ANALISIS GROUND VIBRATION PADA PELEDAKAN
PT. THIESS CONTRACTOR INDONESIA SITE SENAKIN,
KALIMANTAN SELATAN
SKRIPSI
Oleh
DOUGLAS WIDODO SILABAN
NIM. 112.040.022
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
YOGYAKARTA
ANALISIS GROUND VIBRATION
PADA KEGIATAN PELEDAKAN
PT. THIESS CONTRACTOR INDONESIA SITE SENAKIN,
KALIMANTAN SELATAN
SKRIPSI
Oleh
DOUGLAS WIDODO S
NIM. 112.040.022
Disetujui Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknologi Mineral
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta Tanggal : ...
Pembimbing I Pembimbing II
RINGKASAN
PT Thiess Contractor Indonesia merupakan salah satu perusahaan tambang batubara yang wilayah penambangan terletak di Senakin, Kalimantan Selatan. Sistem tambang yang diterapkan adalah sistem tambang terbuka strip mine. PT.Thiess Indonesia melakukan pembongkaran lapisan tanah penutup menggunakan metode pemboran dan peledakan dengan jenis bahan peledak emulsi.
Peledakan lapisan penutup di PT Thiess Indonesia dilakukan pada batuan utama, yaitu Basalt. Diameter lubang tembak 7,78 inchi (205mm) dan geometri peledakan dengan burden 8-9 m, spasi 9-11 m, stemming 4 m, subdrilling 0,5-1 m, panjang kolom isian 12-15 m, kedalaman lubang bor 15-20 m, tinggi jenjang 15 m, loading density 41 kg/m, powder factor 0,58 kg/m3. Pola peledakan yang diterapkan yaitu echelon cut dengan menggunakan in hole delay 400 ms dan surface delay
detonator 100 ms, 17 ms, 42 ms dan 65 ms..
Berdasarkan pengukuran vibrasi actual yang dlakukan mulai tanggal 17 Juli 2008 – 26 Jaunari 2009 sebanyak 26 kali. Terdapat ground vibration maksimum yaitu 5,61mm/s dengan jarak dari pusat peledakan ke tempat pengukuran getaran tidak lebih dari 1540m yang mengganggu keadaan masyarakat sekitar lingkungan tambang dan rata-rata ground vibration yang terjadi 2,501 mm/s.
Oleh karena itu perlu dilakukan analisis ground vibraton dengan menggunakan Persamaan Regresi Linier Berganda dan Teori George Bertha. Sehingga didapat nilai rata-rata ground vibration berdasarkan Regresi Linier Berganda sebesar 2,580 mm/s. Rata-rata ground vibration teori george Bertha sebesar 3,766 mm/s.
Dari kedua teori tersebut maka didapat persamaan Regresi Linier Berganda mempunyai nilai penyimpangan rata-rata terkecil terhadap ground vibration actual yaitu sebesar 0,078 mm/s sehingga dapat digunakan untuk memprediksi ground vibration selanjutnya.
Berdasarkan Kriteria KEPMEN Lingkungan Hidup No.49 Tahun 1996 dengan muatan terbesar 1672,8 kg,pada jarak 7500 – 1200 meter dan peak particle velocity 3,964 mm/s masuk dalam kategori A (tidak menimbulkan kerusakan). Jarak 1100 – 1000 meter dengan peak particle velocity 5,21 mm/s masuk dalam kategori B ( kemungkinan timbulnya keretakan plesteran ).Sedangkan menurut kriteria Australia Standar Vibration Limit AS 2817-1993 pada jarak 7500-1000 meter dinyatakan sebagai jarak aman.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat TYME karena berkatNya penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul “Analisis Ground Vibration Pada Kegiatan Peledakan PT. Thiess Contractor Indonesia”
Penyusunan Tugas Akhir ini di maksudkan untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan program sarjana (S1) di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Skripsi ini disusun berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di PT Thiess Contractor Indonesia site Senakin, Kalimantan Selatan dari tanggal 11 November 2008 sampai dengan 11 Febuari 2009. Dalam penyusunan Tugas Akhir ini banyak sekali tantangan dan hambatan yang penulis lalui. Oleh karena itu, penulis menghaturkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu didalam proses penyelesaian laporan Tugas Akhir ini, diantaranya :
1. Bapak Agus Effendi sebagai Deputy Project Manager Senakin Mine Project, PT. Thiess Contractors Indonesia.
2. Bapak Mudzakir, sebagai Engineering Superintendent Senakin Mine Project, PT. Thiess Contractors Indonesia.
3. Bapak Deddy D., sebagai Pembimbing Lapangan 4. Bapak Komang Alit , sebagai Pembimbing Lapangan II
5. Prof. Dr. Didiet Welly Udjianto, Msc selaku Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta
6. Dr.Ir. S.Koesnaryo MSc. selaku Dekan Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Yogyakarta
7. Ir. Anton Sudiyanto, MT selaku Ketua Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Yogyakarta
8. Ir. Bagus Wiyono, MT sebagai Pembimbing I 9. Ir. Winda, MT sebagai Pembimbing II
11. Dosen dan rekan-rekan mahasiswa Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, khususnya tambang 2004 terima kasih atas dukungan dan sarannya.
Akhir kata, semoga skripsi ini bermanfaat bagi perusahaan dan pemerhati pertambangan.
Yogyakarta, Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
RINGKASAN ... v
KATA PENGANTAR ………...………...…….…. vi
DAFTAR ISI ……….… viii
DAFTAR GAMBAR ………...……….. xii
DAFTAR TABEL ………...……….. xiv
DAFTAR LAMPIRAN……….. xv I PENDAHULUAN………... 1 1.1 Latar Belakang ……….……… 1 1.2 Identifikasi Masalah……….. 1 1.3 Pembatasan Masalah ………...…. 1 1.4 Tujuan Penelitian ………... 2 1.5 Metode Penelitian ... 2 1.6 Manfaat Penelitian... 3 II TINJAUAN UMUM... 4
2.1.Lokasi Operasi Penambangan dan Kesampaian Daerah ... 4
2.2. Keadaan Iklim dan Masyarakat ... 5
2.3. Kondisi Geologi ... 6
2.4. Cadangan dan Kualitas Batubara di Daerah Senakin ... 8
2.5. Kegiatan Penambangan... ... . ... 10
III LANDASAN TEORI... 17
3.1. Getaran Tanah (Ground Vibration)... 17
3.1.1. Pengertian Getaran Tanah (Ground Vibration)... 17
3.1.2. Gelombang Seismik... 18
3.1.3. Persamaaan Gelombang... 19
3.2. Peralatan Yang Digunakan... 20
3.2.1. Compact Texcel Monitor... 20
3.3. Mekanisme Pecahnya Batuan... 21 3.4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Dalam Usaha
Perancangan Peledakan... 23
3.4.1. Faktor Yang Tidak Dapat Dikendalikan... 23
3.4.1.1. Karakteristik Massa Batuan... 23
3.4.2. Peubah Yang Dapat Dikendalikan... 26
3.4.2.1. Geometri Pemboran... 26
3.4.2.2. Geometri Peledakan... 35
3.4.2.3. Pola Peledakan... 37
3.4.2.4. Waktu Tunda (Delay Time)... 38
3.4.2.5. Sifat Bahan Peledak... 40
3.5. Pengaruh Peledakan Terhadap Media... 43
3.5.1. Daerah Hancuran (Crushed Zone)... 43
3.5.2. Daerah Retakan (Fractured Zone)... 43
3.6. Kontrol Getaran... 43
3.8. Teori-Teori Vibrasi... 44
3.8.1. Teori George Bertha (1990)... 44
3.8.2. Teori Persamaan Regresi Linier... 48
3.8.3. Kriteria Standar Getaran Di Indonesia... 49
3.8.4. Kriteria Australia Standar... 49
IV HASIL PENELITIAN ... 51
4.1. Lokasi Penelitian... 51
4.2. Geometri Peledakan... 51
4.3. Karakteristik Bahan Peledak... 54
4.4. Hasil Pengukuran Aktual... 54
4.5. Prediksi Getaran Tanah... 55
4.5.1 Menggunakan Persamaan Regresi Linier Berganda... 55
4.5.2 Menggunakan Persamaan Bertha... 55
V PEMBAHASAN... 56
5.1. Pengukuran Dengan Pendekatan Peak Particle Velocity...….. 56
5.1.1 Perhitungan Regresi Linier Berganda... 56
5.1.2 Penyimpangan PPV Teori Terhadap Aktual... 57
5.2. Prediksi Getaran Akibat Peledakan... 57
5.4. Zona Aman Berdasarkan KEPMEN No.49 Tahun 1996... 59
5.5. Penentuan Jarak Aman Berdasarkan Autralia Standar... 59
VI KESIMPULAN DAN SARAN... 61
6.1 Kesimpulan ……….……….….... 61
6.2 Saran ... 61
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
2.1. Peta Lokasi Tambang Senakin Mine Project ... 6
2.2. Peta Geologi Regional Kotabaru ... 8
2.3. Pengupasan Top Soil ... 12
2.4. Peledakan Overburden ... 13
2.5. Loading Point Batubara ... 14
3.1. Lintasan Gelombang... 19
3.2. Compact Texcel Monitor... 20
3.3. Tiga Arah Gelombang yang Ditangkap Sensor... 20
3.4. Getaran Berada diluar jangkauan (salah) ... 21
3.5. Getaran Berada didalam jangkauan (benar) ... 21
3.6. Proses Pecahnya Batuan ... 23
3.7. Peubah Terkendali dan Tidak Terkendali rancangan Peledakan .... 25
3.8. Pengaruh Diameter Lubang Ledak bagi Tinggi Stemming ... 27
3.9. Lubang Ledak Tegak dan Lubang Ledak Miring ... 29
3.10. Pola Pemboran ... 30
3.11. Pengaruh Energi Peledakan terhadap pola Pemboran... 30
3.12. Geometri Peledakan... 31
3.13. Pengaruh Burden Terhadap hasil Peledakan... 32
3.14. Pengaruh Spasi terhadap Fragmentasi... 34
3.15. Pengaruh Waktu Tunda... 40
3.16. Diagram Gelombang Getaran Dan Parameternya... 44
5.1. Hubungan Antara Jarak Dan Muatan Terbesar Dengan PPV... 58 5.2. Zona Aman Berdasarkan KEPMEN Lingkungan Hidup... 59
DAFTAR TABEL
Halaman
2.1. Curah Hujan Di Senakin Mine Project ... 5
2.2. Cadangan Batubara Mineable Di Senakin Mine Project ... 9
2.3. Kualitas Batubara Di Senakin Mine Project ... 9
3.1. Moh’s Hardness And Compressive Strenght ... 24
3.2. Koreksi Posisi Lapisan Batuan dan Struktur Geologi ... 32
3.3. Stiffness Ratio dan Pengaruhnya ... 37
3.4. Tipe Kelompok Batuan ... 48
3.5. Baku Tingkat Getaran Berdaarkan Dampak Keruakan ... 50
3.6. Australia Standar Vibration... 50
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
. Sistem penambangan yang diterapkan oleh PT. Adaro Indonesia adalah sistem tambang terbuka (Surface Mining) dengan metode " Strip mine " yang kegiatan penambangannya meliputi : pembukaan lokasi tambang dan pembersihan lahan, pengupasan lapisan penutup, penggalian dan pengangkutan batubara. Salah satu kegiatan penambangan adalah pengupasan lapisan penutup dengan cara pemboran dan peledakan.
