8
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang digunakan oleh penulis, yakni “Analisis Pendapatan Pedagang Ikan Laut Di Pasar Tradisional Kota Sibolga”, oleh Septiana Duha (2018), Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Medan Area. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pendapatan pedagang ikan laut di Pasar Tradisional Kota Sibolga serta mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pendapatan pedagang ikan laut di Pasar Tradisional Kota Sibolga. Hasil penelitian yang diperoleh adalah pendapatan pedagang ikan laut di Pasar Tradisional Sibolga per bulan memiliki nilai rata-rata sebesar Rp 6.749.999,- sampai dengan Rp 7.583.332,-.
Faktor yang mempengaruhi pendapatan pedagang ikan laut di Pasar Tradisional Kota Sibolga secara serempak berpengaruh yaitu modal, harga, lokasi, kondisi serta parsial modal yang berpengaruh tehadap pendapatan.
Semakin besar modal dikeluarkan maka semakin besar pendapatan yang diperoleh.
B. Landasan Teori
1. Pendapatan
Menurut kamus besar bahasa indonesia, pendapatan adalah hasil kerja atau sebagainya (KBBI,1998), sedangkan apabila didefinisikan dari kondisi ekonomi seseorang atau rumah tangga, pendapatan menyatakan seluruh
9
uang atau hasil material lainnya yang dicapai dari penggunaan kekayaan oleh seorang atau rumah tangga selama jangka waktu tertentu dari suatu kegiatan ekonomi (Winardi dan Firdausa, 2012). Pendapatan seseorang juga dapat diartikan sebagai banyaknya yang diterima yang kemudian dinilai dengan satuan mata uang yang dihasilkan oleh seseorang dalam satu periode tertentu. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa pendapatan ialah jumlah penghasilan yang diterima oleh masyarakat untuk jangka waktu tertentu sebagai balas jasa atau faktor produksi tertentu yang diberikan.
Definisi lain yang dijelaskan bahwa pendapatan merupakan sejumlah dana yang diperoleh dari pemanfaatan faktor produksi yang dimiliki.
Sumber tersebut bisa berupa:
a) Upah karena bekerja terhadap orang lain.
b) Sewa kekayaan yang digunakan orang lain.
c) Bunga, deposito bank, atau membeli saham karena menanamkan modal terhadap suatu perusahaan.
d) Hasil dari berwiraswsasta, beternak, berdagang, ataupun bertani.
Pendapatan juga akan mempengaruhi banyaknya barang yang akan dikonsumsi. Seperti contoh, penambahan terhadap konsumsi beras, dikarenakan pendapatan yang didapatkan oleh suatu keluarga tersebut bertambah. Selain itu pengalaman berusaha juga mempengaruhi terhadap pendapatan. Semakin banyaknya pengalaman berusaha seseorang maka semakin banyak dalam meningkatkan pendapatan.
10
2. Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan
Menurut Patty (2015), adapun faktor yang dapat mempengaruhi pendapatan adalah:
a. Modal
Merupakan variabel penting yang berpengaruh terhadap pedapatan, karena ketika modal usaha ditambahkan maka pedagang bisa membeli dalam jumlah yang besar sehingga penjualan dapat meningkat. Modal juga merupakan suatu kumpulan barang yang ada di dalam rumah tangga, dan perusahaan dalam fungsi produktifnya dapat membentuk sebuah pendapatan. Oleh karena itu, modal bukan hanya berupa uang saja tetapi termasuk juga aktiva yang berada di dalam suatu usaha seperti kendaraan, bangunan (kios), dan lain-lain, yang digunakan untuk menjalankan usahanya. (Asnaiani, dkk, 2012).
Munawir (2010), mengungkapkan bahwa modal merupakan suatu kekayaan perusahaan yang terdiri atas kekayaan yang berasal dari luar usaha dan kekayaan itu sendiri. Munawir (2010), juga mengungkapkan terdapat tiga konsep dasar modal kerja yang digunakan, yakni:
1) Konsep Kuantitatif
Konsep ini menekankan kepada istilah kwantum (jumlah) yang diperlukan untuk mencukupi kebutuhan perusahaan dalam pembiayaan kebutuhan operasional, sifatnya rutin atau menunjukkan sejumlah dana (fund) yang tersedia untuk tujuan jangka pendek.
11 2) Konsep Kualitatif
Konsep ini menekankan pada kualitas modal kerja. Konsep ini, beranggapan bahwa, pengertian modal kerja adalah kelebihan aktiva lancar terhadap hutang jangka waktu yang relatif pendek (net working capital). Definisi ini bersifat kualitatif karena menunjukkan
tersedianya aktiva lancar yang lebih besar dari pada hutang lancarnya (hutang jangka pendek).
