• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN. kelas sebagai kelas eksperimen dengan tujuan untuk mengetahui efektifitas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN. kelas sebagai kelas eksperimen dengan tujuan untuk mengetahui efektifitas"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian pra eksperimen yang melibatkan satu kelas sebagai kelas eksperimen dengan tujuan untuk mengetahui efektifitas pembelajaran matematika melalui model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) pada siswa kelas XI SMK Muhammadiyah 5 Tello Baru .

B. Desain Penelitian

Desain pada penelitian ini adalah satu kelompok pretest-posttest (The one group pretest-posttest design) yang termasuk dalam penelitian pra eksperimental.

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1 One Group Pretest-posttest

Pretest Treatment PostTest

O1 X O2

(Sumber: Sugiyono, 2015:110,111) Keterangan:

O1: Nilai pretest sebelum dilaksanakan pembelajaran Think Pair Share O2: Nilai posttest setelah dilaksanakan pembelajaran Think Pair Share

C. Satuan Eksperimen dan Perlakuan 1) Satuan Eksperimen

Satuan eksperimen dalam penelitian ini adalah siswa SMK Muhammadiyah 5 Tello Baru kelas XI, yang terdiri dari satu kelas, dan kelas tersebut dijadikan subjek penelitian.

22

(2)

2) Perlakuan

Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) . Untuk mengetahui apakah model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) efektif dalam pembelajaran matematika, maka ada empat indikator keefektifan yang digunakan yaitu: 1) hasil belajar, 2) aktivitas siswa, 3) kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, dan 4) respon siswa.

D. Variabel dan Definisi Operasional 1) Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini adalah hasil belajar matematika siswa,aktivitas siswa, dan respon siswa, sedangkan perlakuan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS).

2) Definisi Operasional Variabel dan Istilah

Variabel yang dilibatkan dalam penelitian ini secara operasional didefinisikan sebagai berikut :

1. Efektifitas pembelajaran matematika adalah suatu ukuran keberhasilan yang menyatakan seberapa besar kriteria keefektifan (ketuntasan belajar, aktivitas siswa, dan respon siswa) telah tercapai dalam pembelajaran matematika.

2. Pembelajaran matematika dengan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk memberi waktu lebih banyak kepada siswa untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu.

3. Tingkat aktivitas siswa adalah rata-rata keterlaksanaan aktivitas atau perilaku siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

(3)

4. Respon siswa adalah ukuran kesukaan, minat, ketertarikan, atau pendapat siswa tentang cara mengajar guru, LKS, bahan ajar, dan suasana kelas.

5. Hasil belajar matematika siswa yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah nilai yang diperoleh siswa dari tes yang diberikan setelah melalui proses pembelajaran dengan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS).

E. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Tes Hasil Belajar

Tes hasil belajar siswa digunakan untuk memperoeleh informasi tentang penguasaan siswa terhadap materi pembelajarn sebelum dan setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share yang biasa disebut dengan Pretest dan Posttest. Instrumen yang digunakan adalah tes hasil belajar yang dikembangkan oleh peneliti dan telah divalidasi. Bentuk tes yang digunakan adalah bentuk uraian yang terdiri dari 4 butir soal.

Cara pemberian skornya adalah sebagai berikut:

Skor = x 100

2. Lembar Observasi Aktivitas Siswa

Instrumen ini digunakan untuk memperoleh data tentang aktivitas siswa selama proses pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Pengambilan data aktivitas siswa dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung yang dilakukan oleh seorang observer.

(4)

3. Lembar Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran

Lembar observasi yang digunakan untuk mengetahui sampai mana ketercapaian keefektifan atau keterlaksaan pembelajaran selama diberikan perlakuan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Pengamatan dilakukan sejak kegiatan awal hingga kegiatan akhir dan dibantu oleh seorang guru sebagai observer. Pengkategorian skor Keterlaksanaan Pembelajaran terdiri atas 4 kategori yakni (1) tidak terlaksana dengan baik (rendah), (2) cukup terlaksana (sedang), (3) terlaksana dengan baik (tinggi), dan (4) terlaksana dengan sangat baik (sangat tinggi).