Proses peledakan yang dilakukan PT.Thiess Contactor selama ini sering terjadi ground vibration yang kecepatannya melebihi nilai ambang batas pada jarak 1200 – 7000 m dari pusat peledakan. Getaran tanah ini menimbulkan kerusakan dan ketidaknyaman yang dirasakan oleh penduduk dari kampung sekitar daerah penambangan. Dengan permasalahan tersebut maka diperlukan adanya penelitian tentang besarnya pengaruh yang muncul akibat kegiatan peledakan.
1.2 Pembatasan Masalah
Permasalahan yang timbul dari penelitian ini di batasi pada:
1. Lokasi pengamatan dilakukan pada kegiatan peledakan dengan blasting
minitoring di Pit Manggis pada batuan Basalt.
2. Penulis tidak merubah geometri peledakan yang telah digunakan PT Thiess Contractor.
3. Metode yang digunakan adalah teori George Bertha dan Persamaan Regeresi Linier .
4. Tingkat getaran menggunakan kriteria Australia Standar 2187-1993.
5. Tingkat getaran menurut KEPMEN Lingkungan Hidup Nomer Kep 49/1996.
1.3 Tujuan Penelitian
1. Mengukur ground vibration yang terjadi selama proses peledakan di Pit Manggis PT.Thiess Contactor .
2. Membandingkan nilai peak particle velocity antara teori Persamaan Regresi Linier Berganda dengan George Bertha (1990).
3. Menentukan jarak aman dari ground vibration. 4. Menentukan kriteria standar yang di gunakan.
1.4 Metode Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini tahapan/prosedur penelitian yang dilakukan meliputi :
1. Studi Literatur :
Tujuan dilakukannya studi literatur adalah mencari data-data sekunder yang akan dibutuhkan dalam pengolahan data. Data-data sekunder tersebut adalah :
- Lokasi dan Kesampaian daerah.
- Keadaan geologi dan karakteristik massa batuan. - Teori geometri pemboran.
- Teori geometri peledakan.
2. Penelitian Lapangan
Penelitian di lapangan dilakukan untuk mendapatkan data primer yang diperlukan guna kepentingan penelitian seperti :
- Data geometri Peledakan di uur dengan menggunakan alat meteran. - Data getaran diukur dengan menggunakan alat Compact Texcel Monitor.
-Data total isian bahan peledak per hole dan total isian untuk seluruh lubang
ledak dalam satu atau lebih pattern.
3.Pengolahan dan Analisis Data
Mengolah data yang ada dengan perhitungan-perhitungan secara teoritis.Menggunakan pendekatan regresi dan statistik. Sedangkan data pengukuran getaran diolah dengan alat bantu yang membantu perhitungan yaitu software Easy Link, ShootPlus. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh beberapa alternatif pemecahan masalah.
1.6 Manfaat Penelitian
Manfaat yang di peroleh dari hasil penelitian ini adalah sebagai bahan masukan kepada perusahaan dalam hal pelaksanaan peledakan yang aman.
BAB II
TINJAUAN UMUM
2.1. Lokasi Penambangan dan Kesampaian Daerah
Lokasi tambang batubara PT. Thiess Contractors Indonesia di Senakin dibagi menjadi 2 bagian yaitu Tambang Senakin Timur (East Senakin Mine) dan Tambang Senakin Barat (West Senakin Mine). Lokasi tambang Senakin meliputi beberapa desa pada beberapa Kecamatan yaitu Kecamatan Klumpang Tengah dan Utara, Kecamatan Sampanahan dan Kecamatan Pamukan Selatan. Semua kecamatan tersebut berada di dalam wilayah Kabupaten Kotabaru Propinsi Kalimantan Selatan.
Untuk sampai ke lokasi penambangan dapat ditempuh dengan jalan darat dari ibukota propinsi Kalimantan Selatan yaitu Banjarmasin ke Kotabaru selama 8 jam melewati lokasi penambangan daerah Satui. Setelah sampai ke Kabupaten Kotabaru dilanjutkan dengan perjalanan menggunakan Speed Boat sampai ke lokasi Tambang Senakin yang memerlukan waktu ± 1 jam. Dapat juga ditempuh dengan jalur udara dengan menggunakan pesawat terbang dari Kota Balikpapan selama 45 menit ke Kotabaru dan dilanjutkan dengan menggunakan Speed Boat sampai ke lokasi dengan menempuh waktu ± 1 jam. (lihat gambar 2.1)
2.2. Keadaan Iklim Dan Masyarakat
Secara geogafis letaknya yang tidak terlalu jauh dari garis Equator Senakin mempunyai iklim tropis dimana terjadi musim hujan dan musim kemarau yang bergantian setiap tahun. Berdasarkan data dari Enviromental department PT. Thiess Contractors Indonesia Senakin mine project (2003-2008) menunjukkan bahwa curah hujan rata-rata tahunan 216.80 mm per bulan (lihat tabel 2.1). Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Maret sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Agustus.
Masyarakat terdekat yang tinggal berjarak 1200m dan terjauh 7200m dari wilayah pertambangan dan memiliki mata pencaharian utama sebagai petani dan peladang dengan jumlah penduduk 312 jiwa. Dampak negatif adanya aktivitas penambangan yaitu pengalihan fungsi lahan dari pertanian dan perkebunan menjadi areal pertambangan. Akibatnya banyak petani dan peladang yang beralih profesi.
Sedangkan dampak positif yang dirasakan masyarakat yaitu mudahnya masyarakat dalam memasarkan hasil bumi dikarenakan akses jalan yang mudah, yang secara tidak langsung tersedia akibat kegiatan penambangan. Dampak positif lainnya adalah meningkatnya pendapatan masyarakat dan menciptakan lapangan kerja baru, terutama dalam bidang perdagangan, bengkel dan rumah makan, sehingga peredaran uang di masyarakat meningkat.
Tabel 2.1
Curah Hujan Di Senakin Mine Project
Bulan 2003 (mm) 2004 (mm) 2005 (mm) 2006 (mm) 2007 (mm) 2008 (mm) Rata-rata Januari 299.50 294.00 325.50 255.65 287.34 192.50 275.75 Februari 189.50 255.50 252.00 296.63 330.10 179.50 250.54 Maret 260.00 332.00 453.75 240.14 216.40 177.75 280.01 April 230.00 157.00 349.00 255.00 215.00 143.75 224.96 Mei 330.50 232.50 257.50 245.75 151.80 232.25 241.72 Juni 368.50 80.00 96.50 563.38 406.50 154.25 278.19 Juli 205.50 95.50 31.75 124.90 610.25 387.00 242.48 Agustus 177.00 1.00 97.63 44.00 217.75 265.75 133.85 September 117.50 232.50 11.38 74.50 187.00 213.25 139.36 Oktober 136.50 126.50 239.78 116.40 63.75 - 136.59 November 335.00 142.50 220.75 136.14 163.95 - 199.67 Desember 335.00 142.50 220.75 136.14 158.00 - 198.48 Total 2984.50 2091.50 2556.29 2488.63 3007.84 1946.00 2601.58 Rata-rata 248.71 174.29 213.02 207.39 250.65 216.22 216.80
Gambar 2.1 Lokasi Tambang Senakin
2.3. Kondisi Geologi 2.3.1.Morfologi
Daerah perbukitan bergelombang terbentang di bagian utara senakin. Tinggi elevasi berkisar antara 20m – 250 m di atas muka air laut. Sungai-sungai yang mengalir ke arah pantai umumnya berpola hampir paralel dan bersifat aktif. Morfologi pedataran terbentang 5 – 10 km dari garis pantai ke arah daratan. Elevasi <20 m di atas muka air laut. Daerah- daerah kubangan (cekungan) sering dijumpai pada morfologi pedataran terebut.