3) Konsep Fungsional
Konsep ini menekankan terhadap fungsi dana yang dimiliki dalam menghasilkan suatu pendapatan dari usaha pokok perusahaan. Pada dasarnya dana yang dimiliki oleh perusahaan yang digunakan untuk menghasilkan laba, sebagian ada yang digunakan untuk memperoleh atau menghasilkan laba di masa datang.
b. Jam Berdagang
jam berdagang adalah lama waktu yang digunakan untuk menjalankan berdagang atau usaha, dimulai dari persiapan sampai usaha yang dilakukan tutup. Semakin banyak jam berdagang yang digunakan maka semakin besar peluang untuk menghasilkan output yang lebih banyak. Alokasi jam berdagang adalah total jam berdagang usaha yang digunakan seorang pedagang dalam berdagang. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, jam berdagang merupakan waktu yang dijalankan untuk beroperasi atau waktu yang dijadwalkan bagi pegawai untuk bekerja. Jam berdagang bagi
12
seseorang sangat menentukan efesiensi dan produktivitas kerja (Zein, 1994).
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jam berdagang merupakan lamanya waktu dalam jam yang digunakan untuk bekerja dari seluruh pekerjaan, tidak termasuk jam berdagang istirahat dan jam berdagang yang digunakan untuk hal di luar pekerjaan selama seminggu. Semakin tinggi jam berdagang atau alokasi waktu yang kita berikan untuk membuka usaha maka probablilitas omset yang diterima pedagang akan semakin tinggi, maka akan sejahtera juga pedagang dan semakin terpenuhi kebutuhannya.
Lama seseorang mampu bekerja sehari secara optimal biasanya berkisar pada 6 sampai 8 jam, sisanya 16 sampai 18 jam digunakan untuk kegiatan keluarga, masyarakat, istirahat, dan lain-lain. Dalam satu minggu seseorang bisa bekerja dengan baik selama 40 sampai 50 jam. Apabila terlalu dipaksa maka akan tidak efisien sehingga produktivitas akan menurun dan cenderung kelelahan, dan berdampak terhadap keselamatan kerja masing-masing. Jam berdagang bagi seseorang sangat menentukan efisiensi dan produktivitas kerja. Setiap pedagang biasanya mempunyai jumlah jam berdagang yang tidak sama antara pedagang yang satu dengan pedagang yang lain. Hal tersebut juga mempengaruhi tingkat pendapatan yang akan diterima masing-masing pedagang (Sasmita, 2019).
13 c. Pengalaman Berdagang
Pengalaman berdagang menimbulkan suatu pengalaman dalam berusaha, pengalaman dapat mempengaruhi pengamatan seseorang dalam bertingkah laku (Poniwati, 2008). Seseorang yang bekerja lebih lama akan memiliki strategi khusus ataupun cara tersendiri dalam berdagang karena memiliki pengalaman berdagang yang lebih banyak dalam menekuni usahanya. Pengalaman berdagang merupakan ukuran tentang lama waktu atau masa kerja yang telah ditempuh seseorang dapat memahami tugas suatu pekerjaan dan melaksanakannya dengan baik.
Lamanya seorang pelaku usaha menekuni bidang usahanya akan memberi pengaruh terhadap kemampuan profesionalnya. Semakin lama seseorang menekuni bidang usaha perdagangan akan semakin meningkatkan pengetahuan tentang selera ataupun perilaku konsumen.
Keterampilan dalam berdagang yang semakin bertambah dan semakin banyak pula relasi bisnis maupun pelanggan yang dijaring. Semakin lama usaha seseorang dalam membuka usaha maka semakin terampil melakukan pekerjaan dan semakin sempurna pola berpikir dan sikap dalam bertindak untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu lama usaha yang dijalani oleh seseorang akan meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan usaha tersebut sehingga akan dapat meningkatkan produktifitas usaha tersebut.
14 3. Usaha Kecil Di Sektor Informal
Sektor informal diperkenalkan pertama kali oleh organisasi buruh internasional (ILO) pada tahun 1973, dalam laporan resmi mengenai misi tenaga kerja di Kenya. Sektor ini disebut sektor informal sebab pada kenyataannya berbeda dari karakteristik sektor formal.
