i
PEMBELAJARAN DARING DALAM MATA PELAJARAN EKONOMI DI SMA NEGERI 2 YOGYAKARTA SELAMA
MASA PANDEMI COVID-19
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Ekonomi
Disusun oleh:
Agnes Marselina Yuniarti NIM: 151324020
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA 2022
ii SKRIPSI
PEMBELAJARAN DARING DALAM MATA PELAJARAN EKONOMI DI SMA NEGERI 2 YOGYAKARTA SELAMA
MASA PANDEMI COVID-19
iii
SKRIPSI
PEMBELAJARAN DARING DALAM MATA PELAJARAN EKONOMI DI SMA NEGERI 2 YOGYAKARTA SELAMA
MASA PANDEMI COVID-19
Dipersiapkan dan ditulis oleh:
Agnes Marselina Yuniarti
iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian dari karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Apabila dikemudian hari ditemukan indikasi plagiarisme dalam naskah ini, saya bersedia menanggung segala sanski sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Yogyakarta, 9 Desember 2022 Penulis,
Agnes Marselina Yuniarti
v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN
PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:
Nama : Agnes Marselina Yuniarti Nomor Mahasiswa : 151324020
Demikian pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul:
“PEMBELAJARAN DARING DALAM MATA PELAJARAN EKONOMI DI SMA NEGERI 2 YOGYAKARTA SELAMA MASA PANDEMI COVID- 19”
Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengahlikan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun royaliti saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di Yogyakarta
Pada tanggal: 9 Desember 2022 Yang menyatakan,
Agnes Marselina Yuniarti
vi MOTTO
-Tentang kehidupan yang setiap hari berjuang, setiap hari mengeluh, setiap hari melakukan kesalahan dan setiap hari terus belajar-
vii KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan kasih-Nya Penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul
“Pembelajaran Daring Dalam Mata Pelajaran Ekonomi Di SMA Negeri 2 Yogyakarta Selama Pandemi Covid-19”.
Penulisan skripsi ini disusun dalam rangka untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Ekonomi, Jurusan Pendidikan Ilmu Sosial, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Dengan kesempatan ini penulis menyadari bahwa proses penyusunan skripsi ini dapat kritik dan saran dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
(1) Bapak Drs. Tarsisius Sarkim, M.Ed., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
(2) Bapak Ig. Bondan Suratno, S.Pd., M.Si. selaku ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Sosial Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
(3) Ibu Dra. C. Wigati Retno Astuti, M.Si., M.Ed. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Ekonomi BKK Pendidikan Ekonomi.
(4) Bapak Dr. C. Teguh Dalyono, M.S. selaku dosen pembimbing yang telah mendampingi dan banyak meluangkan waktu dalam memberikan bimbigan sampai skripsi ini selesai.
viii (5) Segenap Bapak Ibu Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomu yang banyak meluangkan waktu dalam memberikan tambahan pengetahuan dalam proses perkuliahan.
(6) Bapak Sunu yang sangat membantu kelancaran administrasi dan memberikan semangat selama berproses di Prodi Pendidikan Ekonomi.
(7) Kedua orangtua saya, Bapak Blasius Dambur dan Mama Adriana Srinarti yang selalu memberikan doa, dukungan, motivasi, semangat, serta perhatian yang begitu besar dari rumah.
(8) Kaka dan adik-adik saya Yudi, Aldo, Oan, Ade dan Romi yang selalu memberikan semangat kepada saya.
(9) Sahabat-sahabat saya Endik, Endak, Manus, Thalia Fonge, Vira, Vivi.
(10) Seseorang dalam hidup saya yang tidak bisa saya sebutkan namanya, yang selalu memberikan semangat dan dukungan.
(11) Seluruh teman-teman mahasiswa Pendidikan Ekonomi Angkatan 2015, yang memberikan semangat dan dukungan dalam proses pembelajaran.
(12) Semua pihak dan teman-teman lainnya yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu dan mendukung penulis selama menempuh perkuliahan dari awal hingga akhir penyusunan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih banyak kesalahan dan kekurangan, maka dari itu Penulis mengharapkan adanya kritik dan saran dari pembaca demi kesempuraan skripsi ini dan semoga skripsi dapat bermanfaat bagi pembaca.
Yogyakarta, 9 Desember 2022
Agnes Marselina Yuniarti
ix ABSTRAK
Marselina, A.Y.2022. Pembelajaran Daring Dalam Mata Pelajaran Ekonomi di SMA Negeri 2 Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Ekonomi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sanata Dharma
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) perencanaan pembelajaran daring dalam mata pelajaran Ekonomi selama masa pandemi Covid-19; (2) pelaksanaan pembelajaran daring mata pelajaran Ekonomi; dan (3) hasil belajar siswa-siswi mata pelajaran Ekonomi selama masa pandemi Covid-19.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-April 2022 di SMA Negeri 2 Yogyakarta. Subjek dalam penelitian ini adalah 2 orang guru mata pelajaran Ekonomi, 1 kepala sekolah, 3 siswa dan 1 siswi. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah model Milles and Huberman di mana aktivitas dalam analisis kualitatif dilakukan secara interaktif dan berkelanjutan hingga datanya jenuh.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa: (1) perencanaan pembelajaran daring tidak jauh berbeda dengan proses pembelajaran tatap muka; (2) pelaksanaan pembelajaran memiliki tujuan tercapainya proses pembelajaran yang berorientasi pada produktivitas belajar siswa; dan (3) penilaian hasil belajar siswa- siswi terkait bagaimana guru memastikan penilaian dilakukan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Kata kunci: perencanaan, pelaksanaan, penilaian, pembelajaran daring, mata pelajaran Ekonomi, pandemi Covid-19
x ABSTRACT
Marselina, A.Y.2022. The Online Learning of Economics Subject of SMA Negeri 2 during the Covid-19 Pandemic. Thesis. Yogyakarta: Economic Education in the Field of Special Expertise of Economic Education.
Faculaty of Teacher Training and Education. Sanata Dharma University.
This study aims to find out: (1) the planning of Economics online learning during the Covid-19 pandemic; (2) the implementation of Economics online learning; and (3) the student learning outcomes of Economics subject during the Covid-19 pandemic.
This research is a qualitative descriptive study. This research was conducted in March-April 2022 in SMA Negeri 2 Yogyakarta. The research subjects study were 2 economics teachers, 1 school principal, and 4 students. The research data collection techniques were interview, observation, and documentation. The data analysis techniques was the Milles and Huberman model in which the activities in the qualitative analysis are carried out interactively and continuously until the data is saturated.
The results of the data analysis showed that: (1) the planning of online learning was not much different compared to face to face learning process; (2) the implementation of online learning had the goal to conduct learning process that was oriented on student learning productivity; and (3) the assessment of student learning outcomes related to how the teacher ensured that the assessment was carried out in accordance with the objectives set of the lesson plan.
