PT. BANK WINDU KENTJANA INTERNATIONAL Tbk
2 0 0 8
L A P O R A N T A H U N A N A N N U A L R E P O R T
Visi
Menjadi sebuah Bank publik yang sehat, terpercaya dan terkemuka dengan lebih menekankan pada kemampuan memberikan pelayanan yang berkualitas dengan tetap menunjung tinggi integritas dan senantiasa berpedoman pada prinsip kehati-hatian, sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi seluruh stakeholder dan juga memberikan nilai investasi yang tinggi bagi para pemegang saham.
Misi
1. Mampu menyediakan berbagai jenis layanan produk dan jasa yang dapat memenuhi kebutuhan para nasabah.
2. Senantiasa bekerja dengan integritas yang tinggi dengan mengutamakan prinsip kehati-hatian.
3. Memiliki sumber daya manusia yang mau dan mampu bekerja serta memiliki akhlak dan moral yang baik.
4. Secara terus menerus melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, lebih efektif dan lebih efisien.
5. Membangun semangat kerja bersama untuk mencapai tujuan dan keberhasilan Perusahaan.
6. Menjaga dan memelihara hubungan baik dengan para nasabah dan seluruh stakeholder lainnya.
7. Menerapkan pelaksanaan Tata Kelola Perusahaan yang baik.
8. Turut berpartisipasi dalam membangun ekonomi Indonesia secara umum dan industri perbankan secara khusus.
V I S I & M I S I
S E J A R A H P E R U S A H A A N
Riwayat Singkat
PT Bank Windu Kentjana International Tbk (“Bank Windu”) merupakan Bank hasil penggabungan (merger) antara PT Bank Multicor Tbk dan PT Bank Windu Kentjana.
Dalam penggabungan tersebut, pihak yang menggabungkan diri adalah PT Bank Windu Kentjana sedangkan pihak yang menerima penggabungan adalah PT Bank Multicor Tbk, dengan demikian dalam proses penggabungan tersebut PT Bank Multicor Tbk bertindak sebagai surviving bank.
Latar belakang dari penggabungan usaha ini adalah untuk memaksimalkan kekuatan dan potensi yang dimiliki oleh masing-masing bank yang ada sehingga dapat menciptakan sinergi yang baru, baik dalam penggunaan modal, jaringan usaha yang lebih luas maupun sumber daya manusia.
Tujuan dari dilakukannya penggabungan tersebut adalah
1. Dalam rangka mendukung program Arsitektur Perbankan Indonesia untuk memperkuat permodalan dan memperluas jaringan kantor;
2. Memaksimalkan kekuatan dan potensi yang dimiliki oleh masing-masing bank peserta penggabungan sehingga menciptakan sinergi yang baru;
3. Memperkuat daya saing guna menunjang pertumbuhan aktiva Bank hasil penggabungan di masa mendatang;
4. Bertambahnya jumlah cabang dan jenis-jenis produk, memungkinkan Bank hasil penggabungan untuk menjaring jumlah nasabah yang lebih besar dan beragam;
5. Perpaduan antara pengembangan sumber- sumber pendapatan yang potensial dan dioptimalkannya pemanfaatan dari pengeluaran- pengeluaran yang telah dikeluarkan dalam rangka pengembangan teknologi akan menghasilkan suatu skala ekonomi (economy of scale) yang menguntungkan bagi Bank hasil penggabungan;
6. Memiliki landasan yang kuat baik dari segi keuangan maupun sumber daya manusia yang merupakan modal untuk mengantisipasi pertumbuhan di masa mendatang.
Equity Tower Bank Windu
Penggabungan usaha ini adalah untuk
memaksimalkan kekuatan dan potensi
sehingga menciptakan sinergi yang baru,
baik dalam modal, jaringan usaha, maupun
sumber daya manusia.
Setelah penggabungan usaha (merger), PT Bank Multicor Tbk langsung memiliki jaringan kantor sejumlah 44 kantor. Penggabungan tersebut secara legal dituangkan dalam Akta Merger No. 170 tanggal 28 November 2007, yang disetujui Gubernur Bank Indonesia No. 9/67/KEP/
GBI/2007 tanggal 18 Desember 2007 dan mendapat pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia No. AHU-00982.AH.01.02 tanggal 8 Januari 2008.
Kemudian, melalui persetujuan Guber nur Bank Indonesia No. 10/9/KEP.GBI/2008 tanggal 8 Februari
PT BANK MULTICOR Tbk
Riwayat Singkat
PT Bank Multicor Tbk, pada awalnya di kenal dengan nama PT Multinational Finance Corporation, adalah sebuah Lembaga Keuangan Bukan Bank yang didirikan pada tanggal 2 April 1974 berdasarkan akta pendirian No. 4 Anggaran Dasar tersebut disetujui Menteri Kehakiman pada tanggal 12 Oktober 1974 dan diumumkan dalam Berita Negara tanggal 19 Nopember 1974.
Lembaga Keuangan Bukan Bank tersebut kemudian berubah menjadi sebuah Bank komersil dan merubah nama menjadi PT Multicor Bank berdasarkan akta berita acara rapat No. 120 tanggal 20 November 1992 yang telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman No.C2-310HT.01.04 tanggal 19 Januari 1993 dan telah diumumkan dalam Berita Negara No.17 tanggal 26
Februari 1993 serta memperoleh izin usaha sebagai Bank Umum dari Menteri Keuangan pada tanggal 27 Februari 1993 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan RI No.256/KMK.017/1993. Sejak tanggal 17 Maret 1993 Bank beroperasi sebagai Bank Devisa berdasarkan Surat BI No. 25/637/UPSDL/PBAL.
PT Multicor Bank kemudian berubah nama menjadi PT Bank Multicor dan disahkan oleh Menteri Kehakiman melalui Surat Keputusan No. C2-16.855 HT.01.04.Th.95, tanggal 22 Desember 1995, diumumkan dalam Berita Negara No. 12, tanggal 9 Februari 1996, TBN No. 1522/
1996 dan telah mendapat persetujuan Menteri Keuangan No. KEP-416/KM.17/1996 tanggal 22 Oktober 1996.
Perubahan Akta PT Bank Multicor dalam rangka penawaran umum saham perdana dan perubahan status menjadi Perusahaan terbuka telah mendapat 2008, PT Bank Multicor Tbk berubah nama menjadi PT Bank Windu Kentjana International Tbk atau lebih dikenal dengan nama Bank Windu, sekaligus dengan penggantian atau pembaharuan logo dan juga perubahan tampak depan seluruh jaringan kantor.
Dengan demikian tanggal 8 Januari 2008 merupakan tanggal efektif legal merger, yang sekaligus digunakan sebagai hari kelahiran PT Bank Windu Kentjana International Tbk.
Suganda Setiadi Kurnia 722.568.971 72.256.897.100 26,35
Syamsuar Halim 593.457.809 59.345.780.900 21,64
Johnny Wiraatmadja 361.293.344 36.129.334.400 13,18
PT BCA Finance 163.174.447 16.317.444.700 5,95
PT Mitra Wadah Kencana 556.706.008 55.670.600.800 20,30
Masyarakat 345.044.591 34.504.459.100 12,58
Jumlah 2.742.245.170 274.224.517.000 100,00
Pemegang Saham Jumlah Saham Nilai Saham(Rupiah) Kepemilikan(%)
Struktur Permodalan dan Kepemilikan Saham Setelah Merger
persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia No. W7-04143 HT.01.04-TH.2007 tanggal 16 April 2007.
Pada tanggal 20 Juni 2007, Bank Multicor memperoleh surat dari Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam dan LK) No. S-3023/BL/
2007 perihal Pemberitahuan Efektif atas Pernyataan Pendaftaran untuk menawarkan 300.000.000 dengan nilai nominal sebesar Rp 100 per saham dengan harga penawaran sebesar Rp 200 per saham.
Pada tanggal 31 Juli 2007, saham-saham Bank Multicor sejumlah 1.711.952.718 lembar dengan kode saham
“MCOR” mulai tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Pada tanggal 30 Juli 2007, PT Bank Multicor memperoleh surat persetujuan dari Bank Indonesia berganti nama menjadi PT Bank Multicor Tbk, sesuai dengan Surat Keputusan Dewan Gubernur Bank Indonesia tertanggal 30 Juli 2007 nomor 9/34/KEP/GBI/2007.
Kantor Pusat Bank Windu, Plaza Abda, Sudirman Jakarta
Suganda Setiadi Kurnia 571.698.068 57.169.806.800 33,06
Syamsuar Halim 469.556.468 46.955.646.800 27,15
Johnny Wiraatmadja 285.849.034 28.584.903.400 16,53
PT BCA Finance 102.141.600 10.214.160.000 5,91
Masyarakat (di bawah 5%) 300.000.000 30.000.000.000 17,35
Jumlah 1.729.245.170 172.924.517.000 100,00
Pemegang Saham Jumlah Saham Nilai Saham(Rupiah) Kepemilikan(%)
Struktur Permodalan dan Kepemilikan Saham PT. Bank Multicor, Tbk sebelum merger
PT BANK WINDU KENTJANA
Riwayat Singkat
PT Bank Windu Kentjana (“BWK”) didirikan berdasarkan akta Adlan Yulizar, S.H., notaris di Jakarta, No. 41 tanggal 26 Mei 1967. Akta pendirian ini telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. J.A.5/53/13 tanggal 15 Juni 1968.
