AUKUS Peluang dan Kendala bagi Indonesia
Lukman Yudho Prakoso
Prodi Ekonomi Pertahanan, Fakultas Manajemen Pertahanan,.Universitas Pertahanan RI, Bogor, Indonesia
Email: [email protected]
Received: 15-04-2021, Accepted: 09-05-2021
Abstrak
Dinamika lingkungan strategi di Laut Cina Selatan tidak juga mereda walapun dunia masih dilanda pandemic covid-19. Keputusan Australia, Inggris dan Amerika membentuk Pakta Pertahanan AUKUS membuat situasi adu kekuatan dengan Cina makin memanas, dengan keputusan pembangunan kapal selamnuklir Australia jelas potensi konflik dan perlombaan senjata makin terbuka lebar. Bagaimana peluang dan kendala bagi Indonesia adalah tujuan dari penulisan artikel ini dengan menggunakan metode study pustaka. Hasil anaisis tulisan ini adalah bahwa Indonesia yang pada tahun 2023 kembali dipilih untuk memimpin ASEAN, memiliki peluang besar memainkan peran signifikan untuk menjadi penyeimbang diantara kekuata besar yang sedang berkonflik, dengan mengedepankan, mempertahankan The Southeast Asian Nuclear-Weapon-Free Zone Treaty (SEANWFZ) atau the Bangkok Treaty of 1995. Mengimplementasikan ASEAN Outlook on Indo-Pacific merupakan penegasan posisi ASEAN dalam peranannya untuk menjaga perdamaian, keamanan, stabilitas, dan kemakmuran di kawasan Indo-Pasifik.
yang mencakup Asia Pasifik dan Samudra Hindia. AOIP ini mengedepankan pendekatan dialog dan kerja sama yang terbuka dan inklusif di bidang yang menjadi prioritas ASEAN, yaitu maritim, ekonomi, konektivitas, dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Kesimpulan dari tulisan ini adalah bahwa Indonesia memiliki peluang besar dapat memanfaatkan situasi yang ada sebagai Pemimpin ASEAN menjadi penengah dalam hubungan yang terus memanas antara AUKUS dan Cina.
Kata Kunci: AUKUS, ASEAN, SEANWFZ, Laut Cina Selatan
Abstract
The dynamics of the strategic environment in the South China Sea have not subsided even though the world is still hit by the COVID-19 pandemic. The decision of Australia, Britain and America to form the AUKUS Defense Pact has made the situation of a power struggle with China even more intense, with the decision to build an Australian nuclear submarine, further increasing tensions. The potential for conflict and arms race is high.
What are the opportunities and constraints for Indonesia is the purpose of writing this article using the literature study method. The results of the analysis of this paper are that Indonesia, which in 2023 was re-elected to lead ASEAN, has a great opportunity to play a significant role in balancing the major powers in conflict, by prioritizing, maintaining The Southeast Asian Nuclear-Weapon-Free Zone Treaty (SEANWFZ). or the Bangkok Treaty of 1995. Implementing the ASEAN Outlook on Indo-Pacific is an affirmation of ASEAN's position in its role in maintaining peace, security, stability, and prosperity in the Indo- Pacific region. which includes the Asia Pacific and Indian Oceans. This Outlook puts forward an open and inclusive approach to dialogue and cooperation in ASEAN's priority areas, namely maritime, economy, connectivity, and the achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs). The conclusion of this paper is that Indonesia has a great opportunity to take advantage of the existing situation as the ASEAN Leader to mediate in the increasingly heated relationship between AUKUS and China.
Keywords: AUKUS, ASEAN, SEANWFZ, South China Sea.
