vii
ABSTRAK
Nikolas Aditya Prawira (2009).
Perbedaan Pengendalian Emosi antara Meditator
dan Non-meditator.
Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya perbedaan
pengendalian emosi antara meditator dan non-meditator. Hipotesis yang diajukan
dalam penelitian ini yaitu,
pengendalian emosi meditator lebih tinggi daripada
non-meditator
. Meditator yang dimaksud adalah orang-orang yang mengikuti meditasi
buka hati dan non-meditator adalah orang-orang yang sama sekali tidak mengikuti
meditasi jenis apapun. Meditasi buka hati adalah meditasi yang menekankan
santai,
seyum, dan pasrah
sebagai intinya.
Jenis penelitian ini termasuk penelitian
komparatif
. Subjek penelitian ini
berjumlah 50 orang, yang terdiri dari 25 orang meditator dan 25 orang non-meditator.
Metode pengumpulan data dilakukan dengan memberikan skala pengendalian emosi
kepada subjek untuk diisi. Skala pengendalian emosi yang diberikan telah diuji
validitas dan reliabilitasnya. Reliabilitas diuji menggunakan koefisien
Alpha
Cronbach
, hasilnya ditemukan nilai reliabilitas sebesar 0,865 dan korelasi aitem total
antara 0,311 sampai 0,619.
viii
ABSTRACT
Nikolas Aditya Prawira (2009).
The Difference of Emotional Control Between
Meditators and Non-Meditators.
Yogyakarta : Sanata Dharma University
This research aimed to find the difference of emotional control between
meditators and non-meditators. The hypothesis of this research was
the emotional
control of meditators is higher than non-meditators
. Meditators are people who were
already practice open heart meditation and non-meditators are people who didn’t
practice any meditation at all. Open heart Meditation focus on
relax, smile, and
surrender.
This research was a comparative study. The subjects of research was 50
people, consist of 25 meditators and 25 non-meditators. The method of collecting
data was done by giving a scale to the subject, called the emotional control scale. The
validity and reliability of the scale had been tested before. The reliability has been
tested using
Alpha Cronbach Coefisien
, the reliability value is 0.865 and the item
total correlations are between 0.311 and 0.619.
The result from t-test showed the value of t-test equal to 6.078 with the
probability of 0,000 (
ρ
< 0,05). Mean of meditators was 74.52; while mean of
non-meditators was 63.96. Based on this result of data analysis, it can be concluded that
the emotional control of meditators are higher than non-meditators.
i
PERBEDAAN PENGENDALIAN EMOSI
ANTARA MEDITATOR DAN NON-MEDITATOR
Skripsi
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Oleh :
Nikolas Aditya Prawira
NIM : 029114025
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2009
ii
SKRIPSI
PERBEDAAN PENGENDALIAN EMOSI
ANTARA MEDITATOR DAN NON-MEDITATOR
Oleh :
Nikolas Aditya Prawira
NIM : 029114025
Telah disetujui oleh :
Pembimbing
iii
SKRIPSI
PERBEDAAN PENGENDALIAN EMOSI
ANTARA MEDITATOR DAN NON-MEDITATOR
Dipersiapkan dan ditulis oleh
Nikolas Aditya Prawira
NIM : 029114025
Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji
Pada tanggal 9 November 2009
dan dinyatakan memenuhi syarat
Susunan Panitia Penguji
Nama
Tanda
tangan
Ketua A. Tanti Arini, S.Psi., M.Si
………..
Anggota
Agung
Santoso,
MA. ………..
Anggota Y. Heri Widodo, M.Psi.
………..
Yogyakarta. 9 November 2009
Fakultas Psikologi
Universitas Sanata Dharma
Dekan,
iv
Dengan perencanaan yang hati-hati dan mendetail,
Seseorang pasti menang.
Dengan perencanaan yang ceroboh dan tidak mendetail,
Seseorang tidak bisa menang.
Betapa kekalahan seseorang lebih pasti kalau dia
Tidak memiliki rencana sama sekali!
Dari cara bagaimana perencanaan itu dibuat sebelumnya,
Kita dapat memprediksi kemenangan atau kekalahan
v
HALAMAN PERSEMBAHAN
Skripsi ini kupersembahkan untuk :
Orang Tua ku
Adikku
Saudara-saudaraku
Teman-temanku
vi
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak
memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam
kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Penulis,
vii
ABSTRAK
Nikolas Aditya Prawira (2009).
Perbedaan Pengendalian Emosi antara Meditator
dan Non-meditator.
Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya perbedaan
pengendalian emosi antara meditator dan non-meditator. Hipotesis yang diajukan
dalam penelitian ini yaitu,
pengendalian emosi meditator lebih tinggi daripada
non-meditator
. Meditator yang dimaksud adalah orang-orang yang mengikuti meditasi
buka hati dan non-meditator adalah orang-orang yang sama sekali tidak mengikuti
meditasi jenis apapun. Meditasi buka hati adalah meditasi yang menekankan
santai,
seyum, dan pasrah
sebagai intinya.
Jenis penelitian ini termasuk penelitian
komparatif
. Subjek penelitian ini
berjumlah 50 orang, yang terdiri dari 25 orang meditator dan 25 orang non-meditator.
Metode pengumpulan data dilakukan dengan memberikan skala pengendalian emosi
kepada subjek untuk diisi. Skala pengendalian emosi yang diberikan telah diuji
validitas dan reliabilitasnya. Reliabilitas diuji menggunakan koefisien
Alpha
Cronbach
, hasilnya ditemukan nilai reliabilitas sebesar 0,865 dan korelasi aitem total
antara 0,311 sampai 0,619.
viii
ABSTRACT
Nikolas Aditya Prawira (2009).
The Difference of Emotional Control Between
Meditators and Non-Meditators.
Yogyakarta : Sanata Dharma University
This research aimed to find the difference of emotional control between
meditators and non-meditators. The hypothesis of this research was
the emotional
control of meditators is higher than non-meditators
. Meditators are people who were
already practice open heart meditation and non-meditators are people who didn’t
practice any meditation at all. Open heart Meditation focus on
relax, smile, and
surrender.
This research was a comparative study. The subjects of research was 50
people, consist of 25 meditators and 25 non-meditators. The method of collecting
data was done by giving a scale to the subject, called the emotional control scale. The
validity and reliability of the scale had been tested before. The reliability has been
tested using
Alpha Cronbach Coefisien
, the reliability value is 0.865 and the item
total correlations are between 0.311 and 0.619.
The result from t-test showed the value of t-test equal to 6.078 with the
probability of 0,000 (
ρ
< 0,05). Mean of meditators was 74.52; while mean of
non-meditators was 63.96. Based on this result of data analysis, it can be concluded that
the emotional control of meditators are higher than non-meditators.
ix
Lembar Pernyataan Persetujuan
Publikasi Karya Ilmiah untuk Kepentingan Akademis
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma :
Nama
: Nikolas Aditya Prawira
Nomor Mahasiswa
: 029114025
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepasa Perpustakaan
Universitas Sanata Dharma Karya Ilmiah saya yang berjudul :
Perbedaan Pengendalian Emosi antara Meditator dan Non-Meditator
Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan
kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk meyimpan, mengalihkan
dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data,
mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain
untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan
royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya
Dibuat di Yogyakarta
Pada tanggal : 8 Desember 2009
Yang menyatakan
Nikolas Aditya Prawira
x
KATA PENGANTAR
Saya mengucap syukur kepada Tuhan YME yang telah menganugerahkan kasih dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat memulai dan menyelesaikan tugas akhir ini
dengan baik. Dalam kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih
sebesar-besarnya kepada :
1.
Ibu A. Tanti Arini S.Psi, M.Si selaku dosen pembimbing skripsi saya yang
telah banyak meluangkan waktunya, memberikan saran-saran dan petunjuk
dalam pengerjaan skripsi ini.
2.
Bapak Heri Widodo, S.Psi., M.Si. dan Bapak Agung Santoso, S.Psi, MA.
selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan kritik bagi penulis
sehingga penulisan skripsi ini menjadi lebih baik lagi.
3.
Seluruh Dosen Fakultas Psikologi Sanata Dharma yang telah membimbing
dan mengajar selama masa perkuliahan.
4.
Seluruh Staf dan Karyawan di Fakultas Psikologi yang telah banyak
membantu penulis.
5.
Orang tua dan adik saya yang telah banyak membantu dan memberikan
semangat dalam pengerjaan skripsi.
6.
Seluruh Staf dan Karyawan Yayasan Padmajaya yang membantu saya dalam
pengambilan data.
7.
Para peserta Meditasi Buka Hati yang telah bersedia meluangkan waktu untuk
mengisi angket.
8.
Seluruh teman-teman di kantor yang telah bersedia meluangkan waktunya
untuk mengisi angket.
xi
Beserta pihak-pihak lain yang telah turut serta dalam proses pengerjaan skripsi
hingga penulis menyelesaikan tugas akhir ini.
Penulis,
xii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL………
i
HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING.……….
ii
HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI.……….
iii
HALAMAN MOTTO………..
iv
HALAMAN PERSEMBAHAN……….
v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA……….
vi
ABSTRAK………
vii
ABSTRACT……….
viii
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH…….
KATA PENGANTAR……….
ix
DAFTAR ISI………
xi
DAFTAR TABEL………
xiv
DAFTAR LAMPIRAN………...
xv
BAB I PENDAHULUAN………...
1
A.
Latar Belakang Masalah………
1
B.
Rumusan Masalah……….
7
C.
Tujuan Penelitian………...
7
D.
Manfaat Penelitian………
7
BAB II LANDASAN TEORI……….
8
A.
Pengertian Meditasi………..
8
xiii
C.
Emosi………
12
a.
Pengertian Emosi………
12
b.
Teori Emosi………
15
c.
Bentuk-bentuk Emosi………
16
D.
Pengendalian Emosi………
20
a.
Pengertian Pengendalian Emosi………
20
b.
Ketrampilan Mengendalikan Emosi……….
21
c.
Model Pengendalian Emosi………..
24
d.
Faktor yang Mempengaruhi Pengendalian Emosi………….
25
E.
Perbedaan Pengendalian Emosi Meditator dan Non-Meditator..
26
F.
Hipotesis………..
30
BAB III METODE PENELITIAN………...
31
A.
Jenis Penelitian………..
31
B.
Identifikasi Variabel………..
31
C.
Definisi Operasional………..
31
1.
Pengendalian Emosi………
31
2.
Meditator dan Non-Meditator………
32
D.
Subjek Peneltitian……….
33
E.
Alat Pengumpul Data………
34
F.
Validitas dan Reliabilitas………..
34
1.
Validitas………..
34
2.
Seleksi Aitem………..
35
xiv
G.
Analisis Data……….
37
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN………
39
A.
Orientasi Kancah Penelitian………..
39
B.
Pelaksanaan Penelitian………
39
C.
Deskripsi Data Penelitian………..
40
D.
Analisis Data……….
40
1.
Uji Normalitas……….
40
2.
Uji Homogenitas……….
41
3.
Uji Hipotesis………..
41
E.
Pembahasan……….
42
F.
BAB V PENUTUP……….
45
A. Kesimpulan………..
45
B. Saran………
45
DAFTAR PUSTAKA……….
46
xv
DAFTAR TABEL
halaman
Tabel 1. Item Pengendalian Emosi sebelum pengujian……….
38
Tabel 2. Item Pengendalian Emosi sesudah pengujian……….
38
Tabel 3. Hasil Perhitungan Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov………..
41
Tabel 4. Hasil Perhitungan Uji Homogenitas………
41
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN A
1.
Reliabilitas
2.
Uji Normalitas
3.
Uji t
LAMPIRAN B
1.
Skala untuk Tryout
2.
Skala untuk penelitian
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Orang awam pada umumnya menganggap bahwa emosi itu adalah rasa marah. Emosi bukan hanya marah saja tetapi juga ada rasa takut, khawatir, bahagia, dan lain-lain. Menurut Albin (1986) emosi dapat diartikan sebagai perasaan yang dimiliki dan dialami oleh setiap manusia. Ada 2 jenis emosi menurut Albin (1986), yaitu emosi negatif dan emosi positif. Emosi negatif adalah perasaan yang tidak menyenangkan seperti marah, iri, dan cemburu, sedangkan emosi positif adalah perasaan yang menyenangkan seperti bahagia dan kasih sayang.
Emosi merupakan bagian yang penting dan tak terpisahkan dari
kehidupan manusia. Manusia dikatakan tidak lengkap jika tidak ada emosi,
sebab manusia tidak akan dapat merasakan bahagia, sedih, kecewa, dan
perasaan-perasaan lainnya. Hal yang terjadi apabila manusia tidak
mempunyai emosi yaitu ketidakmampuannya untuk berkembang. Manusia
yang merasa kecewa karena mengalami kegagalan tentunya akan berusaha
lebih untuk memperbaikinya, hal ini membuat manusia berkembang.
Perasaan lain seperti perasaan senang karena mengalami keberhasilan
akan membawa pengalaman emosi yang lain pula.
Pengalaman-pengalaman emosi yang berbeda membuat manusia menjadi berkembang
dan membuat hidup ini berarti. Manusia yang tidak dapat merasa sedih
atau gembira dalam segala hal tidak ada bedanya dengan sebuah robot.
Kehidupan emosi erat kaitannya dengan kehidupan sosial manusia,
setiap hubungan seseorang dengan orang lain pasti melibatkan emosi. Oleh
karena itu, sangatlah penting bagi setiap manusia untuk dapat
mengendalikan emosi. Emosi yang terkendali secara benar dapat menjadi
kekuatan luar biasa untuk mengubah hidup menjadi lebih baik.
Wijokongko (1997) mengatakan emosi adalah suatu kekuatan kalau
manusia mampu mengendalikannya. Sebaliknya, emosi dapat merusak
kalau diri manusia yang dikuasai emosi. Contohnya adalah emosi marah
yang berlebihan dapat mengakibatkan seseorang cenderung berperilaku
agresif. Perang sebagai salah satu contoh pelampiasan kemarahan tanpa
pihak yang saling bertikai tidak mampu mencari penyelesaiannya. Perang
yang terus menerus dapat mengakibatkan musnahnya suatu peradaban dan
kerugian harta benda yang tak terhitung jumlahnya. Jika saja orang
tersebut mampu mengendalikan amarahnya dan tetap tenang, mungkin
akan menemukan penyelesaian selain perang yang melibatkan banyak
orang sehingga tercipta rasa aman dan puas. Contoh lainnya adalah
euphoria, yaitu rasa gembira yang berlebihan. Perasaan gembira
merupakan perasaan yang menyenangkan tetapi jika berlebihan dan tidak
dikendalikan dapat mengakibatkan hal yang buruk terjadi seperti supporter
klub sepakbola yang merayakan kemenangan teamnya secara berlebihan
sehingga melakukan pengrusakkan dan pencurian di jalan-jalan yang
mereka lewati, mabuk-mabukkan dan mengganggu orang lain di
sekitarnya. Hal seperti ini dapat dihindarkan jika mereka mampu untuk
mengendalikan emosinya.
Berdasar contoh di atas, pengendalian emosi baik itu emosi positif
maupun negatif diperlukan agar hal-hal tersebut dapat dihindarkan. Salah
satu cara pengendalian emosi yang sedang berkembang saat ini yaitu
dengan cara meditasi. Meditasi sebagai cara hidup sudah dikenal selama
ribuan tahun, terutama dalam kebudayaan timur seperti di Cina dan India.
Macam-macam teknik meditasi semakin berkembang dan maju hingga
merambah ke kebudayaan barat. Meditasi yang berkembang di dunia barat
membuat ketertarikan orang barat untuk belajar bermeditasi ke Asia
Kini siapapun yang ingin belajar bermeditasi dapat
mempelajarinya di berbagai tempat dan aliran melalui kursus, seminar,
lokakarya dan kelas meditasi. Setiap orang yang ingin belajar meditasi pun
dapat mendapat informasi dengan cepat sebab saat ini berbagai media
komunikasi seperti internet, televisi, radio, maupun surat kabar sering
memuat topik mengenai meditasi. Orang-orang yang belajar dan
melakukan meditasi dalam penelitian ini disebut meditator dan orang yang
tidak melakukan meditasi disebut non-meditator.
Humphrey (2000) mengatakan tidak ada definisi yang pasti
mengenai pengertian meditasi sebab setiap orang memiliki definisinya
masing-masing. Definisi tersebut bergantung pada pengalaman dan
pemahaman seseorang dalam melakukan meditasi, setiap orang akan
merasakan sensasi yang berbeda-beda dan hal tersebut akan
mempengaruhi pendapat orang itu mengenai meditasi. Seorang meditator
akan mendefinisikan meditasi berdasarkan apa yang telah ia alami,
pahami, dan rasakan dalam melakukan meditasi. Sedangkan seorang
non-meditator mungkin akan mendefinisikan meditasi berdasar apa yang ia
lihat atau dengar dari orang lain. Menurut Humphrey (2000) lagi, meditasi
adalah jalan ke dalam diri, suatu keadaan kesadaran yang berguna untuk
mengembangkan diri secara menyeluruh dan alat yang sangat berguna
untuk mengatasi masalah fisik, emosi, dan jiwa.
