• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis hukum Islam terhadap implementasi penetapan tarif jasa angkutan umum : studi kasus bis antar kota / Provinsi Surabaya - Semarang.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis hukum Islam terhadap implementasi penetapan tarif jasa angkutan umum : studi kasus bis antar kota / Provinsi Surabaya - Semarang."

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

Skripsi ini adalah hasil penelitian lapangan (field researt) tentang "Analisis Hukum Islam terhadap Implementasi Penetapan Tarif Jasa Angkutan Umum (Studi Kasus Bis Antar Kota Antar Provinsi Surabaya-Semarang)". Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan mengenai, Bagaimana

praktik implementasi penetapan tarif oleh kondektur bis Surabaya –Semarang,

dan Bagaimana analisis hukum Islam terhadap implementasi penetapan tarif jasa

angkutan umum bis antar kota/provinsi Surabaya –Semarang.

Data penulisan skripsi diperoleh melalui wawancara langsung dengan pihak yang terlibat yaitu, kondektur, penyedia jasa (PO) dan penumpang. Data kemudian dianalisis dengan metode deskriptif dengan pola pikir induktif. Analisis deskriptif dengan pola pikir induktif yaitu menggambarkan sesuatu hal dengan mengumpulkan data terkait tentang implementasi penetapan tarif jasa angkutan umum bis antar kota/provinsi Surabaya-Semarang, yang disertai dengan penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa praktik implementasi penetapan tarif oleh kondektur bis Surabaya-Semarang belum sepenuhnya terlaksana dengan baik karena ada beberapa alasan kondektur yang melatarbelakangi adanya perbedaan penetapan tarif bis ketika memberi uang pas dan memberi uang lebih, salah satunya yaitu karena faktor teknis dan ekonomi. Sedangkan menurut

hukum Islam, praktik tersebut belum memenuhi salah satu syarat ija>rah yaitu

saling meridhai, karena dalam praktiknya ada pihak yang merasa keberatan. Di dalam Islam dijelaskan apabila salah seorang di antara kedua orang yang berakad terpaksa melakukan akad tersebut, maka akadnya tidak sah.

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DALAM ... i

PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

PENGESAHAN ... iv

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TRANSLITERASI ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi dan Batasan Masalah ... 6

C. Rumusan Masalah ... 7

D. Tujuan Penelitian ... 8

E. Kegunaan Hasil Penelitian ... 8

F. Kajian Pustaka ... 9

G. Definisi Operasional ... 11

H. Metode Penelitian ... 12

I. Sistematika Pembahasan ... 16

BAB II SEWA MENYEWA (IJARAH) DAN PERATURAN DIRJENDAT NO: SK.6736/AJ.205/DRDJ/2014... 17

A. Ijarah ... 17

1. Definisi Ijarah ... 17

2. Dasar Hukum Ijarah ... 20

3. Rukun dan Syarat Ijarah ... 24

4. Macam-macam Ijarah ... 29

(8)

B. Peraturan Dirjendat No: SK.6736/AJ.205/DRDJ/2014 Tentang Tarif

Jarak Batas Atas Dan Tarif Jarak Batas Bawah Angkutan Penumpang Dengan Mobil Bus Umum Kelas Ekonomi Pada Trayek

Antar Kota Antar Provinsi ... 34

BAB III IMPLEMENTASI PENETAPAN TARIF JASA ANGKUTAN UMUM BIS SURABAYA-SEMARANG... 37

A. Gambaran Umum Penelitian ... 37

1. Gambaran Umum Jasa Angkutan Umum ... 37

2. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 40

B. Penetapan Tarif... 46

C. Realisasi Penetapan Tarif Bis Antar kota Antar provinsi Surabaya-Semarang ... 51

1. Tarif yang berlaku bagi penumpang ... 51

2. Penerapan Tarif Bis oleh Kondektur ... 52

3. Menurut Penyedia Jasa Angkutan Bis (PO) ... 54

4. Pendapat Penumpang Tentang Penerapan Tarif Bis ... 55

D. Sanksi Bagii Yang Melanggar Peraturan ... 57

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP IMPLEMENTASI PENETAPAN TARIF JASA ANGKUTAN UMUM BIS ANTAR KOTA/PROVINSI SURABAYA-SEMARANG ... 61

A. Analisis implementasi penetapan tarif oleh kondektur bis Surabaya-Semarang ... 61

(9)

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 69 B. Saran ... 70

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Allah SWT menciptakan manusia sebagai makhluk sosial yang

tidak bisa hidup sendiri melainkan membutuhkan orang lain untuk

memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Dengan saling berinteraksi

untuk tercapainya kemajuan bersama, terutama dalam menjalankan roda

perekonomian mereka (bermuamalah). Mu’a>malah sendiri berasal dari

bahasa Arab yang secara etimologi sama dan semakna dengan mufa>’alah

(saling berbuat). Kata ini menggambarkan suatu aktivitas yang dilakukan

oleh seseorang dengan seseorang atau beberapa orang dalam memenuhi

kebutuhan masing-masing.1

Mu’a>malah merupakan interaksi atau hubungan timbal balik

antara manusia dengan tuhannya, manusia dengan manusia, manusia

dengan lingkungan dan dengan dirinya sendiri. Dalam kehidupan

bermuamalah manusia selalu berhubungan satu sama lain untuk

mencukupi kebutuhan hidup.2 Dengan demikian manusia harus saling

tolong-menolong untuk tercapainya kepentingan dan tujuan

masing-masing yang tentunya tidak keluar dari aturan-aturan syara’.

1 Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah, cet. ke-2 (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007), 7.

2 Ahmad Azhar Basyir, Asas-Asas Hukum Muamalah(Hukum Perdata Islam), (Jogyakarta: UII

(11)

Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan

dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”.3 (QS. al-Ma>idah : 2)

Ayat tersebut diketahui bahwa tidak ada manusia yang dapat

menjalankan/memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa campur tangan atau

bantuan orang lain. Seperti halnya pedagang tidak akan mendapatkan

uang jika tidak ada pembeli, dan sopir angkutan umum tidak akan

mendapat penghasilan jika tidak ada penumpang. Dari dua hal tersebut

terdapat keterkaitan, ketergantungan/ saling membutuhkan satu sama

lain.

Contoh lain dari bentuk kegiatan manusia dalam lingkup

muamalah ialah upah-mengupah, yang dalam fiqih Islam disebut ujrah.

Kegiatan upah mengupah pada umumnya yang sering didengar yaitu upah

buruh pabrik, memang hal itu juga salah satu bentuk upah yang ada dalam

kegiatan sehari-hari. Salah satu bentuk upah juga tidak hanya sebatas

pada kegiatan produksi saja, namun terdapat dalam kegiatan seperti

halnya distribusi, yang pada umumnya dikenal dengan ongkos.

3 Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: CV Penerbit

(12)

3

Ongkos atau upah dalam bahasa Arab disebut ujrah merupakan

bentuk teansaksi yang diperbolehkan dalam agama Islam selama

memenuhi syarat dan rukunnya. Sebagaimana fiman Allah SWT dalam

Q.S. Az-Zukhruf ayat 32:

Artinya: “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? kami

Telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami Telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain, dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Dalam ayat tersebut memberikan penjelasan bahwa setiap

manusia membutuhkan manusia lainnya walaupun derajat dalam hal

dunia lebih tinggi dari manusia lainnya sebgaimana kutipan terjmah ayat

tersebut “dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian

yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan

sebagian yang lain”.

Upah bisa disebut juga dengan kontrak kerja, atau memanfaatkan

jasa sesorang baik dalam keahlian, tenaga, dan waktu yang diberikan.

Seperti contoh bengkel, cleaning service, pengantar barang, dan lain

(13)

4

menyewa benda dan ada penyewaan benda saja, dalam hal ini hanya

sebatas memanfaatkannya saja tidak bisa menjadi pemilik.

Salah satu bentuk jasa yang menerima upah yaitu dalam dunia

transportasi. Hal ini merupakan kebutuhan bagi manusia dalam

menjangkau tempat satu ke tempat lainnya yang membutuhkan waktu

lebih cepat dari pada berjalan kaki, salah satunya angkutan umum.

Angkutan umum dapat dibagi menjadi tiga, antara lain angkutan air,

darat, dan udara, yang sering dalam kehidupan sehari-hari adalah

angkutan darat.

Jasa angkutan darat dapat dibagi menjadi dua antara lain angkutan

milik pemerintah dan swasta. Masing-masing memiliki aturan tersendiri

dalam menetapkan tarif upah (ujrah) atau ongkos, contoh untuk angkutan

milik swasta, yang sudah umum kita dengar yaitu Go-jek dengan tarif

yang disesuaikan dengan jarak yang ditempuh yang berbasis aplikasi,

untuk yang milik pemerintah seperti angkutan kota dengan tarif sama

tanpa melihat jarak yang ditempuh.

