MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN MATERI SIMPLE PRESENT
TENSE MENGGUNAKAN TEKNIK PENGAJARAN BAHASA INGGRIS
GRAMMAR TRANSLATION METHOD PADA MAHASISWA ANGGOTA
LANGUAGE CLUB STAI RAKHA AMUNTAI
M Saufi Rahman1, Herman2, Muhammad Iqbal3, Safriyanto Renaldi41Dosen Tadris Bahasa Inggris STAI Rasyidiyah Khalidiyah, 2,3,4Mahasiswa Tadris Bahasa Inggris STAI
Rasyidiyah Khalidiyah
Email: [email protected], [email protected], [email protected], [email protected]
ABSTRAK
Simple present tense merupakan salah satu materi pembelajaran tata bahasa Inggris pada jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Permasalahan pada beberapa anggota Language Club kurang memahami penggunaan s/es/ies pada Simple present tense untuk orang ketiga. Tujuan penelitian meliputi; 1) untuk memperoleh gambaran kemampuan anggota Language Club sebelum dan sesudah menggunakan teknik pengajaran Grammar Translation Method; (2 untuk memberikan pemahaman pembelajaran dengan Grammar Translation Method; dan (3 untuk meningkatkan pemahaman para anggota Language Club dalam penggunaan s/es/ies pada Simple present tense untuk orang ketiga. Penelitian ini merupakan Penelitian Kasus Tunggal (Single Case Research) dengan desain penelitian A1-B-A2. Subyek penelitian adalah mahasiswa yang teridentifikasi mempunyai gejala pemahaman yang rendah terhadap pembelajaran materi Simple Present Tense sebanyak 2 (dua) orang yang berasal dari English Morning Class in Language Club. Hasil temuan pada penelitian eksperimen ini menunjukkan bahwa teknik Grammar Translation Method mampu meningkatkan pemahaman anggota Language Club terhadap pembelajaran Simple Present Tense. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa Sumarni mengalami peningkatan cukup pesat dan tergolong konsisten sedangkan Khairunnisa mengalami peningkatan meskipun masih belum konsisten tapi tetap menunjukkan peningkatan yang baik.
Kata kunci : Simple Present Tense, Grammar Translation Method, Single Case Research
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Bahasa merupakan sebuah alat utama yang diandalkan oleh manusia dalam berkomunikasi untuk bersosialisasi dengan orang lain. Setiap tempat memiliki bahasa tersendiri dalam berkomunikasi adapun bahasa yang sering digunakan oleh orang-orang saat ini yaitu Bahasa Inggris karena bahasa Inggris dikatakan sebagai Bahasa internasional. Oleh karena itu bahasa Inggris sering diajarkan di sekolah-sekolah bahkan dari sekolah dasar dan setidaknya sampai sekolah menengah atas.
Pada kenyataannya masih banyak guru yang belum maksimal dalam menggunakan metode dalam proses pembelajaran. Akibatnya tujuan akhir dari pembelajaran itu sendiri tidak tercapai. Agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan, mka seorang guru dituntut untuk kreatif dalam memilih metode dalam proses pembelajaran. Dengan begitu guru akan
terbantu dalam menjelaskan materi yang akan diajarkan sehingga proses pembelajaran akan menjadi menarik dan tidak membosankan untuk siswa.
Tenses atau yang biasa disebut dengan bentuk waktu kalimat dalam Bahasa inggris adalah sebuah pola dari setiap kalimat dalam Bahasa Inggris, sehingga kita akan mengetahui kapan suatu keadaan atau perbuatan terjadi atau dilakukan oleh subjek kalimat yang bersangkutan walaupun kalimat tersebut tidak diberikan waktu (Supono & Cahya, 2004).
Simple present tense merupakan salah satu pelajaran yang umumnya ditemui ketika berada disekolah menengah pertama atau sekolah menengah atas. Tenses ini merupakan tenses yang peling sering digunakan dalam Bahasa inggris dan tenses ini biasanya digunakan untuk menyatakan kejadian yang terjadi dimasa sekarang, kejadian yang berlangsung berulang kali atau sebuah kebenaran umum.
