• Tidak ada hasil yang ditemukan

JST Kesehatan, April 2011, Vol.1 No.1 : ISSN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JST Kesehatan, April 2011, Vol.1 No.1 : ISSN"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PERBANDINGAN KADAR APOLIPOPROTEIN B DAN FRAKSI LIPID SEBAGAI FAKTOR RESIKO SINDROM KORONER AKUT

Comparison Of Apolipoprotein B Level And Lipid Fraction As Risk Factors Of Acute Coronary Syndrome

Asvin Nurulita, Uleng Bahrun, Mansyur Arif

Bagian Patologi Klinik. Fakultas Kedokteran, Unhas, Makassar (Email: [email protected])

ABSTRAK

Sindrom Koroner Akut (SKA) merupakan penyebab kematian yang terbanyak dari penyakit jantung di dunia, termasuk di Indonesia. Faktor resiko SKA yang cukup berperan adalah fraksi lipid dan apolipoprotein B. Hipotesis terbaru mengenai terbentuknya aterosklerosis pada SKA adalah peningkatan kadar apolipoprotein B. ApoB saat ini telah menjadi petanda resiko penyakit jantung yang lebih kuat dibandingkan kolesterol total, koesterol LDL dan trigliserida. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kadar apolipoprotein B dan kadar fraksi lipid (kolesterol total, kolesterol LDL dan trigliserida) sebagai prediktor SKA. Telah dilakukan penelitian cross sectional terhadap 44 sampel SKA di RSU. Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar periode Maret sampai Juli 2008. Data dianalisis dengan uji T menggunakan SPSS versi 14.0 for Windows. Didapatkan 44 sampel yang terdiagnosis SKA, usia 44 – 80 tahun, predominan usia > 55 tahun (63.6%) dan laki- laki (61.3%). Ditemukan peningkatan kadar apolipoprotein B, kolesterol total dan LDL, dimana mean apoB 248,5mg/dl, mean kadar kolesterol total 232,3 mg/dl, mean kadar LDL kolesterol 156,4mg/dl. Dengan uji T didapatkan apolipoprotein B, kolesterol total dan kolesterol LDL dapat dipergunakan sebagai prediktor SKA, dengan nilai p < 0.05. Uji Pearson menunjukkan APoB dapat digunakan sebagai predictor kadar kolesterol total dan kolesterol LDL dengan r>0.4. Kami menyimpulkan bahwa Apolipoprotein B dapat digunakan sebagai prediktor SKA sama baiknya dengan kolesterol total dan kolesterol LD, namun lebih baik dibandingkan trigliserida.

Kata Kunci : Sindrom Koroner Akut, Apolipoprotein B, Fraksi Lipid.

ABSTRACT

Acute Coronary Syndrome (ACS) is one of the most cause of death in cardiovascular disease in the world, include in Indonesia. Apolipoprotein B (apoB) and lipid fraction are risk factors of ACS. New hypothesis about atherosclerosis is due to increase apoB level. ApoB have been use as a marker for cardiovascular risk stronger than total cholesterol, LDL and triglyceride. The aim of this study was to compare between apoB level and lipid fraction (total cholesterol, LDL-cholesterol, and triglyceride) as risk factor of ACS. A cross sectional study was done among 44 samples with ACS at Wahidin Sudirohusodo Hospital, started from March to July 2008. Samples were analyzed with t test and Pearson correlation, using SPSS version 14.0 for Windows. From forty-four samples diagnosed as ACS, age between 44-80 years old, predominant on age > 55 years old (63.6%) and men (61.3%).

ApoB, total cholesterol and LDL were increased, with mean apoB, total cholesterol and LDL were higher than reference value from normal population. Student t test showed that instead of total cholesterol and LDL, apoB also can be used as the predictor for ACS, with p<0.05. Pearson test showed that apoB can be used to predict total cholesterol and LDL level with r>0.4. We conclude that ApoB as a predictor of ACS as good as total cholesterol and LDL cholesterol, better than triglyceride.

