• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI INDRA WAHYUDI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI INDRA WAHYUDI"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PERHITUNGAN, PENYETORAN DAN PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN BADAN (PPH BADAN) DENGAN

METODE EQUALISASI DAN MENJADIKAN TAX BASES SEBAGAI DASAR PERHITUNGAN

(STUDY KASUS PT. BANK SULSELBAR)

INDRA WAHYUDI 105730186310

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR

2014

(2)

ANALISIS PERHITUNGAN, PENYETORAN DAN PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN BADAN (PPH BADAN) DENGAN

METODE EQUALISASI DAN MENJADIKAN TAX BASES SEBAGAI DASAR PERHITUNGAN

(STUDY KASUS PT. BANK SULSELBAR)

Sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

Disusun dan Diajukan Oleh : INDRA WAHYUDI

105730186310

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR

2014

(3)

HALAMAN PERSETUJUAN Diterangkan bahwa skripsi yang disusun oleh:

Judul Penelitian : ANALISIS PERHITUNGAN, PENYETORAN DAN PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN BADAN (PPH BADAN) DENGAN METODE EQUALISASI DENGAN MENJADIKAN TAX BASES SEBAGAI DASAR PERHITUNGAN (STUDY KASUS PT.

BANK SULSELBAR) Nama Mahasiswa : INDRA WAHYUDI No. Stambuk/Nim : 1057301863 10

Jurusan : AKUNTANSI

Fakultas : EKONOMI

Perguruan Tinggi : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

Telah mengikuti ujian skripsi pada tanggal 30 Mei 2014 Makassar, Juni 2014

Menyetujui

Pembimbing I Pembimbing II

H. Andi Arman, SE., M.Si. Ak Ismail Badollahi, SE.M.Si. Ak Mengetahui

Dekan Fakultas Ekonomi Ketua Jurusan Akuntansi

Dr. H. Mahmud Nuhung, MA Ismail Badollahi, SE.M.Si. Ak

(4)

PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI

Skripsi ini telah disahkan oleh panitia ujian skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar dengan surat keputusan Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar dengan No... Tahun 1435 H / 2014 M yang dipertahankan didepan tim penguji pada hari kamis 05 Mei 2014 M / ...

Rajab 1436 H sebagai persyaratan guna memperoleh gelar sarjana ekonomi pada jurusan akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, Juni 2014 Panitia Ujian :

Pengawasan Umum : Dr. Irwan Akib, M.Pd

(Rektor Unismuh Makassar) (………) Ketua : Dr. H. Mahmud Nuhung,M.A

(Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis) (………) Sekertaris : Drs. H. Sultan Sarda, MM

(PD.I Fakultas Ekonomi dan Bisnis) (………)

Penguji : 1. Dr. Hj. Euis Eka Pramiarsih. M.Pd (………)

2. Ismail Badollahi, SE.Msi. Ak (………)

3. Abd. Salam, SE. Msi. Ak (………)

4. H. Andi Arman, SE.Msi. Ak (………)

(5)

ABSTRAK

Indra Wahyudi, Analisis Pehitungan, Penyetoran dan Pelaporan Pajak Penghasilan Badan (PPh Badan) Dengan Metode Equalisasi Dengan Menjadikan Tax Bases Sebagai Dasar Perhitungan (Study Kasus PT. Bank Sulselbar) Skripsi, Jurusan Akuntansi FE Universitas Muhammadiyah Makassar, Pembimbing (1) H. Andi Arman, SE., M.Si. Ak (2) Ismail Badollahi, SE, Msi, Ak

Keywords : PPh Badan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Bagaimana perhitungan, penyetoran dan pelaporan pajak penghasilan badan dengan metode equalisasi dan menjadikan Tax Bases Sebagai dasar perhitungan, khususnya Pajak Tangguhan yang berkaitan dengan PSAK No. 46 pada PT. Bank Sulselbar.

Jenis Penelitian ini adalah Analisis deskriptif kuantitatif. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan metoda wawancara, observasi, dokumentasi, kuesioner dan riset kepustakaan. Metode analisis yang digunakan atau yang ditempuh yaitu : Metode analisis deskriptif kuantitatif, Pengumpulan data, Reduksi data, Penyajian data, Verifikasi data.

Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa Laba yang dilaporkan pada SPT (laba fiskal) berbeda jumlahnya dengan laba yang dilaporkan pada laporan keuangan (laba komersial). Perbedaan tersebut diakibatkan karena perbedaan dasar yang digunakan dalam menyusun SPT dan laporan keuangan. SPT disusun

(6)
(7)

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, berkat taufiq dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini guna melengkapi persyaratan akademik untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi jurusan Akuntansi di Universitas Muhammadiyah Makassar.

Alhamdulillahirabbil’alamin atas karunia Allah SWT. Penulis yakin dan percaya bahwa jika ada kesulitan maka didalamnya terdapat dua kemudahan.

melalui kerja yang maksimal dengan segenap kemampuan, pikiran, waktu dan tenaga serta berbagai hambatan, cobaan, dan godaan, akhirnya skripsi ini dapat diselesaikan.

Penulis menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua tercinta Ayahanda dan Ibunda tersayang atas segala pengorbanan, doa, dan motivasi yang telah diberikan. Penyelesaian laporan skripsi ini juga tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Penulis menyampaikan terima kasih kepada :.

1. Dr. M. Irwan Akib, M.Pd, Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar 2. Dr. H Mahmud Nuhung, MA. Selaku Dekan pada Fakultas Ekonomi dan

Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Ismail Badollahi, SE, M.Si. Ak. Selaku Ketua Jurusan Akuntansi sekaligus Pembimbing II yang memberikan arahan dan dukungannya.

4. H. Andi Arman, SE., M.Si. Ak, Selaku Pembimbing I yang telah membimbing dan memberi petunjuk kepada penulis dalam penulisan skripsi

(8)

6. Saudara/Saudari, Aidil Dharmawan, Marya Ulfa, Aan Ardiansyah, Hadi Surya, dan Ahmad Mudatsir .

7. Seluruh teman-teman seperjuangan baik dari kelas akuntansi 5, akuntansi 4 angkatan 2010 dan akuntansi 1 resor yang tidak dapat penulis sebutkan.

8. Pimpinan dan karyawan pada PT. Bank Sulselbar yang telah bersedia menerima dan memberikan data kepada penulis.

9. Pimpinan, karyawan dan teman-teman dari PT. Slipform Indonesia Khususnya Accounting Department : Bapak Mangku Alam Ranreng, Theresia Silvy, Desy Octaviany, Sony Senjaya dan Ruly Prasetya.

10. Buat teman-teman dari Badminton Lovers Club Makassar yang telah memberikan Supportnya selama ini.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun dari berbagai pihak untuk kesempurnaan skripsi ini.

Semoga skripsi ini mempunyai banyak manfaat bagi semua pihak.

Wassalamualaikum Wr, Wb.

Makassar, 23 Mei 2014 Penulis

(9)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL. ... i

HALAMANPERSETUJUAN. ... ii

DAFTAR ISI. ... iii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian. ... 1

B. Rumusan Masalah. ... 3

C. Tujuan Penelitian. ... 3

D. Manfaat Penelitian. ... 4

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Perpajakan Secara Umum Pajak. ... 5

1. Defenisi Penghasilan. ... 7

2. Ciri Pajak. ... 8

3. Pengelompokan Pajak. ... 9

4. Fungsi Pajak. ... 12

5. Kepatuhan Paja. ... 13

6. Asas-asas Pemungutan Pajak. ... 14

B. Pajak Penghasilan. ... 15

1. Subjek Pajak Penghasilan. ... 18

2. Tidak termasuk dalam subjek Pajak Penghasilan. ... 19

3. Objek Pajak Penghasilan...20

4. Tidak termasuk Objek Pajak Penghasilan. ... 21

(10)

5. Hak dan kewajiban pemotong Pajak. ... 23

6. Sistem pemotongan dan pemungutan Pajak Penghasilan. ... 23

7. Tarif Pajak Penghasilan. ... 25

C. Penghasilan yang Dikenakan Pajak PPh Final...26

1. Biaya menurut UUD Perpajakan...27

2. Biaya yang dapat dikurangkan...27

3. Biaya yang tidak dapat dikurangkan...28

D. Koreksi Fiskal...29

1. Koreksi Fiskal Positif...29

2. Koreksi Fiskal Negatif...30

3. Perbedaan Koreksi Fiskal...30

E. Akuntansi Pajak Penghasilan Badan...33

1. Pajak Tangguhan...34

2. Pengakuan aktiva dan kewajiban Pajak kini...37

3. Pengakuan kewajiban Pajak Tangguhan ...37

4. Pengakuan aktiva Pajak Tangguhan...38

5. Saldo rugi fiscal yang dapat dikompensasi...39

6. Penyajian aktiva dan kewajiban Pajak...39

F. Kerangka Pemikiran...40

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian. ... 41

B. Metode Penelitian. ... 41

(11)

