• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISLAM NORMATIF : EPISTIMOLOGI BAYANI DALAM STUDI ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ISLAM NORMATIF : EPISTIMOLOGI BAYANI DALAM STUDI ISLAM"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

ISLAM NORMATIF : EPISTIMOLOGI BAYANI DALAM STUDI ISLAM

Izzatun Naimah

Fak.Interdisiplinary Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Email: [email protected]

Copyright © 2022 The Author

This is an open access article

Under the Creative Commons Attribution Share Alike 4.0 International License

Abstrak

Dalam mempelajari ilmu pengetahuan, kita tidak bisa terlepas dari apa yang namanya sumber ilmu pengetahuan dalam hal ini yaitu Al-Quran dan Hadis. Dua sumber ini merupakan landasan terpenting manusia dalam mengambil kebijakan yang akan diambil.

Karena dua sumber kitab ini yaitu Al-Quran dan hadis adalah dua sumber hukum terpenting yang dijadikan landasan praktik dan landasan teori umat Islam dalam mengambil keputusan. Kita tidak bisa mengambil keputusan tanpa ada landasan yang jelas kecuali dia adalah Nabi. Didalam artikel ini saya akan membahas bagaimana pentingnya pendekatan bayani dalam prakteknya dalam mengambil keputusan untuk langkah-langkah hukum yang akan diambil. Epistimologi bayani adalah pendekatan yang penekanannya pada nash atau teks Al-Quran sebagai pedomannya. Dalam study Islam normatif, pendekatan bayani menjadi pedoman hukum yang sangat penting sesuai dengan fungsinya sebagai sumber hukum dan landasan hukum.

Kata Kunci: Pendekatan Bayani, epistimologi bayani, bayani dalam studi Islam Abstract

In studying science, we cannot be separated from what is called the source of knowledge in this case, namely the Al-Quran and Hadith. These two sources are the most important human foundation in the policies that will be taken. Because the two sources of this book, namely the Al-Quran and Hadith, are the two most important sources of law that are used as the basis for the theory of Muslims in making decisions. We cannot take decisions without a clear basis unless he is a Prophet. In this article I will discuss how important the bayani approach is in practice in making decisions for legal steps to be taken. Bayani epistemology is an approach that emphasizes the texts or texts of the Qur'an as a guide. In Islamic normative studies, the bayani approach becomes a very important legal guideline in accordance with its usefulness as a source of law and legal basis.

(2)

Keywords: Nearest Bayani, epistemology of bayani, bayani in Islamic studies 1. Pendahuluan

Epistimologi merupakan kajian yang mempelajari sumber ilmu pengetahuan dan cara bagaimana mereka mendapatkan ilmu pengetahuan. Epistimologi menepati posisi yang sangat strategis karena membicarakan bagaimana mendapatkan sumber ilmu yang benar, karena ini berhubungan erat dengan kajian dan hasil yang akan dicapai. Dalam sejarah Islam, peradaban Islam pernah tercatat sebagai pusat dan sumber peradaban ilmu pengetahuan yang sangat berpengaruh.1 Ketika itu banyak sekali ilmuan-ilmuan barat yang datang dan belajar tentang kajian study Al-Quran dan Hadist. Mereka kagum karena banyak sekali para peneliti dan ahli-ahli nujum/astronomi, ahli kedokteran, ahli matematika, ahli fisika yang mereka pandai dalam menciptakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya dengan hanya meneliti dan menafsirkan Al-Quran dan Hadist. Seperti didalam Al-Quran menjelaskan tentang proses terjadinya siang dan malam, dan bagaimana bumi mengelilingi matahari, dan masih banyak lagi rahasia yang belum terungkap yang ada didalam Al-Quran. Disini membuktikan bahwa kitab atau nash merupakan sumber dari segala ilmu pengetahuan.

Bayani secara harfiah berarti sesuatu yang jauh atau sesuatu yang terbuka. Bayani merupakan kitab tulisan yang berisi tentang hukum. Sebagian lagi mengatakan juga bayani merupakan sumber ilmu pengetahuan yang membuat sesuatu yang samar menjadi sesuatu yang Nampak, sehingga penting sekali kedudukan bayani ini untuk menetapkan suatu kebijakan yang akan diambil. 2 Dalam kajian filsafat pendekatan bayani dapat diartikan sebagai suatu pendekatan dengan model metodologi berpikir yang yang didasarkan pada teks atau nash, yang mana teks ini nantinya akan memiliki otoritas penuh menentukan arah hukum dan kebenaran.3

Orang yang memiliki corak berpikir bayani akan menjawab bahwa sumber kebenaran itu pada teks. Dengan adanya pola pikir yang demikian akan membangun sebuah struktur hierarki atas bawah dimasyarakat. 1) Bagaimana kedudukan/posisi epistemologi bayani bagi perawi atau sahabat dalam memutuskan dan memahami suatu keputusan yang akan diambil? 2) Apa saja kelemahan pendekatan bayani dalam praktiknya di masyarakat?

2. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yaitu penelitian yang tergolong sebagai studi kepustakaan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan studi kepustakaan dari data sekunder yang disajikan berupa bacaan/literatur yang memuat pendapat para ahli, hasil penelitian dan jurnal yang berkaitan, serta bahan hukum tersier yakni pengkajian kepada kamus dan kamus hukum. Studi kepustakaan untuk

1 Jurnal Menejemen Pendidikan Islam, Vol.4

No.1, (Juni 2019) h,31.

2 Ibid, hlm 33.

(3)

mengumpulkan data dilakukan dengan metode dalam jaringan dan luar jaringan dengan memerhatikan protokol kesehatan Covid-19 yang ketat.

3. Pembahasan

3.1. Pengertian Bayani

Pendekatan bayani merupakan pendekatan yang dipergunakan untuk penggalian hukum dari nash Al-Quran dan Sunnah. 4 Secara epistimologi bayani lebih dipandang sebagai pendekatan keilmuan yang bertumpu pada teks, sementara akal hanya bertugas mengawasi teks itu sendiri. Pendekatan ini jelas untuk aspek-aspek tertentu telah memberikan konstribusi pendekatan yang sangat besar. Apa yang kita sebut qouliyah atau nash adalah bukti dari kesuksesan pendekatan ini. Namun bertumpu semata-mata pada teks tanpa membuka kemungkinan adanya yang terlupakan dibalik teks menyebabkan taraf pengetahuan bayani ini menjadi sangat terbatas dan parsial. Keterpakuan pada pengetahuan tentang teks sebagaimana disinyalir al-jabiri berarti mendiamkan sisi-sisi gerakan ilmiah lain diluar teks. Pandangan al-jabiri ini sebetulnya merupakan tesis yang mempertegas keterbatasan dan parsialitas produk pengetahuan yang dihasilkan oleh epistimologi bayani. 5 Epistimologi bayani, menurut Al-Jabiri titik tolaknya berangkat dari teks (Nash). Jadi peranan teks sangat kuat.6

Secara langsung metode bayani adalah memahami teks dalam hal ini teks wahyu sebagai pengetahuan, dan langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran. Namun secara tidak langsung bayani berarti memahami teks sebagai pengetahuan mental sehingga perlu tafsir dan penalaran. Meski demikian, hal ini tidak berarti akal atau rasio bisa bebas menentukan makna suatu teks, tetapi tetap harus bersandar pada teks atau nash. Sehingga dalam bayani, rasio dianggap tidak mampu memberikan pengetahuan kecuali disandarkan pada teks. Dalam perspektif keagamaan, sasaran bidik metode bayani adalah aspek eksoterik (dzohir).

Jika dilihat dari aspek historis, Pada awalnya metode bayani dimulai dari masa Rasulullah SAW dimana beliau menjelaskan ayat-ayat yang sulit dipahami oleh sahabat.

Kemudian para sahabat menafsirkan Al-Quran dari ketetapan yang telah diberikan Rasulullah SAW melalui teks. Selanjutnya mengumpulkan teks-teks dari Rasulullah SAW dan sahabat, kemudian mereka menambahkan penafsirannya dengan kemampuan nalar dan ijtihadnya dengan teks sebagai pedoman utama. Pada generasi setelah penafsiran sebagaimana pendahuluannya sampai berkelanjutan kepada generasi yang lain.7

Secara epistimologi, bayani adalah metode pemikiran khas arab yang menekankan otoritas teks atau nash secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung artinya memahami teks sebagai pengetahuan dan langsung mengaplikasikannya tanpa perlu pemikiran. Sedangkan secara tidak langsung artinya memahami teks sebagai pengetahuan

