ABSTRAK
Skripsi ini adalah hasil penelitian lapangan (field researt) tentang "Analisis Hukum Islam terhadap Implementasi Penetapan Tarif Jasa Angkutan Umum (Studi Kasus Bis Antar Kota Antar Provinsi Surabaya-Semarang)". Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan mengenai, Bagaimana
praktik implementasi penetapan tarif oleh kondektur bis Surabaya –Semarang,
dan Bagaimana analisis hukum Islam terhadap implementasi penetapan tarif jasa
angkutan umum bis antar kota/provinsi Surabaya –Semarang.
Data penulisan skripsi diperoleh melalui wawancara langsung dengan pihak yang terlibat yaitu, kondektur, penyedia jasa (PO) dan penumpang. Data kemudian dianalisis dengan metode deskriptif dengan pola pikir induktif. Analisis deskriptif dengan pola pikir induktif yaitu menggambarkan sesuatu hal dengan mengumpulkan data terkait tentang implementasi penetapan tarif jasa angkutan umum bis antar kota/provinsi Surabaya-Semarang, yang disertai dengan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa praktik implementasi penetapan tarif oleh kondektur bis Surabaya-Semarang belum sepenuhnya terlaksana dengan baik karena ada beberapa alasan kondektur yang melatarbelakangi adanya perbedaan penetapan tarif bis ketika memberi uang pas dan memberi uang lebih, salah satunya yaitu karena faktor teknis dan ekonomi. Sedangkan menurut
hukum Islam, praktik tersebut belum memenuhi salah satu syarat ija>rah yaitu
saling meridhai, karena dalam praktiknya ada pihak yang merasa keberatan. Di dalam Islam dijelaskan apabila salah seorang di antara kedua orang yang berakad terpaksa melakukan akad tersebut, maka akadnya tidak sah.
DAFTAR ISI
Halaman
SAMPUL DALAM ... i
PERNYATAAN KEASLIAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
PENGESAHAN ... iv
ABSTRAK ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TRANSLITERASI ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi dan Batasan Masalah ... 6
C. Rumusan Masalah ... 7
D. Tujuan Penelitian ... 8
E. Kegunaan Hasil Penelitian ... 8
F. Kajian Pustaka ... 9
G. Definisi Operasional ... 11
H. Metode Penelitian ... 12
I. Sistematika Pembahasan ... 16
BAB II SEWA MENYEWA (IJARAH) DAN PERATURAN DIRJENDAT NO: SK.6736/AJ.205/DRDJ/2014... 17
A. Ijarah ... 17
1. Definisi Ijarah ... 17
2. Dasar Hukum Ijarah ... 20
3. Rukun dan Syarat Ijarah ... 24
4. Macam-macam Ijarah ... 29
B. Peraturan Dirjendat No: SK.6736/AJ.205/DRDJ/2014 Tentang Tarif
Jarak Batas Atas Dan Tarif Jarak Batas Bawah Angkutan Penumpang Dengan Mobil Bus Umum Kelas Ekonomi Pada Trayek
Antar Kota Antar Provinsi ... 34
BAB III IMPLEMENTASI PENETAPAN TARIF JASA ANGKUTAN UMUM BIS SURABAYA-SEMARANG... 37
A. Gambaran Umum Penelitian ... 37
1. Gambaran Umum Jasa Angkutan Umum ... 37
2. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 40
B. Penetapan Tarif... 46
C. Realisasi Penetapan Tarif Bis Antar kota Antar provinsi Surabaya-Semarang ... 51
1. Tarif yang berlaku bagi penumpang ... 51
2. Penerapan Tarif Bis oleh Kondektur ... 52
3. Menurut Penyedia Jasa Angkutan Bis (PO) ... 54
4. Pendapat Penumpang Tentang Penerapan Tarif Bis ... 55
D. Sanksi Bagii Yang Melanggar Peraturan ... 57
BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP IMPLEMENTASI PENETAPAN TARIF JASA ANGKUTAN UMUM BIS ANTAR KOTA/PROVINSI SURABAYA-SEMARANG ... 61
A. Analisis implementasi penetapan tarif oleh kondektur bis Surabaya-Semarang ... 61
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 69 B. Saran ... 70
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Allah SWT menciptakan manusia sebagai makhluk sosial yang
tidak bisa hidup sendiri melainkan membutuhkan orang lain untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Dengan saling berinteraksi
untuk tercapainya kemajuan bersama, terutama dalam menjalankan roda
perekonomian mereka (bermuamalah). Mu’a>malah sendiri berasal dari
bahasa Arab yang secara etimologi sama dan semakna dengan mufa>’alah
(saling berbuat). Kata ini menggambarkan suatu aktivitas yang dilakukan
oleh seseorang dengan seseorang atau beberapa orang dalam memenuhi
kebutuhan masing-masing.1
Mu’a>malah merupakan interaksi atau hubungan timbal balik
antara manusia dengan tuhannya, manusia dengan manusia, manusia
dengan lingkungan dan dengan dirinya sendiri. Dalam kehidupan
bermuamalah manusia selalu berhubungan satu sama lain untuk
mencukupi kebutuhan hidup.2 Dengan demikian manusia harus saling
tolong-menolong untuk tercapainya kepentingan dan tujuan
masing-masing yang tentunya tidak keluar dari aturan-aturan syara’.
1 Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah, cet. ke-2 (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007), 7.
2 Ahmad Azhar Basyir, Asas-Asas Hukum Muamalah(Hukum Perdata Islam), (Jogyakarta: UII
Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan
dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”.3 (QS. al-Ma>idah : 2)
Ayat tersebut diketahui bahwa tidak ada manusia yang dapat
menjalankan/memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa campur tangan atau
bantuan orang lain. Seperti halnya pedagang tidak akan mendapatkan
uang jika tidak ada pembeli, dan sopir angkutan umum tidak akan
mendapat penghasilan jika tidak ada penumpang. Dari dua hal tersebut
terdapat keterkaitan, ketergantungan/ saling membutuhkan satu sama
lain.
Contoh lain dari bentuk kegiatan manusia dalam lingkup
muamalah ialah upah-mengupah, yang dalam fiqih Islam disebut ujrah.
Kegiatan upah mengupah pada umumnya yang sering didengar yaitu upah
buruh pabrik, memang hal itu juga salah satu bentuk upah yang ada dalam
kegiatan sehari-hari. Salah satu bentuk upah juga tidak hanya sebatas
pada kegiatan produksi saja, namun terdapat dalam kegiatan seperti
halnya distribusi, yang pada umumnya dikenal dengan ongkos.
3 Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: CV Penerbit
3
Ongkos atau upah dalam bahasa Arab disebut ujrah merupakan
bentuk teansaksi yang diperbolehkan dalam agama Islam selama
memenuhi syarat dan rukunnya. Sebagaimana fiman Allah SWT dalam
Q.S. Az-Zukhruf ayat 32:
Artinya: “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? kami
Telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami Telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain, dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”
Dalam ayat tersebut memberikan penjelasan bahwa setiap
manusia membutuhkan manusia lainnya walaupun derajat dalam hal
dunia lebih tinggi dari manusia lainnya sebgaimana kutipan terjmah ayat
tersebut “dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian
yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan
sebagian yang lain”.
Upah bisa disebut juga dengan kontrak kerja, atau memanfaatkan
jasa sesorang baik dalam keahlian, tenaga, dan waktu yang diberikan.
Seperti contoh bengkel, cleaning service, pengantar barang, dan lain
4
menyewa benda dan ada penyewaan benda saja, dalam hal ini hanya
sebatas memanfaatkannya saja tidak bisa menjadi pemilik.
Salah satu bentuk jasa yang menerima upah yaitu dalam dunia
transportasi. Hal ini merupakan kebutuhan bagi manusia dalam
menjangkau tempat satu ke tempat lainnya yang membutuhkan waktu
lebih cepat dari pada berjalan kaki, salah satunya angkutan umum.
Angkutan umum dapat dibagi menjadi tiga, antara lain angkutan air,
darat, dan udara, yang sering dalam kehidupan sehari-hari adalah
angkutan darat.
Jasa angkutan darat dapat dibagi menjadi dua antara lain angkutan
milik pemerintah dan swasta. Masing-masing memiliki aturan tersendiri
dalam menetapkan tarif upah (ujrah) atau ongkos, contoh untuk angkutan
milik swasta, yang sudah umum kita dengar yaitu Go-jek dengan tarif
yang disesuaikan dengan jarak yang ditempuh yang berbasis aplikasi,
untuk yang milik pemerintah seperti angkutan kota dengan tarif sama
tanpa melihat jarak yang ditempuh.