Key Words : Acute Coronary Syndrome, Apolipoprotein B, Lipid fraction.

(2)

PENDAHULUAN

Sindrom koroner akut (SKA) merupakan suatu istilah yang menggambarkan kumpulan gejala klinik yang ditandai dengan nyeri dada dan gejala lain yang disebabkan oleh penurunan aliran darah ke jantung, biasanya disebabkan oleh plak aterosklerotik (Svarovskaia et al. 2004).

SKA mencakup unstable angina, infark miokard, sampai kematian mendadak, dimana terjadi kerusakan otot jantung, ditandai dengan peningkatan aktivitas enzim jantung dan gambaran EKG yang khas, baik non-ST segment elevation myocardial infarction (NSTEMI) maupun ST segment elevation myocardial infarction (STEMI) (Findlay, 2007).

The American Heart Association (AHA) memperkirakan bahwa 13 juta orang di Amerika menderita SKA dan ± 1 juta orang meninggal tiap tahunnya (Bock, 2007). Nielsen, dkk (2006) di Eropa melaporkan SKA menyerang 234 orang/100.000 penduduk/tahun pada kelompok umur 30 sampai 69 tahun, lebih sering pada pria (50-75%), dan 10%

diantaranya meninggal setiap tahun. Di Indonesia, data dari Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2005 menunjukkan kematian akibat penyakit kardiovaskuler menempati urutan pertama (16%) untuk umur di atas 40 tahun (Santoso and Setiawan, 2005).

SKA selalu menempati urutan pertama di antara jenis penyakit jantung lainnya, merupakan penyakit terbanyak yang membutuhkan perawatan darurat segera di dunia, dan penyebab 80% kematian yang disebabkan penyakit jantung.

(Findlay, 2007; Santoso and Setiawan, 2005)

Oleh karena tingginya tingkat kematian pada SKA, maka banyak dilakukan penelitian-penelitian untuk menurunkan insidens, salah satunya mengenai faktor-faktor resiko penyakit ini. Faktor resiko SKA terbagi 2, faktor resiko yang tidak dapat diubah, seperti

usia, jenis kelamin, ras, dan riwayat keluarga; dan faktor resiko yang dapat diubah, seperti peningkatan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, trigliserida, apolipoprotein B, hipertensi, merokok, gangguan toleransi glukosa dan lain-lain (Santoso and Setiawan, 2005;

Hilbert T and Lifshitz, 2007).

Lipoprotein mengandung kolesterol dalam dua bentuk, nonesterified cholesterol (+30%) dan cholesterol ester (+70%). Lipid hidrofobik, seperti kolesterol ester dan trigliserida terdapat pada inti dari partikel, sedangkan lipid water-soluble, seperti fosfolipid dan kolesterol bebas tersusun di permukaan partikel bersama apolipoprotein. Apolipoprotein B saat ini telah menjadi petanda resiko penyakit jantung yang lebih kuat dibandingkan kolesterol LDL dan trigliserida.

Apolipoprotein B (apoB) merupakan suatu glikoprotein yang besar, berperan dalam metabolisme lipoprotein dan transportasi lipid manusia. Gen apoB manusia berlokasi di kromosom 2, gen ini menghasilkan 2 bentuk apoB yang bersirkulasi yaitu apoB-48 dan apoB-100.

Tiap lipoprotein mengandung 1 molekul apoB, dan konsentrasi apoB plasma mencerminkan jumlah lipoprotein aterogenik yang bersirkulasi. Peningkatan lipoprotein yang mengandung apoB merupakan faktor resiko perkembangan aterosklerosis (Hilbert T and Lifshitz, 2007; Haffner, 2003; Parhofer and Barret, 2007).

Kelainan metabolisme lipid memegang peranan penting penyebab penyakit jantung koroner, termasuk SKA.

