Universitas Kristen Petra 16
3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Gambaran Umum
Blue Bird Group adalah perusahaan transportasi yang menyediakan layanan taksi, kontainer dan peralatan berat. Namun pada saat ini Blue Bird Group telah mengembangkan layanannya mulai dari taksi, limosin, persewaan mobil hingga logistik, industri, properti, dan IT serta peralatan berat. Blue Bird tidak hanya ada di Jakarta namun ada di 15 kota lainnya. Layanan dari Blue Bird Group yang akan dibahas di dalam penelitian ini adalah layanan taksi.
Sebagai pelopor perusahaan taksi di Indonesia, Blue Bird telah ada sejak tahun 1972 di Jakarta. Pendirinya bernama Mutiara Djokosoentono bersama anaknya Chandra Suharto dan Purnomo Prawiro. Pada mulanya pada tahun 1965 setelah wafatnya Djokosoetono, suami dari Mutiara Djokosoentono. Mutiara memiliki ide untuk mengoperasikan hibah 2 mobil bekas sebagai taksi tanpa agro yang diberi nama Chandra Taxi untuk membiayai kehidupan mereka. Namun karena usaha taksi ini berkembang pesat pada tahun 1972 mereka memutuskan untuk mendirikan PT Blue Bird dengan izin operasional dari pemerintah. Pada tahun 1975, Purnomo Prawiro diangkat menjadi direktur operasional dan di bawah kepemimpinannya pada tahun 1985 Blue Bird telah memiliki 2.000 taksi. Pada tahun 1993 Blue Bird meluncurkan layanan barunya yang diberi nama Silver Bird.
Hingga tahun 2014 Blue Bird telah memiliki 22 ribu unit taksi (sumber:
cnnindonesia.com, 2014)
My Blue Bird adalah aplikasi yang dikembangkan oleh PT Blue Bird untuk mengikuti perkembangan jaman muncul pada tahun 2011 namun baru ramai dibicarakan pada tahun 2016 karena berkembangnya transportasi online. Aplikasi Blue Bird mampu memberikan kenyamanan pada konsumennya dengan fitur pemesanan taksi hanya dengan satu “klik”. Aplikasi ini memungkinkan konsumen untuk memilih kendaraan dari 4 jenis kendaraan yang ditawarkan yaitu Blue Bird, Blue Bird Van, Silver Bird dan Silver Bird Van. Tak hanya itu namun aplikasi ini juga memungkinkan pelanggan melihat perkiraan harga yang harus dibayarkan oleh
Universitas Kristen Petra 17
konsumen serta pilihan jenis pembayaran yang konsumen inginkan (sumber:
bluebirdgroup.com)
3.2 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang akan digunakan untuk mengetahui seberapa besar hubungan antara Brand Image terhadap Customer Advocacy dengan Customer Experience dan Customer Engagement sebagai variable perantara adalah penelitian kausal. Penelitian Kausal adalah penelitian yang digunakan untuk mendapatkan bukti dari hubungan sebab dan akibat (Malhotra and Dash, 2009).
Sedangkan pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, dimana pendekatan ini menekankan pada keluasan informasi sehingga metode ini cocok digunakan untuk populasi yang luas dengan variabel yang terbatas, sehingga data atau hasil riset merepresentasikan dari seluruh populasi (Sugiyono, 2007). Metode yang digunakan adalah metode survei kuesioner terstruktur yang diberikan kepada sampel dari sebuah populasi dan dengan tujuan untuk memperoleh informasi yang spesifik dari responden (Malhotra, 2004)
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi adalah seluruh elemen atau objek yang memiliki karakteristik serupa, yang mencakup semesta untuk memberikan informasi yang dicari oleh peneliti (Malhotra dan Dash, 2009). Pendapat lain mengatakan bahwa populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari subjek atau objek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2009). Populasi dalam penelitian ini adalah pengguna Blue Bird.
3.3.2 Sampel
Sampel adalah unit dasar yang mengandung elemen dari populasi yang akan di teliti (Malhotra dan Dash, 2009). Dengan melakukan penelitian kepada sebagian
Universitas Kristen Petra 18
dari populasi diharapkan hasil yang diperoleh mampu menggambarkan populasi yang bersangkutan. Syarat utama dari sampel yang baik adalah mewakili ciri dan karakteristik dari populasi dengan bias yang kecil.
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik non probability sampling, dimana semua populasi tidak memiliki peluang yang sama untuk menjadi responden dalam pengambilan sampel didasarkan pada pertimbangan peneliti (Simamora, 2002). Jenis non probability sampling, yang digunakan dalam penelitian purposive sampling dimana peneliti melakukan penelitian untuk memilih anggota populasi yang dinilai paling tepat sesuai dengan kriteria tertentu. Pengguna yang menjadi sampel sebagai responden dalam penelitian ini adalah pengguna blue bird berusia 18 hingga 38 tahun yang pernah menggunakan transportasi blue bird melalui aplikasi mybluebird atau go-bluebird yang berdomisili di Surabaya.
Penentuan ukuran sampel adalah dengan menentukan jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian serupa sehingga dapat mewakili populasinya. Dalam menentukan jumlah minimum sampel, penulis menggunakan rumusan Slovin (Sugiyono, 2007), yaitu:
𝑛 =#𝑍%&'&𝑝(1 − 𝑝)
𝑒&
𝑛 =(1,96)&0,5(1 − 0,5)
0,10&
𝑛 = 96,04 → dibulatkan menjadi 100
Dimana :
n = Jumlah sampel
𝑍45 = Angka yang menunjukkan suatu penyimpangan nilai variabel dari Mean dihitung dalam satuan deviasi standar tertentu (1,96) p = Probabilitas (0,5)
Universitas Kristen Petra 19
e = Taraf kesalahan, disarankan 10%
Jumlah sampel yang digunakan adalah 96,04 responden. Untuk memudahkan perhitungan maka jumlah responden dibulatkan menjadi 100. Oleh karena itu, kuesioner akan disebarkan kepada 100 responden.
3.4 Jenis dan Sumber Data
Sumber data yang diperoleh dibedakan menjadi dua yaitu, data primer dan data sekunder
3.4.1 Data Primer
Data primer adalah data yang dibuat oleh peneliti dengan maksud khusus untuk menyelesaikan masalah riset (Malhotra, 2004). Data primer dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh langsung berupa jawaban terhadap pertanyaan dalam kuisioner yang disebarkan kepada pengguna transportasi blue bird melalui aplikasi mybluebird atau go-bluebird yang berdomisili di Surabaya.
3.4.2 Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang telah dikumpulkan untuk maksud selain untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi (Malhotra, 2004). Data sekunder dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari literature, studi pustaka, dan media online sebagai informasi pendukung penelitian ini. Data sekunder dalam penelitian ini digunakan sebagai dasar untuk menyusun dan mengembangkan dasar pemikiran atas hipotesis yang terdapat pada rumusan masalah penelitian ini.
3.5 Metode dan Prosedur Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah metode yang digunakan dalam mengumpulkan sumber data. Dalam penelitian ini digunakan metode pengumpulan data berupa studi kepustakaan dan studi lapangan.
Universitas Kristen Petra 20
3.5.1 Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan merupakan salah satu metode yang dilakukan peneliti untuk mendapatkan informasi, dimana peneliti mencoba menggali informasi dari text book dan jurnal serta mencari artikel dan kutipan dari berbagai sumber, seperti media cetak dan media internet untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan topik (Sugiyono, 2009). Studi kepustakaan menjadi jembatan hubungan antara teori yang sudah ada sebelumnya dengan temuan yang ada di lapangan.
3.5.2 Studi Lapangan
Studi lapangan merupakan metode yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data secara langsung di lapangan terhadap obyek yang bersangkutan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan kuisioner kepada pengguna transportasi blue bird melalui aplikasi mybluebird atau go- bluebird. Pemahaman dari kuisioner adalah teknik pengumpulan data melalui formulir yang berisi pertanyaan – pertanyaan yang diajukan secara tertulis kepada seseorang atau sekumpulan orang untuk mendapatkan jawaban atau tanggapan informasi yang diperlukan oleh peneliti (Malhotra, 2004).
Kerangka kuisioner dalam penelitian ini dibagi menjadi dua bagian yaitu profil responden untuk melihat karakteristik responden serta bagian pertanyaan untuk memperoleh pendapat responden mengenai variabel – variabel yang digunakan dalam penelitian ini. Ukuran atau skala yang digunakan pada opsi jawaban untuk mencapai tujuan adalah dengan menggunakan skala likert. Skala likert adalah pengukuran yang mengharuskan responden untuk menunjukkan sikap setuju atau tidak setuju mereka mengenai serangkaian pertanyaan yang diberikan yang memiliki lima kategori skala mulai dari “sangat tidak setuju” hingga “sangat setuju” (Malhotra, 2004). Bentuk jawaban dari kuisioner ini, adalah:
1. Sangat Tidak Setuju (STS) = skor 1 2. Tidak Setuju (TS) = skor 2
3. Netral (N) = skor 3
4. Setuju (S) = skor 4
5. Sangat Setuju (SS) = skor 5
Universitas Kristen Petra 21
3.6 Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional variabel yang digunakan terdiri dari 4 variabel, yaitu:
1. Variabel independen
Variabel Independen atau variabel eksogen yaitu variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab atau timbulnya variabel dependen/endogen (Sugiyono, 2009). Variabel Independen dalam penelitian ini yaitu:
A. Brand Image (X1)
Brand Image adalah merupakan komponen brand yang utama, dimana dibangun berdasarkan persepsi konsumen melalui ikatan emosi yang dibangun dari refleksi dari karakter sebuah merek. Dimensi dari brand image adalah sebagai berikut:
a. Brand Strenght merupakan kekuatan merek tersebut berada dalam pikiran konsumennya. Dimensi ini dapat diukur dengan:
X.1.1 Taksi Blue Bird memiliki citra merek yang baik X.1.2 Taksi Blue Bird mudah didapatkan
b. Brand Favourability merupakan kemampuan merek dalam meyakinkan konsumen bahwa merek tersebut memiliki atribut dan manfaat yang relevan yang memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka, sehingga mereka membentuk penilaian merek keseluruhan yang positif. Dimensi ini dapat diukur dengan:
X.1.3 Konsumen puas dengan kecepatan layanan taksi blue bird X.1.4 Konsumen bangga ketika memakai Blue Bird
c. Brand Uniqueness merupakan kemampuan dari merek untuk memiliki competitive adventage yang berkelanjutan atau unique selling point yang memberikan alasan untuk konsumen membelinya. Dimensi ini dapat diukur dengan indikator sebagai berikut:
X.1.5 Taksi Blue Bird memberikan pelayanan pemesanan taksi yang lebih dibandingkan taksi online lainnya
Universitas Kristen Petra 22
X.1.6 Taksi Blue Bird memberikan rasa aman yang lebih dibandingkan dengan taksi online lainnya
1. Variabel Perantara
Variabel perantara adalah variabel yang mempengaruhi hubungan antara variabel independen dan dependen menjadi hubungan yang tidak langsung dan dapat diamati serta diukur (Sugiyono, 2009). Variabel perantara dalam penelitian ini yaitu:
A. Customer Engagement (Y1)
Customer Engagement adalah hubungan timbal balik antara perusahaan dan konsumen yang menghasilkan hubungan emosional. Dimensi customer engagement adalah sebagai berikut:
a. Enjoyment, mengambarkan tingkat kesenangan dan kebagaiaan konsumen terhadap merek.
Y1.1 Konsumen bahagia terhadap kualitas dari layanan yang diberikan blue bird
Y1.2 Mobil dari taksi Blue Bird lebih nyaman dibandingkan taksi online lainnya
b. Attention, gambaran perhatian konsumen terhadap merek
Y1.3 Konsumen selalu mengetahui informasi terbaru mengenai promo Blue Bird
Y1.4 Konsumen mencari informasi tentang taksi Blue Bird
c. Absorption, tingkat concentration dan immersion dengan brand atau merek
Y1.5 Blue Bird dapat diandalkan untuk keperluan konsumen Y1.6 Blue Bird mudah dikenali hanya dengan warna mobil
d. Sharing, tindakan konsumen untuk membagikan, dan menyebar luaskan informasi.
