• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS PENALARAN INDUKTIF SISWA SMP PADA POKOK BAHASAN LIMAS DAN PRISMA TEGAK MELALUI PENELITIAN DESAIN : Suatu Penelitian Desain (Design Research) terhadap Siswa Kelas VIII SMP Pasundan 4 Bandung Tahun Ajaran 2013/2014.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS PENALARAN INDUKTIF SISWA SMP PADA POKOK BAHASAN LIMAS DAN PRISMA TEGAK MELALUI PENELITIAN DESAIN : Suatu Penelitian Desain (Design Research) terhadap Siswa Kelas VIII SMP Pasundan 4 Bandung Tahun Ajaran 2013/2014."

Copied!
211
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS PENALARAN INDUKTIF SISWA SMP PADA POKOK BAHASAN LIMAS DAN PRISMA TEGAK MELALUI

PENELITIAN DESAIN

(Suatu Penelitian Desain (Design Research) terhadap Siswa Kelas VIII SMP Pasundan 4 Bandung Tahun Ajaran 2013/2014)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan di

Jurusan Pendidikan Matematika

Oleh

Nina Saparika

1000225

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

(2)

Oleh Nina Saparika

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

© Nina Saparika 2014 Universitas Pendidikan Indonesia

Juli 2014

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

(3)
(4)

ABSTRAK……….. iii

KATA PENGANTAR……… iv

UCAPAN TERIMA KASIH……….. v

DAFTAR ISI………... vii

DAFTAR TABEL………... ix

DAFTAR GAMBAR……….. x

DAFTAR LAMPIRAN……….. xii

BAB I PENDAHULUAN ………. 1

A. Latar Belakang Masalah ……… 1

B. Rumusan Masalah……….. 7

C. Tujuan Penelitian……… 7

D. Manfaat Penelitian ……… 8

E. Definisi Operasional……….. 8

BAB II KAJIAN TEORI………... 10

A. Bahan Ajar………. 10

B. Penalaran ………….………. 12

C. Teori Pembelajaran yang Mnedukung……….. 14

D. Hypothetical Learning Trajectory (HLT)……….. 16

E. Learning Obstacle (Hambatan Belajar)………. 17

F. Penelitian Desain (Design Research)……… 18

G. Limas dan Prisma Tegak pada Kurikulum di Indonesia……… 19

H. Kajian Penelitian yang Relevan ……… 20

I. Kerangka Berpikir Penelitian ……… 21

(5)

viii

Nina Saparika, 2014

Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

A. Metode Penelitian……….. 23

B. Subjek Penelitian……… 24

C. Pengembangan Instrumen……….. 24

D. Teknik Pengumpulan Data………. 25

E. Teknik Analisis Data……….. 27

F. Prosedur Penelitian………. 28

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ……….. 30

A. Preliminary First Design (Desain Permulaan)……….. 30

B. Retrospective Analysis (Analisis Tinjauan)……… 83

BAB V KESIMPULAN……… 116

A. Kesimpulan………. 116

B. Implikasi………. 118

C. Saran………... 119

(6)
(7)

x

Nina Saparika, 2014

Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Alur Analisis Penyusunan Bahan Ajar ………. 11

Gambar 2.2 Skema Kerangka Berpikir Penelitian………. 22

Gambar 3.1 Desain Penelitian Desain……… 25

Gambar 4.1 Jawaban Siswa atas Soal Nomor 1………. 33

Gambar 4.2 Jawaban Siswa yang Lain atas Soal Nomor 1……… 34

Gambar 4.3 Kesalahan Tipe 1 dalam Menjawab Soal Nomor 2……… 35

Gambar 4.4 Kesalahan Tipe 2 dalam Menjawab Soal Nomor 2...……… 37

Gambar 4.5 Kesalahan Tipe 3 dalam Menjawab Soal Nomor 2..………. 37

Gambar 4.6 Kesalahan Tipe 4 dalam Menjawab Soal Nomor 2……… 38

Gambar 4.7 Kesalahan Tipe 5 dalam Menjawab Soal Nomor 2….………... 38

Gambar 4.8 Jawaban Siswa Atas Nomor 3 yang Belum Lengkap ……….. 41

Gambar 4.9 Kesalahan tipe 1 dalam Menjawab Soal Nomor 3……… 41

Gambar 4.10 Kesalahan tipe 2 dalam Menjawab Soal Nomor 3…….………….. 42

Gambar 4.11 Kesalahan tipe 1 dalam Menjawab Soal Nomor 4.……….. 44

Gambar 4.12 Kesalahan tipe 2 dalam Menjawab Soal Nomor 4………... 44

Gambar 4.13 Kesalahan tipe 3 dalam Menjawab Soal Nomor 4.……….. 45

Gambar 4.14 Jawaban Siswa yang Benar atas Soal Nomor 5.……….. 48

Gambar 4.15 Jawaban Siswa yang Benar atas Soal Nomor 5………... 48

Gambar 4.16 Jawaban Siswa yang Benar atas Soal Nomor 5………... 49

Gambar 4.17 Jawaban Siswa atas Soal Nomor 5 yang Belum Tepat …..…..…... 49

Gambar 4.18 Hasil Pemotongan Balok yang Diharapkan………. 64

Gambar 4.19 Prediksi Pemotongan Balok oleh Siswa………... 64

Gambar 4.20 Pembentukan Prisma Segitiga Samakaki yang Diharapkan………. 66

Gambar 4.21 Prediksi Pembentukan Segitiga Samakaki oleh Siswa………. 66

Gambar 4.22 Menghitung Volume Kubus……….… 85

(8)

Gambar 4.27 Respon siswa yang belum tepat……….... 93

Gambar 4.28 Kesimpulan Siswa tentang Volume Prisma Segitiga Siku-Siku….. 94

Gambar 4.29 Kesimpulan Siswa yang Lain tentang Volume Prisma Segitiga Siku-Siku ………. 94

Gambar 4.30 Kesimpulan Siswa tentang Volume Prisma Segitiga Samakaki….. 96

Gambar 4.31 Kesimpulan Siswa tentang Volume Prisma Jajargenjang…………. 96

Gambar 4.32 Kesimpulan Siswa yang Lain Tentang Volume Prisma Jajargenjang……….………. 97

Gambar 4.33 Generalisasi tentang Rumus Volume Prisma……… 97

Gambar 4.34 Generalisasi tentang Rumus Volume Prisma……… 98

Gambar 4.35 Hasil Percobaan Penakaran Beras ……… 102

Gambar 4.36 Hasil Percobaan Penakaran Beras yang Lain..………. 102

Gambar 4.37 Jawaban Siswa Tentang Hubungaan Volume Limas Dan Prisma.. 103

Gambar 4.38 Jawaban Siswa yang Lain tentang Hubungaan Volume Limas dan Prisma………... 103

Gambar 4.39 Jawaban Siswa tentang Rumus Volume Limas dan Prisma………. 104

Gambar 4.40 Jawaban Siswa Atas Permasalahan yang Berkaitan dengan Volume Limas……….. 105

Gambar 4.41 Jawaban Siswa Atas Permasalahan yang Berkaitan dengan Volume Limas……….. 105

Gambar 4.42 Cara Siswa dalam Menghitung Luas Jaring-Jaring Kubus……….. 106

Gambar 4.43 Cara Siswa dalam Menghitung Luas Jaring-Jaring Kubus……….. 103

Gambar 4.44 Cara Lain dalam Menghitung Luas Jaring-Jaring Kubus………… 103

(9)

xii

Nina Saparika, 2014

Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Gambar 4.46 Kesimpulan Siswa tentang Cara Menentukan Luas Jaring-Jaring

Balok……… 108

Gambar 4.47 Kesimpulan Siswa tentang Cara Menentukan Luas Jaring-Jaring

Balok……… 106

Gambar 4.48 Kesimpulan Siswa tentang Cara Menenentukan Luas Permukaan Balok………... 109 Gambar 4.49 Contoh Jawaban Siswa yang Benar……….. 110 Gambar 4.50 Cara Siswa dalam Menentukan Luas Jaring-Jaring Prisma……….. 111 Gambar 4.51 Kesimpulan Siswa tentang Cara Menghitung Luas Permukaan

