• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Data hasil Ujian Nasional (UN) Biologi Sekolah Menengah Atas (SMA) dari tahun 2015 hingga tahun 2019 menunjukkan rata-rata capaian nilai UN Biologi nasional menurun dan kurang dari standar minimal nilai ketuntasan ujian nasional (UN) yaitu 55,00 (Puspendik Kemendikbud, 2019). Rata-rata capaian nilai UN Biologi selama lima tahun terakhir 2015, 2016, 2017, 2018, dan 2019 berturut-turut adalah 64,48; 55,89; 46,56; 45,30; dan 47,36. Hasil pemetaan materi menunjukkan pada tahun 2015 materi rekayasa hayati menjadi materi dengan persentase siswa menjawab benar paling sedikit yaitu 59,09%. Pada tahun 2016 dan 2017 materi genetika dan evolusi menjadi materi dengan persentase siswa menjawab benar paling sedikit, yaitu 54,68% dan 44,15%. Tahun 2018 materi sturktur dan fungsi makhluk hidup menempati materi dengan persentase siswa menjawab benar paling sedikit yaitu 43,46%, sedangkan pada tahun 2019 materi biomolekuler dan bioteknologi menjadi materi terendah dengan persentase 39,70%.

Pemetaan materi UN Biologi dari tahun 2015 hingga tahun 2019 menunjukkan materi yang berkaitan dengan struktur dan fungsi makhluk hidup selalu menempati urutan tiga terendah persentase siswa menjawab benar (Puspendik Kemendikbud, 2019). Analisis indikator materi UN Biologi menunjukkan indikator materi struktur dan fungsi makhluk hidup yang paling sering digunakan dan menjadi materi dengan daya serap tidak lebih dari 55,00 adalah materi jaringan hewan, sistem gerak, dan sistem sirkulasi. Hasil analisis indikator juga menampilkan materi sistem imun selalu menjadi materi dengan persentase siswa menjawab benar paling rendah bahkan tidak pernah mencapai 26%. Pada ujian nasional tahun 2019 sistem imun memiliki persentase siswa menjawab benar hanya 25,19%, sedangkan pada tahun 2015 persentase siswa menjawab benar hanya 24,90%. Tiga tahun lainnya yaitu 2016, 2017, dan 2018 sistem imun tidak dimasukkan dalam indikator materi yang diujikan. commit to user

(2)

Data indikator materi sistem imun pada hasil UN Biologi Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2015 menunjukkan hanya 28,48% siswa yang mampu menjawab benar, sedangkan pada tahun 2019 hanya 20,75% saja. Hasil pencapaian indikator Provinsi Jawa Tengah merupakan gambaran pencapaian indikator di berbagai wilayah kabupaten dan kota di Jawa Tengah. Hasil analisis indikator materi sistem imun wilayah Kota Surakarta menunjukkan pada tahun 2015 hanya 27,88% siswa yang mampu menjawab dengan benar, sedangkan pada tahun 2019 hanya 32,72%. Rendahnya persentase siswa menjawab dengan benar pada indikator materi sistem imun menempatkan sistem imun sebagai indikator materi ujian yang memiliki jawaban benar paling rendah dari seluruh indikator materi biologi yang diujikan selama lima tahun terakhir.

Rendahnya hasil persentase kemampuan siswa menjawab dengan benar mengenai materi sistem imun disebabkan oleh banyak hal, diantaranya kesulitan untuk memahami konsep materi sistem imun (Al-zoubi, 2015). Kesulitan untuk memahami konsep materi sistem imun menurut Faggioni et al. (2019) disebabkan oleh berbagai hal seperti, siswa kesulitan untuk memvisualisasikan fenomena molekuler, materi yang terlalu kompleks dan bersifat abstrak serta cara mengajar yang konvensional (Lazarowitz & Penso, 1992). Siqueira-batista et al. (2009) dan Su, Cheng, & Lin (2014) menyatakan penyebab siswa kesulitan mempelajari sistem imun tidak hanya disebabkan oleh materi yang kompleks dan cara mengajar yang konvesional, tetapi juga disebabkan oleh istilah-istilah bahasa asing dan spesifik yang digunakan, perkembangan materi sistem imun, kurangnya pengetahuan dasar mengenai sistem imun ditingkatan pendidikan sebelumnya, serta waktu belajar yang terlalu singkat.

Kesulitan memahami konsep suatu materi dapat menyebabkan siswa mengalami miskonsepsi (Assaraf, Dodick, & Tripto, 2013; Hasyim, Suwono, &

Susilo, 2018; Stylos, Evangelaksis, & Kotsis, 2008; Tekkaya, 2002). Menurut Hammer (1996) miskonsepsi adalah perubahan struktur pemahaman siswa terhadap suatu konsep ilmiah yang berbeda dari konsep ilmu yang sebenarnya.

