• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN, PEMBAHASAN, DAN EVALUASI. A. Orientasi Kancah Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN, PEMBAHASAN, DAN EVALUASI. A. Orientasi Kancah Penelitian"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN, PEMBAHASAN, DAN EVALUASI

A. Orientasi Kancah Penelitian 1. Orientasi Kancah

Salah satu tahap yang harus dilalui sebelum penelitian dilaksanakan adalah perlunya memahami kancah atau tempat penelitian. Pelaksanaan penelitian dilakukan di Lembaga Keuangan “X” di Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan terhadap karyawan lembaga keuangan “X”. Lembaga keuangan “X” ini merupakan lembaga keuangan syariah yang mengutamakan pelayanan kepada masyarakat kecil. Visi dari lembaga “X” ini adalah ”Menjadi lembaga keuangan mikro syariah utama, terbaik dan terpercaya”. Misi lembaga “X” adalah : (1) membantu dan memudahkan masyarakat mengembangkan kegiatan ekonomi produktifnya, (2) mendidik masyarakat untuk jujur, bertanggung jawab, profesional dan bermartabat, (3) menjaga kesucian umat dari praktek riba yang menindas dan dilarang agama, (4) membangun dan mengembangkan sistem ekonomi yang adil, sehat dan sesuai syariah, serta (5) menciptakan sistem kerja yang efisien dan inovatif.

Selanjutnya, lembaga “X” sebagai lembaga keuangan syari’ah dalam usahanya bertindak selaku lembaga komersial yang dijalankan secara syariah, hal ini kami lakukan agar dapat bertindak dan menjalankan usaha secara profesional. Saat ini kegiatan-kegiatan seperti Amil (sosial) dilakukan dalam manajemen yang sama dengan Tamaddun (Baitul Maal “X”). Produk yang dikembangkan selalu

(2)

disesuaikan dengan keadaan dan permintaan anggota/pasar. Produk ini mengalami perkembangan dari tahun ke tahun, dan selalu kami usahakan untuk dapat memenuhi aturan syari’ah.

2. Perencanaan Penelitian

Persiapan yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini adalah persiapan administrasi, persiapan alat ukur, persiapan modul intervensi, seleksi fasilitator dan observer, serta seleksi responden pelatihan. Berikut ini adalah rincian masing-masing persiapan yang dilakukan oleh peneliti.

a. Persiapan Administrasi

Peneliti mengawali penelitiannya dengan membuat surat ijin penelitian dari Program Magister Profesi Psikologi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Dalam hal ini, peneliti membuat satu pengantar yang ditujukan kepada Pimpinan Lembaga Keuangan “X” di Yogyakata. Prosedur yang dilakukan peneliti adalah membuat janji terlebih dahulu kepada Manager Penelitian dan Pengembangan Lembaga Keuangan “X” di Yogyakarta. Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan mengenai penelitian tesis, serta memberikan surat ijin penelitian. Setelah selesai melakukan diskusi dengan Manager Litbang, selanjutnya peneliti diminta untuk menemui Manager SDI untuk menjelaskan proses pelatihan yang akan dilakukan secara detail.

b. Persiapan Alat Ukur

Alat ukur yang digunaan dalam penelitian ini adalah skala stres kerja dari Robbins (2002). Skala disusun oleh peneliti berdasarkan aspek pada stres kerja

(3)

yaitu aspek fisiologis, psikologis, dan perilaku. Setelah itu, peneliti menyerahkan skala yang telah disusun kepada professional judgment sebagai upaya menjaga validitas alat ukur. Terdapat beberapa saran perbaikan dari professional judment terkait alat ukur, seperti penggunaan bahasa, bentuk penyajian aitem-aitem skala, serta alternatif pilihan jawaban. Berdasarkan saran tersebut maka peneliti kembali melakukan perbaikan dalam hal bahasa, memodifikasi aitem yang semula berbentuk pernyataan menjadi pertanyaan, serta menambahkan alternatif jawaban yang semula ada empat menjadi tujuh alternatif pilihan jawaban. Setelah itu, maka kemudian diberi persetujuan bahwa skala telah layak diuji coba.

Sebelum suatu alat ukur digunakan untuk pengambilan data penelitian, alat ukur tersebut harus melalui tahapan ujicoba (tryout) terlebih dahulu untuk mengetahuivaliditas sertareliabilitasnya. Berdasarkan hasil ujicoba skala stres kerja kepada 40 karyawan, didapatkan 15 aitem valid dan 3 aitem gugur yaitu a6, a12 dan a14 karena nilai batas kritis < 0,30.Sedangkan nilai korelasi antar aitem berkisar 0,306 sampai 0,678 dengan koefisien alpha sebesar 0,822. Tabel 2

Distribusi Aitem Skala Stres Kerja Setelah Ujicoba

No Aspek Butir Favourable Jumlah

1 Aspek fisiologis 1, 4, 7 (6), 10 (9), 13 (11), 16 (13) 6

2 Aspek psikologis 2, 5, 8 (7), 11 (10), 14, 17 (14) 5

3 Aspek perilaku 3, 6, 9 (8), 12, 15 (12), 18 (15) 4

15 15

Catatan: angka di dalam kurung ( ) adalah nomor urut butir baru c. Penyusunan dan Uji Coba Modul

Sebelum modul pelatihan kebersyukuran digunakan sebagai intervensi, modul pelatihan ini terlebih dahulu diujikelayakan oleh praktisi yang memiliki