Universitas Kristen Petra 23
Y1.7 Konsumen mudah memberikan feedback kepada perusahaan blue bird mengenai pengalaman berkendara bersama blue bird
Y1.8 Konsumen tidak keberatan menceritakan pengalaman menggunakan Blue Bird ke dalam social media
e. Endorsing, dimana konsumen menunjukkan adanya dukungan dan rekomendasi.
Y1.9 Konsumen mengenalkan Blue Bird kepada orang lain
Y1.10 Konsumen berminat menggunakan layanan taksi Blue Bird pada waktu yang akan datang.
B. Customer Experience (Y2)
Customer experience adalah pengalaman konsumen tentang sebuah brand yang terbentuk dari serangkaian peristiwa yang terjadi mulai dari sebelum keputusan pembelian hingga akhir dari penggunaan barang atau jasa tersebut. Dimensi customer experiencet adalah sebagai berikut:
a. Sensory (sense), adalah komponen yang secara langsung terhubung dengan stimulus indra perasa dan tujuan pada saat mengontrol dimensi ini adalah untuk memberikan konsumen pengalaman melalui indra pengelihatan, penciuman, perasa, dan pendengaran. Dimensi ini dapat diukur dengan indikator sebagai berikut:
Y.2.1 Mobil Blue Bird memiliki bau yang segar.
Y.2.2 Mobil Blue Bird lebih terjaga kebersihannya dibandingkan taksi online lainnya
b. Affective/Emotional (feel), adalah ini berhubungan dengan sisi afektif dari konsumen untuk menghasilkan suasana hati, perasaan atau bahkan emosi yang spesifik, dan tujuan akhir dari dimensi ini adalah untuk menghasilkan ikatan emosi antara konsumen dan organisasi.. Dimensi ini dapat diukur dengan indikator sebagai berikut:
Y.2.3 Supir Blue Bird sopan ketika berkomunikasi dengan konsumen
Universitas Kristen Petra 24
Y.2.4 Taksi Blue Bird menawarkan kemudahan melakukan pembayaran c. Cognitive (think), berhubungan dengan proses berpikir konsumen. Dimana
akan menciptakan pengalaman kognitif seperti kovergen dan divergen melalui provokasi dan intrik. Dimensi ini dapat diukur dengan indikator sebagai berikut:
Y.2.5 Nama Blue Bird mudah diingat
Y.2.6 Konsumen tidak membutuhkan banyak waktu untuk memutuskan menggunakan Blue Bird
d. Physical (act), dimensi yang berhubungan dengan fisik konsumen yang menunjukkan cara-cara alternative untuk melakukan sesuatu. Dimensi ini dapat diukur dengan indikator sebagai berikut:
Y.2.7 Konsumen dapat dengan mudah berinteraksi dengan supir Blue Bird Y.2.8 Blue Bird memberikan promosi yang membuat konsumen tertarik e. Social-identity (relate), dimensi ini merupakan gabungan dari dimensi
yang lain ditambah dengan perasaan di luar perasaan pribadi. Dimensi ini dapat diukur dengan indikator sebagai berikut:
Y.2.9 Blue Bird memberikan informasi kepada konsumen tentang fitur baru
Y.2.10 Banyak orang merekomendasikan Blue Bird kepada konsumen
2. Variabel Dependen
Variabel dependen atau variabel endogen adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variabel independen atau variabel eksogen (Sugiyono, 2009). Variabel dependen dalam penelitian ini yaitu:
A. Customer Advocacy (Z1)
Purchase intention adalah kecenderungan untuk membagikan informasi tentang sebuah merek untuk memperingatkan konsumen sehingga mereka dapat menghindari pengalaman pasar yang negative. Dimensi purchase intention adalah sebagai berikut:
Universitas Kristen Petra 25
a. Say positive things about product/brand yaitu kecenderungan konsumen mengatakan hal yang positive terhadap orang lain tentang brand. Dimensi ini dapat diukur dengan indikator sebagai berikut:
Z.1.1 Anda bersedia menceritakan kelebihan dari Blue Bird
Z.1.2 Anda tidak pernah menceritakan hal negative tentang Blue Bird b. Defend when someone say something negative about product/brand yaitu
perilaku konsumen membela merek tertentu apabila ada orang berkata negatif. Dimensi ini dapat diukur dengan indikator sebagai berikut:
Z.1.3 Anda bersedia membela Blue Bird ketika orang lain berbicara negative tentang Blue Bird
Z.1.4 Anda tidak setuju jika orang lain berbicara negative tentang Blue Bird
c. Encourage friends and relative yaitu perilaku konsumen mengajak teman untuk menggunakan produk/jasa tersebut. Dimensi ini dapat diukur dengan indikator sebagai berikut:
Z.1.5 Anda berusaha meyakinkan orang lain untuk menggunakan Blue Bird
Z.1.6 Anda mendorong orang lain untuk menggunakan Blue Bird dibandingkan transportasi lainnya
d. Recommend yaitu perilaku konsumen yang merekomendasikan barang dan jasa. Dimensi ini dapat diukur dengan indikator sebagai berikut:
Z.1.7 Anda menyarankan orang lain untuk menggunakan Blue Bird Z.1.8 Anda membuat orang lain untuk memilih Blue Bird dibandingkan
taksi online lainnya
3.7 Teknik Analisa Data
Analisis didasarkan pada data yang diperoleh dari instrumen penelitian yaitu dari hasil kuesioner yang disebarkan, kemudian diolah dengan metode statistik.
Universitas Kristen Petra 26
3.7.1 Path Analysis
Pengujian hipotesis yang ada pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik path analysis untuk menujukkan adanya hubungan yang kuat dengan variabel – variabel yang diuji. Teknik path analysis digunakan untuk melukiskan dan menguji model hubungan antar variabel yang berbentuk sebab akibat (Sugiyono, 2007). Teknik ini merupakan pengembangan korelasi yang diurai menjadi beberapa interpretasi akibat yang ditimbulkannya.
Pengujuan statistik pada model path analysis dilakukan dengan menggunakan metode partial least square. Partial Least Square (PLS) adalah bagian dari SEM. PLS merupakan teknik terbaru yang banyak diminati karena tidak membutuhkan distribusi normal atau dapat dikatakan sebuah penelitian dengan jumlah sampel yang sedikit. Salah satu kelebihan PLS-SEM adalah mampu menangani model yang kompleks dengan multiple variabel eksogen dan endogen dengan banyak indikator, dapat digunakan pada sampel dengan jumlah kecil, dan data distribusi yang condong (Abdillah & Hartono, 2015).
3.7.2 Indikator Reliability dan Internal Consistency Reliability
Pengukuran reliabilitas dan validitas dilakukan menggunakan beberapa teknik pengukuran. Untuk mengukur seberapa reliable indikator yang digunakan, maka digunakan pengukuran indicator reliability dan internal consistency reliability. Evaluasi reliability ini dilakukan untuk melihat apakah data yang digunakan didalam penelitian ini konsisten atau tidak, karena hal ini dapat berpengaruh besar terhadap output data yang akan diuji selanjutnya.
Sebuah indikator dinyatakan memiliki reliable yang cukup baik apabila indicator reliability nilai 0,40 – 0,70 dan dikatakan baik apabila lebih besar dari 0,70. Kemudian, nilai internal consistency reliability didapat dari composite reliability (Abdillah & Hartono, 2015). Latent variabel akan dinyatakan reliabel apabila nilai composite reliability lebih besar dari 0,70.
Universitas Kristen Petra 27
3.7.3 Convergent Validity & Discriminant Validity
Evaluasi validitas data dengan menggunakan convergent validity dan discriminant validity, dimana evaluasi ini bertujuan untuk melihat apakah variabel yang digunakan didalam penelitian ini akurat dalam melakukan pengolahan data.
Validitas konvergen berhubungan dengan prinsip bahwa pengukur (manifest variable) dari suatu konstruk seharusnya berkorelasi tinggi. Rule of thumb yang biasanya digunakan untuk menilai validitas konvergen adalah nilai loading factor yang harus lebih dari 0.7 atau nilai AVE yang harus lebih dari 0.5 untuk dikatakan valid. Variabel akan dinyatakan valid apabila nilai AVE yang telah diakar pangkat dua lebih besar(>) dari korelasi setiap latent variabel yang berhubungan.
