71
A. PENGUKURAN KINERJA
Manajemen kinerja yang dibangun secara mantap memerlukan tolok ukur atau indikator yang jelas dan pasti yaitu spesifik, dapat diukur, dapat dicapai, realistis, dan tepat waktu. Indikator kinerja merupakan alat atau media kegiatan dan sasaran yang dapat diukur kinerjanya. Oleh karena itu Pemerintah Kabupaten Gunungkidul Tahun 2012 menetapkan indikator kinerja sasaran sebagaimana yang telah ditetapkan dalam perjanjian kinerja Tahun 2012.
Indikator kinerja kegiatan yang dikembangkan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah sebagai pelaksana dari program/kegiatan dalam mewujudkan sasaran sesuai tugas pokok dan fungsinya, terdiri atas :
1. Indikator input, adalah segala hal yang digunakan untuk menghasilkan keluaran (output) atau segala sesuatu yang dibutuhkan agar pelaksanaan kegiatan dapat berjalan untuk menghasilkan keluaran berupa dana, sumber daya manusia, informasi, kebijakan/peraturan, perundang-undangan dan sebagainya.
2. Indikator output, adalah barang atau jasa yang dihasilkan dari suatu program atau sub program dan disediakan untuk target populasi.
3. Indikator outcome, adalah hasil suatu kegiatan atau konsekuensi dari tindakan-tindakan atau kejadian-kejadian. Hasil yang diharapkan adalah perilaku atau kondisi yang ingin dicapai/diwujudkan oleh pemerintah serta konsekuensi yang diinginkan dari suatu program atau sub program. Hasil yang dicapai adalah apa yang sesungguhnya muncul/terjadi. Penetapan indikator outcome ini bertujuan untuk menggambarkan hubungan kegiatan dengan sasarannya.
Sedangkan indikator benefit dan impact belum kami kembangkan sehubungan dengan keberadaan indikator benefit dan impact tersebut adalah untuk menggambarkan tingkat capaian kegiatan yang dihubungkan dengan pencapaian tujuan dari organisasi. Indikator impact ini menunjukkan dasar pemikiran dilaksanakannya kegiatan yang menggambarkan aspek makro pelaksanaan kegiatan.
Indikator kinerja sasaran yang dikembangkan merupakan indikator kinerja intermediate outcomes yang disesuaikan dengan kemampuan riil pengerahan sumber daya
BAB
72 Pemerintah Kabupaten Gunungkidul Tahun 2012 sehingga dapat menggambarkan kualitas kinerja dari pelaksanaan perjanjian kinerja Tahun 2012 sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.
Dalam menentukan hasil evaluasi kinerja untuk setiap sasaran, kami menggunakan metode rata-rata dari capaian setiap indikator sasaran yang selanjutnya dikategorikan dalam pengukuran dengan skala ordinal sebagai berikut:
85 ≤ X : Sangat Berhasil 70 ≤ X < 85 : Berhasil
55 ≤ X < 70 : Cukup Berhasil X < 55 : Tidak Berhasil
Secara ringkas capaian sasaran dapat diperoleh dengan rumus sebagai berikut :
x = ∑i / n
dimana :
_
X = Rata-rata capaian indikator sasaran
∑i = Jumlah capaian masing-masing indikator kinerja sasaran
n = jumlah indikator kinerja sasaran
Implementasi nyata dari proses perencanaan tertuang dalam pelaksanaan program dan kegiatan suatu organisasi. Hambatan dan permasalahan seringkali muncul dalam proses ini. Proses perencanaan yang baik tentu saja sudah memperhitungkan segala kemungkinan yang akan dan mungkin muncul dalam pelaksanaan program dan kegiatan yang ada di dalam perencanaan.
Keberhasilan pelaksanaan tugas Pemerintah Kabupaten Gunungkidul untuk mencapai sasaran atau target yang telah ditetapkan sangat dipengaruhi oleh penetapan tingkat pencapaian kinerja yang dinyatakan dengan ukuran kinerja (performance measure) atau indikator kinerja (performance indicator).
Untuk dapat mengidentifikasikan tingkat capaian kinerja yang diinginkan tersebut, maka terlebih dahulu perlu ditetapkan strategi dan langkah-langkah terinci kegiatan yang terkoordinasi dalam mencapai sasaran atau target yang dapat dirumuskan dalam perencanaan operasional jangka pendek yang lebih tajam, mengingat rencana strategik organisasi hanya memuat hal-hal yang bersifat strategik jangka menengah dan jangka panjang dan tidak sampai merinci secara detail kegiatan
73 operasional sehari-hari. Dengan menetapkan sasaran atau target, strategi, langkah-langkah terinci kegiatan, dan indikator kinerja akan memudahkan dalam melakukan proses perencanaan kinerja yang merupakan langkah awal dalam mewujudkan rencana kinerja yang berguna untuk peningkatan kinerja organisasi.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul telah berusaha dan berhasil merumuskan dan menganalisis sasaran atau target, strategi (kebijakan, program, dan kegiatan), langkah-langkah terinci kegiatan dan indikator kinerja dengan memperhatikan urusan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah. Dengan keterbatasan sumber daya yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Gunungkidul serta kewenangan yang ada dalam Tahun 2012 dari 22 sasaran yang ingin dicapai, semua dapat tercapai dengan baik.
Pengukuran kinerja merupakan alat yang bermanfaat dalam meningkatkan pelayanan publik secara efisien dan efektif. Oleh karena itu melalui pengukuran kinerja dapat dilakukan proses penilaian terhadap pencapaian sasaran yang telah ditetapkan dan penilaian kinerja sehingga dapat memberikan penilaian (justifikasi) yang objektif dalam pengambilan keputusan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. Berikut merupakan strategi yang diterapkan dalam sistem pengukuran kinerja dalam rangka mencapai sasaran yang telah ditetapkan:
1. Partisipasi unsur pimpinan dalam pertanggungjawaban tugas pokok dan fungsi. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul telah melakukan inisiatif untuk melakukan pengukuran kinerja dengan membuat laporan akuntabilitas pemerintah daerah sebagai komitmen kepala daerah dalam memenuhi tuntutan Inpres Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Pengukuran kinerja yang disusun telah melibatkan seluruh pimpinan unit organisasi, baik kepala dinas, kepala lembaga teknis daerah, camat maupun direktur RSUD Wonosari sebagai bagian pertanggungjawaban pelaksanaan tugas pokok dan fungsi selama satu tahun anggaran.
2. Kerangka kerja konseptual dan komunikasi yang efektif
Sistem pengukuran kinerja pemerintah daerah merupakan bagian integral dalam keseluruhan proses manajemen dan secara langsung dapat mendukung pencapaian tujuan pemerintahan. Dalam setiap pelaporannya pengukuran kinerja dapat dijadikan tolok ukur akan keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan tugas selama satu periode tahun anggaran, dilengkapi dengan alasan-alasan keberhasilannya berupa faktor faktor yang mendorong keberhasilan tersebut. Demikian pula apabila terjadi kegagalan, maka diungkapkan pula hambatan-hambatan dan kendala-kendala yang dihadapi dan alternatif pemecahan masalah. Pengukuran kinerja ini
74 dapat dijadikan alat monitor dan evaluasi pelaksanaan kinerja dan perbaikannya di masa-masa yang akan datang.
Komunikasi merupakan hal penting dalam penciptaan dan pemeliharaan sistem pengukuran kinerja. Komunikasi sebaiknya dari berbagai arah (multidirectional), baik top-down, bottom up, dan secara horizontal, baik berada di dalam maupun lintas instansi pemerintah.
3. Keterlibatan aparatur pemerintah dan orientasi pelayanan kepada masyarakat Keterlibatan aparatur pemerintah merupakan suatu cara terbaik untuk menciptakan budaya yang positif dalam pengukuran kinerja. Apabila aparatur pemerintah memiliki masukan untuk kepentingan penciptaan sistem pengukuran kinerja maka pemerintah daerah akan mendapatkan sistem pengukuran kinerja yang sesuai dengan kebutuhannya.
Pelaksanaan pembangunan diarahkan pada peningkatan pelayanan prima kepada masyarakat. Semakin kritis dan tingginya tuntutan masyarakat terhadap pembangunan perlu ditanggapi secara serius dan proporsional, dengan meningkatkan profesionalisme aparatur pemerintah.
B. EVALUASI DAN ANALISIS AKUNTABILITAS KINERJA
Evaluasi kinerja atas sasaran-sasaran strategis Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dapat dijelaskan melalui pencapaian kinerja sasarannya. Sasaran yang ingin dicapai dalam Tahun 2012 berjumlah 22 buah dengan ringkasan pencapaian sebagai berikut:
Tabel 3.1
Ringkasan Capaian Kinerja Indikator Kinerja Sasaran
Skala Ordinal Predikat Jumlah Sasaran
85 ≤ X Sangat Berhasil 20
70 ≤ X < 85 Berhasil 2
55 ≤ X < 70 Cukup Berhasil 0
X < 55 Tidak Berhasil 0
Jumlah Seluruh Sasaran 22
Ringkasan capaian kinerja indikator kinerja sasaran di atas menunjukkan bahwa sebagian besar indikator kinerja sasaran yang ingin dicapai oleh Pemerintah Kabupaten Gunungkidul adalah sangat berhasil. Hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan tugas pokok dan fungsi dalam Tahun 2012 sudah baik.
75
Capaian Kinerja Sasaran
Capaian kinerja sasaran diperoleh berdasarkan indikator kinerja sasaran yang dirumuskan berdasarkan intermediate outcomes dari masing-masing kegiatan.
