AND COMPOSITION
(CIRC)
PADA SISWA KELAS IV MI DARUN NAJAH
KAJEKSAN TULANGAN SIDOARJO
SKRIPSI
Oleh:
RINI PURWATI
NIM. D07213031
PROGRAM STUDI PGMI
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
Pelajaran IPS Materi Masalah Sosial di Daerahnya Melalui Metode
Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) Pada Siswa
Kleas IV MI Darun Najah Kajeksan Tulangan Sidoarjo. Skripsi, Prodi
Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Sunan Ampel Surabaya,.
Pembimbing 1 Drs. Nadlir, M.Pd.I dan Pembimbing 2 Drs. H. Munawir,
M.Ag.
Latar belakang dilakukan Penelitian ini karena adanya kesulitan yang
dialami siswa kelas IV MI Darun Najah Kajeksan Tulangan Sidoarjo dalam mata
pelajaran IPS. Dibuktikan dengan prosentase belajar siswa dikelas sebelumnya
sebesar 45% siswa yang tuntas. Penyebabnya adalah mereka merasa bosan dengan
proses belajar yang monoton dan tidak menggunakan metode pembalajaran yang
bervariasi. Solusi dari permasalahan ini adalah peneliti menawarkan
menggunakan metode CIRC untuk diterapkan kepada siswa.
Tujuan dari penelitian ini yaitu 1) Untuk mengetahui penerapan metode
pembelajaran
CIRC dalam meningkatkan pemahaman siswa mata pelajaran IPS
materi masalah sosial di daerahnya pada siswa kelas IV MI Darun Najah Kajeksan
Tulangan Sidoarjo, 2) Untuk mengetahui peningkatan pemahaman siswa mata
pelajaran IPS materi masalah sosial di daerahnya pada siswa kelas IV MI darun
Najah Kajeksan Tulangan Sidoarjo dengan menggunakan metode CIRC.
Model dalam penelitian ini menggunakan model penelitian kurt lewin
yang terdiri dari 4 tahap yaitu; perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan
refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV MI Darun Najah Kajeksan
Tulangan Sidoarjo tahun pelajaran 2016-2017 dengan jumlah 25 siswa, terdiri dari
11 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Teknik pengumpulan data
menggunakan wawancara, observasi, dokumentasi, dan penilaian tes tertulis.
Hasil penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) dalam penerapan
metode
CIRC terdapat peningkatan aktivitas guru dan juga siswa disetiap
siklusnya, ini bisa dibuktikan untuk aktivitas guru pada siklus I mencapai
prosentase 81,81% (baik), sedangkan pada siklus II aktivitas guru mencapai
prosentase 89,58% (sangat baik). Aktivitas siswa pada siklus I mencapai
prosentase 82,14% (baik), sedangkan pada siklus II mencapai prosentase 87,5%
(sangat baik); 2) terdapat peningkatan pemahaman siswa pada setiap siklusnya.
Terbukti dengan nilai rata-rata siswa pada siklus I sebesar 74 Pada siklus I
mengalami peningkatan pada siklus II sebesar 88 dengan prosentase hasil belajar
sebesar 60% mengalami peningkatan pada siklus II sebesar 84%, sehingga pada
siklus II dinyatakan berhasil karena sudah mencapai indikator kinerja.
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
PERSEMBAHAN ... iii
HALAMAN MOTTO ... vii
LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI ... viii
LEMBAR PENGESAHAN TIM PENGUJI SKRIPSI ... ix
ABSTRAK ... x
KATA PENGANTAR ... xi
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR TABEL... xvii
DAFTAR GAMBAR ... xviii
DAFTAR DIAGRAM ... xix
DAFTAR LAMPIRAN ... xx
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 9
C. Tindakan yang Dipilih ... 10
E. Ruang Lingkup Penelitian ... 11
F. Signifikansi Penilitian ... 13
BAB II KAJIAN TEORI
A. Metode Pembelajaran CIRC ... 15
1. Pengertian Metode ... 15
2. Pengertian Metode CIRC ... 17
3. Tahapan Metode CIRC ... 17
4. Langkah-langkah Penerapan Metode CIRC ... 18
5. Kelebihan dan Kekurangan Metode CIRC ... 19
B. Pemahaman ... 21
1. Pengertian Pemahaman... 21
2. Tahapan-tahapan Pemahaman ... 22
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemahaman ... 24
4. Kriteria Pemahaman ... 26
5. Indikator Pemahaman ... 27
C. Pembelajaran IPS ... 28
1. Pengertian IPS ... 28
2.Tujuan Ilmu Pengetahuan Sosial ... 30
4. Nilai-nilai dalam Pembelajaran IPS ... 33
D. Tinjauan tentang Materi ... 35
1. Pengertian Masalah Sosial ... 35
2. Bentuk-bentuk Permasalahan Sosial ... 36
3. Upaya Mengatasi Permasalahan Sosial ... 38
E. Signifikasi CIRC dengan Materi Masalah Sosial di Daerahnya ... 39
BAB III PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS
A. Metode Penelitian ... 41
B. Setting Penelitian dan Karakteristik Subyek Penelitian ... 46
C. Variabel yang Diselidiki ... 48
D. Rencana Tindakan ... 49
E. Data dan Cara Pengumpulannya ... 54
F. Indikator Kinerja ... 60
G. Tim Peneliti dan Tugasnya ... 61
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian ... 62
1. Hasil Penelitian Siklus I ... 62
a. Tahap Perencanaan Tindakan ... 63
c. Tahap Observasi ... 67
d. Tahap Refleksi ... 70
2. Hasil Penelitian Siklus II ... 73
a. Tahap Perencanaan Tindakan ... 73
b. Tahap Pelaksanaan Tindakan ... 73
c. Tahap Observasi ... 79
d. Tahap Refleksi ... 81
B. Pembahasan ... 82
BAB V PENUTUP
A. Simpulan ... 90
B. Saran ... 91
DAFTAR PUSTAKA ... 93
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... 96
RIWAYAT HIDUP ... 97
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlakukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
1Dalam upaya merealisasikan cita-cita tersebut secara menyeluruh dan
serentak, terbentuklah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional.
Pendidikan Nasional merupakan pendidikan yang berdasarkan pancasila
dan Undang-Undang dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, sehingga
Pendidikaan
Nasional
berfungsi
mengembangkan
kemampuan
dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
2Untuk mencapai tujuan Pendidikan Nasional tersebut yang berprinsip
pada sifat demokrasi, berkeadilan, tidak diskriminatif dan mengembangkan
kreatifitas peserta didik dalam proses pembelajaran maka pemerintah telah
menetapkan Standar Nasional Pendidikan yang dimuat dalam Peraturan
Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 yang digunakan sebagai acuan dalam
melaksanakan proses pendidikan secara nasional baik pengelolaan,
pengembangan, maupun pembiayaannya.
3Terlihat upaya pemerintah untuk
mewujudkan cita-cita besar bangsa Indonesia dalam mencerdaskan kehidupan
Bangsa.
Pada kenyataannya yang dijumpai di lapangan, untuk mencapai hal
tersebut, dunia pendidikan kita masih dihadapkan dengan kendala lemahnya
proses pembelajaran. Selama ini pendidikan kita hanya terpaku pada apa yang
ada di dalam buku. Padahal dengan adanya proses itulah makna pendidikan
dapat benar-benar dirasakan. Sehingga yang terjadi dalam pendidikan bukan
hanya sekedar transfer ilmu antara guru dengan siswa, melainkan
pembentukan karakter, akhlak, dan moral siswa.
