• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS METAFORA PADA BERITA OLAHRAGA DAN IMPLIKASINYA BAGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA :Kajian Deskriptif Analitik terhadap Berita Olahraga dalam Surat Kabar di Indonesia.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ANALISIS METAFORA PADA BERITA OLAHRAGA DAN IMPLIKASINYA BAGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA :Kajian Deskriptif Analitik terhadap Berita Olahraga dalam Surat Kabar di Indonesia."

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS METAFORA PADA BERITA OLAHRAGA

DAN IMPLIKASINYA BAGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA

(Kajian Deskriptif Analitik terhadap Berita Olahraga dalam Surat Kabar di Indonesia)

TESIS

Diajukan untuk memenuhi sebagian syarat meraih gelar

Magister Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia

Oleh

Lati Andriani

NIM 1101600

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA

SEKOLAH PASCASARJANA

(2)

ANALISIS METAFORA PADA BERITA OLAHRAGA

DAN IMPLIKASINYA BAGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA

(Kajian Deskriptif Analitik terhadap Berita Olahraga dalam Surat Kabar di Indonesia)

Oleh

Lati Andriani

Sebuah tesis yang diajukan untuk memenuhi sebagian syarat meraih gelar Magister Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia

© Lati Andriani 2013 Universitas Pendidikan Indonesia

Juli 2013

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

Disetujui dan disahkan oleh:

Pembimbing I,

Prof. Dr. H. Syihabuddin, M. Pd. NIP 196001201987031001

Pembimbing II,

Dr. Dadang Anshori, M. Si. NIP 197204031999031002

Mengetahui

(4)

Dr. Sumiyadi, M. Hum. NIP 196603201991031004

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul “ANALISIS METAFORA PADA BERITA OLAHRAGA DAN IMPLIKASINYA BAGI PEMBELAJARAN

BAHASA INDONESIA DI SMA (Kajian Deskriptif Analitik terhadap Berita Olahraga

dalam Surat Kabar di Indonesia) ini dan seluruh isinya adalah benar-benar karya saya

sendiri, dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak

sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku. Atas pernyataan tersebut, saya siap

menanggung risiko yang dijatuhkan kepada saya apabila di kemudian hari ditemukan

adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau ada klaim dari

pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.

Bandung, Juni 2013

Yang membuat pernyataan,

Lati Andriani

(5)
(6)

v

ABSTRAK

(7)

vi

(8)

vi

H. Definisi Operasional... 11

I. Paradigma Penelitian ... 12

D. Pembelajaran Bahasa Indonesia ... 38

(9)

vii

2. Prinsip-prinsip pembelajaran ... 41

3. Pengembangan sumber dan bahan ajar ... 42

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 45

A. Metode Penelitian... 45

B. Sumber Data dan Data Penelitian ... 45

C. Instrumen Penelitian... 53

D. Teknik Pengumpulan Data ... 59

E. Teknik Analisis Data ... 59

F. Sistematika Penulisan ... 60

BAB IV DATA, ANALISIS DATA, DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN ... 62

A. Pengantar ... 62

B. Deskripsi Data ... 62

C. Analisis Data ... 63

1. Metafora pada Berita Olahraga dalam Surat Kabar di Indonesia ... 63

2. Makna Dasar dan Perubahan Makna Metafora pada Berita Olahraga dalam Surat Kabar di Indonesia ... 66

3. Jenis Perubahan Makna Metafora pada Berita Olahraga dalam Surat Kabar di Indonesia ... 270

4. Desain Pembelajaran Metafora pada Berita Olahraga dalam Surat Kabar untuk Siswa SMA Kelas X ... 285

D. Pembahasan Hasil Penelitian ... 307

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN ... 313

A. Simpulan ... 313

B. Saran ... 315

DAFTAR PUSTAKA ... 317

LAMPIRAN... ... 320

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Penelitian ini berawal dari ketertarikan peneliti terhadap berita olahraga yang

terdapat pada surat kabar Bandung Ekspres yang terbit Kamis, 11 Oktober 2012

berikut ini.

Belum Pikirkan Jadi Pelatih, Ingin Pensiun Dekat Rumah

Christian Gonzales adalah salah seorang penyerang tersubur di Liga Indonesia. Sembilan tahun berkarier di tanah air, 234 gol sudah diciptakan pemain yang dinaturalisasi Indonesia pada 2010 itu. Hebatnya, hingga usianya yang ke-36 ini, dia belum mau gantung sepatu alias pensiun.

Nama Christian Gonzales masih menjadi momok bagi para bek tanah air. Meski sudah berkepala tiga, ketajaman pemain kelahiran Montevideo Uruguay tersebut tetap layak dikedepankan. Musim lalu, bersama Persisam Samarinda, pemain yang memiliki nama muslim Mustafa Habibi itu masih sanggup

menorehkan 18 gol.

“Anda lihat sendiri, saya terus berusaha fit setiap musim. Walaupun banyak yang bilang saya sudah menurun atau lainnya, fakta saya sanggup mencetak gol di atas sepuluh gol tak bisa dimungkiri,” kata suami Eva Siregar itu. Gonzales memerinci, 18 gol musim lalu itu tercipta 9 dari “heading”, 8 dari kaki kiri, dan 1 dari kaki kanan.

Gonzales belum memiliki rencana ke klub mana berlabuh musim mendatang. Namun, secara pribadi, mantan pemain Persik Kediri itu mengungkapkan ingin bermain di klub dekat rumahnya di Surabaya. Alasan keluarga menjadi pertimbangan utama penyerang berjuluk El Loco itu.

Dan, Gonzales pada April lalu sempat diisukan akan bergabung dengan Persebaya di Indonesian Premier League (IPL). Ketika itu Green Force memang krisis penyerang. Andrew Barisic yang digadang-gadang tampil

moncer malah tampil flop. Akhirnya Barisic dilepas ke Arema IPL.

Siapa yang tak mau bergabung dengan Persebaya. Mereka tim besar. Namun, saya tak menutup peluang klub-klub lain Jatim yang tertarik dengan saya. Bisa saja Persegres Gresik, Arema Malang, Persela Lamongan, atau malah Persik. Kita pasrahkan kepada Tuhan kalau memang saya dan klub yang meminang saya berjodoh,” tutur bapak lima anak itu....

“Saya kira sudah mencapai semua gelar individu maupun tim di Liga

(11)

bergabung,” kata pemain yang sudah mengemas sebelas gol untuk tim Merah

Putih itu.

(Sumber: Bandung Ekspres, 11 Oktober 2012) Apabila kita teliti berita olahraga di atas, terdapat kata-kata seperti tersubur,

ketajaman, menorehkan, mencetak, berlabuh, meminang, berjodoh, moncer,

mengemas dan sebagainya. Kata-kata dalam konteks kalimat tersebut tidaklah

mengandung makna yang sebenarnya, tetapi mengandung makna kiasan.

Kata-kata tersebut dimunculkan untuk memberikan kesan yang lebih hidup sehingga

berita di atas lebih indah, lebih segar, lebih menarik, bahkan dapat memengaruhi

orang yang membacanya. Kata-kata tersebut memunculkan makna yang dialihkan

dari makna kata sebenarnya menjadi makna yang lain atau makna yang bukan

sebenarnya. Makna kata-kata tersebut memunculkan makna baru sebagai

pengalihan dari persamaan atau perbandingan dengan makna kata yang

sebenarnya. Makna itu disebut makna metaforis, sehingga kata-kata yang

digunakan itu adalah kata-kata yang termasuk metafora.

Komunikasi adalah “peristiwa sosial, peristiwa yang terjadi ketika manusia berinteraksi dengan manusia yang lain” (Rakhmat, 2012:9). Saat melakukan komunikasi, manusia menggunakan bahasa. Hal ini, sesuai dengan pendapat

Chaer yang mengemukakan pengertian berbahasa, yaitu sebagai berikut.

Berbahasa adalah proses menyampaikan makna oleh penutur kepada pendengar melalui satu atau serangkaian ujaran. Suatu proses berbahasa dikatakan berjalan baik apabila makna yang dikirimkan penutur dapat diresepsi oleh pendengar persis seperti yang dimaksudkan oleh penutur. Kemampuan yang memadai dari penutur dalam memproduksi ujaran dan kemampuan yang memadai dari pendengar dalam meresepsi ujaran akan menyebabkan makna-makna yang dikirimkan penutur dapat diterima dengan tepat oleh pendengar (Chaer, 2009:267).