Kedua jasa angkutan tersebut semuanya diawasi pemerintah
dalam menetapkan kebijakan upahnya sehingga tidak melanggar
undang-undang. Upah yang diatur dalam peraturan daerah berlaku untuk setiap
angkutan yang ada di daerah tersebut. Dalam pengambilan upah
terkadang suatu angkutan umum mengambil nominal lebih besar dari
pada umumnya, hal ini biasanya terjadi pada mereka yang belum
5
bisa juga terjadi bagi mereka yang baru memasuki wilayah tersebut, dan
yang terakhir kurangnya sosialisasi terhadap perubahan upah atau ongkos
yang ditetapkan.
Dalam hal ini, yang akan penulis teliti terkait dengan pengambilan
upah tarif bis antar kota antar provinsi Surabaya-Semarang. Dalam
Peraturan dirjendat no: SK.6736/AJ.205/DRDJ/2014 pasal 2 tentang tarif
jarak batas atas dan tarif jarak batas bawah angkutan penumpang dengan
mobil bus umum tercantum dalam lampiran peraturan tersebut. Tarif
jarak batas atas adalah besaran tarif maksimum untuk setiap trayek,
sedangkan tarif jarak batas bawah adalah kebalikannya yaitu besaran tarif
minimum untuk setiap trayek.
Temasuk juga jurusan Surabaya-Semarang dalam lampiran
peraturan disebutkan batas bawah sebesar Rp. 34.900 dan batas atas
sebesar Rp. 56.600, bis Surabaya-Semarang tujuan Lamongan biasanya
dikenakan tarif Rp. 14.000. Tetapi, jika penumpang memberi uang Rp.
15.000, kondektur tidak memberikan kembalian. Ada penumpang yang
memberikan uang Rp 20.000, kondektur memberikan kembalian Rp.
5000. Jika ada penumpang memberikan uang Rp. 14.000, kondektur
hanya diam saja.
Hal tersebut tidak terjadi dilain waktu saja, akan tetapi dapat
terjadi dalam satu waktu yang bersamaan. Ketika si A dan si B akan
menempuh tujuan yang sama dan duduk dalam bangku bersebelahan,
6
14.000 karena uang yang diberikan adalah uang pas, sedangkan si B
mendapatkan tarif 15.000 karena memberikan uang lebih.
Dari uraian di atas terjadi ketidakjelasan dalam memberikan tarif
penumpang. Sehingga, penyusun tertarik meneliti ini karena dalam
pengambilan upah terdapat kecurangan yang dilakukan dari pihak
kondektur. Kecurangan biasanya dilakukan kepada para penumpang yang
masih awal memasuki wilayah perkotaan. Hal ini dijadikan kesempatan
oleh para kondektur untuk mendapat keuntungan yang lebih.
Padahal dalam hukum Islam telah dijelaskan bahwa muamalat
dilaksanakan dengan memelihara nilai keadilan, menghindari unsur-unsur
penganiayaan, unsur-unsur pengambilan kesempatan dalam kesempitan.4
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut penulis tertarik untuk
melakukan penelitian yang membahas yakni mengenai Analisis hukum
Islam terhadap implementasi penetapan tarif jasa angkutan umum (studi
kasus bis antar kota/provinsi Surabaya -Semarang).
B. Identifikasi dan Batasan Masalah
Identifikasi masalah merupakan penyajian terhadap
kemungkinan-kemungkinan beberapa cakupan yang dapat muncul dengan
mengidentifikasi dan inventarisasi sebanyak mungkin yang diduga
sebagai masalah.5
4
H. Asmuni A. Rahman, Qaidah-qaidah, cet. 1 (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), 88.
5 Tim Penyusun Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam, Petunjuk Teknis Penulisan Skripsi,
7
Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana diuraikan di atas
maka dapat diidentifikasikan masalah-masalah sebagai berikut:
1. Pengaruh tarif bis terhadap penggunaan jasa angkutan umum
2. Akibat hukum dalam mengesampingkan penetapan tarif angkutan
umum
3. Hukum perubahan atas ujrah secara tiba-tiba
4. Praktik implementasi penetapan tarif jasa angkutan umum
5. Analisis hukum Islam terhadap implementasi penetapan tarif jasa
angkutan umum
Dengan adanya suatu permasalahan tersebut, maka untuk
memberikan arah yang jelas dalam penelitian ini penulis membatasi pada
masalah-masalah berikut ini:
1. Praktik implementasi penetapan tarif oleh kondektur bis antar
kota/provinsi Surabaya -Semarang.
2. Analisis hukum Islam terhadap implementasi penetapan tarif jasa
angkutan umum bis antar kota/provinsi Surabaya -Semarang.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat
dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana praktik implementasi penetapan tarif oleh kondektur bis
8
2. Bagaimana analisis hukum Islam terhadap implementasi penetapan
tarif jasa angkutan umum bis antar kota/provinsi Surabaya
-Semarang?
D. Tujuan Penelitian
Suatu penelitian yang dilakukan mempunyai tujuan dan manfaat
dari hasil penelitian tersebut. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui praktik implementasi penetapan tarif jasa
angkutan umum bis antar kota/provinsi Surabaya -Semarang.
2. Untuk mengetahui analisis hukum Islam terhadap implementasi
penetapan tarif jasa angkutan umum bis antar kota/provinsi Surabaya
-Semarang.
E. Kegunaan Hasil Penelitian
Dari hasil penelitian ini, peneliti berharap dapat bermanfaat dan
berguna bagi peneliti maupun pembaca lain, diantaranya:
1. Secara teoritis berguna untuk penambahan/pengembangan ilmu
pengetahuan yang didapat dalam perkuliahan dan
membandingkannya dengan praktik di lapangan, khususnya dalam
bidang ilmu Hukum Ekonomi Syariah (muamalah).
2. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan
9
melakukan berbagai macam kegiatan ekonomi yang sesuai dengan
syariat Islam, dan juga dapat menambah literatur atau bahan-bahan
informasi ilmiah yang dapat digunakan untuk melakukan kajian dan
penelitian selanjutnya.
F. Kajian Pustaka
Kajian pustaka merupakan deskripsi ringkas tentang kajian atau
penelitian yang sudah pernah dilakukan diseputar masalah yang diteliti
sehingga tidak terjadi pengulangan atau bahkan duplikasi kajian atau
penelitian yang sudah ada.6
Dari hasil pengamatan penulis tentang kajian-kajian sebelumnya,
penulis temukan beberapa kajian diantaranya:
1. Skripsi yang ditulis oleh Rudi Pradoko yang berjudul “Tinjauan
Hukum Islam terhadap Strategi Penetapan Harga Tiket Pesawat pada
Maskapai Penerbangan di Yogyakarta”. Skripsi ini menjelaskan
bahwa maskapai penerbangan di Yogyakarta, dalam menetapkan
harga tiket menggunakan strategi sub kelas di setiap penerbangannya.
Strategi tersebut berdasarkan pembagian kursi (seat) dalam beberapa
kelas, yaitu pembagian kelas digunakan hanya dalam pembedaan
harga dengan faktor yang mempengaruhi waktu pemesanan tiket.
Memberikan harga murah ketika pemesanan lebih awal atau jauh hari
sebelum pemberangkatan. Selain itu juga biasanya harga murah
10
ditawarkan ketika pada masa-masa sepi (low season), misalnya hari
selasa, rabu, kamis, dan jum’at. Strategi tersebut bertujuan untuk
menarik konsumen agar menggunakan jasa penerbangan dari pihak
maskapai tersebut kedepannya.7
2. Skripsi yang ditulis oleh Dessy Rosita yang berjudul “Perspektif
Hukum Islam terhadap Penetapan Harga Jual Beli Tiket Tarif
Lebaran bus Ramayana Jogja-Palembang di Yogyakarta”. Skripsi ini
membahas tentang bagaimana mekanisme jual beli yang dilakukan
oleh agen kepada konsumen, serta bagaimana pandangan hukum
islam terhadap penetapan harga tersebut. Hasil penelitian ini, bahwa
mekanisme penetapan harga yang dilakukan oleh para agen terminal
Giwangan tidak sesuai dengan hukum islam dan mekanisme yang
ada.8
3. Skripsi yang ditulis oleh Siti Aisyah yang berjudul “Tinjauan Hukum
Islam terhadap Peraturan Walikota Surabaya Nomor 98 tahun 2008
tentang Ketentuan Tarif Angkutan di Kota Surabaya”. Skripsi ini
membahas tentang ketentuan tarif angkutan di kota Surabaya yang
tidak dapat terlaksana dengan baik. Hasil penelitian ini, bahwa
pelaksanaan peraturan walikota nomor 98 tahun 2008 di kota
7 Rudi Pradoko, “Tinjauan Hukum Islam terhadap Strategi Penetapan Harga Tiket Pesaawat pada
Maskapai Penerbangan di Yogyakarta” (Skripsi—UIN Sunan Kalijaga, yogyakarta, 2007).