Proses pembelajaran diawali dengan interaksi positif antara guru dan
siswa sangat menentukan keberhasilan belajar. Namun yang terjadi di
sekolah, dalam menyampaikan materi guru lebih sering menggunakan strategi
Direct Instruction yang artinya proses pembelajaran berpusat pada guru atau
2
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional & Undang-undang
No.14 th 2005 tentang Guru & dosen,
(Jakarta: VisiMedia, 2007), 4.
teacher centered. Sehingga siswa tidak mendapatkan kesempatan untuk
mengembangkan ide-ide kreatif dan menemukan alternatif pemecahan suatu
masalah, melainkan mereka menjadi siswa yang bergantung pada guru. Pada
akhirnya siswa hanya mengahafalkan saja semua konsep tanpa memahami
maknanya. Hal ini menjadikan siswa muncul sebagai pribadi yang pandai
secara teoritis dan miskin aplikasi. Contohnya sebagian besar siswa belajar d
dalam kelas saja, padahal pembelajaran di luar kelas sangat penting bagi
siswa, dengan begitu siswa akan dapat menemukan pengetahuan sendiri
dalam proses belajarnya.
Pembelajaran yang baik memperhatikan tujuan, karakteristik siswa,
materi yang diajarkan, dan sumber belajar yang tersedia. Pada kenyataannya
masih banyak dijumpai di lapangan proses pembelajaran yang kurang sesuai
dengan acuan yang tercantum dalam permendiknas, proses belajar yang tidak
efisien dan kurang inovatif, bahkan cenderung membosankan. Sehingga hasil
belajar yang dicapai juga tidak maksimal.
Mata Pelajaran IPS ditingkat sekolah pada dasarnya bertujuan untuk
mempersiapkan peserta didik sebagai warga negara yang menguasai
pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), sikap dan nilai (attitudes and
values) yang dapat digunakan sebagai kemampuan untuk memecahkan
dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan masyarakat agar menjadi warga
negara yang baik.
4IPS tidak hanya mata pelajaran yang disampaikan dalam bentuk
penyederhanaan ilmu-ilmu sosial tetapi sebagai suatu internalisasi nilai-nilai
budaya bangsa, pembinaan karakter bangsa, membina persatuan dan kesatuan
bangsa, lebih dari itu IPS memiliki nilai untuk menyiapkan siswa menghadapi
tantangan kehidupan.
5Dari pemaparan diatas, maka mata pelajaran IPS
dianggap penting untuk dipelajari di jenjang sekolah dasar sebagai dasar
pembinaan karakter siswa.
Untuk dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam memahami materi
yang terdapat dalam mata pelajaran IPS guru harus mampu merancang
pembelajaran dengan membuat RPP yang proses belajarnya bervariatif dan
dapat mengaktifkan siswa, sehingga siswa dapat dengan mudah menerima
dan memahami materi yang sudah dipelajari. Untuk memahamkan pelajaran
ke siswa memang tidaklah mudah, apalagi dengan kemampuan siswa yang
berbeda-beda. Guru harus memberikan penjelasan dan memberikan contoh
yang kongkrit dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
Proses pembelajaran dapat dikatakan berhasil apabila timbul perubahan
tingkah laku positif pada siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang
ditetapkan sebelumnya. Siswa yang terlibat dalam proses belajar mengajar
4
Sapriya,
Pendidikan IPS
, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), 12.
diharapkan mengalami perubahan baik dalam bidang sikap, pengetahuan dan
keterampilan. Keberhasilan dalam proses belajar mengajar di sekolah
melibatkan beberapa faktor yaitu kurikulum, sarana dan prasarana, guru,
siswa, serta model pembelajaran. Proses pembelajaran yang berjalan dengan
baik berkeyakinan dapat memberikan dampak yang positif yaitu dapat
memahamkan siswa secara maksimal.
Berdasarkan hasil wawancara di MI Darun Najah Kajeksan Tulangan
Sidoarjo menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang sering dilaksanakan
oleh guru dalam menyajikan pembelajaran IPS kurang variatif dalam memilih
metode/teknik yang digunakan. Karena hal tersebut maka berdampak pada
gaya
belajar
siswa,
siswa
tidak
terbiasa
dengan
penerapan
model/metode/strategi pembelajaran yang bervariasi. Karena hal tersebut,
maka dalam proses pembelajaran siswa tidak dapat aktif dan tidak dapat
mengembangkan ide-ide kreatifnya secara utuh, siswa juga merasa bosan
karena proses pembelajaran yang tidak dikemas secara inovatif, sehingga hal
ini mengakibatkan pemahaman siswa yang menjadi kurang maksimal.
6Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan oleh peneliti, pada
proses pembelajaran IPS proses pembelajaran tidak sesuai dengan RPP yang
dibuat, terlihat guru menggunakan metode konvensional dan siswa lebih
banyak mendengarkan, selain itu siswa juga lebih banyak mengerjakan
soal yang ada di LKS dengan melihat bacaan. Sehingga pemebelajaran
bersifat
teacher center, yang artinya guru lebih dominan dan siswa lebih
banyak menerima pengetahuan baru dan penjelasan dari guru tanpa mencari
tahu sendiri. Maka proses pembelajaran yang seharusnya dilakukan adalah
proses belajar yang berpusat pada siswa atau sering disebut dengan
student
center, dengan begitu siswa akan lebih aktif dan dapat mengembangkan
ide-ide kreatifnya dan siswa juga dapat belajar dengan menyenangkan.
7Proses pembelajaran siswa yang kurang inovatif berdampak pada
semangat siswa dan antusias siswa untuk mengikuti proses belajar, hal
tersebut berakibat pada tingkat pemahaman siswa yang rendah. Dilihat dari
hasil ulangan harian siswa kelas IV MI Darun Najah pada mata pelajaran IPS
yang seharusnya memenuhi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang harus
dicapai siswa adalah 77, pada kelas IV terdahulu dalam satu kelas pada materi
masalah sosial di daerahnya yang mampu mencapai KKM hanya 45%,
sedangkan sisanya yaitu 65% siswa masih belum dapat memenuhi KKM.
Maka peneliti mempunyai keinginan untuk melakukan penelitian tindakan
kelas untuk meneliti pemahaman siswa.
8Berdasarkan permasalahan yang terjadi maka peneliti memberikan
solusi supaya pemahaman siswa dapat meningkat dan siswa lebih aktif dalam
7
Hasil Obsevasi Proses Pembelajaran IPS di Kelas IV MI Darun Najah Kajeksan Tulangan
Sidoarjo, Kajeksan 05 Januari 2017.
proses pembelajaran yaitu dengan menggunakan metode pembelajaran yang
inovatif. Harold dan Lowell Kelly dalam buku psikologi Belajar Karya
Oemar Hamalik mengemukakan bahwa perlu adanya menggabungkan metode
belajar antara lain dengan menggabungkan metode diskusi dengan metode
lainnya agar siswa lebih tertarik dengan proses pembelajaran dan diharapkan
dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
9Berkaca dari hal tersebut, penulis berinisiatif menawarkan metode
pembelajaran
Cooperative Integrated Reading And Composition (CIRC)
untuk diterapkan di kelas IV MI Darun Najah. Metode pembelajaran
CIRC
(Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis)
merupakan metode
pembelajaran terpadu yang cocok dengan mata pelajaran IPS yang juga
merupakan salah satu mata pelajaran terpadu ditingkat sekolah dasar. Pada
metode pembelajaran
CIRC setiap siswa bertanggung jawab terhadap tugas
kelompoknya. Setiap anggota kelompok saling mengeluarkan ide-ide untuk
memahami suatu konsep dan menyelesaikan tugas (task), sehingga terbentuk
pemahaman yang dan pengalaman belajar yang lama. Metode ini bersifat
kooperatif sehingga dapat meningkatkan kerjasama antar siswa, mampu
mendidik siswa untuk berinteraksi sosial dengan lingkungan. Selain itu,
semua siswa dibimbing dan diarahkan untuk aktif dan kreatif sehingga waktu
pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien.