Menurut Rachbini dan Hamid (2006:45), sektor informal berfungsi sebagai penyediaan barang dan jasa terutama bagi masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah yang tinggal di Kota. Pelaku sektor ini pada umumnya berasal dari Desa dengan tingkat pendidikan dan yang rendah serta sumber-sumber yang terbatas Pada dasarnya suatu kegiatan sektor informal harus memiliki suatu lokasi yang tepat agar dapat memperoleh keuntungan (profit) yang lebih tinggi dari tempat lain dan untuk mencapai keuntungan yang maksimal. Rachbini dan Hamid (2006:45), berpendapat bahwa keputusan-keputusan penentuan lokasi yang memaksimumkan penerimaan biasanya diambil apabila memenuhi kriteria-kriteria pokok sebagai berikut:
a) Tempat yang memberi pertumbuhan jangka panjang akan menghasilkan keuntungan yang layak
b) Tempat yang luas lingkupnya untuk perluasan unit produksi Jadi, sektor informal mempunyai ruang lingkup yang sangat luas, artinya kegiatan yang paling besar dijalankan oleh penduduk yang pendapatannya dibawah standart (rendah).
15
Di Indonesia, sudah ditentukan kesepakatan tentang 11 ciri pokok sektor informal sebagai berikut:
a) Banyak kegiatan usaha tidak tertata dengan baik karena timbulnya unit usaha yang tidak memanfaatkan fasilitas atau kelembagaan yang tersedia di sektor formal.
b) Banyak unit usaha tidak mempunyai izin usaha.
c) Bentuk kegiatan usaha tidak teratur, baik dalam arti jam berdagang maupun lokasi.
d) Teknologi yang digunakan masih bersifat primitif.
e) Unit usaha keluar masuk dari satu sub-sektor ke sub-sektor lainya dengan mudah.
f) Modal usaha relatif kecil, sehingga skala oprasi juga relatif kecil.
g) Modal usaha yang umumnya berasal dari tabungan sendiri atau lembaga keuangan yang tidak resmi.
h) Dalam menjalankan usaha tidak memerlukan pendidikan formal, karena pendidikan yang didapat dari pengalaman sambil bekerja.
i) Banyak unit usaha termasuk golongan one-manenterprise dan memperjakan buruh berasal dari keluarga.
j) Hasil produksi dikonsumsi oleh golongan masyarakat berpenghasilan rendah dan berpenghasilan menengah.
k) Kebijakan yang diambil pemerintah untuk membantu golongan ekonomi tidak sampai ke pedagang kaki lima.
16
Menurut Firdausiy (2005), pengertian dari pedagang kaki lima adalah kegiatan sektor marginal (kecil-kecilan) yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a) Bentuk kegiatan tidak teratur, baik dalam hal modal, waktu, maupun penerimaan.
b) Modal, peralatan, perlengkapan, dan omset relatif lebih kecil.
c) Penghasilan dihitung harian.
d) Berpendapatan tidak menentu.
e) Tidak mempunyai tempat usaha yang tetap.
f) Umumnya dilakukan dan untuk melayani masyarakat berpenghasilan rendah.
g) Tidak memerluhkan adanya keaahlian dan keterampilan khusus sehingga dapat menyerap berbagai tingkatan tenaga kerja.
h) Tidak mengenal adanya stem pembukuan, perbankan, perkreditan, dan sebagainya.
C. Kerangka pemikiran
Jika tujuan dari pembangunan yang telah ditetapkan adalah peningkatan pendapatan, maka pertama-tama yang harus diketahui ialah keadaanya pada saat itu apakah menguntungkan atau merugikan, kemudian target di masa yang akan datang perlu ditetapkan. Teori mengenai variabel pendapatan tidak terlepas dari modal yang dimiliki seorang pedagang, jam/waktu berdagang dan pengalaman berdagang di bidang usaha yang digunakan dalam proses kegiatan tersebut saling berkaitan (Suparmoko, 2000:178).
17
Hal ini selaras dengan fungsi sifat-sifat produksi, yakni semakin banyak input yang digunakan maka semakin banyak pula output yang akan dihasilkan.
Berdasarkan modal, jam berdagang dan pengalaman berdagang sebagai variabel bebas memiliki pengaruh terhadap tingkat pendapatan pedagang.
Dibawah ini adalah kerangka konseptual yang digunakan sebagai alur penelitian:
Sumber : Suparmoko (2000:178), Diolah (2021)
D. Hipotesis
Ada pengaruh yang signifikan antara modal, jam berdagang, dan pengalaman berdagang yang berpengaruh terhadap pendapatan pedagang ikan laut di Pasar Campurejo Kabupaten Gresik.
Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan:
Modal (X1)
Jam Berdagang (X2) Pengalaman Berdagang (X3)
Pendapatan