9
Bab II
Tinjauan Pustaka
Guna memudahkan pembahasan masalah yang timbul, penulis akan mencoba memberikan definisi akuntansi dan pandangan beberapa penulis.
2.1 Definisi Akuntansi.
Pada tahun 1941, sebuah komite Terminologi dari American Institute of Accountant. Yang sekarang menjadi AICPA memformula sebuah definisi,:
Accounting is the art of recording, classifying, and summarizing in a significant manner and in terms of money, transactions and events which are in part at least, of a financial character, and interpreting the results thereof '
Kutipan di atas menjelaskan bahwa akuntansi merupakan seni yang mencatal, mengklasifikasikan, dan meringkas ke dalam tujuan tertentu dengan istilah uang.
Tugas seorang akuntan adalah mengukur fungsi dari suatu kejadian kedalam satuan finansial atau menganalisis rasio, dan juga menginterprestasikan hasilnya.
Nantinya dalam menelusuri harus sama antara jumlah fisik dan jumlah satuan mata uang yang dicatat. Selain itu penggunaan model materr.atik sangat diperlukan dalam menentukan keputusan yang akan diambil akuntan.
1 Vernon Kam, Accounting Theory,2nd Edition (New York:John Wiley & Son, 1990), Page 33.
Accounting is a process of three activities: identifying, recording, and communicating the economic events of an organization (business or nonbusiness) to interested users of the information.
Pada definisi di atas disebutkan bahwa dilihal dari sisi sistem informasi keuangan, akuntansi meliputi tiga proses aktivitas, yaitu mengidentifikasi kejadian ekonomi pada perusahaan, mencatatnya ke dalam jumal secara sistematis berdasarkan bukti yang ada dan mengkomunikasikannya dalam bentuk laporan keuangan. Tetapi akibat banyaknya definisi yang ada, Belum ada definisi Akuntansi secara tepat untuk menggambarkan luas lingkup dan sifat akuntansi. Badan penyusun standar yang otoratif (Komite Prinsip akuntansi IAI FASB, dan sebagainya) tidak mengemukakan definisi akuntansi yang resmi. Definisi yang sudah umum dipakai adalah :
Accounting is the body of knowledge and functions concered with systematic originating, authenticating, recording, classifying, processing, summerrizing, analyzing, interpreting, and supplying of dependable and significant information covering, transaction and event which are, in part at least, of financial character, required for the management and operation of an entity and for report that have to he submitted there on to meet fiduciary and other responsibilities3
Pada kutipan di atas dapat dijelaskan bahwa akuntansi merupakan seperangkat pengetahuan sebagai hasil pemikiran para ahli akuntan untuk menghasilkan seperangkat informasi yang bermanfaat. Selain itu proses pemilihan
2 Weygandt, Jerry J.Donald E Kieso and Walter G. Kell (1996), Accounting Principle, 4th edition, New york: John Willey & Sons, Inc. Page 2.
3 Paul Grady, "Inventory of Generally Accepted Accounting Principles for Business Enterprises,"
Accounting Research Study no 7 (New York AICPA, 1965) Page, 2.
11
informasi dan proses penyediaan/pengelolaan informasi tersebut. Jadi akuntansi tidak semata-mata merupakan suatu pengetahuan yang bersifat mekanis atau keterampilan akan tetapi melibatkan suatu proses pemikiran atau penalaran "The body of knowledge" dalam definisi tersebut dapat diartikan sebagai sep>erangkat standar/prinsip akuntansi dan konsep-konsep serta penalaran yang melandasi penyusunan prinsip tersebut sedangkan "functions" dapat diartikan sebagai fungsi dalam organisasi perusahaan yang melaksanakan proses tersebut Proses pemikiran dan penalaran ditunjukkan dalam ungkapan "dependable and significant ... required for management and operation of an entity"
Definisi selanjutnya terdapat pada APB No.4, yang dapat menjelaskan akuntansi sebagai suatu aktivitas jasa yang memiliki fungsi menyediakan informasi kuantitatif, terutama yang bersifat keuangan tentang satuan-satuan ekonomi yang dapat bermanfaat dalam menetapkan pilihan-pilihan yang logis diantara berbagai tindakan alternatif. Kutipan aslinya yang terdapat pada APB dapat dilihat pada kutipan di bawah ini,
Accounting is a service activity. Its fiction is to provide quantitative information, primarily financial in nature, about economic entities that is intented to be useful in making economic decisions.4
Definisi keempat ini lebih menekankan pengertian akuntansi sebagai alat untuk mencapai tujuan yaitu menyediakan informasi yang bermanfaat dan pelaporannya untuk pengambilan keputusan ekonomik Seperti pada definisi
A Accounting Principles Board, " Basic Concepts and Accounting Principles Underlying Financial Statement of Business Enterprises," APB Statement No. 4 (New York: AJCPA, 1970), Paragaph 9
menjelaskan akuntansi sebagai proses teknis tetapi juga sebagai proses konseptual dalam menyediakan informasi. Proses pemikiran konseptual ini sering disebut sebagai pengetahuan teoretis sebagai pasangan (counterpart) pengetahuan praktik.
Definisi di atas dapat disebut sebagai definisi yang umum, sebab definisi tersebut tidak menjelaskan di mana, kapan dan bagaimana akuntansi diterapkan.
Definisi tersebut tidak menjelaskan suatu struktur atau model akuntansi yang berlaku dalam kondisi dan lingkungan tertentu, untuk menjadikan akuntansi operasional dan bermanfaat dalam lingkungan tertentu. Atas dasar tujuan tersebut maka dapat dirancang bangun suatu struktur atau model akuntansi yang cocok untuk mencapai tujuan tersebut. Pada akhirnya struktur akuntansi dan proses pemilihan konsep-konsep yang terlibat di dalamnya akan menghasilkan seperangkat konsep terpadu yang menjadi acuan dalam menyusun standar-standar tersebut akan menentukan jenis dan penyajian informasi yang dianggap bermanfaat dan merupakan praktik yang diharapkan. Jadi dapat dikatakan bahwa praktik akuntansi merupakan "produk" proses pemikiran dan pemilihan konsep- konsep serta faktor-faktor yang spesifik dalam lingkungan tertentu untuk mencapai tujuan pelaporan keuangan dalam lingkungan tersebut. Manfaat (usefulness) informasi akuntansi hanya dapat dinilai atas dasar tujuan pelaporan yang ingin dicapai oleh akuntansi dalam kondisi dan lingkungan tertentu.
•
13
2.2 Tujuan Pelaporan Keuangan
Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.(PSAK,1995).
Menurut Suwardjono (1989,3) sebenarnya akuntansi sebagai alat tidak memiliki tujuan, karena yang mempunyai tujuan sebenarnya adalah penyampaian informasi keuangan yang dihasilkan oleh akuntansi. Oleh sebab ilu islilah pelaporan keuangan digunakan dalam pembahasan ini dan bukan tujuan akuntansi atau laporan keuangan. Tujuan laporan mempunyai pengertian yang lebih luas dalam menggambarkan fungsi akuntansi sebagai penyedia informasi keuangan.
Karena akuntansi merupakan suatu kegiatan yang menghasilkan jasa berupa informasi keuangan, maka akuntansi sebagai alat akan memenuhi "ungsinya dengan baik kalau jasa yang dihasilkan benar-benar merupakan jasa yang dibutuhkan oleh pihak yang berkepentingan dengan informasi tersebut.
Tujuan laporan keuangan sebenarnya dipengaruhi oleh faktor lingkungan di mana akuntansi tersebut akan diterapkan Suwardjono (1989,13:14) memberikan penjelasan terhadap langkah-langkah dan faktor yang harus dipertimbangkan dalam menyusun kerangka acuan yang menjadi dasar struklur akuntansi yang berlaku dalam lingkungan tertentu. Seperti pada gambar 2 1 Penalaran Dalam Menyusun Prinsip Akuntansi Berterima Umum.
Faktor Lingkungan
(sosial, budaya,ekonomi,dan politik)
I
Tujuan Pelaporan
1
Konsep Dasari
ir Prinsip Akuntansi Berterima Umum
1 r
Standar Akuntansi
*. Tradisi/Konvensi
*. Praktik yang lazim
i r Praktik
(Prosedur, metode, Teknik)
Gambar 2.1
Penalaran Dalam Menyusun Prinsip Akuntansi Berterima Umum Sumber: Sen Teori Akuntansi, Suwardjono
Penjelasan penyusunan kerangka acuan struktur akuntansi dapat diuraikan, sebagai berikut:
1. Pernyataan tentang karakteristik lingkungan ekonomi, politik, budaya dan sosial tempat akuntansi akan dilerapkan. Misalnya saja pernyataan tentang sistem ekonomi, iklim usaha, bentuk-bentuk badan usaha yang umum dan cara pemenuhan modal nya.
2. Pernyataan tentang tujuan laporan keuangan.
3. Penetapan kendala-kendala yang mengarah atau mempengaruhi proses penalaran. Misalnya, identifikasi dan evaluasi terhadap kebutuhan pemakai akan informasi keuangan dan kendala-kendala pemakai untuk memahami, menginteprestasi, dan menganalisis informasi yang
15
disajikan kepada mereka. Juga identifikasi karakteristik kualitatif informasi keuangan sebagai kendala pemilihan informasi yang dianggap relevan.
4. Identifikasi dan pemilihan informasi apa yang harus disajikan dan simbol atau elemen laporan keuangan apa yang dapat merepresentasikan makna informasi tersebut.
5. Pengembangan dan pendefinisian elemen atau simbol yang menjadi sarana untuk mengkomunikasikan informasi tentang operasi suatu unit usaha dan linglcungannya.
6. Identifikasi dan evaluasi tehadap kendala-kendala mengenai pengukuran, penilaian, pengakuan dan pengungkapan informasi ke dalam elemen laporan keuangan.
7. Pengembangan standar akuntansi yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam pengukuran, penilaian, pengakuan dan penyajian elemen laporan.
8. Perancangbangunan struktur dan format sistem informasi (prosedur, metode dan teknik) untuk mengumpulkan dan mengolah data serta untuk meringkas dan melaporkan informasi yang relevan.
9. Penerapan standar dalam situasi yang sesungguhnya berdasarkan prosedur dan metode yang diplih.5
Karena tujuan akuntansi terpengaruh oleh faklor lingkungan, sehingga penerapannya pada tiap negara tidak akan sama. Sebab disesuaikan dengan ciri negara yang menerapkannya. Para ahli meragukan akuntansi sebagai ilmu yang murni, dengan alasan jika memang akuntansi sebagai ilmu murni hendaklah pada tiap negara atau lingkungan yang menerapakannya harus sama semua.
Hendriksen mendefinisikan teori akuntansi secara pragmatis, sebab ia tahu benar akan apa yang dibahas dalam bukunya tidak mencerminkan pengertian teori sebagai penjelasan ilmiah, ungkapan yang menggambarkan pernyataan Hendriksen:
A single General theory of accounting may be desirable, but accounting as a logical and empirical science is still in too primitive a stage for such a
5 Eldon S. Hendriksen, Accounting Theory (Homewood Ill,:Richard D. Irwin Inc., 1982),Page I.
development. The best that can be accomplished in this developmental stage is a set of theories (models) and sublheories thai may complementary or competing6
Dengan mempelajari isi buku yang ditulis oleh Hendriksen tersebut, dapat disimpulkan bahwa Models dan Subtheories yang dimaksud adalah teori dan ilmu pengetahuan murni yang sudah mapan seperti teori ekonomi, seperti halnya hukum penawaran dan permintaan, Walaupun diterapkan di lingkungan negara manapun tetap relevan/sama semua perlakuannya, sehingga mencerminkan keberadaannya sebagai ilmu.
Belkaoui juga mengungkapkan pendapatnya tentang teori akuntansi. la menganggap teori akuntansi hanyalah sebagai suatu kemungkinan dan tidak didasarkan atas adanya kebutuhan atau penelitian ilmiah, namun atas dasar keyakinan atau perasaan semata-mata (as an article of faith). Dengan pemikiran tersebut maka pembahasan akuntansinya atas dasar pengertian. Jadi bukan teori sebagai penjelasan ilmiah dan metodologinya tidak harus menggunakan metodologi ilmiah bahkan dapat menggunakan banyak metodologi dan pendekatan. Kutipan Belkaoui pada bukunya,
The primary objective of accounting theory is to provide a basis for the prediction and explanation of accounting behavior and event. We assume, as an article of faith, that an accounting theory is possible, ...It must be recognized at the outselthat at the present time, no comprehensive theory of accounting exist. Instead, different theories have been and continued to be proposed in the literature7
6 Hendriksen, op. Cit., Page 15.
7 Ahmed Belkaoui, Accounting theory (New York Harcourt Brace Jovanovich, Inc., 1981).
17
Dalam buku Structure of Accounting Theory, Littleton menyebutkan bahwa keberadaan akuntansi merupakan suatu teknologi.
