GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN
Lokasi Penelitian 1. Kondisi Geografis
Desa Dukuhrejo merupakan bagian dari wilayah lingkar tambang PT Arutmin Indonesia Site Batulicin yang termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan dengan luas sekitar 1.134 Ha. Jarak dari desa ke kota provinsi sekitar ± 300 km yang dapat ditempuh dengan perjalanan darat sekitar ± 420 menit, sedangkan jarak dari desa ke kota kabupaten sekitar ± 65 km yang dapat ditempuh dengan perjalanan darat sekitar ± 90 menit dan dari kota kecamatan jaraknya sekitar ± 7 km dapat ditempuh ± 15 menit. Desa Dukuhrejo ini berbatasan dengan:
Utara : Desa Hampang
Selatan : Desa Mantawakan Mulia Barat : Desa Rejosari
Timur : Desa Mantawakan Mulia
Desa Dukuhrejo merupakan daerah yang memiliki topografi lahan yang berbukit dan bergunung yang mengakibatkan suhu di daerah ini cukup kering dan dingin. Ada sekitar 40 persen dari total luas lahan Desa Dukuhrejo berbukit dan bergunung sedangkan, 60 persen merupakan dataran. Desa Dukuhrejo dikelilingi oleh Kawasan Budidaya Hutan Produksi Tetap (KBHP), Kawasan Hutan Produksi Terbatas (KBHPT), Kawasan Budidaya Lahan Kering (KBLK), Kawasan Budidaya Tanaman Tahunan (KBTT), kawasan hutan lindung, dan kawasan pertambangan batubara PT Arutmin Indonesia Site Batulicin.
Desa Dukuhrejo ini terdiri dari 3 dusun dengan 13 RT, terdapat 4 atau 5 RT disetiap dusunnya. Sebagian kecil lahan Desa Dukuhrejo ini dimanfaatkan penduduk sebagai area pertanian dan peternakan lepas. Luas lahan yang digunakan untuk pertanian hanya sekitar 399 Ha atau sebesar 35,18 persen dari total luas lahan Desa Dukuhrejo. Sedangkan hewan ternak seperti sapi, kerbau, kambing, dan ayam digembalakan secara lepas di sekitar desa. Pada umumnya
usaha pertanian yang dijalankan di Desa Dukuhrejo adalah padi dan palawija lahan kering.
Tabel 2. Luas Lahan Menurut Peggunaanya di Desa Dukuhrejo Tahun 2011
No Peruntukan Lahan Luasan (Ha)
1 2 3 4 5 6 7
Sawah tadah hujan Perkebunan Pemukiman Fasilitas umun Hutan
Pertambangan Galian C: pasir Lahan tidak produktif
10 389 150 5 180 2 398 Sumber: Data Desa Dukuhrejo tahun 2011
2. Jumlah Penduduk dan Mata Pencaharian
Berdasarkan data monografi Desa Dukuhrejo tahun 2011, penduduk Desa Dukuhrejo adalah masyarakat transmigran tahun 1981 dari daerah Jawa. Jumlah penduduk di Desa Dukuhrejo adalah 1.488 jiwa terdiri dari 813 jiwa laki-laki dan 675 jiwa perempuan. Total jiwa tersebut terbagi kedalam 316 Kepala Keluarga.
Populasi penduduk Desa Dukuhrejo terbagi kedalam empat kategori suku, yaitu suku jawa, banjar, dayak, dan bugis. Suku jawa menjadi mayoritas wilayah ini dengan presentasi 93 persen dari total jumlah penduduk, hal ini dikarenakan wilayah Desa Dukuhrejo merupakan daerah trans tahun 1981. Beberapa kategori populasi menurut daerah asal seperti tercantum dalam Tabel 3.
Tabel 3. Jumlah Penduduk Berdasarkan Daerah Asal Atau Suku Tahun 2011 No Daerah Asal/Suku Jumlah Penduduk (Jiwa) Presentasi (%) 1.
2.
3.