Prisma Secara Umum………... 112 Gambar 4.52 Kesimpulan Siswa tentang Rumus Luas Permukaa Prisma……….. 112 Gambar 4.53 Kesimpulan Siswa tentang Cara Menghitung Luas Permukaan

Prisma………..………. 113

Gambar 4.54 Kesimpulan tentang Rumus Luas Permukaa Limas.……… 114 Gambar 4.55 Kesimpulan yang Lain tentang Cara Menghitung Luas Permukaan

(10)

Lampiran A Instumen Penelitian……… 123

Lampiran A.1 Instrumen Tes Kemampuan Penalaran Induktif……… 124

Lampiran A.2 Kisi-Kisi Instrumen Tes Kemampuan Penalaran Induktif………. 126

Lampiran A.3 Kunci Jawaban Instrumen Tes Kemampuan Penalaran Induktif……….. 128

Lampiran A.4 Pedoman Wawancara………. 132

Lampiran A.5 Lembar Observasi………. 135

Lampiran A.6 Bahan Ajar……….……. 139

Lampiran A.8 Jawaban untuk Tugas pada Bahan Ajar yang Diharapkan….…… 174

Lampiran A.7 Bahan Ajar yang Direvisi……….………. 181

Lampiran A.9 RPP………... 246

Lampiran B Data yang Diperoleh Selama Penelitian …………....……… 201

Lampiran B.1 Jawaban Siswa untuk Tes Kemampuan Penalaran Induktif…….. 270

Lampiran B.2 Hasil Diskusi Siswa terhadap Tugas pada Bahan Ajar………….. 269

Lampiran B.3 Hasil Observasi Pembelajaran ……….. 292

Lampiran B.4 Transkrip Wawancara..……… 295

Lampiran C Surat Keterangan ……… 310

Lampiran C.1 Surat Tugas Pembimbing ……….. 311

Lampiran C.2 Kartu Bimbingan Skripsi ……….. 312

Lampiran C.3 Surat Ijin Penelitian ………... 313

Lampiran C.4 Surat Keterangan dari Sekolah ………. 314

(11)

ii

Nina Saparika, 2014

Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

ABSTRAK

Nina Saparika. (2014). Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa SMP pada Pokok Bahasan Limas dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain.

(12)

This is a study of the design on the development of inductive reasoning-based teaching materials for the topics of prism and pyramid. The problem underpinning

this study is the studens’ difficulties on the ability to have inductive reasoning and the limited teaching materials used in the learning process. Thus, it is important to

design teaching materials that will be used to overcome students’ problem which

might appear in the design research. Design research consists of three stages including preliminary firs design, experiment and retrospective analysis. This study aims to identify inductive-reasoning assignment to facilitate students in finding the formula for volume and surface. The subject of the study were the eighth grader of SMP Pasundan 4 Bandung academic year 2013-2014. Based on the results of the study, it can be concluded that assignments which facilitate the students in finding out the formula for the volume of pyramid and prism were started from the observations on the cases that were generally concluded. Meanwhile, assignment facilitating the students to find out the surface of pyramid and prism are in the forms of activities which analogize two different cases to see the similarities in drawing the inferences.

(13)

1

Nina Saparika, 2014

Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut adanya sumber

daya manusia yang handal dan mampu berkompetisi secara global. Oleh karena

itu, pengembangan SDM saat ini harus di titik beratkan pada kemampuan berpikir

yang melibatkan pemikiran kritis, sistematis, logis dan kreatif (Kariadinata, 2012).

Matematika adalah salah satu alat untuk mengembangkan cara berpikir secara

logis sehingga sangat diperlukan untuk menghadapi kehidupan sehari-hari,

menghadapi kemajuan IPTEK, dan mengembangkan ilmu pengetahuan lain

dengan cepat (Hudojo, 2001: 45). Itulah alasan perlunya matematika diajarkan di

Pendidikan Dasar (SD dan SMP) dan Pendidikan Menengah (SMA).

Menurut Kristini (2011: 221), “pembelajaran matematika adalah proses pemberian pengalaman belajar kepada peserta didik melalui serangkaian kegiatan

yang terencana sehingga peserta didik memiliki kompetensi terkait matematika

yang dipelajari”. Tujuan umum pembelajaran matematika yang dirumuskan dalam Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang standar isi dan Nomor 23 Tahun

2006 tentang standar kompetensi lulusan, mata pelajaran matematika bertujuan

agar peserta didik memiliki kemampun sebagai berikut.

1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan

mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akuran, efisien, dan

tepat, dalam pemecahan masalah.

2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi

matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan

gagasan dan pernyataan matematika.

3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah,

merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi

yang diperoleh.

4. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain

(14)

5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu

memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika

serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Seain itu, menurut National Council of Mathematics Teacher (NCTM)

(2006), pembelajaran matematika harus mampu membuat siswa memiliki

beberapa kompetensi, diantaranya problem solving (pemecahan masalah), use of

heuristics (penggunaan heuristik), visualitation (visualisasi), representation

(representasi), reasoning and proof (penalaran dan pembuktian), making

connection (membuat koneksi), dan mathematical communication (komunikasi

matematik). Berdasarkan pernyataan tersebut, penalaran merupakan salah satu

kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa. Kemampuan bernalar ini sangat

dibutuhkan oleh siswa ketika mempelajari matematika dan ilmu yang lain,

memecahkan masalah, maupun ketika terjun langsung di lapangan.

Penalaran terdiri dari dua macam yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif. Penalaran induktif adalah suatu proses berpikir untuk membuat kesimpulan yang bersifat umum berdasar pada beberapa pernyataan khusus yang diketahui benar (Shadiq, 2004: 3). Para ilmuwan menemukan dalil-dalil/ sifat-sifat/ rumus-rumus dalam matematika secara induktif yang dibuktikan kebenarannya secara umum. Ini menunujukkan bahwa penalaran memiliki peranan penting dalam matematika. Oleh karena itu, kemampuan penalaran khususnya penalaran induktif juga harus dimiliki oleh seseorang yang mempelajari matematika.

Penalaran tidak hanya sebagai kemampuan yang harus dimiliki siswa

setelah mempelajari suatu pokok bahasan matematika tetapi sebagai kemampuan

yang harus dikembangkan dalam kegiatan pembelajaran. Hudojo (2001: 135)

menyatakan bahwa belajar matematika berarti belajar tentang konsep-konsep dan

struktur-struktur yang terdapat pada pokok bahasan serta mencari

hubungan-hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur tersebut. Supaya proses

belajar tersebut terjadi, siswa difasilitasi untuk dapat terlibat aktif dalam

menemukan konsep-konsep, struktur-struktur sampai kepada teorema atau

(15)

3

Nina Saparika, 2014

Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain

melakukan pengamatan terhadap contoh-contoh dan bukan contoh sehingga dapat

merumuskan suatu konsep. Selanjutnya, siswa dilatih untuk membuat perkiraan

atas pengetahuan yang dikembangkan melalui contoh-contoh khusus

(generalisasi) (Suherman et al., 2001: 55-56).

Marpaung (dalam Rochmad, t.t.: 111) juga mengungkapkan bahwa

pembelajaran dengan melibatkan pola pikir induktif efektif untuk mengajarkan

suatu konsep matematika dan memberi peluang kepada siswa untuk memahami

konsep atau memperoleh generalisasi dengan cara yang lebih bermakna. Siswa

melalukan pengamatan secara cermat terhadap kasus-kasus khusus yang diberikan

guru sehingga kegiatan mempelajari konsep matematika dengan cara tersebut

dipandang kebih bermakna daripada sekedar menghapalnya. Pendapat lain

menyatakan bahwa pendekatan pembelajaran yang lebih baik bagi siswa setingkat

SD atau SMP adalah pendekatan pola pikir induktif (Copeland dalam Rochmad,

t.t.: 114). Misalnya dalam menyampaikan konsep segitiga, guru memulai

pembelajaran dengan menyajikan contoh-contoh segitiga. Siswa mencoba untuk

mencari sifat-sifat yang sama kemudian menyusun definisi atau generalisasinya

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa salah satu

tujuan umum pembelajaran matematika pada jenjang pendidikan dasar dan

menengah menekankan pada penataan daya nalar. Peningkatan kualitas

pembelajaran dipengaruhi oleh pengmembangan kurikulum di sekolah yaitu

dengan mempersiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan belajar

mengajar sesuai dengan PP Nomor 19 Tahun 2005 pasal 19 ayat (3) yang

menyatakan bahwa setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses

pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran,

dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran

yang efektif dan efisien. Atas dasar itulah seorang guru harus merancang

perencanaan pembelajaran.