Discriminant validity berhubungan dengan prinsip bahwa pengukur atau manifest variable konstruk yang berbeda seharusnya tidak berkorelasi dengan tinggi. Cara untuk mengujinya yaitu dengan melihat nilai cross loading untuk tiap variabel yang harus lebih besar dari 0.7 (Abdillah & Hartono, 2015). Discriminant validity dapat juga diukur dengan membandingkan akar kuadrat dari nilai AVE masing-masing variabel latent. Nilai ini harus lebih besar dari korelasi variabel laten lainnya agar dikatakan memiliki nilai discriminant validity yang baik.
3.7.4 Inner Model atau Model Struktural
Inner model atau model structural menggambarkan hubungan antara variabel laten berdasarkan teori subtantif. Inner model dievaluasi dengan menggunakan R-square untuk konstruk dependen, Q-Square predictive relevance untuk model struktural, dan uji t serta signifikansi dari koefisien paremeter jalur struktural.
Melihat R-square untuk setiap variabel laten dependen (laten endogen).
Interpretasinya sama dengan interpretasi pada regresi. Perubahan nilai R-square dapat digunakan untuk menilai pengaruh variabel laten independen (laten eksogen) tertentu terhadap variabel laten dependen (laten endogen) apakah mempunyai pengaruh yang subtantif. Pada model PLS melihat nilai R-square dengan melihat Q-square prediktif relevansi untuk model konstruktif. Apabila nilai R2 berada diantara 0.25 – 0.50, maka dinyatakan lemah, jika nilai R2 berada diantara 0.50 – 0.75 dikatakan sedang , jika > 0.75 maka dinyatakan substansial.
Universitas Kristen Petra 28
Q-Square predictive relevance mengukur seberapa baik nilai observasi dihasilkan oleh model dan juga estimasi parameternya. Nilai Q-square > 0 menunjukkan model memiliki predictive relevance, sebaliknya jika nilai Q-Square
≤ 0 menunjukkan model kurang memiliki predictive relevance. Perhitungan Q- Square dilakukan dengan rumus:
Q2 = 1 – ( 1 – R12) ( 1 – R22) ... ( 1- Rp2)
dimana R1 2 , R22 ... Rp2 adalah R-square variabel endogen dalam model persamaan. Besaran Q2 memiliki nilai dengan rentang 0 < Q2 < 1, dimana semakin mendekati 1 berarti model semakin baik. Stabilitas dari estimasi ini dapat dievaluasi melalui T-test (Abdillah & Hartono, 2015).
3.7.5 T-test
Di dalam penelitian ini terdapat variabel perantara yaitu penghubung antara variabel dependen dan variabel independen. Pengujian hipotesis mediasi (variabel perantara) dapat dilakukan dengan prosedur t-test. Pengujian t-test digunakan untuk mendapatkan nilai t-statistik yang diperlukan apabila peneliti ingin melakukan uji hipotesis, sehingga peneliti dapat mengatakan pengaruh sebuah variabel dapat dikatakan memiliki pengaruh yang signifikan atau tidak. T-test dilakukan dengan menggunakan metode bootstrapping.
Metode bootstrapping adalah suatu proses pengujian re-sampling yang dilakukan oleh sistem komputer untuk mengukur akurasi pada sample estimate.
Bootstraping digunakan untuk mengukur akurasi pada sample. Apabila nilai bootstrap lebih dari (>) 1.96 maka dinyatakan bahwa variabel tersebut memiliki pengaruh yang signifikan sedangkan apabila nilai bootstrap lebih rendah (<) dari 1.96, maka dinyatakan pengaruh variabel tersebut lemah (Abdillah, 2015)
3.7.6 Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif digunakan untuk menyajikan data secara deskriptif yang menggambarkan karakteristik responden serta jawaban-jawaban responden sehingga mampu digunakan sebagai kesimpulan dari hasil kuisioner yang sudah disebarkan selama penelitian ini.