Sasaran-sasaran yang telah dicapai Pemerintah Kabupaten Gunungkidul selama Tahun 2012 adalah sebagai berikut:
Sasaran 1
“Sentra produksi memiliki infrastruktur air dan sanitasi
yang handal”
Capaian sasaran tersebut diukur berdasarkan 6 (enam) indikator sasaran yang dirumuskan dan menunjukkan keadaan sebagai berikut:
Tabel 3.2
Capaian Kinerja Indikator Kinerja Sasaran 1
NO. INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET
REALI-SASI
CAPAIAN KINERJA
(%) 1 Persentase sentra produksi yang
memiliki air bersih yang handal
persen 65.56 65.00 99.15
2 Persentase keterjangkauan air kawasan rawan kekeringan pada musim kemarau
persen 100 100 100.00
3 Persentase lahan pertanian yang terairi secara kontinyu
persen 21.28 21.20 99.62
4 Jumlah pemanfaatan air/sungai bawah tanah (sumur pompa):
a. Irigasi sumur 72 66 91.67
b. Air Minum sumur 28 25 89.29
5 Panjang Jaringan Irigasi (Jaringan irigasi tersier, irigasi perdesaan dan Jaringan Tingkat Usaha Tani (JITUT) pada lahan pertanian tanaman pangan dan hortikultura)
meter 20,200 13,992 69.27
6 Jumlah penyediaan penampung air (Embung dan damparit):
a. Tanaman Pangan
1) Embung Tanaman Pangan unit 15 7 46.67
2) Dam Parit unit 13 11 84.62
b. Kehutanan dan Perkebunan
1) Dam penahan (DPn) unit 44 46 104.55
76
NO. INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET
REALI-SASI
CAPAIAN KINERJA
(%) 3) Irigasi air permukaan unit 7 10 142.86 4) Irigasi air dangkal/ sumur
dangkal
unit 45 38 84.44
5) Sumur resapan unit 85 60 70.59
6) Embung Hutbun unit 45 42 93.33
7) Teras meter 24,000 20,000 83.33 8) Rorak unit 40 30 75.00 9) SPA (Saluran Pembuangan Air) meter 4,000 3,500 87.50 10) SPT (Saluran
Pembuangan Air Tanah)
meter 4,000 3,500 87.50
RATA-RATA CAPAIAN INDIKATOR SASARAN 88.69
Dari hasil evaluasi terhadap sasaran tersebut diperoleh gambaran bahwa dari indikator sasaran yang ditetapkan menghasilkan angka capaian kinerja sebesar rata-rata 88,69 % yang mempunyai makna sangat berhasil.
Sasaran ini untuk mencapai misi kesatu ”Peningkatan Pemanfaatan air sebagai sumber kemakmuran” dengan grand strategi membangun infrastruktur yang handal dan tujuan Peningkatan pengelolaan sumber-sumber air dan penyediaan air bersih.
Tingkatan capaian kinerja untuk 1 (satu) indikator kinerja sasaran yaitu Persentase keterjangkauan air kawasan rawan kekeringan pada musim kemarau, telah mencapai target yang telah ditetapkan.
Keterjangkauan air kawasan rawan kekeringan pada musim kemarau tercapai 100 % dari target kinerja yang ditentukan dengan melakukan droping air di 8 wilayah kecamatan pada Kegiatan Penanganan Masalah-masalah Strategis yang Menyangkut Tanggap Cepat Darurat dan Kejadian Luar Biasa.
Sedangkan untuk 5 (lima) indikator kinerja sasaran yaitu Persentase sentra produksi yang memiliki air bersih yang handal, Persentase lahan pertanian yang terairi secara kontinyu, Jumlah pemanfaatan air/sungai bawah tanah (sumur pompa) yaitu irigasi dan air minum, Panjang Jaringan Irigasi (Jaringan irigasi tersier, irigasi perdesaan dan Jaringan Irigasi Tingkat Usaha Tani (JITUT) pada lahan pertanian tanaman pangan dan hortikultura), dan Jumlah penyediaan penampung air (Embung dan damparit) untuk tanaman pangan (embung tanaman pangan dan dam parit), untuk kehutanan dan perkebunan (Irigasi air permukaan, Irigasi air dangkal/sumur dangkal, Embung Hutbun, Rorak, Dam penahan (DPn), Gullyplug, Sumur resapan, Teras, SPA (Saluran Pembuangan Air), dan SPT (Saluran Pembuangan Air Tanah), masih belum mencapai target. Belum dapat tercapainya target ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
77 a. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, direncanakan akan ditempuh melalui Program Penyediaan Air Baku, untuk dapat memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. Pada tahun 2012 ditargetkan 65,56% wilayah sentra produksi dapat terjangkau layanan air bersih dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 4.440.914.000,00. Pelayanan infrastruktur air bersih di wilayah perdesaan dilaksanakan melalui program penyediaan dan pengelolaan air baku dengan kegiatan peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan air. Pelaksanaan program/kegiatan ini merupakan bentuk sharing kegiatan, dimana APBD Provinsi mendanai untuk pengembangan jaringan distribusi air bersih dan APBD Kabupaten sebagai pendamping untuk peningkatan jumlah sambungan rumah (SR). Partisipasi kelompok masyarakat sangat menentukan keberhasilan pengembangan infrastruktur air bersih ini. Pelaksanaan program/kegiatan ini merupakan stimulan dalam bentuk pemberian bahan (material) kepada kelompok masyarakat, sedangkan kegiatan fisik dilaksanakan dan dikembangkan oleh kelompok masyarakat sesuai kebutuhan. Untuk peningkatan pelayanan air bersih, pada tahun 2012 kegiatan yang dilakukan adalah pendampingan kegiatan lanjutan untuk program Bribin II, bantuan hibah pompa air kepada kelompok, dan pembangunan sambungan rumah (SR). Untuk hibah pompa air diberikan kepada 6 (enam) kelompok SPAMDES, yaitu Kelompok Tirto Tenggaran (Desa Sumberejo, Kecamatan Semin), Kelompok Sumber Mulyo (Desa Karang Tengah, Kecamatan Wonosari), Kelompok Ngudi Rukun (Desa Jurangjero, Kecamatan Ngawen), Kelompok Sambeng Tirto (Desa Sambirejo, Kecamatan Ngawen), Kelompok Ngudi Tirto (Desa Banyusoco, Kecamatan Playen), dan Kelompok Pilang Tirto (Desa Pilangrejo, Kecamatan Nglipar). Sedangkan untuk kegiatan pembangunan sambungan rumah (SR) dilakukan di 39 lokasi yang ada di 13 kecamatan, yaitu Ponjong, Tepus, Patuk, Semin, Wonosari, Ngawen, Girisubo, Karangmojo, Paliyan, Nglipar, Gedangsari, Panggang, dan Playen. Program ini dapat merealisasikan anggaran sebesar Rp. 4.029.287.216,73 atau 90,73% dan mampu meningkatkan cakupan pelayanan infrastruktur air bersih dari 61,76% di tahun 2011 menjadi 65% pada tahun 2012 sehingga tingkat capaian kinerjanya 99,15%.
b. Dalam pemenuhan target kinerja pelayanan kebutuhan air untuk pertanian, ditempuh melalui program pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, rawa dan jaringan pengairan lainnya. Pada tahun 2012 dialokasikan anggaran sebesar Rp. 10.151.410.000,00 untuk penyediaan infrastruktur irigasi yang dilaksanakan melalui empat kegiatan, yaitu: kegiatan perencanaan pembangunan jaringan irigasi untuk menyusun rencana teknis pembangunan/rehabilitasi saluran irigasi; kegiatan rehabilitasi/pemeliharaan jaringan irigasi dalam rangka peningkatan fungsi aset irigasi, air permukaan dan sumur pompa yang berada di 50 daerah irigasi (DI); kegiatan
78 optimalisasi fungsi jaringan irigasi yang telah terbangun untuk menjaga saluran irigasi di 6 (enam) daerah pengamatan, dan mesin sumur pompa yang jumlahnya mencapai 52 (lima puluh dua) unit tetap dalam kondisi baik; dan kegiatan perkuatan irigasi partisipatif untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan pengelola irigasi dan perkuatan operasi dan pemeliharaan secara partisipatif pada 8 (delapan) organisasi pemakai air (GP3A). Dari pelaksanaan program/kegiatan ini telah mampu mewujudkan lahan pertanian yang dapat terairi secara kontinyu meningkat dari 20,55% di tahun 2011 menjadi 21,20% di tahun 2012, dengan realisasi anggaran sebesar Rp. 9.958.566.000,00 atau 98,10% dari alokasi anggaran.
c. Pelayanan kebutuhan air dilihat dari pemanfaatan air/sungai bawah tanah (sumur pompa), baik untuk keperluan irigasi maupun kebutuhan air minum, juga menunjukkan kinerja yang cukup baik. Pemanfaatan air/sungai bawah tanah untuk keperluan irigasi, yang ditangani melalui program pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, rawa dan jaringan pengairan lainnya, dapat meningkat pemanfaatan air dengan 66 buah sumur untuk irigasi. Sedangkan pemanfaatan air/sungai bawah tanah untuk pemenuhan kebutuhan air minum, yang didanai melalui APBD Provinsi belum sesuai target yang direncanakan. Rencana pemanfaatan dengan penambahan jumlah unit sumur dari 25 unit menjadi 28 unit sumur pompa belum dapat terealisasi.