Seandainya sebuah makna kata berubah, maka perubahan tersebut tidak akan

mengurangi pemahaman jika penutur dan pendengar tetap memiliki kemampuan

untuk memahami perubahan makna kata tersebut. Chaer (2009:130-140)

(12)

Pernyataan ini menyiratkan juga pengertian bahwa kalau secara sinkronis makna

sebuah kata tidak berubah maka secara diakronis ada kemungkinan bisa berubah.

Perubahan makna sebuah kata dapat disebabkan beberapa faktor, di antaranya

perkembangan dalam ilmu dan teknologi, perkembangan sosial dan budaya,

perbedaan bidang pemakaian, pertukaran tanggapan indra, perbedaan tanggapan,

adanya penyingkatan, dan pengembangan istilah.

Perbedaan bidang pemakaian merupakan salah satu faktor penyebab

terjadinya perubahan makna kata. Selanjutnya Chaer mengemukakan sebagai

berikut.

Setiap bidang kehidupan atau kegiatan memiliki kosakata tersendiri yang hanya dikenal dan digunakan dengan makna tertentu dalam bidang tersebut. Kata-kata yang menjadi kosakata dalam bidang-bidang tertentu itu dalam kehidupan dan pemakaian sehari-hari dapat diambil dari bidangnya dan digunakan dalam bidang lain atau menjadi kosakata umum. Oleh karena itu, kata-kata tersebut menjadi „memiliki makna baru‟ atau makna lain di samping makna aslinya (makna yang berlaku dalam bidangnya) (Chaer, 2009:133).

Sebagai contoh, kita ambil kata menggarap yang berasal dari bidang pertanian

dengan segala macam derivasinya, seperti tampak dalam frase menggarap sawah,

tanah garapan, dan petani penggarap, kini banyak digunakan dalam bidang lain

dengan makna mengerjakan, seperti dalam frase menggarap skripsi dan

menggarap naskah drama. Kata-kata tersebut digunakan dalam bidang lain secara

metaforis atau perbandingan. Namun, antara makna kata yang digunakan bukan

dalam bidang tertentu dan makna kata yang digunakan di dalam bidang aslinya

masih berada dalam poliseminya karena makna-makna tersebut masih saling

berkaitan atau masih ada persamaan antara makna yang satu dengan makna yang

lainnya. Hal ini, sesuai dengan pendapat Kridalaksana yang mengemukakan

bahwa “Metafora (metaphor) adalah pemakaian kata atau ungkapan lain untuk

objek atau konsep lain berdasarkan kias atau persamaan” (Kridalaksana,

(13)

Makna kata tidak selalu bersifat statis. Dari waktu ke waktu, makna kata

dapat mengalami perubahan sehingga akan menimbulkan kesulitan baru bagi

pemakai yang terlalu bersifat konservatif. Oleh karena itu, untuk menjaga agar

pilihan kata selalu tepat, setiap penutur bahasa harus selalu memerhatikan

perubahan-perubahan makna yang terjadi.

Keraf (2010:97) mengemukakan jenis-jenis perubahan makna, yaitu (a)

perluasan arti, (b) penyempitan arti, (c) ameliorasi, (d) peyorasi, (e) metafora, dan

(f) metonimi. Sitaresmi (2011:109) mengemukakan jenis-jenis perubahan makna

terdiri dari perubahan makna meluas, menyempit, amelioratif, peyoratif,

perubahan total, penghalusan (eufemia), pengasaran (disfemia), asosiasi, dan

sinestesia. Adapun Chaer (2009:140) mengemukakan jenis-jenis perubahan

makna, yaitu meluas, menyempit, perubahan total, penghalusan (eufemia), dan

pengasaran (disfemia).

Perubahan makna suatu kata dapat disebabkan perbedaan bidang pemakaian.

Perbedaan bidang pemakaian kata yang terjadi dari satu bidang ke bidang lainnya,

seperti dalam bidang olahraga, memungkinkan perubahan makna kata itu terjadi.

Berita olahraga dalam media massa, seperti surat kabar merupakan sarana

yang penting untuk dikaji keberadaan perubahan makna kata pembentuknya,

karena berita olahraga banyak diminati untuk dibaca masyarakat dalam

memperoleh informasi. Fungsi media massa adalah alat komunikasi untuk

menyebarkan berita dan pesan kepada masyarakat luas. Media massa hadir dalam

berbagai bentuk, baik cetak maupun elektronik. Kedua bentuk media massa

tersebut tidak akan pernah lepas dari penggunaan bahasa, karena bahasa adalah

alat untuk menyampaikan suatu informasi kepada pihak lain. Penuturan bahasa

yang baik dan benar menjadi tuntutan dalam media massa. Selain agar mudah

dimengerti, informasi yang ditujukan pun tepat sasaran. Hal ini, sesuai dengan

pendapat Alwasilah yang mengemukakan bahwa “Mengomunikasikan makna

dengan berhasil adalah tujuan utama dari tingkah laku (kegiatan) linguistik.

(14)

menjelaskan konstruksi kapal tanpa membuat acuan terhadap laut” (Alwasilah,

1986:118).

Akan tetapi, seiring berkembangnya zaman, sering kita jumpai bahasa dalam

media massa yang digunakan tidak seperti umumnya bahasa tersebut digunakan.

Akhirnya, masyarakat pembacalah yang menentukan sendiri makna yang muncul

dari ketidakumuman penggunaan bahasa tersebut, sehingga terjadilah perubahan

makna kata yang digunakan dalam media massa. Penggunaan bahasa yang

memungkinkan terjadinya perubahan makna, di antaranya terdapat pada berita

olahraga dalam surat kabar.

Sebagai sarana komunikasi, media massa berfungsi untuk menyampaikan

berita dan pesan kepada masyarakat luas. Masyarakat akademis dan kelas

menengah atas lebih banyak memanfaatkan majalah, khususnya majalah ilmiah.

Surat kabar, televisi, dan film pada umumnya merupakan konsumsi masyarakat

secara keseluruhan. Media massa sarat dengan tujuan dan manfaat, baik bagi

pengirim maupun penerimanya. Di satu pihak, para penulis berita sudah

membayangkan masyarakat yang ditujunya, bahasa dan kosakata apa yang

digunakan sehingga sasaran dapat dicapai. Senada dengan hal tersebut, Ratna

mengemukakan sebagai berikut.

Media massa adalah bahasa, sedangkan bahasa itu sendiri tidak netral, tidak bebas konteks, tidak bebas nilai, melainkan sarat dengan kepentingan inheren. Wartawan dan editor bebas memilih dan memanfaatkan kosakata tertentu, baik dengan tujuan untuk memperoleh popularitas maupun memberikan penegasan tertentu, bahkan juga untuk membelokkan kebenaran (Ratna, 2009:320).

Peranan media massa bertambah penting dengan adanya wilayah yang sangat

luas terdiri dari pulau-pulau, sedangkan bangsa Indonesia memiliki satu bahasa

persatuan, yaitu bahasa Indonesia. Media massalah, khususnya surat kabar

memegang peranan penting untuk mempersatukan bangsa Indonesia dengan

bahasanya. Media massa mempercepat penyebaran istilah dan kata-kata baru,

(15)

jumlah istilah yang berhasil dipopulerkan oleh media massa. Mulai dari pemilihan

kata-kata, penyusunan kalimat, sampai penggunaan gaya bahasa disesuaikan

dengan kepentingan tertentu. Demikian juga istilah-istilah yang digunakan pada

berita olahraga dalam surat kabar. Perubahan makna suatu kata dapat terjadi

karena perbedaan gaya bahasa yang digunakan penulis dan latar belakang

kehidupannya. Ruriana dan Iqbal Nurul Azhar (2010:55-67) mengemukakan

bahwa penulis dengan latar belakang yang berbeda dengan sendirinya akan

menggunakan gaya bahasa yang berbeda pula. Penulis yang kreatif akan

senantiasa mengemukakan gagasan-gagasan baru dan menggunakan gaya yang

membedakan dirinya dengan penulis lain. Dengan kata lain, penyebab terjadinya

perbedaan gaya bahasa juga ditentukan oleh kreativitas seorang penulis. Gaya

bahasa sebagai bagian dari sarana penulisan kreatif, termasuk salah satu aspek

kajian yang cukup bermanfaat untuk ditelaah. Salah satu alasannya karena gaya

bahasa merupakan cara pengungkapan yang khas atau spesifik bagi seorang

penulis yang dapat membedakannya dari penulis yang lain. Gaya bahasa yang

digunakan oleh penutur/penulis sangat beragam seperti, perbandingan, metafora,

dan personifikasi. Banyak sekali penulis atau wartawan yang menggunakan

metafora sebagai salah satu gaya penulisannya. Dengan kata lain, dapat disebut

bahwa tidak ada bahasa pers tanpa metafora. Berbagai tulisan di media massa

cetak, seperti bidang ekonomi, politik, pemerintahan, olahraga, merupakan lahan

subur untuk memakai metafora. Kesuburannya didukung oleh kepentingan para

pemberita, penulis, atau wartawan untuk melihat suatu arti atau fenomena sosial

dari berbagai sisi dan mengungkapkannya kepada pembaca melalui pemilihan

kata yang mengandung persamaan dan perbandingan dengan kata lain metaphor.

