• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II SITUS SANGIRAN SEBAGAI WORLD HERITAGE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II SITUS SANGIRAN SEBAGAI WORLD HERITAGE"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

BAB II

SITUS SANGIRAN SEBAGAI WORLD HERITAGE

A. Profil Museum Sangiran dan Situs

Museum Sangiran adalah sebuah museum situs, yaitu museum yang didirikan sebagai sarana untuk mengomunikasikan sejarah keberadaan dan nilai penting dari Situs Sangiran kepada publik. Sebuah museum situs idealnya harus dapat menggambarkan replika dari situs beserta kandungan temuannya, yang dikemas dalam suatu model tata ruang dan tata pamer museum yang komunikatif sehingga dapat memberikan pemahaman kepada publik tentang kondisi dan nilai penting situs tersebut.1

Situs Sangiran adalah sebuah Situs Prasejarah di Jawa Tengah yang terletak sekitar 17 km di sebelah utara kota Solo. Situs ini merupakan satu-satunya situs prasejarah di Indonesia telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia.

Kompleks Museum Sangiran secara administratif terletak di dukuh Ngampo, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Museum ini dibangun pada tahun 1983, di atas areal lahan seluas 16.675 m2. Situs Sangiran berada di wilayah Kabupaten Sragen dan Karanganyar. Di area sisi utara masuk ke dalam wilayah Kabupaten Sragen dan area sisi selatan masuk wilayah Kabupaten Karanganyar. Kedua kabupaten ini dipisahkan oleh Kali Cemoro yang mengalir dari timur ke barat. Secara astronomis, situs ini terletak antara koordinat

1 Rusmulia Tjiptadi Hidayat , Manajemen Tata Ruang Dan Tata Pameran Museum Sangiran di Kabupaten Sragen Jawa Tengah, Tesis: Universitas Padjajaran Bandung, 2008, hlm. 33.

20

(2)

110048’56’’-110053’00’’ Bujur Timur dan 07024’22,50’’-07030’22,90’’ Lintang Selatan.

Dari gambar 1 dapat dijelaskan bahwa pada tahun 1974 dibangunnya Museum Plestosen, yaitu sebuah bangunan yang berbentuk joglo yang berada di Desa Krikilan yang berfungsi sebagai tempat penyimpan temuan fosil-fosil.

Gambar 1. Bangunan Museum Plestosen Tahun 1974 Sumber : Koleksi Foto Museum Sangiran

Gambar 2. Bangunan Museum Sangiran Tahun 1984 Sumber : Koleksi Foto Museum Sangiran

(3)

commit to user

Museum Plestosen dibangun atas dasar intruksi dari Gubernur Kepala tingkat I Jawa Tengah dan direalisasikan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sragen.

Gambar 2 menjelaskan bahwa tahun 1984 didirikannya bangunan dengan nama Museum Situs Sangiran yang merupakan perpindahan dari Museum Plestosen.

Bentuk arsitekstur bangunan Museum Situs Prasejarah Sangiran merupakan perpaduan bentuk “Joglo” dengan arsitektur kreasi modern dimana terdiri dari beberapa gedung menjadi satu komplek, dengan atap sirap dan dinding tembokk lantai tegel teraso. Bangunan gedung museum situs Prasejarah Sangiran diresmikan penggunannya oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yaitu Prof.

Dr. Fuad Hasan pada tanggal 1 Agustus 1988. Museum Sangiran merupakan museum lapangna yang digunakan untuk menampung fosil yang diketemukan di Situs Sangiran, guna dipergunaka sebagai ajang pendidikan Ilmu Pengtahuan dan Penelitian dari berbagai disiplin ilmu dan sekaligus sebagai tempat rekreasi.

Berpindahan ini disebabkan oleh bertambahnya temuan fosil-fosil, serta diiringi banyaknya pengunjung untuk melihat hasil temuan fosil tersebut serta banyak penelitian-penelitian yang dilakukan.

1. Mitos Masyarakat Sangiran

Pada zaman dahulu sebelum tahun 1930, di kawasan Sangiran berkembang mitos Balung Buto. Kisah mitos Balung Buto dituturkan kembali dengan rinci dan sedikit rumit oleh narasumber kunci Mbah Toto Marsono sesepuh Desa Krikilan

(4)

commit to user

yang sekarang telah berusia 91 tahun. Menurut versi Mbah Toto kisahnya adalah sebagai berikut :2

Pada zaman dahulu kala, ketika daerah Sangiran masih berupa hutan lebat dan berbukit-bukit, hiduplah sekelompok masyarakat penuh dengan kedamaian. Meskipun kondisi tanah di daerah itu tidak subur, tetapi penduduknya tidak pernah kekurangan makanan, karena mereka rajin bercocok tanam dan berternak. Suatu ketika, ketentraman mereka tiba-tiba berubah menjadi kekacauan karena datangnyabala tentara reksasa.

Rombongan raksasa itu merusak berbagai jenis tanaman dan memangsa hewan bahkan memakan manusia terutama anak-anak.

Penduduk Sangiran ketakutan dan berlarian ke sebuah desa di balik bukit untuk meminta bantuan kepada seorang ksatria yang gagah perkasa bernama Raden Bandung. Sebagai Ksatria, Raden Bandung menyanggupi akan mengusir para raksasa dari bumi Sangiran secara baik-baik, tetapi para raksasa itu tidak meninggalkan Sangiran, bahkan meminta agar tiap hari mereka diberi persembahan berupa seorang anak manusia sebagai makanan raja raksasa. Raden Bandung marah dan terjadilah peperangan antara anak buah Raden Bandung dengan raksasa.

Peperangan itu dimenagkan oleh tentara raksasa dan Raden Bandung sendiri hampir saja terbunuh oleh kesaktian raja raksasa bernama Tegopati.

Kekalahan perang melawan raja raksasa mengharuskan Raden Bandung melarikan diri dan bersembunyi di tengah hutan.

Di dalam pengasingan, Raden Bandung mendapat wangsit (wahyu) dari dewa yang menasehati agar dia bertapa di hutan selama sewindu. Setelah genap waktunya, seperti yang telah ditentukan dewa, datanglah wisik (bisikan) yang mengatakan agar Bandung menenggelamkan diri di sebuah telaga (Jw= Kedung) yang banyak pohon beringinnya. Wisik dari dewa itu dijalaninya, dan di dalam air Bandung bertemu dengan Dewa Ruci yang memberikan wejangan atau ajaran tentang berbagai hakekat hidup dan cara mengalahkan kejahatan yang dilakukan oleh para raksasa. Pada akhirnya nasehatnya, Dewa Ruci mengatakan,

“Sangirlah (asahlah) kukumu di batu itu, sebagai senjata yang akan mengalahkan para raksasa”.

Setelah senjata kuku ditajamkan, Raden Bandung muncul dari air telaga dan bersama pasukannya mencari Tegopati, raja Raksasa yang pernah mengalahkannya. Alangkah terkejutnya dia ketika mengetahui keadaan sudah berubah sama sekali.tegopati

2 Bambang Sulistyanto, Balung Buto: Warisan Budaya Dunia Dalam

(5)

commit to user

telah mendirikan kerajaan di Glagahombo3 dengan para pengikut dan bala tentara raksasa yang semakin bertambah banyak. Tidak jauh dari kerajaan itu dibangun pula sebuah gapura yang megah sebagai pintu masuk menuju kerajaan, sekaligus berfungsi sebagai tempat penjagaan. Singkat cerita, Raden Bandung bersama pasukannya menyerbu kerajaan Glagahombo. Pasukan raksasa banyak yang melarikan diri tersebar kemana-mana, tetapi mereka dapat dikejar dan sebagian besar terbunuh, termasuk raja raksasa Tegopati sendiri yang meninggaloleh senjata kuku Raden Bandung. Kematian raja raksasa itu sangat mengenaskan, isi perutnya terburai keluar, bangkainya dilemparkan jauh sampai jatuh terjengkang (Jw jepapang) di suatu tempat yang sekarang dinamai Dusun Bapang, masuk dalam wilayah Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe. Sebagian lagi pasukan raksasa meninggal karena tenggelam oleh bendungan yang dibuat oleh pasukan Raden Bandung. Oleh karena banyak raksasa yang meninggal, darahnya berceceran hingga menggenangi suatu tempat yang saat ini bernama Desa Saren. Tulang-tulang sisa bangkai raksasa yang tersebar di berbagai tempat di Sangiran itu akhirnya oleh penduduk dinamakan balung buto (tulan raksasa).