Metode
pembelajaran
Cooperative
Intregated
Reading
and
Composition (CIRC)
ini merupakan suatu program komprehensip atau luas
dan lengkap untuk pengajaran membaca dan menulis untuk kelas-kelas tinggi
sekolah dasar, siswa bekerja dalam tim belajar kooperatif beranggotakan
empat orang secara heterogen. Mereka terlibat dalam sebuah rangkaian
kegiatan beranggotakan bersama, termasuk saling membacakan satu dengan
yang lain, membuat prediksi tentang bagaimana cerita naratif akan muncul,
saling membuatkan ikhtisar satu dengan yang lain, memberi tanggapan, dan
berlatih, pengejaan serta pemberdayaan kata, mereka juga bekerjasama untuk
memahami ide pokok dan keterampilan pemahaman yang lain.
10Penelitian dengan menggunakan metode
Cooperative Integrated
Reading And Composition (CIRC)
sudah
pernah dilakukan.
Peneliti
menemukan hasil penelitian dengan menggunakan metode
Cooperative
Integrated Reading And Composition (CIRC),
yaitu penelitian yang
dilakukan oleh Siti Muslimah dengan judul
“
KORELASI MODEL
PEMBELAJARAN
KOOPERATIF
TIPE
CIRC
(COOPERATIVE
INTEGRATED READING AND COMPOSITION) TERHADAP HASIL
BELAJAR SISWA PADA POKOK BAHASAN AL-QUR'AN HADITS DI
MTs NURUL FATAH GEDANGA
N SIDAYU GRESIK.”
Dalam penelitian ini, Penerapan Model Pembelajaran CIRC di MTS
Nurul Fatah Gedangan Sidayu adalah cukup baik dengan perolehan
prosentase hasil 72% dari 86 responden frekuensi sebanyak 62. Hasil belajar
siswa juga dapat meningkat dari sebelumnya dan berlangsung dengan cukup
baik dengan hasil 64% dari 86 responden dengan frekuensi sebanyak 55.
Maka dapat dikatakan bahwa pengaruh penerapan model pembelajaran CIRC
terhadap hasil belajar siswa di MTs Nurul Fatah Gedangan Sidayu Gresik
dalah tinggi.
11Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dalam Penelitian
Tindakan Kelas ini peneliti memilih judul
“Peningkatan Pemahaman Mata
Pelajaran IPS Materi Masalah Sosial di Daerahnya Melalui Metode
Cooperative Integrated Reading And Composition (CIRC) Pada Siswa
Kelas IV MI Darun Najah Kajeksan Tulangan Sidoarjo”.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka peneliti merumuskan
masalah seperti berikut:
1.
Bagaimana penerapan Metode Pembelajaran
Cooperative
Integrated
Reading And Composition (CIRC)
untuk meningkatkan pemahaman
11
Siti Muslimah, “
materi masalah sosial di daerahnya mata pelajaran IPS pada siswa kelas
IV MI Darun Najah Kajeksan Tulangan Sidoarjo?
2.
Bagaimana peningkatan pemahaman materi masalah sosial di daerahnya
mata pelajaran IPS melalui metode pembelajaran Cooperative Integrated
Reading And Composition (CIRC) pada siswa kelas IV MI Darun Najah
Kajeksan Tulangan Sidoarjo?
C.
Tindakan yang Dipilih
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah diuraikan,
tindakan yang dipih oleh peneliti untuk meningkatkan pemahaman siswa pada
mata pelajaran IPS materi masalah sosial di daerahnya kelas IV MI Darun
Najah Kajeksan Tulangan Sidoarjo adalah menggunakan
metode
pembelajaran
Cooperative Integrated Reading And Composition (CIRC).
Metode
Cooperative
Integrated Reading And Composition (CIRC)
merupakan metode pembelajaran yang mampu menjadikan gaya belajar siswa
menjadi lebih bermakna, siswa dapat lebih aktif dalam proses pembelajaran,
siswa berkesempatan untuk menentukan konsep dengan cara memecahkan
masalah sendiri, siswa juga mempunyai kesempatan untuk mengembangkan
kreatifitas berkomunikasi dengan teman satu kelompoknya maupun teman
dari kelompok lain. Selain itu, dari diterapkannya metode
Cooperative
kemampuan membaca, berkomunikasi, percaya diri, bekerja sama, dan siswa
juga dapat meningkatkan kemampuan berfikir kritisnya.
D.
Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan di muka, maka
tujuan Penelitian Tindak Kelas (PTK) ini adalah:
1.
Untuk mengetahui penerapan metode pembelajaran
Cooperative
Integrated Reading And Composition (CIRC)
untuk meningkatkan
pemahaman siswa materi masalah sosial di daerahnya mata pelajaran IPS
pada siswa kelas IV MI Darun Najah Kajeksan Tulangan Sidoarjo.
2.
Untuk mengetahui peningkatan pemahaman materi Masalah Sosial di
Daerahnya melalui metode
Cooperative
Integrated Reading And
Composition (CIRC)
pada siswa kelas IV MI Darun Najah Kajeksan
Tulangan Sidoarjo.
E.
Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini meliputi:
1.
Penerapan metode
Cooperative
Integrated Reading And Composition
(CIRC)
untuk meningkatkan pemahaman mata pelajaran IPS materi
masalah sosial di daerahnya pada kelas IV MI Darun Najah Kajeksan
Tulangan Sidoarjo. Sintaks metode pembelajaran CIRC adalah:
bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar, siswa bekerja sama
(membaca bergantian, menemukan kata kunci, memberikan tanggapan)
terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya, presentasi
hasil kelompok, refleksi.
12Yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
peneliti berharap agar metode pembelajaran CIRC dapat diterapkan pada
proses pembelajaran IPS materi masalah sosial di daerahnya, serta mampu
meningkatkan pemahaman siswa kelas IV MI Darun Najah.
2.
Pemahaman materi masalah sosial di daerahnya yang diperoleh siswa
pada mata pelajaran IPS.
Adapun Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), dan
Indikatornya adalah sebagai berikut:
SK
:
2. Mengenal sumber daya alam, kegiatan ekonomi dan kemajuan
teknologi di lingkungan kabupaten/kota dan provinsi.
KD
:
2.4 Mengenal Permasalahan Sosial di Daerahnya.
Indikator
:
2.4.1
Menjelaskan masalah sosial di daerahnya
2.4.2
Membedakan permasalahan sosial dan yang bukan permasalahan
sosial
2.4.3
Memberikan contoh bentuk-bentuk permasalahan sosial di
daerahnya beserta upaya mengatasinya
F.
Signifikasi Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian diatas, maka signifikasi penelitian
tindakan kelas ini sebagai berikut:
1.