Grammar Translation Method (GTM) pertama kali berkembang di daratan Eropa kira-kira sejak abad 17 hingga pertengahan abad 20 dan metode ini pada mulanya dipakai untuk mempelajari bahasa klasik seperti bahasa Yunani dan bahasa Latin dan untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa modern (Setiyadi, 2006:13). Kegiatan utama guru dalam proses belajar mengajar dengan GTM adalah memberikan penjelasan gramatika dan terjemahan yang dianggap perlu. Pertama-tama guru memberikan pemahaman struktur kalimat serta aturan-aturan gramatika. Lalu, guru memberikan pengayaan kosakata yang harus dikuasai pembelajaran kemudian tahap berikutnya, setelah memberikan pembekalan tersebut, guru menyajikan wacana dengan cara menerjemahkan kalimat-kalimatnya satu persatu ke dalam bahasa ibu.
Terdapat permasalahan untuk beberapa mahasiswa dalam memahami simple present tense di Language Club seperti kurangnya pemahaman untuk membedakan penggunaan penambahan s/es untuk orang ketiga dan susunan tata bahasanya walaupun sudah pernah diajarkan sebelumnya.
Oleh karena itu, kami membantu menyelesaikan permasalahan tersebut dengan penelitian menggunakan Grammar Translation Method dalam mengajarkan Simple Present Tense dengan harapan para siswa dapat meningkatkan pemahaman pembelajaran tersebut.
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ialah (1) untuk memperoleh gambaran kemampuan anggota Language Club sebelum dan sesudah menggunakan teknik pengajaran Grammar Translation Method; (2) untuk memberikan pemahaman pembelajaran dengan Grammar Translation Method; dan (3) untuk meningkatkan pemahaman para anggota Language Club dalam penggunaan s/es/ies pada Simple present tense untuk orang ketiga
Landasan Teoritis
A.
Pengertian Simple present TenseElaine & Darcy (2002: 11) mengungkapkan bahwa “the simple present tense is used to describe everyday activities and habits, to make general statement of fact and to express opinions”. Hakim (2002) mengungkapkan bahwa simple present tense merupakan bentuk kalimat sederhana yang peristiwanya menunjukkan kebiasaan atau dilakukan secara berulang-ulang yang berhubungan dengan waktu sekarang. Oleh karena itu dapat kami simpulkan bahwa tenses ini digunakan untuk menyatakan aktivitas dan
kebiasaan sehari-hari dan juga menyatakan fakta atau kebenaran umum dan mengungkapkan pendapat. Hal ini sesuai Selvia & Edmund (1994: 395) bahwa “simple present tense is identical to the base of verb and add s/es for third person singular”. Tenses ini identik dengan kata kerja dasar tanpa ada imbuhan dan biasanya menggunakan penambahan s/es pada kata kerja untuk orang ketiga tunggal dalam Bahasa Inggris. Selain itu Lester (2010: 6) berpendapat bahwa “the simple present tense expresses the factual statements and generalizations and describing predictable future even or actions”. Tenses ini juga menyatakan peristiwa atau perbuatan di masa depan yang dapat diprediksi.
Adapun bentuk dari simple present tense yaitu verbal dan nominal. Rumus untuk bentuk verbal adalah: S+V1 (s/es) +O. Adapun rumus untuk
bentuk nominal adalah: S+to be1 (is, am,
are)+Complement (ANA).
B.
