PETUNJUK PRAKTIKUM
REPRODUKSI DAN EMBRIOLOGI
HEWAN
Oleh :
SUHANDOYO
CIPTONO
PROGRAM STUDI BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
KATA PENGANTAR
Puji syukur hanya dipanjatkan kepadaNya, sehingga buku petunjuk praktikum REPRODUKSI DAN EMBRIOLOGI HEWAN untuk mahasiswa S1 Pendidikan Biologi / Biologi ini dapat terselesaikan. Buku petunjuk ini hanya memuat beberapa kegiatan yang secara operasional masih mungkin dilaksanakan.
Kegiatan dimulai dari pengamatan organ reproduksi untuk memberi dasar pengetahuan yang lengkap tentang biologi reproduksi. Seterusnya kegiatan akan diakhiri dengan pengamatan perkembangan embrio katak dan ayam.
Tentunya acara-acara pada praktikum ini belum mencukupi bagi mahasiswa untuk melatih keterampilannya dan pengetahuan tentang biologi reproduksi dan embriologi hewan, oleh karena itu perbaikan dan penambahan acara praktikum sangat dimungkinkan dimasa yang datang. Untuk itu semua, saran dan kritik untuk perbaikan sangat diharapkan. Terima kasih.
Yogyakarta, September 2009
DAFTAR ISI
Hal. Kata Pengantar ………...
Daftar Isi ………... Tata Tertib Praktikum ...………... ACARA I Pengamatan Organ Reproduksi Hewan ...………... ACARA II Pengamatan Histologik Ovarium dan Testis ……… ACARA III Penentuan Siklus Birahi Pada Tikus ………... ACARA IV Pengamatan Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kehidupan
Embrio Hewan ………... ACARA V Evaluasi Semen ...………... ACARA VI Pengamatan Tahap Perkembangan Embrio Katak (Rana pipiens) ... ACARA VII Pengamatan Tahap Perkembangan Embrio Ayam (Gallus gallus sp) .. FORMAT LAPORAN ... DAFTAR PUSTAKA ... (Contoh Cover Laporan Praktikum) ...
1 2 3 4 6 7 8 9 12 17 23 24 25
TATA TERTIB PRAKTIKUM
Praktikan Diwajibkan :
1. Setiap mahasiswa diwajibkan membuat kelompok praktikum yang terdiri dari 4 anggota. Kelompok dan anggota-anggotanya dicatat oleh ketua kelas masing-masing.
2. Mempersiapkan diri pada setiap acara praktikum yang akan dilakukan.
3. Kecuali di lapangan, selama praktikum diharuskan menggunakan baju (jas) praktikum. 4. Memasuki ruang 5 menit sebelum acara dimulai.
5. Bila dipandang perlu, maka sebelum acara praktikum dimulai, akan diadakan pretest untuk mengetahui kesiapan mahasiswa mengikuti praktikum.
6. Memberitahukan secara tertulis apabila yang bersangkutan tidak dapat mengikuti praktikum di hari yang bersangkutan.
7. Bagai mahasiswa yang tidak dapat mengikuti acara praktikum, diharuskan mengulangi sendiri dengan pengertian alat dan bahan harus disediakan oleh praktikan yang bersangkutan.
8. Setiap selesai praktikum, keadaan alat dan ruangan harus tetap bersih. 9. Mengerjakan praktikum secara serius dan hati-hati.
10. Apabila terdapat hal-hal yang tidak diatur dalam aturan ini, maka semua keputusan didasarkan atas musyawarah bagi kebaikan, kelancaran dan tercapainya tujuan semua acara praktikum.
ACARA I
PENGAMATAN ORGAN-ORGAN REPRODUKSI
Tujuan : Untuk mempelajari, mengenal dan memberi pengetahuan tentang keragaman
sistem organ reproduksi pada organisme.
Dasar Teori :
Adanya fakta keanekaragaman sistem organ reproduksi hewan, maka setiap usaha yang bertujuan untuk membuat suatu generalisasi memiliki resiko kesalahan yang besar yaitu mempersamakan berbagai sistem organ reproduksi dari hasil studi satu spesies.
Pada hewan yang bersifat dioesius (yaitu hewan yang sifat kelamin jantan dan betina terpisah), keragaman sistem organ reproduksi betina lebih kompleks dibandingkan pada hewan jantan. Pada umumnya sistem organ reproduksi dapat dibagi dalam dua (2) bagian yaitu organ reproduksi primer dan sekunder. Organ reproduksi primer pada hewan betina dikenal sebagai "ovarium" sedangkan pada jantan sebagai "testis". Organ reproduksi sekunder berupa saluran-saluran reproduksi. Terdapat keragaman baik bentuk, struktur anatomi dan fungsi ovarium, testis beserta saluran-saluran pendukungnya pada berbagai jenis hewan yang berbeda.
Berbagai jenis hewan memiliki bentuk dan struktur morfologis gamet yang berbeda. Secara umum gamet jantan atau spermatozoa memiliki kepala, badan/leher dan ekor. Sel telur atau Ova terdiri dari inti, kuning telur beserta selaput pembungkusnya. Selaput telur ayam terdiri dari selaput vitelin, albumen, selaput cangkang, cangkang kapur serta bagian albumen yang disebut kalaza.
Berdasar keadaan kuning telur, terdapat telur-telur isolesithal (kuning telur sedikit dan tersebar merata), telolesithal (kuning telur banyak dan lebih terhimpun dikutub vegetatif berwarna putih/kuning, kutub animal berpigmen sehingga tampak terwarna hitam/coklat), megalesithal (kuning telur sangat banyak sehingga ooplasma dan inti terdesak ke kutub animal).
Bahan dan Alat :
Beberapa jenis hewan yang dapat digunakan (karena kemudahan dalam pengadaan) bisa antara lain :
Kelinci atau Marmut betina dewasa. Tikus putih jantan.
Ikan lele dumbo jantan dan betina dewasa.
Testis kambing atau sapi dan atau straw semen beku sapi. Telur ayam
Chloroform atau ether untuk membius hewan. Garam fisiologis (0,9 dan 1,0 %).
Peralatan yang disediakan adalah : Seperangkat alat bedah.
Alat untuk membius hewan coba (gelas/botol pembius). Bak parafin untuk tempat bedah.
Pisau tajam atau silet. Loop (kaca pembesar). Gelas obyek.
Prosedur Pengamatan Sistem Organ Reproduksi :
1. Biuslah semua hewan coba dengan menggunakan bahan chloroform atau ether (tergantung yang disediakan) dalam alat/botol pembius.