Bagi peserta didik
Dengan menerapkan metode
(CIRC)
dapat memberikan suasana
belajar yang baru dan menyenangkan untuk meningkatkan gairah belajar
siswa, selain itu dalam proses pembelajaran siswa akan lebih aktif, siswa
akan dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi yang lebih baik
dengan teman satu kelompoknya maupun dengan teman dikelompok lain.
siswa juga dapat memunculkan ide-ide kreatif dan mampu berpikir kritis.
Dari proses pembelajaran, maka pemahaman siswa terhadap materi dapat
lebih optimal dibandingkan dengan proses belajar yang hanya mengacu
pada penjelasan guru.
2.
Bagi guru mata pelajaran IPS
Hasil penelitian tindak kelas (PTK) ini dapat menjadi masukan,
menambah wawasan dan pengalaman serta memperkaya alternatif pilihan
metode (CIRC) untuk diterapkan maupun dikombinasikan dengan metode
lain untuk peningkatan pemahaman siswa dan untuk peningkatan kualitas
3.
Bagi sekolah
PTK ini dapat bermanfaat untuk menambahkan pengetahuan tentang
metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran
untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Selain itu juga
dapat meningkatkan kredibilitas dan kualitas sekolah.
4.
Bagi peneliti
Sebagai pengalaman, masukan, dan refeleksi peneliti ketika
menjadi tenaga pendidik dalam melakukan PTK untuk memilih dan
menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan mata pelajaran
dan kebutuhan siswa serta memberikan semangat untuk berpartisipasi
BAB II
KAJIAN TEORI
A.
Pemahaman
1.
Pengertian Pemahaman
Pemahaman menurut Bloom diartikan sebagai
kemampuan untuk menyerap arti dari materi atau bahan yang
dipelajari. Pemahaman menurut Bloom ini adalah seberapa besar
siswa mampu menerima, menyerap, dan memahami pelajaran
yang diberikan oleh guru kepada siswa, atau sejauh mana siswa
dapat memahami serta mengerti apa yang ia baca, yang dilihat, yang
dialami, atau yang ia rasakan berupa hasil penelitian atau
observasi langsung yang ia lakukan.
1Pemahaman juga diartikan kemampuan untuk menangkap
arti suatu bahan yang telah dipelajari yang terlihat seperti dalam
kemampuan seseorang menafsirkan informasi, meramalkan akibat
suatu peristiwa, dan kemampuan lain yang sejenis.
2Kata kerja
operasional yang digunakan dalam rumusan tujuan instruksional
khusus untuk jenjang pemahaman, diantaranya: mengartikan,
1 Ahmad Susanto, Teori Belajar & Pembelajaran di Sekolah Dasar, (Jakarta: PT Fajar
Interpratama Mandiri, 2013), 6.
memberikan contoh, mengklarifikasi, menyimpulkan, menduga,
membandingkan dan menjelaskan.
32.
Jenis-Jenis Perilaku Pemahaman
Menurut Kuswana, jenis-jenis perilaku pemahaman
berdasarkan tingkat kepekaan dan derajat penyerapan materi dapat
dibagi ke dalam tiga tingkatan yaitu:
4a.
Menerjemahkan (Translation)
Menerjemahkan diartikan sebagai pengalihan arti
dari bahasa yang satu ke dalam bahasa yang lain sesuai
dengan pemahaman yang diperoleh dari konsep tersebut.
Dapat juga diartikan dari konsepsi abstrak menjadi suatu
model simbolik untuk mempermudah orang mempelajarinya.
Dengan kata lain, menerjemahkan berarti sanggup memahami
makna yang terkandung di dalam suatu konsep. Contohnya
yaitu menerjemahkan dari bahasa Inggris kedalam bahasa
Indonesia,
mengartikan
arti
Bhineka
Tunggal
Ika,
mengartikan suatu istilah, dan lain-lain.
b.
Menafsirkan (Interpretation)
3 Wowo Sunaryo Kuswana, Taksonomi Kognitif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), 117.
Kemampuan ini lebih luas dari pada menerjemahkan,
kemampuan ini untuk mengenal dan memahami. Menafsirkan
dapat dilakukan dengan cara menghubungkan pengetahuan
yang lalu dengan pengetahuan lain yang diperoleh berikutnya.
Contohnya: menghubungkan antara grafik dengan kondisi
yang dijabarkan sebenarnya, serta membedakanyang pokok
dan tidak pokok dalam pembahasan.
c.
Mengeksplorasi (Extapolation)
Ekstrapolasi menuntut kemampuan intelektual yang
lebih tinggi karena seseorang harus bisa melihat arti lain
dari apa yang tertulis. Membuat perkiraan tentang
konsekuensi atau mempeluas presepsi dalam arti waktu,
dimensi, kasus, ataupun masalahnya
Ketiga tingkatan pemahaman terkadang sulit dibedakan,
hal ini tergantung dari isi dalam pelajaran yang dipelajari. Dalam
proses pemahaman, seseorang akan melalui ketiga tingkatan secara
3.
Indikator Pemahaman
Siswa dapat dikatakan memahami suatu materi jika
memenuhi beberapa indikator. Indikator dari pemahaman itu sendiri
yaitu:
5a.
Mengartikan, menguraikan dengan kata-kata sendiri.
b.
Memberikan contoh, mampu memberikan contoh dari materi
yang telah dipelajarinya
c.
Mengklarifikasi, mampu mengamati atau menggambarkan
materi yang telah dipelajarinya
d.
Menyimpulkan, menulis kesimpulan pendek dari sebuah materi
e.
Menduga, mampu mengambil kesimpulan dari sebuah materi
f.
Membandingkan, mampu membandingkan sebuah materi yang
dipelajarinya.
g.
Menjelaskan, mampu menjelaskan materi yang dipelajarinya.
4.
Kriteria Pemahaman
Menurut Carin dan Sund pemahaman memiliki beberapa
kriteria yang sebagai berikut:
a.
Pemahaman merupakan kemampuan untuk menerangkan dan
menginterpretasikan sesuatu; ini berarti bahwa seseorang
yang telah memahami sesuatu atau telah memperoleh
pemahaman akan mampu menerangkan atau menjelaskan
kembali apa yang telah ia terima.
b.
Pemahaman bukan sekedar mengetahui, yang biasanya
hanya sebatas mengingat kembali pengalaman dan
memproduksi apa yang pernah dipelajari. Bagi orang yang
benar-benar telah paham ia akan mampu memberikan
gambaran, contoh, dan penjelasan yang lebih luas dan
memadai.
c.
Pemahaman lebih dari sekedar mengetahui, karena
pemahaman melibatkan proses mental yang dinamis
d.
Pemahaman merupakan suatu proses bertahap yang
masing-masing tahap mempunyai kemampuan tersendiri, seperti,
menterjemahkan, menginterpretasikan, ekstrapolasi, aplikasi,
analisis, sintesis, dan evaluasi.
65.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemahaman
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman sekaligus
keberhasilan belajar siswa sebagai berikut:
a.
Faktor Internal
Merupakan faktor yang bersumber dari dalam diri
peserta didik, yang mempengaruhi kemampuan belajarnya.
Faktor internal ini meliputi: kecerdasan, minat, perhatian,
motivasi belajar, ketekunan, sikap, kebiasaan belajar dann
kondisi fisik (kesehatan).
b.
Faktor Eksternal
Merupakan faktor yang berasal dari luar peserta
didik yang mempengaruhi keberhasilan belajar yaitu
keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keadaan keluarga
sangat mempengaruhi keberhasilan belajar peserta didik.