Mengingat banyaknya penggunaan majas metafora dalam berbagai rubrik di

media massa cetak, maka sebagai data penelitian ini, penulis memilih penggunaan

metafora dalam berita olahraga. Media massa cetak terutama surat kabar, dewasa

ini tumbuh bagaikan cendawan di musim hujan. Oleh sebab itu, peneliti memilih

(16)

daerah maupun nasional. Pemilihan tersebut ditentukan dengan dasar

pertimbangan bahwa surat kabar memiliki peran sesuai dengan fungsinya, yaitu

memberikan informasi dengan cepat, memiliki jangkauan pembaca yang luas, dan

surat kabar juga memiliki jumlah oplah yang besar.

Selain itu, berita-berita yang disampaikan melalui surat kabar, khususnya

berita olahraga digemari masyarakat termasuk siswa SMA. Para siswa

membutuhkan informasi yang dapat mereka peroleh setiap saat. Media yang tepat

untuk mendapatkan informasi tersebut adalah surat kabar karena surat kabar

mudah dan lebih cocok dibawa kemana-mana, dapat dibaca di banyak tempat: di

rumah, dalam kendaraan, atau di sekolah pada saat istirahat, dan dapat dibaca

pada waktu kapan pun.

Surat kabar memiliki keunggulan dibandingkan media lain. Hal ini

diungkapkan Mulyana (2004:154) bahwa bahasa tulisan yang digunakan surat

kabar memberikan peluang yang sangat besar (jeda demi jeda) kepada manusia

untuk berinteraksi dengan diri sendiri, berimajinasi, mengabstraksikan informasi

apa pun yang berasal dari surat kabar. Isi surat kabar memberikan dorongan lebih

besar kepada manusia untuk kreatif dibandingkan dengan radio ataupun TV. Jika tayangan TV adalah “bahan jadi” yang kita telan begitu saja, maka isi surat kabar adalah “bahan setengah jadi” yang harus kita olah dan kita kunyah-kunyah sebelum kita menelannya. Kita dapat menguraikan, menyimpulkan,

menggeneralisasikan, atau meringkaskan informasi dalam surat kabar.

Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki surat kabar, maka peneliti akan

mencoba menggunakan media massa “surat kabar” yang memuat metafora pada

berita olahraga untuk pembelajaran bahasa Indonesia di SMA, khususnya di kelas

X.

Kelebihan-kelebihan yang dimiliki surat kabar dengan penggunaan bahasa

yang senantiasa hangat dan menarik, menjadi perhatian berbagai kalangan

intelektual untuk menelitinya. Hal ini, terbukti dengan banyaknya penelitian yang

(17)

meneliti “Metafora untuk Kata Kalah dan Menang dalam Tajuk Berita Olahraga di Surat Kabar”. Hasil penelitiannya adalah frekuensi penggunaan metafora untuk kata menang lebih banyak dibandingkan dengan metafora untuk kata kalah.

Metafora untuk kata menang sebanyak 57 metafora dari 59 tajuk berita olahraga

dan 23 metafora untuk kata kalah dari 33 tajuk berita olahraga. Penggunaan

metafora untuk kata kalah dilandasi latar belakang: akibat kekalahan subjek,

sebab kekalahan subjek, dan subjek yang mengalami kekalahan. Sedangkan,

metafora untuk kata menang dilandasi latar belakang: hasil yang diperoleh subjek,

cara subjek meraih kemenangan, subjek yang menang, cabang olahraga yang

dimenangkan, situasi pertandingan, situasi sesudah menang, jumlah pertandingan,

pentingnya kemenangan, tempat pertandingan, penampilan subjek yang tangguh.

Semua itu terangkum dalam hasil, cara, dan subjek pelaku kemenangan.

Namun, penelitian tersebut belum menyentuh kata-kata lain yang termasuk

metafora pada berita olahraga secara keseluruhan, tetapi hanya metafora untuk

kata kalah dan menang, juga belum menyentuh aspek desain pembelajaran di

sekolah, sehingga menarik perhatian penulis untuk melakukan penelitian tentang

metafora pada berita olahraga dalam surat kabar yang berimplikasi terhadap

pembelajaran bahasa Indonesia.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis akan melakukan penelitian tentang

metafora pada berita olahraga dalam surat kabar di Indonesia. Setelah itu, penulis

mencoba menyusun desain pembelajaran metafora dalam mata pelajaran Bahasa

Indonesia untuk siswa SMA kelas X. Penelitian ini tertuang dalam judul tesis “ANALISIS METAFORA PADA BERITA OLAHRAGA DAN IMPLIKASINYA BAGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA

(Kajian Deskriptif Analitik terhadap Berita Olahraga dalam Surat Kabar di

Indonesia)”.

(18)

Berdasarkan latar belakang tersebut, dapat diidentifikasi masalah-masalah

sebagai berikut.

1. Bahasa sebagai alat komunikasi mengalami perubahan, khususnya perubahan

makna.

2. Perkembangan media massa sebagai media komunikasi berpengaruh terhadap

penggunaan bahasa, khususnya bahasa Indonesia.

3. Media massa sebagai media komunikasi yang menyajikan berbagai informasi

mempunyai permasalahan dalam penggunaan bahasa.

4. Penggunaan metafora dalam berita olahraga dapat menyebabkan perubahan

makna kata.

5. Beberapa jenis perubahan makna yang disebabkan penggunaan metafora

terdapat pada berita olahraga dalam surat kabar.

6. Perubahan makna pada metafora dalam berita olahraga berimplikasi terhadap

pembelajaran bahasa Indonesia.

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, penelitian ini akan dibatasi pada

hal-hal:

1. metafora yang terdapat pada berita olahraga dalam surat kabar;

2. makna dasar metafora pada berita olahraga dalam surat kabar;

3. perubahan makna metafora pada berita olahraga dalam surat kabar;

4. jenis perubahan makna metafora pada berita olahraga dalam surat kabar; dan

5. desain pembelajaran metafora pada berita olahraga dalam surat kabar.

(19)

Berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan masalah tersebut, maka

dirumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut.

1. Apa saja metafora yang terdapat pada berita olahraga dalam surat kabar?

2. Bagaimanakah makna dasar metafora pada berita olahraga dalam surat kabar?

3. Bagaimanakah perubahan makna metafora pada berita olahraga dalam surat

kabar?

4. Apa saja jenis perubahan makna metafora pada berita olahraga dalam surat

kabar?

5. Bagaimanakah desain pembelajaran metafora pada berita olahraga dalam

surat kabar untuk siswa SMA kelas X?

E. Tujuan Penelitian

Sejalan dengan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan

untuk:

1. mendeskripsikan metafora yang terdapat pada berita olahraga dalam surat

kabar;

2. mendeskripsikan makna dasar metafora pada berita olahraga dalam surat

kabar;

3. mendeskripsikan perubahan makna metafora pada berita olahraga dalam surat

kabar;

4. mendeskripsikan jenis perubahan makna metafora pada berita olahraga dalam

surat kabar; dan

5. mendeskripsikan desain pembelajaran metafora pada berita olahraga dalam

surat kabar untuk siswa SMA kelas X.

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, baik secara teoretis maupun

praktis.

(20)

a. Secara umum, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah

linguistik dan secara khusus dalam penggunaan gaya bahasa metafora

yang terdapat dalam surat kabar.

b. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan tentang

contoh-contoh media dan bahan ajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia di

SMA.

c. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan pemikiran dalam

upaya meningkatkan kualitas pendidikan dalam pembelajaran bahasa,

khususnya analisis metafora sebagai salah satu gaya bahasa pada berita

olahraga dalam surat kabar.

2. Manfaat praktis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan dalam menentukan

bahan ajar pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya analisis metafora

pada berita olahraga yang terdapat dalam surat kabar.

b. Hasil penelitian ini sebagai masukan pemikiran dalam upaya

meningkatkan kualitas hasil pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya

analisis metafora pada berita olahraga yang terdapat dalam surat kabar.

c. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan tingkat keefektifan

penggunaan bahan ajar dengan menggunakan berita olahraga dari surat

kabar.

d. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran contoh

desain pembelajaran metafora pada berita olahraga dalam surat kabar.