8 Dessy Rosita, “Persektif Hukum Islam terhadap Penetapan Harga Jual Beli Tiket Tarif Lebaran
Bus Ramayana Jogja-Palembang di Yogyakarta”(Skripsi—UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta,
11
surabaya, tidak dapat berjalan dengan baik karena adanya pihak yang
dirugikan.9
Penelitian yang akan dilakukan oleh penyusun berbeda
dengan penelitian atau karya yang telah ada, dimana penyusun
mengkaji analisis implementasi penetapan tarif jasa angkutan umum
(studi kasus bis antar kota/provinsi Surabaya -Semarang).
G. Definisi Operasional
Definisi Operasional memuat beberapa penjelasan tentang
pengertian yang bersifat operasional, yaitu memuat masing-masing
variabel yang digunakan dalam penelitian yang kemudian didefinisikan
secara jelas dan mengandung spesifikasi mengenai variabel yang
digunakan dalam penelitian ini.
Beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini di antaranya
adalah sebagai berikut:
Hukum Islam : Yang dimaksud hukum Islam dalam kajian ini
ialah ayat-ayat al-Qur’an, hadish, dan hasil
ijtihad para ulama yang membahas tentang
ija<rah.
Penetapan tarif Jasa Angkutan umum: Praktik pengambilan upah yang
dilakukan oleh kondektur kepada para
9
12
penumpang yang mengandung unsur
ketidakjelasan dalam menetapkan tarif bis
Surabaya – Semarang.
H. Metode Penelitian
Penelitian yang dilakukan berorientasi pada pengumpulan data
empiris yaitu lapangan, sedangkan pendekatan yang digunakan adalah
penelitian kualitatif, karena kualitatif memuat tentang prosedur
penelitian yang menghasilkan deskriptif berupa tulisan atau perkataan
dari orang-orang atau pelaku yang diamati.
Adapun metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Data yang dikumpulkan
Data merupakan kumpulan dari keterangan/informasi yang
benar dan nyata yang diperoleh baik dari sumber primer maupun
sumber sekunder.10 Berdasarkan rumusan masalah yang telah
disebutkan, maka data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri
dari:
a. Data tentang tarif yang berlaku bagi penumpang
b. Data tentang penerapan tarif bis oleh kondektur
c. Data tentang pendapat penumpang
d. Data tentang pendapat penyedia jasa (PO)
13
e. Data tentang pendapat Dishub
2. Sumber data
Berdasarkan data yang telah dihimpun, maka yang menjadi
sumber data dalam penelitian ini adalah:
a. Sumber primer
Sumber primer adalah sumber yang diperoleh secara langsung dari
subyek penelitian. Dalam penelitian ini sumber primer adalah:
1) Penumpang bis
2) Kondektur bis
3) PO (penyedia jasa)
4) Pihak dishub
5) Sopir
b. Sumber sekunder
Sumber sekunder merupakan sumber yang diperoleh dari sumber
kedua atau sumber pendukung.11 Sumber sekunder dalam
penelitian ini ialah literatur-literatur berupa buku-buku dan
kitab-kitab yang berkaitan dengan penelitian, diantaranya:
1) Fiqih Muamalah, karangan Nasroen Haroen
2) Fiqih Muamalah, karangan Helmi Karim
3) Kaidah-kaidah Hukum Islam, karangan Abdul Wahhab Khallaf
4) Fiqih Muamalah, karangan Rachmat Syafe’i
5) Al-Fiqhu al-Islamiyyah wa Adillatuhu, Wahbah Az-zuhaili
11 Muhammad Idrus, Metode Penelitian Ilmu Sosial: Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif,
14
6) Dan buku-buku lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini.
3. Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data diperoleh melalui prosedur yang
sistematik dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan.12
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi:
a. Wawancara
Wawancara merupakan pertemuan dua orang atau lebih untuk
bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga dapat
dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu.13
b. Dokumentasi
Dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data yang tidak langsung
ditunjukkan pada subyek penemuan, namun melalui dokumen.14
Dokumen yang dimaksud yaitu tentang data ketetapan tarif bis
Surabaya-Semarang.
c. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data untuk sumber sekunder yaitu diperoleh
dari literatur berupa buku-buku dan kitab-kitab yang berkaitan
dengan penelitian yaitu tentang ija>rah.
12 Moh Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta Timur: Ghalia Indonesia, 1988), 211.
13 Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfa Beta, 2008), 72.
15
4. Teknik pengolahan data
Data yang diperoleh dari hasil penggalian terhadap sumber data
akan diolah melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
a. Editing yaitu kegiatan pengeditan akan kebenaran dan ketepatan
data tersebut.15
b. Organizing yaitu mengatur dan menyusun data sumber
dokumentasi sedemikian rupa sehingga dapat memperoleh
gambaran yang sesuai dengan rumusan masalah, serta
mengelompokkan data yang diperoleh.16
c. Analizing yaitu dengan memberikan analisis lanjutan terhadap
hasil editing dan organizing data yang telah diperoleh dari
sumber-sumber penelitian, dengan menggunakan teori dan
dalil-dalil lainnya sehingga diperoleh kesimpulan.17
5. Teknik analisis data
Dari hasil pengumpulan data yang dilakukan selanjutnya akan
dibahas dengan analisis secara kualitatif, yaitu dengan menghasilkan
data deskriptif.
Deskriptif yaitu menggambarkan/menguraikan sesuatu hal atau
fenomena yang telah terjadi menurut apa adanya yang sesuai dengan
15 Sony Sumarsono, Metode Riset Sumber Daya Manusia, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2004), 97.
16 Chalid Narbuko dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 1997), 154.
16
kenyataannya.18 Dengan mengumpulkan data tentang praktik
penetapan tarif jasa angkutan umum bis antar kota/provinsi
Surabaya -Semarang disertai analisa untuk diambil kesimpulan.
Pola pikir yang dipakai adalah induktif yaitu merupakan metode
yang digunakan untuk mengemukakan hasil kenyataan yang terjadi di
lapangan dalam mengimplementasikan penetapan tarif bis antar
kota/provinsi Surabaya –Semarang.
I. Sistematika Pembahasan
Penulisan skripsi ini disusun secara sistematis agar mempermudah
pembahasan dalam penelitian ini, sistematika pembahasannya sebagai
berikut:
Bab pertama ialah pendahuluan yang berisi tentang pokok-pokok
pikiran atau landasan permasalahan yang melatar belakangi penulisan
proposal ini, sehingga memunculkan gambaran isi tulisan yang terkumpul
dalam konteks penelitian, identifikasi masalah, pembatasan masalah,
Rumusan masalah, kajian pustaka, tujuan penelitian, kegunaan hasil
penelitian, definisi operasional, metode penelitian dan sistematika
pembahasan.
Bab kedua adalah landasan teori tentang sewa-menyewa (ija>rah)
dan Peraturan dirjendat no: SK.6736/AJ.205/DRDJ/2014, yang meliputi
pengertian ija>rah, dasar hukum ija>rah, rukun dan syarat ija>rah,
17
macam ija>rah, pembatalan dan berakhirnya ija>rah, dan Peraturan dirjendat
no: SK.6736/AJ.205/DRDJ/2014 tentang tarif jarak batas atas dan tarif
jarak batas bawah angkutan penumpang dengan mobil bus umum kelas
ekonomi pada trayek antar kota antar provinsi.
Bab ketiga berisikan tentang implementasi penetapan tarif
angkutan umum bis Surabaya-Semarang yang meliputi tentang gambaran
umum penelitian yaitu terdiri dari gambaran umum jasa angkutan umum
dan gambaran umum lokasi penelitian, penetapan harga (tarif), realisasi
penetapan tarif bis antar kota/provinsi Surabaya – Semarang, dan juga
sanksi bagi yang melanggar peraturan.
Bab keempat adalah berisikan tentang Analisis hukum Islam
terhadap implementasi penetapan tarif jasa angkutan umum (studi kasus
bis antar kota/provinsi Surabaya -Semarang).