4 Rosyadi Imron, Usul Fiqh Hukum Ekonomi Syariah, (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2020) h, 206.

5 Mustanadi, Al-Quran Dan Visi-Visi Transformatif,(Yogyakarta: Bintang Pustaka Madani, 2021) h. 93.

6 Susanto Edi, Study Hermeneutika,(Jakarta: Kencana, 2016) h,100.

7 Supriadi, Keberpihakan Pada Bayani Atau Irfani (Sebuah Pendekatan Baru Dalam Memaknai Teks Al-Quran)

(4)

yang mentah sehingga perlu penafsiran dan penalaran. Hal ini bukan berarti akal atau rasio bisa bebas menentukan makna dan maksudnya, akan tetapi harus bersandar pada teks.8

Secara epistimologi, bayani memiliki dua jalan dalam menentukan kebenaran, pertama berpegang pada lahirnya teks (Dzahir Nash) kedua terfokus pada maksud teks (mafhum al-nash). Cara yang pertama hamper terpaku pada lahirnya teks. Model seperti ini Nampak pada masa syafii dan mencapai puncaknya pada ibn hamz dan al-zahiri.

Sedangkan cara yang kedua Nampak pada masa Ibn Rusyd sampai Al-Syatibi. Cara yang kedua ini memiliki empat tingkatan: pertama berpegang pada maksud primer (Al-Maqasid Ad-Dauriyyah) yang terangkum dalam Al-Ushul Al-Khamsa. Penalaran disini hanya sebatas

menempuh masalik al- . Teori ini banyak digunakan dalam qiyas dan istihsan. Kedua berpegang pada maksud teks (interpretasi), yang dimaksud yang mendorong terlaksananya maksud primer. Sarana yang dipakai adalah istidlal (mencari dalil) yang meliputi: al- maslahah al-mursalah, urf, syaru man qablana, mazhab sahabi dan sad al-zariah. Ketiga berpegang pada syari Allah . metode yang dipakai adalah hukum asal. Model seperti ini memberikan peluang kepada akal dalam menemukan asal sebagai sarana berijtihad sebelum hukum asal ditemukan. 9

Dalam mencari makna dari dzahir nash, biasanya epistimologi bayani ini berusaha mencermati hubungan antara makna dan teks. Dalam epistimologi bayani alat bantu yang sering digunakan adalah instrument kebahasaan (linguistic), biasanya yang sering digunakan adalah uslub-uslubnya serta istinbat dan istidlal sebagai metodenya. Dalam

pendekatan bayani dikenal empat macam bayan: -

ibarah dan bayan al-kitab serta kelima bayan al-Isyarah menurut mazhab hanafi. Jadi secara umum epistimologi bayani sangat kental nuansa tekstualismenya dan peranan akal yang tidak begitu sinifikan. Karena ia hanya sebagai justifikasi sebuah teks yang telah ditafsirkan.

Oleh sebab itu, disini hanya bisa mengamini apa yang dikatakan wahyu tanpa banyak terlibat mempertanyakan mengapa dan bagaimana.10

3.2. Sumber Pengetahuan Bayani dan Prakteknya Dalam Studi Islam

Dalam Studi Islam normatif, pendekatan bayani sangat diperlukan sebagai landasan dan sumber hukum terhadap suatu permasalahan atau pengetahuan yang akan dikaji. Sumber hukum yang dimaksud disini adalah Al-Quran dan Sunnah. Dalam mempelajarinya kita tidak boleh berpaling dari sumber hukum ini. Bayani dianggap oleh sebagian orang merupakan suatu aliran yang menganggap bahwa bayani adalah sebuah epistimologi yang paling akurat karena bayani memiliki sumber hukum yang bisa dijadikan panutan. Berbeda dengan mereka yang menganut pola pikir yang rasional dan cenderung menggunakan akal. Karena menurut mereka yang menganut paham bayani, akal tidak bisa

8Batubara Fadlan Kamali, Metodologi Study Islam Meyingkap Persoalan Ideologi Dari Arus Pemikiran Islam Dengan Berbagai Pendekatan Dan Cabang Ilmu Pengetahuan Lainnya,(Yogyakarta: CV.Budi Utama, 2019) h, 20.

9 Absar Muhammad Ulil, Moderenisasi Hukum Keluarga Islam Di Indonesia (Depok: PT. Raja Grafindo Persada, 2020) h,33.

(5)

dijadikan landasan hukum yang tepat, karena tiap orang memiliki pemikiran dan pahamnya masing-masing. Jadi akan sangat sulit untuk disatukan.

