BAB I PENDAHULUAN. merupakan suatu pilihan yang tidak dapat dielakkan, Indonesia adalah Negara

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebagai negara kepulauan yang luas maka modal trasnsportasi udara merupakan suatu pilihan yang tidak dapat dielakkan, Indonesia adalah Negara kepulauan yang bercirikan nusantara yang disatukan oleh wilayah perairan dan udara untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, maka diperlukanlah sarana transportasi udara yang memiliki standard pelayanan dan keselamatan yang optimal.

Dalam upaya mencapai tujuan nasional berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara republik Indonesia Tahun 1945, mewujudkan wawasan Nusantara serta memantapkan ketahanan Nasional diperlukan sistem transportasi Nasional yang mendukung pertumbuhan ekonomi, pengembangan dan pembangunan wilayah, mempererat hubungan antar bangsa, dan memperkukuh kedaulatan Negara.1

Pembangunan pada hakekatnya adalah proses perubahan yang berlangsung secara terus menerus kearah tercapainya tujuan nasional. Suatu proses perubahan yang teratur dan terarah akan terwujud. Bila terjalin hubungan timbale balik yang erat antara sektor ilmu pengetahuan dan teknologi kebijakan dan hukum.

Salah satu bidang kehidupan yang selalu diupayakan menjadi lebih baik adalah sektor transportasi. Manusia membutuhkan transportasi yang aman,       

(2)

cepat dan teratur dalam menunjang mobalitas kehidupannya, baik dalam transportasi lokal, nasional maupun internasional. Manusia menghendaki transportasi kereta api, bus, kapal laut, pesawat dan lain-lain berjalan dengan aman, cepat teratur dan juga dengan biaya atau ongkos yang terjangkau.2

Penerbangan merupakan bagian dari sistem transportasi nasional yang mempunyai karakteristik mampu bergerak dalam waktu cepat, menggunakan teknologi tinggi, padat modal, manajemen yang andal, serta memerlukan jaminan keselamatan dan keamanan yang optimal, perlu dikembangkan potensi dan peranannya yang efektif dan efisien, serta membantu terciptanya pola distribusi yang mantap dan dinamis.3

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat dibidang penerbangan telah telah mampu meningkatkan mutu pelayanan penerbangan dan juga mampu menciptakan alat-alat penerbangan canggih dan beraneka ragam. Perkembangan teknologi penerbangan mempunyai dampak yang positif terhadap keselamatan penerbangan dalam dan luar negeri.4

Dalam dunia penerbangan ada beberapa komponen utama yang berkaitan erat satu dengan lainnya yaitu pengaturan pesawat, perusahaan penerbang dan pabrik pembuat pesawat udara (manufacturer). Operasi penerbangan dapat berjalan lancar apabila keempat faktor ini tertata dengan baik dengan kata lain pesawat udara yang siap operasional harus lengkap dengan awak pesawat dengan sarana dan prasarana lain yang dibutuhkan.5

      

2 Yaddy Supriadi, Keselamatan Penerbangan Teori & Problematika,Telaga Ilmu Indonesia, Tanggerang, 2012 hal.57

3 Undang-undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan

4K. Martono, Tim Analisis Awak Pesawat Udara Sipil, Jakarta, 1999, hal 1  5Ibid hal 2

(3)

Pada penerbangan sipil komersial setiap awak pesawat masing-masing mempunyai fungsi dan peran tertentu di dalam pelaksanaan tugas penerbangan. Dilihat dari status mereka mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda-beda tergantung peranannya didalam pesawat udara. Pelaksannaan tugas tadi membutuhkan adanya seorang yang menjabat sebagai pimpinan yang juga berfungsi sebagai penanggung jawab dalam misi penerbangan tersebut.6

Transportasi udara adalah sistem penerbangan yang melibatkan banyak pihak. Dalam dunia penerbangan pemenuhan (compliance) terhadap safety

standard (standard keselamatan) yang tinggi merupakan suatu keharusan yang

mutlak. Penerapan keselamatan penerbangan (aviation safety) perlu dilaksanakan pada semua sektor, baik pada bidang transportasi / operasi angkutan udara, kebandaraudaraan, navigasi, perawatan dan perbaikan serta pelatihan yang mengacu pada aturan International Civil Aviation

Organization(ICAO).7

Keselamatan merupakan prioritas utama didalam dunia penerbangan sehingga, diperlukannya suatu standard keselamatan yang optimal dengan mengacu pada standard penerbangan yang ada.

