16
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, HASIL PENELITIAN, DAN ANALISIS
A. TINJAUAN PUSTAKA
1. Tinjauan Umum tentang Mahkamah Konstitusi
Berdirinya Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai special tribunal secara terpisah dari Mahkamah Agung, yang mengemban tugas khusus merupakan konsepsi yang dapat ditelusuri jauh sebelum negara kebangsaan yang modern (modern nation-state), yang pada dasarnya menguji keserasian norma hukum yang lebih rendah dengan norma hukum yang lebih tinggi. Sejarah modern judicial review, yang merupakan ciri utama kewenangan Mahkamah Konstitusi – di Amerika Serikat oleh Mahkamah Agung- dapat dilihat sebagai perkembangan yang berlangsung selama 250 tahun, dengan rasa kebencian sampai dengan penerimaan yang luas.1
Pembentukan Mahkamah Konstitusi sejalan dengan dianutnya paham negara hukum dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Negara hukum harus dijaga paham konstitusionalnya. Artinya, tidak boleh ada Undang-Undang dan peraturan perundang-undangan lainnya yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Hal itu sesuai dengan penegasan bahwa Undang-Undang Dasar Negara
1 Siahaan Maruarar, Op.Cit., hal. 3.
Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai puncak dalam tata urutan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Pengujian Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 membutuhkan sebuah mahkamah dalam rangka menjaga prinsip konstitusionalitas hukum.
Hans Kelsen dan Marshall percaya bahwa konstitusi harus diperlakukan sebagai seperangkat norma hukum yang superior (lebih tinggi) dari undang- undang biasa dan harus ditegakkan secara demikian. Kelsen juga mengakui adanya ketidakpercayaan yang luas terhadap badan peradilan biasa untuk melaksanakan tugas penegakan konstitusi. Tugas penegakan konstitusi dimaksud adalah melakukan pengujian terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil pemilu. Sehingga dia merancang mahkamah khusus yang terpisah dari peradilan biasa untuk mengawasi undang-undang jika ternyata bertentangan dengan undang-undang dasar.
Menurut Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H., mengatakan bahwa “dalam konteks kenegaraan, Mahkamah Konstitusi dikonstruksikan sebagai pengawal konstitusi yang berfungsi menegakkan keadilan konstitusional di tengah kehidupan masyarakat. Mahkamah Konstitusi bertugas mendorong dan menjamin agar konstitusi dihormati dan dilaksanakan oleh semua komponen negara secarakonsisten dan bertanggung jawab. Di tengah kelemahan sistem konstitusi
yang ada, Mahkamah Konstitusi berperan sebagai penafsir agar spirit konstitusi selalu hidup dan mewarnai keberlangsungan bernegara dan bermasyarakat.”2
2. Unsur-Unsur Tindak Pidana a. Unsur Tindak Pidana Subjektif
Hukum pidana subjektif atau ius poenandi merupakan aturan yang berisi hak atau kewenangan negara untuk :
1) Menentukan larangan-larangan dalam upaya mencapai ketertiban umum.
2) Memberlakukan (sifat memaksa) hukum pidana yang wujudnya dengan menjatuhkan pidana kepada si pelanggar larangan.
3) Menjalankan sanksi pidana yang telah dijatuhkan oleh negara kepada pelanggar hukum.3
b. Unsur Tindak Pidana Obyektif
Hukum pidana objektif atau ius poenale adalah hukum pidana yang dilihat dari larangan-larangan berbuat, yaitu larangan yang disertai dengan ancaman pidana bagi siapa yang melanggar larangan tersebut (hukum pidana materiil).4
2 Cetak Biru, Membangun Mahkamah Konstitusi, sebagai institusi Peradilan Konstitusi yang Modern dan Terpercaya, Sekretariat Jenderal Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, 2004, hal. iv.
3 Teguh Prasetyo, Hukum Pidana, Edisi 1, Cetakan 6, Rajawali Pers, Jakarta, 2015, hal.
11.
4 Ibid, hal. 10.
3. Unsur-Unsur Tindak Pidana dalam Pasal 335 KUHP Perbuatan Tidak Menyenangkan
Perbuatan tidak menyenangkan yang diatur dalam Pasal 335 ayat (1) KUHP adalah perbuatan yang dapat berakibat fatal bagi pelakunya jika perbuatan yang tidak menyenangkan tersebut tidak disukai atau tidak dapat diterima oleh pihak yang menjadi korban dari perbuatan yang tidak menyenangkan. Memang akibat perbuatannya tidak membahayakan jiwa korban atau penderita, akan tetapi ada perasaan yang sungguh tidak enak dirasakan oleh si penderita atau korban, atau di penderita atau korban mengalami sakit hati (perasaan).
Rumusan di atas terdapat dalam Pasal 335 ayat (1) KUHP yang menyatakan bahwa:
(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun atau denda empat ribu lima ratus rupiah:
1. Barangsiapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu dengan memakai kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tidak menyenangkan, atau dengan memakai ancaman kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang menyenangkan, baik terhadap orang itu sendiri maupun orang lain,
2. Barangsiapa memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan, atau membiarkan sesuatu dengan ancaman pencemaran atau pencemaran tertulis.
Unsur-unsur tindak pidana dalam Pasal 335 ayat (1) KUHP yaitu:
a. Barangsiapa. Barangsiapa merupakan subjek tindak pidana. Menurut Mahrus Ali konsep subjek tindak pidana/perbuatan pidana dalam KUHPidana yaitu subjek perbuatan pidana yang diakui oleh KUHP adalah manusia (natuurlijk person). Konsekuensinya, yang dapat menjadi pelaku perbuatan pidana adalah manusia. Hal ini dapat dilihat pada rumusan delik
dalam KUHP yang dimulai dengan kata-kata “barang siapa ...”. kata
“barangsiapa” jelas menunjuk pada orang atau manusia, bukan badan hukum. Sehingga kita dapat simpulkan bahwa dalam ketentuan umum KUHP Indonesia yang digunakan sampai saat ini, Indonesia masih menganut bahwa suatu delik hanya dapat dilakukan oleh manusia.
Sedangkan fiksi/badan hukum (rechts persoon) yang dipengaruhi oleh pemikiran Von Savigny yang terkenal dengan teori fiksi (fiction theory) tidak diakui dalam hukum pidana.5
Hal yang kurang lebih sama dikemukakan oleh Frans Maramis yaitu subjek tindak pidana adalah setiap orang yang dapat dibebani tanggungjawab pidana atas perbuatan yang dirumuskan dalam undang- undang pidana. Pembentuk Kitab Undang-Undang Hukum Pidana berpandangan bahwa hanya manusia atau pribadi alamiah (Bld.: natuurlijk persoon; Ingg.: natural person) saja yang dapat dibebani tanggungjawab pidana, karenanya hanya manusia yang merupakan subjek tindak pidana dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, badan hukum (rechtpersoon) bukan subjek tindak pidana. Hal ini dapat dilihat dari:
1) Pasal 59 KUHPidana (= 51 Sr.) dimana pidana hanya diancamkan terhadap pengurus, anggota badan pengurus, atau komisaris-komisaris, bukan pada badan hukum itu sendiri;
5Mahrus Ali, Dasar-Dasar Hukum Pidana, Cetakan 2, Sinar Grafika, Jakarta, 2012, hal.
111.