(4)

latar belakang psikologi. Modul ini diuji kelayakannya oleh dua orang ahli yaitu : (a) Ike Agustina, S.Psi., M.Psi., Psikolog, merupakan seorang dosen psikologi sekaligus psikolog serta sering berperan sebagai trainer dalam bidang industri dan organisasi; (b) Annisaa Miranty., S.Psi., M.Psi, Psikolog, merupakan seorang dosen psikologi bidang industri dan organisasi. Masing-masing penilai telah memberikan masukan atau saran perbaikan terhadap modul pelatihan yang akan digunakan oleh peneliti. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa tiap sesi yang akan disampaikan telah sesuai dengan tujuan pelatihan, baik metode, materi maupun tugas-tugas peserta. Sehingga saat pelaksanaan pelatihan tidak terdapat kekurangan dan harapan dari pelatihan itu sendiri dapat tercapai. Selanjutnya, peneliti membahas isi modul pelatihan kepada pemateri yang akan menangani pelatihan agar diperoleh pemahaman yang sama tentang tujuan dari pelatihan kebersyukuran bagi peserta.Berikut ini adalah jadwal dan tahapan-tahapan dalam pelatihan kebersyukuran :

Tabel 3. Jadwal dan Tahapan Pelatihan Kebersyukuran Pertemuan Pertama

Sesi Durasi Kegiatan Tujuan Metode

1 15 Perkenalan dan

prosedur pelatihan Mengetahui tujuan pelatihan, gambaran pelatihan serta antar peserta dan fasilitator saling mengenal

Ceramah

15 Harapan pelatihan Mengetahui harapan peserta dalam pelatihan

Sharing, mengisi LK

15 Kontrak Pelatihan Menumbuhkan komitmen peserta dalam mengikuti proses pelatihan Diskusi 2. 30 Mengenal Syukur Mengetahui apa itu syukur, dua

jenis nikmat dalam syukur, tiga

Sharing, ceramah,

(5)

pangkal syukur, serta mampu mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan mereka.

diskusi, mengisi LK

60 Syukur dengan lisan

Mengenal berbagai nikmat yang diperoleh, mengakui Allah dalam nikmat tersebut

Sharing, ceramah, diskusi, mengisi LK 10 Review materi dan

menutup pertemuan hari pertama

Mengingatkan kembali materi yang telah dijelaskan, serta menutup sesi pertama

Tanya jawab Ceramah Pertemuan Kedua

1. 10 Pembukaan dan Ice breaking

Membuka kegiatan pelatihan pertemuan kedua dan menyiapkan peserta.

Games

15 Review Materi Mengingatkan kembali materi-materi syukur dengan hati dan makna syukur.

Tanya Jawab

60 Syukur dengan lisan

Memberi informasi kepada peserta bahwa bersyukur dilakukan dengan cara ucapan (memberikan pujian). Sharing, ceramah, diskusi, mengisi LK Tanya jawab Ceramah 60 Syukur dengan perbuatan

Mengetahui nikmat yang diperoleh sebagai wujud rasa syukur kepada Allah yaitu dengan cara menggunakan nikmat tersebut untuk melakukan kebaikan Sharing, ceramah, diskusi, mengisi LK Tanya jawab Ceramah 15 Review materi Mengingatkan kembali materi

sebelumnya

Tanya jawab ceramah 20 Evaluasi dan

Penutupan

Mengevaluasi proses pelatihan dan memperoleh feedback dari perserta pelatihan. Membagikan doorprize pada peserta yang terlibat aktif selama pelatihan berlangsung. Mengisi lembar evaluasi, berbagi doorprize

(6)

d. Menentukan Fasilitator dan Observer

Fasilitator dalam pelatihan ini adalah Muhammad Hidayat M.Psi., Psikolog, yang telah memiliki pengalaman memadai menjadi fasilitator pelatihan, praktisi Psikologi Industri dan Organisasi, juga memenuhi kualifikasi yang disyaratkan untuk menjadi fasilitator dalam pelatihan ini. Observer yang terlibat dalam pelatihan ini adalah dua orang mahasiswi akhir dan dua alumni Magister Profesi Psikologi dan yang berkompeten untuk menjadi observer dalam pelatihan.

e. Seleksi Responden Pelatihan

Partisipan yang ikut serta dalam penelitian ini dipilih secara non-random dengan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan sampel penelitian berdasarkan kriteria tertentu. Partisipan yang terlibat dalam penelitian ini berjumlah 40 orang, baik laki-laki maupun perempuan, dan berasal dari berbagai bagian yang berbeda-beda serta yang bekerja berhadapan dengan nasabah. Partisipan diberikan skala stres kerja 3 hari sebelum perlakuan diberikan, yang kemudian peneliti memilih partisipan dengan skor skala stres kerja yang berada dalam kategori sedang dan tinggi. Kemudian partisipan yang terlibat dalam penelitian selanjutnya dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

3. Identifikasi Permasalahan

Tahap selanjutnya adalah peneliti meminta izin untuk melakukan asesmen awal yeng bertujuan untuk mencari informasi mengenai permasalahan yang

(7)

sedang dihadapi oleh pihak Lembaga Keuangan “X” di Yogyakarta. Asesmen awal dilakukan dengan menggunakan metode wawancara. Peneliti secara berkala melakukan komunikasi kepada pihak Manajer SDI yang mengetahui tentang informasi terbaru mengenai kondisi dan perilaku karyawan

B. Pelaksanaan Penelitian 1. Pelaksanaan Prates

Prates merupakan pengambilan data awal atau pemberian skala kepada subjek sebelum mendapat perlakuan berupa pelatihan kebersyukuran. Langkah ini bertujuan untuk mengetahui tingkat stres awal dari subjek, yang kemudian hasil tersebut digunakan untuk membagi subjek ke dalam dua kelompok, baik kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Pemberian skala stres kerja pada kedua kelompok dilakukan dalam satu waktu, yaitu tanggal 20 Juni 2016 di tujuh cabang kantor lembaga keuangan “X”. Subjek yang diberikan skala stres kerja berjumlah 20 pegawai. Selanjutnya peneliti menghitung skala yang telah dijawab oleh subjek untuk kemudian dikelompokkan ke dalam lima kategori. Tabel 4. Rumus kategorisasi