Keuntungan dari bermeditasi berdasarkan hasil penelitian Bogart
keseimbangan antara pikiran dan emosi, dan menjadi lebih percaya diri.
Selain itu, seseorang menjadi lebih mudah menyesuaikan diri, perubahan
perilaku yang bersifat negatif, dan menciptakan ketenangan yang
membawa pada efisiensi kerja, keterbukaan perasaan, penerimaan, dan
membangkitkan kesadaran yang lebih tinggi di kehidupan sehari-hari. Hal
ini menunjukkan bahwa meditasi menjadi salah satu cara yang cukup
efektif untuk mengendalikan emosi, mengurangi stress, bahkan dapat
membuat seseorang berubah perilakunya.
Penelitian lain yang mendukung kelebihan meditasi adalah
penelitian oleh Psikolog Universitas California, San Fransisco, Paul
Ekman (dalam Lominto, 2003). Ia meneliti 15 orang guru yang mengikuti
kursus meditasi selama 5 minggu. Para guru tersebut mengikuti sederetan
tes psikologi sebelum dan sesudah pelatihan. Hasilnya adalah
tanggapan-tanggapan emosional para subjek menjadi lebih positif setelah mengikuti
pelatihan daripada sebelumnya.
Meditasi yang akan menjadi fokus penelitian ini adalah Meditasi
Buka Hati. Meditasi ini menekankan santai, senyum, dan pasrah dalam
prakteknya. Meditasi buka hati diajarkan oleh seorang Reiki Master. Reiki
Master adalah orang yang berwenang mengajar Reiki dan meditasi buka
hati. Tujuan utama dari meditasi buka hati adalah untuk mendekatkan diri
kepada Tuhan (Effendi, 2003). Berdasarkan hasil wawancara antara
peneliti dengan seorang Reiki Master di Yogyakarta, banyak manfaat yang
fisik. Menurut beliau, meditasi buka hati tidak hanya membuat badan lebih
sehat dan lebih baik tetapi juga membuat menjadi lebih tenang dan lebih
dekat pada Tuhan. Hal ini akan banyak mempengaruhi tindakan kita dalam
kehidupan sehari-hari, terutama menyangkut hubungan dengan orang lain.
Hasil wawancara lainnya dengan beberapa peserta meditasi buka
hati yakni kebanyakan dari mereka dapat menghentikan
kebiasaan-kebiasaan buruknya seperti merokok atau berjudi. Ada peserta yang
dulunya mudah marah dan dianggap galak oleh anak-anaknya, setelah
ikut meditasi menjadi berkurang marah-marahnya. Kejadian tersebut
menunjukkan bahwa dengan melakukan meditasi buka hati, dapat
mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih bersahaja, tidak hanya
mampu mengendalikan emosi, tetapi juga mampu mengubah perilaku
seseorang.
Ada berbagai macam cara untuk mengendalikan emosi selain
dengan menggunakan meditasi, antara lain dengan pengalihan,
penyesuaian kognisi, dan sebagainya (dalam Hude, 2006). Para
non-meditator umumnya menggunakan berbagai cara untuk mengendalikan
emosinya, cara ini diperoleh antara lain melalui pengalaman-pengalaman
hidup. Keuntungan meditator buka hati selain dapat menggunakan
cara-cara tersebut mereka terbantu dengan latihan meditasi yang dilakukannya.
Latihan meditasi menekankan pada latihan kesadaran yang penting dalam
proses mengendalikan emosi dan latihan tersebut dilakukan secara
memiliki keuntungan dalam pengendalian emosi dibandingkan
non-meditator. Namun hal ini masih perlu dibuktikan lebih lanjut apakah
meditator dan non-meditator berbeda dalam pengendalian emosi.
B. RUMUSAN MASALAH
Apakah ada perbedaan pengendalian emosi antara meditator dan
non-meditator?
C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya
perbedaan pengendalian emosi antara meditator dan non-meditator.
D. MANFAAT PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian di atas dapat
kita simpulkan manfaat penelitian ini.
1. Manfaat teoritis
Secara teoritis penelitian ini menambah kajian dalam psikologi
klinis, yaitu mengenai efek meditasi buka hati dan pengendalian
emosi.
2. Manfaat praktis
Penelitian ini memberi gambaran pada masyarakat mengenai cara
mengendalikan emosi dengan menggunakan santai, senyum, dan
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. PENGERTIAN MEDITASI
Banyak cara mendefinisikan meditasi. Banyaknya definisi mengenai meditasi tidak lepas dari banyaknya jenis meditasi. Definisi meditasi yang sering kita dengar yaitu meditasi adalah kegiatan bermeditasi itu sendiri. (Wilson, 2003)
Menurut Humphrey (2000) meditasi hanya dapat dikenal melalui pengalaman. Meditasi hanya dapat dipahami jika dilakukan. Meditasi tidak dapat dipahami secara intelektual, sama seperti cinta tidak dapat dipahami dengan membaca novel romantis, atau seperti menjelaskan rasa jeruk kepada orang yang belum pernah memakannya. Menurut Humphrey (2000) lagi, meditasi merupakan kegiatan mental yang berkenaan dengan kesadaran. Dalam hal ini, kesadaran tidak ada kaitannya dengan kemampuan intelektual, latar belakang pendidikan ataupun kepribadian. Meditasi dapat dianggap kesadaran atau persepsi total.
sebagai pelayan dibandingkan tuan. Pada saat itulah, kesadaran kita berada
pada keadaan yang sempurna. Keadaan ini disebut “berada dalam”.
Meditasi adalah tentang bagaimana “berada dalam” dan bukan melakukan.
(2003)
Krishna (2006) mengatakan bahwa meditasi adalah gaya hidup.
Meditasi harus menjadi dasar kehidupan seseorang, baru ia dapat disebut
meditator. Khrisna juga berpendapat meditasi sama dengan perluasan
kesadaran dan hasil akhir dari meditasi adalah Samadhi atau
keseimbangan. Setelah mencapai keseimbangan diri, manusia tidak merasa
gelisah, takut, cemas, atau khawatir lagi.
Lain lagi dengan Pokharna (2003) yang mengatakan bahwa
meditasi adalah proses penyembuhan dan pemulihan dari seluruh pikiran,
tunuh, dan jiwa. Ia menambahkan kata meditation, medicine, dan
medication memiliki kesamaan kata dasar bahasa latin yaitu medicus yang berarti “untuk pengobatan”. Kata meditation ini kemungkinan didapat dari akar bahasa latin mederi yang berarti “untuk menyembuhkan”.
Menurut ajaran Sahajayoga, meditasi adalah suatu tingkatan
dimana terjadi kedamaian dan ketenangan dalam pikiran seseorang, diam
namun sepenuhnya siaga. Kekuatan utama dari meditasi adalah membawa
kita secara nyata kedalam tingkatan kesadaran yang lebih tinggi yang akan
membantu kita manusia untuk mendapatkan sebuah kebenaran dalam
Saraydarian (2007) mengatakan meditasi adalah suatu proses
pemekaran batin (inner blooming), suatu proses pengisian wahana-wahana dalam tubuh dengan energy spiritual. Energi ini meregenerasi tubuh,
membersihkan wahana emosional, dan memurnikan pikiran manusia
sehingga membuat seseorang tampak lebih muda, hati masuk kea lam
kedamaian dan pikiran menjadi lebih tajam dan berjangkauan lebih luas.
Dari beberapa definisi meditasi di atas, dapat disimpulkan meditasi
adalah suatu kegiatan mental guna meningkatkan kesadaran, yang
mempengaruhi proses penyembuhan dan pemulihan dari seluruh tubuh,
pikiran, dan jiwa serta memurnikan pikiran sehingga tercipta kedamaian
dan ketenangan dalam pikiran, membuat pikiran menjadi lebih tajam dan
berjangkauan lebih luas dan hati masuk ke alam kedamaian.
B. MEDITASI BUKA HATI
Meditasi buka hati diajarkan dan disebarluaskan oleh Yayasan
Padmajaya yang berpusat di Jakarta. Cabang Yayasan Padmajaya sudah
ada di beberapa kota di Indonesia bahkan mulai meluas ke mancanegara.
Metode yang digunakan untuk mengajarkan meditasi ini yaitu dengan
mengadakan lokakarya dan diadakan retret untuk lebih mendalaminya.
Meditasi buka hati merupakan jenis meditasi yang menggunakan
doa. Konsep utama meditasi ini yaitu bahwa tujuan hidup yang sebenarnya
adalah untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dengan membuka
dan pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena Tuhanlah tujuan hidup
satu-satunya dan hanya berkat Tuhanlah yang terbaik. (Effendi, tanpa
tahun)
Kunci penting dalam berlatih meditasi buka hati adalah santai,
senyum lepas, dan pasrah (tidak membiarkan otak bekerja secara
berlebihan) dengan begitu kita akan mencapai hasil yang terbaik. Santai
sebab hanya disaat santai dominasi otak berkurang sehingga dapat
membiarkan perasaan hati bekerja, senyum lepas sebab dengan tersenyum
lepas maka perasaan hati akan menjadi lebih kuat, dan pasrah sebab hanya
disaat otak tidak bekerja secara berlebihan, hati tidak ditahan oleh otak.
(Effendi, 2006)
Saat melakukan meditasi buka hati, biasanya meditator menyentuh
bagian tengah dada yang merupakan letak keberadaan hati manusia agar
hati menjadi lebih sensitive dan pikiran tidak mudah melayang, jika
pikiran kita melayang atau melamun berarti kita tidak berada dalam hati.
Dalam meditasi buka hati, peranan hati sangat penting. Hati yang
dimaksud disini bukanlah organ tubuh fisik yang biasa juga disebut
dengan liver, maupun jantung (heart). Yang dibicarakan adalah pusat perasaan dan kasih yang ada pada setiap manusia yang merupakan sesuatu
non-fisik dan terletak di dalam rongga dada. Hati adalah pusat perasaan
halus dan kasih karena hati merupakan kunci hubungan kepada Tuhan.
Manusia memilki roh yang merupakan diri sejati seorang manusia. Roh
Sang Pencipta. Oleh karena keberadaan zat Sang Pencipta di dalam hati,
maka hati dapat terhubung kepada Tuhan dan menjadi kunci hubungan
manusia kepada Tuhan. (Effendi, 2006)
Ada dua tingkatan dalam meditasi ini, yaitu :
1) Tingkat 1, untuk mengenal hati, menguatkan, dan membuka
hati supaya hati lebih terbuka dan terhubung kepada
Tuhan YME. Pada tingkat ini kita para meditator mulai
dapat mempergunakan hati secara sadar untuk berbagai
kegiatan tertentu.
2) Tingkat 2, membuka hati lebih lanjut dan dapat
mempergunakan hati dalam hampir semua
kegiatan.
Dalam penelitian ini, orang-orang yang melakukan meditasi buka
hati disebut meditator dan orang-orang yang sama sekali tidak melakukan
meditasi disebut non-meditator.
C. EMOSI
a. Pengertian Emosi
Dalam masyarakat, emosi lazim dipahami sebagai marah.
Namun pendapat itu salah, emosi bukan hanya rasa marah saja, ada
sedih, gembira, kecewa, semangat, benci, dan cinta.
Jung (dalam Widjokongko, 1996) mengatakan tanpa emosi,
terang. Emosi mengubah orang apatis menjadi aktivis. Emosi
merupakan kekuatan luar biasa, siap untuk dibangunkan dan
dimanfaatkan oleh mereka yang tahu caranya.
Menurut Widjokongko (1996), emosi adalah bahasa
komunikasi dalam diri kita dan kita perlu mempelajari maknanya.
Menurutnya, kita harus menemukan makna positif di balik berbagai
emosi dan perasaan yang ada dalam diri, kita perlu mengerti makna
dari emosi sehingga dapat bertindak dengan bijaksana. Dengan
demikian, emosi bukanlah lawan, melainkan kawan yang akan banyak
membantu dalam menghadapi berbagai macam persoalan hidup.
Lazarus, seorang professor dari Universitas California yang
telah malang melintang dalam penelitian emosi, mengutip definisi
emosi dari para pendahulunya seperti Hillman dan Drever sebagai
berikut : (dalam Hude, 2006)
Hude (2006) mendefinisikan emosi sebagai suatu gejala
psiko-fisiologis yang menimbulkan efek pada persepsi, sikap, dan tingkah
laku, serta diwujudkan dalam bentuk ekspresi tertentu. Emosi
dirasakan secara psiko-fisiologis karena terkait langsung dengan jiwa
dan fisik manusia. Lebih lanjut lagi dalam Hude (2006) dikatakan
bahwa emosi adalah sesuatu yang dirasakan pada saat terjadinya,
bersifat fisiologis dan berbasis pada perasaan emosional. Emosi juga
menimbulkan efek pada persepsi, pemikiran, dan perilaku dan
menimbulkan dorongan atau motivasi.
Pendapat yang hampIr sama dikatakan oleh Hurlock (1967). Ia
mengatakan emosi adalah sumber dari motivasi, semua emosi
mendorong individu melakukan aksi. Emosi juga merupakan sumber
kenikmatan, sebagai contoh seseorang yang merasa lelah oleh rutinitas
sehari-hari akan memasuki tahap relaksasi yang selalu dapat dinikmati.
Magoenprasodjo (2005) mengatkan emosi adalah setiap
kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu atau setiap keadaan
mental (psikologis) yang hebat atau meluap-luap.
Emosi merupakan keadaan di dalam (inner state) dengan manifestasi di luar. Dua hal tersebut dibentuk, diatur, dan ditentukan
oleh norma budaya dan tidak dibangun berdasarkan keadaan biologis
atau fisik yang konkrit dan pasti seperti umur dan jenis kelamin.
Berdasar pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan emosi
adalah perasaan dalam diri manusia, merupakan sumber motivasi yang
diwujudkan dalam bentuk ekspresi tertentu dan menimbulkan efek
pada persepsi, sikap, dan tingkah laku.
b. Teori Emosi
Teori James-Lange merupakan perpaduan teori dari
William James dan Carl Lange. Lange (dalam Hude, 2006)
mengemukakan bahwa emosi identik dengan perubahan-perubahan
dalam sistem peredaran darah. Pendapat ini kemudian
dikembangkan oleh James dengan mengatakan bahwa emosi
adalah hasil persepsi seseorang terhadap perubahan-perubahan
yang terjadi pada tubuh sebagai respon terhadap
rangsangan-rangsangan yang datang dari luar. Dapat disimpulkan bahwa teori
James-Lange menempatkan aspek persepsi terhadap respon
fisiologis yang terjadi ketika ada rangsangan datang sebagai
pemicu emosi yang dialami manusia.
Teori Cannon-Bard menolak teori James-Lange yang lebih
dulu dikenal. Teori ini menjelaskan bahwa persepsi terhadap objek
yang dapat menimbulkan emosi diproses secara simultan oleh dua
instansi, yakni sistem syaraf otonom dan cerebral cortex. Degup jantung, begidik (bulu roma berdiri), atau napas berat
dengan perubahan fisiologis terjadi secara simultan. Bisa saja
perubahan fisiologis muncul belakangan, tapi selisihnya sangat
tipis. Menurut teori ini, tidak mungkin terjadi perubahan faali yang
menyebabkan kemunculan emosi sebagaimana deskripsi teori
James-Lange. (dalam Hude, 2006)
Teori Schachter-Singer menempatkan kognisi pada posisi
yang sangat menentukan. Teori ini meyakini bahwa emosi
merupakan fungsi interaksi antara faktor kognitif dan keadaan
keterbangkitan fisiologis. Teori Schachter-Singer sering pula
disebut sebagai two-factor theory of emotion, karena teori ini didasarkan pada dua hal yang terjadi, yakni perubahan fisiologis.
(dalam Hude, 2006)
c. Bentuk-bentuk Emosi
Mangoenprasodjo (2005) menguraikan bentuk-bentuk
emosi yang sering dialami sebagai berikut :
1) Takut
Emosi ini cenderung atau sering disebabkan oleh situasi
sosial tertentu, biasanya kondisi ketakutan pada suatu objek
yang nyata. Misalnya, takut berada di tempat yang gelap
2) Khawatir
Khawatir ini merupakan bentuk ketakutan, tetapi lebih
bersifat imajiner atau khayalan. Kekhawatiran muncul
kalau intensitas katakutan meningkat. Misalnya, khawatir
kalau kita tidak berhasil melakukan sesuatu atau tidak lulus
ujian.
3) Marah
Marah bersifat sosial dan biasanya terjadi jika mendapat
perlakuan tidak adil atau tidak menyenangkan dalam
interkasi sosial. Marah membuat kita menjadi tertekan. Saat
kita marah denyut jantung kita bertambah cepat dan
tekanan darah naik. Napas pun tersengal dan pendek, serta
otot menegang.
4) Sebal
Sebal terjadi kalau kita merasa terganggu, tetapi tidak
sampai menimbulkan kemarahan dan cenderung tidak
menimbulkan tekanan bagi kita. Sebal akan muncul
berkaitan dengan hubungan antar pribadi, misalnya kita
sebal melihat teman atau si pacar yang tidak perhatian.
5) Frustasi
Rasa frustasi merupakan keadaan saat individu mengalami
hambatan-hambatan dalam pemenuhan kebutuhannya,
sendiri. Konsekuensi frustasi dapat menimbulkan perasaan
rendah diri. Kita dianggap mampu memberikan respon
positif terhadap rasa frustasi kalau mampu memahami
sumber-sumber frustasi dengan logis. Namun, reaksi yang
negatif juga dapat muncul dalam bentuk agresi fisik dan
verbal, pengalihan kemarahan pada objek lain, serta
penghindaran terhadap sumber persoalan atau realitas
hidupnya.
6) Cemburu
Merupakan suatu keadaan ketakutan yang diliputi
kemarahan. Perasaan ini muncul dikarenakan perasaan
tidak aman dan takut status atau posisi kita akan digantikan
oleh orang lain. Yang paling sering kita alami adalah
cemburu kalau melihat cowok atau cewek kita dekat sama
orang lain ataupun kalau sahabat kita mulai dekat dengan
teman lain.
7) Iri Hati
Emosi ini ditujukan terhadap orang tertentu atau benda
yang dimiliki orang lain. Hal ini bisa menjadi halo yang
berat bagi kita karena berkaitan dengan materi yang juga
menunjukkan status sosial. Misalnya, kita iri melihat si A
8) Dukacita
Dukacita merupakan perasaan galau atau depresi yang tidak
terlalu berat, tetapi mengganggu individu. Keadaan ini
terjadi bila kita kehilangan sesuatu atau seseorang yang
sangat berarti buat kita. Kalau dialami dalam waktu yang
panjang dan berlebihan akan menyebabkan kerusakan fisik
dan psikis yang cukup serius hingga depresi.
9) Afeksi atau Kasih Sayang
Afeksi adalah keadaan emosi yang menyenangkan dan
objeknya lebih luas, memiliki intensitas yang tidak terlalu
kuat (tidak sekuat cinta), dan berkaitan dengan rasa ingin
dimiliki dan dicintai.
10)Bahagia
Perasaan ini dihayati secara berbeda-beda oleh setiap
individu. Bahagia muncul karena remaja mampu
menyesuaikan diri dengan baik pada suatu situasi, sukses
dan memperoleh keberhasilan yang lebih baik dari orang
lain atau berasal dari terlepasnya energi emosional dari
D. PENGENDALIAN EMOSI
a. Pengertian Pengendalian Emosi
Rasa marah, kesal, sebal, sedih, atau gembira adalah hal
yang wajar yang tentunya sering dialami meskipun tidak setiap
saat. Pengungkapan emosi itu ada juga aturannya. Supaya bisa
mengekpresikan emosi secara tepat, kita perlu pengendalian emosi.
Hurlock (1980) mengatakan pengendalian bukan berarti menekan
atau menghilangkan, melainkan belajar untuk mengatasi situasi
dengan sikap rasional, untuk merespon secara realistik, tidak secara
emosional. Hurlock (1980) menambahkan pengendalian emosi
sendiri berarti mengendalikan overt expression atau perilaku yang tampak, dalam bentuk motor ataupun verbal, terhadap emosi yang
tidak dapat diterima secara sosial.
Mangoenprasodjo (2005) juga berpendapat pengendalian
emosi ini bukan merupakan upaya untuk menekan atau
menghilangkan emosi melainkan :
1) Belajar menghadapi situasi dengan sikap rasional.
2) Belajar mengenali emosi dan menghindari dari penafsiran
yang berlebihan terhadap situasi yang dapat menimbulkan
respons emosional.
3) Bagaimana memberikan respon terhadap situasi tersebut
proporsional, sesuai dengan situasinya, serta dengan cara yang
dapat diterima oleh lingkungan sosial.
4) Belajar mengenal, menerima, dan mengekspresikan emosi
positif (senang, sayang atau bahagia) dan negative (khawatir,
sebal, sedih, atau marah).
5) Belajar menunda pemuas kebutuhan.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa
pengendalian emosi bukan berarti kita melawan atau berusaha
menghilangkan dan menekan emosi melainkan kita belajar untuk
memahami den mengenal emosi baik dari perasaan maupun pikiran
dan mengontrol ekspresi yang muncul sehingga dapat bertindak
sesuai dengan diri dan lingkungannya.
b. Ketrampilan Mengendalikan Emosi
Mangoenprasodjo (2005) mengatakan kegagalan
mengendalikan emosi terjadi karena seseorang kurang mau
berusaha menilai sesuatu dengan kepala dingin. Karena itu,
ketrampilan mengendalikan emosi diperlukan. Ketrampilan itu
antara lain :
1) Mengenali dan mendefinisikan perasaan yang
muncul.
2) Mengemukakan perasaan dan dapat menilai
3) Mengelola perasaan.
4) Mengandalikan diri sendiri.
5) Mengurangi stress.
6) Mengetahui perbedaan antara perasaan dan
tindakan.
Thompson (1994) mendefinisikan regulasi-emosi
(mengelola emosi) sebagai kemampuan untuk memonitor,
mengevaluasi dan memodifikasi reaksi emosional individu untuk
mencapai tujuan individu tersebut. Indikator dari regulasi emosi
adalah sebagai berikut :
1) Kemampuan memonitor (emotions monitoring) yaitu kemampuan individu untuk menyadari dan memahami
keseluruhan proses yang terjadi di dalam dirinya, perasaannya,
pikirannya, dan latar belakang dari tindakannya. Aspek ini
merupakan dasar dari seluruh aspek lainnya, yang berarti
kesadaran-diri ini akan mebantu tercapainya aspek-aspek yang
lain. Arti lainnya adalah individu mampu terhubung dengan
emosi-emosinya, pikiran-pikirannya dan keterhubungan ini
membuat individu mampu menamakan dari setiap emosi yang
muncul.
2) Kemampuan mengevaluasi emosi (emotions evaluating) yaitu kemampuan individu untuk mengelola dan menyeimbangkan
ini, khususnya emosi negatif seperti kemarahan, kesedihan,
kecewa, dendam, dan benci akan membuat individu tidak
terbawa dan terpengaruh secara mendalam, sehingga
mengakibatkannya tidak mampu lagi berpikir rasional. Sebagai
contoh ketika individu mengalami perasaan kecewa dan benci,
dia kemudian mampu menerima perasaan tersebut apa adanya,
tidak berusaha menolaknya dan kemudian berusaha
menyeimbangkan emosi tersebut secara konstruktif. Misalnya
melihat peristiwa yang menimbulkan kekecewaan dan
kebencian dari sudut pandang yang lebih positif, mengambil
hikmah di balik masalah tersebut atau mencoba untuk
memaafkan diri sendiri atau orang lain yang terlibat dalam
masalah tersebut. Akibatnya dia mampu meredakan
kekecewaannya dan kebenciannya tersebut, sehingga tidak
berlarut-larut terombang-ambing dalam kekecewaan dan
kebencian.
3) Kemampuan memodifikasi (emotions modifications) yaitu kemampuan individu untuk merubah emosi sedemikian rupa
sehingga mampu memotivasi diri terutama ketika individu
berada dalam keadaan putus asa, cemas, dan marah.
Kemampuan ini kemudian membuat individu mampu
menumbuhkan optimism dalam hidupnya. Kemampuan ini
membebaninya, mampu untuk terus berjuang ketika
menghadapi hambatan yang besar, tidak pernah mudah putus
asa dan kehilangan harapan.
Kemampuan regulasi-emosi atau ketrampilan mengelola
emosi menjadi penting bagi individu untuk dapat efektif dalam
melakukan coping terhadap berbagai masalah yang mendorongnya mengalami kecemasan dan depresi. Individu yang mampu
mengelola emosi-emosinya dengan efektif, akan lebih memiliki
daya tahan untuk tidak terkena kecemasan dan depresi. Terutama
jika individu mampu mengelola emosi-emosi negatif yang
dialaminya seperti perasaan sedih, marah, benci, kecewa, atau
frustasi. (Goleman, 1995)
c. Model Pengendalian Emosi
Menurut Hude (2006) emosi yang muncul, terutama emosi
negative, dipicu oleh konflik dan stress. Oleh karena itu,
pengendalian emosi sangat penting untuk mereduksi ketegangan
yang timbul akibat emosi yang memuncak. Ada beberapa model
(bentuk) pengendalian emosi, antara lain :
1) Model displacement, yakni dengan cara mengalihkan atau menyalurkan ketegangan emosi
kepada objek lain. Model ini meliputi katarsis,
2) Model cognitive adjustment, yaitu penyesuaian antara pengalaman dan pengetahuan yang tersimpan
(kognisi) dengan upaya memahami masalah yang
muncul. Model ini meliputi atribusi positif, empati,
dan altruism.