Dalam prakteknya, epistimologi bayani meliputi disiplin-disiplin ilmu yang menjadikan ilmu bahasa arab sebagai tema utamanya, seperti nahwu, sharaf, balagah, fiqih dan ushul fiqih. Menurut Al-Jabiri corak epistimologi bayani didukung oleh pola piker fiqih dan kalam. Jika melihat dalam tradisi keilmuan islam, corak pemikiran islam model bayani sangatlah mendominasi dan bersifat hegemonic sehingga sangat sulit berdialog dengan tradisi epistimologi irfani maupun burhani. Dalam tradisi nalar bayani, fungsi akal hanya digunakan sebatas untuk mengukuhkan dan membenarkan otoritas teks, namun diluar kalkulasinya apakah pelaksanaan dan implementasi ajaran teks didalam kehidupan masyarakat luas masih semurni dan seasli teks itu sendiri atau tidak. Karena diskusi semacam itu akan di introdusir dan diambil alih oleh pola pemikir burhani.

Sedangkan menurut syafii, berpikir atau bernalar menurutnya adalah berpikir dalam kerangka nash. Syafii kemudian merumuskan empat dasar pokok agama yaitu, al- kitab, as-

apapun yang terjadi dalam pengalaman kehidupan manusia didunia ini, baik yang telah terjadi dimasa lampau, masa kini atau masa yang akan datang, tidak terlepas dari firman Allah yang ada dalam Nash. Epistimologi bayani yang bertumpu pada nash ini menghasilkan ilmu-ilmu agama. Missal ilmu tauhid, ilmu fiqh dan ilmu akhlak. Ilmu-ilmu tersebut dihasilkan dari sumber dan pemahaman terhadap nash-nash agama.11

Sejak awal pola piker bayani lebih mendahulukan Qiyas dan bukannya mantiq lewat silogisme dan premis-premis logika. Epistimologi tekstual-lughowiyyah lebih utama dari pada epistimologi kontekstual-bahtsiyyah maupun spiritualitas- irfaniyah bathiniyyah.

Disamping itu nalar epistimologi bayani selalu mencurigai akal pikiran karena dianggap menjauhi kebenaran tekstual. Sampai-sampai muncul kesimpulan bahwa wilayah kerja akal pikiran perlu dibatasi sedemikian rupa dan perannya dialihkan menjadi pengatur dan pengekang hawa nafsu, bukannya mencari sebab akibat lewat analisis kelimuan yang akurat. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa epistimologi bayani adalah epistimologi yang menempatkan teks sebagai sumber kebenaran.12

Metode Qiyas digunakan untuk memperoleh pengetahuan. Dalam pendekatannya, bayani menempuh dua jalan diantaranya adalah berpegang pada redaksi (Lafadz) teks dengan menggunakan kaedah bahasa arab dan Menggunakan metode Qiyas (analogy) dan inilah prinsip utama epistimologi Bayani.

3.3. Pendukung dan Validitas Keilmuan Bayani 3.3.1. Pendukung Keilmuan Bayani

Corak epistimologi bayani didukung oleh pola pikir kaum teolog atau ahli bahasa.

Pola pikir tekstual bayani lebih dominan secara politis dan membentuk corak pemikiran keislaman yang hegemonic (mendominasi). Maksudnya disini adalah, ketika seorang teolog atau ahli bahasa ingin mempelajari dan mengkaji suatu permasalahan, mereka pertama akan mencari sumber hukum atau literatur yang berkaitan dengan permasalahan tersebut,

11 Yusuf Asror, Konstruksi Epistimologi Toleransi Di Pesantren, (Bandung: CV. Cendikia Press, 2020) h,109.

(6)

seperti membaca kitab sunnah atau hadis. Jadi mereka tidak akan menerima hukum jika tidak ada bahan rujukannya, bagi mereka ini akan menyalahi aturan.

3.3.2. Validitas Keilmuan Bayani

Validitas keilmuan bayani tergantung kepada pendekatan ,keserupaan teks (nash) dan realitas. Missal dalam menentukan sah atau tidak nya hadist, itu tergantung pada sahih tidaknya sanad dan matan riwayat, antara murid dengan guru ini benar-benar pernah saling bertemu atau tidak. Otoritas teks dan otoritas salaf yang dikabulkan dalam kaedah- kaedah metodologi Usul Fiqh klasik lebih diunggulkan dari pada sumber otoritas keilmuan yang lain seperti ilmu-ilmu kealaman (kauniyah Akliyah) dan intuisi (Widjaniya).