Keywords: planning, impelentation, assessment, online learning, economics subjects, the Covid-19 pandemic
xi DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... ii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iii
MOTTO... iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA... v
HALAMAN KATA PENGANTAR... vii
ABSTRAK... ix
ABSTRACT.…………... x
DAFTAR ISI... xi
BAB I PENDAHULUAN... 1
1.1. Latar Belakang... 1
1.2. Rumusan Masalah... 6
1.3 Tujuan Penelitian... 6
1.4 Batasan Masalah... 7
1.5 Manfaat Penelitian... 7
BAB II KAJIAN PUSTAKA... 10
2.1 Pembelajaran Daring/Luring... 10
2.1.1 Pembelajaran... 10
2.1.2 Sejarah Pembelajaran Daring... 13
2.1.3 Manfaat dan Prinsip Desain Pembelajaran Daring... 15
2.1.4 Media Pembelajaran Daring... 15
2.1.5 Kebijakan Pembelajaran Daring... 17
2.1.6 Strategi Pembelajaran Daring dan Luring... 18
2.2 Kurikulum 2013………... 19
2.2.1 Pengertian Kurikulum………... 19
2.2.2 Karakteristik Kurikulum 2013... 20
2.2.3 Tujuan Kurikulum………... 21
2.2.4 Fungsi Kurikulum………... 22
2.2.5 Landasan Pengembangan Kurikulum... 22
2.3 Kurikulum Darurat Covid-19………... 23
2.3.1 Pengertian Kurikulum Darurat Covid-19………... 23
2.3.2 Dasar Hukum Kurikulum Darurat Covid-19…………... 25
2.3.3 Prinsip-prinsip Kurikulum Darurat Covid……….. 27
2.3.4 Tujuan Kurikulum Darurat Covid-19……….. 29
2.3.5 Perencanaan Pembelajaran Pada K-Darurat Covid-19…... 29
2.3.6 Pelaksanaan K-Darurat Covid-19 Pada Pembelajaran…… 33
2.4 Pengembangan RPP Pembelajaran Daring………... 36
2.4.1 Prinsip Pengembangan RPP Jarak Jauh……….. 37
2.4.2 Sistem RPP Daring……….. 38
2.5 Pelaksanaan Pembelajaran Daring……… 39
2.6 Penilaian Hasil Belajar Pembelajaran Daring………... 41
2.6.1 Pengertian Penilaian... 41
2.6.2 Tujuan Penilaian... 46
2.6.3 Fungsi Penilaian... 47
2.6.4 Prinsip Penilaian... 49
2.6.5 Pentingnya Penilaian dalam Pembelajaran... 52
2.6.6 Jenis-jenis Penilaian dalam Pembelajaran... 52
2.6.7 Instrumen Penilaian dalam Daring... 54
2.7 Hasil Belajar... 56
2.7.1 Pengertian Hasil Belajar... 56
2.7.2 Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar... 57
2.8 Peneliti yang Relevan... 57
BAB III METODE PENELITIAN... 61
3.1 Jenis Penelitian... 61
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian... 61
3.2.1 Lokasi Penelitian... 61
3.2.2 Waktu Penelitian... 62
3.3 Subjek dan Objek Penelitian... 62
3.3.1 Subjek Penelitian... 62
3.3.2 Objek Penelitian... 62
3.4 Fokus Penelitian... 62
3.5 Instrumen Penelitian & Teknik Pengumpulan Data……... 64
3.5.1 Instrumen Penelitian... 64
3.5.2 Sumber Data Penelitian... 65
3.5.3 Teknik Pengumpulan Data... 65
3.6 Keabsahan Data... 69
3.7 Teknik Analisis Data... 70
BAB IV GAMBARAN UMUM………... 72
4.1 Deskripsi Lokasi... 72
4.2 Deskripsi Subjek Peneliti... 75
4.3 Deskripsi Data... 80
BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN... 82
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN... 94
6.1 Kesimpulan... 94
6.2 Saran... 94
6.3 Keterbatasan Penelitian... 95
DAFTAR PUSTAKA... 97 LAMPIRAN
xiii DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Surat Izin Penelitian ... 100
Lampiran 2. Surat Keterangan Selesai Penelitian ... 101
Lampiran 3. Pedoman Wawancara dan Observasi ... 102
Lampiran 4. Agenda Kegiatan Kurikulum ... 112
Lampiran 5. RPP Perdagangan Internasional ... 113
Lampiran 6. Penilaian Harian Perdagangan International ... 125
Lampiran 7. Penilaian Keterampilan ... 129
Lampiran 8. Penilaian Sikap ... 132
Lampiran 9. Dokumentasi ... 134
Lampiran 10. Hasil Pedoman Lembar Wawancara ... 135
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan pusat kemajuan sebuah bangsa. Melalui pendidikan, dapat diketahui kemana negara akan dibawa dalam mengikuti arus globalisasi maupun modernisasi. Pendidikan sebagai grand kemajuan bangsa menjadi perhatian khusus oleh berbagai pihak terutama pemerintah. Beberapa masalah mendasar yang sangat berpengaruh terhadap esensi lembaga pendidikan secara berkesinambungan terus diupayakan oleh pemerintah dengan berbagai cara misalnya: pengembangan kurikulum, peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan sara dan prasarana pendidikan, peningkatan mutu manajemen sekolah. Hakikat atau tujuan utama dari inovasi pendidikan adalah untuk membantu sekolah mencaapai tujuannya secara efektif melalui penerapan sejumlah program atau praktek-praktek pendidikan yang lebih baik.
Di era globalisasi saat ini, persiapan sumber daya manusia (SDM) Indonesia berkualitas di masa depan merupakan tanggung jawab pendidikan.
Dalam lingkungan pendidikan di sekolah, keprofesionalisme guru memegang kunci utama bagi peningkatan mutu tersebut yang mencakup peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik sebagai aset generasi penerus Indonesia masa depan. Tuntutan globalisasi dan moderenisasi yang semakin maju dengan ditandai rasionalisasi dalam berkarya yang sangat tinggi, harus diimbangi dengan kompetensi yang harus dimiliki oleh guru. Dengan kata lain peran guru sangat penting untuk dapat mengimbangi kondisi perkembangan peserta didik di
Sekolah. Selain memiliki pengetahuan yang tinggi dalam bidang matapelajaran, seorang guru dituntut pula untuk menunjukan keterampilan secara unggul dalam bidang pendidikan dan pembelajaran.
Pembelajaran dilaksanakan berdasarkan kurikulum. Kurikulum yang digunakan saat ini pada umunya kurikulum 2013. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang menekankan pada tiga aspek, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Kurikulum 2013 bertujuan mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatfi, inovatif, dan afektif serta berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.
Pada bulan Desember 2019 muncul virus corona yang mematikan di Wuhan China dan dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia. Ini menyebabkan World Health Organization (WHO) sebagai organisasi kesehatan dunia telah menetapkan virus corona atau COVID-19 sebagai pandemi. Pandemi adalah situasi ketika populasi seluruh dunia ada kemungkinan akan terkena infeksi ini dan berpotensi sebagian dari mereka jatuh sakit bahkan meninggal dunia.
Pandemi covid-19 berdampak ke berbagai sektor kehidupan seperti ekonomi,sosial termasuk juga pendidikan dan kebudayaan. Dampak yang besar dirasakan oleh siswa disemua tingkatan sekolah hingga perguruan tinggi. Untuk mengatasi pandemi ini perlu diciptakan kesadaran untuk menjaga jarak dalam interaksi sosial, menghindari keramaian, karantina mandiri, dan isolasi sehingga setiap individu yang rentan tidak akan terkena virus. Upaya tersebut merupakan cara yang digunakan untuk menghambat atau menghentikan lajunya penyebaran covid-19.
Untuk berlangsungnya proses pendidikan dan dalam rangka berpartisipasi memutus mata rantai penyebaran virus corona, maka pelaksanaan pembelajaran harus disesuaikan dengan kebijakan social distancing yang diluncurkan oleh pemerintah. Kegiatan belajar mengajar semua jenjang dilakukan di rumah peserta didik masing-masing dan dilakukan melalui daring/online sehingga semua jenjang pendidikan ditutup sementara. Pada tahun 2020 mentri pendidikan Nadien Anwar Makarim menerbitkan surat edaran no 23 tahun 2020 pada Satuan Pendidikan dan Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan dalam Masa Coronavirus Disease (Covid-19) maka kegiatan dilakukan secara daring(online) dalam rangka pencegahan penyebaran corona virus(covid-19). Guru harus memastikan kegiatan belajar-mengajar tetap berjalan meskipun peserta didik berada di rumah. Inovasi pembelajaran merupakan solusi yang perlu didesain dan dilaksanakan oleh guru dengan memaksimalkan media yang ada seperti media daring/online. Guru dapat melakukan pembelajaran menggunakan metode E- learning yaitu pembelajaran memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.
