• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN ARUS PUNCAK EKSPIRASI PADA ANAK SMP HARAPAN MANDIRI MEDAN TAHUN Oleh: SITI RAHMAH MUIZAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SKRIPSI HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN ARUS PUNCAK EKSPIRASI PADA ANAK SMP HARAPAN MANDIRI MEDAN TAHUN Oleh: SITI RAHMAH MUIZAH"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN ARUS PUNCAK EKSPIRASI PADA ANAK SMP HARAPAN

MANDIRI MEDAN TAHUN 2016

Oleh:

SITI RAHMAH MUIZAH 130100294

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2016

(2)

SKRIPSI

Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan Sarjana Kedokteran

Oleh :

SITI RAHMAH MUIZAH 130100294

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2016

(3)
(4)

ABSTRAK

Prevalensi anak obesitas pada kelompok umur 13 – 15 tahun di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 2,5 %. Obesitas merupakan faktor utama yang menyebabkan gangguan pernapasan, tidak hanya pada dewasa tetapi juga pada anak-anak. Penilaian status berat badan pada anak-anak dan remaja penting dilakukan untuk mencegah terjadinya obesitas. Status berat badan dapat dinilai dengan cara menghitung nilai indeks massa tubuh.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah hubungan antara indeks massa tubuh dengan arus puncak ekspirasi pada anak. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh anak SMP Harapan Mandiri Medan. Sampel penelitian diambil dengan metode non probability sampling jenis consecutive sampling.

Hasil penelitian didapatkan dari 80 orang anak dan diambil 48 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Nilai arus puncak ekspirasi paling rendah ditemukan pada anak dengan status gizi obese, yaitu 240 L/menit.

Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa indeks massa tubuh dengan arus puncak ekspirasi memiliki hubungan yang lemah [koefisien korelasi Pearson (r) = -0,504]. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi indeks massa tubuh maka semakin rendah nilai arus puncak ekspirasi.

Kata kunci : arus puncak ekspirasi, indeks massa tubuh, obesitas

(5)

iii

ABSTRACT

Prevalence of obese children between 13-15 years in Indonesia in 2013 is about 2.5%. Obesity is a major factor causing respiratory problems, not only in adults but also in children. Weight status calculation in children and adolescents is important to prevent obesity. Weight status can be assessed by calculating the body mass index values.

The purpose of this research is to determine the relationship between body mass index with the peak expiratory flow rate in children. Type of this research is analytic with cross-sectional design. The research population is all children in Junior High School Harapan Mandiri Medan. Samples were taken by the method of non probability sampling type consecutive sampling.

Results obtained from 80 children and retrieved 48 people who met the inclusion criteria. The value of the lowest peak expiratory flow rate was found in obese children, ie 240 L / min.

From this research, it can be concluded that the body mass index and peak expiratory flow has a weak relationship [the Pearson correlation coefficient (r) = -0.504]. These results indicate that the higher the body mass index, the lower the peak expiratory flow rate.

Key words : body mass index, obesity, peak expiratory flow rate

(6)

KATA PENGANTAR

Segala puji penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dengan judul “Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Arus Puncak Ekspirasi pada Anak SMP Harapan Mandiri Medan Tahun 2016”

sebagai tugas akhir dalam menyelesaikan pendidikan Sarjana Kedokteran.

Saya sangat menyadari bahwa tulisan ini mungkin masih jauh dari sempurna baik isi maupun bahasannya, dengan semua keterbatasan tersebut, saya berharap mendapat masukan yang bermanfaat demi kebaikan kita semua.

Dalam proses penyelesaian penelitian ini, penulis menerima bantuan dari banyak pihak. Untuk itu, penulis ingin menyampaikan terima kasih yang tidak terhingga kepada kedua orangtua penulis, H. Syukur Sihombing, S.E. dan Alm.

Hj. Rosmianti Hutasuhut yang telah membesarkan dengan penuh kasih sayang dan tiada bosan-bosannya mendoakan serta memberikan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Penelitian ini bisa diselesaikan akhirnya atas dukungan dari banyak pihak, kepada mereka penulis mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya, diantaranya:

1. Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp. S(K) selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

2. Dr. dr. Imam Budi Putra, MHA, Sp. KK selaku Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

3. dr. Zaimah Z. Tala, Sp. GK, selaku Wakil Dekan II Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

4. Dr. dr. Dina Keumala Sari, M. Gizi, Sp. GK selaku Wakil Dekan III Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

5. dr. Rini Savitri Daulay, M.Ked(Ped), Sp.A dan dr. Hotma Partogi

Pasaribu, M.Ked(OG), Sp.OG(K) selaku Dosen Pembimbing yang telah

memberi banyak arahan dan masukan kepada penulis sehingga ini dapat

terselesaikan dengan baik.

(7)

v

6. dr. Nurfida Khairina Arrasyid, M.Kes dan dr. Nova Zairina Lubis, M.Ked(DV), Sp.DV selaku dosen penguji yang telah memberikan banyak kritik dan saran yang membangun terhadap penelitian ini.

7. dr. Selvi Nafianti, M.Ked(Ped), Sp.A(K) selaku Dosen Pembimbing Akademi.

8. Ibu, kakak, abang dan adik penulis Budi Maryati, Siti Aisyah Mintania, Ismail Hasan, dan Siti Ameera Delima.

9. Staf - staf pengajar yang telah bersedia memberikan pengetahuan dan bimbingan selama saya mengikuti pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

10. Orang-orang terdekat penulis, M. C. Luthfi Siregar, Lela Khaibirunna, Kamilah Agita, Zakya Radhita, Indriani Nisfulaili, Novira Naili, Dzakirah Zahra, Astri Annisa, Ella Finarsih, Amanda Hannan, Novianti, Shafura Hanani, Rizkia Pratiwi, Adini Arifah, Zahrifa, Fiony dan Aisha Zasnamira yang membuat kehidupan perkuliahan penulis menjadi lebih berwarna.

11. Teman seperjuangan penulis Rycha Dwi S. yang selalu memberi semangat dan dorongan baik dalam keadaan suka maupun duka kepada penulis.

12. Pihak SMP Harapan Mandiri Medan yang telah mengizinkan diadakannya penelitian.

13. Semua pihak yang telah memberikan bantuan secara langsung maupun tidak langsung.

Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan.

Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan penelitian ini. Semoga penelitian ini bermanfaat bagi kita semua, memberi informasi dan manfaat dalam pengembangan ilmu kedokteran.

Medan, 20 Desember 2016 Penulis

Siti Rahmah Muizah

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN ... i

ABSTRAK ... ii

ABSTRACT ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

DAFTAR SINGKATAN ... xi

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 2

1.3. Tujuan Penelitian ... 3

1.3.1. Tujuan Umum ... 3

1.3.2. Tujuan Khusus... 3

1.4. Manfaat Penelitian ... 3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 4

2.1. Indeks Massa Tubuh ... 4

2.1.1 Definisi Indeks Massa Tubuh ... 4

2.1.2. Cara Menghitung Indeks Massa Tubuh ... 4

2.1.3. Kategori Indeks Massa Tubuh... 5

2.2. Ventilasi Paru ... 6

2.3. Volume dan Kapasitas Paru ... 7

2.4. Uji Fungsi Paru ... 9

2.4.1 Definisi Uji Fungsi Paru ... 9

2.4.2 Arus Puncak Ekspirasi ... 9

BAB 3 KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP, DAN HIPOTESIS PENELITIAN ... 14

3.1. Kerangka Teori Penelitian... 14

3.2. Kerangka Konsep Penelitian ... 15

3.3. Hipotesis Penelitian ... 15

BAB 4 METODE PENELITIAN ... 16

4.1. Rancangan Penelitian ... 16

4.1.1. Jenis penelitian ... 16

4.1.2. Lokasi dan Waktu Penelitian... 16

4.2. Populasi dan Sampel Penelitian ... 16

4.2.1. Populasi Penelitian ... 16

4.2.2. Sampel Penelitian ... 16

4.2.3. Kriteria Inklusi dan Kriteria Eksklusi ... 17

(9)

vii

4.2.4. Perkiraan Besar Sampel ... 17

4.3. Teknik Pengumpulan Data ... 18

4.4. Metode Pengolahan dan Analisa Data ... 18

4.5. Variabel dan Definisi Operasional ... 19

4.6. Perencanaan Waktu Penelitian ... 19

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 21

5.1. Hasil Penelitian ... 21

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 21

5.1.2. Deskripsi Data Penelitian ... 21

5.1.3. Karakteristik Sampel ... 21

5.1.4. Hasil Analisa Data ... 24

5.2. Pembahasan Hasil Penelitian ... 25

5.2.1. Insidensi Kejadian Obesitas ... 25

5.2.2. Hubungan Indeks Massa Tubuh dan Arus Puncak Ekspirasi ... 26

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 27

6.1. Kesimpulan ... 27

6.2. Saran ... 27

DAFTAR PUSTAKA ... 29

LAMPIRAN

(10)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

2.1 Kategori Indeks Massa Tubuh Menurut WHO ... 5

2.2. Kategori Indeks Massa Tubuh Menurut CDC ... 6

2.3. Kategori Indeks Massa Tubuh pada Anak-anak Usia 2 – 20 Tahun Menurut CDC... 6

2.4. Nilai Normal Arus Puncak Ekpirasi (APE) pada Anak Berdasarkan Tinggi Badan ... 13

4.1. Tabel Variabel dan Definisi Operasional ... 19

4.2. Tabel Rencana Waktu dan Tahapan Kegiatan Penelitian ... 20

5.1. Data Distribusi Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin ... 21

5.2. Data Distribusi Sampel Penelitian Berdasarkan Tinggi Badan ... 22

5.3. Data Distribusi Sampel Penelitian Berdasarkan Berat Bada ... 22

5.4. Data Distribusi Sampel Penelitian Berdasarkan Indeks Massa Tubuh ... 23

5.5. Data Distribusi Sampel Penelitian Berdasarkan Arus Puncak Ekspirasi (APE) ... 23

5.6. Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) Terhadap Arus Puncak

Ekspirasi (APE) pada Anak ... 24

(11)

ix

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

2.1. Pengaruh Volume Paru terhadap Arus Puncak Ekspirasi ... 10

3.1. Gambar Kerangka Teori Penelitian ... 14

3.2. Gambar Kerangka Konsep Penelitian ... 15

5.1. Scatter Plot Indeks Massa Tubuh (IMT) masing-masing sampel ... 24

5.2. Scatter Plot Arus Puncak Ekspirasi (APE) masing-masing sampel .. 25

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Curriculum Vitae Lampiran 2 Ethical Clearence Lampiran 3 Surat Izin Penelitian

Lampiran 4 Penjelasan Kepada Orangtua Lampiran 5 Persetujuan Setelah Penjelasan Lampiran 6 Data Induk

Lampiran 7 Hasil Uji Statistik

Lampiran 8 Kurva Pertumbuhan CDC untuk Anak Laki-laki

Lampiran 9 Kurva Pertumbuhan CDC untuk Anak Perempuan

(13)

xi

DAFTAR SINGKATAN

APE Arus Puncak Ekspirasi

CDC Centers for Disease and Prevention ERV Expiratory Reserve Volume

FEV Forced Expiratory Volume

IC Inspiratory Capacity

IMT Indeks Massa Tubuh

IRV Inspiratory Reserve Volume

NCHS National Center for Health Statistics

PFM Peak Flow Meter

PPOK Penyakit Paru Obstruktif Kronik

RV Residual Volume

SMP Sekolah Menengah Pertama

SPSS Statistic Package for Social Science

TLC Total Lung Capacity

TV Tidal Volume

VC Vital Capacity

WHO World Health Organization

(14)

1.1. Latar Belakang

Sistem respirasi mempunyai peranan penting dalam menjaga homeostasis tubuh dengan cara memfasilitasi pertukaran gas antara udara atmosfir, darah dan sel jaringan. Sistem ini juga membantu menyeimbangkan pH dari cairan tubuh. 1 Oleh sebab itu, jika sistem ini mengalami gangguan dapat berdampak pada sistem tubuh yang lain. Penyakit paru dan saluran respirasi semakin meningkat sehingga peran uji fungsi paru semakin penting untuk diagnosis, penilaian keberhasilan terapi, maupun meramalkan berbagai penyakit paru dan saluran respirasi. 2

Arus Puncak Ekspirasi (APE) dianggap sebagai indeks yang sederhana dan terpercaya dari uji fungsi paru untuk menilai fungsi ventilasi paru. 3 Arus Puncak Ekspirasi (APE) adalah laju aliran maksimum yang dihasilkan selama ekpirasi paksa, dimulai dari inflasi paru-paru secara maksimal. Laju arus puncak terutama mencerminkan aliran saluran udara yang besar dan tergantung pada usaha serta kekuatan otot. 4 Arus Puncak Ekspirasi (APE) dapat diukur menggunakan Peak Flow Meter (PFM). Peak Flow Meter adalah sebuah alat yang dapat dibawa, murah, dan dapat digenggam. Alat ini digunakan untuk mengukur kemampuan kita menghembuskan udara dari paru. 5 Pengukuran dilakukan dengan cara meminta penderita melakukan inspirasi maksimal lalu melakukan ekspirasi sekuat tenaga melalui alat tersebut. 4

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi Arus Puncak Ekspirasi (APE), antara lain: jenis kelamin, luas permukaan tubuh, obesitas, aktivitas fisik, postur, lingkungan, dan perbedaan jenis ras. Obesitas merupakan faktor utama yang menyebabkan gangguan pernapasan, tidak hanya pada dewasa tetapi juga pada anak-anak. 6

Obesitas merupakan masalah kesehatan dunia yang semakin sering

ditemukan di berbagai negara. Prevalensi overweight dan obesitas pada anak di

dunia meningkat dari 4,2% di tahun 1990 menjadi 6,7% di tahun 2010, dan

(15)

2

diperkirakan akan mencapai 9,1% di tahun 2020. 7 Pada tahun 2009-2010, di Amerika tercatat sekitar 16,9% anak dan remaja antara 2-19 tahun mengalami obesitas. 8 Prevalensi obesitas pada kelompok usia 5 – 12 tahun di Indonesia sebesar 8,0%. Prevalensi obesitas di Provinsi Sumatera Utara pada kelompok usia tersebut tergolong lebih tinggi dari prevalensi nasional, yaitu sebesar 9,1%.

Sedangkan prevalensi obesitas di Indonesia pada kelompok umur 13 - 15 tahun adalah 2,5%. Prevalensi obesitas pada kelompok usia tersebut di Provinsi Sumatera Utara adalah 2,7%. 9 Oleh karena itu, pentingnya menilai status berat badan pada anak-anak dan remaja untuk mencegah terjadinya obesitas. Status berat badan dapat dinilai dengan cara menghitung nilai Indeks Massa Tubuh (IMT).

Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah berat badan seseorang dalam kilogram dibagi dengan tinggi badan dalam meter dikuadrat. Semakin tinggi nilai Indeks Massa Tubuh (IMT) menandakan tingginya lemak tubuh. Indeks Massa Tubuh (IMT) dapat digunakan untuk menentukan kategori berat badan. 10 Perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dewasa dan anak-anak berbeda. Pada anak-anak, Indeks Massa Tubuh (IMT) dihitung menggunakan kurva berdasarkan umur dan jenis kelamin. 11

Tingginya angka kejadian obesitas pada anak-anak dewasa ini membuat penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut apakah ada hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) pada anak dengan fungsi paru yang dimilikinya. Dalam hal ini penulis akan meneliti tentang hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Arus Puncak Ekspirasi (APE) pada anak.

1.2. Rumusan Masalah

Apakah ada hubungan antara indeks massa tubuh terhadap arus puncak

ekspirasi pada anak?

(16)

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara indeks massa tubuh terhadap arus puncak ekspirasi pada anak.

1.3.2. Tujuan Khusus

Yang menjadi tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui prevalensi obesitas pada anak

2. Untuk menilai arus puncak ekspirasi pada anak dengan indeks massa tubuh underweight, normal weight, overweight, dan obese.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan:

1. Untuk menambah pengetahuan peneliti dan kesempatan bagi peneliti untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat selama mengikuti perkuliahan di FK USU

2. Untuk memberitahukan kepada masyarakat efek buruk obesitas terhadap fungsi paru

3. Agar dapat menjadi sumber informasi dan dapat digunakan dalam

penelitian yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan

peneliti

(17)

4

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Indeks Massa Tubuh (IMT) 2.1.1. Definisi Indeks Massa Tubuh

Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah berat badan seseorang dalam kilogram dibagi dengan tinggi badan dalam meter dikuadrat. Indeks Massa Tubuh (IMT) diinterpretasikan dengan menggunakan kategori status berat badan standar untuk semua umur dan jenis kelamin. Semakin tinggi nilai Indeks Massa Tubuh (IMT) menandakan tingginya lemak tubuh. 10 Penghitungan Indeks Massa Tubuh (IMT) pada orang dewasa dan anak-anak sama, namun interpretasi hasilnya berbeda. 12 Pada anak-anak, Indeks Massa Tubuh (IMT) diinterpretasikan menggunakan kurva berdasarkan umur dan jenis kelamin. 11

2.1.2. Cara Menghitung Indeks Massa Tubuh

Indeks Massa Tubuh (IMT) dapat dihitung sebagai berat badan per tinggi badan dikuadrat bila berat badan dalam kilogram dan tinggi badan dalam meter.

Tinggi badan paling baik diukur dengan menggunakan stadiometer. 13

Pada anak-anak, Indeks Massa Tubuh (IMT) diinterpretasikan menggunakan kurva pertumbuhan CDC 2000 (Centers for Disease and Prevention). Kurva pertumbuhan CDC 2000 merupakan revisi dari kurva pertumbuhan NCHS (National Center for Health Statistics) tahun 1977. 14

Cara memplot hasil Indeks Massa Tubuh (IMT) pada kurva CDC 2000 dengan cara : 15

1. Temukan usia anak pada sumbu horizontal kurva. Tarik garis vertikal

dari titik tersebut

(18)

2. Temukan hasil Indeks Massa Tubuh (IMT) yang sesuai pada sumbu vertikal. Tarik garis horizontal dari titik tersebut sampai berpotongan dengan garis vertikal sebelumnya.

3. Buat sebuah titik kecil dimana kedua garis tersebut berpotongan.

Cara menginterpretasikan Indeks Massa Tubuh (IMT) pada anak-anak usia 2-20 tahun dengan cara menentukan posisi presentil titik perpotongan tersebut. Presentil digambarkan dengan garis melengkung yang mengindikasikan peringkat dari Indeks Massa Tubuh (IMT)

2.1.3. Kategori Indeks Massa Tubuh

Menurut WHO, Indeks Massa Tubuh (IMT) pada orang dewasa di atas 20 tahun dapat dibagi menjadi 6 kategori, yaitu: underweight, normal weight, pre- obesity, obesity class I, obesity class II, dan obesity class III. 12 Sedangkan menurut CDC, untuk dewasa di atas 20 tahun Indeks Massa Tubuh (IMT) hanya terbagi menjadi 4 kategori, yaitu: underweight, normal, overweight, dan obese. 16

Tabel di bawah ini menunjukkan pembagian Indeks Massa Tubuh (IMT) menurut WHO dan CDC pada orang dewasa di atas 20 tahun.

Tabel 2.1. Kategori Indeks Massa Tubuh Menurut WHO

IMT Status Nutrisi

< 18,5 Underweight

18,5 – 24,9 Normal Weight

25,0 – 29,9 Pre-obesity

30,0 – 34,9 Obesity Class I

35,0 – 39,9 Obesity Class II

> 40 Obesity Class III

(19)

6

Tabel 2.2. Kategori Indeks Massa Tubuh Menurut CDC

IMT Status Berat Badan

< 18,5 Underweight

18,5 – 24,9 Normal Weight

25,0 – 29.9 Overweight

> 30,0 Obese

Penghitungan Indeks Massa Tubuh (IMT) pada anak-anak sama seperti penghitungan Indeks Massa Tubuh (IMT) orang dewasa, tetapi cara menginterpretasikannya berbeda. Pada orang dewasa, kategori Indeks Massa Tubuh (IMT) tidak berpengaruh pada usia dan jenis kelamin. Pada anak-anak usia 2-20 tahun hal tersebut dipengaruhi oleh umur dan jenis kelamin, karena jumlah lemak tubuh berubah seiring pertambahan umur dan perbedaan jenis kelamin. 15

Tabel di bawah ini menunjukkan pembagian kategori Indeks Massa Tubuh (IMT) pada anak usia 2-20 tahun menurut CDC.

Tabel 2.3. Kategori Indeks Massa Tubuh pada anak-anak usia 2-20 tahun Menurut CDC

Peringkat Persentil Status Berat Badan

< persentil ke-5 Underweight

persentil ke-5 < IMT < persentil ke-85 Normal Weight persentil ke-85 < IMT < persentil ke-

95

Overweight

≥ persentil ke-95 Obese

2.2. Ventilasi Paru

Tujuan utama pernapasan adalah untuk menyediakan oksigen ke jaringan dan mengangkut karbon dioksida. Sistem pernapasan memiliki empat fungsi utama, yaitu: 17

1. Ventilasi paru, merupakan pergantian udara antara atmosfir dan alveolus paru.

2. Difusi oksigen dan karbon dioksida antara alveoli dan darah.

(20)

3. Pengangkutan oksigen dan karbon dioksida dalam darah dan cairan tubuh ke dan dari sel jaringan tubuh.

4. Pengaturan ventilasi

Ventilasi paru adalah gerakan fisik udara keluar dan kedalam saluran pernapasan. Fungsi utama ventilasi paru adalah untuk mempertahankan ventilasi alveolar yang adekuat. Ventilasi alveolar adalah gerakan udara keluar dan kedalam alveoli.Ventilasi alveolar mencegah penumpukan karbon dioksida di alveoli, serta memastikan persediaan oksigen untuk mempertahankan absorpsi di pembuluh darah. 18 Cara sederhana untuk mempelajari ventilasi paru dengan merekam pergerakan volume udara ke dan dari paru-paru. 17

2.3. Volume dan Kapasitas Paru

Istilah '' volume paru-paru '' biasanya mengacu pada volume gas yang ada dalam paru-paru. 19 Sementara kapasitas paru adalah jumlah dua atau lebih volume paru. Volume dan kapasitas paru yang dapat diukur adalah sebagai berikut: 20

1. Volume alun napas (Tidal Volume, TV)

Volume udara yang masuk atau keluar paru selama satu kali bernafas.

Nilai rerata pada kondisi istirahat = 500 ml

2. Volume cadangan inspirasi (Inspiratory Reserve Volume, IRV)

Volume udara tambahan yang dapat secara maksimal dihirup di atas volume alun napas istirahat. Volume ini dapat dicapai oleh kontraksi maksimal diafragma, otot interkostal eksterna, dan otot inspirasi tambahan. Nilai rerata = 3000 ml

3. Volume cadangan ekspirasi (Expiratory Reserve Volume, ERV)

Volume udara tambahan yang dapat secara aktif dikeluarkan dengan

mengontraksikan secara maksimal otot-otot ekspirasi melebihi udara

yang secara normal dihembuskan secara pasif pada akhir volume alun

napas istirahat. Nilai rerata = 1000 ml

(21)

8

4. Volume residual (Residual Volume, RV)

Volume udara minimal yang tertinggal di paru bahkan setelah ekspirasi maksimal. Nilai rerata = 1200 ml. Volume residual tidak dapat diukur secara langsung dengan spirometer, karena volume udara ini tidak keluar dan masuk paru. Namun, volume ini dapat ditentukan secara tidak langsung melalui teknik pengenceran gas yang melibatkan inspirasi sejumlah tertentu gas penjejak tak berbahaya misalnya helium

5. Volume ekspirasi paksa dalam satu detik (Forced Expiratory Volume in one second, FEV 1 )

Volume udara yang dapat dihembuskan selama detik pertama ekspirasi dalam suatu penentuan kapasitas vital. Biasanya FEV 1

adalah sekitar 80% dari kapasitas vital

6. Kapasitas inspirasi (Inspiratory Capacity, IC)

Volume udara maksimal yang dapat dihirup pada akhir ekspirasi tenang normal (IC=IRV+TV). Nilai rerata = 3500 ml

7. Kapasitas residual fungsional (Functional Residual Capacity, FRC) Volume udara di paru pada akhir ekspirasi pasif normal (FRC=ERV+RV). Nilai rerata = 2200 ml

8. Kapasitas vital (Vital Capacity, VC)

Volume udara maksimal yang dapat dikeluarkan dalam satu kali bernafas setelah inspirasi maksimal. Subyek pertama-tama melakukan inspirasi maksimal lalu ekspirasi maksimal (FC=IRV+TV+ERV). VC mencerminkan perubahan volume maksimal yang dapat terjadi pada paru. Hal ini jarang digunakan, karena kontraksi otot maksimal yang terlibat melelahkan, tetapi berguna untuk memastikan kapasitas fungsional paru. Nilai rerata = 4500 ml

9. Kapasitas paru total (Total Lung Capacity, TLC)

Volume udara maksimal yang dapat ditampung oleh paru

(TLC=VC+RV). Nilai rerata = 5700 ml

(22)

2.4. Uji Fungsi Paru

2.4.1. Definisi Uji Fungsi Paru

Uji fungsi paru adalah alat untuk mengevaluasi sistem pernapasan, kelainan yang terkait riwayat penyakit pasien, penelitian berbagai pencitraan paru dan uji invasif seperti bronkoskopi dan biopsi terbuka paru. 21 Uji fungsi paru yang paling sederhana adalah ekspirasi paksa. Uji tersebut juga merupakan salah satu uji yang paling informatif dan hanya membutuhkan sedikit peralatan serta mudah dihitung. 22 Uji fungsi paru menentukan bagaimana udara dalam paru-paru dapat bertahan, seberapa cepat udara berpindah dari ke dan dari paru-paru, dan seberapa baik paru-paru mengambil oksigen dan membuang karbon dioksida dari darah. 23

Uji fungsi paru dilakukan untuk: 24

1. Membandingkan fungsi paru dengan nilai normal uji fungsi paru dan memperlihatkan seberapa baik kerja paru-paru dari yang seharusnya 2. Melihat efek dari penyakit kronis seperti asma, penyakit paru

obstruktif kronik (PPOK), atau fibrosis kistik pada fungsi paru

3. Mengidentifikasi perubahan awal fungsi paru yang menunjukkan perlunya perubahan dalam pengobatan

4. Menemukan adanya penyempitan jalan napas

5. Menentukan apakah obat (seperti bronkodilator) dapat bermanfaat jika digunakan

6. Memperlihatkan apakah paparan zat-zat di sekitar rumah dan di tempat kerja membahayakan paru-paru

7. Menentukan kemampuan seseorang dalam mentolerir operasi dan prosedur medis

2.4.2. Arus Puncak Ekpirasi

Arus Puncak Ekspirasi (APE) dapat dijadikan salah satu uji untuk menentukan fungsi paru. Arus Puncak Ekpirasi (APE) adalah kecepatan aliran maksimum selama ekpirasi paksa yang dimulai dari kapasitas paru total. 22

Saat volume paru dalam keadaan maksimal, arus ekspirasi meningkat

dengan meningkatnya tenaga untuk melakukan ekspirasi. Arus puncak ekspirasi

(23)

10

hanya bisa didapatkan dengan melakukan ekspirasi sekuat tenaga, maka arus ekspirasi tidak dapat ditingkatkan lagi walaupun dengan peningkatan tenaga. 25 Arus Puncak Ekpirasi (APE) merupakan sebuah pengukuran sederhana untuk menilai seberapa cepat udara keluar dari paru-paru. 26

Gambar 2.1. Pengaruh volume paru terhadap aliran udara ekspirasi maksimum, memperlihatkan penurunan aliran udara ekspirasi maksimum seiring dengan mengecilnya volume paru. 27

Gambar 1 menunjukkan arus puncak ekspirasi pada semua nilai volume paru setelah seseorang yang sehat mula -mula menghirup udara sebanyak mungkin, dan kemudian mengeluarkannya dengan upaya ekspirasi maksimum sampai dia tidak bisa mengeluarkan udara lebih banyak lagi. Perhatikan bahwa orang tersebut dengan cepat mencapai arus puncak ekspirasi lebih dari 400 L/menit. Namun, berapapun upaya ekspirasi tambahan yang dilakukannya, nilai ini tetap merupakan nilai arus puncak ekspirasinya. 27

Arus Puncak Ekpirasi (APE) dapat dihitung dengan menggunakan

spirometri, merupakan sebuah alat yang digunakan untuk mengitung seberapa

(24)

banyak dan seberapa cepat udara dapat dimasukkan dan dikeluarkan oleh paru- paru. Spirometri dapat digunakan di rumah sakit, praktik dokter, dan klinik kesehatan. 28 Dalam keseharian biasanya digunakan sebuah alat kecil yang dapat digenggam untung mengukur Arus Puncak Ekpirasi (APE), alat ini dikenal sebagai Peak Flow Meter. 29

Peak Flow Meter bekerja atas dasar mekanis. Deras arus udara diukur dengan gerakan piston yang terdorong oleh arus udara yang ditiupkan melalui pipa peniup. Piston akan mendorong jarum penunjuk. Karena piston dikaitkan dengan sebuh pegas, maka setelah arus berhenti, oleh gaya tarik balik (recoil) piston tertarik ke kedudukan semula dan jarum penunjuk tertinggal pada titik tunjuk jarum penunjuk. 30

Cara menggunakan Peak Flow Meter adalah sebagai berikut: 28

1. Sebelum digunakan, pastikan jarum penunjuk pada Peak Flow Meter berada pada angka 0

2. Pegang alat Peak Flow Meter pada pegangannya 3. Berdiri tegak

4. Buang permen karet, permen, atau makanan dari mulut

5. Tarik napas yang dalam dan letakkan mouthpiece ke dalam mulut.

Tutup rapat kedua bibir hingga menutupi keseluruhan mouthpiece 6. Hembuskan napas sekuat dan secepat mungkin

7. Tandai posisi dimana jarum penunjuk berhenti pada skala 8. Posisikan jarum penunjuk kembali pada angka 0

9. Ulangi prosedur di atas sebanyak tiga kali. Hasil dari ketiga penilaian tersebut seharusnya hampir sama. Jika tidak, perbaiki teknik hembusannya.

10. Jika terbatuk saat melakukan pengambilan data, ulangi kembali proses tersebut

11. Catat hasil tertinggi diantara ketiganya. Jangan mengambil nilai rata-

rata ketiganya. Hasil tertinggi merupakan nilai dari Arus Puncak

Ekpirasi (APE).

(25)

12

Nilai Arus Puncak Ekpirasi (APE) dikatakan normal disesuaikan dengan jenis kelamin, usia, dan tinggi badan. Ada tiga zona yang biasa digunakan untuk menginterpretasikan hasil Arus Puncak Ekpirasi (APE). Zona tersebut dibagi menjadi: 5

1. Zona hijau

Zona hijau merupakan zona aman. Pada zona ini, Arus Puncak Ekpirasi (APE) menunjukkan angka 80 sampai 100 persen dari nilai Arus Puncak Ekpirasi (APE) normal.

2. Zona kuning

Pada zona ini, Arus Puncak Ekpirasi (APE) menunjukkan angka 50 sampai 80 persen dari nilai Arus Puncak Ekpirasi (APE) normal dan menandakan suatu peringatan. Hal ini menandakan saluran pernapasan sudah mengalami penyempitan dan membutuhkan penanganan lebih lanjut.

3. Zona merah

Zona ini merupakan zona bahaya. Arus Puncak Ekpirasi (APE) pada zona ini bernilai kurang dari 50 persen dari Arus Puncak Ekpirasi (APE) normal. Hal ini menandakan adanya penyempitan saluran pernapasan yang berat dan diperlukan tindakan sesegera mungkin.

Arus Puncak Ekpirasi dinyatakan dalam L/menit. 31 Nilai normal Arus Puncak Ekpirasi (APE) tergantung pada tinggi badan seseorang.

Nilai normal Arus Puncak Ekpirasi (APE) dintunjukkan pada tabel di

bawah ini:

(26)

Tabel 2.4. Nilai Normal Arus Puncak Ekpirasi (APE) pada Anak Berdasarkan Tinggi Badan 32

Tinggi Badan (meter)

Prediksi Arus Puncak Ekspirasi

(L/menit)

Tinggi Badan (meter)

Prediksi Arus Puncak Ekspirasi

(L/menit)

0,85 87 1,30 212

0,90 95 1,35 233

0,95 104 1,40 254

1,00 115 1,45 276

1,05 127 1,50 299

1,10 141 1,55 323

1,15 157 1,60 346

1,20 174 1,65 370

1,25 192 1,70 393

Ada beberapa hal yang mempengaruhi Arus Puncak Ekspirasi (APE),

yaitu: jenis kelamin, luas permukaan tubuh, obesitas, aktivitas fisik, postur,

lingkungan, polusi, dan perbedaan ras. Faktor-faktor dasar yang berperan dalam

Arus Puncak Ekpirasi (APE) adalah usaha secara sadar, kekuatan otot-otot

pernapasan, kekuatan untuk kontraksi yang dihasilkan, volume paru, ukuran jalan

napas, dan kekuatan elastisitas paru. Dari segi fisik, tinggi badan, berat badan, dan

lingkar dada merupakan faktor utama yang menentukan nilai Arus Puncak

Ekspirasi (APE). Dalam keadaan patologis, Arus Puncak Ekpirasi (APE)

dipengaruhi oleh keutuhan sistem saraf, obstruksi jalan napas ekstratoraks, dan

malnutrisi kronis. 6

(27)

14

Gambar 3.1. Kerangka Teori Penelitian

BAB 3

KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1. Kerangka Teori Penelitian

Indeks Massa Tubuh

Arus Puncak Ekspirasi

Faktor yang mempengaruhi APE:

1. Jenis kelamin

2. Luas permukaan tubuh 3. Obesitas

4. Aktivitas fisik 5. Postur

6. Lingkungan 7. Polusi 8. Ras

Underweight

Normal weight

Overweight

Obese

Zona APE:

1. Zona Hijau 2. Zona Kuning 3. Zona Merah

Kategori

(28)

3.2. Kerangka Konsep Penelitian

Atas dasar latar belakang masalah dan tinjauan pustaka diatas, dapat disusun kerangka konsepsional peneliti sebagai berikut :

Gambar 3.2. Kerangka Konsep Penelitian 3.3. Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian ini adalah terdapat hubungan indeks massa tubuh anak terhadap arus puncak ekspirasi pada anak.

Indeks Massa Tubuh

Arus puncak ekspirasi pada

anak

(29)

16

BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1. Rancangan Penelitian 4.1.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian untuk mengetahui hubungan indeks massa tubuh dengan nilai arus puncak ekspirasi pada anak. Desain penelitian yang digunakan adalah desain cross sectional studi, yaitu melakukan penelitian hubungan indeks massa tubuh anak terhadap nilai arus puncak ekspirasi anak dengan menggunakan Peak Flow Meter (PFM), timbangan badan, dan stadiometer.

4.1.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Harapan Mandiri Medan, Kecamatan Medan Johor, Provinsi Sumatera Utara. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2016 hingga Desember 2016 dengan pengambilan data dimulai dari bulan Agustus 2016 hingga September 2016.

4.2. Populasi dan Sampel Penelitian 4.2.1. Populasi Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah anak yang bersekolah di SMP Harapan Mandiri Medan pada bulan Juli 2016 – Desember 2016.

4.2.2. Sampel Penelitian

Sampel dalam penelitian ini adalah anak kelas VIII yang

bersekolah di SMP Harapan Mandiri Medan pada bulan Juli 2016 -

Desember 2016 yang memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Cara

pemilihan sampel dilakukan dengan metode non probability sampling jenis

consecutive sampling. Pada consecutive sampling setiap subyek yang

(30)

memenuhui kriteria penelitian dimasukkan sampai kurun waktu tertentu, sehingga jumlah subyek yang diperlukan terpenuhi.

4.2.3. Kriteria Inklusi dan Kriteria Eksklusi

Adapun kriteria inklusi dan kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah:

a. Kriteria Inklusi

1. Anak usia 13 – 15 tahun

2. Orangtua bersedia mengisi inform consent

3. Bersedia dan mampu melakukan uji fungsi paru dengan alat Peak Flow Meter

b. Kriteria Eksklusi

1. Penderita penyakit asma 2. Anak perokok aktif 3. Anak tidak kooperatif

4. Dalam kondisi batuk, sakit tenggorokan dan memiliki Otitis Media Supuratif Kronik (OSMK)

4.2.4. Perkiraan Besar Sampel

Perkiraan besar sampel ditentukan dengan rumus:

Keterangan:

= Nilai Z untuk kesalahan tipe I [ditetapkan]

= Nilai Z untuk kesalahan tipe II [ditetapkan]

r = koefisien korelasi [berdasarkan jurnal terkait]

(31)

18

Keterangan:

= 1,96 = 1,282 r = 0,5

Dari perhitungan di atas, didapatkan besar sampel minimum dalam penelitian ini adalah sebanyak 38 sampel.

4.3. Teknik Pengumpulan Data

Data yang digunakan adalah data primer. Data primer diperoleh / diukur dengan menggunakan timbangan badan, stadiometer, dan Peak Flow Meter.

4.4. Metode Pengolahan dan Analisa Data

Data yang diperoleh dari penelitian ini akan diproses dan dianalisis dengan menggunakan software SPSS (Statistic Package for Social Science). Interval kepercayaan yang digunakan adalah 95% dan disebut bermakna apabila p < 0,05.

Untuk menilai adanya pengaruh indeks massa tubuh terhadap arus puncak

ekspirasi pada anak digunakan uji korelasi.

(32)

4.5. Variabel dan Deinisi Operasional

Tabel 4.1. Tabel Variabel dan Definisi Operasional Variabel Independen

No Variabel Definisi Operasional

Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur

Skala Ukur 1 Indeks

massa tubuh

Berat badan dalam kilogram dibagi

dengan tinggi badan dalam meter

dikuadrat

Menghitung IMT dengan cara berat badan dalam kilogram dibagi tinggi badan dalam meter

dikuadrat

Timbangan badan dan stadiometer

Kg/m 2 Numerik

Variabel Dependen

No Variabel Definisi Operasional

Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur

Skala Ukur 1 Arus

puncak ekspirasi

Laju aliran maksimum yang dihasilkan selama ekpirasi paksa, dimulai dari inflasi paru- paru secara maksimal

Melihat nilai arus puncak ekspirasi

Peak Flow Meter

L/menit Numerik

4.6. Perencanaan Waktu Penelitian

Kegiatan penelitian dimulai dari pembuatan proposal hingga hasil

penyusunan hasil dan direncanakan akan dilakukan dalam 10 bulan. Penelitian

dilakukan mulai bulan Maret 2016 hingga Desember 2016. Tahapan dan waktu

kegiatan penelitian akan diuraikan pada tabel dibawah ini.

(33)

20

Tabel 4.2. Rencana Waktu dan Tahapan Kegiatan Penelitian

Kegiatan

Tahun 2016

Bulan Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Bimbingan dan pembuatan

proposal

Seminar proposal Penelitian lapangan

Bimbingan, pengolahan data

dan penyusunan hasil penelitian

Presentasi hasil penelitian

(34)

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penilitian

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Sekolah Menengah Pertama Harapan Mandiri Medan. Sekolah ini memiliki jenjang dari tingkat TK sampai SMA/SMK. Sekolah Menengah Pertama Harapan Mandiri terletak di Jalan Brigadir Jenderal Zein Hamid No. 40, Kelurahan Titi Kuning, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan.

5.1.2. Deskripsi Data Penelitian

Data penelitian yang digunakan adalah data primer. Data primer diperoleh / diukur dengan menggunakan Peak Flow Meter, timbangan berat badan, dan stadiometer. Jumlah data keseluruhan yang didapat adalah 48 buah dan yang memenuhi kriteria inklusi adalah 48 buah.

5.1.3. Karakteristik Sampel

Pada penelitian ini, karakteristik sampel yang ada dapat dibedakan berdasarkan jenis kelamin, tinggi badan, berat badan, Indeks Massa Tubuh (IMT), dan Arus Puncak Ekspirasi (APE). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel dibawah ini.

Tabel 5.1. Data Distribusi Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin

Jumlah (orang) Persentase

Laki-laki 23 47,9

Perempuan 25 52,1

Total 48 100,0

Berdasarkan tabel 5.1. dapat dilihat jumlah sampel laki-laki lebih sediki daripada

perempuan, yaitu 23 orang (47,9%) laki-laki dan 25 orang (52,1%) perempuan.

(35)

22

Tabel 5.2. Data Distribusi Sampel Penelitian Berdasarkan Tinggi Badan

Jumlah (orang) Persentase

(130 – 135) cm 1 2,1

(136 – 140) cm 5 10,4

(141 – 145) cm (146 – 150) cm

3 15

6,25 31,25

(151 – 155) cm 14 29,2

(156 – 160) cm 6 12,5

(161 – 165) cm 4 8,3

Total 48 100,0

Berdasarkan tabel 5.2. dapat dilihat bahwa mayoritas sampel memiliki tinggi badan (146 - 150) cm, yaitu sejumlah 15 orang (31,25%). Sedangkan minoritas sampel memiliki tinggi badan (130 – 135) cm sejumlah 1 orang (2,1%).

Tabel 5.3. Data Distribusi Sampel Penelitian Berdasarkan Berat Badan

Jumlah (orang) Persentase

(25 – 32) kg 7 14,6

(33 – 40) kg 7 14,6

(41 – 48) kg 8 16,7

(49 – 56) kg 16 33,3

(57 – 64) kg 6 12,5

(65 – 72) kg 3 6,25

(73 – 80) kg 1 2,1

Total 48 100,0

Berdasarkan tabel 5.3. dapat dilihat bahwa mayoritas sampel memiliki berat badan

(49 - 56) kg sejumlah 16 orang (33,3%). Sedangkan minoritas sampel memiliki

berat badan (73 – 80) kg sejumlah 1 orang (2,1%).

(36)

Tabel 5.4. Data Distribusi Sampel Penelitian Berdasarkan Indeks Massa Tubuh Jumlah (orang) Persentase

< persentil ke-5 (Underweight) 14 29,2 persentil ke-5 < IMT < persentil ke-85 (Normal

Weight)

27 56,25

persentil ke-85 < IMT < persentil ke-95 (Overwight)

6 12,5

≥ persentil ke-95 (Obese) 1 2,1

Total 48 100,0

Berdasarkan tabel 5.4. dapat dilihat mayoritas sampel memiki Indeks Massa Tubuh diantara persentil ke-5 dan persentil ke-85 (Normal Weight) sejumlah 27 orang (56,25%). Sedangkan minoritas sampel memiliki Indeks Masa Tubuh diatas atau sama dengan persentil ke-95 (Obese) sejumlah 1 orang (2,1%).

Tabel 5.5. Data Distribusi Sampel Penelitian Berdasarkan Arus Puncak Ekspirasi (APE)

Jumlah (orang) Persentase

(200 – 228) L/menit 2 4,2

(229 – 257) L/menit 3 6,25

(258 – 286) L/menit 6 12,5

(287 – 315) L/menit 11 22,9

(316 – 344) L/menit 8 16,7

(345 – 373) L/menit 7 14,6

(374 – 402) L/menit 11 22,9

Total 48 100,0

Berdasarkan tabel 5.5. dapat dilihat bahwa mayoritas sampel memiliki Arus

Puncak Ekspirasi (287 – 315) L/menit dan (374 – 402) L/menit, masing-masing

berjumlah 11 orang (22,9%). Sedangkan minoritas sampel memiliki Arus Puncak

Ekspirasi (200 – 228) L/menit, yaitu sejumlah 2 orang (4,2%).

(37)

24

Tabel 5.6. Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) Terhadap Arus Puncak Ekspirasi (APE) pada Anak

Indeks Massa Tubuh N Mean (SD)

Underweight 14 338,57 (40,54)

Normal Weight 27 330,37 (53,81)

Overweight 6 266,67 (25,03)

Obese 1 240

Total 48 322,92 (52,71)

Berdasarkan tabel 5.6. anak dengan Indeks Massa Tubuh Underweight berjumlah 14 orang dan memiliki nilai rata-rata Arus Puncak Ekspirasi sebesar (338,57±40,54) L/menit, anak dengan Indeks Massa Tubuh Normal Weightt berjumlah 27 orang dan memiliki nilai rata-rata Arus Puncak Ekspirasi sebesar (330,37±53,81) L/menit, anak dengan Indeks Massa Tubuh Overweight berjumlah 6 orang dan memiliki nilai rata-rata Arus Puncak Ekspirasi sebesar (266,67±25,03) L/menit, dan anak dengan Indeks Massa Tubuh Obese memiliki nilai Arus Puncak Ekspirasi sebesar 240 L/menit.

5.1.4. Hasil Analisis Data

Penelitian ini bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya hubungan antara Indeks Massa Tubuh terhadap Arus Puncak Ekspirasi pada Anak. Data hasil penelitian dapat dilihat pada diagram berikut ini:

Gambar 5.1. Scatter Plot Indeks Massa Tubuh (IMT) masing-masing

sampel

(38)

Gambar 5.2. Scatter Plot Arus Puncak Ekspirasi (APE) masing-masing sampel

Setelah dilakukan uji Pearson (dalam hal ini uji Pearson dapat digunakan karena p>0,05 yang berarti berdistribusi normal) maka didapatkan Indeks Massa Tubuh dengan Arus Puncak Ekspirasi memiliki hubungan yang lemah [koefisien korelasi Pearson (r) = -0,504].

5.2. Pembahasan Hasil Penelitian 5.2.1. Insidensi Kejadian Obesitas

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, dari seluruh sampel sebesar 48 anak dengan usia rata-rata 13 tahun, diketahui 27 anak atau sebesar 56,25%

anak memiliki Indeks Massa Tubuh dengan status berat badan Normal Weight.

Sedangkan, 14 anak atau sebesar 29,2% anak memiliki Indeks Massa Tubuh dengan status berat badan Underweight, 6 anak atau 12,5% anak memiliki Indeks Massa Tubuh dengan status berat badan Overweight, dan 1 orang anak atau 2,1%

anak memiliki Indeks Massa Tubuh dengan status berat badan Obese. Hasil ini

sejalan dengan penelitian dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Kementrian Kesehatan RI yang menyatakan bahwa prevalensi obesitas di

Indonesia pada kelompok umur 13 - 15 tahun adalah 2,5% dan prevalensi obesitas

pada kelompok usia tersebut di Provinsi Sumatera Utara adalah 2,7%. 9

(39)

26

5.2.2. Hubungan Indeks Massa Tubuh dan Arus Puncak Ekspirasi

Berdasarkan hasil uji Pearson yang telah dilakukan pada penelitian ini, didapatkan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Arus Puncak Ekspirasi (APE) memiliki hubungan yang lemah [koefisien korelasi Pearson (r) = -0,504]. Nilai ini menunjukkan bahwa semakin besar nilai Indeks Massa Tubuh (IMT) anak, maka semakin rendah nilai Arus Puncak Ekspirasi (APE) anak tersebut. Hasil ini sejalan dengan hasil yang didapatkan pada penelitian Gundogdu Z, et al., dimana dalam penelitian tersebut dikatakan bahwa dengan meningkatnya Indeks Massa Tubuh (IMT), maka Arus Puncak Ekspirasi (APE) semakin rendah. Hal ini menunjukkan bahwa obesitas merupakan faktor risiko yang penting dalam penurunan aliran udara dan fungsi paru pada anak-anak. 33

Hal yang sama juga dikatakan oleh Goswami B, et al., bahwa obesitas merupakan faktor utama yang menyebabkan gangguan pernapasan, tidak hanya pada dewasa tetapi juga pada anak-anak. 6

Pada penelitian ini ditemukan hubungan yang lemah antara Indeks Masa

Tubuh dan Arus Puncak Ekspirasi. Hal ini dapat disebabkan oleh karena banyak

faktor yang dapat menyebabkan penurunan fungsi paru, antara lain: jenis kelamin,

luas permukaan tubuh, aktivitas fisik, postur, lingkungan, dan perbedaan jenis

ras. 6

(40)

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan penelitian, maka dapat diambil kesimpulan mengenai hubungan antara indeks massa tubuh terhadap arus puncak ekspirasi pada anak, sebagai berikut:

1. Dalam hasil penelitian, disimpulkan insiden obesitas pada anak dengan usia rata-rata 13 tahun adalah 2,1%.

2. Arus puncak ekpirasi pada anak dengan indeks massa tubuh underweight memiliki nilai rata-rata sebesar (338,57±40,54) L/menit.

3. Arus puncak ekpirasi pada anak dengan indeks massa tubuh normal weight memiliki nilai rata-rata sebesar (330,37±53,81) L/menit.

4. Arus puncak ekpirasi pada anak dengan indeks massa tubuh overweight memiliki nilai rata-rata sebesar (266,67±25,03) L/menit.

5. Arus puncak ekpirasi pada anak dengan indeks massa tubuh obese memiliki nilai 240 L/menit.

6. Dari hasil analisis korelasi, berdasarkan uji Pearson yang telah dilakukan pada penelitian ini, didapatkan bahwa Indeks Massa Tubuh dengan Arus Puncak Ekspirasi memiliki hubungan yang lemah [koefisien korelasi Pearson (r) = - 0,504].

6.2. Saran

1. Pihak sekolah sebaiknya memberikan materi tambahan mengenai pengaruh buruk obesitas terhadap kesehatan untuk siswanya.

2. Orangtua sebaiknya mengajarkan anak untuk mengkonsumsi makanan yang sehat, guna mengurai kejadian obesitas pada anak yang dapat membahayakan kesehatan anak.

3. Peneliti lain dapat meneliti lebih lanjut hubungan indeks massa tubuh

terhadap arus puncak ekspirasi pada anak, misalnya dengan menggunakan

metode case control dan dengan jumlah sampel yang lebih besar.

(41)

28

4. Peneliti lain dapat menggunakan cara yang lebih efektif untuk

mendapatkan hasil fungsi paru yang lebih aktual pada penelitian

selanjutnya

(42)

2. Siregar FZ. Perbandingan arus puncak ekspirasi sebelum dan sesudah latihan fisik pada anak obesitas dan tidak obesitas [Tesis]. Medan: Universitas Sumatera Utara. 2007. p: 3.

3. Manjareeka M, Mishra J, Nanda S, Mishra S, Mishra J. Assessment of peak expiratory flow rate in preadolescent children of sub-tribal communities in Odisha. Int J Clin Exp Physiol. 2014 Jun: 1(2):120-124.

4. Neuspiel DR. Peak flow rate measurement. Medscape; 2015. Available from:

http://emedicine.medscape.com/article/1413347-overview [diakses tanggal 13 April 2016].

5. American Lung Association. Lung health and diseases: Measuring Your Peak Flow Rate. Chicago: American Lung Association; 2016.

6. Goswami B, Roy AS, Dalui R, Bandyopadhyay A. Peak expiratory flow rate – a consistent marker of respiratory illness associated with childhood obesity.

Am journal sports sci med. 2014 Feb: 2(1):21-26

7. Sjarif DR, Gultom LC, Hendarto A, Lestari ED, Sidiartha GL, Mexitaia M.

Rekomendasi IDAI: Diagnosis, tata laksana dan pencegahan obesitas pada anak dan remaja. Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia;

2014. p: 1-2.

8. Fryar CD, Carroll MD, Ogden CL. Prevalence of obesity among children and adolescents: United States, Trends 1963–1965 Through 2009–2010. 2012 Sept. Available from:

https://www.cdc.gov/nchs/data/hestat/obesity_child_09_10/obesity_child_09 _10.pdf [diakses tanggal 13 April 2016].

9. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementran Kesehatan RI.

Riskesdas 2013 dalam angka. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI; 2013. p:

396 – 402.

10. Centers for Disease Control and Prevention. Body Mass Index (BMI):

Centers for Disease and Prevention; 2015

11. American Heart Association. BMI in Children. Dallas: American Heart Association; 2013.

12. World Health Organization. Body Mass Index – BMI. Denmark: World Health Organization Regional Office for Europe; 2016

13. Nelson WE. Pertumbuhan dan perkembangan. In: Behrman RE, Kilegman R, Arvib AM , editor. Nelson ilmu kesehatan anak. Wahab S, alih bahasa. Vol.1 15 th Edition. Jakarta: EGC; 1996. p: 81.

14. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Kurva pertembuhan CDC-2000 lengkap.

Jakarta Pusat: Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2015.

15. Centers for Disease and Prevention. Use and Interpretation of the WHO and CDC Growth Charts for Children from Birth to 20 Years in the United States;

2013. Available from:

(43)

30

http://www.cdc.gov/nccdphp/dnpao/growthcharts/resources/growthchart.pdf [diakses tanggal 17 April 2016].

16. Centers for Disease and Prevention. Body Mass Index: Considerations for Practitioners; 2015. Available from:

http://www.cdc.gov/obesity/downloads/BMIforPactitioners.pdf [diakses tanggal 17 April 2016].

17. Guyton AC, Hall JE. Pulmonary ventilation. In: Schmitt W, editor. Textbook of medical physiology. 11 st edition. Philadelphia: Elsevier Saunders; 2006. p:

471.

18. Martini FH, Nath JL, Bartholomew EF. Fundamentals of anatomy and physiology. 9 th edition. San Francisco: Pearson Education; 2012. p: 830.

19. Wanger J, Clausen JL, Coastes A, Pedersen OF, Brusasco V, Burgos F, et al.

Standardisation of the measurement of lung volumes. Eur Respir J. 2005:

26(3): 511-522.

20. Sherwood L. The respiratory system. In: Arbogast M, editor. Human physiology: from cells to systems. 7 th edition. California: Brooks/Cole, Cengage Learning; 2010. p: 479 – 480.

21. Harahap F, Aryastuti E. Uji Fungsi Paru. Continuing Medical Education.

2012 Oct: 39(4):305-307.

22. West J.B. Pulmonary Pathophysiology: The Essentials, 6th Ed. USA:

Lippincott Williams & Wilkins. 2003. Terjemahan dr. Cindy H. Nasrani.

Patofisiologi Paru Esensial, Ed.6. Jakarta: EGC. p: 220-234.

23. Thompson EG. Lung disease and respiratory health center: lung function tests. WebMD; 2014. Available from: http://www.webmd.com/lung/lung- function-tests [diakses tanggal 18 April 2016].

24. Fahy B, Sockrider M, Lareau S. Patien Information Series: Pulmonary Function Tests. American Thoracic Society: 2014. Available from:

http://www.thoracic.org/patients/patient-resources/resources/pulmonary- function-tests.pdf [diakses tanggal 18 April 2016].

25. Hansen JT, Koeppen BM. Netter’s Atlas of Human Physiology. 1 st Edition.

Philadelphia: W.B. Saunders Company; 2002.

26. National Health Service. Peak Flow Test. United Kingdom: National Health Service; 2015. Available from: http://www.nhs.uk/Conditions/peak-

flow/Pages/Introduction.aspx [diakses tanggal 18 April 2016].

27. Guyton AC, Hall JE. Respiratory Insufficiency - pathophysiology, diagnosis, oxygen therapy. In: Schmitt W, editor. Textbook of Medical Physiology. 11 st edition. Philadelphia: Elsevier Saunders; 2006. p: 525.

28. Johns Hopkins Medicine. Peak Flow Measurement. Baltimore: Johns Hopkins Medicine. 2016. Available from:

http://www.hopkinsmedicine.org/healthlibrary/test_procedures/pulmonary/pe ak_flow_measurement_92,p07755/ [diakses tanggal 20 April 2016].

29. National Health Service. Asthma – Diagnosis. United Kingdom: National Health Service; 2014. Available from:

http://www.nhs.uk/conditions/asthma/pages/diagnosis.aspx [diakses tanggal

20 April 2016].

(44)

30. Yanti F. Perbandingan arus puncak ekspirasi pada anak perokok pasif dan bukan perokok pasif [Tesis]. Medan: Program Magister Kedokteran Klinik- Spesialis Ilmu Kesehatan Anak Universitas Sumatera Utara. 2010. p: 7 – 8.

31. Sharma M, Sharma RB, Choudhary R. Peak expiratory flow rates in children of western rajastham 7-14 years of age. Pak J Physiol. 2012: 8(1):45-48.

32. Clement Clarke International. Paediatric normal values. Harlow: Clement Clarke International; 2016. Available from: http://www.clement-

clarke.com/Portals/0/Paediatric%20NV.pdf [diakses tanggal 20 April 2016].

33. Gundogu Z, Eryilmaz N. Correlation between peak flow and body mass index in obes and non-obese children in Kocaeli, Turkey. Prim Care Respir J. 2011;

20(4): 403 – 406.

(45)

Lampiran 1

CURRICULUM VITAE

Nama : Siti Rahmah Mu’izah

Tempat dan Tanggal Lahir : Medan, 3 Juli 1995

Agama : Islam

Alamat : Jl. Mekatani Gg. Pribadi No. 195A Marendal, Medan

Nomor Telepon : 081361531544

Nama Orang Tua : Ayah : H. Syukur Sihombing, S.E Ibu : Alm. Hj. Rosmianti Hutasuhut Riwayat Pendidikan :

1. Sekolah Dasar Negeri 007 Batam 2001-2007

2. Sekolah Menengah Pertama Negeri 6 Batam 2007-2010

3. Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Batam 2010-2012

(46)

Riwayat Organisasi :

1. Anggota Divisi Hubungan Masyarakat Tim Bantuan Medis FK USU 2015-2016

Riwayat Kepanitiaan : 1. Panitia Porseni FK USU 2015

2. Panitia Hari Gizi Nasional PEMA FK USU 2014

3. Panitia Seminar dan Workshop Basic Life Support Tim Bantuan Medis FK USU 2015

4. Panitia Pengabdian Masyarakat Akbar Tim Bantuan Medis FK USU 2015

5. Bendahara Pelaksana PKKMB FK USU 2016

(47)

Lampiran 2

(48)
(49)

Lampiran 4

PENJELASAN KEPADA ORANGTUA

Yth. Bapak / Ibu………

Perkenalkan nama saya Siti Rahmah Mu’izah, mahasiswi kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Saat ini saya sedang melakukan penelitian tentang “Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Arus Puncak Ekspirasi pada Anak SMP Harapan Mandiri Medan Tahun 2016”. Berdasarkan penelitian sebelumnya, jumlah anak yang memeliki berat badan berlebih semakin meningkat. Hal ini dapat berdampak pada kesehatan anak, salah satu efek buruknya dapat terjadi pada sistem pernapasan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan fungsi paru pada anak untuk melihat adakah hubungan indeks massa tubuh terhadap arus puncak ekspirasi pada anak. Indeks massa tubuh merupakan penilaian apakah berat badan anak berlebih atau tidak, dengan membandingkan berat badan terhadap tinggi badan anak. Pemeriksaan fungsi paru dilakukan dengan menggunakan Peak Flow Meter, dengan cara mengukur tinggi badan dahulu. Anak diajarkan cara menggunakan Peak Flow Meter, yaitu meminta anak untuk berdiri dengan posisi tegak lurus, kemudian Peak Flow Meter yang sudah dibersihkan dimasukkan kedalam mulut, dan anak diminta untuk menarik nafas dalam – dalam, lalu menghembuskan Peak Flow Meter dengan sekuat tenaga. Hal ini dilakukan sebanyak 3 kali dan nilai tertinggi dicatat sebagai nilai arus puncak ekspirasi.

Apabila Bapak / Ibu sudah memahami prosedur yang akan dilakukan dan bersedia membantu penelitian ini, maka Bapak / Ibu diharapkan untuk menandatangani lembar Surat Persetujuan Setelah Penjelasan.

Demikian yang dapat saya sampaikan. Atas kerjasama Bapak / Ibu, saya ucapkan terimakasih.

Nama : Siti Rahmah Mu’izah NIM : 130100294

Alamat : Jalan Mekatani no 195A Marendal

Telp : 081361531544

(50)

Saya yang bertandatangan di bawah ini :

Nama : ………Umur………… tahun L / P

Alamat :………

dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya telah memberikan PERSETUJUAN

untuk dilakukan pengukuran indeks massa tubuh dan pemeriksaan arus puncak ekspirasi pada anak saya :

Nama : ………Umur………… tahun L / P

Alamat : ………

Sekolah : ………

Kelas : ………

Yang tujuan, sifat, dan perlunya uji yang tersebut di atas, telah saya mengerti sepenuhnya.

Demikian pernyataan persetujuan ini saya buat dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan.

Medan,………2016 Yang membuat pernyataan

Tanda Tangan

(51)

Lampiran 6

NO NAMA Umur (Tahun) BB(KG) TB (M) APE (L/menit) Jenis Kelamin IMT

1 B 14 54 1.61 400 Laki-laki 20.83253

2 CAP 13 69 1.61 280 Perempuan 26.61934

3 DNH 14 36 1.48 360 Perempuan 16.43535

4 DFP 13 67 1.53 260 Perempuan 28.62147

5 EM 13 34 1.45 300 Perempuan 16.17122

6 FNL 13 50 1.5 300 Perempuan 22.22222

7 J 13 45 1.48 350 Laki-laki 20.54419

8 JSB 13 56 1.53 320 Laki-laki 23.92242

9 KVM 13 30 1.41 390 Perempuan 15.08978

10 RP 13 54 1.62 350 Laki-laki 20.57613

11 RZ 13 37 1.5 330 Laki-laki 16.44444

12 RH 13 51 1.51 320 Laki-laki 22.36744

13 RK 14 63 1.46 230 Laki-laki 29.55526

14 SS 13 31 1.47 300 Perempuan 14.34587

15 SPN 13 26 1.4 350 Perempuan 13.26531

16 SPN 13 26 1.38 290 Perempuan 13.65259

17 WP 13 26 1.43 390 Laki-laki 12.71456

18 DTP 13 36 1.47 350 Laki-laki 16.65973

19 ASH 13 30 1.32 300 Laki-laki 17.21763

(52)

24 A 13 37 1.46 330 Perempuan 17.35785

25 BYAS 13 33 1.39 300 Laki-laki 17.07986

26 CVS 13 55 1.52 310 Perempuan 23.8054

27 CBCS 13 58 1.48 300 Perempuan 26.47918

28 DMLD 13 50 1.53 330 Perempuan 21.35931

29 DZOS 15 44 1.39 280 Perempuan 22.77315

30 EPA 13 49 1.5 340 Perempuan 21.77778

31 JP 13 53 1.4 250 Laki-laki 27.04082

32 JDB 13 52 1.56 400 Laki-laki 21.36752

33 JPS 13 49 1.55 400 Laki-laki 20.39542

34 KAG 13 76 1.54 240 Laki-laki 32.04588

35 MGA 13 30 1.46 300 Pserempuan 14.07394

36 ML 13 48 1.5 320 Perempuan 21.33333

37 NCS 13 56 1.6 350 Perempuan 21.875

38 NDAS 14 47 1.53 380 Laki-laki 20.07775

39 NLLT 13 46 1.56 400 Laki-laki 18.90204

40 NFD 13 56 1.56 330 Laki-laki 23.01118

41 RJS 13 54 1.57 400 Laki-laki 21.90758

42 RW 13 55 1.55 350 Laki-laki 22.89282

(53)

43 RAP 13 47 1.52 300 Perempuan 20.3428

44 R 13 59 1.5 220 Laki-laki 26.22222

45 TD 14 60 1.54 270 Perempuan 25.29938

46 VDK 13 41 1.5 400 Laki-laki 18.22222

47 VJR 13 53 1.55 400 Laki-laki 22.06035

48 YBL 13 36 1.48 360 Perempuan 16.43535

(54)

Statistics IMT

N Valid 48

Missing 0

Mean 20.9727

Median 21.3400

a

Std. Deviation 4.60763

Variance 21.230

Skewness .206

Std. Error of Skewness .343

Kurtosis -.435

Std. Error of Kurtosis .674

Range 19.33

Minimum 12.71

Maximum 32.04

a. Calculated from grouped data.

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

IMT 48 12.71 32.04 20.9727 4.60763

Valid N (listwise) 48

(55)

Distribusi Arus Puncak Ekspirasi

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

APE 48 200.00 400.00 322.9167 52.71192

Valid N (listwise) 48

Statistics ARUS PUNCAK EKSPIRASI

N Valid 48

Missing 0

Mean 322.9167

Median 321.4286

a

Std. Deviation 52.71192

Variance 2778.546

Skewness -.187

Std. Error of Skewness .343

Kurtosis -.551

Std. Error of Kurtosis .674

Range 200.00

Minimum 200.00

Maximum 400.00

a. Calculated from grouped data.

(56)

Statistics BERAT BADAN

N Valid 48

Missing 0

Mean 47.8958

Median 49.5000

a

Std. Deviation 12.51253

Variance 156.563

Skewness -.060

Std. Error of Skewness .343

Kurtosis -.686

Std. Error of Kurtosis .674

Range 50.00

Minimum 26.00

Maximum 76.00

a. Calculated from grouped data.

BB 48 26.00 76.00 47.8958 12.51253

Valid N (listwise) 48

Referensi

Dokumen terkait

DKAK terdiri atas dua bentuk, DKAK akibat bahan iritan dan DKAK akibat alergen, yang paling sering yaitu DKAK akibat bahan iritan (Djuanda, 2007), hal ini sesuai dengan

[r]

Pada grafik tersebut juga terlihat bahwa semakin tinggi dosis ekstrak yang diberikan, semakin besar pula penurunan kadar neutrofil tikus setelah perlakuan sehingga dapat dikatakan

Tabel 19 Jumlah kasus penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) menurut jenis kelamin, kecamatan, dan puskesmas kabupaten/kota yogyakarta data tahun 2014.. Tabel 20

Pada penelitian metode POS Tagger dan klasifikasi Naïve Bayes ini hasil akurasi maksimalnya adalah 84.30% untuk data uji email spam dan email ham dalam

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 mengenai pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 37 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Uang Negara/Daerah, perlu