• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI OLEH YESSI YOSEFIEN S

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI OLEH YESSI YOSEFIEN S"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

PENGARUH RETURN ON INVESTMENT, DEBT TO ASSET RATIO, UKURAN PERUSAHAAN, DAN OPINI AUDIT TERHADAP

AUDIT DELAY PADA PERUSAHAAN PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK

INDONESIA

OLEH

YESSI YOSEFIEN S 150522164

PROGRAM STUDI AKUNTANSI DEPARTEMEN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2018

(2)
(3)
(4)
(5)

LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul “PENGARUH RETURN ON INVESTMENT, DEBT TO ASSET RATIO, UKURAN PERUSAHAAN, DAN OPINI AUDIT TERHADAP AUDIT DELAY PADA PERUSAHAAN PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA” adalah benar hasil karya tulis saya sendiri yang disusun sebagai tugas akademik guna menyelesaikan beban akademik pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari perusahaan atau lembaga dan/atau saya kutip dari hasil karya orang lain telah mendapat izin, dan/atau dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.

Apabila kemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Medan, Desember 2017 Peneliti,

YESSI YOSEFIEN S NIM 150522164

(6)

ABSTRAK

PENGARUH RETURN ON INVESTMENT, DEBT TO ASSET RATIO, UKURAN PERUSAHAAN, DAN OPINI AUDIT TERHADAP AUDIT DELAY PADA

PERUSAHAAN PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bukti empiris mengenai pengaruh return on investment, debt to asset ratio, ukuran perusahaan, dan opini audit terhadap audit delay pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2015. Jenis penelitian ini adalah penelitian sebab akibat (kausal) dan jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif. Data diperoleh dari hasil publikasi Bursa Efek Indonesia mengenai laporan keuangan dan tahunan, laporan auditor independen, serta jurnal, buku referensi, internet dan literatur ilmiah yang berhubungan dengan penelitian. Metode pengumpulan data penelitian adalah metode dokumentasi. Metode analisis yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dan regresi linier berganda.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa return on investment dan debt to asset ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap audit delay, ukuran perusahaan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap audit delay, dan opini audit berpengaruh negative namun tidak signifikan terhadap audit delay

Kata kunci: return on investment, debt to asset ratio, ukuran perusahaan, opini audit, dan audit delay

(7)

ABSTRACT

EFFECT OF RETURN ON INVESTMENT, DEBT TO ASSET RATIO, COMPANY SIZE, AND AUDIT OPINION ON AUDIT DELAY OF LISTED BANKS IN

INDONESIA STOCK EXCHANGE

The main purpose of this study is to establish empirical evidence about effect of return on investment, debt to asset ratio, company’s size, and audit opinion on audit delay of listed banks in Indonesia Stock Exchange period 2013- 2015. The kind of this study are cause and effect method and kind of data used are quantitative data. Data obtained from the publication of the Indonesia Stock Exchange on the financial statements and annual report of the independent auditors, as well as journals, reference books, internet and scientific literature related to the research. Data collecting method in this study is documentation method. The analytical method used was a descriptive statistical analysis and multiple linear regression.

Results show that there are no significant correlation among audit delay and return on investment also debt to asset ratio. Results show there is negative and significant correlation between audit delay and company’s size, and there is negative correlation between audit delay and audit opinion.

Keywords: return on investment, debt to asset ratio, company’s size, audit opinion, and audit delay

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa menyertai dengan kasih setia dan berkat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Return on Investment, Debt to Asset Ratio, Ukuran Perusahaan, dan Opini Audit Terhadap Audit Delay Pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan bimbingan, yaitu kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ramli, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, MAFIS, Ak, CPA,CA dan Bapak Drs. Syahrul Rambe, MM.,Ak. selaku Ketua Departemen/Program Studi dan sekretaris Departemen/Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Prof. Dr. Azhar Maksum, M.Ec.Ac, Ak,CA selaku Dosen Pembimbing penulis yang telah memberikan bimbingan, koreksi dan masukan dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Bapak Drs. Hasan Sakti Siregar, M.Si., Ak dan Ibu Dra. Narumondang Bulan Siregar, MM.,Ak selaku Dosen Penguji dan Dosen Pembanding penulis yang banyak membantu dan memberikan masukan dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Orangtua tercinta (Drs.Pantas Simanjuntak M.Hum dan R. Marbun) yang telah menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi penulis untuk selalu

(9)

berusaha memberikan yang terbaik selama ini, bahkan selama perkuliahan, terlebih dalam penulisan skripsi ini.

6. Adik-adikku tersayang (Sonia B Simanjuntak & Stephanie AE Simanjuntak) dan juga keluargaku tercinta yang telah memberikan dukungan moril dan doa sehingga skripsi ini dapat selesai dengan baik. Teman-teman di S1 Akuntansi Ekstensi stambuk 2015 yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang tidak berhenti mendoakan, memberi semangat, dan menghibur selama ini.

Penulis menyadari bahwa setiap manusia tidak luput dari kesalahan dan mungkin skripsi ini banyak memiliki kekurangan dan kelemahan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak.

Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pihak yang membaca.

Medan,

Yessi Yosefien S NIM: 150522164

(10)

DAFTAR ISI

Halaman

PERNYATAAN ... i

ABSTRAK ... ii

ABSTRACK ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 6

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Manfaat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori ... 8

2.1.1 Teori Kepatuhan (Compliance Theory) ... 8

2.1.2 Audit Delay ... 9

2.1.3 Return on Investment (ROI) ... 11

2.1.4 Debt to Asset Ratio (DAR) ... 11

2.1.5 Ukuran Perusahaan ... 12

2.1.6 Opini Audit ... 13

2.2 Penelitian Terdahulu ... 14

2.3 Kerangka Konseptual ... 18

2.4 Hipotesis Penelitian ... 19

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian ... 23

3.2 Populasi dan Sampel Penelitian ... 23

3.3 Jenis dan Sumber Data ... 25

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 25

3.5 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 25

3.6 Metode dan Teknik Analisis Data ... 29

3.6.1 Statistik Deskriptif ... 29

3.6.2 Pengujian Asumsi Klasik ... 30

3.6.3 Pengujian Hipotesis Penelitian ... 33

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Data Penelitian ... 38

4.2 Analisis dan Penyajian Data ... 39

(11)

4.3 Pembahasan Hasil Penelitian ... 54

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 57

5.2 Keterbatasan Penelitian ... 57

5.3 Saran ... 58

DAFTAR PUSTAKA ... 59

LAMPIRAN ... 62

(12)

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman

2.1 Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 16

3.1 Daftar Sampel Perusahaan ... 24

3.2 Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel .. 32

4.1 Statistik Deskriptif Variabel-Variabel Penelitian... 39

4.2 Frequencies Penelitian ... 41

4.3 Frequencies Opini Audit ... 41

4.4 Hasil Uji Normalitas K-S ... 44

4.5 Hasil Uji Multikolinearitas ... 45

4.6 Pengambilan Keputusan Ada Tidaknya Korelasi ... 47

4.7 Uji Autokorelasi ... 47

4.8 Run Test ... 48

4.9 Hasil Analisis Regresi ... 49

4.10 Hasil Analisis Koefisien Determinasi ... 51

4.11 Hasil Uji F ... 51

4.12 Hasil Uji t ... 52

(13)

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Halaman

2.1 Kerangka Konseptual ... 18

4.1 Histogram ... 43

4.2 Grafik Normal P-P Plot ... 43

4.3 Grafik Scatterplot ... 46

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Judul Halaman

1 Daftar Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar di BEI ... 62

2 Data Jumlah Hari Terbit Laporan Auditan... 64

3 Data Return on Investment Perusahaan Perbankan ... 65

4 Data Debt to Asset Ratio Perusahaan Perbankan ... 66

5 Data Ukuran Perusahaan Perusahaan Perbankan ... 67

6 Data Opini Auditor Perusahaan Perbankan... 68

7 Analisis Statistik Deskriptif ... 69

8 Analisis Regresi Linier ... 73

9 Hasil Pengujian Hipotesis ... 74

10 DW Tabel ... 75

11 F Tabel ... 76

12 t Tabel... 77

(15)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Perkembangan bisnis yang cukup kompleks dan pertumbuhan investasi mewajibkan para penggunanya menerima informasi keuangan tepat waktu sebagai dasar pengambilan keputusan bagi pihak-pihak yang berkepentingan.