Keluarga yang broken home akan mempengaruhi perilaku
dalam kehiduapan sehari-hari peserta didik hingga
mempengaruhi hasil belajarnya
7Menurut Dunkin sebagaimana yang dikutip oleh Wina
Sanjaya menyatakan bahwa terdapat sejumlah aspek yang dapat
mempengaruhi kualitas proses pembelajaran dilihat dari faktor guru
diantaranya:
a.
Teacher formative experience, meliputi jenis kelamin serta
semua pengalaman hidup guru yang menjadi latar belakang
sosial mereka. Yang termasuk ke dalam aspek ini
diantaranya tempat asal kelahiran guru termasuk suku, latar
belakang budaya, dan adat istiadat.
b.
Teacher training experience, meliputi pengalaman-pengalaman
yang berhubungan dengan aktivitas dan latar belakang
pendidikan guru, misalnya pengalaman latihan profesional,
tingkat pendidikan, dan pengalaman jabatan.
c.
Teacher properties, segala sesuatu yang berhubungan
dengan sifat yang dimiliki guru, misalnya sikap guru
terhadap profesinya, sikap guru terhadap siswa, kemampuan
dan intelegensi guru, motivasi dan kemampuan mereka baik
kemampuan dalam pengelolaan pembelajaran termasuk
didalamnya kemampuan dalam merencanakan dan evaluasi
pembelajaran maupun kemampuan dalam penguasaan
materi.
8Faktor yang sebagian penyebabnya hampir sepenuhnya
tergantung pada guru, yaitu: kemampuan, suasana belajar, dan
kepribadian guru. Belajar merupakan suatu proses interaksi terhadap
semua situasi yang ada disekitar individu. Belajar dapat dipandang
sebagai proses yang diarahkan kepada tujuan dan proses berbuat
melalui berbagai pengalaman.
98Ibid., 14.
9 Rusman, Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru, (Jakarta Raja
B.
Pembelajaran PKn
1.
Pengertian PKn
Pendidikan kewarganegaraan berasal dari kepustakaan asing
yang memiliki dua istilah, yakni:
a.
Civic education, diartikan sebagai mata pelajaran dasar di
sekolah yang dirancang untuk mempersiapkan warga
negara agar dapat berperan aktif dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
b.
Citizenship education, pengalaman belajar di sekolah maupun
di luar sekolah. Seperti yang terjadi di lingkungan keluarga,
dalam
organisasi
keagamaan,
dalam
organisasi
kemasyarakatan, dan dalam media yang membantu untuk
menjadi warga negara seutuhnya.
Dari kedua istilah tersebut, Civic education cenderung
digunakan untuk mata pelajaran PKn di sekolah yang memiliki
tujuan membentuk warga negara yang memahami dan mampu
melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga
negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter
sesuai
dengan yang diamanatkan pancasila dan UUD 1945.
10Menurut
Henry
Randall
Waite
merumuskan,
bahwa
Civics
adalah
10 Ali Mustafa dan Irfan Tamwifi, Materi dan Pembelajaran IPS/PKn MI, (Surabaya: LPTK IAIN
kewarganegaraan yang membicarakan hubungan manusia dengan
manusia dalam perkumpulan-perkumpulan yang terorganisir, dan
individu-individu dengan Negara.
Menurut Stanley E.Dimond berpendapat bahwa Civics adalah
Citizenship
yang mempunyai dua makna dalam aktivitas sekolah.
Pertama, kewarganegaraan termasuk kedudukan yang berkaitan
dengan hukum yang sah. Kedua, aktivitas politik dan pemilih dengan
suara terbanyak, organisasi pemerintahan, badan pemerintahan,
hukum dan tanggungjawab. Dan yang terakhir menurut Azyumardi
Azra, pendidikan kewarganegaraan,
Civics education
dikembangkan
menjadi pendidikan kewargaan yang secra substantive tidak saja
mendidik generasi muda yang mnjadi warga Negara yang cerdas dan
sadar akan hak dan kewajibannya dalam konteks kehidupan
masyarakat dan bernegara, tetapi juga membangun kesiapan warga
Negara menjadi warga dunia, global society.
112.
Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan
Menurut
Winarta,
tujuan
utama
Pendidikan
Kewarganegaraan adalah memberikan pengertian, pengetahuan dan
pemahaman tentang Pancasila yang benar dan sah meletakkan dan
11 Josef M Monteiro, Pendidikan Kewarganegaraan Perjuangan Membentuk Karakter Bangsa,
membentuk pola pikir yang sesuai dengan Pancasila dan ciri khas
Indonesia, menanamkan nilai-nilai moral Pancasila ke dalam anak
didik, mengubah kesadaran anak didik sebagai warga negara dan
warga masyarakat Indonesia untuk selalu mempertahankan dan
melestarikan nilai-nilai moral Pancasila terutama dalam
menghadapi arus globalisasi dalam rangka pasar bebas dunia,
memberikan motivasi agar dalam langkah bertindak dan
berperilaku sesuai dengan nilai, moral, dan norma Pancasila,
menjadi warga negara yang baik serta mencintai bangsa dan
negaranya.
12Menurut Mentoiro tujuan pendidikan kewarganegaraan
adalah:
a.
Secara konsepsional dan kompetensif adalah mengembangkan
kemampuan
berfikir,
bersikap
rasional
dan
dinamis,
berpandangan
luas
sebagai
manusia
intelektual,
mengembangkan kesadaran bernegara untuk bela Negara
dengan perilaku cinta tanah air, mengembangkan wawasan
kebangsaan dan kesadaran berbangsa demi ketahanan nasional
yang komprehensif integral dan seluruh aspek kehidupan
nasional.
b.
Secara operasional adalah bertujuan agar peserta didik
memiliki motovasi bahwa pendidikan kewarganegaraan yang
diberikan kepada mereka berkaitan dengan peranan dan
kedudukan serta kepentingan mereka sebgai individu, anggota
keluarga, anggota masyarakat, dan sebagai warga Negara
Indonesia yang terdidik serta bertekad dan bersedia untuk
mewujudkannya.
133.
Manfaat Mempelajari Pendidikan Kewarganegaraan
Manfaat mempelajari Pendidikan Kewarganegaraan adalah
Pertama dapat memotivasi untuk memiliki sifat nasionalisme dan
patriotisme yang tinggi, artinya setelah mengerti peran dan keadaan
negara seharusnya menjadi warga negara yang cinta tanah air dan rela
berkorban demi bangsa dan negara. Kedua dapat memperkuat
keyakinan dalam mengamalkan Pancasila dan ideologi negara
yang terkandung di dalamnya, dapat disadari ataupun tidak dasar
negara Pancasila mempunyai nilai-nilai luhur termasuk nilai moral
kehidupan. Nilai moral tersebut seharusnya dijadikan sebagai
pedoman untuk berpikir, bersikap, dan bertingkah laku. Nilai-nilai
tersebut erat kaitannya dengan SDM atau Sumber Daya Manusia,
kualitas SDM yang rendah merupakan indikasi dari gagalnya
pendidkan kewarganegaraan.
Ketiga memiliki kesadaran dan kemampuan awal dalam
usaha bela negara, Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 pada
pasal 30 tertulis bahwa “Tiap
-tiap warga negara berhak dan wajib
ikut serta dalam usaha pembelaan negara.” dan “Syarat
-syarat
tentang pembelaan diatur dengan undang-
undang.” Jadi
sudah pasti
mau tidak mau wajib ikut serta dalam membela negara dari segala
macam ancaman, gangguan, tantangan, dan hambatan baik yang
datang dari dalam maupun yang datang dari luar.