Kedua jasa angkutan tersebut semuanya diawasi pemerintah

dalam menetapkan kebijakan upahnya sehingga tidak melanggar

undang-undang. Upah yang diatur dalam peraturan daerah berlaku untuk setiap

angkutan yang ada di daerah tersebut. Dalam pengambilan upah

terkadang suatu angkutan umum mengambil nominal lebih besar dari

pada umumnya, hal ini biasanya terjadi pada mereka yang belum

(14)

5

bisa juga terjadi bagi mereka yang baru memasuki wilayah tersebut, dan

yang terakhir kurangnya sosialisasi terhadap perubahan upah atau ongkos

yang ditetapkan.

Dalam hal ini, yang akan penulis teliti terkait dengan pengambilan

upah tarif bis antar kota antar provinsi Surabaya-Semarang. Dalam

Peraturan dirjendat no: SK.6736/AJ.205/DRDJ/2014 pasal 2 tentang tarif

jarak batas atas dan tarif jarak batas bawah angkutan penumpang dengan

mobil bus umum tercantum dalam lampiran peraturan tersebut. Tarif

jarak batas atas adalah besaran tarif maksimum untuk setiap trayek,

sedangkan tarif jarak batas bawah adalah kebalikannya yaitu besaran tarif

minimum untuk setiap trayek.

Temasuk juga jurusan Surabaya-Semarang dalam lampiran

peraturan disebutkan batas bawah sebesar Rp. 34.900 dan batas atas

sebesar Rp. 56.600, bis Surabaya-Semarang tujuan Lamongan biasanya

dikenakan tarif Rp. 14.000. Tetapi, jika penumpang memberi uang Rp.

15.000, kondektur tidak memberikan kembalian. Ada penumpang yang

memberikan uang Rp 20.000, kondektur memberikan kembalian Rp.

5000. Jika ada penumpang memberikan uang Rp. 14.000, kondektur

hanya diam saja.

Hal tersebut tidak terjadi dilain waktu saja, akan tetapi dapat

terjadi dalam satu waktu yang bersamaan. Ketika si A dan si B akan

menempuh tujuan yang sama dan duduk dalam bangku bersebelahan,

(15)

6

14.000 karena uang yang diberikan adalah uang pas, sedangkan si B

mendapatkan tarif 15.000 karena memberikan uang lebih.

Dari uraian di atas terjadi ketidakjelasan dalam memberikan tarif

penumpang. Sehingga, penyusun tertarik meneliti ini karena dalam

pengambilan upah terdapat kecurangan yang dilakukan dari pihak

kondektur. Kecurangan biasanya dilakukan kepada para penumpang yang

masih awal memasuki wilayah perkotaan. Hal ini dijadikan kesempatan

oleh para kondektur untuk mendapat keuntungan yang lebih.

Padahal dalam hukum Islam telah dijelaskan bahwa muamalat

dilaksanakan dengan memelihara nilai keadilan, menghindari unsur-unsur

penganiayaan, unsur-unsur pengambilan kesempatan dalam kesempitan.4

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut penulis tertarik untuk

melakukan penelitian yang membahas yakni mengenai Analisis hukum

Islam terhadap implementasi penetapan tarif jasa angkutan umum (studi

kasus bis antar kota/provinsi Surabaya -Semarang).

B. Identifikasi dan Batasan Masalah

Identifikasi masalah merupakan penyajian terhadap

kemungkinan-kemungkinan beberapa cakupan yang dapat muncul dengan

mengidentifikasi dan inventarisasi sebanyak mungkin yang diduga

sebagai masalah.5

4

H. Asmuni A. Rahman, Qaidah-qaidah, cet. 1 (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), 88.

5 Tim Penyusun Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam, Petunjuk Teknis Penulisan Skripsi,

(16)

7

Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana diuraikan di atas

maka dapat diidentifikasikan masalah-masalah sebagai berikut:

1. Pengaruh tarif bis terhadap penggunaan jasa angkutan umum

2. Akibat hukum dalam mengesampingkan penetapan tarif angkutan

umum

3. Hukum perubahan atas ujrah secara tiba-tiba

4. Praktik implementasi penetapan tarif jasa angkutan umum

5. Analisis hukum Islam terhadap implementasi penetapan tarif jasa

angkutan umum

Dengan adanya suatu permasalahan tersebut, maka untuk

memberikan arah yang jelas dalam penelitian ini penulis membatasi pada

masalah-masalah berikut ini:

1. Praktik implementasi penetapan tarif oleh kondektur bis antar

kota/provinsi Surabaya -Semarang.

2. Analisis hukum Islam terhadap implementasi penetapan tarif jasa

angkutan umum bis antar kota/provinsi Surabaya -Semarang.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat

dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana praktik implementasi penetapan tarif oleh kondektur bis

(17)

8

2. Bagaimana analisis hukum Islam terhadap implementasi penetapan

tarif jasa angkutan umum bis antar kota/provinsi Surabaya

-Semarang?

D. Tujuan Penelitian

Suatu penelitian yang dilakukan mempunyai tujuan dan manfaat

dari hasil penelitian tersebut. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui praktik implementasi penetapan tarif jasa

angkutan umum bis antar kota/provinsi Surabaya -Semarang.

2. Untuk mengetahui analisis hukum Islam terhadap implementasi

penetapan tarif jasa angkutan umum bis antar kota/provinsi Surabaya

-Semarang.

E. Kegunaan Hasil Penelitian

Dari hasil penelitian ini, peneliti berharap dapat bermanfaat dan

berguna bagi peneliti maupun pembaca lain, diantaranya:

1. Secara teoritis berguna untuk penambahan/pengembangan ilmu

pengetahuan yang didapat dalam perkuliahan dan

membandingkannya dengan praktik di lapangan, khususnya dalam

bidang ilmu Hukum Ekonomi Syariah (muamalah).

2. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan

(18)

9

melakukan berbagai macam kegiatan ekonomi yang sesuai dengan

syariat Islam, dan juga dapat menambah literatur atau bahan-bahan

informasi ilmiah yang dapat digunakan untuk melakukan kajian dan

penelitian selanjutnya.

F. Kajian Pustaka

Kajian pustaka merupakan deskripsi ringkas tentang kajian atau

penelitian yang sudah pernah dilakukan diseputar masalah yang diteliti

sehingga tidak terjadi pengulangan atau bahkan duplikasi kajian atau

penelitian yang sudah ada.6

Dari hasil pengamatan penulis tentang kajian-kajian sebelumnya,

penulis temukan beberapa kajian diantaranya:

1. Skripsi yang ditulis oleh Rudi Pradoko yang berjudul “Tinjauan

Hukum Islam terhadap Strategi Penetapan Harga Tiket Pesawat pada

Maskapai Penerbangan di Yogyakarta”. Skripsi ini menjelaskan

bahwa maskapai penerbangan di Yogyakarta, dalam menetapkan

harga tiket menggunakan strategi sub kelas di setiap penerbangannya.

Strategi tersebut berdasarkan pembagian kursi (seat) dalam beberapa

kelas, yaitu pembagian kelas digunakan hanya dalam pembedaan

harga dengan faktor yang mempengaruhi waktu pemesanan tiket.

Memberikan harga murah ketika pemesanan lebih awal atau jauh hari

sebelum pemberangkatan. Selain itu juga biasanya harga murah

(19)

10

ditawarkan ketika pada masa-masa sepi (low season), misalnya hari

selasa, rabu, kamis, dan jum’at. Strategi tersebut bertujuan untuk

menarik konsumen agar menggunakan jasa penerbangan dari pihak

maskapai tersebut kedepannya.7

2. Skripsi yang ditulis oleh Dessy Rosita yang berjudul “Perspektif

Hukum Islam terhadap Penetapan Harga Jual Beli Tiket Tarif

Lebaran bus Ramayana Jogja-Palembang di Yogyakarta”. Skripsi ini

membahas tentang bagaimana mekanisme jual beli yang dilakukan

oleh agen kepada konsumen, serta bagaimana pandangan hukum

islam terhadap penetapan harga tersebut. Hasil penelitian ini, bahwa

mekanisme penetapan harga yang dilakukan oleh para agen terminal

Giwangan tidak sesuai dengan hukum islam dan mekanisme yang

ada.8

3. Skripsi yang ditulis oleh Siti Aisyah yang berjudul “Tinjauan Hukum

Islam terhadap Peraturan Walikota Surabaya Nomor 98 tahun 2008

tentang Ketentuan Tarif Angkutan di Kota Surabaya”. Skripsi ini

membahas tentang ketentuan tarif angkutan di kota Surabaya yang

tidak dapat terlaksana dengan baik. Hasil penelitian ini, bahwa

pelaksanaan peraturan walikota nomor 98 tahun 2008 di kota

7 Rudi Pradoko, “Tinjauan Hukum Islam terhadap Strategi Penetapan Harga Tiket Pesaawat pada

Maskapai Penerbangan di Yogyakarta” (Skripsi—UIN Sunan Kalijaga, yogyakarta, 2007).

8 Dessy Rosita, “Persektif Hukum Islam terhadap Penetapan Harga Jual Beli Tiket Tarif Lebaran

Bus Ramayana Jogja-Palembang di Yogyakarta”(Skripsi—UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta,

(20)

11

surabaya, tidak dapat berjalan dengan baik karena adanya pihak yang

dirugikan.9

Penelitian yang akan dilakukan oleh penyusun berbeda

dengan penelitian atau karya yang telah ada, dimana penyusun

mengkaji analisis implementasi penetapan tarif jasa angkutan umum

(studi kasus bis antar kota/provinsi Surabaya -Semarang).

G. Definisi Operasional

Definisi Operasional memuat beberapa penjelasan tentang

pengertian yang bersifat operasional, yaitu memuat masing-masing

variabel yang digunakan dalam penelitian yang kemudian didefinisikan

secara jelas dan mengandung spesifikasi mengenai variabel yang

digunakan dalam penelitian ini.

Beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini di antaranya

adalah sebagai berikut:

Hukum Islam : Yang dimaksud hukum Islam dalam kajian ini

ialah ayat-ayat al-Qur’an, hadish, dan hasil

ijtihad para ulama yang membahas tentang

ija<rah.

Penetapan tarif Jasa Angkutan umum: Praktik pengambilan upah yang

dilakukan oleh kondektur kepada para

9

(21)

12

penumpang yang mengandung unsur

ketidakjelasan dalam menetapkan tarif bis

Surabaya – Semarang.

H. Metode Penelitian

Penelitian yang dilakukan berorientasi pada pengumpulan data

empiris yaitu lapangan, sedangkan pendekatan yang digunakan adalah

penelitian kualitatif, karena kualitatif memuat tentang prosedur

penelitian yang menghasilkan deskriptif berupa tulisan atau perkataan

dari orang-orang atau pelaku yang diamati.

Adapun metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1. Data yang dikumpulkan

Data merupakan kumpulan dari keterangan/informasi yang

benar dan nyata yang diperoleh baik dari sumber primer maupun

sumber sekunder.10 Berdasarkan rumusan masalah yang telah

disebutkan, maka data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri

dari:

a. Data tentang tarif yang berlaku bagi penumpang

b. Data tentang penerapan tarif bis oleh kondektur

c. Data tentang pendapat penumpang

d. Data tentang pendapat penyedia jasa (PO)

(22)

13

e. Data tentang pendapat Dishub

2. Sumber data

Berdasarkan data yang telah dihimpun, maka yang menjadi

sumber data dalam penelitian ini adalah:

a. Sumber primer

Sumber primer adalah sumber yang diperoleh secara langsung dari

subyek penelitian. Dalam penelitian ini sumber primer adalah:

1) Penumpang bis

2) Kondektur bis

3) PO (penyedia jasa)

4) Pihak dishub

5) Sopir

b. Sumber sekunder

Sumber sekunder merupakan sumber yang diperoleh dari sumber

kedua atau sumber pendukung.11 Sumber sekunder dalam

penelitian ini ialah literatur-literatur berupa buku-buku dan

kitab-kitab yang berkaitan dengan penelitian, diantaranya:

1) Fiqih Muamalah, karangan Nasroen Haroen

2) Fiqih Muamalah, karangan Helmi Karim

3) Kaidah-kaidah Hukum Islam, karangan Abdul Wahhab Khallaf

4) Fiqih Muamalah, karangan Rachmat Syafe’i

5) Al-Fiqhu al-Islamiyyah wa Adillatuhu, Wahbah Az-zuhaili

11 Muhammad Idrus, Metode Penelitian Ilmu Sosial: Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif,

(23)

14

6) Dan buku-buku lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini.

3. Teknik pengumpulan data

Teknik pengumpulan data diperoleh melalui prosedur yang

sistematik dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan.12

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi:

a. Wawancara

Wawancara merupakan pertemuan dua orang atau lebih untuk

bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga dapat

dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu.13

b. Dokumentasi

Dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data yang tidak langsung

ditunjukkan pada subyek penemuan, namun melalui dokumen.14

Dokumen yang dimaksud yaitu tentang data ketetapan tarif bis

Surabaya-Semarang.

c. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data untuk sumber sekunder yaitu diperoleh

dari literatur berupa buku-buku dan kitab-kitab yang berkaitan

dengan penelitian yaitu tentang ija>rah.

12 Moh Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta Timur: Ghalia Indonesia, 1988), 211.

13 Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfa Beta, 2008), 72.

(24)

15

4. Teknik pengolahan data

Data yang diperoleh dari hasil penggalian terhadap sumber data

akan diolah melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:

a. Editing yaitu kegiatan pengeditan akan kebenaran dan ketepatan

data tersebut.15

b. Organizing yaitu mengatur dan menyusun data sumber

dokumentasi sedemikian rupa sehingga dapat memperoleh

gambaran yang sesuai dengan rumusan masalah, serta

mengelompokkan data yang diperoleh.16

c. Analizing yaitu dengan memberikan analisis lanjutan terhadap

hasil editing dan organizing data yang telah diperoleh dari

sumber-sumber penelitian, dengan menggunakan teori dan

dalil-dalil lainnya sehingga diperoleh kesimpulan.17

5. Teknik analisis data

Dari hasil pengumpulan data yang dilakukan selanjutnya akan

dibahas dengan analisis secara kualitatif, yaitu dengan menghasilkan

data deskriptif.

Deskriptif yaitu menggambarkan/menguraikan sesuatu hal atau

fenomena yang telah terjadi menurut apa adanya yang sesuai dengan

15 Sony Sumarsono, Metode Riset Sumber Daya Manusia, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2004), 97.

16 Chalid Narbuko dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 1997), 154.

(25)

16

kenyataannya.18 Dengan mengumpulkan data tentang praktik

penetapan tarif jasa angkutan umum bis antar kota/provinsi

Surabaya -Semarang disertai analisa untuk diambil kesimpulan.

Pola pikir yang dipakai adalah induktif yaitu merupakan metode

yang digunakan untuk mengemukakan hasil kenyataan yang terjadi di

lapangan dalam mengimplementasikan penetapan tarif bis antar

kota/provinsi Surabaya –Semarang.

I. Sistematika Pembahasan

Penulisan skripsi ini disusun secara sistematis agar mempermudah

pembahasan dalam penelitian ini, sistematika pembahasannya sebagai

berikut:

Bab pertama ialah pendahuluan yang berisi tentang pokok-pokok

pikiran atau landasan permasalahan yang melatar belakangi penulisan

proposal ini, sehingga memunculkan gambaran isi tulisan yang terkumpul

dalam konteks penelitian, identifikasi masalah, pembatasan masalah,

Rumusan masalah, kajian pustaka, tujuan penelitian, kegunaan hasil

penelitian, definisi operasional, metode penelitian dan sistematika

pembahasan.

Bab kedua adalah landasan teori tentang sewa-menyewa (ija>rah)

dan Peraturan dirjendat no: SK.6736/AJ.205/DRDJ/2014, yang meliputi

pengertian ija>rah, dasar hukum ija>rah, rukun dan syarat ija>rah,

(26)

17

macam ija>rah, pembatalan dan berakhirnya ija>rah, dan Peraturan dirjendat

no: SK.6736/AJ.205/DRDJ/2014 tentang tarif jarak batas atas dan tarif

jarak batas bawah angkutan penumpang dengan mobil bus umum kelas

ekonomi pada trayek antar kota antar provinsi.

Bab ketiga berisikan tentang implementasi penetapan tarif

angkutan umum bis Surabaya-Semarang yang meliputi tentang gambaran

umum penelitian yaitu terdiri dari gambaran umum jasa angkutan umum

dan gambaran umum lokasi penelitian, penetapan harga (tarif), realisasi

penetapan tarif bis antar kota/provinsi Surabaya – Semarang, dan juga

sanksi bagi yang melanggar peraturan.

Bab keempat adalah berisikan tentang Analisis hukum Islam

terhadap implementasi penetapan tarif jasa angkutan umum (studi kasus

bis antar kota/provinsi Surabaya -Semarang).

Bab kelima merupakan bab penutup yang berisikan tentang

kesimpulan yang menjawab rumusan masalah dan dilengkapi dengan

saran – saran. Selain itu bab terakhir ini dilengkapi dengan daftar pustaka

(27)

BAB II

SEWA-MENYEWA (IJA>RAH) DAN PERATURAN DIRJENDAT

NO: SK.6736/AJ.205/DRDJ/2014

A. IJA>RAH

1. Definisi Ija>rah

Sewa-menyewa dalam bahasa arab diistilahkan dengan ija>rah.1

Al-ija>rah berasal dari kata al-ajru yang berarti al-‘iwad}/penggantian.2

Menurut etimologi, ija>rah adalah ةعفنملا عيب (menjual manfaat). Ada yang

menterjemahkan, ija>rah sebagai jual-beli jasa (upah-mengupah), yakni

mengambil manfaat tenaga manusia, ada juga yang menterjemahkan

sewa-menyewa, yakni mengambil manfaat dari barang.

Ija>rah menurut pengertian umum yang meliputi upah atas

pemanfaatan suatu benda atau imbalan suatu perbuatan atau upah karena

melakukan suatu aktifitas, ija>rah juga dapat diartikan sebagai upah atas

seseorang yang melakukan jasa.3 Dalam arti luas ija>rah merupakan suatu

akad yang berisi suatu penukaran manfaat sesuatu dengan jalan

memberikan imbalan dalam jumlah tertentu. Hal ini sama artinya dengan

menjual manfaat barang apabila dilihat dari segi barangnya dan juga bisa

diartikan menjual jasa apabila dilihat dari segi orang dan bukan menjual

‘ain” dari benda itu sendiri.4

1

Chairuman pasaribu, hukum perjanjian dalam islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 1994), 52.

2

Abdul Rahman Ghazaly, ghufran ihsan, dan sapiudin shidiq, fiqih muamalat, (jakarta: kencana prenada media group, 2010), 277.

3

Hekmi karim, fiqih muamalah, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 1997), 29.

4

(28)

18

Menurut Idris Ahmad dalam bukunya yang berjudul Fiqh Syafi'i,

berpendapat bahwa ija>rah berarti upah-mengupah.5 Hal ini terlihat ketika

beliau menerangkan rukun dan syarat upah-mengupah, yaitu Mu‘jir dan

Musta‘jir (yang memberikan upah dan yang menerima upah), sedangkan

Kamaluddin A. Marjuki sebagai penerjemah Fiqih Sunnah karya Sayyid

Sabiq menjelaskan makna ija>rah dengan sewa-menyewa.6

Dari dua buku tersebut ada perbedaan terjemahan kata ija>rah dari

bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Antara sewa dan upah juga ada

perbedaan makna operasional. Sewa biasanya digunakan untuk benda,

seperti seorang mahasiswa menyewa kamar untuk tempat tinggal selama

kuliah, sedangkan upah digunakan untuk tenaga, seperti para karyawan

bekerja di pabrik dibayar gajinya (upahnya) satu kali dalam seminggu.

Dalam bahasa Arab upah dan sewa disebut ija>rah.7 Menurut madzhab

Hanafi menjelaskan bahwa ija>rah adalah suatu perjanjian yang

memberikan faedah memiliki manfaat yang diketahui dan disengaja dari

benda yang disewakan dengan adanya imbalan sebagai pengganti.8

Penjelasan madzhab Hanafi "suatu perjanjian" maksudnya adalah

ijab dan kabul. Hal ini tidak wajib diucapkan, masalah itu seperti ketika

seseorang menyewa rumah dari orang lain untuk masa setahun, dan

apabila masanya telah habis, pemilik rumah berhak meminta rumahnya

itu dikosongkan. Jika orang yang menyewa tersebut tidak mengosongkan

5

Ibid., 113.

6

Sayid Sabiq, Fiqh Sunnah, Juz 4, 203.

7

Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2016), 113.

8

(29)

19

rumah, maka baginya setiap harinya ada perongkosan. Bila ia mulai

mengosongkan namun tidak bisa selesai kecuali dalam jarak waktu

tertentu. Bagi penyewa wajib membayar ongkos sepantasnya pada jarak

waktu tersebut, jadi persewaan bisa terselenggara dalam jarak waktu itu

dengan tanpa ucapan. Madzhab Hambali mengartikan ija>rah ialah

perjanjian atas manfaat yang mubah yang diketahui yang diambil secara

berangsur-angsur dalam masa yang diketahui dengan ongkos yang

diketahui.9

Madzhab Syafi'i menerangkan bahwa perjanjian persewaan adalah

suatu perjanjian atas manfaat yang diketahui dan yang disengaja yang

bisa diserahkan kepada pihak lain secara mubah dengan ongkos yang

diketahui.10 Perkataan "suatu perjanjian" maknanya adalah ijab dan

kabul, yaitu sighat Perkataan "atas manfaat" maksudnya adalah sesuatu

yang dijadikan perjanjian atau Al-ma‘q>ud ‘alaih seperti manfaat rumah

yang disewa untuk ditempati, atau tanah yang disewa untuk diambil

manfaat hasil tanamannya, dan seterusnya.

Ada yang menterjemahkan ija>rah sebagai jual-beli jasa

(upah-mengupah) yakni mengambil manfaat tenaga manusia, Ada pula yang

menerjemahkan sewa-menyewa yakni mengambil manfaat dari barang.

Penulis membagi ija>rah menjadi dua bagian yaitu ija>rah atas jasa dan

benda.11

9

Moh.Zuhri, Fiqih Empat Madzhab..., 173.

10

Ibid., 172.

11

(30)

20

Muhammad Anwar menerangkan bahwa ija>rah ialah perakatan

(perikatan) pemberian pemanfaatan (jasa) kepada orang lain dengan

syarat memakai ‘iwadh (penggantian balas jasa) dengan berupa uang atau

barang yang telah ditentukan. Jadi dengan melihat arti ija>rah tersebut,

maka dalam ija>rah membutuhkan dua pihak yaitu pemberi atau penyedia

jasa dan pihak pengguna jasa atau pemberi upah.12 Islam

memperbolehkan seseorang untuk memanfaatkan jasa seseorang dan

upah dalam pemanfaatan jasa tersebut harus dipenuhi.

2. Dasar Hukum Ija>rah

Bila dilihat dari uraian di atas, rasanya mustahil manusia hidup

berkecukupan tanpa hidup berijarah dengan manusia lain. Karena itu,

boleh dikatakan bahwa pada dasarnya ijarah itu adalah salah satu bentuk

aktivitas antara dua pihak atau saling meringankan, serta serta termasuk

salah satu bentuk tolong menolong yang diajarkan agama. Ija>rah

merupakan salah satu jalan memenuhi hajat manusia. Oleh sebab itu,

para ulama menilai bahwa ija>rah ini merupakan suatu hal yang boleh dan

bahkan kadang-kadang perlu dilakukan. Walaupun ada pendapat yang

melarang ija>rah, tetapi oleh jumhur ulama pandangan yang ganjil itu

dipandang tidak ada.

Rajagrafindo Persada, 2003), 228.

12

(31)

21

Banyak ayat dan riwayat yang dijadikan argument oleh para ulama

akan kebolehan ija>rah tersebut.13

1. Landasan dari al-Qur’an, di antaranya dapat dikemukakan sebagai

Artinya: Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? kami Telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami Telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.(Q.S.Az-Zukruf: 32).14

b. Surat Al-Qashash, ayat 26 Allah SWT berfirman:

 Karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang Kuat lagi dapat

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: CV Penerbit Jumanatul Ali-Art, 2007), 798.

15

(32)

bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, Maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu Maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan Maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.(Q.S.Al-T}alaq: 6).16

2. Adapun landasan Sunnah tentang ija>rah ini antara lain:

a. Hadist riwayat Bukhari dan Muslim menyebutkan:

ْي ع ه َ ص َ بَ لا َنأ ساَبع نْبا نع ْ ْس و راخبْلا ىورو

رْجأ اَجحْلا طْعأو جتْحإ َ سو

Artinya: “Berbekamlah kalian, berikanlah upah bekamnya kepada

tukang bekam tersebut.”17

3. Ijma’

Umat Islam pada masa sahabat telah berijma’ bahwa Ija>rah

dibolehkan sebab bermanfaat bagi manusia.18Selain bermanfaat bagi

sesama manusia sebagian masyarakat sangat membutuhkan akad ini,

karena termasuk salah satu akad tolong-menolong.Tentang

16

Ibid., 559.

17 Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughiroh bin Bardizbah al-Ju’fi al

-Bukhori (Imam Bukhari), Shahih Bukhari. (t.tp., shahih: t.t), Hadith: 2117, 1247.

18Syafe’I Rahmat.

(33)

23

disyariatkan sewa menyewa, semua kalangan sepakat dan hampir

semua ulama’ mengamininya.19

Dari definisi-definisi tersebut di atas dapat dikemukakan bahwa

pada dasarnya tidak ada perbedaan yang mendasar diantara pendapat

para ulama’ fiqih dalam mendefinisikan Ija>rah atau sewa menyewa.