Perusahaan go public wajib menerbitkan laporan keuangan pada setiap akhir periode akuntansi sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada pihak luar perusahaan, khususnya investor dan calon investor.

Menurut Kieso, dkk (2008:15) “Tujuan umum dari laporan keuangan adalah menyediakan informasi laporan keuangan untuk berbagai pengguna setidaknya untuk biaya yang paling kecil”. Dalam hal ini investor merupakan pengguna yang akan mengambil keputusan. Biasanya investor tertarik menilai perusahaan khususnya dalam hal kemampuan manajemen untuk melindungi dan meningkatkan investasi penyedia modal. Nilai dari ketepatan waktu pelaporan keuangan merupakan faktor penting bagi kemanfaatan laporan keuangan tersebut, karena jika terjadi penundaan dapat menyebabkan manfaat informasi menjadi kurang relevan bagi pengguna informasi keuangan terutama investor dalam membuat keputusan investasi.

Jangka waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proses audit akan memengaruhi lamanya proses pengumuman laporan keuangan perusahaan.

Semakin lama jangka waktu antara penerbitan dan pengumuman laporan

(16)

Lamanya waktu penyelesaian audit oleh auditor dilihat dari perbedaan waktu tanggal laporan keuangan dengan tanggal opini audit dalam laporan keuangan.

Salah satu ukuran ketepatan dalam menyampaikan laporan keuangan (timeliness of financial reporting) adalah audit delay. Penelitian terkait dengan ketepatan waktu penyajian laporan keuangan yang selama ini dilakukan menitikberatkan pada faktor-faktor yang menyebabkan audit delay. Ada beberapa faktor yang menyebabkan audit delay, misalnya ukuran perusahaan, jenis industri, jenis opini audit, ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP), pengungkapan laba atau rugi perusahaan, kompleksitas operasional perusahaan, kualitas internal kontrol, adanya extraordinary item.

Semakin lama auditor menyelesaikan pekerjaan auditnya, maka semakin lama pula audit delay. Namun bisa jadi auditor memperpanjang masa auditnya dengan menunda penyelesaian audit laporan keuangan karena alasan tertentu, semisal pemenuhan standar untuk meningkatkan kualitas audit oleh auditor yang akhirnya menuntut waktu lebih lama. Sebagaimana tercantum dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dari Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) tentang Standar Pekerjaan Lapangan yang mengatur prosedur dalam penyelesaian pekerjaan lapangan auditor, bahwa auditor perlu memiliki perencanaan atas aktivitas yang akan dilakukan. Juga perlu pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian internal, diikuti dengan pengumpulan bukti-bukti kompeten yang diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, pengajuan pertanyaan, dan konfirmasi sebagai dasar dalam menyatakan pendapat atas

(17)

Kegagalan audit terjadi pada perusahaan Kimia Farma dan Bank Lippo.

Pada Bank Lippo terjadi pembukuan ganda pada tahun 2002. Pada tahun tersebut, Bapepam menemukan adanya tiga versi laporan keuangan Bank Lippo. Akibat adanya manipulasi tersebut, Bapepam menjatuhkan sanksi denda kepada Bank Lippo beserta auditor yang melakukan audit pada perusahaan tersebut. (sumber: https://rajadariusputra.wordpress.com)

Adapun perusahaan yang terlambat melaporkan laporan keuangannya akan dikenai sanksi sesuai dengan peraturan dari Bapepam-LK yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1995 pasal 63e tentang sanksi administratif yang menyatakan bahwa emiten yang pernyataan pendaftarannya telah menjadi efektif, dikenakan sanksi denda Rp. 1.000.000,00 atas setiap hari keterlambatan penyampaian laporan dengan ketentuan jumlah keseluruhan denda paling banyak Rp. 500.000.000,00.

Sejak 31 Juli 2006, BAPEPAM-LK memperketat peraturan dengan dikeluarkannya surat keputusan ketua BAPEPAM-LK No: Kep-06/BL/2006 yang menyatakan bahwa laporan keuangan disertai dengan laporan akuntan dengan pendapat lazim harus disampaikan kepada BAPEPAM paling lambat 90 hari setelah tahun buku.

Adanya sanksi-sanksi tersebut merupakan cara Bapepam-LK dan BEI agar emiten patuh untuk menyampaikan laporan keuangan auditannya tepat waktu.

Akan tetapi, yang harus diwaspadai perusahaan yang melaporkan laporan keuangan melebihi jangka waktu yang ditetapkan adalah tidak hanya sanksi yang diberikan oleh Bapepam-LK dan BEI tetapi image buruk yang timbul dari

(18)

pihak ekstern kepada perusahaan tersebut, karena informasi keuangan perusahaan tidak tersedia pada saat dibutuhkan.

Pengkajian tentang rentang waktu dan keterlambatan penerbitan laporan keuangan yang telah diaudit menjadi fenomena yang cukup menarik untuk diteliti. Pada tahun 2012 tercatat ada 54 emiten yang terlambat melaporkan laporan keuangan tahun 2011. Pada tahun 2013 tercatat ada 52 emiten yang terlambat melaporkan laporan keuangan tahun 2012, sedangkan di tahun 2014 ada 49 emiten yang terlambat melaporkan laporan keuangan tahun 2013. Dan jumlah ini mengalami peningkatan dimana pada tahun 2015 ada 52 emiten yang belum menyampaikan laporan keuangan audit per Desember 2014.

Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi audit delay yang telah diteliti oleh peneliti sebelumnya dan terdapat pula inkonsistensi dari hasil penelitian tersebut. Return on Investment, debt to asset ratio, ukuran perusahaan, dan opini audit ditemukan berpengaruh terhadap audit delay yang dikemukan oleh Pitaloka & Susan (2015), Cahyanti,dkk (2016), dan Kartika (2009). Namun dalam penelitian yang dilakukan oleh Zebriyanti & Subardjo (2016), Pourali,dkk (2013), Barkah & Pramono (2016), dan Miradhi & Juliarsa (2016) return on investment, debt to asset ratio, ukuran perusahaan, dan opini audit tidak berpengaruh terhadap audit delay.

Berdasarkan fenomena-fenomena tersebut, maka peneliti memutuskan untuk melakukan suatu penelitian terhadap audit delay. Penelitian penulis merupakan replikasi dari penelitian terdahulu yaitu penelitian Pitaloka & Suzan

(19)

mengubah variabel ukuran KAP menjadi Solvabilitas (debt to asset ratio).

