37 | J u r n a l G r a m a s w a r a V o l . 2 N o . 2
Pengenalan Konsep Berhitung bagi Pemula (Non Formal) dengan Media Warna-Warni
Firma Yudha
Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy Genteng Banyuwangi [email protected]
Alex Haris Fauzi
Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy Genteng Banyuwangi [email protected]
Abstrak
Pendidikan ada yang formal dan juga non formal. Pendidikan formal dan non formal pastinya berbeda intensitas waktu yang dilakukan meskipun mata pelajaran yang diberikan sama, contoh pada mata pelajaran matematika dalam tingkat dasar pengenalan. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada anak-anak yang tidak sekolah (non formal), supaya mereka mengenal angka hingga mampu berhitung dasar. Metode pengabdian yang dilakukan adalah ceramah, diskusi dan praktik. Tahapan proses yang dilakukan oleh tim pengabdian dalam kegiatan ini adalah Tahap Persiapan dan Pembekalan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi. Kegiatan bentuk pengenalan angka hingga mengoperasikan angka yang dilakukan ada 6 kegiatan, berikut diantaranya: 1) Mengenal angka 1-10, 2) Mengurutkan angka, 3) menghitung jumlah benda, 4) Mengenal angka dan operasi hitung, 5) Mengoperasikan penjumlahan menggunakan gambar yang berwarna, 6) Mengoperasikan pengurangan menggunakan gambar yang berwarna. Kegiatan ini berhasil dilakukan, ternyata anak-anak senang bermain angka dengan media yang berwarna, meskipun membutuhkan waktu, tetapi anak-anak merasa mudah dalam menghafal angka dan anak-anak mampu mengoperasikan angka 1-10 dalam proses penjumlahan dan pengurangan.
Kata kunci: berhitung; angka; media warna-warni
There was education a formal and also non formal a formal education and non formal definitely different intensity of the time that do even though the subjects given the same, an example in mathematics in the basic level.
Recognition this activity aimed to provide knowledge to kids who do not school (formal), non so that they know the numbers to be able to count the base of. Method devotion is by lectures, discussion and practices. The one conducted by a team devotion in this activity is the stage, preparation and training in the implementation stage and the evaluation. From the introduction of the activities and operated the activities conducted there are 6, following are: 1) know the 1-10; 2) the rank; 3)counting the number of; 4) know the count and operation; 5) operates a sum that is using the picture; 6) operates colored using a photo of the reduction. This activity, succeded is conducted it turn out that kids love to play the media, colored although, takes time yet the sons feeling easily in the memorization and children able to operate the 1-10. Addition and subtraction in the process.
Keywords: microsoft; count; number; colourful media
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan salah satu agenda utama dalam perancangan pembangunan negara (Hasmori, dkk. 2011). Sejak anak baru dilahirkan, Pendidikan sudah harus diajarkan kepada anak supaya menjadi kebiasaan anak melakukan kegiatan apapun sesuai dengan Pendidikan
DOI: 10.21776/ub.gramaswara.2022.002.02.04
38 | J u r n a l G r a m a s w a r a V o l . 2 N o . 2
yang diajarkan orang tua sejak kecil. Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan di rumah sesuai dengan Pendidikan dari orang tua, maka akan berpengaruh kepada kehidupan anak di masyarakat nantinya. Karakter anak akan tergantung pada culture yang sudah diajarkan orang tua di rumah. Maka dari itu orang tua sangat berpengaruh penting pada prilaku anak, terutama seorang ibu yang sangat berpengaruh terhadap karakter anak. Aspek-aspek Pendidikan adalah arah, tujuan atau sasaran yang diperhatikan dan dibina serta dijadikan pedoman dalam pelaksanaan segala aktivitas yang bersifat Pendidikan (Juanda, 2010).
Menurut Hasan (2003), pendidikan dapat diuraikan menerusi dua sudut pandangan. Sudut pandangan yang pertama adalah berkaitan dengan masyarakat. Masyarakat memandang pendidikan sebagai suatu proses pewarisan atau penyaluran kebudayaan yang mengandung nilai – nilai budaya oleh generasi tua kepada generasi muda secara berterusan supaya kelangsungan hidup sesebuah masyarakat dapat berlaku. Sudut pandangan yang kedua pula adalah menjurus kepada individu. Menerusi sudut individu, pendidikan merupakan proses membangunkan dan menggilap potensi-potensi yang sememangnya ada dalam diri manusia sehingga potensi-potensi tersebut dapat mewujudkan kemampuan tertentu bagi menjamin kehidupan manusia yang seimbang dan normal. Untuk itu maka sangat penting Pendidikan itu baik dalam kehidupan di rumah, di sekolah maupun di masyarakat. Jika di ketiganya diterapkan budaya yang baik sesuai dengan yang sudah diajarkan, maka anak akan melakukan dengan sangat senang, karena mampu membuat orang disekitarnya juga senang.
