• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peningkatan pemahaman mata pelajaran IPS materi masalah sosial di daerahnya melalui metode cooperative integrated reading and composition (CIRC) pada siswa kelas IV MI Darun Najah Kajeksan Tulangan Sidoarjo.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peningkatan pemahaman mata pelajaran IPS materi masalah sosial di daerahnya melalui metode cooperative integrated reading and composition (CIRC) pada siswa kelas IV MI Darun Najah Kajeksan Tulangan Sidoarjo."

Copied!
106
0
0

Teks penuh

(1)

AND COMPOSITION

(CIRC)

PADA SISWA KELAS IV MI DARUN NAJAH

KAJEKSAN TULANGAN SIDOARJO

SKRIPSI

Oleh:

RINI PURWATI

NIM. D07213031

PROGRAM STUDI PGMI

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

Pelajaran IPS Materi Masalah Sosial di Daerahnya Melalui Metode

Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) Pada Siswa

Kleas IV MI Darun Najah Kajeksan Tulangan Sidoarjo. Skripsi, Prodi

Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Sunan Ampel Surabaya,.

Pembimbing 1 Drs. Nadlir, M.Pd.I dan Pembimbing 2 Drs. H. Munawir,

M.Ag.

Latar belakang dilakukan Penelitian ini karena adanya kesulitan yang

dialami siswa kelas IV MI Darun Najah Kajeksan Tulangan Sidoarjo dalam mata

pelajaran IPS. Dibuktikan dengan prosentase belajar siswa dikelas sebelumnya

sebesar 45% siswa yang tuntas. Penyebabnya adalah mereka merasa bosan dengan

proses belajar yang monoton dan tidak menggunakan metode pembalajaran yang

bervariasi. Solusi dari permasalahan ini adalah peneliti menawarkan

menggunakan metode CIRC untuk diterapkan kepada siswa.

Tujuan dari penelitian ini yaitu 1) Untuk mengetahui penerapan metode

pembelajaran

CIRC dalam meningkatkan pemahaman siswa mata pelajaran IPS

materi masalah sosial di daerahnya pada siswa kelas IV MI Darun Najah Kajeksan

Tulangan Sidoarjo, 2) Untuk mengetahui peningkatan pemahaman siswa mata

pelajaran IPS materi masalah sosial di daerahnya pada siswa kelas IV MI darun

Najah Kajeksan Tulangan Sidoarjo dengan menggunakan metode CIRC.

Model dalam penelitian ini menggunakan model penelitian kurt lewin

yang terdiri dari 4 tahap yaitu; perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan

refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV MI Darun Najah Kajeksan

Tulangan Sidoarjo tahun pelajaran 2016-2017 dengan jumlah 25 siswa, terdiri dari

11 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Teknik pengumpulan data

menggunakan wawancara, observasi, dokumentasi, dan penilaian tes tertulis.

Hasil penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) dalam penerapan

metode

CIRC terdapat peningkatan aktivitas guru dan juga siswa disetiap

siklusnya, ini bisa dibuktikan untuk aktivitas guru pada siklus I mencapai

prosentase 81,81% (baik), sedangkan pada siklus II aktivitas guru mencapai

prosentase 89,58% (sangat baik). Aktivitas siswa pada siklus I mencapai

prosentase 82,14% (baik), sedangkan pada siklus II mencapai prosentase 87,5%

(sangat baik); 2) terdapat peningkatan pemahaman siswa pada setiap siklusnya.

Terbukti dengan nilai rata-rata siswa pada siklus I sebesar 74 Pada siklus I

mengalami peningkatan pada siklus II sebesar 88 dengan prosentase hasil belajar

sebesar 60% mengalami peningkatan pada siklus II sebesar 84%, sehingga pada

siklus II dinyatakan berhasil karena sudah mencapai indikator kinerja.

(7)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

PERSEMBAHAN ... iii

HALAMAN MOTTO ... vii

LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI ... viii

LEMBAR PENGESAHAN TIM PENGUJI SKRIPSI ... ix

ABSTRAK ... x

KATA PENGANTAR ... xi

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL... xvii

DAFTAR GAMBAR ... xviii

DAFTAR DIAGRAM ... xix

DAFTAR LAMPIRAN ... xx

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 9

C. Tindakan yang Dipilih ... 10

(8)

E. Ruang Lingkup Penelitian ... 11

F. Signifikansi Penilitian ... 13

BAB II KAJIAN TEORI

A. Metode Pembelajaran CIRC ... 15

1. Pengertian Metode ... 15

2. Pengertian Metode CIRC ... 17

3. Tahapan Metode CIRC ... 17

4. Langkah-langkah Penerapan Metode CIRC ... 18

5. Kelebihan dan Kekurangan Metode CIRC ... 19

B. Pemahaman ... 21

1. Pengertian Pemahaman... 21

2. Tahapan-tahapan Pemahaman ... 22

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemahaman ... 24

4. Kriteria Pemahaman ... 26

5. Indikator Pemahaman ... 27

C. Pembelajaran IPS ... 28

1. Pengertian IPS ... 28

2.Tujuan Ilmu Pengetahuan Sosial ... 30

(9)

4. Nilai-nilai dalam Pembelajaran IPS ... 33

D. Tinjauan tentang Materi ... 35

1. Pengertian Masalah Sosial ... 35

2. Bentuk-bentuk Permasalahan Sosial ... 36

3. Upaya Mengatasi Permasalahan Sosial ... 38

E. Signifikasi CIRC dengan Materi Masalah Sosial di Daerahnya ... 39

BAB III PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS

A. Metode Penelitian ... 41

B. Setting Penelitian dan Karakteristik Subyek Penelitian ... 46

C. Variabel yang Diselidiki ... 48

D. Rencana Tindakan ... 49

E. Data dan Cara Pengumpulannya ... 54

F. Indikator Kinerja ... 60

G. Tim Peneliti dan Tugasnya ... 61

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian ... 62

1. Hasil Penelitian Siklus I ... 62

a. Tahap Perencanaan Tindakan ... 63

(10)

c. Tahap Observasi ... 67

d. Tahap Refleksi ... 70

2. Hasil Penelitian Siklus II ... 73

a. Tahap Perencanaan Tindakan ... 73

b. Tahap Pelaksanaan Tindakan ... 73

c. Tahap Observasi ... 79

d. Tahap Refleksi ... 81

B. Pembahasan ... 82

BAB V PENUTUP

A. Simpulan ... 90

B. Saran ... 91

DAFTAR PUSTAKA ... 93

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... 96

RIWAYAT HIDUP ... 97

(11)

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta

keterampilan yang diperlakukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

1

Dalam upaya merealisasikan cita-cita tersebut secara menyeluruh dan

serentak, terbentuklah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional.

Pendidikan Nasional merupakan pendidikan yang berdasarkan pancasila

dan Undang-Undang dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, sehingga

Pendidikaan

Nasional

berfungsi

mengembangkan

kemampuan

dan

membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka

mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi

peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada

Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,

mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung

(12)

jawab.

2

Untuk mencapai tujuan Pendidikan Nasional tersebut yang berprinsip

pada sifat demokrasi, berkeadilan, tidak diskriminatif dan mengembangkan

kreatifitas peserta didik dalam proses pembelajaran maka pemerintah telah

menetapkan Standar Nasional Pendidikan yang dimuat dalam Peraturan

Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 yang digunakan sebagai acuan dalam

melaksanakan proses pendidikan secara nasional baik pengelolaan,

pengembangan, maupun pembiayaannya.

3

Terlihat upaya pemerintah untuk

mewujudkan cita-cita besar bangsa Indonesia dalam mencerdaskan kehidupan

Bangsa.

Pada kenyataannya yang dijumpai di lapangan, untuk mencapai hal

tersebut, dunia pendidikan kita masih dihadapkan dengan kendala lemahnya

proses pembelajaran. Selama ini pendidikan kita hanya terpaku pada apa yang

ada di dalam buku. Padahal dengan adanya proses itulah makna pendidikan

dapat benar-benar dirasakan. Sehingga yang terjadi dalam pendidikan bukan

hanya sekedar transfer ilmu antara guru dengan siswa, melainkan

pembentukan karakter, akhlak, dan moral siswa.

Proses pembelajaran diawali dengan interaksi positif antara guru dan

siswa sangat menentukan keberhasilan belajar. Namun yang terjadi di

sekolah, dalam menyampaikan materi guru lebih sering menggunakan strategi

Direct Instruction yang artinya proses pembelajaran berpusat pada guru atau

2

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional & Undang-undang

No.14 th 2005 tentang Guru & dosen,

(Jakarta: VisiMedia, 2007), 4.

(13)

teacher centered. Sehingga siswa tidak mendapatkan kesempatan untuk

mengembangkan ide-ide kreatif dan menemukan alternatif pemecahan suatu

masalah, melainkan mereka menjadi siswa yang bergantung pada guru. Pada

akhirnya siswa hanya mengahafalkan saja semua konsep tanpa memahami

maknanya. Hal ini menjadikan siswa muncul sebagai pribadi yang pandai

secara teoritis dan miskin aplikasi. Contohnya sebagian besar siswa belajar d

dalam kelas saja, padahal pembelajaran di luar kelas sangat penting bagi

siswa, dengan begitu siswa akan dapat menemukan pengetahuan sendiri

dalam proses belajarnya.

Pembelajaran yang baik memperhatikan tujuan, karakteristik siswa,

materi yang diajarkan, dan sumber belajar yang tersedia. Pada kenyataannya

masih banyak dijumpai di lapangan proses pembelajaran yang kurang sesuai

dengan acuan yang tercantum dalam permendiknas, proses belajar yang tidak

efisien dan kurang inovatif, bahkan cenderung membosankan. Sehingga hasil

belajar yang dicapai juga tidak maksimal.

Mata Pelajaran IPS ditingkat sekolah pada dasarnya bertujuan untuk

mempersiapkan peserta didik sebagai warga negara yang menguasai

pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), sikap dan nilai (attitudes and

values) yang dapat digunakan sebagai kemampuan untuk memecahkan

(14)

dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan masyarakat agar menjadi warga

negara yang baik.

4

IPS tidak hanya mata pelajaran yang disampaikan dalam bentuk

penyederhanaan ilmu-ilmu sosial tetapi sebagai suatu internalisasi nilai-nilai

budaya bangsa, pembinaan karakter bangsa, membina persatuan dan kesatuan

bangsa, lebih dari itu IPS memiliki nilai untuk menyiapkan siswa menghadapi

tantangan kehidupan.

5

Dari pemaparan diatas, maka mata pelajaran IPS

dianggap penting untuk dipelajari di jenjang sekolah dasar sebagai dasar

pembinaan karakter siswa.

Untuk dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam memahami materi

yang terdapat dalam mata pelajaran IPS guru harus mampu merancang

pembelajaran dengan membuat RPP yang proses belajarnya bervariatif dan

dapat mengaktifkan siswa, sehingga siswa dapat dengan mudah menerima

dan memahami materi yang sudah dipelajari. Untuk memahamkan pelajaran

ke siswa memang tidaklah mudah, apalagi dengan kemampuan siswa yang

berbeda-beda. Guru harus memberikan penjelasan dan memberikan contoh

yang kongkrit dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

Proses pembelajaran dapat dikatakan berhasil apabila timbul perubahan

tingkah laku positif pada siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang

ditetapkan sebelumnya. Siswa yang terlibat dalam proses belajar mengajar

4

Sapriya,

Pendidikan IPS

, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), 12.

(15)

diharapkan mengalami perubahan baik dalam bidang sikap, pengetahuan dan

keterampilan. Keberhasilan dalam proses belajar mengajar di sekolah

melibatkan beberapa faktor yaitu kurikulum, sarana dan prasarana, guru,

siswa, serta model pembelajaran. Proses pembelajaran yang berjalan dengan

baik berkeyakinan dapat memberikan dampak yang positif yaitu dapat

memahamkan siswa secara maksimal.

Berdasarkan hasil wawancara di MI Darun Najah Kajeksan Tulangan

Sidoarjo menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang sering dilaksanakan

oleh guru dalam menyajikan pembelajaran IPS kurang variatif dalam memilih

metode/teknik yang digunakan. Karena hal tersebut maka berdampak pada

gaya

belajar

siswa,

siswa

tidak

terbiasa

dengan

penerapan

model/metode/strategi pembelajaran yang bervariasi. Karena hal tersebut,

maka dalam proses pembelajaran siswa tidak dapat aktif dan tidak dapat

mengembangkan ide-ide kreatifnya secara utuh, siswa juga merasa bosan

karena proses pembelajaran yang tidak dikemas secara inovatif, sehingga hal

ini mengakibatkan pemahaman siswa yang menjadi kurang maksimal.

6

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan oleh peneliti, pada

proses pembelajaran IPS proses pembelajaran tidak sesuai dengan RPP yang

dibuat, terlihat guru menggunakan metode konvensional dan siswa lebih

banyak mendengarkan, selain itu siswa juga lebih banyak mengerjakan

(16)

soal yang ada di LKS dengan melihat bacaan. Sehingga pemebelajaran

bersifat

teacher center, yang artinya guru lebih dominan dan siswa lebih

banyak menerima pengetahuan baru dan penjelasan dari guru tanpa mencari

tahu sendiri. Maka proses pembelajaran yang seharusnya dilakukan adalah

proses belajar yang berpusat pada siswa atau sering disebut dengan

student

center, dengan begitu siswa akan lebih aktif dan dapat mengembangkan

ide-ide kreatifnya dan siswa juga dapat belajar dengan menyenangkan.

7

Proses pembelajaran siswa yang kurang inovatif berdampak pada

semangat siswa dan antusias siswa untuk mengikuti proses belajar, hal

tersebut berakibat pada tingkat pemahaman siswa yang rendah. Dilihat dari

hasil ulangan harian siswa kelas IV MI Darun Najah pada mata pelajaran IPS

yang seharusnya memenuhi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang harus

dicapai siswa adalah 77, pada kelas IV terdahulu dalam satu kelas pada materi

masalah sosial di daerahnya yang mampu mencapai KKM hanya 45%,

sedangkan sisanya yaitu 65% siswa masih belum dapat memenuhi KKM.

Maka peneliti mempunyai keinginan untuk melakukan penelitian tindakan

kelas untuk meneliti pemahaman siswa.

8

Berdasarkan permasalahan yang terjadi maka peneliti memberikan

solusi supaya pemahaman siswa dapat meningkat dan siswa lebih aktif dalam

7

Hasil Obsevasi Proses Pembelajaran IPS di Kelas IV MI Darun Najah Kajeksan Tulangan

Sidoarjo, Kajeksan 05 Januari 2017.

(17)

proses pembelajaran yaitu dengan menggunakan metode pembelajaran yang

inovatif. Harold dan Lowell Kelly dalam buku psikologi Belajar Karya

Oemar Hamalik mengemukakan bahwa perlu adanya menggabungkan metode

belajar antara lain dengan menggabungkan metode diskusi dengan metode

lainnya agar siswa lebih tertarik dengan proses pembelajaran dan diharapkan

dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

9

Berkaca dari hal tersebut, penulis berinisiatif menawarkan metode

pembelajaran

Cooperative Integrated Reading And Composition (CIRC)

untuk diterapkan di kelas IV MI Darun Najah. Metode pembelajaran

CIRC

(Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis)

merupakan metode

pembelajaran terpadu yang cocok dengan mata pelajaran IPS yang juga

merupakan salah satu mata pelajaran terpadu ditingkat sekolah dasar. Pada

metode pembelajaran

CIRC setiap siswa bertanggung jawab terhadap tugas

kelompoknya. Setiap anggota kelompok saling mengeluarkan ide-ide untuk

memahami suatu konsep dan menyelesaikan tugas (task), sehingga terbentuk

pemahaman yang dan pengalaman belajar yang lama. Metode ini bersifat

kooperatif sehingga dapat meningkatkan kerjasama antar siswa, mampu

mendidik siswa untuk berinteraksi sosial dengan lingkungan. Selain itu,

semua siswa dibimbing dan diarahkan untuk aktif dan kreatif sehingga waktu

pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien.

(18)

Metode

pembelajaran

Cooperative

Intregated

Reading

and

Composition (CIRC)

ini merupakan suatu program komprehensip atau luas

dan lengkap untuk pengajaran membaca dan menulis untuk kelas-kelas tinggi

sekolah dasar, siswa bekerja dalam tim belajar kooperatif beranggotakan

empat orang secara heterogen. Mereka terlibat dalam sebuah rangkaian

kegiatan beranggotakan bersama, termasuk saling membacakan satu dengan

yang lain, membuat prediksi tentang bagaimana cerita naratif akan muncul,

saling membuatkan ikhtisar satu dengan yang lain, memberi tanggapan, dan

berlatih, pengejaan serta pemberdayaan kata, mereka juga bekerjasama untuk

memahami ide pokok dan keterampilan pemahaman yang lain.

10

Penelitian dengan menggunakan metode

Cooperative Integrated

Reading And Composition (CIRC)

sudah

pernah dilakukan.

Peneliti

menemukan hasil penelitian dengan menggunakan metode

Cooperative

Integrated Reading And Composition (CIRC),

yaitu penelitian yang

dilakukan oleh Siti Muslimah dengan judul

KORELASI MODEL

PEMBELAJARAN

KOOPERATIF

TIPE

CIRC

(COOPERATIVE

INTEGRATED READING AND COMPOSITION) TERHADAP HASIL

BELAJAR SISWA PADA POKOK BAHASAN AL-QUR'AN HADITS DI

MTs NURUL FATAH GEDANGA

N SIDAYU GRESIK.”

(19)

Dalam penelitian ini, Penerapan Model Pembelajaran CIRC di MTS

Nurul Fatah Gedangan Sidayu adalah cukup baik dengan perolehan

prosentase hasil 72% dari 86 responden frekuensi sebanyak 62. Hasil belajar

siswa juga dapat meningkat dari sebelumnya dan berlangsung dengan cukup

baik dengan hasil 64% dari 86 responden dengan frekuensi sebanyak 55.

Maka dapat dikatakan bahwa pengaruh penerapan model pembelajaran CIRC

terhadap hasil belajar siswa di MTs Nurul Fatah Gedangan Sidayu Gresik

dalah tinggi.

11

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dalam Penelitian

Tindakan Kelas ini peneliti memilih judul

“Peningkatan Pemahaman Mata

Pelajaran IPS Materi Masalah Sosial di Daerahnya Melalui Metode

Cooperative Integrated Reading And Composition (CIRC) Pada Siswa

Kelas IV MI Darun Najah Kajeksan Tulangan Sidoarjo”.

B.

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka peneliti merumuskan

masalah seperti berikut:

1.

Bagaimana penerapan Metode Pembelajaran

Cooperative

Integrated

Reading And Composition (CIRC)

untuk meningkatkan pemahaman

11

Siti Muslimah, “

(20)

materi masalah sosial di daerahnya mata pelajaran IPS pada siswa kelas

IV MI Darun Najah Kajeksan Tulangan Sidoarjo?

2.

Bagaimana peningkatan pemahaman materi masalah sosial di daerahnya

mata pelajaran IPS melalui metode pembelajaran Cooperative Integrated

Reading And Composition (CIRC) pada siswa kelas IV MI Darun Najah

Kajeksan Tulangan Sidoarjo?

C.

Tindakan yang Dipilih

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah diuraikan,

tindakan yang dipih oleh peneliti untuk meningkatkan pemahaman siswa pada

mata pelajaran IPS materi masalah sosial di daerahnya kelas IV MI Darun

Najah Kajeksan Tulangan Sidoarjo adalah menggunakan

metode

pembelajaran

Cooperative Integrated Reading And Composition (CIRC).

Metode

Cooperative

Integrated Reading And Composition (CIRC)

merupakan metode pembelajaran yang mampu menjadikan gaya belajar siswa

menjadi lebih bermakna, siswa dapat lebih aktif dalam proses pembelajaran,

siswa berkesempatan untuk menentukan konsep dengan cara memecahkan

masalah sendiri, siswa juga mempunyai kesempatan untuk mengembangkan

kreatifitas berkomunikasi dengan teman satu kelompoknya maupun teman

dari kelompok lain. Selain itu, dari diterapkannya metode

Cooperative

(21)

kemampuan membaca, berkomunikasi, percaya diri, bekerja sama, dan siswa

juga dapat meningkatkan kemampuan berfikir kritisnya.

D.

Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan di muka, maka

tujuan Penelitian Tindak Kelas (PTK) ini adalah:

1.

Untuk mengetahui penerapan metode pembelajaran

Cooperative

Integrated Reading And Composition (CIRC)

untuk meningkatkan

pemahaman siswa materi masalah sosial di daerahnya mata pelajaran IPS

pada siswa kelas IV MI Darun Najah Kajeksan Tulangan Sidoarjo.

2.

Untuk mengetahui peningkatan pemahaman materi Masalah Sosial di

Daerahnya melalui metode

Cooperative

Integrated Reading And

Composition (CIRC)

pada siswa kelas IV MI Darun Najah Kajeksan

Tulangan Sidoarjo.

E.

Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini meliputi:

1.

Penerapan metode

Cooperative

Integrated Reading And Composition

(CIRC)

untuk meningkatkan pemahaman mata pelajaran IPS materi

masalah sosial di daerahnya pada kelas IV MI Darun Najah Kajeksan

Tulangan Sidoarjo. Sintaks metode pembelajaran CIRC adalah:

(22)

bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar, siswa bekerja sama

(membaca bergantian, menemukan kata kunci, memberikan tanggapan)

terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya, presentasi

hasil kelompok, refleksi.

12

Yang dimaksud dalam penelitian ini adalah

peneliti berharap agar metode pembelajaran CIRC dapat diterapkan pada

proses pembelajaran IPS materi masalah sosial di daerahnya, serta mampu

meningkatkan pemahaman siswa kelas IV MI Darun Najah.

2.

Pemahaman materi masalah sosial di daerahnya yang diperoleh siswa

pada mata pelajaran IPS.

Adapun Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), dan

Indikatornya adalah sebagai berikut:

SK

:

2. Mengenal sumber daya alam, kegiatan ekonomi dan kemajuan

teknologi di lingkungan kabupaten/kota dan provinsi.

KD

:

2.4 Mengenal Permasalahan Sosial di Daerahnya.

Indikator

:

2.4.1

Menjelaskan masalah sosial di daerahnya

2.4.2

Membedakan permasalahan sosial dan yang bukan permasalahan

sosial

(23)

2.4.3

Memberikan contoh bentuk-bentuk permasalahan sosial di

daerahnya beserta upaya mengatasinya

F.

Signifikasi Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian diatas, maka signifikasi penelitian

tindakan kelas ini sebagai berikut:

1.

Bagi peserta didik

Dengan menerapkan metode

(CIRC)

dapat memberikan suasana

belajar yang baru dan menyenangkan untuk meningkatkan gairah belajar

siswa, selain itu dalam proses pembelajaran siswa akan lebih aktif, siswa

akan dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi yang lebih baik

dengan teman satu kelompoknya maupun dengan teman dikelompok lain.

siswa juga dapat memunculkan ide-ide kreatif dan mampu berpikir kritis.

Dari proses pembelajaran, maka pemahaman siswa terhadap materi dapat

lebih optimal dibandingkan dengan proses belajar yang hanya mengacu

pada penjelasan guru.

2.

Bagi guru mata pelajaran IPS

Hasil penelitian tindak kelas (PTK) ini dapat menjadi masukan,

menambah wawasan dan pengalaman serta memperkaya alternatif pilihan

metode (CIRC) untuk diterapkan maupun dikombinasikan dengan metode

lain untuk peningkatan pemahaman siswa dan untuk peningkatan kualitas

(24)

3.

Bagi sekolah

PTK ini dapat bermanfaat untuk menambahkan pengetahuan tentang

metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran

untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Selain itu juga

dapat meningkatkan kredibilitas dan kualitas sekolah.

4.

Bagi peneliti

Sebagai pengalaman, masukan, dan refeleksi peneliti ketika

menjadi tenaga pendidik dalam melakukan PTK untuk memilih dan

menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan mata pelajaran

dan kebutuhan siswa serta memberikan semangat untuk berpartisipasi

(25)

BAB II

KAJIAN TEORI

A.

Pemahaman

1.

Pengertian Pemahaman

Pemahaman menurut Bloom diartikan sebagai

kemampuan untuk menyerap arti dari materi atau bahan yang

dipelajari. Pemahaman menurut Bloom ini adalah seberapa besar

siswa mampu menerima, menyerap, dan memahami pelajaran

yang diberikan oleh guru kepada siswa, atau sejauh mana siswa

dapat memahami serta mengerti apa yang ia baca, yang dilihat, yang

dialami, atau yang ia rasakan berupa hasil penelitian atau

observasi langsung yang ia lakukan.

1

Pemahaman juga diartikan kemampuan untuk menangkap

arti suatu bahan yang telah dipelajari yang terlihat seperti dalam

kemampuan seseorang menafsirkan informasi, meramalkan akibat

suatu peristiwa, dan kemampuan lain yang sejenis.

2

Kata kerja

operasional yang digunakan dalam rumusan tujuan instruksional

khusus untuk jenjang pemahaman, diantaranya: mengartikan,

1 Ahmad Susanto, Teori Belajar & Pembelajaran di Sekolah Dasar, (Jakarta: PT Fajar

Interpratama Mandiri, 2013), 6.

(26)

memberikan contoh, mengklarifikasi, menyimpulkan, menduga,

membandingkan dan menjelaskan.

3

2.

Jenis-Jenis Perilaku Pemahaman

Menurut Kuswana, jenis-jenis perilaku pemahaman

berdasarkan tingkat kepekaan dan derajat penyerapan materi dapat

dibagi ke dalam tiga tingkatan yaitu:

4

a.

Menerjemahkan (Translation)

Menerjemahkan diartikan sebagai pengalihan arti

dari bahasa yang satu ke dalam bahasa yang lain sesuai

dengan pemahaman yang diperoleh dari konsep tersebut.

Dapat juga diartikan dari konsepsi abstrak menjadi suatu

model simbolik untuk mempermudah orang mempelajarinya.

Dengan kata lain, menerjemahkan berarti sanggup memahami

makna yang terkandung di dalam suatu konsep. Contohnya

yaitu menerjemahkan dari bahasa Inggris kedalam bahasa

Indonesia,

mengartikan

arti

Bhineka

Tunggal

Ika,

mengartikan suatu istilah, dan lain-lain.

b.

Menafsirkan (Interpretation)

3 Wowo Sunaryo Kuswana, Taksonomi Kognitif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), 117.

(27)

Kemampuan ini lebih luas dari pada menerjemahkan,

kemampuan ini untuk mengenal dan memahami. Menafsirkan

dapat dilakukan dengan cara menghubungkan pengetahuan

yang lalu dengan pengetahuan lain yang diperoleh berikutnya.

Contohnya: menghubungkan antara grafik dengan kondisi

yang dijabarkan sebenarnya, serta membedakanyang pokok

dan tidak pokok dalam pembahasan.

c.

Mengeksplorasi (Extapolation)

Ekstrapolasi menuntut kemampuan intelektual yang

lebih tinggi karena seseorang harus bisa melihat arti lain

dari apa yang tertulis. Membuat perkiraan tentang

konsekuensi atau mempeluas presepsi dalam arti waktu,

dimensi, kasus, ataupun masalahnya

Ketiga tingkatan pemahaman terkadang sulit dibedakan,

hal ini tergantung dari isi dalam pelajaran yang dipelajari. Dalam

proses pemahaman, seseorang akan melalui ketiga tingkatan secara

(28)

3.

Indikator Pemahaman

Siswa dapat dikatakan memahami suatu materi jika

memenuhi beberapa indikator. Indikator dari pemahaman itu sendiri

yaitu:

5

a.

Mengartikan, menguraikan dengan kata-kata sendiri.

b.

Memberikan contoh, mampu memberikan contoh dari materi

yang telah dipelajarinya

c.

Mengklarifikasi, mampu mengamati atau menggambarkan

materi yang telah dipelajarinya

d.

Menyimpulkan, menulis kesimpulan pendek dari sebuah materi

e.

Menduga, mampu mengambil kesimpulan dari sebuah materi

f.

Membandingkan, mampu membandingkan sebuah materi yang

dipelajarinya.

g.

Menjelaskan, mampu menjelaskan materi yang dipelajarinya.

4.

Kriteria Pemahaman

Menurut Carin dan Sund pemahaman memiliki beberapa

kriteria yang sebagai berikut:

a.

Pemahaman merupakan kemampuan untuk menerangkan dan

menginterpretasikan sesuatu; ini berarti bahwa seseorang

yang telah memahami sesuatu atau telah memperoleh

(29)

pemahaman akan mampu menerangkan atau menjelaskan

kembali apa yang telah ia terima.

b.

Pemahaman bukan sekedar mengetahui, yang biasanya

hanya sebatas mengingat kembali pengalaman dan

memproduksi apa yang pernah dipelajari. Bagi orang yang

benar-benar telah paham ia akan mampu memberikan

gambaran, contoh, dan penjelasan yang lebih luas dan

memadai.

c.

Pemahaman lebih dari sekedar mengetahui, karena

pemahaman melibatkan proses mental yang dinamis

d.

Pemahaman merupakan suatu proses bertahap yang

masing-masing tahap mempunyai kemampuan tersendiri, seperti,

menterjemahkan, menginterpretasikan, ekstrapolasi, aplikasi,

analisis, sintesis, dan evaluasi.

6

5.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemahaman

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman sekaligus

keberhasilan belajar siswa sebagai berikut:

a.

Faktor Internal

Merupakan faktor yang bersumber dari dalam diri

peserta didik, yang mempengaruhi kemampuan belajarnya.

(30)

Faktor internal ini meliputi: kecerdasan, minat, perhatian,

motivasi belajar, ketekunan, sikap, kebiasaan belajar dann

kondisi fisik (kesehatan).

b.

Faktor Eksternal

Merupakan faktor yang berasal dari luar peserta

didik yang mempengaruhi keberhasilan belajar yaitu

keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keadaan keluarga

sangat mempengaruhi keberhasilan belajar peserta didik.

Keluarga yang broken home akan mempengaruhi perilaku

dalam kehiduapan sehari-hari peserta didik hingga

mempengaruhi hasil belajarnya

7

Menurut Dunkin sebagaimana yang dikutip oleh Wina

Sanjaya menyatakan bahwa terdapat sejumlah aspek yang dapat

mempengaruhi kualitas proses pembelajaran dilihat dari faktor guru

diantaranya:

a.

Teacher formative experience, meliputi jenis kelamin serta

semua pengalaman hidup guru yang menjadi latar belakang

sosial mereka. Yang termasuk ke dalam aspek ini

diantaranya tempat asal kelahiran guru termasuk suku, latar

belakang budaya, dan adat istiadat.

(31)

b.

Teacher training experience, meliputi pengalaman-pengalaman

yang berhubungan dengan aktivitas dan latar belakang

pendidikan guru, misalnya pengalaman latihan profesional,

tingkat pendidikan, dan pengalaman jabatan.

c.

Teacher properties, segala sesuatu yang berhubungan

dengan sifat yang dimiliki guru, misalnya sikap guru

terhadap profesinya, sikap guru terhadap siswa, kemampuan

dan intelegensi guru, motivasi dan kemampuan mereka baik

kemampuan dalam pengelolaan pembelajaran termasuk

didalamnya kemampuan dalam merencanakan dan evaluasi

pembelajaran maupun kemampuan dalam penguasaan

materi.

8

Faktor yang sebagian penyebabnya hampir sepenuhnya

tergantung pada guru, yaitu: kemampuan, suasana belajar, dan

kepribadian guru. Belajar merupakan suatu proses interaksi terhadap

semua situasi yang ada disekitar individu. Belajar dapat dipandang

sebagai proses yang diarahkan kepada tujuan dan proses berbuat

melalui berbagai pengalaman.

9

8Ibid., 14.

9 Rusman, Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru, (Jakarta Raja

(32)

B.

Pembelajaran PKn

1.

Pengertian PKn

Pendidikan kewarganegaraan berasal dari kepustakaan asing

yang memiliki dua istilah, yakni:

a.

Civic education, diartikan sebagai mata pelajaran dasar di

sekolah yang dirancang untuk mempersiapkan warga

negara agar dapat berperan aktif dalam kehidupan

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

b.

Citizenship education, pengalaman belajar di sekolah maupun

di luar sekolah. Seperti yang terjadi di lingkungan keluarga,

dalam

organisasi

keagamaan,

dalam

organisasi

kemasyarakatan, dan dalam media yang membantu untuk

menjadi warga negara seutuhnya.

Dari kedua istilah tersebut, Civic education cenderung

digunakan untuk mata pelajaran PKn di sekolah yang memiliki

tujuan membentuk warga negara yang memahami dan mampu

melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga

negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter

sesuai

dengan yang diamanatkan pancasila dan UUD 1945.

10

Menurut

Henry

Randall

Waite

merumuskan,

bahwa

Civics

adalah

10 Ali Mustafa dan Irfan Tamwifi, Materi dan Pembelajaran IPS/PKn MI, (Surabaya: LPTK IAIN

(33)

kewarganegaraan yang membicarakan hubungan manusia dengan

manusia dalam perkumpulan-perkumpulan yang terorganisir, dan

individu-individu dengan Negara.

Menurut Stanley E.Dimond berpendapat bahwa Civics adalah

Citizenship

yang mempunyai dua makna dalam aktivitas sekolah.

Pertama, kewarganegaraan termasuk kedudukan yang berkaitan

dengan hukum yang sah. Kedua, aktivitas politik dan pemilih dengan

suara terbanyak, organisasi pemerintahan, badan pemerintahan,

hukum dan tanggungjawab. Dan yang terakhir menurut Azyumardi

Azra, pendidikan kewarganegaraan,

Civics education

dikembangkan

menjadi pendidikan kewargaan yang secra substantive tidak saja

mendidik generasi muda yang mnjadi warga Negara yang cerdas dan

sadar akan hak dan kewajibannya dalam konteks kehidupan

masyarakat dan bernegara, tetapi juga membangun kesiapan warga

Negara menjadi warga dunia, global society.

11

2.

Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan

Menurut

Winarta,

tujuan

utama

Pendidikan

Kewarganegaraan adalah memberikan pengertian, pengetahuan dan

pemahaman tentang Pancasila yang benar dan sah meletakkan dan

11 Josef M Monteiro, Pendidikan Kewarganegaraan Perjuangan Membentuk Karakter Bangsa,

(34)

membentuk pola pikir yang sesuai dengan Pancasila dan ciri khas

Indonesia, menanamkan nilai-nilai moral Pancasila ke dalam anak

didik, mengubah kesadaran anak didik sebagai warga negara dan

warga masyarakat Indonesia untuk selalu mempertahankan dan

melestarikan nilai-nilai moral Pancasila terutama dalam

menghadapi arus globalisasi dalam rangka pasar bebas dunia,

memberikan motivasi agar dalam langkah bertindak dan

berperilaku sesuai dengan nilai, moral, dan norma Pancasila,

menjadi warga negara yang baik serta mencintai bangsa dan

negaranya.

12

Menurut Mentoiro tujuan pendidikan kewarganegaraan

adalah:

a.

Secara konsepsional dan kompetensif adalah mengembangkan

kemampuan

berfikir,

bersikap

rasional

dan

dinamis,

berpandangan

luas

sebagai

manusia

intelektual,

mengembangkan kesadaran bernegara untuk bela Negara

dengan perilaku cinta tanah air, mengembangkan wawasan

kebangsaan dan kesadaran berbangsa demi ketahanan nasional

yang komprehensif integral dan seluruh aspek kehidupan

nasional.

(35)

b.

Secara operasional adalah bertujuan agar peserta didik

memiliki motovasi bahwa pendidikan kewarganegaraan yang

diberikan kepada mereka berkaitan dengan peranan dan

kedudukan serta kepentingan mereka sebgai individu, anggota

keluarga, anggota masyarakat, dan sebagai warga Negara

Indonesia yang terdidik serta bertekad dan bersedia untuk

mewujudkannya.

13

3.

Manfaat Mempelajari Pendidikan Kewarganegaraan

Manfaat mempelajari Pendidikan Kewarganegaraan adalah

Pertama dapat memotivasi untuk memiliki sifat nasionalisme dan

patriotisme yang tinggi, artinya setelah mengerti peran dan keadaan

negara seharusnya menjadi warga negara yang cinta tanah air dan rela

berkorban demi bangsa dan negara. Kedua dapat memperkuat

keyakinan dalam mengamalkan Pancasila dan ideologi negara

yang terkandung di dalamnya, dapat disadari ataupun tidak dasar

negara Pancasila mempunyai nilai-nilai luhur termasuk nilai moral

kehidupan. Nilai moral tersebut seharusnya dijadikan sebagai

pedoman untuk berpikir, bersikap, dan bertingkah laku. Nilai-nilai

tersebut erat kaitannya dengan SDM atau Sumber Daya Manusia,

(36)

kualitas SDM yang rendah merupakan indikasi dari gagalnya

pendidkan kewarganegaraan.

Ketiga memiliki kesadaran dan kemampuan awal dalam

usaha bela negara, Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 pada

pasal 30 tertulis bahwa “Tiap

-tiap warga negara berhak dan wajib

ikut serta dalam usaha pembelaan negara.” dan “Syarat

-syarat

tentang pembelaan diatur dengan undang-

undang.” Jadi

sudah pasti

mau tidak mau wajib ikut serta dalam membela negara dari segala

macam ancaman, gangguan, tantangan, dan hambatan baik yang

datang dari dalam maupun yang datang dari luar.

Keempat tau akan hak dan kewajiban sebagai warga

negara, dengan begitu dapat menempatkan diri sebagai bagian

dari suatu negara, setika sudah mengerti kewajiban dan hak

sebagai warga negara maka harus menjalankannya dengan penuh

tanggung jawab sesuai peraturan.

14

4.

Fungsi Pendidikan Kewarganegaraan

a.

Sebagai wahana untuk membentuk warga Negara cerdas,

terampil dan berkarakter yang setia kepada bangsa dan Negara

Indonesia dengan merefleksikan dirinya dalam kebiasaan

14 Aa Nurdiaman, Pendidikan Kewarganegaraan Berbangsa dan Bernegara, (Jakarta: PT

(37)

berfikir dan bertindak sesuai dengan amanar pancasila UUD

Negara RI tahun 1945

b.

Sebagai media pendidikan demokrasi pancasila sekaligus

berfungsi sebagai banteng yag melindungi, memelihara dan

menjamin kelestarian jati diri dengan Indonesia

c.

Sebagai filter untuk menyaring nilai-nilai sosial budaya, baik

yang datang dari luar negeri maupun yang tumbuh dari dalam

negeri, sehingga yang cocok diserap, sementara yang

bertentangan

dengan

jati

diri

bangsa

Indonesia

ditolak/dibuang.

15

C.

Tinjauan tentang Materi

1.

Pengertian Harga Diri

Harga diri adalah penilaian individu terhadap hasil yang

dicapai, dengan cara menganalisis seberapa jauh perilaku individu

tersebut sesuai dengan ideal diri. Harga diri dapat diperoleh melalui

orang lain dan diri sendiri.

16

Menurut Blascovich & Tomaka harga

diri (self-esteem) adalah pandangan individu terhadap nilai dirinya

atau bagaimana seseorang menilai, mengakui, menghargai, atau

menyukai dirinya. Definisi self-esteem juga paling banyak dipakai

15 Josef M Monteiro, Pendidikan, 9-10.

(38)

oleh Rosenberg yang menggambarkan self-esteem sebagai suatu

sikap suka atau tidak suka terhadap diri sendiri.

17

Branden menyatakan bahwa harga diri (self-esteem) adalah

suatu aspek kepribadian yang merupakan kunci terpenting dalam

pembentukan perilaku seseorang. Karena hal ini berpengaruh pada

proses berpikir, tingkat emosi, keputusan yang diambil bahkan

pada nilai-nilai dan tujuan hidup seseorang yang memungkinkan

manusia menikmati dan menghayati kehidupan, sehingga

seseorang yang gagal memilikinya akan cenderung mengembangkan

gambaran harga diri yang semu untuk menutupi kegagalannya.

18

2.

Macam-Macam Harga Diri

Macam-macam harga diri bervariasi, dari positif ke negative.

Diantaranya adalah:

19

a.

Harga diri terlalu tinggi

Seseorang yang memiliki pandangan yang terlalu

positif dan tidak realistis mengenai diri sendiri merasa

mereka yang paling hebat. Mereka menjadi arogan dan

sombong. Mereka menjadi memanjakan diri sendiri dan

17 Lubis dan Namora, Depresi (Tinjauan Psikologi), (Jakarta: Kencana Prenada Media Group,

2009), 74.

18 Gunarsa, Dari Anak sampai Usia Lanjut: Bunga Rampai Psikologi Perkembangan, (Jakarta:

Gunung Mulia, 2009), 50.

(39)

percaya mereka berhak atas kesenangan dan apapun yang

mereka inginkan. Mereka menganggap dirinya lebih tinggi

dari yang orang lain. Kritik mengenai peningkatan harga diri

membuat seseorang memiliki gambaran diri yang narsistik

yang dikarakteristik dengan arogansi, kebanggan, dan omong

kosong.

b.

Harga diri negative

Seseorang yang memiliki self-steem negative percaya

bahwa mereka tidak berharga. Mereka tidak menghargai opini

sendiri dan merasa malu terhadap diri sendiri.

c.

Harga diri sehat

Harga diri yang sehat berada diantara kedua

ekstrem tersebut. Artinya punya pandangan yang seimbang

dan akurat. Misalnya seseorang memiliki opini yang baik

mengenai diri sendiri namun juga mengakui adanya

kekurangan. Dengan harga diri yang sehat dapat

menimbulkan pikiran yang positif mengenai kekuatan,

(40)

3.

Aspek-Aspek Harga Diri

a.

Keberadaan Diri

Perasaan berarti yang dimiliki oleh individu akan

bisa dilihat melalui perhatian dan kasih sayang yang

ditunjukkan oleh lingkungan.

b.

Kekuatan Individu

Kemampuan

individu

untuk

mempengaruhi,

mengontrol, dan mengendalikan orang lain disamping

mengendalikan dirinya sendiri.

c.

Kompetensi

Yaitu diartikan individu memiliki usaha yang tinggi

untuk meraih prestasi yang baik.

d.

Ketaatan Individu dan Kemampuan Memberi Contoh

Yaitu ketaatan individu terhadap aturan yang ada serta

tidak melakukan tindakan yang menyimpang dari norma

yang berlaku, serta mampu memberi contoh yang baik kepada

orang lain.

20

(41)

D.

Metode

Pair

Check

1.

Pengertian Metode

Pair Check

Metode pembelajaran Pair Check merupakan metode

pembelajaran berkelompok yang saling berpasangan yang

dipopulerkan oleh Spencer Kagan pada tahun 1993.

21

Metode ini

menerapkan pembelajaran kooperatif yang menuntut kemandirian

dan kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan persoalan.

Metode ini juga melatih tanggung jawab sosial peserta didik,

kerjasama, dan kemampuan memberi penilaian.

22

Pair Check

termasuk salah satu pembelajaran

Cooperative,

karena memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan pembelajaran

Cooperative yaitu:

a.

Setiap anggota memiliki peran

b.

Terjadinya hubungan interaksi langsung di antara siswa

c.

Setiap anggota kelompok bertanggungjawab atas belajarnya

dan juga teman-temann sekelompoknya.

23

d.

Guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan

interpersonal kelompok

e.

Guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan

24

21 Zainal Aqib, Model-Model, Media, dam Strategi Pembelajaran Kontekstual (INOVTIF),

(Bandung: Yrama Widya, 2013), 34.

22 Miftahul Huda, Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran , (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,

2013), 211.

(42)

2.

Langkah-Langkah Penerapan Metode

Pair Check

a.

Guru menjelaskan konsep.

b.

Peserta didik dikelompokkan ke dalam beberapa tim. Setiap tim

terdiri dari ada dua pasangan. Setiap pasangan dalam satu

tim dibebani masing-masing satu peran yang berbeda:

pelatih dan partner.

c.

Guru membagikan soal kepada partner.

d.

Partner menjawab soal dan pelatih bertugas mengecek

jawabannya. Part ner yang menjawab satu soal dengan benar,

berhak mendapatkan kupon dari pelatih

e.

Pelatih dan partner saling bertukar peran

f.

Guru membagikan soal kepada partner.

g.

Partner menjawab soal dan pelatih bertugas mengecek

jawabannya. Part ner yang menjawab satu soal dengan benar,

berhak mendapatkan kupon dari pelatih

h.

Setiap pasangan kembali ke tim awal dan mencocokkan jawaban

satu sama lain.

i.

Guru membimbing dan memberikan arahan atas jawaban

dari berbagai soal.

j.

Setiap tim mengecek jawabannya.

24 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi pada Standart Proses Pendidikan, (Jakarta:

(43)

k.

Tim yang paling banyak mendapat kupon, diberi hadiah oleh

guru.

25

3.

Kelebihan dan Kekurangan Metode

Pair Check

Setiap metode pembelajaran pasti memiliki kelebihan dan

kekurangan, begitu juga dengan metode pembelajaran

Pair Check.

kelebihan metode pembelajaran Pair Check meliputi:

a.

Meningkatkan kerjasama antar peserta didik

b.

Peer tutoring

c.

Meningkatkan pemahaman atas konsep dan atau proses

pembelajaran

d.

Melatih peserta didik berkomunikasi dengan baik dengan

teman sebangkunya.

Sementara itu, kekurangan model Pair Check meliputi:

a.

Membutuhkan waktu yang benar-benar memadai

b.

Membutuhkan kesiapan peserta didik untuk menjadi pelatih dan

partner yang jujur dan memahami soal dengan baik.

26

25 Miftahul Huda, Model-Model, 211-212.

(44)

BAB III

PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS

A.

Metode Penilitian

Metode penelitian merupakan cara atau prosedur yang

sistematis dan terorganisasi untuk menyelidiki suatu masalah tertentu

dengan maksud mendapatkan informasi untuk digunakan sebagai solusi

atau jawaban atau masalah yang diteliti.

1

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan

kelas (PTK). Dalam bahasa Inggris, PTK disebut dengan

Classroom

Action Reseach (CAR). Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu

penelitian yang dilakukan di kelas dengan tujuan

memperbaiki/meningkatkan mutu praktik pembelajaran.

2

Menurut

Suyanto, PTK adalah suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif

dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki

dan atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas.

3

Sedangkan menurut Epon Ningrum Istilah penelitian tindakan

kelas terdiri atas tiga unsur atau konsep, yakni:

4

1 Ulber Silalahi, Metode Penelitian Sosial, (Bandung: Anggota Ikapi, 2010), 12. 2 Suharsimi, Metode Penelitian Sosial. (Banding: Anggota Ikapi, 2010), 12.

3 Masnur Muslich, Melaksanakan PTK (Penelitian Tindakan Kelas) Itu Mudah (Classroom Action

Research), (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), 9.

4 Jauhar Fuad, Teori dan Praktik Penelitian Tindakan Kelas (PTK), (Tulungagung: STAIN

(45)

1.

Penelitian adalah menunjukkan pada kegiatan mencermati suatu

objek, dengan menggunakan cara dan aturan metodologi tertentu

untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam

meningkatkan mutu suatu hal yang diminati.

2.

Tindakan menunjukkan pada suatu gerak kegiatan yang sengaja

dilakukan dengan tujuan tertentu, dalam penelitian berbentuk

rangkaian siklus kegiatan untuk siswa.

3.

Kelas adalah dalam hal ini tidak terikat pada pengertian ruang

kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik, yakni

sekelompok siswa dalam waktu sama, menerima pelajaran yang

sama dari guru yang sama pula.

Alasan peneliti memilih Penelitian Tindakan kelas (PTK) sebab

penulis ingin meningkatkan kualitas pembelajaran secara khusus dalam

hal meningkatkan pemahaman

di MI Ihyaul Ulum Canga’an

Ujungpangkah Gresik. Penelitian ini didesain untuk membantu guru

mengetahui apa yang terjadi di dalam kelasnya. Informasi yang

didapatkan oleh guru ini kemudian dijadikan pertimbangan dalam

mengambil keputusan yang berkaitan dengan metode pembelajaran yang

akan diterapkan. PTK ini bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme

guru, dan peningkatan pemahaman siswa materi harga diri mata

(46)

Penelitian tindakan kelas ini menggunakan model penelitian

dari teori

Kurt Lewin. Karena di dalam model tersebut dijelaskan bahwa

ada empat hal yang harus dilakukan dalam proses penelitian tindakan,

yaitu: Perencanaan, Tindakan, Observasi, dan Refleksi.

5

Langkah-langkah dalam penggunaan PTK model

Kurt Lewin

adalah sebagai berikut:

1.

Perencanaan (Planning)

Pada tahap ini peneliti menemukan titik atau fokus

peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus, selanjutnya

membuat instrument pengamatan untuk membantu peneliti merekam

fakta atau fenomena yang terjadi selama tindakan berlangsung.

2.

Tindakan (Acting)

Tahap ke dua dalam penelitian tindakan kelas adalah

pelaksanaan, langkah ini merupakan implementasi atau penerapan isi

rencana yang telah dibuat, memberlakukan tindakan kelas. Hal yang

perlu di ingat, pada tahap ini peneliti harus berusaha mentaati apa

yang sudah dirumuskan dalam rencana tindakan yang dibuatnya

sendiri, serta harus bersikap wajar atau tindakan yang tidak

dibuat-buat (over acting)

5 Hamzah B. Uno, dkk, Menjadi Peneliti PTK yang Profesional, (Jakarta, PT Bumi Aksara,

(47)

3.

Observasi (Observing)

Istilah pengamatan dalam tahap-tahap PTK tidak bisa

disamakan dengan istilah pengamatan dalam penelitian secara umum

yang biasa dilakukan pada saat penelitian. Pada PTK tahap

pengamatan sudah mencangkup pengukuran hasil tindakan. Jika

suatu tindakan direncanakan untuk memperbaiki pemahaman siswa,

maka pada tahap ini, sebenarnya peneliti tidak hanya mengamati

tetapi juga melakukan pengukuran,

6

baik berupa instrument aktifitas

siswa dan instrument aktifitas guru.

4.

Refleksi (Reflecting)

Kegiatan menganaisis tentang hasil observasi sehingga

memunculkan program atau perencanaan baru.

7

Jika sudah diketahui

factor-faktor keberhasilan dan kekurangan atau hambatan dari

tindakan yang telah dilakukan dalam satu siklus, peneliti melakukan

rencana untuk siklus kedua, demikian seterusnya.

8

6 Fauti Subhan, Penelitian Tindakan Kelas, (Sidoarjo: Qisthos Digital Press, 2013), 86-89. 7 Wina Sanjaya, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Kencana, 2009), 50.

(48)

Hubungan keempat komponen itu dipandang sebagai satu siklus

yang digambarkan dalam skema berikut:

Gambar 3.1

Siklus PTK menurut Kurt Lewin

B.

Setting Penelitian dan Karakteristik Subjek Penelitian

1.

Setting Penelitian

Setting penelitian ini meliputi: tempat penelitian, waktu

penelitian dan siklus PTK.

a.

Tempat Penelitian

Tempat penelitian atau lokasi penelitian tindakan kelas

ini dilaksanakan di MI Ihyaul Ulu

m Canga’an Ujungpangkah

[image:48.595.141.493.174.531.2]
(49)

b.

Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada pertengahan semester

genap di tahun ajaran 2016/2017.

c.

Siklus PTK

PTK ini dilakukan melalui dua siklus, setiap siklus

dilaksanakan mengikuti prosedur yaitu perencanaan (planning),

tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi

(reflecting). Melalui kedua siklus tersebut dapat diamati

peningkatan pemahaman siswa pada materi harga diri mata

pelajaran PKn melalui metode Pair Check.

2.

Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah kelas III MI Ihyaul Ulum Canga’an

Ujungpangkah Gresik tahun ajaran 2016/2017, dengan jumlah siswa

28, siswa laki-laki berjumlah 15 dan siswa perempuan berjumlah 13.

C.

Variabel yang Diteliti

Pada penelitian ini peneliti menggunakan variabel penerapan

metode pembelajaran

Pair Check untuk meningkatkan pemahaman

materi harga diri kelas III di MI Ihyaul Ulum canga’an Ujungpangkah

Gresik. Di dalam variabel tersebut terdapat beberapa variable yaitu:

1.

Variabel Input

: Siswa kelas III MI Ihyaul Ulum Canga’an

(50)

2.

Variabel Proses : Penerapan metode pembelajaran Pair check

3.

Variable Output : Peningkatan pemahaman materi harga diri.

D.

Rencana Tindakan

Untuk mengetahui peningkatan pemahaman dengaan

menggunakan metode Pair Check, peneliti memilih metode penelitian

siklus

Kurt Lewin yang meliputi 4 pokok, yaitu: perencanaan

(Planning), pelaksanaan (acting), observasi (observing), refleksi

(reflecting).

9

Model Kurt Lewin dipilih oleh penulis karena apabila pada

awal pelaksanaan terdapat kekurangan, maka peneliti bisa mengulang

kembali dan memperbaiki pada siklus-siklus selanjutnya sampai tujuan

yang diinginkan tercapai. Jika sampai pada siklus pertama belum berhasil,

maka peneliti melanjutkan ke siklus berikutnya.

1.

Siklus I

a.

Tahap Perencanaan Tindakan

Pada tahap perencanaan ini, kegiatan yang harus dilakukan

peneliti antara lain:

1)

Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) mata

pelajaran bahasa inggris materi harga diri

2)

Menyiapkan metode pembelajaran, media yang yang

butuhkan dalam pembelajaran dan sumber belajar

(51)

3)

Menyusun Lembar Kerja siswa (alat evaluasi)

4)

Menyiapkan instrument penilaian

5)

Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati aktivitas

siswa dan guru selama pembelajaran berlangsung.

b.

Tahap pelaksanaan

Pada tahap peneliti melaksanakan pembelajaran di kelas

dengan menerapkan metode

Pair Check.

Adapun pelaksanaan

tindakan dengan menggunakan langkah-langkah yang mencangkup

kegiatan awal (pendahuluan), kegiatan inti dan kegiatan penutup.

Tabel 3.1

Rencana langkah-langkah Pelaksanaan Pembelajaran

Kegiatan

Waktu

Kegiatan awal (pendahuluan)

Guru mengucapkan salam dan menanyakan

kabar siswa.

siswa menjawab pertanyaan guru tentang

siswa yang tidak hadir pada pertemuan kali

ini. (guru mengabsen siswa)

Salah satu siswa memimpin doa.

Guru

melakukan

apersepsi

dengan

menunjukan buku, pena, tas, spidol dan tanya

jawab

a.

Kira-kira apa ada yang tau tidak harga

buku/pena/tas ini?

[image:51.595.152.511.217.700.2]
(52)

b.

Kalau begitu apa ada yang tau berapa

harga diri kalian?

Setelah

melakukan

apersepsi

guru

mrnyampaikan tujuan pembelajaran untuk

memotivasi siswa dalam belajar.

Siswa menyimak informasi dari guru

Kegiatan inti

Siswa diberikan penjelasan oleh guru tentang

materi bentuk-bentuk harga diri

Siswa

membentuk

kelompok,

setiap

kelompok terdiri dari 4 anak dan yang terdiri

dari 2 pasang (2 anak menjadi patner dan 2

anak menjadi pelatih)

Siswa mendengarkan penjelasan dari guru

langkah-langkah metode pair check

Setiap kelompok mengulas ulang materi yang

telah disampaikan guru

Guru membagikan soal kepada patner

Pasangan yang diberikan peran sebagai

pelatih mengecek jawaban patner

Patner yang menjawab satu soal dengan benar

mendapatkan kupon

Bertukar peran, yang semula menjadi pelatih

sekarang menjadi patner dan yang menjadi

patner sekarang menjadi pelatih

Setiap kelompok saling mengoreksi jawaban

Setiap pertanyaan yang jawabannya benar

(53)

diberikan kupon yang bisa ditukarkan hadiah.

Siswa

mendengarkan

penjelasan

dan

klarifikasi dari guru tentang jawaban siswa

Setiap tim mengecek jawabannya

Siswa menukarkan hadiah. (semakin banyak

kupon semakin besar hadiahnya)

Siswa

mengerjakan

tes

tulis

untuk

mengetahui

keberhasilan

dalam

proses

pembelajaran

Kegiatan penutup

Siswa dan guru melakukan tanya jawab

mengenai materi yang belum dipahami

Siswa dan guru bersama-sama membuat

kesimpulan

Mengajak siswa berdoa untuk mengakhiri

pembelajaran

Mengucapkan salam

7 menit

c.

Tahap Observasi

Pada tahap penelitian ini, kagiatan yang dilakukan oleh

peneliti adalah:

1)

Mengamati guru dalam proses pembelajaran

2)

Mengamati perilaku siswa-siswi dalam mengikuti kegiatan

pembelajaran

3)

Merekam data mengenai proses dari implementasi tindakan

(54)

4)

Melakukan wawancra kepada guru dan siswa.

d.

Tahap Refleksi

Pada tahap ini peneliti melakukan analisis dan refleksi

sebagai berkut:

1)

Memeriksa instrument penelitian

2)

Memeriksa hasil observasi

3)

Mendiskusikan dengan guru untuk mengevaluasi tndakan

yang telah dilakukan

4)

Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi

untuk digunakan pada siklus berikutnya

5)

Evaluasi siklus I, jika ternyata hasil yang diperoleh belum

berhasil maka akan dilakukan siklus selanjutnya.

2.

Siklus II

Kegiatan yang dilaksanakan pada siklus kedua

dimaksudkan sebagai perbaikan dari siklus pertama. Tahapan pada

siklus kedua identik dengan siklus pertama yaitu diawali dengan

perencanaan (planning), dilanjutkan dengan tindakan (action),

observasi (observation), dan refleksi (reflektion). Pada tahap ini

dilakukan refleksi dari siklus I ke siklus II. Selain itu juga

dilakukan diskusi dengan guru kolaborator untuk mengevaluasi

(55)

E.

Data dan Cara Pengumpulannya

1.

Data

Menurut Kuswadi data adalah kumpulan informasi yang

diperoleh dari suatu pengamatan, dapat berupa angka, lambang atau

sifat.

10

Jenis data yang akan dikumpulkan dan akan digunakan

sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau ketidakberhasilan

tindakan perbaikan pembelajaran yang dicobakan dapat bersifat

kualitatif dan kuantitatif.

11

a.

Data kualitatif

Data kualitatif adalah data yang bukan terbentuk

angka atau bilangan.

12

Adapun tang termasuk dalam data

kualitatif pada penelitian ini adalah:

1)

Profil sekolah MI

Ihyaul Ulum Canga’an Ujungpangkah

Gresik

2)

Materi yang disampaikan dalam Penelitian Tindakan

Kelas

3)

Pendekatan yang dipakai dalam Penelitian Tindakan

Kelas

10 Kuswadi, DELTA Depalan Langkah dan tujuan Alat Statistik untuk peningkatan Mutu Berbasis

Komputer, (Jakarta: Anggota IKAPI, 2004),169.

11Hamzah B. Uno, dkk, Menjadi, 89.

(56)

b.

Data kuantitatif

Data kuantitatif

Gambar

        Gambar 3.1
        Tabel 3.1
Tabel 3.3 Skala Presentase Hasil Belajar Siswa
Tabel 4.1 Data Peningkatan Hasil Tes Pemahaman Siklus I dan Siklus
+2

Referensi

Dokumen terkait

Efektivitas model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) terhadap kemampuan membaca siswa dalam mata pelajaran Bahasa Arab. Universitas

COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC) DAN MIND MAPPING TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP DITINJAU DARI KEMANDIRIAN BELAJAR PADA SISWA KELAS VIII SMP N 1

PENERAPAN METODE CIRC (COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION) UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA PEMAHAMAN SISWA SEKOLAH DASAR. Universitas Pendidikan Indonesia

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENEMUKAN IDE POKOK DALAM ARTIKEL DENGAN MODEL COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC) DAN TEKNIK CLOSE READING.. PADA PESERTA DIDIK KELAS

Skripsi dengan judul “ Penerapan Metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IV-A pada Mata Pelajaran

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Cooperative Integrated Reading And Composition (CIRC) Untuk Meingkatkan Minat Dan Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Pada Siswa Kelas IV Di

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TIPE COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC) UNTUK MENINGKATKAN RASA INGIN TAHU SISWA DALAM PEMBELAJARAN

Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) is one of the methods of cooperative learning approach that assists students to develop English language