• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN LITERATUR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN LITERATUR"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN LITERATUR

Bab ini akan menjelaskan beberapa pengertian mengenai smart city, resilient city, masyarakat dalam smart community, smart community dalam kampung tangguh

nusantara, dan preseden kampung tangguh di Indonesia. Berbagai materi yang dijelaskan berdasarkan tinjauan dari berbagai literatur dan akan digunakan sebagai landasan dalam pembahasan selanjutnya.

2.1 Smart City

Pada sub bab ini akan menjelaskan berbagai penjelasan mengenai smart city mulai dari pengertian, dimensi, hingga sejarah dari smart city tersebut.

2.1.1 Pengertian Smart City

Smart city merupakan salah satu konsep pengembangan kota yang berkembang saat ini. Perkembangan konsep tersebut menyebabkan pengertian yang tidak sama dari berbagai pihak karena pemahaman smart city tersebut tidak hanya berfokus pada aspek tunggal. Caragliu et al., (2011) menganggap sebuah kota dapat dikatakan cerdas ketika memiliki manajemen Sumber Daya Alam (SDA) yang bijaksana melalui tatanan pemerintahan yang partisipatif. Manajemen tersebut diterapkan pada investasi manusia dan sosial, transportasi dan infrastruktur komunikasi modern melalui teknologi informasi dan komunikasi, dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan serta kualitas hidup yang tinggi. (Giffinger &

Haindl, 2007) mengatakan kota cerdas ialah kota yang dapat berkinerja baik dengan berwawasan ke depan dalam enam dimensi, dibangun dengan kombinasi dari pengetahuan dan aktivitas masyarakat yang dapat menentukan nasib sendiri, sadar, serta mandiri.

Pendekatan pengembangan kota yang melihat ke depan menuju smart city mempertimbangkan isu-isu, seperti kontribusi, ketegasan diri, kemandirian, dan kesadaran. Terutama isu kesadaran, dimana potensi

(2)

tertentu hanya dapat dilaksanakan jika masyarakat, swasta, dan pemerintahan menyadari posisi kota, yaitu mengetahui kota dari berbagai aspek seperti kesadaran akan lingkungan sekitarnya. Pengembangan kota yang melihat ke depan dilakukan pada enam karakteristik yaitu ekonomi, masyarakat kota, pemerintahan, mobilitas, lingkungan, dan kehidupan.

Dari pengertian diatas dapat dikatakan bahwa smart city merupakan sebuah konsep pengembangan kota yang dapat memanajemen sumber daya, baik itu sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya teknologi dalam meningkatkan kualitas hidup kota baik secara ekonomi, pemerintahan, lingkungan, transportasi, masyarakat, dan kehidupan guna menciptakan kota yang berkelanjutan.

2.1.2 Dimensi Smart City

Konsep kota cerdas memiliki atribut-atribut yang dapat disebut dengan istilah dimensi dan terdapat enam dimensi dari konsep kota cerdas (Giffinger & Haindl, 2007), yaitu:

1. Pemerintahan Cerdas (Smart Government)

Pemerintahan cerdas terdiri dari aspek partisipasi politik dan layanan bagi warga negara sebaik fungsi administrasinya. Dengan faktor- faktor yang ada didalamnya, seperti partisipasi dalam pengambilan keputusan, pelayanan umum dan sosial, pemerintahan yang transparan, layanan online, sarana dan prasarananya.

2. Lingkungan Cerdas (Smart Environment)

Lingkungan cerdas dideskripsikan oleh daya tarik kondisi alam (baik dari iklim, ruang hijau, dan lain-lain), polusi, pengelolaan sumber daya, serta dilihat dari upaya perlindungan terhadap lingkungan. Dengan faktor-faktor yang ada pada lingkungan cerdas yaitu seperti daya tarik kondisi alamnya, polusi, perlindungan lingkungan, serta pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan.

