BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Berwisata merupakan hal yang menyenangkan apalagi jika menyangkut tentang makanan.
Di Indonesia sendiri memiliki banyak jenis wisata termasuk wisata kuliner. Indonesia memiliki banyak kota dengan kuliner khas masing-masing seperti Yogyakarta yang terkenal dengan gudeg, Solo yang terkenal dengan timlo dan serabi serta Wonosobo yang memiliki banyak jenis makanan tradisional dan camilan seperti mi ongklok, carica dan opak singkong. Kemudian ada salah satu daerah kecil yang terletak di Kabupaten Semarang yaitu Kecamatan Getasan yang juga tidak kalah terkenalnnya yaitu “Geplak Waluh”. Geplak waluh merupakan salah satu kuliner andalan yang dimiliki oleh Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Geplak Waluh sendiri adalah salah satu jenis makanan ringan yang berada di Getasan karena masih ada beberapa jenis makanan ringan yang lain seperti, gula kacang, kolak durian, gethuk, emping, rengginang dan kerupuk bakar.
Kecamatan Getasan memiliki hasil perkebunan yang melimpah seperti sayur dan buah salah satunya adalah “Waluh” atau Labu yaitu jenis tanaman menjalar dari famili Curbitaceae yang bisanya dikenal juga sebagai Cucurbita moschata, yang memliki beberapa kandungan anti oksidan yang terdapat di dalamnya.
Gambar 1.1 Sumber : Ditektorat Gizi, Dep. Kesahatan RI
Olahan labu yang biasanya lebih sering dijadikan kolak waluh sangat manis dan memiliki warna kuning orange sehingga menarik untuk dinikmati disamping rasa dan penampilannya yang menarik. Labu juga memliki kandungan mineral, vitamin A dan C sehingga menjadikan buah labu ini masih sangat digemari oleh beberapa orang yang menyukai labu sebagai makanan ringan. Labu kuning adalah tanaman yang sangat mudah ditanam dan sangat mudah merawat tanaman tersebut hingga masa panen, labu kuning yaitu tanaman semusim dengan sangat melimpah di kabupaten Semarang kecamatan Getasan. Labu kuning yang tumbuh dikawasan lereng gunung merbabu ini yang berada di Kecamatan Getasan menjadi salah satu wilayah yang paling menonjol untuk membudidayakan labu atau memasarkan labu. Pengolahan labu kuning khususnya diolah sebagai makanan ringan yang menjadi ciri khas daerah Getasan yaitu geplak waluh memiliki beberapa kelibihan diantaranya :
a. Sebagai bahan baku fleksibel untuk industri pengolahan lanjutan b. Daya simpan yang lama karena air yang rendah
c. Tidak membutuhkan tempat yang besar dalam penyimpanannya
d. Dapat digunakan untuk berbagai keperluan misalnya sebagai sumber karbohidrat, protein dan vitamin.
Gambar 1.2 Labu Kuning
Dipenunjang ini peneliti ingin mengangkat penelitian tentang kuliner geplak waluh mengingat bahwa Getasan adalah sebagai tempat penghasil Labu atau Waluh terbesar ketiga dengan 79.938 kw/pertahun, kedua Brebes dengan 91.780 kw/pertahun dan yang pertama adalah Wonosobo 820.095 kw/pertahun di Jawa Tengah pada tahun 2021 dari data yang diambil oleh BPS (Badan Pusat Statistik) Jateng sehingga Kementerian Riset dan Teknologi atau Badan Riset dan Inovasi (Kemenristek/BRIN) meresmikan patung waluh sebagai ikon desa Getasan. Alasan peneliti ingin mengangkat kuliner atau jajanan geplak waluh ini selain Getasan sebagai penghasil labu terbersar kedua di Jateng yaitu waluh memiliki karakteristik yang bisa diolah dalam membuat jajanan apa saja seperti kolak, eggroll dan aneka jajanan lain (fleksibel) sehingga memiliki keistimewaan tersendiri
Gambar 1.3 Produksi labu pada tahun 2020 di kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Semarang
Gambar 1.4 Produksi labu pada tahun 2020 di Kabupaten Brebes
Gambar 1.5 Peresmian patung waluh
Tidak sama dengan jajanan lain Waluh tergolong jenis tanaman semusim sebab setelah selesai berbuah akan mati. Selama ini buah waluh dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan sayuran. Buah waluh yang sudah tua dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan geplak waluh.
Daun dan pucuk sulur yang masih muda dapat digunakan sebagai bahan sayuran. Biji waluh sering digoreng menjadi kuaci atau direbus langsung sebagai makanan ringan. (Sudarto, 1993)
Geplak waluh memiliki cita rasa yang manis karena bahan pokok yang digunakan sendiri adalah buah Labu yang memiliki rasa yang manis juga tetapi dikombinasikan dengan kelapa juga gula pasir sehingga terciptalah geplak waluh. Geplak waluh sendiri diperkenalkan pada tahun 2000 dan dikembangkan secara komersial pada tahun 2002. Merupakan inovasi baru dan hanya satu- satunya di desa Getasan bahkan di kabupaten Semarang ataupun tingkat regional atau nasional.
Selain itu mengikuti pameran-pameran, perlombaan, membagikan sample pada event pameran, pemuatan di media cetak dan elektronik merupkan cara yang ditempuh untuk mempromosikan inovasi olahan waluh. Di usianya yang sudah 21 tahun ini makanan geplak waluh sudah tergolong sebagai jajanan yang cukup lama, dilihat dari jangka waktu ini masih banyak warga asli kabupaten semarang dan sekitarnya tidak begitu terlalu mengenal bahkan jika ada yang mengetahuinya merekapun belum pernah untuk mencicipinya.
Penulis menyadari sebagai bagian dari tanggung jawab untuk ikut mencintai produk dalam negeri, khususnya makanan tradisional Geplak Waluh, dalam proyek akhir ini, penulis akan mengambil video Gastronomi yang mengupas tema tentang makanan khas tradisional Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang yang berjudul “Geplak Waluh”. Dengan menggunakan teori SOR (Stimulus – Organism – Respon) penulis menggunakannya sebagai acuan dalam meneliti problem komunikasi yaitu strategi komunikasi pariwisata terhadap geplak waluh. Program ini akan disajikan kedalam format Gastronomi, Gastronomi sendiri adalah seni, atau ilmu makanan yang baik (good eating). Penjelasan yang lebih singkat menyebutkan gastronomi sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan kenikmatan dari makan dan minuman. Gilleisole (2001:235) Video gastronomi ini adalah kuliner tentang makanan tradisional atau makanan khas yang patut diketahui pemirsa seperti, bentuk teksturnya, kandungan rasa, dan bagaimana cara membuatnya. Kemasan video ini disesuaikan dengan gaya berbeda dan lokasi penjual atau masakan tersebut. Berdasarkan latar belakang tersebut penulis akan membuat program gastronomi dalam bentuk video kuliner dengan judul “Geplak Waluh ”.
Semua media tentunya memiliki kelebihan masing-masing begitu juga dengan video yang merupakan salah satu media yang memiliki kelebihannya sendiri. Penulis memilih video sebagai media utama dengan pertimbangan bahwa video memiliki kelebihan yaitu memberikan dua sensasi secara bersamaan yaitu audio dan visual. Tetapi, penulis tidak hanya membuat video saja, melainkan video gastronomi dimana isi video ini tidak hanya memberikan tampilan visual yang menggugah selera serta adanya audio yang membantu mengangkat suasana hati dan mood melainkan juga memberikan informasi yang akurat dan nyata bagi para penontonnya. Oleh karena itu, penulis mengangkat tema perancangan video gastronomi tentang wisata kuliner Geplak Waluh di Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang sebagai cara memperkenalkan wisata kuliner Geplak Waluh agar teteap bertahan dan tidak menghilankan ciri khas dari kuliner daerah Getasan tersebut khususnya warga kabupaten Semarang dan sekitarnya juga kepada para wisatawan untuk berkunjung dan mencoba kuliner andalan Kecamatan Getasan tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Setelah melihat latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah adalah bagaimana merancang sebuah film tentang gastronomi “Geplak Waluh” sebagai Komunikasi Pariwisata di Getasan Kabupaten Semarang yang menjadi identitas khas daerah tersebut ?
1.3 Tujuan Penelitian
Karya tugas akhir ini bertujuan untuk memberikan rancangan film gastronomi yang berjudul
“Geplak Waluh” tentang sejarah makananan khas Getasan Kabupaten Semarang yang menjadi identitas khas daerah tersebut ?
1.4 Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Berdasarkan tujuan penelitian, penulis berharap penelitian ini dapat memperkenalkan kuliner khas Kecamatan Geatasan Kabupaten Semarang yaitu Geplak Waluh bagi masyarakat Salatiga, Semarang dan sekitarnya, khususnya bagi pecinta wisata kuliner.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Penulis
Penelitian ini merupakan sarana penerapan ilmu yang didapatkan di perkuliahan khususnya jurusan komunikasi broadcasting dengan masalah yang ada di lapanagan, sehingga dapat menambah pengetahuan dan pengalaman dalam membuat tugas akhir gastronomi.
b. Bagi wisatawan atau pecinta kuliner penelitian ini diharapkan mampu menambah daya tarik seputar dunia kuliner dan pengetahuan tentang produksi kuliner Gepalak Waluh yang ada di Kecamatn Getasan Kabupaten Semarang agar bisa dikenal oleh masyarakat luas.
1.5 Konsep Perancangan Produksi
Karya tugas akhir ini nantinya akan dikemas melalui sebuah video semi dokumenter berdurasi kurang lebih 10 menit. Fokus dari film ini adalah bagaimana sang host atau tokoh utama dari film ini merasakan langsung proses pembuatan geplak waluh dari belum jadi hingga jadi. Lalu menampilkan beberapa stock video pekerja atau karyawan yang sedang membuat geplak waluh dan ada beberapa adegan host ikut membantu. Kemudian Host mencicipi geplak waluh sambil menikmati pemandangan pegunungan di daerah Getasan Kabupaten Semarang yang dilengkapi dengan penjelasan-penjelasan mengenai Kabupaten Semarang khususnya daerah Getasan dan kuliner geplak waluh tersebut.