No Dimensi Perhitungan

1 Jumlah aitem = 15 aitem

2 Xmax = 7 3 Xmin = 1 4 Mean = (15 x 7) + (15 x 1) 2 = ( 105 ) + ( 15 ) 2 = 60 5 Standard deviation = (15 x 7) - (15 x 1) 6 = ( 105 ) - ( 15 ) 6 = 15

(8)

Tabel 5. Pengkategorian stres kerja karyawan No Kategori Perhitungan 1 Sangat Rendah = X < 60 - (1.8 x 15) = X < 60 - 27 = X < 33 2 Rendah = 60 - (1.8 x 15) ≤ X < 60 - (0.6 x 15) = 60 - 27 ≤ X < 60 - 9 = 33 ≤ X < 51 3 Sedang = 60 - (0.6 x 15) ≤ X < 60 + (0.6 x 15) = 60 - 9 ≤ X < 60 + 9 = 51 ≤ X < 69 4 Tinggi = 60 + (0.6 x 15) ≤ X < 60 + (1.8 x 15) = 60 + 9 ≤ X < 60 + 27 = 69 ≤ X < 87 5 Sangat Tinggi = X ≥ 60 + (1.8 x 15) = X ≥ 60 + 27 = X ≥ 87

Tabel 6. Deskripsi Kategori Subjek Berdasarkan Hasil Prates Stres Kerja

Kategori Norma nEksperimen Kontrol Prosentasi n Prosentasi

Sangat Tinggi X ≥ 87 0 0.00% 0 0.00% Tinggi 69 ≤ X < 87 1 10.00% 1 10.00% Sedang 51 ≤ X < 69 7 70.00% 6 60.00% Rendah 33 ≤ X < 51 0 0.00% 3 30.00% Sangat Rendah X < 33 0 0.00% 0 0.00% 2. Pelaksanaan Pelatihan

Pelatihan kebersyukuran dilaksanakan selama dua pertemuan di ruang rapat lembaga keuangan X pada tanggal 23 & 24 Juni 2016. Setiap pertemuan dimulai pukul 14.00 WIB dan selesai sebelum masuk waktu berbuka puasa. Ini menyesuaikan ritme kerja yang ada di lembaga keuangan X agar peserta tetap dapat menjalankan pekerjaannya. Peserta yang mengikuti pelatihan merupakan subjek yang termasuk dalam kelompok eksperimen yakni berjumlah 10 orang. Namun, pada saat proses analisis data, hanya 8 orang subjek saja yang dianalisis karena terdapat dua subjek yang tidak sesuai dengan kategori pengambilan sampel. Hal ini dikarenakan pada hari pertama pelatihan, terdapat dua orang

(9)

subjek pelatihan yang tidak bisa hadir, sehingga dua orang subjek yang tidak bisa hadir digantikan oleh dua subjek lainnya. Pelatihan yang berlangsung di hari pertama terdiri dari tiga sesi yaitu sesi perkenalan, makna syukur, dan syukur dengan hati, sedangkan di hari kedua peserta juga melalui tiga sesi di antaranya syukur dengan lisan, syukur dengan perbuatan serta evaluasi dan penutupan pelatihan. Di sesi terakhir tersebut pemateri mereview kembali hal-hal yang telah dilalui oleh peserta selama dua hari pelatihan dan juga meminta peserta untuk mengisi lembar evaluasi sebagai sumber informasi bagi peneliti mengenai aspek-aspek mana saja yang memberi dampak positif ataupun yang perlu untuk diperbaiki agar pelatihan ke depannya dapat lebih baik lagi dalam pelaksanaannya. Secara keseluruhan, pelaksanaan dari pelatihan kebersyukuran berjalan dengan lancar tanpa adanya kekurangan ataupun kendala teknis yang berarti selama pelatihan berlangsung.

3. Pelaksanaan Pascates

Pengambilan data berikutnya yaitu pascates, atau pengukuran lanjutan yang dilakukan setelah diadakannya pelatihan kebersyukuran. Pengukuran ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya penurunan stres kerja pada kelompok eksperimen pasca menjalani pelatihan. Pascates dilakukan pada tanggal 27 Juni 2016 kepada kedua kelompok, dengan meminta subjek mengisi kembali skala yang sama ketika pengukuran awal yaitu skala stres kerja.

(10)

Tabel 7. Deskripsi Kategori Subjek Berdasarkan Hasil Pascates Stres Kerja

Kategori Norma nEksperimen Kontrol Prosentasi n Prosentasi

Sangat Tinggi X ≥ 87 0 0.00% 0 0.00% Tinggi 69 ≤ X < 87 0 0.00% 0 0.00% Sedang 51 ≤ X < 69 5 50.00% 7 70.00% Rendah 33 ≤ X < 51 3 30.00% 3 30.00% Sangat Rendah X < 33 0 0.00% 0 0.00% 4. Pelaksanaan Lanjutan

Pelaksanaan lanjutan dilakukan pada tanggal 4 Juli 2016 dan tahapan ini subjek diminta kembali untuk mengisi skala stres kerja. Pengisian skala ini adalah pengambilan data terakhir pada masing-masing kelompok, baik kontrol maupun eksperimen, sehingga pengukuran yang telah dilakukan sebanyak tiga kali dan pelaksanaannya sesuai dengan waktu yang ditetapkan.