1 . Field Research. ... 41

2. Library Research. ... 42

C. Jenis dan Sumber Data. ... 42

1. Jenis Data. ... 42

2. Sumber Data. ... 42

E. Defenisi Operasional...43

1. Pehitungan...43

2. Penyetoran...43

3. Pelaporan...43

4. Ekualisasi...43

5. Pehitungan...43

D. Metode Analisis...44

BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN A. Sejarah PT. Bank Sulsel...45

B. Visi dan Misi PT. Bank Sulselbar...47

C. Struktur Organisasi dan Pembagian Tugas...47

D. Strategi dan Kebijakan Manajemen...55

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Laporan Keuangan Perusahaan Kebijakan Akuntansi...59

1. Laporan Keuangan Perusahaan...59

2. Kebijakan Akuntansi...62

(12)

B. Rekonsiliasi Laporan Keuangan...67

1. Koreksi Fiskal...67

2. Selisih Pembebanan Aktiva Produktif...73

C. Pajak Penghasilan ...74

1. Pajak Penghasilan Kini...74

2. Pajak Tangguhan...75 DAFTAR PUSTAKA

(13)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Penerimaan Negara dalam arti penerimaan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah merupakan tulang punggung pelaksanaan kegiatan pemerintahan, terutama untuk mencapai kemandirian dan keberlangsungan dalam membiayai pengeluaran yang semakin waktu semakin bertambah besar.

Pengeluaran untuk membiayai belanja Negara yang semakin lama semakin bertambah besar tersebut, diperlukan penerimaan Negara yang berasal dari dalam negeri tanpa harus bergantung dengan bantuan atau pinjaman dari luar negeri yang semakin lama semakin sulit untuk diharapkan. Hal itu berarti bahwa semua pembelanjaan Negara harus dibiayai dari pendapatan Negara, dalam hal ini yaitu penerimaan pajak dan penerimaan bukan pajak.

Pajak termasuk salah satu sumber pendapatan yang utama Negara disamping sumber minyak bumi dan gas alam yang sangat penting peranannya bagi kelangsungan hidup Negara. Sedangkan bagi perusahaan, pajak merupakan beban yang akan mengurangi laba bersih. Penerimaan sektor pajak dari tahun ke tahun diharapkan akan selalu meningkat seiring dengan perkembangan dan kemajuan pembangunan di segala bidang.

Oleh karena itu, satu-satunya andalan pemerintah dewasa ini adalah penerimaan dari sektor perpajakan. Begitu besarnya peranan sektor perpajakan dalam mendukung penerimaan Negara, maka dibutuhkan kesadaran seluruh lapisan masyarakat akan pentingnya pajak bagi kehidupan berbangsa dan

(14)

bernegara. Pemerintah diharapkan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan perpajakan dengan tetap memperhatikan asas keadailan, kepastian dan kenyamanan.

Namun dalam perhitungan pajak penghasilan badan seringkali terjadi perbedaan antara pajak penghasilan yang telah dihitung (komersial) dengan menurut fiskus. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan mengenai pengakuan pendapatan, biaya dan laba dalam laporan keuangan perusahaan (komersial) dengan laporan keuangan yang ditetapkan oleh fiskus. Akibat dari adanya perbedaan pengakuan pendapatan, biaya dan laba antara menurut perusahaan (komersial) dengan fiskus, maka perlu dilakukan penilaian mengenai cara perhitungan pajak penghasilan yang dilakukan oleh perusahaan dengan fiskus. Hal ini dimaksudkan untuk dapat menentukan pajak penghasilan badan (terutang) menurut UU Perpajakan No. 36 tahun 2008. Perusahaan dapat menghitung dan melaporkan beban PPh berdasarkan laba fiskal, tanpa diikuti oleh pelaporan PPh ditangguhkan dalam neraca, sehingga tidak ada alokasi pajak pada tahun-tahun mendatang. Baridwan (2001) dan Harnanto (2003) menyatakan hal yang sama, bahwa metode akuntansi PPh tanpa alokasi pajak antar periode merupakan metode akuntansi yang mengakibatkan laba bersih tidak dapat merefleksikan laba yang sebenarnya, karena beban PPh yang dilaporkan tidak berkorelasi langsung (tidak match) dengan laba sebelum pajak. Aktiva dan kewajiban dalam neraca juga dinyatakan terlalu rendah (understated) sebagai akibat tidak dilaporkannya konsekuensi pajak di masa mendatang atas perbedaan temporer pengakuan pendapatan dan beban.

(15)

Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk menulis mengenai bagaimana perusahaan menentukan besarnya pajak penghasilan yang harus dilaporkan dan disetor kepada pemerintah, dengan judul : “Analisis Perhitungan, Penyetoran dan Pelaporan Pajak Badan dengan Metode Ekualisasi dan Menjadikan Tax Bases Sebagai Dasar Perhitungan (Study Kasus PT. Bank Sulselbar).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka masalah pokok dalam penelitian ini, yaitu Bagaimana perhitungan, penyetoran dan pelaporan pajak penghasilan badan dengan metode equalisasi dan menjadikan Tax Bases Sebagai dasar perhitungan, khususnya Pajak Tangguhan yang berkaitan dengan PSAK No.

46 pada PT. Bank Sulselbar.

C. Tujuan Penelitian

Ada beberapa tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui dan menganalisa bagaimana perhitungan, penyetoran dan pelaporan PPh Badan dengan metode equalisasi pada PT. Bank Sulselbar.

2. Untuk mengetahui apakah pehitungan, penyetoran dan Pelaporan PPh Badan pada PT. Bank Sulselbar telah sesuai dengan Undang-undang yang berlaku

(16)

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi atau masukan bagi perkembangan ilmu perpajakan dan menambah kajian ilmu perpajakan khususnya dalam perhitungan, penyetoran dan pelaporan Pajak Penghasilan Badan.

2. Manfaat Praktis

Secara praktis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pihak bank khususnya dalam perlakuan akuntansi Pajak penghasilan badan. Dan bagi pihak lain penelitian ini juga diharapkan dapat membantu pihak lain dalam penyajian informasi untuk mengadakan penelitian serupa.

(17)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Perpajakan Secara Umum

Definisi pajak yang terkenal dalam dunia akademik dikemukakan oleh Prof. Dr. H. Rochmat Soemitro, SH. yaitu :

“Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal balik yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum”.

Menurut Prof. Dr. P. J. A. Adriani, pajak adalah iuran masyarakat kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan umum (undang-undang) dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.

Sedangkan menurut Sommerfeld Ray M., Anderson Herschel M., & Brock Horace R, pajak adalah suatu pengalihan sumber dari sektor swasta ke sektor pemerintah, bukan akibat pelanggaran hukum, namun wajib dilaksanakan, berdasarkan ketentuan yang ditetapkan lebih dahulu, tanpa mendapat imbalan yang langsung dan proporsional, agar pemerintah dapat melaksanakan tugas- tugasnya untuk menjalankan pemerintahan.

Undang-undang perpajakan sendiri tidak memberikan definisi pajak sampai dengan dikeluarkannya Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007. Adapun definisi pajak menurut Undang-undang ini adalah sebagai berikut :

(18)

“Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”

Pajak dari perspektif ekonomi dipahami sebagai beralihnya sumber daya dari sektor privat kepada sektor publik. Pemahaman ini memberikan gambaran bahwa adanya pajak menyebabkan dua situasi menjadi berubah. Pertama, berkurangnya kemampuan individu dalam menguasai sumber daya untuk kepentingan penguasaan barang dan jasa. Kedua, bertambahnya kemampuan keuangan negara dalam penyediaan barang dan jasa publik yang merupakan kebutuhan masyarakat.

