V. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN
4.1 Kondisi Umum Provinsi Kalimantan Barat
Provinsi Kalimantan Barat dengan luas wilayah 146 807 km
2terletak di bagian barat pulau Kalimantan, yakni di antara garis 2
o08’ LU dan 3
o05’ LS serta di antara 108
o00’ - 114
o08’ BT seperti yang terlihat pada peta administrasi Provinsi Kalimantan Barat (Gambar 8). Dari posisi geografis ini, daerah Kalimantan Barat dilalui oleh garis Khatulistiwa yang tepat di atas Kota Pontianak. Secara lengkap batas wilayah provinsi adalah:
- Utara : Sarawak (Malaysia)
- Selatan : Laut Jawa dan Kalimantan Tengah - Timur : Kalimantan Timur
- Barat : Laut Natuna dan Selat Karimata
Terdapat 14 kecamatan pada 5 kabupaten dibagian utara Provinsi Kalimantan Barat yang berbatasan darat langsung dengan Serawak, Malaysia seperti terlihat pada peta administrasi Provinsi Kalimantan Barat (Gambar 8).
Akses ke negara tetangga diantaranya telah terhubung secara langsung melalui jalan keluar masuk baik resmi maupun jalur tikus. Pintu resmi Pos Pemeriksaan Lintas Batas yang berada di Kecamatan Entikong dapat ditempuh melalui jalur Pontianak-Entikong sepanjang 400 km atau sekitar enam sampai delapan jam perjalanan.
Gambar 8 Peta Administrasi Provinsi Kalimantan Barat.
Provinsi Kalimantan Barat yang menjadi daerah otonom tingkat provinsi sejak tahun 1957 yang telah mengalami pemekaran wilayah kabupaten/kota secara bertahap, dan pada saat ini telah terbagi menjadi 14 (empat belas) kabupaten/kota.
Kabupaten Ketapang yang berada di bagian paling selatan merupakan wilayah terluas dengan luas 31 240,74 km
2(21,28%) dan Kota Pontianak dengan luas terkecil yakni 107,80 km
2(0,07%) yang juga merupakan pusat kota di Provinsi Kalimantan Barat (Tabel 8).
Tabel 8 Luas dan Persentase luas wilayah kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat, Tahun 2008
Kabupaten/Kota Luas Wilayah
(Km
2)
Persentase (%) Kabupaten Sambas
Kabupaten Bengkayang Kabupaten Landak Kabupaten Pontianak Kabupaten Sanggau Kabupaten Ketapang Kabupaten Sintang Kabupaten Kapuas Hulu Kabupaten Sekadau Kabupaten Melawi Kabupaten Kayong Utara Kabupaten Kubu Raya Kota Pontianak Kota Singkawang
6 394,70 5 397,30 9 909,10 1 276,90 12 857,70 31 240,74 21 635,00 29 842,00 5 444,30 10 644,00 4 568,26 6 985,20 107,80 504,00
4,36 3,68 6,75 0,87 8,76 21,28 14,74 20,33 3,71 7,25 3,11 4,75 0,07 0,34 Sumber : BPS Provinsi Kalimantan Barat (2009) (diolah)
Dalam konsep pengembangan wilayah, Kalimantan Barat dibagi kedalam 4 (empat) Wilayah Pengembangan (WP) yang meliputi WP Tengah, WP Pesisir, WP Antar Provinsi, dan WP Antar Negara, sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Daerah Kalimantan Barat Nomor 7 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah 2007-2027.
- WP Tengah terdiri atas 3 (tiga) kabupaten, yakni Kabupaten Sanggau, Kabupaten Sekadau, dan Kabupaten Landak.
- WP Pesisir terdiri atas 3 (tiga) kabupaten, yaitu Kabupaten Pontianak, Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Sambas, Kabupaten Ketapang, Kabupaten Kayong Utara, Kabupaten Kubu Raya, Kota Pontianak dan Kota Singkawang.
- WP Antar Provinsi meliputi Kabupaten Sintang, Kabupaten Kapuas Hulu,
Kabupaten Melawi, dan Kabupaten Ketapang.
- WP Antar Negara mencukup 5 (lima) kabupaten yang meliputi Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Sintang, Kabupaten Sanggau, Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Sambas.
4.2 Kondisi Demografi
Penduduk yang merupakan penggerak dan pelaksana pembangunan merupakan modal utama untuk mengoptimalkan pembangunan di suatu wilayah.
Dengan wilayah yang luas, pada tahun 2008 Provinsi Kalimantan Barat berpenduduk 4,25 juta jiwa dengan kepadatan 28,94 jiwa/km
2(Tabel 9).
Penyebaran penduduk yang tidak merata seperti terlihat di Kota Pontianak yang luas wilayahnya 0,07% dari luas total provinsi memiliki kepadatan penduduk tertinggi mencapai 4 838,30 jiwa/km
2, sedangkan Kabupaten Kapuas Hulu yang merupakan wilayah terluas hanya memiliki kepadatan 7,33 jiwa/km
2. Dengan kepadatan yang tinggi mengakibatkan Kota Pontianak harus menampung 12,7%
penduduk Provinsi Kalimantan Barat, sedangkan Kabupaten Kayong Utara sebagai salah satu kabupaten termuda penyebaran penduduknya hanya sebesar 2,15% dari seluruh jumlah penduduk di Provinsi Kalimantan Barat.
Tabel 9 Jumlah Penduduk dan Persentase, Laju Pertumbuhan dan Kepadatan Penduduk menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Barat, Tahun 2008
Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk
Persen (%)
LP*
(%)
Kepadatan (jiwa/km
2) Kabupaten Sambas
Kabupaten Bengkayang Kabupaten Landak Kabupaten Pontianak Kabupaten Sanggau Kabupaten Ketapang Kabupaten Sintang Kabupaten Kapuas Hulu Kabupaten Sekadau Kabupaten Melawi Kabupaten Kayong Utara Kabupaten Kubu Raya Kota Pontianak Kota Singkawang
491 077 205 675 324 976 218 483 388 909 408 549 365 058 218 804 178 129 168 309 91 168 493 213 521 569 175 198
11,56 4,84 7,65 5,14 9,15 9,61 8,59 5,15 4,21 3,96 2,15 11,61 12,27 4,12
1,16 2,02 2,01 1,53 1,65 2,16 2,12 2,36 1,48 1,58 1,58 1,63 1,35 1,23
76,79 38,11 32,80 171,10 30,25 13,08 16,87 7,33 32,72 15,81 19,96 70,61 4 838,30 347,62 Kalimantan Barat 4 249 117 100,00 1,46 28,95 Catatan : * Laju Pertumbuhan Penduduk 2007-2008
Sumber : BPS Provinsi Kalimantan Barat (2009) (diolah)
Dengan laju pertumbuhan penduduk tahun 2007-2008 sebesar 1,46%,
struktur umur penduduk Kalimantan Barat pada tahun 2008 sebesar 50,77% untuk
usia produktif (usia 15-44 tahun), usia 0 – 14 tahun sebesar 31,19%, usia 45-59 tahun sebesar 12,46% dan usia di atas 60 tahun 5,59%. Dengan komposisi usia produktif yang melebihi separuh jumlah penduduk, menjadi modal bagi Kalimantan Barat untuk membangun wilayahnya, akan tetapi dari jumlah usia produktif 15- 44 tahun yang bekerja adalah sebesar 69,12%, penduduk usia 45-59 tahun yang bekerja adalah 81,69%-nya, dan pada penduduk usia lebih dari 60 tahun yang bekerja 49,41%-nya (Tabel 10).
Tabel 10 Jumlah Penduduk Usia diatas 15 tahun yang bekerja dan pengangguran terbuka di Provinsi Kalimantan Barat, Tahun 2008
Kelompok Umur Jumlah Penduduk
Bekerja (%)
Pengangguran Terbuka
(%)
Lain-lain (%) Usia 15 – 44
Usia 45 – 59 Usia 60+
2 157 117 529 305 237 324
69,12 81,69 49,41
5,18 0,65 0,66
25,70 17,66 49,93 Sumber : BPS Provinsi Kalimantan Barat (2009) (diolah)
4.3 Aktivitas Ekonomi
Indikator yang disepakati dalam mengukur aktivitas ekonomi adalah Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) baik berdasarkan Harga Berlaku maupun Harga Konstan. Pada tahun 2008, PDRB Kalimantan Barat berdasarkan harga berlaku mencapai Rp45,96 trilyun, dengan pertumbuhan tahun 2007-2008 sebesar 5,11%. Kontribusi terbesar disumbangkan oleh sektor pertanian yang mencapai 27,80%. Sektor pertanian menjadi sektor unggulan di beberapa kabupaten/kota, yang ditunjukkan dengan kontribusi sektor pertanian pada 10 kabupaten yang melebihi proporsi sektor pertanian di tingkat provinsi , 4 wilayah lainnya share sektor pertaniannya dibawah persentase provinsi. Hal tersebut menggambarkan pertanian menjadi penyumbang terbesar baik di tingkat kabupaten/kota maupun di tingkat provinsi. Pada Gambar 9 akan terlihat proporsi PDRB pada masing-masing kabupaten/kota.
Di sektor industri, Kabupaten Kubu Raya menunjukkan distribusi
sumbangan sektor ini sangat besar. Setelah mekar dari Kabupaten Pontianak,
beberapa pusat industri, khususnya di daerah kecamatan Sungai Raya yang
menjadi kawasan industri, masuk dalam kawasan pemekaran Kabupaten Kubu
Raya. Selain sektor industri, sektor pertanian di wilayah ini juga menunjukkan
proporsi yang cukup besar, sumbangan 6 kecamatan dari 9 kecamatan yang ada.
Kabupaten Pontianak sebagai kabupaten induk dari Kabupaten Kubu Raya, sumbangan sektor pertaniannya masih cukup tinggi meskipun tidak melebihi tingkat provinsi. Ketersediaan sarana prasarana sebagai kabupaten induk, menjadikan aktivitas jasa di Kabupaten Pontianak tergolong tinggi, sedangkan sektor industrinya lebih rendah dibanding kabupaten pecahannya.
Gambar 9 Distribusi PDRB sektoral berdasarkan harga berlaku pada setiap kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat, Tahun 2008.
Aktivitas sektor sekunder dan tersier di Kota Pontianak sangat menonjol.
Kabupaten lain seperti Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Melawi, kontribusi sektor perdagangannya melebihi di tingkat provinsi. Sementara kabupaten dengan sektor jasa yang lebih tinggi dibandingkan di tingkat provinsi, diantaranya adalah Kabupaten Pontianak dan Kabupaten Kapuas Hulu. Akan tetapi kedua kabupaten ini masih menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi penyumbang utama perekonomian daerah seperti yang ditunjukkan pada Tabel 11. Terdapat sepuluh kabupaten yang share sektor pertaniannya melampaui provinsi. Oleh karena itu, sektor pertanian masih menjadi sektor unggulan perekonomian daerah Provinsi Kalimantan Barat.
0%
10%
20%
30%
40%
50%
60%
70%
80%
90%
100%
K a b . S a m b a s K a b . B en gka y a n g K a b . L a n da k K a b . P o n ti a n a k K a b . S a n gg a u K a b . K et a pa n g K a b . S in ta n g K a b . K a pua s H ul u K a b . S eka da u K a b . M el a w i K a b . K a y o n g U ta ra K a b . K ub u R a y a K o ta P o n ti a n a k K o ta S in gka w a n g K a li m a n ta n B a ra t
Jasa-jasa
Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan
Pengangkutan dan Komunikasi
Perdagangan, Hotel dan Restoran
Bangunan
Listrik, Gas dan Air Bersih
Industri Pengolahan
Pertambangan dan Penggalian
Pertanian
Tabel 11 Produk Domestik Regional Bruto Berdasarkan Harga Berlaku, Kontribusi Sektoral, Pertumbuhan Ekonomi, dan Pendapatan Per Kapita pada Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Barat, Tahun 2008
Kab/Kota
PDRB Harga Berlaku (Juta
Rupiah)
Kontribusi Sektor (%) Laju
Pertumbuhan Ekonomi 2007-2008
(%)
PDRB per Kapita (Rp 000/
Jiwa) Pertanian
Pertambangan dan penggalian
Industri Pengolahan
Perdagangan, Hotel dan
Restoran
Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan
Jasa- Jasa Kab. Sambas
Kab. Bengkayang Kab. Landak Kab. Pontianak Kab. Sanggau Kab. Ketapang Kab. Sintang Kab. Kapuas Hulu Kab. Sekadau Kab. Melawi Kab. Kayong Utara Kab. Kubu Raya Kota Pontianak Kota Singkawang
4 692 011,81 1 925 131,35 2 426 138,30 1 882 909,32 4 294 782,06 4 858 653,07 3 103 914,24 1 925 838,42 972 286,27 774 133,76 673 188,89 6 892 797,19 9 506 999,17 2 026 711,82
43,41 43,32 51,94 25,61 37,71 35,63 42,17 38,25 46,22 38,76 48,41 19,66 1,64 13,58
0,21 1,85 1,65 0,23 1,18 9,45 3,61 1,34 2,50 3,90 2,03 0,41 0,00 1,94
10,40 5,10 11,18 14,85 25,05 18,74 9,17 4,59 12,58 10,30 19,01 48,09 7,65 7,44
29,12 27,80 20,08 18,47 19,00 19,43 23,27 15,71 20,89 31,63 14,27 17,93 22,32 40,75
5,02 4,33 4,68 4,44 2,45 3,60 3,07 5,47 4,12 2,37 3,29 2,30 10,36 5,97
4,86 7,54 5,07 26,49 8,25 7,39 9,10 11,00 4,64 6,87 5,36 3,59 20,78 13,58
5,56 5,57 4,19 6,09 3,49 7,13 4,69 3,55 5,76 5,11 5,84 5,02 5,05 5,02
9 554,53 9 360,06 7 465,59 8 618,10 11 043,15 11 892,46 8 502,52 8 801,66 5 439,09 4 599,48 7 384,05 13 975,30 18 277,69 11 568,12
Kalimantan Barat 45 955 495,67 27,80 1,83 17,41 22,33 5,14 10,58 5,11 10 813,70
Sumber : BPS Provinsi Kalimantan Barat (2009) (diolah) 50
Dilihat dari pertumbuhan ekonomi di tingkat kabupaten/kota menunjukkan perbedaan tingkat pertumbuhan yang cukup nyata. Hal tersebut dapat dilihat dari pertumbuhan Kabupaten Ketapang yang tinggi sebesar 7,13%, sementara Kabupaten Kapuas Hulu dengan pertumbuhan terendah sebesar 3,55%. Ukuran perkembangan ekonomi lainnya, seperti besarnya pendapata per kapita pada masing-masing wilayah secara makro memberikan gambaran kemajuan perekonomian suatu daerah. Rata-rata pendapatan per kapita Kalimantan Barat pada tahun 2008 sebesar Rp10,81 juta per kapita, dengan pendapatan tertinggi di Kota Pontianak sebesar Rp18,28 juta per kapita dan terendah adalah kabupaten Melawi yang hanya sebesar Rp4,60 juta per kapita (Gambar 10).
Gambar 10 Pendapatan per kapita berdasarkan harga berlaku pada kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat, Tahun 2008.
