2.1 Pemilihan Lokasi
2.1.1. Kriteria Pemilihan Lokasi
Dalam memilih lokasi untuk Rumah Komunikasi ini, perlu diperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut:
• Dekat dengan Sekolah-sekolah
Karena target dari proyek ini adalah anak usia sekolah dan menjalin kerjasama dalam menjalankan program-programnya; maka lokasi yang berdekatan dengan sekolah-sekolah akan lebih baik dan menguntungkan.
• Dekat dengan Lokasi perumahan
Karena target dari proyek ini juga bisa menjangkau keluarga (orangtua) yang ingin membimbing anaknya dalam mengerti pendidikan seks yang baik; atau memberikan pendidikan seks pada anaknya melalui media penghubung lain (dalam hal ini pusat pelayanan remaja). Disisi lain dalam menjalankan programnya diharapkan dapat melibatkan orangtua dan masyarakat, agar terbentuk interaksi yang harmonis.
• Dekat dengan fasilitas umum yang banyak dikunjungi remaja
Berada dekat dengan fasilitas umum, terutama yang banyak dikunjungi anak dan remaja akan lebih menguntungkan. Karena kemungkinan pengenalan bangunan pelayanan ini akan lebih mudah, karena dilewati oleh mereka dalam perjalanan menuju atau dari fasilitas-fasilitas umum tersebut.
• Kemudahan akses pencapaian
Area mudah dicapai oleh anak dan remaja beserta keluarganya; mengingat proyek ini adalah fasilitas umum. Disisi lain remaja akan “malas” untuk datang ke pusat pelayanan ini jika pencapaiannya rumit dan membutuhkan waktu terlalu lama.
2.1.2. Alasan Pemilihan Lokasi
Kota Surabaya dipilih karena di kota ini banyak terdapat anak-anak remaja dengan permasalahan seksualitas yang kompleks; dan jumlahnya tidak sedikit. Sedangkan kebutuhan mereka akan pengetahuan pendidikan dan kesehatan reproduksi belum terpenuhi dengan memadai.
Sesuai dengan kriteria yang telah disebutkan sebelumnya, pemilihan site di daerah surabaya pusat mungkin akan lebih tepat. Maka lebih lanjut dipilihlah site di daerah Gubeng Pojok, dengan alasan berada di pusat kota sehingga mudah dijangkau; dekat dengan sekolah-sekolah, dekat dengan tempat ibadah; dan dekat dengan banyak fasilitas umum di Surabaya.
Gambar 2.1. Peta Lokasi Tapak
dalam Rencana Pemanfaatan Ruang Wilayah Kotamadya Surabaya Sumber : RDTRK UD.Embong Kaliasin
2.2. Rencana Detail Tata Ruang Kota Embong Kaliasin
Berhubungan dengan lokasi site yang terpilih yaitu berada didaerah Embong Kaliasin, maka pada bab ini dijelaskan perincian mengenai Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Embong Kaliasin.
2.2.1. Penggunaan Lahan
Kawasan perencanaan Unit Distrik Embong Kaliasin adalah bagian ruang kota Surabaya yang tengah dan telah berevolusi dari kawasan perumahan menjadi kawasan comercial. Sampai dengan Juli 2003, penggunaan lahan pada kawasan perencanaan mayoritas telah banyak dimanfaatkan sebagai tempat perdagangan jasa-komersial, fasilitas umum dan pemerintahan, sedangkan sebagian lainnya masih ada yang belum berubah sebagai perumahan dan ruang terbuka hijau.
Gambar 2.2. Penggunaan Lahan Eksisting Th 2003 Sumber : RDTRK UD.Embong Kaliasin
Unit Distrik Embong Kaliasin ditetapkan kedepan untuk menampung penggunaan lahan sampai dengan tahun 2013 untuk Perdagangan dan Jasa, Fasilitas Umum serta RTH dan Lapangan Olahraga.
Kegiatan Utama yang dikembangkan adalah perdagangan (pertokoan, toko, dan kios), perkantoran, (Pemerintah & swasta), jasa comercial (hiburan, bioskop, hotel), Fasilitas umum (pendidikan, kesehatan, peribadatan).
Sejalan dengan perkembangan kota Surabaya yang pesat penggunaan lahan mengalami perkembangan (terjadi perubahan penggunaan lahan). Secara umum kecenderungan penggunaan lahan pada kawasan perencanaan adalaha sebagai berikut :
• Penggunaan lahan untuk perniagaan – jasa terkonsentrasi dan berkembang pada kawasan : koridor Jl. Urip Sumoharjo, “Segitiga Emas” di Jl. Basuki Rahmat, Jl. Gubernur Suryo, dan Jl. Panglima Sudirman. Kecenderungan lain terlihat disepanjang koridor Jl. Pemuda, Jl. Ambengan, Jl. Kusuma Bangsa dan Jl. Ngemplak.
• Ruang terbuka hijau – (taman kota, lapangan olahraga, dan jalar hijau) – sebagian keberadaannya masih tetap, walaupunhj berubah tampilannya;
seperti misalnya : Taman Apsari, Taman Surya dan taman Prestasi (bantaran Kalimas), Taman Monumen Bambu Runcing dan Lapangan Tenis Embong Sawo. Sedangkan untuk jalar hijau dan median jalan yang tidak berubah fungís terdapat disepanjang Jl. Jaksa Agung Suprapto, Jl. Yos Sudario, Jl.
Kusuma Bangsa.
• Kawasan perumahan formal dan informal pada tepi jalar koridor jalan utama cenderung berubah menjadi comercial. Sementara kawasan perumahan informal diluir jalar koridor jalan utama cenderung tetap Belem berubah fungsi.
• Fasilitas umum yang ada seperti cantor pemerintahan, sekolah, dan lain-lain masih mempunyai kecenderungan tetap seperti sedia kala.
Gambar 2.3. Rencana Penggunaan Lahan Sumber : RDTRK UD.Embong Kaliasin
2.2.2. Jaringan Sirkulasi (Pathways)
Jalur sirkulasi yang berpotensi untuk beridentitas sebagai pathways adalah jalur:
2.2.2.1 Jalan Raya
• Jl. Kusuma Bangsa, merupakan jalan Arteri Primer, poros Utara-Selatan antar kota dengan arus lalu lintas yang padat. Berciri khusus daerah perdagangan-jasa komersial dengan sedikit sisa perumahan.
• Jl. Urip Sumoharjo, Jl. Basuki Rahmat, Jl. Gubernur Suryo, dan Jl. Panglima Sudirman
• Jl. Pemuda (sisi Timur), Jl. Ambengan dan Jl. Walikota Mustajab – Jl.
Gubeng Pojok yang merupakan jalan Kolektor Sekunder, poros Timur – Barat dengan arus lalu lintas yang sangat padat. Berciri khusus daerah perdagangan – jasa komersial.
• Jl. Yos Sudarso
2.2.2.2. Rel Kereta Api
• Poros Utara – Selatan yang merupakan jalan Kolektor Sekunder, poros Timur – Barat dengan arus lalu lintas yang sangat padat. Berciri khusus daerah fasilitas umum.
2.2.3. Pembatas – lingkungan (Edges)
Unsur yang bisa dikategorikan sebagai pembatas pada kawasan perencanaan UD. Embong Kaliasin, yaitu : Rel Kereta Api, Jl. Pandegiling, Jl.
Urip Sumoharjo, Jl. Gubernur Suryo, Jl. Pemuda dan Jl. Panglima Sudirman.
Gambar 2.4. Pathways and Edges Sumber : RDTRK UD.Embong Kaliasin
2.2.4. Pusat Kegiatan (Nodes)
Pada saat ini Nodes yang ada pada kawasan perencanaan yang relatif menonjol adalah kegiatan fasilitas umum dan perniagaan – jasa komersial di WTC – Surabaya Plaza, Monumen Bambu Runcing, Taman Apsari – Grahadi dan Balai Kota – Taman Surya.