Penduduk Sangiran sebelum tahun 1930 memiliki kepercayaan, bahwa balung buto dapat menyembuhkan berbagai penyakit, seperti penyakit perut, demam atau penyakit karena gigitan hewan berbisa. Di samping itu, balung buto untuk jimat penolak bala. Kepercayaan lain yang berkaitan dengan kekuatan magis terhadap balung buto adalah keampuhannya untuk melindungi diri atau sebagai jimat kekebalan tubuh.

2. Sejarah Penelitian Di Situs Sangiran

Perhatian dan minat untuk menyelidiki fosil-fosil di Situs Sangiran dilakukan pertama kali oleh seorang dokter ahli anatomi Belanda, Eugene Dubois pada tahun 1893. Dubois tertarik untuk melakukan penyelidikan fosil manusia purba di berbagai situs di Indonesia, karena ia terpengaruh oleh teori gurunya

3Nama Glagahombo adalah lokasi kerajaan raksasa, sampai sekarang masih terpateri menjadi nama Dusun Glagahombo berada di kawasan Sangiran masuk dalam wilayah Desa Ngebung, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.

(6)

commit to user

Ernst Haeckel yang menyatakan bahwa manusia purba itu harus dicari di daerah tropis yang tidak mengalami perubahan iklim. Setelah ia mempelajari sejarah dan situasi lingkungan geologi Indonesia, pada tahun 1887 Dubois melamar menjadi dokter tentara Hindia Belanda, supaya dapat pergi ke Indonesia dan membuktikan teorinya tadi. Sesampai di Indonesia, dengan dibantu oleh 50 narapidana, Dubois ditugaskan oleh Pemerintah Jajahan Belanda untuk meneliti fosil-fosil di Indonesia. Penelitian Dubois di Sangiran tidak menghasilkan temuan yang berarti, sehingga dokter dan pengajar anatomi di Amsterdam ini tidak berminat melanjutkannya. Pemerintahan Hindia Belanda sebagai penyandang dana penyelidikan fosil di berbagai situs manusia purba di Indonesia sangat kecewa, karena paleoantropolog ini tidak membuat laporan yang lengkap.4

Akibat kekecawaan pemerintah Hindia Belanda tersebut, penyelidikan fosil manusia purba di Situs Sangiran khususnya dan di Indonesia umumnya terhenti lama. Barulah Pemerintah Belanda melakukan penelitian geologi daerah Sangiran dengan skala 1:20.000. Dengan panduan peta goelogi itulah pada tahun 1934 G.H.R.von Koeningswald, seorang ahli paleoantropologi dari Jerman, mengawali penelitiannya dan berhasil menemukan sejumlah peralatan manusia purba. Hasil penelitiannya kemudian dikumpulkan di Pendopo Kelurahan Krikilan untuk bahan penelitian von Koeningswald dan para ahli purbakala lainnya.

4Dubois pada saat itu mengalami depresi dan putus asa akibat fosil temuannya di Jawa dan teorinya tidak diakui oleh dunia ilmiah. Berbagai kritik yang tajam baik dari kalangan ilmiah, agama, maupun masyarakat menuding teori Dubois sebagai teori yang salah. Tetapi berkat penemuan fosil-fosil manusia purba pada masa-masa berikutnya, Koenigswald mengomentari bahwa Dubois terlalu cepat mendahului zamannya. Waktu diumumkannya temuan fosil tengkorak Jawa sebagai the missing link, masyarakat belum mampu

(7)

commit to user

Kegiatan penelitian di Sangiran yang terus berlanjut sampai saat ini dan telah berhasil “..memberikan lebih dari 50% dari populasi Homo Erectus di dunia, maka situs ini pantas disebut sebagai The Homeland of Java Man”.5

Perhatian von Koenigswald terhadap Situs Sangiran semakin besar dan selama kurang lebih sepuluh tahun (1930-1940) dia bekerja keras melakukan eksplorasi di seluruh kawasan Sangiran dan menetap di rumah Kepala Desa Krikilan, Toto Marsono6. Dalam usahanya untuk mengoleksi fosil sebanyak- banyaknya di kawasan perbukitan Sangiran yang luas, von Koenigswald mengerahkan penduduk Desa Krikilan dengan cara menerapkan sistem imbalan berupa uang bagi penduduk yang berhasil menemukan fosil. Banyak temuan- temuan dari Situs Sangiran merupakam potensi istimewa yang tidak dimiliki semua situs prasejarah di dunia. Potensi Situs Sangiran yang istimewa ini diteliti sejak tahun 1930-an. Penelitian di Situs Sangiran dirintis oleh J.C. van Es yang pada tahun 1931 telah berhasil membuat Peta Geologi Daerah Sangiran. Dalam petanya van Es membagi stratigrafi daerah Sangiran ke dalam empat kala, yaitu:

a. Kala Pliosen Bawah terdiri dari lapisan lempung marin abu-abu kebiruan dan lapisan turritella.

b. Kala Pliosen Tengah terdiri dari lapisan batu gamping balanus

5Harry Widianto dan Truman Simanjuntak, Sangiran Menjawab Dunia, (Jawa Tengah: Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, 2009), hlm. 129.

6Toto Marsono, Kepala Desa Krikilan pada masa Pemerintahan Jajahan Belanda yang banyak membantu Koenigswald mengumpulkan fosil-fosil. Sampai tahun 1997 dia masih hidup dengan usia sekitar 91 tahun dan dapat menjadi saksi mengenai proses pengumpulan fosil pada masa itu.

(8)

commit to user

c. Kala Pliosen Atas terdiri dari lapisan corbicula, breksi volkanik, lempung hitam dengan sisipan lapisan diatome, lapisan tufa, dan lapisan lempung marin kuning.

d. Kala Plestosen terdiri dari lapisan konglomerat tufaan, dan breksi konglomerat tufaan.

Pada tahun 1940 von Koenigswald berhasil menerbitkan peta geologi Sangiran yang merupakan revisi dari peta gologi van Es. Penelitian era von Koeningswald terus berlanjut dengan hasil direvisinya lagi Peta Geologi Sangiran pada tahun 1961 oleh Sartono. Seperti halnya van Koeningswald, Sartono membagi stratigrafi Sangiran menjadi Lapisan Kalibeng Atas, Lapisan Pucangan, Lapisan Kabuh, dan Lapisan Notopuran. Pada tahun 1978 Sartono sekali lagi menerbitkan revisi peta geologi Sangiran dan mengganti “Lapisan” dengan istilah

“Formasi”. Selanjutnya Harry Widianto mengganti istilah formasi dengan istilah

“Seri Stratigrafi”. Berikut adalah bagan stratigrafi tanah di Kawasan Situs Sangiran menurut Harry Widianto:

(9)

commit to user

Komposisi litologi, umur, dan lingkungan purba berdasarkan stratigrafi tanah di kawasan Situs Sangiran, yaitu:

1). Formasi Kalibeng adalah lapisan tanah yang paling tua di Sangiran, berumur 3.000.000 – 1.800.000 tahun yang lalu. Formasi tanah ini hanya

Gambar 3. Litologi, Stratigrafi dan Lingkungan Purba Sangiran Sumber: Harry Widianto

(10)

tersingkap dibagian tengah Sangiran Dome, yaitu pada Kali Puren yang merupakan cabang dari Kali Cemoro. Formasi Kalibeng dan terdiri dari empat lapisan. Lapisan terbawah ketebalan mencapai 07 meter merupakan endapan laut dalam, berupa lempung abu-abu kebiruan dan lempung lanau dengan kandungan moluska laut. Lapisan kedua ketebalan 4-7 meter merupakan endapan laut dangkal berupa pasir lanau dengan kandungan fosil moluska jenis ikan hiu (chandrichtyes), kerang laut (turitella) dan bunga karang atau coral (coelenterata). Lapisan ketiga berupa endapan batu gamping (balanus) dengan ketebalan 1 – 2,5 meter. Lapisan keempat berupa endapan lempung dan lanau hasil sedimentasi air penyu dengan kandungan moluska jenis corbicula;

2). Formasi Pucangan berumur 1.800.000 – 800.000 tahun yang lalu.

