KARTA RAHARJA 3(2) (2021); HAL 17-28
KARTA RAHARJA
http://ejurnal.malangkab.go.id/index.php/kr
MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT KELUARGA MISKIN DALAM PEMULIHAN EKONOMI PADA MASA PANDEMI
COVID-19 DI KABUPATEN MALANG
Bramantyo Tri Asmoro
1, Sasmito Djati Utomo
21,3Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Malang JL Raden Panji no 158, Penarukan, Kepanjen, Kabupaten Malang 65163
2Universitas Hang Tuah Surabaya
JL Arief Rachman Hakim No. 150 Sukolilo, Surabaya Dikirim: 30/11/2021; Direvisi: 22/12/2021; Disetujui: 27/12/2021
Abstrak
Penelitian ini mengkaji tentang bagaimana model pemberdayaan masyarakat keluarga miskin dalam pemulihan ekonomi pada masa pandemi Covid-19 secara komprehensif dan terintegratif di Kabupaten Malang, dengan mengidentifikasi faktor pendorong dan faktor penghambat dalam upaya pemberdayaan masyarakat keluarga miskin dalam pemulihan ekonomi pada masa pandemi Covid-19. Penelitian ini adalah penelitian eksploratif yang mengkombinasikan pendekatan penelitian kualitatif dan pendekatan kuantitatif. Teknik analisa data mempergunakan tahapan analisis data grounded theory. Hasil kajian menunjukkan bahwa faktor pendorong dan faktor penghambat dalam upaya pemberdayaan masyarakat keluarga miskin dalam pemulihan ekonomi pada masa pandemi Covid-19 di Kabupaten Malang dapat dikategorikan dalam beberapa aspek yaitu aspek aksesibilitas, budaya, ekonomi sumber daya manusia, dan psikologi. Model pemberdayaan masyarakat keluarga miskin dalam pemulihan ekonomi pada masa pandemi Covid-19 secara komprehensif dan terintegratif di Kabupaten Malang diutamakan dalam Bentuk Kelompok Usaha Bersama, yang didorong dengan pendekatan kemitraan melalui tahap persiapan, tahap assessment atau pengidentifikasian, tahap perencanaan alternatif, tahap formulasi rencana aksi, tahap pelaksanaan, tahap evaluasi dan tahap terminasi.
Kata kunci: Covid-19, Pemberdayaan, Keluarga, Miskin, Pemulihan
I. PENDAHULUAN
Masalah kemiskinan merupakan masalah sosial laten yang memerlukan penanganan yang berkelanjutan. Hal ini terkait dengan upaya pengentasan kemiskinan yang telah dilakukan selama ini belum mampu mengurai secara tuntas, bahkan gejalanya semakin meningkat sejalan dengan krisis multidimensional yang masih dihadapi bangsa Indonesia saat ini.
Mengatasi masalah kemiskinan tidak hanya memberdayakan ekonomi keluarga, namun tetap memperhatikan dimensi lain yang bersifat non ekonomi, seperti aspek soft skills, antara lain menghilangkan rasa apatis dan rasa tak berdaya, menumbuhkan semangat kewirausahaan,
komitmen, dan membangun tim kerja sebagai networking.
Untuk mengukur kemiskinan, Badan Pusat Statistik menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Metode yang digunakan adalah menghitung Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari dua komponen yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM). Penghitungan Garis Kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk
daerah perkotaan dan pedesaan.
Pada tahun 2020, menurut data dari BPS Kabupaten Malang, Garis Kemiskinan Kabupaten Malang sebesar Rp. 338.156,- meningkat 2,62 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp. 329.512,-, dan jumlah penduduk miskin bertambah 18.960 orang menjadi 265.560 orang, dengan persentase penduduk miskin sebesar 10,15. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Malang pada tahun 2016-2019 menunjukkan pertumbuhan positif, namun pada tahun 2020 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Malang melambat dan terkontraksi hingga minus 2,68 persen. Penurunan tersebut terjadi sebagai imbas dari adanya pandemi Covid-19 yang melumpuhkan hampir seluruh sektor.
Kemiskinan bukanlah masalah yang mudah diatasi, pencegahan kemiskinan mencakup banyak aspek dan proses yang harus dilalui dan dijalankan. Kepemilikan sumber daya yang tidak setara, kapasitas masyarakat yang minim, dan ketimpangan akses dalam produksi menyebabkan partisipasi dalam pembangunan yang lamban.
Semua ini, pada gilirannya, menyebabkan perolehan pendapatan yang tidak seimbang dan, pada gilirannya, menciptakan struktur komunitas yang tidak seimbang. Ketimpangan ekonomi ini dapat merusak kesejahteraan pribadi dan sosial dan berpotensi merusak keamanan masyarakat.
Secara umum ada dua faktor utama penyebab kemiskinan dan ketidakberdayaan yang saling terkait: faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal berkaitan dengan masalah dan hambatan yang berasal dari individu atau masyarakat miskin yang bersangkutan, seperti motivasi berprestasi yang rendah, kurangnya modal, penguasaan manajemen yang lemah, dan aspek teknologi. Selanjutnya faktor eksternal terkait dengan kondisi kelembagaan yang belum kondusif. Selain itu, minimnya infrastruktur dan daya dukung lainnya menyebabkan potensi masyarakat kurang berkembang
Berdasarkan logika penyebab kemiskinan dan ketidakberdayaan masyarakat, maka strategi model pemberdayaan masyarakat yang akan diterapkan harus menyentuh permasalahan masyarakat, baik dari sisi internal maupun eksternal. Upaya pemberian bantuan telah dilakukan bagi warga masyarakat khususnya keluarga maskin akibat adanya pandemic Covid-19.
Istiana Hermawati (2020) dalam penelitiannya mengenai Keluarga Miskin Dalam Gempuran Pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa bantuan sosial yang dikucurkan pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan dan dampak Covid-19 belum merata. Sebagian lebih dari responden mengaku tidak pernah menerima bantuan sosial dari pemerintah, baik
sebelum maupun selama Covid-19. Ini berarti bantuan sosial yang digulirkan pemerintah belum mampu menyentuh semua sasaran (keluarga miskin/terdampak Covid-19) yang berhak menerimanya. Beberapa alasan yang melatarbelakangi responden tidak menerima bantuan sosial meskipun secara rill hidup dalam kemiskinan adalah karena tidak terdata, tidak memiliki informasi yang cukup terkait program bansos dan tidak tahu bagaimana cara mengakses bantuan. Bagi responden yang menerima bantuan, merasakan bantuan tersebut sangat bermanfaat dan dapat dijadikan penopang hidup keluarga di saat responden tidak memiliki sumber mata pencaharian akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) dan atau terjadi penurunan penghasilan yang sangat signifikan akibat Covid-19.
Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa secara ekonomi, dilihat dari aspek pekerjaan pada masa Covid-19 terjadi peningkatan pengangguran sebesar 50,67%, akibat banyaknya pemutusan hubungan kerja karena banyak perusahaan/tempat usaha yang tidak mampu beroperasi lagi. Bagi pekerja mandiri juga banyak yang tidak mendapatkan order pekerjaan, tidak bisa memasarkan hasil usaha dan sebagainya yang semuanya mengakibatkan penurunan penghasilan secara signifikan bagi responden.
Pada aspek penghasilan, terjadi peningkatan sekitar 97,14% responden yang berpenghasilan di bawah UMP Yogyakarta. Ini berarti COVID-19 sangat dirasakan dampaknya bagi responden.
Upaya yang dilakukan sebagian besar responden untuk mengatasi Dampak COVID-19 adalah hidup seadanya, berhutang atau mencari pinjaman dan menjual aset seperti perhiasan, kendaraan bahkan tanah agar bisa bertahan hidup.
Penelitian ini merekomendasikan antara lain, 1) Perlu dilakukan verifikasi dan validasi data secara periodik di daerah dan disinkronkan dengan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial di Kementerian Sosial sehingga keluarga miskin/berpenghasilan rendah/terdampak Covid-19 dapat mengakses bantuan sosial atau pelayanan sosial yang menjadi haknya; (2) Perlu sinergitas lintas sektoral dan lintas profesi dalam penanganan masyarakat miskin/terdampak COVID-19 dari pemerintah pusat hingga daerah, sehingga tidak terjadi tumpang tindih dan penanganan yang dilakukan efektif dan efisien; (3) Perlu diciptakan model pemberdayaan sosial-ekonomi berbasis komunitas yang melibatkan unsur pemerintah, NGO, dunia usaha dan masyarakat sipil dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan bagi masyarakat miskin/terdampak COVID-19 dan menguatkan social capital masyarakat.
Yusuf Wibisono (2020), dalam penelitian mengenai Keluarga Miskin dalam Pusaran Pandemi Covid-19, Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Keluarga Miskin dan Bagaimana Mereka
Bertahan, menyimpulkan bahwa keberadaan pandemi menyebabkan atuhnya penghasilan dan daya beli keluarga miskin telah menciptakan krisis yang serius di keluarga miskin, bahkan mulai menyentuh aspek paling mendasar: kebutuhan pangan. Sebesar 80,8 persen responden mengaku terdampak kebutuhan pangan keluarganya akibat pandemi. Sebanyak 819 responden yang terdampak ini, mayoritas mengaku mulai tidak mampu atau sulit membeli daging dan ikan, diikuti dengan tidak mampu atau sulit membeli susu dan telur. Hal yang mengejutkan adalah 51,8 persen responden mengaku mulai tidak mampu atau sulit membeli beras dan sembako. Fakta bahwa kebutuhan keluarga miskin yang paling mendasar telah terganggu, mengindikasikan bahwa masalah ekonomi yang dihadapi keluarga miskin di masa pandemi ini adalah sangat berat.
Selain melakukan berbagai upaya alternatif untuk bertahan hidup (coping strategy), keluarga miskin juga banyak tertolong oleh bantuan sosial yang membuat mereka mampu bertahan melewati krisis.
Yayasan Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) (2020), melakukan kajian mengenai Laporan Pemantauan Program Bantuan Sosial Covid-19, telah menunjukkan temuan bahwa dampak ekonomi semakin terasa memberatkan masyarakat miskin khususnya.
Berdasarkan hasil pemantauan ini, maka Yayasan PEKKA dan Federasi Serikat Pekka di seluruh wilayah Indonesia merekomendasikan antara lain bahwa
1. Program bantuan sosial pada masyarakat miskin harus diperluas dengan memberikan bantuan strategis untuk pemulihan ekonomi;
2. Guna mengurangi kesalahan eksklusi dan inklusi, maka perlu perbaikan sistem data pendataan dengan mengedepankan beberapa prinsip antara lain dengan berbasis komunitas, dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat sebagai pendata, khususnya kelompok perempuan dan marjinal; pendekatan dari bawah – dikumpulkan dari unit terkecil dalam masyarakat seperti RT atau Dasa Wisma, diakumulasikan ke tingkat nasional, serta daftar penerima bantuan diinformasikan secara transparan melalui berbagai mekanisme dan sistem yang dapat diakses secara inklusif oleh masyarakat;
3. Desa harus memiliki sistem data terpilah kriteria; gender, disabilitas, lansia, dan kondisi khusus lainnya sehingga dapat membantu memastikan ketepatan sasaran program.
4. Pemerintah mengembangkan kebijakan afirmasi untuk menjangkau kelompok-
kelompok miskin yang khusus dan tereksklusi, misalnya Pekka, lansia, disabilitas dan kelompok minoritas lainnya.
Sehubungan beberapa fakta empiris tersebut, penelitian ini mengkaji tentang bagaimanakah model pemberdayaan masyarakat keluarga miskin dalam pemulihan ekonomi pada masa pandemi Covid-19 secara komprehensif dan terintegratif di Kabupaten Malang. Penelitian ini juga mengkaji tentang faktor pendorong dan faktor penghambat dalam upaya pemberdayaan masyarakat keluarga miskin dalam pemulihan ekonomi pada masa pandemi Covid-19 di Kabupaten Malang. Sehingga dapat dirumuskan model pemberdayaan masyarakat keluarga miskin dalam pemulihan ekonomi pada masa pandemi Covid-19 secara komprehensif dan terintegratif.
II. METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif yang mengkombinasikan pendekatan penelitian kualitatif dan pendekatan kuantitatif. Subjek penelitian ini adalah tenaga pendamping sosial dan pendamping Program Keluarga Harapan yang berada di Kecamatan Poncokusumo dan Kecamatan Pujon Kabupaten Malang. Selain itu, beberapa narasumber yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah dari Dinas Sosial Kabupaten Malang, serta intansi kecamatan lokasi kajian. Pengumpulan informasi melalui diskusi, survey lapangan dan serta survey dengan mempergunakan google formulir untuk mendapatkan informasi yang utuh kebutuhan data penelitian.
Teknik analisa data mempergunakan teknik analisis data mempergunakan tahapan analisis data grounded theory dengan tahapan pengkodean berbuka, pengkodean berporos dan pengkodean berpilih.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Kebijakan Eksisting Bagi Keluarga Miskin Selama Pandemi
Dalam hal kebijakan eksisting pemberdayaan masyarakat keluarga miskin dalam pemulihan ekonomi di Kabupaten Malang, maka pemberdayaan ekonomi keluarga miskin ini terintegrasi pula dengan kebijakan pemerintah pusat melalui program-program Kementerian Sosial baik pada Program Keluarga Harapan.
Pemerintah Kabupaten Malang mengalokasikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Desa dan Padat Karya Tunai Desa (PKTD), sebagai kebijakan lokal mendukung pemberdayaan masyarakat keluarga miskin dalam pemulihan ekonomi pada masa pandemic Covid-19.
Kebijakan BLT Desa dan Padat Karya
Tunai Desa (PKTD) diatur dalam Peraturan Bupati Malang Nomor 14 Tahun 2020 Tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Malang Nomor 4 Tahun 2020 Tentang Tata Cara Pembagian Dan Penetapan Rincian Dana Desa Pada Setiap Desa Serta Pedoman Teknis Penggunaan Dana Desa Tahun Anggaran 2020 dan Peraturan Bupati Malang Nomor 3 Tahun 2021 Tentang Tata Cara Dana Desa Pada Setiap Desa Serta Petunjuk Teknis Pengguanaan Dana Desa Tahun Anggaran 2020.
Dalam Peraturan Bupati Malang Nomor 14 Tahun 2020 Tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Malang Nomor 4 Tahun 2020 Tentang Tata Cara Pembagian Dan Penetapan Rincian Dana Desa Pada Setiap Desa Serta Pedoman Teknis Penggunaan Dana Desa Tahun Anggaran 2020.
Dalam pasal 1 ayat 40 alam peraturan bupati menjelaskan bahwa Bantuan Langsung Tunai Desa yang selanjutnya disebut BLT Desa adalah pemberian uang tunai kepada keluarga miskin atau tidak mampu di Desa yang bersumber dari Dana Desa untuk mengurangi dampak ekonomi akibat adanya pandemi COVID-19. Dalam pasal 14 A ayat 1 berbunyi “Jaring pengaman sosial di desa” sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1A) huruf b, berupa BLT desa kepada keluarga miskin atau tidak mampu di desa sebagai keluarga penerima manfaat. Sedangkan dalam pasal 17 A ayat 2 berbunyi “Penanganan dampak pandemi COVID-19” sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa BLT Desa kepada keluarga miskin atau tidak mampu di Desa sesuai ketentuan peraturan perundang- undangan. Peraturan Bupati Malang Nomor 14 Tahun 2020 huruf Q, mengenai Pencegahan dan Penanganan Bencana Alam dan Non alam menyebutkan sasaran penerima BLT Desa adalah keluarga miskin non PKH/Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) antara lain: kehilangan mata pencaharian; belum terdata (exclusion error);
dan mempunyai anggota keluarga yang rentan sakit menahun/kronis.
Dalam hal mekanisme pendataan dilakukan oleh Relawan Desa lawan COVID-19, pendataan terfokus mulai dari RT, RW dan Desa, hasil pendataan sasaran keluarga miskin dilakukan musyawarah desa khusus/musyawarah insidentil dilaksanakan dengan agenda tunggal, yaitu validasi dan finalisasi data, legalitas dokumen hasil pendataan ditandatangani oleh Kepala Desa dan dokumen hasil pendataan diverifikasi desa, oleh Kepala Desa dilaporkan kepada Bupati melalui Camat dan dapat dilaksakan kegiatan kegiatan BLT Desa dalam waktu selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja per tanggal diterima di kecamatan.
Metode dan mekanisme penyaluran dalam regulasi tersebut menyebutkan bahwa
penyaluran dilaksanakan oleh pemerintah desa dengan metode nontunai (cash less) setiap bulan.
Sedangkan metode perhitungan penetapan jumlah penerima manfaat BLT Desa mengikuti rumus:
5. Desa penerima Dana Desa kurang dari Rp 800.000.000 (delapan ratus juta rupiah) mengalokasikan BLT Desa maksimal sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah Dana Desa.
6. Desa penerima Dana Desa Rp 800.000.000 (delapan ratus juta rupiah) sampai dengan Rp 1.200.000.000 (satu miliar dua ratus juta rupiah) mengalokasikan BLT Desa maksimal sebesar 30% (tiga puluh persen) dari jumlah Dana Desa.
7. Desa penerima Dana Desa lebih dari Rp 1.200.000.000 (satu miliar dua ratus juta rupiah) mengalokasikan BLT Desa maksimal sebesar 35% (tiga puluh lima persen) dari jumlah Dana Desa.
8. Khusus desa yang jumlah keluarga miskin lebih besar dari anggaran yang dialokasikan dapat menambah alokasi setelah mendapat persetujuan Pemerintah Daerah.
Jangka waktu dan besaran pemberian BLT Desa dengan masa penyaluran BLT Desa 3 (tiga) bulan terhitung sejak April 2020 dan besaran BLT Desa per bulan sebesar Rp600.000,00 (enam ratus ribu rupiah) per keluarga. Monitoring dan Evaluasi dilaksanakan oleh Badan Permusyawaratan Desa, Camat; dan Inspektorat Daerah. Penanggung jawab penyaluran BLT Desa adalah Kepala Desa. Mekanisme Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Peraturan Bupati Malang Nomor 3 Tahun 2021 Tentang Tata Cara Dana Desa Pada Setiap Desa Serta Petunjuk Teknis Pengguanaan Dana Desa Tahun Anggaran 2020 dalam Pasal 1 Ayat 38 menyebutkan bahwa “Bantuan Langsung Tunai Desa, yang selanjutnya disebut BLT Desa adalah pemberian uang tunai kepada keluarga miskin atau tidak mampu di Desa yang bersumber dari Dana Desa untuk mengurangi dampak ekonomi akibat adanya pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19)”. Selanjutnya dalam Pasal 16 ayat (2) point (a) berbunyi keluarga miskin atau tidak mampu yang berdomisili di Desa bersangkutan;
Pasal 16 ayat (1) menyebutkan: “Pemerintah Desa wajib menganggarkan dan melaksanakan BLT Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (4)”. Pasal 16 ayat (2) menyebutkan:
“BLT Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada keluarga penerima manfaat yang paling sedikit memenuhi kriteria keluarga
miskin atau tidak mampu yang berdomisili di Desa bersangkutan dan tidak termasuk penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Sembako, Kartu Pra Kerja, Bantuan Sosial Tunai, dan program bantuan sosial Pemerintah lainnya
Selanjutnya terkait dengan pemberdayaan masyarakat keluarga miskin dalam Peraturan Bupati Malang Nomor 3 Tahun 2021 dalam Bab III Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa Point C menyebutkan bahwa penggunaan Dana Desa diutamakan untuk dilaksanakan dengan pola Padat Karya Tunai Desa (PKTD). Pekerja diprioritaskan bagi penganggur, setengah penganggur, Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA), anggota keluarga miskin, serta anggota masyarakat marginal lainnya. Besaran anggaran upah kerja paling sedikit 50% (lima puluh persen) dari total biaya per kegiatan yang dilakukan menggunakan pola PKTD. Hal ini menunjukkan Pemerintah Daerah Kabupaten Malang mengupayakan pemberdayaan masyarakat keluarga miskin dalam pemulihan ekonomi pada masa pandemi Covid-19 melalui alokasi BLT Desa dan pelaksanaan pola Padat Karya Tunai Desa (PKTD).
Lebih lanjut dalam hal pemulihan Pemulihan Ekonomi pada Masa Pandemi Covid-19 di Kabupaten Malang saat ini sedang melakukan berbagai upaya pemulihan ekonomi, diantaranya melalui pengelolaan pelayanan kesehatan lingkungan, pelatihan keterampilan bagi kelompok perempuan kepala keluarga, dukungan kegiatan dalam rangka digitalisasi di bidang pendidikan, fasilitasi bantuan sosial kesejahteraan keluarga, pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan pariwisata, pengadaan benih/bibit ternak sapi potong dan sapi perah, serta penjaminan ketersediaan sarana budidaya ikan dan kegiatan lainnya yang mendukung pemulihan ekonomi di Kabupaten Malang (http://malangkab.go.id/, 2021).
B. Faktor Pendorong Dan Faktor Penghambat Dalam Upaya Pemberdayaan Masyarakat Keluarga Miskin
Dalam rangka menggali informasi faktor pendorong dan faktor penghambat ditentukan informan memahami situasi yang dihadapi keluarga miskin (Keluarga Penerima Manfaat-KPM), serta langkah-langkah untuk memberdayakan, serta menguatkan ekonomi keluarga miskin tersebut adalah para pendamping khususnya pendamping sosial atau pendamping program PKH di lokasi kajian.
Tahapan analisis dilakukan dengan pengkodean berbuka (open coding), pengkodean berporos (axial coding), dan pengkodean berpilih (selective coding). Pada tahap pertama, upaya konseptualisasi dilakukan dengan memisahkan
hasil survey, observasi, sebuah kalimat tanggapan, sebuah paragraf dan memberi nama kejadian, pemikiran dengan suatu nama yang kira-kira dapat menerangkan fenomena tersebut.
Selanjutnya ditindak lanjuti dengan menemukan kategori. Nilai persentase (%) menunjukkan jumlah tanggapan pada responden atas informasi dalam proses identifikasi data yang dapat dikatagorikan sebagai faktor pendorong.
Berdasarkan ekplorasi tanggapan/masukan dari petugas pendamping dari kajian di lapangan, tahap open coding untuk identifikasi faktor pendorong ini dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1. Tahap Open Coding Identifikasi Faktor Pendorong Pada Keluarga Miskin
No. Indentifikasi Data Persen
(%) Labeling
1 Bahwa KPM, mampu mengendalikan anggaran keluarga
84% Pengendalian anggaran keluarga
2 Bahwa KPM, mampu memilih tempat meminjam
84% Kemampuan memilih tempat meminjam 3 Bahwa KPM, mampu
mengelola usaha 84% Kemampuan mengelola usaha 4 Selama ini, akses
dukungan dan bantuan bagi KPM mudah diperoleh.
86% Akses dukungan dan bantuan
5 Bahwa KPM, dapat memahami jumlah pendapatan dan pengeluaran
86% Memahami jumlah pendapatan dan pengeluaran 6 Bahwa di wilayah
KPM memiliki sumber daya alam yang meningkatkan penghasilan / ekonomi keluarga
86% Memiliki sumber daya alam yang meningkatkan penghasilan / ekonomi keluarga 7 Bahwa anggota rumah
tangga KPM memiliki ketrampilan yang dapat meningkatkan penghasilan / ekonomi
89% Memiliki ketrampilan yang dapat meningkatkan penghasilan / ekonomi 8 Bahwa anggota
dalam KPM, memiliki kemampuan untuk mendapatkan penghasilan yang layak
91% Memiliki kemampuan untuk mendapatkan penghasilan yang layak
9 Setiap anggota keluarga pada KPM telah memiliki peran masing-masing sesuai tanggung jawab
91% Memiliki peran masing-masing sesuai tanggung jawab
10 Bahwa anggota dalam KPM, memiliki kemampuan untuk bekerja secara layak
95% Memiliki kemampuan untuk bekerja secara layak 11 Bahwa di wilayah
KPM memiliki sumber daya lingkungan yang meningkatkan penghasilan / ekonomi keluarga
80% Memiliki sumber daya lingkungan yang meningkatkan penghasilan / ekonomi keluarga
No. Indentifikasi Data Persen
(%) Labeling 12 Peningkatan
pendapatan (kepemilikan aset)
31% Peningkatan pendapatan (kepemilikan aset) 13 Adanya usaha (Usaha
Perseorangan, Bisnis Keluarga Maupun Bisnis Yang Dimiliki Oleh Anaknya)
18.8% Pengendalian anggaran keluarga
Sumber : diolah dari hasil survey, 2021
Identifikasi faktor pendorong, adalah kondisi atau situasi yang dinilai menguntungkan.
Kondisi yang diharapkan (positif) berdasarkan penilaian persentase tertinggi. Pada tahap pertama ini, berhasil teridentifikasi sejumlah faktor pendorong yang dapat berpengaruh/
berhubungan dengan pemulihan ekonomi keluarga miskin pada masa pandemi. Adapun sejumlah faktor pendorong tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2. Identifikasi Faktor Pendorong
No. Indentifikasi Faktor Pendorong Katagori Aspek 1 Akses dukungan dan bantuan Aksesibilitas 2 Peningkatan pendapatan (kepemilikan
aset) Ekonomi
3 Adanya usaha (Usaha Perseorangan, Bisnis Keluarga Maupun Bisnis Yang Dimiliki Oleh Anaknya)
Ekonomi / Psikologi 4 Memiliki peran masing-masing sesuai
tanggung jawab Sosial
5 Memiliki sumber daya alam yang meningkatkan penghasilan/ekonomi keluarga
Sumber Daya Lokal 6 Memiliki sumber daya lingkungan
yang meningkatkan penghasilan / ekonomi keluarga
Sumber Daya Lokal 7 Kemampuan memilih tempat
meminjam Sumber Daya
Manusia 8 Kemampuan mengelola usaha Sumber Daya
Manusia 9 Memahami jumlah pendapatan dan
pengeluaran Sumber Daya
Manusia 10 Memiliki ketrampilan yang dapat
meningkatkan penghasilan / ekonomi Sumber Daya Manusia 11 Memiliki kemampuan untuk
mendapatkan penghasilan yang layak Sumber Daya Manusia 12 Memiliki kemampuan untuk bekerja
secara layak Sumber Daya
Manusia 13 Pengendalian anggaran keluarga Sumber Daya
Manusia / Budaya Sumber : diolah dari hasil survey, 2021
Selanjutnya hal-hal yang ditemukan dalam identifikasi faktor pendorong, dapat dtinjau keterkaitannya, dalam hal kondisi eksisting yang melekat pada keluarga miskin, dan aspek/hal-
hal yang dilakukan pada saat keluarga miskin menghadapi pandemi. Adapun visualisasi keterkaitan antar aspek sebagai faktor pendorong dapat dilihat pada gambar berikut :
Sumber : diolah dari hasil survey, 2021
Gambar 1. Diagram Keterkaitan Faktor Pendorong
Lebih lanjut, berdasarkan ekplorasi tanggapan/masukan dari petugas pendamping dari kajian di lapangan, tahap open coding untuk identifikasi faktor penghambat juga menunjukkan nilai persentase (%) jumlah tanggapan pada responden atas informasi dalam proses identifikasi data yang dapat dikatagorikan sebagai faktor penghambat yang dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 3. Tahap Open Coding Identifikasi Faktor Penghambat No. Identifikasi Data Persen
(%) Labeling 1 Bahwa KPM
mengeluhkan mengalami penurunan pendapatan dengan adanya pandemi
100% Penurunan pendapatan
2 Bahwa KPM mengeluhkan mengalami penurunan pendapatan saat pandemic karena berkurangannya pembeli/pelanggan
100% Pekerjaan terganggu
3 Bahwa KPM menyatakan dengan adanya pandemi berdampak pada pekerjaan keluarga mereka
100% Akses transportasi sulit
4 Bahwa KPM mengeluhkan sepi pembeli
100% Bantuan kurang bermanfaat 5 Sulit mengakses
transportasi umum 100% Akses pasar tradisional sulit
6 Selama ini, bantuan yang terima KPM dirasakan kurang bermanfaat
100% Sulit menabung
7 Sulit mengakses pasar
tradisional 98% Tanggungan keluarga banyak
No. Identifikasi Data Persen
(%) Labeling 8 Tanggungan anggota
keluarga pada KPM, masih banyak sehingga susah untuk menabung
95% Akses pelayanan kesehatan sulit
9 Bahwa KPM mengeluhkan mengalami penurunan pendapatan saat pandemic karena kehilangan pekerjaan
93% Kehilangan pekerjaan
10 Sulit mengakses
layanan kesehatan 93% Peningkatan pengeluaran
11 Bahwa KPM menyatakan menjadi menganggur
89% Penghasilan masih belum cukup
12 Bahwa KPM mengeluhkan mengalami peningkatan pengeluaran dengan adanya pandemi
86% Kemampuan kelayakan ide usaha belum optimal
13 Bahwa KPM menyatakan peningkatan pengeluaran selama pandemic karena harga semakin mahal
86% Kemampuan merencanakan pemasaran belum optimal
14 Bahwa KPM menyatakan peningkatan pengeluaran selama pandemic karena konsumsi barang dan kebutuhan pokok keluarga KPM juga meningkat
86% Kegiatan usaha ekonomi bersama belum optimal
15 Bahwa KPM menyatakan dengan adanya pandemic, mengalami kehilangan pekerjaan
86% Kemampuan merencanakan keuangan usaha belum optimal 16 Turunnya penghasilan
keluarga 86% Kemampuan
mengelola keuangan keluarga pada KPM, cukup rumit
17 Bahwa KPM menyatakan jam kerja dikurangi
82% Kemampuan menyusun anggaran belum optimal 18 Bahwa KPM
menyatakan dengan adanya pandemi, tetap pada keluarga mereka tidak memiliki pekerjaan
80% Kemampuan merencanakan utang dengan hati- hati belum optimal
19 Penghasilan yang diterima telah memuaskan anggota KPM
52% Kemampuan mengidentifikasi ide usaha belum optimal 20 Selama ini, akses
terhadap pelayanan umum, sulit untuk diperoleh
55%
21 Bahwa KPM, mampu mengembangkan dan menilai kelayakan ide usaha
68%
No. Identifikasi Data Persen
(%) Labeling 22 Bahwa KPM, mampu
merencanakan pemasaran
68%
23 Bahwa di wilayah KPM terdapat usaha ekonomi bersama yang meningkatkan penghasilan / ekonomi keluarga
70%
24 Bahwa KPM, mampu merencanakan keuangan usaha
73%
25 Pengelolaan keuangan keluarga pada KPM, cukup rumit
75%
26 Bahwa KPM, mampu menyusun anggaran 75%
27 Bahwa KPM, mampu merencanakan utang dengan hati-hati
77%
28 Bahwa KPM, mampu mengidentifikasi ide usaha
77%
Sumber : diolah dari hasil survey, 2021
Identifikasi faktor penghambat, adalah kondisi atau situasi yang dinilai merugukan (negatif) berdasarkan penilaian persentase tertinggi. Pada tahap pertama ini, berhasil teridentifikasi sejumlah faktor penghambat yang dapat berpengaruh/berhubungan dengan pemulihan ekonomi keluarga miskin pada masa pandemi. Adapun sejumlah faktor penghambat tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4. Identifikasi Faktor Penghambat
No. Indentifikasi Faktor Pendorong Katagori Aspek 1 Akses transportasi sulit Aksesibilitas 2 Akses pasar tradisional sulit Aksesibilitas 3 Bantuan kurang bermanfaat Budaya (Apatis) /
Psikologi 4 Penurunan pendapatan Ekonomi 5 Kehilangan pekerjaan Ekonomi 6 Penghasilan masih belum cukup Ekonomi
7 Pekerjaan terganggu Kebijakan / Ekonomi 8 Peningkatan pengeluaran Kebijakan /
Ekonomi 9 Tanggungan keluarga banyak Lingkungan
No. Indentifikasi Faktor Pendorong Katagori Aspek
10 Sulit menabung Budaya
11 Kemampuan mengelola keuangan
keluarga pada KPM, cukup rumit Lingkungan / Budaya / SDM 12 Kegiatan usaha ekonomi bersama
belum optimal Lingkungan /
Sumber Daya Manusia 13 Kemampuan kelayakan ide usaha
belum optimal Sumber Daya
Manusia 14 Kemampuan merencanakan
pemasaran belum optimal Sumber Daya Manusia 15 Kemampuan merencanakan
keuangan usaha belum optimal Sumber Daya Manusia 16 Kemampuan menyusun anggaran
belum optimal Sumber Daya
Manusia 17 Kemampuan merencanakan
utang dengan hati-hati masih lemah
Sumber Daya Manusia 18 Kemampuan mengidentifikasi ide
usaha belum optimal Sumber Daya Manusia Sumber : diolah dari hasil survey, 2021
Selanjutnya hal-hal yang ditemukan dalam identifikasi faktor pendorong, dapat ditinjau keterkaitannya, dalam hal kondisi eksisting yang melekat pada keluarga miskin, dan aspek/hal- hal yang dilakukan pada saat keluarga miskin menghadapi pandemi. Adapun visualisasi keterkaitan antar aspek sebagai faktor pendorong dapat dilihat pada gambar berikut :
Sumber : diolah dari hasil survey, 2021
Gambar 2. Diagram Keterkaitan Faktor Penghambat
Hal-hal yang ditemukan dalam identifikasi faktor penghambat, dapat dtinjau keterkaitannya, dalam hal kondisi eksiting yang melekat pada keluarga miskin, dan aspek/hal-hal yang terjadi pada keluarga miskin saat pandemi. Faktor penghambat meliputi sulit akses transportasi umum-mobilitas dan akses pasar tradisional, sikap apatis / ketergantungan, susah menabung dan kurang berorientasi ke masa depan. Selain tu kondisi kehilangan pekerjaan, penurunan pendapatan, bekerja di sektor informal dan pendapatan di bawah UMR Beberapa problem lainnya adalah keterbatasan ketrampilan mengembangkan dan menilai kelayakan ide
usaha, ketrampilan merencanakan pemasaran, mengandalkan bantuan pemerintah ketrampilan merencanakan pemasaran dan kurang percaya diri.
Sedangkan faktor pendorong meliputi kemampuan untuk bekerja secara layak, anggota keluarga pada KPM telah memiliki peran masing- masing sesuai tanggung jawab, dapat memahami jumlah pendapatan dan pengeluaran, dapat memahami jumlah pendapatan dan pengeluaran.
mampu mengelola usaha, mampu memilih tempat meminjam serta memiliki sumber daya alam yang meningkatkan penghasilan / ekonomi keluarga.
Sumber : diolah dari hasil survey, 2021
Gambar 3. Diagram Elemen Faktor Pendorong dan Penghambat
C. Model Pemberdayaan Keluarga Miskin Secara Komprehensif dan Terintegratif Model Pemberdayaan Masyarakat Keluarga Miskin dalam Pemulihan Ekonomi Pada Masa Pandemi Covid-19 di Kabupaten Malang ini disusun berdasarkan temuan dalam faktor pendorong dan penghambat pemulihan ekonomi bagi keluarga miskin. Oleh sebab itu desain pemberdayaan keluarga miskin yang dirancang dapat dibentuk melalui tahapan-tahapan pemberdayaan yang dirancang untuk mengatasi situasi-situasi sulit pada keluarga miskin.
Spektrum pemulihan ekonomi pada keluarga miskin ini adalah adanya peningkatan pendapatan dari pendapatan eksisting. Hal ini tentunya perlu adanya suatu bentuk kegiatan usaha, yang bergerak dan digerakkan oleh unit keluarga sehingga dapat berkontribusi pada
penambahan pendapatan. Sehingga pemberian pelatihan keterampilan bagi kelompok perempuan kepala keluarga, fasilitasi bantuan sosial kesejahteraan keluarga, pengadaan benih/
bibit ternak sapi potong dan sapi perah, serta penjaminan ketersediaan sarana budidaya ikan dan kegiatan lainnya yang mendukung pemulihan ekonomi merupakan stimulus untuk meningkatkan jumlah usaha yang lebih menjamin terciptanya pemberdayaan.
Lebih lanjut, hasil survey menunjukkan berdasarkan saran masukan tersebut mempertimbangkan hal-hal yang diperhatikan pada keluarga miskin agar upaya pemulihan ekonomi dan keberdayaan menjadi semakin meningkat dengan adanya pandemi yang paling banyak.Beberapa saran yang direkomendasikan utamanya adanya pelatihan keterampilan dan pemberdayaan yg disertai dengan stimulus modal dan pemasaran dengan presentase sebanyak 50%, Bantuan Stimultan Alat Atau Modal Untuk Kelompok Usaha Bersama dengan presentase sebanyak 23%, KPM dapat meningkatkan perekonomian dengan persentase sebanyak 18%.
Sumber : diolah dari hasil survey, 2021
Gambar 4. Visualisasi Saran Pemberdayaan Keluarga Miskin Terdampak Pandemi
Sumber : diolah dari hasil survey, 2021
Gambar 5. Model Pemberdayaan Masyarakat Keluarga Miskin dalam Pemulihan Ekonomi Pada Masa Pandemi Covid-19 di Kabupaten Malang
Pelaksanaan kegiatan pemberdayaan merupakan salah satu tanda berjalannya sebuah program yang telah dirancang waktu awal sebuah kelompok. Tahap dalam pemberdayaan meliputi tahap persiapan, tahap assessment atau pengidentifikasian, tahap perencanaan alternatif, tahap formulasi rencana aksi, tahap pelaksanaan, tahap evaluasi dan tahap terminasi sebagai berikut.
1. Tahap Persiapan
Langkah awal dalam proses pemberdayaan adalah dengan mengikuti tahap persiapan. Pada tahap ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan pemberdayaan yaitu pemahaman masyarakat sekitar dan juga pemahaman tentang program yang dimaksud. Pada tahap pemahaman sangat perlui melakukan sosialisasi-sosialisasi.
Tahap persiapan dilakukan dengan sosialisasi program bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada calon anggota.
2. Tahap assessment atau pengidentifikasi Dalam tahap pengidentifikasian ini dilakukan seleksi untuk calon anggota yang akan gabung dalam suatu usaha bersama, seleksi dilakukan dengan beberapa ketentuan. Dalam tahap identifikasi terjadi proses seleksi yang tujuannya agar program yang dilakukan nanti dapat tepat sasaran.
3. Tahap perencanaan alternatif
Pada tahap ini pendamping lapangan secara partisipatif mengajak anggota untuk berpikir bagaimana cara menyelesaikan permasalahan yang dihadapi melalui usaha yang mereka miliki.
4. Tahap formulasi rencana aksi
Tahap formulasi rencana aksi merupakan merealisasikan pengarahan dan beberapa pelatihan terutama dalam bentuk menejemen keuangan serta bagaimana cara pembuatan proposal yang bisa ditujukan kepihak penyandang dana sehingga bisa membantu melancarkan usaha yang sedang mereka lakukan.
5. Tahap Pelaksanaan
Tahap yang paling penting dalam sebuah pemberdayaan adalah tahap pelaksanaan. Setelah melalui tahap pengidentifikasian dan tahap persiapan maka selanjutnya yang dilakukan dimana dalam tahap pelaksanaan pada kelompok ini terdiri dari pelatihan dan pembinaan.
6. Tahap Evaluasi
Tahap evaluasi dilakukan bisa saat sedang melakukan program atau setelah
program tersebut selesai. Ketika evaluasi dilakukan saat program sedang berlangsung maka kita dapat mengetahui masalah atau kendala dalam program yang dilakukan sehingga kita bisa meminimalisir kerugian atau kesalahan hal tersebut. Ketika evaluasi dilakukan diakhir program maka hal tersebut bertujuan untuk menilai program tersebut terus bisa dilanjutkan.
7. Tahap Terminasi
Tahap terminasi dikatakan juga sebagai tahap pemutusan hubungan dengan masyarakat sasaran. Anggota yang memutuskan hubungan dari kelompok dengan artian mereka telah merasa mampu mandiri tidak lagi gabung dalam kelompok.
IV. KESIMPULAN
Kegiatan Kajian Model Pemberdayaan Masyarakat Keluarga Miskin dalam Pemulihan Ekonomi Pada Masa Pandemi Covid-19 di Kabupaten Malang dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Kebijakan eksisting pemberdayaan masyarakat keluarga miskin dalam pemulihan ekonomi di Kabupaten Malang, maka pemberdayaan ekonomi keluarga miskin ini terintegrasi pula dengan kebijakan pemerintah pusat melalui program-program Kementerian Sosial.
Selain itu Pemerintah Kabupaten Malang mengalokasikan BLT Desa dan Padat Karya Tunai Desa (PKTD), sebagai kebijakan lokal mendukung pemberdayaan masyarakat keluarga miskin dalam pemulihan ekonomi pada masa pandemi Covid-19. Kebijakan BLT Desa dan Padat Karya Tunai Desa (PKTD) diatur dalam Peraturan Bupati Malang Nomor 14 Tahun 2020 Tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Malang Nomor 4 Tahun 2020 Tentang Tata Cara Pembagian Dan Penetapan Rincian Dana Desa Pada Setiap Desa Serta Pedoman Teknis Penggunaan Dana Desa Tahun Anggaran 2020 dan Peraturan Bupati Malang Nomor 3 Tahun 2021 Tentang Tata Cara Dana Desa Pada Setiap Desa Serta Petunjuk Teknis Pengguanaan Dana Desa Tahun Anggaran 2020. Selain itu melakukan berbagai upaya pemulihan ekonomi, diantaranya melalui pengelolaan pelayanan kesehatan lingkungan, pelatihan keterampilan bagi kelompok perempuan kepala keluarga, dukungan kegiatan dalam rangka digitalisasi di bidang pendidikan, fasilitasi bantuan sosial kesejahteraan keluarga, pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan pariwisata, pengadaan benih/bibit ternak sapi potong dan sapi
perah, serta penjaminan ketersediaan sarana budidaya ikan dan kegiatan lainnya yang mendukung pemulihan ekonomi di Kabupaten Malang
2. Faktor pendorong dan faktor penghambat dalam upaya pemberdayaan masyarakat keluarga miskin dalam pemulihan ekonomi pada masa pandemi Covid-19 di Kabupaten Malang dapat dikatagorikan dalam beberapa aspek yaitu aspek aksesibilitas, budaya, ekonomi sumber daya manusia dan psikologi.
3. Model pemberdayaan masyarakat keluarga miskin dalam pemulihan ekonomi pada masa pandemi Covid-19 secara komprehensif dan terintegratif di Kabupaten Malang diutamakan dalam Bentuk Kelompok Usaha Bersama (KUBE), sehingga mampu mengatasi hambatan-hambatan pada pemulihan ekonomi keluarga miskin, yang didorong dengan pendekatan kemitraan melalui tahap persiapan, tahap assessment atau pengidentifikasian, tahap perencanaan alternative, tahap formulasi rencana aksi, tahap pelaksanaan, tahap evaluasi dan tahap terminasi
Rekomendasi dari kegiatan Kegiatan Kajian Model Pemberdayaan Masyarakat Keluarga Miskin dalam Pemulihan Ekonomi Pada Masa Pandemi Covid-19 di Kabupaten Malang diharapkan dapat diterapkan pada masing- masng pihak terkait sesuai masing-masing sektor sebagai berikut.
1. Pemerintah (Daerah/Pusat) dapat mendukung pengembangan dan perbaikan infrastruktur dan prasarana publik serta dukungan program pengembangan usaha.
2. Swasta (BUMN/Perusahaan) dapat memberikan dukungan program bantuan modal bergulir (simpan pinjam/dana bergulir) serta dukungan CSR yang terpadu.
3. Perguruan Tinggi dapat memberikan dukungan program pendampingan intensif, dukungan kegiatan pelatihan manajemen pemasaran, dukungan kegiatan pelatihan dalam produksi dan ukungan bantuan dan pendampingan penggunaan teknologi, optimalisasi kegiatan monitoring dan evaluasi melalui kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat.
4. Komunitas peningkatan pendayagunaan potensi lingkungan dan peningkatan peran BUMDEs
V. UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih ditujukan kepada Dinas Sosial Kabupaten Malang, Kecamatan Pujon, Kecamatan Bantur, Kecamatan Pakis,
Kecamatan Poncokusumo yang telah membantu mensukseskan pelaksanaan penelitian serta pihak-pihak yang ikut serta dalam memberikan informasi, masukan dalam penelitian ini.
VI. DAFTAR PUSTAKA
Adi, Rukminto Isbandi. 2013. Kesejahteraan Sosial (Pekerjaan Sosial, Pembangunan Sosial, dan Kajian Pembangunan. Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada
Adi, Isbandi Rukminto, 2008, Intervensi komunitas Pengembangan Masyarakat sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat, Jakarta: Rajawali Pers
Badan Pusat Statistik (2020) ‘Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan 1-2020.’
Berita Resmi Statistik [dalam jaringan] <https://www.bps. go.id/
p re s s re l e a s e / 2 0 2 0 / 0 5 / 0 5 / 1 7 3 6 / ekonomi-indonesia-triwulan-i-2020- tumbuh-2-97-persen.html> [11 Juni 2020].
Hikmat, R. Harry. 2006. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. Bandung: Humaniora Utama Ikbar, Yanuar. 2014. Metode Penelitian Sosial Kualitatif. Bandung: PT Refika Aditama Istiana dkk. 2015. Pengkajian konsep dan indikator kemiskinan. Yogyakarta: B2P3KS Huberman, A Michael dan Miles, Mattew B,
2009, Manajemen Data dan Metode Analisis, Handbook of Qualitative Research, Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar
Ife, Jim. 1995. Community development:
Creating Community Alternatives, Vision, Analysis and Practice. Australia: Longman Ife, Jim dan Tesoriero, Frank, 2008, Community
Development: Alternatif Pengembangan Masyarakat di Era Globalisasi, Yogyakarta:
Penerbit Pustaka Pelajar
Miles, Matthew B. dan Huberman, A. Michael, 1992, Analisis Data Kualitatif, Jakarta:
Penerbit Universitas Indonesia
Miller, Delbert C, 1977, Handbook of Research Design and Social Measurement,
Moleong, Lexy. 2017. Metode Penelitian Kualitatif.
Bandung: PT Remaja, Roskadarya M. Anwas, Oos. 2014. Pemberdayaan Masyarakat di Era Gobal. Bandung: Alfabeta mpfc/ modules/
mea-elin.htm#Measuring, diunduh pada 4 Nopember New York: Longman Inc.
Payne, Malcolm. 2016. Modern Social Work Theory:4th Edition. London: Mac Millan Press Ltd
Qualitative Research, Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar
Richmond, Mary Ellen. 2013. What is social case work?. London: Fb & Ltd
Rudito, Bambang & Famiola Melia. 2013. CSR (Corporate Social Responsibility). Penerbit Rekayasa Sains
Sjafari, Agus. 2014. Kemiskinan dan Pemberdayaan Kelompok. Yogyakarta:
Graha Ilmu
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif & RND. Bandung: Alfabeta Suharto, Edi. 2006. Membangun Masyarakat
Memberdayakan Rakyat: Kajian Strategis Pembangunan
Sukoco, Dwi Heru. 2011. Profesi Pekerjaan Sosial dan Proses Pertolongannya. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya
Sulistiyani, Ambar Teguh. 2017. Kemitraan dan Model-model Pemberdayaan. Edisi kedua.
Yogyakarta: Gava Media.
Suparlan, Parsudi. 2014. Kebudayaan Kemiskinan, dalam Kemiskinan di Perkotaan. Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia – Sinar Harapan Suwarsih Madya. 2009. Teori dan Praktik
penelitian tindakan. Bandung: Alfabeta Widiowati, Didiet. (ed). 2005. Kesejahteraan
Sosial: Wacana, Implementasi dan Pengalaman Empirik. Jakarta: CV. Aghrino Abadi