2.2.5. Tanda – lingkungan (Landmark)
Dalam kawasan perencanaan, yang memiliki potensi menjadi landmark adalah BII Tower Pemuda, BRI Tower, Hotel garden Pemuda, Wisma Dharmala Tower sebagai landmark mayor karena letaknya yang strategis dari kemudahan
pencapaian dan pengamatan visual dari berbagai arah dan sebagai titik orientasi.
Sedangkan yang termasuk dalam landmark minor adalah Hotel Olympic, Apotik Simpang, Monumen Bambu Runcing – Panglima Sudirman, Taman Apsari – Grahadi, Balai Kota – Taman Surya dan Balai Pemuda.
Gambar 2.5. Nodes and Landmark Sumber : RDTRK UD.Embong Kaliasin
2.2.6. Distrik
Unsur distrik yang memiliki identitas pada kawasan perencanaan UD.
Embong Kaliasin adalah distrik perniagaan – jasa komersial; yaitu : segitiga Hotel Garden – WTC – Surabaya Plasa, segitiga emas Panglima Sudirman – Basuki Rahmat – Gubernur Suryo, dan distrik fasilitas umum pemerintahan Balai Kota – Taman Surya.
2.2.7. Penghijauan
Penghijauan yang dimaksud adalah penghijauan pada ruang-ruang publik seperti tepi jalan, lapangan, makam, tepi saluran, taman dan penghijauan pada halaman rumah. Gambaran penghijauan yang ada saat ini antara lain :
• pohon yang ditanam pada jalur tepi jalan, pada umumnya adalah Angsana.
Penghijauan yang cukup rimbun adalah pada trotoar atau bahu jalan di Jl.
Walikota Mustajab, Jl. Pemuda (depan Surabaya Plasa), Jl. Kusuma Bangsa dan Jl. Ketabang Kali.
• Pada tepian Kali Surabaya dimanfaatkan untuk dibuat taman, seperti Taman Prestasi dan Monkasel.
• Taman Apsari, Taman Ade Irma Suryani Nasution, dan Taman Surya.
• Penghijauan di halaman rumah. Kebanyakan terdiri dari tanaman produktif seperti mangga, jambu air, pisang, pepaya; selain itu berupa tanaman perdu hias seperti bougenvil, teh-tehan, dan lain-lain.
2.2.8. Sistem Transportasi
2.2.8.1.Jaringan Jalan
Ruas Jalan pada kawasan perencanaan UD. Embong Kaliasin yang perlu mendapat perhatian sehubungan dengan kepadatan dan kemacetan lalu lintas, antara lain adalah :
Ruas disepanjang Jl. Basuki Rahmat, kepadatan lalu lintas biasanya terjadi pada pagi atau sore hari pada jam-jam masuk dan pulang kerja.
Ruas disepanjang Jl. Panglima Sudirman dan Jl. Urip Sumoharjo, kepadatan lalu lintas biasanya terjadi pada siang dan sore hari pada jam-jam istirahat dan pulang kerja.
Ruas disepanjang Jl. Gubeng Pojok dan Jl. Pemuda (sisi Timur), kemacetan lalu lintas biasanya terjadi pada pagi, siang dan sore hari pada jam-jam istirahat dan pulang kerja. Kemacetan dikarenakan dimensi jalan tidak sesuai lagi dengan jumlah kendaraan yang melewatinya; disamping itu juga dikarenakan Jl.
Gubeng Pojok merupakan simpul pertemuan arus lalu lintas yang datang dari kawasan Surabaya Utara, Timur dan Barat menuju Selatan, atau sebaliknya dari arah Selatan menuju Utara. Seperti dari Jl. Kusuma Bangsa, Jl. Yos Sudarso, Viadug Gubeng, Jl. Raya Gubeng, dan Jl. Sumatera yang berebut untuk masuk dan melintas ke Jl. Pemuda atau Jl. Kayon. Kemacetan tersebut juga disebabkan karena tingginya aktifitas keluar – masuk di Surabaya Plasa.
Di pertigaan Simpang Lonceng, kemacetan lalu lintas biasanya terjadi pada sore hari pada jam pulang kerja.
Gambar 2.6. Arus Lalu Lintas Kawasan Sumber : RDTRK UD.Embong Kaliasin
2.2.8.2.Pola Pergerakan
Pola pergerakan pada kawasan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :
• Pola pergerakan orang
Pola pergerakan orang dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
Pada pagi hari, saat jam berangkat kerja maupun sekolah terjadi pergerakan menuju kawasan fasilitas umum pemerintahan di Kantor Pemerintah Kota dan perniagaan – jasa di Surabaya Plasa. Pergerakan ini bertumpu pada Jl.
Urip Sumoharjo, Jl. Basuki Rahmat, Jl. Pemuda, Jl. Panglima Sudirman, Jl.
Gubeng Pojok dan Jl. Kusuma Bangsa.
Pada siang hari, saat jam istirahat kantor dan pulang sekolah, aktifitas disekitar jalan tersebut diatas juga mengalami kenaikan.
Pada sore hari, pada jam pulang kerja terjadi arus balik dari tempat kerja.
Aktifitas pergerakan terjadi seperti pada pagi harinya.
Pada malam hari, aktifitas pergerakan hanya terjadi pada beberapa pusat distrik dan nodes yang berfungsi sebagai fasilitas komersil dan pelayanan umum.
• Pola pergerakan barang
Pola pergerakan pengangkutan barang bahan mentah dan hasil olahan untuk kegiatan koleksi dan distribusi di kawasan UD. Embong Kaliasin kebanyakan hanya melewati Jl. Kusuma Bangsa, karena kedua jalan tersebut
mempunyai akses menuju luar kota. Intensitas arus pergerakan barang mulai pagi sampai sore hari menunjukkan fluktuasi relatif sama.
• Sirkulasi Angkutan Umum
Angkutan kota yang melayani dan melewati kawasan UD. Embong Kaliasin terdiri dari Mikrolet dan Bis Kota. Ada 14 trayek lyn angkutan kota dan 9 trayek bis kota.
2.2.9. Utilitas Perkotaan
2.2.9.1.Air Bersih
Seluruh kawasan mendapatkan pelayanan air bersih dari PDAM, dilayani melalui jaringan pipa primer berdiameter > 600 mm yang melewati Jl.
Yos Sudarso – Jl. Panglima Sudirman – Jl. Urip Sumoharjo, dan pipa sekunder berdiameter < 600 mm.
2.2.9.2.Jaringan Listrik
Kebutuhan listrik disuplai oleh PLN Wilayah XII Cabang Surabaya Selatan. Listrik disalurkan lewat Saluran Tegangan Menengah (SUTM) 20 KV, selanjutnya didistribusikan melalui Saluran Tegangan Rendah (SUTR) untuk memenuhi kebutuhan listrik di perumahan.
2.2.9.3.Jaringan Telepon
Areal terbangun pada kawasan seluruhnya telah terlayani jaringan telepon. Jaringan tersebut melewati jalan-jalan utama. Pelayanan telepon tidak hanya melalui sambungan langsung ke rumah atau tempat usaha, tetapi juga dengan telepon umum dan wartel yang dimaksudkan agar dapat menjangkau masyarakat luas.
2.2.9.4.Pengelolaan Sampah
Pembuangan sampah dari perumahan, perdagangan dan jasa melalui 3 tahapan yaitu : Pengumpulan sampah pada Lokasi Pembuangan Sampah Sementara (LPS) maupun pada Depo dengan menggunakan gerobak sampah yang
ditarik oleh Pasukan Kuning yang dikelola oleh RT/RW setempat dan Dinas Kebersihan; Pengangkutan sampah dari LPS maupun Depo Sampah untuk diangkut ke Lokasi Pembuangan Sampah Terakhir (LPA) dengan menggunakan alat pengangkut sampah; dan Pembuangan sampah atrau penimbunan di LPA yang merupakan akhir dari proses pengelolaan sampah.
Pada kawasan terdapat 3 Depo yaitu di Jl. Simpang Dukuh, Jl. Keputran dan di Jl.
Kusuma Bangsa. Juga dilayani 2 LPS di Jl. Kayon dan di Surabaya Plasa berupa penempatan kontainer.
Sampah padat yang berasal dari industri – yang tidak dapat didaur ulang atau dijual kembali – dikumpulkan dalam kontainer dan dibuang ke LPA.
2.2.9.5. Pematusan (Drainase)
Jaringan saluran drainase kebanyakan merupakan peninggalan Belanda, air flushing untuk kawasan ini berasal dari Kali Mas lewat pintu air disamping jembatan K;. Sonokembang yang diperkirakan berdiameter 2,0 – 3,0 m.
2.2.10. Rencana Penataan Bangunan
2.2.10.1. Arsitektur Kota
Pola lingkungan pada kawasan dibentuk oleh jaringan jalan, jaringan rel kereta api, sungai/saluran, serta tebaran ruang terbuka hijau. Komposisi unsur- unsur tersebut secara umum membentuk pola linier dengan pola grid di dalamnya.
Pola yang sudah terbentuk merupakan cerminan kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat setempat maupun para pengambil keputusan yang terbentuk secara bertahap dan selaras dengan pertumbuhan kawasan perencanaan sebagai bagian dari pertumbuhan kota Surabaya.
Pada wilayah yang terbangun diupayakan mengoptimalkan pola yang telah ada dengan cara, mempertegtas pola lingkungan yang sudah mapan, dan mempertegas serta menyempurnakan pola lingkungan yang belum terbentuk secara penuh.
Pada wilayah yang belum terbangun, pengembangan pola lingkungannya didasarkan pada kesinambungan pengembangan terhadap arahan rencana tata ruang yang sudah ada, pola yang sudah ada serta kebutuhan masyarakat.
2.2.10.2. Koefisien Dasar Bangunan dan Koefisien Lantai Bangunan
Koefisien dasar lantai bangunan pada kawasan didistribusikan secara proporsional ke masing-masing zona peruntukan yang ditetapkan sesuai dengan fungsi kegiatannya, serta besaran kapling dan blok yang diperbolehkan.
Pada area perdagangan dan jasa yang sekarang sebagian besar mempunyai KDB antara 75 – 90%, untuk mengefisienkan pemanfaatan lahan disarankan agar dikembangkan dengan sistem blok dengan KDB 60%. Jika tidak memungkinkan diperkenankan dengan KDB maksimum 70%.
Tabel 2.1. Rencana KDB dan KLB Pada Kawasan
Sumber : RDTRK UD.Embong Kaliasin
2.2.10.3. Garis Sempadan Bangunan
Garis sempadan antar bangunan dengan jalan disesuaikan dengan klasifikasi jalan dan diusahakan sesuai dengan standar perencanaan jalan perkotaan Ditjen Bina Marga pada tabel dibawah ini :
Tabel 2.2. Penentuan GSB
Sumber : RDTRK UD.Embong Kaliasin
2.3. Tapak
2.3.1. Lokasi Tapak
Lokasi yang dipilih ini terletak di Surabaya Pusat, dengan karakteristik :
• Batas-batas
Utara : Perumahan
Selatan : Perumahan - Viadug Gubeng Pojok – Kali Mas Timur : Lahan kosong - Jl. Kusuma Bangsa
Barat : Jl. Gubeng Pojok dan Jl. Selamet
• Sesuai dengan Rencana Teknik Ruang Kota dari Pemerintah Kotamadya Dati II Surabaya, lokasi ini termasuk dalam Unit Distrik Embong Kaliasin dan tata guna lahannya diperuntukkan bagi fasilitas umum.
• Letak berdekatan dengan fasilitas umum yaitu Plaza Surabaya, Museum Kapal Selam, World Trade Center, SMA kompleks ( SMUN 1, SMUN SMUN 2, SMUN 5, dan SMUN 9) serta dekat dengan kantor Kotamadya Surabaya.
• Koefisien Dasar Bangunan : 60%
• Koefisien Lantai Bangunan : 2 – 8 lantai
• Garis Sempadan Bangunan : Jl. Gubeng Pojok : 6 m Jl. Kusuma Bangsa : 25 m Jl. Selamet : 4 m Perumahan : 4 m Lahan kosong : 3 m
Gambar 2.7. Lokasi Site
Gambar 2.8. View Keluar Site (a) Jl. Gubeng Pojok – Viaduk Gubeng Pojok
a
b
Gambar 2.9. View Keluar Site (b) Jl. Selamet
Gambar 2.10. View Ke dalam Site (a) Jl. Gubeng Pojok
Gambar 2.11. View Ke dalam Site (b) Pojokan Jl. Selamet – Jl. Gubeng Pojok
2.3.2. Analisa Tapak
2.3.2.1. Iklim
Temperatur : 28˚ C (rata-rata) Curah hujan : 175 mm (rata-rata) Tekanan Udara : 1010,8 Mbs (rata-rata) Kelembapan Udara : 75% (rata-rata)
2.3.2.2. Ketinggian Tanah (Topografi)
Merupakan daerah dataran rendah dengan ketinggian tanah berkisar ± 4,5 m dari titik I BPP Tanjung Perak yang memiliki ketinggian ± 3,6075 m terhadap ARP (Air Rendah Purnama)
2.3.2.3. Hidrologi
Kedalaman air tanah pada kawasan adalah 2,0 sampai dengan 3,0 m, kedalaman tersebut tergantung dari permukaan air Kali Mas. Kali Mas berfungsi sebagai urban drainase dari sistem drainase kawasan.
2.3.2.4. Kemampuan dan Jenis Tanah
Menurut data kemampuan tanah dan jenis tanah dari Peta Data Pokok Kotamadya Daerah Tingkat II Surabaya tahun 1992, kondisi tanah pada kawasan adalah :
Lereng : mempunyai kemiringan 0 – 2 % Kedalaman tanah : lebih dari 90 cm (kedalaman efektif) Tekstur tanah : Halus
Drainase : Tidak pernah tergenang
Erosi : Tidak ada erosi Faktor pembatas : Air tanah asin
Jenis tanah : Alluvial Kelabu
2.3.2.5. Kebisingan dan Kepadatan Bangunan
Keadaan disekitar lokasi sangatlah ramai; hal ini dikarenakan lokasi site berada pada daerah pusat kota yang merupakan pusat kegiatan dan dilalui oleh jalur-jalur utama transportasi. Terutama pada jam-jam berangkat dan pulang kerja atau sekolah, arus transportasi didaerah ini akan semakin meningkat. Pada malam hari, area perdagangan seperti Surabaya Plasa menyebabkan area ini tetap ”hidup”
dan ramai.
Bangunan disekitar lokasi cukup padat, mengingat area ini merupakan pusat kota yang telah terbangun sejak lama. Area ini didominasi oleh perumahan dan perkantoran di sebelah Utara dan kompleks perdagangan – jasa serta perumahan di sebelah Selatan.
Gambar 2.12. Konsep Ruang Luar (Figure Ground Theory) Sumber : RDTRK UD.Embong Kaliasin
2.3.2.6. Open Space
Melihat pada Gambar 2.7. maka daerah pada lokasi merupakan daerah dengan tingkat kepadatan yang cukup tinggi, sedangkan ruang terbuka hijau (open space) yang tersedia masih kurang. Ruang terbuka hijau terolah yang bisa
digunakan masyarakat beraktifitas (rekreasi, olahraga, dsb) yang paling menonjol adalah Taman Surya pada Balai Kota Surabaya.
Berdasarkan perencanaan tata ruang kota pada tahun-tahun kedepan, diharapkan daerah ini mempunyai lebih banyak lagi open space untuk beraktifitas dan mengimbangi kepadatan bangunan yang telah ada.
2.3.2.7. Pencapaian Tapak
Jalan-jalan pada lokasi ini cukup baik kondisinya dan cukup lebar sehingga arus kendaraan masih bisa berjalan dengan lancar.
Jl. Gubeng Pojok sebagai jalan kolektor sekunder dengan 4 jalur jalan memiliki lebar jalan sekitar 14 m.
Jl. Selamet merupakan jalan lokal sekunder dengan 2 jalur jalan dengan lebar jalan sekitar 7 m.
Jl. Kusuma Bangsa merupakan jalan arteri primer dengan 6 jalur jalan dan lebar jalan sekitar 26 m.
Semua kendaraan dapat melintasi jalan-jalan pada lokasi ini.
Lokasi ini juga dilalui kendaraan umum berupa lyn angkutan umum dan bus kota dengan jumlah yang cukup banyak.
Angkutan kota yang melintasi lokasi adalah: Lyn F jurusan Joyoboyo – THR – Endrosono PP, Lyn GS jurusan Sidorame – Gunung Anyer PP, Lyn M
jurusan Joyoboyo – Kalimas Barat PP, Lyn N jurusan Bratang – Menur – Petekan PP.
Bis yang melewati lokasi ini adalah : Bis A2 jurusan Purabaya – Semut PP.
2.4. Pendaerahan (Zoning)
Lahan seluas ± 1,8 Ha ini pada awalnya merupakan lahan kosong atau Ruang Terbuka Hijau (RDTRK UD.Embong Kaliasin). Pembagian daerah ini dibagi menjadi area publik – bagi semua pengunjung -, area semi publik – pada
area pendidikan dan kesehatan (klinik maupun konseling) yang lebih membutuhkan ketenangan-, area semi privat – yaitu area bagi pengelola-, serta area servis.
Berdasarkan hasil analisis tapak, maka penempatan fasilitas pendidikan dan kesehatan yang bersifat semi-publik diletakkan pada sisi Utara site – mengingat area ini merupakan area yang lebih tenang karena berbatasan langsung dengan perumahan; fasilitas pengelola yang bersifat semi-privat diletakkan pada sisi Barat namun pada level lantai yang paling tinggi karena pengelola disini harus mengontrol dan mengetahui keadaan remaja pada proyek layanannya; sedangkan fasilitas servis diletakkan pada sisi Timur (sisi belakang site) agar tidak tercampur dengan aktivitas pengunjung.
Gambar 2.13. Zoning
Sesuai dengan proyek Pusat Informasi Pendidikan Seks dan Pembimbingan Perkembangan Remaja yang memfokuskan diri pada remaja sebagai penggunanya, maka dalam pemanfaatan lahan tapak juga perlu memperhitungkan adanya open space untuk mereka berkumpul dan beraktivitas.
Open space sebagai tempat remaja berkumpul dan beraktivitas ini direncanakan diletakkan di area depan tapak, sebagai ”nilai jual” proyek pada masyarakat.
Gambar 2.14. Open Space Pada Area Depan Site
Open space pada area depan site ini dimaksudkan untuk menyatukan bangunan dengan lingkungan sekitar dengan memasukkan pedestrian ke dalam site. Juga terdapat open stage untuk menyelenggarakan acara-acara remaja seperti festival band, lomba cheer-leaders, dsb.
2.5. Sirkulasi Dalam Tapak
Jl. Gubeng Pojok merupakan arus lalu-lintas satu arah yang sangat padat.
Jl. Selamet merupakan arus lalu-lintas dua arah dengan tingkat kepadatan rendah.
Ada 6 jalur sirkulasi menuju tapak yang perlu diperhitungkan; yaitu:
- Mobil
- Sepeda Motor - Bus
- Angkutan Umum - Service
- Pedestrian
Arus mobil paling banyak adalah yang melintas pada Jl. Gubeng Pojok;
sehingga sirkulasi masuk dan keluar mobil pada tapak disesuaikan dengan arus kendaraan pada jalan tersebut.
Sirkulasi sepeda motor diletakkan pada sisi Barat tapak agar tidak
”bertabrakan” dengan sirkulasi mobil.
Open space untuk
pedestrian dan pengunjuing
Sirkulasi Bus dan mobil dimasukkan pada sepanjang jalan Gubeng Pojok dengan pintu keluar pada jalan yang sama pula. Hal ini untuk memudahkan sirkulasi kendaraan di dalam site agar tidak bertabrakan, sehingga arah masuk dan keluar kendaraan dalam site disamakan dengan sirkulasi pada Jl. Gubeng Pojok.
Sirkulasi pengunjung dari angkutan umum paling banyak melintasi Jl.Gubeng Pojok; sehingga untuk memfasilitasi disediakan tempat pemberhentian untuk menurunkan penumpang angkutan umum pada sisi Selatan tapak.
Pedestrian dioptimalkan pada tapak; dengan ”pintu” masuk keluar utama pada sisi Barat tapak yang berbatasan dengan perumahan.
Gambar 2.15. Sirkulasi Pada Lokasi Site
Gambar 2.16. Sirkulasi Pada Tapak
Sepeda Motor
Pedestrian
Mobil & Bus
2.6. Pengaruh Lingkungan Sekitar Terhadap Tapak dan Pengaruh Perencanaan Tapak Terhadap Lingkungan Sekitar
Mengacu pada hasil analisis, maka berikut ini adalah penjabaran singkat mengenai pengaruh tapak di lingkungan sekitarnya dan sebaliknya:
• Penyediaan halte untuk angkutan umum dan peletakannya tidak boleh terlalu dekat dengan pintu masuk bangunan pada site agar tidak terjadi cross, mengingat Jl. Gubeng Pojok sebagai main entrance merupakan jalur yang ramai. Penyediaan halte angkutan umum ini perlu diperhatikan mengingat konsumen proyek ini, yaitu remaja, banyak menggunakan jasa angkutan umum.
• Pola penataan ruang luar dan perancangan bangunan dibedakan dengan sekitarnya; pola disekitar tapak betsifat formal dan simetris. Menyesuaikan dengan maksud tujuan proyek yang memperkenalkan dan mengkampanyekan kesadaran terhadap kesehatan remaja maka bangunan diharapkan tampil beda dan menarik perhatian. Maka pada proyek ini pola penataan dibuat lebih bebas dan informal.
• Sesuai dengan hasil analisis peraturan daerah pada lokasi ini, dimana dianjurkan agar mendirikan bangunan fasilitas umum dan jasa dengan ketinggian minimal 4 lantai, maka bangunan dalam proyek ini menyesuaikan dengan peraturan tersebut. Dengan bentukan tapak yang memanjang maka konsekuensinya tampilan bangunan pun terlihat memanjang.
• Batas- batas garis sempadan bangunan yang cukup besar dimanfaatkan sebagai area parkir serta penghijauan dalam tapak.
2.7. Pengolahan bentuk Lahan
Lahan pada tapak ini merupakan lahan dataran rendah dimana area jalan didepannya tak jarang tergenang air luapan dari Kali Mas. Itulah sebabnya pada area ini tidak diijinkan menggunakan sistem basement. Sehingga area penerima dalam bangunan dinaikkan ke lantai 2 (sedangkan lantai bawah digunakan untuk parkir dan area servis) dan diolah dengan ruang luar yang berundak-undak untuk menciptakan keharmonisan dan kedinamisan sesuai karakter remaja.
Bentukan tapak yang memanjang mengarahkan bangunan proyek ini pun berbentuk memanjang dengan menyediakan open space untuk kegiatan remaja dibagian depan site yang berbatasan dengan jalan raya. Agar tidak monoton maka pada sirkulasi tapak yang memanjang ini diolah denga perbedaan ketinggian lantai dan material.
2.8. Detail Lansekap
Disepanjang jalan dalam tapak diberikan penerangan dengan perletakan yang dinamis agar tidak terkesan monoton. Demikian juga dengan pembedaan material pada permukaan lantai untuk menandakan perbedaan fungsi area dan menghilangkan kesan monoton mengingat panjangnya bentuk site. Pada beberapa area diberikan grafiti untuk menandai bangunan sebagai milik remaja yang ekspresif, berani dan ceria. Area open stage pada bagian tengah site sebagai pusat aktivitas terbuka dilietakkan pada level yang tinggi untuk memudahkan akses ke dalam bangunan yang dimulai pada lantai 2. namun pada sisi depannya direndahkan agar pengguna jalan masih dapat melihat kegiatan yang sedang berlangsung.