Anggaran Dasar BWK telah mengalami beberapa kali perubahan dan yang terakhir dengan Akta Benny Kristianto, S.H., notaris di Jakarta, No. 14 tanggal 4 Desember 2000. Perubahan Anggaran Dasar BWK telah memperoleh pengesahan dari Menteri Kehakiman dan
Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. C-6019 HT.01.04. Th 2001 tanggal 27 April 2001.
PT Bank Windu Kentjana pada awalnya dibentuk oleh 3 (tiga) yayasan sosial sebagai pendirinya yaitu Yayasan Dharma Putra Kostrad, Yayasan Bantuan Beasiswa Yatim Piatu Trikora dan Yayasan Djajakarta.
Pada tanggal 21 Juli 1978, kepemilikan beralih kepada keluarga Alm. Bp Soedarmo Salim, yang akhirnya sebelum merger, kepemilikan oleh ahli waris Alm. Bp Soedarmo Salim disatukan dalam suatu bentuk badan hukum yang bernama PT Mitra Wadah Kencana.
PT Mitra Wadah Kencana 202.600 101.300.000.000 100,00
Jumlah 202.600 101.300.000.000 100,00
Pemegang Saham Jumlah Saham Nilai Saham(Rupiah) Kepemilikan(%)
Struktur Permodalan dan Kepemilikan Saham PT. Bank Windu Kentjana sebelum merger
I K H T I S A R K E U A N G A N
NERACA
Total Aktiva 2.094.665 2.007.966 1.028.855 665.401 511.567
Kredit 1.445.501 906.638 325.368 322.410 216.122
Efek-efek 265.730 762.675 226.929 164.000 166.058
Penempatan pada Bank Lain 46.245 96.815 425.384 54.490 83.578
Simpanan 1.678.972 1.688.048 631.421 435.526 370.145
Simpanan dari Bank Lain 45.916 1.022 200.665 15.275 138
Ekuitas 261.990 269.811 147.431 145.320 135.402
Kewajiban 1.832.675 1.738.155 881.424 520.081 376.165
LAPORAN LABA RUGI
Pendapatan Bunga 204.737 465.396 81.365 55.215 36.116
Pendapatan Bunga Bersih 79.060 71.377 37.155 29.702 21.932
Pendapatan Operasional Lainnya 15.355 19.483 3.488 2.761 17.139
Beban Operasional Lainnya 84.597 64.635 (35.543) (17.805) (9.126)
Laba Operasional 9.818 26.225 5.100 14.658 29.946
Pendapatan (Beban) Non Operasional (4.996) (25.826) (2.082) (369) (923)
Laba Sebelum Pajak 4.822 399 3.018 14.290 29.023
Laba Bersih 3.651 (4.882) 2.110 9.909 29.349
RASIO KEUANGAN Permodalan
Rasio Kecukupan Modal (CAR) dengan risiko kredit 20,24% 30,90% 28,91% 40,51% 43,10%
Rasio Kecukupan Modal (CAR) dengan risiko kredit 18,02% 30,68% 28,91% 40,51% 43,10%
dan Pasar
Rasio Aktiva Tetap terhadap Modal 20,24% 24,96% 19,47% 16,26% 11,10%
Kualitas Aktiva
Rasio Aktiva Produktif Bermasalah 0,47% 2,13% 2,00% 3,31% 0,14%
Rasio PPAP terhadap Aktiva Produktif 1,90% 1,30% 2,71% 2,24% 1,17%
Rasio Pemenuhan PPAP 101,11% 100,00% 103,23% 105,78% 127,59%
Rasio NPL Gross 0,76% 1,72% 7,06% 6,35% 0,03%
Rasio NPL Net 0,29% 0,98% 2,53% 3,36% -
Rentabilitas
Rasio Laba Bersih terhadap Aktiva (ROA) 0,25% 0,02% 0,43% 2,10% 6,59%
Rasio Laba Bersih terhadap Modal (ROE) 1,39% -1,83% 1,44% 10,24% 26,59%
Rasio Marjin Bunga Bersih (NIM) 4,95% 3,73% 5,92% 5,49% 5,55%
Rasio Beban Operasional terhadap 95,59% 85,63% 93,99% 81,64% 44,99%
Pendapatan Operasional (BOPO) Likuiditas
Rasio Kredit terhadap Dana Pihak 86,14% 53,71% 51,53% 74,03% 58,39%
Ketiga (LDR) Kepatuhan
Rasio Persentase Pelanggaran BMPK
a. Pihak Terkait - - - - -
b. Pihak Tidak Terkait - - - - -
Rasio Persentase Pelampauan BMPK
a. Pihak Terkait - - - - -
b. Pihak Tidak Terkait - - - - -
Rasio GWM Rupiah 5,03% 8,13% 8,14% 7,20% 5,15%
Rasio GWM Valas 2,17% 2,73% 6,00% - -
Rasio Posisi Devisa Netto (PDN) 0,62% 2,25% 1,06% 1,84% 0,14%
Lain-lain
Rasio Kewajiban terhadap Ekuitas 699,52% 644,21% 598,86% 357,89% 277,81%
Rasio Kewajiban terhadap Aktiva 87,49% 86,56% 85,67% 78,16% 73,53%
2008 2007*) 2006**) 2005**) 2004**) Akhir tahun (dalam jutaan Rupiah)
*) data keuangan disajikan kembali
K I N E R J A S A H A M
1. Modal awal sebelum IPO 16 April 2007 - 1.429.245.170 - 100
2. Initial Public Offering (IPO) 3 Juli 2007 300.000.000 1.729.245.170 1.711.952.718 100 3. Penggabungan Usaha
(Konversi saham Bank
Multicor menjadi Bank 8 Januari 2008 1.013.000.000 2.742.245.170 2.714.802.718 100 Windu Kentjana
International)
No Aksi Korporasi Tanggal Tambahan Modal Saham yang Nilai
Pencatatan Saham Baru Disetor Saham Dicatatkan di BEI Nominal (Rp)
Aksi Korporasi
Volume Saham
Triwulan I 4.095.500 1.000 - -
Triwulan II 5.696.500 2.500 - -
Triwulan III 1.656.000 1.000 163.955.000 19.500 Triwulan IV 6.061.000 500 23.913.000 37.000
VOLUME 2008 2007
SAHAM Tertinggi Terendah Tertinggi Terendah Harga Saham
Harga 2008 2007
Saham Tertinggi Terendah Penutupan Tertinggi Terendah Penutupan
Triwulan I 230 126 135 - - -
Triwulan II 180 132 148 - - -
Triwulan III 180 100 136 275 131 188
Triwulan IV 130 64 75 240 145 225
Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Agt Sept Okt Nov Des
Volume Saham Harga Saham
Volume Saham Harga Saham
7.000 6.000 5.000 4.000 3.000 2.000 1.000
Saham Bank Windu (MCOR) di Bursa Efek Indonesia
250
200
150
100
50
-
2008
Para pemegang saham, baik perorangan maupun institusi, memiliki jaringan yang luas dan berpengalaman di dunia perbankan dan keuangan, serta mempunyai visi dan misi untuk memajukan Bank agar dapat menjadi bank publik yang sehat dan terkemuka di masa yang akan datang.
Suganda Setiadi Kurnia
Bapak Suganda Setiadi Kurnia merupakan pemegang saham utama PT Transpacific Group. Kelompok usaha Transpacific Group berawal dari perusahaan sekuritas PT Transpacific Securindo yang menjadi anggota Bursa Efek Indonesia (d/h Bursa Efek Jakarta) sejak tahun 1990 dan memiliki izin-izin dari Bapepam-LK untuk melakukan underwriting, perdagangan saham, manajemen investasi, konsultasi dan restrukturisasi pinjaman. Saat ini, Transpacific Group telah berkembang pesat dari sektor keuangan merambah ke beberapa bidang lain seperti properti, transportasi, perkebunan dan pertambangan.
PT Mitra Wadah Kencana
Perseroan Terbatas Mitra Wadah Kencana didirikan di Jakarta pada 23 November 1994 berdasarkan Akta No.
38 Notaris Mellyani Noor Shandra, S.H., yang telah disahkan Menteri Kehakiman No C2-3070.HT.01.01.Th.95 tanggal 27 Februari 1995 dan telah diumumkan dalam Berita Negara pada tanggal 30 Mei 1995 No 43 Tambahan No. 4445. Perseroan dimiliki oleh keluarga Alm. Bpk. So edarmo S alim yang menanamk an modalnya pada PT Bank Windu Kentjana sejak 22 September 1997. Perseroan telah beberapa kali mengalami perubahan akta perseroan, hingga terakhir akta No. 2 Notaris Stephani Maria Vianney Pangestu, S.H. pada tanggal 2 November 2007
INFORMASI PEMEGANG SAHAM
berdasarkan Pernyataan Keputusan Sirkular Para Pemegang Saham.
Johnny Wiraatmaja
Bapak Johnny Wiraatmaja memiliki pengalaman dibidang perbankan yang dimulai pada PT Bank Panin Tbk, saat ini menjabat sebagai Presiden Komisaris di PT Bank Panin Tbk.
PT Blue Cross Indonesia
Perseroan Terbatas Blue Cross Indonesia didirikan di Jakarta pada 29 Januari 2007 berdasarkan Akta No.90 Notaris Sugito Tedjamulja S.H., yang telah disahkan Menteri Kehakiman No.W7-02572.HT.01.01.TH.2007 tanggal 14 Maret 2007. Perseroan menanamkan modalnya pada PT Bank Windu Kentjana International Tbk pada tanggal 12 Desember 2008.
PT BCA Finance
Perseroan (dahulu PT Central Sari Finance) didirikan di Jakarta pada tanggal 7 Maret 1981. Pada tahun 2005 berubah nama menjadi PT BCA Finance. PT BCA Finance merupakan salah satu perusahaan pembiayaan yang terbesar dan terkemuka di Indonesia dengan mayoritas kepemilikan saham sebesar 99,58% dimiliki oleh PT Bank Central Asia Tbk, yang juga merupakan salah satu bank swasta terbesar di Indonesia dengan jaringan kantor cabang dan ATM diberbagai wilayah Indonesia.
Syamsuar Halim
Bapak Syamsuar Halim merupakan komisaris PT Bank Windu Kentjana International Tbk, memiliki pengalaman dibidang perbankan, yang dimulai pada PT Bank Panin Tbk, dan pernah menjabat sebagai Komisaris pada PT Bank Danpac Tbk.
Suganda Setiadi Kurnia 686.923.458 25,05% 571.698.068 33,06%
PT Mitra Wadah Kencana 556.706.008 20,30% - 0,00%
Johnny Wiraatmaja 543.560.699 19,82% 285.849.034 16,53%
PT Blue Cross Indonesia 405.509.993 14,79% - 0,00%
PT BCA Finance 192.500.947 7,02% 127.917.100 7,40%
Syamsuar Halim 5.780.461 0,21% 469.556.468 27,15%
Masyarakat 351.263.604 12,81% 274.224.500 15,86%
Total 2.742.245.170 100,00% 1.729.245.170 100,00%
Pemegang Saham 31 Desember 2008 31 Desember 2007
Jumlah Saham % Jumlah Saham %
P E N G H A R G A A N
19 Juli 2005
Memperoleh Predikat “Sangat Bagus”
dari majalah infoBank, atas kinerja keuangan Tahun 2004.
27 Agustus 2008
Pengurus AEI memberikan sertifikat keanggotaan kepada Bank Windu yang telah menjadi Anggota Asosiasi Emiten Indonesia terhitung sejak tanggal 23 Juli 2007
6 Juli 2006
Memperoleh Predikat “Sangat Bagus”
dari majalah infoBank, atas kinerja keuangan Tahun 2005
3 Juli 2007
Tercatat menjadi Perusahaan terbuka dengan mencatatkan sahamnya pada Bursa Efek Indonesia (d/h Bursa Efek Jakarta)
16 Juli 2008
Memperoleh Predikat “Sangat Bagus”
dari majalah infoBank, atas kinerja keuangan Tahun 2007
19 Juli 2007
Memperoleh Predikat “Sangat Bagus”
dari majalah infoBank, atas kinerja keuangan Tahun 2006
P E R I S T I W A P E N T I N G 2 0 0 8
8 Januari 2008 Ucapan Selamat Merger Tanggal efektif merger PT. Bank Multicor Tbk dengan PT. Bank Windu Kentjana, sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia No. AHU-00982.AH.01.02 tanggal 8 Januari 2008. Tanggal ini dipakai sebagai tanggal ulang tahun Bank Windu.
25 - 27 Januari 2008
Raker pertama Bank Windu, dilaksanakan di Hotel Twin Plaza bertemakan ‘One Bank-One Team-One Brand’
adalah sebagai momen untuk saling berkenalan antara karyawan PT.Bank Windu.
20 Juni 2008
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dilaksanakan di Gedung Bursa Efek Indonesia, diantaranya merubah dan mengangkat anggota Direksi dan Komisaris baru di lingkungan Bank Windu.
16 Juni 2008
Relokasi Cabang Surabaya Darmo Square Jl.Kertajaya No.115 ke Komplek Darmo Square Blok D-8 Jl.Raya Darmo No.54-56 Surabaya.
P E R I S T I W A P E N T I N G 2 0 0 8
10 September 2008
Pembukaan Kantor Kas di Gedung Permata Kuningan Lt. Dasar beralamatkan Jl. Kuningan Mulia Kav.9C, Jakarta Selatan.
27 Oktober 2008
Pembukaan Kantor Kas berlokasi di Hotel Grand Aquila Bandung, Jl.Djundjunan No.116 Bandung.
10 Desember 2008
Acara Pembukaan Kantor Tanjung Pinang Jl. Brigjen Katamso No.88, Kepulauan Riau, dihadiri pula oleh Pemegang Saham Bank Windu Bp Johnny Wiraatmadja, Gubernur Kepulauan Riau, Bp Ismeth Abdullah dan Pemimpin Bank Indonesia Batam, Bp Irwan Lubis.
15 Desember 2008
Relokasi Kantor Kas Hayam Wuruk ke Kantor Kas Jembatan Lima beralamatkan Jl. KH Moch. Mansyur No.165 AA, Jakarta Barat
20 Juni 2008
Public xpose dilaksanakan di Gedung Bursa Efek Indonesia setelah acara RUPS Tahunan, dihadiri oleh sejumlah wartawan dan pemegang saham publik.
LAPORAN DEWAN KOMISARIS
Pengawasan kami terhadap strategi bank dimulai sejak penyusunan rencana bisnis sampai dengan pelaksanaan program-program untuk mencapai efisiensi operasional.
Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan karunia-Nya, kami dapat melewati tahun 2008 dengan kondisi sehat dan baik. Pada tanggal 8 Januari 2008 penggabungan usaha (merger) PT Bank Windu Kentjana ke dalam PT Bank Multicor Tbk telah disahkan dengan Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM No.AHU-00982.AH.01.02 Tahun 2008.
Untuk meredam dampak krisis keuangan global yang mulai berimbas ke dalam negeri, pemerintah Indonesia secara responsif dan konsisten mengambil langkah- langkah antisipasif untuk memberikan stimulus ekonomi, kebijakan Bank Indonesia melindungi perbankan dengan instrumen moneter yaitu menurunkan giro wajib minimum (reserve requirement) untuk melonggarkan likuiditas dan suku bunga mulai diturunkan pada akhir tahun 2008, dan pemerintah mengeluarkan aturan menaikkan jaminan simpanan masyarakat.
Dalam kondisi perekonomian dan perbankan yang kurang kondusif, Bank Windu tetap konsisten berupaya meningkatkan kinerja Bank terutama faktor-faktor permodalan, kualitas aset, rentabilitas dan likuiditas.
Fungsi intermediasi Bank terlihat berjalan baik, merupakan sinergi Bank hasil merger. Selama tahun 2008 penyaluran kredit mengalami kenaikan signifikan sebesar 59,44% atau sebesar Rp 539 milyar, dibandingkan tahun 2007 sebesar Rp 907 milyar menjadi Rp 1,45 trilyun pada tahun 2008. Sedangkan total aset dan dana pihak ketiga relatif stabil per posisi akhir tahun 2008 masing-masing sebesar Rp 2,1 trilyun dan Rp 1,68 trilyun. Dengan kondisi demikian, LDR (Loan to Deposits Ratio) mengalami kenaikan relatif tinggi dari 53,71% menjadi 86,14%. Sementara kualitas kredit terjaga baik dengan ratio NPL gross 0,76% dan NPL net 0,29%. Pencapaian ratio keuangan lainnya, CAR (Capital Adequate Ratio) yang telah memperhitungkan faktor risiko kredit dan pasar sebesar 18,02%, ROE (Return On Equity) 1,39%, ROA (Return On Assets) 0,25% dan BOPO (Biaya Operasi dibandingkan dengan Pendapatan
Operasi) 95,59% belum mencapai target yang diharapkan. Walaupun demikian, masih dapat diterima karena masih dalam batas-batas toleransi. Adapun penyebab indikator utama keuangan yang belum mencapai target yang diharapkan adalah karena pencapaian atau pelampauan target jumlah kredit yang diberikan tidak diikuti dengan pencapaian target jumlah penghimpunan dana pihak ketiga.
Selama tahun 2008, Bank Windu telah memperluas jaringan kantor baru dengan membuka kantor Permata Kuningan di Jakarta dan Grand Aquila di Bandung, serta sebuah kantor di kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, sehingga sampai Desember 2008 jumlah jaringan kantor menjadi 47 kantor.
Tanggung jawab kami selaku Dewan Komisaris terletak pada pengawasan kebijakan, pengawasan strategi dan manajemen risiko serta penguatan manajemen untuk menciptakan dan mendorong budaya berorientasi kinerja. Pengawasan kami terhadap strategi Bank dimulai sejak penyusunan rencana bisnis sampai dengan pelaksanaan program-program untuk mencapai efisiensi operasional. Pengawasan terus berlanjut dengan pemantauan kinerja manajemen dalam menerapkan rencana bisnis Bank secara berkala.
Kami berupaya untuk memastikan bahwa manajemen risiko diterapkan dengan efektif dan efisien dengan mengkaji risiko-risiko yang ada secara periodik.
Dalam melaksanakan tugas pengawasan tersebut, Dewan Komisaris dibantu oleh 3 (tiga) komite, yaitu:
1. Komite Audit,
2. Komite Pemantau Risiko, dan 3. Komite Remunerasi dan Nominasi
Melalui ketiga komite tersebut kami senantiasa mendorong kinerja perseroan dengan meningkatkan fungsi pengawasan internal, mengevaluasi perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang risiko serta mengevaluasi dan memberikan masukan atas kebijakan remunerasi dan nominasi kepada Direksi.
Sjerra Salim Komisaris Utama
Moerjono (Komisaris Independen) Dewan Komisaris akan terus melakukan penilaian
faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan Bank meliputi aspek permodalan, kualitas aset, manajemen, rentabilitas, likuiditas dan sensitivitas terhadap risiko pasar, serta tetap mendorong manajemen agar target- target sesuai Rencana Bisnis dapat diwujudkan. Secara umum Bank telah memenuhi ketentuan Bank Indonesia, tidak ada pelanggaran atau pelampauan BMPK, GWM, CAR, NPL maupun PDN.
