39
BAB IV
STUDI PERENCANAAN PENANGKAL PETIR PADA GEDUNG STC (SPORT TRADE CENTRE) - SENAYAN
4.1 Umum
Pada setiap gedung yang mempunyai ketinggian yang relatif tinggi diharapkan mempunyai sistem penangkal petir konvensional yaitu dengan memasang logam besi runcing pada ujung atap bangunan yang paling tinggi.
4.2 Menghitung Kebutuhan Proteksi Petir Berdasarkan Bangunan
Berdasarkan data tabel 3.4, maka dapat dihitung perkiraan bahaya terhadap sambaran petir berdasarkan persamaan 2.2 sebagai berikut :
R = 3+2+6+0+6 R = 17
Jadi, besarnya nilai indeks perkiraan bahaya akibat sambaran petir adalah: 17
4.3 Menghitung kerapatan sambaran petir (Ng)
Berdasarkan data IKL pada lampiran A, maka dapat dihitung kerapatan sambaran petir ke bumi berdasarkan persamaan 2.3 sebagai berikut :
Ng = 0,04 x 1931,25 per km² per tahun
Ng = 28,77 per km² per tahun
Jadi, besarnya kerapatan sambaran petir adalah: 28,77 per km² per tahun
40 4.4 Menghitung Area Cakupan Ekivalen
Berdasarkan data pada tabel 3.3, maka dapat area cakupan ekivalen berdasarkan persamaan 2.5 sebagai berikut :
Ae = (55x150) + (6x45) (55+150) + (9 x π x 45²) Ae = 8250 + (270x205) + (28,274 x 2025)
Ae = 8580 + 55350 + 57255,5 Ae = 120855,5
Jadi, besarnya area cakupan ekivalen adalah: 120855,5
4.5 Frekuensi rata-rata tahunan sambaran petir
Berdasarkan hasil dari persamaan 2.3 dan persamaan 2.5, maka dapat dihitung Frekuensi rata-rata tahunan sambaran petir berdasarkan persamaan 2.4 sebagai berikut :
Nd = 28,77x120855,5x 10-6 /tahun
Nd = 3.47/tahun
Jadi, besarnya frekuensi rata-rata tahunan sambaran petir adalah: 3,47 /tahun
4.6 Menghitung Nilai Efisiensi
Berdasarkan hasil dari persamaan 2.4, maka dapat dihitung nilai efisiensi berdasarkan persamaan 2.6 sebagai berikut :
E = 1 – 0,1 / 3,47 E = 0,97
Jadi, besarnya nilai efisiensi adalah: 0,97
4.7 Menentukan Tingkat Proteksi
Berdasarkan hasil dari persamaan 2.6, maka dapat ditentukan tingkat proteksi berdasarkan tabel 2.6.
41
Jadi, besarnya nilai efisiensi 0,97 tingkat proteksi berdasarkan tabel 2.6 adalah tingkat I
4.8 Menentukan Terminasi Udara
Untuk gedung tersebut adalah tingkat I. Pada gedung STC Senayan akan dilakukan perbandingan untuk mengetahui daerah proteksi dengan menggunakan ketiga metode yang ada yaitu metode sudut proteksi (protectiveangle method), metode jala (mesh size method) dan metode bola bergulir (rolling sphere method ).
4.8.1 Perancangan Terminasi Udara Menurut Metode Sudut Proteksi
Telah diketahui bahwa tingkat proteksi gedung Senayan adalah tingkat I, dan berdasarkan hasil dari tabel 2.7 dan tabel 3.3, maka dapat ditentukan dimana sudut proteksi adalah 25°. Jika menggunakan sudut ini dan tinggi penangkap petir sebesar 6 meter, diperlukan tambahan penangkap petir pada bagian atap bangunan.