3) Model coping, yaitu dengan menerima atau menjalani segala hal yang terjadi dalam kehidupan,
meliputi syukur-sabar, pemberian maaf, dan
adaptasi.
4) Model lain-lain seperti regresi, represi, dan
relaksasi.
d. Faktor yang Mempengaruhi pengendalian emosi
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengendalian emosi
seseorang, yaitu :
1) Kecerdasan emosional
Goleman (2006) mengemukakan bahwa kecerdasan
emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki
seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam
menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan
menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa.
Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang
dapat menempatkan emosinya pada porsi yang
2) Usia
Teori sosiokognitif berpendapat bahwa seiring
bertambahnya usia terjadi peningkatan kemampuan
dalam memahami dan mengontrol atau
mengendalikan emosi karena pengalaman seseorang
dapat mengembangkan kemampuan yang lebih baik
untuk memahami, mengantisipasi, dan bereaksi
terhadap respon emosional orang lain (Age and the understanding of emotion, 2002).
Dari 2 faktor di atas hanya faktor usia yang dikendalikan dalam
penelitian ini. Faktor usia dikontrol dengan memilih subjek yang berusia
21 tahun ke atas atau orang dewasa. Kecerdasan Emosi tidak dikendalikan
sebab variabel tergantung dalam penelitian ini, yaitu pengendalian emosi
termasuk dalam salah satu kemampuan kecerdasan emosi.
Dalam penelitian ini, pengendalian emosi yang dilakukan adalah
pengendalian emosi negatif dan positif. Emosi negatif adalah hal yang
tidak menyenangkan seperti sedih, marah, iri sedang emosi positif adalah
perasaan yang menyenangkan seperti bahagia, senang, dan sayang.
E. PERBEDAAN PENGENDALIAN EMOSI MEDITATOR DAN
NON-MEDITATOR
Emosi adalah perasaan yang ada dalam diri manusia dan
dapat dirasakan manusia, antara lain marah, sedih, sebal, iri (emosi
negatif) dan senang, bahagia, sayang (emosi positif). Manusia terkadang
sulit mengendalikan emosinya, bahkan mereka cenderung dikuasai
emosinya. Oleh sebab itu, manusia mencari cara untuk dapat
mengendalikan emosinya, baik itu emosi positif ataupun negatif. Menurut
Mangoenprasodjo (2005) mengendalikan emosi berarti belajar. Belajar di
sini berarti belajar menghadapi situasi dengan sikap rasional, belajar
mengenali emosi dan menghindari penafsiran yang berlebihan terhadap
situasi yang dapat menimbulkan respons emosional, bagaimana
memberikan respon terhadap situasi tersebut dengan pikiran maupun
emosi yang tidak berlebihan atau proporsional, sesuai dengan situasinya,
serta dengan cara yang dapat diterima oleh lingkungan sosial, belajar
mengenal, menerima, dan mengekspresikan emosi positif (senang, sayang
atau bahagia) dan negatif (khawatir, sebal, sedih, atau marah) dan belajar
menunda pemuasan kebutuhan. Salah satu cara untuk memudahkan
pengendalian emosi adalah dengan melakukan meditasi.
Meditasi adalah suatu kegiatan mental guna meningkatkan
kesadaran, yang mempengaruhi proses penyembuhan dan pemulihan dari
seluruh tubuh, pikiran, dan jiwa serta memurnikan pikiran sehingga
tercipta kedamaian dan ketenangan dalam pikiran, membuat pikiran
menjadi lebih tajam dan berjangkauan lebih luas dan hati menjadi damai.
Seorang meditator mampu mengendalikan emosi dengan baik berkat
santai, pasrah, dan senyum. Keadaan ini membuat kesadaran mereka untuk
selalu mengendalikan emosi meningkat dan mengarahkan mereka untuk
selalu berbuat baik. Hasil-hasil latihan ini membantu meditator untuk
mengendalikan emosi dengan lebih baik bila menghadapai situasi yang
memicu timbulnya emosi.
Non-meditator memiliki cara sendiri untuk mengendalikan emosi,
misalnya dengan displacement, cognitive adjustment, ataupun coping
(Hude, 2006). Namun cara ini berbeda dengan meditasi yang harus
diulang-ulang dan dilatih terus-menerus, cara non-meditator ini lebih ke
cara yang praktis dan instan, dapat dilakukan tanpa latihan sehingga
pengendalian emosi yang dilakukan hanya secukupnya dan sementara.
Tanpa latihan yang dapat meningkatkan kesadaran dalam mengendalikan
emosi seperti yang dilakukan meditator, non-meditator cendrung kurang
SKEMA DINAMIKA PERBEDAAN PENGENDALIAN EMOSI
MEDITATOR DAN NON-MEDITATOR
Subjek
Meditator Non-meditator
↓ ↓
↓ ↓
↓ ↓
↓ ↓
Tidak melakukan latihan meditasi apapun
Kesadaran mengendalikan emosi meningkat dan menjadi lebih baik
Peningkatan kesadaran kurang
Berhadapan dengan situasi yang memicu emosi
Berhadapan dengan situasi yang memicu emosi
Emosi muncul langsung disadari, kemudian di monitor, dievaluasi, dan dimodifikasi
Emosi muncul tidak langsung disadari sehingga kurang mampu mengendalikan emosi
- Secara teratur
melakukan latihan meditasi
F. HIPOTESIS
Pengendalian emosi Meditator lebih tinggi dibandingkan
31
BAB III
METODE PENELITIAN
A. JENIS PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif mencari perbedaan. Tujuannya untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan pengendalian emosi antara meditator dan non-meditator.
B. IDENTIFIKASI VARIABEL
Variabel independent : meditator dan non-meditator. Variabel dependent : pengendalian emosi.
C. DEFINISI OPERASIONAL 1. Pengendalian emosi
Pengendalian emosi adalah seseorang belajar untuk memahami dan mengenal emosi baik dari perasaan maupun pikiran dan mengontrol ekspresi yang muncul sehingga dapat bertindak sesuai dengan diri dan lingkungannya.
Mempunyai indikator sebagai berikut :
terjadi di dalam dirinya, perasaannya, pikirannya, dan latar
belakang dari tindakannya.
b. Kemampuan mengevaluasi emosi (emotions evaluating) yaitu kemampuan individu untuk mengelola dan menyeimbangkan
emosi-emosi yang dialaminya.
c. Kemampuan memodifikasi (emotions modifications) yaitu kemampuan individu untuk mengubah emosi sedemikian rupa
sehingga mampu memotivasi diri terutama ketika individu berada
dalam keadaan putus asa, cemas, dan marah. Kemampuan ini
kemudian membuat individu mampu menumbuhkan optimism
dalam hidupnya.
Skor pengendalian emosi diperoleh dari skor total Skala
pengendalian emosi. Semakin tinggi skor total maka skala subjek
mempunyai pengendalian emosi yang baik, dan apabila skor total skala
rendah, subjek memiliki pengendalian emosi yang buruk.
2. Meditator dan non-meditator
a. Meditator
Meditator adalah laporan subjek bahwa ia telah melakukan
meditasi buka hati minimal 6 bulan, sebab selama 6 bulan tersebut
meditator buka hati berlatih untuk dapat melanjutkan ke tingkat
lebih tinggi. Diketahui dengan menanyakan hal tersebut kepada
subjek.
b. Non-meditator
Non-meditator adalah laporan subjek bahwa dirinya sama sekali
tidak melakukan meditasi jenis apapun.
D. SUBJEK PENELITIAN
Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, yaitu mengambil sampel dengan sengaja memilih atau menunjuk di antara
anggota populasi yang memenuhi syarat (Suryabrata, 2004). Syarat dalam
penelitian ini untuk meditator adalah subjek yang telah mengikuti meditasi
buka hati minimal 6 bulan dan untuk non-meditator adalah subjek yang
tidak melakukan meditasi jenis apapun. Subjek yang diambil adalah
orang-orang yang telah dewasa atau berusia 21 tahun ke atas baik pria maupun
wanita sebab secara umum orang dewasa dianggap lebih dapat menyadari
emosinya sendiri dibandingkan dengan anak-anak dan remaja. Dalam
penelitian ini dikumpulkan 50 subjek terlebih dahulu yang digunakan
sebagai tryout, 25 subjek merupakan meditator buka hati dan 25 subjek lainnya merupakan non-meditator. Setelah dilakukan penghitungan dan
ada item yang digugurkan, dilakukan pengujian kembali terhadap 50 orang
subjek yang berbeda menggunakan item yang tersisa, dimana 25 subjek
E. ALAT PENGUMPUL DATA
Alat ukur yang digunakan untuk mengungkap variabel
pengendalian emosi berupa skala pengendalian emosi yang disusun
peneliti berdasar indikator yang diungkapkan oleh Thompson (1994).
