• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARYA ILMIAH TERAPAN PENGARUH KERETAKAN KATUP BUANG TERHADAP KINERJA MESIN INDUK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KARYA ILMIAH TERAPAN PENGARUH KERETAKAN KATUP BUANG TERHADAP KINERJA MESIN INDUK"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

KARYA ILMIAH TERAPAN

PENGARUH KERETAKAN KATUP BUANG TERHADAP KINERJA MESIN INDUK

Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Pendidikan dan Pelatihan Diploma III Pelayaran

MUJIB RIDWAN NIT.03.15.139.1.42/T AHLI TEKNIKA TINGKAT III

PROGRAM DIPLOMA III

POLITEKNIK PELAYARAN SURABAYA TAHUN 2019

(2)

KARYA ILMIAH TERAPAN

PENGARUH KERETAKAN KATUP BUANG TERHADAP KINERJA MESIN INDUK

Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Diploma III

MUJIB RIDWAN NIT: 03.15.139.1.42 AHLI TEKNIKA TINGKAT III

PROGRAM DIPLOMA III PELAYARAN POLITEKNIK PELAYARAN SURABAYA

2019

(3)

ii

PERNYATAAN KEASLIAN

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Mujib Ridwan

Nomor Induk Taruna : 03.15.139.1.42/T

Program Diklat : Ahli Teknika Tingkat III

Menyatakan bahwa Karya Ilmiah Terapan yang saya tulis dengan judul:

PENGARUH KERETAKAN KATUP BUANG TERHADAP KINERJA MESIN INDUK

merupakan karya asli seluruh ide yang ada dalam KIT tersebut, kecuali tema dan yang saya nyatakan sebagai kutipan, merupakan ide saya sendiri.

Jika pernyataan di atas terbukti tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi yang ditetapkan oleh Politeknik Pelayaran Surabaya.

SURABAYA,...

Mujib Ridwan NIT: 03.15.139.1.42/T

(4)

iii

PERSETUJUAN SEMINAR KARYA ILMIAH TERAPAN

Judul : PENGARUH KERETAKAN KATUP BUANG TERHADAP KINERJA MESIN INDUK

Nama Taruna : Mujib Ridwan

NIT : 03.15.139.1.42/T

Program Diklat : Ahli Teknika Tingkat III

Dengan ini dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diseminarkan.

SURABAYA, ...

Menyetujui:

Pembimbing I

Antonius Edy Kristiyono, M.Pd, M.Mar.E Penata Tk. I (III/d)

NIP.19690531 200312 1 001

Pembimbing II

Raditya Huda Pranowo, S.Pd, M.M Penata Muda Tk. I (III/b) NIP. 19880925 201012 1 007

Mengetahui:

Ketua Jurusan Teknika

Monika Retno Gunarti, S.Si.T, M.Pd Penata (III/c)

NIP. 19760528 200912 2 002

(5)

iv

PENGARUH KERETAKAN KATUP BUANG TERHADAP KINERJA MESIN INDUK

Disusun dan Diajukan Oleh:

MUJIB RIDWAN NIT. 03.15.139.1.42/T Ahli Teknika Tingkat III

Telah dipertahankan di depan Panitia Ujian Karya Ilmiah Terapan Pada Tanggal,...

Menyetujui:

Penguji I

Antonius Edy Kristiyono, M.Pd, M,Mar,E Penata Tk. I (III/d)

NIP.19690531 200312 1 001

Penguji II

Raditya Huda Pranowo, S.Pd, M.M Penata Muda Tk. I (III/b) NIP. 19880925 201012 1 007

Penguji III

Siti Fatimah, S.Si.T, M.Pd Penata Tk. I (III/d) NIP. 19810317 200502 2 001

Mengetahui:

Ketua Jurusan Teknika

Monika Retno Gunarti, S.Si.T, M.Pd Penata (III/c)

NIP. 19760528 200912 2 002

(6)

v

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur senantiasa saya panjatkan kepada Allah SWT. Tuhan Yang Maha Esa pengayom segenap alam yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga dalam penulisan karya ilmiah terapan ini saya tidak mengalami kendala yang berarti hingga terselesaikannya karya ilmiah terapan yang saya beri judul

“PENGARUH KERETAKAN KATUP BUANG TERHADAP KINERJA MESIN INDUK“.