Dominasi pada pola pikir tekstual ijtihadnya menjadikan system epistimologi keagamaan islam kurang begitu peduli terhadap isu-isu keagamaan yang bersifat konstektual (Bahtsiyyah). Pola pikir bayani lebih mendahulukan Qiyas ( ) untuk fiqih dan qiyas dalallah untuk kalam. Disamping itu epistimologi bayani selalu mencurigai nalar pikiran, karena dianggap akan menjauhi kebenaran tekstual.13 Contoh qiyas disini misal memakan daging babi dengan saus kurma. Kedudukan daging babi dengan saus kurma disini adalah ashl (pokok) karena sudah ada ketetapannya didalam nash atau teks. Daging babi haram sedangkan saus kurma itu halal. Sedangkan hukumnya ketika kita memakan kedua makanan ini adalah haram illah alasannya karena bisa menimbulan sumber penyakit.

3.4. Sumber Dan Kerangka Epistimologi Bayani:

Kerangka berpikir bayani cenderung deduktif yaitu hanya berpangkal pada teks Bersifat diskontinuitas atau keterpisahan (al-infisal) dan kontingensi atau kemungkinan (at-tajwiz). Maksud dari diskontiunitas adalah bahwa semua sumber hukum yang ada didalam nash adalah kembalinya kepada Tuhan karena Al-Quran kedudukannya sebagai Kalamallah. Kemudian kontingensi maksudnya adalah, bahwa nash merupakan bagian dari campur tangan tuhan, maka ada kemungkinan bagi tuhan untuk mencampurkan materi yang saling kontradiksi. Sedangkan sumber epistimologi bayani adalah Nash (teks) dalam hal ini Al-Quran dan Sunnah dan pendekatannya adalah lughowiyyah.14

3.5. Kelemahan Epistimologi Bayani

Kelemahan yang paling mencolok dari tradisi nalar epistemologi bayani atau tradisi berpikir tekstual keagamaan adalah ketika ia harus berhadapan dengan teks teks keagamaan yang dimiliki oleh komunitas, kultur, bangsa / masyarakat yang beragama lain.

Dalam berhadapan dengan komunitas lain agama, corak argumen berpikir keagamaan model tekstual bayani biasanya mengambil sifat mental yang bersifat dogmatif, defenisif, apologis dan polemis dengan semboyan kurang lebih semakna dengan

. Hal demikian dapat saja terjadi karena fungsi dan peran akal pikiran manusia yang tidak lain hanyalah digunakan untuk mengukuhkan dan membenarkan otoritas teks.

13 Op.Cit, Batubara Fadlan Kamali, h,22.

14 Junaedi Mahfud, wijaya Mirza Mahbub,Pengembangan Paradigma Keilmuan Perspektif Epistimologi Islam

(7)

Sebagaimana dimaklumi bahwa kebenaran teks yang dipahami dan diakui oleh aliran, kelompok atau orang tertentu belum tentu dapat dipahami dan diakui secara sama dan sebangun oleh aliran, kelompok atau orang lain yang menganut agama yang sama.

Apalagi dengan penganut agama yang berbeda.15 4. Kesimpulan

Epistimologi menepati posisi yang sangat strategis karena membicarakan bagaimana mendapatkan sumber ilmu yang benar, karena ini berhubungan erat dengan kajian dan hasil yang akan dicapai. bayani merupakan sumber ilmu pengetahuan yang membuat sesuatu yang samar menjadi sesuatu yang nampak, sehingga penting sekali kedudukan bayani ini untuk menetapkan suatu kebijakan yang akan diambil. Dalam pendekatannya, bayani menempuh dua jalan diantaranya adalah berpegang pada redaksi (Lafadz) teks dengan menggunakan kaedah bahasa arab dan Menggunakan metode Qiyas (analogy) dan inilah prinsip utama epistimologi Bayani.

Otoritas teks dan otoritas salaf yang dikabulkan dalam kaedah-kaedah metodologi Usul Fiqh klasik lebih diunggulkan dari pada sumber otoritas keilmuan yang lain seperti

ilmu- Kerangka berpikir

bayani cenderung deduktif yaitu hanya berpangkal pada teks Bersifat diskontinuitas atau keterpisahan (al-infisal) dan kontingensi atau kemungkinan (at-tajwiz). Sedangkan sumber epistimologi bayani adalah Nash (teks) dalam hal ini Al-Quran dan Sunnah dan pendekatannya adalah lughowiyyah.

