• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLA ASUH ORANG TUA DALAM MENGEMBANGKAN PENALARAN MORAL ANAK THE WAYS OF PARENTING IN DEVELOPING CHILDREN S MORAL REASON

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "POLA ASUH ORANG TUA DALAM MENGEMBANGKAN PENALARAN MORAL ANAK THE WAYS OF PARENTING IN DEVELOPING CHILDREN S MORAL REASON"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1Heni Anggraeni Vinariesta adalah Mahasiswa Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan. Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Malang.

Artikel ini diangkat dari Skripsi Sarjana Hukum dan Kewarganegaraan. Program Sarjana Universitas Negeri Malang 2013.

2 Margono adalah dosen Hukum dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Malang (UM).

3 Siti Awaliyah adalah dosen Hukum dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Malang (UM).

1

THE WAYS OF PARENTING IN DEVELOPING CHILDREN’S MORAL REASON

Heni Anggraeni Vinariesta1 Margono2

Siti Awaliyah3

Universitas Negeri Malang, Jl. Semarang 5 Malang E-mail: [email protected]

ABSTRAK : Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan: pola asuh orang tua, penalaran moral anak, kendala dan solusi dari kendala dalam mengembangkan penalaran moral anak. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif.

Prosedur pengumpulan data melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh orang tua yang otoriter maka penalaran moral anak berorientasi terhadap hukuman dan kepatuhan, pola asuh orang tua yang otoritatif maka penalaran moral anak berorientasi terhadap hukum dan ketertiban dan pola asuh orang tua yang permissive maka penalaran moral anak berorientasi terhadap pemuas kebutuhan. Terjadi beberapa kendala yang dihadapi oleh orang tua dalam mengembangkan penalaran moral anak, dan orang tua telah berupaya mengatasi kendala tersebut.

(2)

Kata kunci: pola asuh orang tua, perkembangan penalaran moral anak.

ABSTRACT: The research is aimed to describe: the ways of parenting, developing children’s moral reasons, and solution of the obstacles of the developing children’s moral reasons. The research method utilizes in this study is descriptive qualitative approach. The procedure of data collecting through observation technique, interview and documentation. The result of this research show that authoritative ways of parenting so children’s moral reasons oriented concern punishment and obedience, authoritarian ways of parenting so children’s moral reasons oriented concern law and legularity, Permissive ways of parenting so children’s moral reasons oriented concern needs satisfied. There are obstacles faced by parent for developing children’s moral reasons, and parent had made an effort to cope the problems.

Keyword: the ways parenting, developing children’s moral reasons

Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak.

Keluarga berfungsi sebagai “trasmiter budaya atau mediator” sosial budaya bagi anak [Hurlock dan Pervin (dalam Yusuf, 2001:39)]. Semakin banyaknya penyimpangan moral yang terjadi pada remaja tidak hanya menjadi tanggung jawab oleh pendidik tetapi orang tua juga ikut berperan dalam perkembangan moral anak.

Danim (2010:55) menyebutkan bahwa fungsi orang tua antara lain adalah mengasuh anak dengan baik, seperti halnya guru kepada peserta didiknya. Orang tua yang berbeda menggunakan teknik pengasuhan yang berbeda pula kepada anak- anaknya. Teknik kepengasuhan orang tua tergantung pada standar budaya dan masyarakat, situasi dan perilaku anak-anak pada waktu itu. Menurut Yusuf (2001:133) secara tidak langsung, sikap orang tua terhadap anak, sikap ayah terhadap ibu, atau sebaliknya, dapat mempengaruhi perkembangan moral anak, yaitu melalui proses peniruan (imitasi). Sikap orang tua yang terlalu keras (otoriter) dalam mengasuh anak akan melahirkan sikap disiplin semu pada anak, sedangkan sikap

(3)

orang tua yang cenderung acuh tak acuh atau sikap masa bodoh akan menyebabkan anak menjadi kurang bertanggungjawab dan kurang memperdulikan norma pada diri anak. Pada dasarnya sikap yang sebaiknya dimiliki oleh orang tua adalah sikap kasih sayang, keterbukaan, musyawarah, dan konsisten. Dengan begitu anak akan dilatih bertanggungjawab dan juga dilatih untuk berdisiplin.