Tabel 8. Deskripsi Kategori Subjek Berdasarkan Hasil Lanjutan Stres Kerja

Kategori Norma nEksperimen Kontrol Prosentasi n Prosentasi

Sangat Tinggi X ≥ 87 0 0.00% 0 0.00% Tinggi 69 ≤ X < 87 0 0.00% 0 0.00% Sedang 51 ≤ X < 69 6 60.00% 10 100.00% Rendah 33 ≤ X < 51 2 20.00% 0 0.00% Sangat Rendah X < 33 0 0.00% 0 0.00% C. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Responden Penelitian

Responden yang terlibat dalam penelitian ini berjumlah 18 orang, terbagi ke dalam kelompok eksperimen berjumlah 8 orang dan kelompok kontrol 10 orang. Berikut merupakan deskripsi data dari kedua kelompok penelitian berdasarkan hasil skor stres kerja prates, pascates, dan tindak lanjut.

(11)

Tabel 9. Deskripsi Statistik Perbandingan Skor Stres Kerja Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol

Deskripsi Statistik Perbandingan Antar Kelompok

Klasifikasi Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol

Prates Pascates Tindak Lanjut Prates Pascates Tindak Lanjut

Minimum 53 47 45 51 50 51

Maksimum 70 56 56 69 64 67

Rerata 61.38 51.87 51.75 58.60 57.70 57.50

Std.deviasi 5.951 3.137 3.370 6.275 4.620 5.380

Tabel di atas menunjukkan bahwa setelah kelompok eksperimen diberikan pelatihan kebersyukuran, terjadi penurunan skor stres kerja rata-rata antara pengukuran prates dengan pascates sebesar +9.51 dan + 9.63 pada pengukuran prates dengan tindak lanjut. Hasil yang diperoleh oleh kelompok eksperimen di setiap pengukuran menunjukkan penurunan nilai, baik nilai minimum dan nilai maksimum. Nilai minimum terjadi penurunan skor stres kerja prates dari 53 menjadi 47 pada skor stres kerja pascates dan 45 skor stres kerja tindak lanjut, selain itu nilai maksimum juga menunjukkan penurunan skor stres kerja prates dari 70 menjadi 56 pada saat pascates dan 56 pada skor tindak lanjut. Kelompok kontrol menunjukkan nilai rata-rata yang relatif sama dimana saat prates 58.60, pascates 57.70 dan 57.50 pada saat tindak lanjut. Hasil lainnya yaitu nilai minimum, maksimum dan nilai standar deviasi menunjukkan hasil yang relatif sama juga, sehingga hal ini dapat diasumsikan bahwa kelompok kontrol tidak berbeda di setiap pengukurannya.

(12)

Gambar 1. Diagram hasil skor stres kerja prates, pascates, dan tindak lanjut kelompok eksperimen

Gambar 2. Diagram hasil skor stres kerja prates, pascates, dan tindak lanjut kelompok eksperimen

 

2. Hasil Uji Hipotesis

Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui efektifitas program pelatihan kebersyukuran terhadap penurunan stres kerja pada karyawan lembaga keuangan X di Yogyakarta. Uji analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah Mann- Whitney dan Wilcoxon. Uji Mann-Whitney bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan skor antar kelompok di setiap pengukuran. Uji Wilcoxon bertujuan untuk melihat ada tidaknya perbedaan skor subjek di setiap kelompok

(13)

penelitian dengan membandingkan skor prates dan skor pascates serta membandingkan skor prates dengan skor hasil tindak lanjut.

Tabel 10. Hasil Uji Mann-Whitney

Prates Pascates Tindak lanjut

Mann-Whitney U 29.000 12.500 15.000

Wilcoxon W 84.000 48.500 51.000

Z -.978 -2.452 -2.236

Asymp. Sig. (2-tailed) .328 .014 .025

Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .360a .012a .027a

Hasil uji Mann-Whitney di atas ditemukan bahwa :

a) Uji Beda Stres Kerja Prates Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol Analisis pertama dilakukan dengan menguji perbedaan awal (prates) pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pengujian dilakukan dengan menggunakan analisis Mann-Whitney Test. Hasil perhitungan uji beda pada kelompok eksperimen dan kontrol diperoleh Z = -0.978 dan p = 0.328(p>0.05). Hasil ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan skor stres kerja antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebelum diberikan pelatihan, artinya tidak terdapat perbedaan stres kerja pada kelompok eksperimen dan kontrol sebelum diberikan pelatihan kebersyukuran.

Berikut ini adalah grafik skor stres kerja prates pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol :

(14)

Gambar 3. Grafik Skor Prates Kelompok Eksperimen dan Kontrol S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 Eksperimen 70 68 65 62 59 58 56 53 Kontrol 69 66 64 61 59 57 54 53 51 52 0 10 20 30 40 50 60 70 80 Ni la i

Prates

b) Uji Beda Stres Kerja Pascates Kelompok Eksperimen dan Kontrol

Hasil analisis pada skor stres kerja pascates kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, diketahui bahwa nilai Z = -2.452, p = 0.014 (p<0.05). Hasil yang diperoleh ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan skor stres kerja yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada saat pascates, artinya terdapat perbedaan stres kerja yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol setelah diberikan intervensi berupa pelatihan kebersyukuran.

Berikut ini adalah grafik skor stres kerja pascates kelompok eksperimen dan kelompok kontrol :

(15)

Gambar 4. Grafik Skor Stres Kerja Prates Kelompok Eksperimen dan Kontrol

c) Hasil Uji Beda Stres Kerja Tindak Lanjut Kelompok Eksperimen dan Kontrol Hasil analisis skor tindak lanjut kelompok eksperimen dan kelompok kontrol,

dapat diketahui bahwa nilai Z = -2.236, p = 0.025 (p<0.05). Hasil ini menggambarkan bahwa terdapat perbedaan skor stres kerja yang sangat signifikan antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol pada saat tindak lanjut.