Dalam penerapan good corporate governance, sistem pengendalian intern dan kecukupan kebijakan prosedur dari kegiatan operasional bank masih perlu disempurnakan dengan penggabungan usaha ini dengan tetap mengacu ketentuan-ketentuan Bank Indonesia, termasuk dalam hal penerapan manajemen risiko.
Akhirnya kami masuk pada kesimpulan bahwa secara umum Direksi dan jajaran manajemen telah melakukan tugas dan tanggung jawabnya sesuai kebijakan dan kebutuhan Bank untuk mencapai tujuan bersama, dengan beberapa catatan untuk penyempurnaan kinerja selanjutnya. Untuk itu, pada kesempatan ini kami menyampaikan rasa terima kasih kami atas kepemimpinan Direksi, serta tak lupa penghargaan kami bagi segenap Pemegang Saham, Pengurus, Para Karyawan, Nasabah, Mitra Usaha, Masyarakat Umum dan Otoritas Perbankan atas kepercayaan dan dukungan yang besar kepada kami. Kiranya Tuhan Yang Maha Esa senantiasa membimbing dan memberkati kita semua, menyongsong tahun 2009 dengan optimis.
Amin
LAPORAN DIREKTUR UTAMA
Prioritas utama kami sebagai Bank yang baru merger adalah penyatuan operasional dengan re-organisasi, mengupayakan optimalisasi sumber-sumber daya yang ada, serta pembentukan image baru bagi Bank hasil merger ini.
Tahun 2008 adalah merupakan tahun pertama hasil penggabungan antara PT Bank Multicor Tbk dengan PT Bank Windu Kentjana menjadi PT Bank Windu Kentjana International Tbk (“Bank Windu”) sesuai Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM No.AHU- 00982.AH.01.02 Tahun 2008.
Pada semester kedua tahun 2008 terjadi turbulensi ekonomi dunia yang awalnya dipicu dari kasus sub prime mor tgage di Amerika Serikat (AS) yang berkembang menjadi krisis keuangan global. Korporasi raksasa di AS bertumbangan, harga-harga komoditi dunia berjatuhan, indeks harga saham secara global merosot tajam ke level yang sangat rendah, termasuk Bursa Efek Indonesia. Nilai tukar (kurs) Rupiah terhadap mata uang lain, khususnya US Dollar mengalami penurunan cukup signifikan, yang langsung akan berpengaruh ke sektor riil, terutama industri dengan komponen bahan baku impor. Sementara perusahaan eksportir mulai mengalami stagnasi karena pesanan- pesanan dari luar negeri pada umumnya berkurang, bahkan berhenti. Sektor penunjang industri ekspor juga langsung terkena dampak. Likuiditas di pasar uang cukup ketat. Sementara pasar domestik hingga akhir tahun 2008 relatif masih cukup baik dan berpotensi.
Dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional, Pemerintah Indonesia memberikan stimulus ekonomi, kebijakan Bank Indonesia menurunkan giro wajib minimum (GWM) untuk memberi kelonggaran likuiditas dan suku bunga SBI (BI rate) mulai diturunkan pada akhir tahun 2008, dan pemerintah melalui Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) menaikkan jumlah maksimum simpanan masyarakat yang dijamin pemerintah.
Dalam situasi eksternal yang kurang kondusif, Bank Windu tetap konsisten berupaya meningkatkan kinerja Bank, terlihat fungsi intermediasi Bank Windu dapat berjalan lebih baik dari periode sebelumnya. Prioritas utama kami sebagai Bank yang baru merger adalah
penyatuan operasional dengan re-organisasi, mengupayakan optimalisasi sumber-sumber daya yang ada, serta pembentukan image baru bagi Bank hasil merger. Hal ini ditandai dengan dilakukannya rebranding kantor-kantor Bank Windu dengan mengubah tampilan exterior dengan logo baru dan standarisasi interior dalam rangka meningkatkan kualitas service bagi nasabah.
Penyaluran kredit meningkat drastis sebesar 59,44%, menjadi sebesar Rp 1,45 trilyun pada tahun 2008.
Walaupun likuiditas ketat di pasar uang dan kebijakan suku bunga tetap pada level yang wajar, penghimpunan dana pihak ketiga relatif stabil hingga akhir tahun 2008 sebesar Rp 1,68 trilyun. Tingkat kepercayaan masyarakat kepada Bank Windu masih baik. Sementara total aktiva mengalami kenaikan 4,32%
menjadi sebesar Rp 2,1 trilyun pada tahun 2008.
Pada akhir Desember 2008, posisi CAR yang telah memperhitungkan faktor risiko kredit dan pasar sebesar 18,02%. Seiring kenaikan kredit, Loan to Deposits Ratio meningkat dari 53,71% menjadi 86,14%.
Kualitas kredit sangat baik dengan rasio NPL gross 0,76% dan NPL net 0,29%. Dari sisi rentabilitas, perolehan Laba sebelum pajak sebesar Rp 4,8 milyar dengan Return On Equity sebesar 1,39% dan Return On Assets 0,25%.
Dalam tahun 2008, Bank membuka 3 (tiga) kantor baru yang berlokasi di Permata Kuningan di Jakarta, Hotel Grand Aquila di Bandung, dan di kota Tanjung Pinang.
Jaringan kantor Bank Windu hingga Desember 2008 sejumlah 47 kantor tersebar di Jakarta, Tangerang, Bogor, Bandung, Solo, Semarang, Surabaya dan Tanjung Pinang.
Bank memutuskan untuk menggunakan jaringan ATM Prima yang tersebar di seluruh Indonesia, serta mengadakan kerja sama dengan pihak BCA untuk penempatan ATM pada kantor-kantor Bank Windu,
LAPORAN DIREKTUR UTAMA
Muchlis Haroen Direktur Utama dalam meningkatkan mutu layanan bagi para nasabah
kami. Infrastruktur Bank disempurnakan sesuai perkembangan bisnis.
Rencana strategis yang akan dilaksanakan untuk meningkatkan volume usaha Bank dengan tetap berasaskan pada prinsip kehati-hatian (prudential banking) dan Bank senantiasa melaksanakan praktek Tata Kelola Perusahaan yang baik (good corporate governance).
Menyongsong tahun 2009, dengan penuh keyakinan dan optimisme, kami telah mempersiapkan langkah- langkah dalam penghimpunan dana, terutama dana murah, memperluas jaringan kantor, penyaluran kredit khususnya untuk sektor usaha kecil menengah,
peningkatan mutu layanan nasabah, sehingga mampu merealisasikan rencana bisnis kami.
Pada kesempatan ini, Direksi menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua nasabah atas kepercayaan dan dukungannya, serta atas kerja sama yang terjalin dengan baik selama ini, sehingga Bank mampu mempertahankan kinerja yang baik. Kami juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para Pemegang Saham dan Dewan Komisaris yang telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk mengelola Bank ini, serta secara khusus kami juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua karyawan dan karyawati, keluarga besar Bank Windu yang turut serta berpartisipasi dalam memajukan Bank ini.
SEKILAS BANK WINDU
Krisis keuangan global yang terjadi di tahun 2008 telah mempengaruhi pasar modal dan pasar keuangan di Indonesia, ditandai dengan jatuhnya indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia, kondisi likuiditas di pasar uang cenderung mengetat dan nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar terus mengalami penurunan. Kondisi tersebut telah mengakibatkan berkurangnya likuiditas, terbatasnya penyediaan kredit serta menurunnya pertumbuhan ekonomi.
Namun demikian, di tahun 2008 Bank Windu tidak sampai terkena dampak krisis ekonomi secara signifikan, hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan kredit yang mencapai 59,44% dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk menghadapi kondisi ekonomi di tahun 2009, Bank Windu telah melakukan dan akan meneruskan rencana dan tindakan-tindakan sebagai berikut :
• Peningkatan kualitas kredit dengan melakukan pengawasan atas pembayaran kredit dan menerapkan prinsip kehati-hatian atas kebijakan kredit.
• Peningkatan penghimpunan dana pihak ketiga melalui upaya promosi yang lebih gencar serta menambahkan produk-produk baru yang menarik.
• Peningkatan efisiensi dan pengetatan biaya operasional.
• Peningkatan pangsa pasar khususnya perkreditan yang akan diutamakan pada nasabah ritel yang sudah ada (kecil sampai dengan menengah) atau nasabah yang sudah dikenal termasuk relasi-relasinya.
Hingga akhir tahun 2008 jaringan kantor Bank Windu sudah mencapai 47 (empat puluh tujuh) dan dalam upaya menunjang peningkatan volume usaha pada tahun 2009, direncanakan penambahan kantor-kantor baru yang meliputi Jakarta, Bekasi dan Serpong, serta perluasan luar Pulau Jawa dengan lokasi Batam (Kepulauan Riau) Palembang (Sumatera), Pekanbaru
PROSPEK DAN STRATEGI BANK
Strategi perkembangan usaha yang telah dilakukan pada tahun 2008 dinilai cukup membuahkan hasil yang baik. Oleh sebab itu, strategi tersebut akan terus dilanjutkan di tahun 2009 dengan mempertahankan tingkat kesehatan bank yang baik dan memberikan nilai tambah yang optimal kepada nasabah, karyawan dan pemegang saham dengan senantiasa tetap memegang teguh prinsip-prinsip kehati-hatian sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Strategi penghimpunan dana mulai diarahkan pula pada produk Tabungan, disamping produk Deposito yang selama ini mendominasi penghimpunan dana pihak ketiga Bank Windu, produk Tabungan dengan fitur-fitur yang lebih menarik telah dipersiapkan. Selain itu, untuk peningkatan layanan bagi penabung, Bank Windu menggunakan jaringan ATM Prima yang tersebar di seluruh Indonesia. Bank Windu bekerja sama dengan BCA untuk pemasangan fasilitas ATM BCA pada kantor-kantor milik Bank Windu.
Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Bank Windu selama ini masih sangat baik terbukti dana pihak ketiga relatif stabil, meskipun kondisi sepanjang tahun 2008 persaingan antar bank dalam penghimpunan dana sangat ketat. Kepercayaan masyarakat harus tetap dijaga dan ditingkatkan dengan peningkatan mutu layanan (service level), produk yang menarik, serta kebijakan suku bunga yang kompetitif.
Dalam pengelolaan dana, Bank Windu senantiasa menjaga posisi likuiditas pada batas yang aman, kelebihan dana masyarakat dialokasikan pada Surat- Surat Berharga terutama Obligasi milik Pemerintah, dan sebagian dialokasi pada penempatan antar bank.
Bank juga akan mendorong peningkatan fee based income dengan memasarkan jasa layanan perbankan dan transaksi internasional, antara lain jasa remittance dan jual beli valuta asing bagi para nasabah pada
Hingga akhir tahun 2008 jaringan kantor Bank Windu sudah mencapai 47 (empat puluh
tujuh) dan dalam upaya menunjang peningkatan volume usaha pada tahun 2009
Sistem informasi manajemen dari waktu ke waktu terus disempurnak an, sehingga informasi yang diperlukan tersedia secara akurat, tepat waktu dan dapat dimanfaatkan untuk keperluan pengambilan keputusan oleh manajemen. Pengembangan teknologi dalam mendukung kegiatan operasional Bank Windu dengan sistem on-line realtime yang dapat memberikan layanan yang lebih baik kepada nasabah.
Kebijakan perkreditan pasca merger telah selesai disusun mencakup kebijakan dan prosedur perkreditan, proses persetujuan kredit, penyelarasan produk-produk kredit, kewenangan kredit dan masalah legal terkait dengan perkreditan. Mengingat situasi krisis keuangan global dapat berdampak pada sektor usaha dalam negeri, pemberian kredit akan dilakukan secara lebih ketat dan selektif dengan jaminan yang memadai, sehingga Bank dapat mengantisipasi risiko kredit.
Sedangkan kredit yang berjalan dimonitor secara berkala dan serta melakukan kunjungan ke tempat usaha nasabah, sebagai bagian dari program early warning detect untuk mengambil langkah-langkah dini apabila terjadi penurunan kualitas kredit.
Dengan turunnya suku bunga, Bank Windu optimis penyaluran kredit dapat berjalan lagi secara selektif terutama ke sektor konsumsi dan sektor retail.
Permintaan kredit di sektor konsumsi, dalam hal ini pembiayaan kendaraan bermotor dan rumah tinggal relatif masih tinggi, sehingga merupakan peluang bagi Bank untuk meningkatkan portofolio kredit.
Pembentukan image baru bagi Bank hasil merger ini mulai terlihat dengan tampilan baru pada kantor-kantor Bank Windu dengan logo baru. Sebagai Bank hasil merger dibutuhkan suatu image baru yang segar dan berkesan bagi para stakeholders terutama bagi para Nasabah. Image baru ini menyangkut Logo baru, tampilan gedung, lobby kantor atau front office, seragam, atribut-atribut, warkat-warkat, promotional materials, yang diharapkan dapat mudah dikenal bagi masyarakat.
Guna mendukung peningkatan kinerja operasional, Bank Windu senantiasa mengupayakan peningkatan penerapan Good Corporate Governance, Manajemen Risiko, Know Your Customer secara berkesinambungan.
Penerapan etika dan budaya kerja berdasarkan ketiga faktor tersebut diharapkan dapat mendukung pencapaian tujuan usaha Bank Windu.
PRODUK SIMPANAN
Tabungan Windu
Simpanan dalam bentuk tabungan dalam mata uang Rupiah, yang diperuntukkan bagi nasabah yang menginginkan bunga yang lebih tinggi dari jenis tabungan lainnya. Sebagai bukti kepemilikan rekening dan pencatatan saldo diberikan Buku Tabungan.
Tabungan Tahapan Windu
Tabungan dalam mata uang Rupiah, yang diperuntukkan bagi nasabah yang menginginkan bunga yang lebih tinggi dari jenis tabungan lainnya serta dilengkapi dengan kartu ATM yang bisa berfungsi untuk penarikan dan pengiriman uang melalui mesin ATM, serta bisa juga berfungsi sebagai Kartu Debit.
Sebagai bukti kepemilikan rekening dan pencatatan saldo diberikan Buku Tabungan.
Tabungan Kentjana
Tabungan dalam mata uang Rupiah, yang lebih ditekankan pada nasabah yang selain simpanannya mendapatkan bunga, tetapi juga mendapatkan hadiah lain yang bersifat pasti. Sebagai bukti kepemilikan rekening dan pencatatan saldo diberikan Buku Tabungan.
PRODUK, JASA DAN L AYANAN
Tabungan Kentjana Program WinEdu
Tabungan dalam mata uang Rupiah yang jumlah setorannya tetap secara berkala, dengan kemungkinan untuk mendapatkan hadiah berupa beasiswa bilamana memenuhi syarat tertentu. Sebagai bukti kepemilikan rekening dan pencatatan saldo diberikan Buku Tabungan.
Tabungan WinGold
Tabungan dalam dalam mata uang Rupiah yang selain memberikan suku bunga menarik juga memberikan perlindungan asuransi. Sebagai bukti kepemilikan rekening dan pencatatan saldo diberikan Buku Tabungan.
Deposito Berjangka (Rupiah)
Deposito dalam mata uang Rupiah dengan jangka waktu yang flexible, bisa 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan, dan dengan tingkat bunga yang tinggi.
Deposito Berjangka (Dollar Amerika)
Deposito dalam mata uang Dollar Amerika, dengan jangka waktu yang fleksibel, bisa 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan, dan dengan tingkat bunga yang tinggi.
Deposito Berjangka (Dollar Singapore)
Deposito dalam mata uang Dollar Singapore, dengan jangka waktu yang fleksibel, bisa 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan, dan dengan tingkat bunga yang tinggi.
Sertifikat Deposito
Deposito dalam mata uang Rupiah, dengan bukti kepemilikan berupa “Serfifikat Deposito” atas unjuk, dan jangka waktu yang fleksibel serta suku bunga yang menarik.
Giro Rupiah
Simpanan dalam bentuk rekening giro, baik untuk perorangan maupun perusahaan, dalam mata uang Rupiah, dengan media penarikan berupa Cek ataupun Bilyet Giro serta dengan suku bunga yang menarik.
Giro (Dollar Amerika)
Simpanan dalam bentuk rekening giro, baik untuk perorangan maupun perusahaan, dalam mata uang Dollar Amerika, dengan kemudahan untuk transaksi tarikan dan setoran dalam mata uang Dollar Amerika.
Giro (Dollar Singapore)
Simpanan dalam bentuk rekening giro, baik untuk perorangan maupun perusahaan, dalam mata uang Dollar Singapore, dengan kemudahan untuk transaksi tarikan dan setoran dalam mata uang Dollar Singapore.
Simpanan Windu Dollar
Simpanan dalam bentuk rekening giro, khusus untuk perorangan, bisa dalam mata uang Dollar Amerika maupun Dollar Singapore, dengan kemudahan untuk
transaksi tarikan dan setoran dalam mata uang Dollar Amerika ataupun Dollar Singapore. Sebagai bukti kepemilikan rekening dan pencatatan saldo diberikan Buku Windu Dollar.
PRODUK PINJAMAN
Pinjaman Rekening Koran
Fasilitas pembiayaan untuk modal kerja dengan media penarikan berupa Cek atau Bilyet Giro, yang dapat ditarik dan dilunasi setiap saat.
Pinjaman Demand Loan
Fasilitas pembiayaan untuk modal kerja dengan media penarikan berupa Surat Aksep, yang pencairan dan pelunasannya harus dengan memberitahukan secara tertulis sebelumnya.
Pinjaman Fixed Loan
Fasilitas pembiayaan untuk modal kerja yang harus ditarik sekaligus dan hanya dapat dilunasi pada saat jatuh tempo.
Pinjaman Fixed Loan Insidential
Fasilitas pembiayaan untuk modal kerja yang bersifat insidentil, berjangka waktu pendek, yang harus dilunasi sekaligus pada waktu jatuh tempo.
Pinjaman Installment Loan
Fasilitas pembiayaan untuk keperluan modal kerja ataupun untuk keperluan investasi, yang pelunasannya dilakukan secara angsuran.
Pembiayaan Channeling
Fasilitas pembiayaan yang pencairan dan pelunasannya dilakukan melalui pihak lain, yang secara khusus tatacaranya diatur dalam perjanjian antara Bank dengan pihak yang ditunjuk Bank untuk melakukan chanelling
Pinjaman Sindikasi
Fasilitas pembiayaan yang dilakukan secara bersama- sama dengan Bank atau Lembaga Keuangan lain dalam suatu sindikasi, yang ditujukan pada proyek-proyek yang memerlukan pembiayan dalam jumlah besar.
Bank Garansi
Fasilitas penerbitan jaminan bank, yang bisa berupa Bid Bond, Payment Bond, Advance Payment Bond ataupun jaminan bank dalam bentuk lainnya, untuk menjamin pembayaran sejumlah uang kepada penerima bank garansi, yang ketentuannya tunduk pada ketentuan hukum Indonesia
Standby Letter of Credit (SBLC)
Fasilitas penerbitan jaminan bank, jaminan bank dalam bentuk lainnya, untuk menjamin pembayaran sejumlah uang kepada penerima Standby Letter of Credit, yang ketentuannya tunduk pada Uniform Custom Practice for Documentary Credit.
Letter of Credit (L/C)
Fasilitas penerbitan Letter of Credit, yang bisa berupa Sight L/C, Usance L/C, Upas L/C, Red Clause L/C, Transferable L/C, Confirmed L/C, dalam bentuk surat jaminan pembayaran untuk keperluan perdagangan baik ekspor maupun impor sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.
Pinjaman Tust Receipt (TR)
Fasilitas pembiayaan yang digunakan untuk keperluan melunasi Letter of Credit yang sudah jatuh tempo pembayarannya.
Fasilitas Negosiasi/Diskonto Wesel Ekspor
Fasilitas pembiayaan yang digunakan untuk keperluan menerima uang hasil ekspor sebelum dibayarnya hasil ekspor oleh bank penerbit L/C.
Kredit Pemilikan Rumah/Apartemen/Ruko/Kios Rukan/Tanah
Fasilitas pembiayaan untuk keperluan pembelian maupun renovasi rumah/apartemen/ruko/kios/rukan ataupun untuk pembelian kavling tanah siap bangun.
Kredit Kendaraan Bermotor
Fasilitas pembiayaan untuk keperluan pembelian kendaraan bermotor baik baru maupun bekas, baik roda dua maupun roda empat.
Kredit Tanpa Agunan
Fasilitas kredit tanpa agunan untuk membiayai berbagai keperluan dana perorangan.
Kredit Multi Guna
Fasilitas pembiayaan untuk berbagai kebutuhan dana seperti perbaikan atau renovasi rumah, pendidikan, kesehatan dan sebagainya.
JASA DAN LAYANAN
ATM Bank Windu
Akses transaksi melalui kartu ATM Bank Windu pada jaringan ATM PRIMA yang memiliki lebih dari 10.000 jaringan mesin ATM yang tersebar.
Transfer
Layanan pemindahbukuan atau transfer antar rekening dan antar bank guna memenuhi berbagai kebutuhan nasabah.
Kliring
Jasa penagihan warkat dalam bentuk cek, bilyet giro dan nota bank lain melalui lembaga kliring.
Inkaso
Jasa penagihan warkat yang berbentuk cek, bilyet giro, wesel bank di berbagai kota dan propinsi di wilayah Indonesia, dimana Bank tidak memiliki kantor.
Transaksi Jual Beli Valuta Asing
Layanan transaksi jual beli berbagai valuta asing dalam bentuk Bank Notes, Bank Drafts dan Telegrapic Transfer (TT).
Ekspor
Pelaksanaan seluruh kegiatan ekspor nasabah melalui perseroan, baik untuk advising L/C (Letter of Credit), negosiasi L/C, maupun Collection (non L/C).
Impor
Layanan pembukaan L/C (Letter of Credit), akseptasi dokumen impor (L/C dan non L/C) maupun pembukaan SKBDN (Surat Kredit Berdokumentasi Dalam Negeri) atau L/C lokal bagi para importir.
Kiriman Uang Keluar (Remittance)
Kegiatan transfer valuta asing baik dari dalam dan ke luar negeri dalam bentuk USD, Singapore Dollar
ataupun Renminbi (mata uang china). Bank memiliki hubungan koresponden dengan Bank-bank di luar negeri sehingga transfer dapat terlaksana dengan cepat, aman dan mudah.
Safe Deposit Box
Jasa penyewaan kotak penyimpanan barang-barang berharga bagi nasabah perorangan maupun perusahaan yang disediakan dalam berbagai ukuran sesuai kebutuhan.
Pembayaran Gaji (Payroll Windu)
Layanan pembayaran gaji karyawan secara online dan dengan cara pemindahbukuan dari rekening perusahaan ke rekening masing-masing karyawan.
Pembayaran Rekening Listrik, Telepon dan Air Memudahkan nasabah dalam melakukan transaksi pembayaran tagihan listrik, telepon dan air.
Pendapatan Bunga
Pendapatan bunga mencapai Rp 204.737 juta pada tahun 2008 meningkat sebesar Rp 39.341 juta atau 23,79% dibandingkan perolehan selama tahun 2007 yang sebesar Rp 165.396 juta. Peningkatan ini disebabkan adanya kenaikan volume kredit yang diberikan selama tahun 2008.
Kontribusi pendapatan bunga yang diperoleh bank dari kegiatan penempatan dana masyarakat dalam bentuk penyaluran kredit, penempatan pada SBI, penempatan pada surat-surat berharga, penempatan pada bank lain, serta provisi dan komisi dari pemberian kredit.
Beban bunga mencakup bunga yang dibayarkan pada rekening deposito berjangka, tabungan, giro, pinjaman yang diterima dan kewajiban berbunga lainnya. Beban bunga mengalami peningkatan sebesar Rp 31.658 juta atau 33,67%, dari Rp 94.019 juta pada tahun 2007 menjadi Rp 125.677 juta pada tahun 2008. Peningkatan beban bunga disebabkan karena peningkatan suku bunga yang diberikan kepada nasabah deposan, giran, maupun penabung selama kuartal terakhir tahun 2008.
Peningkatan pendapatan bunga dan beban bunga menyebabkan margin bunga bersih (NIM) meningkat dari
ANALISA DAN PEMBAHASAN MANAJEMEN
Tahun 2008 merupakan periode cukup berat bagi Bank Windu yang baru merger, mengingat situasi eksternal yang kurang kondusif. Prioritas utama Bank adalah penyatuan operasional, optimalisasi sumber-sumber daya, dan pembentukan image baru bagi Bank hasil merger.
Bank Windu secara konsisten berupaya meningkatkan kinerja Bank terutama faktor-faktor permodalan, kualitas aset, rentabilitas dan likuiditas. Bank Windu berhasil meningkatkan volume penyaluran kredit sepanjang tahun 2008 dengan kenaikan signifikan 59,44%. Hal ini merupakan sinergi yang dihasilkan dari Bank hasil merger, sehingga fungsi intermediasi Bank Windu dapat berjalan lebih baik dari periode sebelumnya.
Laba Operasional
Laba operasional Bank Windu pada tahun 2008 sebesar Rp 9.818 juta, menurun sebesar Rp 16.407 juta atau 62,56% jika dibandingkan tahun 2007 sebesar Rp 26.225 juta. Penurunan laba operasional ini disebabkan peningkatan beban operasional lainnya sebesar Rp
19.962 juta atau 30,88% dari Rp 64.635 di tahun 2007 menjadi Rp 84.597 juta pada tahun 2008, sementara pendapatan operasional lainnya menurun sebesar Rp 4.128 juta atau 21,19% dari Rp 19.483 juta pada tahun 2007 menjadi Rp 15.355 juta pada tahun 2008 HASIL USAHA
Laba Bersih
Bank Windu membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp 4.822 juta di tahun 2008, naik sebesar Rp 4.423 juta atau 1.108,52% dibandingkan dengan Rp 399 juta pada tahun 2007. Laba bersih setelah pajak tercatat sebesar Rp 3.651 juta, naik sebesar Rp 8.533 juta atau 174,78%
dibandingkan dengan tahun 2007 yang rugi sebesar Rp 4.882 juta. Peningkatan laba berdampak pada peningkatan ROA menjadi 0,25% pada tahun 2008 dibandingkan 0,02% pada tahun 2007 dan ROE menjadi 1,39% pada tahun 2008 dibandingkan -1,83% pada tahun 2007. Peningkatan ini disebabk an oleh peningkatan laba perusahaan yang berasal dari peningkatan pendapatan bunga dan portofolio kredit.
Peningkatan beban biaya lain berasal dari biaya operasional karena pembukaan kantor baru, relokasi dan renovasi kantor dengan image Bank Windu baru.
POSISI KEUANGAN
Aktiva
Jumlah aktiva Bank Windu meningkat 4,32% atau sebesar Rp 86.699 juta dari Rp 2.007.966 juta pada tahun 2007 menjadi Rp 2.094.665 juta pada tahun 2008. Pertumbuhan aktiva terutama didorong oleh kenaikan aktiva produktif, kredit yang diberikan dan peningkatan aset bank.
Jumlah kredit meningkat sebesar Rp 538.863 juta atau
59,44% dari Rp 906.638 juta pada tahun 2007 menjadi Rp 1.445.501 juta pada tahun 2008.
Rasio NPL gross menurun sebesar 0,96% dari 1,72% pada tahun 2007 menjadi 0,76% pada tahun 2008, sementara rasio NPL net menurun sebesar 0,69% dari 0,98% pada tahun 2007 menjadi 0,29% pada tahun 2008. Bank dalam menyalurkan kredit selalu memperhatikan prinsip kehati-hatian sehingga bank selalu dapat menjaga rasio kredit bermasalah dibawah 5%.
*) Data Keuangan PT Bank Multicor Tbk sebelum merger
25.000
20.000
15.000
10.000
5.000
2004*) 2005*) 2006*) 2007 2008
- (20.000) (40.000) (60.000) 80.000 60.000 40.000 20.000 100.000
36.116
55.215
81.365
165.396
204.737
Pendapatan Bunga Pendapatan Bunga
2004*) 2005*) 2006*) 2007 2008
Kredit yang diberikan Total Aktiva
211.674 511.567
310.603 665.401
303.329 1.028.855
886.694 2.007.966
1.409.483 2.094.665
*) Data Keuangan PT Bank Multicor Tbk sebelum merger
Pasiva
Dana pihak ketiga yang terdiri dari giro, tabungan dan deposito berjangka pada tahun 2008 mencapai Rp 1.678.972 juta menurun sebesar Rp 9.076 juta atau 0,54% dari Rp 1.688.048 juta pada tahun 2007.