Pengertian Grammar Translation MethodKarl Plotz di dalam buku Setiyadi (2006: 31) menyatakan “improved the teaching method; his method was divided into two parts: (1) rules and paradigms, and (2) sentences for translation into and out of the target language”. Grammar translation method merupakan metode pembelajaran konvensional yang berfokus kepada tata bahasa dengan menggunakan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar (Prator and Celce-Murcia dalam Fauziati, 2008: 12) kemudian Adi (2012) juga menyatakan bahwa metode ini lebih menekankan pada pengajaran aspek gramatika dan penerjemahan teks. Senada hal tersebut Elmayantie (2015) juga menyatakan bahwa metode ini dapat meningkatkan kosa kata siswa menjadi lebih baik dengan sedikit kombinasi pada setiap pendekatannya. Berdasarkan definisi di atas, kami dapat menyimpulkan bahwa Grammar Translation Method adalah metode pembelajaran yang berfokus pada penyusunan gramatika dan juga penerjemahan bahasa dengan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar,
Menurut Brown (2006: 27) ada beberapa karakteristik dari Grammar Translation Method yaitu:
1. Classes are taught in the mother tongue with little active use of the target language. 2. Much vocabulary is taught in the form of lists. 3. Elaborate explanations of the intricacies of
grammar are given.
4. Reading of difficult classical text is begun early.
5. Texts treated as exercises in grammatical analysis.
6. Occasional drill and exercises in translating sentences from native language to target language.
7. Little or no attention of pronunciation. .
Kemudian Hamid (2008) menyatakan bahwa beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari Grammar And Translation Method dalam hubungannya dengan kegiatan pengajaran, antara lain sebagai berikut:
1. Kelas-kelas besar dapat diajar.
2. Guru yang tidak fasih bahasa Arab bisa dipakai.
3. Cocok bagi semua tingkat linguistik para siswa, para siswa dapat memperoleh aspek-aspek bahasa yang signifikan dengan bantuan buku saja atau tanpa pertolongan guru.
Selanjutnya Ridwan (2014) juga mengungkapkan bahwa beberapa kelebihan dari Grammar And Translation Method sebagai suatu metode pembelajaran, di antaranya:
1. Guru tidak perlu mahir dalam bahasa yang diajarkannya (bahasa sasaran), bahkan tidak perlu menguasai pengucapan kosa kata yang diajarkan secara betul.
2. Metode ini mudah dilaksanakan dan dapat dipakai pada kelas dengan jumlah peserta didik yang banyak.
3. Guru dapat menanamkan pengetahuan tentang kosa kata dengan cepat
karena menggunakan bahasa ibu peserta didik dalam hampir setiap situasi pengajaran. 4. Guru dapat memberikan
penjelasan-penjelasan dan batasan-batasan materi ajar dengan bahasa ibu sehingga lebih menghemat waktu.
5. Peserta didik dapat segera menguasai arti kosa kata dan dapat menghindari dari kebingungan terhadap aturan-aturan tata bahasanya.
6. Latihan memungkinkan peserta didik untuk membandingkan bahasa sasaran dengan bahasa ibu. Maka, kesalahan-kesalahan pemakaian bahasa itu dapat dihindari. 7. Guru dapat mengajarkan tata bahasa
dengan terjemahannya sejak awal pembelajaran.
8. Peserta didik dapat belajar mandiri tanpa bimbingan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kelebihan Grammar And Translation Method secara umum adalah metode ini dapat digunakan pada kelas dengan jumlah peserta didik yang
sedikit dan banyak serta cocok bagi semua tingkat linguistik para siswa.
Namun dalam penerapan dan penggunaan Grammar And Translation Method ini juga memiliki kelemahan, hal ini diungkapkna oleh Hamid (2008) bahwa kelemahan Grammar and Translation Method Setiap metode pembelajaran tentunya selalu mempunyai kelemahan-kelemahan tertentu, begitu juga dengan grammar and translation method. Kelemahan-kelemahannya antara lain sebagai berikut:
1. Secara linguistik dibutuhkan guru yang terlatih.
2. Kebanyakan pokok bahasan tidak mengenai orang tertentu, dan terpisah serta terpencil dari orang lain.
3. Tidak sesuai bagi orang yang tuna aksara, misalnya anak kecil atau imigran tertentu, sedikit sekali bahasa yang digunakan bagi komunikasi antar pribadi, kesempatan bagi pengemukaan tuturan atau ujaran spontan sangat terbatas
Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa kelemahan seperti tidak sembarangan pengajar dapat menggunakan metode ini secara meksimal, pembahasan yang kurang sesuai dengan beberapa orsng dan tidak sesuai untuk orang yang tuna aksara.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan Penelitian Kasus Tunggal (Single Case Research). Desain penelitian ini adalah desain A1-B-A2 yaitu penelitian dilakukan dengan cara mengumpulkan data subyek sebelum mendapatkan intervensi atau disebut Baseline (A1), saat mendapatkan intervensi (B), dan sampai akhirnya evaluasi untuk Baseline 2 (A2). Baseline 1 (A1) adalah lambang dari data garis datar (baseline datar). Baseline ini merupakan kondisi awal siswa sebelum diberikan metode pembelajaran. Baseline adalah kondisi dimana pengukuran target behavior dilakukan pada keadaan natural sebelum diberikan intervensi apapun. Kondisi eksperimen adalah kondisi dimana suatu intervensi telah diberikan dan target behavior diukur dibawah kondisi tersebut. Pada penelitian dengan desain subjek tunggal selalu dilakukan perbandingan antara fase baseline dengan sekurang-kurangnya satu fase intervensi (Sunanto, Takeuchi, & Nakata, 2005: 54).
Subjek diobservasi untuk mengetahui kemampuan dalam hal ini yaitu pemahaman tentang simple present tense. Intervensi (B) adalah untuk data penerapan atau intervensi.
Intervensi ini merupakan kondisi subjek saat diberi pemahaman dan penjelasan tentang simple present tense dengan menggunakan Grammar Translation Method. Baseline 2 (A2) yaitu pengamatan berupa observasi setelah adanya intervensi untuk mengetahui peningkatan pemahaman terhadap pembelajarn simple present tense.
Subyek penelitian adalah siswa yang teridentifikasi mempunyai gejala sulit memahami pelajaran bahasa Inggris khususnya simple present tense di English Morning class sebanyak 2 (dua) siswa. Penentuan subjek penelitian melalui pengamatan langsung yang memiliki tingkat pemahaman yang rendah.
Sedangkan waktu penelitian yaitu dari bulan Oktober sampai dengan bulan November, karena pada masa ini waktu yang berdekatan dengan ujian akhir.
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan: (1) Metode Observasi dalam hal ini sebagai metode ilmiah, observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematik fenomena- fenomena yang diselidiki. Rangkuman dalam observasi ini dicatat dalam catatan lapangan yang memuat tanggal, tempat, subjek, waktu/jam. situasi dan fakta-fakta yang terjadi di lapangan serta interpretasi peneliti terhadap fakta-fakta tersebut. Penelitian ini menggunakan Single Casa Research (SCR), maka analisa data dilakukan secara individual. Data dari masing-masing subjek penelitian direkam secara terpisah. Untuk melakukan analisa data hasil penelitian ini menggunakan visual inspection. Visual inspection merupakan grafik guna mempermudah melihat perubahan frekuensi perilaku. Dari visual inspection yang ada akan diperoleh hasil penelitian yang menunjukkan penurunan atau peningkatan pemahaman simple present tense dengan menggunakan Grammar Translation Method.
Gambar desain eksperimen subyek tunggal
Keterangan:
A1 : Subjek sebelum penggunaan metode B : Diberi pembelajaran dengan
menggunakan Grammar Translation Method
A2 : Subjek mengalami peningkatan dalam pemahaman
Grafik Model grafik dengan pola A-B-A
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian
Pelaksaan observasi selama 1 bulan, di mana perminggunya dilakukan pengamatan sebanyak 2 (dua) kali yaitu pada hari selasa dan hari rabu ketika pukul 08.30 sampai 10.30. Dalam hal ini peneliti melakukan pengukuran siswa yang memiliki pemahaman yang rendah, dalam observasi ini ditemukan ada 2 (dua) siswa English Morning Class yang memiliki pemahaman yang rendah. Pemahaman siswa yang rendah ini dilihat dari siswa yang mendapatkan nilai terendah ketika melakukan observasi atas nama Sumarni dan Khairunnisa.