3. Masyarakat Cerdas (Smart Society)

Masyarakat cerdas tidak hanya dideskripsikan oleh tingkat kualifikasi atau pendidikan dari masyarakatnya, namun juga dilihat dari

(3)

kualitas interaksi sosial mengenai kehidupan publik dan keterbukaan terhadap dunia luar. Faktor-faktor yang ada di dalamnya seperti tingkat kualifikasi, daya tarik untuk belajar sepanjang hayat, etnis sosial dan pluralitas, fleksibilitas, kreativitas, keterbukaan pikiran/pendapat, serta partisipasi dalam kehidupan publik.

4. Ekonomi Cerdas (Smart Economy)

Ekonomi cerdas termasuk di dalamnya faktor-faktor seputar kompetisi ekonomi sebagai inovasi, kewirausahaan, merek dagang, produktivitas, dan fleksibilitas pasar tenaga kerja serta integrasi dalam pasar internasional. Faktor-faktor seperti semangat berinovasi, kewirausahaan, citra ekonomi dan merek dagang, produktivitas, fleksibilitas dari pasar tenaga kerja, serta kemampuan untuk melakukan perubahan.

5. Kehidupan Cerdas (Smart Living)

Kehidupan cerdas meliputi berbagai aspek dari kualitas hidup sebagai budaya, kesehatan, keselamatan, perumahan, pariwisata, dan lain- lain. Dengan faktor-faktornya antara lain fasilitas budaya, kondisi kesehatan, keselamatan individu, kualitas perumahan, fasilitas pendidikan, daya tarik wisata, dan keterpaduan sosial.

6. Mobilitas Cerdas (Smart Mobility)

Mobilitas cerdas memiliki aspek penting yaitu aksesibilitas lokal dan internasional yang sama baiknya dengan ketersediaan teknologi informasi dan komunikasi dan modern serta sistem transportasi yang berkelanjutan. Dengan faktor-faktor yang terdapat pada mobilitas cerdas antara lain aksesibilitas lokal dan internasional, ketersediaan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi, serta sistem transportasi yang berkelanjutan, inovatif, dan aman.

Dimensi-dimensi tersebut kemudian dirumuskan ke dalam sebuah sintesis mengenai enam dimensi konsep kota cerdas.

(4)

Sumber: Giffinger & Haindl, (2007)

GAMBAR 2. 1 DIMENSI SMART CITY

TABEL II. 1 BAGIAN DIMENSI SMART CITY

Smart Economy (Competitiveness) Smart Society (Social and Human Capital)

Innovative spirit Entrepreneurship

Economic image & trademarks Productivity

Flexibility of labour market International embeddedness Ability to transform

Level of qualification Affinity to life long learning Social and ethnic plurality Flecibility

Creativity

Cosmopolitanism/Open-mindedness Participation in public life

Smart Government (Participation) Smart Mobility (Transport and ICT) Participation in decision-making

Public and social services Transparent governance

Political strategies & perspectives

Local accessibility

(Inter)-national accessibility Availability of ICT-infrastructure

Sustainable, innovative, and safe transport system

Smart Environment (Natural Resources)

Smart Living (Quality of Life)

Attractivity of natural conditions Pollution

Environmental protection Sustainable resource management

Cultural facilities Health conditions Individual safety Housing quality Education facilities Touristic attractivity Social cohesion Sumber: Giffinger & Haindl, (2007)

2.1.3 Perkembangan Smart City di Indonesia

Di Indonesia telah berkembang konsep smart city. Pemerintah dibawah Kementerian Komunikasi Dan Informatika Republik Indonesia menerbitkan buku panduan penyusunan masterplan smart city pada tahun 2017 dengan program “Gerakan menuju 100 smart city”. Beberapa kota besar di Indonesia telah mengadopsi konsep smart city. Sebagai contoh yaitu DKI Jakarta yang memiliki program Jakarta Smart City sejak tahun

(5)

2014 dan Kota Surabaya yang menerapkan inovasi untuk menjadi smart city, misalnya dengan menerapkan sistem tilang online bagi pengemudi kendaraan bermotor yang melakukan pelanggaran lalu lintas. Dalam penerapan smart city tersebut bukan hanya dari pihak pemerintah saja, akan tetapi pihak swasta dan masyarakat pun turut berpartisipasi membantu untuk mewujudkan konsep smart city.