Keselamatan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah faktor kondisi fisik pesawat, kondisi awak pesawat, infrastruktur serta faktor alam. Tetapi yang menjadi faktor utama atama adalah kondisi fisik pesawat. Kondisi fisik suatu pesawat tergantung dari perawatan yang dilakukan . dalam hal ini pemerintah memegang peran penting, salah satunya dengan memperbaiki infrastruktur penerbangan seperti bangunan, struktur, lampu,       

6Ibid hal 3

(4)

aerodrome, landasan pacu kendaraan, fasilitas, komunikasi, situs web dan lain-lain. Apabila seluruh faktor tersebut dapat berjalan dengan baik maka akan tercipta keselamatan dan memberi rasa aman terhadap penumpang serta dapat mengurangi tingkat kecelakaan penerbangan yang terjadi di Indonesia.8

Pada dasarnya dengan mematuhi prosedur keselamatan yang berlaku maka dapat meningkatkan keselamatan dalam penerbangan sehingga dapat tercipta penerbangan yang aman, nyaman dan selamat.  Sejak lahir kegiatan penerbangan dan angkutan udara mempunyai sifat internasional yang menonjol, baik dari aspek ekonomis-komersial maupun aspek pengaturannya. Angkutan udara dewasa ini sudah merupakan suatu industri global yang melibatkan hampir semua Negara didunia dan hukum udara yang mengatur industri tersebut membuktikan bahwa keseragaman pengaturan dapat dicapai secara internasional.9 

Kewajiban Maskapai Penerbangan Sipil dalam Peraturan Perundang-undangan Indonesia Terkait dengan Upaya Pemenuhan Keselamatan dan Keamanan Penumpang.  

Sesuai dengan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1992 tujuan terselenggaranya penerbangan adalah untuk mewujudkan penyelenggaraan penerbangan yang selamat, aman, cepat, lancar, tertib dan teratur, nyaman dan berdaya guna, dengan biaya yang terjangkau oleh daya beli masyarakat dengan       

8http://kumpulankaryasiswa.wordpress.com Diunduh Pada Tanggal 16 Desember 2013 

9

Suwardi,S.H.,LL.M, Penulisan Karya ilmiah tentang penentuan tanggung jawab

pengangkut yang terikat dalam kerjasama pengangkutan udara internasional, Badan Pembinaan

(5)

mengutamakan dan melindungi penerbangan nasional, menunjang pemerataan, pertumbuhan dan stabilitas, sebagai pendorong, penggerak, dan penunjang pembangunan nasional serta mempererat hubungan antar bangsa.10

Untuk itu, diperlukannya aspek hukum untuk mengatur mengenai keselamatan penerbangan pesawat udara tersebut, agar dapat memberikan jaminan keselamatan dan keamanan kepada para pengguna angkutan pesawat udara pada umumnya.

B. Rumusan Masalah

Dari uraian yang telah dikemukakan diatas, maka dalam penulisan skripsi ini dirumuskan masasalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pengaturan keselamatan penerbangan ditinjau dari Hukum internasional?

2. Bagaimana pengaturan Keselamatan Penerbangan berdasarkan ketentuan hukum Nasional Indonesia?

3. Bagaimana Pengaturan Kawasan Keselamatan Operasional Penerbangan (KKOP) Bandara Internasional KualaNamu?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah diatas, yang telah dikemukakan sebelumnya maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pengaturan keselamatan penerbangan yang ditinjau dari aspek hukum internasional, International Civil Aviation Organization (ICAO) dan Konvensi Chicago 1944?