Accounting is a technology, a modified statistical technology. The details of a technical methodology are prescribed by and at the same lime are limited by its objectives, major and minor. Those who use accounting intimately and those who leach its intricacies develop a keen awareness of the service this technology can be made to render, and experience an increasing appreciation of the interrelation of objectives and methods.8
Littleton menjelaskan bahwa struktur akuntansi termasuk metode dan teknik yang dapat dipengaruhi oleh tujuan yang ingin dicapai oleh pengguna akuntansi tersebut {Prescribed and limited by its objectives). Juga ditegaskan belum ada suatu antar hubungan tujuan dan metode. Hubungan ini dapat diartikan sebagai gagasan-gagasan (ideas) tentang bagaimana akuntansi dapat digunakan sebagai alat untuk tujuan keuangan dan pengendalian. Penjelasan Littleton tersebut dipandang oleh Bambang Sudibyo sebagai struktur rekayasa akuntansi, sebab pada buku Littleton "Structure of Accounting Theory" sebenarnya lebih menggambarkan suatu kerangka acuan yang terdiri dari atas elemen tujuan, definisi, postulat, prinsip, metode, dan teknik yang saling berkaitan secara terpadu dan elemen-elemen tersebut berhubungan secara konseptual dan menggambarkan gagasan-gagasan tentang apa yang hendak dicapai dengan akuntansi.
A.C. Littleton, Structure of accounting Theory (New York:AAA, 1974)
Secara pribadi pandangan Sudibyo mengatakan bahwa pada kenyataannya akuntansi tidak mempunyai sifat-sifat sebagai ilmu murni dan oleh karenanya tidak memerlukan teori akuntansi (dalam pernyataan hipotesis).
Akuntansi lebih merupakan suatu teknologi dan oleh karenanya harus dikembangkan sesuai dengan si fat teknologi tersebut agar lebih bermanfaat dan mempunyai pengaruh nyata dalam kehidupan sosial tertentu ...9
Pernyataan Sudibyo dalam memandang akuntansi bukan sebagai ilmu yang murni juga mendapat dukungan dari Suwardjono, namun ia melihat istilah yang lebih tepat untuk pengertian akuntansi adalah teknologi, sebab istilah tersebut lebih mudah untuk menjelaskan dan memahami materi yang dibahas dalam literatur teori akuntansi keuangan.
Apa yang dipelajari dalam mata kuliah akuntansi keuangan (Pengantar, menengah, dan lanjutan) sebenarnya adalah produk dari perekayasaan akuntansi Amerika dan bukan teknologi itu sendiri. Kalau hal ini tidak disadari, maka yang mungkin terjadi adalah kita berpikir bahwa produk tersebut merupakan model yang universal dan dapat diterapkan dalam segala situasi. Yang lebih parah lagi, kita menjadi cenderung menolak gagasan-gagasan baru. Karena itu perlu dibedakan anatara transfer teknologi dan transfer produk. Transfer produk selalau membawa serta faktor-faktor dan karakteristik lingkungan yang dipertimbangkan dalam merekayasa dan merancang produk aslinya. Transfer teknologi tersebut dapat direkayasa suatu produk yang cocok dengan lingkungan diterapkannya teknologi tersebut. I0
Supaya lebih jelas akan maksud dari Suwardjono, selanjutnya dapat dilihat ilustrasi gambar 2.2 berikut mengenai Transfer Teknologi Akuntansi.
9 Bambang Sudibyo, "Rekayasa Akuntansi dan Permasalahannya di Indonesia," Akuntansi edisi.
No.6,juni 1987.
10 Suwardjono," Teori Akuntansi," Seri Perekayasaan Akuntansi Keuangan". Cetakan Pertama, Yogyakarta, BPFE Yogayakarta, 1989.
Teknologi Akuntansi Amerika
Transfer Teknologi
Teknologi Akuntansi Amerika
Faktor Lingkungan Tujuan pelaporan
Konsep dasar Kerangka acuan
Transfer w Perekayasaan
Faktor lingkungan Tujuan pelaporan
Konsep dasar Kerangka acuan
+
Prinsip Akuntansi Berterima Umum (termasuk standar)
Laporan Keuangan (Bentuk, jenis, isi)
Transfer w Produk
+
Prinsip Akuntansi Berterima Umum (termasuk standar)
Laporan Keuangan (bentuk, jenis, isi)
Gambar 2.2
Transfer Teknologi Akuntansi Sumber: Seri Teori Akuntansi, Suwardjono
2.3 Perkembangan Konsep Enterprise
Konsep Enterprise mulai berkembang pesat pada negara Inggris, walaupun sebenarnya konsep Enterprise atau lebih dikenal dengan istilah Value Added Concepts I Konsep Nilai Tambah telah dipakai pada abad ke-18 oleh "US Treasury". Konsep ini secara bertahap mulai menjadi bahan diskusi oleh para akuntan dengan membahas apakah konsep tersebut perlu atau tidak dimasukkan kedalam instrumen laporan keuangan. Perkembangan konsep tersebut di Inggris
menjadi sangat pesat setelah mendapat dukungan dan pihak pemerintah Inggris. BuJan April 1973, pemerintah Inggris memberlakukan pajak pertambahan nilai (Value Added Tax). Administrasi pajak ini sebenarnya tidak mensyaratkan perlu disajikan laporan nilai tambah. Selain itu laporan nilai tambah tidak dapat digunakan untuk verifikasi pajak mengingat rumitnya ketentuan mengenai barang- barang dan jasa-jasa yang tidak kena pajak, akan tetapi diberlakukannya ketentuan pajak tersebut meningkatkan kesadaran dunia bisnis mengenai makna dari nilai tambah.
Hal ini didukung dengan terbitnya sebuah "Discussion Paper" yang diberi judul "the Corporate Report" oleh The Accounting Standards Steering Committee
sekarang (The Accounting Standards Committee, ASC) pada tahun 1975. Pada dasarnya ASC berpendirian bahwa meskipun informasi yang disediakan oleh laporan keuangan konvensional berguna bagi para pemegang saham dan kreditur, namun informasi tersebut kurang berguna bagi para pemakai lainnya. Atau dengan kata lain, ASC menolak anggapan bahwa pemenuhan kebutuhan informasi para investor dan kreditur secara otomatis memenuhi kebutuhan informasi para pengguna lainnya. Setelah menginventarisasi keterbatasan laporan keuangan perusahaan dan pengguna laporan serta kebutuhannya, ASC mengusulkan perlunya ditambahkan beberapa laporan bagi dalam laporan tahunan perusahaan itu termasuk laporan nilai tambah
Meskipun berupa Discussion Paper, namun The Corporate Report mendorong beberapa perusahaan besar untuk berusaha
21
memasukkan/menambahkan penyajian laporan keuangan dengan laporan nilai tambah ke dalam laporan tahunan. Tidak hanya itu saja, dari sektor pemerintah juga mendukung dengan menginstruksikan agar semua perusahaan penting memasukan laporan nilai tambah dalam laporan tahunannya. Dalam hal ini kemudian dikeluarkan dua buah Green Paper, semacam artikel, yang pertama berjudul "The Future of Company report dan yang kedua berjudul "Company Accounting and Disclosure ".
Selain itu berdasarkan buku "Accounting Theory " karangan Vernon Kam, yang pertama kali mempublikasikan teori Nilai Tambah adalah Waino Suojanen dengan menyebut sebagai Theory Enterprise, Suojanen dan Peter Drucker juga menulis mengenai teori ini. Para penulis tersebut memiliki pandangan yang sama akan pentingnya penjabaran informasi mengenai nilai tambah yang didapat dari pihak-pihak yang memiliki kontribusi terhadap perusahaan. Sehingga Kam menyebut Value-Added Income. Menurut Kam yang membesarkan dan membuat perusahaan survive bukan hanya para investor atau pekerja, namun pihak pemerintah (Goverment) juga turut menyumbang.
2.4 Teori dan Konsep yang relevan.
Guna memperjelas apa yang dimaksud dengan konsep Entity dan konsep Enterprise, maka penulis akan mencoba menguraikan kedua konsep tersebut dari pandangan para ahli. Yang nantinya pandangan para ahli tersebut akan menjadi kerangka acuan dalam melakukan pembahasan dalam studi kasus di bab IV.
Sebelumnya penulis menjelaskan bahwa dalam pandangan para ahli terdapat perbedaan penyebutan antara istilah konsep dan teori. Untuk itu penulis memutuskan perbedaan istilah tersebut sebenamya memiliki kerangka pikir yang sama terhadap tujuan pelaporan yang dibuat berdasarkan konsep ataupun teori tersebut.
2.4.1 Menurut Vernon Kam
Vernon Kam (1990,314) dalam bukunya " Accounting Theory" menulis sebagai berikut:
Entity Theory, teori ini diformulasi akibat adanya tanggapan terhadap pandangan
kepemilikan pada perusahaan (Corporation). Teori Entity diawali dari kenyataan bahwa perusahaan adalah entitas yang terpisah dari pemilik, sehingga hubungan pemilik dan manajemen perusahaan menjadi terpisah. Pihak pemilik (investor, pemegang saham) tidak dapat mencampuri tugas manajemen dalam melaksanakan kegiataan operasi harian perusahaan. Jelaslah bahwa aktiva adalah milik perusahaan dan juga kewajiban yang ada. Jika perusahaan mendapatkan laba bersih, maka laba bersih tersebut menjadi milik perusahaan. Yang selanjutnya dapat menjadi milik pemilik modal apabila sudah dibagikan dalam bentuk deviden. Dikatakan lebih lanjut oleh Kam, bahwa teori Entity sebenamya cocok untuk diterapkan dalam perusahaan proprietorships, partnership, dan organisasi sosial. Dari pandangan teori Entity, maka kita dapat persamaan akuntansi, sebagai berikut:
23
Asset = Total Equity
Persamaan tersebut adalah ekspresi logika dari kondisi keuangan perusahaan dengan total kekayaan disajikan sebesar hak atau klaim terhadap aktiva pada entitas. Di sini pihak kreditur memiliki hak atas klaim tcrlebih dahulu dan pihak pemegang saham mendapat sisa dari asset yang ada. Pemegang saham memiliki klaim sebesar kepemilikannya dan berhak mendapat laba perusahaan yang berupa deviden apabila sudah diumumkan untuk dibagi pada rapat umum pemegang saham (RUPS). Teori Entity menggunakan Historical Cost untuk menilai aktiva, sehingga harga {price) yang tercantum dalam neraca adalah harga perolehan. Dalam setiap transaksinya, sisi aktiva dan pasiva harus sama atau seimbang. Kam juga menjelaskan bahwa penghasilan {income) sebenarnya digunakan untuk mengukur tingkat penghasilan dari modal yang diinvestasikan oleh pemegang saham pada periode tertentu, dan juga keberadaan dari perusahaan untuk menghasilkan laba {profit) dan laba tersebut dibutuhkan perusahaan supaya bertahan dalam persaingan (survive).
Laba dalam teori Entity dapat diartikan sebagai perubahan pada aktiva bersih dari perusahaan, namun bukan karena perubahan modal. Pendapatan juga dijelaskan sebagai alur masuk dari aktiva, akibat dari transaksi yang dilakukan oleh perusahaan yang berhubungan dengan produk perusahaan tersebut.
Sedangkan biaya {expense) dijelaskan sebagai harga perolehan (cost) aktiva dan
jasa yang digunakan oleh perusahaan untuk menghasilkan pendapatan pada periode tersebut. Berdasarkan pemikiran teori Entity, pihak kreditur dan pemegang saham adalah pihak luar, maka beban bunga (interest charges) dan deviden, dan juga pajak penghasilan diakui sebagai beban usaha, sehingga mengurangi jumlah kekayaan perusahaan. Selain itu dalam teori Entity tidak ada pajak ganda, karena perusahaan adalah entitas yang terpisah dari pemegang saham. Dapat digambarkan sebagai berikut, bahwa deviden yang dibagi adalah laba bersih setelah pajak sehingga penerima deviden sudah membayar pajak penghasilan pada saat perusahaan dipungut pajak.
Enterprise Theory, teori ini didasarkan pada pandangan bahwa perusahaan merupakan lembaga sosial yang beroperasi bagi kepentingan pihak-pihak yang ada di dalamnya (pemegang saham, kreditur, pegawai, pelanggan, pemasok, pemerintah dan masyarakat umum), karena keputusan yang diambil oleh perusahaan akan berakibat pada pihak yang berkepentingan. Perusahaan bertanggung jawab tidak hanya kepada pemegang saham saja, namun juga kepada pihak yang berhubungan dengan fungsi keuangan, manusia dan sumber daya produksi dan proses distnbusi, dan yang berhubungan dengan penyedia sumber daya.