Pada kesempatan ini disampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu sehingga penelitian ini dapat dilaksanakan, antara lain kepada:

1. Direktur Politeknik Pelayaran Surabaya Capt. Heru Susanto, M.M

2. Ketua Jurusan Teknika Politeknik Pelayaran Surabaya Ibu Monika Retno Gunarti, S.Si.T, MPd

2. Dosen Pembimbing I Bapak Antonius Edy Kristiyono, M.Pd, M.Mar.E 3. DosenPembimbing II Bapak Raditya Huda Pranowo, S.Pd, M.M 4. Dosen Penguji III Ibu Siti Fatimah, S.Si.T, M.Pd

5. Bapak / Ibu dosen Politeknik Pelayaran Surabaya, khususnya lingkungan program studi Teknika Politeknik PelayaranSurabaya yang telah memeberikan bekal ilmu sehingga saya dapat menyelesaikan Karya Ilmiah Terapan ini.

Demikian, semoga penelitian ini bermanfaat bagi pembaca dan kelancaran dalam proses penelitian tersebut.

Surabaya, ...2019

Mujib Ridwan

(7)

vi

ABSTRAK

MUJIB RIDWAN. Pengaruh keretakan katub buang terhadap kinerja mesin induk. Dosen Pembimbing I: Antonius Edy Kristiyono, M.Pd, M.Mar.E ; Dosen Pembibing II: Raditya Huda Pranowo, S.Pd, M.M

Berkaitan dengan hal tersebut, maka penulisan penelitian dilakukan untuk mengetahui apa saja yang dilakukan untuk menganalisis penyebab keretakan katub buang pada mesin induk dan apa pengaruh keretakan katup buang terhadap kinerja mesin induk. Penulisan metode ini menggunakan metode kualitatif, pengumpulan data secara observasi, melakukan wawancara dengan responden dan menyertakan dalam dokumentasi menganalisis penyebab keretakan katub buang yang akan menurunkan kinerja mesin induk. Menganalisis penyebab keretakan katub buang pada mesin induk di kapal, terdapat faktor-faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi seperti lapisan oksida atau kotoran (oxide debris) yang diduga dihasilkan dari bahan bakar atau sisa pembakaran yang tidak sempurna, dipicu oleh peningkatan temperature saat proses pembakaran yang akan menghasilkan partikel-partikel oksida yang halus dan keras (oxide glazes).

Ketika lapisan piringan katup buang terangkat dan bergesekan dengan dudukan katup, partikel-partikel oxide glazes tersebut menimbulkan tegangan kontak yang tinggi dan menjadi sangat abrasive terhadap permukaan material kontak.

Berdasarkan pengamatan di atas kapal faktor yang menyebabkan keretakan katup buang adalah katup buang bekerja pada suhu melebihi batas, kwalitas bahan dasar katup yang kurang bagus, pendinginan yang kurang, kandungan zat belerang pada bahan bakar.

Pengaruh keretakan katup buang terhadap kinerja mesin induk adalah hilangnya pengapian pada mesin induk, tidak tercapainya putaran stansioner pada mesin, bahan bakar boros, menurunnya daya mesin induk, mesin susah di hidupkan, mesin berasap tebal.

Kata kunci: keretakan katub buang.

(8)

vi

ABSTRAK

MUJIB RIDWAN. The effect of valve discharge on the performance of the parent engine. Advisor I: Antonius Edy Kristiyono, M.Pd, M.Mar.E; Nursing Lecturer II:

Raditya Huda Pranowo, S.Pd, M.M

In this regard, the research writing was done to find out what was done to analyze the causes of exhaust valve cracks in the main engine and what the effect of the exhaust valve crack on the performance of the main engine. The writing of this method uses qualitative methods, observing data collection, conducting interviews with respondents and including in the documentation analyzing the causes of exhaust valve that will reduce the performance of the parent engine.

Analyzing the causes of exhaust valve cracks on the main engine on the ship, there are factors that cause this to happen such as oxide or dirt layers (oxide debris) which are thought to be produced from fuels or incomplete combustion residues, triggered by increased temperature during the combustion process will produce fine and hard oxide particles (oxide glazes).

