• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Kepala SMK Negeri di Kota Yogyakarta Berdasarkan Persepsi Guru.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peran Kepala SMK Negeri di Kota Yogyakarta Berdasarkan Persepsi Guru."

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

ii

ABSTRAK

VIVIANTI. Peran Kepala SMK Negeri di Kota Yogyakarta Berdasarkan Persepsi

Guru.

Tesis. Yogyakarta: Program Pascasarjana, Universitas Negeri

Yogyakarta, 2014.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) model konstruk peran kepala

SMK yang ideal, yakni mencakup dimensi dan indikator peran kepala SMK dan

(2) kondisi riil peran kepala SMK di Kota Yogyakarta.

Penelitian ini merupakan penelitian

ex-post facto, yang dilaksanakan di 8

SMK Negeri di Kota Yogyakarta. Populasi penelitian ini sebanyak 983 guru dari

8 SMK. Teknik pengambilan sampel dengan

proportionale random sampling.

Penentuan jumlah sampel berdasarkan jumlah sampel sesuai dengan teori yang

dikemukakan oleh Hair. Sampel yang digunakan sebanyak 200 sampel yang

selanjutnya didistribusikan pada 8 sekolah dengan

proportional alocation. Pada

penghitungan

proportional alocation ini terdapat pembulatan angka sehingga

sampel menjadi 201. Data diperoleh dengan kuesioner tertutup yang telah

memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas. Validitas instrumen diketahui

berdasarkan penilaian pakar dan analisis butir berdasarkan data empirik.

Reliabilitas diketahui dengan cara menghitung koefisien Cronbach Alpha (

α

).

Teknik analisis data yang digunakan adalah Structural Equation Modelling (SEM)

dengan pendekatan analisis faktor konfirmatori (Confirmatory Factor Analisys,

CFA).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Model konstruk peran kepala

sekolah memiliki 2 dimensi, yaitu dimensi kepemimpinan dan dimensi manajerial.

Kepemimpinan mempunyai 5 indikator, yaitu (a) kecakapan pribadi, (b)

kecakapan relasional, (c) kecakapan profesional, (d) kecakapan berorganisasi, dan

(e) kecakapan wirausaha. Manajerial mempunyai 4 indikator, yaitu (a)

perencanaan, (b) pengorganisasian, (c) penggerakan, dan (d) pengendalian; (2)

Kondisi riil peran kepala sekolah hampir sesuai dengan kondisi idealnya,

ditunjukkan dengan mean kondisi riil yang sedikit lebih rendah dari mean kondisi

ideal. Secara rinci kondisi riil peran kepala sekolah berdasar persepsi guru

menunjukkan bahwa 28,36% guru memberikan nilai sangat tinggi, 59,20% guru

memberikan nilai tinggi, 11,44% memberikan nilai sedang, 1,00% memberikan

nilai rendah, dan 0% memberikan nilai sangat rendah.

(2)

iii

ABSTRACT

VIVIANTI.

The Role of Principals of Vocational High Schools in Yogyakarta

Based on Teacher

’s

Perceptions.

Thesis. Yogyakarta: Graduate School,

Yogyakarta State University, 2014.

This study aimed to determine: (1) a construct model of the role of ideal

principal in the vocational high school, which includes the dimensions and

indicators of the role of the principal of vocational and (2) the real condition of

the role of the principal of vocational schools in the city of Yogyakarta.

This study was an ex-post facto implemented in 8 vocational high schools in

the city of Yogyakarta. The population of this study was 983 teachers from 8

vocational schools. The sampling technique used was proportional random

sampling. Determination of the number of samples was based on the number of

samples in accordance with the theory put forward by Hair. The samples were

then distributed to 200 samples in 8 schools with a proportional allocation. In this

allocation proportional calculation were rounded so that the sample became 201.

The data obtained with the enclosed questionnaire that met the requirements of

validity and reliability. The validity of the instrument known based on expert

assessment and analysis of grain based on empirical data. Reliability was

determined by calculating the Alpha

Cronbach coefficient (α). The data analysis

technique used was Structural Equation Modeling (SEM) with confirmatory factor

analysis approach (Confirmatory Factor Analisys, CFA).

The results of this research show that: (1) the construct model of the

principal's role has two dimensions, the leadership dimensions and managerial

dimensions. The leadership has 5 indicators, namely (a) the personal capabilities,

(b) relational capabilities, (c) professional capabilities, (d) organizational

capabilities, and (e) the entrepreneur capabilities. The managerial has four

indicators, namely (a) planning, (b) organizing, (c) actuating, and (d) controlling;

(2) the real condition of the role of the principal is almost the same as the ideal

conditions. It is indicated by the mean of real conditions which is a little bit lower

than the mean of ideal conditions. In details, the real condition of the principal's

role based on the perception of teachers shows that 28.36% of teachers give

very

high value

, 59.20% of teachers give

high value

, 11.44% of them give

moderate

value

, 1.00% give a

low value

and 0% of them give a

very low value

.

Referensi

Dokumen terkait

Masalah dimaksud timbul dari suatu pertanyaan apakah terdapat hubungan persepsi yang signifikan antara motivasi kerja dan kemampuan manajerial kepala sekolah terhadap

Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana Implementasi Manajemen Perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan Tenaga Kependidikan Khususnya

Secara bersama-sama faktor komunikasi interpersonal antara kepala sekolah dengan guru dan faktor kemampuan manajerial kepala sekolah memiliki korelasi atau hubungan yang

Hasil penelitian menunjukkan: (1) kemampuan manajerial kepala sekolah dalam menyusun program perencanaan dirumuskan oleh kepala sekolah dimulai pada tahun ajaran

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengoordinasian, dan pengendalian Prakerin di SMK N 2 Yogyakarta. Penelitian

Secara bersama-sama faktor komunikasi interpersonal antara kepala sekolah dengan guru dan faktor kemampuan manajerial kepala sekolah memiliki korelasi atau hubungan yang

Dari hasil penelitian tersebut menjelaskan betapa kuatnya peran kepala sekolah untuk memimpin sekolah karena kepemimpinan yang kuat dari kepala sekolah dapat berfungsi untuk

Secara praktis bagi kepala sekolah, dapat memberikan gambaran tentang kepemimpinan kepala sekolah perempuan dari perspektif guru, sehingga dapat menjadi bahan evaluasi dan motivasi, dan