      

(6)

2. Untuk mengetahui pengaturan keselamatan penerbangan berdasarkan ketentuan Hukum Nasional Indonesia?

3. Untuk mengetahui Bagaimana pengaturan Kawasan Keselamatan Operasional Penerbangan (KKOP) Bandara Internasional KualaNamu?

C. Manfaat Penulisan

Sehubungan dengan hal-hal tersebut diatas, maka penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi atau manfaat baik dari sisi teoritis maupun praktis.

1. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis dari hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi dan sumbangan pemikiran untuk pengembangan ilmu hokum pada umumnya dan hukum internasional pada khususnya.

2. Manfaat Praktis

Membantu aparat penegak hukum dan pemerintah dalam penerapan pengetahuan kukum internasional mengenai keselamatan penerbangan pesawat udara dn juga memberikan pengetahuan yang berguna bagi masyarakat mengenai haknya sebagai pengguna jasa penerbangan.

E. Keaslian Penulisan

Sebagai suatu karya tulis ilmiah yang dibuat untuk memenuhi syarat memperoleh gelar sarjana, maka Berdasarkan pengamatan serta penelusuran keperpustakaan judul yang penulis pilih telah diperiksa dalam arsip bagian Hukum Internasional dan judul tersebut dinyatakan tidak ada yang sama dan telah disetujui oleh Ketua Departemen Hukum Internasionl. Sehingga penelitian ini

(7)

dapat dikategorikan sebagai penelitian yang baru dan keasliannya dapat saya pertanggungjawabkan tanpa melakukan tindakan peniruan(plagiat) baik sebagian maupun seluruh dari karya orang lain.

F. Tinjauan Kepustakaan

1. Hukum Internasional

Menurut Mochtar Kesumaatmaja Hukum Internasional adalah keseluruhan kaidah dan asas yang mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas Negara antara:

1. Negara dengan Negara;

2. Negara dengan subjekhukum lain bukan Negara atau subjek hukum bukan Negara satu sama lain.

2. Hukum Udara

Belum ada kesepakatan yang baku secara internasional mengenai pengertian hukum udara (air law) mereka kadang-kadang menggunakan istilah hukum udara (air law) atau hukum penerbangan (aviation law) atau hukum navigasi udara (air navigation law) atau hukum transportasi udara (air

transportation law) atau hukum penerbangan (aerial law) atau hukum aeronautika

(aeronautical law) atau udara udara- aeronautika (air-aeronautical) saling bergantian tanpa dibedakan satu terhadap yang lain.

Namun Verschoor memberikan defenisi hukum udara (air law) sebagai hukum dan regulasi yang mengatur penggunaan ruang udara yang bermanfaat bagi penerbangan, kepentingan umum, dan bangsa-bangsa didunia.

(8)

3. Angkutan Udara

Angkutan Udara adalah setiap kegiatan dengan menggunakan pesawat udara untuk mengangkut penumpang, kargo, dan/atau pos untuk satu perjalanan atau lebih dari satu bandar udara ke bandar udara yang lain atau beberapa bandara.11

4. Pesawat Udara

Menurut undang-undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang penerbangan; Pesawat Udara adalah setiap mesin atau alat yang dapat terbang di atmosfer karena gaya angkat dari reaksi udara, tetapi bukan karena reaksi udara terhadap permukaan bumi yang digunakan untuk penerbanagan.

Pesawat udara mencakuppesawat terbangatau pesawat bersayap tetap dan helikopter atau diartikan pesawat udara yang lebih berat dari udara, bersayap putar yang rotornya digerakkan oleh mesin.