Berbeda cerita dengan anak-anak yang tidak pernah sekolah karena faktor biaya dan legalitas. Mereka tidak sekolah dan dalam kehidupan sehari-harinya adalah hanya bermain dengan teman-teman sebayanya dan juga bermain dengan saudara kandungnya. Setelah dilakukan wawancara kepada anak-anak tersebut, ternyata sebenarnya mereka ingin merasakan sekolah seperti teman sebayanya. namun mereka tidak punya kekuatan untuk bisa sekolah. Lalu kami tawarkan untuk belajar bareng Bersama teman dan saudaranya. Supaya mereka mengerti rasanya belajar dengan orang lain. Mata pelajaran yang kami tawarkan adalah mata pelajaran matematika, dengan alasan karena matematika adalah ilmu umum yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari (konteks mengenal angka dan berhitung). Selain itu menurut Yudha (2020) Bagi siswa yang menganggap bahwa ilmu hitung itu sulit, karena banyak beberapa factor, seperti contoh: 1) Malas berhitung; 2) Malas mikir terlalu rumit;
3) jika bermain dengan angka, siswa pusing terlebih dahulu, dan lain sebagainya. Maka dari itu mateatika penting diajarkan mulai sejak dini. Pembelajaran yang diajarkan adalah
39 | J u r n a l G r a m a s w a r a V o l . 2 N o . 2
pengenalan angka secara klasikal dengan media yang berwarna-warni dengan harapan anak- anak senang mengenal angka dan mudah diingat. Untuk belajar berhitung juga nantinya akan diberikan lembar tes dari tim pengabdi yang didesain semenarik mungkin dengan tujuan supaya anak-anak senang mengisi lembar tes dan juga menghasilkan capaian yang memuaskan. Pengajaran Matematika yang dilaksanakan pada anak usia dini hendaknya disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Hal ini dikarenakan pada usia dini merupakan masa yang strategis untuk mengenalkan berbagai bidang ilmu, diantaranya adalah Matematika (Nurhazizah, 2014: 338).
METODE
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan tanggal 5 April sampai dengan 1 Juni 2022 di perumahan graha indah sempu, kecamatan sempu, Kabupaten Banyuwangi dengan sasaran anak-anak yang tidak sekolah diperumahan graha indah sempu. Tim pengabdian kepada masyarakat terdiri dari 2 orang yang merupakan dosen Institut Agama Islam Ibrahimy Genteng Banyuwangi. Secara umum, pelaksanaan kegiatan “Pengenalan Konsep Berhitung Bagi Pemula (Non Formal) Dengan Media Warna-Warni” ini menggunakan metode ceramah, diskusi, dan praktik supaya anak-anak menikmati setiap materi yang diberikan oleh narasumber kegiatan sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan.
CERAMAH
Metode ceramah digunakan untuk memberikan pemaparan dan penjelasan materi terkait pengertian konsep matematika pada anak-anak, mengenalkan alat peraga angka yang ber warna kepada anak-anak, supaya anak-anak mengerti maksud dan tujuan pemateri pada metode ceramah yang dilakukan.
DISKUSI
Metode diskusi digunakan untuk diskusi peserta dan pemateri, tanya jawab materi yang telah disampaikan oleh pemateri, dan saling memberikan tanggapan serta masukan terhadap permasalahan yang terjadi di dunia pendidikan anak-anak terkait penanaman konsep matematika dalam hal mengenal angka dan berhitung.
PRAKTIK
40 | J u r n a l G r a m a s w a r a V o l . 2 N o . 2
Metode praktik digunakan untuk mempresentasikan atau menampilkan secara kongkret sebuah angka yang berwarna-warni kepada anak-anak secara klasikal. Selain 3 metode yang dilakukan di atas, ada proses yang dilakukan tim pengabdian. Berikut Tahapan proses yang dilakukan oleh tim pengabdian dalam kegiatan ini adalah sebagai berikut.
TAHAP PERSIAPAN DAN PEMBEKALAN
Mekanisme persiapan dan pembekalan pada kegiatan “Pengenalan Konsep Berhitung Bagi Pemula (Non Formal) dengan Media Warna-Warni” ini meliputi tahapan-tahapan sebagai berikut: (1) menentukan tim pengabdian, (2) mencari permasalahan yang ada disekitar/
dilingkungan rumah, (3) melakukan izin kepada RT/RW setempat, (4) permintaan izin kepada keluarga sasaran, (5)melakukan diskusi dengan tim pengabdian, (6) mempersiapkan sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan pengabdian. Materi yang akan diajarkan, dipersiapkan terlebih dahulu pada tahapan ini oleh tim pengabdian.
TAHAP PELAKSANAAN
Kegiatan Pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan (1) mempersiapkan kegiatan yang dilakukan oleh tim pengabdian, (2) tim pengabdian berangkat ke tempat lokasi pengabdian yaitu diperumahan graha indah sempu, (3) ketua tim pengabdian memberikan sambutan yang selanjutnya kegiatan pengabdian dibuka oleh RT setempat, (4) pengarahan lapangan oleh tim pengabdian, dan (5) melaksanakan kegiatan pengabdian sesuai dengan materi yang sudah dijadwalkan melalui metode ceramah, diskusi, dan praktik dalam “Pengenalan Konsep Berhitung Bagi Pemula (Non Formal) dengan Media Warna-Warni”.
TAHAP EVALUASI
Kegiatan pada tahap ini merupakan kegiatan setelah pengabdian selesai. Tim pengabdian melakukan monitoring dan evaluasi dalam bentuk komunikasi langsung.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pedidikan non formal pada hakikaaaatnya merupakan pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah (Pendidikan formal), baik yang berjenjang maupun tidak berjenjang, dilembagakan ataupun belum dilembagakan, berkesinambungan ataupun tidak berkesinambungan yang berlangsung sepanjang hayat (Puspito, dkk. 2020)
41 | J u r n a l G r a m a s w a r a V o l . 2 N o . 2
Adapun Perbedaannya pendidikan non formal dan pendidikan formal ( Jaoesaef: 1979, 41) dalam hidayat,dkk (2017) berikut dibawah ini:
Tabel 1. Perbedaan Pendidikan
Pendidikan Non Formal Pendidikan Formal
1. Pada umumnya tidak dibagi atas jenjang. 1. Selalu dibagi atas jenjang yang memiliki hubungan hierarkis.
2. Waktu penyampaian lebih pendek 2. Waktu penyampaian diprogram lebih panjang atau lebih lama.
3. Usia siswa disuatu kursus tidak perlu sama 3. Usia siswa disesuaikan jenjang relaltif homogen, khususnya pada jenjang-jenjang permulaan
4. Para siswa umumnya berorientasi studi jangka pendek, praktis, agar segera dapat menerapkan hasil pendidikannya dalam praktek kerja (berlaku terutama dalam masyarakat sedang berkembang)
4. Para siswa, kurang berorientasi pada materi program yang bersifat praktis, dan kurang berorientasi kearah kerja.
5. Materi pada pelajaran pada umumnya lebih banyak yang bersifat praktis dan khusus
5. Materi pelajaran lebih banyak yang bersifat akademis dan umum
6. Merupakan response dari pada kebutuhan khusus yang mendesak
6. Merupakan response dari kebutuhan umum dan relative jangka panjang
7. Credentials (ijazah, dan sebagainnya) umumnya kurang memengang peranan penting terutama bagi penerimaan siswa
7. Credentials memegang peranan penting
Dari tabel diatas, dapat diketahui perbedaan dari Pendidikan non formal dan Pendidikan formal. Dalam hal ini pengabdian yang dilakukan masuk dalam kategori Pendidikan non formal, karena diluar sekolah dan hanya dilakukan karena kebutuhan anak-anak yang tidak sekolah. Adapun Perbedaan Karakteristik Pendidikan Formal dan Nonformal menurut Haerulloh (2020) adalah sebagai berikut:
42 | J u r n a l G r a m a s w a r a V o l . 2 N o . 2
Tabel 2. Karakteristik Pendidikan Formal dan Nonformal
PROGRAM PENDIDIKAN FORMAL PROGRAM PENDIDIKAN NON FORMAL
A. Tujuan
• Jangka Panjang dan umum • Dipusatkan di lingkungan masyarakat dan Lembaga
• Orientasi pada pemilihan ijazah • Kurang menekan pentingnya ijazah B. Waktu
• Relative lama • Relative singkat
• Berorientasi kemasa depan • Menekankan masa sekarang
• Menggunakan waktu penuh dan terus menerus
• Menggunakan waktu tidak terus menerus
C. Isi Program
• Kurikulum disusun secara terpusat dan seragam berdasarkan kepentingan
• Kurikulum berpusat pada kepentingan peserta didik
D. Proses Pembelajaran
• Dipusatkan dilingkungan sekolah • Dipusatkan di lingkungan masyarakat dan lembaga
• Terlepas dari lingkungan kehidupan peserta didik di masyarakat
• Berkaitan dengan peserta didik dan masyarakat
• Struktur program yang ketat • Struktur program yang luwes
• Berpusat pada pendidik • Berpusat pada peserta didik
• Pengarahan daya dukung secara maksimal
• Penghematan sumber daya yang tersedia
E. Pengendalian
• Dilakukan oleh pengelola ditingkat yang lebih tinggi
• Dilakukan oleh pelaksana program dan peserta didik
• Pendekatan berdasarkan kekuasaan • Pendekatan demokratis
Pelaksanaan pengabdian ini disesuaikan dengan tanggal yang sudah ditentukan, dengan tujuan supaya segala hal bentuk kegiatan yang dilakukan sesuai dengan target yang sudah ditentukan sebelumnya. Berikut jadwal kegiatan pengabdian:
Tabel 3. Jadwal kegiatan pengabdian
No Tanggal Jenis kegiatan Narasumber
1 5 April 2022 Pengenalan angka I Firma dan Alex 2 12 April 2022 Pengenalan angka II Firma
3 19 April 2022 Bermain angka I Firma dan Alex 4 26 April 2022 Bermain angka II Alex
5 3 Mei 2022 Operasi hitung (penjumlahan) Firma dan Alex 6 10 Mei 2022 Operasi hitung (penjumlahan) Firma
7 17 Mei 2022 Operasi hitung (pengurangan) Firma dan Alex 8 24 Mei 2022 Operasi hitung (pengurangan) Alex
9 31 Mei 2022 Tes Firma dan Alex
10 1 Juni 2022 Evaluasi Firma dan Alex
43 | J u r n a l G r a m a s w a r a V o l . 2 N o . 2
Dari tabel di atas dapat diketahui jadwal pembelajaran yang dilakukan kepada anak-anak.
Mulai dari pengenalan angka hingga adanya evaluasi hasil belajar. Berikut beberapa kegiatan bentuk pengenalan angka hingga mengoperasikan angka yang dilakukan:
1. Mengenal angka 1-10
pada saat anak-anak dikenalkan dengan angka 1-10 menggunakan berbagai macam warna, anak-anak sangat antusias mengikuti pembelajaran berlangsung dan sangat senang. Semangat anak-anak membuat pemateri menjadi lebih semangat. Tahap awal yang bagus ketika anak-anak senang dalam menerima pembelajaran. Secara klasikan ditunjukkan angka 1-10 diulang ulang hingga anak-anak faham dan mengerti. Pembelajaran pengenalan angka dilakukan 2 kali secara bertahap. Ada tahap pertama dan tahap kedua. Tahapan pertama guna untuk pengenalan awal. Tahap kedua sebagai pengulangan materi agar anak-anak tidak lupa dan mampu mengingat kembali. Bentuk kesulitan pada tahap mengenal angka adalah anak- anak sering salah menyebutkan angka. Contoh: ditunjukkan angka 2, jawabannya 4.
Ditunjukkan angka 6, jawabannya 9. Awal saat klasikal cara pembelajarannya anak-anak masih bingung. Namun setelah dilakukan berulang, anak-anak mulai memahami dan mampu membedakan angka 1-10.
2. Mengurutkan angka
Tahap ini, anak-anak mampu mengurutkan angka mulai dari angka 1 hingga 10 secara individual. Lalu pemateri memberikan tes secara klasikal tentang melatih anak-anak untuk mengurutkan angka. Misalnya setelah angka 6 ada angka berapa?, setelah angka 2 ada angka berapa saja? dan lain sebagainya. Anak-anak secara bergantian diberikan pertanyaan seperti itu. Kesulitan yang dialami oleh peserta didik adalah anak-anak masih kaku dalam menulis angka 1-10. Namun jika hanya menyebutkan angka 1-10 anak-anak dengan sangat mudah menyebutkannya.
