap pada ajaran bahwa perbuatan yang telah dilakukan memiliki kekuatan sesuai dengan obyeknya, motivasinya, unsur-unsurnya dan kasusnya. Aku akan belajar untuk menerima apa yang baik dan menolak apa yang tidak baik; aku tidak akan mengotori ketiga pintuku yaitu tubuh, ucapan dan pikiranku meski sekejap dengan sepuluh ketidak bajikan, dan akan berupaya dengan keras untuk dapat

(31)

menjalankan sepuluh kebajikan. Guru dan Yidam berkatilah saya agar dapat melakukanya.’

Selanjutnya sadari penderitaan samsara secara umum. Terus visualisasikan Guru dan Yidam didepanmu, bermeditasilah pada hal berikut ini:

Setelah saya terlahir didalam samsara akibat pengaruh kekuatan karma dan noda nafsu, aku tak akan bebas dari penderitaan. Karena teman bisa jadi musuh dan musuh bisa jadi teman, aku tak dapat memastikan apakah orang lain akan menolongku atau menyakitiku. Berapapun banyaknya aku mengenyam kesenangan samsara, aku tidak merasa puas. Singkatnya keterikatanku meningkat dan menyebabkan penderitaan yang taktertanggung lagi. Betapapun bagusnya tubuhku, aku tetap harus meninggalkanya; kejadian ini terjadi berulang-ulang, menyebabkanku terbalut dalam kandungan berkali-kali dalam kelahiranku yang tiada akhir. Hingga pada akhirnya juga aku harus meninggalkan semua yang ada didunia apapun yang telah aku miliki. Tak ada keamanan dari siapapun dimana aku harus pergi seorang diri dari hidup ini ke hidup berikutnya. Dengan memiliki kebahagiaan dan keberuntungan hidup ini, aku akan meraih, tingkat apapun dari Guru dan Yidam, yang telah mengatasi penderitaan samsara. Guru dan Yidam berkatilah saya agar dapat melakukannya.

Sekarang sadarilah penderitaan khusus samsara. Terus visualisasikan Guru dan Yidam dihadapanmu, dan bermeditasilah demikian:

Setelah saya mengalami kelahiran, aku tak akan bebas dari penderitaan. Perlukah dikatakan lagi mengenai ketiga alam rendah? Jika saya menjadi manusia, aku mengalami penderitaan panas dan dingin, haus dan lapar; terpisah dari yang dicintai dan bertemu dengan yang tak disukai, tidak memperoleh benda-benda yang saya inginkan; dan mengalami apa yang tidak saya inginkan. Aku menderita karena pada waktu lahir, usia tua, sakit dan mati.

(32)

Jika aku lahir sebagai ashura, aku tak akan tahan melihat kemewahan hidup para dewa. Aku akan didera oleh perasaan iri, dan berperang karenanya, sehingga penderitaan fisik akan aku alami.

Jika saya lahir sebagai dewa dialam keinginan, aku akan berperang dengan para ashura dan mengalami penderitaan, kekacauan, pembunuhan atau terbunuh. Juga bila muncukl kelima tanda kematian, aku akan menderita mengetahui bahwa aku akan kehilangan kemewahan dan kembali kealam yang lebih rendah. Bahkan meskipun aku lahir dialam brahma rupa dan tanpa rupa, aku tetap tidak memiliki kekuatan untuk tetap hidup disana ketika karmaku telah habis, karenanya aku akan menderita harus kembali terlahir dialam yang lebih rendah. Singkatnya, terlahir kembali adalah lingkaran kelahiran, usia tua, sakit dan mati dalam hidup saat ini, penderitaan dari penderitaan dan penderitaan dari perubahan baik halam hidup saat ini maupun yang akan datang. Hanya dengan mengambil perwujutan dilandasi oleh pengaruh karma masa lalu dan noda keinginan, aku akan menjadi suatu perwujutan. Tak jadi masalah apapun yang terjadi, aku akan mencapai tingkat tertinggi Guru dan Hyang Buddha, yang telah membebaskan dirinya sendiri dari penderitaan samsara dan perwujutan. Guru dan Yidam berkatilah kami agar dapat melakukannya.

Jika engkau tidak lagi menginginkan kebahagiaan samsara, dan menganggapnya sebagai nara pidana didalam penjara, engkau akan memmiliki keinginan yang tak akan surut untuk mencapai pembebasan. Inilah yang dimaksutkan bahwa engkau telah mencapai penolakan samsara. Naskah utama menyatakan:

Jika engkau sesaatpun tidak menginginkan Kesenangan samsara

Dan sepanjang siang dan malam menginginkan pembebasan, Engkau telah mengembangkan penolakan terhadap samsara.(5) Penolakan terhadap samsara tanpa disertai bodhicitta yang murni

(33)

Tak akan membawa pada kebahagiaan yang sempurna Penerangan sempurna yang tiada taranya;

(34)

4. Aspek kedua sang jalan

adalah membangkitkan Bodhicitta

Untuk membangkitkan bodhicitta pertama-tama engkau harus mencapai upeksha (keseimbangan batin) terhadap semua makhluk, baru selanjutnya diteruskan dengan bermeditasi pada ajaran tentang tujuh sebab akibat. Diawali dengan memandang dihadapanmu terdapat makhluk-makhluk yang tidak menolong juga tidak menyakitmu. Berpikirlah, ‘Mereka sendiri menginginkan kebahagiaan bagi dirinya dan tidak menginginkan menderita. Untuk itulah aku akan membebaskan diri dari keterikatan dan kebencian; aku tidak akan merasa dekat dengan beberapa dari mereka dan menolong mereka, atau merasa jauh dari mereka dan menyakiti mereka. Aku akan belajar untuk bersikap seimbang kepada semua makhluk. Guru dan Yidam berkatilah saya agar dapat melakukannya.’

