PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS PENALARAN INDUKTIF SISWA SMP PADA POKOK BAHASAN LIMAS DAN PRISMA TEGAK MELALUI
PENELITIAN DESAIN
(Suatu Penelitian Desain (Design Research) terhadap Siswa Kelas VIII SMP Pasundan 4 Bandung Tahun Ajaran 2013/2014)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan di
Jurusan Pendidikan Matematika
Oleh
Nina Saparika
1000225
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
Oleh Nina Saparika
Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
© Nina Saparika 2014 Universitas Pendidikan Indonesia
Juli 2014
Hak Cipta dilindungi undang-undang.
ABSTRAK……….. iii
KATA PENGANTAR……… iv
UCAPAN TERIMA KASIH……….. v
DAFTAR ISI………... vii
DAFTAR TABEL………... ix
DAFTAR GAMBAR……….. x
DAFTAR LAMPIRAN……….. xii
BAB I PENDAHULUAN ………. 1
A. Latar Belakang Masalah ……… 1
B. Rumusan Masalah……….. 7
C. Tujuan Penelitian……… 7
D. Manfaat Penelitian ……… 8
E. Definisi Operasional……….. 8
BAB II KAJIAN TEORI………... 10
A. Bahan Ajar………. 10
B. Penalaran ………….………. 12
C. Teori Pembelajaran yang Mnedukung……….. 14
D. Hypothetical Learning Trajectory (HLT)……….. 16
E. Learning Obstacle (Hambatan Belajar)………. 17
F. Penelitian Desain (Design Research)……… 18
G. Limas dan Prisma Tegak pada Kurikulum di Indonesia……… 19
H. Kajian Penelitian yang Relevan ……… 20
I. Kerangka Berpikir Penelitian ……… 21
viii
Nina Saparika, 2014
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
A. Metode Penelitian……….. 23
B. Subjek Penelitian……… 24
C. Pengembangan Instrumen……….. 24
D. Teknik Pengumpulan Data………. 25
E. Teknik Analisis Data……….. 27
F. Prosedur Penelitian………. 28
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ……….. 30
A. Preliminary First Design (Desain Permulaan)……….. 30
B. Retrospective Analysis (Analisis Tinjauan)……… 83
BAB V KESIMPULAN……… 116
A. Kesimpulan………. 116
B. Implikasi………. 118
C. Saran………... 119
x
Nina Saparika, 2014
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Alur Analisis Penyusunan Bahan Ajar ………. 11
Gambar 2.2 Skema Kerangka Berpikir Penelitian………. 22
Gambar 3.1 Desain Penelitian Desain……… 25
Gambar 4.1 Jawaban Siswa atas Soal Nomor 1………. 33
Gambar 4.2 Jawaban Siswa yang Lain atas Soal Nomor 1……… 34
Gambar 4.3 Kesalahan Tipe 1 dalam Menjawab Soal Nomor 2……… 35
Gambar 4.4 Kesalahan Tipe 2 dalam Menjawab Soal Nomor 2...……… 37
Gambar 4.5 Kesalahan Tipe 3 dalam Menjawab Soal Nomor 2..………. 37
Gambar 4.6 Kesalahan Tipe 4 dalam Menjawab Soal Nomor 2……… 38
Gambar 4.7 Kesalahan Tipe 5 dalam Menjawab Soal Nomor 2….………... 38
Gambar 4.8 Jawaban Siswa Atas Nomor 3 yang Belum Lengkap ……….. 41
Gambar 4.9 Kesalahan tipe 1 dalam Menjawab Soal Nomor 3……… 41
Gambar 4.10 Kesalahan tipe 2 dalam Menjawab Soal Nomor 3…….………….. 42
Gambar 4.11 Kesalahan tipe 1 dalam Menjawab Soal Nomor 4.……….. 44
Gambar 4.12 Kesalahan tipe 2 dalam Menjawab Soal Nomor 4………... 44
Gambar 4.13 Kesalahan tipe 3 dalam Menjawab Soal Nomor 4.……….. 45
Gambar 4.14 Jawaban Siswa yang Benar atas Soal Nomor 5.……….. 48
Gambar 4.15 Jawaban Siswa yang Benar atas Soal Nomor 5………... 48
Gambar 4.16 Jawaban Siswa yang Benar atas Soal Nomor 5………... 49
Gambar 4.17 Jawaban Siswa atas Soal Nomor 5 yang Belum Tepat …..…..…... 49
Gambar 4.18 Hasil Pemotongan Balok yang Diharapkan………. 64
Gambar 4.19 Prediksi Pemotongan Balok oleh Siswa………... 64
Gambar 4.20 Pembentukan Prisma Segitiga Samakaki yang Diharapkan………. 66
Gambar 4.21 Prediksi Pembentukan Segitiga Samakaki oleh Siswa………. 66
Gambar 4.22 Menghitung Volume Kubus……….… 85
Gambar 4.27 Respon siswa yang belum tepat……….... 93
Gambar 4.28 Kesimpulan Siswa tentang Volume Prisma Segitiga Siku-Siku….. 94
Gambar 4.29 Kesimpulan Siswa yang Lain tentang Volume Prisma Segitiga Siku-Siku ………. 94
Gambar 4.30 Kesimpulan Siswa tentang Volume Prisma Segitiga Samakaki….. 96
Gambar 4.31 Kesimpulan Siswa tentang Volume Prisma Jajargenjang…………. 96
Gambar 4.32 Kesimpulan Siswa yang Lain Tentang Volume Prisma Jajargenjang……….………. 97
Gambar 4.33 Generalisasi tentang Rumus Volume Prisma……… 97
Gambar 4.34 Generalisasi tentang Rumus Volume Prisma……… 98
Gambar 4.35 Hasil Percobaan Penakaran Beras ……… 102
Gambar 4.36 Hasil Percobaan Penakaran Beras yang Lain..………. 102
Gambar 4.37 Jawaban Siswa Tentang Hubungaan Volume Limas Dan Prisma.. 103
Gambar 4.38 Jawaban Siswa yang Lain tentang Hubungaan Volume Limas dan Prisma………... 103
Gambar 4.39 Jawaban Siswa tentang Rumus Volume Limas dan Prisma………. 104
Gambar 4.40 Jawaban Siswa Atas Permasalahan yang Berkaitan dengan Volume Limas……….. 105
Gambar 4.41 Jawaban Siswa Atas Permasalahan yang Berkaitan dengan Volume Limas……….. 105
Gambar 4.42 Cara Siswa dalam Menghitung Luas Jaring-Jaring Kubus……….. 106
Gambar 4.43 Cara Siswa dalam Menghitung Luas Jaring-Jaring Kubus……….. 103
Gambar 4.44 Cara Lain dalam Menghitung Luas Jaring-Jaring Kubus………… 103
xii
Nina Saparika, 2014
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Gambar 4.46 Kesimpulan Siswa tentang Cara Menentukan Luas Jaring-Jaring
Balok……… 108
Gambar 4.47 Kesimpulan Siswa tentang Cara Menentukan Luas Jaring-Jaring
Balok……… 106
Gambar 4.48 Kesimpulan Siswa tentang Cara Menenentukan Luas Permukaan Balok………... 109 Gambar 4.49 Contoh Jawaban Siswa yang Benar……….. 110 Gambar 4.50 Cara Siswa dalam Menentukan Luas Jaring-Jaring Prisma……….. 111 Gambar 4.51 Kesimpulan Siswa tentang Cara Menghitung Luas Permukaan
Prisma Secara Umum………... 112 Gambar 4.52 Kesimpulan Siswa tentang Rumus Luas Permukaa Prisma……….. 112 Gambar 4.53 Kesimpulan Siswa tentang Cara Menghitung Luas Permukaan
Prisma………..………. 113
Gambar 4.54 Kesimpulan tentang Rumus Luas Permukaa Limas.……… 114 Gambar 4.55 Kesimpulan yang Lain tentang Cara Menghitung Luas Permukaan
Lampiran A Instumen Penelitian……… 123
Lampiran A.1 Instrumen Tes Kemampuan Penalaran Induktif……… 124
Lampiran A.2 Kisi-Kisi Instrumen Tes Kemampuan Penalaran Induktif………. 126
Lampiran A.3 Kunci Jawaban Instrumen Tes Kemampuan Penalaran Induktif……….. 128
Lampiran A.4 Pedoman Wawancara………. 132
Lampiran A.5 Lembar Observasi………. 135
Lampiran A.6 Bahan Ajar……….……. 139
Lampiran A.8 Jawaban untuk Tugas pada Bahan Ajar yang Diharapkan….…… 174
Lampiran A.7 Bahan Ajar yang Direvisi……….………. 181
Lampiran A.9 RPP………... 246
Lampiran B Data yang Diperoleh Selama Penelitian …………....……… 201
Lampiran B.1 Jawaban Siswa untuk Tes Kemampuan Penalaran Induktif…….. 270
Lampiran B.2 Hasil Diskusi Siswa terhadap Tugas pada Bahan Ajar………….. 269
Lampiran B.3 Hasil Observasi Pembelajaran ……….. 292
Lampiran B.4 Transkrip Wawancara..……… 295
Lampiran C Surat Keterangan ……… 310
Lampiran C.1 Surat Tugas Pembimbing ……….. 311
Lampiran C.2 Kartu Bimbingan Skripsi ……….. 312
Lampiran C.3 Surat Ijin Penelitian ………... 313
Lampiran C.4 Surat Keterangan dari Sekolah ………. 314
ii
Nina Saparika, 2014
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
ABSTRAK
Nina Saparika. (2014). Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa SMP pada Pokok Bahasan Limas dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain.
This is a study of the design on the development of inductive reasoning-based teaching materials for the topics of prism and pyramid. The problem underpinning
this study is the studens’ difficulties on the ability to have inductive reasoning and the limited teaching materials used in the learning process. Thus, it is important to
design teaching materials that will be used to overcome students’ problem which
might appear in the design research. Design research consists of three stages including preliminary firs design, experiment and retrospective analysis. This study aims to identify inductive-reasoning assignment to facilitate students in finding the formula for volume and surface. The subject of the study were the eighth grader of SMP Pasundan 4 Bandung academic year 2013-2014. Based on the results of the study, it can be concluded that assignments which facilitate the students in finding out the formula for the volume of pyramid and prism were started from the observations on the cases that were generally concluded. Meanwhile, assignment facilitating the students to find out the surface of pyramid and prism are in the forms of activities which analogize two different cases to see the similarities in drawing the inferences.
1
Nina Saparika, 2014
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut adanya sumber
daya manusia yang handal dan mampu berkompetisi secara global. Oleh karena
itu, pengembangan SDM saat ini harus di titik beratkan pada kemampuan berpikir
yang melibatkan pemikiran kritis, sistematis, logis dan kreatif (Kariadinata, 2012).
Matematika adalah salah satu alat untuk mengembangkan cara berpikir secara
logis sehingga sangat diperlukan untuk menghadapi kehidupan sehari-hari,
menghadapi kemajuan IPTEK, dan mengembangkan ilmu pengetahuan lain
dengan cepat (Hudojo, 2001: 45). Itulah alasan perlunya matematika diajarkan di
Pendidikan Dasar (SD dan SMP) dan Pendidikan Menengah (SMA).
Menurut Kristini (2011: 221), “pembelajaran matematika adalah proses pemberian pengalaman belajar kepada peserta didik melalui serangkaian kegiatan
yang terencana sehingga peserta didik memiliki kompetensi terkait matematika
yang dipelajari”. Tujuan umum pembelajaran matematika yang dirumuskan dalam Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang standar isi dan Nomor 23 Tahun
2006 tentang standar kompetensi lulusan, mata pelajaran matematika bertujuan
agar peserta didik memiliki kemampun sebagai berikut.
1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan
mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akuran, efisien, dan
tepat, dalam pemecahan masalah.
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi
matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan
gagasan dan pernyataan matematika.
3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah,
merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi
yang diperoleh.
4. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain
5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu
memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika
serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Seain itu, menurut National Council of Mathematics Teacher (NCTM)
(2006), pembelajaran matematika harus mampu membuat siswa memiliki
beberapa kompetensi, diantaranya problem solving (pemecahan masalah), use of
heuristics (penggunaan heuristik), visualitation (visualisasi), representation
(representasi), reasoning and proof (penalaran dan pembuktian), making
connection (membuat koneksi), dan mathematical communication (komunikasi
matematik). Berdasarkan pernyataan tersebut, penalaran merupakan salah satu
kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa. Kemampuan bernalar ini sangat
dibutuhkan oleh siswa ketika mempelajari matematika dan ilmu yang lain,
memecahkan masalah, maupun ketika terjun langsung di lapangan.
Penalaran terdiri dari dua macam yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif. Penalaran induktif adalah suatu proses berpikir untuk membuat kesimpulan yang bersifat umum berdasar pada beberapa pernyataan khusus yang diketahui benar (Shadiq, 2004: 3). Para ilmuwan menemukan dalil-dalil/ sifat-sifat/ rumus-rumus dalam matematika secara induktif yang dibuktikan kebenarannya secara umum. Ini menunujukkan bahwa penalaran memiliki peranan penting dalam matematika. Oleh karena itu, kemampuan penalaran khususnya penalaran induktif juga harus dimiliki oleh seseorang yang mempelajari matematika.
Penalaran tidak hanya sebagai kemampuan yang harus dimiliki siswa
setelah mempelajari suatu pokok bahasan matematika tetapi sebagai kemampuan
yang harus dikembangkan dalam kegiatan pembelajaran. Hudojo (2001: 135)
menyatakan bahwa belajar matematika berarti belajar tentang konsep-konsep dan
struktur-struktur yang terdapat pada pokok bahasan serta mencari
hubungan-hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur tersebut. Supaya proses
belajar tersebut terjadi, siswa difasilitasi untuk dapat terlibat aktif dalam
menemukan konsep-konsep, struktur-struktur sampai kepada teorema atau
3
Nina Saparika, 2014
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain
melakukan pengamatan terhadap contoh-contoh dan bukan contoh sehingga dapat
merumuskan suatu konsep. Selanjutnya, siswa dilatih untuk membuat perkiraan
atas pengetahuan yang dikembangkan melalui contoh-contoh khusus
(generalisasi) (Suherman et al., 2001: 55-56).
Marpaung (dalam Rochmad, t.t.: 111) juga mengungkapkan bahwa
pembelajaran dengan melibatkan pola pikir induktif efektif untuk mengajarkan
suatu konsep matematika dan memberi peluang kepada siswa untuk memahami
konsep atau memperoleh generalisasi dengan cara yang lebih bermakna. Siswa
melalukan pengamatan secara cermat terhadap kasus-kasus khusus yang diberikan
guru sehingga kegiatan mempelajari konsep matematika dengan cara tersebut
dipandang kebih bermakna daripada sekedar menghapalnya. Pendapat lain
menyatakan bahwa pendekatan pembelajaran yang lebih baik bagi siswa setingkat
SD atau SMP adalah pendekatan pola pikir induktif (Copeland dalam Rochmad,
t.t.: 114). Misalnya dalam menyampaikan konsep segitiga, guru memulai
pembelajaran dengan menyajikan contoh-contoh segitiga. Siswa mencoba untuk
mencari sifat-sifat yang sama kemudian menyusun definisi atau generalisasinya
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa salah satu
tujuan umum pembelajaran matematika pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah menekankan pada penataan daya nalar. Peningkatan kualitas
pembelajaran dipengaruhi oleh pengmembangan kurikulum di sekolah yaitu
dengan mempersiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan belajar
mengajar sesuai dengan PP Nomor 19 Tahun 2005 pasal 19 ayat (3) yang
menyatakan bahwa setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses
pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran,
dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran
yang efektif dan efisien. Atas dasar itulah seorang guru harus merancang
perencanaan pembelajaran.
Salah satu aspek yang harus dipersiapkan dalam perencanaan proses
pembelajaran adalah bahan ajar. Menurut Majid (2012: 21), bahan ajar adalah
segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/ instruktur dalam
dalam pembelajaran harus mampu mempermudah dan membimbing siswa dalam
memahami konsep dan aplikasinya. Sedangkan guru berperan dalam memberikan
intervensi berupa pertanyaan-pertanyaan yang mampu membantu siswa untuk
memilih strategi penyelesaian masalah.Pengembangan bahan ajar berbasis penalaran induktif dapat menjadi salah satu cara untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dipaparkan sebelumnya. Melalui pengembangan bahan ajar berbasis penalaran induktif ini diharapkan siswa mampu menemukan pemahaman konsep secara mandiri untuk selanjutnya digunakan dalam menyelesaikan masalah.
Bahan ajar sebagai seperangkat bahan yang dapat membantu siswa dalam
mencapai tujuan pembelajaran perlu digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
Oleh karean itu, peneliti mengumpulkan informasi mengenai penggunaan bahan
ajar di salah satu sekolah melalui wawancara untuk mengetahui kesesuaian antara
kenyataan di lapangan dan tuntutan yang ada. Berdasarkan hasil wawancara
dengan salah seorang guru matematika di SMP Pasundan 4 Bandung diperoleh
informasi bahwa terdapat beberapa permasalahan di sekolah tersebut.
Ketersediaan sumber belajar seperti buku paket kelas VIII yang sesuai dengan
KTSP 2006 sangat terbatas sehingga siswa tidak mendapatkan fasilitas
peminjaman buku. Siswa justru mendapatkan pinjaman buku yang disusun
berdasarkan kurikulum 2004 yang tidak membahas beberapa materi yang
seharusnya ada pada KTSP 2006.
Pada buku paket yang dipinjamkan oleh sekolah tidak terdapat materi
bangun ruang sisi datar, sehingga siswa biasanya hanya mempelajari materi
tersebut melalui penjelasan dari guru. Sedangkan bahan ajar yang disediakan oleh
sekolah hanya buku paket saja meskipun buku paket tersebut tidak sesuai dengan
KTSP 2006. Bahan ajar yang lain seperti LKS tidak pernah dibuat oleh guru
sehingga pembelajaran di sekolah tersebut selalu ceramah, guru menjelaskan
materi di depan kelas dan siswa mendengarkan penjelasan. Pembelajaran dimulai
dengan menjelaskan konsep-konsep dan rumus-rumus kemudian guru
memberikan contoh soal dan siswa berlatih menyelesaikan soal latihan. Hasil
wawancara tersebut menunjukkan bahwa sekolah kurang mampu memfasilitasi
5
Nina Saparika, 2014
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain
Selain itu, cara pembelajaran tersebut dikhawatirkan dapat membuat siswa
menjadi kurang aktif dan materi yang dipelajari pun kurang bermakna.
Berdasarkan kurikulum 2006, materi bangun ruang ini disampaikan pada
semester dua dengan standar kompetensinya yaitu memahami sifat-sifat kubus,
balok, prisma, limas dan bagian-bagiannya, serta menentukan ukurannya.
Kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh siswa adalah: 1) mengidentifikasi
sifat-sifat prisma, dan limas serta bagian-bagiannya; 2) membuat jaring-jaring
prisma dan limas; 3) menghitung luas permukaan prisma dan limas;
4) menghitung volume prisma dan limas. Berdasarkan pengalaman guru tersebut
dalam mengajar materi bangun ruang sisi datar terungkap bahwa siswa mengalami
kesulitan dalam mempelajari volume dan luas permukaan prisma dan limas.
Berdasarkan permasalahan yang ada di sekolah tersebut, diperlukan adanya
rancangan bahan ajar volume dan luas permukaan limas serta prisma yang
diimplementasikan dalam pembelajaran untuk mengantisipasi kesulitan belajar
dan mengembangkan kemampuan penalaran induktif.
Bahan ajar volume dan luas permukaan limas serta prisma yang berbasis
penalaran induktif cocok untuk diimplemetasikan pada siswa kelas VIII. Hal ini
sesuai dengan pendapat Rochmad (t.t.: 110) yang menyatakan bahwa
pembelajaran matematika terutama di jenjang SD/MI dan SMP/MTs masih
memerlukan penggunaan pola pokir induktif. Melalui bahan ajar berbasis
penalaran induktif, siswa dapat mengkonstruksi rumus volume dan luas
permukaan pada limas dan prisma dengan mengamati kasus-kasus khusus yang
diberikan sehingga siswa diberi kesempatan untuk membuat generalisasi.
Akan tetapi, dalam menyusun bahan ajar yang efektif tersebut tidak hanya
cukup berdasarkan asumsi-asumsi bahwa siswa akan belajar melalui lintasan
belajar tertentu (Mulyana, 2012: 127). Oleh karena itu, sebelum menyusun bahan
ajar perlu dibuat Hypothetical Learning Trajectory (HLT). HLT ini didesain
berdasarkan karakteristik kelas dan hasil analisis kesulitan siswa dalam
menyelesaikan permsalahan yang disusun berdasarkan kemampuan penalaran
kemampuan penalaran induktif pada siswa kelas IX di SMP Pasundan 4 Bandung,
kesulitan yang dialamu siswa adalah sebagai berikut.
1. Kesulitan dalam membedakan konsep volume dan luas permukaan limas.
2. Kesulitan dalam mengidentifikasi dua buah kasus yang berbeda dan
hubungannya.
3. Kesulitan dalam mengidentifikasi pola, menghasilkan pola umum dan
memformulasikan keumumannya secara simbolik.
Kondisi ini menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang kesulitan dalam
menyelesaikan permasalahan yang disusun berdasarkan indikator kemampuan
penalaran induktif tersebut. Bahan ajar yang cocok untuk diimplementasikan di
suatu sekolah pun mungkin berbeda-beda, disesuaikan dengan kondisi siswa yang
ada di sekolah tersebut. Ada kemungkinan bahwa kesulitan yang dialami siswa di
suatu sekolah disebabkan oleh faktor yang sama seperti ketersediaan bahan ajar
yang terbatas, cara mengajar guru ataupun rata-rata kemampuan matematik siswa
yang memang rendah. Oleh karena itu, hasil tes kemampuan penalaran induktif
pada siswa kelas XI di SMP Pasundan 4 Bandung ini dapat menjadi bahan untuk
menyusun desain bahan ajar yang diimplementasikan untuk siswa pada tingkat
kelas yang lebih rendah yaitu kelas VIII.
Hasil temuan awal ini membuat penulis tertarik untuk mengkaji
pengembangan bahan ajar melalui suatu penelitian. Terdapat beberapa jenis
penelitian kualitatif seperti design experiment (desain eksperimen), development
research (penelitian pengembangan) dan design research (penelitian desain).
Ketiganya memberlakukan desain sebagai strategi untuk mengembangkan teori
(Bakker, 2004: 37). Gravemeijer dan Cobb (2006) mengungkapkan perbedaan
tujuan antara penelitian eksperimen dan penelitian desain. Perubahan tujuan
penelitian yang asalnya membuktikan bahwa teori A lebih baik daripada teori B
menjadi penelitian yang bertujuan untuk menghasilkan produk berupa teori yang
didukung data empiris mengenai bagaimana suatu intervensi berjalan sesuai
dengan tujuannya dilakukan melalui penelitian desain. Penelitian desain ini harus
terfokus pada objek dan proses yang spesifik dalam konteks yang spesifik pula
7
Nina Saparika, 2014
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa produk dari penelitian
desain berupa sebuah rancangan. Rancangan yang dihasilkan tersebut berupa
bahan ajar dan intervensi yang diberikan selama pembelajaran berlangsung. Atas
dasar itulah, penulis melakukan penelitian dengan judul “Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa SMP pada Pokok Bahasan Limas dan Prisma Tegak melalui Penelitian Desain”.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah
“Bagaimana bentuk tugas-tugas yang disajikan dalam bahan ajar untuk
memfasilitasi siswa dalam melakukan kegiatan penalaran induktif pada pokok
bahasan limas dan prisma tegak?”. Selanjutnya rumusan masalah ini dijabarkan dalam bentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut.
1. Bagaimana bentuk tugas-tugas yang disajikan dalam bahan ajar dengan
mempertimbangkan kemampuan penalaran induktif untuk memfasilitasi siswa
dalam menemukan rumus volume limas dan prisma tegak?
2. Bagaimana bentuk tugas-tugas yang disajikan dalam bahan ajar dengan
mempertimbangkan kemampuan penalaran induktif untuk memfasilitasi siswa
dalam menemukan rumus luas permukaan limas dan prisma tegak?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan pengkajian materi ini
adalah sebagai berikut.
1. Mengetahui bentuk tugas-tugas yang dapat mengembangkan kemampuan
penalaran induktif siswa dalam kegiatan menemukan rumus luas permukaan
limas dan prisma tegak.
2. Mengetahui bentuk tugas-tugas yang dapat megembangkan kemampuan
penalaran induktif siswa dalam kegiatan menemukan rumus volume limas dan
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut.
1. Manfaat Praktis
a. Menghasilkan bahan ajar dan rancangan pembelajaran yang tepat sasaran
sehingga dapat diimplementasikan di sekolah yang menjadi tempat
penelitian.
b. Diharapkan dapat mengatasi kesulitan siswa dalam menyelesaikan
permasalahan yang berkaitan dengan kemampuan penalaran induktif.
2. Manfaat Teoritis
a. Menghasilkan pengetahuan tentang cara mengembangkan bahan ajar
melalui pengembangan teori-teori yang diperoleh dari pengalaman
empiris.
b. Menghasilkan teori yang dapat dijadikan sebagai referensi untuk
pengembangan rancangan bahan ajar selanjutnya.
E. Definisi Operasional
Supaya tidak terjadi perluasan makna dalam pengkajian materi, maka
definisi dari istilah yang terkait dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Penalaran Induktif
Penalaran induktif adalah proses berpikir yang berusaha
menghubung-hubungkan kasus-kasus khusus yang sudah diketahui menuju kepada suatu
kesimpulan yang bersifat umum. Kegiatan penalaran induktif diantaranya:
a) memeriksa keadaan khusus dan menuju penarikan kesimpulan umum;
b) menebak, menyimpulkan dan menduga yang didasarkan pada fakta; dan
c) kegiatan penyimpulan berdasarkan kesamaan data atau fakta.
2. Bahan Ajar
Bahan ajar adalah seperangkat bahan yang digunakan guru maupun siswa
untuk membantu terciptanya proses belajar mengajar yang baik dan terencana
9
Nina Saparika, 2014
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain
3. Penelitian Desain
Penelitian desain adalah suatu kajian sistematis tentang merancang,
mengembangkan dan mengevaluasi intervensi pendidikan (seperti program,
strategi dan bahan pembelajaran, produk dan sistem) sebagai solusi untuk
memecahkan masalah yang kompleks dalam praktik pendidikan dan
memajukan pengetahuan tentang karakteristik dari intervensi-intervensi
Jenis penelitian ini adalah penelitian desain yang termasuk kedalam
penelitian kualitatif. Penelitian desain adalah penelitian yang menempatkan proses
perancangan sebagai strategi untuk mengembangkan materi. Penelitian desain ini
terdiri dari tiga fase yaitu desain permulaan (preliminary design), eksperimen
(experiment), dan analisis tinjauan (retrospective analysis) (Gravemeijer dan
cobb, 2006).
1. Desain Permulaan (preliminary design)
Menurut Mulyana (2012), pada fase ini dibuat hypothetical learning
trajectory (HLT) sebagai bentuk antisipasi-antisipasi terhadap hambatan yang
mungkin terjadi pada siswa selama proses pembelajaran. Menurut Simon (1995),
ada tiga komponen utama dari learning trajectory yaitu tujuan pembelajaran
(learning goals), kegiatan pembelajaran (learning activities) dan hipotesis proses
belajar siswa (hypothetical learning process). Penentuan tujuan pembelajaran
sangat berguna dalam menentukan strategi pembelajaran. Berdasarkan rumusan
tujuan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran merupakan jalan untuk mencapai
tujuan pembelajaran dapat dicapai. Sedangkan hipotesis proses belajar siswa
berguna untuk merancang tindakan ataupun strategi alternatif untuk mengatasi
berbagai masalah yang mungkin dihadapi siswa dalam proses pembelajaran.
Menurut Shanty (2011), dalam penelitian desain ini lintasan belajar (Hypothetical
Learning Trajectory) berfungsi sebagai desain dan instrumen penelitian.
2. Eksperimen Desain (design experiment)
Menurut Gravemeijer dan cobb (2006) fase ini dapat dilakukan ketika
seluruh persiapan telah dibuat kemudian diujicobakan pada sekelompok siswa
dalam proses pembelajaran. Tujuan utama dalam desain eksperimen ini adalah
untuk mengetes dan memperbaiki teori/ desain yang telah dikembangkan pada
fase desain permulaan. Pada tahap ini data yang dikumpulkan adalah proses
24
Nina Saparika, 2014
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain
3. Analisis Tinjauan (retrospective analysis)
Menurut Gravemeijer dan cobb (2006), pada tahap ini seluruh data yang
diperoleh dari fase kedua dikumpulkan. Tujuan analisis tinjauan ini adalah untuk
menganalisis hasil yang diperoleh dari fase kedua berupa perbandingan antara
antisipasi HLT dengan fakta yang terjadi selama pembelajaran serta kemungkinan
penyebabnya. Pada fase ini terdapat tiga langkah analisis yaitu mendeskripsikan
analisis tinjauan secara umun, analisis pengembangan HLT, dan analisis
topik-topik penelitian. Gambar 3.1 menunjukkan desain penelitian desain.
MATERI
Siklus 1
Gambar 3.1
Desain Penelitian Desain dalam Satu Siklus
(Sumber: Mulyana: 2012)
B. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini yaitu satu kelas VIII pada tahun ajaran
2013/2014 di salah satu Sekolah Menengah Pertama Kota Bandung.
C. Pengembangan Insturmen
Untuk dapat mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian ini,
maka i disusunlah instrumen sebagai berikut.
1. Instrumen Tes
Instrumen tes disusun berdasarkan indikator kemampuan penalaran induktif Desain permulaan
Eksperimen
Analisis tinjauan
yang diujicobakan terhadap siswa yang telah mempelajari materi prisma dan
limas. Jawaban siswa atas pertanyaan pada tes ini digunakan untuk menganalisis
learning obstacle (hambatan belajar) yang dialami siswa dalam kegiatan
penalaran induktif sebagai acuan untuk mendesain HLT.
2. Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara adalah sekumpulan pertanyaan terurut yang akan
diajukan kepada responden secara langsung melalui lisan. Pedoman wawancara
disusun diantaranya adalah pedoman wawancara untuk guru dan pedoman
wawancara untuk siswa.
3. Lembar Kerja Siswa (LKS)
Lembar Kerja Siswa (LKS) ini berisi tugas-tugas yang dirancang sedimikian
rupa sehingga dapat mengembangkan kemampuan penalaran induktif. LKS ini
disusun berdasarkan perkiraan atas hambatan yang akan dialami siswa dalam
memahami konsep, sehingga setelah mengerjakan tugas-tugas tersebut diharapkan
hambatan tersebut tidak akan muncul.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah tes, observasi dan wawancara. Observasi adalah pengamatan dan pencatatan dengan
sistematis atas fenomena-fenomena yang diteliti. Proses pencatatan data observasi
dilakukan melalui pertimbangan kemudian mengadakan penilaian kedalam suatu
skala yang bertingkat (Arikunto, 2006). Sedangkan wawancara adalah dialog yang
dilakukakan oleh pewawancara kepada orang yang diwawancarai. Berikut teknik
pengumpulan data pada penelitian desain
26
Nina Saparika, 2014
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain
Wawancara dan observasi
Melalui pengamatan di dalam kelas, peneliti
mengumpulkan data
mengenai karakteristik kelas.
Wawancara terhadap
beberapa siswa untuk mengumpulkan informasi mengenai fasilitas yang dimiliki siswa untuk belajar matematika, hambatan yang dimiliki siswa dalam belajar,
Mengetahui dan menganalisis kemampuan siswa yang telah mendapatkan pembelajaran mengenai limas dan prisma serta kesulitan yang dialami
dalam mengerjakan penalaran induktif yang secara spesifk dapat mengatasi hambatan-hambatan yang mungkin akan dialami siswa.
Observasi kegiatan guru dan siswa selama pembelajaran
Mengobservasi kesesuaian antara tujuan dan rencana
Mengobservasi komunikasi yang terjalin antara guru dengan siswa ataupun antara siswa dengan siswa.
Wawancara dengan beberapa siswa
Mengumpulkan informasi dari beberapa siswa setelah pembelajaran selesai untuk
mengetahui
E. Teknik Analisis Data
Data yang dikumpulkan selama penelitian kemudian dianalisis. Kegiatan
analisis ini dapat dilakukan sejak tahap pertama penelitian desain. Hasil analisis
ini dibutuhkan untuk mempersiapkan bahan yang dibutuhkan pada tahap
selanjutnya. Penelitian desain adalah salah satu jenis penelitian kualitatif. Oleh
karena itu, teknik analisis data selama di lapangan yang digunakan adalah Model
Miles and Huberman. Aktivitas dalam analisis data yaitu data reduction (reduksi
data), data display (penyajian data) dan conclusion drawing/ verification
(kesimpulan) (Sugiyono, 2010: 337).
Pada tahap data reduction (reduksi data), peneliti merangkum, memilih
hal-hal yang pokok dan memfokuskan pada hal-hal yang penting. Kegiatan
tersebut dapat mempermudah peneliti untuk dapat mengumpulkan data
selanjutnya. Pada tahap data display (penyajian data), peneliti menyajikan data
dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, tabel dan
sebagainya. Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif adalah membuat
kesimpulan. Kesimpulan yang diharapkan dalam penelitian kualitatif adalah
temuan baru yang sebelumnya belum pernah ditemukan (Sugiyono, 2010:
338-345).
Data yang terkumpul berupa transkrip wawancara siswa, hasil observasi
selama aktivitas pembelajaran, hasil pekerjaan siswa pada tes kemampuan awal,
dan jawaban siswa pada bahan ajar. Pengolahan data dilakukan sejak fase pertama
sampai fase ketiga. Pada fase pertama diperoleh data mengenai kemampuan awal
siswa mengenai prisma dan limas. Hasil pekerjaan siswa pada tes ini dianalisis
secara deskriptif dengan memaparkan kesulitan yang dialami dalam mengerjakan
permasalahan, kemudian dibuat antisipasi untuk mengatasi kesulitan tersebut
berupa desain hypothetical learning trajectory yang terdiri dari perencanaan
pembelajaran dan tugas-tugas.
Analisis tinjauan dilakukan ketika seluruh data yang diambil pada fase
kedua telah terkumpul. Data yang diperoleh dari fase kedua adalah jawaban siswa
pada bahan ajar, hasil observasi proses pembelajaran dan transkrip wawancara.
28
Nina Saparika, 2014
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain
dengan cara yang dipilih siswa dalam menyelesaikan masalah, perbandingan
antara prediksi hambatan siswa pada hypothetical learning trajectory dengan
kenyataan yang sebenarnya terjadi. Langkah selanjutnya yaitu meninjau ulang
instuksi/ aktifitas pada bahan ajar dengan menghilangkan yang tidak perlu,
memperbaiki yang sudah ada dan atau menambah aktifitas/instruksi dan
pertanyaan baru.
Hasil observasi selama pembelajaran dideskripsikan untuk mengetahui
gambaran aktifitas guru dan siswa. Melalui pengolahan data ini, akan diperoleh
informasi mengenai interaksi yang terjalin antara siswa dengan guru maupun antar
siswa. Selain itu, kesesuaian antara perencanaan pembelajaran dan praktek
langsung di lapangan juga dapat diketahui. Informasi lain yang dapat diperoleh
adalah respon siswa atas intervensi yang diberikan guru sebagai bahan tinjauan
ulang. Sedangkan hasil wawancara siswa disajikan dalam bentuk transkrip
percakapan untuk menggali informasi mengenai hambatan-hambatan yang dialami
selama aktifitas pembelajaran berlangsung. Setelah semua dapat dianalisis,
dibuatlah kesimpulan berdasarkan analisis tinjauan. Kesimpulan ini berfokus pada
pertanyaan yang terdapat pada rumusan masalah.
F. Prosedur Penelitian
Tahapan-tahapan yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut.
1. Tahap Persiapan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap persiapan adalah :
a. Menentukan permasalahan yang akan diteiliti.
b. Menyusun proposal skripsi.
c. Melaksanakan seminar proposal skripsi.
d. Merevisi proposal skripsi.
e. Menyusun instrumen penelitian.
f. Melakukan uji tes kemampuan awal siswa.
g. Melaksanakan wawancara dengan guru dan siswa yang akan menjadi
h. Menganalisis learning obstacle (hambatan belajar) siswa.
i. Menyusun desain Hypothetical Learning Trajectory (HLT).
2. Tahap Pelaksanaan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap persiapan adalah sebagai berikut.
a. Melaksanakan proses pembelajaran untuk uji coba bahan ajar yang telah
dirancang.
b. Melalukan observasi kegiatan guru dan siswa selama pembelajaran.
c. Mewawancarai siswa yang telah mengikuti proses pembelajaran.
3. Tahap Analisis Data
Kegiatan yang dilakukan pada tahap analisis data adalah sebagai berikut.
a. Analisis data dilakukan pada tahap persiapan dan pelaksanaan penelitian,
setelah data yang dibutuhkan sudah terkumpul.
b. Melakukan analisis tinjauan yaitu membandingkan antara HLT yang
dibuat dan kegaiatan pembelajaran yang dilakukan. Selanjutnya, dibuat
revisi HLT untuk mengantisipasi hambatan yang muncul dalam kegiatan
pembelajaran.
4. Tahap Akhir
Kegiatan yang dilakukan pada tahap akhir adalah sebagai berikut.
a. Melakukan ujian siding skripsi.
116
Nina Saparika, 2014
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain
BAB V KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada penelitian ini, terdapat
beberapa kesimpulan sebagai berikut.
1. Tugas-tugas yang disajikan dalam bahan ajar dengan mempertimbangkan
kemampuan penalaran induktif untuk menemukan rumus volume prisma dan
limas akan dijabarkan sebagai berikut.
a. Pada lembar kerja disajikan beberapa gambar kubus yang dibentuk oleh
kubus satuan. Kegiatan siswa dalam menemukan rumus volume kubus
dimulai dengan menentukan panjang rusuk, kemudian menentukan
volumenya dengan cara menghitung banyaknya kubus satuan yang
membentuk kubus tersebut. Kegiatan ini dilakukan pada beberapa kubus
sehingga siswa dapat mengamati kesamaan hubungan antara panjang
rusuk dengan volumenya. Berdasarkan kesamaan tersebut dapat dibuat
generalisasi mengenai rumus volume volume kubus.
b. Pada lembar kerja disajikan beberapa gambar balok yang dibentuk oleh
kubus satuan. Kegiatan siswa dalam menemukan rumus volume balok
dimulai dengan menentukan panjang rusuk, kemudian menentukan
volumenya dengan cara menghitung banyaknya kubus satuan yang
membentuk balok tersebut. Kegiatan ini dilakukan pada beberapa balok
sehingga siswa dapat mengamati kesamaan hubungan antara panjang
rusuk dengan volumenya. Siswa diberi kebebasan untuk menggunakan
strateginya dalam menyatakan hubungan antara panjang, lebar dan tinggi
balok dengan volumenya. Berdasarkan kesamaan pada contoh-contoh
tersebut, dapat dibuat generalisasi mengenai rumus volume balok.
c. Siswa mendapatkan alat peraga berupa lilin yang dibentuk menjadi balok
dan lembar kerja yang berisi langkah-langkah kegiatan yang harus
dilakukan beserta pertanyaan-pertanyaan yang dapat membimbing siswa
rumus volume prisma dimulai dengan kegiatan memotong balok menjadi
dua bagian berbentuk prisma segitiga siku-siku. Siswa diberi kesempatan
untuk menentukan strateginyta sendiri dalam memotong balok tersebut.
Selanjutnya, siswa mendapat tugas untuk membentuk prisma segitiga
samakaki dari dua bauh prisma segitiga siku-siku yang telah diperoleh.
Tugas yang terakhir adalah membentuk prisma jajargenjang dari sebuah
balok. Siswa pun diberi kesempatan untuk menentukan strateginya sendiri
dalam memotong balok tersebut. Pertanyaan-pertanyaan pada lembar kerja
membimbing siswa untuk dapat mengetahui kesamaan cara menghitung
volume balok, prisma segitiga siku-siku, prisma segitiga samakaki dan
prisma jajajrgenjang. Berdasarkan kesamaan pada contoh-contoh tersebut,
dapat dibuat generalisasi mengenai rumus prisma secara umum.
d. Kelompok siswa mendapatkan alat peraga yang berbeda-beda. Sebagian
kelompok mendapat alat peraga berupa balok dan limas segiempat yang
memiliki alas dan tinggi yang sama. Sedangkan sebagian kelompok yang
lain mendapatkan alat peraga berupa prisma segitiga dan limas segitiga
yang memiliki alas dan tinggi yang sama. Masing-masing kelompok
mendapatkan lembar kerja yang berisi langkah-langkah kegiatan yang
harus dilakukan dan pertnayaan-pertanyaan yang membimbing siswa
untuk membuat kesimpulan. Tugas siswa adalah melakukan penakaran
beras dengan menggunakan limas untuk mengisi balok/prisma segitiga
hingga penuh. Masing-masing kelompok dengan alat peraga yang
berbeda-beda akan memperoleh hasil yang sama mengenai hubungan
anatra volume limas dan prisma. Berdasarkan kesamaan pada
contoh-contoh tersebut, dapat dibuat generalisasi mengenai rumus volume limas
secara umum.
2. Tugas-tugas yang disajikan dalam bahan ajar dengan mempertimbangkan
kemampuan penalaran induktif untuk menemukan rumus luas permukaan
prisma dan limas akan dijabarkan sebagai berikut.
a. Pada lembar kerja disajikan gambar kubus dan jaring-jaringnya. Tugas
118
Nina Saparika, 2014
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain
cara menentukan luas permukaan kubus. Dengan mengamati kesamaan
antara kubus dan jaring-jaringnya, siswa harus menyimpulkan cara
menghitung luas permukaan kubus.
b. Pada lembar kerja disajikan gambar balok dan jaring-jaringnya. Tugas
siswa adalah menganalogikan cara menentukan jaring-jaring balok dan
cara menghitung luas permukaan balok. Dengan mengamati kesamaan
antara balok dan jaring-jaringnya, siswa harus menyimpulkan rumus luas
permukaan balok.
c. Pada lembar kerja disajikan gambar prisma dan jaring-jaringnya. Tugas
siswa adalah menganalogikan cara menghitung jaring-jaring prisma dan
cara menghitung luas permukaan prisma. Dengan mengamati kesamaan
yang dimiliki prisma dan jaring-jaringnya, siswa harus menyimpulkan
rumus luas permukaan prisma secara umum.
d. Setiap kelompok mendapatkan tugas yang berbeda-beda untuk dapat
menyimpulkan rumus luas permukaan limas. Tugas siswa adalah
menganalogikan cara menghitung jaring-jaring limas dan cara menghitung
luas permukaan limas. Terdapat beberapa jenis limas dan jaring-jaringnya
yang disajikan pada lembar kerja yaitu limas segitiga, limas segiempat,
limas segilima dan limas segienam. Masing-masing kelompok dengan
bentuk tugas yang berbeda-beda akan memperoleh hasil yang sama
mengenai cara menghitung luas permukaan limas. Berdasarkan kesamaan
kasus-kasus yang berbeda tersebut, dapat dibuat generalisasi mengenai
rumus luas permukaan limas secara umum.
B. Implikasi
Berdasarkan penelitian dan pembahasan dalam penelitian ini, terdapat
implikasi yaitu bahan ajar berbasis penalaran induktif pada pokok bahasan limas
dan prisma ini menyajikan tugas-tugas yang memuat kasus-kasus khusus. Melalui
pengamatan atau percobaan atas kasus-kasus khusus tersebut, siswa dapat
mengetahui kesamaan yang dimiliki sehingga dapat membuat kesimpulan secara
Selanjutnya, siswa diberi tugas-tugas berupa masalah untuk dapat
mengaplikasikan rumus yang diperoleh. Oleh karena itu, tugas-tugas pada bahan
ajar berbasis penalaran induktif ini dapat mengembangkan kemampuan penalaran
induktif siswa dalam proses mengkonstruksi maupun dalam menyelesaikan
masalah.
C. Saran
Berdaasrkan hasil penelitian dan kesimpulan yang diperoleh, diajukan
beberapa saran sebagai berikut.
1. Penelitian desain ini dilakukan dalam satu siklus. Oleh karena itu, disarankan
untuk melakukan eksperimen terhadap revisi bahan ajar di kelas lain yang
homogen.
2. Terdapat beberapa tugas yang belum diselesaikan siswa karena kurangnya
alokasi waktu yang tersedia. Oleh karena itu, disarankan untuk menambah
alokasi waktu jika akan melaksanakan eksperimen terhadap bahan ajar yang
telah direvisi supaya seluruh tugas-tugas dapat diselesaikan.
3. Disarankan untuk menggunakan alat peraga dan menyajikan kasus-kasus
khusus dalam pembelajaran materi volume dan luas permukaan prisma serta
120
Nina Saparika, 2014
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
DAFTAR PUSTAKA
Akker, J.V.D. et al. (2006). Educational Design Research: Introducing Educational Design Research. [Online]. Tersedia: http://international.slo.nl/publications/edr/edr-part-a-preface-ch1.pdf/. [1Februari 2014]
Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Bakker, A. (2004). Design research in statistics education: On symbolizing and
computer tools. [Online]. Tersedia:
https://www.stat.auckland.ac.nz/~iase/publications/dissertations/04.Bakker .Dissertation.pdf. [5 Januari 2014]
Belajar, F. (tanpa tahun). Aplikasi Teori Belajar. [Online]. Tersedia: https://mgmpmatsatapmalang.files.wordpress.com/2011/11/aplikasi-teori-belajar.pdf. [4 Februari 2014]
Cahyono, A.N. (2010). Vygotskian Perspective: Proses Scaffolding untuk mencapai Zone of Proximal Development (ZPD) Peserta Didik dalam Pembelajaran Matematika. Makalah pada Seminar Nasional Pendidikan Matematika dan Pendidikan Matematika, Yogyakarta.
Daro, P. et al. (2011). Learning Trajectory in Mathematics. [Online]. Tersedia: http://files.eric.ed.gov/fulltext/ED519792.pdf. [25 Januari 2014]
Faroh, N. (2011). Pengaruh Kemampuan Penalaran dan Komunikasi Matematika terhadap Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Materi Pokok Himpunan pada Peserta Didik Semester 2 Kelas VII Mts Nurul Huda Mangkang Semarang Tahun Pelajaran 2010/2011. Skripsi Sarjana pada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo: tidak diterbitkan.
Gravemeijer dan Cobb. (2006). Educational Design Research: Design Research From A Learning Design Perspective. [Online]. Tersedia: http://international.slo.nl/publications/edr/edr-part-a-preface-ch1.pdf/. [1Februari 2014]
Harijanto, M. (2007). Pengembangan Bahan Ajar Untuk Peningkatan Kualitas Pembelajaran Program Pendidikan Pembelajar Sekolah Dasar. Dalam
m%2F2010%2F08%2Fharijanto1-pengembangan-bahan-ajar-sd.pdf&ei=8iz8UqGKCInrlAWY24H4CQ&usg=AFQjCNHng9M_plEpeR ZEJBZiMAkOKKpqQQ. [25 Januari 2014]
Hudojo, H. (2001). Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematikai. Bandung: JICA.
Kariadinata. (2012). Menumbuhkan Daya Nalar (Power of Reasoning) Siswa Melalui Pembelajaran Analogi Matematika. Dalam Jurnal Ilmiah Program Studi Matematika STKIP Siliwangi Bandung [Online], Vol 1 (1), 9
Kementrian Pendidikan Nasional. (2006). Permendiknas No 23 tahun 2006. [Online]. Tersedia: http://ftp.unm.ac.id/permendiknas-2006/Nomor%2023%20Tahun%202006.pdf . [8 Oktober 2012]
Kristini, H. (2011). “Pendekatan Deuktif untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa
Kelas X SMAN 2 Dusun Selatan dam Menguasai Materi Logaritma”. Jurnal Edukasi Matematika. 2, (4), 221-233.
Kusnandi. (tanpa tahun). Penalaran Matematik. [Online]. Tersedia: (http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._MATEMATIKA/196 903301993031-KUSNANDI/Penalaran_Matematika_SMP.pdf) penalaran matematik. [1 Januari 2014]
Lismiana, E. (2013). Pengaruh Model Learning Cycle untuk Meningkatkan
Kemampuan Penalaran Induktif Siswa SMP. Skripsi Sarjana pada FPMIPA UPI Bandung: tidak diterbitkan.
Majid, Abdul. (2012). Perencanaan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mulyana, T. (2012). Pengembangan Bahan Ajar Melalui Penelitian Desain. Jurnal Ilmiah Program Studi Matematika STKIP Siliwangi Bandung [Online], Vol 1 (2), 12 halaman. Tersedia: http://e-journal.stkipsiliwangi.ac.id/index.php/infinity/article/download/54/29. [10 Februari 2013]
122
Nina Saparika, 2014
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Nobonnizar. (2011). Pengembangan Bahan ajar Komunikasi Matematika dalam Materi Dimensi Tiga di SMA. Skripsi Sarjana pada FPMIPA UPI Bandung: tidak diterbitkan.
Plomp. et al. (2007). An Introduction to Educational Design Research. [Online]. Tersedia:
http://www.slo.nl/downloads/2009/introduction_20to_20education_20desi gn_20research.pdf/.[2 Januari 2014]
Ormrod, E. J. (2009). Psikologi Pendidikan (sixth ed.). Jakarta: Erlangga.
Rochmad. (tanpa tahun). Proses Berpikir Induktif dan Deduktif dalam
Mempelajari Matematika. [Online]. Tersedia:
http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1& pembelajaran Matematika. Yogyakarta: Depdiknas Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah P3G Matematika.
Shanty, O.N. (2010). Design Research On Mathematics Education: Investigating
The Progress Of Indonesian Fifth Grade Students‟ Learning On
Multiplication Of Fractions With Natural Numbers. [Online]. Tersedia :
http://p4mriundiksha.files.wordpress.com/2010/11/thesis_nenden-octavarulia-shanty-impome-2009.pdf [2 Februari 2014]
Simon, A.M. (1995). Reconstructing Mathrmatics pedagogy from a constructive perspective [Online], Vol 26 (2), 31 halaman. Tersedia:
http://jwilson.coe.uga.edu/EMAT7050/Students/Gainey/Article%20.pdf [2 Februari 2014]
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Suherman, E. et al. (2001). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: JICA.
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan di
Jurusan Pendidikan Matematika
Oleh
Nina Saparika
1000225
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS PENALARAN INDUKTIF SISWA SMP PADA POKOK BAHASAN LIMAS DAN PRISMA TEGAK MELALUI
PENELITIAN DESAIN
Oleh Nina Saparika
Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
© Nina Saparika 2014 Universitas Pendidikan Indonesia
Juli 2014
Hak Cipta dilindungi undang-undang.
vii
Nina Saparika, 2014
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
DAFTAR ISI
PERNYATAAN………. ii
ABSTRAK……….. iii
KATA PENGANTAR……… iv
UCAPAN TERIMA KASIH……….. v
DAFTAR ISI………... vii
DAFTAR TABEL………... ix
DAFTAR GAMBAR……….. x
DAFTAR LAMPIRAN……….. xii
BAB I PENDAHULUAN ………. 1
A. Latar Belakang Masalah ……… 1
B. Rumusan Masalah……….. 7
C. Tujuan Penelitian……… 7
D. Manfaat Penelitian ……… 8 E. Definisi Operasional……….. 8
BAB II KAJIAN TEORI………... 10
A. Bahan Ajar………. 10
B. Penalaran ………….………. 12
D. Teknik Pengumpulan Data………. 25 E. Teknik Analisis Data……….. 27 F. Prosedur Penelitian………. 28 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ……….. 30 A. Preliminary First Design (Desain Permulaan)……….. 30 B. Retrospective Analysis (Analisis Tinjauan)……… 83
BAB V KESIMPULAN……… 116
A. Kesimpulan………. 116
B. Implikasi………. 118
C. Saran………... 119
ix
Nina Saparika, 2014
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
DAFTAR TABEL
xi
Nina Saparika, 2014
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Gambar 4.24 Menghitung Volume Balok………..… 89 Gambar 4.25 Cara Lain untuk Menghitung Volume Balok………..…. 89 Gambar 4.26 Strategi Siswa dalam Menyelesaikan Permasalahan 1………. 92 Gambar 4.27 Respon siswa yang belum tepat……….... 93 Gambar 4.28 Kesimpulan Siswa tentang Volume Prisma Segitiga Siku-Siku….. 94 Gambar 4.29 Kesimpulan Siswa yang Lain tentang Volume Prisma Segitiga
Siku-Siku ………. 94
Gambar 4.30 Kesimpulan Siswa tentang Volume Prisma Segitiga Samakaki….. 96 Gambar 4.31 Kesimpulan Siswa tentang Volume Prisma Jajargenjang…………. 96 Gambar 4.32 Kesimpulan Siswa yang Lain Tentang Volume Prisma
Jajargenjang……….………. 97
Gambar 4.33 Generalisasi tentang Rumus Volume Prisma……… 97 Gambar 4.34 Generalisasi tentang Rumus Volume Prisma……… 98 Gambar 4.35 Hasil Percobaan Penakaran Beras ……… 102 Gambar 4.36 Hasil Percobaan Penakaran Beras yang Lain..………. 102 Gambar 4.37 Jawaban Siswa Tentang Hubungaan Volume Limas Dan Prisma.. 103 Gambar 4.38 Jawaban Siswa yang Lain tentang Hubungaan Volume Limas dan
Prisma………... 103
Gambar 4.39 Jawaban Siswa tentang Rumus Volume Limas dan Prisma………. 104 Gambar 4.40 Jawaban Siswa Atas Permasalahan yang Berkaitan dengan
Volume Limas……….. 105
Gambar 4.41 Jawaban Siswa Atas Permasalahan yang Berkaitan dengan
Volume Limas……….. 105
Gambar 4.42 Cara Siswa dalam Menghitung Luas Jaring-Jaring Kubus……….. 106 Gambar 4.43 Cara Siswa dalam Menghitung Luas Jaring-Jaring Kubus……….. 103 Gambar 4.44 Cara Lain dalam Menghitung Luas Jaring-Jaring Kubus………… 103 Gambar 4.45 Kesimpulan Siswa tentang Cara Menentukan Luas Permukaan
Gambar 4.48 Kesimpulan Siswa tentang Cara Menenentukan Luas Permukaan Balok………... 109 Gambar 4.49 Contoh Jawaban Siswa yang Benar……….. 110 Gambar 4.50 Cara Siswa dalam Menentukan Luas Jaring-Jaring Prisma……….. 111 Gambar 4.51 Kesimpulan Siswa tentang Cara Menghitung Luas Permukaan
Prisma Secara Umum………... 112 Gambar 4.52 Kesimpulan Siswa tentang Rumus Luas Permukaa Prisma……….. 112 Gambar 4.53 Kesimpulan Siswa tentang Cara Menghitung Luas Permukaan
Prisma………..………. 113
Gambar 4.54 Kesimpulan tentang Rumus Luas Permukaa Limas.……… 114 Gambar 4.55 Kesimpulan yang Lain tentang Cara Menghitung Luas Permukaan
xiii
Nina Saparika, 2014
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran A Instumen Penelitian……… 123 Lampiran A.1 Instrumen Tes Kemampuan Penalaran Induktif……… 124 Lampiran A.2 Kisi-Kisi Instrumen Tes Kemampuan Penalaran Induktif………. 126 Lampiran A.3 Kunci Jawaban Instrumen Tes Kemampuan Penalaran
Induktif……….. 128
Lampiran A.4 Pedoman Wawancara………. 132 Lampiran A.5 Lembar Observasi………. 135
Lampiran A.6 Bahan Ajar……….……. 139
Lampiran A.8 Jawaban untuk Tugas pada Bahan Ajar yang Diharapkan….…… 174 Lampiran A.7 Bahan Ajar yang Direvisi……….………. 181
Lampiran A.9 RPP………... 246
Lampiran B Data yang Diperoleh Selama Penelitian …………....……… 201 Lampiran B.1 Jawaban Siswa untuk Tes Kemampuan Penalaran Induktif…….. 270 Lampiran B.2 Hasil Diskusi Siswa terhadap Tugas pada Bahan Ajar………….. 269 Lampiran B.3 Hasil Observasi Pembelajaran ……….. 292 Lampiran B.4 Transkrip Wawancara..……… 295 Lampiran C Surat Keterangan ……… 310 Lampiran C.1 Surat Tugas Pembimbing ……….. 311 Lampiran C.2 Kartu Bimbingan Skripsi ……….. 312 Lampiran C.3 Surat Ijin Penelitian ………... 313 Lampiran C.4 Surat Keterangan dari Sekolah ………. 314
Lampiran D Dokumentasi……….. 315
Induktif Siswa SMP pada Pokok Bahasan Limas dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain.
iii
Nina Saparika, 2014
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
ABSTRACT
Nina Saparika. (2014). The Development of Inductive Reasoning-based Teaching Materials on Junior High School Students for the Topics of Pyramid Shape and Prism through Design Research.
This is a study of the design on the development of inductive reasoning-based teaching materials for the topics of prism and pyramid. The problem underpinning
this study is the studens’ difficulties on the ability to have inductive reasoning and the limited teaching materials used in the learning process. Thus, it is important to
design teaching materials that will be used to overcome students’ problem which
might appear in the design research. Design research consists of three stages including preliminary firs design, experiment and retrospective analysis. This study aims to identify inductive-reasoning assignment to facilitate students in finding the formula for volume and surface. The subject of the study were the eighth grader of SMP Pasundan 4 Bandung academic year 2013-2014. Based on the results of the study, it can be concluded that assignments which facilitate the students in finding out the formula for the volume of pyramid and prism were started from the observations on the cases that were generally concluded. Meanwhile, assignment facilitating the students to find out the surface of pyramid and prism are in the forms of activities which analogize two different cases to see the similarities in drawing the inferences.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut adanya sumber
daya manusia yang handal dan mampu berkompetisi secara global. Oleh karena
itu, pengembangan SDM saat ini harus di titik beratkan pada kemampuan berpikir
yang melibatkan pemikiran kritis, sistematis, logis dan kreatif (Kariadinata, 2012).
Matematika adalah salah satu alat untuk mengembangkan cara berpikir secara
logis sehingga sangat diperlukan untuk menghadapi kehidupan sehari-hari,
menghadapi kemajuan IPTEK, dan mengembangkan ilmu pengetahuan lain
dengan cepat (Hudojo, 2001: 45). Itulah alasan perlunya matematika diajarkan di
Pendidikan Dasar (SD dan SMP) dan Pendidikan Menengah (SMA).
Menurut Kristini (2011: 221), “pembelajaran matematika adalah proses pemberian pengalaman belajar kepada peserta didik melalui serangkaian kegiatan
yang terencana sehingga peserta didik memiliki kompetensi terkait matematika
yang dipelajari”. Tujuan umum pembelajaran matematika yang dirumuskan dalam Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang standar isi dan Nomor 23 Tahun
2006 tentang standar kompetensi lulusan, mata pelajaran matematika bertujuan
agar peserta didik memiliki kemampun sebagai berikut.
1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan
mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akuran, efisien, dan
tepat, dalam pemecahan masalah.
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi
matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan
gagasan dan pernyataan matematika.
3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah,
merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi
yang diperoleh.
4. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain
2
Nina Saparika, 2014
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain
5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu
memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika
serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Seain itu, menurut National Council of Mathematics Teacher (NCTM)
(2006), pembelajaran matematika harus mampu membuat siswa memiliki
beberapa kompetensi, diantaranya problem solving (pemecahan masalah), use of
heuristics (penggunaan heuristik), visualitation (visualisasi), representation
(representasi), reasoning and proof (penalaran dan pembuktian), making
connection (membuat koneksi), dan mathematical communication (komunikasi
matematik). Berdasarkan pernyataan tersebut, penalaran merupakan salah satu
kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa. Kemampuan bernalar ini sangat
dibutuhkan oleh siswa ketika mempelajari matematika dan ilmu yang lain,
memecahkan masalah, maupun ketika terjun langsung di lapangan.
Penalaran terdiri dari dua macam yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif. Penalaran induktif adalah suatu proses berpikir untuk membuat kesimpulan yang bersifat umum berdasar pada beberapa pernyataan khusus yang diketahui benar (Shadiq, 2004: 3). Para ilmuwan menemukan dalil-dalil/ sifat-sifat/ rumus-rumus dalam matematika secara induktif yang dibuktikan kebenarannya secara umum. Ini menunujukkan bahwa penalaran memiliki peranan penting dalam matematika. Oleh karena itu, kemampuan penalaran khususnya penalaran induktif juga harus dimiliki oleh seseorang yang mempelajari matematika.
Penalaran tidak hanya sebagai kemampuan yang harus dimiliki siswa
setelah mempelajari suatu pokok bahasan matematika tetapi sebagai kemampuan
yang harus dikembangkan dalam kegiatan pembelajaran. Hudojo (2001: 135)
menyatakan bahwa belajar matematika berarti belajar tentang konsep-konsep dan
struktur-struktur yang terdapat pada pokok bahasan serta mencari
hubungan-hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur tersebut. Supaya proses
belajar tersebut terjadi, siswa difasilitasi untuk dapat terlibat aktif dalam
menemukan konsep-konsep, struktur-struktur sampai kepada teorema atau