Sistem pembelajaran dilaksanakan melalui perangkat komputer, laptop atau Handphone yang terhubung dengan koneksi internet. Guru dapat melakukan pembelajaran diwaktu yang sama menggunakan grup di media sosial seperti Whatsapp (WA), telegram, aplikasi Zoom ataupun media sosial yang dapat mendukung kegiatan pembelajaran daring/online sehingga dapat memastikan siswa belajar diwaktu bersamaan meskipun di tempat yang berbeda. Guru juga dapat memberikan tugas terukur namun tetap memastikan bahwa tiap hari pembelajaran peserta didik terlaksana tahap demi tahap dari tugas tersebut.
Pelaksanaan pembelajaran tidak dapat dilepaskan dari penilaian hasil belajar.
Penilaian hasil belajar di era covid-19 ini juga dilakukan secara daring. Banyak aplikasi daring yang dapat digunakan dalam penilaian pendidikan, antara lain kahoot, google form, quizizz, atau penugasan lain melalui google classroom, JB Class, dan quiper school.
Pembelajaran menggunakan media online memang belum terlalu akrab dalam dunia pendidikan terutama di Indonesia. Sejarah praktik belajar-mengajar tradisional sudah melekat bagi para guru dan siswanya. Sejalan dengan industri 4.0, pada kenyataannya abad milenial saat ini nyaman dengan media sosial yang berbagai macam. Namun berkaitan dengan media yang digunakan sebagai media pembelajaran banyak para pendidik dan siswa yang belum memahaminya.
Pendidik harus dapat mendesain pembelajaran online yang ringan berdasarkan materi yang mereka ajarkan. Hal tersebut akan sesuai dengan kebutuhan siswa di setiap level. Dikatakan bahwa, pendidikan efektif dalam menerapkan media online, siswa akan membutuhkan budaya belajar mandiri dengan menggunakan alat atau perangkat untuk mengamati pembelajaran. Klip video, YouTube, grup Whatsapp, Instagram, Zoom, Google Classroom, Google Meet, dan sebagainya merupakan berbagai sarana yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran daring selama masa covid-19.
Dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan di SMA Negeri 2 Yogyakarta, banyak hal yang kemudian menjadi sorotan. Pertama, visi misi sekolah sangat mendukung integrasi teknologi dalam proses pembelajaran di kelas. Di dalam visi dan misinya, sekolah bertujuan unggul dalam iptek, cerdas, berakhlak mulia dengan serta siap berkompetensi dalam dunia global. Hal berikut, latar belakang siswa yang bersekolah di sekolah ini, sudah dijangkau
teknologi. Sepanjang masa covid, sudah terjadi pembelajaran daring yang dilaksanakan dalam skala kecil. Hal ini didukung oleh kesiapan sekolah seperti fasilitas sekolah, serta latar belakang siswa yang sudah menguasai kemajuan teknologi. Namun hal ini berlangsung bukan tanpa masalah. Masalah pertama adalah mengenai persiapan pelaksanaan pembelajaran daring. Dalam penyusunan RPP, hal utama yang menjadi kendala adalah bagaimana kemudian guru harus bisa menyusun RPP yang mendukung pembelajaran secara daring ini. Terdapat perbedaan antara menyusun RPP pembelajaran luring dengan RPP pembelajaran daring. Pembelajaran secara daring merupakan pembelajaran yang tergolong baru bagi kebanyakan guru, sehingga perlu penyesuaian dan pembiasaan. mendukung peneliti melakukan penelitian di sekolah ini. Apalagi, secara kemampuan dan pemahaman terhadap teknologi, secara khusus media online, beberapa siswa bahkan lebih paham dibanding kebanyakan guru. Masalah berikutnya adalah mengenai proses pemberian tugas dan penilaian. Selama pembelajaran daring yang sudah berlangsung sejauh ini, kebanyakan Guru menggunakan Google Form. Hal ini kemudian menjadi masalah karena siswa yang paham teknologi akan dengan mudah mengetahui apakah tugas tersebut sudah ada kunci jawaban ataupun sudah dinilai atau belum. Apalagi informasi mengenai cara mengetahui hal tersebut, sudah tersebar luas di Internet. Lalu hal yang kemudian menjadi pokok permasalahan adalah pelaksanaan pembelajaran daring jauh lebih sulit dibanding pembelajaran luring. Siswa jauh lebih sulit dikontrol dan sangat diperlukan konsistensi baik guru maupun siswa dalam mempertahankan ritme pembelajaran.
Dari uraian-uraian di atas, penulis memutuskan untuk melaksanakan penelitian yang berjudul “PEMBELAJARAN DARING DALAM MATA PELAJARAN EKONOMI DI SMA NEGERI 2 YOGYAKARTA SELAMA MASA PANDEMI COVID-19”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
“Bagaimana keterlaksanaan pembelajaran daring dalam mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 2 Yogyakarta selama masa pandemi covid-19?”
Untuk menjawab keterlaksanaan pembelajaran daring dalam penelitian ini, maka rumusan masalah adalah sebagai berikut:
(1) Bagaimana pengembangan rencana pembelajaran daring dalam mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 2 Yogyakarta selama masa pandemi covid-19?
(2) Bagaimana pelaksanaan pembelajaran daring dalam mata pelajaran Ekonomi di SMA Negeri 2 Yogyakarta selama masa pandemi covid-19?
(3) Bagaimana penilaian hasil belajar siswa-siswi dengan pembelajaran daring dalam mata pelajaran Ekonomi di SMA Negeri 2 Yogyakarta selama masa pandemi covid-19?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mengetahui:
(1) Pengembangan rencana pembelajaran daring dalam mata pelajaran Ekonomi di SMA Negeri 2 Yogyakarta selama masa covid-19
(2) Pelaksanaan pembelajaran daring dalam mata pelajaran Ekonomi di SMA Negeri 2 Yogyakarta selama masa covid-19
(3) Hasil penilaian hasil belajar siswa-siswa dengan pembelajaran daring dalam mata pelajaran Ekonomi di SMA Negeri 2 Yogyakarta selama masa covid-19.
1.4 Batasan Masalah
Terdapat batasan masalah dalam penelitian yang telah ditetapkan penulis berdasarkan latar belakang diatas. Penulis menambahkan batasan masalah agar dapat fokus dan tidak keluar dari tujuan penelitian. Sehingga pengembangan rencana daring, pelaksanaan pembelajaran daring, dan hasil penilaian belajar siswa-siswi dengan pembelajaran daring merupakan variabel.
Hal ini dimaksud untuk memperjelas permasalahan yang ingin diteliti serta agar lebih terfokuskan dan mendalam mengingat banyak masalah yang ada.
Peneliti memfokuskan variabel yang ingin diteliti yaitu pengembangan rencana pembelajaran daring, pelaksanaan pembelajaran daring, hasil penilaian belajar siswa-siswi dengan pembelajaran daring.
1.5 Manfaat Penelitian (1) Bagi Sekolah
Penulis mengharapkan penelitian ini dapat menjadi sumber masukan bagi pihak sekolah untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran daring selama masa pandemi covid-19, sehingga dapat dijadikan pedoman dan masukan untuk melaksanakan pembelajaran daring yang lebih baik
(2) Bagi Guru
Penulis mengharapkan penelitian ini menjadi sumber masukan dan bahan refleksi bagi guru tentang pembelajaran daring selama masa covid-19.
(3) Bagi Siswa
Penulis mengharapkan penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi siswa mengenai pembelajaran daring sehingga dapat tetap aktif belajar meskipun pembelajaran dilakukan secara daring.
(4) Bagi Universitas Sanata Dharma
Penulis mengharapkan penemuan dalam studi ini mampu peran sebagai informasi tambahan bagi mahasiswa untuk melakkan penelitian dengan topik yang sama.
(5) Bagi Penulis
Penulis mengharapkan berbagai pengalaman yang bermanfaat dalam melaksanakan penelitian ini sehingga mampu mengaplikasikan berbagai ilmu yang telah diperoleh selama mengikuti pembelajaran di Universitas Sanata Dharma
9 BAB II
KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pembelajaran Daring/Luring
Pembelajaran 2.1.1
Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional, Nomor 20 Tahun 2003, pasal 1, menjelaskan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber beajar pada suatu lingkungan belajar.
Pembelajaran memerlukan interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran memerlukan interaksi antara pendidik dan peserta didik untuk memberi dan menerima informasi terkait ilmu pengetahuan, serta menciptakan suatu kondisi belajar. Menurut Sagala (dalam Efendi, 2020:2) pembelajaran adalah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu utama keberhasilan siswa.
Agar asas pendidikan dan teori belajar yang digunakan dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien maka perlu kiranya dibuat suatu program pembelajaran.
Pembelajaran merupakan salah satu bentuk program karena pembelajaran baik memerlukan perencanaan yang matang dan dalam pelaksanaannya melibatkan berbagai orang, baik guru maupun siswa memiliki keterkaitan antara kegiatan dan pembelajaran yang satu dengan kegiatan yang lain (Widoyoko, 2009:9).
10 Dari beberapa pengertian pembelajar tersebut, dan dapat dipahami bahwa pembelajaran adalah proses interaksi dua arah antar pendidik dan peserta didik.
Pembelajaran harus berlangsung secara aktif dan terencana dengan baik sehingga terbentuk suatu lingkungan belajar yang efektif dan efisien.
(1) Pembelajaran Daring
Pembelajaran daring adalah sistem pembelajaran yang berlangsung di dalam jaringan dimana dalam pelaksanaannya tidak terdapat tatap muka secara langsung, tetapi menggunakan platfrom yang dapat membantu proses belajar mengajar meskipun berada dalam jarak jauh (Sofyana dan Abdul, 2019:28).
Keberadaan teknologi dalam pendidikan sangat bermanfaat untuk mencapai efisiensi proses pembelajaran dalam jaring (daring). Manfaat tersebut seperti efisiensi waktu belajar, lebih mudah mengakses sumber belajar dan materi belajar.
Menurut Ghirardini (dalam Kartika,2018:27) daring memberikan metode pembelajaran yang efektif seperti berlatih, dengan adanya umpan balik terkait, menggabungkan kolaborasi kegiatan dengan belajar mandiri, personalisasi pembelajaran berdasarkan kebutuhan siswa dan menggunakan simulasi dan permainan.
Pembelajaran daring juga mendorong siswa tertantang dengan hal-hal baru yang mereka peroleh selama proses belajar, baik teknik interaksi dalam pembelajaran yang beraneka ragam. Siswa juga secara otomatis, tidak hanya mempelajari materi ajar yang diberikan guru, melainkan mempelajari cara belajar itu sendiri (Efendi:2020).
Salah satu intruksi pemerintah tentang kegiatan yang dilakukan di rumah adalah kegiatan belajar, belajar tidak boleh berhenti. Kegiatan Belajar Mengajar
(KBM) dipindahkan di rumah, tetapi harus dikendalikan oleh guru/dosen dan orang tua, dengan menggunakan pembelajaran jarak jauh. Pembelajaran jarak jauh ini dilakukan awalnya selama kurang lebih dari 14 hari, tetapi tidak menutup kemungkinan telah ditambahkan lagi hingga saat ini karena melihat situasi dan kondisi perkembangan covid-19 ini.
Pembelajaran jarak jauh dibutuhkan saat ini oleh semua siswa mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi, dan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, bahkan di seluruh dunia melaksanakan pembelajaran dengan e- learning. Proses pembelajaran e-learning/online, pelajar dapat berinteraksi langsung dengan konten pembelajaran yang mereka temukan dalam berbagai format seperti video, audio, dokumen dan sebagainya. Selain itu, mereka juga dapat memilih untuk mengurutkan pembelajaran mereka sendiri, diarahkan dan dievaluasi dengan bantuan seorang guru. Interaksi ini dapat terjadi dalam komunitas penyelidikan, menggunakan berbagai aktivitas sinkron dan ansinkron berbasisis internet (video,audio, konferensi komputer, obrolan, atau interkasi dunia maya).
Penerapan pembelajaran daring untuk pengajaran dan pembelajaran memiliki dua tantangan utama, yaitu: (1) penerapan pembelajaran daring sebagai alternatif yang sulit bagi siswa; (2) aplikasi berbasis daring/online untuk menghasilkan siswa berpengetahuan (student-based-student), yaitu memanfaatkan berbasis online untuk mengembangkan diri secara berkelanjutan dan meningkatkan produktivitas mereka.
Pada pembelajaran daring guru memiliki peran penting dalam memberikan materi serta metode pengajaran yang efektif agar siswa mampu mencerna dan
menerima materi pembelajaran dengan baik. Menurut Jailani dan Hamid (2016) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfataan hasil-hasil teknologi dalam proses belajar.
Perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan atau digunakan sebagai sumber belajar maupun sumber pembelajaran. Namun tak dapat dipungkiri bahwa banyak tenaga pendidik yang tidak bisa mengoperasikan atau menggunakan peralatan teknologi saat ini. Sehingga saat ini sangat dituntut untuk dapat mengembangkan keterampilan dalam proses belajar dan mengajar agar tidak tertinggal.
(2) Pembelajaran Luring
Luring merupakan singkatan dari “luar jaringan” yang sedang tren digunakan untuk menggantikan kata offline. Luring adalah antonim dari kata daring atau dalam jaringan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa luring adalah aktfitas yang dilakukan tanpa memanfaatkan akses internet. Internet merupakan suatu jaringan komunikasi yang menghubungkan suatu media elektronik dengan media lainnya. Menurut Susiliana(2010:14), internet merupakan suatu jaringan privasi yang terhubung dengan menggunakan protokol internet TPC/IP dengan tujuan berkomunikasi dan mengirim rahasia hanya dalam lingkup terbatas seperti sekolah dan perusahaan.
Banyak orang yang memiliki pemahaman yang berbeda dalam mendefinisikan aktifitas daring dan luring. Adapun perbedaan pemahaman ini perlu untuk diluruskan, karena sejumlah orang menganggap bahwa aktifitas daring adalah kegiatan yang dilaksanakan secara online dan kegiatan luring adalah kegiatan yang terhubung melalui internet. Sebagaimana hal yang dijelaskan bahwa internet merupakan terminology dalam dunia informatika yang merujuk
pada kondisi saling terhubung waktu dalam cakupan yang sangat terbatas. Dapat disimpulkan kegiatan pembelajaran luring adalah kegiatan yang dilaksanakan tanpa manfaatkan akses internet. Salah satu contoh kegiatan luring adalah ketika seorang siswa sedang mengerjakan tugas menggunakan buku sebagai sumber belajar. Kegiatakan ini sebagai kegiatan luring dikarenakan siswa belajar tanpa menggunakan akses internet. Kegiatan diskusi siswa dan guru melalui aplikasi zoom, whatsapp, google meet merupakan kegiatan pembelajaran daring karena terhubung melalui internet. Kedua contoh ini sudah sangat jelas mengambarkan perbedaan kegiatan daring dan luring.
Budaya pembelajaran di Indonesia lebih lekat dengan pembelajaran konvensional atau tatap muka. Namun, beberapa lembaga pendidikan yang ada di Indonesia sudah coba mengkombinasikan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran online sebagai tuntutan zaman. Adanya covid-19 di tahun 2019 hingga saat ini menuntut masyarakakt melakukan kegiatan secara online dikarenakan adanya larangan kegiatan bertemu secara langsung guna memutus rantai covid-19.
Sejarah Pembelajaran Daring 2.1.2
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dalam bidang pendidikan membuka cakrawala baru bagi pembukaan kesempatan (akses) dan peningkatan mutu pendidikan di semua jenjang, jalur dan jenis pendidikan. Pendidikan dengan memanfaatkan sistem pembelajaran secara tatap muka tetap merupakan model utama pendidikan, tetapi model pembelajaran jarak jauh sudah lama juga berkembang,terutama untuk pendidikan bagi orang dewasa. Open University di Inggris merupakan salah satu pelopor pendidikan jarak jauh di dunia pada jenjang
pendidikan tinggi, dan sekarang telah menjadi salah satu lembaga yang menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh yang termaju di dunia. (Munir, 2009:
12)
Di Indonesia pembelajaran jarak jauh (distance learning) merupakan bagian dari pendidikan jarak jauh (distance education) tercantum di dalam undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Diselenggarakannya pendidikan jarak jauh sebagai upaya pemerintah dalam membenahi sistem pendidikan yang tepat, terencana, simultan, dan optimal dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Apalagi semangat otonomi daerah memberikan angin segar terhadap pelaksanaan program pendidikan jarak jauh.
Di Indonesia sebetulnya sistem pembelajaran jarak jauh sudah lama ada, yaitu sejak awal kemerdekaan yang tujuannya untuk mengisi kekosongan tenaga yang diperlukan untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Pada 1950 pemerintah membentuk lembaga Balai Khusus Tertulis Pendidikan Guru (BKTPG) yang mendapat tugas untuk meningkatkan kemampuan pengajar dalam mengajar. Proses pembelajarannya dengan menyediakan berbagai paket belajar tertulis dalam bidang profesi kependidikan. Pengembangan dari lembaga ini sekarang dikenal dengan Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis (PPGT).
Perkembangan pendidikan jarak jauh berikutnya dengan adanya kebijakan dalam Garis Besar Haluan Negara (GBHN) untuk digunakan siaran radio dan televisi dalam memeratakan pendidikan dan meningkatkan mutu pendidikan. Selanjutnya pemerintah membangun Sistem Komunikasi dengan Satelit Domestik, yang
terkenal dengan sebutan SKSD Palapa yang salah satu manfaatnya untuk pelaksanaan pendidikan jarak jauh.
Manfaat dan Prinsip Desain Pembelajaran Daring 2.1.3
Menurut Yusuf dan Nur (2015: 4) manfaat lain pembelajaran daring adalah sebagai berikut:
(1) Meningkatkan mutu pendidikan dan pelatihan dengan memanfaatkan multimedia secara efektif dalam pembelajaran.
(2) Meningkatkan keterjangkuan pendidikan dan pelatihan yang bermutu melalui penyelenggaran pembelajaran dalam jaringan.
(3) Menekan biaya penyelenggara pendidikan dan pelatihan yang bermutu melalui pemanfaatan sumber daya bersama.
Media Pembelajaran Daring 2.1.4
Pembelajaran daring merupakan pembelajaran jarak jauh menggunakan jaringan internet, sehingga dalam penerapannya terdapat beberapa media yang digunakan. Berikut merupakan penjelasan media pembelajaran daring menurut Sri Gusti, dkk (2020: 40-42):
(1) Google Classroom
Google Classroom merupakan sebuah Learning Management System (LMS) yang disediakan perusahaan TI ternama bernama Google. LMS ini banyak digunakan karena tidak hanya menyediakan kemudahan pemberian dan penyelesaian tugas melalui modul-modul atau kuis namun juga tersedia ruang kelas online. Pembuatan dan pemberian tugas dapat diselesaikan melalui Google Drive dengan tetap menggunakan Gmail untuk membuat pemberitahuan di ruang kelas Google. Terdapat pula Google Calender yang memudahkan pembuatan
jadwal belajar. Setiap hasil kerja juga digolongkan sesuai dengan jenisnya masing-masing. Peserta didik dapat diundang oleh pendidik dalam sebuah ruang kelas online melalui beberapa cara yaitu kode pribadi atau melalui basis data.
(2) Moodle
Aplikasi web ini merupakan salah satu LSM yang paling populer dalam dunia pendidikan. Moodle ini dapat diakses lebih dari 1000 materi pelajaran.
Moodle dilengkapi fitur keamanan yang dapat melindungi data pribadi pengguna.
Moodle juga menyediakan modul chat bot seperti modul jurnal, modul kuis, modul survey, workshop, dan polling.
(3) Edmondo
Aplikasi ini dapat membantu guru dalam membuat berita dalam grup atau memberi tes yang bersifat online. Edmondo juga akan memungkinkan siswa untuk mengirim artikel dalam blog sesuai dengan perintah guru. Dapat dibangun sebuah ruangan diskusi dimana siswa dapat berkomunikasi. Selain itu, orangtua dapat mengambil bagian untuk mengontrol perkembangan belajar anaknya.
(4) Quizizz
Aplikasi web ini merupakan salah satu LMS yang ringan namun sangat berguna. Pendidik dapat membentuk kelas yang diinginkan dengan memasukan daftar peserta didiknya. Setiap penilaian sebagai peningkatan kegiatan belajar mengajar juga dapat dipantau secara bertahap. Pendidik dapat membangun materi pelajaran yang ingin disampaikan melalui pertanyaan-pertanyaan. Setiap peserta didik menjawab pertanyaan dengan benar maka akan muncul poin yang yang didapatkan dalam satu soal dan juga rangking berapa dalam menjawab soal
tersebut. Setelah mengerjakan kuis akan tampil tinjauan pertanyaan (review question).
(5) Video conference
Video conference merupakan media pembelajaran yang melakukan pertemuan secara tatap muka. Beberapa LMS memiliki fitur Video Conference.
Jadi LMS tersebut dapat dikombinasikan dengan fitur ini. Beberapa video conference yang sangat populer adalah Google Meet, Zoom Meeting, Facetime, Whatsapp.
Kebijakan Pembelajaran Daring 2.1.5
Menurut Efendi (2020:9-10) pembelajaran daring di Indonesia diselenggarakan dengan aturan dan sistem yang terpusat pada peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah. Untuk mengatur pembelajaran daring pemerintah merumuskan dasar-dasar hukum penyelenggaraan pembelajaran dalam jaringan di masa pandemi virus corona 2019. Adapun dasar hukum dimaksud adalah:
(1) Keppres No. 11 Tahun 2020, tentang penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Covid-19
(2) Keppres No. 12 Tahun 2020, tentang penetapan Bencana Nonaam Penyebaran Virus Covid-19
(3) Surat Keputusan Kepala BNBO Nomor 9.A. Tahun 2020, tentang Penetapan Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana Wabah Penyakit Akibat Virus Corona di Indonesia
(4) SE Mendikbud No. 3 Tahun 2020, tentang Pencegahan Covid-19 pada Satuan Pendidikan
Surat Mendikbud No 46962/MPK.A/HK/2020, tentang Pembelajaran secara daring dan bekerja dari rumah dalam rangka pencegahan penyebaran covid-19 di lingkungan instansi pemerintah
Strategi Pembelajaran Daring dan Luring 2.1.6
Ditengah ketetapan tak terduga dimasa pandemi, tentu ada hal-hal yang belum siap baik darisegi fasilitas atau pelajar yang terlibat. Program belajar dari rumah meurpakan bentuk upaya kemendikbud untuk membantu terselenggaranya pendidikan bagi semua kalangan masyarakat dimasa covid-19 khusunya membantu masyarakat yang memiliki keterbatasan pada akses internet, baik karena tantangan ekonomi maupun letak geografis, disampaikan mentri pendidikan dan kebudayaan Nadiem Anwar Makarim, dalam konferensi peluncuran program belajar dari rumah. Kini digantikan dengan kegiatan pembelajaran melalui media elektronik baik secara sinkron ataupun secara nir- sinkron. E-learning nir-sinkron dapat dilakukan secara dalam jaringan (daring) maupun secara luar jaringan (luring) sehingga dapat memutuskan penyebaran covid-19 dengan mematuhi protokol kesehatan dan selalu menjaga sistem pertahanan tubuh.
Disisi lain pembelajaran daring dan luring muncul sebagai salah satu bentuk pola perkembangan pembelajaran diera teknologi informasi 4.0 seperti sekarang ini. Keduanya merupakan bentuk kegiatan pembelajaran interaktif yang dapat berdiri sendiri-sendiri atau dipadukan (blended learning) dalam proses pembelajaran di sekolah. Model strategi pembelajaran ini, namanya semakin mencuat dengan adanya wabah covid-19 yang secara garis bear sebagai langkah jalan keluar agar proses pembelajaran peserta didik di sekolah tidak terhenti di
tengah jalan. Dan sebagai jalan keluar sebagai salah satu upaya untuk emmutuskan mata rantai mutasi virus corona. Adapun tujuan pelaksanaan daring dan luring selama covid-19 yaitu:
(1) Memastikan pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan selama covid-19
(2) Melindungi warga satuan pendidikan dari dampak buruk covid-19 (3) Menjaga penyebaran dan penularan covid-19 disatuan pendidikan
(4) Memastikan pemenuhan dukungan psikososial bagi pendidik, peserta didik, dan orangtua
2.2 Kurikulum 2013
Pengertian Kurikulum 2.2.1
Dalam mengartikan Kurikulum, setiap orang, kelompok masyarakat, atau ahli pendidikan dapat mempunyai penafsiran yang berbeda tentang pengertian kurikulum. Berdasaekan studi yang telah dilakukan oleh banyak ahli, dapat disimpulkan bahwa pengertian kurikulum dapat ditinjau dari dua sisi yang berbeda, yakni menurut pandangan lama dan pandangan baru.
Kurikulum berasal dari kata curir yang artinya pelari dam curere artinya tempat terpacu atau tempat lomba. Di Indonesia istilah “Kurikulum” boleh dikatakan menjadi popular sejak tahun lima puluhan yang dipopulerkan oleh mereka yang memperoleh pendidikan di Amerika Serikat. Kini istilah itu sudah dikenal orang diluar pendidikan. Sebelumnya yang lazim digunakan ialah
“rencana pelajaran”. Pada hakikatnya kurikulum sama artinya dengan rencana pelajaran.
Menurut pandangan lama, atau sering juga disebut pandangan tradisional, merumuskan bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh peserta didik untuk memperoleh ijazah dan mempunyai systempenyampaian yang digunakan oleh guru adalah system penuangan (imposisi). Akibatnya, dalam proses mengajar gurulah yang lebih banyak bersikap aktif, sedangkan peserta duduk hanya bersifat pasif belaka serta adanya aspek keharusan bagi setiap peserta didik untuk mempelajari mata pelajaran yang sama.
Akibatnya, faktor minat dan kebutuhan peserta didik tidak dipertimbangkan dalam penyusunan kurikulum.
Kurikulum 2013 adalah merupakan tindak lanjut dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang pernah diujicobakan tahun 2006. KTSP dijadikan acuan atau pedoman bagi pelaksanaan pendidikan dalam mengembangkan kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampian secara terpadu, sebagaimana UU. 20 Tahun 2003 tentang System Pendidikan Nasional pada penjelasan pasal 35, dimana kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati.
Karakteristik Kurikulum 2013 2.2.2
Berdasarkan salinan lampiran Permendikbud No. 69 Tahun 2013 tentang Kurikulum dirancang dengan karakteristik sebagai berikut:
(1) Mengembangkan keseimbangan antara pengembangan sikap spriritual dan sosial, rasa ingin tahu, kreativitas, kerja sama dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik.
(2) Sekolah merupakan bagian dari masyarakat yang memberikan pengalaman belajar terencana, selanjutnya peserta didik menerapkan ilmu yang didapat dari sekolah ke masyarakat dan memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar.
(3) Mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik, sehingga dapat menerapakannya dalam berbagai situasi di sekolah dan masyarakat.
(4) Memberi waktu yang cukup leluasa untuk mengembangkan berbagai sikap, pengetahuan dan keterampilan.
(5) Kompetensi tertuang dalam bentuk kompetensi inti kelas yang tercantum lebih lanjut dalam kompetensu dasar mata pelajaran.
(6) Kompetensi inti kelas menjadi unsur pengorganisasi (organizing elements) kompetensi dasar, selanjutnya semua kompetensi dasar dan proses pembelajaran dikembangkan, sehingga dapat mencapai kompetensi yang dinyatakan dalam kompetensi inti.
(7) Kompetensi dasar berkembang pada prinsip akumulatif, saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antar matapelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal).
Tujuan Kurikulum 2013 2.2.3
Menurut E. Mulsya (2006) Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatis dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan peadaban dunia. Dalam hal ini, pengembangan kurikulum difokuskan pada
pembentukan kompetensi dan karakter peserta didik, berupa paduan pengetahuam, keterampilan, dan sikap yang dapat di demontrasikan peserta didik sebagai wujud pemahaman terhadap konsep yang dipelajarinya secara konseptual.
Fungsi Kurikulum 2.2.4
Setiap pendidikan baik formal maupun nonformal dalam penyelenggaraan kegiatan sehari-harinya berlandaskan kurikulum. Salah satu fungsi kurikulum adalah fungsi penyesuaian gunanya untuk membantu individu agar mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara menyeluruh. Kurikulum itu sendiri dalam hal ini berupa (a) rancangan Kurikulum, yaitu buku kurikulum suatu lembaga pendidikan; (b) pelaksanaan kurikulum, yaitu proses pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan; dan (c) evaluasi kurikulum , yaitu penilaian atau penelitian hasil-hasil pendidikan. Dalam lingkup pendidikan formal kegiatan merancang, melaksanakan, menilai krikulum tersebut yaitu yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan dilaksanakan sebagai program pengajaran.
Landasan Pengembangan Kurikulum 2.2.5
Menurut E. Mulyasa (2014), pengembangan kurikulum 2013 dilandasi secara filosofis, yuridis dan konseptual sebagai berikut:
(1) Landasan filosofis
a. Filosofis pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik dan masyarakat
b. Kurikulum orientasi pada pengembangan kompetensi (2) Landasan Yuridis
a. RPJMN 2010-2014 SEKTOR PENDIDIKAN tentang Perubahan Metodologi Pembelajaran dan Penataan Kurikulum
b. PP No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Pendidikan
c. INPRES No. 1 Tahun 2010, tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional. Penyempurnaan kurikulum dan metode belajar aktif berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing dan karakter bangsa.
(3) Landasan Konseptual
a. Relevansi Pendidikan (Link and match) b. Kurikulum berbasisi kompetensi dan karakter
c. Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) d. Pembelajaran aktif (student active learning)
e. Penilaian yang valid, utuh, dan menyeluruh 2.3 Kurikulum Darurat Covid-19
Pengertian Kurikulum Darurat Covid-19 2.3.1
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013, kurikulum merupakan seperangkat rencana dan peraturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertebntu. Tujuan pendidikan tertentu yakni tujuan pendidikan nasional berupa penyesuaian program-program pendidikan dengan potensi dan kondisi daerah.