Formasi ini terbagi dua yaitu Formasi Pucangan Bawah dan Formasi Pucangan Atas. Formasi Pucangan Bawah ketebalannya 0,7 – 50 meter berupa endapan lahar dingin atau breksi vulkanik yang terbawah aliran sungai dan mengendapkan moluska air tawar di bagian bawah dan diatome (ganggang kersik) di bagian atas.

Formasi Pucangan Atas ketebalan mencapai 100 meter berupa lapisan napal dan lempung yang merupakan pengendapan rawa-rawa. Pada formasi ini terdapat sisipan endapan moluska marin yang menunjukan bahwa pada waktu itu pernah terjadi transgresi laut. Formasi Pucangan banyak mengandung fosil-fosil binatang vertebrata seperti Gajah (Stegodon trigonocpalus), Banteng (Bibos palaeo- sondaicus), Rusa (Cervus Sp), Kuda Nil (Hippopotamus), dan fosil-fosil manusia purba.

(11)

commit to user

3). Grenzbank artinya lapisan pembatas. Lapisan ini merupakan batas antara Formasi Pucangan dengan Formasi Kabuh. Ketebalan lapisan antara 0,1 – 46,3 meter terdiri atas elemen laut dan kerikil yang berasal dari erosi Pegunungan Selatan dan Kendeng. Pertanggalan grenzbank dimulai antara awal Periode Brunhes (0,73 juta tahun) dan akhir periode Matuyama (0,9-0,7 juta tahun).

Kandungan lapisan ini antara lain berupa batu gamping dan batu pasir konglomerat. Temua dari lapisan ini antara lain ikan hiu, kura-kura, buaya, binatang mamalia darat, an fosil manusia purba. Lapisan ini jugga mengandung temuan alat batu tertua ciptaan Homo erectus yang pernah hidup di Sangiran.

4). Formasi Kabuh merupakan lapisan stratigrafi yang paling banyak mengahsilkan fosil mamalia, fosil manusia purba, dan alat-alat batu. Kandungan batuan formasi ini umumnya terdiri dari endapan vulkanik berfasies fluviatil (pasir dengan struktur silang-siur) atau fluvio-laccustrine (pasir berlumpur) pasir lanau, pasir besi, dan gravel sungai air tawar dengan ketebalan 6-50 meter.

Formasi Kabuh terbagi menjadi empat lapisan yaitu lapisan Formasi Kabuh Terbawah, Formasi Kabuh Bawah, Formasi Kabuh Tengah dan Formasi Kabuh Atas. Kondisi lingkungan Seri Kabuh adalah vegetasi terbuka berdasarkan dengan analisis pollen pada lapisan tersebut. Pada lapisan ini dijumpai dan kelompok fauna yaitu: Fauna Trinil pada lapisan bawah dan Fauna Kedungbrubus pada lapisan lapisan tengah dan atas; Formasi Kabuh Bawah ketebalan lapisannya sekitar 3,5 – 17 meter. Lapisan ini banyak mengahasilkan fosil mamalia dan fosil manusia purba, ketebalan lapisannya sekitar 5,8 – 20 meter. Lapisan ini juga banyak mengandung fosil mamalia dan fosil manusia purba. Berdasarkan

(12)

pengukuran secara fisik dapat diperkirakan umur lapisan Seri Kabuh kurang lebih 0,73 juta tahun pada bagian bawah. Formasi Kabuh Tengah ketebalan 5-20 meter dan banyak menghasilkan fosil-fosil manusia purba. Formasi Kabuh Atas ketebalan lapisannya sekitar 3-16 meter. Kandungan batunya hampir sama dengan Kabuh Bawah dan Kabuh Tengah, namun sampai saat ini pada lapisan Kabuh Atas ini belum pernah ditemukan fosil manusia purba. Formasi tersebut diperkirakan berumur 0,2 jutatahun pada bagian atasnya.

5). Seri Notopuro Formasi Notopuro secara tidak selaras terletak di atas Formasi Kabuh, dan tersebar di bagian atas perbukitan di sekeliling Kabuh Sangiran. Formasi ini mengandung gravel, pasir, lanau, dan lempung. Juga terdapat sisipan lahar, batu pumisan, dan tufa. Ketebalan lapisan mencapai 10 hingga 50 meter dan terbagi menjadi tiga lapisan yaitu: Formasi Notopuro Bawah dengan ketebalan 3,2-28,9 meter, Formasi Notopura Tengah dengan ketebalan maksimal 20 meter, dan Formasi Notopuro Atas dengan ketebalan 25 meter. Pada Formasi Notopuro ini sangat jarang dijumpai fosil. Faunanya identik dengan fauna jenis Kedungbrubus dan disebut sebagai Fauna Ngandong. Usia lapisan Seri Notopuro kurang lebih 0,2-0,07 juta tahun.

Melalui proses geologi berupa tumbuhan lempeng tektonik, aktivitas vulkanisme, dan fluktuasi muka air laut selama lebih dari 2,4 juta tahun, Sangiran setidaknya telah mengalami empat kali perubahan lingkungan pengendapan selama proses pengangkatan Pulau Jawa secara global. Berawal dari lingkungan laut, berangsur-angsur menjadi lingkungan transisi, lingkungan rawa, dan akhirnya menjadi lingkungan darat seperti sekarang ini. Informasi perubahan

(13)

commit to user

lingkungan pengendapan tersebut diperoleh dengan mencermati lapisan-lapisan tanah beserta fosilnya, karena setiap lapisan tanah dn fosilnya menyimpan informasi yang berbeda mengenai lingkungan pengendapannya pada saat itu.7 3. Kondisi Masyarakat Sekitar Museum Sangiran

a. Penduduk Kawasan Sangiran

Penduduk di wilayah Sangiran sebagian besar menggantungkan hidupnya dari pertanian, baik sebagai pemilik lahan maupun buruh tani. Mengingat daerahnya yang kering, kebanyakan lahan pertanian merupakan sawah tadah hujan dan tegal atau kebun. Lahan yang memperoleh irigasi sangat terbatas, akibatnya hasil pertaniannya pun terbatas. Keberadaan air tanah di daerah Sangiran cukup dalam, sehingga tidak dapat dijangkau oleh akar tanaman. Untuk menggarapa tanahnya, para petani sangat tergantung pada air hujan, sehingga mereka tidak dapat leluasa dalam memilih jenis tanaman yang akan ditanam. Pada musim penghujan, para petani menanam padi. Pada musim kemarau, jenis tanaman yang ditanam adalah jenis palawija, seperti jagung, ketela pohoh, ubi jalar, dan kacang.

7 Nugraha, Suwita dkk, Lapisan Tanah Dan Lingkungan Purba Sangiran, (Sragen: Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, 2012), hlm. 9.

(14)

Tabel 1. Luas Kecamatan Kalijambe Menurut Penggunaan Tanah

Jenis Tanah Luas (Ha) Persentase (%)

1. Tanah Sawah a. Irigasi teknis b. Irigasi ½ teknis c. Irigasi sederhana d. Tadah hujan e. Lain-lain

2. Tanah Kering a. Pekarangan b. Tegal/ kebun c. Padang/ gembala d. Tambak/ kolam e. Rawa-rawa

f. Sementara tak diusahakan g. Hutan negara

h. Perkebunan negara/ swasta i. Lain-lain

0.00 147.00 274.00 1,484.00 0.00

1,159.00 1,469.88 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 161.12

0.00 3.13 5.84 31.61 0.00

24.69 31.31 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 3.43

Jumlah 4,695.00 100.00

Sumber: Statistik Kecamatan Kalijambe Dalam Angka 2000

Tabel 1 menunjukan bahwa tanah di Kecamatan Kalijambe dibedakan menjadi 2 yaitu tanah sawah dan tanah kering. Untuk tanah sawah memerlukan 2 teknik irigasi (irigasi ½ teknis dan irigasi sederhana) dan tadah hujan. Tetapi penduduk kawasan Sangiran sebagian besar dalam mengairi sawahnya menggunakan cara tadah yaitu seluas 1,484 Ha atau 31.61 persen, ini disebabkan Kawasan Sangiran berada di permukiman di areal gersang dan tandus. Kering di musim kemarau dan mudah tererosi di musim hujan. Tanaman untuk tanah sawah adalah di pusatkan ke tanaman padi, yang membutuhkan air yang cukup bahkan perawatan khusus. Untuk tanah kering dipusatkan ke pekarangan dan tegal/ kebun yang tidak begitu banyak membutuhkan air atau perawatan khusus. Luas pekarangan di Kawasan Sangiran yaitu 1,159 Ha atau 24.69 persen dan luas tegal/

(15)

commit to user

kebun yaitu 1,469.88 Ha atau 31.31 persen. Di perkebunan terdapat macam tanaman baik besar maupun kecil seperti kelapa, ketela pohon, dan kacang tanah.

Masyarakat kawasan Sangiran menganggap akan lebih menguntungkan menanam di kebun di bandingkan dengan menanam tanaman di sawah.

Masyarakat Sangiran umumnya tinggal di rumah-rumah kayu dan bambu dan hanya sedikit yang menghuni rumah batubata. Meskipun ada kecenderungan di kalangan masyarakat untuk merenovasi rumah mereka menjadi rumah batu.

Secara umum terdapat 2 macam pola permukiman penduduk di Sangiran yaitu:8 (1) nucleated agricultural village (pola permukiman berkelompok) yang

terlihat pada desa-desa yang agak masuk pedalaman dan,

(2) line village community (berderet sepanjang jalan ) yang tampak jelas di bagian tengah desa penelitian,terutama sepanjang jalan utama.

8Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Rencana Induk Pelestarian Dan Pengembangan Kawasan Sangiran,(Proyek Pelestarian dan Pengembangan Peninggalan Purbakala dan Permuseuman, 2004), hlm. 8

Gambar 5. Line Village Community Gambar 4. Nucleated Agricultural Village

(16)

commit to user

Tingkat pendidikan masyarakat di sekitar Sangiran juga masih rendah.

Banyak di antara mereka yang hanya mengenyam pendidikan sampai tingkat Sekolah Dasar dan bahkan banyak orang tidak pernah mengeyam bangku pendidikan sama sekali. Rendahnya pendidikan di daerah tersebut tidak terlepas dari faktor ekonomi. Tingkat ekonomi yang rendah menyebabkan penduduk tidak mampu membiayai anak-anak mereka untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi.

Tabel 2. Kondisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Kecamatan Kalijambe 1998-2002

Tahun

Tingkat Pendidikan Perguruan

Tinggi SMTA SMTP SD Tidak

Tamat SD

Belum Tamat SD

Tidak/

Belum Sekolah 1998

1999 2000 2001 2002

207 213 229 231 243

4.324 4.324 4.673 5.770 5.848

6.552 6.569 7.079 7.291 7.351

12.999 12.791 13.769 12.263 12.349

4.837 4.874 6.015 5.063 5.143

7.138 6.230 7.340 5.124 5.159

4.682 5.713 4.490 4.009 5.289 Jumlah 1123 24.939 34.842 64.171 25.932 30.991 24.183

Sumber: Statistik Kecamatan Kalijambe Dalam Angka Tahun 1998-2002

0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000

1998 1999 2000 2001 2002

Grafik 1. Kondisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Kecamatan Kalijambe 1998-2002

Perguruan Tinggi SMTA SMTP

SD Tidak Tamat SD Belum Tamat SD

Tidak/ Belum Sekolah

(17)

commit to user

Dari tabel 2 dan diperjelas dengan grafik 1 tersebut dapat dijelaskan, bahwa pendidikan di Kawasan Sangiran dari tahun 1998-2002 terjadi peningkatan meskipun tidak begitu drastis. Pendidikan di Kawasan Sangiran terdiri dari tingkat SD sampai jenjang ke Perguruan Tinggi. Selama 5 tahun untuk pendidikan di tingkat SD memiliki jumlah paling banyak yaitu 64.171 dan untuk jenjang Perguruan Tinggi memiliki jumlah sedikit yaitu 1.123. Jenjang perguruan tinggi setiap tahun ada peningkatan tapi cuman sedikit, tercatat ada penambahan 46 orang dihitung selama 5 tahun. Untuk tingkat SD sampai SMTA selalu mengalami kenaikan measkipun tidak begitu drastis. Ini dapat disimpulkan bahwa pendidikan di Kawasan Sangiran dari tahun ke tahun terjadi peningkatan dan jumlah yang tidak sekolah menjadi menurun. Banyak orang tua merasa malu jika anaknya tidak mengeyam pendidikan, dan para orang tua akan merasa bangga bila mereka mempu menyekolahkan anak mereka dalam jenjang pendidikan tinggi, merupakan prestise sendiri yang dapat meningkatkan status sosial keluarga.

Ternyata tingkat pendidikan juga mempengaruhi mata pencaharian masyarakat Sangiran.

(18)

commit to user

Tabel 3. Mata Pencaharian Penduduk Umur 10 Tahun Keatas Dirinci di Kecamatan Kalijambe 1998-2002

Tahun

Mata Pencaharian

Pertanian Industri Perdagangan Jasa Sosial

1998 1999 2000 2001 2002

21.052 20.152 19.194 19.462 19.666

6.626 6.877 6.626 6.604 7.268

2.389 2.593 2.585 2.861 3.380

4.303 4.881 8.879 5.328 5.498

Jumlah 99.526 34.001 13.808 28.889

Sumber: Statistik Kecamatan Kalijambe Dalam Angka Tahun 1998-2002

Tabel 3 menunjukan bahwa dari tahun 1998-2002 sektor pertanian tetap menjadi sumber mata pencaharian yang utama. Buruh tani, dalam arti mereka bukan pemilik tanah, menempati urutan pertama dalam mata pencaharian hidup dan tercatat ada 99.526 dari tahun 1998-2002 penduduk dalam kelompok ini.

Adanya penurunan dalam matapencaharian pertanian disebabkan karena sering

0 5,000 10,000 15,000 20,000 25,000

1998 1999 2000 2001 2002

Grafik 2. Mata Pencaharian Penduduk Umur 10 Tahun Keatas Dirinci di Kecamatan Kalijambe 1998-2002

Pertanian Industri Perdagangan Jasa Sosial

(19)

commit to user

panen, jadi banyak orang pindah ke pekerjaan lainnya. Untuk buruh industri sendiri juga mengalami kenaikan tapi kenaikannya tidak begitu drastis, dari tahun 2001 ke 2002 mengalami kenaikan yaitu tercatat ada 664 orang. Sektor perdagangan juga mengalami peningkatan yaitu tercatat ada 13.808 selama 5 tahun, peningkatan tersebut kira-kira ada 519 orang. Untuk matapencaharia lainnya adalah jasa sosial salah satunya yaitu jasa angkutan atau akomodasi, jasa potong rambung dan lain-lainnya yang tercatat ada 28.889. Adanya peningkatan untuk jasa sosial terdapat pada tahun 2000 yang naik separuh dari sebelumnya menjadi 8.879 dari 4.881 dan mengalami keturunan lagi pada tahun 2001 menjadi 5.328.

