6 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Macam-macam Cara Pandang TentangKomunikasi
Stuart dalam (Nurudin, 2016: 8), komunikasi berasal dari kata communico (berbagi) dan berkembang ke bahasa latin communis yang berarti membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang ataupun lebih).
Dapat disimpulkan komunikasi itu berbagi, kebersamaan atau pemahaman dan pesan. Collin Cherry juga mengatakan bahwa komunikasi adalah penggunaan lambang untuk mendapatkan kesamaan makna, sebuah informasi tentang sebuah kejadian ataupun objek. Sedangkan menurut Claude Shannon dan Warren Weaver komunikasi merupakan sebuah bentuk interaksi manusia yang mempengaruhi satu sama lain secara sengaja maupun tidak sengaja.
Dari beberapa definisi komunikasi diatas maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah sebuah proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan dengan maksud berbagi pemahaman yang dipilah sedemikian untuk dapat membuat komunikan paham akan makna yang dimaksudkan dan mempengaruhi satu sama lain.
Effendy (2009:11-16) komunikasi terbagi menjadi dua proses, yakni : 1. Proses Komunikasi Primer
Proses Komunikasi primer adalah dimana dalam proses ini penyampaian pesan menggunakan menggunakan symbol. Simbol yang dimaksud disini adalah isyarat, warna, bahasa, kial, dan lain sebagainya yang dimana mampu menejemahkan pesan dari komunikator ke komunikan.
2. Proses Komunikasi Sekunder
Proses Komuniaksi sekunder adalah proses penyampaian pesan komunikasi oleh satu orang kepada orang lain yang menggunakan alat atau sarana yang digunakan sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Seseorang komunikator menggunakan media kedua dalam memperlancar sebuah komunikasi karena komunikan sebagai sasaran berada di tempat yang relatif jauh dan memilki jumlah yang banyak. Contoh media
7 kedua adalah surat, telepon, surat kabar, majalah, radio, televisi, film, dan lain sebagainya.
2.1 Macam-Macam Konteks atau Level Komunikasi
Ilmu komunikasi di dalamnya sangat luas pengijabarannya karena dalam ilmu komunikasi yang dibahas tidak sedikit, banyak macam-macam aspek di dalam konteks dan level komunikasi seperti, tipe-tipe komunikasi, tujuan komunikasi, model-model komunikasi dan faktor penentu keberhasilan komunikasi.
2.1.1 Tipe-tipe Komunikasi
Menurut Nurudin pada buku Ilmu Komunikasi Ilmiah dan Populer komunikasi memiliki empat tipe di antaranya komunikasi dengan diri sendiri, komunikasi antarpribadi, komunikasi publik dan komunikasi massa.
A. Komunikasi dengan diri sendiri (intrapersonal communication) Komunikasi dengan diri sendiri adalah komunikasi yang dilakukan dengan dirinya sendiri seperti berdialog dan menerka-nerka atau bahkan bertanya dengan diri sendiri serta menjawab pertanyaannya sendiri. Seperti contoh saat anda melihat pengemis di jalan diia hanya duduk di lampu merah tanpa mendatangi mobil-mobil yang berhenti, anda bertanya-tanya mengapa dia tidak berdiri lalu berjalan menghampiri mobil-mobil yang sedang berhenti? Mengapa dia hanya duduk saja? Apakah dia pengemis yang pemalas? Apakah dia tertidur?, anda sedang menerka-nerka bukan dengan semua pertanyaan yang ada di pikiran anda?
Setelah beberapa kali mengamati anda akhirnya tahu bahwa pengemis itu ada masalah dengan kakinya atau kelainan pada kakinya. Dari itu pasti secara otomatis anda menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan yang ada di pikiran anda. Oh ternyata kakinya tidak normal karena itu dia hanya duduk di samping jalan sambil tangannya menengadah. Cerita di atas bisa memperjelas apa yang di maksud dengan komunikasi dengan diri sendiri, dimana individu bisa berdialog atau berkomunikasi dengan bertanya dan menjawabnya sendiri sehingga dapat memberi arti pada suatu objek yang diamatinya. Dalam konteksnya komunikasi intrapersonal merupakan cara seseorang untuk menerima pesan, mengelola pesan,
8 menyimpan pesan dan menghasil sebuah efek atau dampak jika dilakukan secara berulang-ulang.