4. Angket Respon Siswa

Angket respon siswa merupakan instrumen penelitian yang digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS).

F. Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Tahap Persiapan

a. Konsultasi dengan guru dan kepala sekolah untuk memohon agar peneliti diberi izin untuk melakukan penelitian di sekolah.

b. Membuat dan menyusun Perangkat Pembelajaran.

c. Membuat dan menyusun instrumen penelitian dalam bentuk tes hasil belajar matematika siswa, lembar observasi aktivitas siswa, dan lembar angket respons siswa kemudian divalidasi oleh tim validator.

(5)

2. Tahap Pelaksanaan

Pelaksanaan pengajaran yang dilakukan peneliti yaitu selama empat kali pertemuan. Pelaksanaan eksperimen dilaksanakan sebagai berikut:

a. Memberikan Pretest kepada siswa pada kelas yang terpilih.

b. Kelas yang terpilih diberikan perlakuan yaitu diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS).

c. Melakukan observasi terhadap aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) berlangsung.

d. Memberikan Posttest kepada siswa setelah diajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS).

e. Memberikan angket respon kepada siswa setelah diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS).

3. Tahap analisis hasil penelitian

Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut :

a. Mengumpulkan data-data hasil penelitian yang diperoleh dari tes hasil belajar matematika siswa, lembar observasi siswa, dan lembar angket respon siswa.

b. Data-data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dan dibuatkan laporan.

G. Teknik Pengumpulan Data

Data hasil penelitian dikumpulkan dengan menggunakan instrumen penelitian, yaitu:

1. Data mengenai hasil belajar matematika siswa diperoleh dari tes hasil belajar yang dilaksanakan sebelum pertemuan (pretest) dan setelah pertemuan (posttes).

(6)

2. Data tentang aktivitas belajar siswa diambil pada saat proses pembelajaran melalui model Kooperati Tipe Think Pair Share (TPS) dengan menggunakan lembar observasi aktivitas siswa.

3. Data tentang respon siswa terhadap pembelajaran diperoleh dengan cara memberikan angket kepada siswa.

4. Data mengenai keterlaksanaan pembelajaran dikumpulkan pada saat proses pembelajaran melalui model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dengan menggunakan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran.

H. Teknik Analisis Data

Data yang telah terkumpul dengan menggunakan instrumen-instrumen yang ada kemudian di analisis secara kuantitatif dengan menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis inferensial.

1. Analisis Statistik Deskriptif

Teknik analisis deskriptif digunakan untuk mengungkap hasil belajar siswa, aktivitas siswa selama pembelajaran, keterlaksanaan pembelajaran dan respon siswa terhadap pembelajaran.

Untuk mengetahui efektivitas pembelajaran maka diperlukan analisis sebagai berikut :

a. Analisis Hasil Belajar Siswa

Ketuntasan hasil belajar siswa dapat dilihat dari skor yang diperoleh siswa dari pretest dan posttest. Untuk mengkategorikan skor hasil belajar siswa digunakan ketetapan Departemen Pendidikan Nasional pada Tabel 3.2 berikut ini.

(7)

Tabel 3.2 Kategorisasi Standar yang Ditetapkan Departemen Pendidikan Nasional

Sumber: Departemen Pendidikan Nasional (Syafrullah, 2012:24)

Tabel 3.3 Kategorisasi Standar Ketuntasan Hasil Belajar Matematika pada Siswa Kelas XI SMK Muhammadiyah 5 Tello Baru.

Skor Kriteria

75 ≤ x ≤ 100 Tuntas

0 ≤ x < 75 Tidak Tuntas

Berdasarkan pada Tabel 3.3 bahwa siswa yang memperoleh skor 75 sampai 100 maka dapat dinyatakan tuntas dan siswa yang memperoleh skor 0 sampai 74 maka siswa dinyatakan tidak tuntas dalam pembelajaran.