Jika engkau telah merasa seimbang kepada makhluk-makhluk tersebut, pandanglah orang-orang yang menarik bagimu. Berusahalah untuk tetap seimbang terhadap orang-orang itu. Berpikirlah, ‘Sikapku yang membeda-bedakan adalah akibat pengaruh keterikatan. Akibat dimasa lampau saya memiliki keterikatan terhadap makhluk-makhluk yang menarik bagiku,

(35)

karenanya aku terlahir kembali didalam samsara.’ Kendalikan keinginanmu dan bermeditasilah.

Setelah engkau merasa tetap seimbang kepada orang-orang yang menarik tersebut, lihatlah makhluk-makhluk yang tidak menarik bagimu. Berusahalah untuk bersikap seimbang terhadapnya. Berpikirlah, ‘Karena ada jarak diantara diriku dan mereka, aku memiliki sikap tak mau tahu terhadap mereka, karenanya tidak memandangnya secara seimbang.’ Pikirkan bahwa tanpa keseimbangan tak akan mungkin dapat membangkitkan bodhicitta, kendalikan sikap tak mau tahumu dan bermeditasilah.

Setelah engkau merasakan keseimbangan terhadap mereka yang tidak menarik bagimu, pandanglah keduanya, yaitu mereka yang sangat menarik bagimu dan mereka yang sama sekali tidak menarik bagimu. Berpikirlah, ‘Sesungguhnya mereka sama adanya, mereka sama-sama ingin bahagia dan tidak ingin menderita. Dari sudut pandang saya, bahkan meskipun kepada mereka yang saat ini aku begitu akrab, mereka pernah menjadi musuhku sejak masa yang tak diketahui. Dan orang-orang yang saat ini aku merasa benar-benar tidak menyukainya telah pernah menjadi ibuku sejak waktu yang tidak diketahui dan telah menjagaku dengan penuh kasih sayang. Yang manakah yang aku inginkan? Yang manakah yang harus kubenci? Aku akan bersikap seimbang terhadap mereka semua dan akan membebaskan diri dari keterikatan dan ketidak mau tahuan. Guru dan Yidam berkatilah saya agar dapat melakukannya.

Setelah engkau merasakan adanya sikap seimbang, perluaslah jangkauannya hingga pada semua makhluk. ‘Semua makhluk adalah sama, mereka masing-masing menginginkan kebahagiaan dan tidak menginginkan penderitaan. Dari sudut pandangku, semua makhluk adalah kerabatku sendiri. Untuk itu, aku akan mencoba untuk bersikap seimbang dan membebaskan diri dari keterikatan dan ketidak mau tahuan; aku tidak akan merasa dekat dengan beberapa mereka dan menolongnya, kemudian merasa jauh dari beberapa mereka dan menyakiti mereka. Guru dan Yidam berkatilah saya agar dapat melakukannya.’

(36)

Setelah engkau mengembangkan sikap mental yang seimbang, mulailah membangkitkan bodhicitta dengan bagian pertama dari ajaran tujuh sebab akibat untuk membangkitkan bodhicitta. Terus visualisasikan Guru dan Yidam ada dihadapanmu dan lakukan perenungan sebagai berikut: ‘’Mangapa semua makhluk tidak lain adalah kerabatku sendiri? Karena tiada awal didalam samsara, demikian pula tiada awal mula kelahiranku. Dalam melewatkan kehidupan-kehidupan tersebut, tak ada satupun bentuk makhluk hidup yang belum pernah kualami dengan tiada terhitung dan tak ada satu tempat atau negripun yang belum pernah aku muncul disana. Dari semua makhluk itu tak satupun yang belumpernah menjadi ibuku selama berkali-kali dan akan terus menjadi ibuku lagi dan lagi.’

Setelah engkau sepenuhnya merasakan kebenaran ini, renungkanlah kebajikan dari semua makhluk yang telah dilakukannya terhadapmu saat mereka menjadi ibumu. Tetap visualisasikan Guru dan Yidam dihadapanmu dan lihatlah dengan jelas ibumu wujut ibumu saat ia masih muda dan saat ia sudah tua. ‘Bukan saja karena ia menjadi ibuku dalam hidup yang sekarang, tetapi juga karena ia telah begitu perhatian terhadap saya dalam kelahiran-kelahiran sebelumnya yang tiada terhitung. Khususnya dalam hidup yang sekarang, ia telah dengan penuh kasih menjagaku didalam kandunganya, dan setelah aku lahir ia menaruhku dibantal yang lembut dan menggendongku dengan tangannya. Ia mengarahkanku pada susunya yang hangat. Ia selalu memperlakukanku dengan senyum kasihnya dan memandangku dengan mata kegembiraan. Ia membersihkan ingusku dan membersihkan kotoranku. Sedikit saja aku sakit sudah cukup membuatnya lebih menderita dari kehilangan hidupnya sendiri. Celaan karena kebencian, kesedihan, tipu muslihat tak akan mempengaruhinya, ia tetap mengurusku dengan baik dengan tetap memberiku makanan dan tempat. Ia memberiku kebahagiaan dan kabikan yang tiada terhitung, dan menjagaku dari berbagai penderitaan dan kesakitan.’ Renungkan kebajikannya yang sangat besar, selanjutnya dengan cara yang sama renungkan kebajikan ayahmu juga dan mereka-mereka yang dekat denganmu, mereka juga telah menjadi ibumu selama waktu yang tiada terhitung.

(37)

Setelah engkau benar-benar merasakan kebenaran hal ini, bermeditasilah pada makhluk-makhluk dimana dirimu merasa jauh. ‘Meskipun saat ini seolah-olah mereka tiada hubungan dengan diriku, tetapi mereka pernah menjadi ibuku selama waktu yang takterhitung, dan dalam hidup-hidup tersebut telah menjagaku dengan penuh kebajikan.’

Jika telah merasakan kebenaran ini, bermeditasilah pada makhluk-makhluk yang menjadi musuhmu. Lihatlah mereka dengan jelas dihadapanmu, dan pikirkan ‘Bagaimana mungkin sekarang saya menganggap mereka sebagai musuh? Mengingat bahwa hidup yang telah lalu tak dapat dihitung, mereka masing-masing pernah menjadi ibuku selama waktu yang tak dapat diketahu jumlahnya. Pada saat itu yaitu saat mereka menjadi ibu-ibu ku, mereka telah memberiku berbagai kesenangan dan kebaikan yang takterhitung dan menjagaku dari sakit dan penderitaan. Tanpa kebajikan mereka aku taka akan dapat bertahan meski hanya sesaat dan tanpa saya mereka tak akan tahan meskipun hanya sesaat. Aku memiliki keterikatan sedemikian rupa selama waktu yang tak terhitung kepada mereka. Jika sekarang ia menjadi musuhku ini semata-mata karena karma buruk saja: pada kesempatan yang lain mereka akan menjadi ibuku lagi dan akan menjagaku dengan penuh kebajikan.’ Setelah engkau merasakan kebenaran ini, bermeditasilah pada kebajikan semua makhluk.

Selanjutnya bermeditasilah pada membalas kebajikan semua makhluk, ibu-ibumu. Terus visualisasikan Guru dan Yidam dihadapanmu, selanjutnya bermeditasilah pada hal berikut:

‘Sejak waktu yang tak diketahui ibu-ibu tersebut telah melindungiku dengan sangat baik. Karena pikiran mereka terbelenggu oleh mara berupa noda tanha, mereka tidak pernah memiliki pikiran yang bebas, dan menjadi mabuk. Mereka tidak memiliki mata untuk melihat jalan yang dapat membawa pada kemuliaan sebagai manusia atau deva, atau jalan menuju nirvana, yang sangat baik. Mereka tidak memiliki Guru, yang menjadi penuntun bagi yang tidak melihat. Terus menerus terlibat dengan perbuatan yang salah, mereka terpeleset ketepi jurang kelahiran didalam samsara., khususnya di ketiga alam rendah. Mengabaikan ibu-ibu yang berada dalam situasi tersebut adalah memalukan. Untuk membalas

(38)

kebajikan mereka aku akan membebaskan mereka dari penderitaan samsara dan menempatkan mereka kedalam kebahagiaan pembebasan. Guru dan Yidam berkatilah saya agar dapat melakukanya.’

Berikutnya adalah meditasi terhadap maitri. Lihatlah orang yang padanya dirimu merasakan keterikatan yang amat kuat, seperti halnya kepada ibumu. ‘Bagaimana bisa mereka mendapatkan kebahagiaan tanpa noda bila mereka tidak memiliki bahkan kebahagiaan terbatas samsara? Apakah yang sekarang mereka anggap sebagai kebahagiaan adalah tidak tetap, berubah menjadi penderitaan. Mereka terus menginginkan, terus berusaha, menghendaki adanya kebahagiaan, namun sebaliknya mereka hanya menciptakan sebab penderitaan dimasa yang akan datang, kelahiran dialam yang lebih rendah. Demikian juga dalam kehidupan yang sekarang, memakai dan menghabiskan, mereka hanya membuat penderitaannya sendiri. Sesungguhnya mereka tidak memiliki kebahagiaan yang sebenarnya. Alangkah menyenangkan jika mereka memiliki kebahagiaan dan segala penyebab kebahagiaan! Semoga mereka memilikinya. Aku akan menyebabkan mereka memiliki kebahagiaan dan segala sebabnya. Guru dan Yidam berkatilah saya agar dapat melakukanya.’

Setelah engkau memperoleh perasaan tersebut, teruskan bermeditasi, pertama lihatlah orang lain yang sangat dekat denganmu, misalnya ayahmu, kemudian orang yang tak ada hubungan dengan mu, selanjutnya musuhmu, ahkirnya mencakup semua makhluk.

Selanjutnya bermeditasilah pada mahakaruna dan ketetapan hati yang kuat: Ayah ibuku yang baik, yang jumlahnya memenuhi angkasa, berada tanpa penolong terbelenggu oleh karma dan tanha. Empat sungai: sungai keinginan, sungai keberadaan, sungai kebodohan dan sungai pendangan salah, menyeret mereka tanpa daya kedalam samudra samsara, yang digerakan oleh gelombang kelahiran, usia tua, sakit dan mati. Mereka sepenuhnya terikat dengan erat dan sangat sulit untuk menghindarkan berbagai karma. Sejak waktu yang tak diketahui nereka telah masuk kedalam perangkap besi berpegang

(39)

pada anggapan adanya ‘aku’ dan ‘miliku’ dalam lubuk hati mereka. Perangkap ini teramat sulit bagi siapapun untuk membukanya. Di selubungi oleh awan gelap pekat kebodohan, yang di liputi oleh anggapan baik dan buruk, mereka bahkan tak dapat melihat jalan yang membawa pada kelahiran yang bahagia. Apalagi melihat jalan menuju pembebasan dan penerangan.

Makhluk menyedihkan itu terus menerus mengalami penderitaan karena penderitaan, penderitaan karena perubahan dan penderitaan karena situasi kegiatan. Aku melihat bahwa semua makhluk, ibu-ibuku, menderita, tertelan oleh samudra samsara. Jika saya tidak menyelamatkan mereka, siapa yang akan menyelamatkannya? Jika aku tidak perduli pada mereka, aku sungguh memalukan, sungguh tiada yang lebih hina. Keinginanku untuk mempelajari Mahayana hanya sebatas omongan dan aku malu menunjukan mukaku dihadapan para Buddha dan Bodhisattva. Untuk itu, apapun yang terjadi, aku akan mengembangkan kecakapan untuk mengangkat semuanya, ibu-ibuku yang baik yang tak berdaya dari samudra samsara dan menempatkan mereka pada tingkat kebuddhaan. Pikirkan hal ini, dan bangkitkan dengan sangat kuat dan tulus resapilah.

Akhirnya, meditasi pada bodhicitta. Tanyalah pada dirimu sendiri bisa atau tidak menempatkan semua makhluk pada tingkat kebuddhaan, dan merenungkan, ‘Aku tidak tahu kemana aku akan pergi, bagaimana aku dapat menempatkan satu saja makhluk pada tingkat kebudhaan yang sempurna? Bahkan mereka yang telah berada pada tingkat Sravaka atau Pratykabuddha hanya akan membawa sedikit manfaat bagi makhluk lain, dan tak sanggup menempatkan makhluk lain pada tingkat kebuddhaan. Hanya tingkat kebuddhaan yang sempurnalah yang dapat membimbing pada tercapainya penerangan sempurna. Karenanya, bagaimanapun, aku akan mencapai tingkat kebuddhaan yang sempurna dan tiada taranya demi kebajikan semua makhluk. Guru dan Yidam berkatilah saya agar dapat melakukannya.’

(40)

Jika engkau telah membangkitkan bodhicitta, terdapat tak terhingga cara untk mempraktekan kegiatan sebagai bodhisattva. Singkatnya, dengan didasari oleh bodhicitta, dan berdasarkan motivasi yang murni serta alasan yang jelas, bangkitkan realisasi mendalam atas kedua sari kebenaran. Selanjutnya dalam hatimu kembangkanlah keenam paramita; dana, sila, kshanti, virya, dhyana dan prajna. Setelah engkau merasakan pengalaman dari hal itu dan sudah memperkuat keteguhan hatimu, laksanakan keenam paramita dalam setiap paramita ( misal, pemberian dana, sila dalam berdana, kesabaran dalam berdana, virya dalam dana, dhyana dana, prajna dalam dana dan seterusnya). Dengan cara ini seluruh makna dalam sutra-sutra Mahayana berikut upadeshanya tercakup dalam keenam paramita. Kegiatan para bodhisattva tak lain dari keenam paramita.

Seorang bodhisattva pertama-tama harus belajar untuk mengalahkan dirinya sendiri dengan melaksanakan keenam paramita. Kemudian demi kebajikan semua makhluk mereka mempraktekan empat cara mengumpulkan siswa. Karena keempat cara untuk mengumpulkan siswa tersebut diajarkan terpisah dari keenam paramita. Keempatnya adalah: memberikan pemberian kepada siswa, berbicara yang menyenangkan, berbuat demi kebajikan siswa dan bertindak sesuai dengan ajaran sendiri. Namun, keempatnya pada saat yang sama mencakup keenam paramita. Memberikan pemberian adalah termasuk dana paramita. Berbicara menyenangkan termasuk dharma dana. Kegiatan bagi kebajikan siswa dan diri sendiri berbuat sesuai ajaran sendiri termasuk sila berusaha demi kebajikan makhluk lain.

Sehingga putuskan, ‘Untuk dapat segera mencapai tingkat kebuddhaan yang sempurna demi kebajikan semua makhluk, aku akan melaksanakan ajaran bodhicitta, setelah membangkitkan bodhicitta yang ingin mencapai pencerahan untuk membebaskan semua makhluk dari dalam samsara dan menempatkan mereka pada tingkat kebuddhaan. Selanjutnya, bangkitkan bodhicitta yang benar-benar telah memasuki jalan ini, aku akan menjalankan kegiatan para bodhisattva, keenam paramita itu, dan keempat cara mengumpulkan siswa. Guru dan Yidam berkatilah saya agar dapat melakukannya.’

(41)

Pada saat meditasi yang sesungguhnya, bangkitkan bodhicitta dan ajaranya sekuat mungkin. Diantara jeda meditasi, setelah belajar menggabungkan kegiatan ketiga pintu – tubuh, ucapan dan pikiran – dengan bodhicitta, dengan jelas merenungkan maitri, karuna dan bodhicitta pada segala yang engkau lakukan. Bila semua kegiatan dilakukan dengan bodhicitta, bahkan meskipun itu hanya berupa pernyataan bodhicitta, apapun yang kau lakukan akan menjadi pengumpulan sempurna punya (kebajikan) dan prajna (kebijaksanaan). Pada masa lampau, raja Prasenajit bertanya kepada Hyang Buddha:

‘Aku berkeinginan mempraktekan ajaran Mahayana tapi tanpa meninggalkan tugas kerajaanku. Tetapi karena tugasku banyak sekali, aku tak dapat sesaat pun mempraktekan kebajikan. Apakah yang harus aku lakukan? Hyang Buddha menjawab, ‘Karena engkau banyak kuwajiban, dan tidak dapat berkonsentrasi dalam melakukan kebajikan, bangkitkan bodhicitta dalam apapun yang engkau lakukan. Jika engkau menjalankan seluruh kegiatanmu dengan didasari oleh bodhicitta, bukan saja tugas kerajaanmu tak akan terbengkalai, tetapi juga apapun yang engkau lakukan akan membawa pada Kebuddhaan yang sempurna.’

Saat tubuh sakit dan keenggaanan mental muncul, bermeditasilah pada mengambil dan memberi, Berpikirlah, ‘Semoga tubuh sakit dan keengganan mental dari semua makhluk, yang banyaknya memenuhi angkasa, menjadi penderitaanku sendiri.’

Ketika kegembiraan dan keberuntungan muncul, bermeditasilah pada memberi dan mengambil. Berpikirlah, ‘aku memberikan kegembiraan dan keberuntungan ku kepada semua makhluk.’

Pada saat makan, bangkitkan bodhicitta. Berpikirlah, ‘Aku makan makanan ini untuk memelihara tubuhku demi kebajikan semua makhluk. Didalam tubuhku terdapat delapan puluh empat ribu kehidupan. Aku mengumpulkan mereka sekarang dengan memberinya makanan; dimasa nanti aku akan mengumpulkan

(42)

mereka dan memberikan dharma. Tidak kalah oleh makan dan minum yang tanpa tujuan, aku akan memadukan apa yang kulakukan dengan bodhicitta.’

Pada waktu tidur, berpikirlah, ‘Aku memelihara tubuhku ini demi kebajikan semua makhluk. Apapun yang terdapat dalam tubuhku yang terisi oleh tidur, dengan tidur aku akan mengisi dan memelihara.’ Tidurlah dengan tingkat pengharapan bodhicitta sedemikian.’

Pada saat membersihkan kamarmu bangkitkan bodhicitta, dengan berpikir, ‘Aku membersihkan debu karma dan noda tanha semua makhluk.’

Pada waktu mandi atau mencuci tanganmu, bangkitkan bodhicitta, dengan berpikir, ‘Aku membersihkan noda tanha semua makhluk.’

Ketika membuka pintu, bangkitkan bodhicitta, dengan berpikir, ‘Aku membuka pintu kebebasan bagi semua makhluk, mengangkat mereka dari alam kehidupan rendah menuju tingkat kebuddhaan yang sempurna.’

Saat mempersembahkan pelita pada pemberi perlindungan, bangkitkan bodhicitta, dengan berpikir, ‘Aku akan menghalau awan gelap kebodohan dari semua makhluk seluas angkasa.’

Dari contoh-contoh tersebut cobalah padukan dengan kegiatan apapun yang engkau lakukan, semua kegiatan tubuh, ucapan dan pikiran, dengan bodhicitta. Bacalah secara mendetil sutra-sutra Mahayana dan belajarlah dari ucapan-ucapan para guru parampara, karena ajaran tentang bodhicitta sungguh tiada terbatas, tiada terhingga, luas laksana angkasa.

Naskah utama menyatakan meditasi pada bodhicitta sebagai berikut:

Penolakan samsara tanpa bodhicitta

Tidak akan membawa kebahagiaan sempurna Tingkat kebuddhaan yang tiada taranya;

(43)

Hanyut oleh keempat sungai yang deras,

Terikat oleh belenggu karma, sangat sulit untuk dilepaskan Terjerat dalam jaring besi keakuan,

Dan terselubung oleh awan gelap kebodohan,(8)

Lahir dan terlahir kembali dalam samsara yang tiada batas Tiada akhir didera oleh ketiga

penderitaan-Semua makhluk, ibu-ibumu, berada dalam situasi ini; Renungkan hal ini dan bangkitkan bodhicitta.(9)

(44)

5. Aspek ketiga dasar sang jalan adalah

mengembangkan pandangan benar

Meditasi pada pandangan benar mencakup cara bagaimana memastikan tiadanya aku dalam diri dan tiadanya kesejatian dalam segala keberadaan.

Untuk melakukan hal ini, seseorang harus menganalisa egonya dengan menggunakan keeampat kunci, yang dinayatakan dalam berbagai sutra. Terdapat tak terbilang cara untuk menalar bagaimana seseorang dapat memastikan tiadanya aku dalam diri. Sehingga jika seseorang menggunakan keempat kunci sebagai landasan, pemahaman akan muncul dengan mudah.

Tentang tiadanya aku dalam diri, perhatikan hal ini: bahkan hingga dalam mimpipun kita tetap berpegang dengan sangat erat pada perasaan adanya ‘aku’ dalam hati. Inilah kesadaran yang keliru dalam memandang keberadaan ego yang terselubung. Sebagai misal; jika seseorang menuduhmu, ‘Engkau telah melakukan perbuatan tercela ini atau itu,’ yang sebenarnya tidak engkau lakukan, engkau akan merasa, ‘Ia telah menuduhku sembarangan, aku tidak melakukan apapun.’ Pada saat itu perasaan ‘aku’ muncul dengan sangat kuat. Dengan demikian jelaslah bahwa ego menganggap aku sebagai obyeknya. Pada saat

(45)

itulah engkau harus melakukan analisa terhadap bagian terhalus pikiran mu apakah sebenarnya ‘aku’ itu dan bagaimana ia muncul.

Pada saat melakukan analisa terhadap ego, jika analisa mental menjadi sangat kuat, ego menjadi tidak muncul lagi, dan tak ada yang bisa dianalisa. Jika hal ini yang terjadi, bawalah pikiran yang telah teresapi ‘aku’ dan kembali lakukan analisa terhadapnya menggunakan pikiran halusmu.

Jika engkau sudah mengidentifikasi adanya ego, engkau dapat memanfaatkan kunci yang pertama dari keempat kunci. Yaitu kunci untuk mengenali bagaimana kita bereaksi terhadap obyek yang dimaksud, ‘aku’ yang sejak awal mula tak pernah berubah dan berdiri sendiri, dan tidak termasuk dalam kelima skandha yang merupakan keseluruhan tubuh serta pikiran. Kita tidak merasa jika ‘aku’ ini keberadaannya sama sekali terpisah dari panca skandha, tubuh dan pikiran. Kita tidak juga merasa bahwa keberadaannya hanya sebatas mental atau tubuh saja atau juga di salah satu dari kelima skandha.

‘Aku’ yang diyakini dengan cara ini dengan ego merupakan obyek untuk diatasi. Kenalilah hal ini apa adanya dalam dirimu, jangan cuma sekedar ucapan atau berdasarkan pemahaman orang lain.

Kunci yang kedua adalah membuka kemungkinan memperluas jangkauan logika. Jika kita menganggap ‘aku’ bersama dengan panca skandha, ia seharusnya setidaknya sama atau berbeda dengan kelima sekandha itu. Ia harus ada disalah satu dari dua hal tersebut. Karena seperti itu adanya, maka tak ada cara ketiga bagi kemunculanya. Dua kunci yang terakhir adalah penerapan dari logika ini.

Kunci ketiga adalah memahami bahwa disana akan ditemukan tiadanya keberadaan yang sama. Menganggap ‘aku’ sama dengan panca skandha, seperti halnya orang yang memiliki panca skandha, ‘aku’ juga harus mempunyai lima macam kesadaran. Atau dengan kata lain, karena ‘aku’ sebagai tunggal, kelima skandha berarti menjadi sesuatu yang terpisah sama sekali. Terdapat banyak

(46)

pemikiran yang salah. Untuk itu pikirkanlah bahwa ‘aku’ adalah tidak menyatu dengan kelima skandha.

Kunci keempat adalah memahami tiadanya kebenaran keberadaan yang berbeda-beda. Karena ‘aku’ yang demikian tidak menyatu dengan nama dan rupa; sehingga mungkin engkau berpikir bahwa ia berbeda dengan kelima skandha. Setelah menelaah setiap skandha, rupa dan seterusnya, vinyana misalnya dapat ditelaah secara terpisah, ‘Inilah vinyana skandha.’

Demikian pula setelah menelaah keseluruhan skandha, ‘aku’ harus di indentifikasi secara terpisah, ‘Inilah ‘Aku’. Namun demikian kenyataanya tidak demikian adanya. Karenanya berpikirlah bahwa ‘aku’ tidak muncul terpisah dari kelima skandha.

Berdiamlah dalam perenungan keempat kunci tersebut hingga dapat memastikan bahwa ‘aku’ sesungguhnya dibentuk oleh anggapan keberadaan ‘aku’ yang tidak nyata. Kelanjutan atas kenyataan ini harus diteruskan pada meditasi samatha yang mantap, tanpa merasa malas dan enggan. Bilamana kesimpulan ini melemah, pemula harus kembali lagi menggunakan analisa berdasarkan keempat kunci tersebut – harus mengembangkan lagi kenyataan tiadanya keberadaan ‘aku’. Mereka yang memiliki kecerdasan (telah dengan jelas memastikan bahwa sikap yang menganggap adanya ‘aku’ muncul sesungguhnya tidak ada). Dengan bersandar pada analisa yang telah dilakukan apakah ‘aku’ sama dengan yang di pahami oleh kesadaran sebagai ‘aku’ yang benar-benar eksis atau tidak, ia harus mengembangkan dengan pasti ketidak nyataan ( adanya ‘aku’ yang ada dengan sendirinya) dengan cara yang sama dengan analisa menggunakan keempat kunci.

Pada saat faktor yang menentukan tiadanya kebenaran keberadaan ‘aku’, disana terdapat cara pandang yang harus engkau pahami. Dari sudut pandang realisasi, yaitu pemahaman mendalam tentang tiadanya keberadaan segala sesuatu; dan dari sudut pandang persepsi, disana terdapat sunyata murni yang merupakan bukti ketiadaan keberadaan ‘aku’, obyek yang harus diatasi. Jika engkau telah meraih kedua aspek itu dalam meditasi samathamu, engkau telah

(47)

melaksanakan samadi seluas angkasa; menyusul selanjutnya, setelah tercapainya realisasi, bermeditasilah bahwa ‘aku’ serta segala sesuatu, semata-mata hanya sebagai wujud yang berbeda-beda. Selanjutnya, sebagai selingan meditasi laksana angkasa, perkuatlah realisasimu terhadap tiadanya keberadaan segala sesuatu yang sudah engkau capai. Berdasarkan hal itu, setelah pencapaian itu, cobalah untuk melihat apapapun yang tampak olehmu sebagai bukan keberadaan yang sebenarnya, meskipun terlihat nyata olehmu. Anggaplah segala sesuatu tidak nyata adanya, wujut yang berbeda-beda bagaikan ilusi yang diciptakan oleh seorang pesulap.

Bermeditasilah pada tiadanya keberadaan segala sesuatu melalui dua bagian. Orang harus yakin bahwa apapun yang terbentuk dan tidak terbentuk tidak memiliki kenyataan keberadaan. Ambilah contoh tubuhmu sendiri sebagai sesuatu yang terbentuk. Kita merasa yakin sekali bahwa ‘tubuhku’ ada dengan sendirinya dan bukan sesuatu yang tersusun. ‘Tubuh’ ini adalah obyek yang akan digunakan dalam meditasi, karena tubuh tidak lain hanyalah perpaduan dari kelima unsur yang membentuk tulang, daging dan cairan.

Argumen digunakan untuk menemukan kebenaran akan keberadaan ‘tubuh’, sama seperti bagaimana cara kita saat mengunakan ‘aku’ sebagai obyeknya. ‘Tubuh’ yang dianggap nyata keberadaanya semestinya sama atau berbeda dari kelima indria yang terbentuk dari tulang, daging dan cairan. Menganggapnya sama: tubuh berkembang dari sperma ayah dan ovum ibu, yang muncul secara bersamaan, menjadi landasan bagi masuknya sebuah kesadaran. Jika keberadaan susungguhnya dari ‘tubuh’ dianggap nyata sama dengan perpaduan dari kelima indria, maka seharusnya keberadaan tubuh tidak berubah, sebab berasal dari sperma dan ovum, sejak dari masa jati, perpaduan kelima indria. Inilah kekeliruan yang jelas.

Menganggap keberadaan ‘tubuh’ apakah sebagai nyata, atau sebagai sesuatu yang berbeda dengan kelima indria, dalam kasus ini, engkau harus dapat menunjukan, ‘inilah tubuh,’ setelah memisahkanya dari kelima indria. Bisa atau tidak.

(48)

Sehingga, karena kebenaran keberadaan ‘tubuh’ tidak sama dengan keberadaan kelima indria, maka memastikan dan membuktikan bahwa keberadaan ‘tubuh’ benar-benar tidak ada.

Aspek yang kedua dalam meditasi tiadanya diri, segala sesuatu menjadi pasti bahwa yang tidak terbentuk tidak memiliki kebenaran keberadaan. Contohnya angkasa. Karena angkasa memiliki banyak penjuru, amatilah angkasa sama atau berbeda dengan penjuru tersebut. Akan didapati dan dipastikan bahwa sebuah kenyataan yang jelas bahwa keberadaanya tidak ada. Lakukan meditasi seperti sebelumnya.

Meditasi samatha akan menopang pemahaman yang telah diperoleh bahwa, bahkan sebesar atom sekalipun dalam samsara maupun nirvana – ego, skandha, gunung, rumah, tenda, dan sebagainya keberadaanya dari dan bukan dari dirinya sendiri. Pahamilah semua hal itu sebenarnya hanya karena adanya sebab. Inilah yang di sebut sebagai yoga samadhi laksana angkasa.

Berikutnya, setelah tercapainya pemahaman bahwa segala anggapan merupakan kekeliruan, bukan keberadaan yang sesungguhnya, dimana segala sesuatu kemunculanya bergantung pada adanya sebab serta situasi. Inilah yoga samadhi hayalan.

Jika dengan bersandar pada kedua yoga tersebut, meditasi samatha dipadukan dengan kebahagiaan praktek mental dan fisik dengan baik, yang berasal dari kekuatan analisa, seseorang telah mencapai pandangan benar secara terus menerus.

Berkaitan dengan meditasi pandangan benar tersebut naskah utama berbunyi:

Orang yang telah melihat tak terpisahkanya sebab dan akibat Dari segala sesuatu dalam samsara dan nirvana,

Dan menghancurkan segala anggapan salah,

(49)

Perwujutan tak dapat dipisahkan dari sebab akibat yang saling bergantungan;

Sunyata bebas dari segala anggapan.

Selama kedua pandangan tersebut masih dipandang terpisah, Seseorang belum mencapai Kebuddhaan.(11)

Jika kedua relaisasi tersebut tercapai secara simultan atau bersamaan, Dari kenyataan kebenaran sebab akibat yang tak tak mungkin salah Munculah suatu pengetahuan yang menghancurkan secara menyeluruh segala anggapan mental.

Pada saat itu pengamatan terhadap kebijaksanaan telah selesai.(12) Perwujutan menghalau anggapan ekstrim akan keberadaan (absolut); Sunyata menghalau pandangan akstrim ketiadaan (nihilisme).

Bila engkau memahami timbulnya sebab akibat dari sudut pandang sunyata,

Engkau tak akan terpengaruh oleh kedua pandangan ekstrim tersebut.(13)

(50)

6. Penutup

Bagian akhir dari meditasi ini adalah pelimpahan kebajikan. Setelah mencapai pemahaman ‘Tiga Dasar Sang Jalan’ melalui meditasi samatha dan vipashana, engkau harus mengakhiri praktek ini dengan mengucapakan:

‘Aku bersujud, memuja, dan berlindung dikaki Guru, yang tiada lain Arya Manjushri sendiri.’

Karena engkau telah mengucapkan doa ini dengan sepenuh hati kepada Guru serta Istadevata, dan mengulang-ngulangnya berkali-kali, bumi kebajikan yang tak terbatas tersebut melebur kedalam diri Jey Tsongkhapa dan Manjushri yang duduk ditengah-tengah bumi suci kebajikan tersebut. Karena Jey Tsongkhapa bersama Arya Manjushri, melebur kedalam dirimu, yang melaksanakan meditasi ini, segala noda dan cela tubuh, juga segala kilesha dan dosa-dosa dalam pikiran dimurnikan, kini engkau sendiri ditransformasikan menjadi Arya Manjushri sendiri. Sinar memancar dari tubuhmu. Menjangkau seluruh makhluk hidup diseluruh semesta dan menetapkan mereka dalam tingkat Arya Manjushri. Segala sesuatu disekelilingmu juga murni adanya; rasakan dengan kuat bahwa sekelilingmu telah menjadi istana kristal murni surgawi. Untuk meningkatkan kecakapanmu bahwa semua makhluk dan semua obyek

(51)

sempurna dimurnikan. Selanjutnya tempatkan tulisan mantra di hatimu dan juga dihati semua makhluk. Lafalkan berulang kali sedapat mungkin, ‘Om Ah Ra Pa Tsa Na Dhi,’ (dengan pada akhir pelafalan tersebut ucapkan Dhi, dhi, dhi, dhi, dhi, ……hingga engkau kembali menarik nafas.)