Untuk memiliki moralitas yang baik dan benar, seseorang tidak cukup sekedar telah melakukan tindakan yang dinilai baik dan benar. Seseorang dapat dikatakan bermoral jika mereka memiliki kesadaran tentang moral dan dapat menilai bahwa apa yang dikerjakannya itu baik atau buruk, atau bahkan boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan [Suparno (dalam Budiningsih, 2004:5)]. Perilaku moral seseorang dapat dinilai memiliki nilai moral jika perilaku tersebut dilakukan secara sadar dan atas keinginan sendiri serta bersumber dari penalaran moral yang berasal dari dirinya sendiri. Selanjutnya Kohlberg (dalam Budiningsih, 2004:5) menjelaskan bahwa penalaran atau pemikiran moral merupakan faktor penentu yang melahirkan perilaku moral. oleh karena itu, untuk menemukan perilaku moral yang sebenarnya dapat ditelusuri melalui penalarannya. Jadi perilaku moral yang benar tidak hanya dilihat dari perilaku moral yang tampak, tetapi lebih dilihat pada penalaran moral yang mendasari keputusan perilaku moral itu dilakukan.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini untuk mengetahui : (1) pola asuh orangtua dalam mendidik anaknya di Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang (2) penalaran moral anak di Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang (3) faktor penghambat orang tua dalam mengembangkan penalaran moral anak di Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang (4) upaya orang tua mengatasi hambatan dalam mengembangkan penalaran moral anak di Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang.

(4)

METODE

Penelitian tentang pola asuh orang tua dalam mengembangkan penalaran moral anak di Desa Mojojejer, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, menggunakan pendekatan kualitatif. Hal ini dilakukan karena penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan fenomena yang ada di dalam masyarakat desa Mojojejer, bagaimana pola asuh orang tua yang efektif yang bisa mengembangkan penalaran moral anak secara optimal sehingga anak dapat berperilaku yang bermoral yang sesuai dengan peraturan yang ada dan tidak menyimpang dari moralitas lingkungan sekitarnya. Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan sebelumnya, maka Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian deskriptif. Peneliti menyajikan hasil penelitian berupa-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Dalam penelitian ini, deskripsi yang dimaksudkan yakni peneliti menggambarkan secara utuh mengenai pola asuh orang tua dalam mengembangkan penalaran moral anak di Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Dengan menggunakan jenis penelitian ini, data yang diperoleh dapat berasal dari naskah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini dilakukan di Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno kabupaten Jombang. Pemilihan lokasi di desa tersebut didasarkan atas beberapa pertimbangan yakni Peneliti mengenal orang-orang yang ada di masyarakat Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Selain itu di Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang banyak terjadi kenakalan remaja seperti banyaknya remaja yang mengkonsumsi minuman keras dan melakukan seks bebas.

Sumber data dalam penelitian ini adalah menggunakan sumber data primer yang berasal dari berbagai subyek yakni orang tua dan anak. Data utama dalam penelitian ini ialah kata-kata, dan tindakan dari orang-orang yang diamati.

Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini antara lain: dengan melakukan observasi, wawancara mendalam dengan informan, dan di dukung dengan dokumentasi untuk memperoleh keabsahan data. Analisis data menggunakan teknik analasis secara induktif. Yakni, suatu analisa yang berdasarkan

(5)

dengan data yang diperoleh selama melakukan observasi dilapangan, selanjutnya data yang diperoleh dikembangkan menjadi hipotesis. Dari hipotesis yang dirumuskan yang berdasarkan pada data tersebut, selanjutnya dicari data lagi secara berulang-ulang dengan melakukan wawancara terhadap subyek yang diteliti sehingga selanjutnya dapat disimpulkan penerimaan atau penolakan hipotesis dari data yang telah terkumpul. Jika hipotesis yang didapat berdasarkan pengumpulan data yang telah dilakukan berulang-ulang dapat diterima, maka hipotesis tersebut dapat berkembang menjadi teori. Teknik pengecekan keabsahan data yang digunakan yakni ketekunan kehadiran, dan triangulasi