b. Kesenian Tradisional Masyarakat Sangiran

Kawasan Situs Sangiran Selain terkenal sebagai Situs Manusia Purba yang mendunia, Sangiran juga memiliki kekayaan budaya luar biasa yang masih berkembang hingga saat ini. Hal tersebut memperkua identitas Sangian sebagai salah satu Warisan Dunia. Dengan mengetahui dan mempelajarinya maka budaya dan tradisi luhur yang dimiliki Sangiran akan tetap lestari. Di wilayah Sangiran tradisi yang dikenal masyarakat terutama dalam bidang kesenian, yaitu kesenian tradisional Jawa berupa seni karawitan. Namun, sekarang juga berkembang kesenian yang bernafaskan Islam seperti seni rodat (rebana). Seni rodat merupakan salah satu kesenian tradisional di kalangan umat Islam. Kesenian ini berkembang seiring dengan tradisi memperingati Maulid Nabi di kalangan umat Islam. Tarian yang dilakukan para rodat memiliki filosofi tersendiri, tidak hanya asal menari. Nama rodat berasal dari Bahasa Arab dari kata Rodda yang artinya

(20)

bolak-balik. Para penari itu memang selalu bolak-balik dalam menggerakan tangan, badan serta anggota tubuh lainnya. Pertunjukan rodat biasanya diadakan semalam suntuk yang bertujuan untuk mengelabui Belanda yang sedang berpatroli. Kesenian tersebut bisa dijumpai di Desa Sambirembe, Kecamatan Kalijambe. Sebagai aset budaya kawasan terdekat dengan museum, maka kesenian ini ditampilkan dalam rangka menyambut tamu resmi negara. Selain rodat ada juga kesenian Reog, yang merupakan salah satu kesenian yang berasal dari Jawa Timur bagian barat laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Di kawasan Sangiran, kelompok seniman Reog masih bisa ditemukan di daaerah Tegal Ombo. Reog di Tegal Ombo tidak sama dengan Reog Ponorogo, Reog Ponorogo dalam pementasannya diperlukan ritual khusus sedangkan Reog di Tegal Ombo tidak memerlukan ritual. Reog telah dimodifikasi dan disesuaikan dengan nilai kerohanian masyarakat sekitar situs. Adaptasi seni ini sangat menarik terlebih anak-anak juga dilibatkan untuk membawakan tarian jaran kepang atau jathilan, berbeda dengan Reog Ponoroogo yang para penarinya adalah penari laki-laki yang berpakaian seperti wanita.

Kesenian tradisional di Kawasan Situs Sangiran juga dijumpai seni Karawiatan. Karawitan adalah bentuk orkestra dari pernagkat musik gamelan.

Asalah kata Karawitan itu sendiri berasal dari bahasa sansekerta, yakni rawit yang mempunyai arti keharmonisan, elegan dan kehalusan. Namun ada juga pendapat yang menyatakan karawitan berasal dari kata pangraawit yang berarti orang atau subjek yang memiliki perasaan harmonis dna halus. Adapun yang berpendapat bahwa karawitan itu berasal dari kata ngerawit yang dalam bahasa Jawa artinya

(21)

commit to user

sangat rumit. Jadi memainkan karawitan itu tidak hanya sekedar mengahasilkan bunyi-bunyian tapi memang harus memaknainya secara mendalam melalui gendhing (lagu-lagu) yang dibawakan dalam seni kawaritan. Di Sangiran, tepatnya di Kecamatan Plupuh, ada kelompok Karawitan Tardi Laras yang masih sering tampil pada acara atau kegiatan khusus.

c. Kerajinan Masyarakat Sangiran

Masyarakat Sangiran selain kaya akan kesenian juga kaya dengan hasil kerajian. Pertama, pembuatan Kaning Tempurung Kelapa Benik Batok. Bagi kebanyakan orang, tempurung kelapa mungkin tidak berguna. Namun di Sangiran, tempurung kelapa justru dimanfaatkan untuk bahan kerajinan. Meski sebagian besar warga yang tinggal di sekitar Situs Sangiran bercocok tanam, namun banyak pula yang menjadi pengrajin dengan memanfaatkan tempurung kelapa.

Sisi kreatif masyarakat terlihat dari dimanfaatkannya tempurung kelapa menjadi kerajinan yang memiliki nilai jual. Batok kelapa oleh masyarakat Sangiran diubah menjadi kerajinan yang lucu dan indah seperti kancing baju, aksesoris perempuan, bingkai foto, penutup lampu, gantungan kunci, dan sendok serta mangkuk.

Bahkan sisa tempurung yang tidak dipakai juga dimanfaatkan untuk arang, yang pemasarannya telah sampai ke sejumlah kota. Pusat industri rumahan yang menyerap cukup banyak tenaga kerja ini terletak di Dukuh Sendang, Desa Bukuran, Kalijambe, Sragen.9

9Duwiningsih, dkk., Pengetahuan Prasejarah: Mereka Memeprdalam Arti Penting Situs Sangiran,(Sragen: Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, 2012), hlm. 16.

(22)

Kedua, kerajianan batik yang dianggap sebagai warisan dunia. Diberbagai wilayah Indonesia banyak ditemui sentra pengrajin batik, masing-masing mempunyai keunikan dan kekhasan tersendiri, baik dalam ragam hias maupun tata warnanya. Kabupaten Sragen menjadi sentra produksi batik tterbesar setelah Pekalongan dan Surakarta. Kabupaten Sragen memiliki dua sub-sentra batik yakni Kecamatan Plupuh dan Masaran. Letak keduanya berdekatan, saling berseberangan di sisi utara dan selatan Sungai Bengawan Solo. Berada di pinggiran sungai, kawasan ini juga dikenal dengan sebutan batik girli (pinggir kali). Batik Sragen cenderung berwarna dasar lebih terang dan motifnya memadukan corak baku atau klasik dengan gambar flora fauna seperti udang, lembu dan lain-lain. Salah satuu daerah penghasil batik adalah Kampung Batik Pungsari, sebuah desa di wilayah Kecamatan Plupuh, yang masih termasuk kawasan Situs Sangiran. Di desa ini terdapat banyak pengrajin batik, yang mampu menyerap banyak tenaga kerja di sekitarnya.

Gambar 6. Kegiatan pengrajin Batok di kawasan Sangiran Sumber: Koleksi Foto BPSMP Sangiran

(23)

commit to user

Ketiga, kerajinan yang paling tersohor adalah batu indah bertuah. Salah satu aspek penunjang kehidupan sehari-hari di kawasan Situs Sangiran, diantaranya melalui berbagai kerajianan yang digeluti masyarakat. Batu indah bertuah adalah hasil kerajinan khas masyarakat yang berada di kawasan Situs Sangiran. Mulai berkembang sejak tahun 1985 di bawah bimbingan dinas perindustrian Kabupaten Sragen. Sentra kerajinan batu-batuan terletak di Sangiran, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe yang berjarak sekitar 45 km dari kota Sragen. Industri batuan ini bergerak dalam pembuatan cinderamata untuk para pengunjung museum Sangiran. Kerajinan batu-batuan dengan nilai seni ukir banyak menggambarkan patung manusia purba, dan berbagai bentuk lainnya.

Hasil kerajinan bisa ditemukan di Museum Sangiran dengan jenis dan bentuk yag bervariasi. Produksi batu-batuan sangiran banyak diminati oleh para wisatawan domestik maupun mancanegara sebagai barang souvenir.

Hasil kerajinan di kawasan Museum Sangiran dapat dijadikan sebagai cenderamata yang akan memberikan arah yang benar dalam penciptaan produk

Gambar 7. Kegiatan membatik di kawasan Sangiran Sumber: Koleksi Foto BPSMP Sangiran

(24)

commit to user

cenderamata. Cenderamata sebagai salah satu produk industri kreatif ciptaan manusia harus mampu ditempatkan dalam posisi yang tepat, sehingga akan mampu berperan secara optimal. Secara umum dapat dijelaskan bahwa peran peningkatan desain cenderamata dalam mendukung Museum Sangiran adalah kerjasama resprokal (dwi arah). Masyarakat pengrajin dan pedagang bekerjasama dengan pihak Museum Sangiran, sehingga tercipta hasil yang saling menguntungkan (simbolis mutualisme). Sebagai pemangku penanggungjawab perekonomian penigkatan desain cenderamata berdasarkan tugas pokok dan fungsi adalah seksi Pemanfaatan di Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran.10

B. Kasus-kasus Jual-Beli Fosil di Kawasan Situs Sangiran

Pemaknaan dan pemanfaatan sumberdaya berupa fosil di Situs Sangiran oleh Pemerintah dan oleh penduduk mempunyai perbedaan yang mencolok.