4.8.2 Perancangan Terminasi Udara Menurut Metode Jala
Penggunaan metode jala dipertimbangkan sebagai sistem perlindungan tambahan, dikarenakan pada atap bangunan terhadap penangkal petir, sehingga dapat menghindari menggunakan finial yang panjang.
Dengan tinggi bangunan 45 meter, berdasarkan dari tabel 2.7 didapat lebar jala- jala adalah 15 meter.
4.8.3 Perancangan Terminasi Udara Menurut Metode Bola Bergulir
Dari tabel 2.7 didapat jari-jari (R) bola bergulir yang dapat digunakan untuk merancang penempatan terminasi udara pada gedung Senayan ini adalah 20 m.
42
Bola gulir an jari-jari 20 m tersebut digulirkan hingga menyentuh gedung dan gedung yang dilindungi. Setiap bagian bangunan yang dikenai oleh bola gulir tersebut haruslah diberi terminasi udara. Daerah yang dilingkupi oleh bola gulir tersebut merupakan daerah proteksi terhadap petir. Daerah antara perpotongan permukaan tanah, gedung dan keliling bola bergulir dan bangunan itu sendiri adalah daerah proteksinya.
Dengan cara ini terlihat bahwa masih diperlukan penangkap petir lagi pada ujung dari atap bangunan karena titik tersebut tepat tersentuh oleh bola bergulir dan mempunyai kemungkinan besar tersambar petir sehingga harus dipasangi terminasi udara. Bila terminasi udara ditambahkan pada puncak atap yang ada di sisi kanan dan kiri maka jarak terminasi dengan bagian atap yang paling luar adalah 2,5meter.
Berdasarkan persamaan 3.1, maka dapat diperoleh:
R = 45 m , I =0,75√45= 160 ,06 kA R = 2,5 m, I = 0,75√2,5 = 3,39 kA
Berarti dengan tambahan penangkap petir, bangunan maksimal bisa menahan sampai 3,39 kA. Jika ada sambaran petir dengan arus bernilai lebih dari 3,39 kA maka akan ditangkap oleh sistem proteksi petir.
4.9 Sistem Penangkal Petir Franklin
Sistem penangkal petir ini adalah sistem penangkal petir yang paling tua. Pada sistem ini mempergunakan sebuah batang besi. Sehingga cara ini dianggap masih konvensional, namun sistem ini masih cukup handal untuk melindungi bangunan dari sambaran petir. Dan dapat dipergunakan sebatang besi sebagai subyek penangkal petir.
Penggunaan ini telah lama dilakukan untuk bangunan yang relative kurang tinggi dan penempatan terminal udara harus melihat bentuk dan tinggi bangunan,penangkal petir ini pertamakali di temukan oleh Benjamin Franklin , penangkal ini merupakan cara
43
yang kuno namun masih sering dipergunakan, karena hasilnya masih memuaskan, terutama untuk bangunan dengan bentuk tertentu.
4.9.1 Prinsip Kerja Sistem Penangkal Petir Franklin
Pada pengamanan tipe ini menggunakan sebuah batang penagkal petir dengan ujung yang runcing dan ditaruh di bagian atas dari bangunan yang akan dilindungi, dengan tujuan apabila pada awan terjadi aktifitas pembentukan muatan , maka permukaan bumi yang ada di bawah awan tersebut terinduksi muatan dengan polaritas yang berlawanan sehingga menimbulkan medan listrik yang kuat diantara awan dan bumi . medan listrik yang sangat kuat ini menyebabkan objek-objek pada permukaan bumi yang letaknya relative tinggi, seperti : sruktur bangunan ujung atap gereja , pucuk pohon yang relative mempuyai bentuk runcing. Daerah perlindungan sistem penangkal petir konvensional yang dibedakan dalam tiga kategori yaitu, dalam keadaan kurang baik yang mempunyai sudut 30º. Dalam keadaan sangat baik, sudut perlindungan 45º.
Dalam keadaan baik, sudut perlindungan 20º. Dalam penggunaan penangkal petir konvensional ketiga kategori ini dapat menjadi acuan, khususnya pada struktur bangunan yang relative tidak terlalu tinggi, namun pada kenyataan banyak penggunaan sistem konvensional ini yang menggunakan sudut normal.
4.9.2 Penggunaan Penangkal Petir Franklin Pada Bangunan
Pada gambar 4.1 menunjukkan bahwa daerah perlindungan untuk tinggi batang kurang dari 45 meter (digambar dalam garis putus-putus) dan daerah perlindungan untuk tinggi batang penangkal lebih tiggi dari 45 meter (digunakan dalam garis terputus-putus).
Pad
Gambar
Gambar
da gambar 4.
• ( I ) obj petir. Te
• ( II ) U petir tam
r 4.1. Daera
r 4.2 Samba
.2 terlihat ba ek xxx terle erlihat pada Untuk meng mbahan xx .
ah perlindung
aran petir did
ahwa etak diluar da
gambar 4.2.
amankan ob Terlihat pad
44 gan sebuah b
daerah antara
aerah jangka .a ( I ) bjek C mak da gambar 4
batang penan
a dua buah b
auan akan m
a diperlukan .2.a ( II)
ngkal petir F
batang penan
mungkin terk
n pemasang
Franklin.
ngkal petir
kena sambara
an penangk
an
kal
45 4.10 Sistem Penangkal Petir Faraday
Penangkal petir tipe sangkar faraday pada penempatannya di seluruh daerah yang dianggap potensial tersambar petir. maka Pada setiap-setiap tempat yang potensial terkena sambaran petir diletakan terminal udara, dipasang pada ujung-ujung yang runcing, lisplang atap, bangunan yang relatif lebih tinggi dari semua bagian bangunan pada daerah sekitarnya.
4.10.1 Prinsip Kerja Sistem Penangkal Petir Faraday
Dengan mempertimbangkan tempat-tempat tersebut maka bentuk dan bahan untuk pembuatan atap dari serat bangunan, dilengkapi dengan penangkal petir.
Penangkal-penangkal petir ditempatkan dengan susunan tertentu sedemikian rupa sehingga sistem penangkal petir dapat berfungsi dengan baik didalam sistem konvensional. Hal ini dapat terpenuhi jika tidak ada satu pun pada permukaan atap yang berjarak lebih dari 7,5 meter dari penangkal tersebut. Penangkal petir yang dipasang pada sepanjang atap pada suatu bangunan dapat dikatakan sudah merupakan penangkal petir yang sudah memadai. Penghantar sepanjang atap bangunan tersebut, hal ini dilakukan agar penghantar tersebut dapat berfungsi sebagai penyalur.
4.10.2 Penggunaan Penangkal Petir Faraday Pada Bangunan
Daerah perlindungan dengan menggunakan dua buah penghantar yang dipasang secara Mendatar, serta mempunyai sudut perlindungan 45° dari ketinggian tersebut, terlihat pada gambar 4.3. di bawah
46
Gambar 4.3. Daerah perlindungan sistem faraday
4.11 Penangkal Petir EF Lightning Sistem
Setelah dapat diketahui sistem kerja alat penangkal petir yang terdahulu dan berbagai efek-efek negatif yang ditimbulkan oleh alat penangkal petir tersebut, maka ini tantangan bagi para ahli elektronik dan tenaga listrik untuk dapat lebih menyempurnakan cara kerja penangkal petir yang lama terhadap cara kerja penangkal petir New Technology System secara keseluruhan. Maka terciptalah suatu sistem baru yang diantaranya dikenal dengan nama “ Electro Static EF Lighting Control System” . Alat ini dapat digunakan untuk melindungi bangunan dari bahaya sambaran petir, baik yang beratap datar dan cukup luas maupun bagi bangunan dengan listplang lebih dari 1 meter, hal ini disebabkan karena luas daerah yang dilindungi oleh penangkal petir tersebut berbentuk radius, sehingga mempunyai daya jangkau yang cukup luas. Untuk lebih jelasnya berikut dapat diuraikan mengenai cara kerja dan fungsi keseluruhan dari penangkal petir ini.
47
4.11.1 Prinsip Kerja Sistem Kerja EF Lightning
EF Lightning Terminal mempunyai kolektor yang menyerap dan menkonsentrasikan korona untuk membentuk suatu pelepasan (discharge) pada titik pusat pertahanan,dengan prinsip kerja pengembangan korona efek atau dapat juga disebut sistem medan elektrostatik, sedangkan arti dari sistem elektrostastik adalah suatu sistem yang bekerja karena adanya perbedaan muatan positif dan negatif.
Pemasangan EF dengan seperangkat grounding sistem dapat menghasilkan suatu elektron bebas yang bermuatan positif lebih dari 300 pelepasan / detik dengan medan listrik statis 80 kV. Pelepasan ini akan bertambah sebanding dengan bertambahnya nilai medan listrik tersebut. Kejadian ini disebabkan oleh pengaruh medan statis atau atmosfir dan bumi, juga bersamaan dengan awan yang bermuatan negatif yang disebut awan petir.
Busur listrik yang dihasilkan oleh terminal EF memungkinkan timbulnya elektron-elektron bebas, yang besarnya sebanding dengan nilai arus dari pelepasan petir. Adapun busur listrik ini dapat ditarik keatas yang dapat berfungsi dengan bertambahnya medan listrik yang hadir ketika petir mendekat.
Setelah proses yang dapat menghasilkan muatan positif dari EF Lighting Terminal, maka Ef tersebut akan dapat menetralisasikan muatan negatif pada awan petir. Sehingga dari penyesuaian tersebut diatas akan menghasilkan sistem kerja yang dapat menggagalkan terjadinya sambaran petir, dimana efek yang diciptakan EF terminal, telah di standarkan untuk memungkinkan radius proteksi mencapai 200 meter.
Dengan keadaan ini tercipta proteksi petir yang lengkap, dan sebaiknya jika konsentrasi muatan negatif yang terdapat pada awan petir sedemikian kuat dan bahkan memungkinkan terjadinya sambaran tersebut akan selalu dapat dikonsentrasikan ke satu titik yaitu EF Terminal dan proses terjadinya Down Conductor (EF Coaxsial Cable)
48
akan menyalurkan arus petir ke bumi (ground). Hal tersebut dapat terjadi disebabkan karena adanya Conduktive Streamer yang dihasilkan oleh EF Terminal.
Fungsi dari Down conductor EF high voltage coaxial cable dapat mencegah terjadinya loncatan bunga api (side flashing), sehingga dapat mencegah adanya gangguan pada peralatan elektronik seperti: Telepone, Komputer, dan lain-lain.
Sebagai berikut dapat pula kita ketahui beberapa keandalan EF:
• Penangkal petir EF dibuat berdasarkan fenomena petir kompleks, bahkan untuk pembuatannya melibatkan beberapa ahli elektronik dan elektrikal.
• Luas daerah yang dilindungi oleh penangkal petir EF berbentuk radius, sehingga mempunyai daya jangkau yang cukup luas.
• Perawatan yang mudah, yaitu secara visual.
• Sistem EF tidak dapat menimbulkan induksi dan loncatan api pada saat adanya sambaran petir.
Untuk menangkal petir EF ini sangat awet dan cukup lama, proses ini akan terus berlanjut sepanjang tidak terjadi kerusakan pada down conductor (coaxial cable) nya dan terminal bagian atas terminal ini.
4.11.2 Penggunaan Penangkal Petir EF Lightning
Dalam menentukan pemasangan penangkal petir EF baik dengan bentuk bangunan dengan atap yang luas maupun bentuk bangunan berbentuk runcing, dapat digunakan sebuah terminal EF dengan memperhitungkan ketinggian struktur bangunan serta luas area yang diamankan dengan mengacu pada table 4.1.
49
Table 4.1 Proteksi radius dari penangkal petir EF Level Proteksi
Tinggi Struktur Medium Standar Tinggi (M) 85% 15 (kA) 93% 10 (kA) 98% 6,5 (kA)
10 53 44 34
20 59 54 41
30 69 64 48
40 76 70 52
50 82 75 54
60 84 77 55
70 85 79 54
80 88 80 53
90 90 82 52
100 91 81 49
Diatas 100 meter dapat di konsultasikan dengan distributor EF
Persyaratan-persyaratan yang diperhatikan dalam pemasangan Terminal EF
• Pemasangan Terminal EF harus ditempatkan paling sedikit 5 meter diatas ketinggian susunan gedung, atau harus mengukur 5 meter diatas puncak antara susunan tangga, fasilitas komunikasi, lift atau peralatan lainnya.
• Pemasangan tiang penyangga sekaligus berfungsi sebagai isolasi/proteksi kabel coaxial dipasang tegak lurus, dengan memperhatikan strukturnya agar tidak mudah roboh bila terkena tekanan angin atau pun gangguan-gangguan lain.
• Penempatan Terminal EF harus pada posisi yang tepat agar seluruh bangunan serta peralatannya masuk dalam radius pengamanan
• Pemasangan kabel coaxial harus ditempatkan pada daerah lokasi yang aman dan terhindar dari kemungkinan terjadi kerusakan kabel tersebut.
• Penyambungan kabel coaxial baik terhadap terminal kontrol maupun terhadap elektroda pentanahannya harus tersambung dengan sempurna dan dilindungi isolasi.
• Penanaman kedalaman elektroda pentanahan harus memenuhi persyaratan yang diharuskan dan sesuai dengan PUIL tahun 2000 sehingga tahanan pentanahan nya menunjukan maksimal 5 ohm.
50
4.11.3 Radius pengamanan EF Lightning Control System
Gambar 4.4 Radius perlindungan EF Lightning Control System
Dari keterangan gambar 4.4 jelas bahwa untuk pemasangan tiang penyangga sekaligus berfungsi sebagai isolator kabel coaxial dipasang tegak lurus, serta penempatan terminal EF harus pada posisi tepat, agar peralatannya masuk dalam radius pengamanan. Pemasangan kabel coaxial harus ditempatkan pada lokasi yang aman dan terhindar dari kemungkinan terjadinya kerusakan kabel tersebut.
51
Tabel 4.2 Radius Perlindungan Penangkal Petir EF Lightning Control System
Tinggi bangunan (m)
Radius proteksi (m)
5 95 10 100 20 110 30 120 40 130 50 140 60 150 70 160 80 170 90 180 100 190 110 200
Gambar 4.5 Sudut perlindungan penangkal petir EF Lightning Control System
4.12 Pemilihan Bahan SPP
Adapun ukuran minimum bahan SPP (Sistem Penangkal Petir) yang dipakai di dalam standar ini untuk terminasi bumi adalah dapat dilihat pada tabel 4.3 dibawah ini.
52
Tabel 4.3 Dimensi minimum bahan SPP untuk penggunaan terminasi bumi
Tingkat Proteksi Bahan
Konduktor Penyalur (mm²)
I samppai IV
Cu 50 Al 70 Fe 80
SPP sebaiknya terbuat dari bahan yang tahan terhadap korosi seperti tembaga, alumunium, inox, dan baja galvanis.
• Sambungan antara bahan yang berbeda harus dihindari ataupun harus dilindungi.
• Bagian dari tembaga seharusnya tidak dipasang diatas bagian galvanis kecuali bagian tersebut dilindungi terhadap korosi.
Bagian dari tembaga seharusnya tidak dipasang diatas bagian galvanis kecuali bagian tersebut dilindungi terhadap korosi, Bahan SPP dan kondisi pemakaiannya adalah seperti dalam tabel 4.4 dibawah ini.
53
Tabel 4.4 Bahan SPP dan kondisi penggunaan
Bahan
Penggunaan Korosi Dalam
udara terbuka
Dalam tanah
Dalam
beton Resistan Meninggkat oleh
Elektrolit ik dengan
Tembaga
Padat berserabut
sebagai pelapis
Padat berserabut
sebagai pelapis
-
Terhadap banyak
bahan
Klorida konsentrasi
tinggi senyawa sulfur bahan
organik
-
Baja Padat Padat Padat Baik - Tembaga
Lalvanis
panas Berserabut
Walaupu n dalam tanah asam
Stainless steel
Padat
standed Padat -
Terhadap banyak
bahan
Air dengan larutan klorida
-
Alumuni um
Padat
berserabut - - Agen basis Tembaga
Lead
Padat sebagai pelapisan
Padat sebagai pelapisan
-
Sulfat konsentra
si tinggi
Tanah asam Tembaga
4.13 Logam Dalam Tanah dan Udara
Korosi akan terjadi pada suatu logam laju yang tergantung pada jenis logam dan lingkungannya.
54
Tabel 4.5 Dimensi minimum untuk bahan SPP
Tingkat Proteksi
Bahan Terminasi Udara
(mm²)
Konduktor Penyalur
(mm²)
Terminasi Bumi (mm²)
I Sampai IV
Cu 35 16 50 Al 70 25 - Fe 50 50 80
Tabel 4.6 Tebal minimum tebal lempengan logam atau pipa pada system terminasi udara
Tingkat Proteksi Bahan Ketebalan t
(mm)
I Sampai IV
Cu 4 Al 5 Fe 7
4.14 Kondisi Pemakaian Logam
Untuk mengurangi korosi pada suatu SPP langkah-langkah berikut yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
a. Hindarkan pemakaian logam yang tidak sesuai untuk lingkungan yang agresif.
b. Hindarkan kontak logam yang berlainan jenis, yang berbeda dalam sifat elektrokimia dan aktifitas galvanisnya.
55
c. Gunakan ukuran penampang atau pengisolasian dengan bahan yang sesuai konduktor, bilah IPP dan terminal hantaran dan untuk menyakinkan bahwa laju korosi akan sesuai dengan kondisi layanan.
d. Lakukan pengisian atau dengan bahan yang sesuai pada sambungan konduktor yang tidak dilas untuk menghindari kelembaban.
e. Selubungi, lapisi atau pasang isolasi yang sesuai pada logam yang sensitif terhadap uap atau cairan yang korosif dilokasi instalasi.
f. Pertimbangkan efek galvanis dari bahan logam lainnya, pada tempat elektroda bumi ditempatkan.
4.15 Konduktor Penyalur (Down Conductor)
Konduktor penyalur ke bawah merupakan konduktor yang menyalurkan arus petir yang diterima oleh terminasi udara baik itu vertical maupun horizontal untuk kemudian disalurkan menuju bumi. Mengingat arus petir sangat besar, maka konduktor penyalur yang disediakan sebaiknya lebih dari satu agar arus petir tersebut dapat terbagi-bagi.
Adapun syarat-syarat umum yang perlu diperhatikan di dalam memilih konduktor penyalur ke bawah (down conductor) adalah sebagai berikut:
• Konduktor penyalur eksternal sebaiknya dipasang antara terminasi udara dan system terminasi bumi
• Konduktor penyalur sebaiknya disambung pada titik simpul sambungan jaringan terminasi udara dan dipasang secara vertikal ke titik simpul dari sistem jaringan terminasi bumi
56
• Sistem terminasi udara, system konduktor penyalur, dan system terminasi bumi sebaiknya diselaraskan untuk menghasilkan lintasan arus petir sependek mungkin.
Spesifikasi konduktor penyalur ke bawah:
Bahan : Kabel koaksial Diameter konduktor penyalur : 1 inchi
Selubung konduktor penyalur : Pipa PVC Diameter selubung : 1,25 inchi
Klem yang menahan konduktor agar melekat pada dinding dipasang dengan jarak setiap klem 50 cm. Jarak konduktor dari dinding bangunan sebesar 10 cm.
Konduktor penyalur tersebut disanggah oleh suatu braket yang diletakkan ke tiang. secara detail, bentuk down conductor dapat dilihat pada gambar 4.6 - 4.7 berikut.
Gambar 4.6 Konduktor penyalur ke dinding
57
Bahan yang dipilih sebagai konduktor penyalur sianjurkan menggunakan tembaga, karena bahan ini tahan terhadap bahan yang menyebabkan korosi.
Setelah ditentukan jenis bahan, maka selanjutnya adalah menentukan luas penampang dari konduktor. Berdasarkan tabel 4.5, maka dapat ditentukan luas penampang minimum yang diperbolehkan adalah 16 mm². akan tetapi karena konduktor penyalur dihubungkan dengan terminasi bumi adalah 50 mm², maka luas penampang dari konduktor penyalur pun lebih baik jika disesuaikan dengan terminasi buminya.
Maka luas penampang konduktor penyalur yang dipilih adalah 50 mm².
Gambar 4.7 Penampang konduktor penyalur
4.16 Terminasi Bumi (Grounding System)
Seperti yang sudah diketahui bahwa fungsi dari system terminasi bumi adalah:
1. Menyalurkan arus petir ke bumi
2. Sebagai IPP (Ikatan Penyama Potensial) diantara konduktor penyalur
3. Mengendalikan potensial pada sekitar daerah konduktif bangunan yang dilindungi
58
4. Mencegah arus petir sewaktu menyambar pada permukaan bumi
Maka untuk memenuhi semua hal-hal yang disebutkan diatas, maka elektroda bumi pondasi dan elektroda bumi cincin dapat menjadi pilihan didalah menentukan metode sistem terminasi bumi. Dari jenis-jenis pembumian tersebut, susunan pembumian jenis B yaitu elektroda bumi cincin, sesuai digunakan pada proteksi bangunan jenis gedung. Elektroda pentanahan yang dipakai pada gedung Mall STC ada dua tipe seperti terlihat pada gambar 4.8 dan harus di Cadweld. Cadweld digunakan untuk menyatukan (las) konduktor BC (Bare Copper) pada instalasi Grounding.
Ukuran minimum kabel menurut tabel 4.5 adalah 50 mm². Maka kabel-kabel yang disambungkan pada elektroda pembumian adalah kabel tembaga 50 mm².
sedangkan elektroda pembumiannya dipilih yang juga terbuat dari tembaga. Panjang elektroda pembumian dipakai minimal adalah 3 meter.
Konduktor penyalur ke bawah merupakan konduktor yang menyalurkan arus petir yang diterima oleh terminasi udara baik itu vertical maupun horizontal untuk kemudian disalurkan menuju bumi. Mengingat arus petir sangat besar, maka konduktor penyalur yang disediakan sebaiknya lebih dari satu agar arus petir tersebut dapat terbagi-bagi.
Spesifikasi sistem pembumian :
Bahan konduktor pembumian : Tembaga Diameter konduktor pembumian : 50 mm2 Panjang konduktor : 6 meter Selubung konduktor pembumian : Pipa galvanis Diameter selubung : 1,25 inchi
59 Jarak pembumian dari bangunan : 4 meter Tahanan pembumian proteksi eksternal : 0,7Ω
Tahanan pembumian proteksi internal : 1,2Ω
Ukuran bak kontrol 40 x 40 x 40 cm dilengkapi dengan pengangkat.
Gambar 4.8 Konduktor penyalur ke bumi