d. Panjang Jaringan Irigasi (Jaringan irigasi tersier, irigasi perdesaan dan Jaringan Irigasi Tingkat Usaha Tani (JITUT) pada lahan pertanian tanaman pangan dan hortikultura), yang direncanakan sepanjang 20.200 meter, terealisasi sepanjang 13.992 meter, sehingga tingkat capaian kinerja adalah sebesar 69,27 %. Hal ini disebabkan adanya keterbatasan anggaran yang tersedia untuk memenuhi target panjang jaringan irigasi. Langkah-langkah yang dilakukan adalah dengan meningkatkan pembinaan dan memotivasi kelompok Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) agar membangun jaringan irigasi secara swadaya, serta mencari terobosan melalui kementerian teknis terkait. Sedangkan penyerapan anggaran sesuai dengan rencana yaitu sebesar Rp.3.077.400.000,00 terealisasi Rp.3.014.262.000,00 atau sebesar 97,95 %.
e. Jumlah penyediaan penampung air (embung dan damparit) untuk kehutanan dan perkebunan (Dam penahan (DPn) dan irigasi air permukaan) telah mencapai target yang ditetapkan, namun untuk jumlah penyediaan penampung air (embung dan damparit) untuk tanaman pangan dan jumlah penyediaan penampung air (embung dan damparit) untuk kehutanan dan perkebunan (Gullyplug, Irigasi air dangkal/sumur dangkal, Sumur resapan, Embung Hutbun, Teras, Rorak, SPA (Saluran Pembuangan Air), dan SPT (Saluran Pembuangan Air Tanah)) capaian kinerja 75% sampai 93,33 %.
79 Tersedianya jumlah penyediaan penampungan air yang cukup dalam mendukung pembangunan infrastruktur yang handal di berbagai wilayah di Kabupaten Gunungkidul, guna mendukung tersedianya air di waktu musim kemarau. Pembangunan infrastruktur/fisik dalam mendukung sentra produksi berupa embung untuk tanaman pangan dari target kinerja 15 unit terealisasi 7 unit atau 46,67%, damparit dari target kinerja 13 unit terealisasi 11 unit atau 84,62%, gullyplug dari target 62 unit terealisasi 54 unit atau 87,10%, irigasi air dangkal/sumur dangkal dari target 45 unit terealisasi 38 unit atau 84,44 %, sumur resapan dari target 85 unit terealisasi 60 unit atau 70,59 %, Embung Hutbun dari target 45 unit terealisasi 42 unit atau 93,33 %, Teras dari target 24.000 meter terealisasi 20.000 meter atau 83,33 %, Rorak dari target 40 unit terealisasi 30 unit atau 75,00 %, SPA (Saluran Pembuangan Air) dan SPT (Saluran Pembuangan Air Tanah) masing-masing dari target 4.000 meter terealisasi 3.500 meter atau 87,50 %. Tersedianya jumlah penyediaan penampungan air yang cukup dalam mendukung pembangunan infrastruktur yang handal di berbagai wilayah di Kabupaten Gunungkidul, guna mendukung tersediannya air di waktu musim kemarau. Dari pembangunan infrastruktur tersebut diharapkan mampu memberikan banyak manfaat dalam membantu penyediaan tempat penampungan air guna mendukung sentra produksi, baik sentra tanaman kehutanan ataupun tanaman perkebunan.
Pencapaian target sasaran tersebut didukung oleh kebutuhan kelompok tani atau masyarakat guna mengoptimalkan lahan-lahan yang ada untuk sentra produksi tanaman kehutanan dan perkebunan, yang diharapkan nantinya memberikan hasil bagi kelompok tani/masyarakat, sehingga pemanfaatan air sebagai sumber kemakmuran dapat dinikmati. Sedangkan kendala yang dihadapi dalam pembangunan infrastruktur dari target yang belum tercapai adalah waktu pelaksanaan, keterbatasan petugas di lapangan yang ada masih belum mencukupi, sehingga belum menjangkau semua sasaran yang telah diprogramkan.
Tabel 3.3
Perbandingan Capaian Kinerja Indikator Kinerja Sasaran 1
NO. INDIKATOR KINERJA
CAPAIAN KINERJA 2011 (%) CAPAIAN KINERJA 2012 (%) 1 Persentase sentra produksi yang memiliki air
bersih yang handal
100.00 99.15
2 Persentase keterjangkauan air kawasan rawan kekeringan pada musim kemarau
100.00 100.00 3 Persentase lahan pertanian yang terairi secara
kontinyu
80
NO. INDIKATOR KINERJA
CAPAIAN KINERJA 2011 (%) CAPAIAN KINERJA 2012 (%) 4 Jumlah pemanfaatan air/sungai bawah tanah
(sumur pompa):
a. Irigasi 100.00 91.67
b. Air Minum 89.29
5 Panjang Jaringan Irigasi (Jaringan irigasi tersier, irigasi perdesaan dan Jaringan Tingkat Usaha Tani (JITUT) pada lahan pertanian tanaman pangan dan hortikultura)
57.44 69.27
6 Jumlah penyediaan penampung air (Embung dan damparit):
a. Tanaman Pangan
1) Embung Tanaman Pangan 130.00 46.67
2) Dam Parit 112.50 84.62
b. Kehutanan dan Perkebunan
1) Dam penahan (DPn) 97.44 104.55
2) Gullyplug 89.13 87.10
3) Irigasi air permukaan 100.00 142.86
4) Irigasi air dangkal/ sumur dangkal 105.71 84.44
5) Sumur resapan 58.33 70.59
6) Embung Hutbun 140.00 93.33
7) Teras 0.00 83.33
8) Rorak 129.87 75.00
9) SPA (Saluran Pembuangan Air) 0.00 87.50 10) SPT (Saluran Pembuangan Air Tanah) 0.00 87.50 RATA-RATA CAPAIAN INDIKATOR
SASARAN
83.55 88.69
Grafik 3.1
Persentase Rata-rata Capaian Indikator Sasaran 1 Tahun 2010 – 2012
81
Sasaran 2
“Kawasan permukiman memiliki infrastruktur air yang
handal”
Capaian sasaran tersebut diukur berdasarkan 1 (satu) indikator sasaran yang dirumuskan dan menunjukkan keadaan sebagai berikut:
Tabel 3.4
Capaian Kinerja Indikator Kinerja Sasaran 2
NO. INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET
REALI-SASI
CAPAIAN KINERJA
(%) 1 Persentase kawasan permukiman
yang memiliki air bersih yang handal
persen 65.56 65.00 99.15
RATA-RATA CAPAIAN INDIKATOR SASARAN 99.15
Dari hasil evaluasi terhadap sasaran tersebut diperoleh gambaran bahwa dari indikator sasaran yang ditetapkan menghasilkan angka capaian kinerja sebesar rata-rata 99,15 % yang mempunyai makna sangat berhasil.
Sasaran ini untuk mencapai misi kesatu ”Peningkatan Pemanfaatan air sebagai sumber kemakmuran” dengan grand strategi membangun infrastruktur yang handal dan tujuan Peningkatan pengelolaan sumber-sumber air dan penyediaan air bersih.
Tingkatan capaian kinerja untuk 1 (satu) indikator kinerja sasaran yaitu Persentase kawasan permukiman yang memiliki air bersih yang handal masih belum mencapai target yang telah ditetapkan, karena untuk mencapai target tersebut diintervensi dengan program pengembangan kinerja pengelolaan air minum dan air limbah. Dukungan dana untuk program pengembangan kinerja pengelolaan air minum dan air limbah tersebut sampai dengan tahun 2012 belum tersedia.
Namun ada upaya yang ditempuh dalam pemenuhan kebutuhan infrastruktur air bersih di kawasan permukiman adalah dengan Program Penyediaan Air Baku, untuk dapat memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, tahun 2012 dengan alokasi anggaran Rp.4.440.914.000,00 ditargetkan 65,56% kawasan permukiman dapat terlayani air bersih. Pelayanan infrastruktur air bersih di wilayah perdesaan dilaksanakan melalui program penyediaan dan pengelolaan air baku dengan kegiatan peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan air. Pelaksanaan program/kegiatan ini sebagai bentuk sinergi kegiatan antara provinsi dan kabupaten. Melalui anggaran APBD Provinsi untuk dilakukan
82 pengembangan jaringan distribusi air bersih dan APBD Kabupaten sebagai pendamping untuk peningkatan jumlah sambungan rumah. Partisipasi kelompok masyarakat sangat menentukan keberhasilan pengembangan infrastruktur air bersih ini. Pelaksanaan program/kegiatan ini merupakan stimulan dalam bentuk pemberian bahan kepada kelompok masyarakat, sedangkan kegiatan fisik dilaksanakan dan dikembangkan oleh kelompok masyarakat sesuai kebutuhan. Program/kegiatan yang pada tahun 2011 menyasar di 21 padukuhan/desa di 8 wilayah kecamatan, pada tahun 2012 dapat diperluas dengan menambah jangkauan menjadi 39 lokasi yang tersebar di 13 kecamatan. Sedangkan jumlah sambungan rumah (SR) baru yang terbangun mencapai hampir 2.000 unit, sehingga keseluruhan jumlah SR dari kegiatan SPAMDES mencapai sekitar 7.714 unit. Realisasi anggaran pada program/kegiatan ini pada tahun 2012 sebesar Rp. 4.029.287.216,00 atau 90,73% dan mampu meningkatkan cakupan pelayanan infrastruktur air bersih dari 61,76% menjadi 65%.