4.
Jawa Banjar Dayak Bugis
1384 89
3 12
93,0 6,0 0,2 0,8 Sumber: Data Desa Dukuhrejo tahun 2011
Berdasarkan kelompok umur jumlah usia produktif (usia kerja) lebih banyak dari pada usia non produktif. Berdasarkan BPS Survei Angkatan Nasional (Sakernas) tahun 2011 populasi terbagi kedalam dua kelompok umur yaitu bukan usia produktif kelompok umur dibawah 15 tahun dan usia produktif kelompok umur 15 tahun keatas. Tidak semua penduduk di desa lokasi penelitian termasuk dalam usia kerja yang tergolong dalam angkatan kerja yang aktif secara ekonomi.
Masyarakat Desa Dukuhrejo jika dilihat dari jumlah usia produktifnya menunjukkan sumber tenaga kerja yang cukup banyak, sehingga memungkinkan dilakukannya pembangunan di bidang pertanian khususnya sektor perkebunan yang sesuai dengan keadaan alam wilayah ini.
Tabel 4. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Desa Dukuhrejo Tahun 2011
No Kelompok Umur (tahun) Laki-laki Perempuan Jumlah Jiwa 1.
2.
3.
4.
5.
0-14 15-39 40-64 65-74 74 keatas
200 381 197 28
7
176 321 151 24
3
376 702 348 52 10
Total 813 675 1488
Sumber: Data Desa Dukuhrejo tahun 2011
Berdasarkan data dari desa sejarah mata pencaharian penduduk Desa Dukuhrejo diawali dengan kedatangan masyarakat trans jawa pada tahun 1981.
Pada tahun 1981- 1995 sekitar 60 persen masyarakat Desa Dukuhrejo sepenuhnya bekerja sebagai petani. Sedangkan pada tahun 1997 sudah mulai terjadi pergeseran mata pencaharian yaitu sekitar 60 persen masyarakat Desa Dukuhrejo bekerja sebagai penebang kayu hutan. Selanjutnya pada tahun 2005 masyarakat Desa Dukuhrejo sekitar 70 persen bekerja sebagai penambang batubara. Namun pada tahun 2011 masyarakat Desa Dukuhrejo sekitar 90 persen bekerja sebagai penebang kayu dan penambang batubara. Hanya sekitar 10 persen masyarakat Desa Dukuhrejo yang pekerjaan utamanya sebagai petani, itu pun dengan ditopang oleh pekerjaan sebagai penebang kayu dan penambang batubara.
3. Pendidikan
Komposisi penduduk menurut jenjang pendidikan menggambarkan tingkat kemajuan suatu wilayah dalam pembangunan terutama terkait dengan kualitas sumberdaya manusia. Adapun dari 1488 jumlah penduduk yang tercatat dalam data Desa Dukuhrejo, sebanyak 13,22 persen penduduk Desa Dukuhrejo tidak sekolah; 19,0 persen penduduk Desa Dukuhrejo tidak tamat Sekolah Dasar; 54,66 persen penduduk Desa Dukuhrejo tamat Sekolah Dasar atau setaranya; 9,52 persen penduduk Desa Dukuhrejo tamat SLTP atau setaranya; 1,42 persen penduduk Desa Dukuhrejo tamat PT atau setaranya; dan 2,13 persen tamat
pesantren. Kondisi pendidikan masyarakat yang tergolong rendah tersebut mengakibatkan rendahnya kualitas sumberdaya manusia yang tinggal di Desa Dukuhrejo. Meskipun pada saat sekarang kondisi sudah semakin berkembang, namun hanya sebagian kecil penduduk yang sadar pendidikan hingga jenjang menengah dan tinggi.
Sumber: Data Desa Dukuhrejo tahun 2011
Gambar 2. Persentase Tingkat Pendidikan Penduduk Desa Dukuhrejo Tahun 2011 Masyarakat Desa Dukuhrejo beranggapan bahwa tanpa ijazah siapa pun bisa mencari nafkah dengan menebang kayu di hutan atau sebagai penambang batubara dengan hasil yang sangat menjanjikan. Filosofi “sing penting awak fisik sehat”1 menjadi landasan mereka untuk mencari nafkah sebagai penebang kayu hutan dan penambang batubara. Kondisi ini memunculkan pandangan di masyarakat bahwa sekolah bukanlah hal yang krusial, karena untuk bisa mengambil kayu hutan dan menambang batubara bukan membutuhkan ijazah.
3. Sarana dan Prasarana Desa
Secara umum sarana dan prasarana penunjang kegiatan sehari-hari masyarakat Desa Dukuhrejo masih sangat terbatas. Jalan yang menghubungkan di dalam desa tersebut adalah jalan batu dan jalan tanah sepanjang 7,8 km. Jalan batu merupakan jalan yang kondisinya paling aman dibandingkan jalan yang masih berupa jalan tanah, karena jika musim hujan jalan yang berupa tanah liat tersebut rawan menimbulkan kecelakaan. Jalan yang menghubungkan antara desa dengan
1 Yang penting secara fisik badan sehat
kota kecamatan adalah sebagian jalan aspal yang baru dibangun setahun yang lalu dan sebagian masih jalan batu. Sedangkan jalan yang menghubungkan antar desa atau antar blok adalah jalan aspal yang juga baru dibangun setahun yang lalu.
Sarana transportasi yang digunakan oleh masyarakat untuk kota kabupaten adalah angkot atau disana disebut “taksi”2. Taksi ini biasanya hanya beroperasi sekali ke Desa Dukuhrejo untuk mengangkut warga Dukuhrejo yang ingin ke pasar di kecamatan Simpang Empat atau ke kota kabupaten. Waktu beroperasi yaitu, pada pagi hari antara jam 07.00-08.00 WIT.
Sarana di bidang pendidikan di Desa Dukuhrejo adalah satu Taman Kanak-kanak (TK), satu Sekolah Dasar (SD), dan satu Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pada sarana keagamaan terdapat satu buah masjid, 10 buah langgar atau surau. Sarana kesehatan yang terdapat di Desa Dukuhrejo yaitu satu buah posyandu, satu bidan desa, 7 kader posyandu aktif, satu dukun bayi yang sudah terlatih dan 5 dukun bayi yang belum terlatih. Selain itu, kondisi PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat) tatanan rumah tangga jika diamati masih banyak keluarga yang belum menjalankan PHBS tersebut secara benar dan menyeluruh, terutama dalam hal merokok, kebiasaan hidup bersih dan penggunaan jamban sehat. Pada bidang pemerintahan, sarana yang ada adalah sebuah balai desa, sedangkan untuk fasilitas olahraga terdapat tiga buah yaitu lapangan sepak bola, lapangan bulu tangkis, dan lapangan volly. Sarana listrik di Desa Dukuhrejo baru terpasang pada tahun 2009 dengan kapasitas 900 KVA, sedangkan untuk sarana jembatan ada 7 buah jembatan yang terbuat dari kayu ulin dan 1 buah jembatan dari beton.
5. Kondisi Sosial Masyarakat Desa Dukuhrejo
Kegiatan sosial budaya di Desa Dukuhrejo tidak terlalu beragam.
Kebanyakan masyarakat Desa Dukuhrejo merupakan masyarakat trans tahun 1981 dari daerah jawa seperti, jawa tengah dan jawa timur sehingga meminimalisir konflik di desa. Masyarakat jawa mendominasi jumlah penduduk yaitu 93 persen dari total penduduk. Sedangkan suku banjar, dayak, dan bugis hanya 6,8 persen
2 Nama angkot yang dimanfaatkan penduduk Desa Dukuhrejo untuk ke pasar di Kec. Simpang Empat atau ke kota kabupaten. Biasanya hanya beropersi ke Dukuhrejo pada pagi hari antara pukul 07.00-08.00 yang hanya satu-tiga angkot saja setiap harinya.
dari total jumlah penduduk. Berbeda dengan kasus masyarakat trans lainnya, di Desa Dukuhrejo kekeluargaannya sangat kuat. Bahu membahu satu sama lain menjadi perhatian mereka terutama dalam hal bertahan hidup di DesaDukuhrejo.
Desa Dukuhrejo notabenya merupakan lokasi baru bagi mereka dengan kondisi lingkungan yang cukup berbeda dari daerah asal. Biasanya mereka saling bahu membahu dalam hal kesempatan bekerja. Kesamaan nasib perjuangan sebagai masyarakat trans yang harus memilih untuk meninggalkan daerah asal dan keluarga menyebabkan kehidupan bertetangga menjadi seperti dengan saudara sendiri. Hal tersebut yang membentuk kehidupan sosial diantaranya terasa solid dan memiliki rasa kebersamaan yang tinggi.
Malam hari pada sekitar pukul 21.00 WIT toko-toko dan warung sudah tutup dan suasana di Desa Dukuhrejo mulai sepi. Hanya beberapa warung saja yang masih buka. Warung tersebut merupakan tempat para pemuda dan warga Desa Dukuhrejo yang pulang dari bekerja menebang kayu hutan dan menambang batubara. Berkumpul untuk bersosialisasi sekaligus menjaga keamanan daerah mereka sendiri. Sebanyak 99,43 persen dari jumlah total penduduk Desa Dukuhrejo beragama Islam. Sisanya sebesar 0,57 persen dari jumlah total penduduk Desa Dukuhrejo beragama katolik.
Setiap hari Jum’at pada jam 14.00-17.00 WIT ibu-ibu di Desa Dukuhrejo melakukan “hafsian”3 rutin per dusun. Lokasi pengajian ditentukan dari hasil kocokan arisan yang telah dibuat. Berbeda dengan ibu-ibu, untuk bapak-bapak di Desa Dukuhrejo melakukan kegiatan rutin yasinan pada malam hari yaitu, jam 19.00-22.00 WIT. Metode yang digunakan untuk menentukan lokasi yasinan sama yaitu dengan pengocokan.
Selain itu, pada hari rabu jam 14.00-17.00 WIT ibu-ibu di Desa Dukuhrejo melakukan kegiatan rutinitas latihan menggunakan rebana dengan beberapa lagu baru. Pelatih rebana didatangkan dari blok atau desa tetangga. Lokasi pelatihan juga dipilih dengan cara dikocok menggunakan sistem arisan. Masjid yang ada di Desa Dukuhrejo mempunyai Dewan Keluarga Masjid (DKM). Tanggung jawab
3 Pengajian yasinan secara rutin setiap hari jum’at yang dilakukan oleh ibu-ibu di Desa Dukuhrejo dilengkapi dengan penampilan kelompok rebana.
DKM adalah mengurusi kegiatan-kegiatan masjid, keuangan, serta pembangunan sarana dan prasarana masjid tersebut.
Lembaga Pengembangan Masyarakat (LPM) di Desa Dukuhrejo kurang aktif sepenuhnya dalam membantu perkembangan desa atau tidak sepenuhnya melakukan peranan yang cukup bagi penduduk desa. Hal ini dikarenakan ketua LPM kurang memiliki kemampuan untuk memimpin dan memahami tugas atau perannya. Pelatihan yang diadakan oleh Corpoporate Social Responsibility (CSR) PT Arutmin Indonesia Site Batulicin sebagai ketua LPM kurang berhasil, sehingga setiap diadakan program-program pemberdayaan masyarakat oleh CSR PT Arutmin Indonesia mengalami kegagalan atau kurang berhasil sepenuhnya.
Kepala Desa Dukuhrejo dipilih oleh masyarakat. Tidak ada warga yang berminat untuk mencalonkan diri. Sehingga warga meminta kepada Aripin sebagai lurah desa kembali. Walaupun pada saat pendaftaran pencalonan kepala desa telah diperpanjang, tidak ada juga warga yang mendaftar. Hal ini terjadi juga pada perangkat desa, tidak ada pengganti atau penerusnya.
Masyarakat Desa Dukuhrejo masih menggunakan bahasa jawa. Dalam kehidupan sehari-hari bahasa jawa tersebut dikombinasikan dengan bahasa banjar.
Bahasa jawa masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari dikarenakan mayoritas yang tinggal di Desa Dukuhrejo adalah masyarkat yang berasal dari jawa.
Penduduk Desa Dukuhrejo tidak terstrata kedalam beberapa lapisan masyarakat.
Meskipun pemasukan pendapatan antara masyarakat yang bekerja sebagai petani dengan masyarakat yang bekerja sebagai penebang kayu hutan dan penambang batubara secara signifikan sangat berbeda.
Warga Desa Dukuhrejo sangat membaur dan tidak ada perbedaan antara yang berpenghasilan rendah dan tinggi. Bentuk rumah dan kepemilikan barang- barang pun tidak berbeda secara signifikan atau hampir memiliki kemiripan.
Sehingga tidak bisa dibedakan antara warga yang berpenghasilan tinggi dengan yang berpenghasilan rendah.
Pertambangan Batubara PT Arutmin Indonesia
PT Arutmin Indonesia mendapatkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) dari pemerintah Republik Indonesia melalui Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) No.J2/Ji.DU/45/1981 pada tanggal 2 November 1981 mencakup 19 daerah usaha dengan luas area pertambangan 70.153,25 ha.
Sedangkan untuk luas pertambangan PT Arutmin Indonesia Site Batulicin menurut Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara adalah seluas 10.893 ha. Berdasarkan Kepmenhut No: SK469/Menhut-II/2008 tanggal 23 Desember 2008, PT Arutmin Indonesia diberikan izin pinjam pakai kawasan penunjangnya seluas 3.291,30 ha dan jalan angkutan batubara 41,16 ha.
Berdasarkan peta RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) Provinsi Kalimantan Selatan (Perda Provinsi Nomor 9 Tahun 2000) sebagian besar wilayah tambang PKP2B PT Arutmin Indonesia Site Batulicin berada dalam kawasan hutan produksi, selebihnya ada juga yang termasuk dalam kawasan hutan produksi konversi, kawasan budidaya tanaman perkebunan, serta kawasan budidaya tanaman perkebunan lahan kering.
Areal pertambangan batubara PT Arutmin Indonesia Site Batulicin berdasarkan Peta Kawasan hutan Produksi Kalimantan Selatan (SK Menhutbun Nomor 453/Kpts/-II/1999) terdiri atas kawasan budidaya hutan produksi tetap, kawasan budidaya hutan produksi terbatas, kawasan hutan produksi konversi, serta sebagian kecil merupakan areal penggunaan lain.
Keadaan lahan dalam kawasan tersebut sebelum dilakukan proses pertambangan telah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk bercocok tanam padi, berkebun, dan lainnya. Dalam proses pembukaan tambang terlebih dahulu harus melakukan pembebasan lahan tersebut dari masyarakat terkait berdasarkan peraturan pemerintah Indonesia.
PT Arutmin Indonesia Site Batulicin mulai melakukan aktivitas pertambangan pada tahun 2005. Desa Dukuhrejo termasuk ke dalam wilayah ring 2 dari kawasan lingkar tambang PT Arutmin Indonesia Site Batulicin. Kegiatan penambangan tidak hanya dilakukan oleh PT Arutmin Indonesia, akan tetapi dilakukan juga oleh puluhan perusahaan yang tidak memiliki IUP yang beroperasi secara illegal di area IUP PT Arutmin Indonesia Site Batulicin. Aktivitas
pertambangan tanpa izin (Peti) tersebut dilakukan juga dalam skala perorangan di dalamnya termasuk penduduk Desa Dukuhrejo. Masyarakat Desa Dukuhrejo tersebut melakukan aktivitas pertambangan batubara secara illegal pada KM 17, KM 25, dan KM 47 dimulai dari tahun 2005.
