BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Konsep Teoritis
2.1.1 Film Sebagai Media Komunikasi
Pada analisis film ada berbagai metode, metode semiotik dan tekstual.
Metode ini mampu merepresentasikan yang ada di film itu sendiri. Terdapat dua aspek dalam film, yaitu gambar itu sendiri dan naratif atau story. Naratif film dapat bertransfromasi menjadi genre atau tipe film.
Pengertian film dapat diartikan sebagai pengantar suatu pesan lewat karya audio visual. Fungsi film memiliki fungsi yang sama dengan televisi, yaitu memiliki fungsi hiburan. Tapi ada suatu hal yang membuat film berbeda dengan televisi, karena film mempunyai sifat persuasif, dan fungsi diantaranya ada fungsi informatif dan edukatif.
Menurut Effendy, film adalah media komunikasi yang sangat mampu memberikan pengetahuan dan juga pendidikan (Effendy, 2003 : 209), karena film mempunyai karakter yang mampu memberikan dampak sehingga bisa mempengaruhi daya pikir penonton, contohnya seperti dampak psikologis dan dampak sosial. Beberapa orang menganggap film hanya dianggap sebagai media penghibur, tapi pada hakekatnya film memiliki peran lebih sebagai media persuasif yang sangat besar.
Sebuah film terbentuk karena ada campur tangan dari seorang sutradara.
Seorang sutradara ketika memproduksi sebuah film, secara pasti ada pesan yang ingin dia sampaikan lewat film yang dibuatnya. Biasanya, film diangkat dari sebuah tema atau fenomena yang sedang terjadi di masyarakat. Itulah alasan mengapa film merupakan alat penyampaian pesan yang efektif bagi masyarakat.
(McQuail, 2010:14).
Film dapat dikelompokkan pada jenis film cerita, film berita, film dokumenter dan film kartun (Ardianto dkk, 2017 : 148).
a. Film Cerita
Dalam sebuah film pasti mengangkat suatu topik, dan topik tersebut dapat berupa cerita dalam bentuk fiktif dan cerita nyata. Hal tersebut dapat menjadi daya tarik penonton, dari segi cerita mau pun gambarnya. Film cerita tidak melepas kemungkinan juga untuk dapat bersifat edukatif karena bisa mengandung pesan yang positif bagi penontonnya.
b. Film berita
Film berita merupakan sebuah karya audio visual yang didasarkan pada fakta atau hal yang benar-benar terjadi pada suatu peristiwa dan harus mengandung nilai berita. Kriteria yang dimiliki pada jenis ini mempunyai kesan menarik dan penting.
c. Film Dokumenter
Sebuah karya audio visual mengenai tentang kenyataan dapat disebut sebagi film dokumenter. Beda halnya dengan film berita, film dokumenter mengangkat suatu peristiwa yang membentuk suatu pemikiran yang dihasilkan oleh si pembuat film dan akan diberi bumbu- bumbu cerita supaya lebih menarik.
d. Film kartun
Ditujukan untuk anak-anak, dan tidak menutup kemungkinan bahwa orang dewasa juga menyukai film kartun. Jenis ini terfokus pada fungsi hiburan untuk membuat suasana gelak tawa pada anak-anak. Selain itu film kartun terdapat fungsi pendidikan lewat tokoh-tokoh yang ditampilkan.
Pembagian film dari segi durasi terpecah menjadi dua, yaitu film panjang dan film pendek (Pratista, 2008 : 6). Film panjang berdurasi lebih dari 60 menit, sedangkan film pendek mempunyai durasi hanya 5-30 menit saja, yang penting ide dan pesan yang ingin diungkapkan dapat tersampaikan secara efektif. Film sebagai media komunikasi sangat mempunyai daya tarik yang besar dalam mengkampanyekan sebuah isu sosial dalam masyarakat. Hal ini karena film mempunyai karakter berupa audio visual yang dapat dipahami dan ditangkap dengan mudah oleh masyarakat. Film juga merupakan sebagai perwakilan dari fenomena yang sedang terjadi, sehingga film adalah media yang sangat cocok dalam menyampaikan fenomena sosial tentang pernikahan dini.