Tabel 3.5
Perbandingan Capaian Kinerja Indikator Kinerja Sasaran 2
NO. INDIKATOR KINERJA
CAPAIAN KINERJA 2011 (%) CAPAIAN KINERJA 2012 (%) 1 Persentase kawasan permukiman yang
memiliki air bersih yang handal
0.00 99.15
RATA-RATA CAPAIAN INDIKATOR SASARAN
0.00 99.15
Grafik 3.2
Persentase Rata-rata Capaian Indikator Sasaran 2 Tahun 2010 – 2012
83 Berdasarkan input dan analisis data yang ada ditemukan permasalahan, kendala, solusi, dan rekomendasi pencapaian target dalam kelompok Misi 1. Peningkatan Pemanfaatan air sebagai sumber kemakmuran, sebagai berikut:
Permasalahan, kendala:
1. Petunjuk Teknis DAK dan penggunaan cukai tembakau diatur dengan cakupan terbatas dan ketat sehingga tidak leluasa untuk menunjang kinerja;
2. Data profil dan kinerja SKPD terbatas sehingga untuk identifikasi dan mapping kinerja akan mengalami kesulitan;
3. Manajemen SDM yang belum optimal khususnya kebutuhan SDM teknis dan keahlian dalam mendukung kinerja;
4. Keterbatasan anggaran APBD. Solusi dan rekomendasi:
1. Usulan ke Kementerian Teknis dan Kementerian Keuangan agar juknis fleksibel sesuai kondisi daerah;
2. Dukungan alokasi dana yang representatif untuk program dan kegiatan pendataan dan pelaporan;
3. Penataan SDM berdasarkan kualifikasi dan kompetensi SDM; 4. Intensifkan akses anggaran di luar APBD;
5. Perlunya perhatian komitmen dan konsistensi pelaksanaan kinerja yaitu pemahaman rencana fisik dan penjadwalan, mengintensifkan koordinasi, monitoring, dan evaluasi agar kegiatan menjadi sinkron dan sinergis antar SKPD;
6. Perlunya dukungan sarana prasarana dan fasilitas;
7. Memilih dan memprioritaskan program untuk mengintervensi agar target kinerja sasaran dapat meningkat/terwujud, yaitu:
Program pelayanan dan rehabilitasi kesejahteraan sosial;
Program pengembangan kinerja pengelolaan air minum dan air limbah; Program peningkatan ketahanan pangan;
Program rehabilitasi hutan dan lahan.
Sasaran 3
“Sentra produksi memiliki infrastruktur transportasi,
energi, dan telekomunikasi yang handal”
84 Capaian sasaran tersebut diukur berdasarkan 19 (sembilan belas) indikator sasaran yang dirumuskan dan menunjukkan keadaan sebagai berikut:
Tabel 3.6
Capaian Kinerja Indikator Kinerja Sasaran 3
NO. INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET
REALI-SASI
CAPAIAN KINERJA
(%) 1 Panjang Jalan Usaha Tani
(JALUT) pada sentra produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura
meter 50,250 26,398 52.53
2 Panjang Jalan Usaha Tani (JUT) pada sentra produksi perkebunan
km 9.7 11.80 121.65
3 Persentase pemenuhan kebutuhan pupuk organik.
persen 46 50 108.70
4 Jumlah unit Penyewaan Jasa Alsintan (UPJA) dan Alsintan lainnya pada sentra produksi
Tanaman Pangan dan hortikultura:
a. Jumlah Unit Penyewaan Jasa Alsintan (UPJA)
unit 70 12 17.14
b. Jumlah Alsintan lainnya :
1) Traktor roda dua unit 186 265 142.47
2) Pompa Air unit 240 550 229.17
3) Power Threser unit 62 89 143.55
4) Pedal Threser unit 7,852 8,268 105.30
5) APPO unit 22 51 231.82
5 Jumlah RPH, TPH, dan RPA yang memiliki sarana pengolahan limbah, sanitasi dan drainase
a. RPH unit 0 0 0.00
b. TPH unit 20 10 50.00
c. RPA unit 38 15 39.47
6 Jumlah kawasan peternakan yang memiliki jalan produksi
kawasan 45 31 68.89
7 Persentase kecamatan yang memiliki puskeswan dengan infrastruktur yang handal
persen 61 61 100.00
8 Persentase sentra produksi perikanan yang memiliki jalan produksi, fasilitas pengolahan ikan, sanitasi, dan drainase
persen 80 65 81.25
9 Jumlah PPI,UPR, dan BBI.
a. PRI unit 8 8 100.00
b. UPR unit 70 50 71.43
85
NO. INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET
REALI-SASI
CAPAIAN KINERJA
(%) 10 Jumlah dan jenis sarana tangkap
ikan.
a. Jumlah unit 265 246 92.83
b. Jenis Sarana jenis 3 4 133.33
11 Jumlah sentra produksi yang memiliki unit pengolahan hasil.
a. Kakao unit 26 20 76.92
b. Kotak Fermentasi unit 32 19 59.38
c. Cut Chip unit 25 34 136.00
d. Pengepres buah semu mete unit 4 4 100.00 e. Alat perajang tembakau
rakyat
unit 12 21 175.00
f. Alat perenteng tembakau vike unit 45 35 77.78
g. Pengolah limbah kakao unit 5 5 100.00
12 Persentase sentra produksi yang memiliki sarana listrik yang cukup
persen 95 100 105.26
13 Persentase sentra produksi yang memiliki layanan transportasi umum yang tertib, aman lancar dan laik jalan.
persen 68 62 91.18
14 Rasio ketersediaan simpul transportasi antar kecamatan
unit 2 2 100.00
15 Rasio ketersediaan fasilitas lalu lintas jalan.
persen 60 38 63.33
16 Persentase sentra produksi yang memenuhi standar kesehatan
persen 57 72.9 127.89 17 Persentase ketersediaan lahan
untuk pembangunan
persen 100 100 100.00 18 Persentase sentra produksi yang
memiliki jalan, jembatan, sanitasi dan drainase yang handal.
a. Presentase sentra produksi yang memiliki jalan (jalan kabupaten) yang handal
persen 54.3 63.97 117.81
b. Persentase sentra produksi yang memiliki jembatan yang handal
persen 70.8 68.20 96.33
c. Persentase sentra produksi yang memiliki sanitasi persampahan yang handal
persen 27.08 23.00 84.93
d. Persentase sentra produksi yang memiliki sanitasi pengelolaan limbah rumah tangga (MCK) yang handal
persen 24.94 20.00 80.19
e. Persentase sentra produksi yang memiliki drainase yang handal
86
NO. INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET
REALI-SASI
CAPAIAN KINERJA
(%) 19 Panjang Jaringan Jalan Lintas
Selatan (JJLS) terbangun
km 35 27 77.14
RATA-RATA CAPAIAN INDIKATOR SASARAN 99.53
Dari hasil evaluasi terhadap sasaran tersebut diperoleh gambaran bahwa dari indikator sasaran yang ditetapkan menghasilkan angka capaian kinerja sebesar rata-rata 99,53% yang mempunyai makna sangat berhasil.
Sasaran ini untuk mencapai misi kedua ”Pemanfaatan sumber daya alam untuk menggerakan perekonomian daerah secara lestari”, misi kelima “Peningkatan iklim usaha yang kondusif”, dan misi ketujuh “Peningkatan peluang investasi dan penggalangan sumber- sumber pendanaan” dengan grand strategi membangun infrastruktur yang handal dan tujuan peningkatan pengelolaan sumber daya alam dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan; menciptakan kemudahan memperoleh dan menciptakan lapangan kerja melalui penggalian pemberdayaan usaha kecil, mikro, dan menengah; dan menggalang sumber-sumber pendanaan baik dari dalam maupun luar negeri untuk memacu pembangunan daerah, menciptakan lapangan kerja dan Pendapatan Asli Daerah.
Tingkatan capaian kinerja untuk 9 (sembilan) indikator kinerja sasaran yaitu Panjang Jalan Usaha Tani (JUT) pada sentra produksi perkebunan, Persentase pemenuhan kebutuhan pupuk organik, Jumlah unit Penyewaan Jasa Alsintan (UPJA) dan Alsintan lainnya pada sentra produksi tanaman pangan dan hortikultura, Persentase kecamatan yang memiliki puskeswan dengan infrastruktur yang handal, Jumlah dan jenis sarana tangkap ikan, Jumlah sentra produksi yang memiliki unit pengolahan hasil, Persentase sentra produksi yang memiliki sarana listrik yang cukup, Persentase sentra produksi yang memenuhi standar kesehatan, dan Rasio ketersediaan simpul transportasi antar kecamatan, Persentase ketersediaan lahan untuk pembangunan, telah mencapai target yang telah ditetapkan.
Guna mendukung kelancaran transportasi dalam usaha tani komoditas perkebunan dan mendukung program peningkatan produksi pertanian/perkebunan, maka dilaksanakan pembangunan infrastruktur yang handal berupa pembuatan Jalan Usaha Tani ( JUT). Dari target pembangunan JUT sepanjang 7,7 km dapat terealisasi sepanjang 11,803 km atau 153%. Hal ini didukung oleh partisipasi, kesadaran petani yang punya lahan terkena jalur JUT tanpa ada ganti rugi dan kebutuhan masyarakat tani pada umumnya dalam usaha taninya setiap hari. Pembangunan JUT dimaksudkan untuk kelancaran petani dan masyarakat pada umumnya dalam mengangkut hasil panen dari lahan petani ke rumah masing – masing, baik hasil pertanian berupa tanaman pangan maupun komoditas hasil pekebunan, baik berupa Kakao, Mete, Tembakau ataupun hasil perkebunan lainnya.
87 Persentase pemenuhan kebutuhan pupuk organik yang direncanakan sebesar 46%, terealisasi sebesar 50%, sehingga tingkat capaian kinerja adalah sebesar 108,70%. Hal ini menunjukan bahwa target yang ditetapkan bisa tercapai dengan baik. Sedangkan penyerapan anggaran rencanananya sebesar Rp.36.655.000,00 terealisasi sebesar Rp.36.255.000,00 atau sebesar 98,91%.
Jumlah unit Penyewaan Alsintan lainnya pada sentra produksi Tanaman Pangan dan hortikultura dengan jumlah alsintan traktor roda dua, pompa air, powerthreser, pedal tresher dan APPO direncanakan sebanyak 8.362 unit, terealisasi sebanyak 9.223 atau sebesar 170,46%. Sedangkan untuk Jumlah Unit Penyewaan Jasa Alsintan (UPJA) direncanakan sebanyak 70 unit, terealisasi sebanyak 12 unit atau sebesar 17,14%. Untuk indikator sasaran ini, tidak ada penganggaran yang disediakan karena sifatnya adalah inventarisasi data.
Jumlah dan jenis sarana tangkap ikan dari sisi jenis sarana tangkap ikan telah mencapai target yang ditetapkan, namun dari sisi jumlah tidak mencapai target, dikarenakan keterbatasan anggaran yang tersedia sehingga belum dapat meningkatkan jumlah sarana tangkap ikan. Peningkatan indikator jenis sarana tangkap ikan, disebabkan tahun 2012 jumlah PMT di Kabupaten Gunungkidul mulai digantikan oleh Kapal Motor sehingga jumlahnya mengalami penurunan. Di tahun 2012 juga telah beroperasi secara aktif Kapal Motor 30 GT bantuan dari Kementerian Kelautan Perikanan, sehingga jenis armada penangkapan yang mampu berlabuh di Kabupaten Gunungkidul bertambah dari 3 jenis (PMT, KM 5-10 GT, KM 10 – 20 GT) menjadi 4 jenis.
Persentase sentra produksi yang memiliki sarana listrik yang cukup, tingkat capaian kinerjanya sebesar 100 %, hal ini disebabkan sebagian besar sentra produksi berlokasi pada daerah yang sudah teraliri listrik cukup, sehingga tidak ada hambatan dalam melakukan kegiatan.
Rasio ketersediaan simpul transportasi antar kecamatan dan rasio ketersediaan fasilitas lalu lintas jalan, capaian kinerjanya tidak memenuhi target untuk rasio ketersediaan simpul transportasi antar kecamatan dikarenakan dananya diprioritaskan untuk pembangunan terminal tipe A Wonosari dengan target pembangunan fisik tercapai 100% dan pada akhir Desember 2012 telah dilaksanakan uji coba operasional terminal. Dan untuk pembangunan terminal Semin sebagai salah satu simpul transportasi antar kecamatan pada tahun 2012 ini baru dapat dibangun bangunan penunjang.
Meningkatnya sentra produksi yang memenuhi standart kesehatan dari rencana 57% terealisasi 72,9% tingkat capaian terhadap target 127,89%, kategori sangat berhasil. Pada tahun 2012 sentra produksi yang dipantau sejumlah 1.158 dari 1.587 sentra produksi yang ada dan semua memenuhi standart kesehatan karena semua terus dilakukan pembinaan masalah kesehatan.
88 Sedangkan untuk 10 (sepuluh) indikator kinerja sasaran yaitu Panjang Jalan Usaha Tani (JALUT) pada sentra produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura, Jumlah RPH, TPH, dan RPA yang memiliki sarana pengolahan limbah, sanitasi dan drainase, Jumlah kawasan peternakan yang memiliki jalan produksi, Persentase sentra produksi perikanan yang memiliki jalan produksi, fasilitas pengolahan ikan, sanitasi, dan drainase, Jumlah PPI,UPR, dan BBI, Jumlah sentra produksi yang memiliki unit pengolahan hasil, Persentase sentra produksi yang memiliki layanan transportasi umum yang tertib, aman lancar dan laik jalan, Rasio ketersediaan fasilitas lalu lintas jalan, Persentase sentra produksi yang memiliki jalan, jembatan, sanitasi, dan drainase yang handal, dan Panjang Jaringan Jalan Lintas Selatan (JJLS) terbangun, masih belum mencapai target. Belum dapat tercapainya target ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Panjang Jalan Usaha Tani (JALUT) pada sentra produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura, yang direncanakan sepanjang 50.250 meter dapat terealisasi sepanjang 26.398 meter, sehingga tingkat capaian kinerja adalah sebesar 52,53 %. Hal ini disebabkan adanya keterbatasan anggaran yang tersedia untuk memenuhi target panjang jalan usaha tani. Langkah-langkah yang dilakukan adalah dengan meningkatkan pembinaan dan memotivasi kelompok tani agar membangun jalan usaha tani secara swadaya, serta mencari terobosan melalui kementerian teknis terkait. Untuk penyerapan anggaran dari rencana sebesar Rp.2.350.100.000,00 terealisasi sebesar Rp.2.327.996.000,00 atau sebesar 99,06%.
b. Jumlah TPH dan RPA yang memiliki sarana pengolahan limbah, sanitasi dan drainase masih belum mencapai target yang telah ditetapkan dikarenakan tidak memiliki kegiatan yang bersifat fisik untuk pembenahan fasilitas tersebut. Pembinaan telah dilakukan kepada masyarakat pemilik tempat pemotongan hewan untuk melengkapi sarana kebersihan dan pengolahan limbah. Kegiatan pengawasan dan monitoring agar produk asal hewan tetap terjaga kualitasnya tetap dilakukan.
c. Jumlah kawasan peternakan yang memiliki jalan produksi, pada tahun 2012 sasaran pembangunan jalan produksi secara akumulatif adalah sejumlah 45 kawasan atau pada tahun 2012 ada sasaran penambahan 10 kawasan. Secara keseluruhan capaian target indikator ini adalah sebesar 68,89 %, rendahnya capaian indikator ini disebabkan karena keterbatasan anggaran sehingga kegiatan untuk pembangunan Jalan Produksi tidak dapat dilaksanakan sesuai target. Target jalan produksi di kawasan peternakan belum terpenuhi dikarenakan jumlah jalan produksi yang dibangun pada tahun 2012 hanya 6 (enam) ruas yang seharusnya 24 ruas.
89 d. Persentase kecamatan yang memiliki puskeswan dengan infrastruktur yang handal, pada tahun 2012 sasaran pembangunan puskeswan secara akumulatif adalah sejumlah 11 puskeswan untuk 18 kecamatan. Namun mengingat keterbatasan anggaran maka tidak dianggarkan kegiatan untuk pembangunan puskeswan hanya memaksimalkan fungsi dan peran puskeswan serta tingkat capaian kinerja indikator ini sebesar 100%.
Secara rutin tetap dilakukan upaya peningkatan layanan kesehatan dan optimalisasi pemanfaatan infrastruktur yang dimiliki dalam bentuk kegiatan yaitu Pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit menular ternak; Pelayanan laboratorium kesehatan hewan; Pengembangan pelayanan kesehatan hewan terpadu; Pengawasan Pemotongan Hewan Qurban; Surveilans penyakit hewan; Pengembangan Hijauan Pakan Ternak; Pengembangan Program Kawasan Sentra Produksi Peternakan; Peningkatan Produksi, produktivitas dan mutu pakan ternak; dan Pemberian penghargaan di bidang peternakan. Melalui 9 (sembilan) kegiatan tersebut dialokasi anggaran sebesar Rp.1,510,250,000,00 dengan realisasi anggaran sebesar Rp.1,380,849,790,00 atau tingkat kinerjanya 91,43 %.
e. Persentase sentra produksi perikanan yang memiliki jalan produksi, fasilitas pengolahan ikan, sanitasi, dan drainase dari target 80% terealisasi 65% sehingga tingkat capaian kinerja adalah sebesar 81,25 %, hal ini dikarenakan keterbatasan anggaran yang tersedia sehingga belum dapat untuk meningkatkan fasilitas yang ada.
Sentra produksi perikanan di Kabupaten Gunungkidul secara garis besar terbagi menjadi 2 (dua) yaitu sentra produksi perikanan budidaya dan sentra produksi perikanan tangkap. Selain usaha produksi perikanan budidaya dan perikanan tangkap, terdapat sektor usaha lain yang telah berkembang di Kabupaten Gunungkidul, yaitu usaha pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. Sebagai upaya penguatan sistem distribusi produk perikanan dari sentra produksi antara lain dilakukan dengan cara pembangunan jalan produksi, sehingga distribusi produk perikanan lebih cepat dan dapat menjangkau secara luas. Selain itu dukungan infrastruktur ini diharapkan dapat meningkatkan sektor usaha perikanan menjadi lebih efisien.
f. Jumlah PPI telah mencapai target yang ditetapkan sedangkan untuk jumlah UPR dan BBI (Balai Benih Ikan) capaian tingkat kinerjanya masing-masing sebesar 71,43 % dan 25%, dari target sebanyak 70 unit untuk UPR terealisasi 50 unit dan BBI dari target 8 unit terealisasi 2 unit, karena hingga sekarang UPT BBI Mina Kencana tetap hanya berjumlah 2 unit (berlokasi di Beton dan Susukan).