2) Rumusan delik yang diawali dengan kata ”hij die” (diterjemahkan ke bahasa Indonesia sebagai barangsiapa) yang menunjuk pada manusia;
3) Tidak ada peraturan tentang pengenaan pidana dan acara pidana untuk badan hukum. Dalam undang-undang pidana di luar KUHPidana banyak yang telah mengenal korporasi sebagai subjek tindak pidana.6 b. Secara melawan hukum. Mengenai unsur melawan hukum, dikatakan oleh
Teguh Prasetyo bahwa, Jika kita meneliti pasal-pasal dalam KUHP maka akan tercantum kata-kata melawan hukum (wederrechtelijke) untuk menunjukkan sah suatu tindakan atau suatu maksud. Penggunaan kata wedderechtelijke untuk menunjukkan sifat tidak sah suatu tindakan terdapat dalam Pasal 167 ayat (1), 168, 179, 180, 189, 190, 198, 253-257, 333 ayat (1), 334 ayat (1), 335 ayat (1) angka 1, 429 ayat (1), 431, 433 angka 1, 448, 453-455, 472, dan 522 KUHP.7
c. Memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu. Unsur memaksa merupakan unsur dasar sehingga tindak pidana ini oleh Wirjono Prodjodikoro dinamakan sebagai “tindak pidana paksaan pada umumnya”.8
Pengertian memaksa dijelaskan oleh S.R. Sianturi bahwa “Yang dimaksud dengan memaksa adalah melakukan suatu tindakan dengan menggunakan suatu alat-pemaksa yang tanpa alat-pemaksa itu dapat dibayangkan bahwa orang yang dipaksa itu pada saat itu tidak akan mau melakukan yang
6Marcelly M. Kantjai, “Pasal 335 Ayat (1) Ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum PidanaDari Aspek Lex Certa Pada Asas Legalitas”, dalam Lex Crimen Vol. V/No.1/Jan/2016, 2016, hal. 30.
7Teguh Prasetyo, Op.Cit., hal. 70.
8Marcelly M. Kantjai, Op.Cit., hal. 30.
dikehendaki oleh si pemaksa.”9 S.R. Sianturi memberi contoh perbuatan memaksa misalnya seorang ayah yang memegang rotan yang memaksa anaknya supaya mandi.10 Sekalipun perbuatan ayah itu tidak masuk jangkuaan Pasal 335 ayat (1) ke-1 KUHPidana tetapi contoh ini menunjukkan adanya sifat memaksa dari suatu perbuatan.
d. Dengan memakai kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan, atau dengan memakai ancaman kekerasan, sesuatu perbuatanlain maupun perlakuan yang tak menyenangkan, baik terhadap orang itu sendiri maupun orang lain. Cara memaksa, pada dasarnya ada dua macam, sebagaimana dikatakan oleh S.R. Sianturi sebagai berikut:
1) Dengan kekerasan atau tindakan nyata lainnya atau perlakuan yang tidak menyenangkan.
2) Dengan ancaman kekerasan atau suatu tindakan nyata lainnya, atau perlakuan tidak menyenangkan.11
Perbuatan tidak menyenangkan sesungguhnya merupakan masalah yang sangat besar pandangan hukum. Terbukti diatur dalam Bab yang penting dalam KUHP yaitu Bab XVIII, Kejahatan Terhadap Kemerdekaan Orang. Secara harfiah jika ditafsirkan tata letak bab pengaturannya dalam KUHP ini, maka bermakna bahwa “kemerdekaan” adalah “nyawa”, apa gunanya jika kita tidak mempunyai kebebasan. Dalam Pasal 335 KUHP, perbuatan tidak menyenangkan adalah unsur, bukan suatu akibat dari perbuatan tersangka atau terdakwa yang dapat
9Ibid.
10Ibid.
11Ibid.
mengakibatkan keadaan tidak menyenangkan. Perbuatan itu ditujukan kepada orang secara langsung, bukan terhadap barang atau benda.
Dasar utama dari putusan Mahkamah Konstitusi untuk merubah Pasal 335 KUHP melalui Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor: 1/PUU-XI/2013 adalah karena rumusan delik, kualifikasi, “Sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan tak menyenangkan” tidak dapat diukur secara objektif. Seandainya dapat diukur, maka ukuran tersebut sangatlah subjektif dan hanya berdasarkan atas penilaian korban, para penyidik, dan penuntut umum semata. Selain itu, rumusan delik pada Pasal 335 KUHP sepanjang frasa “Sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan”, dapat menjadi celah dan peluang bagi penyidik serta penuntut umum untuk berbuat sewenang-wenang terhadap orang lain berdasarkan suatu laporan.
Andi Hamzah menyatakan bahwa beliau mengharapkan untuk kedepannya, frasa dalam kalimat “ataupun perbuatan yang tidak menyenangkan atau ancaman perbuatan tidak menyenangkan” dalam Pasal 335 KUHP dapat dihapus, hal ini dikarenakan jika ditelusuri ke belakang, di dalam KUHP Belanda sendiri tidak ditemukan frasa-frasa tersebut. 12 Frasa “Sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan” dalam Pasal 335 ayat (1) butir 1 KUHP telah menimbulkan ketidakpastian hukum dan ketidakadilan karena memberikan peluang terjadinya kesewenang-wenangan penyidik dan penuntut umum dalam implementasinya terutama bagi pihak yang dilaporkan, sehingga justru
12Dimas Indra Swadana, Implikasi Yuridis dari Perubahan Pasal 335 Ayat (1) Butir ke-1 tentang Perbuatan Tidak Menyenangkan oleh Mahkamah Konstitusi Berdasarkan Putusan Nomor:
1/PUU-XI/2013 tentang Penghapusan Frase Perbuatan Tidak Menyenangkan, Universitas Brawijaya, Malang, 2014, hal. 8.
bertentangan dengan prinsip konstitusi yang menjamin perlindungan atas hak untuk mendapatkan kepastian hukum yang adil dalam proses penegakan hukum.
Hal ini jelas bertentangan dengan asas kepastian hukum yang seharusnya diwujudkan lewat produk aturan hukum yang baik karena hukum identik dengan kepastian.13
4. Pertimbangan Hakim
Menurut Pasal 1 butir 8 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), hakim adalah pejabat peradilan negara yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk mengadili.14 Kemudian kata “mengadili” sebagai rangkaian tindakan hakim untuk menerima, memeriksa, dan memutus perkara berdasarkan asas bebas, jujur, dan tidak memihak dalam sidang suatu perkara dan menjunjung tinggi tiga asas peradilan yaitu sederhana, cepat, dan biaya ringan. Oleh karena itu seorang hakim dalam memutus suatu perkara harus mempertimbangkan kebenaran yuridis (hukum) dengan kebenaran filosofis (keadilan). Seorang hakim harus membuat keputusan keputusan yang adil dan bijaksana dengan mempertimbangkan implikasi hukum dan dampaknya yang terjadi dalam masyarakat.
Menurut Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan
13Achmad Ali, Menguak Tabir Hukum: Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis, Toko Gunung Agung, Jakarta, 2002, hal. 82.
14Pasal 1 angka 8, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76).
keadilan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.15 Setiap hakim wajib menyampaikan pertimbangan atau pendapat tertulis terhadap perkara yang sedang diperiksa dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari putusan.
Kekuasaan kehakiman merupakan badan yang menentukan dan kekuatan kaidah-kaidah hukum positif dalam konkretisasi oleh hakim melalui putusan- putusannya. Bagaimana baiknya segala peraturan perundang-undangan yang diciptakan dalam suatu negara, dalam usaha menjamin keselamatan masyarakat menuju kesejahteraan rakyat, peraturan-peraturan tersebut tidak ada artinya, apabila tidak ada kekuasaan kehakiman yang bebas yang diwujudkan dalam bentuk peradilan yang bebas dan tidak memihak, sebagai salah satu unsur negara hukum. Sebagai pelaksana dari kekuasaan kehakiman adalah hakim, yang mempunyai kewenangan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan hal ini dilakukan oleh hakim melalui putusannya.16
5. Asas Legalitas
Definisi legalitas menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah suatu perihal (keadaan) sah; keabsahan. Legalitas berasal dari kata dasar legal yang memiliki makna sesuatu yang berarti sah atau diperbolehkan atau sesuatu yang menerangkan keadaan diperbolehkan atau sah. Asas legalitas dinamakan juga dengan kekuasaan undang-undang (de heerschappij van de wet), istilah asas
15Pasal 1 angka 1, Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 157)
16Eric Tanjung, Pertimbangan Hakim Dalam Menjatuhkan Putusan Bebas Tentang Perbuatan Tidak Menyenangkan (Studi Kasus Perkara Nomor 518/Pid.B/2010/PN.YK), UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2014, hal. 16.
