ANALISIS METAFORA PADA BERITA OLAHRAGA
DAN IMPLIKASINYA BAGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA
(Kajian Deskriptif Analitik terhadap Berita Olahraga dalam Surat Kabar di Indonesia)
TESIS
Diajukan untuk memenuhi sebagian syarat meraih gelar
Magister Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia
Oleh
Lati Andriani
NIM 1101600
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
SEKOLAH PASCASARJANA
ANALISIS METAFORA PADA BERITA OLAHRAGA
DAN IMPLIKASINYA BAGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA
(Kajian Deskriptif Analitik terhadap Berita Olahraga dalam Surat Kabar di Indonesia)
Oleh
Lati Andriani
Sebuah tesis yang diajukan untuk memenuhi sebagian syarat meraih gelar Magister Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia
© Lati Andriani 2013 Universitas Pendidikan Indonesia
Juli 2013
Hak Cipta dilindungi undang-undang.
LEMBAR PENGESAHAN
Disetujui dan disahkan oleh:
Pembimbing I,
Prof. Dr. H. Syihabuddin, M. Pd. NIP 196001201987031001
Pembimbing II,
Dr. Dadang Anshori, M. Si. NIP 197204031999031002
Mengetahui
Dr. Sumiyadi, M. Hum. NIP 196603201991031004
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul “ANALISIS METAFORA PADA BERITA OLAHRAGA DAN IMPLIKASINYA BAGI PEMBELAJARAN
BAHASA INDONESIA DI SMA (Kajian Deskriptif Analitik terhadap Berita Olahraga
dalam Surat Kabar di Indonesia) ini dan seluruh isinya adalah benar-benar karya saya
sendiri, dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak
sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku. Atas pernyataan tersebut, saya siap
menanggung risiko yang dijatuhkan kepada saya apabila di kemudian hari ditemukan
adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau ada klaim dari
pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.
Bandung, Juni 2013
Yang membuat pernyataan,
Lati Andriani
v
ABSTRAK
vi
vi
H. Definisi Operasional... 11
I. Paradigma Penelitian ... 12
D. Pembelajaran Bahasa Indonesia ... 38
vii
2. Prinsip-prinsip pembelajaran ... 41
3. Pengembangan sumber dan bahan ajar ... 42
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 45
A. Metode Penelitian... 45
B. Sumber Data dan Data Penelitian ... 45
C. Instrumen Penelitian... 53
D. Teknik Pengumpulan Data ... 59
E. Teknik Analisis Data ... 59
F. Sistematika Penulisan ... 60
BAB IV DATA, ANALISIS DATA, DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN ... 62
A. Pengantar ... 62
B. Deskripsi Data ... 62
C. Analisis Data ... 63
1. Metafora pada Berita Olahraga dalam Surat Kabar di Indonesia ... 63
2. Makna Dasar dan Perubahan Makna Metafora pada Berita Olahraga dalam Surat Kabar di Indonesia ... 66
3. Jenis Perubahan Makna Metafora pada Berita Olahraga dalam Surat Kabar di Indonesia ... 270
4. Desain Pembelajaran Metafora pada Berita Olahraga dalam Surat Kabar untuk Siswa SMA Kelas X ... 285
D. Pembahasan Hasil Penelitian ... 307
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN ... 313
A. Simpulan ... 313
B. Saran ... 315
DAFTAR PUSTAKA ... 317
LAMPIRAN... ... 320
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Penelitian ini berawal dari ketertarikan peneliti terhadap berita olahraga yang
terdapat pada surat kabar Bandung Ekspres yang terbit Kamis, 11 Oktober 2012
berikut ini.
Belum Pikirkan Jadi Pelatih, Ingin Pensiun Dekat Rumah
Christian Gonzales adalah salah seorang penyerang tersubur di Liga Indonesia. Sembilan tahun berkarier di tanah air, 234 gol sudah diciptakan pemain yang dinaturalisasi Indonesia pada 2010 itu. Hebatnya, hingga usianya yang ke-36 ini, dia belum mau gantung sepatu alias pensiun.
Nama Christian Gonzales masih menjadi momok bagi para bek tanah air. Meski sudah berkepala tiga, ketajaman pemain kelahiran Montevideo Uruguay tersebut tetap layak dikedepankan. Musim lalu, bersama Persisam Samarinda, pemain yang memiliki nama muslim Mustafa Habibi itu masih sanggup
menorehkan 18 gol.
“Anda lihat sendiri, saya terus berusaha fit setiap musim. Walaupun banyak yang bilang saya sudah menurun atau lainnya, fakta saya sanggup mencetak gol di atas sepuluh gol tak bisa dimungkiri,” kata suami Eva Siregar itu. Gonzales memerinci, 18 gol musim lalu itu tercipta 9 dari “heading”, 8 dari kaki kiri, dan 1 dari kaki kanan.
Gonzales belum memiliki rencana ke klub mana berlabuh musim mendatang. Namun, secara pribadi, mantan pemain Persik Kediri itu mengungkapkan ingin bermain di klub dekat rumahnya di Surabaya. Alasan keluarga menjadi pertimbangan utama penyerang berjuluk El Loco itu.
Dan, Gonzales pada April lalu sempat diisukan akan bergabung dengan Persebaya di Indonesian Premier League (IPL). Ketika itu Green Force memang krisis penyerang. Andrew Barisic yang digadang-gadang tampil
moncer malah tampil flop. Akhirnya Barisic dilepas ke Arema IPL.
Siapa yang tak mau bergabung dengan Persebaya. Mereka tim besar. Namun, saya tak menutup peluang klub-klub lain Jatim yang tertarik dengan saya. Bisa saja Persegres Gresik, Arema Malang, Persela Lamongan, atau malah Persik. Kita pasrahkan kepada Tuhan kalau memang saya dan klub yang meminang saya berjodoh,” tutur bapak lima anak itu....
“Saya kira sudah mencapai semua gelar individu maupun tim di Liga
bergabung,” kata pemain yang sudah mengemas sebelas gol untuk tim Merah
Putih itu.
(Sumber: Bandung Ekspres, 11 Oktober 2012) Apabila kita teliti berita olahraga di atas, terdapat kata-kata seperti tersubur,
ketajaman, menorehkan, mencetak, berlabuh, meminang, berjodoh, moncer,
mengemas dan sebagainya. Kata-kata dalam konteks kalimat tersebut tidaklah
mengandung makna yang sebenarnya, tetapi mengandung makna kiasan.
Kata-kata tersebut dimunculkan untuk memberikan kesan yang lebih hidup sehingga
berita di atas lebih indah, lebih segar, lebih menarik, bahkan dapat memengaruhi
orang yang membacanya. Kata-kata tersebut memunculkan makna yang dialihkan
dari makna kata sebenarnya menjadi makna yang lain atau makna yang bukan
sebenarnya. Makna kata-kata tersebut memunculkan makna baru sebagai
pengalihan dari persamaan atau perbandingan dengan makna kata yang
sebenarnya. Makna itu disebut makna metaforis, sehingga kata-kata yang
digunakan itu adalah kata-kata yang termasuk metafora.
Komunikasi adalah “peristiwa sosial, peristiwa yang terjadi ketika manusia berinteraksi dengan manusia yang lain” (Rakhmat, 2012:9). Saat melakukan komunikasi, manusia menggunakan bahasa. Hal ini, sesuai dengan pendapat
Chaer yang mengemukakan pengertian berbahasa, yaitu sebagai berikut.
Berbahasa adalah proses menyampaikan makna oleh penutur kepada pendengar melalui satu atau serangkaian ujaran. Suatu proses berbahasa dikatakan berjalan baik apabila makna yang dikirimkan penutur dapat diresepsi oleh pendengar persis seperti yang dimaksudkan oleh penutur. Kemampuan yang memadai dari penutur dalam memproduksi ujaran dan kemampuan yang memadai dari pendengar dalam meresepsi ujaran akan menyebabkan makna-makna yang dikirimkan penutur dapat diterima dengan tepat oleh pendengar (Chaer, 2009:267).
Seandainya sebuah makna kata berubah, maka perubahan tersebut tidak akan
mengurangi pemahaman jika penutur dan pendengar tetap memiliki kemampuan
untuk memahami perubahan makna kata tersebut. Chaer (2009:130-140)
Pernyataan ini menyiratkan juga pengertian bahwa kalau secara sinkronis makna
sebuah kata tidak berubah maka secara diakronis ada kemungkinan bisa berubah.