Jumlah UPR dan BBI Kabupaten Gunungkidul tahun 2012 masih belum dapat mencapai target yang ditetapkan dan cenderung stabil dari tahun 2011. Hal ini
90 dikarenakan kondisi cuaca yang sangat berpengaruh terhadap kegiatan pembenihan, sehingga tidak banyak pembenih-pembenih baru yang muncul dan berkembang. Sedangkan penambahan jumlah unit BBI belum dapat dilakukan karena BBI yang ada masih sangat berpotensi untuk dapat dikembangkan dan dimaksimalkan agar produktivitas BBI meningkat.
g. Jumlah sentra produksi yang memiliki unit pengolahan hasil untuk Cut Chip, Pengepres buah semu mete, Alat perajang tembakau rakyat, dan Pengolah limbah kakao telah mencapai target yang ditetapkan, sedangkan untuk kakao, kotak fermentasi, dan Alat perenteng tembakau vike, belum dapat menenuhi target karena disamping keterbatasan anggaran dan kurang meratanya alokasi dana untuk pemenuhan unit pengolahan hasil. Pada saat ini terdapat 20 unit sentra produksi Kakao yang memiliki unit pengolahan hasil yang tersebar di wilayah Gunungkidul, untuk mendukung komoditas hasil perkebunan berupa kakao, maka di sentra-sentra produksi diberi bantuan berupa alat pengolah kakao yaitu Kotak Fermentasi terealisasi 19 unit dari target 27 unit atau 59,38%, alat pemecah biji mete berupa Cutchip terelalisasi 34 unit dari target 22 unit atau 136 %. Pengepres buah semu mete sebanyak 4 unit terealisasi 4 unit atau 100%. Penerapan teknologi pertanian/perkebunan tersebut sangat dibutuhkan pada sentra – sentra produksi perkebunan, hal ini karena para petani mengalami keterbatasan modal dalam usaha tani untuk membeli peralatan tersebut, sehingga daya dukung kebutuhan masyarakat tani meningkat.
h. Persentase sentra produksi yang memiliki layanan transportasi umum yang tertib, aman lancar dan laik jalan, dari target 68% terealisasi 62% sehingga tingkat capaian kinerja adalah sebesar 91,18 %, hal ini dapat disampaikan bahwa dari Sentra-sentra produksi yang ada di Kabupaten Gunungkidul belum semuanya memiliki layanan transportasi umum meskipun sudah ada trayek yang disediakan, dengan pertimbangan biaya operasional kendaraan yang harus dikeluarkan operator /penyedia jasa transportasi tidak sebanding dengan pemasukan /pendapatan.
i. Rasio ketersediaan fasilitas lalu lintas jalan, dari target 60% terealisasi 38% sehingga tingkat capaian kinerja adalah sebesar 63,33 %. Untuk pemenuhan rasio ketersediaan fasilitas lalu lintas jalan yang belum dapat tercapai sesuai target karena masih banyaknya kebutuhan fasilitas jalan yang harus disediakan sementara meskipun mendapat dukungan dari pemerintah pusat berupa DAK bidang keselamatan transportasi darat yang merupakan DAK pertama yang dianggarkan di Kementerian Perhubungan.
91 j. “Persentase sentra produksi yang memiliki jalan, jembatan, sanitasi dan drainase yang handal.” Tersedianya jaringan jalan dan jembatan yang handal yang menghubungkan sentra-sentra produksi (wilayah perdesaan) akan mendorong dan menjamin kelancaran kegiatan perekonomian wilayah. Secara spasial, aksesibilitas antara sentra-sentra produksi yang ada sudah dapat terlayani oleh infrastruktur jalan dan jembatan. Peningkatan penyediaan infrastruktur jalan dan jembatan yang handal ini ditempuh melalui beberapa program/kegiatan, yaitu:
Program pembangunan jalan dan jembatan dengan 2 (dua) kegiatan, yaitu kegiatan pembangunan jembatan dan pembangunan jalan (peningkatan jalan kabupaten). Kegiatan pembangunan jembatan dengan alokasi anggaran sebesar Rp.2.217.900.000,00 untuk menangani 6 (enam) unit jembatan kabupaten. Sedangkan kegiatan pembangunan jalan (peningkatan jalan kabupaten) alokasi anggaran sebesar Rp.10.461.900.000,00. Program/kegiatan ini dapat direalisasikan pada 16 ruas jalan kabupaten dengan produk ATB sepanjang 8,5 km, rehab trotoar jalan di 2 (dua) ruas jalan, dan pembangunan selokan dan talud jalan di 4 (empat) ruas jalan. Realisasi anggaran sebesar Rp.7.820.940.850,00.
Program rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jembatan dengan kegiatan rehabilitasi/ pemeliharaan jalan dengan alokasi anggaran sebesar Rp.19.214.243.000,00. Realisasi dari program/kegiatan ini adalah rehab/pemeliharaan jalan kabupaten melalui paket DAK (Dana Alokasi Khusus) dan APBD Perubahan di 19 ruas jalan dengan volume 20,6 km, rehab/pemeliharaan rutin/berkala jalan kabupaten melalui paket DAU (Dana Alokasi Umum) di 44 ruas jalan dengan volume 30 km, dan rehab/perbaikan aksesoris jalan (talud, selokan, dll). Realisasi anggaran sebesar Rp.18.772.344.750,00 atau 97,70%.
Program tanggap darurat jalan dan jembatan dengan kegiatan Rehabilitasi jalan dalam kondisi tanggap darurat alokasi anggaran sebesar Rp.2.012.175.000,00. Realisasi fisik adalah rehabilitasi talud jalan di 20 titik, rehabilitasi duiker di 2 titik, rehabilitasi jembatan di 3 titik, dan rehabilitasi selokan di 3 titik. Realisasi anggaran Rp.1.953.280.705,00 atau 97,07%.
Dari aspek kualitas, pelaksanaan program/kegiatan ini mampu meningkatkan 63,97% dari 686 km jalan kabupaten dalam kondisi baik di tahun 2012. Dilihat dari target sasaran, realisasi kinerja dalam peningkatan aksesibilitas sentra-sentra produksi melalui pelayanan infrastruktur jalan dan jembatan adalah: persentase sentra produksi yang memiliki jalan (jalan kabupaten) yang handal, dari kondisi 40,30% (2010) meningkat menjadi 47,30% (2011) dan 51,76% (2012); sedangkan persentase sentra produksi yang memiliki jembatan yang handal, dari kondisi 64,80% (2010) menjadi 65,30% (2011) dan 68,20% (2012).
92 Penyediaan infrastruktur sanitasi persampahan bagi sentra-sentra produksi ditempuh melalui program pengembangan kinerja pengelolaan persampahan dengan kegiatan Peningkatan operasi dan pemeliharaan prasarana dan sarana persampahan. Meskipun alokasi anggaran untuk program/kegiatan ini mencapai Rp.1.342.000.000,00, namun penggunaannya tidak hanya untuk kegiatan pengelolaan persampahan, tetapi juga untuk pemeliharaan pertamanan. Penyediaan pelayanan infrastruktur persampahan terutama menjangkau kawasan perkotaan di 7 (tujuh) wilayah kecamatan. Persentase sentra produksi yang tertangani pelayanan persampahan dapat meningkat dari 10,88% (2010) meningkat menjadi 18,98% (2011) dan 38,88% (2012). Kondisi ini diharapkan akan meningkat dengan adanya penambahan kendaraan operasional pengangkut sampah.
Pelayanan infrastruktur pengelolaan limbah rumah tangga (MCK) yang handal bagi sentra produksi diupayakan melalui program lingkungan sehat perumahan dikembangkan pelayanan infrastruktur instalasi pengelolaan air limbah rumah tangga (IPAL) komunal. Pembangunan IPAL komunal ini diarahkan pada kawasan yang padat penduduk dengan mendorong peran kelompok masyarakat secara lebih aktif mulai dari pembangunan hingga pemeliharaannya, melalui pengembangan sanitasi lingkungan berbasis masyarakat (SLBM). Program/kegiatan mampu meningkatkan persentase sentra produksi yang memiliki sanitasi pengelolaan limbah rumah tangga, dari kondisi 8,34% (2010) menjadi 16,64% (2011) dan 20,00% (2012). Sedangkan dalam penyediaan infrastruktur drainase, dilihat dari kebutuhan dan kondisi wilayah Kabupaten Gunungkidul yang bukan daerah genangan, pelayanan sudah baik. Melalui pelaksanaan program pengendalian banjir mampu meningkatkan persentase sentra produksi yang memiliki drainase yang handal mencapai 86,62% (2012).
k. Panjang Jaringan Jalan Lintas Selatan (JJLS) terbangun dari target sepanjang 35 km terealisasi 27 km atau tingkat capaian kinerjanya sebesar 77,14 %. JJLS merupakan rencana jalan strategis nasional (Kepmen PU No 631/KPTS/M/2009) untuk percepatan pembangunan jalan yang menghubungkan daerah terisolasi di Jawa Timur (Pacitan) dengan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, yang prioritas pembangunannya oleh Direktorat Jenderal Bina Marga sudah dimulai sejak tahun 2005. Dari total 82,27 km panjang ruas yang direncanakan dibangun di Kabupaten Gunungkidul, dari target sepanjang 35 km di tahun 2012 dapat terbangun 27 km. Sedangkan lahan yang sudah dibebaskan hingga tahun 2012 sepanjang 30 km, dan yang belum bisa dibebaskan sepanjang 52,27 km. Beberapa permasalahan yang dihadapi antara lain pada pembebasan lahan yang dibutuhkan, dan alokasi anggaran yang terbatas.
93 Tabel 3.7
Perbandingan Capaian Kinerja Indikator Kinerja Sasaran 3
NO. INDIKATOR KINERJA
CAPAIAN KINERJA 2011 (%) CAPAIAN KINERJA 2012 (%) 1 Panjang Jalan Usaha Tani (JALUT) pada
sentra produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura
25.40 52.53
2 Panjang Jalan Usaha Tani (JUT) pada sentra produksi perkebunan
35.12 121.65
3 Persentase pemenuhan kebutuhan pupuk organik.
100.00 108.70
4 Jumlah unit Penyewaan Jasa Alsintan (UPJA) dan Alsintan lainnya pada sentra produksi Tanaman Pangan dan hortikultura: a. Jumlah Unit Penyewaan Jasa Alsintan
(UPJA)
84.62 17.14
b. Jumlah Alsintan lainnya :
1) Traktor roda dua 100.55 142.47
2) Pompa Air 99.16 229.17
3) Power Threser 114.04 143.55
4) Pedal Threser 99.96 105.30
5) APPO 128.57 231.82
5 Jumlah RPH, TPH, dan RPA yang memiliki sarana pengolahan limbah, sanitasi dan drainase
a. RPH 0.00 0.00
b. TPH 100.00 50.00
c. RPA 100.00 39.47
6 Jumlah kawasan peternakan yang memiliki jalan produksi
71.43 68.89
7 Persentase kecamatan yang memiliki puskeswan dengan infrastruktur yang handal
91.80 100.00
8 Persentase sentra produksi perikanan yang memiliki jalan produksi, fasilitas pengolahan ikan, sanitasi, dan drainase
61.54 81.25
9 Jumlah PPI,UPR, dan BBI.
a. PPI 100.00 100.00
b. UPR 100.00 71.43
c. BBI 33.33 25.00
10 Jumlah dan jenis sarana tangkap ikan.
a. Jumlah 91.79 92.83
94
NO. INDIKATOR KINERJA
CAPAIAN KINERJA 2011 (%) CAPAIAN KINERJA 2012 (%) 11 Jumlah sentra produksi yang memiliki unit
pengolahan hasil.
a. Kakao 83.33 76.92
b. Kotak Fermentasi 70.37 59.38
c. Cut Chip 609.09 136.00
d. Pengepres buah semu mete 100.00 100.00 e. Alat perajang tembakau rakyat 175.00 175.00 f. Alat perenteng tembakau vike 87.50 77.78
g. Pengolah limbah kakao 100.00 100.00
12 Persentase sentra produksi yang memiliki sarana listrik yang cukup
100.00 105.26
13 Persentase sentra produksi yang memiliki layanan transportasi umum yang tertib, aman, lancar dan laik jalan.
100.00 91.18
14 Rasio ketersediaan simpul transportasi antar kecamatan
50.00 100.00
15 Rasio ketersediaan fasilitas lalu lintas jalan. 87.50 63.33 16 Persentase sentra produksi yang memenuhi
standar kesehatan
222.22 127.89
17 Persentase ketersediaan lahan untuk pembangunan
120.00 100.00
18 Persentase sentra produksi yang memiliki jalan, jembatan, sanitasi dan drainase yang handal.
a. Presentase sentra produksi yang memiliki jalan (jalan kabupaten) yang handal
100.00 117.81 b. Persentase sentra produksi yang memiliki
jembatan yang handal
97.05 96.33
c. Persentase sentra produksi yang memiliki sanitasi persampahan yang handal
100.00 84.93
d. Persentase sentra produksi yang memiliki sanitasi pengelolaan limbah rumah tangga (MCK) yang handal
100.00 80.19
e. Persentase sentra produksi yang memiliki drainase yang handal
100.00 98.38
19 Panjang Jaringan Jalan Lintas Selatan (JJLS) terbangun
79.07 77.14
RATA-RATA CAPAIAN INDIKATOR SASARAN
95 Grafik 3.3
Persentase Rata-rata Capaian Indikator Sasaran 3 Tahun 2010 – 2012
Sasaran 4
“Kawasan permukiman memiliki infrastruktur dasar
transportasi, energi, air, telekomunikasi, dan sanitasi”
Capaian sasaran tersebut diukur berdasarkan 9 (sembilan) indikator sasaran yang dirumuskan dan menunjukkan keadaan sebagai berikut:Tabel 3.8
Capaian Kinerja Indikator Kinerja Sasaran 4
NO. INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET
REALI-SASI
CAPAIAN KINERJA
(%) 1 Persentase kawasan pemukiman
yang memiliki jalan, jembatan dan fasum-fasos.
a. Persentase kawasan permukiman yang memiliki jalan (poros desa)
persen 46.35 50.00 107.87
b. Persentase kawasan permukiman yang memiliki fasilitas umum dan Fasilitas Sosial
persen 34.39 38.88 113.06
2 Persentase kawasan permukiman yang memiliki sanitasi dan drainase.
96
NO. INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET
REALI-SASI
CAPAIAN KINERJA
(%) a. Persentase kawasan
permukiman yang memiliki sanitasi pengelolaan limbah rumah tangga
persen 50.46 47.00 93.14
b. Persentase kawasan permukiman yang memiliki sanitasi penanganan sampah
persen 24.73 23.00 93.00
c. Persentase kawasan permukiman yang memiliki drainase yang handal .
persen 87.92 86.50 98.38
3 Rasio ruang terbuka hijau persen 77 77 100.00 4 Persentase kawasan permukiman
yang memiliki sarana listrik dan energi yang cukup.
persen 75.5 85 112.58
5 Persentase kawasan permukiman yang memiliki pelayanan transportasi umum yang tertib, aman, dan lancar.
persen 68 62 91.18
6 Persentase kawasan permukiman yang memiliki akses telekomunikasi
persen 75 75 100.00
7 Persentase kawasan permukiman, fasum, dan fasos yang memenuhi standar kesehatan.
a. Tempat-tempat Umum persen 78 80.03 102.60 b. Rmh Sehat/permukiman persen 55 60.2 109.45
8 Jumlah rumah yang dibangun dan direhabilitasi untuk RTM.
rumah/th 100 0 0.00
9 Jumlah stimulan dan swadaya masyarakat dalam membangun infrastruktur perdesaan.
a. Jumlah stimulan (aspal) dalam membangun infrastruktur perdesaan.
drum 1,000 350 35.00
b. Jumlah stimulan (semen) dalam membangun infrastruktur perdesaan.
sak 160,000 120,000 75.00
c. Jumlah swadaya masyarakat dalam membangun infrastruktur perdesaan.
milyar 11 9 82.73
d. Jumlah Desa lokasi TMMD desa 90 92 102.22 e. Jumlah desa lokasi karya
bakti TNI
desa 18 22 122.22
97 Dari hasil evaluasi terhadap sasaran tersebut diperoleh gambaran bahwa dari indikator sasaran yang ditetapkan menghasilkan angka capaian kinerja sebesar rata-rata 90,50% yang mempunyai makna sangat berhasil.
Sasaran ini untuk mencapai misi kedua ”Pemanfaatan sumber daya alam untuk menggerakan perekonomian daerah secara lestari”, misi kelima “Peningkatan iklim usaha yang kondusif”, dan misi ketujuh “Peningkatan peluang investasi dan penggalangan sumber- sumber pendanaan” dengan grand strategi membangun infrastruktur yang handal dan tujuan peningkatan pengelolaan sumber daya alam dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan; menciptakan kemudahan memperoleh dan menciptakan lapangan kerja melalui penggalian pemberdayaan usaha kecil, mikro, dan menengah; dan menggalang sumber-sumber pendanaan baik dari dalam / luar negeri untuk memacu pembangunan daerah, menciptakan lapangan kerja dan Pendapatan Asli Daerah.
Tingkatan capaian kinerja untuk 5 (lima) indikator kinerja sasaran yaitu Persentase kawasan permukiman yang memiliki jalan, jembatan, dan fasum-fasos, Persentase kawasan permukiman yang memiliki sarana listrik dan energi yang cukup, Rasio ruang terbuka hijau, Persentase kawasan permukiman yang memiliki akses telekomunikasi, dan Persentase kawasan permukiman, fasum, dan fasos yang memenuhi standar kesehatan, telah mencapai target yang telah ditetapkan.
Penyediaan pelayanan infrastruktur jalan, jembatan dan fasum-fasos bagi kawasan permukiman diperlukan untuk meningkatkan aksesibilitas dan kegiatan perekonomian masyarakat. Penyediaan jalan dan jembatan perdesaan yang ditangani melalui program pembangunan infrastruktur perdesaan diarahkan untuk meningkatkan aksesibilitas untuk pengembangan potensi wilayah melalui pembangunan jalan poros desa. Di samping itu, ada beberapa program/kegiatan lain yang menyasar pada peningkatan aksesibilitas kawasan permukiman, termasuk kegiatan yang dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Realisasi kinerja penyediaan infrastruktur jalan poros desa pada tahun 2012, dengan alokasi anggaran sebesar Rp.13.538.550.000,00 telah mampu meningkatkan persentase kawasan permukiman yang memiliki jalan (poros desa), dari 40,39% menjadi 50,00%. Secara fisik, program/kegiatan ini dapat direalisasikan di 90 ruas jalan dengan realisasi anggaran sebesar Rp.13.302.494.200,00.