Sebagaimana institusi sosial, perusahaan besar harus dievaluasi kondisi pertanggungjawabannya, yang berhubungan dengan out putnya. Untuk mengetahui kontribusi kepada masyarakat, maka pendekatan nilai tambah (value added) adalah cara terbaik untuk mengkontribusikan laba (income).
25
Nilai tambah merupakan suatu pengukuran kinerja, suatu ukuran atas nilai atau kekayaan yang dihasilkan oleh perusahaan besar {Enterprise) pada periode tertentu. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa pendekatan nilai tambah ini mengukur kinerja dari pihak yang berpartisipasi dalam perusahaan. Laba akuntansi penghasilan tradisional hanya mengukur kekayaan yang dihasilkan untuk keuntungan pemegang saham. Sedangkan pendekatan nilai tambah memandang laba sebagai hasil usaha yang merupakan upaya dari sejumlah partisipan. Konsep nilai tambah dipercaya penting oleh Morley karena menggambarkan perubahan sosial". Kam juga memberikan contoh perbandingan antara Iaporan nilai tambah dan laporan laba (rugi) konvensional. Contoh tersebut dapat dilihat pada halaman selanjutnya.
Nilai tambah, pada contoh, menunjukkan jumlah kekayaan yang dapat dihasilkan entitas selama satu periode, Akan tetapi nilai penjualan tidak semuanya dihasilkan oleh partisipan dalam perusahaan, karena sebagian penjualan juga dihasilkan oleh perusahaan lain dan ditransfer ke dalam perusahaan. Sehingga jumlah barang dan jasa yang dibeli dari perusahaan lain akan digunakan untuk mengurangi nilai tambah. Kabar yang kontroversial adalah adanya pengurangan terhadap beban depresiasi, namun banyak pihak juga yang percaya bahwa sebenarnya harus dikecualikan. Jumlah tersebut adalah perkiraan dan dihitung untuk dapat mengurangi obyektivitas dan keberadaan dalam figur nilai tambah.
11 Michael Morley, The Value Added Statement (London: Gee & co, 1978)
Less:
Materials and supplies Heat, light, power Salaries and wages Interest expense Depreciation expense Income be/ore taxes Income taxes
Net income Less dividends Profit retained
used $ 100 40 100
20
30 290
$210 100
$110 50
$ 60
Laporan Nilai Tambah
Sales $ 500 Less: Materials, Supplies, and Services used 170
($ 100 + $40 + $30) Value added
Distribution of value added:
To employees
To providers of capital:
Dividens $ 50
Interest 20 To government
To enterprise for expansion Profit retained
Value added
$ 330
$100
70 100
60
$330
27
Jika penyusutan dikecualikan, maka dapat ditambahkan dibawah judul disinbus.
kepada perusahaan untuk penggantian dan ekspansi Kebanyakan perusahaan di Inggris mengecualikan depresiasi dari bahan baku {materials), peralatan {supplies), dan jasa yang digunakan {service used). Metode ini disebut metode bruto {Gross approach), yaitu istilah yang sama dengan pendapatan nasional bruto (GDP). Sebagai kebalikannya adalah pendekatan neto {Net Approach) yaitu sama dengan pendapatan nasional bersih (NDP).
Nilai tambah dibagi kepada penyedia dana modal, pegawai, pemerintah dan perusahaan itu sendiri. Perusahaan melakukan investasi kembali dengan semua laba ditahan agar dapat bertahan hidup dan tumbuh, selain itu untuk keuntungan pihak yang turut partisipasi. Laporan nilai tambah juga menunjukan alur dari barang yang dijual oleh perusahaan dalam kesatuan lingkungannya. Pendapatan akan ditandingkan dalam arah yang berlawanan dengan pihak yang berpartisipasi, dan nilai penjualan perusahaan adalah pendapatan dari sejumlah anggota dalam lingkungan.
Teori Enterprises berkaitan dengan konsep akuntansi sosial {the Social Accounting Concept), yang dengan laporan keuangan sosial adalah derivatif. Titik pandangnya adalah kelompok partisipan yang mendapatkan laba dari gabungan upaya mereka dalam perusahaan.
2.4.2 Menurut Ahmed Riahi Belkaoui
Belkaoui (1992,234) menyebut teori Entity adalah konsep teoritis akuntansi (the Theoretical Concepts of Accounting). Yang dimaksud konsep teoritis akuntansi ialah pernyataan yang dapat membuktikan kebenarannya sendiri atau disebut juga aksioma yang sudah diterima umum, karena kesesuaiannya dengan tujuan laporan keuangan yang menggambarkan sifat-sifat akuntansi yang berperan dalam ekonomi bebas yang ditandai oleh adanya pengakuan pada pemilikan pribadi. Dari penjelasan di atas maka Belkaoui membagi menjadi tiga teori, yaitu the Proprietary theory, the Entity theory, dan the Fund theory. Penulis menganggap teori Entity yang relevan, sehingga penjelasan yang diambil hanya teori tersebut saja.
Teori Entity memandang entitas sebagai sesuaru yang terpisah dan berbeda dari pihak penyedia modal kepada entitas. Secara sederhana dapat dikatakan, unit bisnis berbeda dengan kepemilikan (Proprietor) pada pusat perhatian akuntansi.
Unit bisnis memiliki sumberdaya perusahaan dan bertanggung jawab atas klaim dari pemilik maupun kreditur dan dijelaskan lewat persamaan.
Assets = Equities atau
Assets = Liabilities + Stock Holders Equity
assets merupakan hak yang diakui oleh entitas. Ekuitas menggambarkan sumber dari assets dan terdiri dari kewajiban dan ekuitas pemegang saham. Kreditur
29
maupun pemegang saham adalah pemegang ekuitas perusahaan, namun mereka memilki hak yang berbeda terhadap laba, resiko, pengawasan, dan likuiditas.
Selanjutnya laba yang dihasilkan adalah milik entitas sampai laba tersebut didistribusikan kedalam deviden kepada pemegang saham. Unit bisnis bertanggung jawab untuk memenuhi klaim dari pemegang modal (equity holders), sehingga teori Entity menyebut " laba terpusat". Pemegang modal dicapai dengan cara mengukur hasil operasi dan kinerja keuangan dari perusahaan. Singkatnya, laba adalah peningkatan dalam modal pemegang saham sesudah klaim dari pemegang modal yang lain (beban bunga dan pajak penghasilan) dipenuhi.
Peningkatan dalam modal kepemilikan dianggap laba kepada pemegang saham, jika deviden sudah diumumkan. Sama juga apabila laba tersebut tidak didistribusikan, maka akan menjadi modal milik perusahaan itu sendiri. Teori Entity menganggap pajak pendapatan dan beban bunga sebagai distribusi pendapatan, bukan sebagai beban. Namun pada umumnya mengangap sebagai beban (Expenses)
Teori Entity kebanyakan digunakan pada bentuk perusahaan yang dimana bisnis perusahaan terpisah dan dibedakan terhadap pemilik. Akibat dari teori Entity mungkin dapat kita temui dalam terminologi teknik akuntansi yang digunakan pada praktek. Pertama, teori Entity lebih cenderung mengadopsi UFO daripada FIFO dalam mengevaluasi persediaan, penilaian dengan UFO menghasilkan penilaian yang lebih baik dalam penentuan laba. Kedua, definisi umum pendapatan sebagai produk perusahaan dan beban sebagai barang (goods)
dan jasa yang digunakan untuk memperoleh pendapatan ini adalah konsisten dengan teori Entity, beserta dengan indek kinerja dan kemampuan pemegang modal. Ketiga, persiapan untuk laporan konsolidasi dan pengakuan dari minority interest sebagai penambahan pemegang modal juga konsisten dengan teori entitas, akhirnya pendekatan teori Entity menitik beratkan pada penetapan laba yang sesuai pada pemegang modal, dan dasar penilaiannya adalah menggunakan biaya historical.
The Corporate Report, Ahmed Riahi Belkaoui (1992,207:209) menggunakan
istilah tersebut untuk menjelaskan bahwa sebenarnya perusahaan memerlukan laporan tambahan yang dapat memberikan informasi mengenai upaya para pihak yang terdapat dalam perusahaan (penulis lain menyebut Value Added Income).
Bermula pada tahun 1976 tepatnya bulan Juli, the Accounting Standards Steering Committee of the Institute of Chartered Accountants di Inggris dan Wales mempublikasikan The Corporate Report (laporan perusahaan), yaitu kertas kerja pembahasan yang dimaksudkan sebagai langkah awal guna pengkajian atas para pemakai.Tujuan dan metode pelaporan keuangan modern di Inggris. Laporan ini mencerminkan upaya dari sebelas anggota tim yang bekerja di dalam kerangka
acuan di bawah ini.
Tujuan dari studi tersebut adalah untuk mempelajari kembali lingkup dan tujuan laporan keuangan yang sesuai kondisi pada saat itu.
Dengan studi ini dapat membahas akuntabilitas publik entitas ekonomi tersebut, yang khususnya terhadap bisnis Enterprises.
31
Dengan hal tersebut dapat menetapkan seperangkat konsep kerja untuk dasar pelaporan keuangan. Dengan tujuan mengidentifikasikan orang atau kelompok (group) yang mempublikasikan laporan keuangan dan informasi yang sesuai dengan kepentingan (interest) mereka.
Selanjutnya sebagai sarana pertimbangan yang paling sesuai untuk mengukur dan melaporkan posisi ekonomis, kinerja, dan prospek pelaksanaan dari parapihak.12
Seberapa baik laporan disusun sesuai dengan tujuan yang telah terbukti penemuan utama dan rekomendasi.
Pertama, filasafat dasar dan titik awal dari The Corporate Report ialah laporan
keuangan yang sesuai dengan penggunaan yang diharapkan dari pengguna potensial. Dengan kata lain laporan keuangan harus berupaya untuk memenuhi kebutuhan informasi pemakai.
Kedua, laporan tersebut menetapkan tanggung jawab pelaporan pada "economic
entity" yang memiliki dampak pada masyarakat melalui aktivitasnya. Kesatuan ekonomi dirinci sebagai perusahaan terbatas, terdaftar atau tak terdaftar, rencana pensiun, yayasan sosial dan lainnya, dan organisasi non-laba, agen dan departemen pemerintah yang tidak berorientasi komersial, persekutuan dan bentuk lain dari usaha bisnis yang bukan perusahaan, serikat dagang dan asosiasi dagang dan profesional, pemerintah lokal, dan industri negara dari badan sektor publik yang memiliki orientasi komersial.
Ketiga, laporan tersebut mendefinisikan pemakai sebagai pemilik hak yang layak untuk mendapat informasi yang dimana kebutuhan informasinya harus diketahui oleh laporan perusahaan. Pengguna dapat diidentiflkasikan sebagai kelompok investor ekuitas, kelompok kreditor pemberi pinjaman, kelompok karyawan, kelompok penasehat perusahaan, kelompok kontrak bisnis, pemerintah dan masyarakat.
Keempat, untuk memenuhi tujuan dasar dari laporan keuangan yang ditetapkan
oleh filosofi dasar, terdapat 7 karakteristik yang perlu. yaitu, laporan perusahaan harus relevan, mudah dipahami, handal, lengkap, objektif, tepat waktu, dan dapat diperbandingkan.
Kelima, setelah mendokumentasikan batasan dari praktek pelaporan saat ini, maka laporan menyarankan kebutuhan laporan tambahan:
• Laporan nilai tambah, yang menunjukan bagaimana keuntungan {Benefits) dari upaya perusahaan dibagikan kepada karyawan, penyedia modal, negara, dan untuk investasi kembali {re-investment). Contoh laporan nilai tambah tamapak pada illustrasi di halaman selanjutnya.
• Laporan karyawan, menunjukkan besar dan komposisi tenaga kerja yang mengandalkan perusahaan untuk kehidupannya, kontribusi kerja dari karyawan, dan manfaat yang diperoleh.
• Laporan pertukaran uang dengan pemerintah, yang menunjukkan hubungan keuangan antara perusahaan dan negara.
12 The Corporate Report, Page 10
33
Laporan transaksi dalam mata uang asing, menunjukkan transaksi kas langsung antara inggris dan negara lain.
Laporan prospek masa depan, yang menunjukkan laba mendatang yang mungkin diperoleh karyawan, dan tingkat investasi.
Laporan tujuan perusahaan, yang menunjukkan kebijaksanaan manajemen dan target strategi jangka menengah.
A Manufacturing Company Statement of Value
Turnover
Brought-in material and services Value Added
Apllied the following way:
To Pay Employees
Wages, Pensions, and Fringe benefits To Pay Providers of Capital:
Interest on loans
Dividend to shareholders
S 0.1 0.9
$ 100 60 40
S 19
To Pay Government Corporation tax payable
To Provide for Maintenance and Expansion of Assets Depreciation S 5
Retained profits [Q_
15
Value Added 40
Akhirnya, sesudah mengukur berdasarkan {historical cost, purchasing power, replacement cost, net realizable value, value to the firm, dan net present
value). Terhadap tiga Icriteria {Theorical acceptability, utility, and practicality).
penyajian laporan tersebut menolak penggunaan historical cost dan lebih cocok menggunakan Current value dan digunakan penyesuaian indeks umum.
Dapat disimpulkan, perbandingan antara temuan dan rekomendasi anlara The Corporate Report dan Trueblood Report tidak dapat dibuat tanpa mempertimbangkan perbedaan lingkungan ekonomik dan politik di Inggris dan Amerika Serikat. Secara umum, The Corporate Report mengekspresikan kepentingan pada laporan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomik dari masyarakat.
2.4.3 Menurut Suwardjono
Suwardjono (1989,81) dalam tulisannya menyebut konsep kesatuan usaha {Entity Concepts) dan konsep kesatuan lembaga sosial {Enterprise Concepts).
Konsep kesatuan usaha, Pada konsep ini ia menjelaskan bahwa sebenarnya yang menjadi pusat perhatian akuntansinya adalah unit kegiatan yang menjadi subjek pelaporan {reporting entity). Subyek pelaporan adalah subyek yang harus melaporkan informasi keuangan dan mempertanggung jawabkan kegiatan konsep kesatuan usaha menganggap bahwa unit usaha (badan usaha) menjadi subyek pelaporan dan karena menjadi pusat perhatian akuntansi. Sehingga diillustrasikan, sebagai berikut:
J 3
Unit usaha (perusahaan)
Aktiva = total sumbcr pendanaan
Kreditor Pihak lainnya Pemilik
O
Sudut pandang kesatuan usaha.
Dengan sudut pandang seperti itu, maka pusat perhatian akuntansi adalah unit usaha dan bukan pemilik, karena transaksi yang dicatat adalah transaksi yang dapat mempengaruhi posisi atau komposisi keuangan perusahaan. Dengan konsep ini, pihak kreditor, pemilik dan pihak lainnya dianggap sebagai pihak luar perusahaan. Sehingga hubungan antara pihak lersebut adalah hubungan usaha (bisnis) atau hubungan utang-piutang. Karena setiap kali pihak luar tersebut (khususnya kreditur dan pemilik) memasukkan sumber ekonomi (misalnya uang), maka pada saat yang sama perusahaan menjadi utang kepada pihak tersebut.
Dalam illustrasinya dapat digarabarkan sebagai berikut:
Unit usaha
Aktiva Utang + Modal
Kas/sumber ekonomi
^
fe
utang
Kreditor Pihak lainnya
Pemilik
Kalau akuntansi harus menyajikan laporan posisi keuangan, maka akuntansi harus dapat menunjukkan jumlah rupiah kekayaan yang ada didalam perusahaan beserta wujudnya sekaligus menunjukkan berasal dari pihak siapa jumlah rupiah kekayaan tersebut berasal. Suwardjono mengingatkan bahwa utang
unit usaha kepada pemilik disebut modal. Sehingga dalam sistem berpasangan (double-entry boukkepmg) mengakibatkan neraca harus dapat menunjukkan aktiva dan pasiva. Sebenarnya hal tersebut dilandasi oleh konsep kesatuan usaha ini.
Setiap transaksi atau kejadian yang mempengaruhi unit usaha selalu dapat di interprestasikan menjadi dua aspek dalam kerangka hubungan seperti ditunjukkan pada gambar diatas. Setiap ada jumlah rupiah (kekayaan) yang masuk dalam kesatuan usaha, maka akan selalu dapat diidentifikasikan jumlah rupiah yang sama yang keluar dari unit usaha atau yang menjadi utang perusahaan.
Interprestasi pendapatan, dengan sudut pandang teori Entity maka jika ada aliran kekayaan masuk (misalnya kas) yang terjadi karena perusahaan menjual barang atau menyerahkan jasa maka kekayaan perusahaan akan bertambah. Tambahan kekayaan berupa kas ini nantinya akan dikembalikan kepada pemilik pada saat perusahaan itu dibubarkan/dilikuidasi. Ini berarti bahwa pada saat kas masuk sebagai pendapatan, perusahaan sebenarnya telah mempunyai utang atau kewajiban kepada pemilik yang pada saatnya nanti harus dikembalikan. Utang unit usaha kepada pemilik disebut modal. Pada saat terjadi pendapatan utang unit usaha kepada pemilik bertambah, jadi modal bertambah. Dengan demikian dapat diajukan kaidah umum bahwa pendapatan menambah modal.
. m
37
Interprestast hiuya, bila kos (cost) telah dinyatakan menjadi biaya, sebenarnya ada suatu jumlah rupiah yang harus keluar dari kesatuan usaha dan tidak ada penggantinya (tidak ada kos lain yang masuk) sehingga kekayaan perusahaan berkurang. Berkurangnya kekayaan ini akhirnya akan menjadi tanggungan pemilik, artinya kalau semua kekayaan perusahaan harus dikembalikan kepada sumbernya, maka kekayaan yang kembali ke pemilik akan berkurang sebesar biaya yang telah terjadi. Ini berarti bahwa pada saat perusahaan kepada pemilik sebenarnya telah berkurang sebesar biaya tersebut. Karena itu dapat disimpulkan bahwa biaya mengurangi modal.
Berdasarkan interprestasi pendapatan dan biaya diatas dan aspek berpasangan dalam akuntansi maka hubungan konsepsional antara elemen laporan keuangan atas dasar konsep kesatuan usaha dapat digambarkan sebagai berikut:
Status awal A = U + M
Selama periode A' = U' + M + P - B
Status Akhir LR = P - B (membentuk laporan laba/rugi) M' = M + LR (membentuk laporan perubahan
modal) Dalam hubungan tersebut,
A = Aktiva U =Utang M = Modal P = Pendapatan B = Biaya
LR r Laba atau Rugi
Catatan : tanda aksen (') menunjukkan bahwa jumlah rupiah komposisi elemen telah berubah.
A = U + M + P - B
Sebenarnya di samping P dan B masih ada elemen lain yang mempengaruhi M, yaitu setoran modal atau investasi pemilik disimbolkan I dan pengembalian/pelunasan modal kepada pemilik yang dapat berupa pembelian kembali saham {treasury stock) atau pembagian dividen (keduanya disimbolkan D) dengan demikian persamaan akuntansi di atas akan menjadi:
A = U + M + P - B + I - B
Karena elemen I dan D dianggap jarang terjadi dan untuk menyederhanakan masalah kedua elemen tersebut sering tidak dimasukkan dalam persamaan akuntansi. Perubahan modal neto yang disebabkan oleh elemen (P-B) disebut dengan perubahan karena transaksi operasi (TO) sedangkan perubahan modal neto yang disebabkan oleh elemen (I-D) disebut dengan perubahan karena transaksi modal (TM.).
Suwardjono juga mengingatkan pembaca bahwa persamaan akuntansi bukan merupakan persamaan aljabar. Artinya, tempat kedudukan tiap elemen di ruas kiri tidak dapat dipindahkan ke ruas kanan secara sembarang seperti persamaan aljabar. Dengan demikian, kalau sudut pandang akuntansi adalah kesatuan usaha maka persamaan akuntansi di atas tidak dapat diubah menjadi sebagai berikut:
39
A + B = U + M + P atau M = A - U + P + B atau A - U = M + P - B atau A - U - M = P - B
Artikulasi Laporan Keuangan, Kalau diperhatikan dari status terakhir dalam hubungan antar elemen laporan keuangan di atas, dapat dijelaskan bahwa terdapat saling berhubungan antara tiap jenis laporan keuangan yaitu neraca, laporan laba(rugi), dan laporan perubahan modal. Hubungan ini disebut dengan artikulasi laporan keuangan. Dengan artikulasi ini maka akan selalu dapat ditunjukan bahwa perubahan dalam modal selalu dapat dikaitkan dengan perubahan dalam aktiva atau utang.untuk menjelaskan hal ini, perubahan aktiva, utang dan modal dalam satu periode digambarkan sebagai berikut:
A' = U' + M' A = U + M - dA = dU +dM
karena dM = P - B, maka dA = dU + P - B. (baca: Karena perubahan modal = P - B, maka perubahan aktiva = perubahan utang + P - B). Secara simbolis, artikulasi ini dapat digambarkan kembali sebagai berikut:
Status Awal: A = U + M Selama Periode: A' = U ' + M +
Status Akhir: A' = U ' + M'
Dengan artikulasi ini maka pendapatan (P) atau laba didefinisikan sebagai kenaikan aktiva atau penurunan utang sedangkan biaya (B) atau rugi dapat didefinisikan sebagai penurunan aktiva atau kenaikan utang. Pendefinisian pendapatan atau laba atas dasar artikulasi ini sejalan dengan definisi yang diajukan oleh Paton & Littleton, yaitu bahwa pendapatan atau laba hendaknya dipandang sebagai kenaikan aktiva perusahaan dan bukannya kenaikan kekayaan pemilik. Standar Akuntansi keuangan juga mendefinisikan penghasilan sebagai berikut:
Penghasilan adalah kenaikan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal11.
Mengenai pengertian laba (earning power) atas dasar artikulasi ini sebenarnya masih terdapat dua pandangan yaitu pandangan aktiva dan utang (asset and liability view) dan pandangan pendapatan dan biaya (revenue and expense view). Pandangan aktiva dan utang mendefinisikan laba sebagai kenaikan aktiva atau penurunan utang. Pandangan ini berpendapat bahwa laba dapat diukur atas perubahan aktiva atau utang karena pengukuran kedua elemen tersebut merupakan proses pengukuran yang fundamental dalam pelaporan keuangan.
Pandangan pendapatan dan biaya mendefinisikan laba sebagai selisih antara pengukuran pendapatan dan biaya, sehingga kenaikan aktiva atau penurunan utang hanyalah sebagai konsekuensi pengukuran itu.
13IAI, "Standar Akuntansi Keuangan ," Salemba Empat, 1996, Jakarta
4!
Konsep Kesatuan Lembaga Sosial/Ekonomi, dengan sudut pandang ini pusat
perhatian akuntansi adalah kegiatan usaha yang melibatkan semua pihak sebagai bagian dari kegiatan ekonomi. Kesatuan di sini berarti suatu lembaga ekonomi atau sosial sebagai wadah untuk mencapai tujuan bersama. Semua partisipan merupakan kontributor dalam menciptakan nilai tambah akibat kegiatan usaha tersebut dan karenanya berhak untuk menerima bagian nilai tambah tersebut.
Dengan sudut pandang ini, laba dapat didefinisikan sebagai seluruh jumlah rupiah nilai tambah (aliran kas yang masuk dalam kegiatan usaha) yang dihasilkan oleh kegiatan para partisipan secara bersama-sama dengan kos material dan mesin/peralatan (bahan baku, overhead non-tenaga kerja dan depresiasi). Jumlah rupiah yang dibayarkan kepada partisipan bukan merupakan biaya, tetapi merupakan distribusi nilai tambah (laba).
Unit
Manager/
karyawan
kreditor
i
iatan sebagai mencapai bersama
Lembaga sosial lain
Lembaga sosial lain
Sudut pandang lembaga sosial O
Laporan laba/rugi yang disusun atas dasar sudut pandang ini disebut dengan laporan nilai tambah {value-added statement), yang contohnya dibenkan sebagai berikut.
Laporan Laba/Rugi
Penjualan Rp. 980.000 Dikurangi:
Bahan baku dan bahan habis pakai Rp. 150.000
520.000 Overhead non-tenaga kerja
Depresiasi
Gaji manajer dan karyawan Bunga
Laba sebelum pajak Pajak penghasilan Laba bersih Dividen
Laba ditahan (reinvestasi)
60.000 70.000 200.000 40.000
Rp. 460.000 180.000 Rp. 280.000 120.000 Rp. 160.000
Laporan Nilai Tambah
Penjualan Rp. 980.000 Dikurangi transfer:
Bahan baku dan bahan habis pakai Rp. 150.000
Overhead non-tenaga kerja 60.000
Depresiasi 70.000 280.000
Nilai tambah Rp.700.000 Distribusi nilai tambah:
Tenaga kerja (manajer dan karyawan) Rp. 200.000 Penyedia dana:
Investor (dividen) Rp. 120.000
Kreditor (bunga) 40.000 160.000
Pemerintah (pajak) 180.000 Unit kegiatan ekonomi (reinvestasi) 160.000
Total nilai tambah Rp. 700.000
43
Nilai tambah merupakan kenaikan dari kemakmuran yang diciptakan oleh kegiatan usaha. Bahan dan sebagainya tidak merupakan bagian kenaikan kemakmuran kegiatan bersangkutan, karena bahan baku overhead non-tenaga kerja disediakan oleh unit kegiatan ekonomi yang lain dan harus dibeli oleh unit kegiatan bersangkutan. Karena itu, unsur-unsur tersebut harus dikurangkan terhadap total aliran dana yang masuk ke unit kegiatan untuk mendapatkan nilai tambah.