Jumlah aitem 36 butir, terdiri dari empat alternatif jawaban. Skala yang
dipergunakan adalah skala Likert dengan nilai 1 = sangat tidak setuju, 2 =
tidak setuju, 3 = setuju, 4 = sangat setuju.
Aitem-aitem disusun dengan pernyataan favourable dan
unfavourable. Aitem favourable adalah aitem yang mengarah sejauh mana pengendalian emosi diterapkan, sedangkan aitem unfavourable adalah aitem yang tidak menunjukkan pengendalian emosi diterapkan.
F. VALIDITAS DAN RELIABILITAS
1) Validitas
Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah
validitas isi. Validitas berkaitan dengan kemampuan alat ukur
untuk mengukur secara tepat apa yang harus diukur. Validitas isi
berarti validitas yang diestimasi melalui pengujian terhadap isi tes
dengan analisis rasional atau professional judgement (Azwar, 2000). Professional judgement untuk penelitian ini dilakukan oleh dosen pembimbing. Validasi alat ukur tes adalah sejauh mana isi
Validitas isi dibagi menjadi 2, yaitu validitas muka dan
validitas logik. Validitas muka dilihat apakah tampilan alat ukur
tersebut meyakinkan dan berkesan mampu mengukur apa yang
hendak diungkap. Validitas logik diperiksa melalui kesesuain aitem
dengan tabel spesifikasi skala sehingga skala hanya berisi
aitem-aitem yang relevan.
2) Seleksi Aitem
Seleksi aitem bertujuan untuk mendapatkan aitem-aitem
yang layak digunakan untuk penelitian. Kelayakan aitem total
mengacu pada korelasi aitem total. Koefisien korelasi aitem total ≥ 0,3 berarti aitem layak digunakan dan koefisien korelasi ≤ 0,3 berarti aitem tidak layak digunakan dalam penelitian (Azwar,
2000).
Analisis aitem untuk skala pengendalian emosi yang
diujikan pada 50 subjek tryout diperoleh korelasi aitem total yang berkisar antara -0,613 sampai 0,613. Hasil tersebut menunjukkan
sebanyak 13 aitem gugur dan 23 aitem tersisa. Aitem yang gugur
berasal dari indikator kemampuan memonitor emosi sebanyak 5
aitem, dari indikator kemampuan mengevaluasi emosi sebanyak 4
aitem, dan dari indikator kemampuan memodifikasi emosi
sebanyak 4 aitem.
Dari 23 aitem tersisa dilakukan kembali penghitungan dan
1 aitem kembali gugur dan 22 aitem yang layak digunakan pada
skala pengendalian emosi. Aitem yang gugur berasal dari indikator
kemampuan memodifikasi emosi.
Setelah itu, aitem tersisa diujikan kembali pada 50 subjek
yang berbeda dan diperoleh korelasi aitem total yang berkisar
antara 0,311 sampai 0,619. Hasilnya tidak ada aitem yang gugur
dan seluruh aitem layak digunakan pada skala pengendalian emosi.
3) Reliabilitas
Azwar (2000) menyatakan bahwa reliabilitas menunjukkan
sejauh mana hasil pengukuran dapat dipercaya. Tinggi rendahnya
reliabilitas alat ukur ini ditunjukkan oleh koefisien reliabilitas.
Semakin tinggi koefisien reliabilitas maka semakin baik alat ukur
tersebut. Nilai koefifien reliabilitas diperoleh melalui pendekatan
konsistensi internal, yakni memberikan satu kali tes pada
sekelompok subjek penelitian. Penghitungan nilai koefisien
reliabilitas menggunakan koefisien alpha Cronbach dalam program
SPSS versi 13.0.
Dari pengujian yang dilakukan dengan jumlah subjek
sebanyak 50 orang tersebut diperoleh nilai reliabilitas sebesar
0,837, kemudian setelah dilakukan pengguguran aitem dan
dihitung ulang diperoleh nilai reliabilitas sebesar 0,890. Setelah
diperoleh hasil akhir dengan reliabilitas 0,865. Hal ini berarti skala
yang digunakan dalam skala pengendalian emosi reliabel.
G. ANALISIS DATA
Data-data hasil penelitian menggunakan uji t yang bertujuan
mencari perbedaan pengendalian emosi antara meditator-dan
non-meditator. Sebelum melakukan uji t terlebih dahulu penghitungan harus
Tabel 1. Item pengendalian emosi sebelum pengujian
Indikator
Nomer item Jumlah item Total item
(%) Favourable Unfavourable Favoura
ble Unfavou rable Kemampuan memonitor emosi
1, 7, 13, 19, 25, 31
4, 10, 16, 22,
28, 34 6 6
12 (33,33 %) Kemampuan
mengevaluasi emosi
5, 11, 17, 23, 29, 35
2, 8, 14, 20,
26, 32 6 6
12 (33,33 %) Kemampuan
memodifikasi emosi
3, 9, 15, 21, 27, 33
6, 12, 18, 24,
30, 36 6 6
12 (33,33 %)
Total 18 18 36
(100%)
Tabel 2. Item pengendalian emosi sesudah pengujian
Indikator
Nomer item Jumlah item Total item
(%) Favourable Unfavourable Favoura
ble Unfavou rable Kemampuan memonitor emosi
19, 31 10,16,22,
28, 34 2 5
7 (33,33 %) Kemampuan
mengevaluasi emosi
11, 17, 29 2, 14, 20, 26,
32 3 5
8 (33,33 %) Kemampuan
memodifikasi emosi
9, 15, 21,
27 6, 12, 30 4 3
7 (33,33 %)
Total 9 13 22
39
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. ORIENTASI KANCAH PENELITIAN
Yayasan Padmajaya didirikan oleh Bapak Irmansyah Effendi. Yayasan ini mengajarkan dan mengembangkan meditasi Buka Hati. Meditasi buka hati mulai berkembang di Indonesia pada awal tahun 2000 dan mulai tersebar luas ke mancanegara pertengahan tahun 2000. Saat ini sudah ada ribuan orang yang mendalami meditasi buka hati di seluruh dunia.
Meditasi buka hati adalah meditasi dengan menggunakan doa dan bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan YME. Inti dari meditasi ini adalah santai, senyum, dan pasrah. Ajaran meditasi ini tidak menganut ajaran suatu agama tertentu sehingga semua orang dapat mempelajari meditasi ini dengan bebas. Hal ini membuat penyebaran meditasi buka hati lebih mudah dan cepat karena dapat diterima setiap orang.
B. PELAKSANAAN PENELITIAN
orang-orang kantor, mahasiswa serta masyarakat yang bersedia
mengisi angket dan belum pernah mengikuti meditasi.
C. DESKRIPSI DATA PENELITIAN
Sebanyak 22 item diujikan dalam penelitian ini. Dari 22 item
sebanyak 9 item favourabel dan 13 item unfavourabel. Dari hasil
pengujian didapatkan korelasi item total antara 0,311 dan 0,619 dan
reliabilitas sebesar 0,865.
D. ANALISIS DATA
Sebelum melakukan uji t, ada uji asumsi yang harus dipenuhi
terlebih dahulu, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Berikut ini
pembahasan uji normalitas dan uji homogenitas
1. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan tes
Kolmogorov-Smirnov. Hasil uji Kolmogorov-Smirnov menunjukkan bahwa data
pengendalian emosi meditator dan non-meditator mempunyai
Tabel 3. Hasil Perhitungan Uji Normalitas
Kolmogorov-Smirnov
2. Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan dengan menggunakan independent
samples t-test dan didapatkan data penelitian yang homogen
dengan nilai signifikansi 0,698 dan F = 0,153.
Tabel 4. Hasil Perhitungan Uji Homogenitas
F Signifikansi
0,153 0,698
3. Uji Hipotesis
Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan independen sample
t-test. Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada perbedaan
pengendalian emosi antara meditator dan non-meditator. Hasil
t-test menunjukkan nilai t = 6,078 dan nilai p = 0,000 (p ≤ 0,05) yang berarti ada perbedaan pengendalian emosi yang signifikan
antara meditator dan non-meditator. Nilai mean meditator = 74,52
Keterangan meditator Non meditator
Kolmogorov-Smirnov
0,718 0,770
Asymp. Sign (ρ). 2 tailed
dan mean non-meditator = 63,96 berarti pengendalian emosi
meditator lebih tinggi daripada non-meditator.