Kelemahan Epistimologi Bayani Kelemahan yang paling mencolok dari tradisi nalar epistemologi bayani atau tradisi berpikir tekstual keagamaan adalah ketika ia harus berhadapan dengan teks teks keagamaan yang dimiliki oleh komunitas, kultur, bangsa / masyarakat yang beragama lain. Sebagaimana dimaklumi bahwa kebenaran teks yang dipahami dan diakui oleh aliran, kelompok atau orang tertentu belum tentu dapat dipahami dan diakui secara sama dan sebangun oleh aliran, kelompok atau orang lain yang menganut agama yang sama.

Daftar Pustaka

Absar Muhammad Ulil, Moderenisasi Hukum Keluarga Islam Di Indonesia, Depok: PT.

Raja Grafindo Persada, 2020.

Batubara Fadlan Kamali, Metodologi Study Islam Meyingkap Persoalan Ideologi Dari Arus Pemikiran Islam Dengan Berbagai Pendekatan Dan Cabang Ilmu Pengetahuan Lainnya,Yogyakarta: CV.Budi Utama, 2019.

Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol.4 No.1, Juni 2019.

15 Satria Jati Guntur, Makalah Pengantar Study Islam Kajian Bayani Dalam Study Islam, Study Islam Terhadap

(8)

Junaedi Mahfud, wijaya Mirza Mahbub,Pengembangan Paradigma Keilmuan Perspektif Epistimologi Islam Dari Perenialisme Hingga Islamisme Integrasi-Interkoneksi Dan Unity Of Sciences ,Jakarta: Kencana, 2019

Mustanadi, Al-Quran Dan Visi-Visi Transformatif, Yogyakarta: Bintang Pustaka Madani, 2021

Susanto Edi, Study Hermeneutika, Jakarta: Kencana, 2016

Rahmad, Pengantar Study Islam Interdisipliner, Yogyakarta: Bening Pustaka, 2018.

Rosyadi Imron, Usul Fiqh Hukum Ekonomi Syariah, Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2020

Supriadi, Keberpihakan Pada Bayani Atau Irfani (Sebuah Pendekatan Baru Dalam Memaknai Teks Al-Quran) Vol. 2, No 2, Juli 2019,Tanggerang: Istighna, 2019.

Satria Jati Guntur, Makalah Pengantar Study Islam Kajian Bayani Dalam Study Islam, Study Islam Terhadap Kurikulum Pendidikan Agama Islam, Yogyakarta, UIN Sunan Kalijaga, 2011.

Yusuf Asror, Konstruksi Epistimologi Toleransi Di Pesantren, Bandung: CV. Cendikia Press, 2020.

Referensi

Dokumen terkait

Pemanfaatan sumber belajar seperti perpustakaan dan lain sebagainya, merupakan salah satu cara dalam mendapatkan ilmu pengetahuan, sehingga proses belajar mengajar

Dalam tradisi ilmu pengetahuan di dunia Islam, kajian mengenai hubungan internasional telah menjadi suatu disiplin ilmu tersendiri yang disebut oleh para ulama fikih

Hasil kajian yang diperolehi merumuskan bahawa sumber pengetahuan ilmu faraid dalam kalangan masyarakat Islam di Pulau Duyong, Kuala Terengganu adalah melalui

Yaitu ilmu yang mempelajari asas kebudayaan manusia didalam kehidupan masyarakat suku bangsa di seluruh dunia baik memahami cara berpikir maupun berprilaku. De Vos dan Barth

―Pendekatan dalam Pengkajian Islam (Konsep Dasar dalam Memahami Ilmu Ke - Islaman Pers pektif Charles J Adam).‖ Al-Ulum: Jurnal Pemikiran dan Penelitian

Dalam tradisi ilmu pengetahuan di dunia Islam, kajian mengenai hubungan internasional telah menjadi suatu disiplin ilmu tersendiri yang disebut oleh para ulama fikih

Untuk itu dalam kajian ini maka epistemologi Islam terutama dalam pendidikan Islam mencoba untuk memberikan penjelasan tentang sumber ilmu pengetahuan dalam

Metodologi adalah ilmu yang mempelajari cara-cara yang digunakan dalam bidang keilmuan untuk memperoleh pengetahuan tentang suatu subjek ilmiah berdasarkan