Sering berkembangnya teknologi dunia, pendidikan dituntut untuk dapat beradaptasi terhadap perkembangan tersebut. Pendidikan mengatur kurikulum yang menitik beratkan pada keahlias peserta didik. Kurikulum tersebut dinamai dengan Kurikulum 2012 atau K-13. Kurikulum 2013 merupakan penyempurnaan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) yang dirasa belum mencapai tujuan dari pendidikan nasional.
Kurikulum 2013 menekankan pada aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif yang direalisasikan berupa pemahaman peserta didik terhadap konsep yang telah dipelajari. Kurikulum ini bertujuan untuk mempersiapkan generasi-generasi yang beriman, kreatif, inovatif, dan produktif yang mampu beradaptasi dengan masyarakat pada perkembangan zaman yang semakin pesat.
Kurikulum memiliki karakteristik dapat menyesuaikan kebutuhan dan perkembangan zaman. Semakin berkembanganya dunia pendidikan, maka kebutuhan-kebutuhan seperti ketercapaiannya kualitas dan kuantitas pendidikan akan semakin dituntut. Dunia saat ini dihadapkan pada situasi pandemi corona virus disease-2019 (covid-19) yang mengakibatkan , terjadinya perubahan secara besar-besaran pada segala aspek kehidupan terutama pada aspek pendidikan.
Pandemi Corona virus disease-2019 (covid-19) mengharuskan penutupan tempat- tempat umum dan diberlakunya physical distancing agar penyebaran virus ini dapat dikendalikan. Kondisi demikian mengharuskan seluruh aktivitas masyarakat dilakukan secara jarak jauh atau daring dengan menggunakan teknologi.
Pandemi Corona Virus disease-2019 (Covid-19) menuntut pembelajaran di Indonesia di lakukan secara jarak jauh atau daring. Sistem pembelajaran jarak jauh atau daring menjadi salah satu upaya pemerintah guna mencegah penularan covid-19 pada siswa-siswi. Pemerintah berusaha melakukan inovasi pada dunia pendidikan dengan mengatur dan menerbitkan Kurikulum Darurat Covid-19 (dalam kondisi khusus) untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran jarak jauh atau daring. Kurikulum Darurat bukanlah kurikulum baru, meliankan adalah bentuk sederhana dari kurikulum 2013 yang disesuaikan pada kondisi pandemi
saat ini dengan mengurangi beberapa kompetensi dasar pada setiap mata pelajaran. Kondisi khusus memiliki arti suatu kondisi di mana pemerintah pusat atau daerah menetapkan sedang berlangsungnya suatu becanda. Kurikulum ini dimaksudkan agar kegiatan pembelajaran tetap terlaksana meskipun dalam kondisis pandemi dengan berbagai kendala yang menyertai. Selain itu, dengan adanya Kurikulum Darurat Covid-19, tujuan-tujuan pendidikan nasional tetap dapat tercapai.
Dasar Hukum Kurikulum Darurat Covid-19 2.3.2
Dasar hukum kurikulum darurat atau dalam kondisi khusus sebagai berikut:
(1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3271).
(2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301).
(3) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4723)
(4) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063).
(5) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang- Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679).
(6) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 128, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6236).
(7) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 191, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6404).
(8) Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1991 tentang Penggulangan Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1991 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3447).
(9) Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 124, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4769).
(10) Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4828 Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5105)sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas).
(11) Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan (Lembaran Negara Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5157).
(12) Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2020 tentang Komite Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dan Pemulihan Ekonomi Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 178).
(13) Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 33 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2019 nomor 1258).
(14) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Ranga Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 326).
Prinsip-prinsip Kurikulum Darurat Covid-19 2.3.3
Prinsip-prinsip Kurikulum Darurat atau Dalam Kondisi Khusus tetap dilaksanakan sesuai dengan kurikulum nasional. Prinsip-prinsip tersebut antara lain:
(1) Aktif
Pembelajaran mendorong peserta didik untuk berpartisipasi penuh dalam perkembangan belajar mereka, belajar bagaimana mereka dapat belajar, merefleksikan pengalaman belajar, dan menanamkan pola pikir yang semakin meningkat.
(2) Relasi sehat antar pihak yang terlibat
Pembelajaran mendorong semua pihak yang berkepentingan untuk memiliki harapan yang tinggi terhadap perkembangan belajar peserta didik, apapun latar belakang peserta didik yang beragam dapat menimbulkan rasa aman, saling menghormati, saling percaya dan peduli.
(3) Inklusif
Pembelajaran tanpa diskriminasi suku, agama ras dan antar golongan, tidak membeda-bedakan siswa mana pun, termasu siswa berkebutuhan khusus/penyandang disabilitas, dan memberi mereka ruang untuk identitas, kemampuan, minat, bakat dan kebutuhan untuk berkembang.
(4) Keragaman Budaya
Pembelajaran mencerminkan dan menanggapi budaya Indonesia yang beragam, yang memungkinkan untuk menggambarkan pengalaman yang beragam dan menghormati nilai serta budaya.
(5) Berorientasi Sosial
Mendorong peserta didik untuk menafsirkan dirinya sebagai bagian dari lingkungan yang melibatkan keluarga dan masyarakat.
(6) Berorientasi pada masa depan
Pembelajaran mendorong peserta didik untuk menyelidiki permasalahan dan kebutuhan masa depan sebagai warga lokal yang bertanggung jawab.
(7) Sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan peserta didik
Pembelajaran disesuaikan dengan tahapan dan kebutuhan, fokus pada penguasaan kemampuan, dan berpusat pada peserta didik untuk membangun rasa percaya diri.
(8) Sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan peserta didik
Pembelajaran sesuai dengan tahapan dan kebutuhan, fokus pada penguasaan kemampuan, dan berpusat pada peserta didi untuk membangun rasa percaya diri.
(9) Menyenangkan
Pembelajaran mendorong peserta didik untuk menumbuhkan jiwa tertantang pada pembelajaran sehingga dapat memotivasi diri, aktif dan kreatif, serta bertanggung jawab atas kesepakatan bersama.
Tujuan Kurikulum Darurat Covid-19 2.3.4
Kurikulum Darurat Covid-19 memiliki tujuan, antara lain:
(1) Memberikan kebebasan kepada satuan pendidikan untuk menentukan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
(2) Mengurangi beban pendidik dalam mengimpelentasikan kurikulum nasional.
(3) Mengurangi beban peserta didik terkait dengan penentuan kenaikan kelas dan kelulusan.
Perencanaan Pembelajaran Pada Kurikulum Darurat Covid-19 2.3.5
Kurikulum darurat pada hakikatnya sama dengan kurikulum nasional(Kurikulum 2013). Akan tetapi pada Kurikulum Darurat dilakukan penyederhanaan dengan mengurangi beberapa kompetensi dasar pada setiap mata pelajaran. Perencanaan pembelajaran merupakan tahan awal pembelajaran yang berbentuksilabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Perencanaan Pembelajaran meliputi penyusunana RPP, penyiapan media dan sumber belajar, perangkat penilaian pembelajaran, dan program pembelajaran. Penyusunan silabus dan RPP disesuaikan dengan metode yang digunakan dalam pembelajaran.
(1) Silabus
Silabus merupakan acuan dalam menyusun kerangka pembelajaran untuk setiap mata pelajaran. Silabus berisi:
a. Identitas mata pelajaran
b. Identitas sekolah meliputi satuan pendidikan dan kelas
c. Kompetensi inti, adalah gambaran tentang sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang harus dipelajari siswa dalam pembelajaran.
d. Kompetensi dasar, adalah kemampuan tertentu yang meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang berkaitan dengan mata pelajaran.
e. Tema
f. Materi pokok memuat fakta, konsep, prinsip, prosedur yang relevan, dan disusun dalam bentuk point-point sesuai indikator pencapaian kompetensi.
g. Pembelajaran, yakni kegiatan yang dilakukan pendidik dan peserta didik agar dapat mencapai kompetensi.
h. Penilaian, yakni proses pengumpulan dan pengolahan informasi sebagai penentuan capaian hasil belajar peserta didik.
i. Alokasi waktu sesuai dengan jumlah jam pelajaran pada kurikulum dalam satu semester atau satu tahun.
j. Sumber belajar dapat berupa buku, media cetak, media elektronik, lingkungan, atau sumber belajar lain yang relevan.
k. Silabus dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi bagi satuan pendidikan dasar dan menengah sesuai dengan konsep pembelajaran.