G. Asumsi

Penelitian ini didasarkan pada asumsi-asumsi sebagai berikut.

1. Berita olahraga dalam surat kabar di Indonesia mengandung metafora.

2. Metafora pada berita olahraga dalam surat kabar di Indonesia mengalami

(21)

3. Beberapa jenis perubahan makna yang disebabkan penggunaan metafora

terdapat pada berita olahraga dalam surat kabar di Indonesia.

4. Desain pembelajaran metafora untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia di

SMA dapat menggunakan media berupa berita olahraga dalam surat kabar.

H. Definisi Operasional

Untuk menghindari salah penafsiran tentang judul penelitian, di bawah ini

akan diuraikan penjelasan beberapa istilah sebagai berikut.

1. Metafora adalah pemakaian kata atau ungkapan lain sebagai pembanding

antara dua hal untuk menciptakan suatu kesan mental yang hidup, kata-kata

yang digunakan bukan arti sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang

berdasarkan persamaan atau perbandingan.

2. Berita adalah informasi aktual tentang fakta-fakta dan opini yang menarik

atau penting, atau keduanya, bagi sejumlah besar manusia. Berita tersebut

dapat berupa suatu peristiwa atau kejadian di dalam masyarakat, lalu

peristiwa atau kejadian itu diulangi dalam bentuk kata-kata yang disiarkan

secara tertulis dalam media tulis (surat kabar, majalah, dll.), atau dalam media

suara (radio, dll.), atau juga dalam media suara dan gambar (televisi). Berita

yang penulis teliti adalah berita olahraga yang terdapat dalam surat kabar di

Indonesia, baik berskala daerah maupun nasional.

3. Pembelajaran bahasa Indonesia adalah setiap upaya yang sistematik dan

disengaja oleh pendidik untuk menciptakan kondisi-kondisi agar peserta didik

melakukan kegiatan belajar menguasai suatu bahasa, yaitu bahasa Indonesia.

Dalam kegiatan ini terjadi interaksi edukatif antara peserta didik yang

melakukan kegiatan belajar dengan pendidik yang melakukan kegiatan

membelajarkan.

4. Deskriptif analitik adalah metode penelitian yang mendeskripsikan data apa

adanya kemudian data tersebut dianalisis dan diinterpretasi berdasarkan

(22)

5. Surat kabar adalah media yang digunakan sebagai alat untuk menyampaikan

berita kepada masyarakat. Surat kabar yang digunakan sebagai sumber data

adalah surat kabar di Indonesia berskala daerah, seperti Bandung Ekspres,

Galamedia, Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Inilah Koran, Radar Karawang,

Radar Bandung dan surat kabar berskala nasional, seperti Republika, Seputar

Indonesia, TopSkor, Kompas, dan Koran Tempo. Surat kabar yang dijadikan

sumber data dalam penelitian ini adalah terbitan Oktober 2012 sampai dengan

Desember 2012.

I. Paradigma Penelitian

Untuk memperjelas kerangka berpikir dalam penelitian ini, maka penulis

gambarkan proses penelitian dari awal sampai akhir penelitian dalam sajian bagan

berikut.

Bagan 1.1

Paradigma Penelitian

(23)

TUJUAN

1. Mendeskripsikan metafora pada berita olahraga dalam surat kabar

2. Mendeskripsikan makna dasar, perubahan makna, dan jenis perubahan makna pada metafora

3. Mengolah desain pembelajaran

LANDASAN TEORETIS

1. Gaya Bahasa 2. Makna Kata 3. Berita

4. Pembelajaran Bahasa Indonesia

1. Karakteristik Metafora 2. Bahan Pembelajaran

(24)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang menggunakan metode

deskriptif analitik, yaitu metode yang tidak hanya terbatas pada pengumpulan

data, tetapi meliputi analisis dan interpretasi data. Metode deskriptif analitik

berupaya mengumpulkan data apa adanya kemudian dianalisis dan diberikan

interpretasi sesuai dengan kebutuhan penelitian.

Penelitian kualitatif menurut Sugiyono (2011:21) mempunyai karakteristik

sebagai berikut:

a. dilakukan pada kondisi yang alamiah (lawannya adalah eksperimen),

langsung ke sumber data dan peneliti adalah instrumen kunci;

b. penelitian kualitatif lebih bersifat deskriptif, data yang terkumpul

berbentuk kata-kata atau gambar, sehingga tidak menekankan pada angka;

c. penelitian kualitatif lebih menekankan pada proses daripada produk atau

outcome;

d. penelitian kualitatif melakukan analisis data secara induktif; dan

e. penelitian kualitatif lebih menekankan makna.

B. Sumber Data dan Data Penelitian

1. Sumber data penelitian

Sumber data dalam penelitian ini adalah berita olahraga pada surat kabar di

Indonesia yang berskala daerah, seperti Bandung Ekspres, Galamedia, Pikiran

Rakyat, Tribun Jabar, Inilah Koran, Radar Karawang, Radar Bandung; dan

berita olahraga pada surat kabar yang berskala nasional, seperti Republika,

Seputar Indonesia, TopSkor, Kompas, dan Koran Tempo. Kedua belas surat kabar

tersebut peneliti pilih sebagai bahan penelitian karena menyajikan berita olahraga

yang mengandung metafora. Surat kabar yang menjadi bahan penelitian adalah

(25)

Berita olahraga sebagai sumber data yang peneliti ambil dari surat kabar di

Indonesia, baik berskala daerah maupun nasional berjumlah 100 berita olahraga.

Untuk mempermudah proses analisis data, ke-100 sumber data tersebut diberi

kode SD untuk menunjukkan Sumber Data yang ditambah dengan penomoran.

Misalnya, sumber data satu diberi kode SD 001, sumber data dua diberi kode SD

002, dan seterusnya sampai SD 100. Sumber data dalam penelitian ini secara

lengkap adalah sebagai berikut.

a. Surat kabar berskala daerah

1) Bandung Ekspres

SD 001 Belum Pikirkan Jadi Pelatih, Ingin Pensiun Dekat Rumah

(Kamis, 11 Oktober 2012)

SD 002 Layaknya Mencabut Duri dalam Daging (Kamis, 11 Oktober

2012)

SD 003 Thunder Empaskan Bulls di Chaicago (Sabtu, 10 November

2012)

SD 004 Filipina Dampingi Thailand (Sabtu, 1 Desember 2012)

SD 005 Misi Salip Gol Lionel Messi (Rabu, 12 Desember 2012)

2) Galamedia

SD 006 Baleendah Menargetkan ke Final Piala Bupati (Kamis, 11

Oktober 2012)

SD 007 Falcao Tembus Rp700 M (Kamis, 11 Oktober 2012)

SD 008 Duel Panas Tersaji di Turin (Sabtu, 3 November 2012)

SD 009 Kutukan Old Trafford (Sabtu, 3 November 2012)

SD 010 Partai Balas Dendam (Rabu, 14 November 2012)

SD 011 Roxy ke Babak Kedua (Rabu, 14 November 2012)

SD 012 Hentikan Hasil Buruk (Rabu, 14 November 2012)

(26)

SD 013 Uji Coba Harus Serius (Kamis, 11 Oktober 2012)

SD 014 Timnas Masih Bernasib Baik di Turnamen HWC (Kamis, 11

Oktober 2012)

SD 015 Persib Waspadai Ancaman MU (Sabtu, 3 November 2012)

SD 016 Sevilla Bungkam Espanyol di Copa del Rey (Sabtu, 3

November 2012)

SD 017 Asia Belum Mampu Bersaing (Rabu, 12 Desember 2012)

SD 018 Striker Kawakan yang Rendah Hati (Rabu, 12 Desember

2012)

SD 019 Persib Akan Maksimalkan Bola Mati (Rabu, 12 Desember

2012)

4) Tribun Jabar

SD 020 Memori 8-2 (Sabtu, 3 November 2012)

SD 021 Semangat Membara (Sabtu, 3 November 2012)

SD 022 Tetangga Gaduh Masih Angkuh (Rabu, 12 Desember 2012)

SD 023 Rodallega Buat Fulham Lega (Rabu, 12 Desember 2012)

SD 024 (Masih) Nyawa Zebra Kecil (Rabu, 12 Desember 2012)

5) Inilah Koran

SD 025 Sesumbar Suarez (Kamis, 11 Oktober 2012)

SD 026 Puncak Karier (Kamis, 11 Oktober 2012)

SD 027 Suntikan Pilar Penting (Sabtu, 3 November 2012)