Untuk melimpahkan kebajikan ucapkan kalimat ini: Berdasarkan kebajikan ini

Semoga saya segera menjadi Arya Manjushri, Dan menetapkan semua makhluk tanpa terkecuali, Pada tingkatnya yang tinggi.

Aku melimpahkan perbuatan putihku yang murni yang telah aku lakukan Semoga saya menjunjung tinggi ajaran Dharma dan memahaminya, Serta mencapai segala tujuan pranidhana dan kegiatan

Dari para Buddha dan para Bodhisattva dari ketiga masa. Berdasarkan kekuatan kebajikan ini,

Semoga saya dalam semua kehidupan tak terpisahkan dari keempat lingkaran Mahayana.

Semoga saya memenuhi jalan penolakan samsara,

Bodhicitta dan pandangan benar, juga kedua tahap dalam Vajrayana. ‘Aku akan mengikuti Guruku sebagaimana seorang anak mengikuti ayahnya, berusaha mencapai sari ‘Tiga Dasar Sang Jalan’, kunci yang mencakup sari pati dari keseluruhan ajaran Hyang Buddha.’

Naskah utama berbunyi:

Pada saat engkau memahami makna sejati Dari ketiga dasar sang jalan

Berdiamlah dipengasingan dan berusaha keras Sehingga dapat segera mencapai tujuan, anakku!(14)

(52)

Jey Tsongkhapa yang memiliki belas kasih agung memberikan ajaran ini kepada kita, para penganutnya.

Bila pikiranmu telah dengan baik dapat mempraktekan jalan biasa Mahayana, masukilah jalan Vajrayana, jalan tertinggi dimana tingkat Kebuddhaan akan dapat dicapai tidak harus selama tiga mahakalpa, namun hanya dalam satu kelahiran di masa kemerosotan ini. Setelah menyenangkan hati seorang Guru Vajrayana melalui tiga cara, engkau akan mencapai kematangan pada saat abhiseka.

Jagalah dengan lebih seksama melebihi menjaga hidupmu sendiri samaya dan sila yang diangkat pada saat itu. Temukan kunci dari tercapainya relaisasi kedua tahap Vajrayana, karena maknanya yang sangat dalam merupakan sari dari samudra tantra. Jika engkau telah mencapai realisasi itu dengan tanpa kekeliruan, berusahalah dalam keempat masa yoga. Tiada praktek yang lebih tinggi dari mempelajari jalan sutra maupun tantra secara menyeluruh. Demikianlah kunci akhir ajaran yang muncul dari lubuk hati yang terdalam Jey Tsongkhapa. Jey Tsongkhapa sendiri telah menyatakan didalam Untaian Pengalaman:

Setelah membuat jalan biasa yang diperlukan di jalan Mahayana, Baik sutrayana – jalan sebab – dan Mantrayana – jalan hasil – Bersandar pada seorang pelindung, pemandu yang cakap, Dan masukilah samudra agung tantra.

Selanjutnya, dengan berpegang pada ajaran yang sempurna dan menyeluruh, Manfaatkan dengan baik hidup yang bebas dan menguntungkan ini. Aku, sebagai seorang yogi melakukan hal yang demikian;

Engkau wahai yang menginginkan pembebasan, lakukanlah hal yang sama! Alamilah sendiri semua ini, dengan bersandar pada seorang Guru Suci dalam pikiran dan perbuatan, segala bentuk praktek hingga mempelajari kedua tahap terdalam sang jalan. Setiap hari lakukan praktek ini dalam keempat tahap yoga, atau setidak-tidaknya sekali.

(53)

Jika engkau melaksanakanya dengan cara ini, engkau telah memanfaatkan hidupmu yang memiliki kebebasan dan keberuntungan dengan baik. Engkau juga akan dapat merasakan baik bagi dirimu sendiri maupun bagi makhluk lain betapa berharganya ajaran Hyang Buddha.

(54)
(55)

Referensi

Dokumen terkait

Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder dengan sumber data berupa laporan anggaran pendapatan dan anggaran biaya operasional serta return

Cara kerja Beauty Magic Stick adalah elektron yang bebas terikat bersama dengan kelembaban kulit sehingga menjadi ion negatif, dan diserap kedalam kulit, peredaran darah

Dihadapan saodara tersajikan sirup buah kersen, kesediaan sodara diminta untuk memberikan penilaan terhadap kekentalan sirup buah kersen, sesuwai dengan

Perencanaan sistem pembuangan limbah pada bangunan gedung bertingkat dimulai dengan pembuatan sistem pengelolahan sisa limbah yang umumnya berasal dari pembuangan dari WC

menjadi hal yang penting untuk diperhatikan sebagai upaya mempercepat kesembuhan pasien, sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait

Media pembelajaran dapat diaplikasikan ke dalam suatu proses pembelajaran yang dapat membantu penyajian materi yang disampaikan oleh guru lebih jelas dan mudah dipahami,

Surat Setoran BPHTB merupakan surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melakukan pembayaran atau penyetoran pajak yang terutang ke Bank yang ditetapkan oleh

Dari uraian yang telah dijabarkan, maka persoalan atau pertanyaan yang ingin dipecahkan dalam penelitian ini adalah bagaimana profil kemiskinan di Kabupaten Kebumen dan bagaimana