Topografi di wilayah pesisir Kabupaten Kotabaru terdiri atas daerah morfologi perbukitan, perbukitan bergelombang, dan morfologi pedataran. Morfologi perbukitan berrelif tinggi terdapat di wilayah pesisir Pulau Laut, elevasi >70 m. Morfologi perbukitan bergelombang elevasi 50m –100m terdapat di wilayah pesisir
Pulau Laut. Morfologi pedataran elevasi 20m – 50m terdapat di kawasan daratan pesisir <10 km dari garis pantai.
2.3.2.Stratigrafi
Pada Cekungan Kutai terdapat Formasi-Formasi batuan sedimen pembawa lapisan batubara. Formasi batuan sedimen tertua yaitu Formasi Tanjung berumur Eosen yang tidak selaras menindih alas-batuan berumur Pra-Tersie. Formasi Tanjung terdiri atas batuan sedimen klastika kontinen yang berselingan dengan material laut dan napal. Batuan sedimen dari Formasi Tanjung ini diendapkan selama tahap awal terjadinya transgresi laut Tersier. Formasi Tanjung ini ditindih selaras Formasi Berai/Pemaluan yang berumur Miosen Bawah.
Formasi Berai terdiri atas lapisan tebal batugamping, masif, berwarna abu-abu terang, terdapat moluska dan koral. Sebaran Formasi Berai ini menerus ke arah selatan pada Anak Cekungan Asam-Asam di Kalimantan Selatan.
Formasi Warukin diendapkan selama proses regresi, menindih Formasi Berai. Formasi Warukin berumur Miosen Tengah hingga Miosen Atas yang umumnya terdiri atas batuan sedimen klastik berbutir halus, batulempung dan sedikit batulanau dan batupasir, serta lapisan batubara.
Pada Kala yang lebih muda diendapkan secara tidak selaras Formasi Dahor berumur Plio-Plistosen. Formasi Dahor terdiri atas batu pasir dan sedikit batuan sedimen klastik berbutir halus, serta lapisan lignit. Formasi Dahor ditindih oleh sedimen kuarter berupa sedimen klastik hasil rombakan batuan sebelumnya.
2.3.3 Struktur Geologi
Daerah kabupaten Kotabaru termasuk dalam anak cekungan Asam-Asam dan anak cekungan Pasir. Keduanya merupakan anak cekungan Barito dan cekungan Kutai. Batuan tertua yang terdapat di kabupaten Kotabaru adalah kelompok batuan yang diperkirakan berumur Jura yang terdiri dari batuan ultramafik, batuan malihan, batuan bancuh, dan Rijang Radiolaria. Secara tidak selaras di atas kelompok batuan berumur Jura tersebut diendapkan.
Gambar 2.2 Peta Geologi Regional
Struktur geologi yang terdapat di wilayah Kabupaten Kotabaru terdiri dari sesar naik, sesar geser, sesar normal dan lipatan. Sesar naik umumnya mempunyai arah dari Utara - Selatan hingga Barat daya – Timur laut. Arah sesar bervariasi dari Timur laut – Barat daya hingga Barat laut – Tenggara.Deposit Sangsang dan Sepapah yang ditambang berada pada bagian Barat sayap antiklin sedangkan deposit Senakin Timur berada di sayap sebelah Barat. Sudut kemiringan dari slope bervariasi antara 5 sampai 15 derajat. Untuk tujuan penambangan dan perdagangan seam batubara Senakin dibagi menurut kandungan sulphur setiap level yang berbeda di dalam seam. Kemiringan (dip) dari layer sedimen rata-rata N150E. Struktur geologi berupa sesar normal minor ditemukan di Pit manggis .
2.4. Cadangan dan Kualitas Batubara di Daerah Senakin 2.4.1. Cadangan Batubara
Data jumlah cadangan insitu batubara yang dikerjakan oleh PT. TCI dibeberapa pit sampai bulan November 2009 adalah sebesar 28.303.061 ton dengan total waste 283.308.186 ton (lihat tabel II.2).
Tabel 2.2
Jumlah Cadangan Mineable Batubara Di Senakin Mine Project
PIT Waste coal SR
Pit 2-7 cutback 127,149,765 10,849,016 11.72 pit 15 18,469,778 1,641,700 11.25 pit 16 1,630,644 243,106 6.71 pit manggis 69,870,117 5,740,220 12.17 pit 18 13,616,060 1,297,220 10.5 pit 20 52,571,822 8,531,799 6.16 Total 283,308,186 28,303,061 10.01 2. 4.2 Kualitas Batubara
Jenis batubara yang ditambang oleh PT. TCI di tambang batubara Senakin
mine project termasuk dalam peringkat batubara bituminous. Berdasarkan hasil proximate analisis (air dried basis) di laboratorium dapat diketahui besarnya
kandungan nilai inherent moisture, abu, volatile matter, total sulphur, fixed carbon, dan gross caloric value batubara yang dihasilkan dari Senakin mine project (lihat tabel II.3)
Tabel 2.3
Kualitas Batubara Di Senakin MINE PROJECT
Komponen Nilai
Total moisture(ar) 11,00 %
Inherent moisture(adb) 4,50 %
Ash (adb) 12,00 %
Total sulphur (adb) 1,00 %
Fixed carbon (adb) 42,00 %
Gross calorific value (adb) 6.700 Kcal/kg
2.5. Kegiatan Penambangan
Kegiatan penambangan batubara yang dilakukan oleh PT. Thiess Contractors Indonesia berlangsung pada Tambang Senakin Timur. Tambang Senakin Timur dibagi menjadi beberapa Pit. Pit yang sedang melakukan kegiatan penambangan pada bulan November 2009 adalah pit 2, pit 15, pit16 dan pit Manggis. Masing masing pit dibagi menjadi beberapa blok. Masing-masing blok mempunyai kegiatan yang berbeda. Seperti pada Pit 16 Tambang Senakin Timur, ada sebagian blok yang sedang melakukan kegiatan pembongkaran lapisan tanah penutup dan penggalian batubara sedangkan pada blok lain ada yang masih dalam kegiatan penyiapan lahan. Secara umum kegiatan penambangan batubara oleh PT. Thiess Contractors Indonesia pada Tambang Senakin Timur meliputi :
1. Penyiapan Lahan
Sebelum melakukan kegiatan pembongkaran dan penggalian material penutup, kegiatan pertama yang dilakukan adalah mempersiapkan lahan yang akan ditambang. Proses penyiapan lahan yang Akan ditambang pada lokasi Tambang Senakin Timur oleh PT. Thiess Contractors Indonesia dibagi menjadi 2 tahap. Tahap awal adalah Pembersihan lahan (Land Celaring) dari pepohonan dan semak-semak. Pembersihan lahan adalah kegiatan membersihkan daerah yang akan ditambang dari pepohonan dan semak semak. Tujuan utama dari pembersihan lahan yaitu untuk memudahkan alat muat mengambil lapisan tanah paling atas (topsoil). PT. Thiess Contractors Indonesia dalam melakukan kegiatan pembersihan lahan mempunyai 2 macam cara, yaitu :
a.Pembersihan lahan dengan menggunakan Alat Mekanis
Alat mekanis yang digunakan pada kegiatan pembersihan lahan Tambang Senakin Timur yaitu Bulldozer dan Excavator. Bulldozer berfungsi untuk meratakan
semak-semak dan mendorong pepohonan pada permukaan yang relatif datar, sedangkan Excavator mempunyai fungsi yang sama, hanya saja biasanya dipakai pada permukaan yang lebih curam. Untuk penebangan pohon, diameter pohon yang bisa didorong oleh alat mekanis maksimal 300 mm.
Cara penebangan pohon oleh alat mekanis (Bulldozer/Excavator) yaitu dengan mendorong pohon ke arah condongnya pohon (arah kemiringan pohon). Proses pendorongannya dilakukan dengan cara menuruni lereng dari bagian atas sampai ke bagian bawah lereng. Setelah pohon tumbang, semak-semak dibersihkan dan diratakan, kemudian lubang bekas pohon yang ditumbangkan diisi kembali dan diratakan seperti permukaan tanah semula.
b.Penebangan pohon menggunakan gergaji kayu (Chainsaw)
Untuk pohon yang berukuran besar dengan diameter lebih dari 300 mm, penebangan dilakukan dengan cara menggergaji pohon yang dilakukan oleh pekerja lokal (masyarakat sekitar tambang) yang dikontrak oleh perusahaan. Pohon-pohon yang berdiameter lebih dari 300 mm hanya boleh ditebang oleh regu penggergaji yang sudah berpengalaman dan dikontrak oleh perusahaan.
Tahap selanjutnya adalah pembuatan kolam pengendapan (Sediment Pond). Dengan membuat kolam pengendapan di desain sedemikian rupa sehingga aliran air / limbah dari tambang (lahan terbuka, timbunan tanah penutup, stockpile, dll.) masuk ke dalam kolam pengendapan. Kolam pengendapan berfungsi sebagai pengendap lumpur dan penetralisir air yang berasal dari kegiatan penambangan sebelum dilepaskan ke sungai. Tingkat keasaman air dalam Kolam Pengendapan rutin diperiksa untuk memastikan kisaran pH antara 6 sampai 9. Untuk proses penetralan apabila pH asam, dilakukan dengan penambahan kapur atau tawas sesuai dengan kebutuhan.