Tabel 5. Hasil Uji t
Variabel t Sig. (2-tailed) df MD
Pengendalian
emosi
6,078 0,000 48 10,560
E. PEMBAHASAN
Hasil penelitian ini menunjukkan ada perbedaan pengendalian
emosi yang signifikan antara meditator dan non-meditator. Nilai mean
meditator 74,52 lebih besar daripada non-meditator 63,96
menunjukkan bahwa pengendalian emosi meditator lebih tinggi
daripada pengendalian emosi non-meditator. Meditator di sini adalah
orang-orang yang melakukan meditasi buka hati. Penelitian ini
menunjukkan bahwa pengendalian emosi yang meliputi kemampuan
memonitor emosi, kemampuan mengevaluasi emosi, dan kemampuan
memodifikasi emosi pada meditator buka hati lebih tinggi daripada
non-meditator
Hasil penelitian ini, mendukung hasil penelitian Bogart (1991)
yang menemukan keuntungan bermeditasi, antara lain membuat
seseorang menjadi tenang, mencapai keseimbangan antara pikiran dan
emosi, dan menjadi lebih percaya diri. Selain itu, seseorang menjadi
negatif, dan menciptakan ketenangan yang membawa pada efisiensi
kerja, keterbukaan perasaan, penerimaan, dan membangkitkan
kesadaran yang lebih tinggi di kehidupan sehari-hari.
Penelitian lain yang mendukung kelebihan meditasi adalah
penelitian oleh Psikolog Universitas California, San Fransisco, Paul
Ekman (dalam Lominto, 2003). Ia meneliti 15 orang guru yang
mengikuti kursus meditasi selama 5 minggu. Para guru tersebut
mengikuti sederetan tes psikologi sebelum dan sesudah pelatihan.
Hasilnya adalah tanggapan-tanggapan emosional para subjek menjadi
lebih positif setelah mengikuti pelatihan daripada sebelumnya.
Inti dari meditasi buka hati adalah santai, senyum, dan pasrah.
Ketiga hal ini dapat dipraktekkan oleh masyarakat umum tanpa perlu
melakukan latihan meditasi buka hati. Manfaat dari santai, senyum,
dan pasrah telah banyak dibicarakan oleh peneliti-peneliti, salah
satunya adalah Murray. Murray (2001) mengatakan belajar untuk
menenangkan pikiran dan tubuh sangat penting untuk mengatasi stress.
Salah satu caranya adalah belajar untuk bersantai atau relaksasi.
Latihan relaksasi akan menghasilkan sebuah respon fisiologis yang
dikenal dengan nama relaxation response, sebuah respon yang merupakan lawan dari stress response.
Relaksasi yang dikatakan Murray hampir sama dengan konsep
santai dalam meditasi buka hati, yang mengatakan juga bahwa ada dua
membuat fisik dan pikiran santai disarankan untuk mencoba duduk
dengan punggung lurus tanpa memaksa dengan mata tertutup dan
menarik nafas yang dalam tanpa memaksa. kemudian nafas
dihembuskan pelan melalui mulut sambil berniat mengeluarkan
ketegangan otak dan fisik. Cara ini diulangi beberapa kali hingga diri
merasa santai dan dapat menikmati rasa santai tersebut. (Effendi,
2008)
Menurut Effendi (2008), dalam meditasi buka hati selain santai,
senyum tidak kalah penting. Senyum dalam buka hati bermaksud agar
dominasi otak berkurang dan fisik lebih santai sehingga dapat
membuka hati lebih baik lagi. Hati tidak akan terbuka apabila sedang
marah-marah atau sedang dipenuhi oleh emosi negatif. Hal ini
menunjukkan bahwa dengan tersenyum, seseorang dapat mengubah
emosi negatif menjadi positif. Keadaan ini tidak berbeda jauh seperti
yang diutarakan dalam facial feedback hypothesis. Hipotesis ini menyatakan bahwa pergerakan facial yang dilakukan dapat menunjukkan informasi mengenai pengalaman emosional (Bernstein,
et al., 2000). Davis dan palladino juga menambahkan bahwa feedback
45
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan analisis data, hasil penelitian ini adalah perbedaan
pengendalian emosi yang signifikan antara meditator buka hati dan
non-meditator. Hasil ini dapat dilihat dari t yang dihasilkan sebesar 6,078 dan
signifikansi 0,000 (ρ ≤ 0,05). Pengendalian emosi meditator buka hati lebih tinggi dibandingkan dengan non-meditator, dapat dilihat dari mean
sebesar 74,52 pada meditator dan mean sebesar 63,96 pada non-meditator.
B. SARAN
a. Bagi peneliti lain :
Bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti hal yang sama
dengan penelitian ini disarankan dapat menggunakan jenis
meditasi lain sebagai objek penelitiannya agar dapat diketahui
apakah meditasi lain memiliki pengaruh pada pengendalian
emosi seperti meditasi buka hati.
b. Bagi masyarakat :
Bagi masyarakat yang ingin mencoba untuk mengendalikan
emosi dengan lebih baik bisa mempraktekkan senyum, santai
Daftar Pustaka
Albin, R.S. (1986). Emosi : Bagaimana Mengenal, Menerima, dan Mengarahkannya. Yogyakarta : Kanisius.
Azwar, S. (2004). Dasar-dasar Psikometri. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Azwar, S. (2000). Sikap Manusia : Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar.
Azwar, S. (2004). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Berkowitz, L. (1995). Emotional Behavior. Jakarta : PPM.
Bogart, G.(1991). The Use of Meditation In Psychotherapy - A Review of the Literature. The American Journal of Psychotherapy, Vol. XLV, No. 3,
1991, pp. 383?412, PubMedAbstract PMID 1951788.
Effendi, I. (2008). Hati : Mengenal, Membuka, dan Memanfaatkannya. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Effendi, I. (1999). Kesadaran JIwa : Teknik Efektif untuk Mencapai Kesadaran yang Lebih Tinggi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Effendi, I. (2003). Mencapai Tujuan Hidup yang Sebenarnya. Jakarta : Gramedia
Pustaka Utama.
Effendi, I. (2008). Hati Nurani. Jakarta : Gramedia.
Goleman, D. (2006). Emotional Intelligence. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Gottman, J. & DeClaire, J. (2003). Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Hadi, S. (2001). Statistik : Jilid 1. Yogyakarta : Andi. Hadi, S. (2000). Satistik : Jilid 2. Yogyakarta : Andi.
Heider, K.G. (1991). Landscapes of Emotion : Mapping Three Cultures of Emotion in Indonesia. New York : Cambridge University Press.
Humphrey, N. (2000). Meditasi : Jalan ke Dalam Diri. Jakarta : Abdi Tandur. Hurlock, E. B. (2000). Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan, editor oleh Drs. Ridwan Max Sijabat : Erlangga. Hurlock, E. B. (2003). Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan, editor oleh Drs. Ridwan Max Sijabat : Erlangga. Krishna, A. (2006). Seni Memberdaya Diri : Meditasi dan Reiki untuk
Manajemen StressKesehatan Jasmani dan Rohani. Jakarta : Gramedia. Leech, N.L, Barret, K.C., & Morgan, G.A. (2005). SPSS for Intermediate
Statistics Use and Interpretation (ed. Ke-2). New Jersey : LEA.
Mangoenprasodjo, A.S. (2005). Self Improvement For Your Stress.
Yogyakarta : Thinkfresh.
Murray, M.T. (2001). Stress-Relax : The Effective Nutritional System for a Calmer Life. Diunduh pada tanggal 30 Agustus 2009 dari
http://us.naturalfactors.com/pdf/ADM2831Stress RelaxColor_NoLifestylePic.pdf
Philips, B. (2004). Mengendalikan Emosi-emosi Anda Sebelum Mereka Menendalikan Anda. Batam : Interaksara.
Phillips, L.H, MacLean R.D.J & Allen R. (2002). Age and The Understanding of Emotions. Diunduh pada tanggal 30 November 2009 dari
http://psychsoc.gerontologyjournals.org/cgi/content/full/57/6/P526
Pokharna, H. Meditation. Diunduh tanggal 20 maret 2007 dari
http://books.google.co.id/books?id=bpBdWICdwtUC&pg=PA81&lpg=P8 1&dq=pokharna+meditation&source=bl&ots=ZKsHJA8Knl&sig=MnskUr LTydj36nb3yFlVPiMrzio&hl=id&ei=MYYDSyuDIGBkQWqkLC4AQ&s a=X&oi=book_result&ct=result&resnum=3&ved=0CBYQ6AEwAg#v=on epage&q=pokharna%20meditation&f=false
Read, K & Purse, M. (2009). What’s in a Smile?. Diunduh tanggal 30 Agustus 2009 dari http://bipolar.about.com/cs/humor/a/000802_smile.htm
Reymert. M.L (1950). Feelings and Emotions : The Mooseheart Sym