Kedua belah pihak mmemiliki konsep sendiri-sendiri dan dikembangkan sesuai dengan tujuan dan visi masing-asing yang juga berbeda. Tidak mengherankan jika hal ini lalu menjadi cikal bakal konflik kepentingan antara pemerintah dan penduduk setempat. Pemaknaan pemerintah terhadap fosil didasarkan pada persepsi akademik yang normatif. Situs sangiran dilihat semata-mata sebagai kawasan cagar budaya dengan kandungan fosil yang sangat langka di dunia, sehingga fosil-fosil itu bernilai sangat tinggi bagi sejarah dan ilmu pengetahuan.

10Dody Wiranto, Peningkatan Kreativitas Desain Cenderamata Untuk Mendukung Museum Sangiran Kabupaten Sragen Jawa Tengah,Tesis: Universitas

(25)

commit to user

Karena itu, sumberdaya fosil perlu dijaga dan dilindungi kelestariannya. Di pihak lain, bagi penduduk setempat, daerah perbukitan Sangiran dengan seluruh isinya adalah tanah warisan nenek moyang mereka. Oleh karena itu mereka merasa mempunyai hak yang sah untuk mendayagunakan fosil untuk berbagai kepentingan hidup mereka. Bagi pemerintah, fosil merupakan benda yang memiliki sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, tetapi bagi penduduk fosil tidak bedanya dengan sumber alam lain seperti batu dan pasir yang memiliki nilai ekonomis.11

Setelah Sangiran ditetapkan sebagai daerah cagar budaya, maka sebagai akibatnya setiap pemilik tanah di lingkungan cagar budaya dituntut wajib memelihara dan menyelamatkan situs sebaik-baiknya. Tanpa ijin pemerintah, dilarang merusak, merubah, atau menggali tanah dengan tujuan mencari fosil.

Bahkan, setiap kegiatan pembangunan di daerah Cagar Budaya Sangiran diperlukan perijinan dari pemerintah dan setiap penemuan benda cagar budaya, berupa fosil harus dilaporkan selambat-lambatnya empat belas hari setelah penemuan. Peraturan tersebut tertera di dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1992, mengenai penemuan cagar budaya yang diatur dalam pasal 10 ayat (1), yang pada pokoknya menyatakan bahwa:

Setiap orang yang menemukan atau mengetahui ditemukannya benda cagar budaya atau benda yang diduga cagar budaya atau benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya, wajib melaporkannya Pemerintahselambat-lambatnya 14 (empat belas) hari sejak ditemukan atau mengetahui ditemukannnnya.

11Bambang Sulistyanto., op.cit., hlm 152.

(26)

Sedangkan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 (revisi UU No.5 tahun 1992) , mengenai penemuan cagar budaya diatur dalam pasal 23 ayat (1), yang pada pokoknya menyatakan bahwa:

Setiap orang yang menemukan benda yang diduga benda cagar budaya, bangunan yang diduga bangunan cagar budaya, struktur yang diduga struktur cagar budaya, dan/atau lokasi yang diduga situs cagar budaya wajib melaporkan kepada instansi yang berwenang di bidang kebudayaan, Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan/atau instansi terkait paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak ditemukannya.

Dilihat dari sisi ancaman pidana terhadap tindak pidana penemuan (jika tidak melaporkan penemuan benda/bangunan/struktur/lokasi yang diduga cagar budaya), ternyata Undang-undang Nomor 11 tahun 2010 memberikan sanksi pidana yang terberat yaitu pidana penjara paling lambat 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Semenjak berdirinya Museum Sangiran di Desa Krikilan, interaksi penduduk setempat dengan masyarakat luar (pengunjung Museum) semakin terbuka. Sebagai akibatnya, di Desa Krikilan bermunculan industri rumah berupa kerajinan batuan yang dijual kepada para wisatawan. Pada dasarnya aktivitas ini berada di bawah pengawasan Dinas Perindustrian Kebupaten Sragen. Terciptanya lapangan kerja baru tersebut, perilaku penduduk terhadap fosil juga mengalami perubahan. Mereka, khususnya tengkulak, tidak hanya menawarkan cinderamata hasil kerajinan penduduk, melainkan juga menjual fosil hasil buruannya kepada wisatawan. Seperti peristiwa yang terjadi pada tahun 1991 dan kasus terbaru terlihat pada tahun 2007:

(27)

commit to user

Dua turis asal Thailand tertangkap ketika sedang melakukan transaksi dua buah fosil tengkorak badak (Rhinoceros) di sebuah rumah seorang tengkulak penduduk Desa Krikilan.12

Kasus perdagangan fosil asal Sangiran yang melibatkan lelaki berinisial Sad alias Sbr itu sendiri sebetulnya terjadi pada pertengahan Oktober 2007. Sedikitnya tujuh fosil hewan vertebrata yang sedianya akan dibawa ke Malang, Jawa Timur, digagalkan polisi. Selain menahan Sbr-warga Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Sragen, yang memang dikenal luas sebagai tengkulak sekaligus "pedagang" fosil-polisi juga mengamankan dua tersangka lain.13

Kapolda mengungkap kasus kejahatan lintas negara tentang jual beli fosil manusia dan binatang purba dengan tersangka Dennis Bradley Davis, 52, warga negara Amerika Serikat. Warga asing kelahiran Baltimore, 13 Juli 1958 ini, kata Kapolda, merupakan peneliti dan ilmuwan Amerika yang melancong dan berbisnis fosil ke Indonesia. Kedatangan Dennis ke Indonesia bukan sebagai peneliti tetapi sebagai turis dan untuk kepentingan bisnis.

Hal itu didasarkan pada keterangan paspor yang dibawa tersangka itu. Warga yang beralamat di Ocean City Jalan 11 No 11 Amerika tersebut berpendidikan terakhir di Universitas Delaware, USA.

Tersangka kedua Wasimin bin Citro Suroto, 49, warga Desa Krikilan RT 8, Kalijambe, Sragen yang berprofesi sebagai penjual fosil. “Dennis membeli ribuan barang cagar budaya (BCB) dengan 43 jenis kepada Wasimin senilai Rp 58 juta. Padahal barang tersebut bisa dilelang bebas di Amerika dengan harga sampai US$ 2 juta. Sebenarnya BCB ini tidak ternilai harganya, sehingga dibutuhkan upaya bersama-sama lintas negara untuk mengantisipasi jual beli BCB. Kasus paling menghebohkan tentu saja terkait temuan fosil tengkorak manusia purba oleh Sugimin, penduduk Desa Grogolan, Kecamatan Plupuh, Sragen. Setelah beberapa kali pindah tangan, fosil ini sampai ke tangan Donald E Tyler dengan transaksi senilai Rp 3,8 juta.14

12Gushrd, “Sindikasi di Sekitar Sangiran: Fosil Sangiran Diamankan di Puslitbang Geologi Bandung”, Kompas, 23 Oktober 1993, hlm. 1 dan 10

13http://sains.kompas.com/read/2008/06/13/19102170/Perburuan.Fosil.Ma nusia.Purba.di.Sangiran. tanggal 2 Februari 2014

14http://www.solopos.com/2010/10/24/polda-gandeng-interpol-lacak- jaringan-jual-beli-fosil-internasional-65488 tanggal 2 Februari 2014

(28)

Bagan 1. Pola Hubungan Komunikasi Transaksi Fosil Situs Sangiran

Keterangan:

: Garis Koordinasi

: Garis Pemutusan Hubungan Koordinasi

Bagan 1, dapat dijelaskan bahwa tengkulak atau penadah adalah pelaku pertama yang memegang kunci dari keseluruhan proses transaksi fosil. Tugas tengkulak, di samping mengatur mekanisme fosil hingga di tangan pembeli atau pemesan, serta menjajaki calon pembeli dan menentukan harga. Tengkulak adalah otak dari keseluruhan sistem transaksi fosil. Pelaku kedua adalah pemburu, dalam hal ini adalah orang yang ditugaskan oleh tengkulak untuk berburu fosil. Pemburu atau pencari fosil tersebut, bersama dengan para tengkulak juga melakukan provokasi kepada penduduk supaya ikut mencari fosil dan jika menemukan disuruh melaporkan kepadanya. Adapun pelaku ketiga adalah penduduk.