Sementara pemahaman pajak dari perspektif hukum menurut Soemitro merupakan suatu perikatan yang timbul karena adanya undang-undang yang menyebabkan timbulnya kewajiban warga negara untuk menyetorkan sejumlah penghasilan tertentu kepada negara, negara mempunyai kekuatan untuk memaksa dan uang pajak tersebut harus dipergunakan untuk penyelenggaraan pemerintahan. Dari pendekatan hukum ini memperlihatkan bahwa pajak yang dipungut harus berdsarkan undang-undang sehingga menjamin adanya kepastian hukum, baik bagi fiskus sebagai pengumpul pajak maupun wajib pajak sebagai pembayar pajak Berdasarkan keterangan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pajak adalah kewajiban yang ditetapkan terhadap wajib pajak yang harus disetorkan kepada negara sesuai dengan ketentuan, tanpa mendapat prestasi atau imbalan langsung dari negara. Hasilnya ditujukan untuk membiayai pengeluaran-

(19)

pengeluaran umum di satu pihak, dan untuk merealisir sebagian tujuan ekonomi, sosial, politik, dan tujuan-tujuan lain yang ingin dicapai oleh Negara.

1. Definisi Penghasilan

Menurut Standar Akuntansi Keuangan (2009 : 12), penghasilan didefinisikan sebagai peningkatan manfaat ekonomi selama satu periode akuntansi tertentu dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal.

Berdasarkan definisi di atas, penghasilan meliputi pendapatan (revenues) maupun keuntungan (gains). Pendapatan (revenues) timbul dari pelaksanaan aktivitas perbankan yang bisa dikenal dengan sebutan yang berbeda seperti penjualan, penghasilan jasa (fees), bunga, deviden, royalti dan sewa. Sedangkan keuntungan (gains) mencerminkan pos lainnya yang memenuhi definisi penghasilan dan mungkin timbul atau mungkin tidak timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa. Keuntungan mencerminkan kenaikan manfaat ekonomi dan dengan demikian pada hakikatnya tidak berbeda dengan pendapatan.

Oleh karena itu, pos ini tidak di pandang sebagai unsur terpisah dari penghasilan.

Pengelompokan penghasilan berdasarkan aliran tambahan kemampuan ekonomis dibagi menjadi :

a. Penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas, seperti gaji, honorarium, penghasilan dari praktek dokter, notaris, pengacara dan sebagainya.

b. Penghasilan dari usaha dan kegiatan.

(20)

c. Penghasilan dari modal yang berupa harta bergerak maupun harta tak bergerak seperti bunga, deviden, royalti, sewa, keuntungan penjualan harta atau harta yang tidak dipergunakan untuk usaha dan lain-lain.

d. Penghasilan lain-lain adalah seperti hadiah, pembebasan utang, keuntungan selisih kurs, selisih lebih karena penilaian kembali aktiva tetap.

2. Ciri Pajak

Dari berbagai definisi yang diberikan terhadap pajak baik pengertian secara ekonomis (pajak sebagai pengalihan sumber dari sektor swasta ke sektor pemerintah) atau pengertian secara yuridis (pajak adalah iuran yang dapat dipaksakan) dapat ditarik kesimpulan tentang ciri-ciri yang terdapat pada pengertian pajak antara lain sebagai berikut:

a. Pajak dipungut berdasarkan undang-undang. Asas ini sesuai dengan perubahan ketiga UUD 1945 pasal 23A yang menyatakan "pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dalam undang-undang."

b. Tidak mendapatkan jasa timbal balik (konraprestasi perseorangan) yang dapat ditunjukkan secara langsung. Misalnya, orang yang taat membayar pajak kendaraan bermotor akan melalui jalan yang sama kualitasnya dengan orang yang tidak membayar pajak kendaraan bermotor.

c. Pemungutan pajak diperuntukkan bagi keperluan pembiayaan umum pemerintah. dalam rangka menjalankan fungsi pemerintahan, baik rutin maupun pembangunan.

(21)

d. Pemungutan pajak dapat dipaksakan. Pajak dapat dipaksakan apabila wajib pajak tidak memenuhi kewajiban perpajakan dan dapat dikenakan sanksi sesuai peraturan perundag-undangan.

Selain fungsi budgeter (anggaran) yaitu fungsi mengisi Kas Negara/Anggaran Negara yang diperlukan untuk menutup pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan, pajak juga berfungsi sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan negara dalam lapangan ekonomi dan sosial (fungsi mengatur / regulatif).

3. Pengelompokan Pajak

Di Indonesia pajak dikelompokkan menurut beberapa kategori, yaitu menurut golongannya, menurut sifatnya, dan menurut lembaga pemungutannya.

(Madiasmo, 2011:5)

1. Menurut Golongannya :

a. Pajak Langsung, adalah pajak yang harus dipikul atau ditanggung sendiri atau pihak lain.

b. Pajak Tidak Langsung, adalah pajak yang pada akhirnya dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain atau pihak ketiga.

2. Menurut Sifatnya :

a. Pajak Subjektif, adalah pajak yang pengenaannya memperhatikan pada keadaan pribadi WP atau pengenaan pajak yang memperhatikan keadaan subjeknya.

b. Pajak Objektif, adalah pajak yang pengenaannya memperhatikan pada objeknya baik pada berupa benda, keadaan, perbuatan, atau

(22)

peristiwa yang mengakibatkan timbulnya kewajiban membayar pajak, tanpa memperhatikan keadaan subjek pajak maupun tempat tinggal.

3. Menurut Lembaga Pemungutannya :

a. Pajak Negara (Pajak Pusat), adalah pajak yang dipungut oleh Pemerintah Pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga negara pada umumnya.

b. Pajak Daerah, yaitu pajak yang dipungut oleh Pemerintah daerah baik Daerah Tingkat I maupun Daerah Tingkat II dan digunakan untuk membiayai rumah tanggan daerah masing-masing.

4. Pajak-pajak Pusat yang dikelola oleh DJP meliputi : a. Pajak Penghasilan (PPh)

PPh adalah pajak yang dikenakan kepada orang pribadi atau badan atas penghasilan yang dierima atau diperoleh dalam suatu Tahun Pajak. Yang dimaksud penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang berasal baik dari Indonesia maupun luar Indonesia yang dapat digunakan untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan dengan nama dan dalam bentuk apapun.

Dengan demikian, maka penghasilan itu dapat berupa keuntungan usaha, gaji, honorarium, hadiah, dan lain sebagainya.

b. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

PPN adalah pajak yang dikenakan atas konsumsi Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean. Orang

(23)

pribadi, perusahaan, maupun pemerintah yang mengkonsumsi Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak dikenakan PPN. Tarif PPN adalah tunggal yaitu sebesar 10%.

c. Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPn BM)

Selain dikenakan PPN, atas barang-barang kena pajak tertentu yang tergolong mewah, juga dikenakan PPn BM.

d. Bea Materai

Bea Materai adalah pajak yang dikenakan atas dokumen, seperti surat perjanjian, akta notaris, serta kwitansi pembayaran, surat berharga, dan efek, yang memuat jumlah uang atau nominal diatas jumlah tertentu sesuai dengan ketentuan.

e. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)

PBB adalah pajak yang dikenakan atas kepemilikan atau pemanfaatan tanah dan atau bangunan. PBB merupakan Pajak Pusat namun demikian hampir seluruh realisasi penerimaan PBB diserahkan kepada Pemerintah Daerah baik Propinsi maupun Kabupaten/Kota.

f. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)

BPHTB adalah pajak yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan bangunan. Seperti halnya PBB, walaupun BPHTB di kelola oleh Pemerintah Daerah baik Propinsi maupun Kabupaten/Kota.

(24)

4. Fungsi Pajak

Pajak mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan bernegara, khususnya di dalam pelaksanaan pembangunan karena pajak merupakan sumber pendapatan negara untuk membiayai semua pengeluaran termasuk pengeluaran pembangunan. Berdasarkan hal diatas maka pajak mempunyai beberapa fungsi (Supramono, 2010:5), yaitu:

a. Fungsi anggaran (budgetair)

Sebagai sumber pendapatan negara, pajak berfungsi untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran negara. Untuk menjalankan tugas-tugas rutin negara dan melaksanakan pembangunan, negara membutuhkan biaya.

Biaya ini dapat diperoleh dari penerimaan pajak. Dewasa ini pajak digunakan untuk pembiayaan rutin seperti belanja pegawai, belanja barang, pemeliharaan, dan lain sebagainya. Untuk pembiayaan pembangunan, uang dikeluarkan dari tabungan pemerintah, yakni penerimaan dalam negeri dikurangi pengeluaran rutin. Tabungan pemerintah ini dari tahun ke tahun harus ditingkatkan sesuai kebutuhan pembiayaan pembangunan yang semakin meningkat dan ini terutama diharapkan dari sektor pajak.

b. Fungsi mengatur (regulerend)

Pemerintah bisa mengatur pertumbuhan ekonomi melalui kebijaksanaan pajak. Dengan fungsi mengatur, pajak bisa digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Contohnya dalam rangka menggiring penanaman modal, baik dalam negeri maupun luar negeri, diberikan berbagai macam fasilitas keringanan pajak. Dalam rangka melindungi produksi dalam negeri,

(25)

pemerintah menetapkan bea masuk yang tinggi untuk produk luar negeri.

c. Fungsi stabilitas

Dengan adanya pajak, pemerintah memiliki dana untuk menjalankan kebijakan yang berhubungan dengan stabilitas harga sehingga inflasi dapat dikendalikan, Hal ini bisa dilakukan antara lain dengan jalan mengatur peredaran uang di masyarakat, pemungutan pajak, penggunaan pajak yang efektif dan efisien.

d. Fungsi redistribusi pendapatan

Pajak yang sudah dipungut oleh negara akan digunakan untuk membiayai semua kepentingan umum, termasuk juga untuk membiayai pembangunan sehingga dapat membuka kesempatan kerja, yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.