Pada jaringan, deposisi kolesterol, trigliserida dan apoB pada sel endotelial termasuk bagian penting penyebab lesi aterosklerosis sehingga menjadi faktor resiko penyakit jantung koroner.

Hipotesis terbaru mengenai terbentuknya aterosklerosis adalah peningkatan kadar apoB. ApoB diidentifikasi terdapat pada VLDL, IDL dan LDL sehingga dapat

(3)

digunakan untuk menentukan jumlah total partikel aterogenik. Saat ini telah banyak penelitian di negara-negara maju untuk mendukung hipotesis ini dan menjadikan apoB sebagai prediktor yang kuat untuk diagnosis SKA.(Keavney and Palmer, 2004; Bloom et al., 2005) Tetapi di Indonesia, khususnya di Makassar, penelitian mengenai kadar apoB pada penyakit kardiovaskular masih sangat terbatas.

Penelitiaan ini bertujuan untuk membandingkan kadar apolipoprotein B dan fraksi lipid sebagai faktor resiko sindrom koroner akut dan apakah pemeriksaan apoB dapat menggantikan pemeriksaan fraksi lipid. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi apakah apoB dapat digunakan sebagai faktor resiko SKA selain fraksi lipid, memberikan masukan bagi klinisi untuk pemberian terapi SKA dan sebagai dasar pemikiran untuk melakukan penelitian selanjutnya.

BAHAN DAN METODE

Rancangan penelitian ini adalah cross sectional. Sampel adalah semua pasien yang didiagnosis sindrom koroner akut dan diambil secara acak dari sejumlah pasien yang dirawat di Cardiovascular Centre Unit (CVCU) BLU-RSU dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Penelitian ini dilakukan mulai bulan Maret sampai Agustus 2008.

SKA ditentukan jika pasien memenuhi minimal 2 dari 3 kriteria, yaitu nyeri dada, elevasi segmen ST pada gambaran EKG dan peningkatan aktivitas enzim jantung (Creatine Kinase Myocardial Band/CK-MB). Pemeriksaan spesimen dilakukan di Instalasi Laboratorium BLU-RSU dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar, yang meliputi pemeriksaan apolipoprotein B dan fraksi lipid yang terdiri dari kadar kolesterol total, kolesterol LDL, dan trigliserida.

Kadar apolipoprotein B diukur dengan prinsip imunoturbidimetrik, fraksi lipid diukur dengan metode kolorimetrik dan

sdLDL diukur dengan menggunakan rumus

Semua pasien SKA yang menunjukkan gangguan fungsi hati berdasarkan peningkatan aktivitas AST dan ALT dikeluarkan dari sampel penelitian, kemudian data dianalisis menggunakan one sample t test dibandingkan terhadap nilai rujukan dan uji korelasi Pearson dengan menggunakan program SPSS 14.0 for Windows. Data ditampilkan dalam bentuk tabel dengan nilai mean, standar deviasi, probability (p) dan relation (r).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Telah dilakukan penelitian cross sectional dari bulan Maret sampai Agustus 2008 terhadap penderita SKA yang dirawat di Instalasi CVCU RS.

Wahidin Sudirohusodo. Dari 44 sampel yang terdiagnosis SKA, usia 44 sampai 80 tahun, sebahagian besar terdiri dari laki-laki (61.3%), seperti terlihat pada Tabel 1. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Kim dkk (2005) dan Nielsen dkk (2006) yang juga menemukan bahwa laki-laki lebih banyak menderita SKA dibandingkan perempuan, dimana resiko laki-laki menderita SKA 2 kali besar dibandingkan perempuan. Hal ini disebabkan efek proteksi hormon esterogen pada wanita.