Salah satu aspek yang harus dipersiapkan dalam perencanaan proses

pembelajaran adalah bahan ajar. Menurut Majid (2012: 21), bahan ajar adalah

segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/ instruktur dalam

(16)

dalam pembelajaran harus mampu mempermudah dan membimbing siswa dalam

memahami konsep dan aplikasinya. Sedangkan guru berperan dalam memberikan

intervensi berupa pertanyaan-pertanyaan yang mampu membantu siswa untuk

memilih strategi penyelesaian masalah.Pengembangan bahan ajar berbasis penalaran induktif dapat menjadi salah satu cara untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dipaparkan sebelumnya. Melalui pengembangan bahan ajar berbasis penalaran induktif ini diharapkan siswa mampu menemukan pemahaman konsep secara mandiri untuk selanjutnya digunakan dalam menyelesaikan masalah.

Bahan ajar sebagai seperangkat bahan yang dapat membantu siswa dalam

mencapai tujuan pembelajaran perlu digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

Oleh karean itu, peneliti mengumpulkan informasi mengenai penggunaan bahan

ajar di salah satu sekolah melalui wawancara untuk mengetahui kesesuaian antara

kenyataan di lapangan dan tuntutan yang ada. Berdasarkan hasil wawancara

dengan salah seorang guru matematika di SMP Pasundan 4 Bandung diperoleh

informasi bahwa terdapat beberapa permasalahan di sekolah tersebut.

Ketersediaan sumber belajar seperti buku paket kelas VIII yang sesuai dengan

KTSP 2006 sangat terbatas sehingga siswa tidak mendapatkan fasilitas

peminjaman buku. Siswa justru mendapatkan pinjaman buku yang disusun

berdasarkan kurikulum 2004 yang tidak membahas beberapa materi yang

seharusnya ada pada KTSP 2006.

Pada buku paket yang dipinjamkan oleh sekolah tidak terdapat materi

bangun ruang sisi datar, sehingga siswa biasanya hanya mempelajari materi

tersebut melalui penjelasan dari guru. Sedangkan bahan ajar yang disediakan oleh

sekolah hanya buku paket saja meskipun buku paket tersebut tidak sesuai dengan

KTSP 2006. Bahan ajar yang lain seperti LKS tidak pernah dibuat oleh guru

sehingga pembelajaran di sekolah tersebut selalu ceramah, guru menjelaskan

materi di depan kelas dan siswa mendengarkan penjelasan. Pembelajaran dimulai

dengan menjelaskan konsep-konsep dan rumus-rumus kemudian guru

memberikan contoh soal dan siswa berlatih menyelesaikan soal latihan. Hasil

wawancara tersebut menunjukkan bahwa sekolah kurang mampu memfasilitasi

(17)

5

Nina Saparika, 2014

Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain

Selain itu, cara pembelajaran tersebut dikhawatirkan dapat membuat siswa

menjadi kurang aktif dan materi yang dipelajari pun kurang bermakna.

Berdasarkan kurikulum 2006, materi bangun ruang ini disampaikan pada

semester dua dengan standar kompetensinya yaitu memahami sifat-sifat kubus,

balok, prisma, limas dan bagian-bagiannya, serta menentukan ukurannya.

Kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh siswa adalah: 1) mengidentifikasi

sifat-sifat prisma, dan limas serta bagian-bagiannya; 2) membuat jaring-jaring

prisma dan limas; 3) menghitung luas permukaan prisma dan limas;

4) menghitung volume prisma dan limas. Berdasarkan pengalaman guru tersebut

dalam mengajar materi bangun ruang sisi datar terungkap bahwa siswa mengalami

kesulitan dalam mempelajari volume dan luas permukaan prisma dan limas.

Berdasarkan permasalahan yang ada di sekolah tersebut, diperlukan adanya

rancangan bahan ajar volume dan luas permukaan limas serta prisma yang

diimplementasikan dalam pembelajaran untuk mengantisipasi kesulitan belajar

dan mengembangkan kemampuan penalaran induktif.

Bahan ajar volume dan luas permukaan limas serta prisma yang berbasis

penalaran induktif cocok untuk diimplemetasikan pada siswa kelas VIII. Hal ini

sesuai dengan pendapat Rochmad (t.t.: 110) yang menyatakan bahwa

pembelajaran matematika terutama di jenjang SD/MI dan SMP/MTs masih

memerlukan penggunaan pola pokir induktif. Melalui bahan ajar berbasis

penalaran induktif, siswa dapat mengkonstruksi rumus volume dan luas

permukaan pada limas dan prisma dengan mengamati kasus-kasus khusus yang

diberikan sehingga siswa diberi kesempatan untuk membuat generalisasi.

Akan tetapi, dalam menyusun bahan ajar yang efektif tersebut tidak hanya

cukup berdasarkan asumsi-asumsi bahwa siswa akan belajar melalui lintasan

belajar tertentu (Mulyana, 2012: 127). Oleh karena itu, sebelum menyusun bahan

ajar perlu dibuat Hypothetical Learning Trajectory (HLT). HLT ini didesain

berdasarkan karakteristik kelas dan hasil analisis kesulitan siswa dalam

menyelesaikan permsalahan yang disusun berdasarkan kemampuan penalaran

(18)

kemampuan penalaran induktif pada siswa kelas IX di SMP Pasundan 4 Bandung,

kesulitan yang dialamu siswa adalah sebagai berikut.

1. Kesulitan dalam membedakan konsep volume dan luas permukaan limas.

2. Kesulitan dalam mengidentifikasi dua buah kasus yang berbeda dan

hubungannya.

3. Kesulitan dalam mengidentifikasi pola, menghasilkan pola umum dan

memformulasikan keumumannya secara simbolik.

Kondisi ini menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang kesulitan dalam

menyelesaikan permasalahan yang disusun berdasarkan indikator kemampuan

penalaran induktif tersebut. Bahan ajar yang cocok untuk diimplementasikan di

suatu sekolah pun mungkin berbeda-beda, disesuaikan dengan kondisi siswa yang

ada di sekolah tersebut. Ada kemungkinan bahwa kesulitan yang dialami siswa di

suatu sekolah disebabkan oleh faktor yang sama seperti ketersediaan bahan ajar

yang terbatas, cara mengajar guru ataupun rata-rata kemampuan matematik siswa

yang memang rendah. Oleh karena itu, hasil tes kemampuan penalaran induktif

pada siswa kelas XI di SMP Pasundan 4 Bandung ini dapat menjadi bahan untuk

menyusun desain bahan ajar yang diimplementasikan untuk siswa pada tingkat

kelas yang lebih rendah yaitu kelas VIII.

Hasil temuan awal ini membuat penulis tertarik untuk mengkaji

pengembangan bahan ajar melalui suatu penelitian. Terdapat beberapa jenis

penelitian kualitatif seperti design experiment (desain eksperimen), development

research (penelitian pengembangan) dan design research (penelitian desain).

Ketiganya memberlakukan desain sebagai strategi untuk mengembangkan teori

(Bakker, 2004: 37). Gravemeijer dan Cobb (2006) mengungkapkan perbedaan

tujuan antara penelitian eksperimen dan penelitian desain. Perubahan tujuan

penelitian yang asalnya membuktikan bahwa teori A lebih baik daripada teori B

menjadi penelitian yang bertujuan untuk menghasilkan produk berupa teori yang

didukung data empiris mengenai bagaimana suatu intervensi berjalan sesuai

dengan tujuannya dilakukan melalui penelitian desain. Penelitian desain ini harus

terfokus pada objek dan proses yang spesifik dalam konteks yang spesifik pula

(19)

7

Nina Saparika, 2014

Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa produk dari penelitian

desain berupa sebuah rancangan. Rancangan yang dihasilkan tersebut berupa

bahan ajar dan intervensi yang diberikan selama pembelajaran berlangsung. Atas

dasar itulah, penulis melakukan penelitian dengan judul “Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa SMP pada Pokok Bahasan Limas dan Prisma Tegak melalui Penelitian Desain”.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah

“Bagaimana bentuk tugas-tugas yang disajikan dalam bahan ajar untuk

memfasilitasi siswa dalam melakukan kegiatan penalaran induktif pada pokok

bahasan limas dan prisma tegak?”. Selanjutnya rumusan masalah ini dijabarkan dalam bentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut.