5. Kepatuhan Pajak

Menurut Safri Nurmantu (Siti Kurnia Rahayu, 2010:138), “Kepatuhan perpajakan adalah suatu keadaan dimana wajib pajak memenuhi semua kewajiban perpajakan dan melaksanakan hal perpajakannya.”

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kepatuhan perpajakan merupakan kondisi yang menunjukkan adanya pemenuhan kewajiban perpajakan yang telah dilaksanakan oleh wajib pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Kepatuhan pajak akan menghasilkan banyak keuntungan, baik bagi fiskus maupun bagi wajib pajak sendiri selaku pemegang peranan penting tersebut.

Bagi fiskus, kepatuhan pajak dapat meringankan tugas aparat pajak, petugas

(26)

tidak terlalu banyak melakukan pemeriksaan pajak dan tentunya penerimaan pajak akan mendapatkan pencapaian yang optimal. Sedangkan bagi wajib pajak, manfaat yang diperoleh dari kepatuhan pajak seperti yang dikemukakan Siti Kurnia Rahayu (2010:143) adalah sebagai berikut:

1) Pemberian batas waktu penerbitan Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak (SKPPKP) paling lambat tiga bulan sejak permohonan kelebihan pembayaran pajak yang diajukan wajib pajak diterima untuk PPh dan satu bulan untuk PPN, tanpa melalui penelitian dan pemeriksaan oleh DJP.

Adanya kebijakan percepatan penerbitan SKPPKP menjadi paling lambat dua bulan untuk PPh dan tujuh hari untuk PPN. Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa dengan adanya kepatuhan pajak, maka masyarakat patuh pajak akan memperoleh keuntungan yang diberikan instansi perpajakan dibandingkan dengan wajib pajak lainnya.

6. Asas-asas Pemungutan Pajak

Dalam Waluyo (2007: 13) terdapat empat asas-asas pemungutan pajak yang dikemukan oleh Adam Smith yaitu: Equality, Certainty, Convenience, dan Economy.

a. Equality

Pemungutan pajak harus bersifat adil dan merata, yaitu pajak dikenakan kepada orang pribadi yang harus sebanding dengan kemampuan membayar pajak atau ability to pay dan sesuai dengan manfaat yang diterima. Adil dimaksudkan bahwa setiap WP

(27)

menyumbangkan uang untuk pengeluaran pemerintah sebanding dengan kepentingannya dan manfaat yang diminta.

b. Certainty

Penetapan pajak itu tidak ditentukan sewenang-wenang. Oleh karena itu, WP harus mengetahui secara jelas dan pasti besarnya pajak yang terutang, kapan harus bayar, serta batas waktu pembayaran.

b. Convenience

Kapan WP itu harus membayar pajak sebaiknya sesuai dengan saat- saat yang tidak menyulitkan WP.

c. Economy

Secara ekonomi bahwa biaya pemungutan dan biaya pemenuhan kewajiban pajak bagi WP diharapkan seminimum mungkin.

B. Pajak Penghasilan

Pajak penghasilan diatur dengan undang-undang Nomor 7 tahun 1983 yang telah mengalami empat kali perubahan, yaitu undang-undang Nomor 7 tahun 1991, Undang-undang nomor 10 tahun 1994, undang-undang nomor 17 tahun 2000, dan yang terakhir adalah undang-undang nomor 36 tahun 2008. Undang- undang pajak penghasilan ini mengalami beberapa kali perubahan sehingga dapat mengikuti perkembangan social ekonomi sebagai hasil pembangunan nasional dan globalisasi serta reformasi di berbagai bidang yang sangat pesat. Meskipun demikian, perubahan undang-undang pajak penghasilan tersebut tetap berpegang pada prinsip-prinsip perpajakan yang dianut secara universal, yaitu keadilan,

(28)

kemudahan, dan efisiensi administrasi, serta peningkatan dan optimalisasi penerimaan Negara dengan tetap mempertahankan system self assessment.

Perubahan Undang-undang Pajak Penghasilan tersebut dilakukan dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip perpajakan yang dianut secara universal, yaitu keadilan, kemudahan/efisiensi administrasi dan produktivitas penerimaan negara serta tetap mempertahankan sistem self assessment. Oleh karena itu, tujuan dan arah penyempurnaan Undang-undang Pajak Penghasilan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Lebih meningkatkan keadilan pengenaan pajak.

2. Lebih memberikan kemudahan kepada wajib pajak.

3. Menunjang kebijaksanaan pemerintah dalam rangka meningkatkan investasi langsung di Indonesia baik penanaman modal asing maupun penanaman modal dalam negeri di bidang-bidang usaha tertentu dan daerah tertentu yang mendapat prioritas.

Perubahan Undang-Undang Pajak Penghasilan dimaksudkan untuk tetap berpegang pada prinsip-prinsip perpajakan yang dianut secara universal yaitu keadilan, kemudahan/efisiensi dan produktivitas penerimaan negara. Oleh karena itu, arah dan tujuan penyempurnaan Undang-undang Pajak Penghasilan adalah untuk lebih meningkatkan pengenaan pajak, lebih memberikan kemudahan kepada wajib pajak, untuk menunjang kebijaksanaan pemerintah dalam rangka meningkatkan investasi langsung di Indonesia baik penanaman modal asing

(29)

maupun penanaman modal dalam negeri di bidang-bidang usaha tertentu dan daerah-daerah tertentu yang mendapat prioritas.

Berikut ini pengertian pajak penghasilan dikemukakan oleh Suandy (2010 : 81) mengemukakan bahwa :

”Pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan terhadap subyek pajak atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak atau dapat pula dikenakan pajak untuk penghasilan dalam bagian tahun pajak, apabila kewajiban pajak subyektifnya dimulai atau berakhir dalam tahun pajak”.

Menurut Moljono (2007 : 2) mengemukakan bahwa :

”Pajak penghasilan merupakan jenis pajak subyektif yang kewajiban pajaknya melekat pada subyek pajak bersangkutan, artinya kewajiban pajak tersebut dimaksudkan untuk tidak dilimpahkan kepada subyek pajak lainnya.

Oleh karena itu, dalam rangka memberikan kepastian hukum, penentuan saat mulai dan berakhirnya kewajiban pajak subyektif menjadi penting”.

Ketentuan umum tentang Pajak Penghasilan menurut UU Perpajakan No. 36 tahun 2008 menyatakan bahwa Pajak Penghasilan dikenakan terhadap subyek pajak atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak. Undang-Undang ini mengatur pengenaan Pajak Penghasilan terhadap subyek pajak berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak. Subyek pajak tersebut dikenakan pajak apabila menerima atau memperoleh penghasilan dalam Undang-Undang ini disebut wajib pajak.

Wajib Pajak dikenakan pajak atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya

(30)

selama satu tahun pajak atau dapat pula dikenakan pajak untuk penghasilan dalam bagian tahun pajak, apabila kewajiban pajak subyektifnya dimulai atau berakhir dalam tahun pajak.

1. Subjek pajak penghasilan

Subjek pajak penghasilan adalah sesuatu yang mempunyai potensi untuk memperoleh penghasilan dan menjadi sasaran untuk dikenakan PPh. Subjek pajak akan dikenakan PPh apabila menerima atau memperoleh penghasilan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 2 ayat (1) UU No. 36 Tahun 2008 mengelompokkan Subjek Pajak sebagai berikut:

a. Subjek pajak orang pribadi

Orang pribadi sebagai subjek pajak dapat bertempat tinggal atau berada di Indonesia ataupun luar Indonesia.

b. Subjek pajak warisan yang terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang berhak.

Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan merupakan Subjek pajak pengganti, menggantikan mereka yang berhak yaitu ahli waris.