Pendahuluan
Pada 15 September 2021 Presiden Amerika Serikat Joe Biden, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, dan Perdana Menteri Australia Scott Morrison menyepakati pakta pertahanan terbaru, yang dinamai AUKUS. AUKUS sebuah akronim bahasa Inggris untuk tiga negara anggota: Australia, Inggris, Amerika Serikat, adalah sebuah pakta keamanan trilateral antara Australia, Inggris, dan Amerika Serikat (AS). Di bawah pakta tersebut, Amerika Serikat dan Inggris akan membantu Australia untuk mengembangkan dan mengerahkan kapal-kapal selam bertenaga nuklir, selain mengerahkan militer Barat di kawasan Pasifik. Meskipun pengumuman bersama oleh Perdana Menteri Australia Scott Morrison, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, dan Presiden Amerika Serikat Joe Biden tak menyebut nama negara lainnya, sumber-sumber anonim Gedung Putih menduga bahwa pakta tersebut dirancang untuk melawan pengaruh Republik Rakyat Cina (RRC) di kawasan Indo-Pasifik, sebuah karakterisasi yang disepakati oleh para analis. Sejumlah analis dan media juga mengkarakterisasi aliansi tersebut sebagai cara untuk melindungi Republik Cina (Taiwan) dari ekspansionisme Cina. Sebagai langkah awal, kerja sama ini berfokus pada
pembangunan kapal selam bertenaga nuklir untuk Angkatan Laut Australia. Itu artinya Australia akan menjadi negara ketujuh di dunia yang mengoperasikan kapal selam bertenaga nuklir. Adapun teknologi pembuatan kapal selam bertenaga nuklir akan diberikan Amerika Serikat, yang sebelumnya hanya pernah membagi teknologi semacam itu kepada Inggris. Teknologi tersebut bakal memungkinkan Australia untuk memiliki kapal selam yang lebih cepat melaju dan lebih sulit dideteksi ketimbang armada kapal selam konvensional. Kapal selam bertenaga nuklir dapat menyelam selama berbulan-bulan dan bisa menembakkan misil lebih jauh meski Australia menegaskan tidak berniat memasang hulu ledak nuklir. Hal ini, menurut sejumlah analis, boleh jadi merupakan pakta pertahanan paling signifikan yang dibuat ketiga negara tersebut sejak Perang Dunia II. "Ini benar-benar menunjukkan bahwa ketiga negara itu telah menarik garis dan menangkal langkah agresif Cina," ungkap Guy Boekenstein dari lembaga kajian Asia Society Australia.
Kesepakatan tersebut tidak secara gamblang menyebut kekuatan dan kehadiran militer Cina di kawasan Indo- Pasifik, namun ketiga pemimpin itu berulang kali merujuk kerisauan pada
keamanan kawasan yang mereka katakan
"berkembang secara signifikan". Ini adalah peluang bersejarah bagi ketiga negara, dengan sekutu dan mitra yang berpikiran serupa, untuk melindungi nilai-nilai bersama serta mempromosikan keamanan dan kesejahteraan di kawasan Indo-Pasifik. Pakta AUKUS menyetujui saling berbagi informasi dan teknologi antar-ketiga negara di sejumlah bidang, termasuk intelijen, teknologi kuantum, dan pembelian misil jelajah. Di antara bidang- bidang itu, pembuatan kapal selam adalah kuncinya. Kapal-kapal selam itu akan dibuat di Adelaide, Australia Selatan, yang melibatkan AS dan Inggris dalam penyediaan konsultasi pada teknologi produksi.
Metode dan Studi Pustaka
Penulis menggunakan metode studi pustaka menurut M. Nazir dalam bukunya yang berjudul ‘Metode Penelitian’
mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan: “Studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, litertur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan.
(Nazir,1988: 111). Studi Kepustakaan yaitu mengadakan penelitian dengan cara mempelajari dan membaca literatur- literatur yang ada hubungannya dengan
permasalahan yang menjadi obyek penelitian.
Heboh Aliansi AUKUS, Apakah Indonesia Patut Waspada? (Haryono, 2021)
Haryono dalam tulisannya membahas tentang ap aitu AUKUS dan bagaimana kronologi AUKUS dan keputusannya membuat kapal selam nuklir Australia, penulis juga mengulas tentang hubungan bilateral Indonesia dengan Cina maupun Australia, namun penulis juga mengingatkan bahwa AUKUS dan Cina bisa saja menjadi konflik terbuka sehingga pemerintah Indonesia sudah harus menyiapkan antisaipasi sejak dini.
Rivalitas Cina, AS dan ASEAN dalam Sengketa Laut Cina Selatan (Alunasa, 2020).
Alunasa membahas bagaimana konflik Laut Cina Selatan saat ini antara kekuatan Amerika dan Cina dan kondisi negara-negara ASEAN dengan kondisi masing-masing negara. Klaim Cina terhadap 9 dashline dan Amarika yang agresif menentang Cina di Kawasan Pasifik.
Melihat akar masalahnya, persoalan klaim teritori ini memang berada di AS dan Cina. AS yang hadir dengan sikapnya yang konfrontatif, sementara Cina yang mengklaim wilayah LCS hingga 80%
dengan modal Sembilan garis putus-putus
(nine dash line) yang beredar di tahun 1947 dan 2009. Hal tersebut justru sangat berdampak kepada kedaulatan Indonesia yang bersinggungan langsung dengan Laut Natuna di Kepulauan Riau. Indonesia harus mampu mengambil sikap yang tegas atas sengketa di LCS. Mengingat bahwa Cina tidak akan menerima pendekatan diplomatik yang biasa. Seperti yang diketahui bahwa strategi Cina adalah dengan menempuh realisme politik, mengabaikan segala bentuk diplomasi dan aspek hukum internasional termasuk UNCLOS 1982. Indonesia harus mampu menolak sepenuhnya klaim Cina atas Laut Natuna karena dipandang tidak memiliki dasar pijakan hukum dan tidak pernah diakui dalam UNCLOS 1982.
Konflik Laut Cina Selatan: Rivalitas Cina-AS dan ASEAN (Sahrasad, 2015)
Bagi ASEAN, sengketa LCS memiliki dua komponen. Pertama, komponen kedaulatan: berbagai negara mengajukan klaim yang tumpang tindih. Masalahnya kompleks karena ada dua kubu yang menggunakan dasar argumen yang bertolak belakang. Cina dan Taiwan (Republik Cina) menggunakan argumen sejarah dalam memperjuangkan tuntutannya. Filipina, Vietnam, Brunei, dan Malaysia menggunakan argumen zona ekonomi eksklusif sesuai dengan hukum laut internasional. Pemecahan masalah ini
akan lama karena tiap argumen memiliki celah-celah kelemahannya sehingga penyelesaian tuntasnya bisa mencakup antargenerasi.
Namun demikian, bila tiap pihak berhasil menciptakan suasana batiniah yang nyaman, di tengah absennya penyelesaian masalah kedaulatan, proyek pengembangan bersama dapat dimulai dengan membawa manfaat bersama atas kekayaan alam yang dikandungnya.
Komponen kedua menyangkut perdamaian dan stabilitas di LCS yang dapat memengaruhi stabilitas di Asia Tenggara dan pada gilirannya menentukan laju pembangunan di ASEAN. Tindakan ekstra asertif dan provokatif anggota ASEAN akan memancing tindakan balasan yang dapat memicu konflik.
Diskusi dan Pembahasan
AUKUS, sentralitas ASEAN, dan keamanan regional
Pembentukan kerja sama trilateral antara Inggris, Amerika Serikat, dan Australia, yang kemudian disebut AUKUS, ditujukan untuk meningkatkan keamanan dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik.
Kerja sama trilateral ini bukan hanya bertujuan membangun kapal selam bertenaga nuklir bagi Australia, namun juga kerja sama dalam peningkatan
keamanan siber, kecerdasan buatan, dan juga kerja sama keamanan bawah laut.
Kesepakatan AUKUS kemudian langsung menimbulkan reaksi dari berbagai negara termasuk negara-negara dari kawasan ASEAN. Reaksi yang muncul juga beragam mulai dari ada yang khawatir, mendukung, dan memilih untuk tidak merespons sama sekali. Filipina misalnya menyampaikan dukungannya secara terbuka terhadap AUKUS karena menganggap kerja sama ini meningkatkan keamanan dan kestabilan regional.
Sementara itu, Indonesia dan Malaysia menyampaikan kekhawatiran dan keprihatinan karena hanya akan menambah akselerasi perlombaan senjata di kawasan dan menempatkan kestabilan perdamaian regional dalam bahaya.
Vietnam lebih memilih untuk memberikan komentar khusus terhadap adanya kerja sama ini dan mengatakan tetap mengikuti perkembangan di kawasan.
Berbagai reaksi dan pendapat dari
negara-negara di ASEAN
menggambarkan adanya ketidaksatuan suara dalam konteks regional. Argumen Laura Southgate dalam Diplomat (2021) menyatakan bahwa perbedaan respons terhadap keberadaan AUKUS bahkan memperjelas semakin tidak kohesinya ASEAN dalam mengambil sikap dan suara terhadap perubahan konstelasi keamanan yang berpotensi besar mengancam
stabilitas kawasan ASEAN sendiri. Di tengah respons yang beragam dari negara-negara ASEAN, pemerintah Australia dan Amerika Serikat, melalui pernyataan formal mempertegas bahwa kerja sama ini sama sekali tidak akan memperlemah sentralitas ASEAN dalam usaha pembangunan keamanan dan stabilitas kawasan, terutama di wilayah Indo-Pasifik. Namun, alih-alih mempertegas peran ASEAN dalam konteks keamanan regional, AUKUS semakin mengesampingkan peran sentralitas ASEAN dalam membangun keamanan di kawasan. Keberadaan AUKUS melengkapi kerangka multilateral yang tidak melibatkan negara-negara ASEAN setelah adanya revitalisasi the Quad.
Kondisi ini menggambarkan bahwa Amerika Serikat dan sekutunya tidak terlalu memperhatikan ASEAN sebagai organisasi regional yang relevan dalam konstruksi keamanan kawasan Indo- Pasifik meskipun berada di wilayah yang kemungkinan akan menjadi jalur lintas dari kapal selam bertenaga nuklir tersebut.
Menurut analis James Chin dari Universitas Tasmania dalam the Conversation (2021), AUKUS semakin mempertegas irelevansi ASEAN terhadap negara-negara Barat dalam konteks keamanan regional di Indo-Pasifik.
Tidak satu suaranya negara-negara di ASEAN dalam menanggapi perubahan konstelasi keamanan di kawasan seperti AUKUS bahkan berpotensi untuk memecah persatuan regional di ASEAN.
Di tengah persaingan Amerika Serikat dan Cina, yang menurut beberapa pengamat sebenarnya menjadi landasan utama adanya kerja sama AUKUS, negara- negara di ASEAN dapat menjadi terbagi menjadi dua kutub. Sebagian semakin dekat ke Amerika Serikat, dan yang lainnya semakin dekat ke Cina.
Masa depan
Sentralitas ASEAN harus menjadi perhatian utama apabila negara-negara ASEAN tidak ingin terpecah menjadi dua kubu yang hanya akan mendatangkan disrupsi terhadap pembangunan keamanan di kawasan. Negara-negara anggota ASEAN harus terus memperbesar investasi politik luar negerinya di ASEAN untuk menjaga keamanan. Jika sikap dan dukungan menjadi terbagi terhadap ekskalasi persaingan Cina dan Amerika Serikat yang semakin mengerucut, terulangnya peta dan kondisi kawasan Asia Tenggara sebagai arena pertarungan seperti pada saat Perang Dingin akan sangat mungkin terjadi. Mantan Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa dalam Jakarta Post (2021) menyampaikan
bahwa AUKUS, sama seperti usaha revitalisasi the Quad, adalah sebagai pengingat akan ketidaksigapan dan harga yang harus dibayar ASEAN dalam merespon perubahan konstelasi geopolitik di kawasan.
Ketiadaan respons secara kolekif dapat dimaknai bahwa ketidaksatuan suara ASEAN sebagai organisasi regional sangat terlihat dalam merespon keberadaan AUKUS yang dapat mengancam stabilitas dan keamanan regional yang sebagian besar mencakup wilayah ASEAN. Hal sederhana yang dapat dilakukan ASEAN dalam mempertahankan kesatuan dan persatuan di ASEAN adalah mengeluarkan sikap melalui joint statement ASEAN secara kolektif dalam merespons AUKUS.
Ini menjadi salah satu bukti dalam usaha untuk menjaga sentralitas dan persatuan ASEAN di kawasan. Seluruh kepala negara harus duduk bersama dalam lingkup ASEAN dalam menjawab keraguan terhadap sentralitas ASEAN yang semakin berkembang.
Revitalisasi
Selain memberikan satu suara dalam merespons AUKUS, ASEAN harus dapat menerapkan kebijakan yang lebih konkret dan nyata dalam merespons perubahan konstelasi keamanan yang terjadi di kawasan. ASEAN tidak hanya bisa
berhenti pada menyampaikan keprihatianan dan juga kekhawatiran semata kepada implementasi AUKUS.
Revitalisasi sentralitas ASEAN dapat dilakukan melalui pembangunan rasa saling percaya terutama melibatkan negara-negara yang tergabung dalam AUKUS bersama-sama dengan Cina dan negara utama lainnya dalam membangun rasa saling percaya melalui jalur diplomasi multilateral yang telah dibangun ASEAN untuk membangun keamanan di kawasan.
Jalur diplomasi dan dialog multilateral yang digagas oleh ASEAN melalui ASEAN Regional Forum atau juga East Asia Forum harus dimanfaatkan menjadi forum dalam membangun komunikasi antar berbagai pihak. Reduksi terhadap rasa saling ketidakpercayaan dan potensi miskalkulasi strategi yang bisa saja terjadi dan memicu konflik di kawasan Indo- Pasifik harus diselesaikan secara diplomasi dan ASEAN setidaknya sudah mempunyai modal tersebut.
Dampak AUKUS terhadap Indonesia Badan Keamanan Laut (Bakamla) menyebutkan terbentuknya aliansi AUKUS yang beranggotakan Australia – Inggris – Amerika Serikat mengindikasikan sinyal potensi meningkatnya eskalasi di Laut Cina Selatan (LCS). Hal ini turut berdampak terhadap Indonesia, baik langsung maupun tak langsung. Dampak
langsung tersebut dapat berupa banyaknya kekuatan militer negara non- claimant yang hadir di LCS. Kemudian, juga berpotensi meningkatkan dinamika hubungan internasional terkait dengan LCS. Dampak langsung tersebut dapat berupa banyaknya kekuatan militer negara non-claimant yang hadir di LCS.
Kemudian, juga berpotensi meningkatkan dinamika hubungan internasional terkait dengan LCS. Selain itu, kontestasi di laut akan mendorong negara yang terlibat untuk menaikkan kemampuan perangnya sehingga meningkatkan potensi pecah perang. Umumnya, konflik antarnegara mendorong nasionalisme yang dapat berakibat terjadinya konflik horisontal antarmanusia.
Strategi Indonesia
Indonesia harus mempertahankan dan mengedepankan kebijakan politik luar negri bebas aktif.
Indonesia akan menjadi Ketua ASEAN pada tahun 2023, harus dapat memainkan peran di Kawasan Regional, sehingga dalam menyikapi terbentuknya AUKUS mengedepankan kebersamaan negara-negara ASEAN.
Mengedepankan kepentingan ASEAN, megurangi kepentingan hanya negara tertentu. Indonesia Bersama ASEAN mempertahankan dan mengedepankan The Southeast Asian
Nuclear-Weapon-Free Zone Treaty (SEANWFZ) or the Bangkok Treaty of 1995. Kawasan Bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara atau Southeast Asia Nuclear Weapon Free Zone atau Traktat Bangkok yang biasa disingkat SEANWFZ adalah suatu kesepakatan di antara negara- negara Asia Tenggara yang terdiri dari Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam untuk mengamankan kawasan Asean dari nuklir.
Mengedepankan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific. ASEAN Outlook on Indo- Pacific merupakan penegasan posisi ASEAN dalam peranannya untuk menjaga perdamaian, keamanan, stabilitas, dan kemakmuran di kawasan Indo-Pasifik.
yang mencakup Asia Pasifik dan Samudra Hindia. AOIP ini mengedepankan pendekatan dialog dan kerja sama yang terbuka dan inklusif di bidang yang menjadi prioritas ASEAN, yaitu maritim, ekonomi, konektivitas, dan pencapaian SDGs, menjadikan ASEAN memiliki nilai tawar dari berbagai kepentingan negara di luar Kawasan yang berkepentinga di wilayah Kawasan ASEAN
Penutup
Sebagai kesimpulan tulisan ini adalah kendala yang terjadi yang disebabkan oleh ketegangan antara kekuatan AUKUS dan Cina memberi peluang yang besar bagi Indonesia dengan mengedepankan Spirit ASEAN berperan dalam penyeimbang kekuatan yang berkonflik, dampak konflik jika menjadi perang terbuka akhirnya akan dirasakan oleh Indonesia dan seluruh anggota ASEAN di Kawasan Regional, sehingga ASEAN bersatu yang dipimpin oleh Indonesia menjadi peluang terbaik untuk meredakan ketegangan yang saat ini terjadi.
Daftar Pustaka
Kurniadi, Rivalitas China, AS dan ASEAN dalam Sengketa Laut China Selatan,
dapat diakses pada
https://www.untan.ac.id/rivalitas- china-as-dan-asean-dalam-sengketa- laut-china-selatan/, dipublikasikan pada tanggal 6 Oktober 2020.
Moh. Nazir. 1988. Metode Penelitian.
Jakarta: Ghalia Indonesia.
Willy Haryono, Heboh Aliansi AUKUS, Apakah Indonesia Patut Waspada?,
dapat diakses pada
https://www.medcom.id/internasional/
opini/0KvgvvRN-heboh-aliansi-aukus- apakah-indonesia-patut-waspada, dipublikasikan pada tanggal 20 September 2021