Pesawat udara yang lebih berat dari udara disebut aerodin, yang masuk dalam kategori ini adalah autogiro, helikopter, girokopter danpesawat

terbang/pesawat bersayap tetap. Pesawat bersayap tetap umumnya menggunakan mesin pembakaran dalam yang berupa mesin piston(dengan baling-baling) atau mesin turbin (jet atauturboprop untuk menghasilkan dorongan yang menggerakkan pesawat, lalu pergerakan udara di sayap menghasilkan gaya dorong ke atas, yang membuat pesawat ini bisa terbang. Sebagai pengecualian, pesawat bersayap tetap juga ada yang tidak menggunakan mesin, misalnyaglider, yang hanya menggunakan gaya gravitasi dan arus udara panas. Helikopter dan autogiro menggunakan mesin dan sayap berputar

      

(9)

untukmenghasilkan gaya dorong ke atas, dan helikopter juga menggunakan mesin untuk menghasilkan dorongan ke depan.

Pesawat udara yang lebih ringan dari udara disebut aerostat, yang masuk dalam kategori ini adalah balon dan kapal udara. Aerostat menggunakan gaya apung untuk terbang di udara, seperti yang digunakan kapal laut untuk mengapung di atas air. Pesawat udara ini umumnya menggunakan gas seperti helium, hidrogen, atau udara panas untuk menghasilkan gaya apung tersebut. Perbedaaan balon udara dengan kapal udara adalah balon udara lebih mengikuti arus angin, sedangkan kapal udara memiliki sistem propulsi untuk dorongan ke depan dan sistem kendali.12

5. Penerbangan

Pengertian penerbangan menurut undang-undang;

Menurut pasal 1 huruf a uu nomor 83 Tahun 1958 tentang penerbangan; Penerbangan adalah penggunaan pesawat udara dalam dan atas wilayah republik Indonesia.

Menurut pasal 1 angka 1 uu nomor 15 Tahun 1992 tentang penerbangan; Penerbangan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan wilayah udara, pesawat udara, Bandar udara, angkutan udara, keamanan dan keselamatan penerbanagan serta kegiatan dan fasilitas penunjang lain yang terkait.

Menurut pasal 1 angka 1 uu Nomor 1 Tahun 2009 tentang penerbangan; Penerbangan adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas pemanfaatan wilayah udara, pesawat udara, Bandar udara, angkutan udara, navigasi

      

(10)

penerbangan, keselamatan dan keamanan, lingkungan hidup, serta fasilitas penunjang dan fasilitas umum lainnya.

6. Keselamatan Penerbangan

Keselamatan Penerbanganadalah suatu keadaan terpenuhinya persyaratan keselamatan dan pemanfaatan wilayah udara, pesawat udara, Bandar udara, angkutan udara, navigasi penerbangan, serta fasilitas penunjang dan fasilitas umum lainnya.13

Menurut pasal 1 Undang-undang Nomor 3 Tahun 2001;

Keselamatan penerbangan adalah keadaan yang terwujud dari penyelenggaraanpenerbangan yang lancar sesuai dengan prosedur operasi dan persyaratan kelaikanteknis terhadap sarana dan prasarana penerbangan beserta penunjangnya.

Keselamatan Penerbangan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah faktor kondisi fisik pesawat, kondisi awak pesawat, infrastruktur, serta faktor alam. Tetapi yang menjadi faktor utama adalah kondisi fisik pesawat. Kondisi fisik suatu pesawat tergantung dari perawatan yang dilakukan, semakin baik sebuah pesawat maka semakin besar pula biaya yang harus dilakukan begitu sebaliknya.

7. Kawasan Keselamatan Operasional Penerbangan

Kawasan Keselamatan Operasional Penerbangan adalah wilayah daratan dan/atau perairan serta ruang udara di sekitar Bandar udara yang digunakan untuk kegiatan operasi penerbangan dalam rangka menjamin keselamatan penerbangan.14

      

13Undang-undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan 14Undang-undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan

(11)

Kawasan ini perlu diperhatikan untuk menjaga keselamatan operasional pesawat udara di sekitar bandar udara, hal yang paling umum dan sangat berkaitan dengan kawasan ini adalah mengenai kondisi ketinggian bangunan atau halangan lainnya seperti gunung, bukit, pepohonan di sekitar wilayah operasi penerbangan atau bandar udara. Kawasan ini juga menjadi faktor pendukung utama dalam pembuatan suatu wilayah pendaratan dan lepas landas pesawat udara.