Simpanan giro menurun sebesar Rp 4.778 juta atau 1,94% dari Rp 245.736 juta pada tahun 2007 menjadi Rp 240.958 juta pada tahun 2008. Tabungan menurun sebesar Rp 16.081 juta atau 9,55% dari Rp 168.321 juta pada tahun 2007 menjadi Rp 152.240 juta pada tahun 2008. Deposito berjangka, yang merupakan komponen terbesar simpanan nasabah meningkat sebesar
Rp 11.783 juta atau 0,92% dari Rp 1.273.991 juta pada tahun 2007 menjadi Rp 1.285.774 juta pada tahun 2008.
Rasio LDR Bank meningkat dari 53,71% di tahun 2007 menjadi 86,14% pada tahun 2008, dikarenakan peningkatan kredit yang diberikan bank.
Memahami persaingan yang semakin ketat, untuk menarik dan memperkuat komposisi dana pihak ketiganya, Bank Windu telah mempersiapkan program pengembangan fitur-fitur produk untuk meningkatkan dana murah terutama Tabungan.
Komposisi Dana Pihak Ketiga Tahun 2008
9,07%
14,35%
76,58%
2004*) 2005*) 2006*) 2007 2008
- 200.000 400.000 600.000 800.000 1.000.000 1.200.000 1.400.000 1.600.000 1.800.000 2.000.000
0.00%
10.00%
20.00%
30.00%
40.00%
50.00%
60.00%
70.00%
80.00%
90.00%
100.00%
370.145
435.526
631.421
1.688.048 1.678.972
Dana Pihak Ketiga
Dana Pihak Ketiga
Ekuitas
Ekuitas Bank Windu menurun sebesar Rp 7.821 juta atau 2,90% dari Rp 269.811 juta pada tahun 2007 menjadi Rp 261.990 juta pada tahun 2008.
Per 31 Desember 2008, rasio kecukupan modal (CAR) dengan memperhitungkan risiko kredit sebesar 20,24% sedangkan rasio kecukupan modal (CAR) dengan memperhitungkan risiko kredit dan pasar sebesar 18,02%, jauh melebihi persyaratan minimum yang ditetapkan Bank Indonesia sebesar 8%.
*) Data Keuangan PT Bank Multicor Tbk sebelum merger
Giro Tabungan Deposito
2004*) 2005*) 2006*) 2007 2008
245.736
1.273.991 1.285.774
168.321
240.958 152.240
Dana Pihak Ketiga
*) Data Keuangan PT Bank Multicor Tbk sebelum merger
2004*) 2005*) 2006*) 2007 2008
135.402
145.320 147.431
269.811 261.990
Ekuitas
Ekuitas
- 50.000 100.000 150.000 200.000 250.000 300.000
PENERAPAN TATA KELOLA PERUSAHAAN
G O O D C O R P O R AT E G O V E R N A N C E ( G C G )
Bank dalam usaha pencapaian visi, misi dan strategi, terus berupaya mengoptimalkan penerapan Tata Kelola Perusahaan atau Good Corporate Governance (GCG) yang efektif, karena GCG merupakan faktor penting untuk mendapatkan kepercayaan pemegang saham dan stakeholders lainnya, seperti nasabah, bank koresponden, regulator, pegawai, pemasok serta masyarakat di lingkungan kerja Bank.
Ruang lingkup implementasi GCG di Bank sangat luas meliputi pemantauan dan pengelolaan terhadap strategi usaha, pengembangan sumber daya manusia, pengembangan produk, layanan dan jaringan, proses manajemen risiko dan pengendalian intern.
Prinsip Good Corporate Governance
Pelaksanaan tata kelola perusahaan pada Bank Windu didasarkan pada prinsip-prinsip, sebagai berikut :
• Transparansi: keterbukaan dalam pengungkapan informasi secara akurat, tepat waktu dan jelas;
• Akuntabilitas: penetapan kewajiban dan tanggung jawab yang jelas antara masing-masing organ dalam organisasi;
• Responsibilitas: kepatuhan terhadap semua ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku dan melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip kehati-hatian;
• Independensi: pengelolaan bank dilakukan secara independen tanpa tekanan pihak manapun;
• Fairness: kewajaran dan kesetaraan bagi semua stakeholder dalam memberikan masukan dan menyampaikan pendapat bagi kepentingan Bank.
Pedoman Good Corporate Governance
Sebagai Pedoman bagi pelaksanaan GCG, Bank Windu telah memiliki pedoman manual yang mengatur pembagian tugas dan tanggung jawab Direksi dan Dewan Komisaris dengan jelas. Disamping itu juga didasarkan pada aturan-aturan internal lainnya yang ditetapkan sesuai dengan peraturan dan perundang- undangan yang berlaku dan mengacu pada prinsip- prinsip GCG.
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
Rapat Umum Pemegang Saham merupakan organ perusahaan yang memegang kekuasaan tertinggi dan
memegang segala wewenang yang tidak diserahkan kepada Direksi dan Dewan Komisaris. RUPS memiliki wewenang antara lain untuk mengangkat dan memberhentikan anggota Dewan Komisaris dan Direksi, mengevaluasi kinerja Dewan Komisaris dan Direksi, menyetujui perubahan Anggaran Dasar, menyetujui Laporan Tahunan dan menetapkan bentuk dan jumlah imbalan, tunjangan dan fasilitas bagi anggota Dewan Komisaris dan Direksi, serta menghasilkan keputusan-keputusan penting yang sejalan dengan arah dan kebijakan Bank.
Pada tahun 2008, Bank Windu menyelenggarakan satu kali RUPS Tahunan pada tanggal 20 Juni 2008, yang antara lain memutuskan :
• Pengesahan Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan per 31 Desember 2008;
• Menyetujui perubahan susunan pengurus Bank;
• Pemberian kuasa kepada Direksi untuk menunjuk Akuntan Publik yang akan mengaudit Laporan Keuangan Perseroan untuk tahun buku yang berakhir tanggal 31 Desember 2008.
Dewan Komisaris dan Direksi
Sistem pengelolaan perusahaan dilakukan dengan dual-control dimana terdapat pemisahan yang jelas antara fungsi dan tanggung jawab Dewan Komisaris sebagai lembaga pengawasan dengan Direksi yang bertanggung jawab atas kepengurusan Bank.
Tugas dan Tanggung Jawab Dewan Komisaris Pedoman GCG Bank mengatur mengenai tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris, sebagai berikut : 1. Dewan Komisaris wajib memastikan terselenggaranya
GCG dalam setiap kegiatan usaha bank, pada seluruh tingkatan atau jenjang organisasi;
2. Dewan Komisaris wajib melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Direksi serta memberikan nasihat kepada Direksi;
3. Melakukan pengawasan, pemantauan dan pengevaluasian terhadap pelaksanaan kebijakan strategis Bank;
4. Dewan Komisaris wajib memastikan bahwa Direksi telah menindaklanjuti temuan audit dan rekomendasi dari Satuan Kerja Audit Intern, Auditor Eksternal, hasil pengawasan Bank Indonesia serta hasil pengawasan dari pihak lain;
5. Dewan Komisaris wajib memberitahukan kepada Bank Indonesia maksimal 7 (tujuh) hari sejak ditemukannya:
• Pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang keuangan dan perbankan;
• Keadaan atau perkiraan keadaan yang dapat membahayakan kelangsungan usaha Bank Windu.
6. Dewan Komisaris wajib menyediakan waktu yang cukup untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara optimal;
7. Dalam melakukan pengawasan, Dewan Komisaris dilarang terlibat dalam pengambilan keputusan kegiatan operasional Bank, kecuali :
· Penyediaan dana kepada pihak terkait sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia tentang Batas Maksimum Pemberian Kredit.
· Hal-hal yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar Bank atau peraturan perundang-undangan yang berlaku.
8. Dewan Komisaris wajib melakukan tindak lanjut dari hasil pengawasan dan rekomendasi yang diberikan, terutama dalam hal terjadi penyimpangan terhadap ketentuan perundang-undangan dan strategi Bank.
Komisaris Independen
Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 8/114/PBI/
2006 tentang Pelaksanaan Tata Kelola Perusahaan bagi Bank Umum, Komisaris Independen adalah anggota Dewan Komisaris yang tidak memiliki hubungan keuangan, kepengurusan, kepemilikan saham dan/atau hubungan keluarga dengan anggota Dewan Komisaris lainnya, Direksi dan/atau Pemegang Saham Pengendali atau hubungan dengan Bank yang mempengaruhi kemampuannya bertindak independen.
Menurut ketentuan Bapepam No. 29/PM/2004, Komisaris Independen adalah anggota Dewan Komisaris yang berasal dari luar emiten atau perusahaan publik, tidak mempunyai saham, baik langsung maupun tidak langsung pada emiten atau perusahaan publik, tidak mempunyai hubungan afiliasi dengan emiten atau perusahaan publik, Dewan Komisaris, Direksi atau Pemegang Saham utama emiten atau perusahaan publik serta tidak memiliki hubungan usaha baik langsung
maupun tidak langsung yang berkaitan dengan kegiatan usaha emiten atau perusahaan publik.