HASIL

Pola Asuh Orang Tua di Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang

Pola asuh orang tua di Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang ada tiga yakni pola asuh otoriter, pola asuh otoritatif dan pola asuh permisif. Orang tua yang menggunakan pola asuh otoriter memiliki ciri yaitu mendidik anaknya dengan keras bahkan setiap tingkah laku anaknya akan selalu diatur oleh orang tua. Selain itu orang tua juga melarang anak untuk mempertanyakan peraturan yang telah dibuat oleh orang tua. Saat anak melakukan kesalahan atau melanggar peraturan maka orang tua akan langsung memarahi anak bahkan terkadang memberikan hukuman yang berupa hukuman fisik. Orang tua yang menggunakan pola asuh otoriter jarang memberikan hadiah ataupun pujian saat anak melakukan tindakan yang baik ataupun saat anak dapat mematuhi peraturan yang berlaku.

Orang tua yang mengasuh anaknya dengan menggunakan pola asuh otoritatif memiliki ciri bahwa orang tua senantiasa bersedia mendengar, menjelaskan dan bernegosiasi tentang hal apapun yang berkaitan dengan kepentingan anak dengan tetap menanamkan pentingnya peraturan, norma dan nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat. Seorang anak akan diumpakan seperti layang-layang, adakalanya

(6)

ditarik dan adakalanya diulur. Sedangkan orang tua yang menggunakan pola asuh permisif memiliki ciri bahwa orang tua senantiasa menuruti semua permintaan anaknya sebagai bentuk perhahatian orang tua. Orang tua selalu memberikan izin kepada anaknya untuk melakukan hal apapun. Orang tua juga jarang memarahi anaknya, ketika anaknya melakukan kesalahan ketika anak dirasa sudah keterlaluan baru orang tua akan menegurnya secara pelan-pelan.

Penalaran Moral Anak

Penalaran moral anak di Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang berada pada tiga orientasi, yaitu orientasi terhadap hukuman dan kepatuhan, orientasi terhadap pemuas kebutuhan dan orientasi hukum dan ketertiban. Anak yang penalaran moralnya berada pada orientasi terhadap hukuman dan kepatuhan, selalu berperilaku untuk menghindari hukuman yang akan ditimbulkan dari suatu perbuatan dan patuh terhadap orang tua tanpa mempersoalkannya. Pada orientasi ini anak dihadapkan pada pola asuh orang tua yang otoriter dimana anak dituntut untuk selalu mematuhi aturan yang telah dibuat oleh orang tua. Pada orientasi pemuas kebutuhan anak selalu bertindak untuk memenuhi kebutuhan sendiri atau bahkan kebutuhan orang lain. Pada orientasi ini anak dihadapkan pada pola asuh orang tua yang permisif dimana orang tua selalu bersikap memanjakan anak sehingga anak akan bertindak jika tindakan tersebut memberikan kepuasan baik untuk dirinya maupun orang lain.

Dalam berperilaku anak tidak akan memikirkan konsekuansi atau hukuman yang ditimbulkan oleh perbuatannya. Sedangkan anak yang berada pada orientasi hukum dan ketertiban, dalam berperilaku selalu mematuhi peraturan-peraturan yang ada dan berusaha untuk memelihara ketertiban sosial. Anak yang berada pada tahap orientasi ini dihadapkan pada pola asuh orang tua yang otoriter atau demokrasi.

Faktor Penghambat dalam Mengembangkan Penalaran Moral Anak

Ada beberapa kendala yang dihadapi orang tua dalam mengembangkan penalaran moral anak. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan beberapa

(7)

kendala yang ditemui orang tua dalam mengembangkan penalaran moral anak yakni meliputi anak kurang bisa membagi waktu, sikap anak yang pemalas dan pembangkang dan kesibukan orang tua yang mengakibatkan anak kurang mendapatkan perhatian dari orang tua.

Upaya Mengatasi Kendala yang Dihadapi dalam Mengembangkan Penalaran Moral Anak

Dari beberapa faktor penghambat yang ditemui orang tua dalam mengembangkan penalaran moral anak, orang tua mempunyai beberapa solusi guna mengatasi kendala yang dihadapi dalam mengembangkan penalaran moral anak.

Upaya orang tua yang pertama yakni pembuatan jadwal kegiatan anak guna mengatasi kurangnya kemampuan anak dalam membagi waktu. Upaya orang tua yang kedua yakni memberikan teguran secara halus kepada Anak guna mengatasi sikap anak yang pemalas dan pembangkang. Upaya yang terakhir yakni meluangkan waktu untuk memperhatikan kegiatan anak agar anak merasa diperhatikan.

PEMBAHASAN

Pola asuh orang tua yang ada di Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang antara lain, pola asuh otoriter, pola asuh otoritatif dan pola asuh permisif. Pola pengasuhan otoritatif merupakan salah satu pola pengasuhan yang paling efektif untuk mencegah delinkuensi bagi anak. Anak yang dibesarkan dengan pola pengasuhan otoritatif akan merasakan suasana rumah yang saling menghormati, penuh apresiasi, kehangatan, penerimaan dan adanya konsistensi pengasuhan dari orang tua. selain itu, anak akan terbiasa bekerjasama dengan orang lain dan berorientasi terhadap prestasi. Anak yang berorientasi terhadap prestasi akan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan akan memiliki tujuan atau arah hidup yang jelas (Gunarsa, 2004:281). Di dalam keluarga orang tua harus mampu menjadi teladan untuk anak-anak mereka agar anak terbiasa untuk melakukan perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari. Pembiasaan yang dilakukan melalui

(8)

keteladanan ini juga sesuai dengan teori belajar sosial yang dikemukakan oleh Albert Bandura yang menyatakan bahwa sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan (observational learning) dan mengingat tingkah laku orang lain. orang tua pada dasarnya memainkan peran penting sebagai seorang model atau tokoh yang dijadikan contoh berperilaku sosial dan moral bagi anak. Semakin terampil dan berwibawa seorang model, semakin tinggi pula kualitas imitasi perilaku sosial dan moral anak tersebut. Mengimitasi model merupakan elemen paling penting dalam hal bagaimana si anak belajar bahasa, berhadapan dengan agresi, mengembangkan perasaan moral dan belajar perilaku yang sesuai dengan gendernya. Contohnya, seorang yang hidupnya dan dibesarkan di dalam lingkungan judi, maka dia cenderung untuk memilih bermain judi, atau sebaliknya menganggap bahawa judi itu adalah tindakan baik (Psikologimania, 2011).

Penalaran moral anak di Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang berada pada tiga orientasi, yaitu orientasi terhadap hukuman dan kepatuhan, orientasi terhadap pemuas kebutuhan dan orientasi hukum dan ketertiban. Hasil penelitian yang ditemukan dilapangan tidak sesuai dengan yang diungkapkan oleh Kohlberg (dalam Duskin, 2008:564) yang menjelaskan bahwa usia remaja pada umumnya penalaran moral yang dimiliki berada pada tahap konvensional. Tetapi yang ditemukan di lapangan masih terdapat remaja yang berada pada tahap pra konvensional dengan orientasi hukuman dan kepatuhan serta orientasi pada pemuas kebutuhan. Lebih lanjut Kolberg (dalam Tokan, 1999:37) menegaskan bahwa remaja umumnya berada pada tingkat konvensional juga pada orang dewasa. Penelitian yang dilakukan di Amerika juga menunjukkan bahwa tidak semua orang dapat mencapai tahap yang lebih tinggi dari tingkat konvensional, atau mencapai tingkat pasca konvensional.

Dalam melakukan pengasuhan terhadap anak terdapat beberapa faktor penghambat yang ditemukan diantaranya anak kurang bisa membagi waktu, sikap anak yang pemalas dan pembangkang serta kesibukan orang tua yang mengakibatkan orang tua kurang mempunyai waktu lebih untuk memperhatikan

(9)

anak. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Gordon (1989:165) bahwa seorang anak memerlukan cinta kasih, penerimaan, batasan dan keajegan. Apabila ia tidak dapat mendapatkannya dengan cukup memadai, yang ditentukan secara individual maka kesalahan pemberian suasana ini akan tampak jelas terutama pada perkembangan moral anak. Setiap orang tua memiliki cara yang tersendiri dalam melakukan pengasuhan terhadap anaknya. Orang tua akan lebih berwibawa atas anak-anak mereka apabila cara pendekatan yang mereka gunakan adalah tanpa paksaan dan tidak menumbuhkan pemberontakan dan tingkah laku yang reaktif.

Dalam meminimalkan faktor penghambat yang ditemui tersebut beberapa alternatif pemecahan untuk mengatasi kendala pola asuh orang tua dalam mengembangkan penalaran moral anak di Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno kabupaten jombang antara lain dengan pembuatan jadwal kegiatan anak, memberikan teguran secara halus kepada anak serta orang tua meluangkan waktu untuk memperhatikan kegiatan anak. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Gordon bahwa pendekatan yang dilakukan tanpa adanya paksaan terhadap anak tidak akan menumbuhkan sikap pemberontakan pada diri anak. Lebih lanjut Yusuf (2001:133) menjelaskan bahwa sikap orang tua yang konsisten dalam mendidik anak sangat diperlukan agar anak tidak terbiasa mengulangi kesalahannya. Dalam melarang dan membolehkan tingkah laku pada anak orang tua harus memiliki sikap dan perlakuan yang sama. Tingkah laku anak yang dilarang pada suatu waktu tertentu, juga harus dilarang apabila dilakukan kembali pada waktu lain.

PENUTUP KESIMPULAN

Secara umum terdapat tiga pola asuh di Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang yakni pola asuh otoriter, pola asuh otoritatif dan pola asuh permisif. Orang tua yang menggunakan pola asuh otoriter memiliki ciri yakni mengatur setiap tingkah laku anak dan menuntut anak untuk mematuhi setiap peraturan yang dibuat oleh orang tua. Orang tua yang menggunakan pola asuh

(10)

otoritatif bercirikan bahwa orang tua bersedia mendengar, menjelaskan dan bernegosiasi tentang hal apapun yang berkaitan dengan kepentingan anak dengan tetap menanamkan pentingnya peraturan, norma dan nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat. Sedangkan orang tua yang menerapkan pola asuh permisif memiliki ciri bahwa orang tua selalu memanjakan anak dengan cara mengabulkan setiap permintaan anak serta selalu memberikan hadiah kepada anak secara berlebihan.

Penalaran moral anak di Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang berada pada tiga orientasi, yaitu orientasi terhadap hukuman dan kepatuhan, orientasi terhadap pemuas kebutuhan dan orientasi hukum dan ketertiban. orang tua yang menggunakan pola asuh otoriter dan permisif mengakibatkan perkembangan penalaran moral anak tidak dapat berkembang dengan optimal. Penalaran moral anak akan tetap berada pada tahap pra konvensional dengan orientasi terhadap hukuman dan kepatuhan serta orientasi terhadap pemuas kebutuhan. Sedangkan orang tua yang menggunakan pola asuh otoritatif maka perkembangan penalaran moral anak dapat berkembang dengan optimal yakni berada pada tahap konvensional dengan orientasi hukum dan ketertiban.

Faktor penghambat yang ditemui orang tua dalam mengembangkan penalaran moral anak. Faktor penghambat tersebut meliputi kemampuan anak dalam membagi waktu, sikap anak yang pemalas dan pembangkang dan kesibukan orang tua yang mengakibatkan anak kurang mendapatkan perhatian dari orang tua. Upaya yang dilakukan oleh orang tua dalam mengatasi hambatan dalam mengembangkan penalaran moral anak yakni dengan cara pembuatan jadwal kegiatan anak, memberikan teguran secara halus kepada anak dan meluangkan waktu untuk memperhatikan kegiatan anak.

SARAN

Berdasarkan temuan penelitian, pembahasan dan kesimpulan tersebut, peneliti memberikan saran yang sekiranya dapat bermanfaat mengenai pola asuh

(11)

orang tua dalam mengembangkan penalaran moral anak di Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang sebagai berikut: bagi orang tua disarankan untuk mengoptimalisasikan penalaran moral anak disarankan untuk mengembangkan pola asuh otoritatif. Jenis pola pengasuhan yang memberikan kebebasan pada anak untuk berpendapat dengan tidak mengesampingkan peraturan, norma dan nilai yang berlaku. Selain itu, orang tua memberikan umpan balik mengenai pendapat anak sebagai bukti bahwa orang tua juga bernegosiasi dengan anak. Selain itu, dalam mengasuh anak sebaiknya orang tua tidak membatasi dan mengatur tingkah laku anak, orang tua hendaknya bersedia mendengarkan dan bernegosiasi dengan anak agar ketika anak dihadapkan pada suatu masalah anak dapat memikirkan solusinya. Bagi guru, untuk lebih memberikan pemahaman mengenai perkembangan penalaran moral anak diharapkan setiap guru khususnya guru pendidikan moral untuk lebih meningkatkan usaha penyebaran informasi dan pengetahuan tentang pola asuh orang tua yang efektif dalam membantu perkembangan penalaran moral anak. Sehingga di harapkan orang tua dapat termotivasi untuk mendukung perkembangan penalaran moral anaknya hingga dapat menjadi pribadi yang mendiri kelak.

(12)

DAFTAR RUJUKAN

Gordon, Thomas. 1989. Menjadi Orang Tua Efektif. Jakarta: PT Gramedia.

Gunarsa, Singgih, D. 2004. Dari Anak Sampai Usia Lanjut. Jakarta: Gunung Mulai.

Moleong, Lexy J. 2011. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Psikologimania. 2011. Albert Bandura tokoh Pembelajaran Sosial. (online), (http://www.psychologymania.com/2011/11/albert-bandura-tokoh pembelajaran.html,), diakses pada 26 April 2013.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Trihantoro, Gunawan. 2008. Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak, (Online), (http://guru-guru-maju.blogspot.com/2008/04/peran-orangtua.html), diakses pada 30 april 2013.

Universitas Negeri Malang. 2010. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Malang:

Universitas Negeri Malang.

Yusuf LN, Syamsu. 2011. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung:

PT REMAJA ROSDAKARYA.

Zubair, Achmad Charris. 1987. Kuliah Etika. Jakarta: CV Rajawali.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hal-hal yang telah dijelaskan, maka penelitian tentang optimasi parameter respon mesin cetak sistem injeksi perlu dilakukan dengan prosedur terpadu yang

Namun hasil dari pengujian ini tergantung dari jumlah wisata yang dimasukkan oleh pengguna, karena gen dari setiap kromosom merupakan representasi dari destinasi

Sebelum melakukan pengujian, terlebih dahulu mengakses komputer yang menyediakan data sharing, pengujian dengan mengakses langsung no IPv6 yang digunakan, yaitu

Pada divisi pembatikan, diberikan usulan perbaikan yaitu kursi dengan tinggi yang dapat diatur ( adjustable ) sehingga kaki operator tidak tertekuk. Kursi tersebut

Peserta didik dalam setiap kelompok melakukan eksperimen sesuai dengan langkah kerja yang telah dijelaskan oleh guru... Guru memeriksa eksperimen pemuaian gas yang

Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora

konsep adaptasi mahluk hidup terhadap lingkungan. Kondisi ekosistem sungai Padang Guci, Air Nelenagau, dan Air Nipis sebagai habitat ikan Sicyopterus

Sependapat dengan asumsi Gell, pertunjukan fire dance oleh komunitas Flownesia dapat menjadi iklan dalam sebuah acara, iklan yang dimaksud adalah efek enchanting yang dihasilkan