1. Bagaimana bentuk tugas-tugas yang disajikan dalam bahan ajar dengan

mempertimbangkan kemampuan penalaran induktif untuk memfasilitasi siswa

dalam menemukan rumus volume limas dan prisma tegak?

2. Bagaimana bentuk tugas-tugas yang disajikan dalam bahan ajar dengan

mempertimbangkan kemampuan penalaran induktif untuk memfasilitasi siswa

dalam menemukan rumus luas permukaan limas dan prisma tegak?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan pengkajian materi ini

adalah sebagai berikut.

1. Mengetahui bentuk tugas-tugas yang dapat mengembangkan kemampuan

penalaran induktif siswa dalam kegiatan menemukan rumus luas permukaan

limas dan prisma tegak.

2. Mengetahui bentuk tugas-tugas yang dapat megembangkan kemampuan

penalaran induktif siswa dalam kegiatan menemukan rumus volume limas dan

(20)

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang dapat diperoleh dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut.

1. Manfaat Praktis

a. Menghasilkan bahan ajar dan rancangan pembelajaran yang tepat sasaran

sehingga dapat diimplementasikan di sekolah yang menjadi tempat

penelitian.

b. Diharapkan dapat mengatasi kesulitan siswa dalam menyelesaikan

permasalahan yang berkaitan dengan kemampuan penalaran induktif.

2. Manfaat Teoritis

a. Menghasilkan pengetahuan tentang cara mengembangkan bahan ajar

melalui pengembangan teori-teori yang diperoleh dari pengalaman

empiris.

b. Menghasilkan teori yang dapat dijadikan sebagai referensi untuk

pengembangan rancangan bahan ajar selanjutnya.

E. Definisi Operasional

Supaya tidak terjadi perluasan makna dalam pengkajian materi, maka

definisi dari istilah yang terkait dalam makalah ini adalah sebagai berikut.

1. Penalaran Induktif

Penalaran induktif adalah proses berpikir yang berusaha

menghubung-hubungkan kasus-kasus khusus yang sudah diketahui menuju kepada suatu

kesimpulan yang bersifat umum. Kegiatan penalaran induktif diantaranya:

a) memeriksa keadaan khusus dan menuju penarikan kesimpulan umum;

b) menebak, menyimpulkan dan menduga yang didasarkan pada fakta; dan

c) kegiatan penyimpulan berdasarkan kesamaan data atau fakta.

2. Bahan Ajar

Bahan ajar adalah seperangkat bahan yang digunakan guru maupun siswa

untuk membantu terciptanya proses belajar mengajar yang baik dan terencana

(21)

9

Nina Saparika, 2014

Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain

3. Penelitian Desain

Penelitian desain adalah suatu kajian sistematis tentang merancang,

mengembangkan dan mengevaluasi intervensi pendidikan (seperti program,

strategi dan bahan pembelajaran, produk dan sistem) sebagai solusi untuk

memecahkan masalah yang kompleks dalam praktik pendidikan dan

memajukan pengetahuan tentang karakteristik dari intervensi-intervensi

(22)

Jenis penelitian ini adalah penelitian desain yang termasuk kedalam

penelitian kualitatif. Penelitian desain adalah penelitian yang menempatkan proses

perancangan sebagai strategi untuk mengembangkan materi. Penelitian desain ini

terdiri dari tiga fase yaitu desain permulaan (preliminary design), eksperimen

(experiment), dan analisis tinjauan (retrospective analysis) (Gravemeijer dan

cobb, 2006).

1. Desain Permulaan (preliminary design)

Menurut Mulyana (2012), pada fase ini dibuat hypothetical learning

trajectory (HLT) sebagai bentuk antisipasi-antisipasi terhadap hambatan yang

mungkin terjadi pada siswa selama proses pembelajaran. Menurut Simon (1995),

ada tiga komponen utama dari learning trajectory yaitu tujuan pembelajaran

(learning goals), kegiatan pembelajaran (learning activities) dan hipotesis proses

belajar siswa (hypothetical learning process). Penentuan tujuan pembelajaran

sangat berguna dalam menentukan strategi pembelajaran. Berdasarkan rumusan

tujuan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran merupakan jalan untuk mencapai

tujuan pembelajaran dapat dicapai. Sedangkan hipotesis proses belajar siswa

berguna untuk merancang tindakan ataupun strategi alternatif untuk mengatasi

berbagai masalah yang mungkin dihadapi siswa dalam proses pembelajaran.

Menurut Shanty (2011), dalam penelitian desain ini lintasan belajar (Hypothetical

Learning Trajectory) berfungsi sebagai desain dan instrumen penelitian.

2. Eksperimen Desain (design experiment)

Menurut Gravemeijer dan cobb (2006) fase ini dapat dilakukan ketika

seluruh persiapan telah dibuat kemudian diujicobakan pada sekelompok siswa

dalam proses pembelajaran. Tujuan utama dalam desain eksperimen ini adalah

untuk mengetes dan memperbaiki teori/ desain yang telah dikembangkan pada

fase desain permulaan. Pada tahap ini data yang dikumpulkan adalah proses

(23)

24

Nina Saparika, 2014

Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain

3. Analisis Tinjauan (retrospective analysis)

Menurut Gravemeijer dan cobb (2006), pada tahap ini seluruh data yang

diperoleh dari fase kedua dikumpulkan. Tujuan analisis tinjauan ini adalah untuk

menganalisis hasil yang diperoleh dari fase kedua berupa perbandingan antara

antisipasi HLT dengan fakta yang terjadi selama pembelajaran serta kemungkinan

penyebabnya. Pada fase ini terdapat tiga langkah analisis yaitu mendeskripsikan

analisis tinjauan secara umun, analisis pengembangan HLT, dan analisis

topik-topik penelitian. Gambar 3.1 menunjukkan desain penelitian desain.

MATERI

Siklus 1

Gambar 3.1

Desain Penelitian Desain dalam Satu Siklus

(Sumber: Mulyana: 2012)

B. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini yaitu satu kelas VIII pada tahun ajaran

2013/2014 di salah satu Sekolah Menengah Pertama Kota Bandung.

C. Pengembangan Insturmen

Untuk dapat mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian ini,

maka i disusunlah instrumen sebagai berikut.

1. Instrumen Tes

Instrumen tes disusun berdasarkan indikator kemampuan penalaran induktif Desain permulaan

Eksperimen

Analisis tinjauan

(24)

yang diujicobakan terhadap siswa yang telah mempelajari materi prisma dan

limas. Jawaban siswa atas pertanyaan pada tes ini digunakan untuk menganalisis

learning obstacle (hambatan belajar) yang dialami siswa dalam kegiatan

penalaran induktif sebagai acuan untuk mendesain HLT.

2. Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara adalah sekumpulan pertanyaan terurut yang akan

diajukan kepada responden secara langsung melalui lisan. Pedoman wawancara

disusun diantaranya adalah pedoman wawancara untuk guru dan pedoman

wawancara untuk siswa.

3. Lembar Kerja Siswa (LKS)

Lembar Kerja Siswa (LKS) ini berisi tugas-tugas yang dirancang sedimikian

rupa sehingga dapat mengembangkan kemampuan penalaran induktif. LKS ini

disusun berdasarkan perkiraan atas hambatan yang akan dialami siswa dalam

memahami konsep, sehingga setelah mengerjakan tugas-tugas tersebut diharapkan

hambatan tersebut tidak akan muncul.

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah tes, observasi dan wawancara. Observasi adalah pengamatan dan pencatatan dengan

sistematis atas fenomena-fenomena yang diteliti. Proses pencatatan data observasi

dilakukan melalui pertimbangan kemudian mengadakan penilaian kedalam suatu

skala yang bertingkat (Arikunto, 2006). Sedangkan wawancara adalah dialog yang

dilakukakan oleh pewawancara kepada orang yang diwawancarai. Berikut teknik

pengumpulan data pada penelitian desain

(25)

26

Nina Saparika, 2014

Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain

Wawancara dan observasi

 Melalui pengamatan di dalam kelas, peneliti

mengumpulkan data

mengenai karakteristik kelas.