KKOP di bagi menjadi beberapa kawasan, seperti :

1. Kawasan ancangan pendaratan dan lepas landas; 2. Kawasan kemungkinan bahaya kecelakaan; 3. Kawasan di bawah permukaan transisi;

4. Kawasan di bawah permukaan horizontal dalam; 5. Kawasan di bawah permukaan kerucut; dan 6. Kawasan di bawah permukaan horizontal luar.

Dalam pembahasan KKOP dijelaskan mengenai ketentuan batas-batas yang menjadi acuan keselamatan, seperti :

1. Batas-batas kawasan pada KKOP 2. Batas-batas ketinggian pada KKOP

3. Batas-batas di sekitar penempatan peralatan navigasi penerbangan.15

8. Sumber Hukum Udara

Pada hakekatnya Sumber Hukum Udara terdiri dari UU Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan. Undang-undang ini merupakan perubahan atas Undang-undang Nomor 15 Tahun 1992 Tentang Penerbangan. Selain itu sumber       

(12)

Hukum Udara antara lain PP No.40 Tahun 1985 Tentang Angkutan Udara, PP No.3 Tahun 2001 tentang Keselamatan dan Keamanan Penerbangan, konvensi Chicago 7 Desembar 1944 Tentang Penerbangan Sipil Internasional menghasilkan ICAO, Konvensi Montreal Tahun 1999 Tentang Tanggung Jawab Pengangkut Udara dan Dokumen Angkutan, Konvensi Roma Tahun 1952 Tentang Tanggung Jawab Pengangkut Pada Pihak Ke-3, Konvensi Tokyo 1963 tentang Tindak Pidana di Pesawat Udara.

9. Sumber Hukum Internasional

1. Perjanjian Internasional, baik yang bersifat umum maupun khusus, yang mengandung ketentuan hukum yang diakui secara tegas oleh Negara-negara yang bersengketa;

2. Kebiasaan Internasional, sebagai bukti dari suatu kebiasaan umum yang telah diterima sebagai hukum;

3. Prinsip hukum umum yang diakui oleh bangsa-bangsa beradab;

4. Keputusan Pengadilan dan ajaran para sarjana yang paling terkemuka dari berbagai Negara sebagai sumber tambahan untuk mendapatkan kaidah hukum.

1. Perjanjian internasional

Perjanjian Internasional Adalah perjanjian yang diadakan antara anggota masyarakat bangsa-bangsa dan bertujuan untuk mengakibatkan akibat hukum tertentu.

Tentang hal membuat perjanjian internasional dapat dibagi lagi dalam 3 tahap yaitu;

(13)

2. Penandatanganan (signature); 3. Pengesahan (ratification);

10. Sumber Hukum Udara Nasional

Sumber hukum udara nasional terdapat diberbagai peraturan perundang-undangan Nasional sebagai implementasi undang-undang Dasar 1945 antara lain Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1992, stb 1939-100, Undang-Undang Nomor 33 Tahun 1964, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1976, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1976, Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003, semuanya beserta peraturan pelaksanaannya pada tataran peraturan pemerintah bsampai dengan intruksi kepala Direktorat dan seterusnya. Di samping itu, berbagai peraturan pada tataran regulasi terdapat berbagai peraturan seperti keputusan mengenai kebandar udaraan, keselamatan penerbangan, lalu lintas udara, angkutan udara, teknik perawatan udara dan lain-lain merupakan sumber hukum udara nasional.