Bab kelima merupakan bab penutup yang berisikan tentang
kesimpulan yang menjawab rumusan masalah dan dilengkapi dengan
saran – saran. Selain itu bab terakhir ini dilengkapi dengan daftar pustaka
BAB II
SEWA-MENYEWA (IJA>RAH) DAN PERATURAN DIRJENDAT
NO: SK.6736/AJ.205/DRDJ/2014
A. IJA>RAH
1. Definisi Ija>rah
Sewa-menyewa dalam bahasa arab diistilahkan dengan ija>rah.1
Al-ija>rah berasal dari kata al-ajru yang berarti al-‘iwad}/penggantian.2
Menurut etimologi, ija>rah adalah ةعفنملا عيب (menjual manfaat). Ada yang
menterjemahkan, ija>rah sebagai jual-beli jasa (upah-mengupah), yakni
mengambil manfaat tenaga manusia, ada juga yang menterjemahkan
sewa-menyewa, yakni mengambil manfaat dari barang.
Ija>rah menurut pengertian umum yang meliputi upah atas
pemanfaatan suatu benda atau imbalan suatu perbuatan atau upah karena
melakukan suatu aktifitas, ija>rah juga dapat diartikan sebagai upah atas
seseorang yang melakukan jasa.3 Dalam arti luas ija>rah merupakan suatu
akad yang berisi suatu penukaran manfaat sesuatu dengan jalan
memberikan imbalan dalam jumlah tertentu. Hal ini sama artinya dengan
menjual manfaat barang apabila dilihat dari segi barangnya dan juga bisa
diartikan menjual jasa apabila dilihat dari segi orang dan bukan menjual
‘ain” dari benda itu sendiri.4
1
Chairuman pasaribu, hukum perjanjian dalam islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 1994), 52.
2
Abdul Rahman Ghazaly, ghufran ihsan, dan sapiudin shidiq, fiqih muamalat, (jakarta: kencana prenada media group, 2010), 277.
3
Hekmi karim, fiqih muamalah, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 1997), 29.
4
18
Menurut Idris Ahmad dalam bukunya yang berjudul Fiqh Syafi'i,
berpendapat bahwa ija>rah berarti upah-mengupah.5 Hal ini terlihat ketika
beliau menerangkan rukun dan syarat upah-mengupah, yaitu Mu‘jir dan
Musta‘jir (yang memberikan upah dan yang menerima upah), sedangkan
Kamaluddin A. Marjuki sebagai penerjemah Fiqih Sunnah karya Sayyid
Sabiq menjelaskan makna ija>rah dengan sewa-menyewa.6
Dari dua buku tersebut ada perbedaan terjemahan kata ija>rah dari
bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Antara sewa dan upah juga ada
perbedaan makna operasional. Sewa biasanya digunakan untuk benda,
seperti seorang mahasiswa menyewa kamar untuk tempat tinggal selama
kuliah, sedangkan upah digunakan untuk tenaga, seperti para karyawan
bekerja di pabrik dibayar gajinya (upahnya) satu kali dalam seminggu.
Dalam bahasa Arab upah dan sewa disebut ija>rah.7 Menurut madzhab
Hanafi menjelaskan bahwa ija>rah adalah suatu perjanjian yang
memberikan faedah memiliki manfaat yang diketahui dan disengaja dari
benda yang disewakan dengan adanya imbalan sebagai pengganti.8
Penjelasan madzhab Hanafi "suatu perjanjian" maksudnya adalah
ijab dan kabul. Hal ini tidak wajib diucapkan, masalah itu seperti ketika
seseorang menyewa rumah dari orang lain untuk masa setahun, dan
apabila masanya telah habis, pemilik rumah berhak meminta rumahnya
itu dikosongkan. Jika orang yang menyewa tersebut tidak mengosongkan
5
Ibid., 113.
6
Sayid Sabiq, Fiqh Sunnah, Juz 4, 203.
7
Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2016), 113.
8
19
rumah, maka baginya setiap harinya ada perongkosan. Bila ia mulai
mengosongkan namun tidak bisa selesai kecuali dalam jarak waktu
tertentu. Bagi penyewa wajib membayar ongkos sepantasnya pada jarak
waktu tersebut, jadi persewaan bisa terselenggara dalam jarak waktu itu
dengan tanpa ucapan. Madzhab Hambali mengartikan ija>rah ialah
perjanjian atas manfaat yang mubah yang diketahui yang diambil secara
berangsur-angsur dalam masa yang diketahui dengan ongkos yang
diketahui.9
Madzhab Syafi'i menerangkan bahwa perjanjian persewaan adalah
suatu perjanjian atas manfaat yang diketahui dan yang disengaja yang
bisa diserahkan kepada pihak lain secara mubah dengan ongkos yang
diketahui.10 Perkataan "suatu perjanjian" maknanya adalah ijab dan
kabul, yaitu sighat Perkataan "atas manfaat" maksudnya adalah sesuatu
yang dijadikan perjanjian atau Al-ma‘q>ud ‘alaih seperti manfaat rumah
yang disewa untuk ditempati, atau tanah yang disewa untuk diambil
manfaat hasil tanamannya, dan seterusnya.
Ada yang menterjemahkan ija>rah sebagai jual-beli jasa
(upah-mengupah) yakni mengambil manfaat tenaga manusia, Ada pula yang
menerjemahkan sewa-menyewa yakni mengambil manfaat dari barang.
Penulis membagi ija>rah menjadi dua bagian yaitu ija>rah atas jasa dan
benda.11
9
Moh.Zuhri, Fiqih Empat Madzhab..., 173.
10
Ibid., 172.
11
20
Muhammad Anwar menerangkan bahwa ija>rah ialah perakatan
(perikatan) pemberian pemanfaatan (jasa) kepada orang lain dengan
syarat memakai ‘iwadh (penggantian balas jasa) dengan berupa uang atau
barang yang telah ditentukan. Jadi dengan melihat arti ija>rah tersebut,
maka dalam ija>rah membutuhkan dua pihak yaitu pemberi atau penyedia
jasa dan pihak pengguna jasa atau pemberi upah.12 Islam
memperbolehkan seseorang untuk memanfaatkan jasa seseorang dan
upah dalam pemanfaatan jasa tersebut harus dipenuhi.
2. Dasar Hukum Ija>rah
Bila dilihat dari uraian di atas, rasanya mustahil manusia hidup
berkecukupan tanpa hidup berijarah dengan manusia lain. Karena itu,
boleh dikatakan bahwa pada dasarnya ijarah itu adalah salah satu bentuk
aktivitas antara dua pihak atau saling meringankan, serta serta termasuk
salah satu bentuk tolong menolong yang diajarkan agama. Ija>rah
merupakan salah satu jalan memenuhi hajat manusia. Oleh sebab itu,
para ulama menilai bahwa ija>rah ini merupakan suatu hal yang boleh dan
bahkan kadang-kadang perlu dilakukan. Walaupun ada pendapat yang
melarang ija>rah, tetapi oleh jumhur ulama pandangan yang ganjil itu
dipandang tidak ada.
Rajagrafindo Persada, 2003), 228.
12
21
Banyak ayat dan riwayat yang dijadikan argument oleh para ulama
akan kebolehan ija>rah tersebut.13
1. Landasan dari al-Qur’an, di antaranya dapat dikemukakan sebagai
Artinya: Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? kami Telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami Telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.(Q.S.Az-Zukruf: 32).14
b. Surat Al-Qashash, ayat 26 Allah SWT berfirman:
Karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang Kuat lagi dapat
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: CV Penerbit Jumanatul Ali-Art, 2007), 798.
15
bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, Maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu Maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan Maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.(Q.S.Al-T}alaq: 6).16
2. Adapun landasan Sunnah tentang ija>rah ini antara lain:
a. Hadist riwayat Bukhari dan Muslim menyebutkan:
ْي ع ه َ ص َ بَ لا َنأ ساَبع نْبا نع ْ ْس و راخبْلا ىورو
رْجأ اَجحْلا طْعأو جتْحإ َ سو
Artinya: “Berbekamlah kalian, berikanlah upah bekamnya kepada
tukang bekam tersebut.”17
3. Ijma’
Umat Islam pada masa sahabat telah berijma’ bahwa Ija>rah
dibolehkan sebab bermanfaat bagi manusia.18Selain bermanfaat bagi
sesama manusia sebagian masyarakat sangat membutuhkan akad ini,
karena termasuk salah satu akad tolong-menolong.Tentang
16
Ibid., 559.
17 Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughiroh bin Bardizbah al-Ju’fi al
-Bukhori (Imam Bukhari), Shahih Bukhari. (t.tp., shahih: t.t), Hadith: 2117, 1247.
18Syafe’I Rahmat.
23
disyariatkan sewa menyewa, semua kalangan sepakat dan hampir
semua ulama’ mengamininya.19
Dari definisi-definisi tersebut di atas dapat dikemukakan bahwa
pada dasarnya tidak ada perbedaan yang mendasar diantara pendapat
para ulama’ fiqih dalam mendefinisikan Ija>rah atau sewa menyewa.
Dari definisi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa Ija>rah atau
sewa menyewa adalah akad atas manfaat dengan suatu imbalan
tertentu. Dengan demikian, objek sewa menyewa adalah atas
manfaat sutau barang atau jasa.
Ija>rah dalam bentuk sewa-menyewa maupun dalam bentuk upah
mengupah merupakan muamalah yang telah disyariatkan dalam
Islam. Hukum asalnya menurut jumhur ulama’ adalah mubah atau
boleh bila dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan
oleh syara’ berdasarkan ayat al-Qur’an, hadith, dan ketetapan ijma’
ulama’.
3. Rukun dan Syarat Ijarah
a. Rukun ija>rah
Sebagai sebuah transaksi umum, ija>rah dianggap sah apabila telah
memenuhi rukun dan syaratnya, sebagaimana yang berlaku secara umum
dalam transaksi lainnya. Menurut Hanafiyah rukun ija>rah hanya satu
19
24
yaitu ijab dan kabul dari dua belah pihak yang bertransaksi.20 Adapun
menurut Jumhur Ulama rukun ija>rah ada empat:
1. Aqid (dua orang yang berakad) yaitu mu’jir (orang yang
menyewakan atau memberrikan upah) dan musta’jir (orang yang
menerima sesuatu atau menerima upah).
2. Sighat yaitu ijab dan qabul antara mu’jir dan musta’jir.
3. Ujrah (upah).
4. Ma’qu>d ‘alaih (Manfaat dari suatu barang yang disewa atau jasa dan
tenaga orang yang bekerja).21
a. Manfaat yang berharga.22
b. Keadaan manfaat dapat diberikan oleh yang mempersewakan.
c. Diketahui kadarnya, dengan jangka waktu seperti menyewa
rumah satu bulan atau satu tahun.
Sedangkan menurut madzhab maliki dan Syafi’i rukun-rukun
ija>rah ada tiga macam yaitu:
1. Orang yang mangadakan perjanjian (aqid) meliputi orang yang
menyewakan (mu‘jir) dan orang yang menyewa (musta‘jir).
2. Sesuatu yang dijadikan perjanjian (al-ma’qu>d ‘alaihi) meliputi
ongkos dan Manfaat.
20
Abdul Rahman Ghazaly, ghufran ihsan, dan sapiudin shidiq, fiqih muamalat..., 278.
21
Wahbah Az-juhaili, al-Fiqih al-islami Wa adilatuhu. (Jakarata: Gema Insani, 2011), jilid V, cet. Ke 10, 387.
22
25
3. Pernyataan perjanjian (shigat), yaitu lafazh atau ucapan yang
menunjukkan memiliki manfaat dengan ada ongkos, atau segala hal
yang bisa menunjukan kepadanya.23
b. Syarat ija>rah
Adapun syarat-syarat ija>rah adalah sebagai berikut24:
1. Al-Mutaaqidain (kedua orang yang berakad).
a. Menurut ulama Syafi’iyah dan Hanabilah, untuk sahnya ija>rah
hanya mengemukakan satu syarat untuk pelaku akad yaitu
cakap hukum (baligh dan berakal).
b. Menurut ulama Hanafiyah, orang yang melakukan akad
disyaratkan harus berakal dan mumayyiz (sudah bisa
membedakan antara haq dan bathil, atau minimal 7 tahun),
tidak disyariatkan harus baligh.
c. Menurut ulama Malikiyah, tamyiz adalah syaraat ija>rah dan
jual beli, sedangkan baligh adalah syarat penyerahan. Dengan
demikian anak yang telah mumayyiz pun boleh melakukan
akad ija>rah dan dianggap sah apabila disetujui oleh walinya.
2. Kedua belah pihak yang berakad yaitu mu’jir dan musta’jir
menyatakan kerelaan untuk melakukan akad ija>rah. Apabila salah
seorang diantaranya terpaksa melakukan akad itu, maka akadnya
tidak sah. Akad ini berdasarkan firman Allah SWT
23
Moh.Zuhri, Fiqih Empat Madzhab..., 171-172.
24
dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.(Q.S.An-Nisa: 29).25
3. Sighat (ijab dan kabul) antara mu’jir dan musta’jir. Ijab qabul
sewa-menyewa misalnya mu’jir berkata “aku sewakan motor ini
kepadamu 1 dirham per hari” maka musta’jir menjawab “aku
terima sewa motor tersebut dengan harga 1 dirham per hari. Ijab
kabul upah mengupah misalnya mu’jir berkata “kuserahkan kebun
ini untuk dicangkuli dengan upah 1 dirham per hari” kemudian
musta’jir menjawab “aku akan lakukan pekerjaan itu sesuai
dengan apa yang engkau ucapkan”.
4. Ujrah (upah)
Para ulama menetapkan syarat ujrah (upah) yaitu berupa
harta tetap yang diketahui oleh kedua belah pihak. Upah (ujrah)
tidak boleh sejenis dengan manfaat yang disewa. Seperti upah
penyewa rumah untuk ditempati dengan menempati rumah.
Menurut madzhab Syafi’i ongkos yang tidak tentu disyaratkan
memenuhi syarat-syarat dalam harga yaitu harus diketahui jenis,
25
27
macam, dan sifatnya. Adapun kalau ongkos ditentukan, maka
disyaratkan harus bisa dilihat. Tujuannya adalah untuk
menghilangkan kesamaran supaya tidak terjadi pertentangan
antara dua orang yang melakukan perjanjian.
Oleh karena itu para ulama mensyaratkan terhadap orang
yang menyewakan kendaraan untuk dinaiki agar menjelaskan
kadar perjalananyang akanditempuh pada malamdan siang hari.
Kecuali kalau dikalangan umat manusia dalam hal tersebut telah
menjadi kebiasaan yang diikuti, maka kebiasaan itulah yang
dilaksanakan.26
5. Ma’qu>d ‘alaih (barang/manfaat)
Adanya kejelasan pada ma’qu>d ‘alaih (barang) dapat
menghilangkan pertentangan diantara aqid. Diantara cara untuk
mengetahui ma’qu>d ‘alaih (barang) adalah dengan menjelaskan
manfaatnya, pembatasan waktu, atau menjelaskan jenis pekerjaan
jika ija>rah atas pekejaan atau jasa seseorang. Diantara syarat
barang sewaan adalah dapat dipegang atau dikuasai. Hal itu
didasarkan pada hadis Rasullah Saw. Yang melarang menjual
barang yang tidak dapat dipegang atau dikuasai, sebagaimana
dalam jual beli.
Menurut madzhab Hanafi syarat-syarat ija>rah ada empat macam:27
26
Moh Zuhri, Fiqh Empat Madzhab..., 194-195.
27
28
1. Syarat-syarat penyelenggaraan. Persewaan tidak terselenggara
sama sekali jika tidak mempunyai syarat-syarat berikut ini:
Berakal sehat, orang gila dan anak kecil yang belum tamyiz tidak
sah melakukan sewa-menyewa kecuali atas izin dari pihak
walinya.
2. Syarat-syarat sah. Persewaan tidak sah kecuali dengan
syarat-syarat ini meskipun bisa terselenggara dengan tanpa syarat-syarat ini:
a. Keridhaan dua orang yang melakukan perjanjian.Tidak sah
perjanjian persewaan orang yang dipaksa,orang yang bersalah
dan orang yang lupa. Meskipun terselengara dan bisa
dilestarikan tetapi merupakan persewaan yang batal
hukumnya. Dalam pelaksanaan seperti itu wajib memberikan
upah atau ongkos sepantasnya kalau terlanjur melakukannya.
b. Hendaklah sesuatu yang disewakan itu dapat diserahkan. Jadi
tidak sah menyewakan hewan yang hilang karena tidak dapat
diserahkan.
c. Hendaknya pekerjaan yang disewakan bukan merupakan hal
yang fardlu bagi orang yang disewa sebelum perburuhan.
d. Adanya manfaat.
e. Hendaklah ongkos diketahui yaitu menjelaskan jumlah
kadarnya seperti sepuluh pound.
3. Syarat-syarat tetap. Persewaan tidak dinilai tetap kecuali dengan
29
a. Perjanjian persewaan itu betul-betul shahih
b. Pada barang sewaan itu tidak ada cacatnya
c. Hendaklah barang yang disewakan itu bisa dilihat oleh orang
yang menyewa
d. Barang yang disewakan itu selamat dari terjadinya cacat yang
mengurangi kemanfaatan.
4. Syarat-syarat pelestarian.
4. Macam-macam Ija>rah
Dilihat dari segi obyeknya, akad al- ija>rah dibagi para ulama fiqih
ada dua macam yaitu:
a. Al-ija>rah yang bersifat manfaat misalnya sewa-menyewa rumah,
toko, kendaraan, pakaian, dan perhiasan. Apabila manfaat itu yang
diperbolehkan syara’ untuk di pergunakan, maka para ulama fiqih
sepakat menyatakan boleh dijadikan obyek sewa-menyewa.28
b. Al-ija>rah yang bersifat pekerjaan (jasa) adalah dengan cara
mempekerjakan seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan. Al-i
ija>rah seperti ini menurut para ulama fiqih, hukumnya boleh apabila
jenis pekerjaan itu jelas, seperti buruh bangunan, tukang jahit, dan
tukang sepatu dan lain-lain, yaitu ija>rah yang bersifat kelompok
(serikat). Ija>rah yang bersifat pribadi juga dapat dibenarkan seperti
menggaji pembantu rumah, tukang kebun dan satpam.
28
30
Menurut madzhab Hanafi macam-macam persewaan ada dua
yaitu:
a. Persewaan yang terselenggara pada kemanfaatan benda-benda,
seperti penyewa tanah, rumah, binatang, pakaian dan lain-lain.
Persewaan pada barang-barang tersebut adalah terselenggara pada
manfaat-manfaatnya.
b. Persewaan yang terselenggara pada keadaan pekerjaan, seperti
menyewa orang-orang yang sudah punya pekerjaan untuk bekerja
melaksanakan perdagangan, tukang besi, dan lain-lain.29
Sedangkan menurut madzhab Syafi’i persewaan itu ada dua macam yaitu:
a. Persewaan benda atau barang (ija>rah ‘ain) adalah suatu nama dari
perjanjian yang terselenggara atas manfaat yang berkaitan dengan
suatu barang tertentu yang diketahui oleh orang yang menyewa.
Seperti menyewa seseorang untukm membantu melayani dalam jarak
setahun.
b. Persewaan tanggungan (ija>rah zimmah) adalah nama dari suatu
perjanjian atau suatu manfaat yang berkaitan dengan sesuatu yang
tidak tentu, namun disifati dalam tanggungan, atau dengan kata lain
ialah perjanjian pada sesuatu yang manfaatya berada dalam
tanggungan, seperti dalam perjanjian pemesanan barang.30
5. Pembatalan dan berakhirnya Akad al- Ija>rah
29
Moh Zuhri, Fiqh Empat Madzhab..., 169-170.
30
31
Dalam hal ini jumhur ulama mengatakan bahwa akad al-ija>rah itu
bersifat mengikat kecuali ada cacat atau barang itu tidak boleh
dimanfaatkan akibat perbedaan pendapat ini dapat diamati dalam kasus
apabila seorang meninggal dunia. Menurut ulama Hanafiyah, apabila
salah seorang meninggal dunia maka akad al-ijarah batal, karena manfaat
tidak boleh diwariskan. Akan tetapi, Jumhur Ulama mengatakan, bahwa
manfaat itu boleh diwariskan karena termasuk harta (al-maal). Oleh
karena itu kematian salah satu pihak yang berakad tidak membatalkan
akad al- ija>rah.31
Demikian juga halnya dengan penjualan objek perjanjian
menyewa yang mana tidak menyebabkan putusnya perjanjian
sewa-menyewa yang diadakan sebelumnya. Namun tidak tertutup
kemungkinan pembatalan perjanjian (fasakh) oleh salah satu pihak jika
ada alasan/dasar yang kuat untuk itu.32
Ija>rah akan menjadi batal (fasakh) bila ada hal-hal sebagai
berikut:33
1. Objek al-ija>rah hilang atau musnah seperti, rumah yang disewakan
terbakar atau kendaraan yang disewa hilang.
2. Tenggang waktu yang disepakati dalam akad al- ija>rah telah berakhir.
Apabila yang disewakan itu rumah, maka rumah itu dikembalikan
31
Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah..., 236.
32
Chairuman pasaribu, hukum perjanjian dalam islam..., 57.
33
32
kepada pemiliknya, dan apabila yang disewa itu jasa maka seseorang
maka orang tersebut berhak menerima upahnya.
3. Wafatnya salah seorang yang berakad.
4. Apabila uzur dari salah satu pihak, seperti rumah yang disewakan
disita Negara karena terkait adanya utang, maka akad al- ija>rah nya
batal.
Adapun menurut Sayyid Sabiq, akad al-ija>rah akan menjadi batal
dan berakhir apabila: 34
a. Terjadinya cacat (aib) pada barang sewaan.
Maksudnya bahwa pada barang yang menjadi objek
perjanjian sewa menyewa terdapat kerusakan ketika sedang berada
di tangan pihak penyewa, yang mana kerusakan itu adalah akibat
kelalaian pihak penyewa sendiri, misalnya karena penggunaan
barang yang tidak sesuai dengan peruntukan penggunaan barang
tersebut. Dalam hal seperti ini pihak yang meyewakan dapat
meminta pembatalan.
b. Rusaknya barang yang disewakan.
Maksudnya barang yang mejadi objek perjanjian sewa
menyewa mengalami kerusakan atau musnah sama sekali sehingga
tidak dapat dipergunakan lagi sesuai dengan apa yang diperjanjikan,
misalnya objek sewa-menyewa adalah rumah, kemudian rumah yang
diperjanjikan terbakar/ambruk.
34
33
c. Rusaknya barang yang diupahkan (ma’jur ‘alaih)
Maksudnya barang yang menjadi sebab terjadi hubungan
sewa menyewa mengalami kerusakan, sebab dengan rusaknya atau
musnahnya barang yang menyebabkan terjadinya perjanjian maka
akad tidak akan mungkin terpenuhi lagi.
d. Telah terpenuhinya manfaat yang diakadkan
Dalam hal ini yang dimaksudkan, bahwa apa yang menjadi
tujuan perjanjian sewa menyewa telah tercapai, atau masa
perjanjian sewa menyewa telah berakhir sesuai dengan ketentuan
yang disepakati oleh para pihak.
e. Adanya Uzur
Penganut mazhab Hanafi menambahkan bahwa adanya uzur
juga merupakan salah satu penyebab putus atau berakhirnya
perjanjian sewa-menyewa, sekalipun uzur tersebut datangnya dari
salah satu pihak. Adapun uzur yang dimaksud disini adalah suatu
halangan sehingga perjanjian tidak mungkin dapat terlaksana
sebagaimana mestinya.
B. Peraturan Dirjendat no: SK.6736/AJ.205/DRDJ/2014 Tentang Tarif Jarak
Batas Atas dan Tarif Jarak Batas Bawah Angkutan Penumpang dengan
Mobil Bus Umum Kelas Ekonomi Pada Trayek Antar Kota Antar Provinsi
Peraturan dirjendat no: SK.6736/AJ.205/DRDJ/2014 tentang tarif
34
kelas ekonomi pada trayek antar kota antar provinsi mendefinisikan bahwa
dalam rangka menjamin kelangsungan pelayanan penyelenggaraan angkutan
penumpang antar kota antar provinsi kelas ekonomi di jalan dengan mobil
bus umum dan sebagai upaya peningkatan mutu pelayanan, maka perlu
menata kembali tarif angkutan penumpang antar kota antar provinsi kelas
ekonomi dengan tetap memperhatikan kepentingan dan kemampuan
masyarakat luas serta kelangsungan usaha penyedia jasa angkutan.
Tarif angkutan penumpang kelas ekonomi adalah harga jasa pada
suatu trayek tertentu atas pelayanan angkutan penumpang kelas ekonomi.
Tarif berlaku adalah besaran tarif jarak pada setiap trayek yang ditetapkan
oleh masing-masing perusahaan angkutan penumpang umum, yang nilai
nominalnya diantara atau sama dengan tarif batas atas dan tarif batas bawah.
Keputusan Menteri Perhubungan No: KM. 89 tahun 2002 pasal 1 ayat 6 dan
7 mendefinisikan bahwa tarif jarak batas atas adalah besaran tarif maksimum
untuk setiap trayek, sedangkan tarif jarak batas bawah adalah kebalikannya
yaitu besaran tarif minimum untuk setiap trayek.35
Dibawah ini penulis uraikan beberapa pasal yang terkait dengan
peraturan dirjendat no:SK. 6736/AJ.205/DRDJ/2014 tentang tarif jarak batas
atas dan tarif jarak batas bawah angkutan penumpang dengan mobil bus
umum kelas ekonomi pada trayek antar kota antar provinsi, diantaranya;
a. Pasal 1
35
35
Bus kelas ekonomi bagi angkutan penumpang umum antar kota antar
provinsi merupakan bus tanpa fasilitas pelayanan tambahan dengan tetap
memperhatikan aspek keselamatan dan kualitas pelayanan.
b. Pasal 2
Tarif jarak batas atas dan tarif jarak batas bawah untuk angkutan
penumpang antar kota antar provinsi kelas ekonomi di jalan dengan mobil
bus umum sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 tercantum dalam
lampiran peraturan ini.
c. Pasal 3
Tarif dasar batas atas dan batas bawah sebagaimana dimaksud dalam
pasal 2 belum termasuk iuran wajib dana pertanggungan wajib kecelakaan
penumpang berdasarkan Undang-undang Nomor 33 Tahun 1964 jo
Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1965 dan jenis asuransi lainnya
yang dilakukan secara sukarela serta biaya penyeberangan.
d. Pasal 4
Direktur lalu lintas dan angkutan jalan dan kepala dinas perhubungan
provinsi mengawasi pelaksanaan peraturan ini.
Keputusan Menteri Perhubungan No: KM. 89 tahun 2002 pasal 10
menyatakan bahwa Direktur jenderal dan gubernur melakukan sosialisasi
kepada masyarakat mengenai besaran tarif dasar batas atas dan tarif dasar
batas bawah yang telah ditetapkan menteri atau gubernur melalui media
cetak atau media elektronik paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum tarif
36
Tarif yang berlaku tidak boleh lebih tinggi dari tarif jarak batas atas
atau lebih rendah dari tarif jarak batas bawah yang ditetapkan oleh Direktur
Jenderal untuk trayek antar kota antar provinsi (AKAP).36 Tarif yang berlaku
wajib diumumkan oleh perusahaan angkutan penumpang umum kepada
pengguna jasa melalui loket penjualan tiket diterminal/pool/agen,
pengumuman di dalam bus, tertulis pada tiket dalam bentuk cetakan atau
stempel.37
Pengusaha yang memberlakukan tarif angkutan penumpang kelas
ekonomi melampaui tarif jarak batas atas dan tarif jarak batas bawah yang
ditetapkan oleh Direktur jenderal atau Gubernur dikenakan sanksi
administratif. Sanksi administratif dapat berupa pencabutan izin trayek,
penundaan perluasan izin trayek dan peringatan.38
36
Ibid., pasal 11 ayat 2.
37
Ibid., pasal 11 ayat 3.
38
BAB III
IMPLEMENTASI PENETAPAN TARIF ANGKUTAN UMUM BIS
SURABAYA-SEMARANG
A. Gambaran Umum penelitian
1. Gambaran umum jasa angkutan umum
a. Pengertian angkutan umum
Angkutan adalah sarana untuk memindahkan orang atau
barang dari suatu tempat ke tempat lain. Tujuannya untuk
membantu orang atau kelompok orang menjangkau berbagai
tempat yang dikehendaki, atau mengirimkan barang dari tempat
asalnya ketempat tujuannya. Prosesnya dapat dilakukan
menggunakan sarana angkutan berupa kendaraan atau tanpa
kendaraan diangkut oleh orang.1
Angkutan umum merupakan salah satu media transportasi
yang digunakan masyarakat secara bersama-sama dengan
membayar tarif. Angkutan umum merupakan lawan kata dari
'kendaraan pribadi”.2 Menurut keputusan menteri perhubungan
nomor KM 35 tahun 2003 tentang penyelenggaraan angkutan
orang di jalan dengan kendaraan umum, ada beberapa kriteria yang
berkenaan dengan angkutan umum. Kendaraan adalah setiap
kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan oleh
1
Undang-undang nomor 22 tahun 2009 pasal 1 ayat 1 tentang lalu lintas dan angkutan jalan.
2
38
umum dengan dipungut biaya baik langsung maupun tidak
langsung. Trayek adalah lintasan kendaraan umum untuk
pelayanan jasa angkutan orang dengan mobil bus yang mempunyai
asal dan tujuan perjalanan tetap, lintasan tetap dan jadwal tetap
maupun tidak terjadwal.3
Pemerintah dalam kaitan ini perlu ikut campur tangan
dengan tujuan antara lain:
a. Menjamin sistem operasi yang aman bagi kepentingan
masyarakat pengguna jasa angkutan umum, petugas pengelola
angkutan dan pengusaha jasa angkutan.
b. Mengarahkan agar lingkungan tidak terlalu terganggu oleh
kegiatan angkutan.
c. Menciptakan persaingan yang sehat.
d. Membantu perkembangan dan pembangunan nasional maupun
daerah dengan meningkatkan pelayanan jasa.
e. Menjamin pemerataan jasa angkutan sehingga tidak ada pihak
yang dirugikan, dan mengendalikan operasi pelayanan jasa
angkutan.
3
39
b. Jenis angkutan umum
Angkutan umum terdiri dari berbagai macam jenis yang
terdiri dari angkutan jalan raya, angkutan rel, angkutan laut, dan
angkutan udara.4 Angkutan jalan raya terdiri dari angkot, bis, ojek,
bajaj, taksi, dan metromini. Angkutan rel yaitu kereta api dan
shinkanshen/kereta cepat. Angkutan laut yaitu kapal feri dan kapal
pesiar, dan angkutan udara yaitu pesawat terbang dan helikopter.
Berdasarkan Undang-undang no 14 tahun 1992 tentang
lalu lintas dan angkutan jalan, menyebutkan bahwa pelayanan
angkutan orang dengan kendaraan umum terdiri dari:5
a. Angkutan antar kota yang merupakan pemindahan orang dari
suatu kota ke kota lain.
b. Angkutan kota yang merupakan pemindahan orang dalam dan
atau antar wilayah pedesaan.
c. Angkutan kota yang merupakan pemindahan orang dari suatu
kota ke kota lain.
d. Angkutan lalu lintas batas negara yang merupakan angkutan
orang yang melalui lintas batas negara.
4
https://ginairiyani.wordpress.com/2012/10/24/pengertian-angkutan-umum/, diakses pada 24 Oktober 2012.
5
40
2. Gambaran umum lokasi penelitian
a. Profil terminal Purabaya
Terminal Purabaya merupakan pengembangan dari
Terminal Joyoboyo yang kapasitasnya sudah tidak memadai serta
berada dipusat kota yang tidak memungkinkan dilakukan
pengembangan. Pembangunan terminal type A Purabaya sudah
direncanakan sejak tahun 1982 berdasarkan surat Persetujuan
Gubernur Jawa Timur namun baru dapat dilaksanakan
pembangunan pada tahun 1989 serta diresmikan pengoperasiannya
oleh Menteri Perhubungan RI pada tahun 1991.
Lokasi pembangunan terminal Purabaya berada di desa
Bungurasih Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo dengan luas ±
12 Ha. Dipilihnya lokasi tersebut karena mempunyai akses yang
sangat baik dan strategis sebagai pintu masuk ke kota Surabaya
serta berada pada jalur keluar kota Surabaya arah timur selatan
dan barat. Walaupun lokasi terminal Purabaya berada di
Kabupaten Sidoarjo namun pengelolaan terminal dilakukan oleh
Pemerintah Kota Surabaya. Hal tersebut berdasarkan perjanjian
kerjasama (MOU) antara Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dengan
Pemerintah Kota Surabaya.
Selain terminal bus terpadat di Indonesia dengan lalu lintas
penumpang hingga ratusan ribu per hari, terminal purabaya
41
Terminal purabaya juga merupakan terminal induk yang
berfungsi melayani kendaraan umum baik secara nasional maupun
internasional seperti angkutan antar kota antar provinsi dan
angkutan lintas batas negara, angkutan antar kota dalam provinsi,
angkutan kota dan angkutan pedesaan.