Ada beberapa startup yang membantu dalam mewujudkan konsep smart city di Indonesia. Matakota merupakan salah satu startup yang membantu masyarakat maupun pemerintah dalam memberikan informasi seperti bencana alam, tindak kriminal, kemacetan lalu-lintas, dan juga informasi orang hilang. Lalu ada juga startup Qlue yang memungkinkan masyarakat dari berbagai kota untuk menyampaikan keluhan terkait fasilitas umum, dan informasi informasi lainnya.

2.2 Resilient City

Resilient City/Kota Tangguh merupakan sebuah konsep pengembangan kapasitas kota sehingga orang yang tinggal dan bekerja di kota tersebut khususnya orang miskin dan rentan dapat bertahan dan berkembang dengan tidak peduli stress atau kejutan yang mereka hadapi (City Resilience Framework, 2015). Pada skala wilayah yang lebih kecil resiliensi dari modal sosial yang dihasilkan oleh sebuah komunitas (Istanabi et al., 2018). Resiliensi juga menjadi penghubung antara sosial, ekonomi, dan lingkungan karena komunitas sosial selalu tergantung dengan lingkungan. Ketahanan tantangan besar bagi kehidupan di perkotaan sehingga diharapkan perkotaan dapat membangun kemampuan beradaptasi dan merespon berbagai perubahan (Zhu et al., 2020).

Fokus dari ketahanan ialah untuk meningkatkan kinerja sistem dalam menghadapi bahaya. Setiap kota diasumsikan membangun ketahanan menjadi proses yang terintegrasi dan berkelanjutan pada skala yang berbeda (City Resilience Framework, 2015). Menurut City Resilience Framework, (2015) terdapat empat dimensi resilient city yaitu:

1. Kesehatan & Kesejahteraan (Health & Wellbeing)

(6)

Fokus dari dimensi ini adalah untuk meminimalkan kerentanan manusia, lalu memfasilitasi manusia untuk mendapatkan akses pekerjaan dengan membuka lowongan beragam pekerjaan, dan pengaman yang efektif bagi manusia kesehatan dan kehidupan.

2. Ekonomi & Masyarakat (Economy & Society)

Pada dimensi ini fokus yang dilakukan adalah keterlibatan komunitas atau masyarakat secara aktif untuk jaringan sosial yang kuat dan integrasi sosial, lalu keamanan yang komprehensif dan supremasi hukum untuk mencegah kejahatan serta pengelolaan keadaan darurat, dan ekonomi yang berkelanjutan dimana untuk membuat kemakmuran kota dalam jangka Panjang.

3. Infrastruktur & Lingkungan Hidup (Infrastructure & Ecosystems)

Pada dimensi ini fokus yang dilakukan untuk merencanakan penggunaan lahan dan penegakan peraturan, lalu untuk pemeliharaan infrastruktur dan ekosistem, dan mobilitas yang handal serta komunikasi untuk menciptakan konektivitas yang terintegrasi.

4. Kepemimpinan dan Strategi (Leadership & Strategy)

Fokus pada dimensi ini untuk kepemimpinan yang efektif dan pengelolaan pemerintahan, lalu pemangku kepentingan yang diberdayakan untuk mengaktifkan organisasi, dan pengembangan terintegrasi perencanaan.