Penduduk yang dimaksud disini adalah petani atau buruh tani setempat yang telah terpengaruhi oleh “hasutan” para tengkulak dan pemburu fosil, sehingga mereka ikut mencari fosil. Perbedaan antara pemburu dengan penduduk pencari fosil

Tengkulak Peminat

Gangguan Petugas

Penduduk Pemburu

1

4

3

2

(29)

commit to user

terletak pada identitas keterlibatanya. Keterlibatan penduduk dalam proses pencarian fosil tidak selalu aktif terus menerus dan menganggap kegiatan itu sebagai aktivitas sampingan, sedangkan pemburu fosil secara sengaja dan aktif memang mancari fosil untuk tujuan komersial.

Sebagian besar penduduk Desa Krikilan bermatapencaharian sebagai industri rumah tangga, yang menyebabkan persepsi dan perilaku masyarakat terhadap fosil semakin menjurus pada komersialisasi. Penduduk tidak hanya mencari fosil dan memperdagangkan, melainkan juga mengubah bentuk fosil menjadi barang-barang kerajinan, untuk dijual sebagai cinderamata kepada wisatawan pengunjung Museum. Kemahiran beberapa warga desa Krikilan dalam memalsukan fosil itu diperoleh dari pengalaman mereka sendiri dan aktivitas tersebut dikerjakan secara sembunyi-sembunyi di beberapa sentra industri kerajinan. Ada kecenderungan , beberapa industri kerajinan batuan dipergunakan oleh beberapa perajin sebagai kedok atau wadah untuk melegalkan pembuatan fosil tiruan. Dalam pemalsuan atau penggadaan benda cagar budaya (fosil) sudah diatur di dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 pasal 23 ayat (1) yang pada pokoknya menyatakan bahwa “Pemanfaatan benda cagar budaya dengan cara penggandaan wajib izin dari pemerintah”. Dalam Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010, mengenai penggandaan cagar budaya diatur dalam pasal 23 ayat (1), yang pada pokoknya menyatakan bahwa :

Setiap orang dilarang memanfaatkan cagar budaya peringkat nasional, peringkat provinsi, atau peringkaat kabupaten/kota, baik seluruh maupun bagian-bagiannya, dengan cara perbanyakan, kecuali dengan izin menteri, gubernur, atau bupati/ wali kota sesuai dengan tingkatnya.

(30)

commit to user

Untuk melakukan pengamanan terhadap kemungkinan ulah manusia yang merusak kawasan Situs Sangiran, perlu dilaksanakan penegakan hukum. Hal ini dilakukan melalui koordinasi Direktorat Jenderal Kebudayaan dengan instansi keamanan (Kepolisian) dan instansi penegak hukum (Kejaksaan dan Pengadilan).

Secara keseluruhan, koordinasi lintas sektoral diperlukan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Depdikbud, dengan :15

1. Departemen Dalam Negeri/Pemda TK I dan II 2. Departemen Pekerjaan Umum/ Ditjen Cipta Karya 3. Departemen Keuangan/ Ditjen Pajak

4. Badan Pertahanan Nasional

5. Departemen Perindustrian dan Perdagangan/ Dinas Perindustrian 6. Departemen Pertahanan dan Keamanan/ Kepolisian

7. Departemen Pos dan Telekomunikasi 8. Lembaga Ilmu Penngetahuan Indonesia 9. Departemen Sosial

10. Depaertemen lain terikat

15Direktorat Jenderal Kebudayaan, Rencana Pengembangan Cagar

(31)

commit to user

C. Situs Sangiran sebagai “World Heritage”

Situs Sangiran merupakan sebuah kawaasan situs prasejarah yang mengandung temuan fosil manusia, fosil binatang dan temuan artefak yang melimpah. Kawasan ini juga merupakan sebuah laboratorium alam yang menunjukan berbagai lapisan tanah dan memperlihatkan interaksi kehidupan manusia dengan lingkungannya.

Sadar akan potensi Situs Sangiran yang demikian prima bagi pemahaman evolusi manusia, maka Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan telah mengusulkan situs ini yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Sangiran sejak tahun 1977 melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 070/0/1977 ke UNESCO, untuk dapat diterima sebagai salah satu Warisan Budaya Dunia.

Melalui studi yang mendalam, akhirnya usulan tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Kebudayaan melalui proposal tertanggal 25 Juni 1995, berjudul

“Sangiran Eraly Man Site : Nomination of Cultural property to the World heritage List Submintted by The Republic of Indonesia. Convention Concerning the Protection of the World Heritage Cultural and Natural Heritage”.16

Dalam implementasi ke arah pengakuan dunia tersebut, berbagai ujian atas proposal telah dilakukan oleh UNESCO (United Nations Education, Scientific and Cultural Organization atau Organisasi Pendidikan , Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB) secara berlapis. Di antaranya pengiriman expert dari ICOMOS (Intertional Council on Monuments and Sites) yang bergerak dibidang konservasi

16Harry Widianto dan Truman Simanjuntak., op.cit., hlm. 103.

(32)

dan perlindungan warisan budaya yang berbentuk tempat atau bangunan, salah satu badan pekerja UNESCO yaitu Dr. Alan G. Thorne, ke Sangiran untuk melakukan pengecekan atas kebenaran potensi Situs Sangiran seperti yang dilaporkan oleh Indonesia. Oleh karena itu, ahli yang bersangkutan telah datang ke Sangiran untuk melakukan penilaian pada tanggal 27-28 Februari 1996. Lokasi yang dikunjungi antara lain adalah Situs Dayu, yang pada waktu itu kebetulan sedang dilalukan penggalian oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Hasil yang diperoleh dari penelitian ahli ICOMOS tersebut sangat positif, yang akhirnya merekomendasikan kepada World Heritage Commite pada tanggal 21 Maret 1996 untuk menerima Sangiran sebagai salah satu warisan budaya dunia.

Setelah ICOMOS melakukan peninjauan ke Situs Sangiran dan setelah melakukan konsultasi dengan para pakar dunia tentang signifikasi budaya Situs Sangiran dalam kaitannya dengan paleontologi manusia dan paleolitik, maka disimpulkan bahwa: “Situs sangiran merupakan situs manusia purba yang mempunyai nilai dunia. Situs ini menunjukan berbagai aspek evolusi fisik dan budaya manusia dalam konteks natural, dalam suatu periode yang panjang. Situs Sangiran akan selalu menjadi sumber informasi tentang evolusi manusia purba dan telah dilestarikan oleh pemerintah Indonesia dengan sangat baik”. Nilai penting situs Sangiran jauh melebihi beberapa situs sejenis yang telah masuk ke dalam Daftar Warisan Dunia seperti: Zhoukoudian (Cina), Danau Wilandra (Australia), Olduvai (Tanzania) dan Sterkfontain (Afrika Selatan). Oleh karenanya, Situs Sangiran dianggap sebagai salah satu dari “situs kunci” (key sites) oleh UNESCO yang dapat memberikan gambaran dan pemahaman tentang

(33)

commit to user

evolusi manusia, budaya, dan lingkungannya selama 2 juta tahun tanpa putus.

Pada tahun 1996, situs ini ditetapkan sebagai warisan dunia yang tercatat dalam World Heritage List UNESCO nomor 593 (Dokumen WHC-96/conf.201/21) dan disebarluaskan secara resmi ke seluruh dunia melalui dokumen UNESCO-PRESS No. 96-215 tanggal 7 Desember 1996, dengan nama “Sangiran Early Man Site”

berdasarkan kriteria, The World Heritage Commitee decide to inscribe the nominated site under culture criteria17:

(iii) to bear a unique or at least exceptional testimony to a cultural tradition or to a civilization which is living or which has disappeared;

(vi) to be directly or tangibly associated with events or living traditions, with ideas, or with beliefs, with artistic and literary works of understanding universal significance (the Committee considers that this criterion should preferably be used in conjunction with other criteria).