2. Pengupasan lapisan tanah pucuk(topsoil)
Setelah melakukan kegiatan penyiapan lahan, kemudian dilanjutkan dengan pengupasan lapisan tanah pucuk. Ketebalan lapisan tanah penutup pada Tambang Senakin berkisar 1 sampai 3 meter. Lapisan topsoil merupakan lapisan tanah
penutup paling atas. Lapisan tanah pucuk digunakan sebagai lapisan tanah penutup yang paling atas saat kegiatan reklamasi dan saat penutupan ulang lubang bekas galian batubara.
Gambar 2.3 Pengupasan Topsoil
Lapisan topsoil pada Tambang Senakin dikupas dengan bantuan bulldozer dan dimuat oleh Hydraulic Excavator ke dalam Dump truck. Excavator yang digunakan adalah Hitachi tipe EX 1900 (Shovel) dan excavator Liebherr tipe R 994-200.
Topsoil yang sudah dikupas kemudian dimuat ke dalam Dump truck oleh excavator.
Setelah dimuat kemudian diangkut ke tempat penimbunan lapisan tanah penutup (Topsoil Stock). Topsoil Stock berfungsi sebagai penampung semua tanah penutup yang sudah dikupas, sehingga apabila diperlukan kembali akan mudah untuk didapat. Selain ke tempat penimbunan, lapisan tanah penutup juga ada yang langsung disebar ke lokasi reklamasi.
3.Pembongkaran Lapisan Tanah Penutup
Setelah topsoil dikupas, tahapan selanjutnya adalah pengupasan dan pembongkaran lapisan tanah penutup (Overburden). Lapisan tanah penutup dibagi menjadi 2 yaitu lapisan tanah penutup yang lunak dan lapisan tanah penutup yang keras. Lapisan tanah penutup yang terdapat setelah lapisan tanah penutup atas adalah lapisan tanah penutup yang lunak. Lapisan tanah penutup yang lunak(topsoil) mudah dikupas sehingga tidak memerlukan aktivitas peledakan.
Lapisan tanah penutup selanjutnya adalah lapisan tanah penutup yang keras. Lapisan tanah penutup yang keras adalah lapisan tanah penutup yang paling dekat
dengan lapisan batubara. Kegiatan pembongkaran lapisan tanah penutup yang keras dilakukan dengan peledakan, setelah diledakkan lapisan tanah penutup yang keras akan mudah untuk dimuat oleh alat mekanis.
Kegiatan peledakan pembongkaran lapisan tanah penutup pada Tambang Senakin dilakukan oleh PT. ORICA sebagai subkontraktor Peledakan PT. Thiess Contractors Indonesia. Sebelum kegiatan peledakan terlebih dahulu dilakukan pemboran (drilling) lubang ledak. Untuk proses pembuatan lubang ledak dengan Mesin bor dilakukan oleh PT. Thiess Contractors Indonesia dengan menggunakan mesin bor Ingersoll Rand tipe DM50E berjumlah 2 unit dengan kapasitas pemboran 58 m/jam. Untuk lubang ledak kedalamannya rata-rata 16 meter per lubang dengan total kedalaman lubang bor 400 m/hari dan 2800 m/minggu dan jumlah bahan peledak yang digunakan 487.5 kg/m per lubang ledak dengan tingkat getaran tanah tertinggi 5,61mm/s pada jarak 1540m . Setelah lubang ledak dibuat, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pengisian (Charging)
bahan peledak pada lubang ledak. Untuk proses pengisian lubang ledak sampai peledakan dilakukan dilaksanakan oleh PT. ORICA.
Gambar 2.4 Peledakan Overburden
Alat mekanis yang digunakan untuk menggali dan memuat lapisan tanah penutup pada Tambang Senakin yaitu Excavator Hitachi tipe EX-3600 dan Excavator Liebherr dan 9350 (Backhoe). Untuk proses pengangkutannya
menggunakan dump truck Caterpillar tipe 785C dengan kapasitas maksimal 150 ton,
dump truck Caterpillar tipe 777D dengan kapasitas maksimal 110 ton. Semua dump truck yang digunakan merupakan tipe Rear Dump Truck (RDT.
3. Penambangan Lapisan Batubara
Penambangan batubara pada Tambang batubara Senakin adalah kegiatan pengambilan batubara dari tambang kemudian diangkut ke tempat penimbunan batubara (ROM Stock), diangkut ke pencucian (Jig Wash Plant/Dense medium Plant) dan kemudian diangkut ke product load out (Sembilang/Sungai Tawar Port).Karena lapisa batubara yang relatif keras maka sebelum digali oleh excavator perlu dilakukan ripping terlebih dahulu menggunakan Bulldozer Caterpillar tipe D10. Selain untuk ripping batubara, bulldozer juga digunakan untuk mengumpulkan batubara yang tercecer dan perbaikan loading point batubara. Untuk penggalian dan pemuatan batubara ke dump truck digunakan excavator Hitachi tipe EX 1200 (Backhoe) (lihat gambar 2.5).
Gambar 2.5
Loading Point Batubara
Sedangkan untuk alat angkut dari loading point batubara menuju ROM stock digunakan Dump Truck Caterpillar tipe 773E (Cambuna) dengan kapasitas muatan maksimal 60 ton. Pengapalan batubara (barging) hasil penambangan dari tambang
batubara Senakin dilakukan di Port Sembilang dan Air Tawar II dengan menggunakan barged dengan kapasitas antara 3000 ton sampai 8000 ton dan operasionalnya menjadi tanggung jawab PT. Arutmin Indonesia sebagai owner dan selanjutnya di bawa ke North Pulau Laut Coal Terminal di Kotabaru dan siap di ekspor.
4. Kegiatan Reklamasi
Reklamasi adalah usaha memperbaiki atau memulihkan kembali lahan dan vegetasi dalam kawasan hutan yang rusak sebagai akibat usaha pertambangan dan energi agar dapat berfungsi secara optimal sesuai dengan peruntukannya. Aktivitas reklamasi yang dilakukan oleh PT. Thiess Contractors Indonesia dibagi menjadi beberapa tahapan antara lain: Penghalusan lahan (smoothing), pembentukan lahan (regreding), penyebaran lapisa tanah pucuk, pembuatan gradient channel, penyebaran cover crop, penanamam pohon (revegetation) dan pemeliharaan.
Penghalusan lahan adalah proses menghaluskan lahan bekas aktivitas penambanga di area bekas dumping point. Alat yang digunakan adalah Bulldozer kecil yaitu Bulldozer Caterpillar tipe D7G untuk melakukan aktivitas smoothing. Pembentukan lahan dilakukan setelah penghalusan lahan selesai.
Setelah kegiatan smoothing selesai kemudian dilanjutkan dengan aktivitas penyebaran lapisan tanah pucuk pada area yang akan direklamasi. Tanah pucuk tersebut berasal dari Stock Topsoil dan dari kegiatan pengupasan tanah pucuk secara langsung. Tahapan selanjutnya adalah pembuatan Gradient Channel sebagai tempat mengalirnya air pada area yang akan direklamasi dengan membuat paritan memanjang dengan kemiringan tertentu supaya aliran air hujan tidak menghanyutkan
topsoil yang sudah disebarkan. Setelah topsoil disebarkan secara merata dilanjutkan
dengan penanaman Cover crop. Cover crop adalah sejenis kacang-kacangan yang dapat tumbuh cepat menutupi areal terbuka. Penanaman cover crop pada daerah yang terbuka dilakukan sebagai perlindungan untuk mengurangi jumlah lapisan yang terbawa air.
Pohon yang ditanam pada kegiatan reklamasi Tambang Senakin oleh PT. Thiess Contractors Indonesia dibagi 2 macam yaitu tanaman cepat tumbuh (fast
tanaman cepat tumbuh yang dipakai dalam proses revegetasi adalah Akasia (Acacia
Mangium), Sengon Laut (Paraserianthes Falcataria), Sungkai (Peronema Canescens) dan Gmelina (Gmelina Arborea). Sedangkan tanaman yang tergolong
tanaman multi guna yang ditanam adalah Karet, Kecapi, Rambutan, Durian, Nangka, Cempedak, dan lain-lain. Untuk pemeliharaan tanaman aktivitas yang dilakukan antara lain; pemupukan tanaman pada umur 2 minggu, 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan, 12 bulan dan 18 bulan, pembersihan tanaman pengganggu/ pesaing, penyiangan dilakukan sampai tanaman umur 6 bulan, pemangkasan cabang/ranting yang tidak perlu, inspeksi tanaman bila diperlukan.
BAB III
LANDASAN TEORI
3.1. GETARAN TANAH (GROUND VIBRATION) 3.1.1. Pengertian Getaran Tanah (Ground Vibration)
Getaran Tanah (Ground Vibration) adalah gerakan bumi yang terjadi akibat perambatan gelombang seismik di bawah tanah. Kegiatan peledakan selalu menghasilkan gelombang sismik. Tujuan peledakan umumnya untuk memecahkan batuan. Kegiatan ini membutuhkan sejumlah energi yang cukup sehingga melebihi atau melampaui kekuatan batuan atau melampaui batas elastis batuan.Apabila hal tersebut terjadi maka batuan akan menjadi pecah.Proses pemecahan batuan akan terus berlangsung ,sampai energi yang di hasilkan bahan peledak makin lama makin berkurang,dan menjadi lebih kecil dari kekuatan batuan.Sehingga proses pemecahan batuan terhenti,dan energi yang tersisa akan menjalar melalui batuan,karena masih dalam batas elastisitasnya.Hal ini akan menghasilkan gelombang seismik.