Sedangkan dalam penyediaan fasilitas umum dan fasilitas sosial (fasum-fasos) di wilayah perdesaan lebih banyak dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Ada keterlibatan pihak ketiga (sektor swasta) dalam penyediaan fasilitas umum dan fasilitas sosial melalui program CSR (Corporate Social Responsibility). Alokasi anggaran APBD Provinsi dan APBD Kabupaten untuk penyediaan fasilitas umum dan fasilitas sosial masih sangat terbatas. Realisasi kinerja hingga tahun 2012 persentase kawasan permukiman yang memiliki fasilitas umum dan fasilitas sosial mencapai 34,39%.
98 Persentase kawasan permukiman yang memiliki sarana listrik dan energi yang cukup, dari target 75,5% dapat terealisasi 85% sehingga tingkat capaian kinerjanya sebesar 112,58%, hal ini didukung dengan kegiatan koordinasi pengembangan ketenagalistrikan yaitu pendataan KK yang belum berlistrik, koordinasi, dan pengelolaan minyak dan gas, energi baru dan terbarukan yaitu adanya pembangunan dan pengelolaan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya).
Pemenuhan kebutuhan ruang hijau dalam rangka meningkatkan kualitas lansekap kota, meningkatkan kualitas atmosfer, menunjang kelestarian air dan tanah. Ketersediaan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan di Kabupaten Gunungkidul masih dapat terpenuhi dengan rasio ruang terbuka hijau sebesar 77%.
Persentase kawasan permukiman yang memiliki akses telekomunikasi, dari target 75% dapat terealisasi 75 % sehingga tingkat capaian kinerjanya sebesar 100 %, hal ini karena telah ditetapkannya Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2012 tentang Penataan dan Pengendalian Menara Bersama, yang mendorong investor komunikasi mengembangkan pelayanannya yang menjangkau Kabupaten Gunungkidul dengan lebih luas.
Meningkatnya tempat-tempat umum sehat dari rencana 78% terealisasi 80,03% tingkat capaian terhadap target 102,60%. Tempat-tempat umum yang dipantau adalah meliputi sarana pendidikan, sarana pelayanan kesehatan dalam hal ini Puskesmas dan Rumah Sakit, dan hotel baik yang berbintang maupun yang tidak berbintang. Dari sejumlah sarana pendidikan dan sarana pelayanan kesehatan yang ada di Kabupaten Gunungkidul terus dilakukan pembinaan agar memenuhi syarat kesehatan. Hal ini dilakukan supaya penghuni atau pengunjung merasa nyaman dan aman dan yang lebih utama terhindar dari penyakit.
Meningkatnya cakupan rumah/pemukiman sehat dari rencana 55% terealisasi 60,2% tingkat capaian terhadap target 109,45%, kategori sangat berhasil. Masalah perumahan merupakan masalah multi dimensi baik fisik, sosial, ekonomi, maupun budaya. Dari sudut pandang sektor kesehatan yang menjadi tujuan adalah bagaimana agar semua rumah/perumahan memenuhi persyaratan kesehatan yang sebenarnya bersifat universal. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan cakupan rumah/perumahan yang memenuhi persyaratan kesehatan adalah melalui pembinaan, penyuluhan, pengawasan, pengendalian, dan penilaian.
Sedangkan untuk 4 (empat) indikator kinerja sasaran yaitu Persentase kawasan permukiman yang memiliki sanitasi dan drainase, Persentase kawasan permukiman yang memiliki pelayanan transportasi umum yang tertib, aman, dan lancar, Jumlah rumah yang dibangun dan direhabilitasi untuk RTM, dan Jumlah stimulan dan swadaya masyarakat dalam membangun infrastruktur perdesaan, masih belum mencapai target. Belum dapat tercapainya target ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
99 a. Pelayanan infrastruktur pengelolaan limbah rumah tangga (MCK) yang handal bagi kawasan permukiman melalui program lingkungan sehat perumahan dengan mengembangkan pelayanan infrastruktur instalasi pengelolaan air limbah rumah tangga (IPAL) komunal. Pembangunan IPAL komunal melalui kegiatan penyediaan sarana air bersih dan sanitasi dasar terutama bagi masyarakat miskin ini diarahkan pada kawasan yang padat penduduk dengan mendorong partisipasi dan peran kelompok masyarakat secara lebih aktif mulai dari pembangunan hingga pemeliharaannya, melalui pengembangan sanitasi lingkungan berbasis masyarakat (SLBM). Kegiatan Penyediaan Sarana Air Bersih dan Sanitasi Dasar Terutama Bagi Masyarakat Miskin tahun 2012, dengan alokasi anggaran sebesar Rp.1.498.062.000,00 dilaksanakan di 3 lokasi kecamatan, yaitu Wonosari, Rongkop, dan Tanjungsari. Dari kegiatan ini persentase kawasan permukiman yang memiliki sanitasi pengelolaan limbah rumah tangga, meningkat dari 47,76% (2011) menjadi 48,50%.
Penyediaan infrastruktur sanitasi persampahan bagi kawasan permukiman ditempuh melalui program pengembangan kinerja pengelolaan persampahan dengan kegiatan Peningkatan operasi dan pemeliharaan prasarana dan sarana persampahan. Meskipun alokasi anggaran untuk program/ kegiatan ini mencapai Rp.1.342.000.000,00, namun penggunaannya tidak hanya untuk kegiatan operasional pengelolaan persampahan, tetapi juga untuk pemeliharaan pertamanan. Penyediaan pelayanan infrastruktur persampahan terutama menjangkau kawasan permukiman perkotaan di 7 (tujuh) wilayah kecamatan. Persentase kawasan permukiman yang tertangani pelayanan persampahan dapat meningkat dari 10,88% (2010) meningkat menjadi 18,98% (2011) dan 38,88% (2012). Kondisi ini diharapkan akan meningkat dengan adanya penambahan kendaraan operasional pengangkut sampah.
Pelayanan infrastruktur drainase, dilihat dari kebutuhan dan kondisi wilayah Kabupaten Gunungkidul yang bukan daerah genangan, pelayanan sudah baik. Melalui pelaksanaan program pengendalian banjir mampu meningkatkan persentase sentra produksi yang memiliki drainase yang handal, dari 86,62% (2011) menjadi 87,50% (2012).
b. Persentase kawasan permukiman yang memiliki pelayanan transportasi umum yang tertib, aman, dan lancar dari target 68 % dapat terealisasi 62 % sehingga tingkat capaian kinerjanya sebesar 91,18 %, hal ini karena adanya pengusaha yang mengurangi operasional kendaraannya dengan alasan tingginya biaya operasional.
c. Jumlah rumah yang dibangun dan direhabilitasi untuk RTM (Rumah Tangga Miskin) tidak dapat tercapai atau tingkat kinerjanya 0 %, hal ini disebabkan karena Program pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari Kementerian Sosial RI untuk Tahun 2012 dengan target 100 rumah tidak dianggarkan dan tidak ada sharring dana dari
100 Kabupaten Gunungkidul. Langkah yang dilakukan adalah dengan mengusulkan program pembangunan RTLH ke Pusat dan juga mengusulkan Anggaran Kabupaten Gunungkidul agar dapat diperuntukkan sebagai sharring dari Pusat.
d. Jumlah stimulan aspal dan semen dalam membangun infrastruktur perdesaan, capaian kinerjanya masing-masing sebesar 35 % dan 75 %, hal tersebut disebabkan karena keterbatasan anggaran yang disediakan untuk pengadaan aspal dan semen, sedangkan untuk jumlah swadaya masyarakat dalam membangun infrastruktur perdesaan mencapai Rp 5.716.000.000,-, Jumlah Desa lokasi TMMD, dan Jumlah desa lokasi Karya Bhakti TNI sudah mencapai target yang ditetapkan, dengan diberikannya stimulan aspal dan semen dapat menarik masyarakat berswadaya dalam membangun daerahnya dalam bentuk materi, tenaga, dan pemikiran. Sedangkan kegiatan TMMD dan Karya Bhakti TNI merupakan wujud nyata peran TNI dalam turut membangun masyarakat secara langsung dengan tenaga, pemikiran, dan pembiayaan.
Jumlah stimulan (Aspal) dalam membangun infrastruktur perdesaan pada target sebanyak 1.000. drum aspal dan terealisasi 350 drum aspal. Untuk realisasi kinerja telah dapat dilaksanakan pendistribusian 350 drum aspal. Sedangkan jumlah stimulan (semen) dalam membangun infrastruktur perdesaan target sebanyak 160.000 zak dan terealisasi 120.000 zak semen. Untuk realisasi kinerja telah dapat dilaksanakan pendistribusian 120.000 zak semen. (75 %) dari target kinerja.
Tabel 3.9
Perbandingan Capaian Kinerja Indikator Kinerja Sasaran 4
NO. INDIKATOR KINERJA
CAPAIAN KINERJA 2011 (%) CAPAIAN KINERJA 2012 (%) 1 Persentase kawasan pemukiman yang
memiliki jalan, jembatan dan fasum-fasos. a. Persentase kawasan permukiman yang
memiliki jalan (poros desa)
100.00 107.87 b. Persentase kawasan permukiman yang
memiliki fasilitas umum dan Fasilitas Sosial
100.00 113.06
2 Persentase kawasan permukiman yang memiliki sanitasi dan drainase.
a. Persentase kawasan permukiman yang memiliki sanitasi pengelolaan limbah rumah tangga
100.00 93.14
b. Persentase kawasan permukiman yang memiliki sanitasi penanganan sampah
100.00 93.00
c. Persentase kawasan permukiman yang memiliki drainase yang handal .