Sumber hukum Nasional terdapat pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan ( Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4956), undang- Undang Tersebut merupakan Perubahan dari Undang-Undang Nomor 15 tahun 1992 tentang Penerbangan. Dan juga Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2001 tentang keamanan dan keselamatan Penerbangan ( Lembar Negara Tahun 2001 Nomor 9, tambahan Lembaran Negara Nomor 4075)

11. Sumber Hukum Udara Internasional

Sumber hukum udara dapat bersumber pada hukum internasional maupun hukum nasional. Sesuai dengan pasal 38 (1) Piagam Mahkamah Internasional mengatakan sumber hukum internasional adalah ‘‘international treaty,

(14)

international custom, as evidence of a general practice, accepted as law’’.

Sumber hukum udara internasional dapat berupa nmultilateral maupun bilateral sebagai berikut;

1. Multilateral

Sumber hukum udara internasional bersifat multilateral berupa konvensi-konvensi internasional bersifat multilateral juga bersifat bilateral.

2. Bilateral Air Transport Agreement

Indonesia telah mempunyai perjanjian angkutan udara internasional timbal balik (bilateral air transport agreement) tidak kurang dari 67 negara yang dapat digunakan sebagai sumber hukum udara internasional antara lain dengan Austria,Amerika Serikat, Arab Saudi, Australia, Belanda, Bahrain, Iran, Belgia, Brunai Darussalam, Bulgaria, Czekoslovakia, Denmark, Hongaria, India, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kamboja, Korea Selatan, Libanon, Malaysia, Thailand, Myanmar, Norwegia, Slaindia Baru, Prancis, Pakistan, Papua New Guenia, Filipina, Polandia, RRc, Rumania, Swiss, Singapore, Spanyol, Swedia, Sri Lanka, Taiwan, Yordania, Bangladesh, Turki, Uni Emerat Arab, Slovakia, Rusia, Vietnam, Mauritius, Kyrghysztan, Kuwait, Madagaskar, Uzbekistan, Hongkong, Oman, Qatar, Canada, Ukraina.

3. Hukum Kebiasaan Internasional

Menurut pasal 38 (1) Piagam Mahkamah Internasional, hukum kebiasaan internasional juga merupakan salah satu sumber hukum udara internasional publik. Peran hukum kebiasaan internasional tersebut semakin berkurang dengan adanya konvensi internasional, mengingat hukum kebiasaan internasional kurang menjamin adanya kepastian hukum.

(15)

4. Prinsip-prinsip Hukum Umum (General Principles Of Law)

Salah satu ketentuan yang dirumuskan didalam Pasal 38 (1) Piagam Mahkamah Internasional adalah ‘‘general principle or law recognized by civilized

nation’’ asas-asas tersebut antara lain;(a) prinsip bonafide (itikad baik atau good faith) artinya segala perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik, (b) pacta sun survanda artinya apa yang dijanjikan dalam perjanjian internasional harus

dipatuhi,ditaati, (c) abus de droit atau misbruik van recht maksudnya suatu hak tidak boleh disalah gunakan, (d) nebis in idem artinya perkara yang sama tidak boleh diajukan dipengadilan lebih dari sekali, (e) equality rights maksudnya kesederajatan yang diakui oleh Negara-negara maju didunia, (f)tidak boleh saling intervensi, (g) non lequid artinya hakim tidak dapat menolak dengan alasan tidak ada peraturan atau tidak ada hakim, karena hakim mempunyai hak untuk menciptakan hukum.

5. Ajaran Hukum ( Doctrine)

Didalam commont law System atau Anglo saxon System dikenal adanya ajaran hukum udara mengenai pemindahan risiko dari korban (injured

people) kepada pelaku (actor). Menurut ajaran hukum tersebut, perusahaan

bertanggung jawab terhadap kerugian yang diderita oleh korban (injured people). 6. Yurisprudensi

Ada beberapa yurisprudensi yang dapat dikategorikan sebagai salah satu sumber-sumber hukum sebagaimana yang diatur dalam pasal 38 ayat (1). Banyak kasus sengketa yang berkenaan dengan hukum udara, terutama berkenaan dengan tanggung jawab hukum perusahaan penerbangan terhadap penumpang dan atau pengirim barang maupun terhadap pihak ketiga.