When the disc layer of the exhaust valve is lifted and rubs against the valve seat, the particles of oxide glazes give rise to high contact stress and become highly abrasive to the surface of the contact material.

Based on observations on the boat the factors that cause cracking of the exhaust valve are exhaust valves working at temperatures exceeding the limit, the quality of the valve base material is less good, less cooling, sulfur content in fuel.

The effect of the exhaust valve cracks on the performance of the main engine is the loss of ignition on the main engine, not achieving a stansioner rotation on the engine, wasteful fuel, decreasing the power of the main engine, the engine is hard to turn on, thick smoke engine.

Key words: exhaust valve break.

(9)

vii

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

PERSETUJUAN SEMINAR ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

ABSTRAK ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR TABEL ... x

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 RumusanMasalah ... 2

1.3 Batasan Masalah ... 2

1.4 Tujuan Penelitian ... 2

1.5 Manfaat Penelitian ... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Review Penelitian Sebelumnya ... 4

2.2 Landasan Teori ... 6

2.2.1 Pengertian Pengaruh Dan Kinerja ... 6

2.2.2 Pengertian Katup ... 7

2.2.3 Pengertian Mesin Induk ... 7

2.3 Prinsip Kerja Katup ... 7

2.4 Komponen Katup ... 8

2.5 Mesin Induk ... 11

2.6 Kerangka Penelitian ... 13

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 15

3.2 Lokasi Penelitian ... 16

3.3 Jenis Dan Sumber Data ... 16

3.4 Pemilihan Informan ... 17

(10)

viii

3.5 Teknik Analisis Data ... 18 BAB IV PEMBAHASAN HASIL PRAKTEK

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 20 4.2 Hasil Penelitian ... 25 4.3 Pembahasan ... 31 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan ... 35 5.2 Saran ... 36 DAFTAR PUSTAKA

(11)

ix

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

2.1. Katup buang mesin induk... 8

2.2. Rumah dudukan katup... 9

2.3. Dudukan katup buang ... 10

2.4. Rumah batang katup ... 10

2.5. Siklus mesin 4 tak ... 11

2.6. Proses kompresi ... 12

2.7. Proses hisap usaha ... 13

3.1. Hubungan interaktif alur analisis data penelitian ... 19

4.1. Katup buang ... 26

4.2 Keretakan yang terjadi pada daun katup buang ... 27

4.3 Katup buang yang retak dan aus ... 28

4.4 Pemeriksaan katup buang yang baru ... 29

4.5 Katup buang yang kotor akibar pembakaran tidak sempurna ... 29

4.6 Overhoul katup buang yang retak ... 33

(12)

x

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman 2.1 Kerangka Penelitian ... 14 4.1 Temperatur Gas Buang Pada Mesin Induk Type MAN B&W ... 27 4.2 Temperatur Gas Buang setelah Perbaikan ... 34

(13)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Katup buang merupakan komponen mesin induk yang sangat penting. Katup buang bekerja secara kontinyu pada temperatur tinggi yang secara mekanis mengalami tegangan berlebih dan juga selalu kontak dengan gas buang sehingga mudah mengalami korosi dan keretakan.

Katup buang lebih peka terhadap korosi dan keretakan daripada katup masuk. Jika katup buang mengalami kerusakan maka akan mempengaruhi proses pembakaran sehingga akan mengurangi kinerja mesin induk yang mengakibatkan menurunnya daya output mesin induk untuk menggerakkan poros propeler. Maka dalam penulisan Karya Ilmiah Terapan, penulis mengambil judul :“PENGARUH KERETAKAN KATUP BUANG TERHADAP KINERJA MESIN INDUK”.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005), “Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang atau benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang”. Kinerja merupakan hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dapat dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Dari penjelasan tersebut penulis menyimpulkan bahwa kinerja mesin induk adalah hasil kerja efektifitas suatu proses mesin induk untuk diteruskan dayanya. Sedangkan keretakan berasal dari kata retak yang artinya tampak bergaris pada barang keras (seperti piring, batu yang menandakan akan pecah).