Tingkat getaran dipengaruhi oleh 2 faktor utama yaitu : Jumlah bahan peledak / waktu tunda (Charge Weight Per Delay), Jarak Pengukuran. Semakin banyak bahan peledak maka semakin tinggi nilai kecepatan partikel puncak,dan semakin jauh jarak pengukuran peledakan maka semakin rendah nilai partikel puncak.
Dengan menggunakan uji berbagai scale distance disuatu daerah maka akan diperoleh persamaan yang akan digunakan untuk memperkirakan tingkat getaran yang akan terjadi.
Dalam teori getaran ada tiga macam gelombang yaitu:
1. Gelombang tekan (compressive wave) adalah gelombang yang menghasilkan pemadatan dan pemuaian pada daerah yang sama dengan arah perambatan gelombang.
2. Gelombang geser (shear wave) adalah gelombang yang melintang (transversal) yang bergerak tegak lurus pada arah perambatan gelombang.
3. Gelombang permukaan (surface wave) adalah gelombang yang merambat diatas permukaan batuan tetapi tidak menembus batuan.
Ketiga jenis gelombang getar tersebut dapat dikelompokkan dalam gelombang badan dan gelombang permukaan.
Gelombang badan merambat melalui tubuh dari batuan atau tanah. Salah satu jenis gelombang badan adalah P-Waves yang menyebabkan tekanan/pemuaian pada arah perambatan gelombang.
3.1.2. Gelombang Seismik
Gelombang seismik menggambarkan getaran tanah dilokasi penerima. Getaran tanah merupakan akibat dari gelombang badan dan gelombang permukaan yang yang ada dalam kulit bumi dengan lintasan yang berbeda.
Walaupun gelombang seismik memperlihatkan waktu tiba yang berbeda, tetapi waktu tiba yang paling mudah untuk dikenal adalah waktu tiba dari gelombang yang tiba lebih awal.
Lintasan tempuh gelombang didalam kulit bumi pada umumnya di bagi menjadi tiga yaitu:
1. Lintasan gelombang langsung 2. Lintasan gelombang pantul 3. Lintasan gelombang bias
Pemantulan dan pembiasan terjadi jika gelombang merambat melalui bidang antara dua material yang berbeda densitas dan karakteristiknya.
Terjadinya pemantulan dan pembiasan dipengaruhi oleh kecepatan rambat gelombang dalam medium yang besarnya sama dengan sudut datang gelombang. Pemantulan terjadi jika gelombang datang dari medium dengan cepat rambat lebih besar dan dengan sudut yang datang lebih besar dar sudut datang kritis. Sudut datang kritis adalah sudut datang yang mana sudut biasnya 90º. Pada sudut 90º gelombang akan dibiaskan dengan sudut 0º, dengan kata lain gelombang akan di pantulkan tanpa penyimpangan ke arah semula.
Gambar 3.1
Lintasan Gelombang Langsung,Bias dan Pantul
3.1.3 Persamaan Gelombang
Analisa seismik diperlukan untuk mengetahui besarnya parameter getaran sehingga dapat diperkirakan tingkat getaran yang mungkin terjadi akibat adanya gelombang seismik. Analisa ini dapat dilakukan berdasarkan persamaan gerak, perambatan gelombang dan spektrum respon. Parameter yang ditentukan adalah perpindahan (δ), kecepatan (v), percepatan (a) dimana V = 2
π
a f.3.2. Peralatan Yang Di Gunakan 3.2.1. Compact Texcel Monitor
Alat yang digunakan untuk mengukur getaran peledakan di lapangan adalah
Compact TexcelMonitor (gambar 3.1). Alat ini memiliki tiga saluran yang terdiri dari
saluran perekam getaran yang ditimbulkan dari hasil peledakan yang terdiri dari tiga komponen gerakan batuan pada arah transversal, vertical, dan longitudinal (Radial). Saluran kedua adalah saluran yang digunakan untuk merekam airblast yang ditimbulkan selama proses peledakan, saluran ketiga adalah saluran untuk mengkoneksikan alat ke komputer/laptop (output data hasil rekaman baik itu dari hasil getaran maupun hasil suara ledakan).
Alat ini terdiri dari: 1. Geophone
2 Microphone (Sound level meter) 3 Monitor
Gambar 3.2 Compact Texcel Monitor
Prinsip kerja geophone adalah mengubah masukan yang berupa getaran tanah menjadi gaya pegas/sinyal listrik (tergantung jenis geophone yang di pakai) sehingga di peroleh keluaran berupa angka.
Tanggapan Alat
Getaran
Frekuensi
Gambar 3.3
Getaran Berada Di Luar Jangkauan (Salah)
Tanggapan Alat
Getaran
Frekuensi
Gambar 3.4
Getaran Berada Di Dalam Jangkauan (Benar)
S
impangan
S
3.3. Mekanisme Pecahnya Batuan
Proses pemecahan batuan dibagi menjadi 3 (tiga) tahap : a) Proses pemecahan tahap I (Dinamic Loading)
Pada saat bahan peledak meledak, tekanan tinggi yang ditimbulkan akan menghancurkan batuan di daerah sekitar lubang tembak. Terjadi gelombang kejut (shock wave) yang merambat dengan kecepatan 2.750-5.200 ft/det dan akan mengakibatkan tegangan tangensial (tangensial stress) yang menimbulkan rekahan radial (radial crack) yang menjalar dari daerah lubang tembak. Rekahan radial pertama terjadi dalam waktu 1-2 ms.
b) Proses Pemecahan tahap II (Quo-static Loading)
Tekanan akibat gelombang kejut yang meninggalkan lubang tembak pada proses pemecahan tahap I adalah positif. Apabila gelombang kejut mencapai bidang bebas (free face), gelombang tersebut akan dipantulkan. Bersamaan dengan itu tekanannya akan turun dengan cepat dan kemudian akan berubah menjadi negatif, serta menimbulkan gelombang tarik (tension
wave) yang akan merambat kembali di dalam batuan. Oleh karena ketahanan
batuan terhadap kuat tarik lebih kecil daripada kuat tekan, maka akan terjadi rekahan-rekahan karena tegangan tarik (tensile stress) cukup kuat sehingga menyebabkan terjadinya scabbing atau spalling pada bidang bebas.
Dalam proses pemecahan tahap I dan II fungsi dari energi yang ditimbulkan oleh gelombang kejut adalah membuat sejumlah pecahan-pecahan kecil pada batuan. Secara teoritis jumlah energi gelombang kejut hanya berkisar antara 5-15 % dari energi total bahan peledak. Jadi gelombang kejut tidak secara langsung memecahkan batuan, tetapi mempersiapkan kondisi batuan untuk proses pemecahan tahap akhir.
c) Proses Pemecahan tahap III (Release of Loading)
Proses ini merupakan tahap terakhir dari pemecahan batuan. Dengan pengaruh tekanan yang sangat tinggi dari gas-gas hasil peledakan, rekahan radial utama (tahap II) akan diperlebar/diperbesar secara cepat oleh efek kombinasi dari tegangan tarik yang disebabkan kompresi radial dan
pembajian. Apabila massa di depan lubang tembak gagal mempertahankan posisinya dan bergerak ke depan, maka tegangan tekan tinggi yang berada dalam batuan akan dilepaskan seperti spiral kawat yang ditekan kemudian dilepaskan. Akibat pelepasan tegangan tekan ini akan menimbulkan tegangan tarik yang besar di dalam massa batuan. Tegangan tarik inilah yang melengkapi proses pemecahan batuan yang sudah dimulai pada tahap II. Rekahan yang terjadi dalam proses pemecahan tahap II merupakan bidang-bidang lemah yang membantu fragmentasi utama pada proses peledakan. Umumnya batuan akan pecah secara alamiah mengikuti bidang-bidang yang lemah, seperti kekar dan bidang perlapisan.
Secara singkat, proses pecahnya batuan saat peledakan pada dasarnya mengalami beberapa tahap, yaitu dimulai dengan membesarnya lubang ledak yang disebabkan oleh tekanan ledakan dari bahan peledak. Pada tahap selanjutnya, energi ledakan akan menuju bidang bebas terdekat sambil melakukan tekanan terhadap batuan di sekitarnya. Pada tahap terakhir, energi ledakan tersebut dipantulkan kembali oleh bidang bebas dan menekan permukaan batuan dengan tekanan yang melebihi kuat tarik dari batuan tersebut sehingga batuan menjadi pecah (Gambar 3.5).
Gambar 3.5 Proses Pecahnya Batuan
3.4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Dalam Usaha Perancangan Peledakan
Faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan peledakan dapat dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu peubah yang tidak dapat dikendalikan (uncontrollable
variable) dan peubah yang dapat dikendalikan.
3.4.1. Faktor yang Tidak Dapat Dikendalikan 3.4.1.1. Karakteristik Masa Batuan
Dalam kegiatan pemboran dan peledakan, karakteristik massa batuan yang perlu diperhatikan yaitu kekerasan/kekuatan batuan, elastisitas dan plastisitas batuan, abrasivitas batuan dan kecepatan perambatan gelombang pada batuan.
a) Semakin tinggi tingkat kekerasan batuan, maka akan semakin sukar batuan tersebut untuk dihancurkan (Tabel 3.1), demikian juga dengan batuan yang memiliki kerapatan tinggi. Sehingga semakin berat massa suatu batuan, bahan peledak yang dibutuhkan untuk membongkar atau menghancurkan batuan tersebut akan lebih banyak.