(16)

G. Metode Penelitian

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan ini merupakan jenis penelitia Normatif. Penelitian Normatif merupakan penelitian terhadap asas-asas hukum, penelitian terhadap sistem hukum dan penelitian terhadap sinkronisasi hukum.16

Metode penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data yang lengkap, tepat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya serta untuk membandingkan pengaturan keselamatan mengenai penerbangan sipil di Indonesia maupun internasional yakni Undang-undang Nomor 1 Tahun 2009, ICAO dan Konvensi Chicago Tahun 1944.

B. Sumber dan Teknik Pengumpulan Data

sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa data sekunder, yang terdiri dari17:

1. Bahan Hukum Primer yakni dalam penulisan ini bahan hukum primer yang digunakan adalah data-data yang didapatkan melalui buku-buku, jurnal-jurnal ilmiah, data-data dari intrernet, undang-undang dan peraturan-peraturan perundang-undangan, konvensi hukum internasional, deklarasi maupun protokol yang terkait dengan pokok permasalahan.

      

16Soejono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif , Rajawali Pers, Jakarta,

2001, hal 15

17Bambang Sunggono, Metedologi Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006, hal. 113-114.

(17)

2. Bahan Hukum Sekunder yakni bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, dengan cara menelusuri bahan-bahan literature yang relevan dengan penelitian seperti hasil-hasil penelitian atau pendapat para pakar hukum baik yang berupa buku-buku hukum, jurnal, artikel-artikel dan juga berasal dari perpustakaan Universitas Sumatera Utara, Perpustakaan Fakultas Hukum USU dan juga data-data yang berasal dari situs internet.

3. Bahan Hukum Tersier yakni bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus hukum.

C. Analisis Data

Penelitian ini menggunakan analisa secara kuantitatif, yaitu mengungkapkan secara mendalam mengenai pandangan dan konsep yang diperlukan dan kemudian akan diuraikan secara menyeluruh untuk menjawab persoalan yang ada dalamskripsi ini serta menganalisa data yang berupa keterangan-keterangan dan bahan-bahan tertulis. Penguraian data informasi yang berhubungan dilakukan dengan pendekatan deduktif-induktif yakni berawal dari hal yang umum kepada hal-hal yang khusus, menganalisa terhadap tata yang mempunyai bobot dalam hubungan dengani pokok permasalahan.

(18)

H. Sistematika Penulisan

Dalam skripsi yang berjudul Aspek Hukum Keselamatan Penerbangan Pesawat Udara ( Dengan Studi Kasus Bandara Internasional Kuala Namu), Sistematika Penulisannya adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Berisikan Latar Belakang, Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Keaslian Penulisan, Tinjuan Kepustakaan, Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan.

BAB II PENGATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL

INTERNASIONAL

Pada bagian ini akan membahas mengenai, pengertian penerbangan sipil internasional, Peraturan Penerbangan Sipil yang diatur oleh International Civil Aviation Organization (ICAO) dan Konvensi Chicago 1944 .

BAB III PENGATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN

BERDASARKAN KETENTUAN HUKUM NASIONAL INDONESIA

Pada bab ini akan membahas tentang Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan,sejarah dan perkembangan penerbangan dan Aspek-aspek Yang menunjang Keselamatan Penerbangan nasional.

(19)

BAB IV ASPEK HUKUM KESELAMATAN PENERBANGAN PESAWAT UDARA

Bab ini akan membahas mengenai Aspek hukum Keselamatan Penerbangan Pesawat Udara, Peraturan Pemerintah Perhubungan tentang Kawasan Keselamatan Operasional Penerbangan (KKOP) Bandara Udara Dimedan dan Peraturan Daerah tentang KKOP (Kawasan Keselamatan operasional Penerbangan) Bandara Internasional Kuala Namu.

BAB V Sebagai penutup, berisi tentang kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian dan saran sebagai rekomendasi yang berkaitan dengan penelitian ini.

                         

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :