PASAL 1.
PERSYARATAN TEKNIS UMUM
1.1. LINGKUP
1.1.1. Persyaratan Teknis Umum ini merupakan persyaratan dari segi teknis yang secara umum berlaku untuk seluruh bagian pekerjaan, dimana persyaratan ini bisa diterapkan untuk pelaksanaan pekerjaan “PENINGKATAN JALUR AKSESBILITAS, SARANA INFORMASI DAN PENATAAN ZONA 1 CANDI BOROBUDUR" Yang berlokasi di Zona 1 Kawasan Candi Borobudur, Kab. Magelang, Propinsi Jawa Tengah yang meliputi :
A. Pekerjaan Sipil;
B. Pekerjaan Arsitektur;
C. Pekerjaan Landscape D. Pekerjaan Mekanikal;
E. Pekerjaan Elektrikal;
Secara lengkap seluruh jenis/ uraian pekerjaan tersebut dapat diuraikan/ disesuaikan/
dilihat dan tercantum pada Bill Of Quantity (BQ).
1.1.2. Kecuali disebut secara khusus dalam Persyaratan Teknis Umum ini berikut lingkup pekerjaan yang ditugaskan, namun bersifat tidak terbatas pada hal-hal sebagai berikut:
a. Pengadaan tenaga kerja;
b. Pengadaan peralatan & alat bantu, sesuai dengan kebutuhan lingkup pekerjaan yang ditugaskan untuk mempermudah pelaksanaan pekerjaan;
c. Koordinasi dengan Pemborong/ Pekerja lain yang berhubungan dengan pekerjaan pada bagian pekerjan yang ditugaskan;
d. Penjagaan kebersihan, kerapian, dan keamanan kerja;
e. Pembuatan As Built Drawing (gambar terlaksana).
1.1.3. Persyaratan Teknis Umum ini menjadi satu kesatuan dengan persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan dan secara bersama – sama merupakan persyaratan dari segii teknis bagi seluruh pekerjaan sebagaimana diungkapkan dalam satu atau lebih dari dokumen berikut ini :
a. Gambar-gambar pelelangan/ pelaksanaan;
b. Persyaratan Teknis Umum/ pelaksanaan pekerjaan/ bahan;
c. Rincian volume pekerjaan/ rincian penawaran;
d. Dokumen-dokumen pelelangan/ pelaksanaan yang lain.
1.1.4. Dalam hal mana ada bagian dari Persyaratan Teknis Umum ini, yang tidak dapat diterapkan pada bagian pekerjaan sebagaimana diungkapkan di atas, maka bagian dari Persyaratan Teknis Umum tersebut dengan sendirinya dianggap tidak berlaku.
1.2. REFERENSI
1.2.1. Seluruh pekerjaan harus dilaksanakan dengan mengikuti dan memenuhi persyaratan- persyaratan teknis yang tertera dalam Standar Nasional Indonesia (SNI), Normalisasi Indonesia, dan Peraturan-peraturan Nasional maupun Peraturan-peraturan setempat lainnya yang berlaku atau jenis - jenis pekerjaan yang bersangkutan antara lain :
SNI 03-1726-2002;
SNI 03-2847-2002;
NI - 2 (1971) PERATURAN BETON BERTULANG INDONESIA;
NI-(1983)PERATURAN PERENCANAAN BANGUNAN BAJA INDONESIA (SKBI.1.3.55.1987);
NI-3(1970)PERATURAN UMUM UNTUK BAHAN BANGUNAN DI INDONESIA;
NI-5 PERATURAN KONSTRUKSI KAYU INDONESIA;
NI-8 PERATURAN SEMEN PORTLAND INDONESIA;
NI-10 BATA MERAH SEBAGAI BAHAN BANGUNAN;
SNI 8153-2015 tentang sistem plumbing pada bangunan gedung;
SNI 03-6481-2000 tentang plumbing
SNI 0225:2011 tentang PUIL (Persyaratan Umum Instalasi Listrik) 2011;
ASTM, JJ
PERMENKES NO. 24 TAHUN 2016 Tentang Persyaratan Bangunan Kesehatan
Dan Peraturan lain sebagianya yang dianggap berhubungan dengan bagian pekerjaan ini.
Untuk pekerjaan yang belum termasuk dalam standart-standart yang tersebut di atas, maupun standart nasional lainnya, maka diberlakukan standart Internasional yang berlaku atas pekerjaan tersebut atau setidak-tidaknya berlaku standart- standart Persyaratan Teknis dari negara-negara asal bahan/ pekerjaan yang bersangkutan dan dari produk yang ditentukan pabrik pembuatnya.
1.2.2. Dalam hal dimana ada bagian pekerjaan yang persyaratan teknisnya tidak diatur dalam Persyaratan Teknis Umum/ Khusus maupun salah satu dari ketentuan yang disebutkan di atas, maka atas bagian pekerjaan tersebut Pemborong harus
mengajukan salah satu dari persyaratan-persyaratan berikut guna disepakati Direksi untuk dipakai sebagai patokan persyaratan teknis :
a. Standart/ norma/ kode/ pedoman yang bisa diterapkan pada bagian pekerjan bersangkutan yang diterbitkan oleh Instansi/ Institusi/ Asosiasi Profesi/ Asosiasi Produsen/ Lembaga Pengujian atau Badan-Badan lain yang berwewenang/
berkepentingan atau Badan-Badan yang bersifat Internasional ataupun Nasional dari Negara lain, sejauh bahwa atau hal tersebut diperoleh persetujuan dari Direksi/ Pengawas;
b. Brosur teknis dari produsen yang didukung oleh sertifikat dari Lembaga pengujian yang diakui secara Nasional/ Internasional.
1.3. BAHAN
1.3.1. Baru/ Bekas
Kecuali ditetapkan lain secara khusus, maka semua bahan yang dipergunakan untuk pekerjaan ini harus merupakan bahan yang baru, penggunaan barang bekas dalam komponen kecil maupun besar sama sekali tidak diperbolehkan.
1.3.2. Tanda Pengenal
a. Dalam hal dimana pabrik/ produsen bahan mengeluarkan tanda pengenal untuk produk bahan yang dihasilkan, baik berupa cap/ merk dagang pengenal pabrik/
produsen bersangkutan yang dipergunakan dalam pekerjaan ini harus mengandung tanda pengenal tersebut;
b. Khusus untuk bahan bagi pekerjaan instalasi (penerangan, plumbing, dll) kecuali ditetapkan oleh Direksi/ Pengawas, bahan sejenis dengan fungsi yang sama harus diberi tanda pengenal untuk membedakan satu bahan dari bahan lainnya. Tanda pengenal ini bisa berupa warna atau tanda-tanda lain yang mana harus sesuai dengan referensi pada I.2. tersebut di atas atau dalam hal dimana tidak/ belum ada pengaturan yang jelas mengenai itu, hal ini harus dilaksanakan sesuai petunjuk Direksi/ Pengawas.
1.3.3. Merk Dagang dan Kesetaraan.
a. Penyebutan kesetaraan sesuatu merk dagang bagi suatu bahan/ produk di dalam Persyaratan Teknis Umum, secara umum harus diartikan sebagai persyaratan kesetaraan kwalitas penampilan (performance) dari bahan/ produk tersebut, yang mana dinyatakan dengan kata-kata “atau yang setara“;
b. Kecuali secara khusus dipersyaratkan lain, maka bahan/ produk lain dapat digunakan dengan dibuktikan mempunyai kwalitas penampilan yang setara dengan bahan/ produk yang memakai merk dagang tertentu;
c. Kesetaraan produk, dapat diterima sejauh bahwa untuk itu telah diperoleh persetujuan tertulis dari Direksi/ Pengawas atas Kesetaraan tersebut;
d. Penggunaan bahan/ produk yang disetujui sebagai “setara” tidak dianggap sebagai perubahan pekerjaan.
e. Sejauh bisa memenuhi persyaratan teknis yang ditetapkan, untuk penggunaan produksi dalam negeri lebih diutamakan.
1.3.4. Penggantian (Substitusi)
a. Pemborong/ Supplier bisa mengajukan usulan untuk mengganti sesuatu bahan/
produk lain dengan penampilan, kualifikasi, spesifikasi yang setara dengan yang dipersyaratkan.
b. Dalam persetujuan atau sesuatu penggantian (substitusi), perbedaan harga yang ada dengan bahan/ produk yang dipersyaratkan akan diperhitungkan sebagai perubahan pekerjaan dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Dalam hal dimana penggantian disebabkan karena kegagalan Pemborong/
Supplier seperti yang dipersyaratkan, maka perubahan pekerjaan yang bersifat biaya tambah dianggap tidak ada;
2. Dalam hal dimana penggantian dapat disepakati oleh Direksi/ Pengawas dan pemberi Tugas sebagai masukan (Input) baru yang menyangkut nilai tambah, maka perubahan pekerjaan yang mengakibatkan biaya tambah dapat diperkenankan.
1.3.5. Persetujuan Bahan
a. Untuk menghindarkan penolakan bahan di lapangan, dianjurkan dengan sangat agar sebelum sesuatu bahan/ produk akan dibeli/ dipesan/ diproduksi, terlebih dahulu dimintakan persetujuan dari Direksi/ Pengawas atas kesesuaian dari bahan/ Produk tersebut pada Persyaratan Teknis, yang mana akan diberikan dalam bentuk tertulis yang dilampirkan pada contoh/ brosur dari bahan/ produk yang bersangkutan untuk diserahkan kepada Direksi/ Pengawas Lapangan;
b. Penolakan bahan di lapangan karena diabaikannya prosedur di atas sepenuhnya merupakan tanggung jawab Pemborong/ Supplier, yang mana tidak dapat diberikan pertimbangan keringanan apapun.
1.3.6. Contoh Bahan/ Material
Pada waktu memintakan persetujuan atas bahan/ produk kepada Direksi/ Pengawas harus disertakan contoh dari bahan/ produk tesebut dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Jumlah Contoh
1. Untuk bahan/ produk bila tidak dapat diberikan sesuai sertifikat pengujian yang dapat disetujui/ diterima oleh Direksi/ Pengawas sehingga oleh karenanya perlu diadakan pengujian kepada Direksi/ Pengawas harus diserahkan sejumlah bahan produk sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam standart prosedur pengujian, untuk dijadikan benda uji guna diserahkan pada Badan/
Lembaga Penguji yang ditunjuk oleh Direksi/ Pengawas;
2. Untuk Bahan/ produk atau bilamana dapat ditunjukan sertifikat pengujian yang dapat disetujui/ diterima oleh Direksi/ Pengawas, kepada Direksi/ Pengawas harus diserahkan 3 (tiga) buah contoh yang masing masing disertai dengan salinan sertifikat pengujian yang bersangkutan.
b. Contoh yang Disetujui
1. Dari contoh yang diserahkan kepada Direksi/ Pengawas atau contoh yang telah memperoleh persetujuan dari Direksi/ Pengawas harus dibuat suatu keterangan tertulis mengenai persetujuannya dan disamping itu, oleh Direksi/ Pengawas harus dipasangkan tanda pengenal persetujuannya pada 3 (tiga) buah contoh yang semuanya akan dipegang oleh Direksi/ Pengawas. Bila dikehendaki, Pemborong/ Supplier dapat meminta sejumlah set tambahan dari contoh berikut tanda pengenal persetujuan dan surat keterangan persetujuan untuk kepentingan Dokumentasi sendiri. Dengan demikian jumlah contoh yang harus diserahkan kepada Direksi/ Pengawas harus ditambah seperlunya sesuai dengan kebutuhan tambahan tersebut;
2. Pada waktu Direksi/ Pengawas sudah tidak lagi membutuhkan contoh yang disetujui tersebut untuk pemeriksaan bahan produk bagi pekerjaan, Pemborong berhak meminta kembali contoh tersebut untuk dipasangkan pada pekerjaan.
c. Waktu Persetujuan Contoh
1. Adalah tanggung jawab dari Pemborong/ Supplier untuk mengajukan contoh pada waktunya, sedemikian sehingga pemberian persetujuan atau contoh tersebut tidak akan menyebabkan keterlambatan pada jadwal pengadaan bahan;
2. Untuk bahan/ produk yang persyaratannya tidak dikaitkan dengan kesetaraan pada suatu merk dagang tertentu, keputusan atau contoh akan diberikan oleh Direksi/ Pengawas dalam waktu tidak lebih dari 10 (sepuluh) hari kerja. Dalam hal dimana persetujuan tersebut akan melibatkan keputusan tambahan diluar persyaratan teknis (seperti penentuan model,
warna, dll), maka keseluruhan keputusan akan diberikan dalam waktu tidak lebih dari 21 (dua puluh satu) hari kerja;
3. Untuk bahan/ produk yang masih harus dibuktikan kesetaraannya dengan suatu merk dagang yang disebutkan, keputusan atau contoh akan diberikan oleh Direksi/ Pengawas dalam waktu 21 (dua puluh satu) hari kerja sejak dilengkapinya pembuktian kesetaraan;
4. Untuk bahan/ Produk yang bersifat pengganti/ substitusi, keputusan persetujuan akan diberikan oleh Direksi/ Pengawas dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya dengan lengkap seluruh bahan pertimbangan;
5. Untuk bahan/ produk yang bersifat peralatan/ perlengkapan atau pun produk yang lain karena sifat/ jumlah/ harga pengadaanya tidak memungkinkan untuk diberikan contoh dalam bentuk bahan/ produk jadi permintaan persetujuan bisa diajukan berdasarkan Brosur dari produk tersebut, yang mana harus dilengkapi dengan :
Spesifikasi Teknis lengkap yang dikeluarkan oleh pabrik/ produsen;
Surat surat seperlunya dari agen/ importer, sesuai keagenan, surat jaminan suku cadang dan jasa purna (after sales service) dan lain-lain;
Katalog untuk warna, pekerjaan penyelesaian (finishing) dan lain-lain;
Sertifikat pengujian, penetapan, kelas, dan dokumen-dokumen lain sesuai petunjuk Direksi/ Pengawas.
6. Apabila setelah melewati waktu yang ditetapkan di atas, keputusan, keputusan atau contoh dari bahan/ Produk yang diajukan belum diperoleh tanpa pemberitahuan tertulis apapun dari Direksi/ Pengawas, maka dengan sendirinya dianggap bahwa contoh yang diajukan telah disetujui oleh Direksi/ Pengawas.
1.3.7. Penyimpanan Bahan
a. Persetujuan atas suatu bahan/ produk harus diartikan sebagai perijinan untuk memasukan bahan produk tersebut dengan tetap berada dalam kondisi layak untuk dipakai. Apabila selama waktu itu ternyata bahwa bahan/ produk tidak layak untuk dipakai dalam pekerjaan, Direksi/ Pengawas berhak memerintahkan agar :
1. Bahan atau Produk tersebut segera diperbaiki sehingga kembali menjadi layak untuk dipakai;
2. Dalam hal mana perbaikan tidak lagi mungkin, supaya bahan/ produk tersebut segera dikeluarkan dari lokasi pekerjaan selama 2x24 jam untuk diganti dengan yang memenuhi persyaratan.
b. Untuk bahan/ produk yang mempunyai umur pemakaian yang tertentu penyimpanannya harus dikelompokan menurut umur pemakaian tersebut yang mana harus dinyatakan dengan tanda pengenal dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Terbuat dari kaleng atau kertas karton yang tidak akan rusak selama penggunaan ini;
2. Berukuran minimal 40x60 cm;
3. Huruf berukuran minimum 10 cm dengan warna merah;
4. Diletakkan di tempat yang mudah terlihat.
c. Penyusunan bahan sejenis selama penyimpanan harus diatur sedemikian rupa sehingga bahan yang terlebih dahulu masuk akan lebih dulu pula dikeluarkan untuk dipakai dalam pekerjaan.
1.4. PELAKSANAAN
1.4.1. Rencana Pelaksanaan
a. Dalam waktu 7 (tujuh) hari sejak ditandatanganinya Surat Perintah Kerja (SPK) oleh kedua belah pihak, Pemborong harus menyerahkan kepada Direksi/ Pengawas sebuah “Network Planning”/ “Time Schedule” mengenai seluruh kegiatan yang perlu dilakukan untuk melaksanakan pekerjaan ini dalam diagram yang menyatakan urutan serta kaitan/ hubungan antara seluruh kegiatan- kegiaan tersebut.
b. Rencana kegiatan Pemborong untuk/ selama masa pengadaan/ pembelian serta waktu pengiriman/ pengangkutan dari :
1. Bahan, elemen, komponen dari pekerjaan maupun pekerjaan persiapan/
pembantu;
2. Peralatan dan perlengkapan untuk pekerjaan.
c. Kegiatan kegiatan Pemborong untuk/ selama waktu fabrikasi, pemasangan dan pembangunan;
d. Pembuatan gambar-gambar kerja (Shop Drawing);
e. Permintaaan persetujuan atau bahan serta gambar kerja maupun rencana kerja.
f. Jadwal untuk seluruh kegiatan tersebut Direksi/ Pengawas akan memeriksa rencana kerja Pemborong dan memberikan tanggapan dalam waktu 2 (dua) minggu.
g. Pemborong harus memasukkan kembali perbaikan/ penyempurnaan atau rencana kerja kepada Direksi/ Pengawas dan bila Direksi/ Pengawas meminta diadakannya perbaikan/ penyempurnaan atau rencana kerja tadi paling lambat 4 (empat) hari sebelum dimulainya pelaksanaan.
h. Pemborong tidak dibenarkan memulai suatu pelaksanaan atau pekerjaan sebelum adanya persetujuan dari Direksi/ Pengawas atau rencana kerja ini. Kecuali dapat dibuktikan bahwa Direksi/ Pengawas telah melalaikan kewajibannya untuk memeriksa rencana kerja Pemborong pada waktunya, maka kegagalan Pemborong untuk memulai pekerjaan sehubungan dengan belum adanya rencana kerja yang memulai pekerjaan yang disetujui Direksi, sepenuhnya merupakan tanggung jawab dari Pemborong bersangkutan.
1.4.2. Gambar Kerja (Shop Drawing)
a. Untuk bagian-bagian pekerjaan dimana gambar pelaksanaan (Construction Drawings) belum cukup memberikan petunjuk mengenai cara untuk mencapai keadaan terlaksana, Pemborong wajib untuk mempersiapkan gambar kerja yang secara terperinci akan memperlihatkan cara pelaksanaan tersebut;
b. Format dari gambar kerja harus sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Direksi/
Pegawas;
c. Gambar kerja harus diajukan kepada Direksi/ Pengawas untuk mendapatkan persetujuan untuk mana gambar-gambar tersebut di atas harus diserahkan dalam rangkap 2 (dua);
d. Pengajuan gambar kerja tersebut paling lambat 14 (empat belas) hari sebelum pemesanan bahan atau Pelaksanaan pekerjaan dimulai.
1.4.3. Ijin Pelaksanaan
Ijin pelaksanaan paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum memulai pekerjaan tersebut, Pemborong diwajibkan untuk mengajukan ijin pelaksanaan secara tertulis kepada Direksi/ Pengawas dengan dilampiri gambar kerja yang sudah disetujui. Ijin pelaksanaan yang disetujui sebagai pegangan Pemborong untuk melaksanakan pada bagian pekerjaan tersebut.
1.4.4. Contoh Pekerjaan (Mock Up).
Bila dikehendaki oleh Direksi/ Pengawas, Pemborong wajib menyediakan sebelum pekerjaan dimulai.
1.4.5. Rencana Mingguan dan Bulanan.
a. Selambat-lambatnya pada setiap hari Sabtu dalam masa dimana pelaksanaan pekerjaan berlangsung, Pemborong wajib untuk menyerahkan kepada Direksi/
Pengawas suatu rencana mingguan yang berisi rencana pelaksanaan dari berbagai bagian pekerjaan yang akan dilaksanakan dalam minggu berikutnya;
b. Selambat-lambatnya pada minggu terakhir dari tiap bulan, Pemborong wajib menyerahkan kepada Direksi/ Pengawas suatu rencana bulanan yang menggambarkan dalam garis besarnya, berbagai rencana pelaksanaan dari berbagai bagian pekerjaan yang direncanakan untuk dilaksanakan dalam bulan berikutnya;
c. Kelalaian Pemborong untuk menyusun dan menyerahkan rencanan mingguan maupun bulanan dinilai sama dengan kelalaian dalam melaksanakan perintah Direksi/ Pengawas dalam melaksanakan pekerjaan;
d. Untuk memulai suatu bagian pekerjaan yang baru, Pemborong diwajibkan untuk memberitahu Direksi/ Pengawas mengenai hal tersebut paling sedikit 2x24 jam sebelumnya.
1.4.6. Kualitas Pekerjaan
Pekerjaan harus dikerjakan dengan kualitas pengerjaan yang terbaik untuk jenis pekerjaan bersangkutan.
1.4.7. Pengujian Hasil Pekerjaan
a. Kecuali dipersyaratkan lain secara khusus, maka semua pekerjaan akan diuji dengan cara dan tolak ukur pengujian yang dipersyaratkan dalam referensi yang ditetapkan dalam pada Pasal I.2. dari Persyaratan Teknis Umum ini;
b. Kecuali dipersyaratkan lain secara khusus, maka Badan/ Lembaga yang akan melakukan pengujian dipilih atas persetujuan Direksi/ Pengawas dari Lembaga/
Badan Penguji milik Pemerintah atau yang diakui Pemerintah atau Badan lain yang oleh Direksi/ Pengawas dianggap memiliki obyektifitas dan Integritas yang meyakinkan. Atau hal yang terakhir ini Pemborong/ Supplier tidak berhak mengajukan sanggahan;
c. Semua biaya pengujian dalam jumlah seperti yang dipersyaratkan menjadi beban Pemborong;
d. Dalam hal dimana Pemborong tidak dapat menyetujui hasil pengujian dari bahan penguji yang ditunjuk oleh Direksi, Pemborong berhak mengadakan pengujian tambahan pada Lembaga/ Badan lain yang memenuhi persyaratan Badan Penguji seperti tersebut di atas untuk mana seluruh pembiayaannya ditanggung sendiri oleh Pemborong;
e. Apabila ternyata bahwa kedua hasil pengujian dari kedua Badan tersebut memberikan kesimpulan yang berbeda, maka dapat dipilih untuk :
1. Memilih Badan/ Lembaga Penguji ketiga atau kesepakatan bersama.
2. Melakukan pengujian ulang pada bahan/ lembaga Penguji pertama atau kedua dengan ketentuan tambahan sebagai berikut :
- Pelaksanaan pengujian ulang harus disaksikan oleh Direksi/ Pengawas dan Pemborong/ Supplier maupun wakil-wakilnya.
- Pada pengujian ulang harus dikonfirmasikan penerapan dari alat alat penguji.
3. Hasil dari pengujian ulang harus dianggap final, kecuali bilamana kedua belah pihak sepakat untuk menganggapnya demikian;
4. Apabila hasil pengujian ulang mengkonfirmasikan kesimpulan dari hasil pengujian yang pertama, maka semua akibat langsung maupun tidak langsung dari adanya semua pengulangan pengujian menjadi tanggung jawab Pemborong/ Supplier;
5. Apabila hasil pengujian ulang menunjukan ketidaktepatan kesimpulan dari hasil pengujian yang kedua, maka:
- 2 (dua) dari 3 (tiga) penguji yang bersangkutan, atas pilihan Pemborong/
Supplier akan diperlakukan sebagai pekerjaan tambah.
- Atas segala penundaan pekerjaan akibat adanya penambahan/ pengulangan pengujian akan diberikan tambahan waktu pelaksanaan pada bagian pekerjaan bersangkutan dan bagian bagian lain yang terkena akibatnya, penambahan mana besarnya adalah sesuai dengan penundaan yang terjadi 1.4.8. Penutupan Hasil Pelaksanaan Pekerjaan
a. Sebelum menutup suatu bagian pekerjaan dangan bagian pekerjaan yang lain yang mana akan secara visual menghalangi Direksi/ Pengawas untuk memeriksa bagian pekerjaan yang terdahulu, Pemborong wajib melaporkan secara tertulis kepada Direksi/ Pengawas mengenai rencananya untuk melaksanakan bagian pekerjaan yang akan menutupi bagian pekerjaan tersebut, sedemikian rupa sehingga Direksi/
Pengawas berkesempatan secara wajar melakukan pemeriksaan pada bagian yang bersangkutan untuk dapat disetujui kelanjutan pengerjaannya;
b. Kelalaian Pemborong untuk menyampaikan laporan di atas, memberikan hak kepada Direksi/ Pengawas untuk dibelakang hari menuntut pembongkaran yang menutupi tersebut, guna memeriksa hasil pekerjaan yang terdahulu yang mana akibatnya sepenuhnya akan ditanggung oleh Pemborong;
c. Dalam hal dimana laporan telah disampaikan dan Direksi tidak mengambil langkah- langkah untuk menyelesaikan pemeriksaan yang dimaksudkan di atas,
maka setelah lewat 2 (dua) hari sejak laporan disampaikan, Pemborong berhak melanjutkan pelaksanaan pekerjaan dan menganggap bahwa Direksi telah menyetujui bagian pekerjaan yang ditutup tersebut;
d. Pemeriksaan dan Persetujuan oleh Direksi/ Pengawas atas suatu pekerjaan tidak melepaskan Pemborong dari kewajibannya untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan Surat Perjanjian Pemborong (SPP);
e. Walaupun telah diperiksa dan disetujui kepada Pemborong masih dapat diperintahkan untuk membongkar bagian pekerjaan yang menutupi bagian pekerjaan lain guna pemeriksaan bagian pekerjaan yang ditutupi.
1.4.9. Temuan Arkeologi
a. Jika selama pekerjaan yang terkait dengan galian dan pekerjaan tanah lainya mendapatkan temuan yang diduga cagar budaya atau bagian dari struktur Candi Borobudur , maka pemborong wajib melaporkan temuan kepada konsultan pengawas (ahli arkeologi),
b. Dari hasil laporan tersebut, konsultan pengawas (ahli arkeologi), bersama dengan pemborong berkoordinasi dengan Tim Arkeologi pendamping teknis dari Balai Konservasi Borobudur
c. Tindak lanjut dari temuan tersebut menunggu rekomendasi teknis dari Tim Arkeologi pendamping teknis dari Balai Konservasi Borobudur
d. Selama proses temuan berlangsung juga dilakukan koordinasi dengan Pejabat Pembuat Komitmen untuk menentukan langkah selanjutnya jika harus dilakukan mitigasi berupa ekscavasi (penggalian) arkeologi.
1.4.10. Kebersihan dan Keamanan
a. Pemborong bertanggung jawab untuk menjaga agar area kerja senantiasa berada dalam keadaan rapi dan bersih;
b. Pemborong bertanggung jawab atas keamanan diarea kerja, termasuk apabila diperlukan tenaga, peralatan, atau tanda-tanda Khusus;
1.5. PENYELESAIAN DAN PENYERAHAN
1.5.1. Dokumen Terlaksana (As Built Documents)
a. Pada penyelesaian dari setiap pekerjaan Pemborong wajib menyusun Dokumen Terlaksana yang terdiri dari :
1. Gambar-gambar terlaksana (As Built Drawing)
2. Persyaratan teknis terlaksana dari pekerjaan, sebagaimana yang telah dilaksanakan.
b. Dikecualikan dari kewajiban di atas adalah Pemborong untuk pekerjaan:
1. Pekerjaan persiapan
2. Supply bahan, perlengkapan/ peralatan kerja c. Dokumen terlaksana bisa diukur dari :
1. Dokumen pelaksanaan 2. Gambar-gambar perubahan 3. Perubahan persyaratan teknis
4. Brosur teknis yang diberi tanda pengenal khusus berupa cap sesuai petunjuk Direksi/ Pengawas.
d. Dokumen terlaksana ini harus diperiksa dan disetujui oleh Direksi/ Pengawas
e. Khusus untuk pekerjaan kunci, sarana komunikasi bersaluran banyak, utilitas dan
pekerjaan pekerjaan lain dengan sistem jaringan bersaluran banyak secara operasional membutuhkan identifikasi yang bersifat lokatif, dokumen terlaksana
ini harus dilengkapi dengan daftar pesawat/ instalasi/ peralatan/ perlengkapan yang mengidentifikasi lokasi dari masing-masing barang tersebut.
f. Kecuali dengan ijin khusus dari Direksi/ Pengawas dan Pemberi Tugas, Pemborong harus membuat dokumen terlaksana hanya untuk diserahkan kepada Pemberi Tugas. Pemborong tidak dibenarkan membuat/ menyimpan salinan ataupun copy dari dokumen terlaksana tanpa ijin khusus tersebut.
1.5.2. Penyerahan
Pada waktu penyerahan pekerjaan, Pemborong wajib menyerahkan kepada Pemberi Tugas
a. 2 (dua) dokumen terlaksana b. Untuk peralatan/ perlengkapan:
- 2 (dua) set pedoman operasi (operational manual) - suku cadang sesuai yang dipersyaratkan
c. Untuk berbagai macam
- Semua kunci orisinil disertai “Construction Key” bila ada - Minimum 1 (satu) set kunci duplikat
d. Dokumen dokumen resmi (seperti surat ijin, tanda pembayaran cukai, surat fiskal pajak, dan lain-lain)
e. Segala macam surat jaminan berupa Guarantee/ Warranty sesuai uang yang dipersyaratkan.
f. Surat pernyataan pelunasan sesuai petunjuk Direksi/ Pengawas g. Bahan finishing cat minimal 2 (dua) galon (masing-masing warna) h. Bahan finishing lantai/ dinding & atau masing masing minimal 1 m2
1.5.3. Keamanan Penjagaan
a. Untuk keamanan Pemborong diwajibkan mengadakan penjagaan, bukan saja terhadap pekerjaannya, tetapi juga bertanggung jawab atas keamanan, kebersihan bangunan-bangunan, jalan-jalan, pagar, pohon-pohon dan taman- taman yang telah ada;
b. Pemborong berkewajiban menyelamatkan bangunan yang telah ada, apabila bangunan yang telah terjadi kerusakan akibat pekerjaan ini, maka Pemborong berkewajiban untuk memperbaiki/ membetulkan sebagaimana mestinya;
c. Pemborong harus menyediakan penerangan yang cukup di lapangan, terutama pada waktu lembur, jika Pemborong menggunakan aliran listrik dari bangunan/
komplek, diwajibkan bagi Pemborong untuk memasang meter sendiri untuk menetapkan sewa listrik yang dipakai;
d. Pemborong harus berusaha menanggulangi kotoran-kotoran debu agar tidak mengurangi kebersihan dan keindahan bangunan-bangunan yang sudah ada;
e. Segala operasi yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan untuk pembangunan pekerjaan sementara sesuai dengan ketentuan kontrak harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap ketentraman penduduk atau jalan-jalan yang harus digunakan baik jalan perorangan atau umum, milik pemberi tugas atau milik pihak lain. Pemborong harus membebaskan Pemberi Tugas dari segala tuntutan ganti rugi sehubungan dengan hal tersebut di atas;
f. Pemborong harus bertanggung jawab atas kerusakan-kerusakan pada jalan raya atau jembatan yang menghubungkan proyek sebagai akibat dari lalu lalang peralatan ataupun kendaraan yang dipergunakan untuk mengangkut bahan bahan/ material guna keperluan proyek;
i. Apabila Pemborong memindahkan alat-alat pelaksanaan, mesin-mesin berat atau unit-unit alat berat lainnya dari bagian pekerjaan, melalui jalan raya atau jembatan yang mungkin akan mengakibatkan kerusakan dan seandainya Pemborong akan membuat perkuatan-perkuatan di atasnya, maka hal tersebut harus diberitahukan terlebih dahulu kepada Pemberi Tugas dan Instansi yang berwewenang. Biaya untuk perkuatan tersebut menjadi tanggungan Pemborong.
1.6. PRINSIP-PRINSIP K3 KONSTRUKSI 1. Kelengkapan Administrasi K3
Setiap Pelaksanaan Pekerjaan konstruksi wajib memenuhi kelengkapan Administrasi K3, meliputi:
1. Pendaftaran Proyek ke Departemen tenaga Kerja Setempat.
2. Pendaftaran dan Pembayaran asuransi tenaga kerja (Astek).
3. Pendaftaran dan Pembayaran asuransi lainnya, bila disyaratkan proyek.
4. Ijin dari kantor Kimpraswil tentang penggunaan jalan atau jembatan yang menuju lokasi untuk Lalu-Lintas Alat berat.
5. Keterangan layak Pakai untuk Alat Berat maupun ringan dari Instansi yang berwenang memberikan rekomendasi.
6. Pemberitahuan kepada pemerintah atau lingkungan setempat.
2. Penyusunan Safety Plan
Safety Plan adalah rencana pelaksanaan K3 untuk proyek yang bertujuan agar dalam pelaksanaan nantinya proyek akan aman dari kecelakaan dan bahaya penyakit sehingga menghasilkan produktivitas kerja yang tinggi, safety plan berisi :
1. Pembukaan berisi gambaran proyek dan pokok perhatian untuk kegiatan K3.
2. Resiko kecelakaan dan pencegahannya.
3. Tata cara pengoperasian peralatan.
4. Alamat Instansi Terkait : Puskesmas, Polisi, Depnaker, Dinas Pemadam Kebakaran.
5. Pelaksanaan Kegiatan K3 di Lapangan
Pelaksanaan Kegiatan K3 dilapangan Meliputi:
1. Kegiatan K3 di lapangan berupa pelaksanaan Safety Plan, Melalui Kerja sama denga Instansi terkait K3, yaitu Depnaker, Polisi dan Puskesmas.
2. Pengawasan Pelaksanaan K3, Meliputi kegiatan:
a. Safety Patrol, yaitu suatu tim K3 yang terdiri dari 2 atau 3 orang yang melaksanakan Patroli untuk mencatat hal- hal yang tidak sesuai ketentuan K3 dan memiliki Resiko Kecelakaan.
b. Safety Supervisor, adalah petugas yang ditunjuk manager proyek untuk mengadakan pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan dilihat dari segi K3.
c. Safety Meeting, yaitu rapat dalam proyek yang membahas hasil laporan Safety patrol maupun safety supervisor
3. Pelaporan dan Penanganan Kecelakaan, terdiri dari:
a. Pelaporan dan penanganan kecelakaan ringan.
b. Pelaporan dan penanganan kecelakaan berat.
c. Pelaporan dan penanganan kecelakaan dengan korban meninggal.
d. Pelaporan dan penanganan kecelakaan Peralatan berat
PASAL 2.
PEKERJAAN PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN LAPANGAN
2.1. PEKERJAAN PERSIAPAN 2.1.1. Direksi Keet
a. Bangunan sementara
Sebelum Pemborong memulai pelaksanaan pekerjaan ini disarankan menyediakan dan mendirikan Direksi Keet berupa bangunan sementara, Direksi Keet digunakan untuk melakukan koordinasi yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan.
Bangunan sementara ini dilengkapi dengan toilet/ WC dan kamar mandi yang khusus dimanfaatkan oleh Direksi/ Pengawas. Selain dilengkapi dengan bak air, closet, maka harus pula dilengkapi dengan septictank & sumur resapan.
b. Kelengkapan Direksi keet
Sebagai kelengkapan Direksi keet guna penyelesaian administrasi di lapangan, maka sebelum pelaksanaan pekerjaan ini dimulai Pemborong harus terlebih dahulu melengkapi peralatan antara lain :
- 1 (Satu) buah meja rapat (sederhana) ukuran 1,2 x 2,4 m2;
- 10 (Delapan) buah kursi duduk ruang rapat;
- 1 (Satu) White Board (1,2 x 2,4) dan peralatannya;
- 1 (Satu) rak/ almari buku sederhana;
- 1 (Satu) set kelengkapan PPPK (P3K);
- 10 (Lima) buah Helm.
Selesai pelaksanaan proyek ini (Serah terima ke II) semua peralatan/
kelengkapan tersebut dalam ayat ini menjadi milik Kontraktor, dengan demikian pembiayaannya dianggap sewa.
c. Alat-alat yang harus senantiasa tersedia di Proyek untuk setiap saat dapat digunakan oleh Direksi Lapangan adalah :
- 1 (Satu) buah kamera;
- 1 (Satu) buah alat ukur Schuitmaat;
- 1 (Satu) buah alat ukur optik (theodolit/ waterpass);
- 1 (Satu) buah personal komputer dan printer.
2.1.2. Kantor Dan Gudang Kontraktor
Dalam pelaksanaan pekerjaan ini Kontraktor disarankan membuat kantor Kontraktor, barak-barak untuk pekerja atau gudang tempat penyimpanan bahan (Boukeet), yang sebelumnya telah dapat persetujuan dari pihak Direksi/ Pengawas berkenaan dengan konstruksi atau penempatannya.
Semua Boekeet perlengkapan Pemborong dan sebagainya, pada waktu pekerjaan berakhir (serah terima) harus dibongkar.
2.1.3. Sarana Pekerja
a. Kontraktor wajib memasukkan identifikasi tempat kerja bagi semua pekerjaan yang dilakukan di luar lapangan sebelum pemasangan peralatan yang dimiliki serta jadwal kerja;
b. Semua sarana kerja yang digunakan harus benar-benar baik dan memenuhi persyaratan kerja sehingga memudahkan dan melancarkan kerja di lapangan;
c. Penyediaan tempat penyimpanan bahan/ material di lapangan harus aman dari segala kerusakan hilang dan hal-hal dasar yang mengganggu pekerjaan lain yang sedang berjalan.
2.1.4. Pengaturan Jam Kerja Dan Pengerahan Tenaga Kerja
a. Pemborong harus dapat mengatur sedemikian rupa dalam hal pengerahan tenaga kerja pengaturan jam kerja maupun penempatan bahan hendaknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan Pengawas lapangan. Khususnya dalam pengerahan tenaga kerja dan pengaturan jam kerja dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan peraturan perburuhan yang berlaku;
b. Kecuali ditentukan lain, Pemborong harus menyediakan akomodasi dan fasilitas- fasilitas lain yang dianggap perlu misalnya (air minum, toilet yang memenuhi syarat-syarat kesehatan dan fasilitas kesehatan lainya seperti penyediaan perlengkapan PPPK yang cukup serta pencegahan penyakit menular);
c. Pemborong harus membatasi daerah operasinya di sekitar tempat pekerjaan tidak melanggar wilayah bangunan-bangunan lain yang berdekatan, dan Pemborong harus melarang siapapun yang tidak berkepentingan memasuki tempat pekerjaan
2.1.5. Perlindungan Terhadap Bangunan/ Sarana Yang Ada
a. Segala kerusakan yang timbul pada bangunan/ konstruksi sekitarnya menjadi tanggung jawab Pemborong untuk memperbaikinya, bila kerusakan tersebut jelas akibat pelaksanaan pekerjaan;
b. Selama pekerjaan berlangsung Pemborong harus selalu menjaga kondisi jalan sekitarnya dan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kerusakan- kerusakan yang terjadi akibat pelaksanaan pekerjaan ini;
c. Kontraktor wajib mengamankan sekaligus melaporkan/ menyerahkan kepada pihak yang berwenang bila nantinya menemukan benda-benda bersejarah.