Berikut ini adalah grafik skor stres kerja pascates kelompok eksperimen dan kelompok kontrol :

(16)

Gambar 5. Grafik Skor Stres Kerja Tindak Lanjut Kelompok Eksperimen dan Kontrol

Hasil ini menjelaskan bahwa ada penurunan stres kerja pada karyawan lembaga keuangan “X” di Yogyakarta pada kelompok eksperimen setelah diberikan pelatihan kebersyukuran. Sedangkan kelompok kontrok menunjukkan tingkat stres kerja yang relatif sama. Hal ini membuktikan bahwa pelatihan kebersyukuran dapat menurunkan stres kerja karyawan lembaga keuangan di Yogyakarta.

Tabel 11. Hasil Gainscore Kelompok Eksperimen

Responden Pra Pasca Gain Score Pra Lanjutan Gain Score

MH 69 54 +16 70 18 +18 RR 68 56 +12 68 17 +17 NL 65 53 +12 65 10 10 AA 62 55 +7 62 6 +6 EN 59 49 +10 59 7 +7 MR 58 50 +8 58 8 +8 BS 56 47 +9 56 11 +11 NR 53 51 +2 53 0 0

Keterangan : (+) : Penurunan Stres Kerja (-) : Peningkatan Stres Kerja

(17)

Tabel 12. Hasil Gainscore Kelompok Kontrol

Responden Pra Pasca Gain Score Pra Lanjutan Gain Score

WEK 69 60 +9 69 57 +12 FM 66 63 +3 66 59 +7 WP 64 64 0 64 65 -1 ENF 61 62 -1 61 67 -6 EW 59 50 +9 59 55 +4 S 57 55 +2 57 59 -2 NC 54 56 -2 54 52 +2 AR 53 59 -6 53 58 -5 UH 51 55 -4 51 52 -1 DR 52 53 -1 52 51 +1

Keterangan : (+) : Penurunan Stres Kerja (-) : Peningkatan Stres Kerja

Analisis data tambahan dilakukan peneliti dengan menggunakan uji Wilcoxon untuk memastikan bahwa hasil yang diperoleh sebelumnya adalah benar, serta untuk meyakinkan bahwa penurunan stres kerja yang dialami oleh karyawan lembaga keuangan X di Yogyakarta benar-benar dipengaruhi oleh perlakuan yang diberikan dengan membandingkan hasil pengukuran di setiap kelompok.

Tabel 13. Hasil Uji Wilcoxon Kelompok Eksperimen Pascates -

Prates

Tindak lanjut - Prates

Z -2.524a -2.366a

Asymp. Sig. (2-tailed) .012 .018

Hasil yang diperoleh pada tabel 13 di atas menunjukkan bahwa terdapat perbedaan skor stres kerja pada kelompok ekperimen antara sebelum dan sesudah diberikan pelatihan kebersyukuran. Hal ini menggambarkan bahwa kelompok eksperimen yang mendapat pelatihan kebersyukuran mengalami penurunan stres

(18)

kerja yang signifikan jika dibandingkan sebelum diberikan materi kebersyukuran, p = 0.012 (p<0.05). Hasil lainnya juga menunjukkan kondisi yang sama, yaitu ada perbedaan skor stres kerja pada kelompok eksperimen antara pretes dan tindak lanjut p = 0.018 (p<0.05). Sehingga, dapat ditarik kesimpulan bahwa pelatihan kebersyukuran mampun menurunkan stres kerja karyawan lembaga keuangan di Yogyakarta.

Tabel 14. Hasil Uji Wilcoxon Kelompok Kontrol Pascates -

Prates

Tindak lanjut - Prates

Z -.356 -.409

Asymp. Sig. (2-tailed) .722 .683

Sedangkan hasil yang didapat pada tabel 13 menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan skor responden antara prates dan pascates (nilai sig 0.356 > 0.05), begitu juga skor responden antara prates dan tindak lanjut (nilai sig 0.409 > 0.05). Ini menjelaskan bahwa kondisi karyawan di kelompok kontrol tidak berbeda saat prates, pascates hingga pengukuran tindak lanjut. Artinya, responden kelompok kontrol tidak mengalami penurunan stress kerja.

C. Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pelatihan kebersyukuran terhadap penurunan tingkat stres pada pegawai lembaga keuangan “X” di Yogyakarta. Karyawan akan dihadapkan pada berbagai macam sumber stres dalam bekerja, diantarannya beban kerja yang berat, hambatan-hambatan dalam waktu atau sumber daya, tambahan pekerjaan dari bagian lain, serta target

(19)

perusahaan yang meningkat. Berbagai sumber stres tersebut dapat memunculkan perasaan lelah secara emosional, menurunnya kondisi fisik, dan performa kinerja yang tidak optimal, (Antoniou, Polychroni, & Kotroni, 2009).

Stres kerja karyawan pada penelitian ini diukur menggunakan skala stres kerja. Pengukuran dilakukan sebanyak tiga kali yakni pada tahap prates, pascates, dan tindak lanjut. Berdasarkan hasil analisis data dapat diketahui bahwa skor rerata pascates kelompok yang diberikan intervensi pelatihan kebersyukuran (kelompok eksperimen) mengalami penurunan jika dibandingkan dengan skor rerata prates. Sementara kelompok yang tidak diberikan intervensi pelatihan kebersyukuran (kelompok kontrol) menunjukkan adanya peningkatan skor rerata pascates dibandingkan skor rerata prates. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini diterima. Stres kerja kelompok yang diberikan intervensi pelatihan kebersyukuran lebih rendah daripada kelompok yang tidak diberikan intervensi berupa pelatihan kebersyukuran.

