BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan masalah gizi di Indonesia semakin kompleks saat ini, selain masih menghadapi masalah kekurangan gizi, masalah kelebihan gizi juga menjadi persoalan yang harus kita tangani dengan serius [1]. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019, perbaikan status gizi masyarakat merupakan salah satu prioritas dengan target menurunkan prevalensi Bayi dibawah usia Dua Tahun (baduta) pendek (stunting) menjadi 28%
pada tahun 2019 [2]. Hasil Riskesdas tahun 2018 menunjukkan prevalensi stunting pada baduta sebesar 29,9% [3] Baduta yang mengalami stunting akan memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal, menjadikan anak menjadi lebih rentan terhadap penyakit dan di masa depan dapat beresiko pada menurunnya tingkat produktivitas. Pada akhirnya secara luas stunting akan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan memperlebar ketimpangan [4].
Tingginya angka stunting di Indonesia menandakan bahwa adanya masalah gizi yang kronis yang terjadi pada balita [5]. Hasil Pemantauan StatusGizi Tahun 2017menunjukan prevalensi balita stunting di Indonesia sebesar 29,6%, di Provinsi Jawa Barat sebesar 29,2%, dan di Kabupaten Bandung Barat sebesar 34,3% [6].
Kabupaten Bandung Barat yang juga merupakan salah satu dari 100 kabupaten di Indonesia yang merupakan wilayah prioritas pencegahan dan penanganan stunting [4].
Pemenuhan gizi merupakan hak dasar anak. Salah satu upaya untuk meningkatkan kesehatan dan gizi anak sebagaimana
diamanatkan oleh Undang Undang Dasar Tahun 1945 dan Perjanjian Internasional seperti Konvensi Hak Anak (Komisi Hak Azasi Anak PBB, 1989, Pasal 24), yakni memberikan makanan yang terbaik bagi anak usia di bawah 2 tahun. Untuk mencapai hal tersebut, Strategi Nasional Peningkatan Pemberian ASI dan MP-ASI merekomendasikan pemberian makanan yang baik dan tepat bagi bayi dan anak 0-24 bulan adalah: inisiasi menyusu dini segera setelah lahir minimal selama 1 jam; pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan; memberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) mulai usia 6 bulan; meneruskan pemberian ASI sampai usia 2 tahun atau lebih [7].
MP-ASI mulai diberikan sejak bayi berumur 6 bulan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi dan anak selain dari ASI. MP- ASI yang diberikan dapat berupa makanan berbasis pangan lokal.
Pemberian MP-ASI berbasis berbasis pangan lokal dimaksudkan agar keluarga dapat menyiapkan MP-ASI yang sehat dan bergizi seimbang bagi bayi dan anak 6-24 bulan di rumah tangga sekaligus sebagai media penyuluhan [7].
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan masih rendahnya proporsi pemberian makanan pada anak yang tepat di tingkat nasional, diantaranya yaitu proporsi bayi baru lahir yang mendapat Inisiasi Menyusu Dini (IMD) sebesar 58,2%, proporsi bayi 0-6 bulan yang mendapat ASI eksklusif sebesar 37,3%, proporsi balita 6-59 bulan yang mendapat suplementasi vitamin A sebesar 53,5%, proporsi konsumsi makanan beragam pada baduta 6- 23 bulan sebesar 46,6% [3].
Setiap keluarga yang mempunyai bayi dan anak usia 6-24 bulan hendaknya mempunyai pengetahuan tentang Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA), agar mampu memberikan ASI ekslusif dan menyiapkan MP-ASI yang sesuai di masing-masing
keluarga. Konseling tentang pertumbuhan dan pemberian makan pada anak merupakan salah satu bentuk intervensi yang dapat mengurangi praktik gizi yang tidak tepat akibat rendahnya pengetahuan tentang gizi yang dimiliki Ibu. Konseling gizi dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, praktik ibu dalam pemberian makan anak, dan asupan zat gizi anak secara signifikan [8].
Strategi untuk memperluas cakupan konseling Pemberian Makan Bagi Bayi dan Anak sesuai standar adalah melalui pelatihan PMBA kepada para kader yang berperan dalam pembinaan masyarakat di bidang kesehatan melalui kegiatan Posyandu.
Pelatihan tentang PMBA pada kader terutama untuk meningkatkan pengetahuan tentang PMBA serta pemantauan pertumbuhan balita, keterampilan dasar konseling dan penggunaan alat bantu konseling secara efektif [9].
Hasil penelitian Wahyuningsih, dkk. tentang Pengaruh Pelatihan Pemberian Makan Pada Bayi dan Anak terhadap Pengetahuan Kader di Wilayah Puskesmas Klaten Tengah Kabupaten Klaten menunjukkan bahwa pengetahuan kader tentang pemberian makan pada bayi dan anak bahwa ada pengaruh pelatihan pemberian makan pada bayi dan anak terhadap pengetahuan kader di wilayah Puskesmas Klaten Tengah Kabupaten Klaten [10].
Sejalan dengan penelitian Fadjri tentang Pengaruh Pelatihan PMBA terhadap Keterampilan Konseling dan Motivasi Bidan Desa menunjukan bahwa hasil analisis tentang pengaruh pelatihan PMBA terhadap keterampilan konseling bidan desa didapatkan ada pengaruh pelatihan PMBA terhadap keterampilan konseling bidan desa di Kecamatan Jeumpa Kabupaten Bireuen, Aceh [11].
Hasil penelitian Kholisoh, dkk. tentang Pengaruh Pelatihan Konseling Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) Terhadap
Tingkat Pengetahuan dan Keterampilan Kader dalam Pemantauan Pertumbuhan Bayi dan Baduta di Puskesmas Kluwut Kecamatan Bulakamba Kabupaten Brebes menunjukkan bahwa pelatihan konseling PMBA dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan kader dalam pemantauan pertumbuhan bayi dan baduta [12].
Hasil studi kasus kualitatif Nurbaiti tentang Pelaksanaan Program Pemberian Makan Bayi dan Anak Lima Puskesmas di Lombok Tengah menunjukan bahwa keterbatasan kualitas (keterampilan konseling) dan kuantitas sumber daya manusia (petugas gizi dan kader) dan sarana prasarana masih menjadi masalah dalam melaksanakan pemberian konseling PMBA serta belum adanya kegiatan monitoring evaluasi yang dilakukan oleh petugas gizi Puskesmas mengenai kegiatan terkait PMBA untuk melihat efektifitas hasil pelatihan [13].
Efektifitas pelatihan PMBA dapat dilihat dari pencapaian target pelatihan sehingga harus dikaji secara berkala bersama dengan umpan balik mengenai informasi kualitas pemberian layanan konseling PMBA di tingkat masyarakat [14].
Kabupaten Bandung Barat sebagai salah satu wilayah prioritas intervensi stunting dari 100 kabupaten/ kota di Indonesia telah melakukan salah upaya pencegahan stunting dengan melakukan pelatihan PMBA pada 120 kader di 10 desa wilayah prioritas intervensi stunting pada Bulan Agustus dan September 2018 [15].
Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk meneliti evaluasi pengaruh pelatihan konseling PMBA terhadap pengetahuan dan keterampilan konseling kader pada baduta usia 6-24 bulan di Kabupaten Bandung Barat.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana pengaruh pelatihan konseling PMBA terhadap pengetahuan kader di Kabupaten Bandung Barat?
1.2.2 Bagaimana hubungan tingkat pengetahuan kader terhadap keterampilan konseling kader pada Ibu/ Ayah/ Pengasuh Baduta usia 6-24 bulan di Kabupaten Bandung Barat?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui hasil evaluasi pengaruh pelatihan konseling Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) terhadap pengetahuan dan keterampilan konseling kader pada Ibu/
Ayah/ Pengasuh Baduta usia 6-24 bulan di Kabupaten Bandung Barat.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1. Mengetahui tingkat pengetahuan PMBA pada kader sebelum mendapat pelatihan konseling PMBA di Kabupaten Bandung Barat.
1.3.2.2. Mengetahui tingkat pengetahuan PMBA pada kader sesudah mendapat pelatihan konseling PMBA di Kabupaten Bandung Barat.
1.3.2.3. Mengetahui tingkat keterampilan konseling PMBA kader pada Ibu/ Ayah/ Pengasuh baduta 6-24 bulan di Kabupaten Bandung Barat.
1.3.2.4. Menganalisis pengaruh pelatihan konseling PMBA terhadap pengetahuan kader di Kabupaten Bandung Barat.
1.3.2.5. Menganalisis pengetahuan kader dan keterampilan konseling kader pada Ibu/ Ayah/ Pengasuh Baduta usia 6-24 bulan di Kabupaten Bandung Barat.
1.4 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian gizi masyarakat ini membatasi pada aspek pengetahuan dan keterampilan konseling kader PMBA pada baduta usia 6-24 bulan di Kabupaten Bandung Barat.
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Bagi Kader PMBA
Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam memberikan konseling PMBA.
1.5.2 Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat
Dapat memberikan informasi mengenai sejauh mana hasil evaluasi pelatihan konseling PMBA di wilayah Kabupaten Bandung Barat dan dapat menjadi masukan/ bahan pertimbangan perencanaan program.
1.5.3 Bagi Jurusan Gizi
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai sumber informasi tentang evaluasi pelatihan konseling PMBA di Kabupaten Bandung Barat sehingga dapat dimanfaatkan untuk penelitian berikutnya di Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Bandung.
1.5.4 Bagi Peneliti
Menambah pengalaman dalam melakukan penelitian dan mengetahui hasil evaluasi pelatihan konseling PMBA di Kabupaten Bandung Barat.