(14)

2

Katup adalah alat untuk membuka atau menutup saluran sehingga fluida yang mengalir didalamnya dapat diteruskan atau dihentikan. Di dalam ruang bakar terdapat katup masuk dan katup buang. Katup masuk berfungsi untuk mengatur masuknya campuran bahan bakar dan udara pada saat langkah hisap. Sedangkan katup buang berfungsi untuk mengatur keluarnya gas sisa pembakaran pada saat langkah buang.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan kejadian pada latar belakang yang telah diuraikan di atas maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Apakah penyebab keretakan pada katup buang?

2. Bagaimana pengaruh keretakan katup buang terhadap kinerja mesin induk?

3. Bagaimana cara menanggulangi keretakan pada katup buang?

1.3 Batasan Masalah

Supaya permasalahan di atas tidak terlalu meluas, maka penulis memberikan batasan terhadap permasalahan tersebut yaitu pada:

1. Sebab-sebab keretakan katub buang.

2. Pengaruhnya terhadap mesin induk.

3. Upaya penanggulangan terhadap keretakan katup buang.

1.4 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari Karya Ilmiah terapan ini adalah:

1. Sebagai syarat penyelesaian tugas akhir taruna sebelum melaksanakan praktek layar selama 12 bulan di kapal.

(15)

3

2. Sebagai bahan pengetahuan bagi perwira kapal supaya mengetahui secara dini apabila mendapat gangguan menurunnya kinerja mesin induk akibat keretakan katup buang, sehingga tidak mengganggu proses pelayaran.

3. Untuk memberikan gambaran atau bahan masukan bagi para pembaca mengenai prosedur perawatan, penanganan dan pemeriksaan pada saluran pembuangan gas buang (exhaust manifold).

1.5 Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini memberikan beberapa manfaat antara lain sebagai berikut:

a. Secara teoritis

Sebagai bekal penulis untuk mengembangkan ilmu tentang permesinan mesin induk terutama pada kepala silinder komponen katup.

b. Secara praktis

Dijadikan sebagai pedoman buku ketika menghadapi keadaan seperti retaknya katup buang dan mesin bekerja tidak normal pada kepala silinder.

(16)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Review Penelitian Sebelumnya

Kerusakan pada piringan katup buang adalah keausan atau dikenal dengan fenomena sliding wear. Kronologis kerusakan pada lapisan piringan katup buang terjadi dengan tahapan sebagai berikut:

1. Adanya lapisan oksida atau kotoran (oxide debris) yang diduga dihasilkan dari bahan bakar atau sisa pembakaran yang tidak sempurna, dipicu oleh peningkatan temperatur saat proses pembakaran yang akan menghasilkan partikel-partikel oksida yang halus dan keras (oxide glazes).

2. Ketika lapisan piringan katup buang terangkat dan bergesekan dengan dudukan katup, partikel-partikel oxide glazes tersebut menimbulkan tegangan kontak yang tinggi dan menjadi sangat abrasif terhadap permukaan material kontak.

3. Kondisi di atas terjadi secara periodik dan berulang sehingga mengakibatkan adanya siklus tegangan. Oleh karenanya area dari lapisan yang sudah tidak mampu lagi menahan beban mengalami rompal karena patah lelah, yang dimulai dari proses pertumbuhan dan penjalaran retak pada kedalaman tertentu.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Ika Kartika, dkk (Pusat Penelitian Metalurgi-LIPI) tentang keretakan katub buang maka dapat disimpulkan bahwa penulis sebelumnya hanya meneliti tentang

(17)

5

analisa keretakan katup buang saja. Oleh karena itu dalam karya ilmiah ini penulis akan meneliti tentang pengaruh keretakan katup buang terhadap kinerja mesin induk.

Bagaimana katup buang tidak memuai jika panasnya mencapai 700

C. Karena memuai, otomatis batang katup manjadi semakin panjang dan semakin tebal, dibandingkan saat kondisi hangat. Celah katup saat dingin 0,09 mm dan saat panas jadi 0,01 mm, semakin sempit. Karena katup buang akan panas dan memuai, maka celah katup buang selalu lebih longgar dari katup masuk (intake valve). Sebenarnya katup masuk juga menerima dampak panas dari ruang bakar, hanya saja karena selalu dilewati oleh udara segar yang dingin, maka kenaikan suhu di katup masuk tidak sebesar katup buang.