Hasil penelitian ini artinya telah mencapai tujuan penelitian dan membuktikan bahwa pelatihan kebersyukuran telah berperan dalam upaya menurunkan stres kerja karyawan lembaga keuangan “X” di Yogyakarta. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Cahyono (2014) yang juga membuktikan bahwa pelatihan kebersyukuran efektif untuk menurunkan stres kerja karyawan.

Setelah melakukan analisis prates dan pascates, peneliti juga melakukan analisis data pascates dan tindak lanjut. Hasilnya adalah pada kelompok eksperimen rerata stres kerja saat tindak lanjut mengalami peningkatan stres kerja,

(20)

namun tidak signifikan. Sehingga masih dapat dikatakan bahwa tingkat stres kerja karyawan menurun jika dibandingkan dengan rerata prates. Dari hasil analisis ini dapat dikatakan bahwa pelatihan kebersyukuran dapat dikatakan cukup efektif untuk menurunkan stres kerja karyawan lembaga keuangan di Yogyakarta.

Proses bersyukur dengan hati, karyawan meyakini bahwa setiap situasi atau kejadian dalam hidup merupakan kehendak Allah SWT sebagai tindakan altruistic Allah terhadap diri mereka. Proses ini mendorong untuk terus memiliki keyakinan yang positif dalam setiap situasi termasuk saat menghadapi berbagai sumber stres dalam bekerja. Kebersyukuran akan mendorong seseorang untuk menginterpretasikan kejadian-kejadian secara lebih positif dan hal tersebut meminimalisir munculnya stres. Sarafino dan Folkman (Anastasia, 2012), mengemukakan bahwa Positive reappraisal dapat membantu individu agar tidak mudah menyerah pada stressor yang ada.

Bersyukur dengan lisan, merupakan sarana untuk mengungkapkan apa yang terkandung di dalam kalbunya. Ketika kita mengucapkan syukur secara lisan kepada Allah, dengan berterima kasih kepada Allah secara lisan atas segala nikmat yang diperoleh atau pada hal yang dipandang negatif, menjadikan individu lebih bersyukur serta meyakini bahwa nikmat yang telah ada akan ditambah oleh Allah SWT, selain itu berterima kasih kepada orang lain juga akan menciptakan dukungan sosial yang erat antar rekan sekerja, hal ini dapat dijelaskan oleh Robbins dan Judge (2008) bahwa adanya dukungan sosial berperan dalam mendorong seseorang dalam pekerjaan. Apabila tidak ada dukungan sosial yang baik maka stres karyawan akan tinggi.

(21)

Selanjutnya pada materi bersyukur dengan perbuatan, karyawan akan diajarkan terkait bagaimana cara-cara yang bisa dilakukan untuk menghindari perangai marah dengan cara tetap bersyukur atas nikmat yang diperoleh.

Selain hasil analisis di atas, pengaruh pelatihan kebersyukuran juga terlihat dari hasil wawancara yang dilakukan. Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa subjek mendapat pemahaman serta pengetahuan yang positif. Subjek merasakan adanya perubahan yang lebih baik dalam dirinya setelah mengikuti pelatihan kebersyukuran, seperti dapat mengambilhikmah dari setiap permasalahan yang dialami, menumbuhkan kesadaran untuk selalu bersyukur atas segala rahmat yang diberikan oleh Allah, serta menjadi suatu kebiasaan baru saat berterimakasih kepada orang lain karena diberi rejeki tetapi sekaligus mengucapkan rasa syukur di hati kepada Allah, dan mendorong melakukan kegiatan ibadah secara rutin seperti shalat berjamaah, berdzikir diwaktu senggang, serta mendoakan diri, keluarga dan orang-orang sekitar.

Hasil penelitian ini didukung pendapat ahli dari penelitian sebelumnya. Menurut McIntosh (2011), cara pandang yang lebih positif terhadap suatu persoalan membuat agama dirasakan dapat memberikan rasa aman dan nyaman serta menawarkan jalan keluar saat menghadapi masalah.Disampaikan jugaoleh

Pargament (Utami, 2012) bahwa agama mempunyai peran penting dalam

mengelola stres, agama dapat memberikan individu pengarahan, dukungan dan harapan. Melalui berdoa, ritual dan keyakinan agama dapat membantu seseorang dalam koping saat mengalami stres kehidupan, karena adanya pengharapan dan kenyamanan.

(22)

Penelitian menggunakan intervensi agama dalam mengelola stres telah ada sebelumnya seperti yang dilakukan oleh Habibah (2010), Zahra dan Saidiyah (2013) serta Anggraeni (2014). Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian Habibah (2010), menjelaskan bahwa pelatihan membaca Al-Quran dapat menurunkan stres pada pasien diabetes mellitus, hasil penelitian Anggraeni (2014) juga menjelaskan relaksasi dzikir memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penurunan stres yang dirasakan oleh penderita hipertensi. Sedangkan hasil penelitian Zahra dan Saidiyah (2013) menjelaskan bahwa pelatihan pemaknaan Surat Al-Insyirah terbukti efektif dalammengurangistresmahasiswayang sedang mengerjakan tugas akhir (skripsi). Dari beberapa hasil penelitian di atas, memperjelas bahwa intervensi agama dapat diperuntuhkan untuk berbagai persoalan kehidupan, termasuk persoalan di lingkup pekerjaan, lingkup sosial maupun persoalan pribadi.

Al-Quran secara tegas menyatakan bahwa manfaat syukur kembali kepada orang yang bersyukur, sedang Allah SWT sama sekali tidak memperoleh bahkan tidak membutuhkan sedikit pun dari syukur makhluk-Nya. Hal ini sesuai dengan firman Allah:

Artinya: “...dan Barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". (Q.S an-Naml: 40)

(23)

Berdasarkan penjelasan dari ayat di atas dapat dikatan bahwa sebenarnya semua ungkapan syukur kita kembali dan membawa kebaikan bagi kita sendiri. Bahkan dengan syukur kita akan mendapatkan pahala dari Allah. Kebersyukuran akan mendorong seseorang untuk menginterpretasikan kejadian-kejadian secara lebih positif dan hal tersebut meminimalisir munculnya stres. Sarafino dan Folkman (Anastasia, 2012), mengemukakan bahwa Positive reappraisal dapat membantu individu agar tidak mudah menyerah pada stressor yang ada. Namun, jika seseorang tidak bersyukur (kufur) akan lebih rentan terhadap stres kerja. Akibat dari kufur adalah terlalu banyak manusia modern yang hidup di dalam kadar stres yang cukup berat, emosi yang labil, hidup dalam ketakutan, rasa cemas yang berlebihan, mudah marah (http://fliphtml5.com/kgxw/ohgn/basic/51-100).

Efektifitas pelatihan gratittude juga dapat dilihat berdasarkan penelitian sebelumnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Cahyono (2014) dapat diketahui secara kuantitatif diperoleh skor penurunan stres kerja pada saat sesudah dilakukan intervensi gratittude. Rancangan pelatihan yang digunakan oleh Cahyono (2014) disusun berdasarkan tiga fungsi bersyukur dari McCullogh (2001) serta cara melatih kemampuan gratittude dari Emmons (2005). Pada pelatihan ini peserta akan diberikan pendekatan kognitif perilaku untuk belajar bersyukur & diberikan intervensi serta strategi memperkaya rasa syukur. Tingkat stres dapat menurun melalui pelatihan gratittude, apabila didukung oleh proses kognitif yang memadai karena di dalam gratittude terdapat 2 aspek yang utama yaitu dapat berfikir positif untuk melihat nilai tambah yang ada pada suatu situasi atau kondisi yang sedang dihadapi seseorang dan melakukan tindakan nyata

(24)

sebagai wujud terima kasih atas pemberian tersebut dengan diiringi keyakinan secara religius. Terdapat kekurangan pada pelatihan yang digunakan oleh Cahyono (2014) dengan menggunakan teori McCullogh (2002) yaitu, terdapat 2 hal yang menjadi fokus utama materi yaitu tentang pikiran positif dan keyakinan secara spiritual. Setelah dilakukan penelitian maka alangkah lebih baiknya apabila sejak awal dilakukan penukuran terhadap penerimaan hal-hal yang spiritual dari subjek. Apabila seseorang dalam penangkapannya kurang dalam hal tersebut maka saat menangkap materi juga kurang maksimal. Menurut Jodi, Mohammad dan Seman (2014) tentang penerapan agama terhadap kehidupan spiritual menjelaskan bahwa penerapan elemen spiritual berlandaskan agama di dalam modul berdampak positif karena mampu mengubah dan memahamkan individu mengenai makna kehidupan.

Grieshaber (1994) mengemukakan bahwa keberhasilan pelatihan yang telah dicapai dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain modul pelatihan, fasilitator dan karakteristik subjek dalam pelatihan. Salav dan Cannon (2001) menambahkanbahwa keberhasilan pelatihan juga dipengaruhi oleh kondisiawal subjek pelatihan, kesungguhan subjek mengikuti pelatihan, partisipasi subjek dalam pelatihan, materi dan metode pelatihan serta karakteristik fasilitator.

Fasilitator memegang peranan penting terhadap berhasilnya pelatihan, dengan rapport yang baik menjadi pendukung terhadap jalannya proses intervensi. Selain itu, karakteristik dan sikap fasilitator berperan dalam memberikan contoh upaya menerapkan berbagai proses kebersyukuran. Ini dikarenakanseorang fasilitator adalah memimpin proses pelatihan, proses diskusi,

(25)

dan juga memimpin kegiatan selama proses intervensi. Fasilitator pun memiliki sikap yang terbuka, ini mendukung proses intervensi agar subjek menjadi terbuka untuk mengungkapkan pendapat atau keadaan yang ingin disampaikan. Misalnya, dalam penerapan sikap syukur fasilitator memberikan contoh yang sederhana tentang pengalaman pribadi. Kemudian,fasilitator memintasubjek untuk berbagi pengalaman secara bergiliran.

Peneliti telah berusaha agar pelaksanaan penelitian sesuai dengan konsep yang ada, namun peneliti mengetahui bahwa masih terdapat kelemahan dalam pelaksanaannya, yaitu: a) pengembalian skala penelitian selama tahapan pengukuran tidak langsung di hari yang sama saat skala diberikan kepada subjek, sehingga peneliti tidak dapat memastikan ketepatan subjek dalam mengisi skala penelitiankarena harus dititipkandan ditinggal,dan b) pelaksanaanpelatihan yang selama dua hari berturut-turut membuat peneliti tidak mengetahui perubahan apa saja yang dialami & dirasakan oleh peserta pasca mengikuti pelatihan, karena tidak adanyasesi lanjutanuntuk salingberbagi pengalamanantar pesertamengenai kebersyukuran dalam keseharian. Oleh karena itu, sebaiknya antar pertemuan ada jeda seminggu yang bertujuan memberi waktu bagi peserta untuk mempraktekkan materi yang didapatkan di pertemuan sebelumnya dan pada pertemuan berikutnya, peserta dapat saling mendiskusikan pengalaman yang dilaluinya dengan membuat kelompok diskusi untuk saling bercerita, memberi masukan maupun feedback dari pemateri tentang proses belajar peserta mengenai kebersyukuran dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di ranah pekerjaan. (c) alat ukur yang digunakan oleh peneliti perlu dikembangkan secara lebih baik lagi. Masih terdapat beberapa aitem

(26)

yang dianggap kurang mampu menggambarkan dan mengukur perilaku stres kerja.

D. Evaluasi Penelitian

Hasil penelitian ini secara umum menunjukkan adanya penurunan stres kerja setelah diberikan pelatihan kebersyukuran. Namun, terdapat beberapa evaluasi yang perlu menjadi perhatian demi perbaikan kualitas penelitian di masa mendatang, yaitu :

1. Fasilitas Pelatihan

Berdasarkan hasil observasi dari observer, fasilitas peralatan yang digunakan dalam pelatihan sangat baik, seperti laptop, LCD proyektor, speaker, whiteboard, lembar kerja, dan alat tulis.

2. Modul Pelatihan

Berdasarkan evaluasi dengan trainer, co-trainer, dan observer setelah pelatihan berlangsung, pengembangan modul juga diarahkan pada materi pelatihan yang bisa membantu memperbaiki gejala stres kerja karyawan lembaga keuangan X di Yogyakarta.

3. Pelatih dan Materi

Hasil evaluasi peserta terhadap pelatih menunjukkan bahwa secara umum pelatih dipandang baik oleh peserta. Selain itu, kemampuan pelatih dalam menguasai forum pelatihan juga sudah terlihat baik oleh seluruh peserta. Pelatihan yang diberikan oleh pelatih dan pelatih pendamping disajikan secara sistematis, berurutan, dan tidak melenceng dari materi kebersyukuran yang ada di modul pelatihan. Pelatih dan pelatih pendamping

(27)

dapat membangun hubungan yang sangat baik dengan peserta dan membangkitkan minat peserta. Pelatih menguasai materi pelatihan dengan baik, hal ini disertai penyampaian yang jelas dan tepat oleh pelatih, sehingga kesalahpahaman dalam penangkapan materi pelatihan pada peserta dapat diminimalisir.

Penilaian peserta terhadap kelengkapan materi seluruh sesi acara dipandang baik dengan 4 orang menilai puas (40%) dan 4 orang menilai cukup puas (50%). Adapun mengenai manfaat materi, 5 peserta menilai dengan puas (50%), 3 orang peserta menilai cukup puas (30%) sedangkan untuk susunan materi, 7 orang responden menilai puas (70%) dan 1 orang menilai cukup puas (10%).

4. Desain Penelitian

Pelaksanaan pelatihan yang dilaksanakan 2 hari berturut turut dengan total waktu -+ 3-4 jam per hari nya. Selanjutnya, pengukuran pascates dilakukan tiga hari setelah pelatihan. Pengukuran tindak lanjut diberikan 12 hari setelah pelatihan dilaksanakan. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan waktu liburan kantor karena Idul Fitri. Sehingga pengukuran pascates dianggap kurang efektif dikarenakan evaluasi terhadap desain penelitian khususnya pada jeda pengukuran antara pengukuran pascates minimal satu minggu setelah perlakuan. Cone dan Foster (2006) menjelaskan bahwa penggunaan jeda pengukuran selama minimal 2 minggu akan memberikan informasi yang cukup stabil pada variabel yang akan diukur.

Gambar

Tabel 3. Jadwal dan Tahapan Pelatihan Kebersyukuran
Tabel 4. Rumus kategorisasi
Tabel 5. Pengkategorian stres kerja karyawan  No Kategori  Perhitungan  1  Sangat Rendah  = X &lt; 60 - (1.8 x 15)  = X &lt; 60 - 27  = X &lt; 33 2  Rendah  = 60 - (1.8 x 15) ≤ X &lt; 60 - (0.6 x 15)  = 60 - 27 ≤ X &lt; 60 - 9  = 33 ≤ X &lt; 51  3  Sedang
Tabel 7. Deskripsi Kategori Subjek Berdasarkan Hasil Pascates Stres Kerja
+7

Referensi

Dokumen terkait

subjek merasa bahwa ayahnya memiliki sikap yang.. tidak peduli hanya kepada subjek. Ayahnya juga sudah. tidak pernah lagi memberikan subjek uang dalam

Dalam hal keterampilan bicara subjek merupakan anak yang mempunyai volume suara lemah ketika bicara dengan konteks akademis di dalam kelas, namun bervolume keras ketika

perah mengalami masalah kesehatan yang serius, subjek mengaku tetap menjaga pola makan sehat untuk mencegah terserang penyakit tertentu. Subjek yang sudah menggemari

 Subjek kelompok eksperimen ada yang serius mengerjakan dan ada yang tidak serius mengerjakan  Peneliti memotivasi subjek agar tetap semangat mengerjakan soal. 

pervasive dan merupakan modifikasi dari aitem-aitem skala optimisme yang telah disusun oleh Amarullah (2016). Para responden penelitian merupakan mahasiswa Psikologi

Grafik 4.1 Kemampuan Menulis Permulaan Pada Fase Baseline 1 (A-1) Grafik tersebut menggambarkan kondisi awal subjek DA sebelum diberikan intervensi (B) dengan menggunakan

Berdasarkan penjelasan dan hasil analisis di atas, dapat dilihat bahwa beberapa dari subjek yang berpartisipasi dalam penelitian ini memiliki orangtua yang

Dari sini terdapat perbedaan pendapat bahwa bagi subjekorang paling penting adalah suaminya, namun menurut suami subjek orang paling penting bagi kehidupan subjek adalah