2.1.2 Stereotip
Ada berbagai pemahaman yang berkaitan dengan stereotip, dengan setiap sudut pandang perspektif yang berbeda- beda pula. Berdasarkan pemahaman menurut Hogg dan Abram (1988: 65) mengatakan bahwa stereotip merupakan generalisasi seseorang berdasarkan pada kategori keanggotaan. Banyak orang percaya bahwa semua kelompok mempunyai sesuatu hal yang berbeda dengan kelompok lainnya. Lalu ada juga menurut Leyen, dkk (1994 : 11) mendefinisikan stereotip sebagai keyakinan-keyakinan yang dimiliki tentang atribut seseorang, biasanya tentang sifat-sifat kepribadian namun lebih sering tentang perilaku kelompok orang. Dari kedua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa stereotip merupakan suatu proses generalisasi yang dilakukan secara tidak akurat tentang sifat atau pun perilaku yang dimiliki oleh individu-individu anggota dari kelompok sosial tertentu. (Susetyo 2010 : 20)
Menurut Brehm dan Kasim (1993) dalam buku Susetyo (2010 : 22) stereotip melibatkan dua proses kognitif yang saling terkait yaitu :
1. Proses kategorisasi sosial
Proses ini merupakan pengelompokan seseorang ke sebuah kelompok sosial, contohnya gender, ras, agama, dan lain-lain. Proses ini menjadikan seseorang mempunyai persepsi bahwa semua orang akan melekat dengan karakteristik kategori sosial tersebut dengan adanya status, prestise dan kekuatan tertentu.
2. Proses persepsi yang bias terhadap kelompok luar
Dalam proses ini terjadi pembentukan pemikiran pembedaan terhadap heterogenitas suatu kelompok (ingroup-outgroup). Pada ingroup, akan muncul pemikiran pada pengenalan individual. Lalu outgroup, pemikiran pada pengenalan unit kelompok.
Hogg dan Abram mengatakan bahwa sifat penting dari stereotip merupakan kesepakatan yang dimiliki bersama dan setuju dengan isi stereotip kelompok tertentu.
Misalnya, wanita itu lemah karena dia makhluk emosional, ada sebagian yang menerima dengan keyakinan tersebut dan ada juga yang tidak.
Pendekatan Psikodinamik
1. Teori Kepribadian Otoritarian (The Authoritarian Personality)
Teori ini berangkat dari sebuah prasangka. Bagi orang-orang yang berprasangka memiliki kepribadian tertentu, dan akibatnya mereka terlalu mudah untuk menerima ide-ide rasis. Rasa ingin dan rasa takut bercampur menjadi satu sehingga muncullah rasa lemah dan pasivitas.
Pendekatan Sosio Kultural
Pada pendekatan ini, manusia menganggap stereotip sebagai sebuah peristiwa yang dipelajari pada tataran masyarakat. Dalam konteks ini, stereotip muncul diduga karena stereotip berasal dari perbedaan di berbagai kelompok, dan hal ini merupakan konsekuensi dari masyarakat yang terbuka pada media dan informasi lainnya lewat setiap interaksi mereka terhadap orang lain. Pendekatan sosio kultural menganggap dan meyakini bahwa stereotip adalah bagian dari kehidupan lingkungan mereka. Lingkungan keluarga, sekolah, media, buku-buku, surat kabar merupakan cara sosialisasi stereotip terhadap masyarakat.
“Prasangka adalah sikap negatif terhadap suatu kelompok dan para anggota dari kelompok tersebut.” (Sears dkk, 1991; Baron, Byrne dan Suls, 1989). Sebuah prasangka dapat dipicu dari stereotip negatif yang kemudian akan berpengaruh ke arah yang konsisten. Prasangka “jenis kelamin” merupakan salah satu jenis prasangka dalam relasi antar kelompok. Di Indonesia, jenis ini merupakan yang paling sering dijadikan patokan dalam konteks stereotip. Meskipun sejak jaman R.A Kartini sudah berjuang untuk memperjuangkan emansipasi wanita, diskriminasi terhadap perempuan masih terjadi hingga saat ini. Perbedaan kekuatan dan status kelompok adalah awalan terciptanya prasangka dan stereotip sehingga muncullah persepsi suatu kecurangan, ketidakadilan atau ancaman dari kelompok lain.
Anggapan masyarakat tentang “perawan tua” dalam konteks pernikahan dini terbentuk dari keyakinan yang telah disepakati bersama dengan orang-orang di lingkungannya yang didasarkan dengan adanya sebuah prasangka. Prasangka muncul karena adanya ketidaksamaan yang terjadi dalam kelompoknya terhadap kelompok lain.
Hal ini dapat menyebabkan kelompok tersebut menjadi takut jika kehidupannya tidak sesuai dengan kelompok lainnya, sehingga stereotip tentang “perawan tua” akan menjadi kuat ketika ada anggota kelompoknya belum bisa sesuai dengan aturan hidup oleh kelompok lainnya.
2.2 Penelitian Terdahulu
Penulis mencantumkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya guna untuk memperkaya bahan penelitian yang dilakukan penulis, dan penulis tidak melakukan unsur plagiarisme dalam penelitian ini. Penelitian terdahulu ini merupakan hal yang sangat penting bagi penulis karena dapat menjadi referensi dalam mengkaji penelitian yang dilakukan. Berikut penelitian terdahulu yang penulis dapatkan :
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu Nama
peneliti
Judul Penelitian Tujuan Penelitian Hasil Penelitian
Astuti, Eva Septi Dwi, 2018
Pernikahan Dini : Membongkar
Representasi Kelompok Terbungkam (Studi Kasus Remaja Perempuan yang melakukan pernikahan dini di Kecamatan Juwana Kabupaten Pati dalam Mempertahankan Budaya)
1. Menggambarkan proses komunikasi dalam pembentukan representasi
masyarakat sebagai kelompok
terbungkam untuk mempertahankan budaya pernikahan dini di Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati
2. Pola komunikasi yang dibangun oleh masyarakat di Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati tentang pernikahan dini
Faktor sosial, ekonomi dan pendidikan yang menjadi pengaruh paling besar untuk melakukan pernikahan dini, dan budaya masyarakat juga berperan besar dalam pernikahan dini (melalui sindiran)
Perbedaan :
Dalam penelitian Eva Septi Dwi Astuti menggunakan penelitian kuantitatif, sedangkan penulis dikaji dengan membuat film pendek.
Nama peneliti
Judul Penelitian Tujuan Penelitian Hasil Penelitian
Lumbantob ing, Jessica Moranggi, 2017
Produksi Film Pendek
“Di Balik Kepak Kupu- Kupu” (Fenomena Prostitusi yang Diakibatkan Oleh Ketidaksetaraan Gender)
Mengkritik sistem sosial yang ada di Indonesia mengenai timpangnya
kesetaraan gender di Indonesia dan sekaligus memaparkan
pesan kepada
masyarakat terhadap persepsi yang salah mengenai Pekerja Seks Komersil
Perempuan hanya menjadi objek sebelah mata di masyarakat sehingga dalam bidang kerja, perempuan juga dijadikan
nomor 2 dan
kemungkinannya sangat kecil untuk bisa meningkatkan ekonomi keluarga, sehingga pekerja seks perempuan menjadi dianggap ilegal karena
masih dipandang
pekerjaan yang negatif.
Perbedaan :
Penelitian yang dilakukan oleh Jessica Moranggi Lumbantobing mengambil pembahasan tentang eksploitasi perempuan pada pekerja seks, sementara penulis mengkaji tentang eksploitasi perempuan pada pernikahan dini.
Nama Peneliti
Judul Penelitian Tujuan Penelitian Hasil Penelitian
Widiyantri, Astrian, 2011
Pernikahan Dini menurut Perspektif Pelaku pada Masyarakat Desa Kertaraharja Kecamatan Cikembar Kabupaten Sukabumi
1. Mengetahui motif apa saja yang
mempengaruhi persepsi para pelaku nikah dini
Faktor sosial, ekonomi dan adat yang mempengaruhi kehidupan pendidikan anak serta penghasilan yang dikit dari orang tua sehingga pernikahan dini menjadi suatu alasan yang
2. Mengetahui apakah faktor pendidikan, sosial budaya, dan ekonomi mempengaruhi para pelaku nikah dini 3. Mengetahui
langkah apa saja yang bisa dilakukan untuk mengatasi nikah dini
paling tepat untuk meringankan beban di dalam keluarga.