44 | J u r n a l G r a m a s w a r a V o l . 2 N o . 2 3. Menghitung jumlah benda
Pada tahapan ini, anak-anak diharapkan mampu menghitung benda yang ada disekitar. Pemateri sudah menyiapkan alat peraga berupa mainan kayu bulat kecil, permen, dan snack yang beraneka ragam. Jadi anak-anak diajarkan menghitung mulai dari hasil angka yang sedikit hingga ke angka yang besar.secara bergantian anak-anak diberikan pertanyaan oleh pemateri. Hasil yang didaptkan anak-anak mengerti dan memahami. Kesulitan yang dialami pada tahapan ini adalah ketika jumah benda banyak, anak-anak masih bingung karena belum terbiasa. Namun dengan berjalannya waktu, anak-anak mampu berhitung menggunakan media yang ada secara cepat.
4. Mengenal angka dan operasi hitung a. Penjumlahan (+)
Pada tahapan ini, anak-anak dikenalkan dengan lambang penjumlahan serta fungsi dari lambang penjumlahan. Tim pengabdian memberikan penjelasan tentang lambang penjumlahan menggunakan media yang berwarna. Kesulitan pada tahap ini adalah hampir tidak ada kesulitan, karena hanya mengenal lambang penjumlahan. Hanya saja anak-anak menyebutnya dengan dijumlahkan bukan penjumlahan.
b. Pengurangan (-)
Tahapan ini anak-anak dikenalkan dengan operasi pengurangan dengan lambangnya menggunakan media yang berwarna serta menjelaskan tentang fungsi dari lambing tersebut. Kesulitan pada tahap ini adalah kasus ini sama dengan pengenalan penjumlahan. Bahwa anak-anak sangat mudah dalam mengenal lambang pengurangan. Jadi tidak ada kesulitan.
45 | J u r n a l G r a m a s w a r a V o l . 2 N o . 2
5. Mengoperasikan penjumlahan menggunakan gambar yang berwarna
Dari gambar yang sudah disediakan, anak-anak diberikan penjelasan bagaimana cara menjumlahkan suatu benda. Jika anak-anak sudah memahami itu, maka diberikan alat peraga suatu benda-benda yang ada disekitar untuk dijumlahkan.
Pada fase ini lumayan lama memberikan penjelasan serta memberikan tes kepada anak-anak, karena menurut mereka penjumlahan adalah hal baru yang mereka kenal. Kesulitan pada tahapan ini adalah awalnya anak-anak mulai resah jika angka penjumlahan diatas angka 5 (lima), karena menurut mereka angka diatas 5 (lima ) itu sangat banyak. Namun setelah berulang-ulang memberikan contoh ke anak-anak akhirnya mereka memahami dan menurut mereka hingga apada akhirnya sangat mudah.
6. Mengoperasikan pengurangan menggunakan gambar yang berwarna
Pengoperasian pengurangan hampir sama dengan pengenalan operasi penjumlahan, namun bedanya untuk pengurangan membutuhkan waktu yang lebih lama daripada mengoperasikan penjumlahan. Menurut mereka penguragan lebih sulit dari pada penjumlahan. Meskipun demikian, anak-anak memahami dan mampu mengoperasikan menggunakan media gambar dan juga alat peraga berupa benda yang ada disekitar. Kesulitan pada tahapan ini adalah hampir sama dengan operasi penjumlahan.
Namun pada operasi pengurangan anak-anak cenderung membutuhkan waktu yang lama, karena pada tahapan ini harus lebih teliti dalam menghitung.
TES AKHIR SEBAGAI BAHAN EVALUASI
Setelah anak-anak diberikan pembelajaran tentang pengenalan angka dan juga operasi hitung penjumlahan dan pengurangan, sebagai bahan evaluasi adalah anak-anak diberikan tes
46 | J u r n a l G r a m a s w a r a V o l . 2 N o . 2
tertulis dengan gambar yang berwarna-warni, serta diberikan kolom isian, supaya anak-anak bisa mengisi dikolom tersebut.