Adapun hasil observasi terhadap siswa yang bernama Sumarni 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2
Baseline 1 Intervensi Baseline 2
0 1 2 3 4 5 Observasi Awal
Adapun hasil Observasi dari siswa bernama Khairunnisa
Berdasarkan hasil obeservasi tersebut ditemukan bahwa 2 orang siswa yaitu Sumarni dan Khairunnisa memiliki pemahaman yang rendah dan cenderung tidak konsisten dari 13 siswa di English Morning Class.
1. Sumarni
a. Kondisi baseline A1
Berdasarkan hasil observasi yang telah kami lakukan diketahui bahwa siswa tersebut kurang memahami pembelajaran dan tergolong tidak konsisten seperti
tercantum di tabel observasi awal. Dapat diketahui bahwa di minggu pertama di hari pertama siswa tersebut memperoleh nilai yang cukup rendah yaitu 2, kemudian dihari selanjutnya mengalami peningkatan yang cukup drastis dengan mendapatkan nilai yang tinggi yaitu 4, selanjutnya di minggu kedua dihari pertama mengalami penurunan yang cukup drastic dengan mendapatkan nilai yaitu 2 dan di hari selanjutnya mengalami kenaikan sedikit dengan mendapatkan nilai yaitu 3.
b. Intervensi
Setelah melakukan observasi selama dua minggu, kemudian kami melakukan intervensi selama 2 minggu sebanyak 4 (empat) kali pertemuan terhadap siswa tersebut dengan menjelaskan tentang pembelajaran simple present tense dengan menggunakan Grammar Translation Method dan kami juga memberikan beberapa stimulus agar penjelasan yang diberikan dapat di pahami sesuai dengan metode yang kami pakai dengan harapan terjadi peningkatan pemahaman tentang pembelajaran tersebut.
c. Kondisi baseline A2
Setelah melakukan observasi kembali dapat kami simpulkan bahwa terjadi peningkatan yang konsisten secara bertahap. Walaupun tidak terjadi peningkatan yang drastis di awal observasi setalah intervensi. Itu sesuai dengan observasi akhir yang menunjukkan bahwa di minggu kelima hari pertama siswa tersebut mendapatkan nilai cukup baik yaitu 3, kemudian di hari selanjutnya siswa tersebut masih konsisten dengan mendapatkan nilai 3 kembali, selanjutnya di minggu keenam siswa tersebut menunjukkan peningkatan dengan mendapatkan nilai yang tinggi yaitu 4 dan di terakhir siswa tersebut tetap konsisten dengan tetap mempertahankan nilai 4.
2. Khairunnisa
a. Kondisi baseline A1
Berdasarkan hasil observasi yang telah kami lakukan diketahui bahwa siswa tersebut kurang memahami pembelajaran dan tergolong tidak konsisten seperti tercantum di tabel Khairunnisa
observasi awal. Dapat diketahui bahwa di minggu pertama di hari pertama siswa tersebut memperoleh nilai yang cukup baik yaitu 3, kemudian dihari selanjutnya mengalami peningkatan yang cukup drastic dengan mendapatkan nilai yang tinggi yaitu 4, selanjutnya di minggu kedua dihari pertama mengalami penurunan yang cukup drastic dengan mendapatkan nilai yaitu 2 dan di hari selanjutnya mengalami kenaikan sedikit dengan mendapatkan nilai yaitu 3.
b. Intervensi
Setelah melakukan observasi selama dua minggu, kemudian kami melakukan intervensi selama 2 minggu sebanyak 4 (empat) kali pertemuan terhadap siswa tersebut dengan menjelaskan tentang pembelajaran simple present tense dengan menggunakan Grammar Translation Method dan kami juga memberikan beberapa stimulus agar penjelasan yang diberikan dapat di pahami sesuai dengan metode yang kami pakai
0 1 2 3 4 5 0 1 2 3 4 5 Observasi Awal 0 1 2 3 4 5 0 1 2 3 4 5 Observasi Akhir
dengan harapan terjadi peningkatan pemahaman tentang pembelajaran tersebut.