(2) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan rencana pembelajaran yang dirancang dan dikembangkan dengan mengkaji silabus. Setiap pendidik di setiap satuan pendidikan wajib menyusun dan mengembangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada setiap awal semester atau tahun ajaran. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) bertujuan agar pembelajaran dapat berlangsung secara interaktif, inspiratif, dan inovatif sehingga motivasi peserta didik dapat terbentuk dengan baik. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) meliputi beberapa hal berikut ini:
a. Identitas sekolah, mata pelajaran, dan kelas/semester b. Materi pokok
c. Alokasi waktu, ditentukan sesuai dengan kebutuhan pencapaian Kompetensi Dasar (KD) dan beban belajar dengan memperhatikan jam pelajaran pada silabus dan Kompetensi Dasar (KD)
d. Tujuan pembelajaran didasarkan pada Kemampuan Dasar (KD), menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
e. Kompetensi Dasar (KD) dan indikator pencapaian.
f. Materi pembelajaran, memuat fakta, konsep, prinsip, prosedur yang relevan, dan disusun dalam bentuk poin-poin sesuai dengan indicator pencapaian kompetensi.
g. Metode pembelajaran digunakan untuk menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik dapat mencapai Kompetensi
Dasar (KD) sesuai dengan karakteristik dan Kompetensi Dasar (KD) yang ingin dicapai oleh peserta didik.
h. Media pembelajaran, berupa alat bantu untuk menyampaikan materi pembelajaran.
i. Sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak, media elektronik, lingkungan, dan sumber belajar lain yang relevan.
j. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran, dilakukan melalui tahapan pendahuluan, inti, dan penutup.
k. Penilaian hasil belajar.
Sebelum menyusun dan mengembangkan RPP, harus memperhatikan beberapa prinsip berikut:
a. RPP disusun oleh pendidik berdasarkan silabus yang kemudian dituangkan pada rancangan proses pembelajaran untuk diimplementasikan pada pembelajaran.
b. RPP disusun oleh pendidik yang disesuaikan dengan kondisi satuan pendidikan.
c. Mendorong peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran d. Proses pembelajaran dalam RPP dipusatkan pada peserta didik untuk
mengembangkan minat, bakat, dan kreativitas belajar.
e. Mengembangkan budaya membaca dan dituangkan dalam bentuk tulisan
f. Memberikan umpan balik dan tindak lanjut sebagai bagian dari evaluasi
g. RPP disusun dengan memperhatikan keselarasan antara Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD), materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian.
h. RPP disusun dengan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.
Pelaksanaan Kurikulum Darurat Covid-19 Pada Pembelajaran 2.3.6
Konsep dari Kurikulum Darurat secara garis besar sama dengan kurikulum 2013. Kurikulum ini memberikan kebebasan kepada sekolah untuk mengatur dan melaksanakan rencana pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Pelaksanaan Kurikulum Darurat atau Dalam Kondisi Khusus harus memperhatikan capaian kompetensi pada kurikulum, kebermaknaan dan kebermanfaatan pembelajaran untuk pendidikan sekolah menengah atas. Satuan pendidikan pada kondisi khusus dalam pelaksanaan pembelajaran dapat:
(1) Tetap mengacu pada kurikulum nasional yang selama ini dilaksanaan oleh satuan pendidikan
(2) Mengacu pada:
a. Kurikulum nasional untuk PAUD, pendidikan dasar dan pendidikan menengah yag berbentuk sekolah menengah atas dengan kompetensi inti dan kompetensi dasar yang disederhanakan untuk kondisi khusus yang ditetapkan oleh Kepala Badan Penelitian dan Pembangunanan dan Perbukuan.
b. Kurikulum nasional untuk pendidikan menengah yang berbentuk sekolah menengah kejuruan dengan kompetensi inti dan kompetensi dasar yang
disederhanakan untuk kondisi khusu yang ditetapkan oleh Direktur Jendral Pendidikan Vokasi.
(3) Melakukan penyederhanaan secara mandiri.
Pelaksanaan kurikulum darurat atau dalam kondiris khusus pada pembelajaran daring tidak jauh berbeda dengan pelaksanaan kurikulum nasional (kurikulum 2013). Pada kurikulum darirat, pembelajaran dilakukan secara jarak jauh atau daring dengan memberikan fleksibilitas baik tempat maupun waktu bagi pendidik dan peserta didik. Pelaksanaan kurikulum dalam pembelajaran, sejatinya adalah bentuk dari implementasi RPP yang meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.
a. Kegiatan pendahuluan
Dalam kegiatan pendahuluan, pendidik:
(i) Memulai kegiatan pembelajaran dengan salam dan mempersiapkan peserta didik dngan mengingatkan jadwal mata pelajaran melalui online berupa E-learning, Google Classroom, Google Meeting, Zoom Meeting, grup WhatsApp, dan media lainnya sesuai dengan kondisi peserta)
(ii) Memberikan motivasi kepada peserta didik sesuai dengan manfaat materi pada kehidupan seharihari
(iii) Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan materi pada pembelajaran sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari (iv) Melakukan doa bersama-sama peserta didik
(v) Menjelaskan jalannya kegiatan pembelajaran
b. Kegiatan inti
Dalam kegiatan inti, pembelajaran menggunakan metode, media, dan sumber belajar yang disesuaikan degan kondisi peserta didik. Kegiatan ini berpedoman pada pendekatan tematik, inkuiri, santifik atau pembelajaran yang menghasilkan suatu karya atau produk dengan berpedoman pada kurikulum nasional.
(i) Sikap
Sesuai dengan karakteristik sikap, maka salah satu alternatif yang dipilih adalah proses afeksi mulai dari menerima, melakukan, menghargai, menghayati, hingga mengamalkan.
(ii) Pengetahuan
Pengetahuan diperoleh melalui kegiatan mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, hingga mencipta.
Karakteristik aktivitas belajar pada aspek pengetahuan ini memiliki perbedaan dan kesamaan dengan aktivitas belajar pada aspek keterampilan. Untuk memperkuat pendekatan saintifik, tematik terpadu, dan tematik disarankan untuk menerapkan belajar berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning). Untuk mendorong peserta didik menghasilkan harya kreatif dan kontekstual, baik individual maupun kelompok, disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning).
(iii) Keterampilan
Keterampilan diperoleh melalui kegiatan mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta. Agar dapat mewujudkan keterampilan tersebut, perlu menerapkan pembelajaran yang berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning) dan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning).
c. Kegiatan penutup
Dalam kegiatan penutup, pendidik dan peserta didik bersama-sama melakukan:
(i) Refleksi dan evaluasi terkait jalan dan hasil dari pembelajaran yang telah dilaksanakan
(ii) Tindak lanjut berupa pemberian tugas dengan batas waktu pengumpulan
(iii) Menutup pembelajaran dengan doa dan salam
2.4 Pengembangan Rencana Pelaksanaan (RPP) Pembelajaran Daring Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan pegangan bagi guru dalam pelaksanaan pembelajaran dengan mode apapun untuk setiap Kompetensi Dasar (KD). Oleh karena itu, apa yang tertuang dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) memuat hal-hal langsung yang berkaitan dengan aktivitas pembelajaran dalam upaya pencapaian penguasaan suatu Kompetensi Dasar (KD) yang sesuai dengan mode pembelajaran yang digunakan.