2. Siapkan bak parafin dan peralatan bedahnya.
3. Ambillah hewan yang sudah terbius, dan lakukan pembedahan di bak paraffin untuk melihat sistem organ reproduksinya.Catatan : PADA SETIAP HEWAN TENTUNYA
MEMILIKI CARA-CARA TERSENDIRI UNTUK MEMBEDAHNYA, OLEH KARENA
ITU PERSIAPKAN PENGETAHUAN TENTANG HAL INI. 4. Amatilah sistem organ reproduksi hewan-hewan coba tersebut.
Prosedur pengamatan gamet :
1. Untuk mengamati spermatozoa, ambil testis sapi atau kambing dan tikus. Ambil atau iris sebagian jaringan testis (akan mendapat hasil baik bila pada bagian Cauda epididymis). Tumbuklah jaringan tersebut dan beri larutan garam fisiologis dan pipetlah supernatannya.
2. Supernatan teteskan ke gelas obyek dan kemudian amatilah dengan menggunakan mikroskop.
3. Untuk pengamatan sel telur ayam, gunakan alas kaca dan kemudian pecahlah kerabang telur tersebut (hati-hati usahakan agar antara kuning telur dengan putih telur tidak tercampur). Kemudian amatilah bagian-bagian sel telur ayam tersebut. 4. Untuk pengamatan sel telur ikan, ambil telur ikan dari ovariumnya (jika perlu dengan
dibasahi garam fisiologis), kemudian letakkan pada gelas obyek dan amatilah dengan menggunakan mikroskop.
ACARA II
PENGAMATAN HISTOLOGIK OVARIUM DAN TESTIS
Tujuan : Untuk mengetahui struktur histologi ovarium dan testis hewan sebagai
pengahasil sel gamet.
Dasar Teori :
Hewan mammalia pada umumnya memiliki sifat diucious artinya terdapa pemisahan yang jelas antara sifat kelamin jantan dan betina. Reproduksi seksual melibatkan proses penyatuan sel kelamin (sel gamet) jantan (spermatozoa) dengan sel kelamin betina (ova). Organ reproduksi jantan yang bertanggung jawab terhadap produksi spermatozoa adalah testis sedangkan organ reproduksi betina tepat produksi ova dikenal sebagai ovarium.
Spermatogenesis terjadi di dalam Tubuli seminiferi testis, sedang perkembangan ova, yang dapat dikenali dari perkembangan folikel ovarii, terletak dibagian korteks ovarium.
Alat dan Bahan :
Mikroskop cahaya.
Sediaan preparat histologi testis. Sediaan preparat histologi ovarium. Cara Kerja :
Persiapkan semua alat dan bahan yaitu mikroskop dan preparat sediaan histologi testis dan ovarium.
Amati sediaan histologi testis dan ovarium dengan menggunakan mikroskop. Gambar dan beri keterangan (terutama bagian dimana terjadi proses
gametogenesis). Pertanyaan Pengembangan :
1. Terdapat berapa tipe ovarium pada hewan ? Jelaskan.
2. Apakah pada semua hewan, testis juga berfungsi sebagai kelenjar endokrin ?
3. Kapan gametogenesis (spermatogenesis dan Oogenesis) pada hewan mamalia mulai terjadi ?
ACARA III
PENENTUAN SIKLUS BIRAHI
Tujuan : Untuk mempelajari dan menentukan fase-fase siklus berahi pada hewan. Dasar Teori :
Hewan memiliki masa dimana ia bersedia untuk kawin. Masa tersebut dikenal sebagai masa berahi atau estrus. Masa berahi datang secara periodik dengan interval waktu tertentu tergantung jenis hewannya. Oleh karena adanya siklus ini maka dikenal pada hewan terdapat siklus estrus / berahi. Pada manusia, oleh karena yang menjadi hari hitungan adalah saat menstruasi maka dikenal sebutan siklus menstruasi.
Terdapat beberapa fase siklus berahi, di mana sebenarnya batas antar fase sukar ditentukan, karena peristiwa tersebut berlangsung secara kontinyu. Pembagian ke dalam fase-fase lebih diperuntukkan untuk mempermudah mempelajari fenomena tersebut. Fase-fase siklus berahi adalah proestrus, estrus, metestrus dan diestrus. Perubahan fase-fase siklus birahi dapat ditentukan berdasarkan adanya perubahan epitel di vagina. Teknik
ulas vagina dapat digunakan untuk menentukan fase siklus birahi pada hewan (terutama
tikus)
Alat dan Bahan :
Mencit betina dewasa Kapas
NaCl fisiologis (0,9%) Metanol 70%
Mikroskop
Lidi atau Cotton Bud Pewarna Giemsa.
Cara Kerja :
1. Mencit dipegang tengkuk dan ekornya, kemudian ditelentangkan.
2. Kapas dililitkan pada ujung lidi, kemudian dicelupkan ke dalam larutan garam fisiologis. 3. Ujung lidi yang telah dililiti kapas (cotton bud, pilih yang kecil), dimasukkan dalam
vagina sambil digerakkan secara memutar.
4. Cabut dan kemudian oleskan pada gelas obyek, kemudian dikeringkan udara.
5. Setelah kering, preparat difiksasi dengan metanol 70% selama 5 menit, kemudian dikeringkan udara lagi.
6. Preparat kemudian celupkan dalam pewarna Giemsa selama 15-30 menit, cuci dengan air mengalir,kemudian dikeringkan udara.
7. Amati dibawah mikroskop cahaya, dan tentukan fase siklus berahi mencit percobaan beserta ciri-cirinya.
ACARA IV
FAKTOR LINGKUNGAN YANG BERPENGARUH TERHADAP KEHIDUPAN EMBRIO HEWAN
Tujuan : Agar mahasiswa dapat mengetahui dan mengenali berbagai faktor lingkungan yang
berpengaruh terhadap kehidupan dan perkembangan embrio dan atau reproduksi hewan.
Dasar Teori :
Tergantung pada jenis hewannya, perkembangan embrio sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan. Faktor-faktor tersebut di antaranya temperatur, pollutant, pH, predator, kelembaban dan lain-lain. Berbagai faktor tersebut dapat menyebabkan perlambatan perkembangan, kecacatan atau bahkan sampai pada kematian embrio yang sedang berkembang.
Prosedur Kerja :
1. Tentukan embrio dan atau telur yang akan anda amati (dapat menggunakan, misal : telur ikan, kokon cacing tanah, telur bekicot, telur nyamuk dan lain-lain).
2. Tentukan satu faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap perkembangan embrio tersebut.
3. Tentukan dan rancanglah prosedur kerja untuk membuktikan adanya pengaruh faktor lingkungan (yang telah anda tentukan tadi) terhadap perkembangan embrio.
4. Tentukan dan rancanglah bahan serta alat-alat yang digunakan.
5. Laksanakan rancangan anda, dan seterusnya amatilah respon yang tampak di akhir kegiatan ini.
ACARA V EVALUASI SEMEN
Tujuan :
Agar mahasiswa mampu melaksanakan evaluasi semen hewan.Dasar Teori :
Semen merupakan produk kelenjar kelamin pada hewan jantan. Semen terdiri atas plasma semen dan spermatozoa. Pada setiap hewan karakteristik semen berbeda-beda. Pada manusia profil semen yang normal menurut data WHO (1992) adalah :
Volume : 2 ml atau lebih Jumlah : 20 juta / ml atau lebih
Motilitas : 25 % atau lebih akan masuk dalam katagori (a); dan 50 % atau lebih katagori (a+b)
Viabilitas : 50 % atau lebih.
Morfologi : 50 % atau lebih, yang keadaannya normal Kadar Fruktosa: 13 mikromol per ejakulat.
Kepentingan evaluasi semen pada hewan terutama untuk mengetahui potensinya apabila akan digunakan untuk inseminasi buatan, sedangkan pada manusia untuk kepentingan menangai peristiwa subfertil pada pasangan usia subur.
Untuk mendapatkan semen yang baik, pada hewan dapat digunakan dengan teknik penampungan vagina buatan sedangkan pada manusia dapat dilakukan dengan masturbasi atau sanggama terputus untuk dan dalam keadaan tertentu. Pada praktikum kali ini yang akan digunakan adalah semen pada hewan terutama sapi.
Bahan dan Alat :
Cara Kerja :
1. Analisis Semen
Analisis semen meliputi warna, konsentrasi, volume, motilitas, abnormalitas spermatozoa, persentase spermatozoa mati dan hidup (viabilitas).
Indikator Cara Kerja
Volume : ukur volume semen per ejakulat Warna dan ph : lihat warna semen dan catat
ukur ph semen dengan ph meter Konsentrasi : siapkan bilik hitung neubauer
Teteskan semen pada bilik hitung Neubauer sebanyak ± 10 µl. Amati dan lakukan penghitungan dengan menggunakan mikroskop
perbesaran 100 x
Tentukan persentase motilitas (bergerak cepat maju lurus, bergerak maju lambat, bergerak ditempat dan tidak bergerak).
Tentukan juga jumlah leucosit Viabilitas dan
abnormalitas
: siapkan reagen eosin 1 % dan negrosin 10 % teteskan semen pada obyek glas ( 1 tetes)
tambahkan larutan eosin 1 % sebanyak 2 tetes dan negrosin 10 % sebanyak 3 tetes.
Campurkan pada gelas obyek buat preparat apusan
keringkan
dengan menggunakan mikroskop (perbesaran 100 x) lakukan pengamatan morfologi dan viabilitas.
tentukan jenis abnormalitas, persentase abnormalitas
tentukan spermatozoa yang mati dan hidup ( persentase viabilitas). Fruktosa : siapkan reagen resorcinol
masukkan 1 ml reagen resorcinol dalam tabung reaksi tambahkan 100 µl
panaskan sampai mendidih diamkan selama 1 menit
amati warna yang terbentuk dan bandingkan dengan warna standar tentukan fruktosa semi kuantitatif.
Catatan : Apabila memakai semen beku, sebelum melakukan evaluasi, maka harus dilakukan
thawing dulu, yaitu semen ditingkatkan suhunya perlahan-lahan hingga mencapai suhu tubuh. Evaluasi merupakan evaluasi semen setelah ini.
2. Washing Swim Up
Teknik ini digunakan untuk memisahkan spermatozoa yang berkualitas baik baik dengan yang berkualitas jelek. Ikuti langkah-langkah sebagai berikut :
a. Siapkan semen dan ukur volumenya
b. Tambahkan larutan EBSS + H S A 5 % dengan volume yang sama dengan volume semen
c. Lakukan sentrifugasi selama 20 menit pada kecepatan 1500 rpm/300 g d. Buang supernatan,
e. Tambahkan EBSS 2 ml dan lakukan sentrifugasi lagi selama 10 menit pada kecepatan 1500 rpm/300g
f. Ulangi prosedur (d) dan (e), amati spermatozoa
g. Siapkan 1 ml medium EBSS + H S A 5 % untuk kultur sperma (swim up) h. Masukkan suspensi spermatozoa ke dalam tabung reaksi
i. Inkubasikan dalam inkubator pada 37 0 C dan dengan CO2 selama 30 -60 menit
j. Ambil spermatoza pada lapisan teratas (± 1/3 - 2/3 bagian atas) secara hati-hati k. Lihat spermatozoa di bawah mikroskop cahaya dan bandingkan dengan kondisi awal. l. Hitung pada bilik Neubauer.
Tugas Mahasiswa :
a. Diskusikan hasil saudara mengapa anda dapatkan data yang demikian ?
b. Diskusikan dengan membandingkan apabila prosedur inkubasi dilakukan 30 menit dan 60 menit.
ACARA VI
PENGAMATAN TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN EMBRIO KATAK ( Rana pipiens)
Tujuan : Agar mahasiswa dapat mengetahui tahap-tahap perkembangan embrio katak mulai
dari telur sampai dengan tahap penutupan insang luar.
Dasar Teori :
Urutan tahap-tahap perkembangan embrio katak Rana pipiens dibagi menjadi 25 stadium, yaitu :
Stadium 1 : Telur yang belum dibuahi ( umur 0 jam, diameter sekitar 1,7 mm)
Merupakan kondisi telur segera setelah dikeluarkan (oviposisi) dari tubuh induk katak. Telur terbungkus oleh lapisan gelatin. Bagian luar dapat dibedakan menjadi polus animalis dan polus vegetativus berdasarkan tingkat pigmentasinya. Stadium 2 : Telur yang telah dibuahi (umur 1,0 jam, diameter 1,7 mm)
Terbentuk membarna pembuahan berbentuk bulan sabit dan berwarna abu-abu (gray crescent) pada bagian permukaan telur yang menjadi tempat masuk spermatozoon. Setelah mengalami pembuahan, metabolisme sel telur akan meningkat, sementara permeabilitas dinding sel telur berkurang.