Perubahan makna sebuah kata dapat disebabkan beberapa faktor, di antaranya
perkembangan dalam ilmu dan teknologi, perkembangan sosial dan budaya,
perbedaan bidang pemakaian, pertukaran tanggapan indra, perbedaan tanggapan,
adanya penyingkatan, dan pengembangan istilah.
Perbedaan bidang pemakaian merupakan salah satu faktor penyebab
terjadinya perubahan makna kata. Selanjutnya Chaer mengemukakan sebagai
berikut.
Setiap bidang kehidupan atau kegiatan memiliki kosakata tersendiri yang hanya dikenal dan digunakan dengan makna tertentu dalam bidang tersebut. Kata-kata yang menjadi kosakata dalam bidang-bidang tertentu itu dalam kehidupan dan pemakaian sehari-hari dapat diambil dari bidangnya dan digunakan dalam bidang lain atau menjadi kosakata umum. Oleh karena itu, kata-kata tersebut menjadi „memiliki makna baru‟ atau makna lain di samping makna aslinya (makna yang berlaku dalam bidangnya) (Chaer, 2009:133).
Sebagai contoh, kita ambil kata menggarap yang berasal dari bidang pertanian
dengan segala macam derivasinya, seperti tampak dalam frase menggarap sawah,
tanah garapan, dan petani penggarap, kini banyak digunakan dalam bidang lain
dengan makna mengerjakan, seperti dalam frase menggarap skripsi dan
menggarap naskah drama. Kata-kata tersebut digunakan dalam bidang lain secara
metaforis atau perbandingan. Namun, antara makna kata yang digunakan bukan
dalam bidang tertentu dan makna kata yang digunakan di dalam bidang aslinya
masih berada dalam poliseminya karena makna-makna tersebut masih saling
berkaitan atau masih ada persamaan antara makna yang satu dengan makna yang
lainnya. Hal ini, sesuai dengan pendapat Kridalaksana yang mengemukakan
bahwa “Metafora (metaphor) adalah pemakaian kata atau ungkapan lain untuk
objek atau konsep lain berdasarkan kias atau persamaan” (Kridalaksana,
Makna kata tidak selalu bersifat statis. Dari waktu ke waktu, makna kata
dapat mengalami perubahan sehingga akan menimbulkan kesulitan baru bagi
pemakai yang terlalu bersifat konservatif. Oleh karena itu, untuk menjaga agar
pilihan kata selalu tepat, setiap penutur bahasa harus selalu memerhatikan
perubahan-perubahan makna yang terjadi.
Keraf (2010:97) mengemukakan jenis-jenis perubahan makna, yaitu (a)
perluasan arti, (b) penyempitan arti, (c) ameliorasi, (d) peyorasi, (e) metafora, dan
(f) metonimi. Sitaresmi (2011:109) mengemukakan jenis-jenis perubahan makna
terdiri dari perubahan makna meluas, menyempit, amelioratif, peyoratif,
perubahan total, penghalusan (eufemia), pengasaran (disfemia), asosiasi, dan
sinestesia. Adapun Chaer (2009:140) mengemukakan jenis-jenis perubahan
makna, yaitu meluas, menyempit, perubahan total, penghalusan (eufemia), dan
pengasaran (disfemia).
Perubahan makna suatu kata dapat disebabkan perbedaan bidang pemakaian.
Perbedaan bidang pemakaian kata yang terjadi dari satu bidang ke bidang lainnya,
seperti dalam bidang olahraga, memungkinkan perubahan makna kata itu terjadi.
Berita olahraga dalam media massa, seperti surat kabar merupakan sarana
yang penting untuk dikaji keberadaan perubahan makna kata pembentuknya,
karena berita olahraga banyak diminati untuk dibaca masyarakat dalam
memperoleh informasi. Fungsi media massa adalah alat komunikasi untuk
menyebarkan berita dan pesan kepada masyarakat luas. Media massa hadir dalam
berbagai bentuk, baik cetak maupun elektronik. Kedua bentuk media massa
tersebut tidak akan pernah lepas dari penggunaan bahasa, karena bahasa adalah
alat untuk menyampaikan suatu informasi kepada pihak lain. Penuturan bahasa
yang baik dan benar menjadi tuntutan dalam media massa. Selain agar mudah
dimengerti, informasi yang ditujukan pun tepat sasaran. Hal ini, sesuai dengan
pendapat Alwasilah yang mengemukakan bahwa “Mengomunikasikan makna
dengan berhasil adalah tujuan utama dari tingkah laku (kegiatan) linguistik.
menjelaskan konstruksi kapal tanpa membuat acuan terhadap laut” (Alwasilah,
1986:118).
Akan tetapi, seiring berkembangnya zaman, sering kita jumpai bahasa dalam
media massa yang digunakan tidak seperti umumnya bahasa tersebut digunakan.
Akhirnya, masyarakat pembacalah yang menentukan sendiri makna yang muncul
dari ketidakumuman penggunaan bahasa tersebut, sehingga terjadilah perubahan
makna kata yang digunakan dalam media massa. Penggunaan bahasa yang
memungkinkan terjadinya perubahan makna, di antaranya terdapat pada berita
olahraga dalam surat kabar.
Sebagai sarana komunikasi, media massa berfungsi untuk menyampaikan
berita dan pesan kepada masyarakat luas. Masyarakat akademis dan kelas
menengah atas lebih banyak memanfaatkan majalah, khususnya majalah ilmiah.
Surat kabar, televisi, dan film pada umumnya merupakan konsumsi masyarakat
secara keseluruhan. Media massa sarat dengan tujuan dan manfaat, baik bagi
pengirim maupun penerimanya. Di satu pihak, para penulis berita sudah
membayangkan masyarakat yang ditujunya, bahasa dan kosakata apa yang
digunakan sehingga sasaran dapat dicapai. Senada dengan hal tersebut, Ratna
mengemukakan sebagai berikut.
Media massa adalah bahasa, sedangkan bahasa itu sendiri tidak netral, tidak bebas konteks, tidak bebas nilai, melainkan sarat dengan kepentingan inheren. Wartawan dan editor bebas memilih dan memanfaatkan kosakata tertentu, baik dengan tujuan untuk memperoleh popularitas maupun memberikan penegasan tertentu, bahkan juga untuk membelokkan kebenaran (Ratna, 2009:320).
Peranan media massa bertambah penting dengan adanya wilayah yang sangat
luas terdiri dari pulau-pulau, sedangkan bangsa Indonesia memiliki satu bahasa
persatuan, yaitu bahasa Indonesia. Media massalah, khususnya surat kabar
memegang peranan penting untuk mempersatukan bangsa Indonesia dengan
bahasanya. Media massa mempercepat penyebaran istilah dan kata-kata baru,
jumlah istilah yang berhasil dipopulerkan oleh media massa. Mulai dari pemilihan
kata-kata, penyusunan kalimat, sampai penggunaan gaya bahasa disesuaikan
dengan kepentingan tertentu. Demikian juga istilah-istilah yang digunakan pada
berita olahraga dalam surat kabar. Perubahan makna suatu kata dapat terjadi
karena perbedaan gaya bahasa yang digunakan penulis dan latar belakang
kehidupannya. Ruriana dan Iqbal Nurul Azhar (2010:55-67) mengemukakan
bahwa penulis dengan latar belakang yang berbeda dengan sendirinya akan
menggunakan gaya bahasa yang berbeda pula. Penulis yang kreatif akan
senantiasa mengemukakan gagasan-gagasan baru dan menggunakan gaya yang
membedakan dirinya dengan penulis lain. Dengan kata lain, penyebab terjadinya
perbedaan gaya bahasa juga ditentukan oleh kreativitas seorang penulis. Gaya
bahasa sebagai bagian dari sarana penulisan kreatif, termasuk salah satu aspek
kajian yang cukup bermanfaat untuk ditelaah. Salah satu alasannya karena gaya
bahasa merupakan cara pengungkapan yang khas atau spesifik bagi seorang
penulis yang dapat membedakannya dari penulis yang lain. Gaya bahasa yang
digunakan oleh penutur/penulis sangat beragam seperti, perbandingan, metafora,
dan personifikasi. Banyak sekali penulis atau wartawan yang menggunakan
metafora sebagai salah satu gaya penulisannya. Dengan kata lain, dapat disebut
bahwa tidak ada bahasa pers tanpa metafora. Berbagai tulisan di media massa
cetak, seperti bidang ekonomi, politik, pemerintahan, olahraga, merupakan lahan
subur untuk memakai metafora. Kesuburannya didukung oleh kepentingan para
pemberita, penulis, atau wartawan untuk melihat suatu arti atau fenomena sosial
dari berbagai sisi dan mengungkapkannya kepada pembaca melalui pemilihan
kata yang mengandung persamaan dan perbandingan dengan kata lain metaphor.