Penunjukan warisanyang belum terbagi sebagai Subjek pajak atas penghasilan yang berasal dari warisan tersebut dapat dilaksanakan.

c. Subjek Pajak Badan

Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan, baik yang melakukan usaha maupun tidak melakukan usaha meliputi perseroan terbatas (PT), Persekutuan komanditer (CV), perseroan

(31)

lainya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan nama dan dalam bentuk apapun, kongsi, koperasi, pension, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi masa, organisasi social politik, atau organisasi yang sejenis, lenbaga, bentuk usaha tetap, dan bentuk badan lainnya termasuk reksa dana.

d. Subjek Pajak Bentuk Usaha Tetap (BUT)

Bentuk Usaha Tetap (BUT) adalah bentuk usaha yang digunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia, untuk menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia, yang berupa : tempat manajemen perusahaan, cabang perusahaan, kantor perwakilan, pabrik, gudang, dan lain-lain.

2. Tidak termasuk dalam Subjek Pajak Penghasilan

Berdasarkan pasal 3 UU No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan : 1. Kantor perwakilan negara asing

2. Pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat-pejabart lain dari negara asing dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama-sama mereka, dengan syarat : bukan Warga Negara Indonesia dan tidak menerima penghasilan lain diluar pekerjaannya tersebut.

3. Organisasi-orgnisasi Internasional yang ditetapkan dengan keputusan menteri Keuangan dengan syarat : Indonesia menjadi anggota

(32)

organisasi tersebut, tidak menjalankan usaha untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia

4. Pejabat-pejabat perwakilan organisasi internasional dengan syarat : bukan Warga Negara Indonesia dan tidak menjalankan usaha untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia.

3. Objek pajak penghasilan

Yang menjadi objek adalah penghasilan. Penghasilan yaitu setiap tamabahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan bentuk apapun.

Yang termasuk dalam pengertian penghasilan adalah :

a. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh termasuk gaji, upah, honorium, komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya, kecuali ditentukan dalam Undang-undang ini.

b. Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan dan penghargaan.

c. Laba usaha.

d. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta

e. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya.

f. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan lain karena jaminan pengembalian utang.

(33)

g. Dividen, dengan nama dan bentuk apapun, termasuk dividen dari perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi.

h. Royalti.

i. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta.

j. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala.

k. Keuntungsn karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah tertentu yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah.

l. Keuntungan karena selisih kurs mata uang asing.

m. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva.

n. Premi asuransi.

o. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas.

p. Tamabahan kekayaan netto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak.

4. Tidak termasuk objek pajak

Menurut Pasal 4 ayat 3 UU No. 36 Tahun 2008 yang tidak termasuk Objek Pajak adalah :

1. Bantuan atau sumbangan termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembagan amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan para penerima zakat yang berhak atau

(34)

sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia.

2. Harta hibah yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, dan oleh badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau pengusaha kecil termasuk koperasi atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

3. Warisan

4. Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai pengganti penyertaan modal.

5. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan atau kenikmatan dari Wajib Pajak atau Pemerintah, kecuali yang diberikan oleh bukan Wajib Pajak, wajib pajak yang dikenakan pajak secara final atau Wajib Pajak yang menggunakan norma perhitungan khusus (deemed profit)sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 UU PPh.

6. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna dan asuransi beasiswa.

7. Deviden atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, BUMN aatu

(35)

BUMD dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia.

8. Iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai.

9. Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun dalam bidang tertentu yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan

5. Hak dan Kewajiban Pemotong Pajak Hak pemotong pajak :

1) Meminta bukti potong

2) Permohonan pembebasan pemotongan dan pemungutan pajak 3) Pembetulan SPT (Pasal 8 UU KUP)

4) Mengajukan keberatan dan banding Mengajukan permohonan pemindah bukuan atas SSP Kewajiban pemotong pajak.

6. Sistem Pemotongan dan Pemungutan Pajak Penghasilan

Dalam sistem administrasi perpajakan di Indonesia dikenal sistem pemotongan dan pemungutan Pajak Penghasilan atau biasa disebut witholding tax. Dalam sistem ini, Undang-undang menunjuk satu fihak yang biasanya merupakan sumber penghasilan untuk memotong atau memungut Pajak Penghasilan kepada fihak lain yang menerima penghasilan. Sistem ini diterapkan agar Wajib Pajak langsung membayar Pajak Penghasilan begitu menerima penghasilan tersebut. Prinsip “pay as you earn” ini dipakai

(36)

terutama untuk memastikan agar Wajib Pajak melunasi Pajak Penghasilan atas penghasilan yang dterima atau diperolehnya.

Dengan adanya sistem pemotongan dan pemungutan pajak ini, Wajib Pajak melunasi pajak dengan dua cara : melalui pembayaran sendiri dan melalui pemotongan dan/atau pemungutan pihak lain. Pelunasan pajak dengan cara pembayaran sendiri biasanya berupa PPh Pasal 25 yang dilakukan tiap bulan dan PPh Pasal 29 berupa setoran akhir tahun. Beberapa Wajib Pajak tertentu melunasi pembayara pajaknya dengan PPh Pasal 4 Ayat (2), PPh Pasal 15 dan PPh Pasal 19. Bukti pelunasan pajak dengan cara ini adalah Surat Setoran Pajak (SSP).

masing pemotongan dan pemungutan PPh memiliki pemotong pajak dan jenis penghasilan yang berlainan sehingga tidak mungkin ada satu jenis penghasilan yang dikenakan pemotongan atau pemungutan oleh jenis pemotongan dan pemotongan yang berlainan. Misalnya penghasilan yang telah dikenakan pemotongan PPh Pasal 21 tidak mungkin dipotong PPh Pasal 23 atau PPh Pasal 26. Dengan demikian, setiap pemotongan atau pemungutan PPh memiliki jenis penghasilan, pemotong pajak, tarif pajak dan cara perhitungan yang berlainan.

Pelunasan pajak melalui pemotongan dan/atau pemungutan pajak dilakukan melalui mekanisme sesuai PPh Pasal 21, PPh Pasal 22, PPh Pasal 23, PPh Pasal 26, PPh Pasal 4 Ayat (2), dan PPh Pasal 15. Sebagai bukti atas pelunasan pajak ini biasanya berupa bukti potong atau bukti pungut.

(37)

7. Tarif pajak penghasilan

Besarnya tarif pajak penghasilan bagi Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri dijelaskan dalam UU.No.36 tahun 2008 Pasal 17 ayat 1 adalah :

a. Wajib Pajak Orang Pribadi

Tabel 2.1 :

Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak

Sampai dengan Rp. 25.000.000 5%

Diatas Rp. 25.000.000 sampai dengan Rp. 50.000.000 10%

Diatas Rp. 50.000.000 sampai dengan Rp. 100.000.000 15%

Diatas Rp. 100.000.000 Sampai dengan Rp. 200.000.000 25%

Diatas Rp. 200.000.000 35%

b. Wajib Pajak Badan Dalam Negeri dan Bentuk Usaha Tetap (BUT)

perubahan tarif PPh Badan berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 mulai diberlakukan untuk tahun pajak 2009. Bila berdasarkan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000, tarif PPh Badan merupakan tarif progresif dengan menggunakan tiga lapisan tarif, maka Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008, dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b dan Pasal 17 ayat (2a) menyederhanakannya dengan memperkenalkan tarif tunggal yaitu 28% tahun pajak 2009 atau 25% untuk tahun pajak 2010 dan seterusnya.

(38)

Tabel 2.2 :

Tarif PPh Badan berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008

Tarif UU nomor 17 Tahun 2010 Tarif UU No 36 Tahun 2008

Lapisan PKP Tarif Lapisan PKP Tarif

s.d Rp. 50.000.000,00 10% 28% (2009)

Di atas Rp. 50.000.000,00 s.d

100.000.000,000 15%

Berapapun Nilai PKP

25% (2010 dst)

Di atas Rp. 100.000.000,00 30%

C. Penghasilan yang Dikenakan Pajak PPh Final

Berdasarkan UU PPh Pasal 4 ayat (2) terdapat beberapa jenis penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final. PPh bersifat final artinya PPh yang dipotong atau dibayar sendiri dari suatu penghasilan tertentu pada saat terjadinya dan tidak lagi diperhitungkan dalam SPT TAHUNAN BADAN walaupun tetap dilaporkan dalam SPT.

a. Penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan surat utang Negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi.

b. Penghasilan berupa hadiah undian.

c. Penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi derivative yang diperdagangkan di bursa, dan transaksi penjualan saham atau pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang diterima oleh perusahaan modal ventura.