Pada Tabel 1 juga menunjukkan distribusi SKA menurut umur ditemukan paling banyak pada umur >55 tahun sebesar 63.6%, terdiri dari laki-laki 38.6% dan perempuan 25%. Terlihat bahwa distribusi laki-laki dan perempuan usia >55 tahun yang menderita SKA tidak terlalu jauh berbeda, menunjukkan bahwa perempuan pasca menopause mempunyai resiko sama besar dengan laki-laki menderita SKA.

Hasil penelitian ini juga menunjukkan pasien SKA lebih banyak yang mengalami peningkatan kadar apoB (79.6%), peningkatan kadar kolesterol total dan kadar LDL masing-masing

(4)

63.6%, namun peningkatan kadar trigliserida hanya sebesar 34.1%.

Pada Tabel 2 terlihat bahwa dari semua parameter yang dinilai pada sampel yang diteliti, terjadi peningkatan rata-rata kadar apoB, kadar kolesterol total, dan kadar kolesterol LDL dari nilai rujukan yang digunakan, kecuali kadar trigliserida yang tidak mengalami peningkatan. Uji t yang dilakukan menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara kadar rata-rata apoB, kolesterol total dan LDL dengan nilai rujukan yang digunakan, dengan nilai kemaknaan p < 0.05, kecuali trigliserida dengan nilai kemaknaan p > 0.05. Hal ini menunjukkan bahwa apoB, dapat digunakan sebagai faktor resiko SKA sama baiknya dengan kolesterol total dan kolesterol LDL dan lebih baik dibandingkan trigliserida.

Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Packard (2003) yang menemukan apoB sangat kuat berhubungan dengan peningkatan resiko infark miokard yang fatal, dan prediktor yang lebih baik dibandingkan trigliserida dan kolesterol LDL. Brookes (2006) mengemukakan bahwa kadar apoB merupakan prediktor penyakit kardiovaskular yang lebih kuat daripada LDL, trigliserida, HDL, kolesterol total, dan rasio lipid.Penelitian kohor yang dilakukan oleh Chien dkk (2007) pada 3602 penduduk Chin-Shan menyimpulkan bahwa apoB mempunyai hubungan yang lebih kuat sebagai faktor resiko PJK dibandingkan LDL pada penduduk Cina. Alasan kemampuan prediktif superior dari apoB ini mungkin disebabkan olehkarena apolipoprotein merupakan marker sejumlah partikel aterogenik sebab satu peptide partikel apoB terdapat pada setiap partikel lipoprotein aterogenik, termasuk LDL, small dense LDL, very-lowdensity lipoprotein (mengandung kolesterol dan trigliserida), partikel remnat, intermediatedensity lipoprotein dan lipoprotein(a).(Packard, 2003; Brokes, 2006)

Tabel 3 menunjukkan terdapat korelasi yang bermakna antara apoB terhadap kolesterol total dan LDL (p <

0.05), tetapi hubungan apoB terhadap trigliserida tidak bermakna. Berdasarkan uji korelasi Pearson ditemukan bahwa apoB dapat meramal kadar kolesterol total dan LDL dengan kekuatan korelasi (r >0.4) sedang, menunjukkan bahwa penyebab SKA multifaktorial, dimana apoB hanya sebagai salah satu faktor saja.

Hasil ini sesuai dengan penelitian Chien dkk (2007) yang menemukan bahwa apoB berkorelasi sedang terhadap kolesterol total dan berkorelasi kuat terhadap LDL, sedangkan penelitian Pischon, et al (2005) menemukan bahwa apoB berkorelasi sangat kuat terhadap kolesterol total dan LDL.