Tekkaya (2000) menggunakan istilah miskonsepsi untuk menjelaskan setiap pemikiran siswa terhadap suatu konsep yang bertentangan dengan konsep yang commit to user

(3)

telah dijelaskan oleh para ahli. Hubungan kesulitan memahami konsep materi dan miskonsepi menurut Senocak, Takesenligil, & Sozbilir (2007); dan Stylos et al.

(2008) adalah ketika siswa kesulitan untuk memahami sebuah konsep maka siswa cenderung membangun konsep berdasarkan persepsi dari hasil interaksi siswa dengan lingkungan, alam, dan sosial. Kesesuaian kondisi menyebabkan siswa terus mempertahankan konsep yang didapat meskipun kebenarannya tidak sesuai.

Penting bagi siswa untuk menghindari miskonsepsi dan membentuk konsep dengan benar sesuai dengan penjelasan ilmiah (Akamca, Ellez, &

Hamurcu, 2009; Suliyanah, Putri, & Rohmawati, 2018). Toka & Askar (2002) menyatakan bahwa miskonsepsi berpengaruh terhadap rendahnya pencapaian hasil belajar siswa dan menjadi penghalang bagi siswa untuk mempelajari materi terkait selanjutnya (Suliyanah et al., 2018). Menurut Singh (2016) miskonsepsi juga dapat mengganggu kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan menyusun alasan ilmiah. Miskonsepsi pada siswa juga sulit untuk diubah karena bersifat mendalam, stabil, dan diyakini kebenarannya (Adeniyi, 1985; Fisher, 1985). Potensi miskonsepsi yang dapat menyebabkan dampak negatif perlu diketahui sejak awal sehingga dibutuhkan suatu tes untuk segera mendiagnosis miskonsepsi pada siswa (National Research Council, 1997).

Beberapa cara telah dikembangkan untuk mengukur miskonsepsi diantaranya melakukan praktik dan diskusi ilmiah (National Research Council, 1997). Selain praktik dan diskusi ilmiah cara lainnya adalah melalui wawancara, tes jawaban terbuka (open-ended question), pilihan ganda sederhana (multiple choice test), dan pilihan ganda bertingkat seperti two-tier multiple choices test (2TMCT), three-tier multiple choice test (3TMCT), four-tier multiple choice test (4TMCT), dan five-tier multiple choice test (5TMCT) (Anam, Widodo, Sopandi,

& Wu, 2019; Gurel, Eryılmaz, & Mcdermott, 2015; Sarimanah, Dewi, & Sabri, 2019). Menurut Gurel et al. (2015) dan Suliyanah et al. (2018) tes yang berbentuk diagnostik lebih baik digunakan dari keseluruhan jenis tes dikarenakan tes jenis diagnostik tidak hanya dapat mengidentifikasi miskonsepsi pada siswa, tetapi juga dapat mengetahui tingkat pemahaman materi, serta kesulitan belajar yang dihadapi oleh para siswa. Tes diagnostik yang mudah digunakan, efektif, dan commit to user

(4)

efisien adalah tes pilihan ganda sederhana atau pilihan ganda bertingkat (Pujyanto et al., 2018).

Sarimanah et al. (2019) menjelaskan tes pilihan ganda sederhana memiliki kekurangan tidak mampu mengidentifikasi letak pemahaman siswa terhadap suatu materi, kurang akurat karena memungkinkan siswa menebak jawaban, serta kemungkinan terjadinya kesalahan interpretasi jawaban (Gurel et al., 2015). Tes pilihan ganda bertingkat dikembangkan untuk memperbaiki kekurangan pada tes pilihan ganda sederhana (Pujyanto et al., 2018). Tes pilihan ganda bertingkat yang telah dikembangkan diantaranya two-tier multiple choice test Lin (2004); Nofiana, Sajidan, & Karyanto (2014); Odom & Barrow (1995), three-tier multiple choice test Hasyim et al. (2018); Pesman & Eryilmaz (2010);

Suliyanah et al. (2018), four-tier multiple choice test Caleon & Subramaniam (2010); Pujyanto et al., (2018) dan five-tier multiple choice test (Anam et al., 2019; Bayuni, Sopandi, & Sujana, 2018).

Two-tier multiple choice test (2TMCT) yang dikembangkan oleh Treagust (1985) terdiri dari dua tingkatan tes yaitu, tingkatan pertama tersusun atas pilihan ganda sedangkan tingkatan kedua merupakan alasan dari jawaban pilihan ganda yang dipilih pada tingkatan pertama (Hasyim et al., 2018).

Kelebihan two-tier multiple choice test adalah mudah dalam penskoran dan dapat diterapkan pada semua topik (Anam et al., 2019). Kekurangan tes jenis two-tier multiple choice test diantaranya tidak dapat membedakan jawaban siswa yang salah disebabkan karena siswa mengalami miskonsepsi atau kurang memahami materi, sebaliknya jawaban yang benar tidak dapat diidentifikasi sebagai jawaban yang dipilih karena menebak atau memang memahami materi (Anam et al., 2019;

Gurel et al., 2015; Milenkovic, Hrin, Segedinac, & Horvat, 2016; Pujyanto et al., 2018; Sarimanah et al., 2019).

Three-tier multiple choice test (3TMCT) telah dikembangkan oleh Pesman & Eryilmaz (2010). Tes three-tier menggabungkan konsep two-tier multiple choice test dengan kepastian indeks respons (certainty of respons index) yang menunjukkan keyakinan siswa terhadap jawaban yang dipilih. Keunggulan three-tier multiple choice test adalah dapat mengidentifikasi kesalahan jawaban commit to user

(5)

siswa karena miskonsepsi atau kurang memahami materi (Gurel et al., 2015;

Milenkovic et al., 2016; Pesman & Eryilmaz, 2010; Sarimanah et al., 2019).

Kekurangan three-tier multiple choice test adalah hasil tes terlalu tinggi dalam menafsirkan kekurangpahaman siswa terhadap materi dikarenakan tes terlalu menekankan kepercayaan pilihan jawaban dan alasan pada satu tingkat kepercayaan. Selain terlalu tinggi menafsirkan hasil tes, tes jenis three-tier tidak dapat menentukan apakah siswa percaya diri dengan alasan jawabannya (Anam et al., 2019; Gurel et al., 2015; Milenkovic et al., 2016; Pujyanto et al., 2018).

Four-tier multiple choice test (4TMCT) telah dikembangkan untuk mengatasi kekurangan pada two-tier dan three-tier multiple choice test. Four-tier multiple choice test menurut Caleon & Subramaniam (2010) dibagi menjadi empat tahapan. Tahapan pertama berisi pilihan ganda, tahapan kedua berisi keyakinan pilihan pada jawaban pertama, tahapan ketiga menunjukkan alasan terhadap jawaban yang dipilih pada tahap pertama dan tahapan keempat menunjukkan keyakinan terhadap jawaban di tahap ketiga. Kelebihan dari tes four-tier multiple choice test adalah dapat menunjukkan perbedaan konsep dan pemahaman dari setiap siswa, serta dapat membedakan jawaban siswa yang salah dikarenakan miskonsepsi atau kurang memahami materi (Caleon & Subramaniam, 2010; Gurel et al., 2015; Milenkovic et al., 2016; Pujyanto et al., 2018; Sarimanah et al., 2019). Kekurangan tes jenis four-tier multiple choice test hanya membutuhkan waktu pembuatan bahan tes yang cukup lama (Gurel et al., 2015;

Sarimanah et al., 2019).

Five-tier multiple choice test (5TMCT) yang dikembangkan oleh Anam et al. (2019) manambahkan komponen tes berupa menggambar atau gambaran representasi yang berkaitan dengan jawaban. Anam et al. (2019) menjelaskan kelebihan komponen tes berupa menggambar adalah dapat membantu siswa mengomunikasikan pemahaman siswa melalui gambar yang dibuat. Kekurangan pada tes five-tier multiple choice test adalah membutuhkan waktu pembuatan yang lama serta akurasi dari penambahan komponen menggambar sebagai materi tes yang masih membutuhkan penelitan (Anam et al., 2019; Bayuni et al., 2018).

commit to user

(6)

Hasil perbandingan kekurangan dan kelebihan jenis tes pengukur miskonsepsi menunjukkan four-tier multiple choice test adalah tes yang memiliki kekurangan paling sedikit dan telah teruji mampu untuk mengukur miskonsepsi dengan baik (Anggrayni & Ermawati, 2019; Caleon & Subramaniam, 2010; Gurel et al., 2015; Pujyanto et al., 2018). Berdasarkan kemampuan four-tier multiple choice test dalam mengukur miskonsepsi, disusunlah pengembangan instrumen Four-Tier Immune System Multiple Choice Test (FTISTMCT) atau Tes Pilihan Ganda Sistem Imun Empat Tingkat untuk mengukur miskonsepsi siswa pada materi sistem imun.

B. Perumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian pengembangan ini adalah :

1. Bagaimana prosedur pengembangan instrumen four-tier immune system multiple choice test untuk mengukur miskonsepsi siswa pada materi sistem imun ?.

