• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. formal maupun informal. Perlindungan terhadap tenaga kerja merupakan pelaksanaan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. formal maupun informal. Perlindungan terhadap tenaga kerja merupakan pelaksanaan"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan negara hukum sehingga segala sesuatu yang berkaitan dengan penentuan atau pengambilan kebijakan perlu diatur atau berdasarkan hukum, salah satunya termasuk perlindungan terhadap tenaga kerja yang bekerja baik di sektor formal maupun informal. Perlindungan terhadap tenaga kerja merupakan pelaksanaan prinsip-prinsip dan hak mendasar tenaga kerja dan perlindungan sosial sebagaimana telah tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945. Jaminan sosial diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945 dan perubahannya Tahun 2002, Pasal 28H ayat (1),”Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”, ayat (3),”Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat.

Jaminan sosial merupakan salah satu bentuk perlindungan sosial yang diselenggarakan oleh Negara guna menjamin warga negaranya untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak, sehingga berdasarkan Deklarasi PBB tentang Hak asasi Manusia Tahun 1948 dan Konvensi ILO No. 102 tahun 1952 pelanggaran terhadap perlindungan sosial merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia.

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketengakerjaan, huruf e mengamanatkan,” Bahwa perlindungan terhadap tenaga kerja dimaksudkan untuk menjamin hak-hak dasar pekerja/buruh dan menjamin kesamaan kesempatan serta

(2)

perlakuan tanpa diskriminasi atas dasar apapun untuk mewujudkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya dengan tetap memperhatikan perkembangan kemajuan dunia usaha”. Sebagaimana tertuang di dalam Pasal 99, ayat (1) Setiap pekerja/buruh dan keluarganya berhak untuk memperoleh jaminan sosial tenaga kerja”. Hal ini Berarti perlindungan terhadap pekerja/buruh merupakan tanggung jawab negara yang kemudian pelaksanaannya dilakukan secara bertahap dan sistematis disesuaikan dengan kondisi negara. Sejalan dengan penjelasan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003, bahwa pembangunan ketenagakerjaan harus diatur sedemikian rupa sehingga terpenuhi hak-hak dan perlindungan yang mendasar bagi tenaga kerja dan pekerja/buruh serta pada saat yang bersamaan dapat mewujudkan kondisi yang kondusif bagi pengembangan dunia usaha.

Meningkatnya peranan tenaga kerja dalam perkembangan pembangunan nasional di seluruh tanah air dan semakin meningkatnya penggunaan teknologi di berbagai sektor, kegiatan usaha dapat mengakibatkan semakin tinggi risiko yang mengancam keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan tenaga kerja sehingga perlu upaya peningkatan perlindungan tenaga kerja. Maka perlu diadakan perlindungan terhadap pekerja/buruh yang melakukan pekerjaan baik dalam hubungan kerja maupun diluar hubungan kerja melalui program jaminan sosial tenaga kerja. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jamsostek secara umum memuat ketentuan tentang jaminan sosial tenaga kerja bagi semua pekerja. Di dalam Pasal 3 menyatakan bahwa, “Setiap tenaga kerja berhak atas jaminan sosial tenaga kerja”, dengan demikian perlindungan sosial bagi tenaga kerja adalah wajib dan perlu untuk dilaksanakan. Oleh karena itu perlu selalu diupayakan peningkatan jaminan dan manfaatnya bagi pekerja/buruh beserta keluarganya

(3)

Di dalam pelaksanaan hubungan industrial tenaga kerja dibedakan antara tenaga kerja yang melakukan pekerjaan di dalam hubungan kerja dan tenaga kerja di luar hubungan kerja yang masing-masing diatur oleh Peraturan Pemerintah sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992. Peraturan Perundang- undangan setingkat Peraturan Pemerintah yang mengatur khusus terkait penyelenggaraan jaminan sosial kepada tenaga kerja yang melakukan pekerjaan diluar hubungan kerja sampai saat ini belum ada, hanya Peraturan Pemerintah yang mengatur penyelenggaraan jaminan sosial tenaga kerja bagi tenaga kerja yang melakukan pekerjaan di dalam hubungan kerja yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja yang telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2013 tentang Perubahan Kesembilan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Dalam rangka untuk mengisi kekosongan hukum diterbitkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Bagi Tenaga Kerja Yang Melakukan Pekerjaan Di Luar Hubungan Kerja yang telah diubah dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 5 Tahun 2013 tentang Perubahan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Kerja dan Transmigrasi Nomor 24 Tahun 2006. Peraturan Menteri ini menjelaskan bahwa Tenaga Kerja yang melakukan pekerjaan di luar hubungan kerja adalah tenaga kerja yang melakukan kegiatan ekonomi tanpa dibantu orang lain.

Tenaga kerja yang melakukan pekerjaan di luar hubungan kerja pada umumnya melakukan usaha-usaha pada ekonomi informal. Usaha-usaha ekonomi informal tersebut

(4)

mudah dimasuki oleh tenaga kerja karena pada umumnya tidak mensyaratkan tingkat pendidikan dan keterampilan tertentu. ciri-ciri usaha-usaha ekonomi informal ini antara lain : berskala mikro dengan ukuran kecil, menggunakan teknologi sederhana/rendah, menghasilkan barang dan/atau jasa dengan kualitas relatif rendah, tempat usaha tidak tetap, mobilitas tenaga kerja sangat tinggi, kelangsungan usaha tidak terjamin serta jam kerja tidak teratur, seperti tukang bangunan dan tukang becak, pedagang, PKL, ojek, bengkel bordir, tukang las, mekanik, penjahit, nelayan, tukang pangkas rambut, petani, supir, penambak, peternak, buruh dan buruh bongkar muat, dsb.1

Tenaga Kerja di luar hubungan kerja juga mempunyai karakteristik seperti risiko kecelakaan kerja tinggi, belum dilindungi oleh asuransi, belum terorganisir serta produktivitas dan penghasilan tidak tetap. Usaha ekonomi informal, selama ini dianggap telah berjasa sebagai katub pengaman karena mampu menyerap tenaga kerja yang tidak terserap oleh usaha-usaha ekonomi formal (Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Swasta (BUMS), dan Koperasi).2

Pelaksanaan pemberian jaminan sosial tenaga kerja luar hubungan kerja sebagaimana diatur di dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja Kerja dan Transmigrasi Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Bagi Tenaga Kerja Yang Melakukan Pekerjaan Di Luar Hubungan Kerja yang telah diubah dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 5 Tahun 2013 tentang Perubahan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Kerja dan Transmigrasi

1 Hasil wawancara dengan Pak Didin Kepala Bagian Progam Khusus PT. Jamsostek (Persero) Yogyakarta, tanggal 17 Maret 2014 pukul 08.00 WIB.

2Disnaker, Transmigrasi dan Kependudukan Propinsi Tawa Timur (2009), “Perlindungan Tenaga Kerja Di Luar Hubungan Kerja Melalui Permenakertrans Nomor 24 Tahun 2006”, diakses dari http://www.disnakertransduk.jatimprov.go.id/berita/arsip-berita/, pada tanggal 1 maret 2014 pukul 13.00 wib.

(5)

Nomor 24 Tahun 2006, masih mengalami kendala baik dari sisi pekerja/buruh sendiri maupun dari sisi penyelenggara PT. Jamsostek (Persero). Pada tahun 2012 Kepala Subdirektorat Jaminan Sosial TKLHK Kemenakertrans Achmad Djunaedi mengatakan, saat ini TKLHK atau pekerja informal di Indonesia berjumlah 3,1 juta orang. Dari jumlah itu, yang terdaftar sebagai peserta Jamsostek baru 644.492 orang.

Maka penulis merasa perlu melakukan penelitian mengenai pelaksanaan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Kerja dan Transmigrasi Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Bagi Tenaga Kerja Yang Melakukan Pekerjaan Di Luar Hubungan Kerja yang telah diubah dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 5 Tahun 2013 tentang Perubahan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Kerja dan Transmigrasi Nomor 24 Tahun 2006.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas dapat ditentukan rumusan masalahnya sebagai berikut :

1. Mengapa pelaksanaan pemberian jaminan sosial tenaga kerja pada tenaga kerja luar hubungan kerja sebagaimana diatur di dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja Kerja dan Transmigrasi Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Bagi Tenaga Kerja Yang Melakukan Pekerjaan Di Luar Hubungan Kerja yang telah diubah dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 5 Tahun 2013 tentang Perubahan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Kerja dan Transmigrasi Nomor 24 Tahun 2006 belum terlaksana?

(6)

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai oleh Penulis dalam Penulisan Hukum ini meliputi 2 (dua) hal yaitu :

1. Tujuan Obyektif

Untuk mengetahui pelaksanaan pemberian jaminan sosial tenaga kerja pada tenaga kerja luar hubungan kerja pada Pedagang Pasar Malioboro Yogyakarta sebagaimana diatur di dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja Kerja dan Transmigrasi Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Bagi Tenaga Kerja Yang Melakukan Pekerjaan Di Luar Hubungan Kerja yang telah diubah dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 5 Tahun 2013 tentang Perubahan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Kerja dan Transmigrasi Nomor 24 Tahun 2006.

2. Tujuan subyektif

Sebagai bahan untuk menyusun penulisan hukum yang menjadi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.

D. Keaslian Penelitian

Untuk mengetahui keaslian dari penelitian dalam penulisan hukum ini, Penulis telah melakukan penelusuran kepustakaan di Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Berdasarkan hasil penelusuran tersebut, penulis menemukan beberapa penelitian yang sama dengan penelitian yang penulis lakukan.

Hasil dari penelusuran kepustakaan, Penulis menemukan beberapa penelitian lain yang membahas terkait dengan penelitian penulis yaitu :

(7)

1. Penulisan hukum dengan judul “Pelaksanaan Perlindungan Jaminan Sosial tenaga Kerja Bagi Karyawan Muslimah Pada Pabrik Gula Madukismo Bantul Yogyakarta”, oleh Herlin Susanto ditulis tahun 2010. Penulisan hukum tersebut membahas mengenai mekanisme pemberian perlindungan jaminan sosial dari perusahaan terhadap karyawan khusus muslimah pada Pabrik Gula Madukismo Bantul Yogyakarta.

2. Penulisan hukum dengan judul “Pelaksanaan Pembayaran Jaminan Kecelakaan Kerja Oleh PT. Jamsostek (Persero) Yogyakarta Pada Pekerja Setiaji Mandiri Sleman”, oleh Ayunita Nur Rohanawati ditulis tahun 2011. Penulisan hukum tersebut membahas mengenai mekanisme pembayaran terhadap pengajuan klaim jaminan kecelakan kerja oleh pekerja pada Perusahaan Setiaji Sleman kepada PT. Jamsostek (Persero) Yogyakarta.

Kedua Penulisan hukum tersebut berbeda dengan Penulisan Hukum yang dilakukan oleh penulis. Di dalam penulisan ini penulis melakukan penelitian mengenai pelaksanaan pemberian jaminan sosial tenaga kerja luar hubungan kerja pada pedagang pasar malioboro Yogyakarta oleh PT. Jamsostek (Persero) sebagaimana diatur di dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja Kerja dan Transmigrasi Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Bagi Tenaga Kerja Yang Melakukan Pekerjaan Di Luar Hubungan Kerja yang telah diubah dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 5 Tahun 2013 tentang Perubahan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Kerja dan Transmigrasi Nomor 24 Tahun 2006 yang belum terlaksana dengan baik, yang sebelumnya belum ada yang melakukan penelitian

(8)

terkait hal tersebut. Apabila terdapat penelitian mirip diluar pengetahuan penulis, diharapkan penelitian ini dapat saling melengkapi satu sama lain.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian yang dilakukan oleh penulis antara lain : 1. Bagi Penulis

Penelitian yang dilakukan ini memiliki manfaat bagi penulis sendiri yaitu menambah wawasan pengetahuan dari penulis terkait pelaksanaan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Kerja dan Transmigrasi Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Bagi Tenaga Kerja Yang Melakukan Pekerjaan Di Luar Hubungan Kerja yang telah diubah dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 5 Tahun 2013 tentang Perubahan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Kerja dan Transmigrasi Nomor 24 Tahun 2006 oleh PT. Jamsostek (Persero) terhadap tenaga kerja luar hubungan kerja pada umumnya dan Pedagang Pasar Malioboro pada khususnya. serta lebih meningkatkan semangat untuk melakukan penelitian terhadap permasalahan yang terjadi.

2. Bagi Ilmu Pengetahuan

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pikiran yang bermanfaat dalam perkembangan hukum secara umum dan khususnya bagi pelaksanaan pemberian jaminan sosial tenaga kerja bagi Tenaga Kerja Luar Hubungan Kerja.

3. Bagi Masyarakat

Penelitian ini diharapkan memiliki manfaat bagi masyarakat sebagai pihak yang merasakan secara langsung apabila menjadi Tenaga kerja Luar Hubungan kerja.

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai negara kepulauan, akses transportasi antarpulau menjadi hal yang krusial. Selain sebagai sarana memindahkan orang atau barang, akses transportasi juga

Pelatihan Akreditasi Tutor (Penyamaan Persepsi Tutor-UT) yang dilaksanakan UPBJJ-UT Sorong dimaksudkan tidak hanya peningkatan Sumber Daya Tutor dalam hal

Mereka menyadari, bahwa kepemimpinan adalah suatu proses yang memerlukan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain dalam mencapai suatu tujuan, dan mengarahkan organisasi dengan

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN TINDAKAN IBU RUMAH TANGGA DALAM PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DI DESA BORGO KECAMATAN TOMBARIRI KABUPATEN

(5) Pelaporan terhadap pelaksanaan pengendalian penyembelihan sapi dan kerbau betina produktif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c untuk tingkat

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah pegawai PPPPTK Bisnis dan Pariwisata telah bekerja dengan baik namun masih dijumpai beberapa pegawai yang kinerjanya masih

Apabila konsumen dirugikan oleh perusahaan pembiayaan, maka debitur (konsumen) dapat menggugat perusahaan pembiayaan konsumen karena perbuatan melawan hukum,

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan nutrisi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik ditandai dengan klien tidak selera