Dari definisi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa Ija>rah atau

sewa menyewa adalah akad atas manfaat dengan suatu imbalan

tertentu. Dengan demikian, objek sewa menyewa adalah atas

manfaat sutau barang atau jasa.

Ija>rah dalam bentuk sewa-menyewa maupun dalam bentuk upah

mengupah merupakan muamalah yang telah disyariatkan dalam

Islam. Hukum asalnya menurut jumhur ulama’ adalah mubah atau

boleh bila dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan

oleh syara’ berdasarkan ayat al-Qur’an, hadith, dan ketetapan ijma’

ulama’.

3. Rukun dan Syarat Ijarah

a. Rukun ija>rah

Sebagai sebuah transaksi umum, ija>rah dianggap sah apabila telah

memenuhi rukun dan syaratnya, sebagaimana yang berlaku secara umum

dalam transaksi lainnya. Menurut Hanafiyah rukun ija>rah hanya satu

19

(34)

24

yaitu ijab dan kabul dari dua belah pihak yang bertransaksi.20 Adapun

menurut Jumhur Ulama rukun ija>rah ada empat:

1. Aqid (dua orang yang berakad) yaitu mu’jir (orang yang

menyewakan atau memberrikan upah) dan musta’jir (orang yang

menerima sesuatu atau menerima upah).

2. Sighat yaitu ijab dan qabul antara mu’jir dan musta’jir.

3. Ujrah (upah).

4. Ma’qu>d ‘alaih (Manfaat dari suatu barang yang disewa atau jasa dan

tenaga orang yang bekerja).21

a. Manfaat yang berharga.22

b. Keadaan manfaat dapat diberikan oleh yang mempersewakan.

c. Diketahui kadarnya, dengan jangka waktu seperti menyewa

rumah satu bulan atau satu tahun.

Sedangkan menurut madzhab maliki dan Syafi’i rukun-rukun

ija>rah ada tiga macam yaitu:

1. Orang yang mangadakan perjanjian (aqid) meliputi orang yang

menyewakan (mu‘jir) dan orang yang menyewa (musta‘jir).

2. Sesuatu yang dijadikan perjanjian (al-ma’qu>d ‘alaihi) meliputi

ongkos dan Manfaat.

20

Abdul Rahman Ghazaly, ghufran ihsan, dan sapiudin shidiq, fiqih muamalat..., 278.

21

Wahbah Az-juhaili, al-Fiqih al-islami Wa adilatuhu. (Jakarata: Gema Insani, 2011), jilid V, cet. Ke 10, 387.

22

(35)

25

3. Pernyataan perjanjian (shigat), yaitu lafazh atau ucapan yang

menunjukkan memiliki manfaat dengan ada ongkos, atau segala hal

yang bisa menunjukan kepadanya.23

b. Syarat ija>rah

Adapun syarat-syarat ija>rah adalah sebagai berikut24:

1. Al-Mutaaqidain (kedua orang yang berakad).

a. Menurut ulama Syafi’iyah dan Hanabilah, untuk sahnya ija>rah

hanya mengemukakan satu syarat untuk pelaku akad yaitu

cakap hukum (baligh dan berakal).

b. Menurut ulama Hanafiyah, orang yang melakukan akad

disyaratkan harus berakal dan mumayyiz (sudah bisa

membedakan antara haq dan bathil, atau minimal 7 tahun),

tidak disyariatkan harus baligh.

c. Menurut ulama Malikiyah, tamyiz adalah syaraat ija>rah dan

jual beli, sedangkan baligh adalah syarat penyerahan. Dengan

demikian anak yang telah mumayyiz pun boleh melakukan

akad ija>rah dan dianggap sah apabila disetujui oleh walinya.

2. Kedua belah pihak yang berakad yaitu mu’jir dan musta’jir

menyatakan kerelaan untuk melakukan akad ija>rah. Apabila salah

seorang diantaranya terpaksa melakukan akad itu, maka akadnya

tidak sah. Akad ini berdasarkan firman Allah SWT

23

Moh.Zuhri, Fiqih Empat Madzhab..., 171-172.

24

(36)

dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.(Q.S.An-Nisa: 29).25

3. Sighat (ijab dan kabul) antara mu’jir dan musta’jir. Ijab qabul

sewa-menyewa misalnya mu’jir berkata “aku sewakan motor ini

kepadamu 1 dirham per hari” maka musta’jir menjawab “aku

terima sewa motor tersebut dengan harga 1 dirham per hari. Ijab

kabul upah mengupah misalnya mu’jir berkata “kuserahkan kebun

ini untuk dicangkuli dengan upah 1 dirham per hari” kemudian

musta’jir menjawab “aku akan lakukan pekerjaan itu sesuai

dengan apa yang engkau ucapkan”.

4. Ujrah (upah)

Para ulama menetapkan syarat ujrah (upah) yaitu berupa

harta tetap yang diketahui oleh kedua belah pihak. Upah (ujrah)

tidak boleh sejenis dengan manfaat yang disewa. Seperti upah

penyewa rumah untuk ditempati dengan menempati rumah.

Menurut madzhab Syafi’i ongkos yang tidak tentu disyaratkan

memenuhi syarat-syarat dalam harga yaitu harus diketahui jenis,

25

(37)

27

macam, dan sifatnya. Adapun kalau ongkos ditentukan, maka

disyaratkan harus bisa dilihat. Tujuannya adalah untuk

menghilangkan kesamaran supaya tidak terjadi pertentangan

antara dua orang yang melakukan perjanjian.

Oleh karena itu para ulama mensyaratkan terhadap orang

yang menyewakan kendaraan untuk dinaiki agar menjelaskan

kadar perjalananyang akanditempuh pada malamdan siang hari.

Kecuali kalau dikalangan umat manusia dalam hal tersebut telah

menjadi kebiasaan yang diikuti, maka kebiasaan itulah yang

dilaksanakan.26

5. Ma’qu>d ‘alaih (barang/manfaat)

Adanya kejelasan pada ma’qu>d ‘alaih (barang) dapat

menghilangkan pertentangan diantara aqid. Diantara cara untuk

mengetahui ma’qu>d ‘alaih (barang) adalah dengan menjelaskan

manfaatnya, pembatasan waktu, atau menjelaskan jenis pekerjaan

jika ija>rah atas pekejaan atau jasa seseorang. Diantara syarat

barang sewaan adalah dapat dipegang atau dikuasai. Hal itu

didasarkan pada hadis Rasullah Saw. Yang melarang menjual

barang yang tidak dapat dipegang atau dikuasai, sebagaimana

dalam jual beli.

Menurut madzhab Hanafi syarat-syarat ija>rah ada empat macam:27

26

Moh Zuhri, Fiqh Empat Madzhab..., 194-195.

27

(38)

28

1. Syarat-syarat penyelenggaraan. Persewaan tidak terselenggara

sama sekali jika tidak mempunyai syarat-syarat berikut ini:

Berakal sehat, orang gila dan anak kecil yang belum tamyiz tidak

sah melakukan sewa-menyewa kecuali atas izin dari pihak

walinya.

2. Syarat-syarat sah. Persewaan tidak sah kecuali dengan

syarat-syarat ini meskipun bisa terselenggara dengan tanpa syarat-syarat ini:

a. Keridhaan dua orang yang melakukan perjanjian.Tidak sah

perjanjian persewaan orang yang dipaksa,orang yang bersalah

dan orang yang lupa. Meskipun terselengara dan bisa

dilestarikan tetapi merupakan persewaan yang batal

hukumnya. Dalam pelaksanaan seperti itu wajib memberikan

upah atau ongkos sepantasnya kalau terlanjur melakukannya.

b. Hendaklah sesuatu yang disewakan itu dapat diserahkan. Jadi

tidak sah menyewakan hewan yang hilang karena tidak dapat

diserahkan.

c. Hendaknya pekerjaan yang disewakan bukan merupakan hal

yang fardlu bagi orang yang disewa sebelum perburuhan.

d. Adanya manfaat.

e. Hendaklah ongkos diketahui yaitu menjelaskan jumlah

kadarnya seperti sepuluh pound.

3. Syarat-syarat tetap. Persewaan tidak dinilai tetap kecuali dengan

(39)

29

a. Perjanjian persewaan itu betul-betul shahih

b. Pada barang sewaan itu tidak ada cacatnya

c. Hendaklah barang yang disewakan itu bisa dilihat oleh orang

yang menyewa

d. Barang yang disewakan itu selamat dari terjadinya cacat yang

mengurangi kemanfaatan.

4. Syarat-syarat pelestarian.

4. Macam-macam Ija>rah

Dilihat dari segi obyeknya, akad al- ija>rah dibagi para ulama fiqih

ada dua macam yaitu:

a. Al-ija>rah yang bersifat manfaat misalnya sewa-menyewa rumah,

toko, kendaraan, pakaian, dan perhiasan. Apabila manfaat itu yang

diperbolehkan syara’ untuk di pergunakan, maka para ulama fiqih

sepakat menyatakan boleh dijadikan obyek sewa-menyewa.28

b. Al-ija>rah yang bersifat pekerjaan (jasa) adalah dengan cara

mempekerjakan seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan. Al-i

ija>rah seperti ini menurut para ulama fiqih, hukumnya boleh apabila

jenis pekerjaan itu jelas, seperti buruh bangunan, tukang jahit, dan

tukang sepatu dan lain-lain, yaitu ija>rah yang bersifat kelompok

(serikat). Ija>rah yang bersifat pribadi juga dapat dibenarkan seperti

menggaji pembantu rumah, tukang kebun dan satpam.

28

(40)

30

Menurut madzhab Hanafi macam-macam persewaan ada dua

yaitu:

a. Persewaan yang terselenggara pada kemanfaatan benda-benda,

seperti penyewa tanah, rumah, binatang, pakaian dan lain-lain.

Persewaan pada barang-barang tersebut adalah terselenggara pada

manfaat-manfaatnya.

b. Persewaan yang terselenggara pada keadaan pekerjaan, seperti

menyewa orang-orang yang sudah punya pekerjaan untuk bekerja

melaksanakan perdagangan, tukang besi, dan lain-lain.29

Sedangkan menurut madzhab Syafi’i persewaan itu ada dua macam yaitu:

a. Persewaan benda atau barang (ija>rah ‘ain) adalah suatu nama dari

perjanjian yang terselenggara atas manfaat yang berkaitan dengan

suatu barang tertentu yang diketahui oleh orang yang menyewa.

Seperti menyewa seseorang untukm membantu melayani dalam jarak

setahun.

b. Persewaan tanggungan (ija>rah zimmah) adalah nama dari suatu

perjanjian atau suatu manfaat yang berkaitan dengan sesuatu yang

tidak tentu, namun disifati dalam tanggungan, atau dengan kata lain

ialah perjanjian pada sesuatu yang manfaatya berada dalam

tanggungan, seperti dalam perjanjian pemesanan barang.30

5. Pembatalan dan berakhirnya Akad al- Ija>rah

29

Moh Zuhri, Fiqh Empat Madzhab..., 169-170.

30

(41)

31

Dalam hal ini jumhur ulama mengatakan bahwa akad al-ija>rah itu

bersifat mengikat kecuali ada cacat atau barang itu tidak boleh

dimanfaatkan akibat perbedaan pendapat ini dapat diamati dalam kasus

apabila seorang meninggal dunia. Menurut ulama Hanafiyah, apabila

salah seorang meninggal dunia maka akad al-ijarah batal, karena manfaat

tidak boleh diwariskan. Akan tetapi, Jumhur Ulama mengatakan, bahwa

manfaat itu boleh diwariskan karena termasuk harta (al-maal). Oleh

karena itu kematian salah satu pihak yang berakad tidak membatalkan

akad al- ija>rah.31

Demikian juga halnya dengan penjualan objek perjanjian

menyewa yang mana tidak menyebabkan putusnya perjanjian

sewa-menyewa yang diadakan sebelumnya. Namun tidak tertutup

kemungkinan pembatalan perjanjian (fasakh) oleh salah satu pihak jika

ada alasan/dasar yang kuat untuk itu.32

Ija>rah akan menjadi batal (fasakh) bila ada hal-hal sebagai

berikut:33

1. Objek al-ija>rah hilang atau musnah seperti, rumah yang disewakan

terbakar atau kendaraan yang disewa hilang.

2. Tenggang waktu yang disepakati dalam akad al- ija>rah telah berakhir.

Apabila yang disewakan itu rumah, maka rumah itu dikembalikan

31

Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah..., 236.

32

Chairuman pasaribu, hukum perjanjian dalam islam..., 57.

33

(42)

32

kepada pemiliknya, dan apabila yang disewa itu jasa maka seseorang

maka orang tersebut berhak menerima upahnya.

3. Wafatnya salah seorang yang berakad.

4. Apabila uzur dari salah satu pihak, seperti rumah yang disewakan

disita Negara karena terkait adanya utang, maka akad al- ija>rah nya

batal.

Adapun menurut Sayyid Sabiq, akad al-ija>rah akan menjadi batal

dan berakhir apabila: 34

a. Terjadinya cacat (aib) pada barang sewaan.

Maksudnya bahwa pada barang yang menjadi objek

perjanjian sewa menyewa terdapat kerusakan ketika sedang berada

di tangan pihak penyewa, yang mana kerusakan itu adalah akibat

kelalaian pihak penyewa sendiri, misalnya karena penggunaan

barang yang tidak sesuai dengan peruntukan penggunaan barang

tersebut. Dalam hal seperti ini pihak yang meyewakan dapat

meminta pembatalan.

b. Rusaknya barang yang disewakan.

Maksudnya barang yang mejadi objek perjanjian sewa

menyewa mengalami kerusakan atau musnah sama sekali sehingga

tidak dapat dipergunakan lagi sesuai dengan apa yang diperjanjikan,

misalnya objek sewa-menyewa adalah rumah, kemudian rumah yang

diperjanjikan terbakar/ambruk.

34

(43)

33

c. Rusaknya barang yang diupahkan (ma’jur ‘alaih)

Maksudnya barang yang menjadi sebab terjadi hubungan

sewa menyewa mengalami kerusakan, sebab dengan rusaknya atau

musnahnya barang yang menyebabkan terjadinya perjanjian maka

akad tidak akan mungkin terpenuhi lagi.

d. Telah terpenuhinya manfaat yang diakadkan

Dalam hal ini yang dimaksudkan, bahwa apa yang menjadi

tujuan perjanjian sewa menyewa telah tercapai, atau masa

perjanjian sewa menyewa telah berakhir sesuai dengan ketentuan

yang disepakati oleh para pihak.

e. Adanya Uzur

Penganut mazhab Hanafi menambahkan bahwa adanya uzur

juga merupakan salah satu penyebab putus atau berakhirnya

perjanjian sewa-menyewa, sekalipun uzur tersebut datangnya dari

salah satu pihak. Adapun uzur yang dimaksud disini adalah suatu

halangan sehingga perjanjian tidak mungkin dapat terlaksana

sebagaimana mestinya.

B. Peraturan Dirjendat no: SK.6736/AJ.205/DRDJ/2014 Tentang Tarif Jarak

Batas Atas dan Tarif Jarak Batas Bawah Angkutan Penumpang dengan

Mobil Bus Umum Kelas Ekonomi Pada Trayek Antar Kota Antar Provinsi

Peraturan dirjendat no: SK.6736/AJ.205/DRDJ/2014 tentang tarif

(44)

34

kelas ekonomi pada trayek antar kota antar provinsi mendefinisikan bahwa

dalam rangka menjamin kelangsungan pelayanan penyelenggaraan angkutan

penumpang antar kota antar provinsi kelas ekonomi di jalan dengan mobil

bus umum dan sebagai upaya peningkatan mutu pelayanan, maka perlu

menata kembali tarif angkutan penumpang antar kota antar provinsi kelas

ekonomi dengan tetap memperhatikan kepentingan dan kemampuan

masyarakat luas serta kelangsungan usaha penyedia jasa angkutan.

Tarif angkutan penumpang kelas ekonomi adalah harga jasa pada

suatu trayek tertentu atas pelayanan angkutan penumpang kelas ekonomi.

Tarif berlaku adalah besaran tarif jarak pada setiap trayek yang ditetapkan

oleh masing-masing perusahaan angkutan penumpang umum, yang nilai

nominalnya diantara atau sama dengan tarif batas atas dan tarif batas bawah.

Keputusan Menteri Perhubungan No: KM. 89 tahun 2002 pasal 1 ayat 6 dan

7 mendefinisikan bahwa tarif jarak batas atas adalah besaran tarif maksimum

untuk setiap trayek, sedangkan tarif jarak batas bawah adalah kebalikannya

yaitu besaran tarif minimum untuk setiap trayek.35

Dibawah ini penulis uraikan beberapa pasal yang terkait dengan

peraturan dirjendat no:SK. 6736/AJ.205/DRDJ/2014 tentang tarif jarak batas

atas dan tarif jarak batas bawah angkutan penumpang dengan mobil bus

umum kelas ekonomi pada trayek antar kota antar provinsi, diantaranya;

a. Pasal 1

35

(45)

35

Bus kelas ekonomi bagi angkutan penumpang umum antar kota antar

provinsi merupakan bus tanpa fasilitas pelayanan tambahan dengan tetap

memperhatikan aspek keselamatan dan kualitas pelayanan.

b. Pasal 2

Tarif jarak batas atas dan tarif jarak batas bawah untuk angkutan

penumpang antar kota antar provinsi kelas ekonomi di jalan dengan mobil

bus umum sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 tercantum dalam

lampiran peraturan ini.

c. Pasal 3

Tarif dasar batas atas dan batas bawah sebagaimana dimaksud dalam

pasal 2 belum termasuk iuran wajib dana pertanggungan wajib kecelakaan

penumpang berdasarkan Undang-undang Nomor 33 Tahun 1964 jo

Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1965 dan jenis asuransi lainnya

yang dilakukan secara sukarela serta biaya penyeberangan.

d. Pasal 4

Direktur lalu lintas dan angkutan jalan dan kepala dinas perhubungan

provinsi mengawasi pelaksanaan peraturan ini.

Keputusan Menteri Perhubungan No: KM. 89 tahun 2002 pasal 10

menyatakan bahwa Direktur jenderal dan gubernur melakukan sosialisasi

kepada masyarakat mengenai besaran tarif dasar batas atas dan tarif dasar

batas bawah yang telah ditetapkan menteri atau gubernur melalui media

cetak atau media elektronik paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum tarif

(46)

36

Tarif yang berlaku tidak boleh lebih tinggi dari tarif jarak batas atas

atau lebih rendah dari tarif jarak batas bawah yang ditetapkan oleh Direktur

Jenderal untuk trayek antar kota antar provinsi (AKAP).36 Tarif yang berlaku

wajib diumumkan oleh perusahaan angkutan penumpang umum kepada

pengguna jasa melalui loket penjualan tiket diterminal/pool/agen,

pengumuman di dalam bus, tertulis pada tiket dalam bentuk cetakan atau

stempel.37

Pengusaha yang memberlakukan tarif angkutan penumpang kelas

ekonomi melampaui tarif jarak batas atas dan tarif jarak batas bawah yang

ditetapkan oleh Direktur jenderal atau Gubernur dikenakan sanksi

administratif. Sanksi administratif dapat berupa pencabutan izin trayek,

penundaan perluasan izin trayek dan peringatan.38

36

Ibid., pasal 11 ayat 2.

37

Ibid., pasal 11 ayat 3.

38

(47)

BAB III

IMPLEMENTASI PENETAPAN TARIF ANGKUTAN UMUM BIS

SURABAYA-SEMARANG

A. Gambaran Umum penelitian

1. Gambaran umum jasa angkutan umum

a. Pengertian angkutan umum

Angkutan adalah sarana untuk memindahkan orang atau

barang dari suatu tempat ke tempat lain. Tujuannya untuk

membantu orang atau kelompok orang menjangkau berbagai

tempat yang dikehendaki, atau mengirimkan barang dari tempat

asalnya ketempat tujuannya. Prosesnya dapat dilakukan

menggunakan sarana angkutan berupa kendaraan atau tanpa

kendaraan diangkut oleh orang.1

Angkutan umum merupakan salah satu media transportasi

yang digunakan masyarakat secara bersama-sama dengan

membayar tarif. Angkutan umum merupakan lawan kata dari

'kendaraan pribadi”.2 Menurut keputusan menteri perhubungan

nomor KM 35 tahun 2003 tentang penyelenggaraan angkutan

orang di jalan dengan kendaraan umum, ada beberapa kriteria yang

berkenaan dengan angkutan umum. Kendaraan adalah setiap

kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan oleh

1

Undang-undang nomor 22 tahun 2009 pasal 1 ayat 1 tentang lalu lintas dan angkutan jalan.

2

(48)

38

umum dengan dipungut biaya baik langsung maupun tidak

langsung. Trayek adalah lintasan kendaraan umum untuk

pelayanan jasa angkutan orang dengan mobil bus yang mempunyai

asal dan tujuan perjalanan tetap, lintasan tetap dan jadwal tetap

maupun tidak terjadwal.3

Pemerintah dalam kaitan ini perlu ikut campur tangan

dengan tujuan antara lain:

a. Menjamin sistem operasi yang aman bagi kepentingan

masyarakat pengguna jasa angkutan umum, petugas pengelola

angkutan dan pengusaha jasa angkutan.

b. Mengarahkan agar lingkungan tidak terlalu terganggu oleh

kegiatan angkutan.

c. Menciptakan persaingan yang sehat.

d. Membantu perkembangan dan pembangunan nasional maupun

daerah dengan meningkatkan pelayanan jasa.

e. Menjamin pemerataan jasa angkutan sehingga tidak ada pihak

yang dirugikan, dan mengendalikan operasi pelayanan jasa

angkutan.

3

(49)

39

b. Jenis angkutan umum

Angkutan umum terdiri dari berbagai macam jenis yang

terdiri dari angkutan jalan raya, angkutan rel, angkutan laut, dan

angkutan udara.4 Angkutan jalan raya terdiri dari angkot, bis, ojek,

bajaj, taksi, dan metromini. Angkutan rel yaitu kereta api dan

shinkanshen/kereta cepat. Angkutan laut yaitu kapal feri dan kapal

pesiar, dan angkutan udara yaitu pesawat terbang dan helikopter.

Berdasarkan Undang-undang no 14 tahun 1992 tentang

lalu lintas dan angkutan jalan, menyebutkan bahwa pelayanan

angkutan orang dengan kendaraan umum terdiri dari:5

a. Angkutan antar kota yang merupakan pemindahan orang dari

suatu kota ke kota lain.

b. Angkutan kota yang merupakan pemindahan orang dalam dan

atau antar wilayah pedesaan.

c. Angkutan kota yang merupakan pemindahan orang dari suatu

kota ke kota lain.

d. Angkutan lalu lintas batas negara yang merupakan angkutan

orang yang melalui lintas batas negara.

4

https://ginairiyani.wordpress.com/2012/10/24/pengertian-angkutan-umum/, diakses pada 24 Oktober 2012.

5

(50)

40

2. Gambaran umum lokasi penelitian

a. Profil terminal Purabaya

Terminal Purabaya merupakan pengembangan dari

Terminal Joyoboyo yang kapasitasnya sudah tidak memadai serta

berada dipusat kota yang tidak memungkinkan dilakukan

pengembangan. Pembangunan terminal type A Purabaya sudah

direncanakan sejak tahun 1982 berdasarkan surat Persetujuan

Gubernur Jawa Timur namun baru dapat dilaksanakan

pembangunan pada tahun 1989 serta diresmikan pengoperasiannya

oleh Menteri Perhubungan RI pada tahun 1991.

Lokasi pembangunan terminal Purabaya berada di desa

Bungurasih Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo dengan luas ±

12 Ha. Dipilihnya lokasi tersebut karena mempunyai akses yang

sangat baik dan strategis sebagai pintu masuk ke kota Surabaya

serta berada pada jalur keluar kota Surabaya arah timur selatan

dan barat. Walaupun lokasi terminal Purabaya berada di

Kabupaten Sidoarjo namun pengelolaan terminal dilakukan oleh

Pemerintah Kota Surabaya. Hal tersebut berdasarkan perjanjian

kerjasama (MOU) antara Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dengan

Pemerintah Kota Surabaya.

Selain terminal bus terpadat di Indonesia dengan lalu lintas

penumpang hingga ratusan ribu per hari, terminal purabaya

(51)

41

Terminal purabaya juga merupakan terminal induk yang

berfungsi melayani kendaraan umum baik secara nasional maupun

internasional seperti angkutan antar kota antar provinsi dan

angkutan lintas batas negara, angkutan antar kota dalam provinsi,

angkutan kota dan angkutan pedesaan.

Trayek bus antar kota dan antar provinsi

Trayek Jalur PO

Surabaya-Tulungagung Jalur 1

patas

Harapan Jaya, Setiawan

Surabaya – Semarang Jaya Utama, Indonesia,

Trigaya Putra, Widji

Lestari, Sinar Mandiri

Mulia, Nusantara, Jawa

Indah

Surabaya – Madiun Cendana, Indrapura, Restu

Surabaya - Solo - Jogja

– Magelang

Eka Cepat

Surabaya - Bangkalan -

Sampang - Pamekasan –

Sumenep

Akas

Surabaya-Malang Jalur 2

patas

Kalisari, menggala, Haz,

(52)

42

Laksana Anda, Pangeran,

Medali Mas

Surabaya – Jember Akas Asri, Ladju, Tjipto,

Mila Sejahtera, Jember

Indah

Surabaya - Tulungagung Harapan Jaya

Surabaya - Pare - Kediri Hasti

Surabaya – Malang Jalur 5

ekonomi

Kalisari, Laksana Anda,

Restu, Tentrem, Pertiwi,

(53)

Ladju, Mila Sejahtera,

Akas NNR, Akas IV,

Jaya Utama, Indonesia,

Sinar Mandiri Mulia, Widji

Lestari, Restu

Surabaya - Purwokerto –

Cilacap

Jalur 9 Rosalia Indah

Surabaya – Bandung Jalur

(54)

44

16 Rasa Sayang, Tiara Mas,

Langsung Jaya

Surabaya – Denpasar Gunung Harta, Wisata

Komodo, Puspa Sari, Bali

Perdana, Bali Buana Artha,

Mawar, Lovina,

Al-Mubarok, Zena, Setiawan,

Santoso, DAMRI, Medali

Mas, AKAS

Surabaya – Cirebon Belakang

jalur

10-12

Harapan Kita, Coyo, EZRI

b. Gambaran fluktuasi

Untuk mengetahui fluktuasi jumlah penumpang mudik hari

raya Idul Fitri, UPTD terminal Purabaya, ternyata Dinas

Perhubungan Kota Surabaya disiplin meng-update data

penumpang yang naik dan turun bus di terminal Purabaya

(Bungurasih).