4.4 Pembangunan Manusia/Sosial
Strategi peningkatan kapabilitas sumber daya manusia diantaranya melalui pendidikan. Tingkat pendidikan yang tinggi, terutama pada usia produktif akan menciptakan pembangunan yang berkualitas. Pada Tabel 12 menunjukkan tingkat pendidikan penduduk umur diatas 15 tahun di Provinsi Kalimantan Barat pada tahun 2008, dimana penduduk yang bekerja dan tidak pernah mengenyam pendidikan mencapai 8,37%, yang bekerja dengan pendidikan minimal 9 tahun
- 2,000,000 4,000,000 6,000,000 8,000,000 10,000,000 12,000,000 14,000,000 16,000,000 18,000,000 20,000,000
K a b . S a m b a s K a b . B en gka y a n g K a b . L a n da k K a b . P o n ti a n a k K a b . S a n gga u K a b . K et a pa n g K a b . S in ta n g K a b . K a pua s H ul u K a b . S eka da u K a b . M el a w i K a b . K a y o n g U ta ra K a b . K ub u R a y a K o ta P o n ti a n a k K o ta S in gka w a n g K a li m a n ta n B a ra t
PDRB per kapita (Rp/Kap)
(SMTP/sederajat) sebesar 37,24%, dan 35,84% adalah pekerja dengan pendidikan hanya sampai dengan Sekolah Dasar. Proporsi penduduk usia produktif yang bekerja dengan pendidikan akademi dan universitas hanya sebesar 4,13% atau jika dilihat dari seluruh jumlah penduduk Kalimantan Barat hanya 1,99% penduduk berpendidikan hingga perguruan tinggi.
Tabel 12 Jumlah Penduduk Usia diatas 15 tahun yang bekerja menurut Tingkat Pendidikan yang ditamatkan di Provinsi Kalimantan Barat, Tahun 2008
Tingkat Pendidikan Jumlah
(Orang)
Persentase (%)
Akumulasi (%) 1. Tidak/Belum Pernah Sekolah
2. Tidak/Belum Tamat SD 3. Sekolah Dasar
4. SMTP/Sederajat 5. SMTA/Sederaja
6. Akademi dan Universitas
170 743 378 628 731 387 348 747 326 879 84 383
8,37 18,55 35,84 17,09 16,02 4,13
8,37 26,92 62,76 79,85 95,87 100,00
Jumlah 2 040 767 100.00
Sumber : BPS Provinsi Kalimantan Barat (2009) (diolah)
Selain pendidikan, pengembangan kualitas hidup manusia dilakukan melalui pembangunan di bidang kesehatan. Dari data statistik mencatat bahwa di Provinsi Kalimantan Barat pada tahun 2008 Angka Harapan Hidup terendah adalah Kabupaten Sambas sebesar 60,70 tahun, dan tertinggi adalah Kabupaten Bengkayang sebesar 68,57 tahun. Sementara besarnya Angka Kematian Ibu pada tahun 2004 tertinggi adalah Kabupaten Kapuas Hulu sebesar 668 orang ibu per 100 000 kelahiran hidup dan terendah adalah Kabupaten Landak yang mencapai 428 orang ibu per 100 000 kelahiran hidup. Untuk Angka Kematian bayi tertinggi tahun 2006 adalah Kabupaten Bengkayang 42,72 bayi per 1 000 kelahiran hidup dan terendah adalah Kabupaten Kota Pontianak yaitu 30,77 bayi per 1000 kelahiran hidup (Tabel 13). Jika dilihat dari target pembangunan kesehatan di Indonesia untuk angka kematian bayi sebesar 40 bayi per 1 000 kelahiran hidup maka hanya dua kabupaten yang masih diatas target tersebut, yaitu Kabupaten Sambas dan Kabupaten Bengkayang.
Angka-angka yang ditampilkan dari aktivitas pembangunan bidang kesehatan secara makro tidak cukup menjadi pembeda antara kota dan non-kota.
Penggunaan indikator angka harapan hidup tidak dapat dijadikan ukuran langsung
kemajuan aktivitas bidang kesehatan di suatu wilayah, karena tidak selalu
berkorelasi dengan aktivitas kesehatan yang lainnya. Tiga indikator yang
ditampilkan pada Tabel 13 perlu dicermati dari sisi suplai, yaitu tingkatan investasi pemerintah daerah di bidang kesehatan, seperti ketersediaan fasilitas, tenaga kesehatan dan jenis pelayanan kesehatan lainnya, khususnya pelayanan kepada masyarakat miskin.
Tabel 13 AngkaHarapan Hidup, Angka Kematian Ibu dan Anak menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Barat
Kab/Kota
Angka Harapan Hidup 2008
Angka Kematian
Ibu 2004
Angka Kematian Bayi 2006 Kabupaten Sambas
Kabupaten Bengkayang Kabupaten Landak Kabupaten Pontianak Kabupaten Sanggau Kabupaten Ketapang Kabupaten Sintang Kabupaten Kapuas Hulu Kabupaten Sekadau Kabupaten Melawi Kabupaten Kayong Utara Kabupaten Kubu Raya Kota Pontianak Kota Singkawang
60,70 68,57 64,98 67,12 67,99 67,02 67,91 66,39 67,27 67,63 65,33 66,17 66,86 66,95
513 513 428 504 622 506 575 668 - - - - 532 430
40,73 42,72 39,07 36,76 31,77 37,74 38,07 37,24 32,76 35,09 - - 30,77 33,76
Kalimantan Barat 66,30 566 38,41
Keterangan : (-) Data tergabung dengan kabupaten induk.
Sumber : BPS Provinsi Kalimantan Barat (2009)
Indikator IPM yang merupakan komposit dari Angka Harapan Hidup, Angka Melek Huruf, Rata-rata Lama Sekolah dan Pengeluaran per Kapita, BPS mencatat pada tahun 2008 IPM tertinggi di Provinsi Kalimantan Barat adalah Kota Pontianak dengan Indeks mencapai 72,08 dan yang terendah adalah Kabupaten Sambas sebesar 63,73 seperti yang ditunjukkan pada Tabel 14.
Tingginya IPM di Kota Pontianak menunjukkan investasi pembangunan manusia di Kalimantan Barat masih terpusat pada kota utama. Faktor-faktor penentu diantaranya tingginya aktivitas di daerah perkotaan yang secara langsung menjadi penyebab meningkatnya jumlah penduduk, dan sebaliknya (first city bias). Gejala- gejala tersebut juga menjadi pemicu terbentuknya slum area dan meningkatkan proporsi penduduk miskin di perkotaan.
Pada Tabel 14, masing-masing komponen IPM menunjukkan tingkat
pencapaian yang berbeda antar kabupaten/kota, dimana komponen angka harapan
hidup tertinggi adalah Kabupaten Bengkayang dan terendah adalah Kabupaten
Sambas, komponen angka melek huruf tertinggi dicapai Kota Pontianak dan terendah adalah Kabupaten Kubu Raya, komponen rata-rata lama sekolah tertinggi dicapai Kota Pontianak dan terendah adalah Kabupaten Sambas, dan untuk pengeluran per kapita tertinggi adalah Kota Pontianak dan terendah adalah Kabupaten Sekadau dan Kabupaten Melawi.
Tabel 14 Besaran IPM dan komponennya menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2008
Kab/Kota
Angka Harapan
Hidup (tahun)
Angka Melek Huruf (%)
Rata-rata Lama Sekolah
(tahun)
Pengeluaran per Kapita
(Rp000)
IPM
Kabupaten Sambas Kab Bengkayang Kabupaten Landak Kabupaten Pontianak Kabupaten Sanggau Kabupaten Ketapang Kabupaten Sintang Kab Kapuas Hulu Kabupaten Sekadau Kabupaten Melawi Kab Kayong Utara Kab Kubu Raya Kota Pontianak Kota Singkawang
60,70 68,57 64,98 67,12 67,99 67,02 67,91 66,39 67,27 67,63 65,33 66,17 66,86 66,95
89,50 88,68 91,45 89,40 89,92 88,87 90,41 92,55 88,98 92,32 88,20 85,83 93,59 89,62
5,90 6,03 6,86 6,48 6,40 6,22 6,58 7,10 6,06 7,20 5,60 6,16 9,11 7,30
614,92 599,30 608,21 617,52 609,95 608,43 602,01 627,31 598,62 598,62 600,67 617,00 636,18 611,76
63,73 66,81 66,74 67,90 67,86 66,84 67,44 69,41 66,13 67,91 64,69 66,31 72,08 68,02 Kalimantan Barat 66,30 89,40 6,70 624,74 68,17 Sumber : BPS (2009)
4.5 Kemiskinan
Implikasi dari tingginya aktivitas ekonomi dan pembangunan manusia/sosial adalah meningkatnya kualitas hidup manusia yang kemudian akan mampu menurunkan tingkat kemiskinan di wilayah tersebut. Indikator yang digunakan untuk dapat membandingkan kemiskinan antar satu wilayah dengan wilayah lainnya adalah jumlah penduduk miskin berdasarkan ukuran kemiskinan absolut standar BPS.