2.1.6. Pembongkaran Bangunan Eksisting, Pembersihan, Pemindahan Alat dan Penebangan Pohon-Pohonan Eksisting
a. Karena pada lahan eksisting masih terdapat bangunan lama, maka Pemborong wajib membongkar terlebih dahulu setelah diadakannya kordinasi terlebih dahulu dengan Direksi & Pengawas. Pemborong tidak punya hak memiliki atas material bekas bongkaran. Bekas bongkaran sepenuhnya milik User/ Owner.
Pemborong juga berkewajiban mencatat jumlah bongkaran yang ada dan seterusnya dilaporkan kepada Pengawas & Direksi. Sesuai petunjuk Pengawas
& Direksi, bongkaran yang tidak dipakai wajib dibuang ke luar lokasi proyek.
Sedangkan bongkaran yang masih dapat dipakai, Pemborong wajib menyimpan dengan rapi di tempat yang aman sesuai petunjuk Pengawas & Direksi;
b. Lapangan terlebih dahulu juga harus dibersihkan dari rumput, semak, akar- akar pohon;
c. Sebelum pekerjaan lain dimulai, lapangan harus selalu dijaga, tetap bersih dan rata;
d. Pemborong tidak boleh membasahi, menebang atau merusak pohon-pohon atau pagar, kecuali bila telah ditentukan lain atau sebelumnya diberi tanda pada gambar-gambar yang menandakan bahwa pohon-pohon dan pagar harus disingkirkan. Jika ada sesuatu hal yang mengharuskan Pemborong untuk melakukan penebangan, maka ia harus mendapat ijin dari Pemberi Tugas.
2.1.7. Penjagaan, Pemagaran Sementara, Dan Papan Nama
a. Pemborong bertanggung jawab atas penjagaan, penerangan dan perlindungan terhadap pekerjaannya yang dianggap penting selama
pelaksanaan, dan sekaligus menempatkan Petugas Keamanan untuk mengatur sirkulasi/ arus kendaraan keluar/ masuk proyek;
b. Sebelum Kontraktor mulai melaksanakan pekerjaannya, maka terlebih dahulu memberi pagar pengaman pada sekeliling site pekerjaan yang dilakukan;
c. Penempatan bahan/ material harus memperhatikan situasi dan kondisi tempat pekerjaan yang ada sehingga tidak mengganggu aktivitas kegiatan operasional dan peralatan kantor;
d. Pagar pengaman dibuat sedemikian rupa, sehingga dapat bertahan/ kuat sampai pekerjaan selesai dan tampak dari luar dapat menunjang estetika atas kawasan yang ada;
e. Syarat pagar pengamanan :
- Pagar dari Seng Gelombang finish cat berpola sesuai dengan pengarahan pemberi tugas dengan ketinggian 180 cm.
- Tiang Dolken minimum berdiameter 10 cm/ Galvalum Canal 75mm, jarak pemasangan minimal 120 cm, bagian yang masuk pondasi minimum 40 cm.
- Rangka Kayu Meranti berukuran 4 x 6 cm/ Galvalume Canal 75mm, dengan pemasangan 4 jalur menurut tinggi pagar.
- Pemasangan kolom pagar sedemikian rupa sehingga kuat dan tahan sampai selesainya pekerjaan pelaksanaan.
- Lengkap pembuatan pintu masuk dari bahan sama.
Selesai proyek semua bahan pagar adalah milik Pemborong, untuk hal tersebut di atas didalam susunan penawaran hendaknya telah dipertimbangkan;
f. Sebelum memulai pelaksanaan, Kontraktor harus memasang papan nama proyek yang dibuat dan dilaksanakan sesuai dengan gambar rencana.
2.1.8. Pekerjaan Penyediaan Air Dan Daya Listrik Untuk Bekerja
a. Air untuk bekerja harus disediakan Kontraktor dengan membuat sumur pompa di tapak proyek atau disuplai dari luar. Air harus bersih, bebas dari debu, bebas dari lumpur, minyak dan bahan-bahan kimia lainnya yang merusak. Penyediaan air harus sesuai dengan petunjuk dan persetujuan Direksi/ Konsultan Pengawas;
b. Listrik untuk bekerja harus disediakan Kontraktor dan diperoleh dari sambungan sementara PLN setempat selama masa pembangunan, atau penggunaan diesel untuk pembangkit tenaga listrik hanya diperkenankan
untuk penggunaan sementara atas persetujuan Pengawas. Daya listrik juga disediakan untuk mensuplai kantor Direksi Lapangan;
c. Segala biaya atas pemakaian daya dan air di atas adalah beban Kontraktor.
2.1.9. Drainase Tapak
a. Dengan mempertimbangkan keadaan topografi/ kontur tanah yang ada di tapak, Kontraktor wajib membuat saluran sementara yang berfungsi untuk pembuangan air yang ada;
b. Arah aliran air ditujukan ke daerah/ permukaan yang terendah yang ada di tapak atau ke saluran yang sudah ada di lingkungan daerah pembuangan;
c. Pembuatan saluran sementara harus sesuai dangan petunjuk dan persetujuan Direksi/ Pengawas.
2.1.10. Mengadakan Pengukuran Dan Pemasangan Bowplank a. Pengukuran tapak kembali.
1. Kontraktor diwajibkan mengadakan pengukuran dan penggambaran kembali lokasi pembangunan dengan dilengkapi keterangan-keterangan mengenai peil ketinggian tanah, letak batas-batas tanah dengan alat-alat yang sudah ditera kebenarannya;
2. Ketidakcocokan yang mungkin terjadi antara gambar dan keadaan lapangan yang sebenarnya harus segera dilaporkan kepada Pengawas/ Direksi untuk diminta keputusannya;
3. Penentuan titik ketinggian dan sudut-sudut hanya dilakukan dengan alat- alat waterpass/ Theodolite yang ketepatannya dapat dipertanggung- jawabkan;
4. Kontraktor harus menyediakan Theodolith/ waterpass beserta Petugas yang melayaninya untuk kepentingan pemeriksaan Pengawas/ Direksi selama pelaksanaan proyek;
5. Pengukuran sudut siku dengan prisma atau barang secara azas segitiga phytagoras hanya diperkenankan untuk bagian-bagian kecil yang disetujuii oleh Direksi;
6. Segala pekerjaan pengukuran dan persiapan termasuk tanggungan Kontraktor.
b. Pengukuran dan Titik Peil (0,00) Bangunan
Pemborong harus mengadakan pengukuran yang tepat berkenaan dengan letak/
kedudukan bangunan terhadap titik patok/ pedoman yang telah ditentukan, siku bangunan maupun datar (Water Pass) dan tegak lurus. Hal
tersebut dilaksanakan untuk mendapatkan lantai, langit-langit dan sebagainnya dengan hasil yang baik dan siku.
Bangunan harus ditentukan dengan memakai alat water pass instrument/
Theodolith. Titik elevasi 0,00 lantai bangunan baru diambil sama dengan 0,00 bangunan lama pada yang ada. Untuk mendapatkan titik peil harap disesuaikan dengan notasi-notasi yang tercantum pada gambar rencana (Lay Out), dan bila terjadi penyimpangan atau tidak sesuainya antara kondisi lapangan dengan Lay Out, Pemborong harus melapor pada Pengawas/ Perencana.
c. Pemasangan Bouwplank
1. Pemborong bertanggung jawab atas ketepatan serta kebenaran persiapan Bouwplank/ pengukuran pekerjaan sesuai dengan referensi ketinggian, dan bench mark yang diberikan Konsultan Pengawas secara tertulis serta bertanggung jawab atas ketinggian, posisi, dimensi, serta kelurusan seluruh bagian pekerjaan serta pengadaan peralatan, tenaga kerja yang diperlukan;
2. Bilamana suatu waktu dalam proses pembangunan ternyata ada kesalahan dalam hal tersebut di atas, maka hal tersebut merupakan tanggung jawab Pemborong serta wajib memperbaiki kesalahan tersebut dan akibat- akibatnya, kecuali bila kesalahan tersebut disebabkan referensi tertulis dari Direksi Pekerjaan;
3. Pengecekan pengukuran atau lainnya oleh Konsultan Pengawas atau wakilnya tidak menyebabkan tanggung-jawab Pemborong menjadi berkurang;
4. Pemborong wajib melindungi semua bench mark, dan lain-lain atau seluruh referensi dan realisasi yang perlu pada pengukuran pekerjaan ini;
5. Bahan dan Pelaksanaan.
- Tiang Buowplank menggunakan kayu Meranti ukuran 5/7 dipasang setiap jarak 2.00 m1, sedangkan papan bouwplank ukuran 2/20 dari kayu Meranti dipasang datar Water Pass.
- Pemasangan bowplank harus sekeliling bangunan dengan jarak 2,00 m‟
dari as tepi bangunan dengan patok patok yang kuat, bowplank tidak boleh dilepas/ dibongkar dan harus tetap berdiri tegak pada tempatnya sehingga dapat dimanfaatkan hingga pekerjaan mencapai tahapan trasram tembok bawah.
2.2. Pekerjaan Tanah Untuk Lahan Bangunan 2.2.1. Lingkup Pekerjaan
1. Tenaga Kerja, Bahan dan Alat
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan dan alat- alat bantu yang diperlukan untuk melaksanakan dan mengamankan pekerjaan ini dengan baik dan sesuai dengan spesifikasi ini.
2. Galian Tanah Pondasi
Pekerjaan ini meliputi galian tanah untuk Pondasi Strouss, Foot Plate, Sloof, Kolom dan struktur lainnya yan terletak di dalam ataupun di atas tanah, seperti tercantum dalam gambar rencana atau sesuai dengan kebutuhan Kontraktor agar pekerjaannya dapat dilaksanakan dengan lancar, benar dan aman.
2.2.2. Syarat-Syarat Pelaksanaan 1. Level Galian
Galian tanah harus dilaksanakan sesuai dengan level yang tercantum di dalam gambar rencana. Kontraktor harus mengetahui dengan pasti hubungan antara level bangunan terhadap level muka tanah asli dan jika hal tersebut belum jelas harus segera didiskusikan hal ini dengan Konsultan Pengawas sebelum galian dilaksanakan. Kesalahan yang dilakukan akibat hal ini menjadi tanggung jawab Kontraktor, level galian harus terukur dengan bak ukur dan didokumentasikan.
2. Jaringan Utilitas
Apabila ternyata terdapat pipa-pipa pembuangan, kabel listrik, telepon dan lain- lain, maka Kontraktor harus secepatnya memberitahukan hal ini kepada Konsultan Pengawas untuk mendapatkan penyelesaian. Kontraktor bertanggung jawab atas segala kerusakan akibat kelalaiannya dalam mengamankan jaringan utilitas ini.
Jaringan utilitas aktif yang ditemukan di bawah tanah dan terletak di dalam lokasi pekerjaan harus dipindahkan ke suatu tempat yang disetujui oleh Konsultan Pengawas atas tanggungan Kontraktor.
3. Galian yang Tidak Sesuai
Jika galian dilakukan melebihi kedalaman yang ditentukan, maka Kontraktor harus mengisi/ mengurug kembali galian tersebut dengan bahan urugan yang memenuhi syarat dan harus dipadatkan dengan cara yang memenuhi syarat, atau galian tersebut dapat diisi dengan material lain seperti adukan beton.
4. Urugan Kembali
Pengurugan Kembali bekas galian harus dilakukan sesuai dengan yang diisyaratkan pada bab mengenai urugan dan pemadatan. Pekerjaan pengisian kembali ini hanya boleh dilakukan setelah diadakan pemeriksaan dan mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas.
5. Pemadatan Dasar Galian
Dasar galian harus rata/ water pass dan bebas dari akar-akar tanaman atau bahan- bahan organis lainnya. Selanjutnya dasar galian harus dipadatkan sesuai dengan persyaratan yang berlaku.
6. Air Pada Galian
Kontraktor wajib mengantisipasi air yang terdapat pada dasar galian dan wajib menyediakan pompa air atau pompa lumpur dengan kapasitas yang memadai untuk menghindari genangan air dan lumpur pada dasar galian. Kontraktor harus merencanakan secara benar, kemana air tanah harus dialirkan, sehingga tidak terjadi genangan air/ banjir pada lokasi disekitar proyek. Di dalam lokasi galian harus dibuat drainase yang baik agar aliran air dapat dikendalikan selama pekerjaan berlangsung;
7. Struktur Pengaman Galian dan Pelindung Galian
Jika galian yang harus dibuat ternyata cukup dalam, maka Kontraktor harus membuat pengaman galian sedemikian rupa hingga tidak terjadi kelongsoran pada tepi galian. Galian terbuka hanya diijinkan jika diperoleh kemiringan lebih besar 1:2 (Vertikal : Horisontal). Sisi galian harus dilindungi dengan adukan beton terpasang, maka galian tersebut harus dilindungi dengan material kedap air seperti lembaran terpal/ kanvas sehingga sisi galian tersebut selalu terlindung dari hujan maupun sinar matahari;
8. Perlindungan Benda Yang Dijumpai
Kontraktor harus melindungi atau menyelamatkan benda-benda yang dilindungi selama pekerjaan galian terpasang. Kecuali disetujui untuk dipindahkan, benda- benda tersebut harus tetap pada tempatnya dan kerusakan yang terjadi akibat kelalaian Kontraktor harus diperbaiki/ diganti oleh Kontraktor;
9. Urutan Galian Pada Level Berbeda
Jika ke dalaman galian berbeda satu dengan lainnya, maka galian harus dimulai dari bagian yang lebih dalam dahulu dan seterusnya.
2.3. Pekerjaan Urugan Pasir Padat 2.3.1. Lingkup Pekerjaan
1. Tenaga Kerja, bahan, dan Alat
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan dan alat-alat bantu yang diperlukan untuk melaksanakan dan mengamankan pekerjaan ini dengan baik dan sesuai dengan spesifikasi;
2. Lokasi pekerjaan
Pekerjaan urugan pasir padat dilakukan di atas dasar galian tanah, di bawah lapisan lantai kerja dan digunakan untuk semua struktur beton yang berhubungan dengan tanah seperti Foot Plate, Sloof dan pekerjaan beton yang lain yang berhubungan langsung dengan tanah;
3. Pembersihan Akar Tanaman padat dan sisa Galian
Jika di bawah dasar galian dijumpai akar tanaman atau tanah organis, maka dasar galian tersebut harus dibersihkan dari hal tersebut di atas, dan bekas galian tersebut harus diisi dengan material urugan yang memenuhi syarat.
2.3.2. Persyaratan Bahan
1. Bahan urugan Pasir Padat
Pasir yang digunakan harus terdiri dari butir-butir yang bersih, tajam dan keras, bebas dari lumpur, tanah lempung dan organis. Bahan ini harus mendapatkan persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas;
2. Air Kerja
Air yang digunakan harus bersih dan tidak mengandung minyak, asam alkali dan bahan organis lainnya, serta dapat diminum. Sebelum digunakan air harus diperiksa dilaboratorium pemeriksaan bahan yang sah. Jika hasil uji ternyata tidak memenuhi syarat, maka Kontraktor wajib mencari air kerja yang memenuhi syarat
2.3.3. Syarat-Syarat Pelaksanaan 1. Tebal Pasir urug
Jika tidak tercantum dalam gambar kerja, maka di bawah lantai kerja harus diberi lapisan pasir urug tebal 10 cm padat atau sesuai gambar. Pemadatan harus dilaksanakan sehingga dapat menerima beban yang bekerja.
2. Cara Pemadatan
Pemadatan dilakukan dengan disiram air dan selanjutnya dipadat dengan alat pemadat yang disetujui Konsultan Pengawas. Pemadatan dilakukan hingga mencapai kepadatan optimum Laboratorium. Pemadatan harus dilakukan pada
kondisi galian yang memadai agar dapat hasil kepadatan yang baik. Kondisi galian tersebut harus dipertahankan sampai pekerjaan pemadatan selesai dilakukan.
Pemadatan harus diulang kembali jika keadaan tersebut di atas tidak memenuhi.
3. Air Pada Lokasi Pemadatan
Jika air tanah ternyata menggenangi lokasi pemadatan, maka Kontraktor wajib menyediakan pompa dan dasar galian harus kering sebelum pasir urug diletakkan.
Kontraktor harus membuat rencana yang benar, agar air tanah dapat dialirkan kelokasi yang lebih rendah dari dasar galian, misalnya dengan membuat sumpit pada tempat tertentu.
4. Tanah di sekitar pasir urug
Kontraktor harus menjaga agar tanah disekitar lokasi tidak tercampur dengan Pasir Urug. Jika pasir urug tersebut tercampur dengan tanah lainnya, maka Kontraktor wajib mengganti pasir urug tesebut dengan bahan lainnya yang bersih.
5. Persetujuan
Pekerjaan selanjutnya dapat dikerjakan, bilamana pekerjaan urugan tersebut sudah mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas.
2.4. Pekerjaan Urugan Tanah / Pematangan Lahan Dan Pemadatan 2.4.1. Lingkup Pekerjaan
1. Tenaga Kerja, Bahan, dan Alat
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga Kerja, bahan-bahan dan alat-alat bantu yang diperlukan untuk melaksanakan dan mengamankan pekerjaan ini dengan baik dan sesuai dengan spesifikasi.
2. Lokasi Pekerjaan
Pekerjaan ini pada lokasi seperti yang tercantum pada gambar rencana, dengan elevasi seperti tertera pada di dalam peta kontur.
3. Pembersihan akar tanaman dan Sisa Galian
Jika dijumpai akar tanaman atau tanah organis, maka lokasi tersebut harus dibersihkan dari hal tersebut di atas, dan bekas galian tersebut harus diisi dengan material urugan yang memenuhi syarat.
2.4.2. Persyaratan Bahan
1. Bahan Bekas Galian di Dalam Lokasi Proyek
Tanah bekas galian dapat dipertimbangkan untuk digunakan untuk tanah urugan jika memenuhi syarat untuk digunakan. Tanah tersebut harus bebas dari lumpur dan bahan organis lainnya, serta tanah bekas galian tersebut layak untuk digunakan untuk urugan sesuai dengan spesifikasi material urugan. Untuk tanah bekas galian yang tidak memenuhi syarat, Pemborong wajib membuang keluar lokasi sesuai petunjuk Pengawas & Direksi.
2. Bahan Urugan Tanah Dari Luar Lokasi Proyek
Bahan yang digunakan untuk urugan elevasi lahan / pematangan lahan harus tanah pilihan (cadas) tanah urug tersebut harus memenuhi syarat sebagai berikut :
a. Memiliki koefisien permeabilitas dari 10-7 cm/ detik b. Berkwalitas baik tidak tercampur dengan pasir halus
c. Secara umum bahan tersebut berupa sirtu/tanah yang sebelum mendatangkan harus sudah mendapat persetujuan Konsultan Pengawas.
3. Bahan Urugan Yang tidak memenuhi Syarat
Semua bahan urugan yang tidak memadai harus dikeluarkan dari lokasi proyek dan diganti dengan bahan yang memenuhi syarat.
2.4.3. Syarat-Syarat Pelaksanaan
1. Cara Pengurugan dan Pemadatan
Pengurugan harus dilakukan lapis demi lapis dengan tebal lapisan 20 cm dan pemadatan dilakukan sampai mencapai kepadatan maksimum pada kadar air optimum yang ditentukan di dalam gambar rencana. Pemadatan urugan dilakukan dengan memakai alat pemadat yang disetujui oleh Konsultan Pengawas.
2. Bahwa pekerjaan urug yang dimaksud dalam pekerjaan urugan adalah urugan dalam keadaan padat, dan pemadatan dilakukan menggunakan alat pemadatan yang disetujui oleh Direksi/ Konsultan Pengawas.
3. Pemasangan Patok
Pada lokasi urugan harus diberi patok-patok, ketinggian sesuai dengan ketinggian rencana. Untuk daerah-daerah dengan ketinggian tertentu, dibuat patok dengan warna tertentu pula.
4. Sistem Drainase
Pada daerah yang basah, Kontraktor harus membuat saluran sementara sedemikian rupa sehingga lokasi tersebut dapat dikeringkan. Pengeringan dilakukan dengan bantuan pompa air. Sistem drainase yang direncanakan harus
disetujui oleh Konsultan Pengawas. Dan sistem drainase tersebut harus selalu dijaga selama pekerjaan berlangsung agar dapat berfungsi secara efektif untuk menaggulangi air yang ada.
5. Kotoran dan Lumpur dan Bahan Organik
Lokasi yang akan diurug harus bebas dari lumpur atau kotoran, sampah dan material sejenis. Pengurugan tidak dapat dilakukan jika kotoran tersebut belum dikeluarkan dari lokasi pekerjaan.
6. Uji kepadatan optimum di Laboratorium
Uji kepadatan optimum harus mengikuti ketentuan ASTM. D-1557 atau AASHTO.
Hasil uji ini digunakan untuk menentukan cara pemadatan lapangan. Uji yang dilakukan antara lain :
a. “Density of Soil inplace by Sand Cone method ASSHTO T.191”
b. “Density of Soil inplace by Driven Cylinder Method“ ASSTO T-.204.
c. “Density of Soil inplace by Rubber Ballon” ASSHTO T-205.
7. Kepadatan Lapisan dan Uji Lapangan
Untuk bahan yang sama, setiap lapis tanah yang sudah dipadatkan harus diuji di lapangan, yaitu 1 (satu) buah test untuk setiap 500 m2, yaitu dengan System Field Density Test. Jika urugan cukup tebal maka dengan hasil kepadatannya harus memenuhi ketentuan ketentuan sebagai berikut :
a. Untuk lapisan yang letaknya lebih dalam 50 cm dari permukaan rencana, maka berat jenis kering tanah padat lapangan harus mencapai minimal berat jenis kering laboratorium yang dipersyaratkan yang dihitung dengan Standart Proctor Test.
b. Untuk lapisan 50 cm dari permukaan rencana kepadatan yang dipersyaratkan minimal dari Standart Proctor test.
8. Toleransi Kerataan
Toleransi pelaksanaan yang dapat diterima untuk penggalian dan pengurugan ± 50 mm terhadap kerataan yang ditentukan.
9. Level akhir
Hasil test di lapangan harus tertulis dan diketahui oleh Konsultan Pengawas. Semua hasil-hasil pekerjaan harus diperiksa kembali terhadap patok-patok referensi untuk mengetahui sampai dimana kedudukan permukaan tanah tersebut.
10. Perlindungan Hasil Pemadatan.
Bagian permukaan yang telah dinyatakan padat harus dipertahankan, dijaga dan dilindungi agar jangan sampai rusak akibat pengaruh luar misalnya basah oleh
air hujan, panas matahari dan sebagainya perlindungan dapat dilakukan dengan menutupi permukaan plastik. Pekerjaan pengadaan dianggap cukup, setelah hasil test memenuhi syarat dan mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas.
11. Pemadatan kembali.
Setiap lapisan harus dikerjakan sesuai deangan kepadatan yang dibutuhkan dan diperiksa melalui pengujian lapangan yang memadai, sebelum memulai lapisan berikutnya, bilamana bahan tersebut tidak mencapai kepadatan yang dikehendaki, lapisan tersebut harus diulangi perkerjaanya atau diganti, dengan cara-cara pelaksanaan yang telah ditentukan, guna mendapatkan kepadatan yang telah dibutuhkan, jadual pengujian harus diajukan oleh Kontraktor kepada Konsultan Pengawas.
C. PEKERJAAN TANAH (Lapisan Pudel dan Pemadatan) C.1 SPESIFIKASI TEKNIS
a) Pemasangan lapisan pudel pada halaman candi merupakan pekerjaan ini dari kegiatan pembenahan halaman candi. Komposisi Lapisan Pudel yang digunakan dalam pekerjaan ini didasarkan pada komposisi yang disyaratkan dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) dan berdasarkan dari hasil peneltian yang dilaksanakan oleh Tim Kajian Balai Konservasi Borobudur. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Konservasi Borobudur menghasilkan komposisi yang sama dengan komposisi yang ada dalam SNI.
Hal yang perlu diperhatikan dengan seksama adalah seleksi bahan yang digunakan yaitu Tanah Liat, Kapur dan Pasir.
b) Komposisi Tanah Pudel yang digunakan dalam pembenahan halaman ini adalah campuran 1KP : 3PP : 7TL ( 1 Kapur : 3 Pasir : 7 Tanah Liat).
c) Nilai Specific Gravity pada masing-masing komposisi material didasarkan hasil uji laboratorium (terlampir). Specific Gravity adalah ukuran kerapatan relatif terhadap kerapatan zat yang dijadikan acuan, biasanya yang dijadikan acuan adalah kerapatan air pada suhu 4 derajat celcius. Secara rinci nilai dari masing masing bahan tersebut terlampir dalam dokumen pengadaan ini
d) Pasir yang digunakan sebagai bahan dasar pudel adalah pasir yang belum tercuci oleh
air. Pasir ini merupakan pasir merapi yang diambi pada bagian hulu sungai yang
berdekatan langsung dengan Gunung Merapi.
e) Sebelum bahan dasar pudel ( pasir, lempung dan tanah liat) digunakan, penyedia jasa harus menyerahkan terlebih dahulu hasil uji laboratorium kepada pihak BK Borobudur untuk di cek apakah sesuai dengan rincian yang disyaratkan atau belum.
f) Pemadatan tanah lapisan pudel dilakukan pertebal 10 cm, menggunakan dua alat mekanik pemadat yaitu : mini roller dengan kekuatan 9 HP, dan stamper kodok 5 HP.
C.2 METODE PELAKSANAAN
a) sebelum Pelaksanaan pekerjaan ini dilakukan penyedia jasa harus berkoordinasi dengan pemilik pekerjaan dan pengawas lapangan serta mendapat persetujuan tertulis tentang metode yang akan dilaksanakan.
b. pekerjaan dikerjakan persegmen atau per zona dengan diberi garis pengaman supaya tidak terganggu pengunjung candi / orang tidak berkepentingan
c. Penggalian dilakukan secara manual / semi mekanis dengan hati - hati supaya tidak merusak fasilitas lain dilingkungan candi dan atas persetujuan pemilik pekerjaan.
d. setelah digali sesuai dengan peil. elevasi yang ditentukan, lubang bekas galian dipadatkan terlebih dahulu sebelum dilakukan penimbunan tanah pudel.
b. Proses pencampuran tanah pudel dilakukan di zona 1 bawah Candi Borobudur ( detail lokasi akan ditentukan oleh Pemilik Pekerjaan)
c. Masing masing bahan (pasir, tanah liat dan kapur) sebelum dilakukan pencampuran harus mendapat persetujuan dari pengawas pekerjaan
d. Pencampuran bahan pudel dilakukan menggunakan alat (secara mekanis ) menggunakan molen
e. Semua pekerjaan tanah dari beberapa bagian harus dilaksanakan menurut ukuran ketinggian yang ditunjukkan dalam gambar, atau menurut ukuran dan ketinggian lain, yang mungkin akan diperintahkan oleh Direksi.
f. Penghamparan lapisan pudel dilakukan satu lapis jadi + 10 cm langsung dipadatkan dengan alat mekanis (stamper) untuk mendapatkan tingkat kepadatan yang sesuai g. Didalam penghamparan lapisan pudel harus dilaksanakan per luas segmen selesai
supaya tidak ada pemisahan dan pemadatan merata
h. Mobilisasi material dari area pencampuran bahan ke lokasi penghamparan (halaman
zona 1 Candi Borobudur) melalui jalur yang telah ditentukan oleh BK Borobudur)
D. PEKERJAAN KANSTEEN PEMBATAS (Pembenahan Kansteen Pembatas) D.1 SPESIFIKASI TEKNIS
a) Pemasangan kansteen pembatas antara bagian halaman rumput dengan tanah pudel dilakukan pada titik-titik yang mengalami kerusakan baik disisi dalam maupun disisi luar.
b) Kasnteen yang digunakan menggunakan bahan batu andesit dengan dimensi ketebalan 7 cm lebar 20 cm dan panjang 30 cm.
c) Pemasangan tidak menggunakan semen.
D.2 METODE PELAKSANAAN
a) Galian harus dilakukan sesuai dengan kedalaman yang disyaratkan
b) Pemasangan kansteen pembatas harus diperhatikan dengan benar, karena koneksi antara kansteen tidak menggunakan semen maka posisi pengunciannya harus dibuat dengan sistem takikan.
c) Hasil pemasangan harus presisi dan lurus.
E. PEKERJAAN LANDSCAPING, TAMAN DAN VEGETASI E.1 SPESIFIKASI TEKNIS
a) Pekerjaan landscaping meliputi pekerjaan : Pekerjaan Taman titik 1, titik 2, dan titik 3, Penanaman Pohon disamping jalur service dan Jalur ruang Informasi, Penanaman Sokka samping tangga dan pergeseran teh-tehan area pudel serta penanaman gebalan rumput .
b) Untuk pekerjaan gebalan rumput ini dilakukan untuk merecovery pada area taman, pelebaran taman keliling candi dan linkungan Zona 1 candi borobudur.
c) Sebelum dilakukan gebalan rumput pada area tersebut diatas, terlebih dahulu dilakukan stripping tanah setebal kurang lebih 10 cm dari elevasi tanah dan diganti tanah taman yang dicampur dengan Pupuk
d) Jenis tanaman yang digunakan sesuai yang tercantum didalam gam bar DED dan BQ
dan dalam dokumen rencana kerja dan syarat-syarat.
E.2 METODE PELAKSANAAN
a) Data titik penanaman untuk semua jenis tanaman sesuai dengan gambar DED atau ditentukan dengan persetujuan direksi dan pengawas, karena sifatnya yang banyak titik penanaman nya.
b Penanaman dilaksanakan setelah mendapat persetujuan direksi dan pengawas c Dan untuk gebalan rumput pada area bekas mobilisasi material
d Penanaman Gebalan rumput manila dan kacang-kacangan dilakukan pada proses akhir penanaman pohon atau tanaman lain.
5.1. PEKERJAAN PENANAMAN POHON 5.1.1 LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, biaya, peralatan dan alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini, sehingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna.
Pekerjaan penanaman pohon meliputi semua jenis pohon dan menyesuaikan jumlah dan posisi pohon dalam gambar
5.1.2 PERSYARATAN POHON
1. Pohon dalam keadaan sehat dan bersih dari hama penyakit sebelum ditanam 2. Pohon yang akan ditanam harus sesuai dengan jenis dan kriteria pohon yang
ditentukan dengan ukuran minimal sesuai daftar terlampir . Berikut ini adalah jenis dan kriteria pohon, yaitu :
a. POHON DENGAN KETINGGIAN MINIMAL 2,00 M :
NO NAMA POHON KRITERIA
MIN. DIAMETER MIN. TINGGI
1 Kelapa Gading 15 - 20 cm 2,00 m
2 Tanjung 5 - 10 cm 2,00 m
3 Ketapang Kencana 5 - 10 cm 2,00 m
b. POHON DENGAN KETINGGIAN KURANG DARI 1,00 M :
NO NAMA POHON KRITERIA
MIN. DIAMETER MIN. TINGGI
1 Palem Botol - 1,00 m
2 Talas - 0,40 m
3 Sokka - 0.30 m
4 Monstera - 0,40 m
5 Kaddaka - 0.30 m
6 Kaca piring - 0.30 m
7 Teh-tehan - 0.30 m
3. Diameter diukur pada ketinggian minimal 0,50 m di atas level tanah (datar), atau yang disebut minimal 0,50 m dari rubol/bogol / batas penanaman pada
permukaan tanah.
4. Tinggi pohon minimal merupakan tinggi batang utama diukur dari ujung batang utama sampai dengan titik proyeksinya penanaman pada permukaan tanah.
5. Ukuran yang tercantum didalam RAB merupakan ukuran diameter minimal dan ukuran tinggi minimal.
5.1.3 PERSIAPAN PELAKSANAAN
1. Pohon yang akan ditanam harus sesuai spesifikasi yang ditentukan
2. Pohon yang dibawa dari kebun harus sesuai ketentuan pemindahan pohon dimana akar pohon tidak dipotong seluruhnya.
3. Tandai lokasi penanaman dengan patok - patok yang diberi nama yang tertera pada Gambar Rencana. Pematokan harus dilaksanakan dengan benar dan tepat pada saat pengukurannya dengan menggunakan cara penanaman.
4. Pembuatan Lubang Tanaman
Penggalian lubang tanaman mempunyai ukuran lubang minimal antara lain:
a) Untuk pohon adalah 1,00 m x 1,00 m x 1,00 m untuk pohon besar (tinggi pohon min. 3,00 m)
b) Untuk pohon adalah 1,00 m x 1,00 m x 0.80 m untuk pohon kecil (tinggi pohon kurang dari 3,00 m)
c) Untuk semak adalah 0,50 m x 0,50 m x 1,00 m (panjang sesuai rencana).
d) Untuk rumput disesuaikan dengan permukaan tanah.
5. Media Tanam
Setelah digali lubang sebaiknya jangan langsung ditanami pohon tetapi terlebih dahulu harus diisi dengan media tanam Media tanam yaitu campuran dengan perbandingan volume tanah subur (top soil): pupuk kandang = 1 : 1 untuk pohon, dan 3 : 2 untuk tanaman perdu. Diusahakan diaduk secara merata, dan dimasukkan ke dalam lubang tanaman lalu didiamkan 1 - 2 minggu. Setelah siap, masukkan tanaman secara hati-hati kemudian media tanam dibenarkan kecuali atas persetujuan Direksi Pekerjaan. Bahan tanaman harus benar-benar bersih dari hama dan
penyakit sehingga tidak mempengaruhi tanaman lain di sekelilingnya.
Pengangkutan tanaman dari sumbernya ke lokasi pekerjaan harus dilakukan dengan baik dan hati - hati. Semua kaleng atau plastik pembungkus tanaman (poly bag) harus dibuka dan dibuang ke luar lokasi penanaman. Bila pembungkus akar tanaman dari bahan alami, seperti karung goni, tidak perlu dibuang, tetapi cukup disobek-sobek dengan pisau di beberapa sisi untuk memudahkan penembusan akar tanaman dalam pertumbuhannya. Setelah media tanam siap, maka tanaman ditanam (dimasukkan ke dalam lubang tanaman) dengan hati-hati agar tidak merusak perakaran. Perakaran tanaman harus tertanam penuh dipadatkan kembali.
6. Penanaman tanaman
Siapkan bahan/jenis tanaman yang sesuai Gambar Rencana dan telah lulus pemeriksaan. Penukaran jenis tanaman tidak sebatas leher akar dan setelah penyiraman dilakukan, posisi tanaman harus diutuhkan kembali pada posisi semula sesuai rencana. Pada waktu penanaman (selama pekerjaan penanaman berlangsung), semua jenis tanaman tidak boleh diberi pupuk anorganik seperti urea, NPK dan sebagainya. Untuk jenis tanaman yang perlu ditunjang, digunakan penopang tanaman (steger).
7. Pemasangan Penopang/Penguat Tanaman (Steger)
Semua jenis tanaman yang memerlukan penopang/penguat tanaman memerlukan perlakuan khusus sesuai dengan petunjuk. Semua jenis penopang/penguat tanaman yang dipergunakan adalah jenis bambu dan kayu yang diberi wama sejenis/dicat abuabu. Kecuali karena sesuatu hal yang dipertimbangkan oleh Direksi Pekerjaan, maka bahan/jenis bambu atau kayu dapat diganti. Ketentuan untuk penopang/penguat tanaman disesuaikan menurut jenis tanamannya.
8. Penyiraman
Setelah pekerjaan penanaman selesai, tanaman harus disiram sampai perakarannya benar benar basah, untuk selanjutnya penyiraman dilakukan setiap hari secara rutin. Untuk membantu pekerjaan penyiraman, bila areal proyek memungkinkan dapat dibuat kran/sprinkler atau sumber air lainnya
.
5.1.4 PERAWATAN
1. Perawatan dilakukan minimal 6 bulan hingga pohon benar-benar tumbuh dan atau menyesuaikan kontrak dan kesepakatan dengan pemberi pekerjaan
2. Pemeliharaan Pasca Tanam Pemeliharaan pasca tanam dilakukan sejak selesai penanaman tanaman berlangsung minimal selama 3 (tiga) bulan. Pemeliharaan ini merupakan pemeliharaan selama masa tumbuh dan dilakukan secara intensif dengan memperhatikan jenis tanamannya. Setiap jenis tanaman mempunyai perlakukan penanganan yang berbeda dan untuk memberikan kemudahan, jadwal pemeliharaan dibedakan menurut pembagian sebagai berikut:
1) Jenis Tanaman Pohon
2) Jenis Tanaman Semak/Perdu
3) Jenis Tanaman Penutup Tanah/Rumput.
3. Pemeliharaan yang perlu dilakukan yaitu : a. Penyiraman
Penyiraman dilakukan untuk menjaga tanaman agar tidak mati kekeringan.
Penyiraman dilakukan setiap hari pada musim kemarau pada pagi hari pukul 06.00 - 09.00 dan sore hari pukul 15.00 - 18.00. Siraman tidak boleh terlalu keras sehingga media tanam dan tanaman tidak terganggu, dan dilakukan merata pada seluruh tanaman. Air yang dipergunakan untuk menyiram tanaman harus bebas dari segala kotoran minyak, zat kimia atau lainnya yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan temperatur air antara 15 - 250 Celcius.
b. Pendangiran dan Penyiangan
Pendangiran dan penyiangan merupakan pekerjaan penggemburan tanah dan pembersihan tanaman rumput liar di sekitar tanaman, pendangiran dan penyiangan dilakukan minimal 1 (satu) bulan sekali agar tanah teraerasi dan memudahkan pertumbuhan akar sehingga tanaman menjadi kokoh. Tumbuhan liar harus dicabut sampai ke perakarannya dan penggemburan tanahnya harus dilaksanakan secara hati-hati agar tidak merusak perakaran tanaman.
c. Pemangkasan
Pemangkasan dilakukan untuk menjaga kesehatan tanaman bila ada daun, atau ranting yang terkena penyakit setelah dipangkas harus segera dibuang agar tidak menular ke bagian tanaman lainnya.