c. Kondisi baseline A2
Setelah melakukan observasi kembali terhadap subject kedua dapat kami simpulkan bahwa terjadi peningkatan yang konsisten secara bertahap. Walaupun tidak terjadi peningkatan yang drastis di awal observasi setalah intervensi. Itu sesuai dengan observasi akhir yang menunjukkan bahwa di minggu kelima hari pertama siswa tersebut mendapatkan nilai cukup baik yaitu 3, kemudian di hari selanjutnya siswa tersebut mengalami peningkatan dengan mendapatkan nilai yaitu 4, selanjutnya di minggu keenam siswa tersebut menunjukkan penurunan dengan mendapatkan nilai yang sedikit lebih rendah yaitu 3 dan di hari terakhir siswa tersebut kembali menunjukkan peningkatan dengan mendapatkan nilai yaitu 4.
Pembahasan
Dalam pembahasan ini hasil penelitian ini berdasarkan dari temuan setelah melakukan obeservasi awal hingga observasi akhir terhadap kedua siswa di English Morning Class terjadi peningkatan yang cukup bagus secara bertahap walaupun ada seorang siswa yang menunjukan inkonsisen, namun tetap menunjukkan peningkatan pemahaman yang lebih baik dibandingkan hasil observasi awal.
Grammar Translation Method merupakan metode yang cukup efektif untuk digunakan dalam meningkatkan pemahaman tentang pembelajaran simple present tense, hal ini dapat tercapai dengan melakukan metode tersebut yang digunakan dalam penilitian ini ialah memberikan penjelasasn dan stimulus yang sesuai dengan metode yang dipakai.
Pernyataan dari kedua siswa tersebut yang diberikan pembelajaran yang menggunakan metode ini, mengungkapkan bahwa mereka lebih mudah untuk memahami pembelajaran simple present tense.
KESIMPULAN
Metode penilitian dengan metode single case research ini menunjukkan bahwa Grammar Translation Method mampu dalam meningkatkan pemahaman terhadap pembelajaran simple present tense. Subjek penilitian ada 2 (dua) orang siswa yaitu Sumarni dan Khairunnisa berasal dari English Morning class. Berdasarkan hasil temuan bahwa Sumarni mengalami peningkatan yang tergolong konsisten secara bertahap. Sedangkan Khairunnisa mengalami peningkatan yang inkonsisten tetapi tetap menunjukkan keberhasilan dalam meningkatkan pemahaman.
DAFTAR PUSTAKA
Adi, S. S. (2012). Audio scaffolding dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Malang: UB Press
Brown, H. D. (2006). Principles of language learning and teaching. San Francisco State University
Elaine, K & Darcy, J. (2002). Interaction 1 Grammar. New York: McGraw-Hill 4th edition.
Elmayantie, C. (2015). The use of Grammar Translation Method in teaching English. Journal on English as a Foreign Language. 5(2), 125-131.
Fauziati, E. (2008). Teaching of English as a Foreign Language (TEFL). Surakarta: Muhammadiyah University Press
Hakim, T. (2002). Mengatasi kegagalan berbicara dalam Bahasa Inggris, Jakarta: Puspa Swara
Hamid, A. (2008). Pembelajaran Bahasa Arab (Pendekatan, Metode, Strategi, materi dan Media), Malang: UIN Malang Press
Lester, M. (2010). English irregular verb. United States: McGraw-HilI
Sani, R. A. (2014). Inovasi pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara
Setiyadi, B. (2006). Teaching English As A Foreign Language, Yogyakarta: Graha Ilmu,
Supono, I & Cahya, W. (2004). Panduan menguasai 16 tenses, Jakarta: Kawan Pustaka
Sunanto; Takeuchi & Nakata (2005). Pengantar penelitian dengan subyek tunggal. Center for Research on International Cooperation in Educational Development (CRICED) University of Tsukuba
Syilvia, C & Edmund, W. (1994). The Oxford Dictionary of English Grammar, New York: Oxford University press
0 1 2 3 4 5 0 1 2 3 4 5 Observasi Akhir