Keempat tau akan hak dan kewajiban sebagai warga
negara, dengan begitu dapat menempatkan diri sebagai bagian
dari suatu negara, setika sudah mengerti kewajiban dan hak
sebagai warga negara maka harus menjalankannya dengan penuh
tanggung jawab sesuai peraturan.
144.
Fungsi Pendidikan Kewarganegaraan
a.
Sebagai wahana untuk membentuk warga Negara cerdas,
terampil dan berkarakter yang setia kepada bangsa dan Negara
Indonesia dengan merefleksikan dirinya dalam kebiasaan
14 Aa Nurdiaman, Pendidikan Kewarganegaraan Berbangsa dan Bernegara, (Jakarta: PT
berfikir dan bertindak sesuai dengan amanar pancasila UUD
Negara RI tahun 1945
b.
Sebagai media pendidikan demokrasi pancasila sekaligus
berfungsi sebagai banteng yag melindungi, memelihara dan
menjamin kelestarian jati diri dengan Indonesia
c.
Sebagai filter untuk menyaring nilai-nilai sosial budaya, baik
yang datang dari luar negeri maupun yang tumbuh dari dalam
negeri, sehingga yang cocok diserap, sementara yang
bertentangan
dengan
jati
diri
bangsa
Indonesia
ditolak/dibuang.
15C.
Tinjauan tentang Materi
1.
Pengertian Harga Diri
Harga diri adalah penilaian individu terhadap hasil yang
dicapai, dengan cara menganalisis seberapa jauh perilaku individu
tersebut sesuai dengan ideal diri. Harga diri dapat diperoleh melalui
orang lain dan diri sendiri.
16Menurut Blascovich & Tomaka harga
diri (self-esteem) adalah pandangan individu terhadap nilai dirinya
atau bagaimana seseorang menilai, mengakui, menghargai, atau
menyukai dirinya. Definisi self-esteem juga paling banyak dipakai
15 Josef M Monteiro, Pendidikan, 9-10.
oleh Rosenberg yang menggambarkan self-esteem sebagai suatu
sikap suka atau tidak suka terhadap diri sendiri.
17Branden menyatakan bahwa harga diri (self-esteem) adalah
suatu aspek kepribadian yang merupakan kunci terpenting dalam
pembentukan perilaku seseorang. Karena hal ini berpengaruh pada
proses berpikir, tingkat emosi, keputusan yang diambil bahkan
pada nilai-nilai dan tujuan hidup seseorang yang memungkinkan
manusia menikmati dan menghayati kehidupan, sehingga
seseorang yang gagal memilikinya akan cenderung mengembangkan
gambaran harga diri yang semu untuk menutupi kegagalannya.
182.
Macam-Macam Harga Diri
Macam-macam harga diri bervariasi, dari positif ke negative.
Diantaranya adalah:
19a.
Harga diri terlalu tinggi
Seseorang yang memiliki pandangan yang terlalu
positif dan tidak realistis mengenai diri sendiri merasa
mereka yang paling hebat. Mereka menjadi arogan dan
sombong. Mereka menjadi memanjakan diri sendiri dan
17 Lubis dan Namora, Depresi (Tinjauan Psikologi), (Jakarta: Kencana Prenada Media Group,
2009), 74.
18 Gunarsa, Dari Anak sampai Usia Lanjut: Bunga Rampai Psikologi Perkembangan, (Jakarta:
Gunung Mulia, 2009), 50.
percaya mereka berhak atas kesenangan dan apapun yang
mereka inginkan. Mereka menganggap dirinya lebih tinggi
dari yang orang lain. Kritik mengenai peningkatan harga diri
membuat seseorang memiliki gambaran diri yang narsistik
yang dikarakteristik dengan arogansi, kebanggan, dan omong
kosong.
b.
Harga diri negative
Seseorang yang memiliki self-steem negative percaya
bahwa mereka tidak berharga. Mereka tidak menghargai opini
sendiri dan merasa malu terhadap diri sendiri.
c.
Harga diri sehat
Harga diri yang sehat berada diantara kedua
ekstrem tersebut. Artinya punya pandangan yang seimbang
dan akurat. Misalnya seseorang memiliki opini yang baik
mengenai diri sendiri namun juga mengakui adanya
kekurangan. Dengan harga diri yang sehat dapat
menimbulkan pikiran yang positif mengenai kekuatan,
3.
Aspek-Aspek Harga Diri
a.
Keberadaan Diri
Perasaan berarti yang dimiliki oleh individu akan
bisa dilihat melalui perhatian dan kasih sayang yang
ditunjukkan oleh lingkungan.
b.
Kekuatan Individu
Kemampuan
individu
untuk
mempengaruhi,
mengontrol, dan mengendalikan orang lain disamping
mengendalikan dirinya sendiri.
c.
Kompetensi
Yaitu diartikan individu memiliki usaha yang tinggi
untuk meraih prestasi yang baik.
d.
Ketaatan Individu dan Kemampuan Memberi Contoh
Yaitu ketaatan individu terhadap aturan yang ada serta
tidak melakukan tindakan yang menyimpang dari norma
yang berlaku, serta mampu memberi contoh yang baik kepada
orang lain.
20D.
Metode
Pair
Check
1.
Pengertian Metode
Pair Check
Metode pembelajaran Pair Check merupakan metode
pembelajaran berkelompok yang saling berpasangan yang
dipopulerkan oleh Spencer Kagan pada tahun 1993.
21Metode ini
menerapkan pembelajaran kooperatif yang menuntut kemandirian
dan kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan persoalan.
Metode ini juga melatih tanggung jawab sosial peserta didik,
kerjasama, dan kemampuan memberi penilaian.
22Pair Check
termasuk salah satu pembelajaran
Cooperative,
karena memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan pembelajaran
Cooperative yaitu:
a.
Setiap anggota memiliki peran
b.
Terjadinya hubungan interaksi langsung di antara siswa
c.
Setiap anggota kelompok bertanggungjawab atas belajarnya
dan juga teman-temann sekelompoknya.
23d.
Guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan
interpersonal kelompok
e.
Guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan
2421 Zainal Aqib, Model-Model, Media, dam Strategi Pembelajaran Kontekstual (INOVTIF),
(Bandung: Yrama Widya, 2013), 34.
22 Miftahul Huda, Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran , (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2013), 211.
2.
Langkah-Langkah Penerapan Metode
Pair Check
a.
Guru menjelaskan konsep.
b.
Peserta didik dikelompokkan ke dalam beberapa tim. Setiap tim
terdiri dari ada dua pasangan. Setiap pasangan dalam satu
tim dibebani masing-masing satu peran yang berbeda:
pelatih dan partner.
c.
Guru membagikan soal kepada partner.
d.
Partner menjawab soal dan pelatih bertugas mengecek
jawabannya. Part ner yang menjawab satu soal dengan benar,
berhak mendapatkan kupon dari pelatih
e.
Pelatih dan partner saling bertukar peran
f.
Guru membagikan soal kepada partner.
g.
Partner menjawab soal dan pelatih bertugas mengecek
jawabannya. Part ner yang menjawab satu soal dengan benar,
berhak mendapatkan kupon dari pelatih
h.
Setiap pasangan kembali ke tim awal dan mencocokkan jawaban
satu sama lain.
i.