Trayek bus antar kota dan antar provinsi
Trayek Jalur PO
Surabaya-Tulungagung Jalur 1
patas
Harapan Jaya, Setiawan
Surabaya – Semarang Jaya Utama, Indonesia,
Trigaya Putra, Widji
Lestari, Sinar Mandiri
Mulia, Nusantara, Jawa
Indah
Surabaya – Madiun Cendana, Indrapura, Restu
Surabaya - Solo - Jogja
– Magelang
Eka Cepat
Surabaya - Bangkalan -
Sampang - Pamekasan –
Sumenep
Akas
Surabaya-Malang Jalur 2
patas
Kalisari, menggala, Haz,
42
Laksana Anda, Pangeran,
Medali Mas
Surabaya – Jember Akas Asri, Ladju, Tjipto,
Mila Sejahtera, Jember
Indah
Surabaya - Tulungagung Harapan Jaya
Surabaya - Pare - Kediri Hasti
Surabaya – Malang Jalur 5
ekonomi
Kalisari, Laksana Anda,
Restu, Tentrem, Pertiwi,
Ladju, Mila Sejahtera,
Akas NNR, Akas IV,
Jaya Utama, Indonesia,
Sinar Mandiri Mulia, Widji
Lestari, Restu
Surabaya - Purwokerto –
Cilacap
Jalur 9 Rosalia Indah
Surabaya – Bandung Jalur
44
16 Rasa Sayang, Tiara Mas,
Langsung Jaya
Surabaya – Denpasar Gunung Harta, Wisata
Komodo, Puspa Sari, Bali
Perdana, Bali Buana Artha,
Mawar, Lovina,
Al-Mubarok, Zena, Setiawan,
Santoso, DAMRI, Medali
Mas, AKAS
Surabaya – Cirebon Belakang
jalur
10-12
Harapan Kita, Coyo, EZRI
b. Gambaran fluktuasi
Untuk mengetahui fluktuasi jumlah penumpang mudik hari
raya Idul Fitri, UPTD terminal Purabaya, ternyata Dinas
Perhubungan Kota Surabaya disiplin meng-update data
penumpang yang naik dan turun bus di terminal Purabaya
(Bungurasih).
Kepala UPTD terminal Purabaya Surabaya May Ronald
mengemukakan, updeta jumlah penumpang tersebut dilakukan
agar Dinas Perhubungan bisa mengantisipasi bila sewaktu-waktu
45
Berdasarkan data update UPTD terminal Purabaya, pada
lebaran tahun ini, lonjakan penumpang secara besar terjadi pada
H-3 lebaran. Pada hari itu, tercatat jumlah pemudik mencapai
93.718 orang penumpang. Sementara, jumlah penumpang ke
esokan harinya pada H-2 hingga H-1 lebaran, tingkat pemudik
baik yang naik maupun turun di Terminal Purabaya berangsur
angsur turun. Penurunan yang jumlah signifikan mendekati
lebaran ini juga dikarenakan adanya program mudik gratis dari
pemerintah daerah serta beberapa perusahaan. Kepala UPTD
terminal Purabaya itu menyebutkan, pada H-1 lebaran jumlah
penumpang di Purabaya hanya 32.303 penumpang. Rincianya,
sebanyak 30.727 naik dan 15.876 orang penumpang turun.
c. Struktur organisasi terminal purabaya6
6
46
B. Penetapan Tarif
Tarif angkutan penumpang kelas ekonomi adalah harga jasa pada
suatu trayek tertentu atas pelayanan angkutan penumpang kelas
ekonomi.7 Tarif angkutan penumpang umum yang berlaku untuk
pelayanan bus kelas ekonomi menggunakan tarif diantara atau sama
dengan tarif jarak batas atas dan tarif jarak batas bawah.8
Penetapan tarif bis telah ditentukan oleh dinas perhubungan
dengan cara dirapatkan dengan pengusaha-pengusaha bis yang mengacu
pada peraturan direktorat pusat. Pihak dinas perhubungan juga
mengundang seluruh instansi yang terkait untuk membahas bersama
tentang ketentuan tarif setiap enam bulan sekali untuk melakukan
evaluasi. Setelah ditentukan besaran tarif tersebut, maka pihak pengusaha
jasa angkutan segera memberikan tabel rincian tarif kepada para
kondektur untuk segera dapat diterapkan.
Rincian tarif bis mulai dari tambak boyo-bulu Rp.6000, sarang Rp.
7000, pandangan Rp. 9000, sluke Rp. 10.000, lasem Rp. 12.000, rembang
Rp. 14.000, pati Rp. 19.000, bareng Rp. 21.000, kudus Rp. 24.000,
nggaluran Rp. 27.000, demak Rp. 29.000, buyaran Rp. 30.000, sayung Rp.
31.000, semarang Rp. 33.000. sebagaimana yang terdapat pada tabel
dibawah ini:
7
Keputusan Menteri Perhubungan No: KM.89 Tahun 2002, pasal 1 ayat 1.
8
47
Tabel 1: data tentang tarif bis dari Tambak Boyo-Semarang
Sumber: dokumentasi dari kondektur bis Surabaya-Semarang.
Rincian tarif dari Surabaya-bunder Rp. 7000, duduk Rp. 8000,
pandanan Rp. 9000, deket Rp. 10.000, lamongan Rp. 11.000, kruwul Rp.
12.000, sumlaran Rp. 14.000, pucuk Rp. 15.000, gembong Rp. 16.000,
babat Rp. 17.000, compreng Rp. 18.000, pakah Rp. 19.000, tuban Rp.
20.000, jenu Rp. 22.000. sebagaimana yang terdapat pada tabel dibawah
48
Tabel 2: data tentang tarif bis dari Surabaya-Jenu
Sumber: dokumentasi dari kondektur bis Surabaya-Semarang
Selanjutnya yaitu rincian tarif dari surabaya-semarang Rp. 58.000,
sayung Rp. 57.000, buyaran Rp. 56.000, demak Rp. 54.000, nggaluran Rp.
52.000, kudus Rp. 50.000, bareng Rp. 48.000, pati Rp. 45.000, juana Rp.
43.000, rembang Rp. 40.000, lasem Rp. 38.000, sluke Rp. 36.000,
pandangan Rp. 34.000, sarang Rp. 31.000, bulu Rp. 30.000, tambak boyo
Rp. 26.000, glondong Rp. 25.000. Sebagaimana tertera dalam tabel
49
Tabel 3: data tentang tarif bis dari Surabaya-Glondong
Sumber: dokumentasi dari kondektur bis Surabaya-Semarang
Tarif tersebut berpacu pada peraturan dirjendat (direktorat
50
Tarif bus antar kota antar provinsi (AKAP)
Berdasarkan ketentuan tersebut pihak dinas perhubungan berharap
pelaksanaan yang ada di lapangan juga harus sesuai, maka pihak dinas
perhubungan langsung mengambil tindakan agar peraturan itu segera
disosialisasikan dan dapat di nikmati oleh masyarakat luas.
Menurut ibu Triana Wijayati bagian staf angkutan pihaknya dinas
51
diterima oleh penumpang maka beliau menghimbau agar dibuat
pengumuman terkait ketentuan tarif yang ditempel di bis.9
C. Realisasi penetapan tarif bis antar kota antar provinsi
Surabaya-Semarang
1. Tarif yang berlaku bagi penumpang
Meskipun penetapan tarif sudah ditentukan oleh pemerintah
sesuai dengan peraturan Direktur jenderal perhubungan darat tentang
tarif jarak batas atas dan tarif jarak batas bawah angkutan penumpang
dengan mobil bus umum kelas ekonomi pada trayek antar kota antar
provinsi, akan tetapi praktik yang ada di lapangan tidaklah berjalan
sesuai dengan semestinya. Banyak penumpang yang resah akan
ketidakjelasan ketentuan tarif bis Surabaya-Semarang.
Ketetapan tarif oleh kondektur yang berubah-ubah menjadikan
para penumpang kebingungan karena tidak adanya nominal yang
tertera dalam karcis. Hanya saja ada beberapa penumpang terutama
yang jarak jauh diberi karcis sedangkan untuk penumpang yang jarak
dekat tidak diberi karcis.
Ada perbedaan dalam menentukan berapa tarif yang diambil oleh
kondektur ketika para penumpang memberikan uang pas dan uang
lebih. Hal tersebut tidak hanya terjadi pada lain hari, akan tetapi
pernah terjadi pada saat yang bersamaan yaitu ketika ada dua orang
9