Stadium 3 : Pembelahan tingkat pertama menjadi 2 sel (umur 3,5 jam, diamter 1,7 mm). Bidang pembelahan pertama meridional (vertikal), gray crescent terbagi menjadi 2 bagian yang sama besar. Dua buah blastomer yang terbentuk memiliki bagian polus animalis dan polus vegetativus.
Stadium 4 : Pembelahan menjadi 4 sel (umur 4,5 jam, diameter 1,7 mm).
Bidang pembelahan kedua masih tetap meridional (vertikal). Pada saat ini terjadi perbedaan pembagian gray crescent. Dua sel memiliki dan dua sel lainnya tidak memiliki.
Stadium 5 : Pembelahan menjadi 8 sel (umur 5,5 jam, diameter 1,7 mm ).
Bidang pembelahan ketiga berpola latitudinal. Pada stadium ini terjadi perbedaan ukuran blastomer. Mikromer (sel-sel blastomer yang berukuran kecil) berpigmen tebal, sedangkan makromer ( yang berukuran lebih besar) berpigmen tipis saja. Tampak adanya inisiasi calon blastocel.
Stadium 6: Pembelahan menjadi 16 sel (umur 6,5 jam, diameter 1,7 mm).
Dua bidang pem,belahan ke-4 meridional (vertikal) terbentuk pada stadium ini, selain itu terjadi segregasi plasma benih (germ plasm).
Stadium 7 : Pembelahan menjadi 32 sel (morulla, umur 7,5 jam, diameter 1,7 mm)
Dua bidang pembelahan ke-5 latitudinal. Membentuk masa sel yang disebut sebagai morulla. Balstomer penysusnnya berukuran lebih kecil apabila dibandingkan dengan stadium sebelumnya, sedangkan blastocoel membesar.
Stadium 8 : Pertengahan pembelahan (blastula awal, umur 16 jam, diamter 1,7 mm)
Blastocoel terus membesar, pola pembelahan berikutnya yang terjadi tidak memiliki aturan pasti. Pergerakan embrio secara umum dilakukan dengan bantuan silia sel-sel blastomer bagianluar. Permukaan embrio masih terlihat sebagai susunan sel-sel yang tidak rata dan membentuk styruktur permukaan multiseluler.
Stadium 9 : Akhir pembelahan (blastula akhir, umur 21 jam, diameter 1,7 mm)
Struktur permukaan multiseluler berangsur menghilang dan menjadi lebih halus atau rata. Terbentuk bangunan yang disebut germ ring, epiblast dan hypoblast. Bagian dorsal, sesuai dengan peta blastula merupakan calon pembentuk organ. Stadium 10 : Pembentukan bibir dorsal (gastrula awal, umur 26 jam, diameter 1,7 mm)
Terjadi epiboly germ ring ke arah polus vegetativus, invaginasi dan involusi bibir dorsal (labium dorsale).
Stadium 11 : Pembentukan bibir lateral (gastrula pertengahan, umur 34 jam, diameter 1,7 mm).
Terjadi pembentukan bibir lateral (labium laterale), invaginasi yang semakin dalam dan blastocoel mulai terdesak oleh adanya gastrocoel.
Stadium 12 : Pembentukan bibir ventral (gastrula akhir, umur 42 jam, diameter 1,7 mm).
Labium ventrale dan yolk plug mulai terbentuk. Terjadi kontriksi labia, sedangkan ukuran gastocoel menjadi lebih besar. Blastocoel menghilang dan diikuti oleh terbentuknya blastoporus.
Stadium 13 : Pembentukan lamina neuralis (neurula awal, umur 50 jam, panjang embrio 1,8 mm).
Blastoporus mengecil seiring dengan adanya pembentukan stria primitiva. Bentuk embrio tidak lagi bundar melainkan agak lonjong, Lamina neuralis juga mulai tampak.
Stadium 14 : Pembentukan torus medullaris (neurula tengah, umur 62 jam, panjang embrio 2,0 mm).
Torus medullaris terbentuk axis (sumbu panjang tubuh) embrio semakin jelas. Terjadi penebalan neuroectoderm sebagai calon otak di bagian anterior.
Stadium 15 : Terjadi peristiwa rotasi (peleburan torus medullaris) (umur 67 jam, panjang embrio 2,5 mm).
Stadium 17 : Pembentukan kuntum ekor (umur 84 jam, panjang embrio 3,5 mm)
Blastoporus mulai menghilang dan muncul canalis mesoentericus. Neuroporus menutup, badan memanjang, bagian dorsal cekung, somit-somit terbentuk. Calon-calon organ juga terbentuk, seperti mesenchym jantung, arches visceralis, blok mesoderm, pronephros, hypochorda, sense plate, gill plate, vesicula optica, placoda auditoria dan placoda olfactoria.
Stadium 18 : Mulai terjadi reaksi otot (gerak otot tubuh secara aktif) (umur 96 jam, panjang embrio 4,0 mm).
Mulai terjadi gerakan pertama dengan bantuan otot tubuh embrio. Bagian calon otak primer dan infundibulum masih terpisah dari calon hipofise. Linea lateralis mulai muncul. Sementara itu placoda auditoria mulai terpisah dari ectoderm kepala, placoda lensa mata terbentuk dan radix ventyralis terpisah dari medulla spinalis. Hypochodra juga mulai terpisah dari enteron. Chorda dorsalis pada stadium ini telah mencapai puncak perkembangannya. Sumbat esofagus terbentuk dan mulai timbul aorta dorsalis maupun vena vitellina.
Stadium 19 : Jantung mulai berdenyut (umur 118 jam, panjang embrio 5,0 mm).
Epifise mulai terbentuk diikuti oleh adanya perubahan posisi infundibulum dan hypofise pada lokasi yang tetap. Thyroid mengalami evaginasi, nervus trigeminus dan placoda-nya mulai muncul. Nervus facialis dan auditorius terbentuk pada crista cranialis II. Sementara itu lensa mata terpisah dari ectoderm. Somit yang terbentuk meliputi 13 buah pada bagaian badan dan 32 buah pada ekor. Serabut-serabut otot mulai berfungsi diikuti dengan semakin sempurnanya differensiasi sclerotome jantung. Gejala yang tampak adalah adanya aktivitas kontraksi otot-otot jantung (ada denyutan).