Karena pabrik sudah megukur pada saat suhu optimal, panjang klep akan bertambah beberapa milimeter sehingga pada saat poros nok (camshaft) bebas, bagian base circle tidak menekan katup, sehingga tidak

terjadi kebocoran kompresi melalui celah katup. Ketika panas, batang katup mulai memanjang, karena setelan awal lebih rapat dari standar maka saat poros nok seharusnya bebas, akan menekan katup sedikit. Meskipun sedikit, karena gas dalam ruang bakar bertekan tinggi, maka akan terjadi kebocoran kompresi.

Untuk mesin induk dengan suhu ideal yang lebih rendah, umumnya penyetalan lebih rapat, sedangkan mesin induk yang suhu idealnya tinggi penyetelan katup lebih longgar. Hal ini untuk mengantisipasi pertambahan ukuran katup yang lebih panjang dari pada mesin induk dengan suhu kerja

(18)

6

rendah. Oleh karena itu mesin induk jenis ini pada saat stasioner suaranya berisik karena katup disetel longgar, dan performa maksimumnya belum bisa muncul. Tetapi saat mesin sudah panas mencapai suhu ideal, maka bukaan katupnya akan sesuai standar, sehingga tenaga yang keluar bisa maksimal.

Panasnya katup buang juga bisa berdampak pada kerusakan, seperti batang katup terjepit di bos katup, hal ini terjadi pada mesin yang saat membuat lubang katup tidak presisi dan terlalu rapat. Kejadian lainnya adalah dudukan katupnya aus yang mengakibatkan kebocoran kompresi.

Oleh karena itu penulis menyimpulkan bahwa tingginya suhu di ruang bakar mempengaruhi terhadap operasional katup.

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Pengertian Pengaruh Dan Kinerja

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005), “Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang atau benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang”. Kinerja merupakan hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dapat dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

(Depdikbud, 2001:854) menyatakan bahwa pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu yang ikut untuk membentuk watak atau kepercayaan perbuatan seseorang.

(19)

7

2.2.2 Pengertian Katup

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005), ‘‘Katup adalah alat untuk membuka atau menutup saluran sehingga fluida yang mengalir didalamnya dapat diteruskan atau dihentikan’’. Di dalam ruang bakar terdapat katup masuk dan katup buang. Katup masuk berfungsi untuk mengatur masuknya campuran bahan bakar dan udara pada saat langkah hisap. Sedangkan katup buang berfungsi untuk mengatur keluarnya gas sisa pembakaran pada saat langkah buang.

2.2.3 Pengertian Mesin Induk

Word maritime (2013) mesin induk adalah penggerak utama untuk membangkitkan tenaga penggerak untuk mendorong kapal, penggerak utama berupa mesin diesel dan mesin uap.

Mesin induk (Main Engine) adalah penggerak utama untuk membangkitkan tenaga penggerak untuk mendorong kapal.

2.3 Prinsip Kerja Katup

Sebuah poros nok atau chamsaft digerakkan oleh poros engkol melalui sepasang roda-roda gigi. Nok yang ditempatkan pada poros tadi akan menggerakkan batang katup (push rod) dan tuas-tuas (rocker arm), melawan tegangan dari pada pegas katup. Pegas katup ini menahan klep nya dalam keadaan tertutup, kecuali pada saat tertentu dari pada mekanisme katup, ialah pada saat pembuangan dan pemasukan.

(20)

8

2.4 Komponen Katup

Gambar 2.1 Katup buang mesin induk

a) Piring katup sebagai bidang penutup katup berguna untuk merapatkan penutupan katup dengan dudukan katup, tebal piring katup sebagai penentu masa pakai dari katup, diameter piring katup dibuat menurut kebutuhan dari motor masing-masing.

b) Batang katup berguna untuk tempat kedudukan pegas, pelindung pegas, cincin pelat, pepnahan pegas, kunci penahan pegas serta mendapat tekanan untuk pembukaan dari katup.

c) Pegas katup (valve spring): berguna untuk mengembalikan kedudukankatup pada waktu katup menutup.

d) Kunci penahan pegas berguna untuk menahan pegas tekan dengan penahan pegasnya.

e) Sekrup penyetel dan mur pengunci berguna untuk menentukan penyetelan celah katup, dan menahan duduknya baut penyetel supaya tidak berubah.

f) Batang penumbuk katup (tappet) terdapat dua macam yaitu:

penumbuk katup mekani tekanan dan penumbuk katup hidrolik.