Menurut Haffner (2003), pemeriksaan apoB sebagai komponen protein utama dari lipoprotein mengindikasikan jumlah partikel LDL dan kolesterol total. Alasan atas kemampuan prediksi apoB yang lebih superior disebabkan apoB merupakan petanda jumlah partikel aterogenik, selain itu pemeriksaan apoB lebih akurat dalam menggambarkan jumlah partikel aterogenik, tidak mahal dan pasien tidak perlu dipuasakan. Beberapa negara di

Amerika saat ini sudah

merekomendasikan pemeriksaan apoB pada individu dengan resiko tinggi penyakit jantung dan diabetes, serta untuk memonitoring efektivitas terapi lipid. (Burnett and Walls, 2008)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kadar apolipoprotein B dan fraksi lipid dalam hal ini kolesterol total dan kolesterol LDL dapat digunakan sebagai faktor resiko sindrom koroner akut.

Apolipoprotein B dapat digunakan sebagai petanda faktor resiko SKA sama baiknya dengan kolesterol total dan LDL, namun lebih baik dibandingkan trigliserida. Kadar apoB dapat memprediksi kadar kolesterol total dan LDL.

(5)

Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disarankan untuk memasukkan pemeriksaan apoB sebagai salah satu parameter pemeriksaan laboratorium pada individu yang menderita penyakit kardiovaskular.

DAFTAR PUSTAKA

Bloom D, O'Neill FH, Marais AD. 2005.

"Screening for

Dysbetalipoproteinemia by Plasma Cholesterol and Apolipoprotein B Concentrations " Clin Chem Lab Med 51: 904-907.

Bock J, Evaluation of Cardiac Injury and Function, in Henry's Clinical Diagnosis and Management by Laboratory Methods, McPherson R, Editor. 2007, Saunders Elsevier:

Virginia. p. 219-27.

Brookes L. 2006. "The apo B/A-I Ratio, A Stronger Predictor of Cardiovascular Events Than LDL, HDL, or Total Cholesterol, Triglycerides, or Lipid Ratios "

Retrieved 20th Feb., 2008, from www.medscape.com.

Burnett JR and Watts GF 2008.

"Estimating LDL ApoB: infomania or Clinical Advance?" Clin Chem 54:5: 782-784.

Chien KL, Hsu HC, et al. 2007.

"Apolipoprotein B and Non-High Density Lipoprotein Cholesterol and the Risk of Coronary Heart Disease in Chinese." Lipid Research 48:

2499-2504.

Findlay L 2007. Acute Coronary Syndromes A National Clinical Guideline. Scotland, Scottish Intercollegiate Guidelines Network (SIGN Publication). No.93

Haffner S. 2003, 28th okt. "ApoB: A Better Marker For Heart Disease Risk Than "Bad" Cholesterol." from www.circ.aha.org.

Hilbert T and Lifshitz MS 2007. Lipids and Dyslipoproteinemia. Henry's Clinical Diagnosis and Management

by Laboratory. McPherson RA. New York, Elsevier Inc.: 123-341.

Keavney B and Palmer A 2004. "Lipid- related genes and myocardial infarction in 4685 cases and 3460 controls: discrepancies between genotype, blood lipid concentrations, and coronary disease risk." International Journal of Epidemiology 33: 1002-1013.

Kim BJ, Hwang ST, et al. 2005.

"Comparison of the Relationships between Serum Apolipoprotein B and Serum Lipid Distributions."

Clinical Chemistry 51: 2257-2263.

Nielsen K, Faergeman O, Larsen ML, and Foldspang A 2006. "Danish singles have a twofold risk of acute coronary syndrome: data from a cohort of 138 290 persons,." J Epidemiol Community Health, 60:

721-728.

Packard CJ 2003. "Apolipoproteins: The New Prognostic Indicator?"

European Heart Journal Supplements 5: D9-16.

Parhofer KG and Barret PH 2007. "What we have learned about VLDL and LDL metabolism from human kinetic studies." Journal of Lipid Research 18: 128-156.

Pischon T, Girman CJ, et al. 2005. "Non- High-Density Lipoprotein Cholesterol and Apolipoprotein B in the Prediction of Coronary Heart Disease in Men." Circulation 112:

3375-3383.

Santoso M and Setiawan T 2005.