Stadium 20 : Tahap Penetasan (sirkulasi insang luar mulai tampak, umur 140 jam, panjang embrio 6,0 mm).
Lapisan gelatin sebagai pelindung terhadap dunia luar mulai pecah dan larut dalam air. Padatahap ini dianggap bahwa telur telah menetas. Sucker pada bagian ventral calon mulut mulai terbentuk lengkap. Sistem peredaran mulai tampak ditandai adanya pembentukan lapisan dinding jantung secara lengkap dan penyempurnaan vena pulmonaris. Sirkulasi insang luar dan pembuluh-pembuluh darah terbentuk sempurna, Vena cardinalis posterior bercabang ke mesonephros. Placoda olfactorius (cekungan hidung) sudah tumbuh. Sementara itu sistem syaraf mulai mengalami penyempurnaan dengan terbentuknya massa ganglion cranialis (nervus opticus) dan sistem syaraf simpatik.
Stadium 21 : Mulut mulai membuka (umur 162 jam, panjang embrio 7,0 mm). Kornea mata mulai tampak transparan.
Bentuk embrio mengalami perubahan mencolok dari larva ke berudu. Mulut tampak terbuka, kornea transparan dan calon cerebrum mulai terbentuk. Vesicula optica mengalami deferensiasi lanjut. Ductus endo lymphaticus terbuka ke arah permukaan diikuti dengan adanya inversi total pada jantung. Radix dorsalis, ganglion spinale dan auricula di sebelah kanan dan kiri torus genitalis mulai terbentuk sempurna.
Stadium 22 : Tahap sirkulasi ekor (umur 192 jam, panjang embrio 8,0 mm)
Bagian jantung telah lengkap diikuti dengan mulai berfungsinya sistem sirkulasi bagian ekor secara sempurna. Mulai timbul kuntum calon paru-paru, sementara itu hypochorda mulai menghilang. Mesonephros juga tampak mulai terbentuk.
Stadium 23 : Tahap pembentukan operculum dan gigi tanduk (umur 216 jam, panjang embrio 9,0 mm).
Tahap ini ditandai dengan menutupnya insang yang dimulai dengan terbentuknya operculum bagian kiri. Gigi tanduk mulai muncul bersamaan dengan itu tampak pula calon lidah. Kelenjar carotid mulai terbentuk diikuti dengan hilangnya sumbat esofagus. Calon pankreas, arteri pharyngealis dan lamina precordalis sebagai pembentuk dasar plexus choroidicus mulai timbul. Disusul kemudian dengan timbulnya lobus opticus cerrebellum dan nervus cranialis.
Stadium 24 : Tahap penutupan insang kanan (umur 240 jam, panjang embrio 10,0 mm) Kelenjar mukus mengalami atropi, mulut mulai melebar dengan susunan gigi tanduknya. Berudu mulai makan tumbuh-tumbuhan. Intestinum cukup panjang dan tampak sebagai lingkaran-lingkaran. Operculum kanan mulai terbentuk dan menutupi insang bagian ini. Kelenjar tiroid mulai berfungsi disertai dengan mulai terbentuknya calon lien. Celah branchial mulai tembus sebagai terusan. Mesonephros berkembang diikuti dengan terpisahnya utricula dengan saccula.
Canalis semicircularis, lobus opticus, vena cardinalis medianus dan vena cava mulai terbentuk.
Stadium 25 : Tahap penutupan insang sempurna (umur 284 jam, panjkang embrio 11,0 mm). Silia menghilang, kecuali pada bagian ekor. Spiraculum mulai terbentuk. Gigi parut mulai tampak pada bagian bibir berudu. Sementara itu deferensiasi esofagus dan ventriculus mulai terjadi. Kuntum paru-paru mulai memanjang diikuti dengan perkembangan pronephros yang mencapai puncaknya. Retina mengalami diferensiasi lebih lanjut. Choane interna mulai terbuka dan dilanjutkan dengan pembentukan nervus olfactorius serta nervus abducent. Stadium Premetamorfosis :
Pada saat panjang embrio telah mencapai 12 mm mulai terbentuk hidung. Organ thymus terbentuk pada posisi terakhirnya. Panjang badan embrio mencapai 15 mm, kartilago sekeliling chorda dorsalis dan segemntasi vertebrae mulai terbentuk. Saccula mulai berkembang dan membentuk lagena. Rongga basilaris, sistem lateralis
Stadium Metamorfosis :
Pada umur 70-90 hari, gigi tanduk mulai tanggal, mulut menjadi lebih lebar, intestinum memendek yang diikuti dengan perubahan histologis dinding penyusunannya. Sementara itu ekor mengalami degenerasi sampai sejumlah 32 pasang somit. Dua pasang kaki berkembang pesat, linea lateralis menghilang, lidah berkembang dan kelenjar endokrin mulai aktif. Selanjutnya diikuti oleh semakin sempurnanya perkembangan gonade sebagai calon testis atau ovarium.
Bahan : Seri sediaan perkembangan embrio katak. Alat :
1. gelas obyek berbentuk cekung 2. Gelas arloji
3. mikrosop stereo binokuler 4. lensa pembesar (loupe) kecil 5. pipet tumpul
6. jarum tumpul
7. album perkembangan embrio katak
Cara Kerja :
1. Siapkan sediaan telur (embrio) katak dalam botol-botol sesuai dengan urutan tingkat perkembangannya.
2. Ambil telur (embrio) katak dari botol pertama sebanyak satu atau dua buah dengan menggunakan pipet tumpul, kemudian letakkan pada gelas obyek cekung sambil ditambahkan sedikit larutan dari dalam botol sediaan.
3. Amati dengan hati-hati di bawah lensa pembesar. Apabila kurang jelas gunakan mikroskop stereo binokuler.
4. Bandingkan telur (embrio) yang saudara amati dengan ciri-ciri stadium perkembangan embrio katak dalam album yang telah disediakan.
5. Gambar hasil pengamatan saudara pada lembar laporan yang ada.
6. Ulangi langkah-langkah di atas (langkah 2 sampai 5) untuk mengamati fase perkembangan telur dan atau embrio selanjutnya yang berasal dari botol 2, 3 dan seterusnya.
PERHATIAN
D 6HVXGDKVHOHVDLVHWLDSPHQJDPDWLWHOXUGDQDWDXHPEULRMDQJDQ OXSDXQWXNPHQJHPEDOLNDQQ\DNHPEDOLNHGDODPERWRO\DQJVHVXDL E 6DXGDUDKDUXVEHNHUMDHNVWUDKDWLKDWLGHQJDQWXMXDQDJDUWLGDN PHUXVDNWHOXUGDQDWDXHPEULR F $SDELODMXPODKWHOXUGDQDWDXHPEULRNDWDNWLGDNPHQFXNXSLXQWXN SHQJDPDWDQVHUHQWDNPDNDSHQJDPDWDQGDSDWGLODNXNDQEHUJDQWLDQ G $SDELODDQGDPHQHPXNDQSHUVRDODQNRQVXOWDVLNDQGHQJDQDVLVWHQ GDQDWDXGRVHQSHPELPELQJACARA VII
PENGAMATAN TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN EMBRIO AYAM (Gallus gallus, sp)
Tujuan : Agar mahasiswa dapat mengetahui tahap-tahap perkembangan embrio ayam Dasar Teori :
Gastrulasi pada ayam hampir sama dengan gastrulasi embrio pada reptil,karena bentuk blastulanya sama. Tanda khas gastrula paa ayam adalah terbentuknya stria primitiva. Pembentukan stria primitiva mulai terjadi padaumur penheraman telur 8 jam. Stria primitiva juga tampak jelas apabila dilihat dalam pengecatan haematoxylin pada umur pengeraman 13 jam.
Stria primitiva adalah bangunan di bagian linea mediana yang terdiri dari alur primitif (primitive groove) dan di bagian kanan-kirinya terdapat peninggian yang disebut plica primitiva (primitive fold).
Pada umur pengeraman 19 jam terjadi perkembangan baru. Di bagian anterior stria primitiva terjadi invaginasi yang disebut fovea primitiva (primitive pit). Pada bagian anterior primitive pit ini terdapat suatu sentrum yang tediri dari massa mesodermal. Bagian ini sangat aktif berproliferasi sehingga membentuk suatu peninggian yang disebut nodus Hensen. Nodus Hensen dapat disamakan dengan bibir dorsal pada gastrula embrio katak. Nodus ini berfungsi sebagai organisator (organizer) perkembangan embrio ayam tingkat awal. Sementara gastrulasi berjalan terus, pertumbuhan badan embrio meluas dan memanjang. Pada mulanya stria primitiva tumbuh memanjang ke anterior sehingga mencapai ukuran panjang maksimum. Setelah neuroectodermal tumbuh, maka stria primitiva terdesak ke bagian posterior.
Di bagian anterior daerah neural embrio terjadi penebalan epiblast sebagai head processus yangmembentuk lipatan dan disebut sebagai head fold. Divergensi sel-sel mesodermal dan entodermal akan mencapai daerah area opaca dan membentuk lembaran dilateral. Mesodermal dan entodermal secara bersama-sama membentuk kantung vitellus (yolk sac = kantung kuning telur) embrio. Struktur tubuh embrio ayam pada tahap akhir gastrula adalah sebagai berikut :
1. Pada bagian permukaan, dari bagian anterior ke posterior adalah head fold (lipatan daerah kepala), head processus (penebalan daerah kepala), laina neuralis (berupa alur sempit), nodus Hensen, primitive pit (fovea primitiva)dan stria primitiva.
2. Pada bagian dalam dapat dilihat : Chorda dorsalis, massa mesodermal pada nodus Hensen, mesoderm somit dan mesodermal lateral, enroderm dan gastrocoel.
Selaput-selaput ekstra embrional yang akan dibahas berikut ini secara keseluruhan terdapat pada embrio hewan-hewan super kelas amniota. Selaput ekstra embrional pada setiap kelas hewan memiliki peran dan bentuk yang berbeda-beda. Sebagai contoh, untuk kajian dalam praktikum ini diambil jenis-jenis selaput ekstra embrional pada embrio ayam (Gallus gallus sp.) segar dari umur inkubasi tertentu.
1. Kantung Kuning Telur (Yolk Sac).
Setelah umur inkubasi 16 jam, sluran pencernaan (enteron) pada embrio ayam masih berupa lembaran dengan lekukan sirkuler. Bagian atas terdiri dari sel-sel endoderm, sedangkan di bagian bawah adalah mesoderm. Sisi-sisi bagian atas akan berkembang menjadi saluran pencernaan yang memanjang hingga bagian tepi blastodisc. Pada bagian ini terdapat tiga lapisan sel-sel germinal, yaitu ectoderm, mesoderm dan endoderm yang masih dilingkupi oleh yolk (kuning telur) dan membentuk daerah embrional yang disebut area opaca.
Endoderm letaknya paling dekat dengan bagian yolk. Perkembangan selanjutnya area opaca terus berproliferasi, meluas hingga melingkupi sebagian besar massa yolk dan akhirnya membentuk kantung kuning telur (yolk sac). Setelah kira-kira umur 24 jam inkubasi, terdapat lipatan yang berkembnag pada bagian archenteron membentuk fore gut pada bagaian head region. Sehari kemudian hid gut akan terbentuk. Setelah hari ke empat, kantung kuning telur ini sudah melingkupi hampir semua bagian permukaan massa yolk. Kantung ini dihubungkan pada calun gut (saluran pencernaan) oleh yolk stalk. Enzim-enzim yang dihasilkan yolk stalk ini mampu mencerna massa kuning telur danmenyalurkan nutriennya menuju embrio lewat pembuluh-pemvbuluh darah mikro yang sangat banyak jumlahnya.
Seiring dengan perkembangan embrio, massa kuning telur maupun yolk sac-nya akan habis diserap oleh embrio hingga kira-kira 3 hari menjelang menetas. Dan apabila saat menetas masih tersisa, yolk sac akan menyatu dengan saluran pencernaan (usus). Bekas yolk sac ini masih dapat ditemukan di dalam usus kecil (intestinum) anak ayam hingga umur beberapa hari setelah menetas.
2. Amnion dan Chorion
Setelah hari kedua inkubasi, bagian kepala embrio ayam telah tampak jelas. Secara cepat bagian depan kepala yang merupakan lipatan blastoderm berbentuk bulkan sabit membentuk amniotic head fold. Lipatan ini berkembang terus ke arah belakang dan melingkupi bagian kepala. Hari ketiga, pada bagian ekor terbtnuk lipatan serupa dan tumbuh ke arah depan. Seiring dengan terbentuknya lipatan bagian kepala dan ekor, juga terbentuk lipatan lateral amnion pada sisi kanan-kiri embrio.