Pengusahaan Hutan PT Kodeco
PT Kodeco beroperasi dari tahun 1970 di kawasan hutan Kalimantan Selatan berdasarkan SK HPH No. 339/Kpts/Um/12/1968 pada tanggal 11 Desember 1968. Luas areal sebesar 99.570 ha pada kawasan hutan Batulicin- Bangkalan. Pada tahun 2003 PT Kodeco mengalami pailit atau kebangkrutan. Hal ini sesuai dengan keputusan Mahkamah Agung RI No. 010 PK/N/ 2003 tanggal 20 Oktober 2003 PT Kodeco Batulicin Plywood telah dinyatakan dalam keadaan pailit.
Rekapitulasi hasil inventarisasi tegakan kayu sebelum penebangan untuk tahun 2002 pada hutan tanah kering yaitu:
1. Kelas diameter 20-29 cm : 3.552 Pohon = 1.175,66 m3 2. Kelas diameter 30-39 cm : 3.261 Pohon = 2.635,30 m3 3. Kelas diameter 40-49 cm : 3.064 Pohon = 4.811,03 m3 4. Kelas diameter ≥ 60 cm : 4.114 Pohon = 22.672,01 m3
Jenis pohon dibedakan menjadi dua yaitu jenis pohon yang dilindungi dan jenis pohon yang dapat ditebang. Jenis pohon yang dilindungi diantaranya adalah mengaris, durian dan petai. Sisanya adalah jenis pohon yang dapat ditebang yaitu kelompok pohon meranti (meranti, keruing, nyatoh, mersawa, anglai), kelompok pohon kayu indah (sinampar, sumpung, sungkai, ulin), dan kelompok pohon rimba campuran (binuang, medang, tarap, kuranji, putat, bayur, kasai, dan kayu lainnya).
Pada tahun 2003 jumlah masyarakat Desa Dukuhrejo semakin bertambah dalam kegiatan penebangan hutan. Pada tahun 2007 PT Kodeco sudah tidak beroperasi. Hal ini dikarenakan sudah tidak ada tegakan kayu dengan diameter di atas 70 cm. Namun demikian sisa-sisa tegakan kayu berdiameter ≤ 70 cm masih merupakan daya tarik ekonomi bagi warga Desa Dukuhrejo.
Aktivitas penebangan hutan yang dilakukan oleh masyarakat Desa Dukuhrejo termasuk ke dalam kegiatan illegal, karena kawasan hutan yang digunakan adalah kawasan hutan (produksi) negara. Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Bappeda, masyarakat Desa Dukuhrejo melakukan kegiatan penebangan hutan pada kawasan hutan diantaranya di Kawasan Budidaya Hutan Produksi Tetap (KBHP) dan Kawasan Budidaya Hutan Produksi Terbatas (KBHPT).
Karakteristik Responden 1. Umur
Data primer yang diperoleh di lapangan menunjukkan bahwa umur responden beragam antara 26 sampai dengan 64 tahun. Klafisikasi responden berdasarkan umur tersaji dalam tabel di bawah ini:
Tabel 5. Jumlah dan Persentase Responden Desa Dukuhrejo, Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan Tahun 2012 No Kelompok Umur (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%) 1.
2.
3.
26-34 35-44 45-64
10 13 17
25,0 32,5 42,5
Total 40 100
Umur maksimal responden di Desa Dukuhrejo yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah 64 tahun. Menurut Rusli (1995), penduduk usia kerja didefinisikan sebagai penduduk yang berumur antara 10-64 tahun. Merujuk dari pengertian tersebut maka seluruh responden dalam penelitian di Desa Dukuhrejo 100 persen tergolong dalam penduduk angkatan kerja yang aktif secara ekonomi (economically active population).