(39)

d. Penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan, usaha jasa kontruksi, usaha real estate, dan persewaan tanah dan /atau bangunan.

e. Penghasilan tertentu lainnya, yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.

1. Biaya Menurut UU Perpajakan

Menurut pajak, tidak semua biaya yang dikeluarkan perusahaan dapat diakui sebagai pengurang, meskipun biaya tersebut berkaitan dengan kegiatan usaha. Hal ini disebabkan karena meurut ketentuan pajak, biaya fiskal digolongkan menjadi 2 (dua) macam, yakni biaya-biaya yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto dan biaya-biaya yang tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto.

2. Biaya yang Dapat Dikurangkan

a. Biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan termasuk biaya pembelian bahan, biaya yang berkenaan dengan pekerjaan/jasa termasuk upah, dan lain-lain atau biaya-biaya yang lazimnya disebut dengan biaya sehari-hari yang dibebankan pada tahun pengeluaran yang diperlukan.

b. Penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak atas biaya lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.

(40)

c. Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya disahkan Menteri Keuangan.

d. Kerugian karena penjualan/pengalihan harta.

e. Kerugian karena selisih kurs mata uang asing.

f. Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia.

g. Biaya beasiswa, magang, dan pelatihan.

h. Piutang tak tertagih

i. Pemupukan dana cadangan

j Sumbangan yang dapat dibiayakan 3. Biaya yang Tidak Dapat Dikurangkan

a.Pembayaran dividen, pembagian laba atau pembagian sisa hasil usaha (koperasi)

b. Pembentukan atau pemupukan dana cadangan

c. Premi asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi dwiguna, dan asuransi beasiswa

d. Pemberian kenikmatan

e. Hibah, bantuan dan sumbangan f. Pajak Penghasilan

g. Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pihak- pihak tertentu

(41)

h. Biaya atau pengeluaran untuk kepentingan pribadi

i. Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan yang modalnya tidak terbagi atas saham

` j. Sanksi Pajak.

D. Koreksi Fiskal

Untuk keperluan perpajakan wajib pajak tidak perlu membuat pembukuan ganda, melainkan cukup membuat satu pembukuan berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK), dan pada waktu mengisi SPT Tahunan PPh terlebih dahulu harus dilakukan koreksi-koreksi fiskal. Koreksi fiskal meliputi pengakuan pendapatan dan biaya yang dapat berupa koreksi positif dan koreksi negatif.

1. Koreksi Fiskal Positif

Koreksi Fiskal Positif adalah koreksi/penyesuaian yang akan mengakibatkan meningkatnya laba kena pajak yang pada akhirnya akan membuat PPh Badan Terhutangnya juga akan meningkat.

Koreksi fiskal positif diantaranya :

a. Biaya yang tidak berkaitan langsung dengan kegiatan usaha perusahaan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara pendapatan.

b. Biaya yang tidak diperkenankan sebagai pengurang PKP

(42)

c. Biaya yang diakui lebih kecil, seperti penyusutan, amortisasi, dan biaya yang ditangguhkan menurut WP lebih tinggi

d. Biaya yang didapat dari penghasilan yang bukan merupakan objek pajak

e. Biaya yang didapat dari penghasilan yang sudah dikenakan PPh Final

2. Koreksi Fiskal Negatif

adalah koreksi/penyesuaian yang akan mengakibatkan menurunnya laba kena pajak yang membuat PPh badan terhutangnya juga akan menurrun.

Koreksi fiskal negatif diantaranya :

a. Biaya yang diakui lebih besar, seperti penyusutan menurut WP lebih rendah, selisih amortisasi, dan biaya yang ditangguhkan pengakuannya

b. Penghasilan yang didapat dari penghasilan yang bukan merupakan objek pajak

c. Penghasilan yang didapat dari penghasilan yang sudah dikenakan PPh Final.

3. Perbedaan Koreksi Fiskal

Terdapat perbedaan dalam perlakuan penetapan pendapatan dan biaya menurut Undang-Undang Perpajakan Nomor 17 Tahun 2000 dengan Standar Akuntansi Keuangan sebagai akibat dari adanya beda tetap dan beda sementara; perlakuan akuntansi terhadap perbedaan tersebut perlu dilakukan

(43)

rekonsiliasi antara laporan keuangan komersil dengan laporan keuangan fiskal; dan pengaruh perbedaan tersebut terhadap laporan keuangan yaitu pada besarnya jumlah pajak terutang dan jumlah laba usaha.

a. Beda Tetap (Permanent Difference)

Bagi perusahaan : semua pemasukan adalah pendapatan yang akan menambah laba kena pajak , dan semua pengeluaran adalah beban yang akan mengurangi laba kena pajak.

Bagi Ditjend Pajak : tidak semua pemasukan adalah faktor penambah laba kena pajak, ada beberapa jenis pendapatan yang bukan merupakan faktor penambah laba kena pajak karena pendapatan tersebut sudah dikenakan pajak bersifat final, dan tidak semua pengeluaran adalah faktor pengurang laba kena pajak karena ada beberapa jenis pengeluaran yang sesungguhnya bukan merupakan bagian dari kegiatan perusahaan (sumbangan, entertain tanpa daftar normatif). Di dalam Akuntansi Perpajakan perbedaan ini disebut dengan BEDA TETAP (Permanent Difference).

Perincian Beda Tetap Menurut SAK dan Menurut Fiskal

1. Penghasilan Bunga Bank Penghasilan di luar usaha Sudah dipotong PPh yang bersifat final

2. Penghasilan Deviden Penghasilan di luar usaha Masuk dalam pengecualian objek pajak

3. Biaya Sumbangan/Hadiah Biaya (tercantum dalam laba/rugi) Tidak mengurangi penghasilan

(44)

4. Keuntungan dari penyertaan saham di BEI Penghasilan di luar usaha Tidak menambah penghasilan

5. Penghasilan dari sumbangan/hibah Penghasilan luar biasa Tidak menambah penghasilan

6. Tunjangan pegawai dalam bentuk natura Penghasilan (bagi pegawai) dan biaya (bagi pemberi kerja) Tidak mengurangi penghasilan

7 Biaya Entertainment Dapat dimasukkan sebagai biaya Sebagai deductible expense jika ada daftar nominatifnya, dan sebaliknya.

8 Biaya denda dan bunga pajak Pengurang penghasilan Non deductible expense

9 Hibah/Warisan Dapat diperhitungkan sebagai biaya/penghasilan luar biasa Non deductible expense

b. Beda Waktu (Time Difference)

Perbedaan lainnya adalah perbedaan yang diakibatkan karena bedanya saat pengakuan (waktu pengakuan) baik itu terhadap pendapatan maupun beban (pendapatan/beban tangguhan), juga akibat perbedaan beban penyusutan dimana pihak Ditjend Pajak menggunakan metode penyusutan Garis Lurus (Straight Line Method) sementara perusahaan mungkin menggunakan metode penyusutan yang lain, yang oleh karenanya mengakibatkan adanya perbedaan alokasi beban penyusutan. Prakiraan Umur ekonomis atas aktiva tetap juga turut memberi kontribusi atas perbedaan tersebut. Dengan kata lain perbedaan metode yang digunakan antara akuntansi komersial dengan ketentuan fiskal.

(45)

Dalam Akuntansi Perpajakan ini disebut dengan BEDA WAKTU (Time Difference).

D. Akuntansi Pajak Penghasilan Badan (Pajak Tangguhan)

Amanat penerapan akuntansi pajak penghasilan badan mengharuskan penerapannya oleh semua entitas (profit dan non-profit oriented) yang menghitung pajak penghasilan badan seperti perseroan terbatas, koperasi, yayasan dan lain lain. Semua bentuk badan hukum tersebut diharuskan menghitung pajak penghasilan badan dan menyampaikan surat pemberitahuan tahunan (SPT). Laba yang dilaporkan pada SPT laba fiskal) berbeda jumlahnya dengan laba yang (dilaporkan pada laporan keuangan (laba komersial). Perbedaan tersebut diakibatkan karena perbedaan dasar yang digunakan dalam menyusun SPT dan laporan keuangan. SPT disusun berdasarkan ketentuan peraturan perpajakan, sedangkan laporan keuangan disusun berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Akibat perbedaan basis yang digunakan, besarnya beban pajak yang diakui pada SPT dan laporan keuangan juga berbeda. Masalah utama akuntansi pajak penghasilan badan terkait dengan perlakuan akuntansi terhadap perbedaan besarnya beban pajak tersebut.