Membran yang terdapat pada lipatan amnion memiliki dua lapis. Kedua lapisan ini dibentuk dari lapis sel ectoderm dan mesoderm. Keempat lipatan amnion yang telah terbentuk (bagian kepala, ekor, sisi kiri dan kanan) akhirnya menyatu di bagian dorsal embrio. Bagian pertemuan keempat lipatan amnion tadi akhirnya saling lepas antra permukaan luar dengan permukaan dalamnya. Permukaan lipatan bagian dalam membentuk kantung amnion, sedangkan bagian luar membentuk kantung chorion. Ruangan yang dilingkupi oleh lapisan amnion disebut rongga amnion (amniotic cavity). Embrio terletak langsung di dalam ruangan ini. Sedangkan bagian luar amniotic cavity yang dilingkupi oleh lapisan chorion disebut extraembryonic coelom atau exocoelom.
3. Allantois
Selaput ekstra embrional keempat yang disebu allantois mulai tumbuh pada saat rongga amnion telah lengkap terbentuk. Setelah umur inkubasi 72 jam, allantois merupakan bangunan perluasan serupa kantung dari bagian posterior hind gut ini mulai tampak. Sekitar hari ke 4 atau 5 inkubasi, perluasan exocoelom yang terletak antara rongga amnion dan chorion secara berangsur-angsur akan diganti oleh rongga allantois (allantoic cavity). Bagian rongga ini akhirnya menyatu dengan chorion danmembentuk membran chorioallantoic yang menempel pada kerabang telur.
Allantois memiliki kapiler-kapiler pembuluh darah dalam jumlah yangsangat banyak. Pembuluh-pembuluh darah ini berperan dalam menambah fasilitas pernafasan embrio melalui pori-pori kerabang telur. Rongga allantois berfungsi menampung kristal-kristal asam urat yang diekskresikan embrio ayam selama perkembangan. Bagian allantois yang melekat langsung pada bagian embrio disebut allantois stalk. Sebagian jaringan allantoic stalk yang terdapat di dalam tubuh embrio pada akhirnya akan tumbuh menjadi jaringan yangmembentuk kandung kemih (urinary bladder).
Padamamalia, perkembangan kantung kuning telur menunjukkan adanya perkembangan yang evolusioner dari nenek moyangnya. Sel-sel telur mamalia hanya memiliki sejumlah kecil yolk, sehingga tidak terbungkus oleh yolk sac. Yolk sac mamalia terbentuk oleh suatu fungsi rekapitulasi evolusioner.
Perkembangan Organ
Tahap-tahap perkembangan organ pada embrio ayam dimulai sejak terbentuknya notochord dan primitive streak. Setelah primitive streak mengalami regresi, kemudian disusul dengan pertumbuhan bagian caudal dan chepalic embrio. Pertumbuhan entoderm membentuk primitive gut dan diikuti dengan diferensiasi awal mesoderm. Ectoderm akhirnya membentuk neural plate. Diferensiasi dilanjutkan dan membentuk embryonal area.
Pada umur inkubasi 24 jam terjadi pembentukan bagian kepala, neural groove dan mulai munculnya fore gut. Mesoderm mengalami proliferasi ekstensif. Coelom tubuh embrio, pericardial region dan area vasculosa telah terbentuk pada tahap ini.
Tahap antara 24 sampai 33 jaminkubasi terjadi penutupan neural groove, diferensiasi daerah calon otak dan mulai terbentuk anterior neuropore serta sinus rhomboidalis. Pembentukan somit-somit vertebrae tambahan juga terjadi pada tahap ini. Pertumbuhan foregut berlanjut dan menjadi lebih panjang. Sistem sirkulasi mulai terbentuk dengan adanya jantung dan vena-vena ophalomesenteric. Selain itu area vasculosa mengalami reorganisasi yang lebih baik.
Umur inkubasi natara 33 – 38 jam ditandai oleh pertumbuhan dan pembelahan sel-sel syaraf otak dan unsur neuromeric-nya. Auditory pit juga mengalami perkembangan lanjut. Tahap ini juga ditandai dengan adanya pembentukan pemuluh-pemuluh darah
extra-vertebrae mengalami diferensiasi lebih jauh. Selama hari-hari ketiga hingga kelima masa inkubasi terdapat perubahan-perubahan sebagai berikut :
1. Struktur tubuh bagian luar
Terjadi torsi dan fleksi lebihlanjut yang disertai dengan semakin sempurnanya pertumbuhan branchial arches dan clefts. Calon mulut dan kuntum calon ekstremitas (appendages = kaki dan sayap) juga mulai tampak. Selaput ekstra embrional allantois tumbuh sempurna.
2. Sistem Syaraf
Pembentukan vesicula telencephalic, diencephalon, metencephalon, myencephalon dan ganglia syaraf cranial tampak jelas. Selain itu juga diikuti dengan pertumbuhan spinal cord (korda spinalis) dan spiral nerve (nervus spinalis)
3. Organ-organ sensorik
Organ-organ mata, telinga dan olfactorius (penciuman) telah terbentuk sempurna pada tahap ini. Perkembangan lebih lanjut berupa penyempurnaan fungsi dan kelengkapan morfologis bagian luar tubuh embrio.
4. Sistem Pencernaan dan Pernafasan
Mulut mengalami pertumbuhan lanjut sehingga tampak celah mulut yang membuka. Pertumbuhan bagian-bagian pharynx dan derivat-derivatnya juga semakin sempurna. Pada tahap ini juga ditandai dengan pertumbuhan yang lebih sempurna organ-organ trachea, kuntum calon paru-paru, esophagus, ventriculus, liver (hepar), pankreas, usus halus dan pembentukan membran proctodaeum maupun cloaca.
5. Sistem Sirkulasi
Lintasan sirkulasi utama telah terbentuk yang diikuti dengan semakin sempurnanya sirkulasi pada vitellus (vitelline circulation) dan allantois (allantoic circulation). Sistem sirkulasi intra-embryonic juga semakin sempurna. Jantung telah semakin kuat dan bentuknya semakin sempurna pula.
6. Sistem Urinary
Terjadi interelasi yang terorganisir antara pronephros, mesonephros dan metanephros. Tubulus-tubulus pronephros, mesonephros dan metanephros juga terbentuk dan semakin sempurna, baik secara struktural maupun fungsional.
7. Coelom dan Mesenterium
Rongga tubuh yang terdiri dari coelom dan mesenterium semakin tumbuh dan menjadi ruang dimana organ-organ internal berada.