2. Pendidikan Formal
Tingkat pendidikan responden yang dimaksud dalam penelitian ini diukur berdasarkan tingkat pendidikan formal yang pernah diikuti. Kategori tingkat pendidikan responden di Desa Dukuhrejo terbagi menjadi lima kelompok yaitu:
tidak bersekolah, SD tapi tidak tamat, tamat SD, tamat SMP, dan tamat SMA.
Data lengkap tentang pendidikan responden Desa Dukuhrejo dipaparkan dalam Tabel 6.
Mayoritas responden Desa Dukuhrejo adalah hanya sampai pada tamat SD atau termasuk kategori tingkat pendidikan rendah. Jika dipersentasekan yaitu 77,5 persen responden mengenyam pendidikan rendah dan hanya 22,5 persen yang mengenyam pendidikan menengah keatas. Profesi sebagai petani, penebang kayu hutan, dan penambang batubara merupakan pekerjaan yang tidak memandang dari tingginya tingkat pendidikan yang dimiliki penduduk, tetapi lebih pada kesehatan dan kemampuan secara fisik untuk dapat bertahan pada medan yang keras.
Tabel 6. Jumlah dan Persentase Responden Desa Dukuhrejo Kalimantan Selatan Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2012
No Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%) 1.
2.
3.
4.
5.
Tidak Bersekolah SD Tidak Tamat Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA
3 6 22
8 1
7,5 15,0 55,0 20,0 2,5
Total 40 100
Penduduk disana beranggapan bahwa pendidikan itu mahal dan lebih baik langsung bekerja membantu keluarga. Dengan demikian dapat memberikan kontribusi pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. Seperti dikatakan seorang responden yang bernama Bapak Hsn (37 tahun) berikut ini:
“ Mbak, jar urang sakulah itu larang banar tebaik bagawi gasan keluarga wan kebutuhan sehari-hari.” (sekolah itu mahal lebih baik langsung bekerja saja membantu keluarga di rumah dengan begitu bisa langsung menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari).
3. Jumlah Tanggungan
Pengklafikasian jumlah tanggungan dalam keluarga responden Desa Dukuhrejo dikelompokkan menjadi empat kategori berdasarkan rata-rata di lapangan. Keempat kategori tersebut yaitu jumlah tanggungan satu, jumlah tanggungan dua, jumlah tanggungan tiga, dan jumlah tanggungan empat sampai dengan enam. Klafisikasi responden berdasarkan jumlah tanggungan rumah tangganya dipaparkan pada Tabel 7.
Tabel 7. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Jumlah Tanggungan dalam Rumah Tangga Desa Dukuhrejo Tahun 2012
No Jumlah Tanggungan (Orang) Jumlah Responden Persentase (%) 1.
2.
3.
4.
1 2 3 4-6
8 12 15 5
20,0 30,0 37,5 12,5
Total 40 100
Berdasarkan pada tabel di atas diketahui bahwa sebaran jumlah yang menjadi tanggungan responden hampir merata. Perbedaan antar kategori tidak terlalu jauh. Responden dengan jumlah tanggungan satu orang berjumlah 20 persen. Sedangkan responden dengan jumlah tanggungan dua orang berjumlah 30 persen dan responden dengan jumlah tanggungan tiga orang sebesar 37,5 persen.
Sisanya sebesar 12,5 persen merupakan responden yang memiliki jumlah tanggungan empat sampai dengan enam orang.
Banyaknya anggota rumah tangga yang ditanggung menjadi salah satu alasan yang menuntut kepala rumah tangga untuk dapat meningkatkan pendapatannya dari hasil penebangan kayu 4 dan Penambangan batubara5. Selain itu juga dengan meningkatkan hasil produksi pertaniannya. Selain jumlah tanggungan, pola konsumsi rumah tangga juga menjadi pengaruh pola nafkah masyarakat Dukuhrejo.