Implementasi pelestarian dan pengembangan situs secara macro siap bergulir pada tahun 1998, ketika krisis ekonomi terjadi menyusul tumbangnya era Orde Baru, dan telah mengkikis habis harapan ke depan. Situasi ekonomi nasional menjadi tidak menentu untuk beberapa tahun, bahkan menghantam hebat semangat menggebu pengembangan Situs Sangiran, setidaknya hingga tahun 2001. Geliat semangat membangun lagi pengembangan Situs Sangiran tampak pada tahun 2002, ketika dilakukan oleh UNESCO Training-Seminar on the Preservation, Corservation and Management of Zhoukoudian and Sangiran World Prehistoric Sites di Solo. Kegiatan yang sebenarnya ditujukan untuk mewujudkan situs kembar (twinning of prehistoric world heritage sites) antara

17Report The State Of Conservation of Sangiran Eraly Man Site (C593) World Heritage Age Property Indonesia, (Directorate General For History And Archeology, Department of Cultural and Tourism, 2008), hlm. 3

(34)

Sangiran dan Zhoukoudian di China, telah terjadi titik tolak dari semangat baru tentang pengembangan situs hingga saat ini.

Sejak ditetapkan sebagai Warisan Dunia, pemerintah mempunyai konsekuensi melakukan pengelolaan secara serius terhadap Situs Sangiran.

Pengelolaan yang dilakukan adalah menjaga dan mengembangkan OUV (Outstanding Universal Value) yang melekat pada Situs Sangiran, serta melakukan pengembangan nilai-nilai lain yang terdapat di Situs Sangiran. OUV adalah nilai-nilai yang bersifat universal yang dimiliki oleh suatu “warisan” yang diakui dan dijadikan dasar oleh UNESCO untuk menetapkan sebagai warisan dunia. Dimaksud menjaga OUV tersebut adalah menjaga nilai-nilai Situs Sangiran agar tetap lestari. Sementara dimaksud pengembangan adalah memperkuat OUV pada Situs Sangiran dengan penelitian-penelitian untuk meningkatkan nilai dengan perluasan dan pendalaman pengetahuan Situs Sangiran. Selain itu juga meningkatkan nilai-nilai yang mendukung untuk dimanfaatkan bagi kepentingan kesejahteraan masyarakat luas. Keberadaan Situs Sangiran harus memiliki arti atau nilai bagi masyarakat sekitar, khususnnya untuk peningkatan kesejahteraan atau taraf hidup.

Pada tanggal 18-20 Agustus 1999 di halaman Museum Sangiran diadakan pelaksanaan Sarasehan peningkatan Kepedulian Masyarakat terhadap Sangiran Sebagai Warisan Budaya Dunia diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan bekerja sama dengan UNESCO. Adapun Panitia Pelaksana Sarasehan ini ditangani oleh Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan

(35)

commit to user

Sejarah dan Purbakala dan Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah. Dasar Penyelenggaraan sarasehan ini adalah:

1. Undang-Undang RI No. 5 Th. 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

2. Peraturan Pemerintah No. 10 Th. 1993. Tentang Pelaksanaan Undang-Undang RI No. 5 Th. 1992.

3. SK. Mendikbud No. 070/0/1997 tanggal 15 Maret 1997 tentang Situs Cagar Budaya Sangiran.

4. Hasil Rapat Koordinasi Lintas Sektoral Rencana Pengembangan Sangiran di Gedung Wanita Surakarta tanggal 27-29 Februari 1997.

5. World Heritage List No. 593 tanggal 5 Desember 1996 tentang Situs Sangiran sebagai Warisan Dunia.

6. Lokakarya Pelestarian dan Pemanfaatan Warisan Dunia Situs Prasejarah Sangiran Tanggal 2 Maret 1999 di Museum Prasejarah Sangiran.

Adapun tempat pelaksanaan Sarasehan ini di halaman Museum Prasejarah Sangiran pada tanggal 18 - 20 agustus 1999 dan dihadiri oleh :

a. Perserta Pusat terdiri dari : 1) Dirjen Kebudayaan 2) Direkturat Linbinjarah

3) Pusat Penelitian Arkeologi Nasional 4) Direkturat Permuseuman

b. Peserta dari Daerah Tingkat I :

1) Bidang Muskala Kanwil Depdikbud Prop. Jawa tengah 2) Kanwil Parsenibud Prop. Jawa Tengah

(36)

commit to user 3) Pemda Tingkat I Jawa Tengah (Biro Bintal)

4) Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah 5) Museum Negeri “ Ronggo Warsito “ Semarang.

6) Balai Arkeologi Yogyakarta

7) Dinas Pariwisata Propinsi Jawa Tengah.

c. Peserta dari Daerah Tingkat II :

1) Pemerintah Daerah Tingkat II Sragen dan Karanganyar 2) Dinas Perindustrian Sragen

3) Dinas Pariwisata sragen dan Karanganyar.

4) Muspika Kecamatan Kalijambe, Kecamatan Gondangrejo dan Kecamatan Gemolong.

5) Kepala Desa, Tokoh masyarakat, perwakilan petani, pengrajin dan pedagang di sekitar Sangiran.

6) PHRI, ASITA (Asosiasi Pariwisata), LSM 7) Pers. baik elektronik maupun cetak.

Sarasehan Peningkatan Kepedulian Masyarakat Terhadap Sangiran Sebagai Warisan Budaya Dunia dimaksudkan untuk mencapai masukan dalam rangka meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap situs Sangiran. Adapun tujuan dari sarasehan yang diharapkan adalah:18

1. Pelestarian Sangiran sebagai aset budaya dan situs manusia purba yang langka.

18Rapat Teknis Sangiran “Sarasehan Peningkatan Kepedulian Masyarakat Terhadap Sangiran Sebagai Warisan Budaya Dunia” (Sragen: Museum Sangiran,

(37)

commit to user

2. Pengembangan dan pemanfaatan Sangiran sebagai daya tarik Wisatawan Budaya Unggulan.

3. Meningkatkan pendapatan masyarakat di lingkungan situs Sangiran.

4. Meningkatkan pendidikan dan kepedulian lingkungan masyarakat Sangiran.

5. Menganalisa permasalahan dan ide guna perencanaan pengembangan (Promosi dan Pelestarian) situs Sangiran Sebagai Warisan Dunia.

Kegiatan tersebut dapat dikatakan sebagai langkah atau proses untuk pengembangan Museum Sangiran untuk lebih dikenal oleh masyarakat banyak.

Selain itu, adanya balance atau keseimbangan antara masyarakat sekitar Sangiran dengan pelestarian museum, yaitu dengan diadakannya monitoring dan sosialisasi masyarakat tentang pentingnya melestarikan nilai-nilai budaya.

Referensi

Dokumen terkait

Fungsi lain rasio likuiditas adalah untuk menunjukkan atau mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya yang jatuh tempo atau untuk mengetahui

Hasil analisis hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang pemberian ASI dan Stunting diperoleh bahwa ada sebanyak 68 anak (33,7%) tingkat pengetahuan ibu tentang

Membuat alat sistem alat yang dapat melakukan pengaliran air, mengatur debit air yang masuk ke kolam dan mendeteksi suhu di sekitarnya dengan menggunakan

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala kasih karuniaNya dan segala berkat yang berlimpah sehingga penulis mendapat

Tambahan defisit anggaran dalam hal realisasi anggaran pendapatan negara dan hibah sebagaimana dimaksud pada Pasal 2 ayat (5), tidak sepenuhnya memenuhi sasaran yang

Bila subjeknya berupa kata ganti orang Bila subjeknya berupa kata ganti orang pada kalimat aktif maka predikat pada pada kalimat aktif maka predikat pada kalimat aktif

Tujuan penelitian ini adalah mencari mood clause dalam teks pidato Muhammad Nuh, Heng Swee Keat dan Barrack Obama, mencari speech function dalam teks pidato Muhammad

hukuman yang tidak manusiawi. Hak memperoleh kebebasan. 53 Setiap anak berhak untuk memperoleh kebebasan sesuai dengan hukum. Penangkapan, penahanan atau tindak pidana