Sampai saat ini pedoman dasar yang digunakan perusahaan untuk melaporkan informasi kepada investor dan kreditor. Dan harus juga diakui bahwa perusahaan juga harus mengisi SPT pajak dengan mengikuti pedoman yang dikembangkan oleh Dinas Perpajakan (Internal Revenue Service/IRS).

(46)

Karena GAAP dan peraturan pajak berbeda dalam beberapa hal, maka laba keuangan sebelumm kena pajak dan laba kena pajak seringkali berbeda.

Akibatnya, jumlah yang dilaporkan perusahaan sebagai beban pajak seringkali berbeda dengan jumlah hutang pajak.

1. Pajak Tangguhan

Pajak Tangguhan (Deferred Tax) adalah jumlah beban pajak penghasilan terutang atau penghasilan pajak untuk periode mendatang sebagai akibat adanya perbedaan temporer dan sisa kompensasi kerugian.

Beban Pajak atau Penghasilan Pajak adalah jumlah agregat pajak kini dan pajak tangguhan yang diperhitungkan dalam perhitungan laba rugi pada satu periode. Kewajiban Pajak Tangguhan (Deferred Tax Liabilities) adalah pajak penghasilan terhutang untuk periode mendatang sebagai akibat adanya perbedaan temporer kena pajak.

Aktiva Pajak Tangguhan (Deferred Tax Assets) adalah jumlah pajak penghasilan terpulihkan pada periode mendatang sebagai akibat adanya:

a. Perbedaan temporer yang boleh dikurangkan b. Sisa kompensasi kerugian

Perbedaan Temporer (Temporary Differences) adalah selisih antara nilai tercatat aktiva dengan Dasar Pengenaan Pajak (DPP) Aktiva dan nilai tercatat kewajiban dengan DPP-nya. Perbedaan temporer dapat berupa :

a. Perbedaan Temporer Kena Pajak (Taxable Temporary Differences) adalah perbedaan temporer yang menimbulkan suatu Jumlah Kena Pajak (Taxable Amounts) dalam penghitungan laba fiskal periode

(47)

mendatang pada saat nilai tercatat aktiva dipulihkan (recovered) atau nilai tercatat kewajiban tersebut dilunasi (settled).

b. Perbedaan Temporer yang Boleh Dikurangkan (Deductible Temporary Differences) adalah perbedaan temporer yang menimbulkan suatu Jumlah yang Boleh Dikurangkan (Deductible Amounts) dalam penghitungan laba fiskal periode mendatang pada saat nilai tercatat aktiva dipulihkan (recovered) atau nilai tercatat kewajiban tersebut dilunasi (settled).

Perbedaan Permanen (Permanent Differences) disebabkan oleh pos-pos yang (1) termasuk dalam laba keuangan sebelum pajak tetapi tidak pernah termasuk dalam laba kena pajak atau (2) termasuk dalam laba kena pajak tetapi tidak pernah termasuk dalam laba keuangan sebelum pajak.

a. Laba Akuntansi adalah laba (rugi) bersih selama satu periode sebelum dikurangi beban pajak

b. Laba Fiskal adalah laba (rugi) bersih selama satu periode yang dihitung berdasarkan peraturan perpajakan dan yang menjadi dasar penghitungan Pajak Penghasilan.

a. Nilai Buku Akuntansi adalah nilai tercatat aktiva atau nilai tercatat kewajiban menurut pembukuan atau akuntansi.

b. Nilai Buku Fiskal adalah nilai tercatat aktiva atau nilai tercatat kewajiban yang diakui oleh Direktorat Jenderal Pajak dalam penghitungan laba fiskal.

Dasar Pengenaan Pajak (DPP) adalah nilai aktiva atau kewajiban

(48)

yang diakui dalam penghitungan fiskal. DPP Aktiva adalah jumlah yang dapat dikurangkan, untuk tujuan fiskal, terhadap setiap penghasilan kena pajak yang akan diterima perusahaan pada saat memulihkan nilai tercatat aktiva tersebut. DPP Kewajiban adalah nilai tercatat kewajiban dikurangi setiap jumlah yang dapat dikurangkan pada masa mendatang.

Dalam suatu periode pajak, bisa jadi sebuah perusahaan membayar pajak lebih kecil. Padahal, sebenarnya memiliki potensi hutang pajak yang lebih besar atau bisa juga sebaliknya. PPh di masa datang perlu diakui, dihitung, dan disajikan, dalam laporan keuangan perusahaan yang meliputi neraca dan perhitungan rugi laba.

Secara umum, proses akuntansinya meliputi 4 tahapan yaitu : 1. Pengakuan (Recognition)

Perbedaan temporer dan tax loss carry forward (TLCF) tersebut harus diakui dalam laporan keuangan. Dengan adanya pengakuan tersebut, menunjukkan itikad perusahaan untuk memulihkan deferred tax asset (DTA) atau melunasi deferred tax liability (DTL) sehingga di masa yang akan datang jumlah biaya atau pendapatan yang diakui sama antara akuntasi perusahaan dan akuntansi pajak.

2.. Pengukuran (Measurement)

Berdasarkan buku besar perusahaan, pajak tangguhan akan dihitung menggunakan tarif efektif yang berlaku di masa datang.

Biasanya, tarif yang digunakan adalah tarif PPh tertinggi, yaitu 30%,

(49)

walaupun tarif sebenarnya bersifat progresif.

3. Penyajian (Presentation)

Penyajian yang dimaksud adalah laporan keuangan, meliputi neraca dan perhitungan rugi laba. Dalam penyajiannya, DTA atau DTL dipisahkan dari aktiva atau kewajiban kini dalam unsur non current.

4. Pengungkapan (Disclosure)

Informasi mengenai unsur-unsur yang menimbulkan pajak tangguhan perlu diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.

2. Pengakuan Aktiva dan Kewajiban Pajak Kini

a. Pajak Kini yang belum dibayar harus diakui sebagai kewajiban.

b. Apabila jumlah pajak yang telah dibayar untuk periode berjalan dan periode-periode sebelumnya melebihi jumlah pajak yang terhutang untuk periode-periode tersebut, maka selisihnya diakui sebagai aktiva.

3. Pengakuan Kewajiban Pajak Tangguhan

Perbedaan Temporer Kena Pajak Semua perbedaan temporer kena pajak diakui sebagai kewajiban pajak tangguhan, kecuali jika timbul perbedaan temporer kena pajak :

a. Dari goodwill yang amortisasinya tidak dapat dikurangkan untuk tujuan fiscal, atau

b. Pada saat pengakuan awal aktiva dan kewajiban dari suatu transaksi yang bukan transaksi penggabungan usaha dan pada saat transaksi, tidak mempengaruhi laba akuntansi dan laba fiscal.

(50)

Pengakuan suatu aktiva mengandung makna bahwa nilai tercatat aktiva tersebut akan terpulihkan dalam bentuk manfaat ekonomi yang akan diterima oleh perusahaan pada periode mendatang. Apabila nilai tercatat aktiva lebih besar daripada DPP-nya, jumlah manfaat ekonomi yang kena pajak akan melebihi jumlah yang dapat dikurangkan untuk tujuan fiskal.

Perbedaan ini merupakan perbedaan temporer kena pajak dan kewajiban pajak tangguhan. Pada saat perusahaan memulihkan (recover) nilai tercatat aktiva, perbedaan temporer kena pajak akan terealisasi menjadi laba fiskal.

Hal ini dapat mengakibatkan timbulnya kewajiban pajak. Oleh karena itu, pernyataan ini menghendaki pengakuan semua kewajiban pajak tangguhan, kecuali pada kondisi tertentu.

4. Pengakuan Aktiva Pajak Tangguhan

Aktiva pajak tangguhan diakui untuk seluruh perbedaan temporer yang boleh dikurangkan, sepanjang besar kemungkinan dapat dimanfaatkan untuk mengurangi laba fiskal pada masa yang akan datang, kecuali aktiva pajak tangguhan yang timbul :

a. goodwil negatif yang diakui sebagai pendapatan tangguhan sesuai dengan PSAK 22 tentang akuntansi penggabungan usaha; atau

b. pada saat pengakuan awal aktiva dan kewajiban dari suatu transaksi yang bukan transaksi penggabungan usaha dan pada saat transaksi, tidak mempengaruhi laba akuntansi dan laba fiskal.

5. Saldo Rugi Fiskal yang dapat Dikompensasi

Saldo rugi fiskal yang dapat dikompensasi diakui sebagai aktiva pajak

(51)

tangguhan apabila besar kemungkinan bahwa laba fiskal pada masa yang akan datang memadai untuk dikompensasi. Kompensasi kerugian akan mengakibatkan berkurangnya laba kena pajak, sehingga akan mengurangi beban pajak kini pada tahun-tahun berikutnya. Laporan keuangan harus mengungkapkan besarnya rugi fiskal yang masih dapat dikompensasi pada catatan atas laporan keuangan.