4. Jumlah Persil dan Luas Tanah
Pengklasifikasian jumlah persil dan luas tanah rumah tangga responden dikelompokkan atas tiga kategori berdasarkan rata-rata di lapangan. Jumlah persil kurang dari sama dengan dua, jumlah persil tiga sampai dengan lima, dan jumlah persil lebih dari lima. Pada pengklasifikasian luas tanah responden rumah tangga yaitu, luas tanah produktif dan tidak produktif kedalam tiga kelompok.
Pengkelompokan luas tanah produktif yaitu kurang dari sama dengan satu, luas tanah dua hektar, dan luas tanah lebih besar dari dua hektar. Sedangkan pada pengelompokan luas tanah tidak produktif yaitu luas tanah kurang dari sama
4 Suatu pekerjaan menebang kayu di hutan, kemudian melanjutkan dengan memotong kayu menjadi bagian-bagian tertentu agar dapat dimuat kedalam truk.
5 Suatu pekerjaan mengambil batubara denagn menggunakan peralatan tradisional seperti cangkul dan linggis.
dengan dua hektar, luas tanah tiga sampai dengan empat hektar, dan luas tanah lebih dari empat hektar. Klasifikasi responden berdasarkan jumlah persil dan luas tanah rumah tangga dapat dilihat pada Tabel 8 dan Tabel 9.
Tabel 8. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Jumlah Persil Lahan yang Dimiliki Rumah Tangga Desa Dukuhrejo Tahun 2012
No Jumlah Persil Jumlah Responden Persentase (%) 1.
2.
3.
≤ 2 3-5
>5
23 15 2
57,5 37,5 5,0
Total 40 100
Rumah tangga pada responden memiliki persil lahan lebih dari satu persil.
Hal ini menunjukkan bahwa kepemilikan lahan tidak menjadi masalah bagi rumah tangga untuk melakukan usaha pertanian, akan tetapi sebagian besar dari mereka tidak memilih usaha pertanian tersebut (Tabel 8).
Tabel 9. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Jumlah Luas Lahan yang Dimiliki Rumah Tangga Desa Dukuhrejo Tahun 2012
No Kategori Lahan Luas Lahan Jumlah Responden
Persentase (%) 1.
2.
Lahan Produktif
Lahan Tidak Produktif
≤ 1 ha
1ha < L ≤ 2ha
>2 ha ≤ 2ha
2ha < L ≤ 4ha
>4ha
11 10 19 11 16 13
27,5 25,0 47,5 27,5 40,0 32,5
Total 40 100
Rata-rata luas lahan yang tidak produktif lebih besar atau lebih luas dari pada lahan yang produktif. Hal ini menunjukkan bahwa usaha pertanian tidak menjadi pilihan utama bagi masyarakat Desa Dukuhrejo (Tabel 9).
4. Lama Tinggal
Lama tinggal menunjukan berapa lama seseorang masyarakat telah tinggal dan menetap sebagai penduduk Desa Dukuhrejo yang dihitung dalam satuan tahun. Pengklasifikasian lama tinggal responden dikelompokkan menjadi empat bagian yaitu: kurang dari sama dengan 10 tahun, 11-20 tahun, 21-30 tahun,
dan lebih dari 30 tahun. Adapun secara lengkap tentang lama tinggal responden disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Lama Tinggal di Desa Dukuhrejo Tahun 2012
No Lama Tinggal (Th) Jumlah Responden Persentase (%) 1.
2.
3.
4.
≤10 11-20 21-30
>30
4 1 22 13
10,0 2,5 55,0 32,5
Total 40 100
Mayoritas responden di Desa Dukuhrejo termasuk kedalam kategori lama tinggal antara 21 tahun sampai dengan 30 tahun sebanyak 22 orang atau 55 persen. Klasifikasi paling lama tinggal di Desa Dukuhrejo ada pada rentang waktu 21-30 tahun. Kondisi yang menyebabkan banyaknya pada rentan kurun waktu tersebut adalah masyarakat Desa Dukuhrejo merupakan masyarakat trans pada tahun 1981-an. Meskipun sekarang ada yang keluar masuk, tetapi tidak terlalu banyak.