Gambar 1. Kegiatan pembelajaran
Gambar di ataas merupakan foto saat anak-anak mengerjakan operasi hitung seperti penjumlahan dan pengurangan, dikerjakan semampunya dengan lembar tes yang sudah disiapkan oleh tim pengabdian. Kondisi anak-anak dalam mengerjakan lembar tes sangat sehat, mereka mengerjakan dengan sangat tertib dan penuh semangat. Tidak butuh waktu lama mereka mngerjakan, dengan beberapa banyak soal mereka mampu mengerjakan hanya dengan waktu 45 menit. Padahal estimasi waktu dari tim pengabdian adalah 2 jam atau 120 menit.
Dari kejadian ini, dapat disimpulkan bahwa mereka mampu dan sangat memahami apa yang ditugaskan. Terutama mereka menerima materi yang sudah diajarkan sebelumnya.
Berikut bentuk hasil lembar tes yang diberikan kepada anak-anak yang dapat dijadikan sebagai sampel keberhasilan kegiatan pengabdian ini:
47 | J u r n a l G r a m a s w a r a V o l . 2 N o . 2
Tabel 4. Hasil lembar tes
Kegiatan Hasil Tes
Hasil penjumlahan dengan hasil yang sangat memuaskan
Anak-anak sudah mampu menentukan jumlah suatu benda dan mampu memasangkan dengan hasil angka yang sebenarnya.
Anak-anak berhasil menjumlahkan benda yang ada pada lembar tes dengan sempurna.
Dapat dilihat dari tulisan angka mereka, bahwa anak-anak sudah mampu menulis angka 1-10 dengan benar meskipun tidak sempurna dan anak-anak mampu menjumlah gambar yang ada pada lembar tes.
Anak-anak mampu menjumlahkan sebuah gambar yang ada pada lembar tes dengan sempurna meskipun tulisan mereka sedikit tidak sempurna.
48 | J u r n a l G r a m a s w a r a V o l . 2 N o . 2 SIMPULAN
Pengenalan konsep berhitung menggunakan angka dan operasi hitung dengan media yang berwarna, membuat anak-anak senang dan suka dalam mengikuti pembelajaran, dengan begitu maka materi yang disampaikan mudah diterima dan anak-anak mengerti bagaimana cara menjumlahkan dan mengurangkan angka 1-10.
UCAPAN TERIMA KASIH
Tim pengabdian mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang sudah membantu proses pengabdian ini mulai dari perencanaan hingga selesai kegiatan pengabdian. Khusus kami ucapkan terimakasih kepada RT/RW setempat, orang tua dari peserta didik, tim pengabdi dan juga kepada anak-anak yang semangat dalam mengikuti kegiatan.
REFERENCES
FAUZI, Alex Haris; YUDHA, Firma; FATIMAH, Nurul. Strategi Pembelajaran Matematika Pada Anak Usia Dini Dalam Pengembangan Kecerdasan Kinestetik. AL IHSAN:
Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, [S.l.], v. 2, n. 1, p. 040-054, july 2021. ISSN 2745-8253.Hasan Langgulung (2003). Asas – Asas Pendidikan Islam. Edisi Kelima.
Jakarta: Pustaka Al Husna Baru
Hasmori, dkk. 2011. Pendidikan, Kurikulum Dan Masyarakat : Satu Integrasi. Journal of Edupres, Volume 1 September 2011, Pages 350-356.
Hidayat, M. A., Anwar, A., & Hidayah, N. (2017). Pendidikan Non Formal Dalam Meningkatkan Keterampilan Anak Jalanan. Edudeena : Journal of Islamic Religious Education, 1(1), 31–42. Retrieved from
Haerullah, H., & Elihami, E. (2020). DIMENSI PERKEMBANGAN PENDIDIKAN FORMAL DAN NON FORMAL. JURNAL EDUKASI NONFORMAL, 1(1), 199-207.
Juanda, J. (2010). Peranan Pendidikan Formal Dalam Proses Pembudayaan. Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan, 13(1), 1-15.
Puspito, G. W., Swandari, T. ., & Rokhman, M. . (2021). Manajemen Strategi Pengembangan Pendidikan Non Formal. Chalim Journal of Teaching and Learning (CJoTL), 1(1), 85- 98.
Yudha, F. (2020). Penerapan Metode Jarimatika Materi Perkalian Pada Siswa Kelas 4 MI Hidayatul Mubtadiin Balak Songgon. Biormatika : Jurnal Ilmiah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, 6(1), 32–40.