Gunanya untuk menerima tekanan dari gerak putar nok poros

(21)

9

bubungan dan diteruskan menjadi tekanan lurus kepada katup tersebut.

g) Pelatuk katup (rocker arm): digunakan pada mesin-mesin dengan konstruksi katup kepala, katup kombinasi serta over head camshaft, yang berguna untuk menghantar tekanan dari batang penumbuk katup dan meneruskan kepada ujung batang katup.

h) Dudukan katup (valve seat): sebagai tempat penutupan katup-katup yang dirapatkan dengan bidang dari katup.

i) Pengangkat katup (valve lifter): berguna untuk menjamin bekerjanya katup–katup agar dapat menjadi lurus gerakannya dari batang penumbuk katup tersebut.

Gambar 2.2 Rumah dudukan katup buang

(22)

10

Gambar 2.3 Dudukan katup buang

Gambar 2.4 Rumah batang katup

(23)

11

2.5 Mesin Induk

Mesin induk merupakan mesin penggerak utama poros propeller pada kapal. Pada kapal biasanya digunakan mesin diesel sebagai mesin induknya. Mesin diesel adalah motor bakar, dimana proses pembakaran bahan bakar terjadi akibat proses kompresi / penekanan udara didalam silinder (30 s/d 40 Kg/cm² denagn suhu 600 s/d 800 °C) untuk kemudian bahan bakar disemprotkan dalam bentuk kabut kepada udara yang bersuhu dan bertekanan tinggi tersebut. Mesin diesel sendiri dibedakan menjadi dua yaitu 4 tak dan 2 tak.

Mesin 4 tak adalah mesin dimana dua kali putaran poros engkol mesin menghasilkan satu kali usaha. Untuk menghasilkan satu langkah kerja pada sebuah motor bakar empat langkah, membutuhkan siklus empat langkah gerakan piston atau dua langkah putaran crankshaft yang sempurna. Siklus empat langkah ini dikenal sebagai siklus otto, yang ditemukan oleh Nikolaus August Otto pada tahun 1867.

Gambar 2.5. Siklus Mesin Diesel 4 Tak

Sumber: pencariilmu.wordpress.com

(24)

12

Mesin 2 tak adalah mesin dimana satu kali putaran poros engkol, mesin menghasilkan satu kali usaha. Proses ini berlangsung selama satu putaran dari poros engkol, dan dibagi dalam dua langkah torak. Proses dimulai pada saat torak berada di TMB pada saat langkah kompresi. Pada system pembilasan yang diperlihatkan pada gambar di bagian bawah dari silinder terdapat sebaris pintu bilas di sekeliling lingkaran. Baris pintu bilas tersebut berhubungan dengan sebuah saluran bilas udara, ke dalam mana udara dengan tekanan lebih kecil dialirkan melalui sebuah pompa bilas. Pada tutup silinder ditempatkan sebuah katup buang. Katup tersebut memisahkan silinder dari saluran gas buang yang menampung gas buang dari berbagai silinder sebelum dibuang ke atmosfir.

Gambar 2.6. Proses Kompresi

Sumber: asaticbanten.wordpress.com

(25)

13

Gambar 2.7. Proses Usaha Hisap

Sumber: asaticbanten.wordpress.com 2.6 Kerangka Penelitian

Dalam hal ini penulis akan memaparkan beberapa kerangka pikir secara bagan alur dalam menjawab atau menyelesaikan pokok permasalahan yang telah dibuat adalah sebagai berikut:

(26)

14

Tabel 2.1 Kerangka Penelitian

PENGARUH KERETAKAN KATUP BUANG TERHADAP KINERJA MESIN INDUK

Pengumpulan data

Pengolahan dan Analisis data Metode pengumpulan data

Kesimpulan dan Saran

Selesai Penelitian

Data Primer:

1. Survei 2. Wawancara 3. Observasi Data Sekunder:

1. Dokumentasi data terkait 2. Buku manual pada kapal 3. Artikel tentang motor diesel

(27)

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian

Dalam kesempatan penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Menurut Wikipedia (2010;5) penelitian deskriftif adalah salah satu jenis penelitian yang bertujuan untuk menyajikan gambaran lengkap mengenai setting sosial atau dimaksudkan untuk eksplorasi dan klarifikasi mengenai suatu fenomena atau kenyataan sosial dengan jalan mendeskripsikan sejumlah variabel yang berkenaan dengan masalah dan unit yang diteliti antara fenomena yang di uji. Metode kualitatif ini memberikan informasi yang mutakhir sehingga bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan serta lebih banyak dapat diterapkan.