Komite-Komite di bawah Dewan Komisaris Dewan Komisaris memiliki 3 (tiga) komite dalam membantu Dewan Komisaris untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, komite-komite tersebut adalah :
1. Komite Audit
2. Komite Pemantau Risiko
3. Komite Remunerasi dan Nominasi
Komite Audit
Tugas utama Komite Audit adalah membantu Dewan Komisaris dalam menjalankan fungsi pengawasan, antara lain, yaitu :
1. mengkaji Laporan Keuangan Bank;
2. mengkaji efektivitas sistem pengendalian intern bank;
3. memastikan kualitas pelaksanaan audit internal;
4. memberikan pendapat independen dan profesional tentang laporan-laporan dan informasi lainnya yang disampaikan Direksi kepada Dewan Komisaris;
5. mengidentifikasi hal-hal lainnya yang memerlukan perhatian dari Dewan Komisaris. Seluruh anggota Komite Audit bersifat independen terhadap Direksi maupun Auditor Eksternal, dan Komisaris Independen sebagai ketua Komite Audit.
Selama tahun 2008 Komite Audit berupaya meningkatkan pelaksanaan fungsi, tugas dan tanggung jawabnya. Fokus utama pada tahun 2008 adalah mendorong kinerja untuk meningkatkan fungsi pengawasan internal, antara lain :
• melakukan evaluasi atas pelaksanaan pengawasan intern;
• melakukan modifikasi pendekatan dan metodologi audit menjadi pendekatan audit berbasis risiko;
*) mengundurkan diri pada tanggal 1 Mei 2008
Nama Jabatan Anggota sejak
Mohamad Hasan*) Ketua 14 Januari 2008 Muhammad Rusjdi Anggota 14 Januari 2008 IGN. Dirgayusa Anggota 14 Januari 2008 Susunan Anggota Komite Audit
Komite Pemantau Risiko terus berupaya meningkatkan pelaksanaan fungsi, tugas dan tanggung jawabnya.
Fokus utama yang dilakukan selama tahun 2008 antara lain melakuk an evaluasi atas pengelolaan risiko termasuk mengevaluasi laporan-laporan internal dari Direksi, Manajemen Risiko dan hasil pemeriksaan Bank Indonesia. Hasil evaluasi tersebut sebagai alat pemantau kinerja manajemen dan sebagai dasar rekomendasi kepada Dewan Komisaris mengenai langkah-langkah yang diperlukan dalam melakukan tugasnya.
Komite Remunerasi dan Nominasi
Komite Remunerasi dan Nominasi mempunyai tugas dan tanggung jawab antara lain :
1. mengevaluasi kebijakan remunerasi Bank;
2. membuat kriteria dan prosedur nominasi untuk anggota Dewan Komisaris, Direksi dan Pejabat Eksekutif;
3. memberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris mengenai kebijakan remunerasi bagi Dewan Komisaris dan Direksi untuk disampaikan dalam RUPS, serta kebijakan remunerasi bagi Pejabat Eksekutif
Selama tahun 2008, Komite Remunerasi dan Nominasi melakukan hal-hal sebagai berikut:
1. memberikan pendapat, rekomendasi kepada Dewan Komisaris berkaitan dengan sistem remunerasi Dewan Komisaris dan Direksi;
• peningkatan kompetensi staf pengawasan intern melalui pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan Bank;
• mengevaluasi hasil tindak lanjut atas temuan audit internal (SKAI), hasil pengawasan Bank Indonesia dan temuan audit eksternal;
• melakukan evaluasi atas Laporan Keuangan Bank yang dipublikasikan dan laporan hasil audit dengan Kantor Akuntan Publik untuk memastikan bahwa laporan tersebut telah memenuhi ketentuan- ketentuan yang berlaku termasuk Standar Akuntansi;
• Melakukan pembahasan dan pengkajian perencanaan Audit Intern.
Komite Pemantau Risiko
Komite Pemantau Risiko yang dibentuk oleh Dewan Komisaris bertanggung jawab untuk mengevaluasi perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang risiko oleh manajemen dengan lingkup tugas, yaitu : 1. memberikan masukan kepada Dewan Komisaris
tentang masalah-masalah pengelolaan risiko dan melakukan langkah antisipasi risiko;
2. mengevaluasi sistem pengelolaan risiko dan pengawasan intern;
3. melakukan evaluasi dan kaji ulang serta memberikan pendapat kepada Dewan Komisaris mengenai kebijakan manajemen risiko yang diterapkan Direksi;
4. memonitor risiko-risiko utama yang dihadapi Bank dan memastikan bahwa Direksi telah mengambil langkah-langkah yang diperluk an untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko;
5. mengevaluasi, memonitor serta memberikan masukan kepada Dewan Komisaris terhadap rencana bisnis Bank, rencana jangka panjang, rencana kerja dan anggaran Bank.
Nama Jabatan Anggota sejak
Moerjono Ketua 14 Januari 2008
Muhammad Rusjdi Anggota 14 Januari 2008 IGN. Dirgayusa Anggota 14 Januari 2008 Susunan Anggota Komite Pemantau Risiko
*) mengundurkan diri pada tanggal 1 Mei 2008
Nama Independensi Jabatan Anggota sejak
Moerjono Komisaris Independen Ketua 2 Juni 2008
Syamsuar Halim Komisaris Anggota 2 Juni 2008
Andi Chaspuri Pejabat Eksekutif SDM Anggota 2 Juni 2008
Herry Muljanto Staff SDM Anggota 2 Juni 2008
Susunan Anggota Komite Remunerasi dan Nominasi
2. merancang penyusunan pedoman kerja Komite Remunerasi dan Nominasi Bank;
3. memberikan rekomendasi kebijakan remunerasi dan nominasi khususnya berkaitan dengan merger PT Bank Windu Kentjana ke dalam PT Bank Multicor Tbk.
Direksi
Direksi ber tanggung jawab dalam melakukan pengelolaan Bank. Tugas pokok Direksi, adalah sebagai berikut :
1. memimpin dan mengelola Bank;
2. merumuskan dan melaksanakan strategi dan kebijakan;
3. memastikan pencapaian sasaran dan tujuan usaha;
4. menguasai, memelihara, dan mengelola kekayaan Bank;
5. menciptakan struktur pengendalian intern, menjamin terselenggaranya fungsi audit intern Bank;
6. melaporkan kegiatan-kegiatan tersebut kepada RUPS Tahunan.
Komite-Komite Eksekutif di bawah Direksi
Sampai dengan akhir tahun 2008, terdapat 5 (lima) komite di Bank Windu, yang terdiri dari :
Komite Manajemen Risiko
Komite Manajemen Risiko bertugas membantu Direksi dalam menelaah kebijakan dan pendelegasian tanggung jawab untuk menentukan kebijakan dan prosedur, dan memastikan bahwa unit bisnis telah melaksanakan dengan tepat strategi yang telah disetujui oleh Direksi.
Komite Kredit
Komite Kredit bertugas memberikan persetujuan kredit maupun perpanjangan kredit sampai batas kredit yang ditentukan oleh Direksi dan memelihara kualitas kredit yang diberikan sehingga penentuan kualitas kredit dan pembentukan penyisihan aktiva produktif dapat dilakukan sesuai dengan prinsip kehati-hatian bank.
Komite Aset dan Liabilitas (ALCO)
Komite Aset dan Liabilitas bertugas mengelola aset dan kewajiban Bank. Secara lebih luas, ALCO juga memiliki tugas mengelola likuiditas, manajemen suku bunga, manajemen mata uang asing dan manajemen investasi serta gapping manajemen.
Komite Anggaran
Komite Anggaran bertugas untuk menyiapkan proyeksi dan analisa anggaran Bank. Selanjutnya komite ini juga melakukan pemantauan dan pelaporan atas realisasi kegiatan.
Komite Kebijakan Perkreditan
Merupakan Komite yang membantu Direksi dalam merumuskan kebijaksanaan, memantau perkembangan dan kondisi portofolio perkreditan serta memberikan langkah-langkah perbaikan.
Rapat Dewan Komisaris dan Direksi
Dewan Komisaris dan Direksi mengadakan rapat bersama secara berkala untuk membahas perkembangan dan kemajuan Bank secara umum.
Sistem Pengendalian Intern
Sebagai wujud komitmen Bank terhadap pelaksanaan Good Corporate Governance dan Risk Management dalam praktek bisnis perbankan yang sehat dan prudent, Bank Windu melakukan fungsi pengawasan menyeluruh yang bersifat independen dan obyektif.
Fungsi ini dijalankan oleh Satuan Kerja Audit Intern (SKAI) yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden Direktur dan Komite Audit.
Fungsi pengawasan intern dilaksanakan dengan metode audit yang sistematik dan menggunakan pendekatan risk based, sehingga prioritas pengawasan akan dilakukan terhadap proses atau unit yang memiliki risiko lebih besar.
Di tahun 2008, secara keseluruhan kualitas sistem pengendalian intern telah menunjukkan hasil yang memadai. Bank berupaya menjalankan sistem pengendalian intern secara efektif dan efisien, dan prosedur pengawasan telah dilaksanakan tanpa pengecualian, dengan mempertahankan lingkungan yang menunjang dalam upaya pengendalian intern.
Kasus-kasus penyimpangan yang terjadi selama tahun 2008 umumnya terkait dengan ketidakdisiplinan terhadap prosedur yang telah ditetapkan. Selain itu, permasalahan yang terkait dengan kecukupan pengendalian intern telah dilaporkan kepada Manajemen dan langkah-langkah tindak lanjut telah dilakukan untuk meminimalkan risiko.