Dengan garis kemiskinan Kalimantan Barat pada tahun 2008 sebesar
Rp 168 942 /kap/bulan, jumlah penduduk miskin mencapai 10,87%. Kabupaten
dengan persentase penduduk miskin (P
0) terbesar adalah Kabupaten Landak yang
mencapai 18,65% dan terendah adalah Kabupaten Sanggau yang hanya sebesar
6,25%. Jika P
0hanya melihat secara umum jumlah penduduk yang hidup dibawah
garis kemiskinan, maka untuk lebih jauh indikator yang digunakan untuk melihat
seberapa dalam miskinnya penduduk miskin tersebut dari garis kemiskinan yang dapat dilihat dari tingkat kedalaman kemiskinan (P
1) dan bagaimana ketimpangan dari kelompok miskin dengan melihat indikator keparahan kemiskinan (P
2), maka P
1dan P
2yang tertinggi adalah Kabupaten Melawi yang sebesar 6,04 dan 2,54, sedangkan terendah adalah Kabupaten Pontianak yang sebesar 1,16 dan 0,28.
Semakin tinggi angka yang ditampilkan menunjukkan wilayah dengan kategori tingkat kemiskinan yang semakin buruk (Tabel 15).
Tabel 15 Jumlah Penduduk Miskin, Persentase Penduduk Miskin, P1, P2 dan Garis Kemiskinan menurut Kabupaten/Kota di Kalimantan Barat Tahun 2008
Kab/Kota
Jumlah Penduduk
Miskin (000 orang)
Persentase Penduduk Miskin
(%)
P
1P
2Garis Kemiskinan (Rp/Kap/bl) Kab. Sambas
Kab. Bengkayang Kab. Landak Kab. Pontianak Kab. Sanggau Kab. Ketapang Kab. Sintang Kab. Kapuas Hulu Kab. Sekadau Kab. Melawi Kab. Kayong Utara Kab. Kubu Raya Kota Pontianak Kota Singkawang
61,50 21,10 66,00 54,50 26,50 67,70 54,10 27,30 14,80 27,10 14,40
- 52,80 15,10
11,51 9,41 18,65 7,03 6,25 15,21 13,61 11,44 7,66 14,80 14,50 - 9,29 7,89
2,19 1,80 3,85 1,16 1,39 3,47 3,26 2,21 2,05 6,04 3,48 - 1,94 1,33
0,67 0,46 1,14 0,28 0,37 1,02 0,93 0,66 0,69 2,54 1,04 - 0,64 0,31
163 773 146 825 163 954 164 604 141 341 178 060 182 626 163 380 137 343 204 947 136 037 - 193 984 194 818 Kalimantan Barat 50,80 10,87 2,38 0,72 168 942 Keterangan : (-) Data tergabung dengan kabupaten induk.
Sumber : BPS (2009)
Gambaran lain dari kemiskinan di kabupaten/kota dapat pula dilihat dari
kemampuan rumah tangga memenuhi standar hidup minimal yang sehat, seperti
penggunaan air bersih, jamban pribadi dan luasan lantai rumah. Dari data BPS
(2009) persentase rumah tangga yang mendapat suplai air bersih terendah adalah
Kabupaten Sambas dan tertinggi adalah Kota Singkawang. Sementara persentase
rumah tangga yang menggunakan jamban sendiri yang paling rendah adalah
Kabupaten Melawi dan tertinggi adalah Kota Pontianak yang lengkapnya
ditampilkan pada Tabel 16. Wilayah yang persentase penduduk dengan pelayanan
air bersih dan penggunaan jamban sendiri dalam jumlah kecil, menunjukkan
rendahnya kesejahteraan penduduk di wilayah tersebut.
Untuk ukuran luas lantai yang dianggap layak adalah minimal 8 m
2. Pada Tabel 16 menunjukkan persentase rumah tangga yang tinggal dengan luasan lantai rumah yang kurang dari 8 m
2tertinggi adalah Kabupaten Kapuas Hulu dan terendah adalah Kabupaten Landak. Indikator ini menunjukkan bahwa ukuran tempat tinggal kurang dari 8 m
2dikelompokkan kedalam rumah tangga miskin, dengan demikian semakin tinggi persentase rumah tangga yang tinggal dengan ukuran luas lantai kurang dari 8 m
2, maka kesejahteraan rumah tangga di wilayah tersebut dikategorikan rendah.
Tabel 16 Persentase Rumah Tangga yang Menggunakan Air Bersih, Jamban sendiri dan Luas Lantai Rumah kurang dari 8 m
2pada Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Barat, Tahun 2008
Kab/Kota
Persentase Rumah Tangga (%) Menggunakan
Air Bersih
Menggunakan Jamban Sendiri
Luas Lantai Rumah < 8 m
2Kab. Sambas
Kab. Bengkayang Kab. Landak Kab. Pontianak Kab. Sanggau Kab. Ketapang Kab. Sintang Kab. Kapuas Hulu Kab. Sekadau Kab. Melawi Kab. Kayong Utara Kab. Kubu Raya Kota Pontianak Kota Singkawang
2,51 19,09 8,04 7,13 3,45 27,14 19,99 27,34 16,72 31,52 19,25 - 21,98 53,33
71,42 56,50 38,18 69,09 47,24 60,51 63,02 57,60 52,61 44,02 48,69
- 98,67 89,49
1,95 2,34 0,49 1,98 1,81 4,39 1,84 5,10 3,03 3,61 3,13 - 3,50 2,73
Kalimantan Barat 19,13 67,15 2,62
Keterangan : (-) Data tergabung dengan kabupaten induk.
Sumber : BPS (2009)
Kemiskinan rumah tangga dapat pula dilihat dari persentase pendapatan yang dikeluarkan untuk makanan dalam rumah tangga. Semakin tinggi persentase pendapatan dikeluarkan untuk makanan, semakin rendah kualitas hidupnya, karena tidak tercukupi alokasi pembiayaan untuk keperluan lain, seperti pendidikan, kesehatan dan jasa, dengan kata lain semakin dikategorikan rumah tangga kurang sejahtera.
Pada tahun 2008, penduduk miskin dengan persentase pengeluaran untuk
makanan tertinggi ada di Kabupaten Landak, yakni sebesar 75,88%, dan terendah
adalah Kota Singkawang (63,86%). Secara keseluruhan, porsi pengeluaran untuk
makanan penduduk Kalimantan Barat adalah sebesar 64,43% (Tabel 17).
Tabel 17 Persentase Pengeluaran untuk Makanan pada rumah tangga di Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2008
Kab/Kota
Persentase Pengeluaran untuk makanan pada rumah tangga (%)
Miskin Tidak Miskin Miskin + Tidak miskin Kab. Sambas
Kab. Bengkayang Kab. Landak Kab. Pontianak Kab. Sanggau Kab. Ketapang Kab. Sintang Kab. Kapuas Hulu Kab. Sekadau Kab. Melawi Kab. Kayong Utara Kab. Kubu Raya Kota Pontianak Kota Singkawang
71,24 71,50 75,88 70,61 71,24 72,10 68,48 76,29 73,43 71,23 72,92
- 64,01 63,86
64,17 66,89 69,02 63,51 64,33 63,94 67,85 70,37 65,43 65,71 69,53
- 54,56 54,91
64,97 67,32 70,30 64,02 64,76 65,18 67,94 71,06 66,04 66,52 70,01
- 55,40 55,60
Kalimantan Barat 70,94 63,64 64,43
Keterangan : (-) Data tergabung dengan kabupaten induk.