Guru membimbing dan memberikan arahan atas jawaban
dari berbagai soal.
j.
Setiap tim mengecek jawabannya.
24 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi pada Standart Proses Pendidikan, (Jakarta:
k.
Tim yang paling banyak mendapat kupon, diberi hadiah oleh
guru.
253.
Kelebihan dan Kekurangan Metode
Pair Check
Setiap metode pembelajaran pasti memiliki kelebihan dan
kekurangan, begitu juga dengan metode pembelajaran
Pair Check.
kelebihan metode pembelajaran Pair Check meliputi:
a.
Meningkatkan kerjasama antar peserta didik
b.
Peer tutoring
c.
Meningkatkan pemahaman atas konsep dan atau proses
pembelajaran
d.
Melatih peserta didik berkomunikasi dengan baik dengan
teman sebangkunya.
Sementara itu, kekurangan model Pair Check meliputi:
a.
Membutuhkan waktu yang benar-benar memadai
b.
Membutuhkan kesiapan peserta didik untuk menjadi pelatih dan
partner yang jujur dan memahami soal dengan baik.
2625 Miftahul Huda, Model-Model, 211-212.
BAB III
PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS
A.
Metode Penilitian
Metode penelitian merupakan cara atau prosedur yang
sistematis dan terorganisasi untuk menyelidiki suatu masalah tertentu
dengan maksud mendapatkan informasi untuk digunakan sebagai solusi
atau jawaban atau masalah yang diteliti.
1Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan
kelas (PTK). Dalam bahasa Inggris, PTK disebut dengan
Classroom
Action Reseach (CAR). Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu
penelitian yang dilakukan di kelas dengan tujuan
memperbaiki/meningkatkan mutu praktik pembelajaran.
2Menurut
Suyanto, PTK adalah suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif
dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki
dan atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas.
3Sedangkan menurut Epon Ningrum Istilah penelitian tindakan
kelas terdiri atas tiga unsur atau konsep, yakni:
41 Ulber Silalahi, Metode Penelitian Sosial, (Bandung: Anggota Ikapi, 2010), 12. 2 Suharsimi, Metode Penelitian Sosial. (Banding: Anggota Ikapi, 2010), 12.
3 Masnur Muslich, Melaksanakan PTK (Penelitian Tindakan Kelas) Itu Mudah (Classroom Action
Research), (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), 9.
4 Jauhar Fuad, Teori dan Praktik Penelitian Tindakan Kelas (PTK), (Tulungagung: STAIN
1.
Penelitian adalah menunjukkan pada kegiatan mencermati suatu
objek, dengan menggunakan cara dan aturan metodologi tertentu
untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam
meningkatkan mutu suatu hal yang diminati.
2.
Tindakan menunjukkan pada suatu gerak kegiatan yang sengaja
dilakukan dengan tujuan tertentu, dalam penelitian berbentuk
rangkaian siklus kegiatan untuk siswa.
3.
Kelas adalah dalam hal ini tidak terikat pada pengertian ruang
kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik, yakni
sekelompok siswa dalam waktu sama, menerima pelajaran yang
sama dari guru yang sama pula.
Alasan peneliti memilih Penelitian Tindakan kelas (PTK) sebab
penulis ingin meningkatkan kualitas pembelajaran secara khusus dalam
hal meningkatkan pemahaman
di MI Ihyaul Ulum Canga’an
Ujungpangkah Gresik. Penelitian ini didesain untuk membantu guru
mengetahui apa yang terjadi di dalam kelasnya. Informasi yang
didapatkan oleh guru ini kemudian dijadikan pertimbangan dalam
mengambil keputusan yang berkaitan dengan metode pembelajaran yang
akan diterapkan. PTK ini bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme
guru, dan peningkatan pemahaman siswa materi harga diri mata
Penelitian tindakan kelas ini menggunakan model penelitian
dari teori
Kurt Lewin. Karena di dalam model tersebut dijelaskan bahwa
ada empat hal yang harus dilakukan dalam proses penelitian tindakan,
yaitu: Perencanaan, Tindakan, Observasi, dan Refleksi.
5Langkah-langkah dalam penggunaan PTK model
Kurt Lewin
adalah sebagai berikut:
1.
Perencanaan (Planning)
Pada tahap ini peneliti menemukan titik atau fokus
peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus, selanjutnya
membuat instrument pengamatan untuk membantu peneliti merekam
fakta atau fenomena yang terjadi selama tindakan berlangsung.
2.
Tindakan (Acting)
Tahap ke dua dalam penelitian tindakan kelas adalah
pelaksanaan, langkah ini merupakan implementasi atau penerapan isi
rencana yang telah dibuat, memberlakukan tindakan kelas. Hal yang
perlu di ingat, pada tahap ini peneliti harus berusaha mentaati apa
yang sudah dirumuskan dalam rencana tindakan yang dibuatnya
sendiri, serta harus bersikap wajar atau tindakan yang tidak
dibuat-buat (over acting)
5 Hamzah B. Uno, dkk, Menjadi Peneliti PTK yang Profesional, (Jakarta, PT Bumi Aksara,
3.
Observasi (Observing)
Istilah pengamatan dalam tahap-tahap PTK tidak bisa
disamakan dengan istilah pengamatan dalam penelitian secara umum
yang biasa dilakukan pada saat penelitian. Pada PTK tahap
pengamatan sudah mencangkup pengukuran hasil tindakan. Jika
suatu tindakan direncanakan untuk memperbaiki pemahaman siswa,
maka pada tahap ini, sebenarnya peneliti tidak hanya mengamati
tetapi juga melakukan pengukuran,
6baik berupa instrument aktifitas
siswa dan instrument aktifitas guru.
4.
Refleksi (Reflecting)
Kegiatan menganaisis tentang hasil observasi sehingga
memunculkan program atau perencanaan baru.
7Jika sudah diketahui
factor-faktor keberhasilan dan kekurangan atau hambatan dari
tindakan yang telah dilakukan dalam satu siklus, peneliti melakukan
rencana untuk siklus kedua, demikian seterusnya.
86 Fauti Subhan, Penelitian Tindakan Kelas, (Sidoarjo: Qisthos Digital Press, 2013), 86-89. 7 Wina Sanjaya, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Kencana, 2009), 50.
Hubungan keempat komponen itu dipandang sebagai satu siklus
yang digambarkan dalam skema berikut:
Gambar 3.1
Siklus PTK menurut Kurt Lewin
B.
Setting Penelitian dan Karakteristik Subjek Penelitian
1.
Setting Penelitian
Setting penelitian ini meliputi: tempat penelitian, waktu
penelitian dan siklus PTK.
a.
Tempat Penelitian
Tempat penelitian atau lokasi penelitian tindakan kelas
ini dilaksanakan di MI Ihyaul Ulu
m Canga’an Ujungpangkah
[image:48.595.141.493.174.531.2]b.
Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada pertengahan semester
genap di tahun ajaran 2016/2017.
c.
Siklus PTK
PTK ini dilakukan melalui dua siklus, setiap siklus
dilaksanakan mengikuti prosedur yaitu perencanaan (planning),
tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi
(reflecting). Melalui kedua siklus tersebut dapat diamati
peningkatan pemahaman siswa pada materi harga diri mata
pelajaran PKn melalui metode Pair Check.
2.
Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah kelas III MI Ihyaul Ulum Canga’an
Ujungpangkah Gresik tahun ajaran 2016/2017, dengan jumlah siswa
28, siswa laki-laki berjumlah 15 dan siswa perempuan berjumlah 13.
C.
Variabel yang Diteliti
Pada penelitian ini peneliti menggunakan variabel penerapan
metode pembelajaran
Pair Check untuk meningkatkan pemahaman
materi harga diri kelas III di MI Ihyaul Ulum canga’an Ujungpangkah
Gresik. Di dalam variabel tersebut terdapat beberapa variable yaitu:
1.
Variabel Input
: Siswa kelas III MI Ihyaul Ulum Canga’an
2.
Variabel Proses : Penerapan metode pembelajaran Pair check
3.
Variable Output : Peningkatan pemahaman materi harga diri.
D.
Rencana Tindakan
Untuk mengetahui peningkatan pemahaman dengaan
menggunakan metode Pair Check, peneliti memilih metode penelitian
siklus
Kurt Lewin yang meliputi 4 pokok, yaitu: perencanaan
(Planning), pelaksanaan (acting), observasi (observing), refleksi
(reflecting).
9Model Kurt Lewin dipilih oleh penulis karena apabila pada
awal pelaksanaan terdapat kekurangan, maka peneliti bisa mengulang
kembali dan memperbaiki pada siklus-siklus selanjutnya sampai tujuan
yang diinginkan tercapai. Jika sampai pada siklus pertama belum berhasil,
maka peneliti melanjutkan ke siklus berikutnya.
1.
Siklus I
a.
Tahap Perencanaan Tindakan
Pada tahap perencanaan ini, kegiatan yang harus dilakukan
peneliti antara lain:
1)
Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) mata
pelajaran bahasa inggris materi harga diri
2)
Menyiapkan metode pembelajaran, media yang yang
butuhkan dalam pembelajaran dan sumber belajar
3)
Menyusun Lembar Kerja siswa (alat evaluasi)
4)
Menyiapkan instrument penilaian
5)
Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati aktivitas
siswa dan guru selama pembelajaran berlangsung.
b.
Tahap pelaksanaan
Pada tahap peneliti melaksanakan pembelajaran di kelas
dengan menerapkan metode
Pair Check.
Adapun pelaksanaan
tindakan dengan menggunakan langkah-langkah yang mencangkup
kegiatan awal (pendahuluan), kegiatan inti dan kegiatan penutup.
Tabel 3.1
Rencana langkah-langkah Pelaksanaan Pembelajaran
Kegiatan
Waktu
Kegiatan awal (pendahuluan)
Guru mengucapkan salam dan menanyakan
kabar siswa.
siswa menjawab pertanyaan guru tentang
siswa yang tidak hadir pada pertemuan kali
ini. (guru mengabsen siswa)
Salah satu siswa memimpin doa.
Guru
melakukan
apersepsi
dengan
menunjukan buku, pena, tas, spidol dan tanya
jawab
a.
Kira-kira apa ada yang tau tidak harga
buku/pena/tas ini?
[image:51.595.152.511.217.700.2]b.
Kalau begitu apa ada yang tau berapa
harga diri kalian?
Setelah
melakukan
apersepsi
guru
mrnyampaikan tujuan pembelajaran untuk
memotivasi siswa dalam belajar.
Siswa menyimak informasi dari guru
Kegiatan inti
Siswa diberikan penjelasan oleh guru tentang
materi bentuk-bentuk harga diri
Siswa
membentuk
kelompok,
setiap
kelompok terdiri dari 4 anak dan yang terdiri
dari 2 pasang (2 anak menjadi patner dan 2
anak menjadi pelatih)
Siswa mendengarkan penjelasan dari guru
langkah-langkah metode pair check
Setiap kelompok mengulas ulang materi yang
telah disampaikan guru
Guru membagikan soal kepada patner
Pasangan yang diberikan peran sebagai
pelatih mengecek jawaban patner
Patner yang menjawab satu soal dengan benar
mendapatkan kupon
Bertukar peran, yang semula menjadi pelatih
sekarang menjadi patner dan yang menjadi
patner sekarang menjadi pelatih
Setiap kelompok saling mengoreksi jawaban
Setiap pertanyaan yang jawabannya benar
diberikan kupon yang bisa ditukarkan hadiah.
Siswa
mendengarkan
penjelasan
dan
klarifikasi dari guru tentang jawaban siswa
Setiap tim mengecek jawabannya
Siswa menukarkan hadiah. (semakin banyak
kupon semakin besar hadiahnya)
Siswa
mengerjakan
tes
tulis
untuk
mengetahui
keberhasilan
dalam
proses
pembelajaran
Kegiatan penutup
Siswa dan guru melakukan tanya jawab
mengenai materi yang belum dipahami
Siswa dan guru bersama-sama membuat
kesimpulan
Mengajak siswa berdoa untuk mengakhiri
pembelajaran
Mengucapkan salam
7 menit
c.
Tahap Observasi
Pada tahap penelitian ini, kagiatan yang dilakukan oleh
peneliti adalah:
1)
Mengamati guru dalam proses pembelajaran
2)
Mengamati perilaku siswa-siswi dalam mengikuti kegiatan
pembelajaran
3)
Merekam data mengenai proses dari implementasi tindakan
4)
Melakukan wawancra kepada guru dan siswa.
d.
Tahap Refleksi
Pada tahap ini peneliti melakukan analisis dan refleksi
sebagai berkut:
1)
Memeriksa instrument penelitian
2)
Memeriksa hasil observasi
3)
Mendiskusikan dengan guru untuk mengevaluasi tndakan
yang telah dilakukan
4)
Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi
untuk digunakan pada siklus berikutnya
5)
Evaluasi siklus I, jika ternyata hasil yang diperoleh belum
berhasil maka akan dilakukan siklus selanjutnya.
2.
Siklus II
Kegiatan yang dilaksanakan pada siklus kedua
dimaksudkan sebagai perbaikan dari siklus pertama. Tahapan pada
siklus kedua identik dengan siklus pertama yaitu diawali dengan
perencanaan (planning), dilanjutkan dengan tindakan (action),
observasi (observation), dan refleksi (reflektion). Pada tahap ini
dilakukan refleksi dari siklus I ke siklus II. Selain itu juga
dilakukan diskusi dengan guru kolaborator untuk mengevaluasi
E.
Data dan Cara Pengumpulannya
1.
Data
Menurut Kuswadi data adalah kumpulan informasi yang
diperoleh dari suatu pengamatan, dapat berupa angka, lambang atau
sifat.
10Jenis data yang akan dikumpulkan dan akan digunakan
sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau ketidakberhasilan
tindakan perbaikan pembelajaran yang dicobakan dapat bersifat
kualitatif dan kuantitatif.
11a.
Data kualitatif
Data kualitatif adalah data yang bukan terbentuk
angka atau bilangan.
12Adapun tang termasuk dalam data
kualitatif pada penelitian ini adalah:
1)
Profil sekolah MI
Ihyaul Ulum Canga’an Ujungpangkah
Gresik
2)
Materi yang disampaikan dalam Penelitian Tindakan
Kelas
3)
Pendekatan yang dipakai dalam Penelitian Tindakan
Kelas
10 Kuswadi, DELTA Depalan Langkah dan tujuan Alat Statistik untuk peningkatan Mutu Berbasis
Komputer, (Jakarta: Anggota IKAPI, 2004),169.
11Hamzah B. Uno, dkk, Menjadi, 89.
b.
Data kuantitatif
Data kuantitatif