Kepala UPTD terminal Purabaya Surabaya May Ronald

mengemukakan, updeta jumlah penumpang tersebut dilakukan

agar Dinas Perhubungan bisa mengantisipasi bila sewaktu-waktu

(55)

45

Berdasarkan data update UPTD terminal Purabaya, pada

lebaran tahun ini, lonjakan penumpang secara besar terjadi pada

H-3 lebaran. Pada hari itu, tercatat jumlah pemudik mencapai

93.718 orang penumpang. Sementara, jumlah penumpang ke

esokan harinya pada H-2 hingga H-1 lebaran, tingkat pemudik

baik yang naik maupun turun di Terminal Purabaya berangsur

angsur turun. Penurunan yang jumlah signifikan mendekati

lebaran ini juga dikarenakan adanya program mudik gratis dari

pemerintah daerah serta beberapa perusahaan. Kepala UPTD

terminal Purabaya itu menyebutkan, pada H-1 lebaran jumlah

penumpang di Purabaya hanya 32.303 penumpang. Rincianya,

sebanyak 30.727 naik dan 15.876 orang penumpang turun.

c. Struktur organisasi terminal purabaya6

6

(56)

46

B. Penetapan Tarif

Tarif angkutan penumpang kelas ekonomi adalah harga jasa pada

suatu trayek tertentu atas pelayanan angkutan penumpang kelas

ekonomi.7 Tarif angkutan penumpang umum yang berlaku untuk

pelayanan bus kelas ekonomi menggunakan tarif diantara atau sama

dengan tarif jarak batas atas dan tarif jarak batas bawah.8

Penetapan tarif bis telah ditentukan oleh dinas perhubungan

dengan cara dirapatkan dengan pengusaha-pengusaha bis yang mengacu

pada peraturan direktorat pusat. Pihak dinas perhubungan juga

mengundang seluruh instansi yang terkait untuk membahas bersama

tentang ketentuan tarif setiap enam bulan sekali untuk melakukan

evaluasi. Setelah ditentukan besaran tarif tersebut, maka pihak pengusaha

jasa angkutan segera memberikan tabel rincian tarif kepada para

kondektur untuk segera dapat diterapkan.

Rincian tarif bis mulai dari tambak boyo-bulu Rp.6000, sarang Rp.

7000, pandangan Rp. 9000, sluke Rp. 10.000, lasem Rp. 12.000, rembang

Rp. 14.000, pati Rp. 19.000, bareng Rp. 21.000, kudus Rp. 24.000,

nggaluran Rp. 27.000, demak Rp. 29.000, buyaran Rp. 30.000, sayung Rp.

31.000, semarang Rp. 33.000. sebagaimana yang terdapat pada tabel

dibawah ini:

7

Keputusan Menteri Perhubungan No: KM.89 Tahun 2002, pasal 1 ayat 1.

8

(57)

47

Tabel 1: data tentang tarif bis dari Tambak Boyo-Semarang

Sumber: dokumentasi dari kondektur bis Surabaya-Semarang.

Rincian tarif dari Surabaya-bunder Rp. 7000, duduk Rp. 8000,

pandanan Rp. 9000, deket Rp. 10.000, lamongan Rp. 11.000, kruwul Rp.

12.000, sumlaran Rp. 14.000, pucuk Rp. 15.000, gembong Rp. 16.000,

babat Rp. 17.000, compreng Rp. 18.000, pakah Rp. 19.000, tuban Rp.

20.000, jenu Rp. 22.000. sebagaimana yang terdapat pada tabel dibawah

(58)

48

Tabel 2: data tentang tarif bis dari Surabaya-Jenu

Sumber: dokumentasi dari kondektur bis Surabaya-Semarang

Selanjutnya yaitu rincian tarif dari surabaya-semarang Rp. 58.000,

sayung Rp. 57.000, buyaran Rp. 56.000, demak Rp. 54.000, nggaluran Rp.

52.000, kudus Rp. 50.000, bareng Rp. 48.000, pati Rp. 45.000, juana Rp.

43.000, rembang Rp. 40.000, lasem Rp. 38.000, sluke Rp. 36.000,

pandangan Rp. 34.000, sarang Rp. 31.000, bulu Rp. 30.000, tambak boyo

Rp. 26.000, glondong Rp. 25.000. Sebagaimana tertera dalam tabel

(59)

49

Tabel 3: data tentang tarif bis dari Surabaya-Glondong

Sumber: dokumentasi dari kondektur bis Surabaya-Semarang

Tarif tersebut berpacu pada peraturan dirjendat (direktorat

(60)

50

Tarif bus antar kota antar provinsi (AKAP)

Berdasarkan ketentuan tersebut pihak dinas perhubungan berharap

pelaksanaan yang ada di lapangan juga harus sesuai, maka pihak dinas

perhubungan langsung mengambil tindakan agar peraturan itu segera

disosialisasikan dan dapat di nikmati oleh masyarakat luas.

Menurut ibu Triana Wijayati bagian staf angkutan pihaknya dinas

(61)

51

diterima oleh penumpang maka beliau menghimbau agar dibuat

pengumuman terkait ketentuan tarif yang ditempel di bis.9

C. Realisasi penetapan tarif bis antar kota antar provinsi

Surabaya-Semarang

1. Tarif yang berlaku bagi penumpang

Meskipun penetapan tarif sudah ditentukan oleh pemerintah

sesuai dengan peraturan Direktur jenderal perhubungan darat tentang

tarif jarak batas atas dan tarif jarak batas bawah angkutan penumpang

dengan mobil bus umum kelas ekonomi pada trayek antar kota antar

provinsi, akan tetapi praktik yang ada di lapangan tidaklah berjalan

sesuai dengan semestinya. Banyak penumpang yang resah akan

ketidakjelasan ketentuan tarif bis Surabaya-Semarang.

Ketetapan tarif oleh kondektur yang berubah-ubah menjadikan

para penumpang kebingungan karena tidak adanya nominal yang

tertera dalam karcis. Hanya saja ada beberapa penumpang terutama

yang jarak jauh diberi karcis sedangkan untuk penumpang yang jarak

dekat tidak diberi karcis.

Ada perbedaan dalam menentukan berapa tarif yang diambil oleh

kondektur ketika para penumpang memberikan uang pas dan uang

lebih. Hal tersebut tidak hanya terjadi pada lain hari, akan tetapi

pernah terjadi pada saat yang bersamaan yaitu ketika ada dua orang

9

Gambar

Tabel 1: data tentang tarif bis dari Tambak Boyo-Semarang
Tabel 2: data tentang tarif bis dari Surabaya-Jenu
Tabel 3: data tentang tarif bis dari Surabaya-Glondong

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian pengelolaan kegiatan community relations Telkomsel untuk penguatan brand positioning di kalangan remaja SMA kota

Berdasarkan tabel diatas menunjukan bahwa variabel variabel independen variasi produk, harga, kualitas pelayanan, dan jarak lokasi memiliki nilai signifikan lebih

Sebagai pokok persoalan pembangunan konsep insan spiritual maju, pemilihan tafsir dan ayat tentang jiwa dalam perspektif Thabataba ’ i, merupakan konsekuensi langsung dari

Bagi Perusahaan yang tidak hadir pada waktu dan tempat yang telah disebutkan di atas maka akan dinyatakan tidak lulus / gugur pembuktian kualifikasi. Demikian undangan ini

Seksi sarana prasarana penangkapan dan pengawasan dipimpin seorang Kepala Seksi mempunyai tugas pokok membantu Kepala Bidang dalam menyusun program, kegiatan, petunjuk

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Palembang pada tahun 2006 tentang pemukiman kelompok etnis Arab di Kota Palembang Pasca Kerajaan Sriwijaya diketahui

Nutrifood Surabaya bagian SPG, salesman, dan merchandiser , maka cara yang paling tepat dilakukan adalah dengan meningkatkan kualitas LMX, karena kualitas LMX

Abdul Mujib dan Mudzakkir Jusuf mengatakan bahwa istilah yang tepat untuk menggambarkan orang-orang yang belajar adalah peserta didik bukan anak didik. 26 Definisi ini