Penelitian ini juga lebih memfokuskan pada studi kasus yang merupakan penelitian yang rinci mengenai suatu obyek tertentu selama kurun waktu tertentu dengan cukup mendalam dan menyeluruh.

Pada umunya suatu penelitian dapat diperinci dalam tujuh tahap yang satu sama lain saling bergantung dan berhubungan. Kesadaran terhadap keadaan ini membuat seorang peneliti lebih bijaksana dalam mengambil keputusan pada setiap tahap penelitian. Adapun tujuh tahap itu adalah sebagai berikut:

1. Perencanaan

2. Pengkajian secara teliti terhadap rencana penelitian 3. Pengambilan contoh (sampling)

4. Penyusunan daftar pertanyaan

(28)

16

5. Kerja lapangan 6. Editing dan coding 7. Analisis dan laporan 3.2 Lokasi Penelitian

Tempat yang di gunakan untuk melaksanakan penelitian ini yaitu pada saat penulis melaksanakan praktek layar. Dan waktu yang diperlukan yaitu selama penulis melaksanakan praktek layar atau selama ±12 bulan.

3.3 Jenis dan Sumber Data

Jenis dan sumber data yang diangkat dalam penyusunan ini berdasarkan data, fakta serta informasi yang pernah dilakukan selama melaksanakan praktek layar. Dari semua data, fakta dan informasi tersebut maka dijadikan bahan acuan dalam penyusunan Karya Ilmiah Terapan ini.

Sehubungan dengan penelitian ini, jenis data yang di butuhkan dan digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Data Primer

Data primer adalah Kenali info (2006;10) sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber aslinya yang berupa wawancara, jejak pendapat dari individu atau kelompok orang maupun hasil observasi dari suatu obyek kejadian atau hasil pengujian benda. Selain itu, penulis juga melakukan observasi lapangan dan mengumpulkan data dalam bentuk catatan tentang situasi dan kejadian di perpustakaan..

(29)

17

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah sumber data penelitian yang diperoleh melalui media perantara atau secara tidak langsung yang berupa buku, catatan, bukti yang telah ada, atau arsip yang dipublikasikan maupun yang tidak di publikasikan secara umum Kenali info (2006;10). Data ini digunakan untuk mendukung infomasi dari data primer yang diperoleh baik dari wawancara, maupun dari observasi langsung ke lapangan. Penulis juga menggunakan data sekunder hasil dari studi pustaka. Dalam studi pustaka, penulis membaca literatur-literatur yang dapat menunjang penelitian, yaitu literatur- literatur yang berhubungan dengan penelitian ini.

3.4 Pemilihan Informan

Pada penelitian ini, informan penelitian merupakan awak kapal di salah satu kapal niaga yang intinya akan ditempatkan sebagai tempat melaksanakan praktek keraja laut. Untuk mendapatkan kelengkapan informasi yang sesuai dengan focus penelitian maka yang dijadikan teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut:

1. Wawancara

Menurut Wikipedia, wawancara merupakan percakapan antara dua orang atau lebih dan berlangsung antara narasumber dan pewancara bertujuan untuk mencari informasi.

2.

Observasi

Selain wawancara, observasi juga merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang sangat lazim dalam metode penelitian

(30)

18

kualitatif. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005), observasi adalah peninjauan secara cermat. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa observasi merupakan kegiatan dengan menggunakan panca indera, bisa penglihatan, penciuman, pendengaran, untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk menjawab masalah penelitian.

3. Dokumentasi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dokumentasi adalah pengumpulan, pemilihan, pengolahan dan penyimpanan informasi di bidang pengetahuan, pemberian atau pengumpulan bukti dengan keterangan seperti gambar, kutipan, kliping, dan bahan referensi lainnya.

3.5 Teknik Analisis Data

Dalam penulisan Karya Ilmiah Terapan ini penulis memakai cara penarikan kesimpulan secara induktif. Menurut Tjutju Soendari, penarikan kesimpulan secara induktif yaitu analisis data yang dilakukan berdasarka fakta-fakta yang ditemukan di lapangan kemudian dikonstruksikan menjadi hipotesis atau teori. Penganalisaan terhadap mesin induk yang tidak dapat bekerja secara maksimal karena keretakan katup buang. Maka dari itu perawatan pada komponen katup perlu di lakukan secara berkala khususnya katup buang. Hal ini akan sangat mendukung kinerja suatu pemesinan di atas kapal dan juga kelancaran dalam pelayaran.

Untuk lebih jelas bisa dilihat pada gambar hubungan interaktif alur analisis data penelitian sumber: Milles & Huberman, (1994;12).

(31)

19

Gambar 3.1. Hubungan Interaktif Alur Analisis Data Penelitian

Sumber: Milles & Huberman, (1994;12)

(32)

DAFTAR PUSTAKA

Kamus Besar Bahasa Indonesia. http://kbbi.web.id/katup (Diakses pada tanggal 17 mei 2017).

Kartika, I. (2009). Analisa Kerusakan Lapisan Kobalt pada Piringan Katup Buang Mesin Diesel.

Miles dan Hubermen. 1984. Analisis data penelitian kualitatif model Miles dan Huberman. http://sangit26.blogspot.co.id/2011/07/analisis-data- penelitian-kualitatif.html. Diakses pada tanggal 18 Juli 2017.

Motogokil . Pengaruh Suhu Panas Terhadap Performa Engine.

http://motogokil.com/2013/12/11/pengaruh-suhu-panas-terhadap- performa-engine (diakses pada tanggal 2 Juni 2017).

Moleong, Lexy J. 1991. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Wikipedia, T. Teknik Analisis Data Penelitian kualitatif.

https://www.google.co.id/soendari+penelitian+kualitatif. (diakses pada tanggal 02 juli 2017)

Wikipedia. 2010;5 . Metode Penelitian. https://www.google.co.id/jenis-sumber- data (diakses pada tanggal 02 Juli 2017)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 849), http://pengertian-

menurut.blogspot.co.id/2015/09/pengertian-pengaruh-menurut-para- ahli.html. (diakses pada tanggal 14 juli 2017).

Tim Penyusun. (2013). Modul Mesin Penggerak Utama: Politeknik Pelayaran Surabaya.

Tim Penyusun. 2014.Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Terapan. Surabaya:

Politeknik Pelayaran Surabaya.

Gambar

Gambar 2.1 Katup buang mesin induk
Gambar 2.2 Rumah dudukan katup buang
Gambar 2.3 Dudukan katup buang
Tabel 2.1 Kerangka Penelitian
+2

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Firm Size (ukuran perusahaan) terhadap ROA pada Bank Umum Swasta Nasional Devisa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

Masalah penelitian dibatasi pada pemahaman anak-anak Sekolah Dasar (SD) mengenai hal-hal yang perlu dilakukan jika menghadapi bahaya kebakaran, bahaya orang yang tak

[r]

Abstrak sangat berkembang pesat pada saat itu berpengaruh pada karya arfial, namun tidak lama dikarenakan objek alam telah di- rintisnya mulai lama, pada akhirnya kembali

Hotel dapat mengekspresikan citra kota Bandung seperti “ Bandung’s precious tropical art-deco heritage”, “World’s Great Cities of Art Deco”, dan “ Bandung

Berdasarkan Pasal 7 Ayat (6) UUPT tersebut mengandung konsekuensi yakni berupa sanksi hukum apabila waktu yang telah ditentukan oleh peraturan perundang-undangan yang

metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu meta analisis, analisis yang menguraikan sistematik dengan menganalisis hasil penelitian yang sudah

Dapat dilihat bahwa ASD tug memiliki keunggulan pada faktor ekonomis dan VWT memiliki keunggulan di daftor performance serta faktor Kondisi lingkungan daerah operasi. Gambar