6. Penyajian Aktiva dan Kewajiban Pajak

a. Aktiva pajak dan kewajiban pajak harus disajikan terpisah dari aktiva dan kewajiban lainnya dalam neraca.

b. Aktiva dan kewajiban pajak tangguhan harus dibedakan dari aktiva pajak kini dan kewajiban pajak kini.

c. Apabila dalam laporan keuangan, aktiva dan kewajiban lancar disajikan terpisah dari aktiva dan kewajiban tidak lancar maka aktiva (kewajiban) pajak tangguhan tidak boleh disajikan sebagai aktiva (kewajiban) lancar.

d. Aktiva pajak kini harus dikompensasi dengan kewajiban pajak kini dan jumlah netonya disajikan di neraca.

e. Beban (penghasilan) pajak yang berhubungan dengan laba (rugi) dari aktivitas normalnya disajikan tersendiri pada laporan keuangan.

(52)

E. Kerangka Pikir

Untuk lebih jelasnya akan disajikan kerangka pikir yang dapat digambarkan sebagai berikut :

Skema 3.1. Kerangka Pikir

PT. Bank Sulselbar

Laporan Keuangan

Menurut Perusahaan Menurut Undang –undang

Koreksi Fiskal

Laporan Fiskal

(53)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi

Untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini, penulis mengadakan penelitian di Kabupaten Barru dan yang menjadi objek penelitian adalah PT.

Bank Sulselbar 2 Waktu Penelitian

Waktu penelitian rencananya dilaksanakan paling 2 bulan.

B. Metode Penelitian

Metode Penelitian adalah suatu teknis atau cara mencari, memperoleh, mengumpulkan atau mencatat data, baik berupa data primer maupun data sekunder yang digunakan untuk keperluan menyusun suatu karya ilmiah dan kemudian menganalisa faktor-faktor yang berhubungan dengan pokok-pokok permasalahan sehingga akan terdapat suatu kebenaran. Adapun metode yang digunakan oleh penulis sebgai berikut :

1. Field Research yaitu mengadakan penelitian dilapangan secara langsung pada objek yang dituju, dengan mengambil data yang diperlukan. Dalam metode Field Research ini peneliti menempuh jalur penelitian :

a. Metode Interview, yaitu peneliti mengadakan wawancara atau tanya hawab dengan pihak-pihak yang dianggap dapat memberikan informasi dalam PT. Bank Sulselbar untuk memperoleh data dan informasi yang diperlukan.

(54)

b. Metode dokumentasi, yaitu peneliti mengambil data dari dokumen atau arsip-arsip yang diberikan oleh pihak PT. Bank Sulselbar yang relevan dengan permasalahan yang dibahas.

2. Library Research yaitu penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan data sekunder yaitu data yang didapatkan dengan menelaah buku- buku, literatur, karya tulis serta data yang didapatkan dari penelusuran media internet atau media lain yang ada hubungannya dengan penulisan skripsi ini.

C. Jenis dan Sumber Data

1. Jenis data yang digunakan adalah sebagai berikut :

a. Data Kuantitatif , yaitu data yang merupakan kumpulan dari data angka-angka, misalnya berupa besarnya jumlah PPh terhutang yang dilaporkan oleh PT. Bank Sulselbar serta data lainnya yang ada kaitannya dengan penyusunan skripsi ini.

b. Data Kualitatif, yaitu data yang merupakan kumpulan dari datanon angka yang sifatnya deskriptif berskala nominal dan ordinal, seperti sejarah berdirinya PT. Bank Sulselbar, pembagian tugas dan wewenang serta Struktur Organisasinya.

2. Sumber Data yang diperoleh adalah :

a. Data Primer, yaitu data yang diperoleh dengan cara observasi langsung berupa pengamatan serta wawancara dengan beberapa karyawan yang bekerja dalam PT. Bank Sulselbar.

(55)

b. Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh dengan mengumpulkan dokumen-dokumen serta informasi tertulis lainnya yang berhubungan dengan penulisan skripsi ini.

D. Defenisi Operasional

Defenisi operasional dimaksudkan untuk menghindari kesalahan pemehaman dan perbedaan penafsiran yang berkaitan dengan istilah-istilah dalam judul skripsi. Sesaui dengan judul yaitu “Analisis perhitungan, penyetoran dan pelaporan PPh Badan dengan metode equalisasi dan menjadikan Tax Bases sebagai dasar perhitungan”, maka defenisi operasional yang perlu dijelaskan, yaitu :

1. Perhitungan adalah penjumlahan nilai pajak terhutang perusahaan yang harus dibayarkan.

2. Pembayaran atau penyetoran pajak dengan menggunakan formulir ke kas negara memalui tempat pembayaran yang telah ditunjuk oleh Menteri Keuangan.

3. Pelaporan adalah penyampaian ke kantor pajak mengenai jumlah setoran pajak yang telah dibayarkan oleh pihak perusahan.

4. Ekualisasi Pajak adalah pemeriksaan tingkat keseimbangan antara satu jenis pajak dengan jenis pajak lain yang memiliki hubungan.

5. Tax Bases adalah nilai uang yang dijadikan dasar perhitungan pajak terhutang dengan mengalikan tarif pajaknya.

(56)

E. Metode Analisis

Untuk membahas masalah yang dikemukakan diatas, maka metode analisis yang digunakan penulis adalah Deskriptif kuantitatif terdiri dari data berupa angka-angka yang diperoleh dari jumlah asset dan kewajiban pajak tangguhan, beban dan kewajiban pajak tangguhan yang disajikan dalam laporan keuangan.

(57)

BAB IV

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN A. Sejarah PT Bank Sulselbar

Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan didirikan di Makassar pada tanggal 13 Januari 1961 dengan nama PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan Tenggara sesuai dengan Akta Notaris Raden Kadiman di Jakarta No. 95 tanggal 23 Januari 1961. Kemudian berdasarkan Akta Notaris Raden Kadiman No. 67 tanggal 13 Juli 1961 nama PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan Tenggara diubah menjadi Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan Tenggara.

Berdasarkan Peraturan Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Tenggara No.

002 tahun 1964 tanggal 12 Februari 1964, nama Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan Tenggara diubah menjadi Bank Pembangunan Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Tenggara dengan modal dasar Rp250.000.000. Dengan pemisahan antara Propinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan dengan Propinsi Tingkat I Sulawesi Tenggara, maka pada akhirnya Bank berganti nama menjadi Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan.

Dengan lahirnya Peraturan Daerah No. 01 tahun 1993 dan penetapan modal dasar menjadi Rp25 milyar, Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan dengan sebutan Bank BPD Sulsel dan berstatus Perusahaan Daerah (PD).

Selanjutnya dalam rangka perubahan status dari Perusahaan Daerah (PD) menjadi Perseroan Terbatas (PT) diatur dalam Peraturan Daerah No. 13 tahun 2003 tentang Perubahan Status Bentuk Badan Hukum Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan dari PD menjadi PT dengan Modal Dasar Rp. 650 milyar.

Referensi

Dokumen terkait

Penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan tertentu, yang dipotong Pajak Pengahsilan yang

Pajak Penghasilan pasal 21 adalah Pajak Penghasilan yang dikenakan atas penghasilan sehubungan dengan imbalan atas pekerjaan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan oleh wajib pajak

jiwa, asuransi dwiguna dan asuransi beasiswa. Penerimaan dalam bentuk natura dan kenikmatan lainnya dengan nama apa pun yang diberikan oleh Pemerintah maupun Wajib Pajak. Iuran

Ketentuan Pasal 4 ayat (3) huruf d diubah sehingga berbunyi:"d.penggantian atau imbalan berkenaan dcngan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan

Wajib Pajak badan, bentuk usaha tetap, atau Wajib Pajak luar negeri, atas pembayaran imbalan sehubungan dengan jasa dari pihak lain tersebut yang termasuk dalam

Pemberi kerja wajib memotong pajak atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang diterima atau

Daftarkan Juli 2023 3 Perlakuan PPh atas Penggantian atau Imbalan Dalam Bentuk Natura d..... Perlakuan PPh atas Penggantian atau Imbalan Dalam Bentuk Natura

Contoh Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 26 Sehubungan Dengan Pekerjaan, Jasa, Atau Kegiatan Atas Penghasilan Yang Diterima Atau Diperoleh Pegawai Yang Berstatus Wajib Pajak Luar