Kriteria seorang siswa dikatakan tuntas apabila memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditentukan oleh sekolah yang bersangkutan yakni 75 sedangkan menurut Depdiknas (Trianto, 2010:241) ketuntasan klasikal tercapai apabila minimal 85% siswa di kelas tersebut telah dinyatakan tuntas dalam pembelajaran.

Untuk mengetahui gain (peningkatan) hasil belajar matematika siswa pada kelas eksperimen dapat diperoleh dengan cara membandingkan hasil pretest dengan hasil posttest. Gain yang digunakan untuk menghitung peningkatan hasil belajar matematika siswa adalah gain ternormalisasi (normalisasi gain).

Skor Kategori

0 ≤ x < 57 Sangat rendah

57 ≤ x < 75 Rendah

75 ≤ x < 85 Sedang

85 ≤ x < 95 Tinggi

95 ≤ x ≤ 100 Sangat Tinggi

(8)

Besarnya peningkatan sebelum dan sesudah pembelajaran dihitung dengan rumus gain ternormalisasi Redhana (mukhsin, 2015: 24)

Keterangan:

g = gain ternormalisasi Spre = skor pretes Spos = skor postes

Smak = skor maksimum ideal

Untuk klasifikasi gain ternormalisasi terlihat pada tabel berikut:

Tabel 3.4 Kriteria tingkat Gain Ternormalisasi Nilai Gain Ternormalisasi Kategori

g 0,70 Tinggi

0,30 g 0,70 Sedang

g 0,30 Rendah

Sumber: Ardin (mukhsin, 2015: 35)

b. Aktivitas siswa selama pembelajaran

Data hasil pengamatan aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung dianalisis dan dideskripsikan dengan menggunakan persentase.

Untuk mencari rata-rata frekuensi dan rata-rata persentase waktu yang digunakan siswa melakukan aktivitas selama pembelajaran ditentukan melalui langkah- langkah berikut: (1) hasil pengamatan aktivitas siswa untuk setiap indikator dalam satu kali pertemuan ditentukan frekuensinya dan dicari rata-rata frekuensi dari dua orang observer, kemudian ditentukan frekuensi rata-rata dari rata-rata frekuensi untuk beberapa kali pertemuan, (2) mencari persentase frekuensi setiap indikator dengan cara membagi besarnya frekuensi dengan jumlah frekuensi untuk semua

(9)

indikator, kemudian hasil pembagian dikalikan dengan 100%. Selanjutnya mencari rata-rata persentase waktu untuk beberapa kali pertemuan dan dimasukkan dalam tabel rata-rata persentase.

Tabel 3.5 Kriteria Batasan Waktu Ideal Aktivitas Siswa

No Kategori Aktivitas Siswa

Alokasi Waktu

pada RPP Waktu Ideal

Interval Toleransi PWI (%) I II III IV

1. Tampak seperti memperhatikan

penjelasan. 15 15 15 15 60

16,66%

dari WT

11,66 – 21,66 2.

Tampak seperti memikirkan soal atau permasalahan yang diberikan secara individu

10 10 10 10 40 11,11%

dari WT

6,11 – 16,11

3.

Saling berbagi dengan

pasangannya mengenai jawaban dari soal atau permasalahan yang telah dipikirkan sebelumnya

10 10 10 10 40 11,11%

dari WT

6,11 – 16,11

4.

Menanyakan kepada teman tentang jawaban yang tepat dari soal atau permasalahan yang diberikan.

10 10 10 10 40 11,11%

dari WT

6,11 – 16,11

5.

Memberikan tanggapan atau jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan pasangannya.

10 10 10 10 40 11,11%

dari WT

6,11 – 16,11

6.