"Penyakit Jantung Koroner " Cermin Dunia Kedokteran 147: 5-9.

Svarovskaia E, Xu Z, et al. 2004.

"Human Apolipoprotein B mRNA- editing Enzyme-catalytic Polypeptide-like 3G (APOBEC3G) Is Incorporated into HIV-1 Virions through Interactions with Viral and Non Viral RNAs." THE JOURNAL OF BIOLOGICAL CHEMISTRY

279: 35822-35828..

(6)

Tabel 1. Distribusi pasien SKA menurut karakteristik subyek

Karakteristik Laki-laki

n = 27 (%)

Perempuan n = 17 (%)

Total n = 44 (%) Usia :

 < 55

 > 55

10 (22.8) 17 (38.6)

6 (13.6) 11 (25)

16 (36.4) 28 (63.6) Apolipoprotein B : (mg/dl)

 < 150

 > 150

4 (9.1) 23 (52.3)

5 (11.3) 12 (27.3)

9 (20.4) 35 (79.6) Kolesterol yotal (mg/dl)

 < 200

 > 200

11 (25) 16 (36.4)

5 (11.3) 12 (27.3)

16 (36.4) 28 (63.6) Kolesterol LDL (mg/dl)

 < 130

 > 130

11 (25) 16 (36.4)

5 (11.3) 12 (27.3)

16 (36.4) 28 (63.6) Trigliserida (mg/dl)

 < 200

 > 200

19 (43.1) 8 (18.2)

10 (22.8) 7 (15.9)

29 (65.9) 15 (34.1) Sumber: Data Primer

Tabel 2. Perbandingan kadar apoB dan Fraksi lipid terhadap nilai rujukan

SD mean p

Apolipoprotein B 116.3 248.5 0.001

Kolesterol total 76.9 232.3 0.008

Kolesterol LDL 62.1 156.45 0.007

Trigliserida 95.2 181.4 0.201

Sumber : Data primer

(7)

Tabel 3. Uji korelasi Pearson ApoB terhadap fraksi lipid

r p

Kolesterol total 0.417 0.005

LDL 0.408 0.006

Triggliserida - 0.13 0.39

Sumber : Data primer

Gambar 1. Total apoB menggambarkan jumlah total partikel aterogenik. (Haffner, 2003)

Gambar

Tabel 3.    Uji korelasi Pearson ApoB terhadap fraksi lipid

Referensi

Dokumen terkait

221 Antara berikut, yang manakah langkah-langkah kerajaan untuk memajukan industri dalam Rancangan Malaysia Keempat. I Menyediakan

4 Analisis yang dilakukan untuk menentukan kandungan zat gizi maupun bioaktivitasnya ialah analisis komposisi proksimat, profil asam amino, profil asam lemak, kandungan vitamin,

Variasi konsentrasi PVP sebagai pengikat diharapkan mampu memberikan kualitas sifat fisik yang baik terutama dalam parameter kekerasan agar tablet hisap yang

Pada tabel 2 tampak bahwa Candida merupakan genus jamur terbanyak ditemukan pada biakan tinja penderita HIV/AIDS yaitu 45 (47,37%). Jamur ini tersering ditemukan

Dilihat dari pembahasan diatas, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa Servicescape tidak memberikan pengaruh apa-apa terhadap Minat Beli Pada Gubuk Resto &amp; Steak

Mengapa tepung terigu yang dipilih sebagai bahan yang difortifikasi? Hal ini mengingat Mengapa tepung terigu yang dipilih sebagai bahan yang difortifikasi? Hal ini

Grosir; di samping Rajawali Motor yang berfungsi sebagai toko spare part serta jasa servis kendaraan roda dua, mereka juga memiliki toko grosir bernama Hokky Ban yang secara

Saat persaingan terjadi pada kategori consumer goods dimana para produsen berusaha menarik minat konsumen agar produknya dapat diterima di pasaran dengan melakukan