 Wawancara terhadap

beberapa siswa untuk mengumpulkan informasi mengenai fasilitas yang dimiliki siswa untuk belajar matematika, hambatan yang dimiliki siswa dalam belajar,

Mengetahui dan menganalisis kemampuan siswa yang telah mendapatkan pembelajaran mengenai limas dan prisma serta kesulitan yang dialami

dalam mengerjakan penalaran induktif yang secara spesifk dapat mengatasi hambatan-hambatan yang mungkin akan dialami siswa.

Observasi kegiatan guru dan siswa selama pembelajaran

 Mengobservasi kesesuaian antara tujuan dan rencana

 Mengobservasi komunikasi yang terjalin antara guru dengan siswa ataupun antara siswa dengan siswa.

Wawancara dengan beberapa siswa

Mengumpulkan informasi dari beberapa siswa setelah pembelajaran selesai untuk

mengetahui

(26)

E. Teknik Analisis Data

Data yang dikumpulkan selama penelitian kemudian dianalisis. Kegiatan

analisis ini dapat dilakukan sejak tahap pertama penelitian desain. Hasil analisis

ini dibutuhkan untuk mempersiapkan bahan yang dibutuhkan pada tahap

selanjutnya. Penelitian desain adalah salah satu jenis penelitian kualitatif. Oleh

karena itu, teknik analisis data selama di lapangan yang digunakan adalah Model

Miles and Huberman. Aktivitas dalam analisis data yaitu data reduction (reduksi

data), data display (penyajian data) dan conclusion drawing/ verification

(kesimpulan) (Sugiyono, 2010: 337).

Pada tahap data reduction (reduksi data), peneliti merangkum, memilih

hal-hal yang pokok dan memfokuskan pada hal-hal yang penting. Kegiatan

tersebut dapat mempermudah peneliti untuk dapat mengumpulkan data

selanjutnya. Pada tahap data display (penyajian data), peneliti menyajikan data

dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, tabel dan

sebagainya. Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif adalah membuat

kesimpulan. Kesimpulan yang diharapkan dalam penelitian kualitatif adalah

temuan baru yang sebelumnya belum pernah ditemukan (Sugiyono, 2010:

338-345).

Data yang terkumpul berupa transkrip wawancara siswa, hasil observasi

selama aktivitas pembelajaran, hasil pekerjaan siswa pada tes kemampuan awal,

dan jawaban siswa pada bahan ajar. Pengolahan data dilakukan sejak fase pertama

sampai fase ketiga. Pada fase pertama diperoleh data mengenai kemampuan awal

siswa mengenai prisma dan limas. Hasil pekerjaan siswa pada tes ini dianalisis

secara deskriptif dengan memaparkan kesulitan yang dialami dalam mengerjakan

permasalahan, kemudian dibuat antisipasi untuk mengatasi kesulitan tersebut

berupa desain hypothetical learning trajectory yang terdiri dari perencanaan

pembelajaran dan tugas-tugas.

Analisis tinjauan dilakukan ketika seluruh data yang diambil pada fase

kedua telah terkumpul. Data yang diperoleh dari fase kedua adalah jawaban siswa

pada bahan ajar, hasil observasi proses pembelajaran dan transkrip wawancara.

(27)

28

Nina Saparika, 2014

Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain

dengan cara yang dipilih siswa dalam menyelesaikan masalah, perbandingan

antara prediksi hambatan siswa pada hypothetical learning trajectory dengan

kenyataan yang sebenarnya terjadi. Langkah selanjutnya yaitu meninjau ulang

instuksi/ aktifitas pada bahan ajar dengan menghilangkan yang tidak perlu,

memperbaiki yang sudah ada dan atau menambah aktifitas/instruksi dan

pertanyaan baru.

Hasil observasi selama pembelajaran dideskripsikan untuk mengetahui

gambaran aktifitas guru dan siswa. Melalui pengolahan data ini, akan diperoleh

informasi mengenai interaksi yang terjalin antara siswa dengan guru maupun antar

siswa. Selain itu, kesesuaian antara perencanaan pembelajaran dan praktek

langsung di lapangan juga dapat diketahui. Informasi lain yang dapat diperoleh

adalah respon siswa atas intervensi yang diberikan guru sebagai bahan tinjauan

ulang. Sedangkan hasil wawancara siswa disajikan dalam bentuk transkrip

percakapan untuk menggali informasi mengenai hambatan-hambatan yang dialami

selama aktifitas pembelajaran berlangsung. Setelah semua dapat dianalisis,

dibuatlah kesimpulan berdasarkan analisis tinjauan. Kesimpulan ini berfokus pada

pertanyaan yang terdapat pada rumusan masalah.

F. Prosedur Penelitian

Tahapan-tahapan yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut.

1. Tahap Persiapan

Kegiatan yang dilakukan pada tahap persiapan adalah :

a. Menentukan permasalahan yang akan diteiliti.

b. Menyusun proposal skripsi.

c. Melaksanakan seminar proposal skripsi.

d. Merevisi proposal skripsi.

e. Menyusun instrumen penelitian.

f. Melakukan uji tes kemampuan awal siswa.

g. Melaksanakan wawancara dengan guru dan siswa yang akan menjadi

(28)

h. Menganalisis learning obstacle (hambatan belajar) siswa.

i. Menyusun desain Hypothetical Learning Trajectory (HLT).

2. Tahap Pelaksanaan

Kegiatan yang dilakukan pada tahap persiapan adalah sebagai berikut.

a. Melaksanakan proses pembelajaran untuk uji coba bahan ajar yang telah

dirancang.

b. Melalukan observasi kegiatan guru dan siswa selama pembelajaran.

c. Mewawancarai siswa yang telah mengikuti proses pembelajaran.

3. Tahap Analisis Data

Kegiatan yang dilakukan pada tahap analisis data adalah sebagai berikut.

a. Analisis data dilakukan pada tahap persiapan dan pelaksanaan penelitian,

setelah data yang dibutuhkan sudah terkumpul.

b. Melakukan analisis tinjauan yaitu membandingkan antara HLT yang

dibuat dan kegaiatan pembelajaran yang dilakukan. Selanjutnya, dibuat

revisi HLT untuk mengantisipasi hambatan yang muncul dalam kegiatan

pembelajaran.

4. Tahap Akhir

Kegiatan yang dilakukan pada tahap akhir adalah sebagai berikut.

a. Melakukan ujian siding skripsi.

(29)

116

Nina Saparika, 2014

Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain

BAB V KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada penelitian ini, terdapat

beberapa kesimpulan sebagai berikut.

1. Tugas-tugas yang disajikan dalam bahan ajar dengan mempertimbangkan

kemampuan penalaran induktif untuk menemukan rumus volume prisma dan

limas akan dijabarkan sebagai berikut.

a. Pada lembar kerja disajikan beberapa gambar kubus yang dibentuk oleh

kubus satuan. Kegiatan siswa dalam menemukan rumus volume kubus

dimulai dengan menentukan panjang rusuk, kemudian menentukan

volumenya dengan cara menghitung banyaknya kubus satuan yang

membentuk kubus tersebut. Kegiatan ini dilakukan pada beberapa kubus

sehingga siswa dapat mengamati kesamaan hubungan antara panjang

rusuk dengan volumenya. Berdasarkan kesamaan tersebut dapat dibuat

generalisasi mengenai rumus volume volume kubus.

b. Pada lembar kerja disajikan beberapa gambar balok yang dibentuk oleh

kubus satuan. Kegiatan siswa dalam menemukan rumus volume balok

dimulai dengan menentukan panjang rusuk, kemudian menentukan

volumenya dengan cara menghitung banyaknya kubus satuan yang

membentuk balok tersebut. Kegiatan ini dilakukan pada beberapa balok

sehingga siswa dapat mengamati kesamaan hubungan antara panjang

rusuk dengan volumenya. Siswa diberi kebebasan untuk menggunakan

strateginya dalam menyatakan hubungan antara panjang, lebar dan tinggi

balok dengan volumenya. Berdasarkan kesamaan pada contoh-contoh

tersebut, dapat dibuat generalisasi mengenai rumus volume balok.

c. Siswa mendapatkan alat peraga berupa lilin yang dibentuk menjadi balok

dan lembar kerja yang berisi langkah-langkah kegiatan yang harus

dilakukan beserta pertanyaan-pertanyaan yang dapat membimbing siswa

(30)

rumus volume prisma dimulai dengan kegiatan memotong balok menjadi

dua bagian berbentuk prisma segitiga siku-siku. Siswa diberi kesempatan

untuk menentukan strateginyta sendiri dalam memotong balok tersebut.

Selanjutnya, siswa mendapat tugas untuk membentuk prisma segitiga

samakaki dari dua bauh prisma segitiga siku-siku yang telah diperoleh.

Tugas yang terakhir adalah membentuk prisma jajargenjang dari sebuah

balok. Siswa pun diberi kesempatan untuk menentukan strateginya sendiri

dalam memotong balok tersebut. Pertanyaan-pertanyaan pada lembar kerja

membimbing siswa untuk dapat mengetahui kesamaan cara menghitung

volume balok, prisma segitiga siku-siku, prisma segitiga samakaki dan

prisma jajajrgenjang. Berdasarkan kesamaan pada contoh-contoh tersebut,

dapat dibuat generalisasi mengenai rumus prisma secara umum.

d. Kelompok siswa mendapatkan alat peraga yang berbeda-beda. Sebagian

kelompok mendapat alat peraga berupa balok dan limas segiempat yang

memiliki alas dan tinggi yang sama. Sedangkan sebagian kelompok yang

lain mendapatkan alat peraga berupa prisma segitiga dan limas segitiga

yang memiliki alas dan tinggi yang sama. Masing-masing kelompok

mendapatkan lembar kerja yang berisi langkah-langkah kegiatan yang

harus dilakukan dan pertnayaan-pertanyaan yang membimbing siswa

untuk membuat kesimpulan. Tugas siswa adalah melakukan penakaran

beras dengan menggunakan limas untuk mengisi balok/prisma segitiga

hingga penuh. Masing-masing kelompok dengan alat peraga yang

berbeda-beda akan memperoleh hasil yang sama mengenai hubungan

anatra volume limas dan prisma. Berdasarkan kesamaan pada

contoh-contoh tersebut, dapat dibuat generalisasi mengenai rumus volume limas

secara umum.

2. Tugas-tugas yang disajikan dalam bahan ajar dengan mempertimbangkan

kemampuan penalaran induktif untuk menemukan rumus luas permukaan

prisma dan limas akan dijabarkan sebagai berikut.

a. Pada lembar kerja disajikan gambar kubus dan jaring-jaringnya. Tugas

(31)

118

Nina Saparika, 2014

Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain

cara menentukan luas permukaan kubus. Dengan mengamati kesamaan

antara kubus dan jaring-jaringnya, siswa harus menyimpulkan cara

menghitung luas permukaan kubus.

b. Pada lembar kerja disajikan gambar balok dan jaring-jaringnya. Tugas

siswa adalah menganalogikan cara menentukan jaring-jaring balok dan

cara menghitung luas permukaan balok. Dengan mengamati kesamaan

antara balok dan jaring-jaringnya, siswa harus menyimpulkan rumus luas

permukaan balok.

c. Pada lembar kerja disajikan gambar prisma dan jaring-jaringnya. Tugas

siswa adalah menganalogikan cara menghitung jaring-jaring prisma dan

cara menghitung luas permukaan prisma. Dengan mengamati kesamaan

yang dimiliki prisma dan jaring-jaringnya, siswa harus menyimpulkan

rumus luas permukaan prisma secara umum.

d. Setiap kelompok mendapatkan tugas yang berbeda-beda untuk dapat

menyimpulkan rumus luas permukaan limas. Tugas siswa adalah

menganalogikan cara menghitung jaring-jaring limas dan cara menghitung

luas permukaan limas. Terdapat beberapa jenis limas dan jaring-jaringnya

yang disajikan pada lembar kerja yaitu limas segitiga, limas segiempat,

limas segilima dan limas segienam. Masing-masing kelompok dengan

bentuk tugas yang berbeda-beda akan memperoleh hasil yang sama

mengenai cara menghitung luas permukaan limas. Berdasarkan kesamaan

kasus-kasus yang berbeda tersebut, dapat dibuat generalisasi mengenai

rumus luas permukaan limas secara umum.

B. Implikasi

Berdasarkan penelitian dan pembahasan dalam penelitian ini, terdapat

implikasi yaitu bahan ajar berbasis penalaran induktif pada pokok bahasan limas

dan prisma ini menyajikan tugas-tugas yang memuat kasus-kasus khusus. Melalui

pengamatan atau percobaan atas kasus-kasus khusus tersebut, siswa dapat

mengetahui kesamaan yang dimiliki sehingga dapat membuat kesimpulan secara

(32)

Selanjutnya, siswa diberi tugas-tugas berupa masalah untuk dapat

mengaplikasikan rumus yang diperoleh. Oleh karena itu, tugas-tugas pada bahan

ajar berbasis penalaran induktif ini dapat mengembangkan kemampuan penalaran

induktif siswa dalam proses mengkonstruksi maupun dalam menyelesaikan

masalah.

C. Saran

Berdaasrkan hasil penelitian dan kesimpulan yang diperoleh, diajukan

beberapa saran sebagai berikut.

1. Penelitian desain ini dilakukan dalam satu siklus. Oleh karena itu, disarankan

untuk melakukan eksperimen terhadap revisi bahan ajar di kelas lain yang

homogen.

2. Terdapat beberapa tugas yang belum diselesaikan siswa karena kurangnya

alokasi waktu yang tersedia. Oleh karena itu, disarankan untuk menambah

alokasi waktu jika akan melaksanakan eksperimen terhadap bahan ajar yang

telah direvisi supaya seluruh tugas-tugas dapat diselesaikan.

3. Disarankan untuk menggunakan alat peraga dan menyajikan kasus-kasus

khusus dalam pembelajaran materi volume dan luas permukaan prisma serta

(33)

120

Nina Saparika, 2014

Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

DAFTAR PUSTAKA

Akker, J.V.D. et al. (2006). Educational Design Research: Introducing Educational Design Research. [Online]. Tersedia: http://international.slo.nl/publications/edr/edr-part-a-preface-ch1.pdf/. [1Februari 2014]

Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Bakker, A. (2004). Design research in statistics education: On symbolizing and

computer tools. [Online]. Tersedia:

https://www.stat.auckland.ac.nz/~iase/publications/dissertations/04.Bakker .Dissertation.pdf. [5 Januari 2014]

Belajar, F. (tanpa tahun). Aplikasi Teori Belajar. [Online]. Tersedia: https://mgmpmatsatapmalang.files.wordpress.com/2011/11/aplikasi-teori-belajar.pdf. [4 Februari 2014]

Cahyono, A.N. (2010). Vygotskian Perspective: Proses Scaffolding untuk mencapai Zone of Proximal Development (ZPD) Peserta Didik dalam Pembelajaran Matematika. Makalah pada Seminar Nasional Pendidikan Matematika dan Pendidikan Matematika, Yogyakarta.

Daro, P. et al. (2011). Learning Trajectory in Mathematics. [Online]. Tersedia: http://files.eric.ed.gov/fulltext/ED519792.pdf. [25 Januari 2014]

Faroh, N. (2011). Pengaruh Kemampuan Penalaran dan Komunikasi Matematika terhadap Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Materi Pokok Himpunan pada Peserta Didik Semester 2 Kelas VII Mts Nurul Huda Mangkang Semarang Tahun Pelajaran 2010/2011. Skripsi Sarjana pada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo: tidak diterbitkan.

Gravemeijer dan Cobb. (2006). Educational Design Research: Design Research From A Learning Design Perspective. [Online]. Tersedia: http://international.slo.nl/publications/edr/edr-part-a-preface-ch1.pdf/. [1Februari 2014]

Harijanto, M. (2007). Pengembangan Bahan Ajar Untuk Peningkatan Kualitas Pembelajaran Program Pendidikan Pembelajar Sekolah Dasar. Dalam

(34)

m%2F2010%2F08%2Fharijanto1-pengembangan-bahan-ajar-sd.pdf&ei=8iz8UqGKCInrlAWY24H4CQ&usg=AFQjCNHng9M_plEpeR ZEJBZiMAkOKKpqQQ. [25 Januari 2014]

Hudojo, H. (2001). Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematikai. Bandung: JICA.

Kariadinata. (2012). Menumbuhkan Daya Nalar (Power of Reasoning) Siswa Melalui Pembelajaran Analogi Matematika. Dalam Jurnal Ilmiah Program Studi Matematika STKIP Siliwangi Bandung [Online], Vol 1 (1), 9

Kementrian Pendidikan Nasional. (2006). Permendiknas No 23 tahun 2006. [Online]. Tersedia: http://ftp.unm.ac.id/permendiknas-2006/Nomor%2023%20Tahun%202006.pdf . [8 Oktober 2012]

Kristini, H. (2011). “Pendekatan Deuktif untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa

Kelas X SMAN 2 Dusun Selatan dam Menguasai Materi Logaritma”. Jurnal Edukasi Matematika. 2, (4), 221-233.

Kusnandi. (tanpa tahun). Penalaran Matematik. [Online]. Tersedia: (http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._MATEMATIKA/196 903301993031-KUSNANDI/Penalaran_Matematika_SMP.pdf) penalaran matematik. [1 Januari 2014]

Lismiana, E. (2013). Pengaruh Model Learning Cycle untuk Meningkatkan

Kemampuan Penalaran Induktif Siswa SMP. Skripsi Sarjana pada FPMIPA UPI Bandung: tidak diterbitkan.

Majid, Abdul. (2012). Perencanaan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mulyana, T. (2012). Pengembangan Bahan Ajar Melalui Penelitian Desain. Jurnal Ilmiah Program Studi Matematika STKIP Siliwangi Bandung [Online], Vol 1 (2), 12 halaman. Tersedia: http://e-journal.stkipsiliwangi.ac.id/index.php/infinity/article/download/54/29. [10 Februari 2013]

(35)

122

Nina Saparika, 2014

Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Nobonnizar. (2011). Pengembangan Bahan ajar Komunikasi Matematika dalam Materi Dimensi Tiga di SMA. Skripsi Sarjana pada FPMIPA UPI Bandung: tidak diterbitkan.

Plomp. et al. (2007). An Introduction to Educational Design Research. [Online]. Tersedia:

http://www.slo.nl/downloads/2009/introduction_20to_20education_20desi gn_20research.pdf/.[2 Januari 2014]

Ormrod, E. J. (2009). Psikologi Pendidikan (sixth ed.). Jakarta: Erlangga.

Rochmad. (tanpa tahun). Proses Berpikir Induktif dan Deduktif dalam

Mempelajari Matematika. [Online]. Tersedia:

http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1& pembelajaran Matematika. Yogyakarta: Depdiknas Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah P3G Matematika.

Shanty, O.N. (2010). Design Research On Mathematics Education: Investigating

The Progress Of Indonesian Fifth Grade Students‟ Learning On

Multiplication Of Fractions With Natural Numbers. [Online]. Tersedia :

http://p4mriundiksha.files.wordpress.com/2010/11/thesis_nenden-octavarulia-shanty-impome-2009.pdf [2 Februari 2014]

Simon, A.M. (1995). Reconstructing Mathrmatics pedagogy from a constructive perspective [Online], Vol 26 (2), 31 halaman. Tersedia:

http://jwilson.coe.uga.edu/EMAT7050/Students/Gainey/Article%20.pdf [2 Februari 2014]

Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Suherman, E. et al. (2001). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: JICA.

(36)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan di

Jurusan Pendidikan Matematika

Oleh

Nina Saparika

1000225

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

(37)

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS PENALARAN INDUKTIF SISWA SMP PADA POKOK BAHASAN LIMAS DAN PRISMA TEGAK MELALUI

PENELITIAN DESAIN

Oleh Nina Saparika

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

© Nina Saparika 2014 Universitas Pendidikan Indonesia

Juli 2014

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

(38)
(39)

vii

Nina Saparika, 2014

Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

DAFTAR ISI

PERNYATAAN………. ii

ABSTRAK……….. iii

KATA PENGANTAR……… iv

UCAPAN TERIMA KASIH……….. v

DAFTAR ISI………... vii

DAFTAR TABEL………... ix

DAFTAR GAMBAR……….. x

DAFTAR LAMPIRAN……….. xii

BAB I PENDAHULUAN ………. 1

A. Latar Belakang Masalah ……… 1

B. Rumusan Masalah……….. 7

C. Tujuan Penelitian……… 7

D. Manfaat Penelitian ……… 8 E. Definisi Operasional……….. 8

BAB II KAJIAN TEORI………... 10

A. Bahan Ajar………. 10

B. Penalaran ………….………. 12

(40)

D. Teknik Pengumpulan Data………. 25 E. Teknik Analisis Data……….. 27 F. Prosedur Penelitian………. 28 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ……….. 30 A. Preliminary First Design (Desain Permulaan)……….. 30 B. Retrospective Analysis (Analisis Tinjauan)……… 83

BAB V KESIMPULAN……… 116

A. Kesimpulan………. 116

B. Implikasi………. 118

C. Saran………... 119

(41)

ix

Nina Saparika, 2014

Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

DAFTAR TABEL

(42)
(43)

xi

Nina Saparika, 2014

Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Gambar 4.24 Menghitung Volume Balok………..… 89 Gambar 4.25 Cara Lain untuk Menghitung Volume Balok………..…. 89 Gambar 4.26 Strategi Siswa dalam Menyelesaikan Permasalahan 1………. 92 Gambar 4.27 Respon siswa yang belum tepat……….... 93 Gambar 4.28 Kesimpulan Siswa tentang Volume Prisma Segitiga Siku-Siku….. 94 Gambar 4.29 Kesimpulan Siswa yang Lain tentang Volume Prisma Segitiga

Siku-Siku ………. 94

Gambar 4.30 Kesimpulan Siswa tentang Volume Prisma Segitiga Samakaki….. 96 Gambar 4.31 Kesimpulan Siswa tentang Volume Prisma Jajargenjang…………. 96 Gambar 4.32 Kesimpulan Siswa yang Lain Tentang Volume Prisma

Jajargenjang……….………. 97

Gambar 4.33 Generalisasi tentang Rumus Volume Prisma……… 97 Gambar 4.34 Generalisasi tentang Rumus Volume Prisma……… 98 Gambar 4.35 Hasil Percobaan Penakaran Beras ……… 102 Gambar 4.36 Hasil Percobaan Penakaran Beras yang Lain..………. 102 Gambar 4.37 Jawaban Siswa Tentang Hubungaan Volume Limas Dan Prisma.. 103 Gambar 4.38 Jawaban Siswa yang Lain tentang Hubungaan Volume Limas dan

Prisma………... 103

Gambar 4.39 Jawaban Siswa tentang Rumus Volume Limas dan Prisma………. 104 Gambar 4.40 Jawaban Siswa Atas Permasalahan yang Berkaitan dengan

Volume Limas……….. 105

Gambar 4.41 Jawaban Siswa Atas Permasalahan yang Berkaitan dengan

Volume Limas……….. 105

Gambar 4.42 Cara Siswa dalam Menghitung Luas Jaring-Jaring Kubus……….. 106 Gambar 4.43 Cara Siswa dalam Menghitung Luas Jaring-Jaring Kubus……….. 103 Gambar 4.44 Cara Lain dalam Menghitung Luas Jaring-Jaring Kubus………… 103 Gambar 4.45 Kesimpulan Siswa tentang Cara Menentukan Luas Permukaan

(44)

Gambar 4.48 Kesimpulan Siswa tentang Cara Menenentukan Luas Permukaan Balok………... 109 Gambar 4.49 Contoh Jawaban Siswa yang Benar……….. 110 Gambar 4.50 Cara Siswa dalam Menentukan Luas Jaring-Jaring Prisma……….. 111 Gambar 4.51 Kesimpulan Siswa tentang Cara Menghitung Luas Permukaan

Prisma Secara Umum………... 112 Gambar 4.52 Kesimpulan Siswa tentang Rumus Luas Permukaa Prisma……….. 112 Gambar 4.53 Kesimpulan Siswa tentang Cara Menghitung Luas Permukaan

Prisma………..………. 113

Gambar 4.54 Kesimpulan tentang Rumus Luas Permukaa Limas.……… 114 Gambar 4.55 Kesimpulan yang Lain tentang Cara Menghitung Luas Permukaan