Mempresentasikan hasil diskusi dari soal atau permasalahan yang diberikan

20 20 20 20 80 22,22%

dari WT

17,22–

27,22 7. Menanyakan hal-hal yang belum

dimengerti 10 10 10 10 40 11,11%

dari WT

6,11 – 16,11

8.

Siswa yang melakukan aktivitas lain yang tidak relevan dengan kegiatan pembelajaran, seperti:

mengobrol, melamun, mengerjakan tugas mata pelajaran lain, dan lain- lain.

5 5 5 5 20

5,55%

dari WT 0 – 10

Jumlah 90 90 90 90 36

0 100%

Keterangan:

 PWI adalah Persentase Waktu Indikator

 WT adalah waktu tersedia pada setiap pertemuan

(10)

Data hasil pengamatan aktivitas Siswa selama pembelajaran dianalisis sebagai berikut:

∑ Keterangan

Persentaseaktivitas siswa untuk melakukan suatu jenis aktivitas tertentu

∑ Jumlah aktivitas tertentu yang dilakukan siswa setiap pertemuan

∑ Jumlah seluruh aktivitas setiap pertemuan.

Kemudian persentase aktivitas siswa tersebut dibandingkan dengan

“Interval Toleransi (PWI)” yang diperoleh dari persentase waktu ideal dengan menggunakan toleransi 5%.

Persentase waktu ideal siswa dalam melakukan aktivitas tertentu , dihitung berdasarkan persentase jumlah alokasi waktu dari RPP pada aktivitas tertentu terhadap jumlah waktu seluruh RPP, yang rumusnya sebagai berikut:

Keterangan :

= persentase waktu ideal untuk melakukan suatu jenis aktivitas tertentu = jumlah alokasi waktu dari semua RPP pada aktivitas tertentu.

= jumlah alokasi waktu dari semua RPP

c. Keterlaksanaan Pembelajaran

Analisis dilakukan terhadap hasil penilaian dari satu observer yang mengamati keterlaksanaan pembelajaran melalui model kooperatif tipe Think Pair Share. Dari hasil observer selama pertemuan, ditentukan nilai rata-rata keterlaksanaan pembelajaran dari pertemuan pertama sampai pertemuan terakhir.

Keterlaksanaan pembelajaran =

X100%

(11)

Nilai keterlaksanaan ini selanjutnya dikonfirmasikan dengan interval penentuan kategori keterlaksanaan pembelajaran melalui model kooperatif tipe Think Pair Share yaitu:

Tabel 3.6 Kategori Keterlaksanaan Pembelajaran

Interval Kategori

3,5 4 Sangat Tinggi (ST)

2,5 3,5 Tinggi (T)

1,5 2,5 Sedang (S)

1,5 Rendah (R)

Sumber: Tahirman (2013:24).

Kategori keterlaksanaan pembelajaran dikatakan “efektif”, apabila konversi nilai rata-rata setiap aspek pengamatan yang diberikan oleh pengamat pada setiap pertemuan berada pada kategori tinggi atau sangat tinggi, apabila ada nilai rata- rata skor keterlaksanaan pembelajaran yang berada pada kategori sedang dan rendah, maka guru harus meningkatkan kemampuannya dengan memperhatikan aspek-aspek yang nilainya kurang.

d. Analisis Respons Siswa

Analisis yang dilakukan dalam hal ini adalah menentukan persentase rata- rata jumlah siswa yang memberi respons terhadap pembelajaran dengan menggunakan rumus:

̅

Keterangan:

̅ : Persentase rata-rata jumlah siswa yang memberi respons : Total nilai respons

n : Jumlah siswa yang merespons

(12)

Respons siswa terhadap pembelajaran dikatakan positif jika persentase respons siswa dalam menjawab senang dan ya untuk tiap poin pertanyaan minimal 75% (Hasanuddin, 2010:94).

2. Analisis Statistik Inferensial

Statistika inferensial digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi. Teknik statistika ini dimaksudkan untuk menguji hipotesis penelitian. Sebelum pengujian hipotesis, dilakukan uji normalitas.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data tentang hasil belajar matematika siswa sebelum dan setelah perlakuan berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

Untuk keperluan pengujian normalitas populasi dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

Pada penelitian ini menggunakan taraf signifikansi 0,05 dengan syarat:

 Jika Pvalue ≥ 0,05 maka diterima dan ditolak, artinya data hasil belajar matematika siswa dari kelompok perlakuan berasal dari populasi yang berdistribusi normal

 Jika Pvalue < 0,05 maka ditolak dan diterima, artinya data hasil belajar matematika siswa dari kelompok perlakuan berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal .

(13)

b. Uji Gain Ternormalisasi

Untuk mengetahui seberapa besar ketuntasan hasil belajar siswa, diuji dengan menggunakan rumus Normalized Gain:

Ng

Dengan Ng adalah Normalized gain, skor posttest nilai rata-rata hasil belajar siswa setelah pembelajaran melalui metode penemuan terbimbing setting kooperatif, skor pretest adalah nilai rata-rata hasil belajar siswa sebelum pembelajaran melalui metode penemuan terbimbing setting kooperatif dan skor maksimal adalah nilai skor maksimal ideal.

Indeks gain ≥ 0,7 : Peningkatan hasil belajar dikategorikan tinggi 0,3 ≤ Indeks gain < 0,7 : Peningkatan hasil belajar dikategorikan sedang Indeks gain < 0,3 : Peningkatan hasil belajar dikategorikan rendah

c. Pengujian Hipotesis

Setelah uji normalitas, selanjutnya dilakukan pegujian hipotesis dengan menggunakan uji t one sample test dengan SPSS versi 20. Pengujian hipotesis dimaksudkan untuk menjawab hipotesis penelitian yang telah diajukan.

1) Hasil belajar siswa

H0: µ = 75 melawan H1: µ> 75 Keterangan:

: Parameterskor rata-rata hasil belajar siswa 2) Uji gain ternormalisasi siswa

lawan Keterangan:

: Parameterskor rata-rata gain ternormalisasi

(14)

3) Ketuntasan klasikal hasil belajar siswa Lawan Keterangan:

: Parameter ketuntasan belajar secara klasikal

Gambar

Tabel  3.3  Kategorisasi  Standar Ketuntasan Hasil Belajar Matematika  pada  Siswa Kelas XI SMK Muhammadiyah  5 Tello Baru
Tabel 3.4 Kriteria  tingkat  Gain  Ternormalisasi  Nilai Gain  Ternormalisasi  Kategori
Tabel 3.5 Kriteria  Batasan Waktu  Ideal Aktivitas Siswa

Referensi

Dokumen terkait

Masukan sel rata kanan : Jika data lebih panjang dari panjang sel maka lebihnya akan mengisi sel disebelah kirinya yang kosong, jika sel sebelah kiri terisi maka data akan

Pencatatan perkawinan dalam pelaksanannya diatur dalam Bab II pasal 2 PP No. 9 tahun 1975, yaitu pencatatan perkawinan dari mereka melangsungkannya menurut Agama Islam dilakukan

Waktu standar, yaitu lamanya waktu yang dibutuhkan dalam menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan bidang pekerjaan pada Dini Bali Silver di Celuk, Gianyar tahun 2009 dan tahun 2010

arsip digunakan sebagai Gudang Karyawan  belum paham  fungsi tempat  arsip  Belum  dilakukan  sosialisasi Ruang kantor KSBM Maret‐April 2013 Bagian Administrasi Membuat

bahwa dengan telah dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler

Dalam suatu kisi ruang , semua titik-titik kisi mungkin membentuk pasangan bidang-bidang sejajar dan berjarak yang sama yang disebut bidang-bidang kisi. Bidang-bidang inilah

Wawancara Mendalam ( depth Interview ) biasanya dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara ( interview guide ) sebagai panduan yaitu, berisi seperangkat pertanyaan terbuka