B. Komunikasi antarpribadi (interperonal communication)
Komunikasi antarpribadi adalah komunikasi yang di lakukan antara dua orang atau lebih secara bertatap muka. Komunikasi interpersonal merupakan proses komunikasi dari seorang komunikator kepada pihak lain dengan jumlah komunikator yang juga terbatas. Komunikasi antarpribadi menginginkan pesan dapat tersampaikan dan menciptakan sebuah hubungan dengan seseorang yang notabenanya adalah komunikan.
Komunikasi interpersonal sangat penting dilakukan agar antar pribadi dapat bergaul, berbagi informasi, dan menjalin sebuah kerja sama untuk bertahan hidup. Menurut R.Wayne Pace “interpersonal communication is communication involving two or more people in face to face communication”. Bahwa komunikasi dilakukan lebih dari dua orang dalam bertatap muka. Tidak dijelaskan secara pasti jumlah orang yang terlibat.
Maka dari itu dalam buku Ilmu Komunikasi Ilmiah dan Populer karangan Nurudin komunikasi antarpribadi dapat dibagi menjadi dua yaitu komunikasi diadik dan komunikasi kelompok kecil.
1) Komunikasi Diadik
Komunikasi diadik adalah komunikasi anatara dua orang dalam keadaaan tatap muka.
2) Komunikasi Kelompok Kecil
Komunikasi kelompok kecil adalah proses komunikasi yang terjadi atau berlangsung antara tiga orang atau lebih dalam keadaan tatap muka dan saling berinteraksi satu sama lain.
Adapun ciri komunikasi antarpribadi yaitu : a) Komunikasi di lakukan dengan tatap muka.
b) Pembicaraan terjadi secara sepotong-sepotong.
c) Kedudukan sama atau hampir sama, tidak ada yang mendominan.
d) Sumber dan penerima sulit untuk dibedakan.
Beberapa tujuan komunikasi interpersonal menurut DeVito yaitu sebagai berikut:
9 a. Mampu mempelajari secara lebih dalam sebuah peristiwa, objek dan
orang lain. Meskipun peristiwa tersebut disiarkan melalui media massa hal ini dapat didiskusikan, dipelajari, diinternalisasi dengan komunikasi interpersonal
Dengan komunikasi interpersonal juga dapat mengevaluasi keadaan untuk dibandingkan dengan kondisi sosial orang lain.
b. Memeliharan sebuah hubungan dan mengembangkan sebuah keakraban dengan orang lain. Dalam komunikasi interpersonal juga dapat menumbuhkan rasa cinta serta kasih sayang.
c. Dapat mempengaruhi sikap dan perilaku orang lain. Kegiatan mempengaruhi memiliki peranan penting bagi pengawas pendidikan yang bertugas melakukan pembinaan kepada orang lain.
d. Untuk menghibur diri karena dengan berkomunikasi interpersonal dapat membagikan kisah-kisah yang terjadi dikeseharian kepada orang lain agar melepaskan beban pikiran serta bermain.
C. Komunikasi publik (public communication)
Komunikasi publik adalah pertukaran pesan dengan sejumlah orang atau banyak orang secara tatap muka atau melalui media. Jika sulit untuk mengartikan bisa dipahami dari contoh amati kampanye pemilihan kepala desa, karena kandidat pasti akan berpidato tentang visi dan misinya untuk menjadi kepala desa dengan tujuan mempersuasi agar masyarakat memilihnya. Itulah komunikasi publik yang sering disebut sebagai public speaking atau komunikasi khalayak.
D. Komunikasi massa (mass communication)
Menurut Rakhmat pada buku Winarni dalam judul Komunikasi Massa (2003:6) Komunikasi massa adalah jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. Dalam komunikasi massa khalayak bersifat heterogen yang berasal dari orang-orang yang memiliki pekerjaan berbeda, usia, adat, kebiasaan dan kebudayaan yang berbeda satu dengan lainnya.
10 Menurut Nurudin media masaa memiliki karakteristik yaitu:
Komunikasi dalam komunikasi massa melembaga, dalam komunikasi massa tidak hanya terdiri dari satu orang namun berisi sekumpulan orang.
Gabungan berbagai macam unsur yang tergabung didalam sebuah lembaga. Lembaga yang terikat dalam sebuah sistem teridir dari sekelompok orang, pendoman dan media yang melakukan sebuah kegiatan mengolah, menyimpan, menuangkan sebuah ide, gagasan simbol menjadi sebuah pesan dalam membuat pesan yang menjadi sebuah keputusan untuk menuju kesepakatan serta pengertian satu sama lain.
2.1.2 Tujuan Komunikasi
Menurut Joseph A. Devito pada buku Nurudin, (2016:103) ada setidaknya empat tujuan seseorang berkomunikasi yaitu:
1) Menemukan.
Maksudnya disini adalah menemukan jati diri, semakin sering seseorang berkomunikasi dengan individu lainnya membuat seseorang semakin tahu apa yang harus dilakukan baik ke dirinya sendiri maupun lingkungannya.
Hal ini dilakukan untuk memudahkan dirinya menempatkan diri dilingkungan sekitarnya.
2) Berhubungan
Berhubungan adalah salah satu motivasi dalam berkomunikasi.
Komunikasi yang baik maka akan membentuk hubungan yang baik pula.
Hubungan yang dimaksud bisa hubungan pertemanan, hubungan cinta atau romatis, hubungan keluarga dan lain-lain.
3) Meyakinkan
Tujuan komunikasi tentu juga harus meyakinkan karena agar pesan yang kita sampaikan dipercaya oleh komunikan kita. Tak jarang juga seseorang memberikan pesan yang kesannya berlebihan karena penting untuk meyakinkan atau membuat komunikan percaya dan sependapat. Iklan pun pesan yang di sampaikan harus semeyakinkan mungkin untuk mempersuasif masyarakat agar mau atau ingin barang atau jasa yang diiklankan.
11 4) Bermain
Bermain yang dimaksud disini adalah lelucon atau sesuatu yang menyenangkan diselipkan pada komunikasi yang dilakukan agar pasangan komunikasi kita tertarik dengan apa yang kita bicarakan atau pesan yang kita sampaikan. Jadi interaksi komunikasi yang dilakukan menjadi menyenangkan.
5) Membentuk Citra Diri
Cintra diri sangat penting untuk dibangun saat berkomunikasi atau berinteraksi dengan lawan komunikasi. Karena citra diri adalah cerminan bagaimana orang memperlakukan kita. Jika citra diri kita buruk maka lawan komunikasi kita tidak akan tertarik berkomunikasi dengan kita dan komunikasi yang kita lakukan tidak akan berjalan menyenangkan.
6) Mempresuasi
Tentu saja komunikasi memiliki tujuan mempersuasi, seperti yang sudah dijelaskan di point meyakinkan. Kita dalam menyampaikan pesan untuk mempersuasi dengan tujuan agar sependapat atau tertarik dengan apa yang kita sampaikan.
2.2.3 Model-Model Komunikasi A. Model Komunikasi Linear
Menurut Laswell, 1948 pada buku Julia (2013:09) menjelaskan bahwa komunikasi sebagai proses linear, satu arah, di mana satu orang bertindak atas orang lain. Model terdiri dari lima pertanyaan yang menjelaskan pandangan awal mengenai bagaimana komunikasi bekerja:
Siapa?
Mengatakan apa?
Dalam saluran apa?
Kepada siapa?
Dengan efek apa?
Inilah kelemahan utama model linear dalam kegiatan berkomunikasi karena komunikasi hanya mengalir ke satu arah dari pengirim pesan ke penerima. Hal ini yang menunjukan bahwa berbicara tanpa mendengar dan
12 pendengar hanya mendengar tanpa mengirimkan pesan, dengan kata lain komunikator sangat mendominasi pembicaraan.
B. Model Interaksional
Model komunikasi interaksional (Shcramm, 1955) untuk mengadaptasi model linear tersebut dengan memasukkan umpan balik (feedback). Umpan balik bisa berupa verbal, nonverbal, atau keduannya, dan mungkin sengaja atau tidak sengaja. Peneliti telah mengonfirmasikan wawasan Schramm bahwa umpan balik adalah penting. Para penyelia melaporkan nahwa keakuratan komunikasi dan produktifitas kerja meningkat ketika mereka mendorong bawahannya untuk memberikan umpan balik atas pesan penyelia dan merespon komunikasi pengawasan (Deal & Kennedy, 1999).
C. Model Transaksional
Dalam model interaktif mereka tidak mengakui bahwa semua orang terlibat dalam komunikasi, sama-sama mengirim dan menerima pesan sering kali secara bersamaan. Model ini menjadikan komunikator bisa saja menjadi komunikan dan sebaliknya secara terus menerus sampai tak mempunyai ujung.
2.3 Komunikasi Interpersonal dan Biseksual
Biseksual adalah salah satu orientasi seks yang berbeda pada pada umumnya. Definisi Biseksual Krafft-Ebing, salah seorang seksologis Jerman menyebut biseksual dengan sebutan psychosexual hermaphroditism yaitu eksistensi dua seks biologis dalam satu spesies atau kejadian yang merupakan kebetulan dari karakteristik pria dan wanita dalam satu tubuh. Sinyo dalam bukunya yang berjudul
“Anakku Bertanya Tentang LGBT” istilah biseks atau biseksual digunakan kepada orang yang mempunyai bisexsual orientation. Yaitu ketertarikan seks kepada sesama jenis dan lawan jenis secara bersamaan. Biseksual juga mewakili identitas seksual dalam kehidupan masyarakat selain heteroseksual dan gay.
Dalam pengertiannya biseksual adalah orientasi seks dimana laki-laki atau perempuan menyukai keduanya secara psikolongis, emosional, estetis dan seksual.
Zaman sekarang orientasi biseksual bisa dimanipulasi dengan mencari orang- orang yang sudah transgender. Contoh saja laki-laki mempunyai pasangan
13 perempuan tetapi dia juga menjalin hubungan dengan transgender (laki-laki ke perempuan) dan sebaliknya.
Para biseksual yang menjadi ibu rumah tangga biasanya lebih aktif dalam mencari pasangan sesama jenisnya dari pada yang menjadi pasangnnya sekarang.
Karena status istri dari pada seseorang yang sedikit menghambat dia untuk mencari pasangan sejenisnya, logikanya siapa yang mau menjalin hubungan dengan istri orang. Maka dalam membangun hubungan banyak ibu rumah tangga yang lebih ekspresif dan produktif dalam berkomunikasi untuk menjaga agar dia tetap dapat diterima dan akhirnya calon pasangannya memutuskan untuk menjalin hubungan dengannya. Tetapi kemungkinan-kemungkinan lain bisa saja terjadi, maka dari itu peneliti mencari sisi lain dari hal yang terjadi pada biasanya. Ibu rumah tangga yang biasanya cocok dengan yang berlabel Buci (Lesbian yang menjadi laki-laki) malah beberapa menyukai yang berlabel Fhemm (Lesbian yang menjadi Feminim) atau Andro (Gabungan dari buci dan fhemm).
Secara umum komunikasi interpersonal merupakan komunikasi yang berlangsung dalam situasi tatap muka antara dua orang atau lebih, baik secara terorganisasi maupun pada kerumunan orang. Berikut tiga pendekatan utama mengenai pemikiran komunikasi interpersoal.
1) Pemikiran komunikasi interpersonal berdasarkan komponen-komponen utamanya.
Penyamaian pesan oleh seseorang dan penerima pesan orang lain atau suatu kelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan peluang untuk memberikan umpan balik (feedback) secara langsung. Pemikiran ini dikemukakan oleh Bitter (1985:10) yang menerangkan bahwa komunikasi interpersonal berlangsung apabila pengirim menyampaikan inforfamsi berupa kata-kata kepada penerima dengan menggunakan medium suara seseorang. Sementara Barnlund mengartikan komunikasi interpersonal antara dua orang atau lebih sangat spontan dan tidak berstruktur. Barnlund mengemukakan beberapa ciri untuk mengenali komunikasi interpersonal, sebagai berikut:
a. Bersifat Spontan.
b. Tidak mempunyai struktur.
14 c. Terjadi seacara kebetulan.
d. Tidak mengejar tujuan yang telah direncanakan.
e. Identitas pelaku interpersonal keanggotaannya tidak jelas.
f. Dapat terjadi hanya sambil lalu.
2) Komunikasi Interpersonal berdasarkan hubungan diadik.
Hubungan diadik mengartikan komunikasi interpersonal sebagai komunikasi yang berlangsung di antara dua orang yang mempunyai hubungan yang jelas.
komunikasi tatap muka antara ibu rumah tangga biseks dengan pasangannya, itulah contoh hubungan diadik. Definisi hubungan diadik ini dapat dilebarkan sehingga bisa mencakup sekelompok kecil orang.n diadik diharuskan menggambarkan interaksi dan pengalaman bersama mereka.
Laing, Phillipson, dan Lee, (1991:117) mengatakan bahwa memahami prilaku seseorang harus mengikutsertakan paling tidak dua orang peserta dalam situasi bersama. Hubungan diadik ini harus menggambarkan interaksi dan pengalaman mereka bersama.
3) Pendekatan komunikasi Interpersonal berdasarkan pengembangan.
Komunikasi interpersonal dilihat sebagai perkembangan dari komunikasi impersonal pada satu sisi, menjadi komunikasi pribadi atau intim. Oleh karena itu derajat hubungan Interpersonal turut berpengaruh terhadap keluasan dan kedalaman informasi yang dikirimkan sehingga memudahkan perubahan sikap. Gerald Miller dan M. Steinberg (1998:274) berpendapat komunikasi interpersonal dalam pengertian penetrasi. Semakin banyak komunikator mengetahui satu sama lain, maka semakin banyak karakter interpersonal yang terbawa di dalam komunikasi tersebut.
Everett M. Rogers dalam buku Wiryanto, MA mengartikan bahwa komunikasi interpersonal merupakan komunikasi dari mulut ke mulut yang terjadi dalam interaksi tatap muka antara beberapa pribadi. Ciri-ciri komunikasi interpersonal menurut Rogers adalah:
a) Arus pesan cenderung dua arah.
b) Konteks komunikasinya dua arah.
c) Tingkat umpan balik yang terjadi tinggi.
15 d) Kemampuan mengatasi tingkat selektivitas, terutama
selektivitas keterpaan tinggi.
e) Kecepatan jangkauan terhadap khalayak yang besar relatif lambat.
f) Efek yang mungkin terjadi adalah perubahan sikap. (Eduard Depari dan Colin MacAndrews, 1995: 17-18)
❖ Efektivitas Komunikasi Interpersonal.
Komunikasi interpersonal dipercaya paling efektif dalam mengubah sikap, pendapat pandangan serta prilaku seseorang. Komunikator dapat mengetahui secara langsung dan pasti apakah komunikannya menanggapi negatif, positif berhasil atau tidak. Jika tidak berhasil maka komunikator dapat memberi kesempatan untuk komunikannya untuk membalas pesannya sampai komunikan puas.
Menurut Kumar (2000:121-122) efektivitas komunikasi interpersonal mempunyai lima ciri yaitu:
a. Keterbukaan, kemauan menanggapi informasi dalam hubungan interpersonal dengan senang hati.
b. Empati, merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.
c. Dukungan, situasi untuk mendukung komunikasi berjalan efektif.
d. Rasa positif, untuk mendorong orang lain untuk aktif berpartisipasi dan menciptakan situasi yang kondusif,
e. Kesetaraan, mengakui secara diam-diam bahwa kedua pihak saling menghargai.
2.4 Relasi Interpersonal
Relasi interpersonal menurut Joseph A De Vito adalah tahapan komunikasi interpersonal dalam membangun hubungan sosial antara dua indivdu atau lebih dari tahapan awal sampai pemutusan atau akhir. Tahapan pada relasi interpersonal merupakan pergerakan dari relasi negatif dan positif. De Vito (1997: 233-235) tahapan relasi interpersonal sebagai proses psikologi komunikasi yang melibatkan
16 aspek emosional dalam pembentukannya. Berikut tahapan-tahapan relasi interpersonal :
1. Kontak
Kontak merupakan tahap awal pada relasi interpersonal dengan memanfaatkan alat indera mempresepsi orang lain yang akhirnya membuat keputusan untuk melanjutkan hubungan atau memutus.
Kualitas kontak dapat dlihat dari kondisi persahabatan, keterbukaan, kehangatan dll.
2. Keterlibatan
Keterlibatan merupakan tahap mengenal lebih dalam atau jauh pada orang yang telah melalui tahap kontak. Seseorang akan lebih mengenal orang lain dan mulai mengungkap tentang dirinya. Jika hubungan yang dibangun adalah hubungan asamara maka akan ada acara ngedate atau kencan. Tetapi jika hubungan yang dibangun adalah hubungan persahabatan maka akan melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama dengan minat yang sama contoh: jalan-jalan ke mall dll.
3. Keakraban
Keakraban merupakan tahap mengikat pada suatu hubungan antar pribadi. Tahap ini disebut juga hubungan primer. Pasangan romantis atau sahabat adalah bentuk nyata dari hubungan pada tahap ini.
Seseorang akan dengan mudah melakukan banyak hal untuk orang lain ataupun menceritakan hal-hal yang bersifat rahasia pada dirinya.
4. Perusakan
Perusakan merupakan tahap yang terjadi jika ada penurunan kualitas hubungan antar pribadi yang akibatnya dapat menjauh satu sama lain dan merasa hubungan yang sesbelumnya terbangun menjadi tidak penting lagi seperti sebelumnya.
5. Pemutusan
17 Pada tahap ini ikatan hubungan sudah berakhir dan diputuskan yang proses awalnya sudah melalui peredaan, marah-marah, keresahan, ketegangan, permusuhan. Jika dalam perkawinan tahap pemutusan berupa perceraian.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teori Penetrasi Sosial untuk mendapatkan jawaban dari teori Relasi Interpersonal. Dimana relasi interpersonal antar pasangan biseksual di kaji dengan teori penetrasi sosial.
Penetrasi sosial nama asli dari teori ini adalah social penetration theory merupakan bagian dari teori pengembangan hubungan atau relationship development theory. Teori penetrasi sosial dikembangkan oleh Irwin Altman dan Dalmas Taylor dalam bukunya yang berjudul Social Penetration: The Delevopment of Interpersonal Relationship (1987). Altman dan Taylor mengatakan bahwa manusia akan memilih keputusan yang didasarkan oleh prinsip
“biaya” (cost) dan “imbalan” (reward), hal ini maksudnya adalah jika seseorang ingin meraih atau mencapai sesuatu dengan biaya yang besar maka diharapkan orang tersebut akan berpikir dua kali untuk melaksanakannya. Namun jika imbalan yang didapat oleh sesuatu yang akan diraih itu maka orang akan melakukannya meskipun biaya yang dikeluarkan juga besar. Bila prinsip ini digunakan maka prosesnya disebut “pertukaran sosial” (social exchange).
Didalam teori pertukaran sosial, interaksi manusia disebut sebagai transaksi ekonomi seseorang akan berusaha memaksimalkan diimbalan dan meminimalisir biaya, tetapi jika teori ini digunakan pada peneterasi sosial maka seseorang tersebut akan memberikan informasi tentang dirinya bila rasio imbalannya bisa diterima. Altman dan Taylor juga mengatakan jika imbalan yang diterima semakin besar dan biaya semakin berkurang, hubungan diantara pasangan tersebut akan semakin intim serta dekat. Informasi yang dibuka pun akan semakin banyak lagi. Ada empat tahapan dalam membangun sebuah hubungan antar- individu yaitu:
1) Tahap Orientasi, pada tahapan ini komunikasi atau informasi yang disampaikan hanya pada yang bersifat umum saja. Biasanya infromasi yang diberikan merupakan hal yang klise dan yang dianggap baik dari seorang individu. Orang-orang dalam tahapan ini akan bersikap manis dan
18 sopan serta berhati-hati agar tidak melanggar harapan sosial. Ditahapan ini pua orang akan tidak cenderung mengevaluasi atau mengkritik. Jika mereka yang terlibat merasa imbalan yang diterima cukup maka mereka akan melanjutkan ketahap berikutnya yaitu tahap pertukaran efek eksploratif.
2) Tahap pertukaran efek eksploratif (exploratory affective ex-change), tahapan yang dimana keterbukaan makin dalam. Pada tahapan ini apa yang kemarin privat maka menjadi publik, pada tahap ini orang akan mungkin untuk menggunakan bahasa yang hanya dapat dimengerti oleh mereka yang ada didalam hubungan. Akan mulai muncul obrolan yang spontanitas dikarenakan mulai timbulnya kenyaman satu sama lain serta mereka tidak akan terlalu berhati-hati lagi dengan apa yang mereka ucapkan. Lebih banyak juga perilaku menyentuh dan ekspresi wajah yang menjadi bagian dalam komunikasi satu sama lain. Dalam penjajakan afektif ini mereka akan lebih cenderung suportif namun masih ada kecemasan yang dapat mempengaruhi mereka.
3) Tahap pertukaran efek (affective exchange), pada tahap ini mulai muncul perasaan kritis dan evaluatif ke tingkatan yang lebih dalam. Tahapan ini akan dilalui jika pada tahapan sebelumnya imbalan yang didapat berarti serta cukup dibandingkan biaya yang dikeluarkan. Altman dan Taylor mengatakan bahwa tahapan pertukaran afektif ini termasuk kedalam interkasi yang lebih “tanpa beban dan santai”. Tahap ini mencakup nuansa yang unik contohnya hanya dengan tersenyum lawan bicaranya mampu mengartikan bahwa dia paham atas apa yang dibicarakan dan juga ditahap ini beberapan individu akan menggunakan idiom pribadi (Hopper, Knapp, & Scott, 1981) yang merupakan cara pribadi dalam mengutarakan keintimannya melalui kata-kata, frase, atau perilaku. Idiom berbeda dengan frase , idiom biasanya menggambarkan hubungan yang lebih mapan, sedangkan frase dapat muncul disetiap interaksi awal. Dalam tahapan ini meliputi pula beberapa kritik namun tidak terlalu dapat menjadi ancaman bagi hubungan keduanya.
19 4) Tahap pertukaran stabil (stable exchange), makin besarnya keintiman
diantara pihak-pihak tersebut, memungkinkan bagi mereka untuk memperkirakan bagaimana tindakan selanjutnya dan memberikan respon yang sangat baik. Ditahapan ini mereka mampu menilai dan menduga perilaku pasangannya dengan cukup akurat, masalah ataupun kesalahpaham yang datang pun dapat terselesaikan dengan baik karena keduanya mempunyai banyak kesempatan untuk mengklarifikasi setiap informasi yang dianggap menyalahi atau ambiguitas. Pengaruh dari luar juga dapat mempengaruhi hubungan mereka dalam tahapan ini seperti latar belakang dan nilai-nilai pribadi seseorang.