Terdapat tujuh karakteristik dalam pengembangan sistem Tangguh menurut City Resilience Framework (2015) yaitu kemampuan untuk belajar (Reflective), kemampuan untuk mengatur sumber daya (Resourceful), kekuatan yang meminimalisir kegagalan (Robust), mempunyai kapasitas cadangan (Redundant), memiliki strategi alternatif (Flexible), komunikasi dan konsultasi secara inklusif (Inclusive), dan sistem yang terpadu (Integrated). Terdapat irisan dari resiliensi yang mencakup upaya mitigasi, adaptasi, dan inovasi (Istanabi et al., 2018).

(7)

Sumber: City Resilience Framework (2015)

GAMBAR 2. 2 DIMENSI RESILIENT CITY

Konsep smart city diarahkan pada pendekatan infrastruktur dan konsep resilient city diarahkan pada pendekatan perencanaan kolaboratif. Smart city dan Resilient city merupakan konsep yang berjalan beriringan dan memiliki hubungan dan keterkaitan yang erat (Arafah et al., 2018). Menurut para ahli indikator yang saling berhubungan antara smart city dan resilient city yaitu infrastruktur, ekonomi, sosial, kelembagaan, dan ketahanan lingkungan (Zhu et al., 2020). Oleh karena itu kosep smart city dengan resilient city hubungan satu sama lain.

2.3 Konsepsi Kampung

Kampung merupakan ciri kehidupan bermukim yang dapat dianggap sebagai tatanan permukiman tradisional sebelum ilmu perencanaan permukiman modern terdapat di Indonesia (Nugroho, 2009). Secara sederhana kampung dapat didefinisikan sebagai sekelompok masyarakat yang mendiami wilayah tertentu.

Kampung biasanya merupakan bagian dari kota yang merupakan masyarakat berpenghasilan rendah dengan tujuan bertahan hidup. Kampung tersebut biasa disebut dengan kampung kota.

Menurut Nugroho (2009), beranjak dari paradigma perencanaan kota, kampung kota sebenarnya dapat menjadi awal paradigma baru perencanaan kota dalam mewujudkan kota yang lebih baik. Kampung dengan segala aktivitasnya dapat menjadi gambaran tentang bagaimana kehidupan kota terjadi. Kampung kota terdiri atas kelompok perumahan, jumlah penduduk yang tinggi, dan perumahan yang dibangun secara tidak formal. Perumahan tersebutlah yang disebut sebagai

(8)

“kampung kota” atau perumahan yang seperti di pedesaan namun berada di wilayah perkotaan.

Masyarakat kampung kota adalah sekelompok masyarakat yang bertempat tinggal di kawasan perkotaan dengan mempertahankan budaya “kampung” dalam kehidupan sehari-hari. Kampung kota juga merupakan permukiman heterogen di dalam atau di pinggir suatu kota yang mengalami perubahan karakteristik dari pedesaan ke arah perkotaan secara bertahap. Kampung di dalam kota atau di pinggir suatu kota memiliki karakteristik tersendiri, seperti kehidupan sebuah desa masih terdapat di dalamnya yang nampak pada sistem sosial dan budaya yang mengikat (Makhmud et al., 2017). Akibatnya keberadaan kampung kota harus menjadi perhatian dan bagian dari kehidupan kota serta proses perencanaan dan penataan kota.

Salah satu kampung kota yang terdapat di Indonesia ialah Kelurahan Pinang Jaya yang berada di Kota Bandarlampung, Kecamatan Kemiling. Kelurahan Pinang Jaya yang berada di dalam dan di pinggir Kota Bandarlampung memiliki karakteristik kampung kota. Masyarakat Kelurahan Pinang Jaya dalam upaya memenuhi kebutuhan dasarnya memanfaatkan peternakan, pertanian, dan budidaya. Pertanian pada Kelurahan Pinang Jaya ini bisa disebut urban farming.