Mengingat banyaknya penggunaan majas metafora dalam berbagai rubrik di
media massa cetak, maka sebagai data penelitian ini, penulis memilih penggunaan
metafora dalam berita olahraga. Media massa cetak terutama surat kabar, dewasa
ini tumbuh bagaikan cendawan di musim hujan. Oleh sebab itu, peneliti memilih
daerah maupun nasional. Pemilihan tersebut ditentukan dengan dasar
pertimbangan bahwa surat kabar memiliki peran sesuai dengan fungsinya, yaitu
memberikan informasi dengan cepat, memiliki jangkauan pembaca yang luas, dan
surat kabar juga memiliki jumlah oplah yang besar.
Selain itu, berita-berita yang disampaikan melalui surat kabar, khususnya
berita olahraga digemari masyarakat termasuk siswa SMA. Para siswa
membutuhkan informasi yang dapat mereka peroleh setiap saat. Media yang tepat
untuk mendapatkan informasi tersebut adalah surat kabar karena surat kabar
mudah dan lebih cocok dibawa kemana-mana, dapat dibaca di banyak tempat: di
rumah, dalam kendaraan, atau di sekolah pada saat istirahat, dan dapat dibaca
pada waktu kapan pun.
Surat kabar memiliki keunggulan dibandingkan media lain. Hal ini
diungkapkan Mulyana (2004:154) bahwa bahasa tulisan yang digunakan surat
kabar memberikan peluang yang sangat besar (jeda demi jeda) kepada manusia
untuk berinteraksi dengan diri sendiri, berimajinasi, mengabstraksikan informasi
apa pun yang berasal dari surat kabar. Isi surat kabar memberikan dorongan lebih
besar kepada manusia untuk kreatif dibandingkan dengan radio ataupun TV. Jika tayangan TV adalah “bahan jadi” yang kita telan begitu saja, maka isi surat kabar adalah “bahan setengah jadi” yang harus kita olah dan kita kunyah-kunyah sebelum kita menelannya. Kita dapat menguraikan, menyimpulkan,
menggeneralisasikan, atau meringkaskan informasi dalam surat kabar.
Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki surat kabar, maka peneliti akan
mencoba menggunakan media massa “surat kabar” yang memuat metafora pada
berita olahraga untuk pembelajaran bahasa Indonesia di SMA, khususnya di kelas
X.
Kelebihan-kelebihan yang dimiliki surat kabar dengan penggunaan bahasa
yang senantiasa hangat dan menarik, menjadi perhatian berbagai kalangan
intelektual untuk menelitinya. Hal ini, terbukti dengan banyaknya penelitian yang
meneliti “Metafora untuk Kata Kalah dan Menang dalam Tajuk Berita Olahraga di Surat Kabar”. Hasil penelitiannya adalah frekuensi penggunaan metafora untuk kata menang lebih banyak dibandingkan dengan metafora untuk kata kalah.
Metafora untuk kata menang sebanyak 57 metafora dari 59 tajuk berita olahraga
dan 23 metafora untuk kata kalah dari 33 tajuk berita olahraga. Penggunaan
metafora untuk kata kalah dilandasi latar belakang: akibat kekalahan subjek,
sebab kekalahan subjek, dan subjek yang mengalami kekalahan. Sedangkan,
metafora untuk kata menang dilandasi latar belakang: hasil yang diperoleh subjek,
cara subjek meraih kemenangan, subjek yang menang, cabang olahraga yang
dimenangkan, situasi pertandingan, situasi sesudah menang, jumlah pertandingan,
pentingnya kemenangan, tempat pertandingan, penampilan subjek yang tangguh.
Semua itu terangkum dalam hasil, cara, dan subjek pelaku kemenangan.
Namun, penelitian tersebut belum menyentuh kata-kata lain yang termasuk
metafora pada berita olahraga secara keseluruhan, tetapi hanya metafora untuk
kata kalah dan menang, juga belum menyentuh aspek desain pembelajaran di
sekolah, sehingga menarik perhatian penulis untuk melakukan penelitian tentang
metafora pada berita olahraga dalam surat kabar yang berimplikasi terhadap
pembelajaran bahasa Indonesia.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis akan melakukan penelitian tentang
metafora pada berita olahraga dalam surat kabar di Indonesia. Setelah itu, penulis
mencoba menyusun desain pembelajaran metafora dalam mata pelajaran Bahasa
Indonesia untuk siswa SMA kelas X. Penelitian ini tertuang dalam judul tesis “ANALISIS METAFORA PADA BERITA OLAHRAGA DAN IMPLIKASINYA BAGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA
(Kajian Deskriptif Analitik terhadap Berita Olahraga dalam Surat Kabar di
Indonesia)”.
Berdasarkan latar belakang tersebut, dapat diidentifikasi masalah-masalah
sebagai berikut.
1. Bahasa sebagai alat komunikasi mengalami perubahan, khususnya perubahan
makna.
2. Perkembangan media massa sebagai media komunikasi berpengaruh terhadap
penggunaan bahasa, khususnya bahasa Indonesia.
3. Media massa sebagai media komunikasi yang menyajikan berbagai informasi
mempunyai permasalahan dalam penggunaan bahasa.
4. Penggunaan metafora dalam berita olahraga dapat menyebabkan perubahan
makna kata.
5. Beberapa jenis perubahan makna yang disebabkan penggunaan metafora
terdapat pada berita olahraga dalam surat kabar.
6. Perubahan makna pada metafora dalam berita olahraga berimplikasi terhadap
pembelajaran bahasa Indonesia.
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, penelitian ini akan dibatasi pada
hal-hal:
1. metafora yang terdapat pada berita olahraga dalam surat kabar;
2. makna dasar metafora pada berita olahraga dalam surat kabar;
3. perubahan makna metafora pada berita olahraga dalam surat kabar;
4. jenis perubahan makna metafora pada berita olahraga dalam surat kabar; dan
5. desain pembelajaran metafora pada berita olahraga dalam surat kabar.
Berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan masalah tersebut, maka
dirumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut.
1. Apa saja metafora yang terdapat pada berita olahraga dalam surat kabar?
2. Bagaimanakah makna dasar metafora pada berita olahraga dalam surat kabar?
3. Bagaimanakah perubahan makna metafora pada berita olahraga dalam surat
kabar?
4. Apa saja jenis perubahan makna metafora pada berita olahraga dalam surat
kabar?
5. Bagaimanakah desain pembelajaran metafora pada berita olahraga dalam
surat kabar untuk siswa SMA kelas X?
E. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan
untuk:
1. mendeskripsikan metafora yang terdapat pada berita olahraga dalam surat
kabar;
2. mendeskripsikan makna dasar metafora pada berita olahraga dalam surat
kabar;
3. mendeskripsikan perubahan makna metafora pada berita olahraga dalam surat
kabar;
4. mendeskripsikan jenis perubahan makna metafora pada berita olahraga dalam
surat kabar; dan
5. mendeskripsikan desain pembelajaran metafora pada berita olahraga dalam
surat kabar untuk siswa SMA kelas X.
F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, baik secara teoretis maupun
praktis.
a. Secara umum, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah
linguistik dan secara khusus dalam penggunaan gaya bahasa metafora
yang terdapat dalam surat kabar.
b. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan tentang
contoh-contoh media dan bahan ajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia di
SMA.
c. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan pemikiran dalam
upaya meningkatkan kualitas pendidikan dalam pembelajaran bahasa,
khususnya analisis metafora sebagai salah satu gaya bahasa pada berita
olahraga dalam surat kabar.
2. Manfaat praktis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan dalam menentukan
bahan ajar pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya analisis metafora
pada berita olahraga yang terdapat dalam surat kabar.
b. Hasil penelitian ini sebagai masukan pemikiran dalam upaya
meningkatkan kualitas hasil pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya
analisis metafora pada berita olahraga yang terdapat dalam surat kabar.
c. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan tingkat keefektifan
penggunaan bahan ajar dengan menggunakan berita olahraga dari surat
kabar.
d. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran contoh
desain pembelajaran metafora pada berita olahraga dalam surat kabar.
G. Asumsi
Penelitian ini didasarkan pada asumsi-asumsi sebagai berikut.
1. Berita olahraga dalam surat kabar di Indonesia mengandung metafora.
2. Metafora pada berita olahraga dalam surat kabar di Indonesia mengalami
3. Beberapa jenis perubahan makna yang disebabkan penggunaan metafora
terdapat pada berita olahraga dalam surat kabar di Indonesia.
4. Desain pembelajaran metafora untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia di
SMA dapat menggunakan media berupa berita olahraga dalam surat kabar.
H. Definisi Operasional
Untuk menghindari salah penafsiran tentang judul penelitian, di bawah ini
akan diuraikan penjelasan beberapa istilah sebagai berikut.
1. Metafora adalah pemakaian kata atau ungkapan lain sebagai pembanding
antara dua hal untuk menciptakan suatu kesan mental yang hidup, kata-kata
yang digunakan bukan arti sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang
berdasarkan persamaan atau perbandingan.
2. Berita adalah informasi aktual tentang fakta-fakta dan opini yang menarik
atau penting, atau keduanya, bagi sejumlah besar manusia. Berita tersebut
dapat berupa suatu peristiwa atau kejadian di dalam masyarakat, lalu
peristiwa atau kejadian itu diulangi dalam bentuk kata-kata yang disiarkan
secara tertulis dalam media tulis (surat kabar, majalah, dll.), atau dalam media
suara (radio, dll.), atau juga dalam media suara dan gambar (televisi). Berita
yang penulis teliti adalah berita olahraga yang terdapat dalam surat kabar di
Indonesia, baik berskala daerah maupun nasional.
3. Pembelajaran bahasa Indonesia adalah setiap upaya yang sistematik dan
disengaja oleh pendidik untuk menciptakan kondisi-kondisi agar peserta didik
melakukan kegiatan belajar menguasai suatu bahasa, yaitu bahasa Indonesia.
Dalam kegiatan ini terjadi interaksi edukatif antara peserta didik yang
melakukan kegiatan belajar dengan pendidik yang melakukan kegiatan
membelajarkan.
4. Deskriptif analitik adalah metode penelitian yang mendeskripsikan data apa
adanya kemudian data tersebut dianalisis dan diinterpretasi berdasarkan
5. Surat kabar adalah media yang digunakan sebagai alat untuk menyampaikan
berita kepada masyarakat. Surat kabar yang digunakan sebagai sumber data
adalah surat kabar di Indonesia berskala daerah, seperti Bandung Ekspres,
Galamedia, Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Inilah Koran, Radar Karawang,
Radar Bandung dan surat kabar berskala nasional, seperti Republika, Seputar
Indonesia, TopSkor, Kompas, dan Koran Tempo. Surat kabar yang dijadikan
sumber data dalam penelitian ini adalah terbitan Oktober 2012 sampai dengan
Desember 2012.
I. Paradigma Penelitian
Untuk memperjelas kerangka berpikir dalam penelitian ini, maka penulis
gambarkan proses penelitian dari awal sampai akhir penelitian dalam sajian bagan
berikut.
Bagan 1.1
Paradigma Penelitian
TUJUAN
1. Mendeskripsikan metafora pada berita olahraga dalam surat kabar
2. Mendeskripsikan makna dasar, perubahan makna, dan jenis perubahan makna pada metafora
3. Mengolah desain pembelajaran
LANDASAN TEORETIS
1. Gaya Bahasa 2. Makna Kata 3. Berita
4. Pembelajaran Bahasa Indonesia
1. Karakteristik Metafora 2. Bahan Pembelajaran
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang menggunakan metode
deskriptif analitik, yaitu metode yang tidak hanya terbatas pada pengumpulan
data, tetapi meliputi analisis dan interpretasi data. Metode deskriptif analitik
berupaya mengumpulkan data apa adanya kemudian dianalisis dan diberikan
interpretasi sesuai dengan kebutuhan penelitian.
Penelitian kualitatif menurut Sugiyono (2011:21) mempunyai karakteristik
sebagai berikut:
a. dilakukan pada kondisi yang alamiah (lawannya adalah eksperimen),
langsung ke sumber data dan peneliti adalah instrumen kunci;
b. penelitian kualitatif lebih bersifat deskriptif, data yang terkumpul
berbentuk kata-kata atau gambar, sehingga tidak menekankan pada angka;
c. penelitian kualitatif lebih menekankan pada proses daripada produk atau
outcome;
d. penelitian kualitatif melakukan analisis data secara induktif; dan
e. penelitian kualitatif lebih menekankan makna.
B. Sumber Data dan Data Penelitian
1. Sumber data penelitian
Sumber data dalam penelitian ini adalah berita olahraga pada surat kabar di
Indonesia yang berskala daerah, seperti Bandung Ekspres, Galamedia, Pikiran
Rakyat, Tribun Jabar, Inilah Koran, Radar Karawang, Radar Bandung; dan
berita olahraga pada surat kabar yang berskala nasional, seperti Republika,
Seputar Indonesia, TopSkor, Kompas, dan Koran Tempo. Kedua belas surat kabar
tersebut peneliti pilih sebagai bahan penelitian karena menyajikan berita olahraga
yang mengandung metafora. Surat kabar yang menjadi bahan penelitian adalah
Berita olahraga sebagai sumber data yang peneliti ambil dari surat kabar di
Indonesia, baik berskala daerah maupun nasional berjumlah 100 berita olahraga.
Untuk mempermudah proses analisis data, ke-100 sumber data tersebut diberi
kode SD untuk menunjukkan Sumber Data yang ditambah dengan penomoran.
Misalnya, sumber data satu diberi kode SD 001, sumber data dua diberi kode SD
002, dan seterusnya sampai SD 100. Sumber data dalam penelitian ini secara
lengkap adalah sebagai berikut.
a. Surat kabar berskala daerah
1) Bandung Ekspres
SD 001 Belum Pikirkan Jadi Pelatih, Ingin Pensiun Dekat Rumah
(Kamis, 11 Oktober 2012)
SD 002 Layaknya Mencabut Duri dalam Daging (Kamis, 11 Oktober
2012)
SD 003 Thunder Empaskan Bulls di Chaicago (Sabtu, 10 November
2012)
SD 004 Filipina Dampingi Thailand (Sabtu, 1 Desember 2012)
SD 005 Misi Salip Gol Lionel Messi (Rabu, 12 Desember 2012)
2) Galamedia
SD 006 Baleendah Menargetkan ke Final Piala Bupati (Kamis, 11
Oktober 2012)
SD 007 Falcao Tembus Rp700 M (Kamis, 11 Oktober 2012)
SD 008 Duel Panas Tersaji di Turin (Sabtu, 3 November 2012)
SD 009 Kutukan Old Trafford (Sabtu, 3 November 2012)
SD 010 Partai Balas Dendam (Rabu, 14 November 2012)
SD 011 Roxy ke Babak Kedua (Rabu, 14 November 2012)
SD 012 Hentikan Hasil Buruk (Rabu, 14 November 2012)
SD 013 Uji Coba Harus Serius (Kamis, 11 Oktober 2012)
SD 014 Timnas Masih Bernasib Baik di Turnamen HWC (Kamis, 11
Oktober 2012)
SD 015 Persib Waspadai Ancaman MU (Sabtu, 3 November 2012)
SD 016 Sevilla Bungkam Espanyol di Copa del Rey (Sabtu, 3
November 2012)
SD 017 Asia Belum Mampu Bersaing (Rabu, 12 Desember 2012)
SD 018 Striker Kawakan yang Rendah Hati (Rabu, 12 Desember
2012)
SD 019 Persib Akan Maksimalkan Bola Mati (Rabu, 12 Desember
2012)
4) Tribun Jabar
SD 020 Memori 8-2 (Sabtu, 3 November 2012)
SD 021 Semangat Membara (Sabtu, 3 November 2012)
SD 022 Tetangga Gaduh Masih Angkuh (Rabu, 12 Desember 2012)
SD 023 Rodallega Buat Fulham Lega (Rabu, 12 Desember 2012)
SD 024 (Masih) Nyawa Zebra Kecil (Rabu, 12 Desember 2012)
5) Inilah Koran
SD 025 Sesumbar Suarez (Kamis, 11 Oktober 2012)
SD 026 Puncak Karier (Kamis, 11 Oktober 2012)
SD 027 Suntikan Pilar Penting (Sabtu, 3 November 2012)
SD 028 Perang Pujian (Sabtu, 3 November 2012)
SD 029 Nyali Van Persie (Sabtu, 3 November 2012)
SD 030 Rekor Sempurna (Rabu, 12 Desember 2012)
SD 031 Muller: Messi Raksasa yang Mengagumkan (Rabu, 12
Desember 2012)
SD 032 Laga Penentu The Citizen (Selasa, 6 November 2012)
SD 033 Mampukah Torres Menjebol Gawang Liverpool? (Sabtu, 10
November)
SD 034 Berebut Scudetto, Inter Milan Saingan Berat Juventus (Sabtu,
10 November 2012)
SD 035 Inter Cetak Rekor 10 Kali Menang di Kandang Lawan (Rabu,
14 November 2012)
SD 036 Thunder Tumbangkan Chicago Bulls (Rabu, 14 November
2012)
SD 037 Glen Johnson Bidik Prestasi Akademik (Rabu, 12 Desember
2012)
SD 038 Singapura Diunggulkan Lawan Filipina (Rabu, 12 Desember
2012)
SD 039 Penampilan Liverpool Kian Menanjak (Rabu, 12 Desember
2012)
7) Radar Bandung
SD 040 Hadangan Die Roten (Sabtu, 3 November 2012)
SD 041 Rindu Gol Caroll (Sabtu, 3 November 2012)
SD 042 Tumpuan Lawan Chievo (Sabtu, 3 November 2012)
SD 043 Memori 8-2 (Sabtu, 3 November 2012)
SD 044 Laga Emosional (Sabtu, 3 November 2012)
SD 045 Memburu Angka 50 (Sabtu, 3 November 2012)
SD 046 Heynckes: Pemain Siap tempur (Sabtu, 3 November 2012)
SD 047 Bukan Friendly Biasa (Rabu, 14 November 2012)
SD 048 Zebrete Bungkam Sampdoria (Rabu, 12 Desember 2012)
SD 049 Real Bakal Unggul (Rabu, 12 Desember 2012)
SD 050 Lyon Kembalikan Reputasi (Rabu, 12 Desember 2012)
1) Republika
SD 051 Panutan Rooney (Kamis, 11 Oktober 2012)
SD 052 Duel Spanyol Rasa Tango (Sabtu, 3 November 2012)
SD 053 Satu Langkah Sevilla ke 16 Besar Copa Del Rey (Sabtu, 3
November 2012)
SD 054 Kemenangan Tandang Pertama La Viola (Sabtu, 3 November
2012)
SD 055 Mengintip Peluang ke Puncak (Sabtu, 3 November 2012)
SD 056 Dominasi The Toffees (Sabtu, 3 November 2012)
SD 057 The Reds Goda Walcott Rp1,5 Miliar per Pekan (Sabtu, 3
November 2012)
SD 058 Galaxy Tantang San Jose di Semifinal (Sabtu, 3 November
2012)
SD 059 Konsistensi Barca (Senin, 3 Desember 2012)
SD 060 Keterpurukan The Magpies (Rabu, 12 Desember 2012)
SD 061 Lazio Gagal ke Tiga Besar Klasemen (Rabu, 12 Desember
2012)
2) Seputar Indonesia
SD 062 Meredam Laju Messi (Kamis, 11 Oktober 2012)
SD 063 Menezes Andalkan Pemain Muda (Kamis, 11 Oktober 2012)
SD 064 Bonus Besar Guyur Pemain Der Panzer (Kamis, 11 Oktober
2012)
SD 065 Lionel Messi Segera Salip Gerd Mueller (Senin, 3 Desember
2012)
SD 066 Carlo Arcelotti Tertekan (Senin, 3 Desember 2012)
SD 067 Amuk Sir Alex (Senin, 3 Desember 2012)
SD 068 Tergoda Baines (Rabu, 12 Desember 2012)
SD 069 Persiba Bantul Incar Punggawa Timnas Indonesia (Rabu, 12
SD 070 Dianggap Dewa Sekaligus Pesepak Bola Supranatural (Rabu,
12 Desember 2012)
SD 071 Memilih Pemain Muda Ketimbang Bintang (Rabu, 12
Desember 2012)
3) TopSkor
SD 072 Perburuan Gol Gomis Berlanjut (Sabtu-Minggu, 1-2
Desember 2012)
SD 073 Saatnya Bungkam Malaysia (Sabtu-Minggu, 1-2 Desember
2012)
SD 074 Gasperini Usung Dendam (Sabtu-Minggu, 1-2 Desember
2012)
SD 075 Duell Der Giganten (Sabtu-Minggu, 1-2 Desember 2012)
SD 076 Ultimatum Chelsea: Torres Diharapkan Segera Cetak Gol
(Sabtu-Minggu, 1-2 Desember 2012)
SD 077 Drama di Madejski (Senin, 3 Desember 2012)
SD 078 Hindari Rekor Buruk (Senin, 3 Desember 2012)
SD 079 Manucho Masih Penasaran (Senin, 3 Desember 2012)
SD 080 Napoli Kembali Menguntit Juventus (Senin, 3 Desember
2012)
SD 081 Refleksi Sepak Bola Kita di Piala AFF (Senin, 3 Desember
2012)
SD 082 “Maung” Percaya Diri (Senin, 3 Desember 2012)
SD 083 Catania Murka (Senin, 3 Desember 2012)
SD 084 Debut Buruk Radamel Falcao (Senin, 3 Desember 2012)
SD 085 “Kami Akan Bertemu Thailand di Final” (Senin, 3 Desember
2012)
SD 086 Mencetak Gol Setelah Tujuh Bulan: Boateng Puas (Senin, 3
Desember 2012)
SD 088 Zaragoza Akhiri Tren Negatif (Rabu, 12 Desember 2012)
SD 089 Kota Milan Bernyanyi Lagi (Rabu, 12 Desember 2012)
SD 090 Rahasia Juve (Rabu, 12 Desember 2012)
4) Kompas
SD 091 Potensi Hujan Gol (Sabtu, 3 November 2012)
SD 092 Lionel Messi di Ambang Sejarah (Sabtu, 1 Desember 2012)
SD 093 Merobohkan Kelaziman (Sabtu, 1 Desember 2012)
SD 094 Rekor Belum Tumbang (Senin, 3 Desember 2012)
SD 095 Corinthians Tak Ingin Ada Kejutan (Rabu, 12 Desember
2012)
5) Koran Tempo
SD 096 Dibayangi Mimpi Buruk (Sabtu, 3 November 2012)
SD 097 Villa Inginkan Peran Utama (Sabtu, 3 November 2012)
SD 098 Tambah Lagi, Messi! (Rabu, 12 Desember 2012)
SD 099 Piala Dunia Antarklub Bertarung untuk Para Martir (Rabu, 12
Desember 2012)
SD 100 Paulinho, Hero Corinthians (Rabu, 12 Desember 2012)
2. Data penelitian
Data dalam penelitian ini adalah kalimat-kalimat yang mengandung metafora
pada berita olahraga dalam surat kabar di Indonesia, baik berskala daerah maupun
nasional. Berita olahraga yang peneliti ambil sebanyak 100 berita olahraga dari
dua belas surat kabar, dari 100 berita olahraga tersebut terdapat kalimat-kalimat
yang mengandung metafora. Kalimat-kalimat yang mengandung metafora dari
setiap berita olahraga itulah yang menjadi data penelitian. Sedangkan
kalimat-kalimat yang tidak mengandung metafora tidak dijadikan data penelitian. Kalimat
yang mengandung metafora dari setiap berita olahraga jumlahnya bervariasi.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa satu kalimat yang mengandung
Contoh data penelitian dari surat kabar Bandung Ekspres yang terbit Kamis,
11 Oktober 2012 pada berita olahraga yang berjudul “Belum Pikirkan Jadi Pelatih,
Ingin Pensiun Dekat Rumah” terdiri dari 12 data. Rinciannya adalah sebagai
berikut.
Data 1 Christian Gonzales adalah salah seorang penyerang tersubur di
Liga Indonesia.
Data 2 Hebatnya, hingga usianya yang ke-36 ini, dia belum mau gantung
sepatu alias pensiun.
Data 3 Meski sudah berkepala tiga, ketajaman pemain kelahiran
Montevideo Uruguay tersebut tetap layak dikedepankan.
Data 4 Musim lalu, bersama Persisam Samarinda, pemain yang memiliki
nama muslim Mustafa Habibi itu masih sanggup menorehkan 18
gol.
Data 5 “... Walaupun banyak yang bilang saya sudah menurun atau
lainnya, fakta saya sanggup mencetak gol di atas sepuluh gol tak
bisa dimungkiri, “ kata suami Eva Siregar itu.
Data 6 Gonzales belum memiliki rencana ke klub mana berlabuh musim
mendatang.
Data 7 Andrew Barisic yang digadang-gadang tampil moncer malah
tampil flop.
Data 8 “... Kita pasrahkan kepada Tuhan kalau memang saya dan klub
yang meminang saya berjodoh,” tutur bapak lima anak itu.
Data 9 Dalam pikiran pemain yang mengawali karir di Liga Indonesia
bersama PSM Makassar itu, selama fisiknya masih kuat, Gonzales
akan terus mengolah si kulit bundar.
Data 10 Di level klub, gelar juara, pemain terbaik, ataupun gelar top scorer
sudah direngkuh.
Data 11 Saya kira sudah mencapai semua gelar individu maupun tim di
Data 12 Kalau untuk Timnas, selama masih dibutuhkan, saya selalu siap
bergabung, “ kata pemain yang sudah mengemas sebelas gol untuk
tim Merah Putih itu.
Pembagian data seperti itu akan dilakukan juga pada 100 berita olahraga
lainnya, sehingga data yang diteliti jumlahnya akan lebih dari 100 data, karena
yang diteliti bukan setiap beritanya tetapi setiap kalimat yang menggunakan
metafora dari berita olahraga tersebut.
C. Instrumen Penelitian
Peneliti adalah instrumen kunci dalam penelitian kualitatif ini. Namun,
peneliti juga memerlukan instrumen lain yang digunakan dalam penelitian ini,
yaitu lembar analisis, pedoman observasi, angket, dan dokumen (surat kabar).
Berikut ini penjelasan mengenai instrumen tersebut.
a. Lembar analisis
Lembar analisis yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: 1)
lembar analisis data penelitian untuk mengetahui apakah satuan bahasa itu
termasuk metafora atau bukan metafora; 2) lembar analisis data penelitian
untuk mengetahui jenis perubahan makna (meluas, menyempit, total,
eufemia, disfemia); dan 3) lembar analisis rekapitulasi metafora pada berita
olahraga dalam surat kabar berdasarkan kode sumber data dengan tujuan
terkumpulnya semua metafora dari semua sumber data.
Format analisis 1:
Format analisis 1 sebagai instrumen penelitian digunakan untuk
mengetahui apakah satuan bahasa itu termasuk metafora atau bukan metafora.
Instrumen penelitian ini mengacu pada teori metafora yang dikemukakan para
ahli bahasa (BAB II). Berdasarkan beberapa teori metafora yang
dikemukakan para ahli bahasa, seperti Tarigan (2009:15), Ratna (2009:181),
berdasarkan KBBI (2008:908), maka peneliti menarik simpulan bahwa
metafora memiliki karakteristik:
a) menyatakan perbandingan/persamaan dua hal atau benda;
b) menimbulkan kesan mental yang hidup; dan
c) arti yang dimunculkan bukan arti sebenarnya.
Format analisis 1 yang digunakan dalam penelitian ini diisi dengan cara
membubuhkan tanda centang (√) untuk setiap kriteria pada kolom yang
disediakan. Format analisis 1 tersebut adalah sebagai berikut.
Tabel 3.1
Format Analisis Metafora pada Berita Olahraga dalam Surat Kabar
SD Nomor
Format analisis 2 sebagai instrumen penelitian digunakan untuk menganalisis
jenis perubahan makna. Metafora yang berbentuk kata atau kelompok kata
terlebih dahulu dianalisis makna dasarnya dengan mengacu pada Kamus Besar
Bahasa Indonesia Edisi Keempat Tahun 2008 yang diterbitkan Departemen
Pendidikan Nasional. Adapun perubahan makna metafora dianalisis berdasarkan
makna gramatikal yang muncul dari konteks kalimatnya. Padanan kata untuk
menyatakan perubahan makna metafora dalam sebuah konteks kalimat sebagian
besar mengacu pada Kamus Tesaurus Bahasa Indonesia yang diterbitkan Pusat
digunakan juga Kamus Sinonim Antonim Bahasa Indonesia karangan Nugroho
Dewanto yang diterbitkan Yrama Widya Tahun 2006. Setelah menentukan makna
dasar dan perubahan maknanya, lalu menentukan jenis perubahan makna yang
terjadi pada metafora berdasarkan teori makna menurut Abdul Chaer. Chaer
(2009:140) mengemukakan bahwa “jenis perubahan makna terdiri dari perubahan
makna meluas, menyempit, perubahan total, penghalusan (eufemia), dan
pengasaran (disfemia)”. Secara lengkap teori tentang makna ini terdapat pada
BAB II.
Format analisis 2 yang digunakan dalam penelitian ini diisi dengan cara
membubuhkan tanda centang (√) untuk setiap kriteria pada kolom yang
disediakan. Format analisis 2 tersebut adalah sebagai berikut.
Tabel 3.2
Format Analisis Jenis Perubahan Makna Metafora
Nomor
Metafora
Jenis Perubahan Makna
Kalimat Metafora meluas menyempit total eufemia disfemia
Format analisis 3:
Format analisis 3 sebagai instrumen penelitian digunakan untuk
merekapitulasi semua metafora. Metafora tersebut terdapat dalam 100 berita
olahraga dari 12 surat kabar yang terbit mulai Oktober 2012 sampai dengan
Desember 2012 dengan tujuan terkumpulnya semua metafora dari semua sumber
data. Format analisis 3 yang digunakan dalam penelitian ini diisi dengan cara
menuliskan kode sumber data dan nomor data dari setiap sumber data yang
digunakan dalam penelitian. Format analisis 3 tersebut adalah sebagai berikut.
Tabel 3.3
dalam Surat Kabar di Indonesia
Keterangan:
SD 001 – 005 = Bandung Ekspres SD 040 – 050 = Radar Bandung
SD 006 – 012 = Galamedia SD 051 – 061 = Republika
SD 013 – 019 = Pikiran Rakyat SD 062 – 071 = Seputar Indonesia SD 020 – 024 = Tribun Jabar SD 072 – 090 = TopSkor
SD 025 – 031 = Inilah Koran SD 091 – 095 = Kompas SD 032 – 039 = Radar Karawang SD 096 – 100 = Koran Tempo
b. Pedoman observasi
Pedoman observasi memuat berbagai tingkah laku siswa selama melakukan
pembelajaran dengan menggunakan berita olahraga dalam surat kabar. Aspek
yang diamati berupa: 1) antusiasme siswa selama mengikuti pembelajaran dengan
menggunakan berita olahraga yang mengandung metafora pada surat kabar, 2)
respons siswa pada waktu mengidentifikasi dan menganalisis metafora pada berita
olahraga dalam surat kabar, 3) kesesuaian antara rencana pembelajaran yang
ditetapkan dengan pelaksanaan pembelajaran di kelas.
c. Lembar angket (kuesioner)
Angket (kuesioner) merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan
dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada
responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2011:199).
Pada umumnya diasumsikan bahwa angket dapat menjadi sumber data yang
komprehensif bila dilakukan pengukuran terhadap suatu kebutuhan. Angket tidak
jarang diyakini sebagai suatu pendekatan yang benar-benar menyeluruh dalam
pengumpulan data karena dapat dibuat secara metodik dan didistribusikan sesuai
prosedur sampling secara ilmiah (Syamsuddin dan Vismaia S. Damaianti,
2006:108).
Angket memberikan banyak keuntungan. Arikunto (2010:195)
mengemukakan keuntungan menggunakan angket dalam penelitian, di antaranya:
1) tidak memerlukan hadirnya peneliti, 2) dapat dibagikan secara serentak kepada
banyak responden, 3) dapat dijawab oleh responden menurut kecepatannya
masing-masing dan menurut waktu senggang responden, 4) dapat dibuat anonim
sehingga responden bebas, jujur, dan tidak ragu-ragu menjawab, dan 5) dapat
dibuat terstandar sehingga semua responden dapat diberi pertanyaan yang
benar-benar sama.
Angket yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah angket berstruktur
dengan jawaban tertutup. Angket berstruktur dengan jawaban tertutup menurut
Hidayat (1994:31) adalah angket yang setiap pertanyaannya diberikan alternatif
jawaban.
Lembar angket yang digunakan dalam penelitian ini diisi dengan cara
membubuhkan tanda centang (√) untuk setiap kriteria pada kolom yang
disediakan. Lembar angket tersebut adalah sebagai berikut.
Tabel 3.4
Format Angket Respons Pembaca Terhadap Berita Olahraga
Nomor Pernyataan Jawaban
SS S TS STS
1.
2.
3.
4.
5.
Keterangan:
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa
berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang
(Sugiyono, 2011:329).
Guba dan Lincoln (dalam Alwasilah, 2011:111) membedakan records dengan
dokumen. Records adalah segala catatan tertulis yang disiapkan seseorang atau
lembaga untuk pembuktian sebuah peristiwa atau menyajikan perhitungan,
sedangkan dokumen adalah barang yang tertulis atau terfilmkan selain records
yang tidak disiapkan khusus atas permintaan peneliti. Termasuk bukti catatan
(records) adalah manifes penerbangan, catatan akuntan, surat nikah, akte
kelahiran, sertifikat kematian, catatan militer, catatan bisnis, bukti setoran pajak.
Termasuk dokumen adalah surat, memoar, otobiografi, diari, jurnal, buku teks,
surat wasiat, makalah, artikel koran, editorial, catatan medis, foto, dan
sebagainya.
Guba dan Lincoln (dalam Alwasilah, 2011:112) merinci enam alasan analisis
dokumen, yaitu
1) Dokumen merupakan sumber informasi yang lestari, sekalipun dokumen
itu tidak lagi berlaku.
2) Dokumen merupakan bukti yang dapat dijadikan dasar untuk
mempertahankan diri terhadap tuduhan atau kekeliruan interpretasi.
3) Dokumen itu merupakan sumber data yang alami, bukan hanya muncul
dari konteksnya, tapi juga menjelaskan konteks itu sendiri.
4) Dokumen itu relatif mudah dan murah dan terkadang dapat diperoleh
dengan cuma-cuma. Peneliti tinggal menggalinya dalam tumpukan arsip.
5) Dokumen itu sumber data yang non-reaktif. Tatkala responden reaktif
6) Dokumen berperan sebagai sumber pelengkap dan pemerkaya bagi
informasi yang diperoleh lewat interviu atau observasi.
Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah surat kabar di
Indonesia yang berskala daerah, seperti Bandung Ekspres, Galamedia, Pikiran
Rakyat, Tribun Jabar, Inilah Koran, Radar Karawang, Radar Bandung dan surat
kabar yang berskala nasional, seperti Republika, Seputar Indonesia, TopSkor,
Kompas, dan Koran Tempo. Surat kabar yang menjadi dokumen dalam penelitian
ini adalah terbitan Oktober 2012 sampai dengan Desember 2012.
Selain surat kabar, instrumen lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Keempat Tahun 2008 yang
diterbitkan Departemen Pendidikan Nasional, Tesaurus Bahasa Indonesia Tahun
2008 yang diterbitkan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, dan Kamus
Sinonim Antonim Bahasa Indonesia Tahun 2006 karangan Nugroho Dewanto
yang diterbitkan CV Yrama Widya.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang penulis lakukan untuk mengumpulkan data penelitian mencakup
tiga tahap, yaitu orientasi, seleksi dan identifikasi.
Orientasi dilakukan peneliti untuk mengenali dan memahami objek penelitian
dan data-data yang akan dikumpulkan berupa metafora pada berita olahraga dalam
surat kabar.
Seleksi dilakukan peneliti dengan cara memilih sumber data yang akan
dianalisis. Tahap ini dimulai dari seleksi surat kabar dan seleksi berita olahraga
dalam surat kabar. Berita yang tidak termasuk berita olahraga, tidak dijadikan
sumber data penelitian.
Identifikasi dilakukan penulis setelah seleksi sumber data. Dari sumber data
yang sudah diseleksi ditentukan data yang akan dianalisis, yaitu berupa kalimat
yang mengandung metafora. Kalimat-kalimat yang tidak mengandung metafora
E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan adalah model Miles dan Huberman.
Miles dan Huberman (dalam Emzir, 2010:129) menyatakan langkah-langkah
analisis data kualitatif adalah:
1. reduksi data, yaitu kegiatan memilah, mengelompokkan, dan mengurai data
sehingga data mencapai titik jenuh;
2. data display (penyajian data), yaitu penyajian data hasil reduksi untuk
dianalisis berdasarkan kriteria; dan
3. penarikan simpulan.
Arikunto (2010:29) menambahkan bahwa dalam kegiatan reduksi data ada
lima langkah yang harus dilakukan, yaitu (1) memilih-milih data melalui
pemusatan perhatian, (2) menyederhanakan, (3) melakukan pengodean, (4)
pengategorisasian, dan (5) pembuatan memo. Inti dari reduksi data adalah
menyiapkan dan mengolah data dalam rangka penarikan kesimpulan.
Mahsun berpendapat bahwa “dalam penelitian yang bersifat deskriptif, ketiga
tahapan pelaksanaan penelitian, yaitu penyediaan data, analisis data, dan
penyajian hasil analisis merupakan tahapan yang harus dilalui (Mahsun, 2011:86).
B. Identifikasi Masalah
3. Pengembangan sumber dan bahan ajar
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Penelitian
1. Metafora pada Berita Olahraga dalam Surat Kabar di Indonesia
2. Makna Dasar dan Perubahan Makna Metafora pada Berita Olahraga dalam Surat Kabar di Indonesia
3. Jenis Perubahan Makna Metafora pada Berita Olahraga dalam Surat Kabar di Indonesia
4. Desain Pembelajaran Metafora pada Berita Olahraga dalam Surat Kabar untuk Siswa SMA Kelas X
D. Pembahasan Hasil Penelitian
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan B. Saran
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai metafora pada berita olahraga dalam
surat kabar di Indonesia yang berjumlah 100 berita, baik surat kabar daerah
maupun nasional yang terbit mulai Oktober 2012 sampai dengan Desember 2012,
maka diperoleh simpulan sebagai berikut.
1. Metafora yang terdapat pada 100 berita olahraga dalam surat kabar di
Indonesia berjumlah 302 metafora yang terbagi menjadi 225 metafora
berbentuk kata dan 77 metafora berbentuk kelompok kata yang tersebar
dalam 891 kalimat. Sebenarnya, metafora yang ada sebanyak 1163 metafora,
namun jumlah tersebut merupakan jumlah yang diperoleh dari pengulangan
penggunaan metafora yang sama dalam beberapa kalimat. Apabila metafora
tersebut tidak dihitung dengan pengulangannya, maka jumlah metafora yang
terdapat pada 891 kalimat tersebut sebanyak 302 metafora.
2. Makna dasar metafora yang peneliti analisis dengan jumlah 302 metafora
diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat Tahun 2008 yang
diterbitkan Departemen Pendidikan Nasional. Makna dasar pada kata atau
kelompok kata yang termasuk metafora tidak dapat digunakan untuk
menentukan makna metafora pada sebuah kalimat. Makna dasar tersebut
hanya dapat digunakan sebagai perbandingan untuk dijadikan dasar
penentuan perubahan makna dan jenis perubahan makna pada metafora.
Perbandingan yang digunakan dalam metafora dapat berupa perbandingan
dengan benda, binatang, tumbuhan, dan manusia yang dapat menghasilkan
kelompok metafora benda, metafora binatang, metafora tumbuhan, dan
3. Setiap makna dasar metafora dapat mengalami perubahan makna. Setiap
makna dasar pada metafora mengalami perubahan makna bergantung pada
konteks kalimat. Perubahan makna ini terjadi karena tujuan yang
berbeda-beda. Penggunaan metafora pada berita olahraga bertujuan untuk
menghaluskan makna, mengasarkan makna, mengeraskan makna,
mengonkretkan sesuatu yang abstrak, mengagungkan makna, dan untuk
menyatakan penghinaan.
4. Jenis perubahan makna metafora pada berita olahraga dalam surat kabar di
Indonesia meliputi perubahan makna meluas, perubahan makna menyempit,
penghalusan makna (eufemia), dan pengasaran makna (disfemia). Perubahan
makna yang meluas sebanyak 145 metafora (48,01%); perubahan makna
menyempit sebanyak 1 metafora (0,33%); penghalusan makna sebanyak 51
metafora (16,89%); dan pengasaran makna sebanyak 105 metafora (34,77%).
Perubahan makna yang tidak terdapat pada metafora yang peneliti analisis
adalah perubahan makna total. Tidak satupun metafora yang mengalami
perubahan makna total dari 302 metafora yang terdapat pada berita olahraga
dalam surat kabar di Indonesia yang terbit mulai Oktober 2012 sampai
dengan Desember 2012.
5. Materi pembelajaran metafora dari berita olahraga dalam surat kabar di
Indonesia dapat digunakan untuk pembelajaran kebahasaan, khususnya
tentang makna kata. Hal ini, terlihat dari hasil angket yang menggambarkan
bahwa sebagian besar siswa menyukai berita olahraga yang selalu
menggunakan gaya bahasa yang segar dan menarik. Ketertarikan siswa
terhadap berita olahraga yang selalu menggunakan gaya bahasa yang segar
dan menarik memungkinkan bertambahnya pemahaman siswa terhadap
materi pembelajaran metafora. Selain itu, pernyataan para ahli mengenai 100
berita olahraga dalam surat kabar daerah dan nasional yang terbit mulai
Oktober 2012 sampai dengan Desember 2012 dapat digunakan sebagai materi
pembelajaran metafora karena mengandung metafora yang dapat digunakan
makna. Pelaksanaan pembelajaran metafora dengan cara menemukan
metafora pada berita olahraga, mengidentifikasi makna dasar metafora,
perubahan makna metafora, jenis perubahan makna metafora, dan tujuan
digunakannya metafora dengan menggunakan berita olahraga dalam surat
kabar di Kelas X3 SMAN 1 Karawang menunjukkan tingkat pemahaman
siswa yang sangat baik. Hal ini, terlihat dari nilai rata-rata yang diperoleh
siswa di atas KKM, yaitu 85,93. Rinciannya, yaitu nilai 97 sebanyak 2 siswa,
nilai 93 sebanyak 3 siswa, nilai 90 sebanyak 8 siswa, nilai 87 sebanyak 4
siswa, nilai 83 sebanyak 5 siswa, nilai 80 sebanyak 2 siswa, dan nilai 77
sebanyak 6 siswa. Apabila disesuaikan dengan nilai KKM (Kriteria
Ketuntasan Minimal) yang telah ditetapkan oleh SMAN 1 Karawang sebesar
76, maka pemahaman siswa terhadap materi metafora yang telah diberikan
dinyatakan tuntas karena tidak ada seorang pun siswa yang mendapatkan nilai
di bawah KKM.
B. Saran
Sebagai langkah terakhir dalam penulisan tesis ini, peneliti memberikan
beberapa saran yang berkaitan dengan hasil penelitian ini. Saran-saran tersebut
peneliti uraikan sebagai berikut.
1. Hasil penelitian ini baru sampai pada tahap analisis metafora yang meliputi
makna dasar metafora, perubahan makna metafora, dan jenis perubahan
makna metafora pada berita olahraga dalam surat kabar yang berbentuk
tulisan. Untuk itu, disarankan terdapat upaya tindak lanjut penelitian metafora
dalam berita olahraga yang berbentuk lisan (siaran berita).
2. Hasil penelitian ini menggambarkan pemahaman siswa yang sangat baik
terhadap materi metafora pada berita olahraga dalam surat kabar. Untuk itu,
disarankan bagi para pengajar, khususnya pada tingkat SMA/MA dapat
dari media lain selain buku pelajaran. Media tersebut dapat berupa media
massa, seperti surat kabar.
3. Hasil penelitian ini secara umum didasarkan pada penelitian kualitatif. Oleh
karena itu, tampaknya perlu dicoba mengadakan penelitian dengan
pendekatan yang berbeda (misalnya, penelitian kuantitatif) untuk meneliti
pemahaman siswa terhadap materi metafora dan efektivitas metafora pada
berita olahraga sebagai materi pembelajaran.
Demikianlah saran-saran yang dapat peneliti sampaikan dalam tesis ini.
Mudah-mudahan saran-saran tersebut dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu
DAFTAR PUSTAKA
Alwasilah, A. C. (1986). Linguistik Suatu Pengantar. Bandung: Angkasa.
Alwasilah, A. C. (2011). Pokoknya Kualitatif: Dasar-dasar Merancang dan
Melakukan Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.
Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rineka Cipta.
A. R., Syamsuddin & Damaianti, V. S. (2006). Metode Penelitian Pendidikan
Bahasa. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Badan Standar Nasional Pendidikan. (2006). Standar Kompetensi dan
Kompetensi dasar SMA/MA. Jakarta: BSNP.
Chaer, A. (2009). Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Chaer, A. (2009). Psikolinguistik Kajian Teoretik. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Chaer, A. (2010). Bahasa Jurnalistik. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia
Pusat Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Tesaurus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.
Dewanto, N. (2006). Kamus Sinonim Antonim Bahasa Indonesia. Bandung: CV Yrama Widya.
Emzir. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif: Analisis Data. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Hidayat, K. (1994). Evaluasi Pendidikan dan Penerapannya dalam
Pengajaran Bahasa Indonesia. Bandung: CV Alfabeta.
Junaedi, D. et al. (2006). Kiat Menulis Berita, Opini, dan Iptek Populer di
Media Massa. Jakarta: Datakom Lintas Buana.
Keraf, G. (2010). Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Kridalaksana, H. (2009). Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Kusumaningrat, H. & Kusumaningrat, P. (2009). Jurnalistik: Teori & Praktik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mahsun. (2011). Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi. Metode, dan
Tekniknya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Majid, A. (2011). Perencanaan Pembelajaran: Mengembangkan Standar
Kompetensi Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mulyana, D. (2004). Komunikasi Populer: Kajian Komunikasi dan Budaya
Kontemporer. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
Nurgiyantoro, B. (2009). Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE.
Rakhmat, J. (2012). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Ratna, N. K. (2009). Stilistika: Kajian Puistika Bahasa, Sastra, dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ruriana, P. & Azhar, I. N. (2010). Variasi Makna dalam Surat Kabar. [Online].Tersedia:http://pusatbahasaalazhar.wordpress.com/artikelbahas/ variasi-makna-dalam-surat-kabar/. [1 Juli 2010].
Satriyo, J. (2008). Metafora untuk Kata Kalah dan Menang dalam Tajuk Berita
Olahraga di Surat Kabar. Skripsi pada FIPB Universitas Indonesia: tidak
diterbitkan.
Sitaresmi, N. & Fasya, M. (2011). Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Bandung: UPI PRESS.
Sobur, A. (2009). Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis
Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung: PT Remaja
S., Sudjana H.D. (2010). Metode dan Teknik Pembelajaran Partisipatif. Bandung: Falah Production.
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta.
Susilana, R. & Riyana, C. (2009). Media Pembelajaran: Hakikat,
Pengembangan, Pemanfaatan, dan Penilaian. Bandung: CV Wacana
Prima.
Tarigan, H. G. (2009). Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung: Angkasa.
Tarigan, H. G. (2009). Pengajaran Kompetensi Bahasa. Bandung: Angkasa.
Universitas Pendidikan Indonesia. (2012). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: UPI.
Wahyudi, J.B. (1996). Dasar-dasar Jurnalistik Radio dan Televisi. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Zainurrahman. (2011). Menulis: Dari Teori hingga Praktik (Penawar Racun