legalitas dalam hukum pidana (nullum delictum sine praveia leg poenali) yang artinya adalah adalah tidak ada hukuman tanpa undang-undang.17
Asas legalitas erat kaitannya dengan gagasan negara hukum. Gagasan negara hukum menuntut agar penyelenggaraan urusan pemerintahan dan kenegaraan harus didasari undang-undang dan memberikan jaminan terhadap hak-hak dasar rakyat. Asas legalitas menjadi dasar legitimasi tindakan pemerintahan dan jaminan perlindungan dari hak-hak rakyat. Menurut Sjahran Basah, asas legalitas berarti upaya mewujudkan duet integral secara harmonis antara paham kedaulatan hukum dan paham kedaultan rakyat berdasarkan prinsip monodualistis selaku pilar-pilar, yang sifatnya konstitutif.18
Penerapan asas legalitas menurut Indrohartono, akan menunjang berlakunya suatu kepastian hukum dan perlakuan yang sama. Kesamaan perlakuan terjadi karena setiap orang yang berada dalam situasi yang seperti ditentukan dalam ketentuan undang-undang berhak dan memiliki kewajiban untuk berbuat seperti apa yang telah ditentukan didalam undang-undang. Sementara kepastian hukum akan terjadi karena suatu peraturan dapat membuat semua tindakan pemerintah yang akan dilakukan dapat diperkirakan terlebih dahulu, dengan dasar melihat kepada suatu peraturan undang-undang yang berlaku, maka pada asasnya dapat dilihat atau diharapkan pada apa yang akan dilakukan oleh aparat pemerintahan yang bersangkutan.19
17Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara, Edisi Revisi, Rajawali Pers, Yogyakarta, 2010, hal. 96.
18Ibid.
19Ibid.
Asas legalitas tersebut mengandung tiga pengertian :20
a. Tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana kalau hal itu terlebih dahulu belum dinyatakan dalam suatu aturan undang-undang.
b. Untuk menentukan adanya perbuatan pidana tidak boleh digunakan analogi (kiyas).
c. Aturan-aturan hukum pidana tidak berlaku surut.
Asas legalitas tersebut dalam hukum pidana Indonesia ditegaskan dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP. Pengertian asas legalitas dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP tersebut menurut Moeljatno juga mempunyai arti bahwa perbuatan seseorang harus diadili menurut aturan yang berlaku pada waktu perbuatan itu dilakukan (lextemporis delictie). Namun, apabila setelah perbuatan tersebut dilakukan terjadi perubahan dalam perundang-undangan, maka dipergunakan aturan-aturan yang paling ringan bagi terdakwa, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1 ayat (2) KUHP, sehingga dengan demikian lextemporis delictie tersebut dibatasi oleh Pasal 1 ayat (2) KUHP tersebut.21
Kepastian hukum mempunyai arti bahwa hukum itu harus pasti yang tidak mudah untuk berubah-ubah sesuai dengan perubahan dalam masyarakat dan dapat ditaati oleh masyarakat pada waktu dan tempat manapun. Dengan demikian maka kepastian hukum mempunyai fungsi memastikan bahwa hukum (yang berisi
20Ibid, hal. 25.
21Ibid, hal. 31.
keadilan dan norma-norma yang memajukan kebaikan manusia), benar-benar berfungsi sebagai peraturan yang ditaati.22
Asas kepastian hukum menurut Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Peradilan Tata Usaha Negara mengacu pada penjelasan asas kepastian hukum menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Anti Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Asas kepastian hukum menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Anti Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme adalah “asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, kepatutan, dan keadilan dalam setiap kebijakan Penyelenggara Negara”. Asas kepastian hukum menurut Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahanadalah “asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan ketentuan peraturan perundang-undangan, kepatutan, keajegan, dan keadilan dalam setiap kebijakan penyelenggaraan pemerintahan”.
Pengertian ini hampir sama dengan yang ada dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Anti Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, hanya saja ditambahkan kata “keajegan”.
Asas kepastian hukum menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah adalah “asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan ketentuan peraturan perundang-undangan dan keadilan dalam setiap kebijakan penyelenggara negara”. Pengertian ini samas persis dengan yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Anti
22Teguh Prasetyo, Hukum Dan Sistem Hukum Berdasarkan Pancasila, Cetakan Pertama, Media Perkasa, Yogyakarta, 2013, hal. 9.
Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Asas kepastian hukum menurut Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik adalah ”jaminan terwujudnya hak dan kewajiban dalam penyelenggaraan pelayanan”. Pengertian asas kepastian hukum menurut Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, berbeda dengan keempat Undang-Undang sebelumnya, yaitu kepastian hukum lebih ditekankan pada terwujudnya hak dan kewajiban warga negara dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Asas kepastian hukum menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara adalah
“dalam setiap penyelenggaraan kebijakan dan Manajemen ASN, mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, kepatutan, dan keadilan.23
6. Asas Keadilan Bermartabat
Keadilan merupakan tujuan yang paling terpenting dan utama dalam hukum.
Membicarakan masalah keadilan sama sulitnya seperti ketika membicarakan mengenai hukum itu sendiri. Bahkan pengertian keadilan itu berbeda-beda antara ahli yang satu dengan yang lainnya. Hal ini disebabkan keadilan memiliki pengertian yang relative tergantung pada pemahaman dan pandangan seseorang terhadap falsafah yang dianutnya. Ahli hukum yang menganut falsafat individual akan berbeda dengan orang yang menganut faham koleif dalam memandang apa itu keadilan. Keadilan setidak-tidaknya dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu:
23Ibid, hal. 78.
1. Keadilan umum (justitia generalis) atau keadilan legal, yaitu keadilan menurut kehendak undang-undang, yang harus ditunaikan demi kepentingan umum;
2. Keadilan khusus, yaitu keadilan atas dasar kesamaan atau proporsionalitas yang dibedakan menjadi tiga jenis yaitu keadilan distributif, artinya keadilan yang secara proporsional diterapkan dalam lapangan hukum publik secara umum, kedua keadilan komutatif yaitu yaitu keadilan dengan mempersamakan antara prestasi dan kontraprestasi, dan yang ketiga ialah keadilan vindikatif yaitu keadilan dalam hal menjatuhkan hukuman dan ganti kerugian dalam tindak pidana.
3. Aequitas, yaitu keadilan yang berlaku umum, objektif dan tidak memperhitungkan situasi daripada yang orang bersangkutan.24
Asas keadilan menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah adalah bahwa setiap tindakan dalam penyelenggaraan negara harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara. Asas keadilan menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara adalah bahwa pengaturan penyelenggaraan Aparatur Sipil Negara harus mencerminkan rasa keadilan dan kesamaan untuk memperoleh kesempatan akan fungsi dan peran sebagai Pegawai Aparatur Sipil Negara. Dan, asas keadilan menurut Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman adalah cukup jelas25, yang berarti ombudsman wajib berpedoman
24Ibid, hal. 10.
25Cekli Setya Pratiwi, et.al., Asas-Asas Umum Pemerintahan Yang Baik, Lembaga Kajian dan Advokasi untuk Independensi Peradilan (LeIP), Jakarta, 2016, hal. 115.
pada prinsip independen, non-diskriminasi, tidak memihak, dan tidak memungut biaya, serta wajib mendengarkan dan mempertimbangkan pendapat para pihak.