SD 028 Perang Pujian (Sabtu, 3 November 2012)

SD 029 Nyali Van Persie (Sabtu, 3 November 2012)

SD 030 Rekor Sempurna (Rabu, 12 Desember 2012)

SD 031 Muller: Messi Raksasa yang Mengagumkan (Rabu, 12

Desember 2012)

(27)

SD 032 Laga Penentu The Citizen (Selasa, 6 November 2012)

SD 033 Mampukah Torres Menjebol Gawang Liverpool? (Sabtu, 10

November)

SD 034 Berebut Scudetto, Inter Milan Saingan Berat Juventus (Sabtu,

10 November 2012)

SD 035 Inter Cetak Rekor 10 Kali Menang di Kandang Lawan (Rabu,

14 November 2012)

SD 036 Thunder Tumbangkan Chicago Bulls (Rabu, 14 November

2012)

SD 037 Glen Johnson Bidik Prestasi Akademik (Rabu, 12 Desember

2012)

SD 038 Singapura Diunggulkan Lawan Filipina (Rabu, 12 Desember

2012)

SD 039 Penampilan Liverpool Kian Menanjak (Rabu, 12 Desember

2012)

7) Radar Bandung

SD 040 Hadangan Die Roten (Sabtu, 3 November 2012)

SD 041 Rindu Gol Caroll (Sabtu, 3 November 2012)

SD 042 Tumpuan Lawan Chievo (Sabtu, 3 November 2012)

SD 043 Memori 8-2 (Sabtu, 3 November 2012)

SD 044 Laga Emosional (Sabtu, 3 November 2012)

SD 045 Memburu Angka 50 (Sabtu, 3 November 2012)

SD 046 Heynckes: Pemain Siap tempur (Sabtu, 3 November 2012)

SD 047 Bukan Friendly Biasa (Rabu, 14 November 2012)

SD 048 Zebrete Bungkam Sampdoria (Rabu, 12 Desember 2012)

SD 049 Real Bakal Unggul (Rabu, 12 Desember 2012)

SD 050 Lyon Kembalikan Reputasi (Rabu, 12 Desember 2012)

(28)

1) Republika

SD 051 Panutan Rooney (Kamis, 11 Oktober 2012)

SD 052 Duel Spanyol Rasa Tango (Sabtu, 3 November 2012)

SD 053 Satu Langkah Sevilla ke 16 Besar Copa Del Rey (Sabtu, 3

November 2012)

SD 054 Kemenangan Tandang Pertama La Viola (Sabtu, 3 November

2012)

SD 055 Mengintip Peluang ke Puncak (Sabtu, 3 November 2012)

SD 056 Dominasi The Toffees (Sabtu, 3 November 2012)

SD 057 The Reds Goda Walcott Rp1,5 Miliar per Pekan (Sabtu, 3

November 2012)

SD 058 Galaxy Tantang San Jose di Semifinal (Sabtu, 3 November

2012)

SD 059 Konsistensi Barca (Senin, 3 Desember 2012)

SD 060 Keterpurukan The Magpies (Rabu, 12 Desember 2012)

SD 061 Lazio Gagal ke Tiga Besar Klasemen (Rabu, 12 Desember

2012)

2) Seputar Indonesia

SD 062 Meredam Laju Messi (Kamis, 11 Oktober 2012)

SD 063 Menezes Andalkan Pemain Muda (Kamis, 11 Oktober 2012)

SD 064 Bonus Besar Guyur Pemain Der Panzer (Kamis, 11 Oktober

2012)

SD 065 Lionel Messi Segera Salip Gerd Mueller (Senin, 3 Desember

2012)

SD 066 Carlo Arcelotti Tertekan (Senin, 3 Desember 2012)

SD 067 Amuk Sir Alex (Senin, 3 Desember 2012)

SD 068 Tergoda Baines (Rabu, 12 Desember 2012)

SD 069 Persiba Bantul Incar Punggawa Timnas Indonesia (Rabu, 12

(29)

SD 070 Dianggap Dewa Sekaligus Pesepak Bola Supranatural (Rabu,

12 Desember 2012)

SD 071 Memilih Pemain Muda Ketimbang Bintang (Rabu, 12

Desember 2012)

3) TopSkor

SD 072 Perburuan Gol Gomis Berlanjut (Sabtu-Minggu, 1-2

Desember 2012)

SD 073 Saatnya Bungkam Malaysia (Sabtu-Minggu, 1-2 Desember

2012)

SD 074 Gasperini Usung Dendam (Sabtu-Minggu, 1-2 Desember

2012)

SD 075 Duell Der Giganten (Sabtu-Minggu, 1-2 Desember 2012)

SD 076 Ultimatum Chelsea: Torres Diharapkan Segera Cetak Gol

(Sabtu-Minggu, 1-2 Desember 2012)

SD 077 Drama di Madejski (Senin, 3 Desember 2012)

SD 078 Hindari Rekor Buruk (Senin, 3 Desember 2012)

SD 079 Manucho Masih Penasaran (Senin, 3 Desember 2012)

SD 080 Napoli Kembali Menguntit Juventus (Senin, 3 Desember

2012)

SD 081 Refleksi Sepak Bola Kita di Piala AFF (Senin, 3 Desember

2012)

SD 082 “Maung” Percaya Diri (Senin, 3 Desember 2012)

SD 083 Catania Murka (Senin, 3 Desember 2012)

SD 084 Debut Buruk Radamel Falcao (Senin, 3 Desember 2012)

SD 085 “Kami Akan Bertemu Thailand di Final” (Senin, 3 Desember

2012)

SD 086 Mencetak Gol Setelah Tujuh Bulan: Boateng Puas (Senin, 3

Desember 2012)

(30)

SD 088 Zaragoza Akhiri Tren Negatif (Rabu, 12 Desember 2012)

SD 089 Kota Milan Bernyanyi Lagi (Rabu, 12 Desember 2012)

SD 090 Rahasia Juve (Rabu, 12 Desember 2012)

4) Kompas

SD 091 Potensi Hujan Gol (Sabtu, 3 November 2012)

SD 092 Lionel Messi di Ambang Sejarah (Sabtu, 1 Desember 2012)

SD 093 Merobohkan Kelaziman (Sabtu, 1 Desember 2012)

SD 094 Rekor Belum Tumbang (Senin, 3 Desember 2012)

SD 095 Corinthians Tak Ingin Ada Kejutan (Rabu, 12 Desember

2012)

5) Koran Tempo

SD 096 Dibayangi Mimpi Buruk (Sabtu, 3 November 2012)

SD 097 Villa Inginkan Peran Utama (Sabtu, 3 November 2012)

SD 098 Tambah Lagi, Messi! (Rabu, 12 Desember 2012)

SD 099 Piala Dunia Antarklub Bertarung untuk Para Martir (Rabu, 12

Desember 2012)

SD 100 Paulinho, Hero Corinthians (Rabu, 12 Desember 2012)

2. Data penelitian

Data dalam penelitian ini adalah kalimat-kalimat yang mengandung metafora

pada berita olahraga dalam surat kabar di Indonesia, baik berskala daerah maupun

nasional. Berita olahraga yang peneliti ambil sebanyak 100 berita olahraga dari

dua belas surat kabar, dari 100 berita olahraga tersebut terdapat kalimat-kalimat

yang mengandung metafora. Kalimat-kalimat yang mengandung metafora dari

setiap berita olahraga itulah yang menjadi data penelitian. Sedangkan

kalimat-kalimat yang tidak mengandung metafora tidak dijadikan data penelitian. Kalimat

yang mengandung metafora dari setiap berita olahraga jumlahnya bervariasi.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa satu kalimat yang mengandung

(31)

Contoh data penelitian dari surat kabar Bandung Ekspres yang terbit Kamis,

11 Oktober 2012 pada berita olahraga yang berjudul “Belum Pikirkan Jadi Pelatih,

Ingin Pensiun Dekat Rumah” terdiri dari 12 data. Rinciannya adalah sebagai

berikut.

Data 1 Christian Gonzales adalah salah seorang penyerang tersubur di

Liga Indonesia.

Data 2 Hebatnya, hingga usianya yang ke-36 ini, dia belum mau gantung

sepatu alias pensiun.

Data 3 Meski sudah berkepala tiga, ketajaman pemain kelahiran

Montevideo Uruguay tersebut tetap layak dikedepankan.

Data 4 Musim lalu, bersama Persisam Samarinda, pemain yang memiliki

nama muslim Mustafa Habibi itu masih sanggup menorehkan 18

gol.