Sumber : BPS (2009)
Investasi yang besar dalam meningkatkan kualitas hidup manusia dapat dikembangkan melalui peningkatan pendidikan. Masyarakat miskin identik dengan tingkat pendidikan rendah. Semakin rendah tingkat pendidikan masyarakat miskin semakin rendah kualitas hidup dan produktivitasnya, sehingga semakin sulit orang tersebut untuk keluar dari kemiskinannya.
Untuk gambaran pendidikan penduduk miskin di Kalimantan Barat dapat
dilihat pada Tabel 18, dimana 51,44% masyarakat miskin berpendidikan kurang
dari atau tidak menamatkan pendidikan di Sekolah Dasar. Persentase penduduk
miskin yang kurang dari atau tidak menamatkan pendidikan Sekolah dasar
terbesar adalah Kabupaten Kayong Utara yang mencapai 69,58% dan terendah
adalah Kabupaten Kapuas Hulu sebesar 36,15%. Semakin rendah akses
pendidikan keluarga miskin di suatu wilayah terhadap pendidikan dasar, maka
kemiskinan di wilayah tersebut akan semakin sulit ditekan. Dengan tingkat
pendidikan yang lebih tinggi, menjadi modal bagi penduduk miskin untuk
mencapai masa depan dengan diperolehnya pekerjaan yang lebih baik. Pendidikan
di tingkat SLTA ke atas menunjukkan, persentase penduduk miskin yang
berpartisipasi tertinggi adalah Kota Pontianak dan terendah adalah Kabupaten
Sekadau.
Tabel 18 Sebaran Penduduk Miskin 15 tahun ke atas berdasarkan tingkat pendidikan pada Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Barat, Tahun 2008
Kab/Kota
Persentase penduduk miskin (%)
< SD Tamat
SD/SLTP SLTA+
Kab. Sambas Kab. Bengkayang Kab. Landak Kab. Pontianak Kab. Sanggau Kab. Ketapang Kab. Sintang Kab. Kapuas Hulu Kab. Sekadau Kab. Melawi Kab. Kayong Utara Kab. Kubu Raya Kota Pontianak Kota Singkawang
49.84 54.16 51.55 56.29 60.79 53.77 41.43 36.15 61.12 53.37 69.58
- 51.72 53.15
44.76 40.77 40.33 37.53 36.53 38.91 54.50 56.88 36.49 41.21 31.50
- 39.32 38.65
5.40 5.08 8.13 6.18 2.68 7.33 4.08 6.97 2.39 5.42 2.52 - 8.96 8.20
Kalimantan Barat 51.44 42.29 6.27
Keterangan : (-) Data tergabung dengan kabupaten induk.
Sumber : BPS (2009)
Hal lain yang juga akan mempersulit keluarnya penduduk miskin dari kemiskinannya, apabila tidak memiliki penghasilan. Dari Tabel 19, penduduk miskin usia diatas 15 tahun yang tidak bekerja di Kalimantan Barat pada tahun 2008 sebesar 4,16%, persentase tertinggi adalah Kota Pontianak yang mencapai 13,95%. Penyebabnya adalah tingginya jumlah penduduk yang ada di Kota Pontianak karena arus urbanisasi, terutama pendatang dari desa dengan tingkat pendidikan dan keterampilan yang rendah. Dampaknya adalah adanya kelompok masyarakat miskin tanpa pekerjaan yang tinggal di perkotaan.
Adapun ciri lain dari kelompok masyarakat miskin yang bekerja tampak dari konsentrasi penduduk miskin yang bekerja di Kalimantan Barat pada sektor informal dan sektor pertanian, yakni berturut-turut 78,15% dan 72,94%, untuk sektor informal konsentrasi tertinggi di Kabupaten Kapuas Hulu, dan konsentrasi tertinggi penduduk miskin yang bekerja di sektor pertanian ada di Kabupaten Landak. Semakin tingginya aktivitas sektor informal dan sektor pertanian yang berkembang di suatu wilayah, semakin tinggi insiden kemiskinan di wilayah tersebut, karena tingginya demand terhadap tenaga kerja massal dengan upah rendah yang menjadi ciri dari pekerja dari kelompok masyarakat miskin.
Persentase tertinggi keluarga miskin yang bekerja di sektor informal pada
Kabupaten Kapuas Hulu sebesar 95,09%, terendah di Kota Pontianak 31,41%.
Untuk sektor pertanian, persentase pekerja penduduk miskin tertinggi ada pada Kabupaten Sintang sebesar 93,47% dan terendah pada Kota Pontianak sebesar 6,98%. Adanya pekerja sektor pertanian di Kota Pontianak dijumpai pada lahan- lahan terbuka di perkotaan yang tidak termanfaatkan untuk aktivitas sektor perkotaan, utamanya di area pinggiran (suburban area).
Tabel 19 Sebaran Penduduk Miskin 15 tahun ke atas berdasarkan status
pekerjaan pada Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2008
Kab/Kota
Persentaase penduduk miskin (%) Tidak
Bekerja
Bekerja di Sektor InFormal
Bekerja di Sektor
formal
Bekerja di sektor Pertanian
Bekerja Bukan di
sektor Pertanian Kab. Sambas
Kab. Bengkayang Kab. Landak Kab. Pontianak Kab. Sanggau Kab. Ketapang Kab. Sintang Kab. Kapuas Hulu Kab. Sekadau Kab. Melawi Kab. Kayong Utara Kab. Kubu Raya Kota Pontianak Kota Singkawang
9.68 4.01 0.85 6.28 0.00 3.96 0.56 0.00 1.16 1.61 0.81 - 13.95 5.49
75.10 84.37 92.34 75.39 93.97 65.23 92.96 95.09 91.86 90.68 68.17 - 31.41 47.17
15.22 11.63 6.81 18.33 6.03 30.82 6.48 4.91 6.98 7.71 31.02 - 54.64 47.34
69.67 78.47 89.80 65.48 85.03 68.19 93.47 91.35 88.38 89.07 68.84 - 6.98 27.85
20.65 17.52 9.35 28.24 14.97 27.85 5.97 8.65 10.46 9.32 30.35 - 79.07 66.66
Kalimantan Barat 4.16 78.15 17.70 72.94 22.90
Keterangan : (-) Data tergabung dengan kabupaten induk.
Sumber : BPS (2009)
V. POLA SPASIAL KEMISKINAN, PEMBANGUNAN MANUSIA/SOSIAL, DAN AKTIVITAS EKONOMI DI
PROVINSI KALIMANTAN BARAT
5.1. Pola Spasial Kemiskinan
Gambaran kemiskinan di Kalimantan Barat dalam analisis ini menggunakan dua pendekatan konfigurasi, yaitu konfigurasi sebaran keluarga miskin dan konfigurasi sebaran penduduk. Sebaran keluarga miskin menggunakan indikator jumlah keluarga miskin (keluarga prasejahtera dan sejahtera I) dan lokasi tempat tinggal keluarga miskin (lokasi tinggal di bantaran sungai, di bawah jaringan SUTET, di pemukiman kumuh dan lokasi yang sulit dijangkau).
5.1.1 Konfigurasi Sebaran Keluarga Miskin
Kemiskinan dipersepsikan dalam konteks ketidakcukupan pendapatan dan kepemilikan uang serta aset dalam dimensi ekonomi. Keluarga miskin pada umumnya selalu lemah dalam kemampuan berusaha dan terbatas aksesnya kepada kegiatan ekonomi sehingga seringkali makin tertinggal jauh dari masyarakat lain yang memiliki kemampuan lebih tinggi (Cotter, 2002).
Dua variabel yang digunakan untuk menunjukkan penciri jumlah keluarga miskin pada konfigurasi ini adalah adalah jumlah keluarga prasejahtera dan sejahtera I. Data yang diambil dari 175 kecamatan se-Kalimantan Barat membentuk satu komponen utama dengan keragaman 52,46% kecamatan di Kalimantan Barat berkorelasi dengan pangsa keluarga sejahtera I dan pra Sejahtera. Pada Tabel 20 menunjukkan keterkaitan variabel dengan komponen utama masing-masing sebesar 0,72 yang artinya peningkatan satu unit komponen utama berkorelasi dengan kenaikan pangsa keluarga prasejahtera dan sejahtera I masing-masing sebesar 0,72 unit.
Berhubung sebagian besar konsentrasi penduduk miskin pada 175
kecamatan ditemukan di empat lokasi, maka empat variabel lokasi tinggal
keluarga miskin, yaitu di bantaran sungai, pemukiman kumuh, jaringan SUTET,
dan lokasi yang sulit dijangkau dimanfaatkan dan membentuk dua komponen atau
penciri utama dengan keragaman 84,71%. Pada Tabel 20, komponen pertama
lokasi tinggal keluarga miskin (Idx_kelmiskf1) menunjukkan 58,92% kecamatan
di Provinsi Kalimantan Barat terkait dengan variabel pangsa keluarga miskin yang
tinggal di bantaran sungai, pangsa keluarga miskin yang tinggal di pemukiman kumuh dan pangsa keluarga miskin di pemukiman yang sulit terjangkau.
Kenaikan satu unit nilai dari indeks ini terkait dengan kenaikan variabel berturut- turut sebesar 0,92, 0,89 dan 0,80 unit. Untuk komponen/penciri kedua (Idx_kelmiskf2) terkait dengan lokasi tinggal keluarga miskin di sekitar jaringan SUTET, menunjukkan keragaman 25,79% di seluruh kecamatan. Untuk kenaikan satu unit nilai dari indeks ini merupakan kenaikan 0,98 unit pangsa keluarga miskin yang tinggal dibawah jaringan SUTET.
Tabel 20 Muatan faktor (factor loading) variabel dari penciri konfigurasi sebaran keluarga miskin
Kelompok Penciri (% varian)
Penciri Utama
(% varian) Keterangan Muatan
faktor Keluarga miskin
(52,46)
Idx_Miskf1 (52,46)
Pangsa Keluarga Prasejahtera 0,72(+) Pangsa Keluarga Sejahtera I 0,72(+)
Lokasi tinggal keluarga miskin
(84,71)
Idx_Kelmiskf1 (58,92)
Pangsa Keluarga Miskin yang tinggal di bantaran Sungai
0,92(+) Pangsa Keluarga Miskin yang tinggal
di pemukiman kumuh
0,89(+) Pangsa Keluarga Miskin yang tinggal
di pemukiman sulit dijangkau
0,80(+) Idx_Kelmiskf2
(25,79)
Pangsa Keluarga Miskin yang tinggal di bawah jaringan SUTET
0,98(+)
Penciri pada Tabel 20 digunakan dalam mengklasifikasikan kecamatan dengan analisis klaster (cluster analysis) yaitu dengan memanfaatkan kedekatan jarak antar penciri (euclidean distance) dari factor score dari setiap kecamatan (Lampiran 2). Ketiga penciri signifikan menjadi pembeda sehingga membentuk 3 klaster (tinggi, rendah, dan sedang) seperti yang ditunjukkan pada Gambar 11.
Nilai Tengah Penciri
Konfigurasi Sebaran Keluarga Miskin
Klaster 1 Klaster 2 Klaster 3 Idx_Miskf1
Idx_Kelmiskf1
Idx_Kelmiskf2 Penciri Klaster
-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Gambar 11 Grafik nilai tengah (Euclidean Distance) penciri konfigurasi sebaran keluarga miskin.
n il a i te n g a h
Melalui analisis diskriminan ketiga penciri tersebut menjadi pembeda tiga klaster yang terbentuk, dengan besarnya kemampuan klasifikasi 97,71%. Masing- masing kelompok tersebut memiliki kategori seperti yang ditunjukkan pada Tabel 21.
Tabel 21 Kategori pembeda utama pada konfigurasi sebaran keluarga miskin
Penciri Keterangan Kategori
I II III
Idx_Kelmiskf2 Pangsa Keluarga Miskin yang tinggal di bawah jaringan SUTET
Sedang Tinggi Rendah
Idx_Miskf1 Pangsa Keluarga Prasejahtera Tinggi Sedang Rendah Pangsa Keluarga Sejahtera I Tinggi Sedang Rendah
Idx_Kelmiskf1
Pangsa Keluarga Miskin yang tinggal di bantaran Sungai
Tinggi Sedang Rendah Pangsa Keluarga Miskin yang tinggal
di pemukiman kumuh
Tinggi Sedang Rendah Pangsa Keluarga Miskin yang tinggal
di pemukiman sulit dijangkau
Tinggi Sedang Rendah
Dengan kategori yang tersusun, dari 175 kecamatan, klaster 1 terdiri atas 25 kecamatan (14,29%), klaster 2 terdiri atas 3 kecamatan (1,71%) dan klaster 3 terdiri atas 147 kecamatan (84,00%). Distribusi konfigurasi di tingkat kecamatan ditunjukkan pada Lampiran 3.
Dari analisis ini mengindikasikan bahwa klaster 1 adalah wilayah dengan
kategori sebaran keluarga miskin yang tinggi, klaster 2 dengan sebaran keluarga
miskin sedang, dan klaster 3 dengan sebaran keluarga miskin rendah. Tampilan
tematik dari konfigurasi sebaran keluarga miskin pada Gambar 12, menunjukkan
kantong-kantong kemiskinan (warna merah) banyak ditemukan di kecamatan-
kecamatan pada wilayah tengah dan di perbatasan baik perbatasan antar negara
maupun antar provinsi. Lebih dari separuh wilayah Kabupaten Sintang dijumpai
area merah yang menyebar mulai dari utara hingga selatan wilayahnya. Di area
berwarna hijau menunjukkan penyebaran keluarga miskin yang rendah, dimana
pada wilayah tersebut insiden kemiskinan dijumpai dengan jumlah yang relatif
lebih rendah dibandingkan wilayah lainnya. Area ini meliputi sebagian besar
wilayah di Provinsi Kalimantan Barat dan dari peta konfigurasi menunjukkan
bahwa Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang dan Kayong Utara adalah
kabupaten yang tidak dijumpai spot merah atau kecamatan dengan sebaran
keluarga miskin yang tinggi.
Gambar 12 Peta Konfigurasi Sebaran Keluarga Miskin di Provinsi Kalimantan Barat.
Distribusi kecamatan di kabupaten/kota pada tiap klasternya ditunjukkan pada Tabel 22, dimana kabupaten dengan kecamatan yang terkategori sebaran keluarga miskin tinggi terbanyak ditemukan di Kabupaten Sintang yaitu sebanyak 7 dari 14 kecamatan. Lebih dari sepertiga kecamatan di Kabupaten Landak dan Kota Pontianak juga ditemukan kantong-kantong kemiskinan, sementara wilayah lainnya dibawah 20%.
Tabel 22 Distribusi kategori sebaran keluarga miskin pada kabupaten/kota Kabupaten/Kota Distribusi kategori sebaran (persen) Tinggi Sedang Rendah
Kabupaten Sambas 0,00 0,00 100,00
Kabupaten Bengkayang 0,00 0,00 100,00
Kabupaten Landak 38,46 0,00 61,54
Kabupaten Pontianak 11,11 11,11 77,78
Kabupaten Sanggau 6,67 0,00 93,33
Kabupaten Ketapang 10,00 0,00 90,00
Kabupaten Sintang 50,00 0,00 50,00
Kabupaten Kapuas Hulu 12,00 0,00 88,00
Kabupaten Sekadau 14,29 0,00 85,71
Kabupaten Melawi 18,18 0,00 81,82
Kabupaten Kayong Utara 0,00 0,00 100,00
Kabupaten Kubu Raya 11,11 11,11 77,78
Kota Pontianak 33,33 16,67 50,00
Kota Singkawang 0,00 0,00 100,00
Identifikasi kantong-kantong kemiskinan sangat penting dilakukan agar
target utama penanganan kemiskinan lebih terarah sebagaimana yang
dikembangkan di Kenya dalam Kenya’s Interim Poverti Reduction Strategy Paper
(Swallow, 2005) yang membantu pemerintah Kenya memetakan lokasi kantong- kantong kemiskinan dalam penanganan kemiskinan.
5.1.2 Konfigurasi Sebaran Penduduk
Indikator-indikator yang digunakan dalam membuat konfigurasi sebaran penduduk adalah jumlah penduduk, pertumbuhan dan penunjang pertumbuhan penduduk dan jumlah penduduk cacat. Variabel dari indikator jumlah penduduk adalah jumlah penduduk laki-laki dan perempuan yang membentuk satu komponen utama dan mewakili 99,95% keragaman dari data yang ada. Pada Tabel 23, variabel jumlah penduduk laki-laki dan perempuan berkorelasi positif dengan keterkaitan terhadap komponen utama (Idx_SDMJP) masing-masing sebesar 0,99, yang artinya peningkatan satu unit penciri menggambarkan kenaikan pangsa penduduk laki-laki dan perempuan masing-masing sebesar 0,99 unit.
Tabel 23 Muatan faktor (factor loading) variabel dari penciri konfigurasi sebaran jumlah penduduk
Kelompok Penciri (% varian)
Penciri Utama
(% varian) Variabel Faktor
Loading Jumlah
Penduduk (99,95)
Idx_SDMJP (99,95)
Pangsa Penduduk Laki-Laki 0,99(+) Pangsa Penduduk Perempuan 0,99(+)
Pertumbuhan Penduduk
(81,95)
Idx_SDMPf1 (81,95)
Pangsa kelahiran Laki-Laki 0,92(–) Pangsa kelahiran Perempuan 0,92(–) Pangsa kematian Laki-Laki 0,93(–) Pangsa kematian Perempuan 0,89(–)
Pangsa imigran 0,88(–)
Pangsa emigran 0,89(–)
Penunjang Pertumbuhan
Penduduk (65,71)
Idx_SDMPPf1 (65,71)
Pangsa Pasangan Usia Subur 0,97(+)
Pangsa Peserta KB 0,98(+)
Penduduk Cacat (54,47)
Idx_SDMCf1 (42,66)
Pangsa lokal penduduk Tuna Wicara 0,79(+) Pangsa lokal penduduk Tuna Daksa 0,88(+) Pangsa lokal penduduk Tuna Mental 0,82(+) Idx_SDMCf2
(11,81)
Pangsa lokal penduduk cacat
eksKusta 0,93(+)
Pola pertumbuhan penduduk di suatu wilayah, akan menjadi salah satu
faktor penyebab sebaran jumlah penduduk. Dari 175 kecamatan, dengan enam
variabel, yaitu pangsa kelahiran laki-laki, pangsa kelahiran perempuan, pangsa
kematian laki-laki, pangsa kematian perempuan, pangsa penduduk masuk dan
pangsa penduduk keluar wilayah, membentuk satu penciri utama. Hasil analisis
menunjukkan bahwa penciri tersebut (Idx_SDMJP) menggambarkan 81,95%
keragaman data dari seluruh wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Kenaikan satu unit nilai dari indeks tersebut terkait dengan penurunan variabel masing-masing sebesar 0,92, 0,92, 0,93, 0,89, 0,88 dan 0,89.
Pertumbuhan penduduk selain terkait dengan kelahiran, kematian dan penduduk keluar masuk, dipengaruhi pula adanya tiga variabel yang mempengaruhi tingkat pertumbuhan penduduk digunakan, yakni pangsa penduduk liar, pangsa pasangan usia subur dan pangsa peserta Keluarga Berencana (KB). Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 175 kecamatan membentuk satu komponen/penciri utama (Idx_SDMPPf1) yang mewakili 65,71% keragaman wilayah di Kalimantan Barat. Kenaikan satu unit nilai dari indeks komposit tersebut terkait dengan kenaikan variabel pangsa pasangan usia subur dan pangsa peserta Keluarga Berencana masing-masing sebesar 0,97 dan 0,98.
Jumlah penduduk cacat merupakan satu komponen yang mempengaruhi besarnya beban untuk menanggung penduduk cacat per penduduk di suatu wilayah. Hal tersebut terkait pula dengan produktifitas penduduk, semakin tinggi jumlah penduduk cacat di suatu wilayah, maka pangsa penduduk produktif menurun, serta beban pemerintah untuk mengalokasikan pembiayaan pembinaan penduduk cacat akan tinggi pula. Dari data jumlah penduduk cacat dikelompokkan dalam sembilan kategori. Analisis menghasilkan dua komponen/penciri utama yang menggambarkan 54,47% keragaman data dari 175 unit analisis. Penciri pertama (Idx_SDMCf1) menggambarkan 42,66% keragaman data yang terkait dengan variabel pangsa lokal penduduk tuna wicara, pangsa lokal penduduk tuna daksa, dan pangsa lokal penduduk cacat mental. Kenaikan satu unit penciri pertama terkait dengan kenaikan dari masing-masing variabel sebesar 0,79, 0,88 dan 0,82. Untuk komponen kedua (Idx_SDMCf2) menggambarkan keragaman 11,81% yang terkait dengan pangsa lokal penduduk cacat eks-Kusta. Naiknya satu unit indeks kedua berkorelasi dengan kenaikan 0,93 unit pangsa lokal penduduk cacat eks-Kusta.
Penciri-penciri konfigurasi sebaran penduduk digunakan untuk
mengklasifikasikan kecamatan dengan pendekatan jarak terdekat antar penciri
(euclidean distance) pada analisis klaster (cluster analysis) yang memanfaatkan factor score unit analisis (wilayah kecamatan) seperti yang ditunjukkan pada Lampiran 4. Tiga penciri signifikan menjadi pembeda tiga klaster (tinggi, rendah, dan sedang), yaitu jumlah penduduk, pertumbuhan penduduk, dan penunjang pertumbuhan penduduk seperti yang ditunjukkan pada Gambar 13.
Gambar 13 Grafik nilai tengah (Euclidean Distance) penciri konfigurasi sebaran penduduk.
Dari analisis ini menunjukkan bahwa jumlah penduduk berkorelasi kuat dengan pola pertumbuhan penduduk. Klaster 1 dengan jumlah penduduk yang tinggi menunjukkan pola pertumbuhan penduduk yang tinggi pula. Demikian halnya dengan klaster 2 dan klaster 3 juga menunjukkan korelasi searah.
Karenanya klaster 1 menunjukkan jumlah dan pertumbuhan penduduk yang tinggi, klaster 2 dengan kategori sedang, dan klaster 3 dengan kategori rendah (Tabel 24).
Tabel 24 Kategori pembeda utama pada konfigurasi sebaran penduduk
Penciri Keterangan Kategori
I II III
Idx_JP Pangsa Penduduk Laki-Laki Tinggi Sedang Rendah Pangsa Penduduk Perempuan Tinggi Sedang Rendah
Idx_SDMPf1
Pangsa kelahiran Laki-Laki Tinggi Sedang Rendah Pangsa kelahiran Perempuan Tinggi Sedang Rendah Pangsa kematian Laki-Laki Tinggi Sedang Rendah Pangsa kematian Perempuan Tinggi Sedang Rendah
Pangsa imigran Tinggi Sedang Rendah
Pangsa emigran Tinggi Sedang Rendah
Idx_SDMPPf1 Pangsa Pasangan Usia Subur Tinggi Sedang Rendah Pangsa Peserta KB Tinggi Sedang Rendah
Nilai Tengah Penciri Konfigurasi Sebaran Penduduk
Klaster 1 Klaster 2 Klaster 3 Idx_SDMPf1
Idx_SDMPPf1
Idx_SDMCf1
Idx_SDMCf2 Idx_JP
Penciri Klaster
-6 -4 -2 0 2 4 6 8 10 12 14 16
n il a i te n g a h
Melalui analisis diskriminan, tiga indeks yang signifikan menjadi penciri/
pembeda dari tiga kelompok dengan besarnya kemampuan klasifikasi 98,85%.
Klasifikasi pada 175 kecamatan menghasilkan klaster 1 yang terdiri atas 27 kecamatan (15,43%), klaster 2 terdiri dengan 1 kecamatan (0,57%) dan klaster 3 terdiri atas 147 kecamatan (84,00%). Secara umum jumlah penduduk dan pertumbuhan penduduk di Provinsi Kalimantan Barat terkategori rendah dan distribusi sebaran kecamatan pada setiap klaster ditunjukkan pada Lampiran 5.
Tampilan tematik dari konfigurasi sebaran jumlah pada Gambar 14, menunjukkan konsentrasi penduduk yang tinggi (warna merah) ditemukan di kecamatan-kecamatan pada wilayah tengah dan pesisir. Pada wilayah perbatasan antar negara dan antara provinsi, sebaran penduduk terkategori rendah yang tampak dari tampilan warna hijau. Secara keseluruhan wilayah di Provinsi Kalimantan Barat lebih menunjukkan ke arah pola sebaran penduduk rendah dan hanya satu spot dengan sebaran sedang (kuning), yaitu Kota Singkawang.
Gambar 14 Peta konfigurasi sebaran penduduk di Provinsi Kalimantan Barat.
Distribusi kecamatan di kabupaten/kota pada tiap klasternya ditunjukkan pada Tabel 25, dimana kabupaten dengan kecamatan yang terkategori sebaran penduduk tinggi terbanyak ditemukan di Kota Pontianak yang mencapai 83,33%.
Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Kapuas Hulu dan Kabupaten Kayong Utara
adalah seluruh kecamatannya dengan sebaran penduduk terkategori rendah.
Tabel 25 Distribusi kategori sebaran penduduk pada kabupaten/kota Kabupaten/Kota
Distribusi kecamtan dengan kategori sebaran penduduk (persen) Tinggi Sedang Rendah
Kabupaten Sambas 26,32 0,00 73,68
Kabupaten Bengkayang 0,00 0,00 100,00
Kabupaten Landak 15,38 0,00 84,62
Kabupaten Pontianak 11,11 0,00 88,89
Kabupaten Sanggau 26,67 0,00 73,33
Kabupaten Ketapang 5,00 0,00 95,00
Kabupaten Sintang 14,29 0,00 85,71
Kabupaten Kapuas Hulu 0,00 0,00 100,00
Kabupaten Sekadau 14,29 0,00 85,71
Kabupaten Melawi 9,09 0,00 90,91
Kabupaten Kayong Utara 0,00 0,00 100,00
Kabupaten Kubu Raya 33,33 0,00 66,67
Kota Pontianak 83,33 0,00 16,67
Kota Singkawang 40,00 20,00 40,00
5.1.3 Pola Kuadran Sebaran Keluarga Miskin terhadap Sebaran Penduduk Pola spasial tipologi kemiskinan adalah pola yang menunjukkan keterkaitan konfigurasi sebaran keluarga miskin dengan konfigurasi sebaran penduduk miskin. Empat pola kuadran dihasilkan dari plot bobot masing-masing konfigurasi seperti yang ditunjukkan pada Tabel 26.
Tabel 26 Plot bobot konfigurasi pada Pola Spasial Kemiskinan di kabupaten/
kota pada analisis kuadran Kabupaten/kota
Bobot Konfigurasi
Plot pada Kuadran Sebaran keluarga
miskin
Sebaran penduduk
Kota Pontianak 0,3056 0,4444 I
Kabupaten Kubu Raya 0,2222 0,2778 I
Kabupaten Sanggau 0,1889 0,2556 II
Kota Singkawang 0,1667 0,3333 II
Kabupaten Sambas 0,1667 0,2544 II
Kabupaten Bengkayang 0,1667 0,1667 III
Kabupaten Kayong Utara 0,1667 0,1667 III
Kabupaten Ketapang 0,2000 0,1833 III
Kabupaten Sekadau 0,2143 0,2143 III
Kabupaten Kapuas Hulu 0,2067 0,1667 III
Kabupaten Sintang 0,3333 0,2143 IV
Kabupaten Landak 0,2949 0,2179 IV
Kabupaten Melawi 0,2273 0,1970 IV
Kabupaten Pontianak 0,2222 0,2037 IV
Dari pola spasial tipologi kemiskinan di Kalimantan Barat, lokasi kantong
kemiskinan teralokasi di Kuadran I dan IV. Pada Kuadran I, sebaran keluarga
miskin tinggi terkait dengan sebaran penduduk yang tinggi, yaitu di Kota
Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya (Gambar 15). Pada kuadran I menjelaskan bahwa terbentuknya kantong kemiskinan di perkotaan sebagai akibat tingginya daya tarik (pull factor) kota bagi penduduk di luar wilayah perkotaan yang mengakibatkan tingginya arus urbanisasi. Terpusatnya penduduk di perkotaan akan menurunkan daya tampung kota dan berdampak pada tingginya pengangguran dan kemiskinan di perkotaan (Rustiadi et al. 2009). Dari data BPS Kalbar (2009), sebaran penduduk Kota Pontianak di tahun 2008 mencapai 12,27%
dari total jumlah penduduk di Kalimantan Barat, sedangkan luasan wilayahnya hanya sebesar 0,07% dari total luas provinsi. Jumlah penduduk miskin di Kota Pontianak adalah sebesar 52 800 jiwa dengan kepadatan penduduk miskinnya tertinggi di Provinsi Kalimantan Barat yang mencapai 0,49 jiwa /km
2, artinya pada setiap km
2luas wilayah di Kota Pontianak ditemukan 0,49 orang miskin.
Kabupaten Kubu Raya yang berbatasan langsung di sebelah barat, selatan dan timur Kota Pontianak, mengalami interaksi yang kurang menguntungkan bagi wilayahnya (backwash linkage). Kabupaten Kubu Raya yang merupakan salah satu sentra padi dan tanaman pangan lainnya di Kalimantan Barat, serta memiliki sentra-sentra industri yang dapat dilihat dari tingginya PDRB sektor pertanian dan sektor industri dengan total PDRB Kabupaten Kubu Raya di Tahun 2008 sebesar Rp 6,89 trilyun, dalam analisis kabupaten ini tergolong dalam kuadran dengan pola sebaran keluarga miskin yang tinggi di wilayah yang berpenduduk tinggi.
Gambar 15 Kuadran pola spasial kemiskinan di Provinsi Kalimantan Barat.
Pola Spasial Tipologi Kemiskinan
SAMBAS BENGKAYANG
LANDAK
PONTIANAK
SANGGAU KETAPANG
SINTANG
KAPUAS HULUSEKADAU MELAWI
KAYONG UTARA
KUBU RAYA
KOTA PONTIANAK
SINGKAWANG
-1,5 -1,0 -0,5 0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0
Sebaran Penduduk
-1,5 -1,0 -0,5 0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5
Sebaran Keluarga Miskin
SAMBAS BENGKAYANG
LANDAK
PONTIANAK
SANGGAU KETAPANG
SINTANG
KAPUAS HULUSEKADAU MELAWI
KAYONG UTARA
KUBU RAYA
KOTA PONTIANAK
SINGKAWANG
Kuadran I Kuadran IV
Kuadran III Kuadran II