2. Bagaimana kelayakan instrumen four-tier immune system multiple choice test dalam mengukur miskonsepsi siswa pada materi sistem imun ?

3. Bagaimana hasil uji lapangan instrumen four-tier immune system multiple choice test dalam mengukur miskonsepsi siswa pada materi sistem imun ?

C. Tujuan Penelitian

Pengembangan instrumen four-tier immune system multiple choice test bertujuan untuk :

1. Menghasilkan instrumen four-tier immune system multiple choice test untuk mengukur miskonsepsi siswa pada materi sistem imun.

2. Mengukur kelayakan instrumen four-tier immune system multiple choice test dalam mengukur miskonsepsi siswa pada materi sistem imun.

3. Menganalisis hasil uji lapangan instrumen four-tier immune system multiple choice test dalam mengukur miskonsepsi siswa pada materi sistem imun.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian pengembangan instrumen four-tier immune system multiple choice test adalah:.

1. Bagi Guru Biologi commit to user

(7)

Bagi Guru Biologi pengembangan instrumen four-tier immune system multiple choice test dapat digunakan sebagai alat untuk mengukur miskonsepsi siswa pada materi sistem imun, sehingga guru dapat memperbaiki pemahaman siswa lebih awal jika hasil tes menunjukkan siswa mengalami miskonsepsi, tidak paham konsep, atau kurang memahami konsep.

2. Bagi peneliti lain

Bagi peneliti lain, pengembangan four-tier immune system multiple choice test berguna sebagai acuan dan referensi penelitian lanjutan tentang efektivitas penggunaan four-tier multiple choice test dalam mengukur miskonsepsi.

E. Spesifikasi Produk

Spesifikasi dari pengembangan instrumen four-tier immune system multiple choice test sebagai alat ukur miskonsepsi sistem imun adalah :

1. Soal berjumlah 25 butir soal. Setiap butir soal terdiri dari empat tingkatan yaitu, tingkatan 1 (tier 1) berupa narasi soal dan pilihan jawaban a hingga d.

Tingkatan 2 (tier 2) merupakan tingkat keyakinan jawaban terhadap pilihan jawaban pada tingkat pertama (tier 1). Tingkat keyakinan jawaban pada tier 2 terdiri dari empat pilihan jawaban yaitu sangat tidak yakin, tidak yakin, yakin, dan sangat yakin. Tingkatan ketiga (tier 3) adalah alasan pemilihan jawaban pada tingkat pertama (tier 1) terdiri dari empat pilihan jawaban a hingga d.

Tingkat 4 (tier 4) merupakan tingkat keyakinan pada pilihan alasan (tier 3) yang terdiri dari sangat tidak yakin, tidak yakin, yakin dan sangat yakin.

2. Instrumen digunakan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa terutama letak miskonsepsi siswa terhadap materi sistem imun. Instrumen dapat digunakan kepada siswa SMA yang telah mendapatkan materi sistem imun.

Spesifikasi khusus merujuk kepada siswa kelas XI SMA.

3. Four-tier immune system multiple choice test merupakan instrumen diagnostik yang dapat mengetahui tingkat pemahaman siswa perbutir soal, perjumlah siswa, dan kondisi pemahaman siswa terhadap materi sistem imun.

commit to user

Referensi

Dokumen terkait

Yang diaplikasikan setengah dari kebutuhan pupuk yaitu 7,22 g/tanaman.. Yang diaplikasikan setengah dari kebutuhan pupuk yaitu

Menyadari akan pentingnya peranan tutor pada PKBM sebagai agen pembelajaran dalam pelaksanaan program paket C, maka peningkatan kompetensinya khususnya

Sebaliknya untuk eksperimen kuasi, data yang digunakan adalah ex post facto yaitu data yang berasal dari aktivitas atau kejadian yang sudah terjadi yang tidak diintervensi

Sehubungan dengan telah selesainya evaluasi kualifikasi pada pemilihan langsung pekerjaan Pengaman Tebing Sei.Tapin Rt2. Hasan

Dengan menggunakan invariant constituent dan tema yang valid dan relevan dari tahap sebelumnya, dapat disusun Individual Textural Description dari pengalaman

Hasil penelitian (tabel 3 halaman 65) menunjukkan bahwa sebagian besar ibu-ibu hamil yang menjadi responden dalam penelitian ini puas terhadap pelayanan antenatal dan frekuensi ANC

Aplikasi Penjualan Perumahan pada PT Silampari Palembang diharapkan dapat membantu meringankan kinerja staff pemasaran dalam memberikan informasi kepada

Hal ini dapat dilihat dari hasil evaluasi yang dilakukan guru dengan melakukan tes guling depan setelah proses pembelajaran selesai, menunjukan adanya peningkatan