Sebagai suatu hasil dari proses kegiatan berpikir yang berdisiplin, menaati kaidah-kaidah keilmuan sebagai kerangka kerja; teori keadilan bermartabat dapat disebut sebagai suatu pemikiran. Pemikiran adalah proses dan hasil dari kegiatan berpikir yang meta teoritis; suatu pemahaman yang didominasi dengan abstraksi, konsepsi, preposisi. Itulah sebabnya, teori keadilan bermartabat dapat disebut dengan suatu filsafat. Tujuan filsafat ialah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, mengajukan kritik dan menilai pengetahuan, menemukan hakikatnya, dan menerbitkan serta mengatur semuanya di dalam bentuk yang sistematik. Filsafat membawa kepada pemahaman, dan pemahaman membawa kepada tindakan yang lebih layak.26
Teori keadilan bermartabat sebagai ilmu hukum memiliki suatu skopa atau cakupan yang, antara lain pertama, filsafat hukum atau philoshophy of law, kedua teori hukum (legal theory), ketiga dogmatik hukum atau ilmu hukum positif, dan keempat hukum dan praktik hukum.27
Sekalipun terlihat bahwa lapisan ilmu dalam teori keadilan bermartabat itu adalah lapisan yang saling terpisah antara satu dengan lapisan lainnya, namun pada prinsipnya lapisan-lapisan ilmu hukum itu merupakan satu kesatuan sistemik, mengendap, hidup dalam satu sistem. Saling berkaitan antara satu dengan lainnya,
26 Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barkatullah, Ilmu Hukum dan Filsafat Hukum, Studi Pemikiran Ahli Hukum Sepanjang Zaman, Cetakan Keempat, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2011, hal. 5-6.
27Ibid., hal. 21.
bahu membahu (shoulder to shoulder), gotong royong sebagai suatu sistem. Teori keadilan bermartabat berangkat dari postulat sistem; bekerja mencapai tujuan, yaitu keadilan yang bermartabat. Keadilan yang memanusiakan manusia, atau keadilan yang nge wong ke wong.28
Namun, keempat komponen atau lapisan-lapisan dalam teori keadilan bermartabat sebagai suatu ilmu hukum tersebut merupakan suatu sistem atau satu kesatuan yang terdiri dari beberapa bagian namun saling kait-mengkait.29
Teori keadilan bermartabat, dengan demikian menganut prinsip bahwa seorang praktisi hukum tidak dapat mengatakan bahwa dia bekerja tanpa inspirasi dari filsafat hukum, teori hukum maupun doktriner. Dalam teori keadilan bermartabat, seorang praktisi hukum misalnya berpegang kepada budaya sistem hukum bahwa dia tidak dapat begitu saja berpikir bahwa dalam melakukan pekerjaannya dia tidak berurusan dengan dogmatika, selanjutnya teori hukum dan begitu pula jauh dari pemikiran filsafat hukum. Dalam teori keadilan bermartabat, perilaku yang dikehendaki atau unggah-ungguh di dalam berilmu hukum seperti ini sebenarnya bukanlah merupakan barang baru. 30
Teori keadilan bermartabat berisi suatu sistem hukum yang mengemban empat fungsi. Keempat fungsi itu adalah bahwa: pertama, hukum yang dalam hal ini dibatasi pada kaidah dan asas-asas hukum yang saling berkaitan dalam sistem
28 Teguh Prasetyo, Op.Cit., hal. 2.
29Ibid, hal. 3.
30Ibid, hal. 4.
menjadi bagian dari sistem kontrol sosial mengatur perilaku manusia individual maupun masyarakat.
Sedangkan fungsi hukum yang kedua bahwa hukum yang dalam hal ini dibatasi pada kaidah dan asas-asas hukum yang saling berkaitan dalam sistem adalah sebagai sarana untuk menyelesaikan sengketa. Ketiga, fungsi hukum yang dalam hal ini dibatasi pada kaidah dan asas-asas hukum yang saling berkaitan dalam sistem menjadi bagian dari untuk melakukan rekayasa sosial. Berkaitan dengan itu fungsi hukum yang keempat yaitu hukum berfungsi sebagai pemelihara sosial. Dalam menjalankan fungsi ini maka hukum dibatasi pada kaidah dan asas- asas hukum yang saling berkaitan dalam sistem menjadi sarana untuk memelihara status dari sistem hukum itu sendiri sebagai suatu status quo, tidak mengingikan perubahan, dalam pengertian hal-hal yang mengancam eksistensi hukum.31
Perspektif teori keadilan bermartabat, hukum positif sebagai suatu sistem dipandang tersusun dengan struktur yang berisi tiga komponen. Unsur pertama disebut dengan unsur idiil. Meliputi seluruh aturan, kaidah, pranata, dan asas hukum. Semua unsur ideal ini dalam konsep sistem dikenal dengan sistem makna atau sistem lambang, simbolisasi atau sistem prefensi. Unsur kedua disebut dengan unsur operasional, dalam sistem hukum ini mencakup keseluruhan organisasi, lembaga dan pejabat. Pada tataran kenegaraan, unsur ini meliputi badan-badan pemerintahan yang menjalankan fungsi-fungsi eksekutif, legislatif, dan yudikatif dengan aparatnya masing-masing. Unsur ketiga dalam sistem hukum sebagaimana dipahami diatas dan juga penting untuk diperhatikan dalam
31 Lawrence M. Friedman, American Law, W.W. Norton & Company, New York, hal. 5-6.
teori keadilan bermartabat ini yaitu unsur aktual yang mencakup keseluruhan keputusan dan tindakan (perilaku) baik itu perilaku para pejabat mapun para warga masyarakat.32
B. HASIL PENELITIAN
Menimbang bahwa Pemohon telah mengajukan permohonan dengan surat permohonan bertanggal 13 Desember 2012 yang diterima di Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut Kepaniteraan Mahkamah) pada tanggal 13 Desember 2012 berdasarkan Akta Penerimaan Berkas Permohonan Nomor 1/PAN.MK/2013 dan telah dicatat dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi pada tanggal 3 Januari 2013 dengan Nomor 1/PUU-XI/2013, yang telah diperbaiki dengan perbaikan permohonan dan diterima di Kepaniteraan Mahkamah pada tanggal 1 Februari 2013.
1. Pokok Permohonan a. Pemohon
Pemohon dalam perkara dengan Putusan Nomor 1/PUU-XI/2013 tentang Inkonstitusionalitas Perbuatan Maupun Perlakuan Tidak Menyenangkan dalam pengujian Pasal 335 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) ini adalah Nama: Oie Alimin Sukamto Wijaya ; Jenis Kelamin: Laki-Laki ; Kebangsaan:
Indonesia ; Tempat tinggal: Jalan Waspada Nomor 98, Surabaya ; Pekerjaan:
Swasta.
32 Teguh Prasetyo, Op.Cit., hal. 172-174.
b. Batu Uji
Yang menjadi batu uji dalam penelitian ini yaitu : Pasal 335 KUHP menyatakan;
(1)Diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah:
1. barang siapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan, atau memakai ancaman kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan, baik terhadap orang itu sendiri maupun orang lain”.
2. Barang siapa memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu dengan ancaman pencemaran atau pencemaran tertulis.
(2)Dalam hal sebagaimana dirumuskan dalam butir 2, kejahatan hanya dituntut atas pengaduan orang yang terkena.
KUHP diambil dari buku berjudul KUHP dan KUHAP penghimpun SALAHUDIN cetakan pertama Juli tahun 2007 terbitan Transmedia Pustaka
Pasal 335 ayat (1) KUHP menyatakan;
(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah:
1. barang siapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu, dengan
kekerasan, dengan sesuatu perbuatan lain atau dengan perlakuan yang tak menyenangkan, atau dengan ancaman kekerasan, dengan ancaman perbuatan lain atau dengan ancaman perlakuan yang tak menyenangkan, baik terhadap orang itu sendiri maupun orang lain.
2. Barang siapa memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu dengan ancaman pencemaran atau pencemaran tertulis.
(2) Dalam hal yang dimaksud dalam nomor 2, kejahatan itu dituntut hanya atas pengaduan orang yang terkena kejahatan itu.
Pasal 21 ayat (4) huruf b KUHAP sepanjang frasa pasal 335 ayat (1)
(1) Perintah penahanan atau penahanan lanjutan dilakukan terhadap seorang tersangka atau terdakwa yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti yang cukup, dalam hal adanya keadaan yang menimbulkan kekhawatiran bahwa tersangka atau terdakwa akan melarikan diri, merusak atau menghilangkan barang bukti dan atau mengulangi tindak pidana.
(2) Penahanan atau penahanan lanjutan dilakukan oleh penyidik atau penuntut umum terhadap tersangka atau terdakwa dengan memberikan surat perintah penahanan atau penetapan hakim yang mencatumkan identitas tersangka atau terdakwa dan menyebutkan alasan penahanan serta uraian singkat perkara kejahatan yang dipersangkakan atau didakwakan serta tempat ia ditahan.
(3) Tembusan surat perintah penahanan atau penahanan lanjutan atau penetapan hakim sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) harus diberikan kepada keluarganya.
(4) Penahanan tersebut hanya dapat dikenakan terhadap tersangka atau terdakwa yang melakukan tindak pidana dan atau percobaan maupun pemberian bantuan dalam tindak pidana tersebut dalam hal : a. tindak pidana itu diancam dengan pidana penjara lima tahun atau
lebih;
b. tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 282 ayat (3), Pasal 296, “Pasal 335 ayat (1)”, Pasal 351 ayat (1),Pasal 353 ayat (1), Pasal 372, Pasal 378, Pasal 379 a, Pasal 453, Pasal 454, Pasal 455, Pasal 459, Pasal 480 dan Pasal 506 Kitab Undang-undang Hukum Pidana, Pasal 25 dan Pasal 26 Rechtenordonnantie (pelanggaran terhadap Ordonansi Bea dan Cukai, terakhir diubah dengan Staatsblad Tahun 1931 Nomor 471), Pasal 1, Pasal 2 dan Pasal 4 Undang-undang Tindak Pidana Imigrasi (Undang-Undang Nomor 8 Drt. Tahun 1955, Lembaran Negara Tahun 1955 Nomor 8), Pasal 36 ayat (7), Pasal 41, Pasal 42, Pasal 43, Pasal 47 dan Pasal 48 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976 tentang Narkotika (Lembaran Negara Tahun 1976 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3086).
Selanjutnya UUD 1945 berbunyi:
Pasal 28 D ayat (1) : “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil, serta perlakuan yang sama dihadapan hukum”.
1. Bahwa KUHP meskipun diundangkan pada tahun 1946 sebenarrnya KUHP berasal dari Wetboek van Strafrecht atau Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dari jaman penjajahan Belanda di Indonesia (Nederlandsch Indie), jadi kalaupun ada perbedaan hanya pada penggunaan istilah dan susunan kalimat saja.
2. Bahwa harus diakui isi pasal-pasal dalam KUHP banyak yang sudah ketinggalan zaman, dan sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi alam demokrasi sekarang. Namun faktanya pemerintah kita belum bisa melakukan revisi KUHP, meski dari dulu dijanjikan akan ada revisi namun faktanya tidak pernah terjadi.
3. Bahwa dalam hukum pidana perbuatan tidak menyenangkan sebagaimana telah disebut di atas diatur dalam Bab XVIII tentang Kejahatan Terhadap Kemerdekaan Orang Pasal 335 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang rumusannya berbunyi : (1). Diancam dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak tiga ratus rupiah: Barang siapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan, atau dengan memakai ancaman kekerasan, sesuatu
perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan, baik terhadap orang itu sendiri atau orang lain.
4. Perkara perbuatan yang tidak menyenangkan sebagaimana diatur Pasal 335 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dapat dilakukan penahanan meskipun ancaman hukumannya paling lama 1 (satu) tahun.
Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 21 ayat (4) huruf (b) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Kualifikasi penahanan seorang tersangka dalam perkara perbuatan tidak menyenangkan tetap mengacu pada suatu alasan hukum seperti diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti yang cukup, dalam hal adanya keadaan yang menimbulkan kekhawatiran tersangka atau terdakwa akan melarikan diri, merusak atau menghilangkan barang bukti dan atau mengulangi tindak pidana. Dalam surat perintah penahanannya, instansi yang berkepentingan (penyidik, penuntut umum atau hakim) harus menyebutkan alasan penahanannya. Tanpa penyebutan alasan penahanan, maka penahanan yang dilakukan adalah cacat hukum dan dapat di praperadilankan.
5. Bahwa praktik hukum, seorang tersangka dalam perkara perbuatan tidak menyenangkan umumnya sering dilakukan penahanan seperti yang dialami oleh Pemohon. kepentingan untuk melakukan penahanan merupakan sifat yang sangat subjektif yang diukur berdasarkan kewenangan yang bersifat subjektif pula. Karena bersifat subjektif pada akhirnya banyak perintah-perintah penahanan dikeluarkan yang tidak
sesuai dengan alasan-alasan penahanan sebagaimana dimaksud dan diatur Pasal 21 ayat (4) huruf b KUHAP. Bahwa, Pasal 21 ayat (4) huruf KUHAP memberikan kekuasaan penuh terhadap penyidik, penuntut umum dan hakim untuk melakukan penahanan, padahal ancamannya hanya satu tahun. Dan pasal ini jelas tidak mengandung perlindungan hukum dan kepastian hukum kepada Pemohon sebagaimana di jamin dalam Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
6. Bahwa, dalam konteks penahanan yang dialami oleh Pemohon [sesuai Pasal 21 ayat (4) huruf b KUHAP] tentu sangat subyektif dan diskriminatif yang dilakukan oleh Polsek Genteng Surabaya. Pertama, laporan penganiayaan yang dialami oleh Pemohon sama sekali tidak ditindaklanjuti oleh Polsek Genteng Surabaya. Sementara laporan Haryono Winata langsung direspon cepat dengan tuduhan Pemohon Melanggar Pasal 335 ayat (1) KUHP dikarenakan Pemohon Mengucapkan kata-kata “kalo kamu berani jangan mukuli aku di hotelmu ayo kita duel di Suramadu”. Padahal kata-kata tersebut terucap setelah Pemohon dianiaya oleh Haryono Winata hingga babak belur, artinya kata-kata uang diucapkan oleh Pemohon tidak tiba-tiba.
Jadi wajar Pemohon mengeluarkan kata-kata a quo. Pemohon menganggap bahwa Pasal 21 ayat (4) huruf b KUHAP jelas tidak memberikan jaminan dan pengakuan hak Pemohon sebagai Tersangka yang dilindungi Undang-Undang untuk tidak harus ditahan. Maka Pemohon menganggap
bahwa Pasal 21 ayat (4) huruf KUHAP jelas bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
7. Bahwa menurut Supriyadi Widodo Eddyono, S.H. dalam klinik hukum online tanggal 8 November 2010 mengatakan Pasal 335 ayat (1) KUHP mensyaratkan adanya pemenuhan atas dua unsur yakni
“memakai kekerasan” atau “ancaman kekerasan”. Pembuktian delik ini cukup dengan terpenuhinya salah satu dari dua unsur tersebut. Dalam praktiknya, penerapan Pasal 335 ayat (1) KUHP oleh Mahkamah Agung R.I. (MA) akan menekankan pada penafsiran terhadap “unsur paksaan” sebagai unsur utama yang harus ada dalam rangkaian perbuatan yang tidak menyenangkan. Unsur paksaan, menurut MA, tidak selalu diterjemahkan dalam bentuk paksaan fisik, tapi dapat pula dalam bentuk paksaan psikis.
8. Dalam Putusan Nomor 675 K/Pid/1985 tanggal 4 Agustus 1987 yang memperbaiki putusan bebas (vrijspraak) dari Pengadilan Negeri Ende Nomor 15/Pid.B/1984 tanggal 26 Maret 1985, MA telah memberi kualifikasi perbuatan pidana yang tidak menyenangkan yaitu: “Dengan sesuatu perbuatan, secara melawan hukum memaksa orang untuk membiarkan sesuatu.” Artinya, ada rangkaian perbuatan terdakwa yang bersifat melawan hukum yang melahirkan akibat yaitu orang lain atau korban tidak berbuat apa-apa sehingga terpaksa membiarkan terjadinya sesuatu sedang dia (korban) tidak setuju atau tidak mau terjadinya sesuatu
tersebut, baik karena dia tidak suka maupun karena dia tidak membolehkan terjadinya sesuatu tersebut, akan tetapi dia tidak mempunyai kemampuan fisik dan psikis untuk menolak, menghalangi, menghindar dari terjadinya perbuatan yang bersifat melawan hukum tersebut.
9. Bahwa jika memahami pertimbangan putusan Mahkamah Agung di atas, tentu unsur delik perbuatan tidak menyenangkan harus mensyaratkan unsur paksaan, apakah itu paksaan fisik maupun paksaan psikis. Bahwa dalam kasus Pemohon, sama sekali Pemohon tidak melakukan paksaan baik psikis maupun paksaan fisik. Ucapan pemohon hanya efek dari dipukulinya Pemohon oleh terlapor, dan kenapa Polsek Genteng Surabaya sudah menganggap ucapan Pemohon sudah masuk unsur perbuatan tidak menyenangkan. Akhirnya Pemohon mengambil kesimpulan jika Pasal 335 ayat (1) KUHP benar-benar pasal karet yang sangat merugikan hak Pemohon sebagaimana diatur dalam Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
10. Bahwa dalam praktiknya, polisi cenderung mudah sekali menerapkan Pasal 335 ayat (1) KUHP dengan dalih pembuktian nanti urusan pengadilan. Jika sudah seperti ini hak tersangka menjadi tidak berdaya.
Ditambah lagi menurut Pasal 21 ayat (4) huruf b KUHAP, Pasal 335 ayat (1) adalah pasal perkecualian yang bisa dilakukan penahanan. Pemohon menjadi korban dari subjektifitas penyidik Polsek Genteng Surabaya.
Di mana hanya ucapan Pemohon yang dianggap tidak menyenangkan pelapor, Pemohon ditahan oleh Polsek Genteng Surabaya. Bukankah kalo begitu pasal 335 ayat (1) KUHP dan pasal 21 ayat (4) huruf b KUHAP melanggar hak asasi Pemohon yang dijamin oleh Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
11. Dalam hukum atau dalam pengertian hukum pidana, perbuatan tidak menyenangkan dapat berakibat fatal bagi pelakunya jika perbuatan yang tidak menyenangkan tersebut tidak disukai atau tidak dapat diterima oleh pihak yang menjadi korban dari perbuatan yang tidak menyenangkan, meskipun akibat perbuatannya tidak membahayakan jiwa korban atau penderita, akan tetapi ada perasaan yang sungguh tidak enak dirasakan oleh si penderita atau korban sudah bisa melapor ke polisi.
12. Bahwa sudah menjadi jelas norma hukum delik perbuatan tidak menyenangkan sangat luas maknanya seperti karet, bisa ditarik kemana-mana. Seharusnya dalam hukum pidana delik pidana harus jelas makna pengertiannya, misalnya pencurian adalah “Barang siapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah.” Dalam rumusan delik pencurian sangat jelas, apa itu mengambil barang bukan kepunyaannya sendiri, dengan maksud memiliki secara melawan hukum. Begitu juga dalam delik tindak pidana penggelapan juga
unsur-unsurnya jelas, “Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum memiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapi yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan diancam karena penggelapan, dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah.” Hal ini sangat berbeda dengan perbuatan tidak menyenangkan yang siapapun yang dianggap melakukan perbuatan tidak menyenangkan bisa dilaporkan melanggar Pasal 335 ayat (1) KUHP.
13. Bahwa fakta menunjukkan penyidik jika ingin menahan tersangka sementara ancaman pasalnya tidak sampai 5 tahun, maka penyidik akan menyelipkan Pasal 335 ayat (1) KUHP agar tersangka tersebut bisa ditahan. Sebab pasal apapun jika digandengkan dengan Pasal 335 ayat (1) KUHP menjadi nyambung. Hal ini bisa diliat dalm kasus ditetapkannya Pemohon oleh Polrestabes Surabaya yang dituduh melakukan pidana Pasal 281, karena ancaman tidak sampai 5 (lima) tahun, akhirnya ditambahi Pasal 335 ayat (1) KUHP.
14. Bahwa menurut pendapat Prof. J.E. Sahetapy, SH., MA., sebagaimana dikutip dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 013-022/PUU- IV/2006 menyatakan bahwa Pasal V UU Nomor 1 Tahun 1946 merupakan batu penguji tentang relevansi dan raison d’etre pasal-pasal KUHPidana dimaksud menyatakan “Peraturan hukum pidana yang seluruhnya atau sebagian sekarang tidak dapat dijalankan, atau bertentangan dengan kedudukan Republik Indonesia sebagai negara merdeka, atau tidak
mempunyai arti lagi, harus dianggap seluruhnya atau sebagian sementara tidak berlaku”;
15. Bahwa, ketentuan Pasal 21 KUHAP ayat (4) huruf b menyatakan perbuatan tidak menyenangkan dalam kategori kejahatan yang dapat ditahan. Pasal ini jelas telah merugikan hak-hak konstitusional Pemohon. Kalau mau fair, ancaman Pasal 335 ayat (1) KUHP cuman satu tahun. Maka idealnya tidak bisa ditahan. Namun karena KUHAP Pasal 21 ayat (4) huruf b memberi perkecualian. Akhirnya Pemohon ditahan oleh Polsek Genteng. Mestinya frasa perkecualian huruf b tidak memasukkan Pasal 335 ayat (1). Implementasinya sangat berbahaya, di mana pasal ini sering dipakai Penyidik dan Jaksa Penuntut Umum sebagai pasal terakhir guna menjerat perbuatan pelaku. Coba bayangkan, jika segala perbuatan asal dirasa tidak menyenangkan orang lain pelakunya dapat ditahan? Berapa banyak orang dapat ditahan mungkin karena hal-hal yang sepele asalkan "tidak menyenangkan" orang lain. Kasus inilah yang terjadi pada diri Pemohon. Di mana letak perlindungan hukum dari negara sebagaimana dijamin oleh Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945?
16. Bahwa delik Pasal 335 ayat (1) KUHP menyatakan, barang siapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu dengan memakai kekerasan atau ancaman kekerasan. Kecuali sepanjang frasa kata sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan dan sesuatu
perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan yang tidak mengandung perlindungan hukum dan kepastian hukum seperti yang dijamin dalam Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Bahwa dengan ditahannya Pemohon padahal permasalahannya belum jelas, menjadikan Pemohon sangat dirugikan. Jika ternyata di pengadilan Pemohon tidak bersalah, bagaimana dengan kerugian Pemohon yang pernah ditahan oleh Polsek Genteng Surabaya, siapa yang memberi ganti kerugian?
17. Bahwa menurut doktrin yang berlaku umum yaitu “power tends to corrupt, absolute power corupt absolutely”, oleh karena polisi, jaksa dan hakim diberikan kewenangan penuh untuk bisa menahan jika tersangka/terdakwa diduga melanggar Pasal 335 ayat (1) KUHP, maka kecenderungan aparat penegak hukum akan menyalahgunakan kekuasaannya lebih terbuka. Aparat penegak hukum dengan mudah berbuat secara sewenang-wenang terhadap kewenangan yang dimiliki dan melekat dalam jabatannya. Hal ini terbukti seperti yang dialami oleh diri Pemohon, bukankah hak-hak konstitusional Pemohon yang dilindungi Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 jadi terabaikan.
18. Bahwa dalil Ultimum Remedium, (sarana terakhir) yaitu berkaitan dengan masalah bagaimana menentukan dapat dipidana atau tidak dapat dipidana suatu perbuatan yang dilakukan dengan sengaja atau dengan kelalaian. Dalam kasus yang dialami oleh Pemohon, Polsek Genteng
Surabaya tidak pernah bertindak fair apalagi mencoba mendamaikan Pemohon, justru posisi Pemohon dipojokkan lalu ditahan. Sehingga menjadi tersangka dengan pasal yang sama yaitu Pasal 335 ayat (1) KUHP.
19. Kesimpulannya semua perlakuan yang tidak menyenangkan dapat diadukan ke pihak kepolisian, apabila dirasa perlu penyidik polisi dapat melakukan penahanan terhadap tersangka seperti yang dialami oleh Pemohon. Apa saja yang dimaksud dengan kategori perlakuan tidak menyenangkan? Jawabannya segala perbuatan yang tidak diterima oleh pengadu atau yang dirasa tidak menyenangkan hatinya. Disinilah letak kelemahan delik Pasal 335 ayat (1) KUHP sepanjang frasa kata sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan dan sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan dan kelemahan Pasal 21 ayat (4) huruf b sepanjang frasa kata Pasal 335 ayat (1) KUHAP.
20. Bahwa Setelah dicermati dan dibaca secara seksama isi dari Pasal 335 ayat (1) sepanjang frasa kata sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan dan sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan Pasal 21 ayat (4) huruf b sepanjang frasa kata Pasal 335 ayat (1) Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) tidak memenuhi rasa keadilan baik dalam kaca mata konstitusi maupun dalam kaca mata sosiologis buat Pemohon.
21. Bahwa Pasal 335 ayat (1) sepanjang frasa kata sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan dan sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan Pasal 21 ayat (4) huruf b sepanjang frasa kata Pasal 335 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) mencerminkan pembedaan kedudukan dan perlakuan (unequal treatment), ketidakadilan (injustice), ketidakpastian hukum (legal uncertainty).
Bukankah kalau sudah begitu wajar Pemohon menganggap apabila pasal a quo bertentangan terhadap Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
22. Bahwa berdasarkan uraian tersebut di atas, maka jelas keberadaan Pasal 335 ayat (1) sepanjang frasa kata sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan dan sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan Pasal 21 ayat (4) huruf b sepanjang frasa kata Pasal 335 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
23. Sehingga dengan demikian ketentuan Pasal 335 ayat (1) sepanjang frasa kata sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak
menyenangkan dan sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1946 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan Pasal 21 ayat (4) huruf b sepanjang frasa kata Pasal 335 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) harus dinyatakan ”tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat”.
24. Bahwa Pemohon sekarang ini dalam kondisi depresi yang serba ketakutan terhadap panggilan Kepolisian, oleh karena takut ditahan.
Padahal ada panggilan tahap ke II oleh Polsek Genteng Surabaya untuk dihadapkan ke Jaksa Penuntut pada hari Kamis tanggal 13 Desember 2012. Untuk demi tercapainya perlindungan dan kepastian hukum terhadap diri Pemohon. Pemohon meminta kepada ketua Mahkamah Konstitusi agar sidang perkara a quo dipercepat agar ada kepastian hukum untuk Pemohon.
2. Pembuktian
a. Fakta Persidangan
Pemohon mengajukan seorang ahli yaitu Dr. M. Sholehuddin, S.H., M.H., yang telah didengar keterangannya dibawah sumpah dalam persidangan tanggal 21 Februari 2013, yang menerangkan sebagai berikut:
Dr. M. Sholehuddin, S.H., M.H.,
1) Sebelum ahli menyampaikan pokok-pokok pikiran mengenai apa yang diminta kepada ahli tetang permasalahan-permasalahan dari rumusan delik yang terdapat di dalam Pasal 335 ayat (1) KUHP yang berkaitan dengan KUHAP. Terlebih dahulu ahli menceritakan seorang awam hukum pernah menyampaikan kepada ahli, yang pernah naik kereta api ekonomi dari Surabaya ke Jakarta, karena duduknya berhadap-hadapan ada seseorang yang melepas sepatunya, melepas sepatunya kemudia kaos kakinya dilepas karena mungkin bau dan tahu-tahu ada polisi yang membawanya ketika berhenti di stasiun. Polisi itu membawanya dan menyangka atau menuduh dia melakukan perbuatan tidak menyenangkan karena bau. Kemudian, teman ahli berpikir, padahal dia awam hukum karena disiplin ilmunya bahasa dan sastra Indonesia. “Lho, kalau melepas sepatu saja kemudia bau, bisa dilaporkan polisi dengan perbuatan tidak menyenangkan, padahal saya tidak senang naik kereta api yang bunyinya terlalu keras, ya. Itu juga membuat tidak senang saya,” katanya, “tapi apa bisa dilaporkan?”;
2) Cerita ini kemudian mengingatkan ahli bahwa memang di dalam praktik- praktik hukum di Indonesia Pasal 335 ayat (1) KUHP ini sering dikatakan sebagai tindak pidana perbuatan tidak menyenangkan. Padahal sesungguhnya bila dilihat dari struktur kalimat, itu salah kaprah sebenarnya karena ada salinan dari Bahasa Belanda itu onaangename bejegening. Itu diambil saja begitu saja onaangename-nya, tidak menyenangkan, dengan tanpa memperhatikan kata sambungannya bejegening yang artinya memperlakukan. Jadi sesungguhnya
memperlakukan orang secara tidak menyenangkan, bukan perbuatan tidak menyenangkan karena perbuatan tidak menyenangkan, bukan perbuatan tidak menyenangkan karena perbuatan tidak menyenangkan itu subjektifitasnya tinggi dan objektifitasnya rendah. Sehingga segala sessuatu bentuk perbuatan yang kita anggap secara subjektif, relatif, tidak menyenangkan, itu bisa dimasukkan.
3) Bahwa dalam praktik peradilan di Indonesia terutama ketika proses pada tahap proses penyidikan sebagai garda terdepan dalam penegakan hukum pidana, praktik-praktik tersebut muncul dan sering ditanyakan kepada ahli karena ahli kebetulan sering kali diminta untuk memberikan keterangan ahli, baik di BAP maupun persidangan. Padahal itu sesungguhnya salah, salah fatal akan mengakibatkan multitafsir nantinya;
4) Bahwa sesunguhnya Pasal 335 KUHP padanannya dalam Nederland Wetbookvan Straafrecht, ada di artikel 284, dan disitu tidak mencamtumkan frasa atau unsur delik sebagai alternatif tentang perbuatan tidak menyenangkan atau dengan ancaman perbuatan tidak menyenangkan.
Jadi dalam artikel 284 Nederland Wetbook van Straafrecht, tidak mencantumkan hal tersebut dan hanya di Nederland Wetbook van Straafrecht for Hindi untuk Indonesia, hal tersebut ada.
5) Bahwa yang ahli sampaikan sesungguhnya bukan perbuatan tidak menyenangkan, tetapi memperlakukan orang secara tidak menyenangkan, ini beda. Selain itu, yang berbeda adalah sanksinya, kalau di KUHP Belanda itu sembilan bulan penjara, tetapi di dalam KUHP Indonesia
WVS Indonesia 1 tahun, itu bedanya. Lalu di sini karena perkembangan dalam prakik seperti ini, Prof. Dr. Andi Hamzah pernah menyampaikan ketika pertemuan Asosiasi Pengajar Hukum Pidana dan Kriminologi Indonesia yang kemudian dalam praktik-praktik perkembangan lalu timbul di kalangan praktisi hukum. Satu hal yang pura-pura keliru terhadap maka dari perbuatan tidak menyenangkan dan sampai sekarang tetap berlanjut, bahlan Prof. Dr. Andi Hamzah mengusulkan supaya unsur delik tersebut atau frasa perbuatan tidak menyenangkan atau dengan ancaman perbuatan tidak menyenangkan dihilangkan dalam konsep RUU KUHP nasional dan kemudia pada konsep terakhir unsur tersebut/frasa terebut memang dihilangkan.
6) Bahwa sesungguhnya konsep terakhir RUU KUHP Tahun 2005 sudah di meja Presiden Prof. Muladi waktu itu sudah diminta hadir menerangkan tetapi sampai sekarang belum dibahas yang RUU KUHP nasional itu.
Konsep RUU KUHP nasional, frasa tersebut dihilangkan. Ini memang atas pertama kali usulan atau penyampaian dari Prof. Andi Hamzah, karena dianggap sering disalahgunakan dan secara prinsip hukum pidana, bertentangan karena prinsip hukum pidana harus mengandung rumusan delik itu adalah lex scripta, lex certa, dan lex sricta.
7) Bahkan Prof. Andi Hamzah juga pernah menyampaikan, suatu hari tahun 1997 datang kepada beliau seorang yang bernama Rusdi di Ujung Panang menyampaikan surat panggilan polisi yng didalamnya diterangkan melakukan perbuatan tidak menyenangkan karena memagari tanah yang
dia punya sehingga pagarnya itu menghalangi pemandangan dari tanah milik orang lain. Ini dilaporkan ke polisi, di situ surat panggilannya perbuatan tidak menyenangkan. Lalu beliau heran, ini menghalangi pandanganitu bukan ranah hukum pidana, itu ranah hukum perdata.