(45)

xiii

Nina Saparika, 2014

Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A Instumen Penelitian……… 123 Lampiran A.1 Instrumen Tes Kemampuan Penalaran Induktif……… 124 Lampiran A.2 Kisi-Kisi Instrumen Tes Kemampuan Penalaran Induktif………. 126 Lampiran A.3 Kunci Jawaban Instrumen Tes Kemampuan Penalaran

Induktif……….. 128

Lampiran A.4 Pedoman Wawancara………. 132 Lampiran A.5 Lembar Observasi………. 135

Lampiran A.6 Bahan Ajar……….……. 139

Lampiran A.8 Jawaban untuk Tugas pada Bahan Ajar yang Diharapkan….…… 174 Lampiran A.7 Bahan Ajar yang Direvisi……….………. 181

Lampiran A.9 RPP………... 246

Lampiran B Data yang Diperoleh Selama Penelitian …………....……… 201 Lampiran B.1 Jawaban Siswa untuk Tes Kemampuan Penalaran Induktif…….. 270 Lampiran B.2 Hasil Diskusi Siswa terhadap Tugas pada Bahan Ajar………….. 269 Lampiran B.3 Hasil Observasi Pembelajaran ……….. 292 Lampiran B.4 Transkrip Wawancara..……… 295 Lampiran C Surat Keterangan ……… 310 Lampiran C.1 Surat Tugas Pembimbing ……….. 311 Lampiran C.2 Kartu Bimbingan Skripsi ……….. 312 Lampiran C.3 Surat Ijin Penelitian ………... 313 Lampiran C.4 Surat Keterangan dari Sekolah ………. 314

Lampiran D Dokumentasi……….. 315

(46)

Induktif Siswa SMP pada Pokok Bahasan Limas dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain.

(47)

iii

Nina Saparika, 2014

Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

ABSTRACT

Nina Saparika. (2014). The Development of Inductive Reasoning-based Teaching Materials on Junior High School Students for the Topics of Pyramid Shape and Prism through Design Research.

This is a study of the design on the development of inductive reasoning-based teaching materials for the topics of prism and pyramid. The problem underpinning

this study is the studens’ difficulties on the ability to have inductive reasoning and the limited teaching materials used in the learning process. Thus, it is important to

design teaching materials that will be used to overcome students’ problem which

might appear in the design research. Design research consists of three stages including preliminary firs design, experiment and retrospective analysis. This study aims to identify inductive-reasoning assignment to facilitate students in finding the formula for volume and surface. The subject of the study were the eighth grader of SMP Pasundan 4 Bandung academic year 2013-2014. Based on the results of the study, it can be concluded that assignments which facilitate the students in finding out the formula for the volume of pyramid and prism were started from the observations on the cases that were generally concluded. Meanwhile, assignment facilitating the students to find out the surface of pyramid and prism are in the forms of activities which analogize two different cases to see the similarities in drawing the inferences.

(48)

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut adanya sumber

daya manusia yang handal dan mampu berkompetisi secara global. Oleh karena

itu, pengembangan SDM saat ini harus di titik beratkan pada kemampuan berpikir

yang melibatkan pemikiran kritis, sistematis, logis dan kreatif (Kariadinata, 2012).

Matematika adalah salah satu alat untuk mengembangkan cara berpikir secara

logis sehingga sangat diperlukan untuk menghadapi kehidupan sehari-hari,

menghadapi kemajuan IPTEK, dan mengembangkan ilmu pengetahuan lain

dengan cepat (Hudojo, 2001: 45). Itulah alasan perlunya matematika diajarkan di

Pendidikan Dasar (SD dan SMP) dan Pendidikan Menengah (SMA).

Menurut Kristini (2011: 221), “pembelajaran matematika adalah proses pemberian pengalaman belajar kepada peserta didik melalui serangkaian kegiatan

yang terencana sehingga peserta didik memiliki kompetensi terkait matematika

yang dipelajari”. Tujuan umum pembelajaran matematika yang dirumuskan dalam Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang standar isi dan Nomor 23 Tahun

2006 tentang standar kompetensi lulusan, mata pelajaran matematika bertujuan

agar peserta didik memiliki kemampun sebagai berikut.

1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan

mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akuran, efisien, dan

tepat, dalam pemecahan masalah.

2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi

matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan

gagasan dan pernyataan matematika.

3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah,

merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi

yang diperoleh.

4. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain

(49)

2

Nina Saparika, 2014

Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Penalaran Induktif Siswa Smp Pada Pokok Bahasan Limas Dan Prisma Tegak Melalui Penelitian Desain

5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu

memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika

serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Seain itu, menurut National Council of Mathematics Teacher (NCTM)

(2006), pembelajaran matematika harus mampu membuat siswa memiliki

beberapa kompetensi, diantaranya problem solving (pemecahan masalah), use of

heuristics (penggunaan heuristik), visualitation (visualisasi), representation

(representasi), reasoning and proof (penalaran dan pembuktian), making

connection (membuat koneksi), dan mathematical communication (komunikasi

matematik). Berdasarkan pernyataan tersebut, penalaran merupakan salah satu

kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa. Kemampuan bernalar ini sangat

dibutuhkan oleh siswa ketika mempelajari matematika dan ilmu yang lain,

memecahkan masalah, maupun ketika terjun langsung di lapangan.

Penalaran terdiri dari dua macam yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif. Penalaran induktif adalah suatu proses berpikir untuk membuat kesimpulan yang bersifat umum berdasar pada beberapa pernyataan khusus yang diketahui benar (Shadiq, 2004: 3). Para ilmuwan menemukan dalil-dalil/ sifat-sifat/ rumus-rumus dalam matematika secara induktif yang dibuktikan kebenarannya secara umum. Ini menunujukkan bahwa penalaran memiliki peranan penting dalam matematika. Oleh karena itu, kemampuan penalaran khususnya penalaran induktif juga harus dimiliki oleh seseorang yang mempelajari matematika.

Penalaran tidak hanya sebagai kemampuan yang harus dimiliki siswa

setelah mempelajari suatu pokok bahasan matematika tetapi sebagai kemampuan

yang harus dikembangkan dalam kegiatan pembelajaran. Hudojo (2001: 135)

menyatakan bahwa belajar matematika berarti belajar tentang konsep-konsep dan

struktur-struktur yang terdapat pada pokok bahasan serta mencari

hubungan-hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur tersebut. Supaya proses

belajar tersebut terjadi, siswa difasilitasi untuk dapat terlibat aktif dalam

menemukan konsep-konsep, struktur-struktur sampai kepada teorema atau

Gambar

Gambar 2.1 Alur Analisis Penyusunan Bahan Ajar
Tabel 2.1 Jenis Penelitian dan Fungsinya
Tabel 2.2 Kurikulum Geometri dan Pengukuran
Gambar 2.2 Skema Kerangka Berpikir Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Adapun hasil penelitian berdasarkan masing-masing KAM menunjukkan bahwa (1) pencapaian dan peningkatan kemampuan penalaran induktif siswa kelompok KAM atas kelas

Dari analisis data hasil penelitian terlihat bahwa, peningkatan kemampuan penalaran induktif pada siswa yang melakukan pembelajaran matematika berbantuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesulitan-kesulitan dan faktor penyebab kesulitan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal cerita pokok bahasan

Berdasarkan hasil analisis terhadap data-data yang terkumpul, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah peningkatan kemampuan penalaran induktif matematik siswa SMP yang

ANALISIS PERBEDAAN PENINGKATAN KEMAMPUAN PENALARAN ILMIAH SISWA SMP KELAS VII DENGAN PENDEKATAN INDUKTIF DAN DEDUKTIF PADA MATERI PEMANASAN GLOBAL Universitas Pendidikan Indonesia

Dalam merencanakan penyelesaian, siswa menggunakan penalaran induktif dengan strategi yang digunakan untuk memecahkan masalah adalah pemisalan dan menggunakan penalaran

Apakah peningkatan kemampuan penalaran induktif matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran Connected Mathematics Project (CMP) lebih baik dari pada siswa yang

Dalam merencanakan penyelesaian, siswa menggunakan penalaran induktif dengan strategi yang digunakan untuk memecahkan masalah adalah pemisalan dan menggunakan penalaran