Tabel 3.1
Moh's Hardness dan Compressive Strength
Hardness Moh's MPa (MN/m2)
Extremely Hard > 7 > 200 Hard 6 – 7 120 – 200 Medium Hard 4,5 – 6 60 – 120 Qiute soft 3 – 4,5 30 – 60 Soft 2 – 3 10 – 30 Extremely soft 1 – 2 < 10
b) Elastisitas batuan adalah sifat yang dimiliki batuan untuk kembali ke bentuk atau keadaan semula setelah gaya yang diberikan kepada batuan tersebut dihilangkan. Secara umum batuan memiliki sifat elastis fragile yaitu batuan dapat dihancurkan apabila mengalami regangan yang melewati batas elastisitasnya. Sedangkan plastisitas batuan merupakan perilaku batuan yang mengizinkan deformasi permanen setelah regangan dikembalikan ke kondisi awal, dimana batuan tersebut belum hancur.
c) Abrasifitas batuan merupakan suatu parameter batuan yang mempengaruhi keausan (umur) dari mata bor yag digunakan untuk melakukan pemboran pada batuan tersebut.
d) Kecepatan perambatan gelombang pada setiap batuan berbeda. Secara teoritis semakin tinggi kecepatan rambat gelombang pada suatu batuan, maka diperlukan bahan peledak yang memiliki energi yang tinggi pula agar dapat menghancurkan batuan tersebut.
Gambar 3.6
3.4.2. Peubah yang Dapat Dikendalikan
Adalah faktor-aktor yang dapat dikendalikan oleh kemampuan manusia dalam merancang suatu peledakan untuk memperoleh hasil peledakan yang diharapkan. Faktor-faktor tersebut dapat diklasifikasikan kedalam 3 kelompok yaitu : a). Geometri, meliputi diameter lubang ledak, panjang isian, burden, spasi, stemming
dan lain-lain
b). Bahan peledak, meliputi tipe bahan peledak, kekuatan, energi, sistim penyalaan dan lain-lain
c) Waktu, meliputi waktu tunda dan urutan penyalaan 3.4.2.1. Geometri Pemboran
Geometri pemboran meliputi diameter pemboran, kemiringan pemboran dan pola pemboran.
a) Diameter pemboran
Diameter lubang ledak merupakan parameter yang penting dalam
merancang suatu peledakan karena akan mempengaruhi geometri peledakan. Pemilihan ukuran lubang ledak secara tepat pada suatu rancangan peledakan akan memberikan dua bagian penilaian. Bagian pertama yaitu mempertimbangkan efek dari ukuran lubang ledak terhadap fragmentasi, suara ledakan, batu terbang dan getaran tanah, sedangkan bagian kedua adalah mempertimbangkan faktor ekonominya.
Bila diameter lubang ledak terlalu kecil, maka faktor energi yang dihasilkan akan berkurang sehingga tidak cukup besar untuk membongkar batuan yang akan diledakkan, sedangkan bila diameter lubang ledak terlalu besar akan mengakibatkan besarnya fragmentasi batuan dan akan menimbulkan efek peledakan yang maksimal terhadap lingkungan.
Ukuran diameter lubang ledak yang akan dipilih akan tergantung pada: 1. Volume massa batuan yang akan dibongkar (volume produksi) 2. Tinggi jenjang dan konfigurasi isian
3. Tingkat fragmentasi yang diinginkan 4. Alat muat yang digunakan
Diameter lubang ledak juga mempengaruhi panjang stemming. Untuk menghindari getaran maupun batuan terbang (flyrock), apabila lubang ledak berdiameter besar maka stemming harus panjang sedangkan jika lubang ledak berdiameter kecil maka stemming menjadi pendek .
b) Kemiringan lubang ledak
Kemiringan lubang ledak secara teoritis ada dua, yaitu lubang ledak tegak dan lubang ledak miring (Gambar 3.7). Pada rancangan peledakan yang menerapkan lubang ledak tegak, gelombang tekan yang dipantulkan oleh bidang bebas lebih sempit sehingga kehilangan gelombang tekan akan cukup besar pada lantai jenjang bagian bawah. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya tonjolan pada lantai jenjang (toe remnant). Sedangkan pada peledakan dengan lubang ledak miring akan membentuk bidang bebas yang lebih luas, sehingga akan mempermudah proses pecahnya batuan dan kehilangan gelombang tekan pada lantai jenjang menjadi lebih kecil.
Keuntungan dan kerugian dari penggunaan kedua sistem tersebut adalah sebagai berikut:
Untuk lubang ledak tegak. Keuntungannya adalah :
- Pemboran dapat dilakukan dengan lebih mudah dan lebih akurat
- Untuk tinggi jenjang yang sama, kedalaman lubang ledak tegak akan lebih pendek jika dibanding dengan lubang ledak miring
- Lemparan batuan lebih sedikit Kerugiannya adalah :
- Kemungkinan timbulnya tonjolan pada lantai jenjang (remnant toe) besar - Kemungkinan timbulnya retakan ke belakang jenjang (backbreak) dan
getaran tanah (ground vibration) lebih besar
- Fragmentasi kurang bagus terutama pada daerah stemming - Penghancuran disepanjang lubang tidak merata
Untuk lubang ledak miring Keuntungannya adalah :
- Dinding jenjang dan lantai jenjang yang dihasilkan relatif lebih rata
- Mengurangi terjadinya pecah berlebihan pada batas baris lubang ledak bagian belakang (back break)
- Powder factor lebih rendah, karena gelombang kejut yang dipantulkan untuk
menghancurkan batuan pada lantai jenjang lebih efisisen
- Produktifitas alat muat tinggi karena tumpukan hasil peledakan (muckpile) lebih rendah dan seragam
- Mengurangi terjadinya longsoran Kerugiannya adalah :
- Kesulitan dalam penempatan sudut kemiringan yang sama antar lubang ledak serta dibutuhkan lebih banyak ketelitian dalam pembuatan lubang ledak, sehingga membutuhkan pengawasan yang ketat
- Mengalami kesulitan dalam pengisian bahan peledak
- Pada pemboran lubang ledak dalam, sudut deviasi yang dibentuk akan semakin besar
- Biaya operasi besar
Gambar 3.7
c) Pola Pemboran
Pada umumnya ada dua macam pola pemboran lubang ledak, yaitu pola pemboran sejajar (paralel) dan pola pemboran selang-seling (staggered).
Pola pemboran sejajar adalah pola dengan penempatan lubang bor yang sejajar pada setiap kolomnya, sedangkan pola pemboran selang-seling adalah pola dengan penempatan lubang bor secara berselang-seling pada setiap kolomnya.
Pola pemboran sejajar merupakan pola yang lebih mudah diterapkan dilapangan, tetapi perolehan fragmentasi batuannya kurang seragam. Sedangkan pola pemboran selang-seling lebih sulit penanganannya di lapangan namun fragmentasi batuannya lebih baik dan seragam, hal ini disebabkan karena distribusi energi peledakan yang dihasilkan lebih optimal bekerja dalam batuan.
Gambar 3.8 Pola Pemboran
Gambar 3.9
Pengaruh Energi Peledakan pada Pola Pemboran 3.4.2.2. Geometri Peledakan
Yang dimaksud dengan geometri peledakan adalah besaran-besaran yang menentukan keberhasilan dari operasi peledakan, yaitu burden, spasi, stemming,
subdrilling, kedalaman lubang ledak, panjang isian dan tinggi jenjang
(lihat Gambar 3.10)
Gambar 3.10 Geometri Peledakan
Perhitungan geometri peledakan menurut Konya (1990) tidak hanya mempertimbangkan faktor bahan peledak, sifat batuan dan diameter lubang ledak, tetapi juga memperhatikan faktor koreksi terhadap posisi lapisan batuan, keadaan struktur geologi serta koreksi terhadap jumlah lubang ledak yang diledakkan.
a) Burden
Burden adalah jarak tegak lurus antara lubang ledak terhadap bidang bebas
terdekat dan merupakan arah pemindahan batuan (displacement) akan terjadi. Jarak burden yang baik adalah jarak yang memungkinkan energi ledakan dapat secara maksimal bergerak keluar dari kolom isian menuju bidang bebas, dan dipantulkan kembali dengan kekuatan yang cukup untuk melampaui kuat tarik batuan sehingga akan terjadi penghancuran batuan. Dengan demikian pecahnya batuan yang terjadi dapat sesuai dengan fragmentasi batuan yang direncanakan dengan mengupayakan sekecil mungkin terjadinya batu terbang (flyrocks), bongkah dan retaknya batuan pada batas akhir jenjang.
Pada Gambar 3.11 memperlihatkan lubang tembak jauh dari free face, sehingga peledakan hanya menghancurkan bagian disekitar lubang tembak saja. Semakin dekat lubang tembak dengan free face, maka retakan yang terjadi semakin banyak sehingga dapat memecahkan batuan sekaligus mendorongnya membentuk tumpukan yang akan memudahkan proses pemuatan hasil peledakan , tetapi apabila lubang tembak terlalu dekat dengan free face , batuan akan sangat terpecahkan, terlempar dan akan menyebabkan flyrocks, tersebar luas sehiggga akan menyulitkan proses sesudahnya.