Urban farming merupakan aktivitas pertanian di dalam atau di sekitar kota guna meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat (Wiyanti, 2013). Hal tersebut menyebabkan munculnya kreativitas masyarakat guna memberikan kontribusi terhadap ketahanan pangan serta meningkatkan ekonomi masyarakat yang berguna dalam mendukung Kampung Tangguh Nusantara.

2.4 Masyarakat dalam Smart Community

Masyarakat pada awalnya didefinisikan sebagai “a union of families” atau bisa disebut masyarakat merupakan gabungan atau kumpulan dari berbagai keluarga. Masyarakat berasal dari hubungan antar individu, lalu antar kelompok yang lebih membesar lagi dan menjadi kelompok besar manusia (Khairuddin,2008).

Masyarakat adalah suatu gabungan atau kesatuan dari manusia yang selalu berubah karena proses masyarakat. Masyarakat sendiri terbentuk dari hasil hubungan interaksi antara individu yang terus berlangsung. Society merupakan

(9)

istilah untuk masyarakat yang artinya tidak terdapat ciri-ciri atau ruang lingkup tertentu yang dapat menjadi pegangan untuk mengadakan suatu analisa secara ilmiah. Masyarakat juga dapat digunakan untuk menggambarkan kelompok manusia yang besar, sampai pada kelompok kecil yang terorganisasi (Soekanto, 1983). Masyarakat adalah suatu kelompok manusia yang dengan sengaja dibentuk secara rasional untuk memenuhi atau mencapai kebutuhan tertentu. Oleh karena itu pengertian dari masyarakat tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaan ataupun kepribadian individu.

Maka dari berbagai pengertian diatas dapat diartikan bahwa masyarakat adalah hubungan antara satu orang atau sekelompok orang yang saling hidup berdampingan secara berkelompok dan saling berinteraksi serta saling mempengaruhi satu sama lain dan hal tersebut menimbulkan perubahan sosial didalam kehidupan. Masyarakat dalam smart community merupakan masyarakat yang dapat menciptakan kegiatan dan tindakan yang bersifat kolaboratif dengan tujuan yang lebih luas, yaitu untuk meningkatkan inklusi sosial serta meningkatkan demokrasi.

Dengan smart community diharapkan masyarakat sadar akan persoalan yang dihadapi dan potensi yang dimiliki, sehingga masyarakat dapat berperan serta dalam proses penentuan kebijakan, penyelesaian persoalan, solusi, dan meningkatkan pelayanan. Masyarakat menjadi fokus secara khusus dalam perkembangan smart community. Masyarakat dalam smart community diharapkan menjadi masyarakat yang turut berpartisipasi dalam pembangunan suatu wilayah.

Partisipasi masyarakat dibutuhkan sebagai usaha untuk mewujudkan smart city yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan masyarakat, melayani permasalahan melalui partisipasi atau aduan masyarakat, serta memenuhi hak masyarakat dalam proses pembangunan.

2.5 Smart Community dalam Kampung Tangguh Nusantara

Program Kampung Tangguh Nusantara ialah program khusus yang dibuat oleh Kapolri dan Panglima TNI dalam rangka penanganan COVID-19 di bidang Kesehatan, keamanan, dan sosial ekonomi. Terdapat 7.024 Kampung Tangguh Nusantara yang tersebar di Indonesia. Pandemi COVID-19 yang menyebabkan

(10)

beberapa persoalan seperti Kesehatan bagi masyarakat sehingga banyak yang terinfeksi COVID-19, lalu perekonomian yang menurun dikarenakan aktivitas ekonomi seperti jual beli, distribusi, dan produksi menjadi terhambat. Maka dibutuhkan terobosan dan program yang dapat meningkatkan kesehatan serta perekonomian masyarakat, sehingga persoalan yang disebabkan oleh Kesehatan dan ekonomi juga akan terselesaikan.

Kampung merupakan ciri kehidupan bermukim yang dapat dianggap sebagai tatanan permukiman tradisional sebelum ilmu perencanaan permukiman modern terdapat di Indonesia (Nugroho, 2009). Tangguh berarti memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan berinovasi dalam menghadapi potensi ancaman bencana, serta dengan segera dapat memulihkan diri dari dampak bencana yang merugikan (Habibullah, 2013). Nusantara yang berarti seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka dapat diartikan dari pengertian diatas bahwa Kampung Tangguh Nusantara adalah sebuah kawasan bermukim yang dapat mandiri dengan beradaptasi dan berinovasi dalam menghadapi ancaman bencana ataupun hal tidak terduga lainnya di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kelurahan Pinang Jaya merupakan salah satu kelurahan yang dipilih untuk Program Kampung Tangguh Nusantara. Kelurahan Pinang Jaya memiliki luas wilayah 195 hektar dengan 24 UMKM binaan Pemerintah Kota Bandarlampung sehingga memiliki potensi dalam peningkatan ekonomi. Sumber Daya Alam yang tersedia di Kelurahan Pinang Jaya, salah satunya air bersih dapat mencukupi kebutuhan di kelurahan tersebut. Lahan-lahan yang luas dan masih tersedia dapat dibangun suatu usaha sehingga dapat mengatasi pengangguran.

Program Kampung Tangguh Nusantara diharapkan dapat meningkatkan kesehatan, keamanan, dan sosial ekonomi masyarakat selama masa pandemi COVID-19. Sehingga dalam mendukung program kampung tangguh tersebut peran dan partisipasi masyarakat/komunitas sangat diperlukan, sehingga program tersebut dapat berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Smart community merupakan salah satu pendekatan yang digunakan dalam mengoptimalkan sebuah program (Janah et al., 2019).

Smart community/masyarakat cerdas dalam mendukung Kampung Tangguh Nusantara harus turut berperan aktif. Salah satu peran masyarakat/komunitas dalam

(11)

Kampung Tangguh Nusantara adalah terbentuknya sebuah struktur kepengurusan, dan Kampung Tangguh Nusantara di Kelurahan Pinang Jaya telah terbentuk struktur kepengurusan tersebut sebagai berikut:

Sumber: Peneliti, 2021

GAMBAR 2. 3 STRUKTUR KEPENGURUSAN KAMPUNG TANGGUH NUSANTARA KELURAHAN PINANG JAYA

2.6 Preseden Kampung Tangguh di Indonesia

Preseden Kampung Tangguh di Indonesia yaitu ada Kampung Tangguh Semeru, Kampung Siaga Bencana, dan Desa/Kelurahan Tangguh Bencana. Untuk Kampung Tangguh Semeru merupakan program dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Program Kampung Tangguh Semeru juga digadang-gadang akan menjadi program dalam memutus rantai penyebaran covid-19 (Megasari et al., 2020). Salah satu desa yang menjadi Kampung Tangguh Semeru adalah Desa Tegalsari, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Dalam sebuah kampung tangguh harus terdapat beberapa fasilitas seperti posko kesehatan, ruang isolasi mandiri, lumbung pangan, dapur umum, tempat untuk mencuci tangan dan hand sanitizer, dan

(12)

kawasan wajib masker. Di Desa Tegalsari juga terdapat tempat budidaya ikan lele serta home industri kerupuk.

Lalu ada Kampung Siaga Bencana, yaitu sebuah wadah yang menjadi penanggulangan bencana berbasis masyarakat dengan menjadikan tempat untuk program penanggulangan bencana. Menurut Habibullah (2013) Kampung Siaga Bencana dibentuk untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari risiko bencana dengan program pencegahan dan penanggulangan yang memanfaatkan sumber daya alam lingkungan setempat. Adapun kegiatan Kampung Siaga Bencana yaitu melakukan sosialisasi atau kegiatan penyadaran kepada masyarakat tentang bahaya bencana serta menyiapkan sistem peringatan dini lokal.

Desa/Kelurahan Tangguh Bencana adalah salah satu upaya pengurangan risiko bencana yang berbasiskan masyarakat. Pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat adalah segala upaya untuk mengurangi bencana yang dilaksanakan oleh masyarakat sebagai pelaku utama (Habibullah, 2013). Adapun kegiatan Desa/Kelurahan Tangguh Bencana yaitu melakukan pengkajian risiko bencana di desa/kelurahan seperti menilai ancaman, kerentanan, kapasitas, dan risiko bencana.

Lalu melakukan pemantauan, evaluasi, serta pelaporan program di tingkat desa/kelurahan.

TABEL II. 2 PERBEDAAN PRESEDEN DENGAN KAMPUNG TANGGUH NUSANTARA

Perbedaan Kampung Siaga Bencana Desa/Kelurahan Tangguh Bencana

Kampung Tangguh Nusantara Instansi

Pembuat Kementerian Sosial RI BNPB POLRI dan TNI

(13)

Perbedaan Kampung Siaga Bencana Desa/Kelurahan Tangguh Bencana

Kampung Tangguh Nusantara

Maksud dan Tujuan

Upaya penanggulangan bencana berbasis komunitas bertujuan untuk memberikan pemahaman dan kesadaran masyarakat, membentuk jejaring dan memperkuat interaksi sosial, mengorganisasikan, menjamin, kesinambungan,

mengoptimalkan potensi, dan sumber daya

Upaya

penanggulangan bencana berbasis komunitas bertujuan

cenderung sebagai upaya peningkatan program

penanggulangan bencana berbasis masyarakat

Upaya

penanggulangan bencana berbasis komunitas bertujuan untuk melakukan aksi nyata untuk menanggulangi dampak COVID- 19 dengan fokus tangguh kesehatan, tangguh

keamanan, tangguh sosial ekonomi, dan tangguh informasi dan kreativitas

Populasi Target

Masyarakat yang potensial terkena ancaman dan resiko bencana alam baik pada tingkat kecamatan/desa/kelurahan/dusu n

Masyarakat yang potensial terkena ancaman dan resiko bencana alam baik pada tingkat

desa/kelurahan

Masyarakat yang potensial terkena ancaman COVID- 19 karena

terindikasi tingginya penyebaran COVID-19 pada tingkat

desa/kelurahan

Sumber: Peneliti, 2021

2.7 Sintesis Literatur

Tinjauan Literatur yang telah dilakukan yang bersumber dari berbagai jenis literatur tersebut dijadikan sebagai dasar peneliti dalam melakukan penelitian. Hasil dari tinjauan literatur yang telah dilakukan digunakan untuk menemukan variabel yang masih memiliki keterkaitan dengan sasaran yang telah ditentukan sebelumnya.

Berikut ini merupakan tabel ringkasan mengenai sintesis literatur dalam pembahasan potensi smart community dalam mendukung kampung tangguh nusantara:

(14)

TABEL II. 3 SINTESIS LITERATUR

Literatur Sumber Teori Variabel

Smart City (Caragliu et al., 2011)

Sebuah kota dapat dikatakan cerdas ketika memiliki manajemen Sumber Daya Alam (SDA) yang bijaksana melalui tatanan pemerintahan yang partisipatif.

● Transparansi

(Giffinger &

Haindl, 2007)

Kota Cerdas adalah kota yang berkinerja baik dengan cara berwawasan ke depan dalam enam karakteristik ini, dibangun di atas kombinasi cerdas dari anugerah dan aktivitas warga yang dapat menentukan nasib sendiri, mandiri, dan sadar.

Resilient City (City Resilience Framework, 2015)

Resilient City merupakan sebuah konsep pengembangan kapasitas kota untuk berfungsi, sehingga orang yang tinggal dan bekerja di kota tersebut khususnya orang miskin dan rentan dapat bertahan dan berkembang dengan tidak peduli stress atau kejutan yang mereka hadapi.

● Kapasitas

● Partisipasi

(Istanabi et al., 2018)

Pada skala wilayah yang lebih kecil resiliensi dari modal sosial yang dihasilkan oleh sebuah komunitas sehingga terdapat irisan dari resiliensi yang mencakup upaya mitigasi, adaptasi, dan inovasi.

(Zhu et al., 2020)

Ketahanan tantangan besar bagi kehidupan di perkotaan sehingga diharapkan perkotaan dapat membangun kemampuan beradaptasi dan merespon berbagai perubahan.

(15)

Literatur Sumber Teori Variabel Konsepsi Kampung (Nugroho, 2009) Kampung merupakan ciri kehidupan bermukim yang dapat

dianggap sebagai tatanan permukiman tradisional sebelum ilmu perencanaan permukiman modern terdapat di Indonesia.

● Sosial

(Makhmud et al., 2017)

Kampung di dalam kota atau di pinggir suatu kota memiliki karakteristik tersendiri, seperti kehidupan sebuah desa masih terdapat di dalamnya yang nampak pada sistem sosial dan budaya yang mengikat.

Masyarakat Dalam Smart Community

(Khairuddin, 2008)

Masyarakat berasal dari hubungan antar individu, lalu antar kelompok yang lebih membesar lagi dan menjadi kelompok besar manusia.

● Pemberdayaan

(Soekanto, 1983)

Masyarakat juga dapat digunakan untuk menggambarkan kelompok manusia yang besar, sampai pada kelompok kecil yang terorganisasi.

Smart Community Dalam Kampung Tangguh Nusantara

(Kapolri dan Panglima TNI, 2020)

Program Kampung Tangguh Nusantara diharapkan dapat meningkatkan Kesehatan, keamanan, dan sosial ekonomi masyarakat selama masa pandemi COVID-19.

● Kesehatan

● Keamanan

● Ekonomi

Sumber: Peneliti, 2021

Gambar

TABEL II. 1 BAGIAN DIMENSI SMART CITY
GAMBAR 2. 2 DIMENSI RESILIENT CITY
GAMBAR 2. 3 STRUKTUR KEPENGURUSAN KAMPUNG TANGGUH  NUSANTARA KELURAHAN PINANG JAYA
TABEL II. 2 PERBEDAAN PRESEDEN DENGAN KAMPUNG TANGGUH  NUSANTARA
+2

Referensi

Dokumen terkait

pembayaran biaya jasa & transpotasi yang sangat besar. iii) kondisi pasar modal Indonesia sangat tergantung kepada pasar modal luar negeri terutama pasar modal

konsep ini menitik-beratkan pada kwalitas modal kerja, dalam konsep ini pengertian modal kerja adalah kelebihan aktiva lancar terhadap hutang jangka pendek (net

Sesuai dengan penjelasan singkat mengenai permasalahan pencatatan persediaan yang sedang dihadapi oleh Giri Mart UPN Veteran Jawa Timur maka, pada dasarnya dibutuhkan

Berdasarkan berbagai penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa belum pernah dilakukan adanya penelitian mengenai resistensi masyarakat terjajah dan penjajah yang

Berdasarkan hasil pengujian pada tabel di atas, diperoleh nilai t hitung > t tabel atau (6,356 > 2,006), dengan demikian hipotesis kedua yang diajukan bahwa

Hasil analisis menyatakan bahwa DP memberikan pengaruh yang cukup besar pada perilaku RDP akibat beban gempa dibandingkan dengan struktur OF, dimana pengaruh

a. Kualitas tergantung pada pelatih dan waktu yang tersedia. Pelatih dalam metode on the job training berperan sebagai pemandu atau pengarah dalam berperilaku kerja yang benar,

Penelitian mi bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan arang cangkang kelapa sawit sebagai bahan pengisi dalam pembuatan kompon selang karet, serta mendapatkan