Mengapa dimasukkan menjadi tindak pidana perbuatan tidak menyenangkan.
8) Kemudian menurut ahli bahwa sesungguhnya yang bermasalah itu adalah normanya, norma yang diatur dalam frasa itu. Itu yang memunculkan permasalahan-permasalahan. Jadi bukan pada interpretasinya, normanya yang menimbulkan masalah sehingga bias, ambiguitas, multitafsir, dan lain-lain yang sesungguhnya bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum pidana.
9) Terkait dengan Pasal 21 KUHAP, hukum pidana formilnya ada dalam Pasal 21 ayat (4) huruf b KUHAP yang mencantumkan frasa Pasal 335 ayat 1, dapat ditahan, sehingga dalam praktik penanganan ahli, seringkali Pasal 335 ayat (1) KUHP penerapan motifnya adalah agar pelakunya dapat ditahan, sehingga segala bentuk perbuatan yang dianggap tidak menyenangkan yang subjektifitasnya tinggi, keranjang sampah istilah dalam praktik hukum. Hal tersebut menjadi satu persoalan yang bisa ahli simpulkan bahwa frasa ada satu unsur delik dalam Pasal 335 ayat (1) KUHP yaitu perbuatan lain ataupun perbuatan tidak menyenangkan, atau dengan ancaman perbuatan tidak menyenangkan terlalu bersifat subjektif yang sangat tinggi sehingga bias, multitafsir, yang bertentangan dengan
prinsip-prinsip hukum pidana dan karena itu dalam konsep RUU KUHP yang terakhir frasa tersebut sudah hilang tidak dicantumkan lagi.
Menimbang bahwa untuk membuktikan dalilnya, Pemohon telah mengajukan alat bukti surat atau tulisan yang diberi tanda bukti P-1 sampai dengan bukti P-15 serta ahli M. Sholehuddin yang pada pokoknya menerangkan sebagai berikut :
1) Pasal 335 KUHP dalam Nederland Wetboek van Strafrecht di artikel 284 tetapi tidak mencantumkan frasa atau unsur delik sebagai alternatif delik tentang perbuatan yang tidak menyenangkan atau dengan ancaman perbuatan tidak menyenangkan. Delik tersebut bukan perbuatan tidak menyenangkan, tetapi memperlakukan orang secara tidak menyenangkan dengan sanksi yang berbeda, yaitu dalam KUHP Belanda sembilan bulan penjara, sedangkan dalam KUHP Indonesia satu tahun penjara;
2) Prof. Dr. Andi Hamzah mengusulkan agar unsur delik perbuatan tidak menyenangkan atau dengan ancaman perbuatan tidak menyenangkan dihilangkan dalam konsep Rancangan Undang-Undang Kitab Undang- Undang Hukum Pidana (RUU KUHP);
3) Terkait dengan Pasal 21 KUHAP dalam praktik seringkali Pasal 335 ayat (1) KUHP digunakan oleh aparat dengan tujuan agar pelakunya dapat ditahan, sehingga segala bentuk perbuatan yang dianggap tidak menyenangkan yang subjektivitasnya tinggi sudah seperti keranjang sampah. Hal tersebut menjadi satu persoalan bahwa frasa dalam Pasal 335 ayat (1) KUHP, yaitu perbuatan lain atau perbuatan tidak menyenangkan
bersifat subjektif yang sangat tinggi sehingga bias, multitafsir, yang bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum pidana;
Menimbang bahwa untuk membuktikan dalil-dalilnya, Pemohon telah mengajukan alat bukti surat/tulisan yang siberi tanda bukti P-1 sampai dengan bukti P-15 sebagai berikut:
a) Bukti P-1 Fotokopi Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b) Bukti P-2 Fotokopi Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP);
c) Bukti P-3 Fotokopi Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP);
d) Bukti P-4 Foto-foto Pemohon dengan Kondisi Lebam;
e) Bukti P-5 Fotokopi Surat POLRI DAERAH JAWA TIMUR RESOR KOTA BESAR SURABAYA SEKTOR GENTENG Laporan Polisi Nomor Polisi LP/427/VIII/2012/JATIM/RESTABES/SEK GTNG tanggal 5 Agustus 2012;
f) Bukti P-6 Fotokopi surat POLRI DAERAH JAWA TIMUR RESOR
KOTA BESAR SURABAYA SEKTOR GENTENG Nomor
B/110/IX/2012/RESKRIM tanggal 11 September 2012;
g) Bukti P-7 Fotokopi Bukti Setoran Bank Central Asia;
h) Bukti P-8 Fotokopi Surat KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAERAH JAWA TIMUR Tanda Bukti Lapor dengan STPL Nomor LPB/64/VIII/2012/SPKT;
i) Bukti P-9 Fotokopi Surat KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAERAH JAWA TIMUR DIREKTORAT RESERSE KRIMINAL UMUM Nomor B/1169/SP2HP-3/XI/2012/Ditreskrimun tanggal 2 November 2012;
j) Bukti P-10 Fotokopi Surat POLRI DAERAH JAWA TIMUR RESOR
KOTA BESAR SURABAYA SEKTOR GENTENG Nomor
SP.Han/123/X/2012/Reskrim tanggal 15 Oktober 2012;
k) Bukti P-11 Fotokopi Surat Panggilan Nomor SPG/83/IX/2012/Reskrim tanggal, 11 September 2012 Polisi Daerah Jawa Timur Resor Kota Besar Surabaya Sektor Genteng;
l) Bukti P-12 Fotokopi Surat KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAERAH JAWA TIMUR RESORT KOTA BESAR SURABAYA Nomor S-Pgl/3567-A/X/2012/Satreskrim tanggal 25 Oktober 2012;
m) Bukti P-13 Fotokopi Surat POM-AD KODAM V BRAWIJAYA Jawa Timur Nomor Aduan TBLP/11/VI/IDIK/2012 tertanggal 09 Agustus 2012;
n) Bukti P-14 Fotokopi Surat POLRI DAERAH JAWA TIMUR RESOR KOTA BESAR SURABAYA SEKTOR GENTENG Surat Panggilan Nomor SPG/123/X/2012/Reskrim tanggal 09 Oktober 2012;
o) Bukti P-15 Fotokopi KTP Nomor KTP 09.3171050612700006
b. Pertimbangan Hakim
Menimbang bahwa sebelum mempertimbangkan pokok permohonan, Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut Mahkamah) terlebih dahulu akan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
1) Kewenangan Mahkamah untuk mengadili permohonan a quo;
2) Kedudukan hukum (legal standing) Pemohon;
Terhadap kedua hal tersebut, Mahkamah berpendapat sebagai berikut:
Kewenangan Mahkamah
Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 24C ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 10 ayat (1) huruf a Undang- Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagai mana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5226, selanjutnya disebut UU MK), Pasal 29 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5076), salah satu kewenangan Mahkamah adalah mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
Menimbang bahwa oleh karena permohonan Pemohon mengenai pengujian materiil Undang-Undang, in casu KUHP dan KUHAP terhadap Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 maka Mahkamah berwenang mengadili permohonan a quo;
Kedudukan Hukum (Legal Standing) Pemohon
Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 51 ayat (1) UU MK, yang dapat bertindak sebagai Pemohon dala pengujian suatu Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah mereka yang menganggap hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya Undang-Undang yang dimohonkan pengujian, yaitu:
1) Perorangan warga negara Indonesia, termasuk kelompok orang yang mempunyai kepentingan sama;
2) Kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam Undang-Undang;
3) Badan hukum publik atau privat; atau 4) Lembaga negara;
Dengan demikian, Pemohon dalam pengujian Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 harus menjelaskan dan membuktikan terlebih dahulu:
1) Kedudukannya sebagai Pemohon sebagaiana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (1) UU MK;
2) Kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang