• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PEMBANGUNAN ENERGI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PEMBANGUNAN ENERGI"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

Temu Konsultasi Triwulanan I - 2017

Bappenas dengan Bappeda Provinsi Seluruh Indonesia

Jakarta, 13 Januari 2017

PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM

PEMBANGUNAN ENERGI

(2)

Perkiraan Capaian

700/580**

1.295 400

60 64

730

1.180 406

32 63

2018

750/815**

1.150 413

26 62

2017

820,3 1.181,5 253,04 (Sep)

27 59

2016

(realisasi)

820 1.150

419

20 56

2016

(target)

Keterangan

* Perkiraan capaian pada akhir 2016

** Produksi Migas sesuai Asumsi Makro dari Kedeputian Bidang Ekonomi

SASARAN POKOK DAN EVALUASI CAPAIAN PN KETAHANAN ENERGI TAHUN 2015-2019 (1/2)

779 1.189

461

20 56

2015

(realisasi)

825 1.221

425

23 50

2015

(target)

818 1.224

421

24 53

2014

(baseline)

a. Minyak Bumi (ribu BM/hari)**

b. Gas Bumi (ribu SBM/hari)**

c. Batubara (juta ton)

b. Batubara Dalam Negeri (%) a. Gas Bumi Dalam Negeri (%) 1. Produksi Sumber Daya Energi:

2. Penggunaan Dalam Negeri (DMO):

SASARAN 2015 2016 2019

Catatan: *) Perkiraan capaian 2016 Sudah tercapai/on

track/on trend (>90%)

Perlu kerja keras (60-90%)

Sangat sulit tercapai (<60%)

Catatan: *) Perkiraan capaian 2016 Sudah tercapai/on

track/on trend (>90%)

Perlu kerja keras (60-90%)

Sangat sulit tercapai (<60%)

Catatan: *) Perkiraan capaian 2016 Sudah tercapai/on

track/on trend (>90%)

Perlu kerja keras (60-90%)

Sangat sulit tercapai (<60%)

96,6 1.200

93,9 1.129

92,7 1.058 89,9 (Sep)

947,7 (Ags)

90,15 985 88,3

918 83,2

914 81,5

843 a. Rasio Elektrifikasi (%)

b. Konsumsi Listrik Perkapita (kWh) 3. Listrik

86,6

76,2

67,4 57,6 (Okt)

61,5 55,5

53,5 50,7

c. Kapasitas Pembangkit (GW)

Catatan: *) Perkiraan capaian 2016 Sudah tercapai/on

track/on trend (>90%)

Perlu kerja keras (60-90%)

Sangat sulit tercapai (<60%)

(3)

Perkiraan Capaian

18.322 15 80.000**

374.000

463,2

15.046 22 80.000**

306.000 467,8

2018

15.364 25 53.700**

110.000

472,6

2017

15.330 21

88.915

440,3

2016

(realisasi)

15.330 30

121.000

477,3

2016

(target)

13.458 18

20.363

501

2015

(realisasi)

13.105 26

68.400

482,2

2015

(target)

11.960 40*

200.000

487

2014

(baseline)

c. Jaringan Pipa Gas (kumulatif, km)*

d. SPBG (unit)***

e. Jaringan Gas Kota (SR)***

5. Intensitas Energi Primer (Penurunan 1% per tahun) (SBM/miliar Rp)

SASARAN 2015 2016 2019

Catatan: *) Perkiraan capaian 2016 Sudah tercapai/on

track/on trend (>90%)

Perlu kerja keras (60-90%)

Sangat sulit tercapai (<60%)

Catatan: *) Perkiraan capaian 2016 Sudah tercapai/on

track/on trend (>90%)

Perlu kerja keras (60-90%)

Sangat sulit tercapai (<60%)

Catatan: *) Perkiraan capaian 2016 Sudah tercapai/on

track/on trend (>90%)

Perlu kerja keras (60-90%)

Sangat sulit tercapai (<60%)

Catatan: *) Perkiraan capaian 2016 Sudah tercapai/on

track/on trend (>90%)

Perlu kerja keras (60-90%)

Sangat sulit tercapai (<60%)

1,3 0,86

0,99 0,88

0,99 6. Elastisitas Energi

4. Infrastruktur Energi

1

2 2 1

1 2 2 1

b. FSRU/Regasifikasi/LNG Recieving Terminal (unit)

Diperkirakan baru mulai konstruksi

2019

1

Pelaksanaan -

EPC & PMC Penandatangan-

an Perpres Kilang, Studi Pra-FS Penyiapan &

penyelesaian lahan serta izin

a. Kilang Minyak (unit) 0

Keterangan

*) Kumulatif

**) APBN

***) Termasuk BUMN

15

16 15

7 11

5,8 6

6. Porsi EBT dalam Bauran Energi (%) 6

SASARAN POKOK DAN EVALUASI CAPAIAN PN KETAHANAN ENERGI

TAHUN 2015-2019 (2/2)

(4)

2013

2025

2050

5%

46%

31%

18%

23%

30% 25%

22%

31%

25% 20%

24%

Power Plant: 51 GW

Energy Consumption: 0.8 TOE/kap Electricity Consumption: 776 KWh/kap Electrification Ratio (2014): 84.33%

Power Plant:115 GW

Energy Consumption: 1.4 TOE/kap Electricity Consumption: 2,500 KWh/kap Electrification Ratio (2020): closely to 100%

Power Plant:430 GW

Energy Consumption: 3.2 TOE/kap Electricity Consumption: 7,000 KWh/kap

Data Source: National Energy Council, 2015

TARGET KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL

Indonesia saat ini sedang dalam proses untuk:

a. Menyeimbangkan bauran energi dengan meningkatkan peranan EBT dari 7% di tahun 2015, menjadi 23% di tahun 2025.

b. Mengurangi subsidi bahan bakar fosil, dan mengalihkan menjadi subsidi langsung kepada yang membutuhkan dan membiayai pengembangan energi bersih dan

terbarukan.

2013 1.400 MBOE

EBT

Minyak Bumi Gas Bumi Batubara

(5)

KETAHANAN ENERGI

Pemenuhan Kebutuhan

Energi EBT dan

Konservasi Energi

PRIORITAS NASIONAL KETAHANAN ENERGI – RKP 2018

PRIORITAS NASIONAL

PROGRAM

PRIORITAS

(6)

PROGRAM PRIORITAS EBT DAN KONSERVASI ENERGI

EBT &

Konservasi Energi

Penyempurna- an Feed In

Tariff dan Subsidi EBT

Pengembangan Industri Penunjang EBT

Pengembangan PLT Matahari, Hidro, Tenaga Angin, Arus Laut dan Nuklir

Pengembangan Bioenergi Pengembangan

PLTP Implementasi

Teknologi Bersih dan

Efisien

Pengembangan Penyediaan Tenaga Listrik

Skala Kecil (Small Grid System)

(7)

PROGRAM PRIORITAS PEMENUHAN KEBUTUHAN ENERGI

Pemenuhan Kebutuhan

Energi

Pembangunan Pembangkit, Transmisi dan Distribusi Tenaga

Listrik

Peningkatan Kapasitas Infrastruktur

Migas

Peningkatan Cadangan Minyak

dan Gas Bumi

Pembentukan Cadangan Penyangga

Energi Peningkatan

Produksi Minyak dan Gas Bumi

Pemenuhan DMO Batubara

dan Gas

(8)

DAK PENUGASAN TA 2017

NO DAK PENUGASAN KEGIATAN

1. Rehabilitasi sekolah dasar Rehabilitasi ruang kelas/laboratorium 2. Peningkatan sarana dan

prasarana pendidikan vokasi dan latihan ketenagakerjaan

 Penyediaan alat pendidikan vokasi dan balai latihan ketenaga kerjaan

 Pembangunan dan rehabilitasi sarana pendidikan vokasi dan balai latihan ketenagakerjaan

3. Peningkatan kapasitas

infrastruktur kesehatan dasar

 Penyediaan farmasi dan alat kesehatan

 Pembangunan dan rehabilitasi berat Puskesmas

4. Pasar  Pembangunan pasar

 Pembangunan gudang 5. Penyediaan sarana prasarana air

minum dan sanitasi

 Pembangunan sarana dan prasarana air minum

 Pembangunan sarana dan prasarana sanitasi 6. Irigasi  Rehabilitasi irigasi sekunder

 Rehabilitasi irigasi tersier

7. Jalan  Pembangunan dan peningkatan jalan provinsi

 Pembangunan dan peningkatan jalan Kabupaten/Kota

8. Energi Skala Kecil Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Skala Kecil : Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga

Mikrohidro (PLTMH), Biogas untuk rumah tangga

1. DAK Penugasan terkait dengan penekanan RKP 2018

 Ditentukan hingga lokus/ruas

 Lebih bersifat top-down

2. Kegiatan DAK lainnya menjadi bagian kegiatan dari DAK Reguler/Afirmasi

 Menjaga

kesinambungan dengan DAK 2017

 Lebih bersifat kebutuhan daerah (bottom up)

(9)

DAK PENUGASAN ENERGI SKALA KECIL TA 2017

Alokasi Tahun 2017:

502,3 Miliar

ARAH KEBIJAKAN

Membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dalam rangka pencapaian sasaran Prioritas Nasional Kedaulatan Energi dengan menu terbatas dan lokus yang ditentukan.

TARGET DAN SASARAN

Peningkatan rasio elektrifikasi sebesar 92,75% di tahun 2017 dan 96,6% di tahun 2019 melalui energi baru terbarukan yang berada di daerah tertinggal, lokasi prioritas di kabupaten perbatasan negara, daerah kepulauan dan daerah transmigrasi.

RUANG

LINGKUP/MENU KEGIATAN

 Pembangunan PLTMH

 Pembangunan PLTS

 Pembangunan Biogas

LOKASI PRIORITAS

Daerah-daerah yang belum akan dibangun jaringan listrik PLN selama 3-5 tahun ke depan (off-grid), khususnya: daerah tertinggal, lokasi prioritas di kabupaten perbatasan negara, daerah kepulauan dan daerah transmigrasi.

KRITERIA TEKNIS/

PENILAIAN

Mengacu pada kriteria teknis/penilaian yang sudah digunakan oleh KESDM.

KEBUTUHAN PENDANAAN

Pagu DAK Energi Skala Kecil Rp 502,3 M untuk 24 Provinsi

berdasarkan penilaian usulan dan penetapan alokasi per provinsi.

KELEMBAGAAN

Pengelola DAK di pemerintah pusat adalah KESDM dan pelaksana di daerah adalah pemerintah provinsi.

Pembangunan PLTMH

Pembangunan PLTS

Biogas

untuk RT

(10)

Daerah mendapat energi secara terpusat

melalui Pertamina untuk migas dan PLN

untuk listrik

Mengisi kekurangan dengan EBT, melalui pengelolaan energi

mandiri

Kesiapan untuk mengelola energi

melalui peru- sahaan daerah (mis. Regionali-

sasi PLN)

• Perusahaan listrik regional

• Perusahaan daerah untuk energi lainnya

• BUMD efisiensi energi Given

Condition

Kurang/

Defisit

Kebutuhan lebih besar

PERAN DAERAH DALAM PENYEDIAAN ENERGI

Diperlukan peningkatan kapasitas pengelola energi

daerah

(11)

PEMAN- FAATAN SD

ENERGI

LEMBAGA

KEUANGAN

Pengelolaan secara integratif

Reorganisasi dan regionalisasi pengelolaan energi

Inovasi

mekanisme dan skema

pendanaan

BAGAIMANA MERUMUSKAN PERAN DAERAH

• Batubara: perijinan daerah atau pusat

• Gas: alokasi, participating interest bagaimana mengelola

• Panas Bumi: EBT tetapi ijin masih di pusat

• Energi terbarukan: pengelolaan, perijinan

• Pertamina

• PLN

• PGN

• BUMD

• APBD

• Transfer Daerah

• KPBU, APBN (termasuk DAK)

• Hibah dan pinjaman

(12)

RENCANA UMUM ENERGI DAERAH

Penyusunannya telah tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pedoman Penyusunan RUEN dimana di dalamnya termasuk penyusunan RUED.

Sebagai ‘alat’ sinkronisasi perencanaan antara pusat dan daerah, sehingga penganggaranyapun dapat dilakukan secara lebih baik.

Membantu kesiapan provinsi untuk mengusulkan kegiatan pembangunan energi yang akan diusulkan melalui APBN (PLT Minihidro, PLTS)

Alat monitoring pembangunan energi di daerah oleh kementerian dan lembaga.

(13)

Terima Kasih

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS)

Jl. Taman Suropati No. 2, Jakarta Pusat, 10310, Indonesia

Email : [email protected]

Referensi

Dokumen terkait

Bumi Meranti berkedudukan dan berkantor pusat di ibu kota Kabupaten Kepulauan Meranti dan dapat membuka/ mendirikan anak-anak perusahaan dan atau perwakilan

.- 3enerapkan konsep torsi, momen inersia, titik berat dan momentum sudut pada benda tegar (statis dan dinamis) dalam kehidupan

masyarakat dunia untuk bertanggung-jawab dalam mempromosikan dan menciptakan permukiman yang berkelanjutan. Dengan mengadopsi Agenda Habitat, maka setiap negara juga mengadopsi

Masih dengan contoh diatas maka setelah timer T1 overflow 11 kali step program berikutnya adalah memberikan inisialisasi pada kondisi output compare match A yaitu dengan

peranan penting dalam komunikasi kita. Makna bagi Blumer berdasarkan interaksionis simbolik bertumpu pada: 1) manusia bertindak terhadap sesuatu bagi mereka; 2) makna tersebut

Minyak esensial gaharu merupakan hasil olahan resin gaharu yang potensial digunakan dalam terapi pengobatan karena memiliki aktivitas antioksidan, antibakterial,

Atas dasar hasil dan analisis hasil serta pembahasan yang terbatas pada ruang lingkup penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa inokulasi mikoriza sebesar 10

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dijelaskan pada bab IV, dapat disimpulkan sebagai berikut. Proses pengembangan media pembelajaran berbasis Sparkol