Alasan penelitian ini memilih variabel solvabilitas antara lain yaitu dengan mengetahui rasio debt to asset ratio diharapkan dapat mewakili peneliti untuk mengetahui kesehatan perusahaan secara keseluruhan. Karena bank yang selama ini diketahui sebagai lembaga keuangan yang menjadi penggerak roda perekonomian melalui kredit yang disalurkan, pada awalnya juga membutuhkan pinjaman berupa hutang jangka pendek maupun panjang untuk memenuhi asset kekayaannya. Selain itu juga pada objek penelitiannya, dimana peneliti hanya mengkaji pada perusahaan perbankan yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia.Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui apakah perusahaan perbankan sebagai lembaga keuangan dapat menyediakan informasi yang relevan dan andal dalam penyelesaian penyajian laporan keuangan auditannya. Selain itu, besarnya volume transaksi yang terjadi pada perusahaan perbankan yang besar mengharuskan para pengambil keputusan menerima informasi yang andal dan terhindar dari salah saji. Disinilah peranan pihak internal dengan internal control yang baik diperlukan.

Berdasarkan uraian dari latar belakang dan fenomena tersebut, peneliti tertarik untuk mengambil judul penelitian mengenai “Pengaruh Return on Investment , Debt to Asset Ratio, Ukuran Perusahaan, dan Opini Audit terhadap Audit Delay pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2015.”

(20)

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan tersebut, perumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Apakah return on investment , debt to asset ratio, ukuran perusahaan, dan opini audit berpengaruh secara simultan terhadap audit delay?

2. Apakah return on investment , debt to asset ratio, ukuran perusahaan, dan opini audit berpengaruh secara parsial terhadap audit delay?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah, tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui pengaruh return on investment , debt to asset ratio, ukuran perusahaan, dan opini audit secara simultan terhadap audit delay.

2. Untuk mengetahui pengaruh return on investment , debt to asset ratio, ukuran perusahaan, dan opini audit secara parsial terhadap audit delay.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak, diantaranya:

1. Bagi Akademisi

Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberi gambaran tentang faktor-faktor yang mempengaruhi audit delay pada Perusahaan Perbankan di Bursa Efek Indonesia.

(21)

2. Bagi Auditor

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan untuk auditor dalam melaksanakan audit keuangan agar dapat menyelesaikan auditnya secara tepat waktu sesuai peraturan yang telah ditetapkan.

3. Bagi Perusahaan

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan, khususnya yang berkaitan dengan proses audit sebelum laporan keuangan auditan diterbitkan.

4. Bagi Peneliti

Penelitian ini menambah wawasan peneliti mengenai return on investment, debt to asset ratio, ukuran perusahaan, dan opini audit terhadap audit delay pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2015.

(22)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori

2.1.1. Teori Kepatuhan (Compliance Theory)

Tuntutan akan kepatuhan terhadap ketepatan waktu dalam penyampaian laporan keuangan tahunan perusahaan publik di Indonesia telah diatur dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, dan selanjutnya diatur dalam Peraturan Bapepam-LK Nomor X.K.2, Lampiran Keputusan Ketua Bapepam-LK Nomor: KEP-36/PM/2003 tentang Kewajiban Penyampaian Laporan Keuangan Berkala. Peraturan-peraturan tersebut secara hukum mengisyaratkan adanya kepatuhan setiap perilaku individu maupun organisasi (perusahaan publik) yang terlibat di pasar modal Indonesia untuk menyampaikan laporan keuangan tahunan perusahaan secara tepat waktu kepada Bapepam-LK.

Hal tersebut sesuai dengan teori kepatuhan (compliance theory). Hendrich (2012) menyatakan bahwa, terdapat dua perspektif mengenai kepatuhan hukum yaitu instrumental dan normative. Sudut instrumental dominan didorong oleh kepentingan pribadi beserta dampaknya sedangkan normative didorong oleh apa yang orang anggap moral dan bertentangan dengan kepentingan pribadi.

Seorang individu cenderung mematuhi hukum yang mereka anggap sesuai dan konsisten dengan norma-norma internal mereka. Sama halnya dengan perusahaan yang berusaha untuk menyampaikan laporan keuangan secara tepat waktu karena selain merupakan suatu kewajiban perusahaan

(23)

untuk melaporakan laporan keuangan secara tepat waktu juga akan bermanfaat bagi para pengguna laporan keuangan.

2.1.2. Audit Delay

Menurut Baridwan (2012:17) Laporan keuangan merupakan suatu ringkasan dari suatu pencatatan, merupakan suatu ringkasan dari transaksi- transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan.

Laporan keuangan ini dibuat oleh manajemen dengan tujuan untuk mempertanggungjawabkan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya oleh para pemilik perusahaan.

Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (2015:7) bahwa Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan terdapat empat karakteristik kualitatif yang merupakan ciri khas yang membuat informasi dalam laporan keuangan berguna bagi pengguna. Keempat karakteristik kualitatif informasi tersebut yaitu dapat dipahami (understandbility), relevan (relevance),andal (realibilty), dan dapat diperbandingkan (comparibility).

Menurut Arens dkk (2008:17), akuntan publik melakukan tiga jenis utama audit yaitu: audit operasional (operational audit), audit ketaatan (compliance audit), dan audit laporan keuangan (financial statement audit).

Audit Laporan Keuangan dilakukan untuk menentukan apakah laporan keuangan (informasi yang diverifikasi) telah dinyatakan sesuai dengan kriteria tertentu. Biasanya, kriteria yang berlaku adalah prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum.

(24)

Audit delay mengimplikasikan bahwa laporan keuangan disajikan pada suatu interval waktu, maksudnya untuk menjelaskan perubahan di dalam perusahaan yang mungkin mempengaruhi pengguna pada waktu membuat prediksi dan keputusan. Apabila informasi tersebut tidak disampaikan tepat waktu akan menyebabkan informasi kehilangan nilainya di dalam mempengaruhi kualitas keputusan.

Menurut Tuanakotta (2011:215), Audit report lag atau audit delay adalah jarak waktu antara tanggal neraca dan tanggal laporan audit. Jarak waktu ini adalah gabungan antara waktu yang dibutuhkan klien untuk menyusun laporan keuangannya dan waktu untuk mengauditnya.

Di Indonesia, Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan bahwa laporan keuangan tahunan harus teraudit dalam waktu 90 hari serta harus diserahkan ke BAPEPAM dan BEI untuk dipublikasikan. Hal ini dapat dijadikan pedoman oleh auditor dan pihak manajemen perusahaan publik bahwa batas waktu minimal audit delay adalah 90 hari (3 bulan). Apabila ketetapan ini dilanggar, maka BAPEPAM akan mengenakan sanksi bagi perusahaan yang tidak mematuhinya.

Dalam penelitian kali ini bertujuan untuk mengkonfirmasi ulang dari penelitian sebelumnya dan akan mengajukan empat faktor yang mempengaruhi Audit delay yaitu: return on investment, debt to asset ratio, ukuran perusahaan, dan opini audit.

(25)

2.1.3. Return on Investment (ROI)

Menurut Kasmir (2008:201) Hasil pengembalian investasi atau lebih dikenal dengan Return on Investment atau return on total assets merupakan rasio yang menunjukkan hasil (return) atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan Return on Investment (ROI) untuk mengukur profitabilitas.

Perusahaan dengan tingkat keuntungan (ROI) yang tinggi biasanya jarang terjerumus dalam kesulitan keuangan yang nantinya juga akan mengancam auditor. Karena dengan keuntungan yang tinggi akan menggambarkan kinerja manajemen yang baik dalam mengelola asetnya sehingga menghasilkan laba dan tentunya akan menimbulkan berita baik bagi auditor. Jika auditor menerima prospek yang baik maka laporan keuangan auditan juga akan dapat diselesaikan tepat waktu sehingga meminimalkan audit delay.

2.1.4. Debt to Asset Ratio (DAR)

Menurut Harahap (2010:304) Debt to Total Asset Ratio (DAR) digunakan untuk menunjukkan sejauh mana utang dapat ditutupi oleh aktiva, lebih besar rasionya lebih aman (solvable). Bisa juga dibaca berapa porsi utang dibanding dengan aktiva. Supaya aman porsi utang terhadap aktiva harus lebih kecil.

Nilai rasio debt to asset ratio (DAR) yang tinggi mengindikasikan situasi keuangan yang sulit karena asset yang dimiliki perusahaan tidak mampu menutupi seluruh utang yang ada. Hal ini menandakan tingkat

(26)

produktivitas yang rendah. Jika utang lebih besar dari asset maka keuntungan rendah. Hal ini dapat menimbulkan tertundanya penyampaian laporan keuangan auditan oleh auditor. Karena auditor memerlukan waktu yang tidak sebentar dalam melakukan pemeriksaan terhadap utang secara keseluruhan.

Dampaknya adalah audit delay menjadi lebih panjang.

2.1.5. Ukuran Perusahaan

Menurut Miradhi (2016:7), Ukuran perusahaan dapat diartikan sebagai suatu skala dimana dapat diklasifikasikan besar kecil perusahaan dengan berbagai cara antara lain dinyatakan dalam total aktiva, nilai pasar saham, jumlah karyawan, dan lain-lain. Jadi ukuran perusahaan merupakan ukuran atau besarnya asset yang dimiliki oleh perusahaan. Pada dasarnya ukuran perusahaan hanya terbagi dalam tiga kategori, yaitu perusahaan besar (large firm), perusahaan menengah (medium size), dan perusahaan kecil (small firm).

Perusahaan yang mempunyai total aktiva yang besar tentunya memiliki sumber daya yang besar, sistem informasi yang canggih dan memiliki lebih banyak staf akuntansi serta memiliki sistem pengendalian internal yang kuat.

Hal tersebut dapat mengurangi tingkat kesalahan dalam penyajian laporan keuangan perusahaan, sehingga memudahkan auditor dalam melakukan proses pengauditan laporan keuangan. Jika salah saji dalam laporan keuangan dapat diminimalisir, maka proses audit laporan keuangan tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama. Dampaknya terhadap audit delay adalah dapat mempercepat audit delay.

(27)

2.1.6. Opini Audit

Paragraf terakhir dalam laporan audit standar menyatakan kesimpulan auditor berdasarkan hasil audit. Paragraf pendapat berkaitan langsung dengan standar auditing yang berlaku umum dimana auditor diwajibkan untuk menyatakan pendapat tentang laporan keuangan secara keseluruhan, termasuk kesimpulan menyangkut apakah perusahaan mengikuti prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (Arens, 2008:60).

Menurut Standar Profesional Akuntan (PSA 29 SA Seksi 508), opini audit terdiri dari lima jenis yaitu:

a. Opini Wajar Tanpa Pengecualian (Unqualified Opinion)

b. Opini Wajar Tanpa Pengecualian dengan Paragraf Penjelasan (Modified Unqualified Opinion)

c. Opini Wajar Dengan Pengecualian (Qualified Opinion) d. Opini Tidak Wajar (Adverse Opinion)

e. Opini Tidak Memberikan Pendapat (Disclaimer of opinion)

Setiap perusahaan selalu mengupayakan agar dalam laporan keuangan auditnya memperoleh opini wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion) karena mengindikasikan perusahaan bebas dari salah saji material dan tidak ditemukan penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku. Selain itu juga akan meningkatkan minat investor akan perusahaan yang mampu going concern. Sehingga hal ini berdampak terhadap audit delay, dimana perusahaan yang memperoleh opini wajar tanpa pengecualian mampu mendorong auditor mempercepat audit atas laporan keuangan. Maka audit delay pun semakin pendek.

(28)

2.2. Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai audit delay telah banyak dilakukan oleh peneliti- peneliti sebelumnya. Penelitian-Penelitian tersebut banyak memberikan masukan tentang Return on Investment (ROI), Debt to Asset Ratio (DAR), Ukuran Perusahaan dan Opini Audit terhadap Audit Delay.

Pitaloka dan Suzan (2015) melakukan penelitian terhadap audit delay pada perusahaan yang terdaftar di indeks LQ45 dengan variabel independen ukuran KAP, opini audit, ukuran perusahaan, dan profitabilitas (ROI). Penelitian Zebriyanti dan Subardjo (2016) meneliti hubungan antara audit delay atau audit report lag dengan beberapa variabel independen yang terdiri dari Ukuran Perusahaan, Ukuran KAP, Profitabilitas (ROI), Leverage (DER), dan opini auditor.

Cahyanti,dkk (2016) melakukan penelitian terhadap audit delay pada perusahaan LQ 45 serta property dan real estate dengan variabel independen yang terdiri dari Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, dan Solvabilitas. Penelitian Pourali,dkk (2013) meneliti hubungan antara audit delay dengan beberapa variabel independen yang terdiri dari size of the company, changes percent in earnings per share, industry, extraordinary item, audit opinion, and debt ratio.

Pitaloka dan Suzan (2015) melakukan penelitian terhadap audit delay pada perusahaan yang terdaftar di indeks LQ45 dengan variabel independen ukuran KAP, opini audit, ukuran perusahaan, dan profitabilitas (ROI). Penelitian Barkah dan Pramono (2016) meneliti hubungan antara audit delay dengan beberapa

(29)

variabel independen yang terdiri dari Ukuran Perusahaan, Profitabiltas, dan Solvabilitas.

Kartika (2009) melakukan penelitian terhadap audit delay pada perusahaan yang terdaftar di indeks LQ45 dengan variabel independen ukuran perusahaan, laba rugi perusahaan, opini auditor, profitabilitas (ROA), dan reputasi auditor.

Penelitian Miradhi dan Juliarsa (2016) meneliti hubungan antara audit delay dengan beberapa variabel independen yang terdiri dari profitabilitas (ROA) dan opini auditor, sedangkan variabel moderasinya adalah ukuran perusahaan.

Dari beberapa penelitian yang telah dikaji sebelumnya diperoleh hasil seperti hasil penelitian Pitaloka & Suzan (2015), return on investment mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap audit delay, sedangkan dalam penelitian Zebriyanti & Subardjo (2016), menunjukkan bahwa return on investment tidak berpengaruh terhadap audit delay.

Dalam penelitian Cahyanti,dkk (2016) menyatakan bahwa debt to assets ratio berpengaruh positif signifikan terhadap audit delay, sedangkan dalam penelitian Pourali,dkk (2013) menyatakan bahwa debt to assets ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap audit delay.

Sementara menurut Pitaloka & Suzan (2015) menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap audit delay.

Bertentangan dengan Barkah dan Pramono (2016) yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap audit delay.

Dalam penelitian yang dilakukan Kartika (2009) menunjukkan bahwa opini audit mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap audit delay.

(30)

Hal ini berbeda dengan hasil penelitian Miradhi & Juliarsa (2016) yang menyatakan bahwa opini audit tidak mempengaruhi audit delay secara signifikan.

Tabel 2.1 menunjukkan hasil-hasil penelitian terdahulu.

Tabel 2.1

Tinjauan Penelitian Terdahulu

No Nama Peneliti Variabel Hasil Penelitian

1 Pitaloka dan Suzan (2015)

Variabel Independen:

Ukuran KAP, Opini Audit, Ukuran

Perusahaan, Profitabilitas Variabel Dependen:

Audit Delay

Ukuran KAP dan opini audit tidak mempengaruhi audit delay sedangkan ukuran perusahaan dan profitabilitas berpengaruh positif terhadap audit delay

2 Zebriyanti dan Subardjo (2016)

Variabel Independen:

profitabilitas, leverage, ukuran perusahaan, opini audit, ukuran kantor akuntan.

Variabel Dependen : Audit Delay

ukuran perusahaan dan ukuran Kantor Akuntan Publik berpengaruh negatif terhadap audit delay,

Sedangkan, profitabilitas, leverage, dan opini auditor tidak berpengaruh terhadap audit delay.

3 Cahyanti, dkk(2016)

Variabel Independent:

Total Assets, Return On Assets, Debt to Assets Ratio

Variabel Dependent:

Audit Delay

secara simultan Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, dan Solvabilitas berpengaruh terhadap Audit Delay, dan secara parsial Ukuran Perusahaan dan Solvabilitas memiliki pengaruh terhadap Audit Delay sedangkan Profitabilitas tidak memiliki pengaruh terhadap Audit Delay.

4 Pourali, dkk(2013)

Variabel Independen:

Audit opinion, debt ratio, earnings per share changes, existence of extra-ordinary, industry, size of Company Variabel dependen:

ukuran perusahaan,

extraordinary item, dan audit report berpengaruh positif terhadap audit delay. Changes percent in earnings per share dan industry berpengaruh negatif terhadap audit

(31)

5 Barkah dan Pramono (2016)

Variabel Independen:

Ukuran perusahaan, Profitabilitas, Solvabilitas Variabel Dependen: Audit Delay

ukuran perusahaan dan profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap audit delay.

solvabilitas berpengaruh signifikan terhadap audit delay.

6 Kartika (2009) Variabel Independen:

Ukuran perusahaan, operasi laba rugi, opini auditor, profitabilitas, dan reputasi KAP.

Variabel Dependen:

Audit Delay

Total asset, laba rugi operasi, mempunyai pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap audit delay. Opini dari auditor punya pengaruh yang positif dan signifikan terhadap audit delay.

profitabilitas dan reputasi auditor tidak mempunyai pengaruh terhadap audit delay 7 Miradhi &

Juliarsa 2016

Variabel Independen:

Ukuran Perusahaan, Debt to Asset Ratio,

Pengungkapan Rugi Perusahaan, Kualifikasi Opini Audit, dan Ukuran KAP

Variabel Dependen:

Audit Delay

profitabilitas berpengaruh negatif signifikan pada audit delay, opini auditor

berpengaruh signifikan pada audit delay, ukuran perusahaan mampu memperkuat hubungan antara profitabilitas pada audit delay, ukuran perusahaan tidak mampu memperkuat hubungan antara opini auditor pada audit delay.

Sumber : Hasil Olahan Peneliti

(32)

2.3. Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual yaitu menjelaskan bagaimana teori hubungan dengan berbagai faktor yang telah didefinisikan sebagai masalah penting. Adapun kerangka berpikir yang akan di gunakan dalam penelitian ini adalah:

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Return on Investment

(X1)

Debt to Asset Ratio (X2)

Ukuran Perusahaan (X3)

Opini Audit (X4)

Audit Delay (Y) H1

H2

H3

H4

H5

(33)

2.4. Hipotesis Penelitian

Dari keempat variabel independen dan satu variabel dependen maka, dibuat hipotesis, yaitu:

2.4.1. Pengaruh Return on Investment (ROI), Debt to Asset Ratio (DAR), Ukuran Perusahaan, dan Opini Audit secara simultan terhadap Audit Delay

Secara simultan Return on Investment, Debt to Asset Ratio, Ukuran Perusahaan, dan Opini Audit memberikan pengaruh yang signifikan terhadap Audit Delay.

H1: Return on Investment, Debt to Asset Ratio, Ukuran Perusahaan, dan Opini Audit berpengaruh secara simultan terhadap audit delay

2.4.2. Pengaruh Return on Investment, Debt to Asset Ratio, Ukuran Perusahaan, dan Opini Audit secara parsial terhadap Audit Delay

Return on investment merupakan rasio yang menunjukkan berapa besar laba bersih diperoleh perusahaan bila di ukur dari nilai aktiva. Dengan mengetahui ROI suatu perusahaan akan mempunyai kepastian dan keyakinan usahanya dapat terus berjalan dan berkembang karena margin keuntungan yang didapatkan dapat dijadikan sebagai modal untuk mengembangkan usaha perusahaan. Hal ini tentu menimbulkan keyakinan bagi auditor bahwa perusahaan dengan ROI yang tinggi menunjukkan kemampuan yang baik dalam mengelola aktiva menjadi keuntungan.

Sehingga mempercepat auditor dalam melaksanakan audit laporan

(34)

keuangan. Pitaloka dan Suzan (2015) dalam penelitiannya mengungkapkan profitabilitas melalui rasio ROI berpengaruh positif signifikan terhadap audit delay. Sedangkan dalam penelitian Zebriyanti &

Subardjo (2016), menunjukkan bahwa return on investment tidak berpengaruh terhadap audit delay.

Semakin tinggi debt to asset ratio, menunjukkan kondisi perusahaan yang kurang baik. Karena sebagian besar asset yang dimiliki digunakan untuk membiayai hutangnya. Apabila debt to asset ratio perusahaan tinggi, maka auditor harus melakukan pengumpulan alat bukti yang lebih kompeten untuk meyakinkan kewajaran laporan keuangannya. Oleh karena itu, auditor membutuhkan waktu lebih lama dalam melakukan audit terhadap hutang.

Sehingga menyebabkan laporan keuangan audit menjadi lebih lama dipublikasikan. Dalam penelitian Cahyanti (2016) menyatakan bahwa debt to assets ratio berpengaruh positif signifikan terhadap audit delay. Sedangkan hasil penelitian Pourali,dkk (2013) menyatakan bahwa debt to assets ratio tidak berpengaruh terhadap audit delay.

Ukuran perusahaan merupakan suatu indikator yang dapat menunjukkan suatu kondisi atau karakteristik suatu organisasi atau perusahaan dimana terdapat beberapa parameter yang dapat digunakan untuk menentukan ukuran (besar/kecilnya) suatu perusahaan, seperti banyaknya jumlah karyawan yang digunakan dalam perusahaan untuk melakukan aktivitas operasional perusahaan, jumlah aktiva yang dimiliki perusahaan, total penjualan yang

(35)

beredar. Perusahaan dengan total aktiva yang besar mengindikasikan perusahaan memiliki internal control yang baik dan sumber daya yang kompeten. Dengan demikian, perusahaan pasti mengikuti prosedur yang telah ditetapkan yaitu menyelesaikan laporan keuangan tepat waktu dengan mengikuti standar akuntansi yang berlaku umum. Dengan demikian akan mempermudah auditor dalam melakukan audit sehingga waktu yang diperlukan tidak terlalu lama.Pengujian ukuran perusahaan sebagai faktor yang memengaruhi audit delay dilakukan oleh Pitaloka & Suzan (2015) menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap audit delay. Sedangkan dalam penelitian Barkah dan Pramono (2016) menunjukkan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap audit delay.

Paragraf ketiga dalam laporan audit baku merupakan paragraf yang digunakan oleh auditor untuk menyatakan pendapatnya (atau lebih sering disebut opini) mengenai laporan keuangan yang disebutkannya dalam paragraph pengantar. Opini audit yang baik harus mengemukakan bahwa laporan keuangan yang telah diaudit sesuai dengan ketentuan standar akuntansi keuangan dan tidak ada penyimpangan material yang dapat mempengaruhi pengambilan suatu keputusan (Miradhi, 2016:393). Salah satu kriteria laporan keuangan telah memenuhi standar dan tidak terdapat penyimpangan adalah laporan diberi opini wajar tanpa pengecualian. Hal ini tentu menjadi prestasi perusahaan yang menjadi nilai plus bagi auditor sehingga proses audit dapat berlangsung lebih cepat.Penelitian yang dilakukan

(36)

oleh Kartika (2009) menunjukkan bahwa opini audit mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap audit delay. Sedangkan berdasarkan penelitian yang dilakukan Miradhi & Juliarsa (2016) menyatakan bahwa opini audit tidak mempengaruhi audit delay.

Berdasarkan hasil justifikasi dari masing-masing variabel independen maka diperolehlah hipotesis sebagai berikut:

H2: Return on Investment, Debt to Asset Ratio, Ukuran Perusahaan, dan Opini Audit berpengaruh secara parsial terhadap audit delay.

(37)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Desain Penelitian

Peneliti harus menentukan jenis dari investigasi yang akan dilakukan, apakah menggunakan jenis sebab akibat (causal) ataukah hubungan (correlational). Jenis causal akan dipergunakan jika peneliti ingin mengetahui adanya penyebab dari suatu fenomena, serta akibat yang ditimbulkannya. Dalam penelitian ini jenis penelitian yang digunakan adalah metode asosiatif yang bersifat kausal. Menurut Efferin, dkk (2008:66) studi causal (Causal Study) akan mengidentifikasikan apakah variabel X menyebabkan variabel Y, sehingga jika variabel X diubah, diharapkan dapat mengubah variabel Y sesuai yang dikehendaki.

3.2. Populasi dan Sampel Penelitian

“Populasi adalah sekelompok entitas yang lengkap yang dapat berupa orang, kejadian, atau benda yang mempunyai karakteristik tertentu, yang berada dalam suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu yang berkaitan dengan masalah penelitian” (Erlina, 2011:80). Populasi yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian ini di ambil dari laporan keuangan perusahaan perbankan yang sudah listing di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2013 sampai dengan 2015 dengan total 42 populasi.

Sampel adalah bagian dari populasi (elemen) yang memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai obyek penelitian (Efferin dkk, 2008:74). Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode purposive sampling.

“Dalam metode ini pengambilan sampel berdasarkan suatu kriteria tertentu. Kriteria

(38)

yang digunakan dapat berdasarkan perimbangan (judgment) atau berdasarkan kuota tertentu” (Erlina. 2011:87). Adapun kriteria-kriteria yang telah telah ditentukan adalah sebagai berikut:

1. Perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI secara berturut-turut untuk periode 2013-2015.

2. Laporan keuangan yang berakhir tanggal 31 desember diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) secara teratur dan lengkap dengan catatan atas laporan keuangan.

3. Perusahaan yang laporan keuangannya menyajikan data yang berkaitan dengan variabel yang dibutuhkan untuk penelitian tahun 2013-2015.

4. Jumlah keseluruhan asset yang dimiliki perusahaan adalah >

50.000.000.000,-

Berdasarkan kriteria yang dikemukakan di atas maka yang menjadi sampel dalam penelitian ini berjumlah 19 dari 42 perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI dari tahun 2013-2015, sehingga total sampel dalam penelitian ini adalah 57 perusahaan.

Perusahaan- perusahaan perbankan tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1

Daftar Sampel Perusahaan

No Kode Nama Perusahaan

1 AGRO Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk 2 BABP PT Bank MNC Internasional Tbk 3 BBCA PT Bank Central Asia Tbk 4 BBKP PT Bank Bukopin Tbk

5 BBMD PT Bank Mestika Dharma Tbk

(39)

8 BBRI PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk 9 BBTN PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk 10 BDMN PT Bank Danamon Indonesia Tbk

11 BJBR PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat & Banten Tbk 12 BMAS PT Bank Maspion Indonesia Tbk

13 BMRI PT Bank Mandiri (Persero) Tbk 14 BNBA PT Bank Bumi Artha Tbk 15 BNGA PT Bank CIMB Niaga Tbk 16 BSWD PT Bank of India Indonesia

17 BVIC PT Bank Victoria International Tbk 18 MAYA PT Bank Mayapada Internasional Tbk 19 NAGA PT Bank Mitraniaga Tbk

Sumber: Hasil olahan peneliti

3.3. Jenis dan Sumber Data

Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa annual report perusahaan-perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Adapun laporan keuangan tersebut periode laporannya berakhir 31 desember dan telah diaudit dengan tahun terbit 2013 sampai 2015 yang berasal dari situs www.idx.co.id.

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Pada penelitian ini, data yang digunakan adalah data sekunder. Metode pemerolehan data adalah melalui dokumentasi yaitu dengan cara mempelajari catatan-catatan atau dokumen-dokumen perusahaan sesuai dengan data yang diperlukan. Pengumpulan data sekunder diperoleh dari media internet dengan mengunduh pada situs www.idx.co.id.

3.5. Definisi Operasional & Pengukuran Variabel

Variabel adalah sesuatu yang berbeda atau membedakan antara suatu hal dengan hal lainnya. Unit of analysis biasanya akan terdiri dari banyak variabel, oleh karenanya peneliti dituntut untuk dapat mengidentifikasi variabel yang

(40)

sekiranya relevan untuk dijadikan fokus dalam penelitian (Efferin dkk, 2008:57). Dengan demikian definisi operasional variabel adalah definisi yang disusun berdasarkan apa yang dapat diamati dan diukur tentang variabel dalam penelitian tersebut.

Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:

3.5.1. Variabel Bebas (Independent variable)

Variabel bebas dilambangkan dengan X. Variabel independen adalah

“variabel yang dapat mempengaruhi perubahan dalam variabel dependen, atau yang menyebabkan terjadinya variasi bagi variabel tak bebas (variabel dependen) dan mempunyai hubungan yang positif maupun negatif bagi variabel dependen lainnya” (Erlina, 2011:37). Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah return on investment (ROI), debt to asset ratio (DAR), laba rugi perusahaan, dan opini audit.

1. Return on Investment (ROI)

Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dengan jumlah aktiva yang digunakan dalam operasi perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. Rasio ini menunjukkan produktivitas dari seluruh dana perusahaan baik modal pinjaman maupun modal sendiri. Pada penelitian ini ROI diukur dengan menggunakan skala rasio. ROI dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

ROI =

(41)

2. Debt to Asset Ratio (DAR)

Rasio ini menunjukkan besarnya total hutang terhadap keseluruhan total aktiva yang dimiliki oleh perusahaan. Rasio ini merupakan persentase dana yang diberikan oleh kreditor bagi perusahaan. Nilai rasio yang tinggi menunjukkan peningkatan dari resiko pada kreditor berupa ketidakmampuan perusahaan membayar semua kewajibannya. Pada penelitian ini DAR diukur dengan skala rasio. DAR dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

DAR =

3. Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan adalah suatu skala dimana dapat diklasifikasikan besar kecilnya perusahaan menurut berbagai cara, antara lain: total aktiva, log size nilai pasar saham, jumlah karyawan, dan lain-lain. Pada penelitian ini ukuran perusahaan diukur dengan menggunakan skala rasio dengan menggunakan logaritma natural. Ukuran perusahaan dapat diukur dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

4. Opini Auditor

Opini auditor adalah pendapat yang diberikan oleh auditor independen yang menyatakan kesimpulan auditor atas laporan keuangan.

Opini auditor dalam penelitian ini diukur dengan melihat jenis opini yang diberikan oleh auditor independen terhadap laporan keuangan

(42)

perusahaan perbankan. Opini audit diukur dengan menggunakan skala nominal. Dalam penelitian ini pendapat auditor dibedakan menjadi dua kelompok dummy yaitu perusahaan yang menerima pendapat unqualified opinion diberi kode 1 dan perusahaan yang menerima pendapat selain unqualified opinion diberi kode 0.

3.5.2. Variabel Terikat (Dependent Variable)

Variabel terikat dilambangkan dengan Y. “Variabel ini dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel independen. Variabel terikat atau varibel tak bebas ini merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel sebab atau variabel bebas. Jadi variabel dependen adalah konsekuensi dari variabel independen” (Erlina, 2011:36). Dalam penelitian ini variable dependennya adalah audit delay yang merupakan merupakan lamanya rentang waktu penyelesaian audit yang diukur dari tanggal penutupan tahun buku sampai dengan tanggal diterbitkannya laporan audit. (Kartika, 2011:4). Oleh karena itu semakin lama auditor dalam menyelesaikan pekerjaan auditnya, maka semakin panjang audit delay. Pengukuran audit delay diukur dengan menggunakan skala rasio yaitu selisih dari tanggal pelaporan audit dengan tanggal akhir tahun fiskal.

(43)

Tabel 3.2

Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel

Variabel Definisi Operasional Pengukuran Skala

Audit Delay (Y)

Lamanya penyelesaian laporan audit yang diukur

dari periode waktu akhir tahun fiskal dan tanggal laporan audit perusahaan

Tanggal pelaporan audit-tanggal akhir tahun

Rasio

Return on Investment (ROI) (X1)

kemampuan perusahaan dengan jumlah aktiva yang

digunakan dalam operasi perusahaan untuk menghasilkan keuntungan.

ROI =

Rasio

Debt to Asset Ratio (DAR)

(X2)

Kemampuan perusahaan melunasi utangnya melalui

total asset yang dimiliki perusahaan

DAR =

Rasio

Ukuran Perusahaan

(X3)

Jumlah seluruh asset yang dimiliki suatu perusahaan.

Ln Total Asset Rasio

Opini Audit (X4)

pendapat yang diberikan oleh auditor independen atas laporan keuangan yang disajikan oleh suatu

perusahaan.

1: Perusahaan yang menerima unqualified opinion 0: Perusahaan yang menerima

selain unqualified opinion

Nominal

3.6. Metode dan Teknik Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

3.6.1. Statistik Deskriptif

“Statistik Deskriptif (Desciptive Statistic) adalah menu yang memberikan gambaran mengenai nilai Mean, Sum, Standar Deviasi, Variance, Range, Minimum, dan Maximum” (Lubis, dkk 2007:25). Untuk data yang berupa kategori digunakan sub menu deskriptif frequancies.

(44)

3.6.2. Pengujian Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik dilakukan untuk memastikan bahwa sampel yang diteliti terbebas dari gangguan normalitas, multikolinearitas, heterokedasitas, dan autokorelasi.

1. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal (Ghozali, 2006:110). Model regresi yang baik memiliki distribusi data yang normal atau mendekati normal. Pengujian normalitas ini dapat dilakukan melalui:

a. Analisis Grafik

Menurut Ghozali (2006:110), Salah satu cara termudah untuk melihat normalitas residual adalah dengan melihat grafik histogram yang membandingkan antara data observasi dengan distribusi yang mendekati distribusi normal. Namun demikian hanya dengan melihat histogram hal ini dapat menyesatkan khususnya untuk jumlah sampel yang kecil. Metode yang lebih handal adalah dengan melihat normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari distribusi normal. Dasar pengambilan keputusan dari analisis normal probability plot adalah sebagai berikut:

o Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka menunjukkan pola distribusi normal.

Model regresi memenuhi asumsi normalitas.

(45)

o Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal serta tidak menunjukkan pola distribusi normal maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

b. Analisis Statistik

Uji statistik lain yang dapat digunakan untuk menguji normalitas residual adalah uji statistik non-parametrik Kolmogrov-Smirnov (K-S). Uji K-S dilakukan dengan membuat hipotesis:

Ho : Data residual berdistribusi normal H1 : Data residual tidak berdistribusi normal

Dasar pengambilan keputusan dalam uji K-S adalah sebagai berikut:

o Apabila probabilitas nilai Z uji K-S signifikan secara statistik ditolak, yang berarti data terdistribusi tidak normal.

o Apabila probabilitas nilai Z uji K-S tidak signifikan secara statistik maka HO diterima, yang berarti data terdistribusi normal.

2. Uji Multikolinieritas

Menurut Ghozali (2006:91), uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Model regresi yang baik seharusnya antar variabel independen tidak terjadi korelasi. Untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas dalam model regresi dapat dilihat dari

(46)

Tolerance Value atau lawannya Variance Inflation factor (VIF) dengan membandingkan sebagai berikut (Ghozali, 2006:92)

a. Jika nilai tolerance > 10 persen dan nilai VIF < 10, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi.

b. Jika nilai tolerance < 10 persen dan nilai VIF > 10, maka dapat disimpulkan bahwa ada multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi.

3. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2006:105). Untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas dilakukan dengan melihat grafik scatterplot antara nilai prediksi variabel dependen yaitu ZPRED dengan residualnya SRESID dimana Sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi dan sumbu X adalah residual (Y prediksi – Y sesungguhnya) yang telah di studentized. Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan sebagai berikut:

a. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk

(47)

menyempit) mengidentifikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.

b. Jika tidak ada pola yang tidak jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

4. Uji Autokorelasi

Menurut Ghozali (2006:95) uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Suatu jenis pengujian yang umumnya digunakan untuk mengetahui adalah autokorelasi yang dikembangkan oleh J.Durbin dan G. Watson yang disebut sebagai statistik Durbin- Watson. Pengujian ini dilakukan dengan membandingkan nilai d dari hasil perhitungan dengan nilai d1 dan du dari table Durbin-Watson.

Hipotesis yang akan diuji adalah:

HO: tidak ada korelasi HA: ada autokorelasi

3.6.3. Pengujian Hipotesis Penelitian

Pengujian hipotesis pada penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda. Regresi linear berganda ditujukan untuk menentukan hubungan linear antar beberapa variabel bebas yang dalam penelitian ini adalah return on

(48)

investment,, debt to assets ratio, ukuran perusahaan, dan opini audit dengan variabel terikat yaitu audit delay.Persamaan regresi ganda dirumuskan sebagai berikut:

Y = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + ɛ

Keterangan:

Y= lamanya hari penyelesaian audit (Audit Delay)

α

= Konstanta

X1 = Return on Investment X2 = Debt to Asset Ratio X3 = Ukuran Perusahaan X4= Opini Audit

β = Koefisien Regresi

ɛ =

error (Tingkat Kesalahan) 1. Analisis Koefisien Determinasi

Analisis koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengetahui seberapa besar presentase sumbangan pengaruh variabel independen secara serentak terhadap variabel dependen (Priyatno, 2009:56). Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel independen menjelaskan variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen.

Kelemahan mendasar penggunaan koefisien determinasi adalah bias

(49)

Setiap tambahan satu variabel independen, maka R2 pasti meningkat tidak perduli apakah variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen. Oleh karena itu banyak peneliti menganjurkan untuk menggunakan nilai adjusted R2 pada saat mengevalusi mana model regresi terbaik.

2. Pengujian Uji Signifikansi Serentak (Uji F)

Uji F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen/ terikat. (Ghozali, 2006:84).

Tahap-tahap pengujian sebagai berikut:

a. Merumuskan hipotesis

Ho : β1= β2 = β3 = β4= 0, artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel independen (X1, X2, X3, dan X4) terhadap variabel dependen (Y).

Ha : β1 = β2 = β3= β4 ≠ 0, artinya terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel independen (X1, X2, X3, dan X4 )terhadap variabel dependen (Y)

b. Menentukan taraf signifikansi

Signifikan atau tidaknya pengaruh variabel independen secara simultan terhadap variabel dependen dilakukan dengan melihat probabilitas dari F rasio seluruh variabel independen pada taraf uji α = 5 %.

(50)

c. Kriteria pengambilan keputusan

o Jika probabilitas lebih kecil daripada α maka Ho ditolak dan Ha diterima yang memiliki arti bahwa variabel independen secara bersama-sama memiliki pengaruh signifikansi terhadap variabel dependen.

o Jika probabilitas lebih besar daripada α maka Ho diterima dan Ha ditolak yang memiliki arti bahwa variabel independen secara bersama-sama tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Dapat juga digunakan perbandingan signifikansi Fhitung dengan ketentuan:

Ho diterima jika Fhitung < Ftabel Ha diterima jika Fhitung > Ftabel

3. Pengujian Signifikansi Parsial (Uji t)

Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas/ independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen, (Ghozali, 2006:84) Tahap-tahap pengujian sebagai berikut:

a. Merumuskan hipotesis statistik:

Ho: β = 0, artinya tidak terdapat pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen.

Ha: β ≠ 0, artinya terdapat pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen.

(51)

b. Menentukan taraf signifikansi

Signifikansi atau tidaknya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dilakukan dengan melihat nilai probabilitas dari t rasio masing-masing variabel independen pada taraf uji α = 5%.

c. Kriteria pengambilan keputusan

o Jika probabilitas lebih kecil daripada α maka Ho ditolak dan Ha diterima yang memiliki arti bahwa variabel independen memiliki pengaruh signifikansi terhadap variabel dependen.

o Jika probabilitas lebih besar daripada α maka Ho diterima dan Ha ditolak yang memiliki arti bahwa variabel independen tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

Dapat juga digunakan perbandingan signifikansi thitung dengan ketentuan:

Ho diterima jika thitung < ttabel

Ha diterima jika thitung > ttabel

(52)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Data Penelitian

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis statistik yang menggunakan persamaan regresi berganda. Langkah awal analisis data dimulai dengan input atau entry data (yang berupa angka yang terdapat dalam laporan keuangan) yang dibutuhkan dengan menggunakan Microsoft Excel, selanjutnya dilakukan pengujian asumsi klasik dan pengujian menggunakan regresi berganda. Pengujian asumsi klasik dan pengujian regresi berganda dilakukan dengan menggunakan software SPSS (Statistical Package for Social Science). Prosedur dimulai dengan memasukkan variabel-variabel penelitian ke program SPSS tersebut dan menghasilkan output-output sesuai metode analisis data yang telah ditentukan.

Penelitian ini menggunakan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebagai sampel penelitian. Berdasarkan kriteria sampel, terdapat 19 perusahaan yang terpilih menjadi sampel selama 3 tahun maka jumlah data yang dianalisis adalah 57. Data yang digunakan diperoleh dari laporan keuangan dan laporan auditor independen yang diterbitkan oleh Bursa Efek Indonesia.

(53)

4.2. Analisis dan Penyajian Data 4.2.1. Analisis Statistik Deskriptif

Analisis statistik deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran umum dari objek penelitian yang dijadikan sampel. Untuk melihat statistik secara umum, peneliti menggunakan descriptive untuk variabel yang diukur dengan skala rasio dan frequency untuk variabel yang diukur dalam skala nominal (Situmorang dan Lufti, 2012:20).

Variabel penelitian ini terdiri dari ROI, DAR, Ukuran Perusahaan dan Opini audit sebagai variabel bebas (independent variable) dan Audit delay sebagai variabel terikat (dependent variable).

Statistik deskriptif dari variabel bebas dan terikat pada sampel perusahaan perbankan selama periode 2013 sampai 2015 disajikan dalam tabel 4.1 berikut.

Tabel 4.1

Statistik Deskriptif Variabel-variabel Penelitian

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

ROI 57 ,00 ,05 ,0216 ,01293

DAR 57 75,43 92,12 86,1502 4,05659

SIZE 57 27,88 34,44 31,3472 1,96712

OPIN 57 0 1 ,98 ,132

DELAY 57 16,00 89,00 59,2281 21,46094

Valid N (listwise) 57

Sumber: Hasil Pengolahan SPSS

Berdasarkan deskripsi data yang dihasilkan dari tabel 4.1, lamanya audit yang terjadi pada perusahaan perbankan di Indonesia rata-rata adalah 59 hari.

(54)

Standar deviasi dari lamanya audit adalah 21,46094. Berdasarkan rata-rata yang dihasilkan, dapat disimpulkan bahwa pada umumnya perusahaan sampel memiliki kebijakan untuk mempercepat audit delay perusahaan dibawah batas maksimal yang ditetapkan oleh BAPEPAM yaitu selama 90 hari.

Dari tabel 4.1 dapat dideskripsikan beberapa hal sebagai berikut:

1. Jumlah seluruh sampel adalah 57 (N) yang diperoleh dari 19 perusahaan pertahun dikali dengan 3 tahun pengamatan. Dari tabel dapat dilihat bahwa terdapat 3 variabel yang menggunakan skala rasio yaitu variabel return on investment, debt to asset ratio, dan ukuran perusahaan.

2. Variabel independen pertama adalah return on investment, memiliki nilai minimum sebesar 0,00 dan nilai maksimum sebesar 0,05 dengan rata-rata sebesar 0,216. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan yang memiliki sampel rata-rata memiliki ROI yang positif artinya perusahaan memiliki total asset yang produktif. Nilai standar deviasi sebesar 0,1293 yang nilainya lebih kecil daripada nilai rata-rata, artinya data tersebar disekitar nilai rata-rata.

3. Variabel independen kedua adalah debt to asset ratio, memiliki nilai minimum sebesar 75,43 dan nilai maksimum sebesar 92,12 dengan nilai rata-rata sebesar 86,1502. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan yang menjadi sampel rata rata memiliki DAR yang positif, artinya perusahaan memiliki kemampuan untuk melunasi kewajibannya dengan asset yang dimiliki. Nilai standar deviasi sebesar 4,05659 yang nilainya lebih kecil

Referensi

Dokumen terkait

Analisis regresi linier berganda adalah hubungan secara linear antara dua.. atau lebih variabel independen ( , ) dengan variabel dependen

Analisis regresi linear sederhana digunakan adalah hubungan secara linear antara satu variabel independen dengan variabel dependen. 3.6.6

Analisis yang digunakan untuk melihat penegaruh variabel independen terhadap dependen menggunakan regresi linear berganda, dimana variabel dependen dalam penelitian ini

Metode analisis regresi linear berganda merupakan analisis regresi yang digunakan dalam menguji hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen,

Jenis Analisis Regresi Linier Analisis regresi linier sederhana adalah hubungan secara linear antara satu variabel independen (X) dengan variabel dependen (Y). Analisis

Analisis regresi linear berganda untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen apakah masing-masing variabel independen

Analisis regresi linear berganda ini untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dan variabel dependen, apakah masing-masing variabel-variabel

3.6.2 Analisis Regresi Linear Berganda Analisis Regresi Linear Berganda digunakan untuk mengukur pengaruh antara lebih dari satu variabel Independen X terhadap variabel dependen Y,