• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. manusia ketika seorang individu yang belum dewasa penuh dengan rasa penasaran

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. manusia ketika seorang individu yang belum dewasa penuh dengan rasa penasaran"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam dunia psikologi pertumbuhan masa remaja banyak menarik perhatian para ahli. Masa anak remaja adalah salah satu fase perkembangan hidup manusia ketika seorang individu yang belum dewasa penuh dengan rasa penasaran mencoba untuk mencari tahu. Secara totalitas, bahwa anak remaja mulai tumbuh dan berkembang prototype kepribadian manusia yang sebenarnya, prototype pribadi orang dewasa (somatis dan psikis). Masa remaja merupakan pengembangan dan perluasan kemampuan-kemampuan intelektual, dengan berbagai pengalamannya. Anak-anak merasa mampu untuk menunjukan prestasi- prestasi intelek dan kecekatan motoriknya. Minat-minat dan bakat-bakat khusus mulai terbuka, pada akhir-akhir sekolah menengah akan mulai tumbuhlah cita-cita spesialisasi intelektualnya.1

Untuk mencapai tujuan Pendidikan Nasional, perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan sekarang ini dirasakan sudah cukup baik. Terbukti dengan dikeluarkannya kurikulum pendidikan yaitu Kurikulum 2013. Dimana kompetensi inti yang tercantum didalamya terdiri dari 4 point, yakni sikap Spiritual, sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan.

Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall dalam bukunya, menyebutkan:

1 Ki Fudyartanta, Psikologi Perkembangan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2012, Hlm. 205.

(2)

2 Kecerdasan spiritual bukanlah doktrin agama yang mengajak manusia

untuk cerdas dalam memilih atau memeluk salah satu agama yang dianggap benar. Kecerdasan spiritual lebih merupakan sebuah konsep yang berhubungan dengan bagaimana seseorang cerdas dalam mengelola dan mendayagunakan makna-makna, nilai-nilai, dan kualitas kehidupan spiritualnya.2

Pendidikan merupakan salah satu cermin kepribadian suatu bangsa, maju dan tidaknya suatu negara itu tergantung dari Sumber Daya Manusianya (SDM).

Maka dari itu, negara kita melalui pemerintah tentunya mempunyai keinginan supaya rakyatnya memiliki kemampuan dan kecerdasan yang tinggi, sebagaimana yang tercantum dalam amanat Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pada Bab 2 pasal 3 yang mengatakan bahwa Tujuan pendidikan nasional adalah

“Menciptakan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Yuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.3

Seseorang bisa saja dikatakan sukses dengan mempunyai kecerdasan intelektual (IQ) atau pengetahuan yang tinggi tapi jika tidak dibarengi dengan kecerdasan spiritual (SQ), maka hidupnya tidak akan merasa tenang, dan yang akan hadir hanyalah sikap takabur, merasa bisa dan sombong. Sikap tersebut adalah sikap raja-raja yang kelak Allah akan membenamkan wajahnya ke dalam neraka.4 Sedikit contoh yang bisa kita ambil melihat pada zaman sekarang ini yang sedang marak dalam pemerintahan ialah terjadinya korupsi dimana-mana.

2 Abdul Mujib, dan Yusuf Mudzakir. Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, Jakarta, PT.

RajaGrafindo Persada, 2001, hlm. 324.

3 http://sindikker.dikti.go.id/dok/UU/UU20-2003-Sisdiknas.pdf di unduh pada tanggal 27 November 2016 pukul 14.30 WIB

4 Syaikh Abdul Qadir Jailani, Fathur Rabbani : Mensucikan Jiwa Membuat Hati Menjadi Tenang dan Damai, Bandung, Jabal, 2012, Hlm. 206

(3)

3 Dimana orang yang melakukannya ialah orang-orang yang memiliki intelegensi/

kepintaran yang sangat tinggi, tapi dia masih saja bisa melakukan korupsi.

Mungkin itu dilakukan karena kurangnya iman atau tidak dibarengi dengan sikap spiritual, atau dengan kata lain niat dan akhlak mereka itu sangatlah buruk.

Sekarang ini banyak sekali remaja yang bersekolah dikeluarkan itu bukan karena dia tidak mampu membayar kewajiban bulanan dengan baik tapi, itu lebih banyak dikarenakan dia tidak mempunyai integritas, tidak jujur, tidak bertanggung jawab dan tidak amanah terhadap apa yang dipercayakan kepadanya.

Hal itu dikarenakan tidak adanya keseimbangan antara kecerdsan kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Ketiga kecerdasan ini harus berjalan seimbang dan harus disinergikan terutama kecerdasan Spiritual (SQ) Sehingga kepribadian peserta didik dapat terbentuk dengan baik. Ibaratnya jika mau membuat bangunan yang bagus dan kokoh itu harus dimulai dari pondasi yang bagus dan kokoh pula.

Kecerdasan spiritual (SQ), sangat penting dibentuk dalam diri peserta didik, karena untuk menciptakan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha esa dan berakhlak mulia memerlukan kecerdasan spiritual yang cukup, supaya nanti peserta didik dapat menyeimbangkan antara kebutuhan rohani dan kebutuhan jasmaninya

Tidak sedikit dalam dunia pendidikan mengalami kesulitan dalam hal pembentukan pribadi yang lebih baik. Setiap kecerdasan masing-masing melengkapi satu sama lain, yang pada hakikatnya membentuk sebuah

(4)

4 keseimbangan pada kepribadian remaja. Hal inilah yang mendorong peranan

semua unsur termasuk guru agar bisa ikut membimbing selama proses kehidupan siswa-siswi itu berlangsung, terutama ketika berada di sekolah.

Siswa adalah manusia yang berpotensi dan layak untuk dikembangkan untuk mencapai kemandirian, kreativitas, dan produktivitas. Karena itu diperlukan sistem pendidikan yang kondusif agar segala aspek potensial dalam diri siswa berkembang optimal. Pendidikan formal dalam hal ini yakni sekolah, sampai saat ini masih terjebak pada pengembangan kognitif siswa dengan tujuan siswa akan menjadi orang cerdas, prestasi belajar dan NEM tinggi, sehingga dapat memasuki Perguruan Tinggi (PT) yang berkualitas.

Dengan segala upaya, guru dengan orangtua mencoba untuk mengarahkan agar para siswa-siswi untuk dapat menyerap pengetahuan yang diajarkan.

Terkadang agar tujuan bersama itu tercapai bisa mengadakan Bimbingan Belajar (Bimbel). Sekolah mengutamakan perkembangan otak. Terlebih khusus pada otak kiri (left brain).

Menurut Clark, mengatakan bahwa otak bagian kiri berfungsi untuk pengembangan matematika, rasionalitas, analitis, logika, dan iptek5. Dengan kata lain selama ini sekolah-sekolah cenderung untuk bagaimana mengembangkan otak kiri di banding dengan otak kanan (right brain) yang memiliki fungsi humanistik, gestalt, intuisi, imajinasi, pribadi, dan holistik.

5 Prof. DR. Sofyan S. Willis, Konseling Individual, teori dan Praktek, CV. Alfabeta, 2013, Bandung, Hlm. 25.

(5)

5 Menyimak dari pendapat Clark diatas, terkadang adanya keccenderung

yang lebih mengedepankan perkembangan otak bagian kiri yang fokusnya pada penguasaan iptek, namun lemah pada pengembangan kepribadian beriman, bertaqwa, kreatif dan punya perasaan kemanusiaan. Hal ini terkadang membuat siswa menjadi cepat jenuh, frustasi, dan konflik karena mereka tidak memiliki pilihan kecuali belajar dan menghafal.

Mengingat rumitnya masalah ini, perlu adanya pelayanan untuk mengembangakan diri siswa-siswi dan potensi yang dimilikinya agar lebih terarah. Upaya kurikulum dan administratif saja dirasa kurang cukup membantu, dengan tujuan peningkatan kualitas lulusan.

Pelayanan bimbingan dan konseling bisa juga diterapkan sebagai wadah pengembangan potensi siswa. Frank W. Miller berpandangan bahwa, bimbingan adalah proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri dan pengarahan diri yang dibutuhkan bagi penyesuaian diri secara baik dan maksimum di sekolah, keluarga, dan masyarakat.6 Disini bisa dilihat bahwa bimbingan tidak hanya terfokus pada satu aspek pengembangan saja, tetapi semua yang menjadi kebutuhan agar dapat menyesuaikan diri. Hal ini tidak terbatas pada siapa saja yang dapat bantuan dalam memahami dan kemana harus mengarahkan kehidupannya. Kemudian konseling menurut Glen E. Smith adalah suatu proses dimana konselor membantu konseli (klien) agar dapat memahami dan

6 Ibid., Hlm. 13

(6)

6 menafsirkan fakta-fakta yang berhubungan dengan pemilihan, perencanaan dan

penyesuaian diri sesuai dengan kebutuhan individu.7

Melihat dari aktivitas remaja sekarang yang semakin tergerus oleh derasnya arus perkembangan zaman, maka tidak sedikit yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan. Akan tetapi terjadi ketimpangan pada pembiasaan Siswa-siswi saat ini yang mengakibatkan perubahan besar diluar batas wajar seorang pelajar.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti mengamati perlunya keterlibatan peran dari berbagai unsur yang bisa saling menunjang satu sama lain. Peran guru yang dekat dengan para Siswa-siswi bisa menjadi nilai lebih selama proses mendidik.

Terutama peran guru Bimbingan dan Konseling atau biasa juga dikenal dengan guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP). Selain siswa dapat berkonsultasi terkait permasalahannya, siswapun bisa bekerjasama dengan guru bimbingan konseling (BK) untuk pengembangan potensi yang dimilikinya. Akan tetapi ini tidak bisa berjalan baik jika tidak adanya kesesuaian dengan unsur yang lain, baik itu dari Siswa-siswi maupun dari birokrasi sekolah.

Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul:

“PERAN GURU BIMBINGAN KONSELING TERHADAP KECERDASAN SPIRITUAL SISWA” (Studi Deskriptif pada Siswa-siswi Kelas XI MAN 2 Kota Bandung)

7 Ibid., Hlm. 17.

(7)

7 B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah di uraikan di atas, untuk menjawab permasalahan diatas maka dijabarkan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah kondisi Kecerdasan Spiritual di kalangan siswa-siswi kelas XI MAN 2 Kota Bandung?

2. Bagaimanakah kontribusi guru bimbingan konseling dalam membina kecerdasan spiriual siswa-siswi kelas XI MAN 2 Kota Bandung?

3. Apakah dasar yang melatarbelakangi perlunya Kecerdasan Spiritual (SQ) bagi Siswa-siswi kelas XI MAN 2 Kota Bandung?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan dari penulisan skripsi ini adalah :

1. Untuk mengetahui bagaimana kondisi Kecerdasan Spiritual di kalangan siswa-siswi kelas XI MAN 2 Kota Bandung.

2. Untuk mengetahui bagaimana kontribusi guru bimbingan konseling dalam membina kecerdasan spiriual siswa-siswi kelas XI MAN 2 Kota Bandung.

3. Untuk mengetahui apa dasar yang melatarbelakangi perlunya Kecerdasan Spiritual (SQ) bagi siswa-siswi kelas XI MAN 2 Kota Bandung.

(8)

8 D. Kegunaan Penelitian

a. Secara Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah keilmuan di dunia tasawuf psikoterapi dan disiplin ilmu lain khususnya dalam pengembangan kecerdasan siswa melalui bimbingan. Dan juga penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan wacana ilmiah bagi para penggiat pendidikan dan pembaca pada umumnya agar dapat memahami betapa pentingnya kecerdasan spiritual dikalangan siswa-siswi.

b. Secara Praktis

1) Sekolah : Hasil penelitian ini dapat memberikan rekomendasi yang positif bagi lembaga pendidikan, terutama guru bimbingan dan konseling sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan langkah- langkah inovatif untuk meningkatkan kualitas siswa secara spiritual, juga sebagai referensi bagi kepala sekolah maupun guru yang lainnya dalam mengevaluasi proses pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan Siswa-siswi melalui metode-metode pembelajaran yang tepat.

2) Penulis : Menambah dan memperkaya pengetahuan penulis dalam bidang tasawuf psikoterapi, serta memberikan wawasan baru mengenai pentingnya pengembangan kecerdasan spiritual Siswa- siswi. Penelitiaan ini secara pribadi adalah untuk memenuhi salah satu

(9)

9 syarat memperoleh gelar sarjana Strata Satu (S.1) di Jurusan Tasawuf

Psikoterapi Fakulatas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung 3) Dunia Ilmiah : Diharapkan bermanfaat sebagai referensi baru dalam

memperkaya wawasan dan pengetahuan mengenai program bimbingan konseling dalam rangka membentuk atau membina kecerdasan spiritual Siswa-siswi.

E. Tinjauan Pustaka

Untuk menyatakan keaslian penelitian ini, maka perlu adanya kajian pustaka dari penelitian yang terdahulu yang relevan dengan penelitian yang penulis kaji. Adapun penelitian tersebut adalah :

Skripsi Mirani Yunika Wati Jursan Kependidikan Islam Fakutas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2013 dengan judul

“Peran Guru Bimbingan dan Konselng dalam meningkatkan kecerdasan emosional siswa di kelas IX E MTs N Yogyakarta II”. Penelitian yang dibahas oleh Mirani membahas tentang upaya guru bimingan dan konseling dalam meningkatan kecerdasan emosional siswa kelas IX E MTs N Yogyakarta II. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa upaya guru bimingan dan konseling dalam meningkatkan kecerdasan emosional siswa kelas IX E yaitu dengan berperan sebagai motivator secara kontinyu yang dilakukan di dalam kelas maupn di luar kelas. dalam memotivasi siswa, langkah guru bimingan konseling yaitu berusaha untu memahami perilaku-eraku , latar belakang siswa, kebutuhan, kepribadian

(10)

10 siswa; mencegah perlaku siswa yang bertentangan; mengubah perilaku yang

menyimpang menjadi lebih baik; memelihara suasana; serta memberi arahan dala perningkatan kesadaran diri, pengelolaan emosi, sehingga siswa dapat memanfaatkan emosinya secara produktif.

Skripsi Muhammad Nursahid Muslim Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam Fakutas Dakwah UI Sunan Kalijaga Yoyakarta 2007 dengan judul “Aplikasi Bimbingan Islam oleh Pengash dalam Membangun Kecerdasan Spritual Anak Asuh Panti Asuhan Yatim Piatu Ibu Zainab Magelang”. Penelitian ini membahas tentang proses membangun kecerdasan spiritual anak asuh di Panti Asuhan Anak Yati Piatu Ibu Zainab yangdilakukan oleh pengasuh dengan menerapkan bimbingan Islami. Hasil penelitian menjelaskan bahwa proses bimbingan Islami oleh pengasuh melibatkan beberapa orang yang memiliki basis keilmuan dibidangnya untuk memberikan materi keislman tentang aqidah, bahasa arab, ibadah, dan materi-materi lain. Hasl dari binmbinan Islami oeh pengasuhe membangun kecerdasan spiritual yaitu beberapa anak setelah diberikan bimbingan mampu terbangun kecerdasan spiritualnya namun ada juga anak yang mash sulit meningkatkan kecerdasan spiritualnya.

F. Kerangka Pemikiran

Kehidupan yang dijalani tidak sedikit yang mengalami degradasi mental, yang pada akhirnya menimbulkan berbagai permasalahan yang semakin kompleks. Pengalaman dan pengetahuan menjadi penting agar bisa memilih mana

(11)

11 yang harus dipilih. Tidak sedikit individu mengalami kebingungan dalam

menentukan pilihan selama dinamika kehidupan terus berputar. Sikap penerimaan diri penting agar tidak lantas memberikan tekanan yang kian berat, dan berpikir realistik terhadap kehidupan yang ada di depan mata harus terus dijalani.

Sementara itu kesimbangan diperlukan, salah satunya keseimbangan mental. Bisa menyesuaikan diri dengan sesama dan lingkungan sekitar sehingga keefektifan dalam menjalani kehidupan sosial bisa lebih baik dan bahagia. Seperti yang diungkapkan oleh seorang Psikiater, Karl Menninger, bahwa kesehatan mental adalah penyesuaian manusia terhadap dunia dan satu sama lain dengan keefektifan dan kebahagiaan yang maksimum.8 Disini kita bisa melihat, manusia tidak bisa berdiri sendiri dalam menjalani kehidupan dalam makna antara satu sama lain saling membutuhkan dan saling melengkapi. Sehingga terciptanya keadaan yang harmonis dan tidak membawa pada konflik atau kriminalitas.

Tindakan kriminal berawal pada kebiasaan yang masih belum bisa dihilangkan. Derasnya perkembangan zaman terus memberikan perubahan yang secara perlahan berdampak pada perkembangan masyarakat. Terlebih dengan masuknya Masyarakat Ekonimi Asean (MEA) semakin memperlihatkan budaya dan kebiasaan luar Indonesia yang malah merubah pola pikir. Tidak hanya masyarakat dewasa, akan tetapi remaja pun terdampak. Sehingga kesulitan bagi orang tua untuk melakukan pengawasan terhadap para anak-anaknya.

Diperlukannya pendekatan yang dilakukan oleh semua unsur. Tidak terkecuali para guru yang setiap hari bersentuhan langsung dalam aktifitas belajar mengajar.

8 Dr. A. Supratiknya, Mengenal Perilaku Abnormal, Yogyakarta, Kanisius, 1995, Hlm. 9.

(12)

12 Guru diharapkan bisa lebih memberikan perhatian lebih selama Siswa-

siswi berada di lingkungan sekolah. Siswa sering mengalami masa-masa dimana sulit dalam menentukan pilihan. Masih membutuhkan bimbingan agar lebih terarah. Menurut Frank W. Miller, bimbingan adalah proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri dan pengarahan diri yang dibutuhkan penyesuaian diri secara baik dan maksimum di sekolah, keluarga, dan masyarakat.9 Ketika menjalani kehidupan di masyarakat siswa terkadang mengalami kesulitan dalam melakukan penyesuaian. Pembentukan karakter yang dibutuhkan perlu dukungan dari berbagai faktor pendorong. Dibenturkan dengan berbagai problematika kehidupan yang semakin membuka ruang pada masuknya kebudayaan luar yang jelas berbeda dengan budaya lokal, khususnya kebudayaan yang ada di Indonesia.

Berubahnya karakter masyarakat dengan masuknya pada abad teknik, sering menyebabkan pada tidak bisa mengimbangi pesatnya kemajuan teknologi.

Akhirnya manusia tengelam pada keadaan yang dibentuknya sendiri, dengan perkataan lain manusia tidak berdaya.10 Sehingga tidak sedikit terjerumus pada pergaulan yang malah membuat dirinya dalam bahaya. Kemajuan dunia digital, tak lepas dari titik akhir kemajuan yang bisa dicapai oleh dunia modern dengan berbagai keberhasilannya. Terciptanya teknologi canggih adalah buah dari pemikiran rasioal yang didukung oleh usaha yang sungguh-sungguh dalam kurun waktu yang panjang.

9 Op. Cit., Hlm. 13

10 Dr. Phil. Astrid S. Susanto, Pengatar Sosioloi dan Perubahan Sosial, Putra A Bardin, 1999, Hlm. 183.

(13)

13 Selanjutnya menurut Glen F. Smith, konseling adalah suatu proses dimana

konselor membantu konseli (klien) agar dia dapat memahami dan menafsirkan fakta-fakta yang berhubungan dengan pemilihan, perencanaan dan penyesuaian diri sesuai dengan kebutuhan individu.11 Dalam era gobal dan pembangunan, maka konseling lebih menekankan kepada mengembangkan potensi individu yang terkandung didalam dirinya, termasuk pada potensi itu adalah aspek intelektual, afektif, sosial, emosional dan spritual. Keseimbangan daripada beberapa aspek tersebut memberikan keseimbangan selama menjalani proses roda kehidupan yang nyata.

Untuk menstabilkan seperti Albert Einstein ungkapkan, bahwa Agama tanpa Ilmu adalah buta, dan ilmu tanpa agama lumpuh. Hal ini mempunyai makna, perlu keseimbangan diantara keduanya. Saling melengkapi agar terciptanya harmonisasi yang memberikan kesan indah dan bahagia selama menjalani roda kehidupan.

Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall, menyebutkan bahwa:

Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dari nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecardasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding dengan yang lain.

11 Op. Cit., Hlm. 17

(14)

14 Berikut ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang kecerdasan spiritual :

⬧⬧

▪❑

→⧫◆







❑➔⬧⬧

⬧

⧫



Artinya : Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepada- Nya dan bersujud (QS. Al-Hijr : 29).

Dari sudut pandang psikologi kecerdasan spiritual justru mengejutkan kita, karena ternyata sudut pandang psikologis memberitahu kita bahwa ruang spiritual memiliki arti kecerdasan. Diantara kita bisa saja, orang yang tidak cerdas secara spiritual, dan ekspresi keberagamannya yang monolitik, eksklusif, dan intoleran, yang seringkali berakibat pada kobaran konflik atas nama agama.

Sedangkan menurut Mujib dan Mudzakir menyatakan bahwa kecerdasan spiritual yang berasal dari barat ini lebih merupakan sebuah konsep yang merupakan sebuah konsep yang berhubungan dengan bagaimana seseorang cerdas dalam mengelola dan mendayagunakan makna, nilai, dan kualitas kehidupan spiritualnya. Kehidupan spiritual yang dimaksud meliputi hasrat untuk bermakna yang memotivasi kehidupan seseorang untuk senantiasa mencari makna hidup dan mendambakan hidup bermakna.

(15)

15 G. Langkah-Langkah Penelitian

Untuk memudahkan penelitian ini penulis menempuh langkah-langkah penelitian sebagai berikut:

a. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada siswa-siswi kelas XI MAN 2 Kota Bandung.

Alasan penentuan lokasi tersebut setelah dari observsi pertama yang dilakukan pada saat Praktek Profesi Lapangan (PPL) pada bulan September 2015, terlihat keikutsertaan berbagai pihak dam membina para siswanya. Selain itu lokasi penelitian ini juga dekat dengan tempat tinggal peneliti selama menimba ilmu, sehingga mudah dijangkau penulis dalam mengambil data-datanya.

b. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.

Menurut Hadari Nawawi bahwa metode deskriptif adalah cirinya seperti memusatkan perhatian pada masalah-masalah yang ada pada saat penelitian dilakukan atau masalah yang bersifat aktual, serta menggambarkan fakta-fakta tentang masalah yang diselidiki sebagaimana adanya serta diiringi dengan

(16)

16 interpretasi rasional yang akurat. Caranya dengan mengumpulkan, dan

menganalisa data-data yang ada kaitannya dengan obyek kajian.12

c. Jenis Data Penelitian

Adapun jenis data yang dipakai dalam penelitian ini adalah jenis data kualitatif sebagai bahan analisis. Metodologi kualitatif adalah suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati dan pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistik.13

Data dalam penelitian ini adalah data-data tentang program kegiatan kerohanian sekolah, kemudian data tentang motivasi siswa-siswi dalam mengikuti kegiatan kerohanian dan pengaplikasiannya, serta data tentang dampaknya terhadap prilaku keseharian siswa-siswi.

d. Sumber Data

12 Abdurrahmat Fathoni, M.Si., Metode Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi, PT Rieneka Cipta, Jakarta, 2009. Hlm. 104.

13 Lexy J. Maleong, Metodologi Penelitian Kualitatif. PT. Raja Rosdakarya. Bandung, 2010.

Hlm. 3.

(17)

17 Dalam penentuan sumber data, hal ini didasarkan atas jenis data yang telah

ditentukan. Maka, dalam penelitian ini ditentukan data primer dan data sekunder.14

1. Sumber data primer, adalah data yang harus ada dan menjadi sumber pokok dari data-data yang dikumpulkan. Sumber primer ini adalah pimpinan MAN 2 Kota Bandung, pengurus BK MAN 2 Kota Bandung, dan siswa-siswi kelas XI MAN 2 Kota Bandung yang keseluruhan ± 400 siswa, dan sample yang diambil adalah 10 orang siswa.

2. Sumber data sekunder adalah data-data lain yang menunjang data primer, yaitu berita, literatur atau buku-buku yang relevan dengan masalah tersebut dan data-data yang sesuai dengan penelitian tersebut, serta data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan dari hasil wawancara, internet, hasil survey lain-lain yang relevan dengan penelitian tersebut.

e. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang bersifat data primer dari lapangan adalah menggunakan cara observasi, serta wawancara mendalam. Sedangkan untuk data yang bersifat data sekunder seperti teori, pandangan-pandangan, hasil penelitian, buku dan catatan-catatan digunakan studi dokumentasi dan kepustakaan.

14 Cik Hasan Bisri, Penuntun Penyusunan Rencana Penelitian dan Penulisan Skripsi. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008. Hlm. 64.

(18)

18 1. Observasi langsung, dilakukan untuk memperoleh data secara langsung

dari sumber primer, khususnya untuk melihat situasi lokasi, suasana kehidupan dan prilaku-prilaku subyek penelitian yang teramati lainnya.

Observasi adalah suatu studi sengaja dan sistematis tentang fenomena sosial dan gejala-gejala psikis dengan pengamatan. Dalam penelitian, jenis teknik observasi yang lazim digunakan untuk alat pengumpulan data ialah observasi partisipan, observasi sistematik dan observasi eksperimental. Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis observasi sistematik yaitu peneliti melakukan pengamatan langsung dan penulisan secara sistematis ke lokasi penelitian. Penulis melakukan observasi pada siswa-siswi Kelas XI MAN 2 Kota Bandung.

2. Interview. dilakukan dengan wawancara terstruktur berupa kuisoner maupun tidak terstruktur dengan teknik indeep interview, dilakukan terutama untuk mengetahui pandangan, pendapat, keterangan atau kenyataan-kenyataan yang dilihat dan dialami oleh responden dan informan. Wawancara dilakukan baik secara langsung (tatap muka) maupun secara tidak langsung (lewat telepon). Dalam penelitian ini, penulis melakukan wawancara tidak terstruktur yaitu wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya.

Pedoman yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. Dalam penelitian ini, penulis melakukan wawancara dengan pimpinan MAN 2 Kota Bandung, pengurus BK MAN

(19)

19 2 Kota Bandung, dan perwakilan Siswa-siswi kelas XI MAN 2 Kota

Bandung.

3. Studi Kepustakaan atau Dokumentasi. Ini dilakukan terutama untuk melengkapi dan menguatkan data yang diperoleh baik dari hasil kuisoner, maupun wawancara. Disamping untuk kepentingan yang bersifat teoritis, guna memperoleh kejelasan dan masukan atas masalah penelitian yang dibahas.15

f. Analisis Data

Setelah data terkumpul penulis melakukan penafsiran dengan menggunakan penganalisaan data dengan menggunakan kerangka logika. Hal ini untuk memudahkan peneliti mengambil kesimpulan. Adapun tahapan analisa datanya sebagai berikut:

1. Mengumpulkan dan menginventarisir seluruh data yang didapat dan berhubungan dengan penelitian penulis.

2. Mereduksi data yang didapat untuk memilih data yang berhubungan dengan permasalahan dan data yang tidak berhubungan dengan permasalahan. Mengkalsifikasi data yang diperoleh.

3. Terakhir mengambil kesimpulan dari hasil penelitian ini.

15 Abdurrahmat Fathoni, Ibid,. Hlm. 104-107.

(20)

20 H. Sistematika Penulisan

Sekripsi ini terdiri dari bagian isi yang meliputi empat bab dengan rincian sebagai berikut :

Bab I : Pendahuluan yang meliputi Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian, Tinjauan Pustaka, Kerangka pemikiran, Langkah-Langkah Penelitian, dan Sistematika Penulisan.

Bab II : Landasan teori.

Bab III : Hasil penelitian dan pembahasan.

Bab IV : Penutup yang berisi Kesimpulan, Saran-Saran, dan Penutup

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil pengujian yang dapat dilihat dari Tabel 4.11 diatas tahap pengujian yang menunjukkan rata-rata nilai error terkecil adalah pada percobaan jumlah

Tahap selanjutnya untuk meningkatkan kemampuan menulisnya siswa dapat menuliskan Kembali dongeng tersebut, atau menuliskan bagian dongeng yang sengaja dihilangkan dalam

Analisis konsentrasi asam laktat berdasarkan waktu latihan interval, perlu diungkap, karena bertujuan untuk mengetahui respon asam laktat terhadap pemberian latihan interval

Sebagai proses pelayanan berlangsung secara rutin dan berkesinambungan yang meliputi seluruh kehidupan orang dalam masyarakat (Moenir, 2000 : 17 ) yang dimaksud pelayanan

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas karunia-Nya penulis masih diberikan kesempatan untuk menyelesaikan laporan skripsi yang berjudul

Pulau ini disebut juga pulau Cipir atau pulau Kuiper yang dapat ditempuh dalam waktu satu jam dari pelabuhan Marina, Jakarta.. Di pulau ini ada tempat memancing, berburu kerang,

Yang dimaksud dengan “tidak dapat diberikan kepada Pimpinan dan Anggota DPRD secara bersamaan” adalah bahwa jika telah disediakan dan telah ditempati, dihuni atau

Tujuan perancangan projek adalah untuk menentukan kaedah yang akan digunakan untuk merancang sesuatu projek.. Walau bagaimanapun, kejayaan sesuatu perancangan adalah bergantung