Gambar 3.11
Tabel 3.2
Koreksi Posisi Lapisan Batuan dan Struktur Geologi
Rock Deposition Kd
Bedding steeply dipping into cut 1,18
Bedding steeply dipping into face 0,95
Other cases of deposition 1,00
Geologic Structure Ks
Heavily cracked, frequent weak joint, weakly cemented layers
1,30
Thin well-cemented layers with tight joints 1,10
Massive intact rock 0,95
Dalam penentuan panjang burden berdasarkan rumusan Konya sebagai berikut: De SGr SGe B ⎥ ⎦ ⎤ ⎢ ⎣ ⎡ + ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎝ ⎛ =0,012 2 1,5 ...(3.1) keterangan : B = Burden (m)
SGe = Berat jenis bahan peledak SGr = Berat jenis batuan
De = Diameter lubang ledak (mm)
sedangkan perhitungan koreksi burden digunakan rumusan dibawah ini : B2 = Kd x Ks x Kr x B1...(3.2) keterangan :
B1 = Burden awal (m) B2 = Burden terkoreksi (m)
Kd = Faktor koreksi berdasarkan struktur geologi batuan Ks = Faktor koreksi berdasarkan orientasi perlapisan
Kr = Faktor koreksi berdasarkan jumlah baris peledakan, yaitu Kr = 1 jika terdapat satu atau 2 baris dan Kr = 0,9 jika terdapat 3 baris atau lebih. b) Spasi
Spasi adalah jarak terdekat antara dua lubang ledak yang berdekatan di dalam satu baris (row). Perbandingan jarak spasi dengan burden (S/B) pada pola peledakan dan penyebaran energinya. Apabila spasi terlalu besar, akan
menyebabkan banyak bongkah atau bahkan batuan hanya mengalami keretakan dan menimbulkan tonjolan diantara dua lubang ledak setelah diledakkan, karena energi ledakan dari lubang yang satu tidak mampu berinteraksi dengan energi dari lubang lainnya tetapi bila jarak spasi terlalu keci,akan menyebabkan batuan hancur menjadi halus, disebabkan karena energi yang menekan terlalu kuat dan menimbulkaan efek ledakan berupa noise (kebisingan) dan flyrocks.
Untuk memperoleh jarak spasi maka digunakan rumusan sebagai berikut: 1). Instantneous initation single row blastholes
A. Untuk tinggi jenjang rendah (low benches) L < 4B, S = ( L + 2B) / 3
B. Untuk tinggi jenjang besar (high benches) L = 4B, S = 2B
2). Delayed initation single row blastholes
A. Untuk tinggi jenjang rendah (low benches) L < 4B, S = ( L+ 7B ) / 8
B. Untuk tinggi jenjang besar (high benches) L = 4B, S = 1,4B
c) Stemming
Stemming adalah tempat material penutup di dalam lubang ledak, yang
letaknya di atas kolom isian bahan peledak. Fungsi stemming adalah agar terjadi keseimbangan tekanan dan mengurung gas-gas hasil ledakan sehingga dapat menekan batuan dengan energi yang maksimal. Disamping itu stemming juga berfungsi untuk mencegah agar tidak terjadi batuan terbang (flyrocks) dan ledakan tekanan udara (airblast) saat peledakan.
Dalam hal ini panjang stemming juga dapat mempengaruhi ukuran fragmen batuan hasil peledakan, dimana stemming yang terlalu panjang dapat mengakibatkan terbentuknya bongkah apabila energi ledakan tidak mampu untuk menghancurkan batuan di sekitar stemming tersebut, dan stemming yang terlalu pendek dapat mengakibatkan terjadinya batuan terbang dan pecahnya batuan menjadi lebih kecil.
Untuk penentuan tinggi stemming digunakan rumusan seperti yang tertera berikut ini :
T = 0,7 x B keterangan : T = Stemming (m) d) Subdrilling (J)
Subdrilling adalah tambahan kedalaman pada lubang bor di bawah lantai
jenjang yang dibuat dengan maksud agar batuan dapat terbongkar sebatas lantai jenjangnya.
Jika panjang subdrilling terlalu kecil maka batuan pada batas lantai jenjang
tidak lengkap terbongkar sehingga akan menyisakan tonjolan pada lantai jenjangnya. Sebaliknya bila panjang subdrilling terlalu besar akan menghasilkan
ground vibration dan secara langsung akan menambah biaya pemboran dan
peledakan.
Dalam penentuan tinggi subdrilling yang baik untuk memperoleh lantai jenjang yang rata maka digunakan rumusan sebagai berikut :
J = 0,3 x B keterangan :
J = Subdrilling (m)
e) Kedalaman Lubang Ledak (H)
Dalam penentuan kedalaman lubang ledak biasanya disesuaikan dengan tingkat produksi (kapasitas alat muat) dan pertimbangan geoteknik.
Pada prinsipnya kedalaman lubang ledak merupakan jumlah total antara tinggi jenjang dengan besarnya subdrilling, yang dapat ditulis sebagai berikut:
H = L + J keterangan:
H = Kedalaman lubang ledak (m) L = Tinggi jenjang (m)
f) Panjang Kolom Isian (PC)
Panjang kolom isian merupakan panjang kolom lubang ledak yang akan diisi bahan peledak. Panjang kolom ini merupakan kedalaman lubang ledak dikurangi panjang stemming yang digunakan, sehingga dapat ditulis:
PC = H – T
keterangan :
PC = Panjang kolom isian (meter) H = Kedalaman lubang ledak (meter)
T = Stemming (meter)
g) Tinggi Jenjang (L)
Secara spesifik tinggi jenjang maksimum ditentukan oleh peralatan lubang bor dan alat muat yang tersedia. Tinggi jenjang berpengaruh terhadap hasil peledakan seperti fragmentasi batuan, ledakan udara, batu terbang dan getaran tanah. Hal ini dipengaruhi oleh jarak burden. Berdasarkan perbandingan tinggi jenjang dan jarak burden yang diterapkan (stiffness ratio), maka akan diketahui hasil dari peledakan tersebut .
Penentuan ukuran tinggi jenjang berdasarkan stiffness ratio digunakan rumus sebagai berikut :
L = 5De x 0,3048 keterangan :
L = Tinggi jenjang minimum (m) De = Diameter lubang ledak (inchi)
Efek ukuran lubang tembak terhadap faktor-faktor diatas dapat diprediksi. Umumnya, makin besar diameter lubang tembak kemungkinan terjadinya vibrasi,
airblast, dan flyrocks sangat besar, dan biasanya fragmentasi juga sulit dikontrol.
Untuk mengatasi persoalan diatas perlu perkiraan yang akurat tentang hubungan diameter lubang tembak dengan burden. Hubungan kedua parameter tersebut dinamakan Stiffness Ratio, yaitu tinggi jenjang dibagi dengan burden atau L/B dan pengaruhnya dapat dilihat pada Tabel 3.3
B L Sf = keterangan : Sf = Stiffness Ratio L = Tnggi jenjang, (m) B = burden, (m)
Tabel 3.3
Stiffness Ratio dan Pengaruhnya
3.4.2.3. Pola Peledakan
Pola peledakan merupakan urutan waktu peledakan antara lubang-lubang bor dalam satu baris dengan lubang bor pada baris berikutnya, ataupun antara lubang bor yang satu dengan lubang bor yang lainnya.
Pola peledakan ini ditentukan berdasarkan urutan waktu peledakan serta arah runtuhan material yang diharapkan.
Berdasarkan arah runtuhan batuan, pola peledakan diklasifikasikan sebagai berikut : a. Box Cut, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya ke depan dan
membentuk kotak
b. Echelon cut, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya ke salah satu sudut dari bidang bebasnya (Lihat gambar 3.12).
c. V cut, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya kedepan dan membentuk huruf V.
Berdasarkan urutan waktu peledakan, metode peledakan diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Metode peledakan serentak, yaitu suatu metode yang menerapkan peledakan secara serentak untuk semua lubang ledak.
b. Metode peledakan beruntun, yaitu suatu metode yang menerapkan peledakan dengan waktu tunda antara baris yang satu dengan baris lainnya.
Stiffnes
s Ratio Frag. Airblast Flyrock Vibrasi Keterangan 1 Jelek Berpotensi Berpotensi Berpotensi
Potensi terjadinya
backbreak dan toe.
Harus dihindari dan dirancang ulang
2 Sedang Sedang Sedang Sedang Sebaiknya dirancang ulang
3 Baik Baik Baik Baik Terkontrol dan fragmentasi
memuaskan
4 Sempurna Sempurna Sempurna Sempurna Tidak menguntungkan lagi bila Stiffness
Gambar 3.12 Pola Peledekan Echelon 3.4.2.4. Waktu Tunda (Delay Time)
Waktu tunda merupakan penundaan waktu peledakan antara baris depan dengan baris dibelakangnya atau antar lubang ledak dengan menggunakan delay
detonator. Pemakaian waktu tunda yang optimum pada suatu rancangan peledakan
tergantung pada beberapa faktor, yaitu : a) Sifat massa batuan (rock mass properties) b) Geometri peledakan
c) Karakteristik bahan peledak d) Sistem penyalaan
e) Efek peledakan yang diijinkan f) Hasil peledakan yang diinginkan
Keuntungan melakukan peledakan dengan waktu tunda ialah : a. Fragmentasi batuan hasil peledakan akan lebih seragam dan baik. b. Mengurangi timbulnya getaran tanah, flyrock dan airblast. c. Menyediakan bidang bebas baru untuk peledakan berikutnya. d. Arah lemparan dapat diatur.
e. Batuan hasil peledakan (muckpile) tidak menumpuk terlalu tinggi.