Data 5 “... Walaupun banyak yang bilang saya sudah menurun atau

lainnya, fakta saya sanggup mencetak gol di atas sepuluh gol tak

bisa dimungkiri, “ kata suami Eva Siregar itu.

Data 6 Gonzales belum memiliki rencana ke klub mana berlabuh musim

mendatang.

Data 7 Andrew Barisic yang digadang-gadang tampil moncer malah

tampil flop.

Data 8 “... Kita pasrahkan kepada Tuhan kalau memang saya dan klub

yang meminang saya berjodoh,” tutur bapak lima anak itu.

Data 9 Dalam pikiran pemain yang mengawali karir di Liga Indonesia

bersama PSM Makassar itu, selama fisiknya masih kuat, Gonzales

akan terus mengolah si kulit bundar.

Data 10 Di level klub, gelar juara, pemain terbaik, ataupun gelar top scorer

sudah direngkuh.

Data 11 Saya kira sudah mencapai semua gelar individu maupun tim di

(32)

Data 12 Kalau untuk Timnas, selama masih dibutuhkan, saya selalu siap

bergabung, “ kata pemain yang sudah mengemas sebelas gol untuk

tim Merah Putih itu.

Pembagian data seperti itu akan dilakukan juga pada 100 berita olahraga

lainnya, sehingga data yang diteliti jumlahnya akan lebih dari 100 data, karena

yang diteliti bukan setiap beritanya tetapi setiap kalimat yang menggunakan

metafora dari berita olahraga tersebut.

C. Instrumen Penelitian

Peneliti adalah instrumen kunci dalam penelitian kualitatif ini. Namun,

peneliti juga memerlukan instrumen lain yang digunakan dalam penelitian ini,

yaitu lembar analisis, pedoman observasi, angket, dan dokumen (surat kabar).

Berikut ini penjelasan mengenai instrumen tersebut.

a. Lembar analisis

Lembar analisis yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: 1)

lembar analisis data penelitian untuk mengetahui apakah satuan bahasa itu

termasuk metafora atau bukan metafora; 2) lembar analisis data penelitian

untuk mengetahui jenis perubahan makna (meluas, menyempit, total,

eufemia, disfemia); dan 3) lembar analisis rekapitulasi metafora pada berita

olahraga dalam surat kabar berdasarkan kode sumber data dengan tujuan

terkumpulnya semua metafora dari semua sumber data.

Format analisis 1:

Format analisis 1 sebagai instrumen penelitian digunakan untuk

mengetahui apakah satuan bahasa itu termasuk metafora atau bukan metafora.

Instrumen penelitian ini mengacu pada teori metafora yang dikemukakan para

ahli bahasa (BAB II). Berdasarkan beberapa teori metafora yang

dikemukakan para ahli bahasa, seperti Tarigan (2009:15), Ratna (2009:181),

(33)

berdasarkan KBBI (2008:908), maka peneliti menarik simpulan bahwa

metafora memiliki karakteristik:

a) menyatakan perbandingan/persamaan dua hal atau benda;

b) menimbulkan kesan mental yang hidup; dan

c) arti yang dimunculkan bukan arti sebenarnya.

Format analisis 1 yang digunakan dalam penelitian ini diisi dengan cara

membubuhkan tanda centang (√) untuk setiap kriteria pada kolom yang

disediakan. Format analisis 1 tersebut adalah sebagai berikut.

Tabel 3.1

Format Analisis Metafora pada Berita Olahraga dalam Surat Kabar

SD Nomor

Format analisis 2 sebagai instrumen penelitian digunakan untuk menganalisis

jenis perubahan makna. Metafora yang berbentuk kata atau kelompok kata

terlebih dahulu dianalisis makna dasarnya dengan mengacu pada Kamus Besar

Bahasa Indonesia Edisi Keempat Tahun 2008 yang diterbitkan Departemen

Pendidikan Nasional. Adapun perubahan makna metafora dianalisis berdasarkan

makna gramatikal yang muncul dari konteks kalimatnya. Padanan kata untuk

menyatakan perubahan makna metafora dalam sebuah konteks kalimat sebagian

besar mengacu pada Kamus Tesaurus Bahasa Indonesia yang diterbitkan Pusat

(34)

digunakan juga Kamus Sinonim Antonim Bahasa Indonesia karangan Nugroho

Dewanto yang diterbitkan Yrama Widya Tahun 2006. Setelah menentukan makna

dasar dan perubahan maknanya, lalu menentukan jenis perubahan makna yang

terjadi pada metafora berdasarkan teori makna menurut Abdul Chaer. Chaer

(2009:140) mengemukakan bahwa “jenis perubahan makna terdiri dari perubahan

makna meluas, menyempit, perubahan total, penghalusan (eufemia), dan

pengasaran (disfemia)”. Secara lengkap teori tentang makna ini terdapat pada

BAB II.

Format analisis 2 yang digunakan dalam penelitian ini diisi dengan cara

membubuhkan tanda centang (√) untuk setiap kriteria pada kolom yang

disediakan. Format analisis 2 tersebut adalah sebagai berikut.

Tabel 3.2

Format Analisis Jenis Perubahan Makna Metafora

Nomor

Metafora

Jenis Perubahan Makna

Kalimat Metafora meluas menyempit total eufemia disfemia

Format analisis 3:

Format analisis 3 sebagai instrumen penelitian digunakan untuk

merekapitulasi semua metafora. Metafora tersebut terdapat dalam 100 berita

olahraga dari 12 surat kabar yang terbit mulai Oktober 2012 sampai dengan

Desember 2012 dengan tujuan terkumpulnya semua metafora dari semua sumber

data. Format analisis 3 yang digunakan dalam penelitian ini diisi dengan cara

menuliskan kode sumber data dan nomor data dari setiap sumber data yang

digunakan dalam penelitian. Format analisis 3 tersebut adalah sebagai berikut.

Tabel 3.3

(35)

dalam Surat Kabar di Indonesia

Keterangan:

SD 001 – 005 = Bandung Ekspres SD 040 – 050 = Radar Bandung

SD 006 – 012 = Galamedia SD 051 – 061 = Republika

SD 013 – 019 = Pikiran Rakyat SD 062 – 071 = Seputar Indonesia SD 020 – 024 = Tribun Jabar SD 072 – 090 = TopSkor

SD 025 – 031 = Inilah Koran SD 091 – 095 = Kompas SD 032 – 039 = Radar Karawang SD 096 – 100 = Koran Tempo

b. Pedoman observasi

Pedoman observasi memuat berbagai tingkah laku siswa selama melakukan

pembelajaran dengan menggunakan berita olahraga dalam surat kabar. Aspek

yang diamati berupa: 1) antusiasme siswa selama mengikuti pembelajaran dengan

menggunakan berita olahraga yang mengandung metafora pada surat kabar, 2)

respons siswa pada waktu mengidentifikasi dan menganalisis metafora pada berita

olahraga dalam surat kabar, 3) kesesuaian antara rencana pembelajaran yang

ditetapkan dengan pelaksanaan pembelajaran di kelas.

c. Lembar angket (kuesioner)

Angket (kuesioner) merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan

dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada

responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2011:199).

Pada umumnya diasumsikan bahwa angket dapat menjadi sumber data yang

komprehensif bila dilakukan pengukuran terhadap suatu kebutuhan. Angket tidak

jarang diyakini sebagai suatu pendekatan yang benar-benar menyeluruh dalam

(36)

pengumpulan data karena dapat dibuat secara metodik dan didistribusikan sesuai

prosedur sampling secara ilmiah (Syamsuddin dan Vismaia S. Damaianti,

2006:108).

Angket memberikan banyak keuntungan. Arikunto (2010:195)

mengemukakan keuntungan menggunakan angket dalam penelitian, di antaranya:

1) tidak memerlukan hadirnya peneliti, 2) dapat dibagikan secara serentak kepada

banyak responden, 3) dapat dijawab oleh responden menurut kecepatannya

masing-masing dan menurut waktu senggang responden, 4) dapat dibuat anonim

sehingga responden bebas, jujur, dan tidak ragu-ragu menjawab, dan 5) dapat

dibuat terstandar sehingga semua responden dapat diberi pertanyaan yang

benar-benar sama.

Angket yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah angket berstruktur

dengan jawaban tertutup. Angket berstruktur dengan jawaban tertutup menurut

Hidayat (1994:31) adalah angket yang setiap pertanyaannya diberikan alternatif

jawaban.

Lembar angket yang digunakan dalam penelitian ini diisi dengan cara

membubuhkan tanda centang (√) untuk setiap kriteria pada kolom yang

disediakan. Lembar angket tersebut adalah sebagai berikut.

Tabel 3.4

Format Angket Respons Pembaca Terhadap Berita Olahraga

Nomor Pernyataan Jawaban

SS S TS STS

1.

2.

3.

4.

5.

(37)

Keterangan:

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa

berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang

(Sugiyono, 2011:329).

Guba dan Lincoln (dalam Alwasilah, 2011:111) membedakan records dengan

dokumen. Records adalah segala catatan tertulis yang disiapkan seseorang atau

lembaga untuk pembuktian sebuah peristiwa atau menyajikan perhitungan,

sedangkan dokumen adalah barang yang tertulis atau terfilmkan selain records

yang tidak disiapkan khusus atas permintaan peneliti. Termasuk bukti catatan

(records) adalah manifes penerbangan, catatan akuntan, surat nikah, akte

kelahiran, sertifikat kematian, catatan militer, catatan bisnis, bukti setoran pajak.

Termasuk dokumen adalah surat, memoar, otobiografi, diari, jurnal, buku teks,

surat wasiat, makalah, artikel koran, editorial, catatan medis, foto, dan

sebagainya.

Guba dan Lincoln (dalam Alwasilah, 2011:112) merinci enam alasan analisis

dokumen, yaitu

1) Dokumen merupakan sumber informasi yang lestari, sekalipun dokumen

itu tidak lagi berlaku.

2) Dokumen merupakan bukti yang dapat dijadikan dasar untuk

mempertahankan diri terhadap tuduhan atau kekeliruan interpretasi.

3) Dokumen itu merupakan sumber data yang alami, bukan hanya muncul

dari konteksnya, tapi juga menjelaskan konteks itu sendiri.

4) Dokumen itu relatif mudah dan murah dan terkadang dapat diperoleh

dengan cuma-cuma. Peneliti tinggal menggalinya dalam tumpukan arsip.

5) Dokumen itu sumber data yang non-reaktif. Tatkala responden reaktif

(38)

6) Dokumen berperan sebagai sumber pelengkap dan pemerkaya bagi

informasi yang diperoleh lewat interviu atau observasi.

Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah surat kabar di

Indonesia yang berskala daerah, seperti Bandung Ekspres, Galamedia, Pikiran

Rakyat, Tribun Jabar, Inilah Koran, Radar Karawang, Radar Bandung dan surat

kabar yang berskala nasional, seperti Republika, Seputar Indonesia, TopSkor,

Kompas, dan Koran Tempo. Surat kabar yang menjadi dokumen dalam penelitian

ini adalah terbitan Oktober 2012 sampai dengan Desember 2012.

Selain surat kabar, instrumen lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Keempat Tahun 2008 yang

diterbitkan Departemen Pendidikan Nasional, Tesaurus Bahasa Indonesia Tahun

2008 yang diterbitkan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, dan Kamus

Sinonim Antonim Bahasa Indonesia Tahun 2006 karangan Nugroho Dewanto

yang diterbitkan CV Yrama Widya.

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang penulis lakukan untuk mengumpulkan data penelitian mencakup

tiga tahap, yaitu orientasi, seleksi dan identifikasi.

Orientasi dilakukan peneliti untuk mengenali dan memahami objek penelitian

dan data-data yang akan dikumpulkan berupa metafora pada berita olahraga dalam

surat kabar.

Seleksi dilakukan peneliti dengan cara memilih sumber data yang akan

dianalisis. Tahap ini dimulai dari seleksi surat kabar dan seleksi berita olahraga

dalam surat kabar. Berita yang tidak termasuk berita olahraga, tidak dijadikan

sumber data penelitian.

Identifikasi dilakukan penulis setelah seleksi sumber data. Dari sumber data

yang sudah diseleksi ditentukan data yang akan dianalisis, yaitu berupa kalimat

yang mengandung metafora. Kalimat-kalimat yang tidak mengandung metafora

(39)

E. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan adalah model Miles dan Huberman.

Miles dan Huberman (dalam Emzir, 2010:129) menyatakan langkah-langkah

analisis data kualitatif adalah:

1. reduksi data, yaitu kegiatan memilah, mengelompokkan, dan mengurai data

sehingga data mencapai titik jenuh;

2. data display (penyajian data), yaitu penyajian data hasil reduksi untuk

dianalisis berdasarkan kriteria; dan

3. penarikan simpulan.

Arikunto (2010:29) menambahkan bahwa dalam kegiatan reduksi data ada

lima langkah yang harus dilakukan, yaitu (1) memilih-milih data melalui

pemusatan perhatian, (2) menyederhanakan, (3) melakukan pengodean, (4)

pengategorisasian, dan (5) pembuatan memo. Inti dari reduksi data adalah

menyiapkan dan mengolah data dalam rangka penarikan kesimpulan.

Mahsun berpendapat bahwa “dalam penelitian yang bersifat deskriptif, ketiga

tahapan pelaksanaan penelitian, yaitu penyediaan data, analisis data, dan

penyajian hasil analisis merupakan tahapan yang harus dilalui (Mahsun, 2011:86).

(40)

B. Identifikasi Masalah

3. Pengembangan sumber dan bahan ajar

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

(41)

1. Metafora pada Berita Olahraga dalam Surat Kabar di Indonesia

2. Makna Dasar dan Perubahan Makna Metafora pada Berita Olahraga dalam Surat Kabar di Indonesia

3. Jenis Perubahan Makna Metafora pada Berita Olahraga dalam Surat Kabar di Indonesia

4. Desain Pembelajaran Metafora pada Berita Olahraga dalam Surat Kabar untuk Siswa SMA Kelas X

D. Pembahasan Hasil Penelitian

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan B. Saran

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(42)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai metafora pada berita olahraga dalam

surat kabar di Indonesia yang berjumlah 100 berita, baik surat kabar daerah

maupun nasional yang terbit mulai Oktober 2012 sampai dengan Desember 2012,

maka diperoleh simpulan sebagai berikut.

1. Metafora yang terdapat pada 100 berita olahraga dalam surat kabar di

Indonesia berjumlah 302 metafora yang terbagi menjadi 225 metafora

berbentuk kata dan 77 metafora berbentuk kelompok kata yang tersebar

dalam 891 kalimat. Sebenarnya, metafora yang ada sebanyak 1163 metafora,

namun jumlah tersebut merupakan jumlah yang diperoleh dari pengulangan

penggunaan metafora yang sama dalam beberapa kalimat. Apabila metafora

tersebut tidak dihitung dengan pengulangannya, maka jumlah metafora yang

terdapat pada 891 kalimat tersebut sebanyak 302 metafora.

2. Makna dasar metafora yang peneliti analisis dengan jumlah 302 metafora

diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat Tahun 2008 yang

diterbitkan Departemen Pendidikan Nasional. Makna dasar pada kata atau

kelompok kata yang termasuk metafora tidak dapat digunakan untuk

menentukan makna metafora pada sebuah kalimat. Makna dasar tersebut

hanya dapat digunakan sebagai perbandingan untuk dijadikan dasar

penentuan perubahan makna dan jenis perubahan makna pada metafora.

Perbandingan yang digunakan dalam metafora dapat berupa perbandingan

dengan benda, binatang, tumbuhan, dan manusia yang dapat menghasilkan

kelompok metafora benda, metafora binatang, metafora tumbuhan, dan

(43)

3. Setiap makna dasar metafora dapat mengalami perubahan makna. Setiap

makna dasar pada metafora mengalami perubahan makna bergantung pada

konteks kalimat. Perubahan makna ini terjadi karena tujuan yang

berbeda-beda. Penggunaan metafora pada berita olahraga bertujuan untuk

menghaluskan makna, mengasarkan makna, mengeraskan makna,

mengonkretkan sesuatu yang abstrak, mengagungkan makna, dan untuk

menyatakan penghinaan.

4. Jenis perubahan makna metafora pada berita olahraga dalam surat kabar di

Indonesia meliputi perubahan makna meluas, perubahan makna menyempit,

penghalusan makna (eufemia), dan pengasaran makna (disfemia). Perubahan

makna yang meluas sebanyak 145 metafora (48,01%); perubahan makna

menyempit sebanyak 1 metafora (0,33%); penghalusan makna sebanyak 51

metafora (16,89%); dan pengasaran makna sebanyak 105 metafora (34,77%).

Perubahan makna yang tidak terdapat pada metafora yang peneliti analisis

adalah perubahan makna total. Tidak satupun metafora yang mengalami

perubahan makna total dari 302 metafora yang terdapat pada berita olahraga

dalam surat kabar di Indonesia yang terbit mulai Oktober 2012 sampai

dengan Desember 2012.

5. Materi pembelajaran metafora dari berita olahraga dalam surat kabar di

Indonesia dapat digunakan untuk pembelajaran kebahasaan, khususnya

tentang makna kata. Hal ini, terlihat dari hasil angket yang menggambarkan

bahwa sebagian besar siswa menyukai berita olahraga yang selalu

menggunakan gaya bahasa yang segar dan menarik. Ketertarikan siswa

terhadap berita olahraga yang selalu menggunakan gaya bahasa yang segar

dan menarik memungkinkan bertambahnya pemahaman siswa terhadap

materi pembelajaran metafora. Selain itu, pernyataan para ahli mengenai 100

berita olahraga dalam surat kabar daerah dan nasional yang terbit mulai

Oktober 2012 sampai dengan Desember 2012 dapat digunakan sebagai materi

pembelajaran metafora karena mengandung metafora yang dapat digunakan

(44)

makna. Pelaksanaan pembelajaran metafora dengan cara menemukan

metafora pada berita olahraga, mengidentifikasi makna dasar metafora,

perubahan makna metafora, jenis perubahan makna metafora, dan tujuan

digunakannya metafora dengan menggunakan berita olahraga dalam surat

kabar di Kelas X3 SMAN 1 Karawang menunjukkan tingkat pemahaman

siswa yang sangat baik. Hal ini, terlihat dari nilai rata-rata yang diperoleh

siswa di atas KKM, yaitu 85,93. Rinciannya, yaitu nilai 97 sebanyak 2 siswa,

nilai 93 sebanyak 3 siswa, nilai 90 sebanyak 8 siswa, nilai 87 sebanyak 4

siswa, nilai 83 sebanyak 5 siswa, nilai 80 sebanyak 2 siswa, dan nilai 77

sebanyak 6 siswa. Apabila disesuaikan dengan nilai KKM (Kriteria

Ketuntasan Minimal) yang telah ditetapkan oleh SMAN 1 Karawang sebesar

76, maka pemahaman siswa terhadap materi metafora yang telah diberikan

dinyatakan tuntas karena tidak ada seorang pun siswa yang mendapatkan nilai

di bawah KKM.

B. Saran

Sebagai langkah terakhir dalam penulisan tesis ini, peneliti memberikan

beberapa saran yang berkaitan dengan hasil penelitian ini. Saran-saran tersebut

peneliti uraikan sebagai berikut.

1. Hasil penelitian ini baru sampai pada tahap analisis metafora yang meliputi

makna dasar metafora, perubahan makna metafora, dan jenis perubahan

makna metafora pada berita olahraga dalam surat kabar yang berbentuk

tulisan. Untuk itu, disarankan terdapat upaya tindak lanjut penelitian metafora

dalam berita olahraga yang berbentuk lisan (siaran berita).

2. Hasil penelitian ini menggambarkan pemahaman siswa yang sangat baik

terhadap materi metafora pada berita olahraga dalam surat kabar. Untuk itu,

disarankan bagi para pengajar, khususnya pada tingkat SMA/MA dapat

(45)

dari media lain selain buku pelajaran. Media tersebut dapat berupa media

massa, seperti surat kabar.

3. Hasil penelitian ini secara umum didasarkan pada penelitian kualitatif. Oleh

karena itu, tampaknya perlu dicoba mengadakan penelitian dengan

pendekatan yang berbeda (misalnya, penelitian kuantitatif) untuk meneliti

pemahaman siswa terhadap materi metafora dan efektivitas metafora pada

berita olahraga sebagai materi pembelajaran.

Demikianlah saran-saran yang dapat peneliti sampaikan dalam tesis ini.

Mudah-mudahan saran-saran tersebut dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu

(46)

DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, A. C. (1986). Linguistik Suatu Pengantar. Bandung: Angkasa.

Alwasilah, A. C. (2011). Pokoknya Kualitatif: Dasar-dasar Merancang dan

Melakukan Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.

Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rineka Cipta.

A. R., Syamsuddin & Damaianti, V. S. (2006). Metode Penelitian Pendidikan

Bahasa. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Badan Standar Nasional Pendidikan. (2006). Standar Kompetensi dan

Kompetensi dasar SMA/MA. Jakarta: BSNP.

Chaer, A. (2009). Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Chaer, A. (2009). Psikolinguistik Kajian Teoretik. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Chaer, A. (2010). Bahasa Jurnalistik. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia

Pusat Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Tesaurus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.

Dewanto, N. (2006). Kamus Sinonim Antonim Bahasa Indonesia. Bandung: CV Yrama Widya.

Emzir. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif: Analisis Data. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Hidayat, K. (1994). Evaluasi Pendidikan dan Penerapannya dalam

Pengajaran Bahasa Indonesia. Bandung: CV Alfabeta.

(47)

Junaedi, D. et al. (2006). Kiat Menulis Berita, Opini, dan Iptek Populer di

Media Massa. Jakarta: Datakom Lintas Buana.

Keraf, G. (2010). Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kridalaksana, H. (2009). Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kusumaningrat, H. & Kusumaningrat, P. (2009). Jurnalistik: Teori & Praktik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mahsun. (2011). Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi. Metode, dan

Tekniknya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Majid, A. (2011). Perencanaan Pembelajaran: Mengembangkan Standar

Kompetensi Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mulyana, D. (2004). Komunikasi Populer: Kajian Komunikasi dan Budaya

Kontemporer. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

Nurgiyantoro, B. (2009). Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE.

Rakhmat, J. (2012). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Ratna, N. K. (2009). Stilistika: Kajian Puistika Bahasa, Sastra, dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ruriana, P. & Azhar, I. N. (2010). Variasi Makna dalam Surat Kabar. [Online].Tersedia:http://pusatbahasaalazhar.wordpress.com/artikelbahas/ variasi-makna-dalam-surat-kabar/. [1 Juli 2010].

Satriyo, J. (2008). Metafora untuk Kata Kalah dan Menang dalam Tajuk Berita

Olahraga di Surat Kabar. Skripsi pada FIPB Universitas Indonesia: tidak

diterbitkan.

Sitaresmi, N. & Fasya, M. (2011). Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Bandung: UPI PRESS.

Sobur, A. (2009). Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis

Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung: PT Remaja

(48)

S., Sudjana H.D. (2010). Metode dan Teknik Pembelajaran Partisipatif. Bandung: Falah Production.

Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif,

Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta.

Susilana, R. & Riyana, C. (2009). Media Pembelajaran: Hakikat,

Pengembangan, Pemanfaatan, dan Penilaian. Bandung: CV Wacana

Prima.

Tarigan, H. G. (2009). Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung: Angkasa.

Tarigan, H. G. (2009). Pengajaran Kompetensi Bahasa. Bandung: Angkasa.

Universitas Pendidikan Indonesia. (2012). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: UPI.

Wahyudi, J.B. (1996). Dasar-dasar Jurnalistik Radio dan Televisi. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Zainurrahman. (2011). Menulis: Dari Teori hingga Praktik (Penawar Racun

Gambar

gambarkan proses penelitian dari awal sampai akhir penelitian dalam sajian bagan
Tabel 3.1 Format Analisis Metafora pada Berita Olahraga dalam Surat Kabar
Tabel 3.2 Format Analisis Jenis Perubahan Makna Metafora
Tabel 3.4 Format Angket Respons Pembaca

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Posisi mereka didasarkan pada asumsi dasar bahwa Islam lebih dari sekedar doktrin agama yang membimbing kehidupan ruhani manusia semata, tapi juga membangun suatu

Pada tahap awal, responden mempraktikkan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan sebagai upaya pengendalian dan pencegahan penularan dalam perawatan anggota keluarga dengan TB

Usulan rancangan program ini adalah dalam rangka antisipasi minimnya alokasi dana pembangunan atau belanja pembangunan pemerintah daerah, sementara Pemerintah Daerah

Pada umumnya energi yang dihasilkan oleh tubuh lebih tinggi dari jumlah energi yang telah dikonsumsi dari hidangan, dari setiap zat gizi sumber energi akan menstimulasi

PENGARUH SISTEM PENGGAJIAN TERHADAP KINERJA GURU DI SMK PASUNDAN 3 BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu..

Gambar 9 : Kegiatan CQN diluar lingkungan sekolah, sedang melakukan hafalan Al-Quran dan setoran hafalan kepada pembimbing hafalanf. Gambar 10 : Kegiatan Tashmi’ Al-Quran pada

Pada kondisi yang parah dampak yang ditimbulkan lebih serius yaitu orang yang menderita insomnia lebih mudah mengalami depresi dibandingkan mereka yang bisa tidur dengan