Prosedur Pengamatan :
PENGAMATAN dalam BENTUK SEDIAAN SEGAR
(Untuk kondisi tertentu, kegiatan ini agar efektif dan efisien dapat dititipkan pelaksanaannya berbarengan dengan kegiatan praktikum Mikroteknik pada topik acara pembuatan preparat
wholemount embrio ayam).
Bahan : 1. Telur ayam fertil yang telah diinkubasikan selama 18, 24, 48 dan 96 jam
2. Larutan garam fisiologis 0,9 % hangat-hangat kuku secukupnya.
Alat :
1. gelas beker 200 ml atau bak plastik 2. gelas arloji
3. pensil atau spidol 4. gunting operasi kecil 5. mikroskop stereo binokuler 6. kaca pembesar (loupe) kecil 7. pipet kecil
8. jarum runcing 9. jarum tumpul 10. pinset kecil
Cara Kerja :
1. Siapakan larutan garam fisiologis 0,9 % hanga-hangat kuku ( ± 40 oC ) di dalam bak plastik dengan kapasistas sekitar 200 ml.
2. Siapkan telur ayam fertil yang telah diinkubasikan masing-masing dalam 18, 24, 48 dan 96 jam. Periksa bagian dalamnya dengan lampu yang terang (peneropong telur) untuk melihat adanya discus germinalis (lempeng embrio) telur tersebut.
3. Beri tanda melingkar dengan menggunakan pensil pada bagian kerabang telur untuk menandai letak bagian discus germinalis yang telah ditemukan.
4. Masukkan telur yang telah ditandai ke dalam larutan garam fisiologis sampai tercelup. Ingat posisi discus germinalis pada setiap telur tidak selalu sama (diskusikan)
5. Gunakan gunting kecil untuk membuka kerabang telur sesuai dengan tanda yang telah diberikan secara melingkar, dan lepaskan kerabang yang telah terpotong (lingk. Harus cukup lebar untuk memudahkan mengamati dan proses selanjutnya).
6. Sementara telur tetap berada pada larutan garam fisiologis, dengan hati-hati (jangan bergoyang) amati discus germinalis, apabila diperlukan gunakan loupe. Telur yang fertil akan menampakkan embrio yang sedang tumbuh dan berkembang. Mungkin anda akan melihat pula gerakan-gerakan yang terjadi.
9. Ambil gelas arloji selanjutnya letakkan embrio (masih dengan menggunakan pinset) ke dalamnya. Angkat pelan-pelan gelas arloji yang telah berisi embrio keluar dari bak plastik (ingat embrio masih ada dalam larutan garam fisiologis)..
10. Amati embrio (harus dalam garam fisiologis) dengan menggunakan mikroskop stereo binokuler atau dengan kaca pembesar.
11. Lakukan diskusi dengan teman-teman dn asisten untuk memperjelas apa yang anda amati.
12. Gambar embrio yang teramati dan beri keterangan bagian-bagiannya. Carilah referensi yang mendukung apabila anda memerlukan konfirmasi-konfirmasi.
PENGAMATAN EMBRIO dalam BENTUK SEDIAAN AWETAN
Bahan : Sediaan awetan preparat whole mount embrio ayam umur 24, 32, 48, 72 dan 96 jam Alat :
1. Mikroskop transmisi 2. Mikroskop stereo binokuler 3. Kaca pembesar (loupe)
Cara Kerja :
1. Ambillah sediaan preparat whole mount embrio ayam umur 24 jam, letakkan di bawah mikroskop tranmisi dengan hati-hati.
2. Amati secara teliti dengan pembesaran sedang. Perhatikan b agian yang tampak dan selanjutnya gambar dan beri keterangan bagian-bagiannya.
3. Apabila pengamatan satu sediaan sudah selesai, gantilah dengan mengambil preparat whole mount embrio ayam pada fase berikutnya. Amati sebagaimana anda mengamati preparat yang pertama.
4. Lakukan pengamatan terhadap seluruh preparat whole mount ( umur 24, 32, 48, 72 dan 96 jam).
5. Perhatikan, pengamtan embrio yang masa inkubasinya lebih tua kemungkinan akan mengalami kesulitan melihat bagian-bagannya dengan menggunakan mikroskop transmisi atau kaca pembesar. Pada kasus ini gunakan mikroskom stereo binokuler untuk memperjelasnya.
FORMAT LAPORAN
Laporan Praktikum :
1. Laporan disusun sebagai satu kesatuan seluruh laporan praktimum yang terdiri dari sub aspek Reproduksi dan Embriologi.
2. Laporan bersifat individual dan data pengamatan berupa data kelompok. 3. Dijilid dengan bagian depan dan belakang dilapisi mika transparan bening. 4. Laporan akhir disusun dengan format sebagai berikut :
Cover (Bagian depan). Isi Laporan :
Acara Praktikum diurutkan dari kegiatan I s/d VII. Isi laporan untuk masing-masing kegiatan terdiri dari :
- Hasil Pengamatan (yang sudah harus dikonfirmasi oleh assisten dan dilarang meng-copy dari hasil pengamatan teman sekelompok, hasil pengamatan yang berupa fotocopy-an dianggap tidak syah).
- Pembahasan - Simpulan
Daftar Pustaka
Ketentuan Penulisan Laporan :
1. Dianjurkan ditulis tangan saja, kecuali cover. 2. Ukuran kertas kuarto (A4).
3. Dikumpulkan secara serentak sebelum pelaksanaan responsi (waktunya ditentukan kemudian).
DAFTAR PUSTAKA
Balinsky, B.I. 1981. An Introduction to Embryology. Fifth Edition. Saunders College Publishing. Philadelphia. 633-644.
Gilbert, S.F. 1991. Developmental Biology. Third Edi- tion. Sinauer Associates, Inc. Publishers. Saunderland. Massachusetts. 5-695.
Patten, B.M. 1978. Early Embryology of The Chick. Fifth Edition. Tata McGraw-Hill Publishing Company Ltd. New Delhi.
Rugh, R. 1951. The Frog, Its Reproduction and Development. McGraw-Hill Book Company Inc. New York. 251 - 260.
Sagi, M. 1991. Embryology Katak. Fakultas Biologi UGM. Yogyakarta.
Turnner dan Bagnara, 1980. General Endocrinology. WB. Saunders. Philadelphia. Watterson, R.L, and Sweeney, R.M. 1970. Laboratory Studies of Chick, Pig and
Frog Embryos. Second Edition. Burgess Publishing Co. Minneapolis. 35 - 42.
(Contoh Cover Laporan Praktikum)