Perbedaan :
Pembahasan penelitian Astrian Widiyantri diambil dari sudut pandang pelaku yang melakukan pernikahan dini, sementara penulis membahas dari sudut pandang sosial masyarakat sekitar yang mempengaruhi adanya pernikahan dini.
Nama peneliti
Judul Penelitian Tujuan Penelitian Hasil Penelitian
Siwi, Februana Tri, 2019
Persepsi Remaja Tentang Pernikahan Usia Dini di Kota Salatiga
1. Mengetahui pemahaman dan
pengetahuan remaja tentang pernikahan usia dini 2. Mengetahui
nilai, prinsip, dan sikap remaja tentang pernikahan usia dini 3. Mendapatkan
gambaran permisifitas remaja jika diperhadapkan dengan
permasalahan atau kejadian pernikahan usia dini
1. 70,7% remaja kota Salatiga memiliki pemahaman
tentang pernikahan dini yang meliputi pengertian
pernikahan dini, usia ideal dalam menikah, dan faktor penyebab dari pernikahan dini
2. 79,24% remaja kota Salatiga cenderung
berkomitmen untuk tidak melakukan pernikahan dini 3. 56,5% remaja kota
Salatiga bersikap permisif atau mengijinkan
terjadinya
pernikahan dini bila dihadapkan pada keadaan tertentu, seperti mencegah seks bebas, dan untuk membantu
perekonomian
keluarga
4. Aktor dan sumber informasi tentang kesehatan
reproduksi berasal dari guru, orang tua, buku, diskusi dengan teman, media sosial, TV atau radio
Perbedaan :
Perbedaan antara penelitian yang penulis lakukan dengan penelitian oleh Februana Tri Siwi yaitu; penelitian yang dilakukan oleh Februana Tri Siwi adalah mendapatkan data yang akurat pada remaja di Kota Salatiga dalam pemahaman pernikahan usia dini, sementara penulis melakukan penyelesaian solusi untuk memberantas dari maraknya pernikahan dini dengan membuat karya film pendek tentang pernikahan dini di Kota Salatiga.
2.3 Kerangka Pikir Perancangan
Fakta :
1. Perbedaan kesetaraan gender dalam pembangunan ekonomi
2. Rendahnya pengetahuan, kreatif, keterampilan bekerja dan aspirasi oleh perempuan 3. Meningkatnya angka pernikahan dini di Indonesia
Masalah : 1. Banyak perempuan miskin di Indonesia
2. Dampak dari pernikahan dini adalah orang tua menikahkan anak perempuannya yang bertujuan untuk mengurangi kondisi ekonomi keluarga
3. Orang tua tidak tahu dampak dari pernikahan dini terhadap anaknya
Tujuan :
Merepresentasi fenomena sosial beberapa wilayah di Indonesia tentang pernikahan anak yang dilakukan secara dini demi menghindari stereotip “tidak laku” atau “perawan tua”
Hasil :
Produksi film pendek “Abu-abu Asa”
(Persepsi yang salah dalam masyarakat yang mempersatukan anaknya pada sebuah ikatan pernikahan dini)
Teori :
Film adalah salah satu media komunikasi. Story atau naratif, bersifat persuasif (informatif dan edukatif), berbagai macam jenis, semua itu adalah karakteristik dari film. Stereotip merupakan proses generalisasi yang dilakukan secara tidak akurat dalam sifat dan perilaku
oleh individu atau kelompok (Susetyo 2010 : 20), dan prasangka (sikap negatif) yang memberikan pengaruh besar terhadap adanya persepsi “perawan tua” atas fenomena
pernikahan dini sehingga berkembang menjadi sebuah budaya yang negatif.
Bagan 1.
Kerangka Pikir Perancangan