Tujuan penyalaan dengan waktu tunda adalah untuk mengurangi jumlah muatan yang meledak dalam waktu bersamaan dan memberikan tenggang waktu pada material yang dekat dengan bidang bebas untuk dapat meledak secara sempurna,
serta untuk menyediakan ruang atau bidang bebas baru bagi baris lubang ledak berikutnya.
Bila waktu tunda antar baris terlalu pendek maka beban muatan dalam baris depan akan menghalangi pergeseran dari baris berikutnya, sehingga kemungkinan material pada baris kedua akan tersembur ke arah vertikal membentuk tumpukan. Akibatnya tumpukan material hasil peledakan (muckpile) menjadi sangat tinggi dan akan menyulitkan kegiatan pemuatan.
Tetapi bila waktu tundanya terlalu lama, maka produk hasil bongkaran akan terlempar jauh ke depan serta kemungkinan besar akan terjadi flyrock. Hal ini disebabkan karena tidak ada dinding batuan yang berfungsi sebagai penahan lemparan batuan di depannya.
Waktu tunda yang diterapkan dapat berupa surface delay (waktu tunda pada satu baris dan waktu tunda antar baris) dan in-hole dalay.
a. Waktu tunda pada satu baris (intra-row delay)
Dalam pelaksanaannya hal ini dilakukan untuk mendapatkan tingkat fragmentasi, pemindahan (displacement), mengurangi overbreak dan tingkat getaran yang diinginkan. Intra-row-delay untuk memperoleh hasil peledakan yang optimum biasanya antara 2 sampai 5 ms/m spasi.
b. Waktu tunda antar baris (inter-row delay)
Penerapan waktu tunda ini sama penting dengan intra-row-delay dalam usaha mengontrol hasil peledakan secara keseluruhan. Rancangan peledakan yang menerapkan banyak baris menggunakan waktu tunda antar baris karena burden pada tiap lubang ledak membutuhkan waktu untuk bergerak sesudah detonasi untuk membuat bidang bebas baru (Gambar 3.15A), sedangkan penerapan waktu tunda yang tidak cukup akan mengurangi unjuk kerja peledakan (blast
performance), flyrock dan overbreak (Gambar 3.15B).
c. Waktu tunda dalam lubang ledak (In-hole delay)
Penerapan in-hole delay yang tepat dapat meminimalkan terjadinya cut off
selama peledakan dan mengijinkan pemakaian inter-row delay yang panjang yang akhirnya akan diperoleh unjuk kerja peledakan yang optimal. Pemakaian
in-hole delay yang optimal adalah tiga sampai lima kali waktu tunda dipermukaan
Penentuan waktu tunda yang dibutuhkan untuk pergerakan batuan hasil peledakan dapat digunakan rumusan sebagai berikut:
T = k x B keterangan :
T = waktu tunda antar baris (ms)
k = konstanta waktu antar baris, antara 6,5 ms/m – 11,5 ms/m burden
Gambar 3.13
Pengaruh Waktu Tunda
3.4.2.5. Sifat Bahan Peledak
Bahan peledak diartikan sebagai suatu rakitan yang terdiri dari bahan-bahan berbentuk padat atau cair atau campuran dari keduanya, yang apabila terkena suatu aksi seperti panas, benturan, gesekan dan sebagainya dapat bereaksi dengan
kecepatan tinggi, membentuk gas dan menimbulkan efek panas serta tekanan yang sangat tinggi.
Karakteristik bahan peledak yang sangat mempengaruhi operasi peledakan pada tambang terbuka adalah kekuatan, kecepatan detonasi, kepekaan, bobot isi, tekanan detonasi, sifat gas beracun dan ketahanan bahan peledak terhadap air.
1) Kekuatan
Kekuatan (strength) suatu bahan peledak adalah ukuran yang dipergunakan untuk mengukur energi yang terkandung pada bahan peledak dan kerja yang dapat dilakukan oleh bahan peledak. Tes yang digunakan untuk mengukur kekuatan adalah ballistic mortar test.
2) Kecepatan detonasi
Kecepatan detonasi adalah kecepatan gelombang detonasi yang melalui bahan peledak yang dinyatakan dalam m/dtk atau feet per detik. Kecepatan detonasi suatu bahan peledak tergantung dari beberapa faktor, yaitu bobot isi bahan peledak, diameter bahan peledak, derajat pengurungan, ukuran partikel dari bahan penyusunnya dan bahan-bahan yang terdapat dalam bahan peledak.
Kecepatan detonasi dapat dinyatakan dalam kondisi terkurung dan kondisi tidak terkurung. Kecepatan detonasi terkurung adalah ukuran kecepatan detonasi dimana gelombang merambat melalui kolom bahan peledak di dalam lubang ledak atau ruang terkurung lainnnya, sedangkan kecepatan detonasi tidak terkurung adalah suatu kecepatan yang menunjukan kecepatan detonasi bahan peledak apabila bahan peledak diledakkan dalam keadaan terbuka atau tidak terkurung.
Untuk peledakan pada batuan keras dipakai bahan peledak yang mempunyai kecepatan detonasi tinggi sedangkan pada batuan yang lunak dipakai bahan peledak dengan kecepatan detonasi rendah.
3) Kepekaan (sensitivity)
Kepekaan adalah ukuran besarnya sifat peka bahan peledak untuk mulai bereaksi menyebarkan reaksi peledakan ke seluruh kolom isian. Penyerapan air dan
terlapisinya kristal-kristal oleh zat lilin cenderung mengurangi kepekaan, sedangkan peningkatan temperatur dapat menyebabkan kepekaan. Jika diameter bahan peledak cukup besar maka perambatan reaksinya akan lebih mudah karena permukaan bahan peledak lebih luas, sedangkan tingkat pengurungan cenderung memusatkan tenaga reaksinya mengarah sepanjang isian dan menghindari penyebaran tenaga reaksi.
4) Bobot isi bahan peledak
Bobot isi bahan peledak merupakan salah satu sifat terpenting bahan peledak yang dinyatakan dalam satuan gr/cm3. Bobot isi dapat dinyatakan dalam beberapa cara, yaitu:
a) Berat jenis (SG), tanpa satuan
b) Stick count (SC), yaitu jumlah dodol ukuran standar 3,175 cm x 20,32 cm yang terdapat dalam satu doos seberat 22,68 kg.
c) Loading density (de), yaitu berat bahan peledak per meter panjang isian yang dinyatakan dalam kg/m.
Pada umumnya bahan peledak yang mempunyai bobot isi tinggi akan menghasilkan kecepatan detonasi dan tekanan yang tinggi.
5) Tekanan detonasi
Tekanan detonasi adalah penyebaran tekanan gelombang ledakan dalam kolom isian bahan peledak yang dinyatakan dalam kilobar (kb). Tekanan detonasi bahan peledak komersial antara 5 – 150 kb
Tekanan akibat ledakan akan terjadi di sekitar dinding lubang ledak kemudian tersebar ke segala arah. Intensitasnya dipengaruhi oleh:
• Jenis bahan peledak (kekuatan, bobot isi, VOD) • Tingkat/derajat pengurungan
• Jumlah dan temperatur gas hasil ledakan
Secara empiris, Konya (1990) merumuskannya sebagai berikut:
(
)
(
xSGe)
xSGexVe x P 8 , 0 1 10 5 , 4 6 2 + = − ...(3.3)
Keterangan :
P = Tekanan detonasi (kilobar) SGe = Berat jenis bahan peledak
Ve = Kecepatan detonasi bahan peledak (ft/detik) 1 kilobar = 14.504 psi
1 ft = 0,3048 meter 6) Ketahanan terhadap air (resistivity)
Ketahanan terhadap air suatu bahan peledak adalah kemampuan bahan peledak tersebut untuk menahan rembesan air dalam waktu tertentu dan masih dapat diledakkan dengan baik. Ketahanan ini dinyatakan dalam satuan jam. Sifat ini sangat penting terutama sebagai parameter dalam pemilihan bahan peledak, dalam hubungannya dengan kondisi tempat kerja. Untuk sebagian besar jenis bahan peledak, adanya air di dalam lubang ledak dapat mengakibatkan panambahan unsur H dan O sehingga memerlukan panas yang lebih banyak untuk menguapkan menjadi uap air. Disamping itu air dapat melarutkan sebagian kandungan bahan peledak sehingga menyebabkan bahan peledak rusak.
3.5. Pengaruh Peledakan Terhadap Media
Pengaruh peledakan antara lain menyebabkan timbulnya : daerah hancuran dan retakan di sekitar lubang tembak, getaran tanah (ground vibration) dan air blast.
3.5.1 Daerah Hancuran (Crushed Zone)
Daerah hancuran (crushed zone) terdapat di sekitar lubang tembak. Pada daerah ini material padat akan berubah menjadi butir-butir halus berupa serbuk. Hal ini dikarenakan tingginya temperatur dan tekanan gas-gas hasil reaksi peledakan dan tingginya tekanan detonasi. Ukuran daerah ini tergantung jenis bahan peledak dan material yang digunakan.
3.5.2 Daerah Retakan (Fractured Zone)
Daerah retakan (fractured zone) terjadi jika tegangan yang ditimbulkan ledakan lebih besar dari tegangan yang dapat diterima material. Retakan-retakan yang terbentuk pertama disebabkan oleh tekanan detonasi yang kemudian diperbesar oleh tekanan peledakan. Ukuran daerah ini dipengaruhi jenis material dan bahan